Yang Tersirat dari Film King
Editor | Kolom Lepas | August 3rd, 2009
Oleh: Lina Kartasasmita*
Saya teringat ketika belajar bahasa Indonesia, saya diminta membahas apa yang tersirat dan tersurat (tertulis) dari suatu karangan atau karya penulisan. Ternyata, pelajaran itu tertanan dalam-dalam di pikiran saya. Biasanya, kita hanya membaca yang tertulis tanpa memahami apa yang tersirat di dalam tulisan tersebut. Hal itu pula yang membuat kita salah arti atau bahkan tidak mampu menyerap pesan-pesan dari seorang pengarang.
Dua hari lalu saya mendapat kesempatan menonton film hasil karya anak bangsa sendiri, yaitu film King. Bagi yang telah menyaksikan film tersebut tentu telah mengetahui jalan ceritanya. Ketika saya menonton King, duduk disamping saya seorang ayah dan dua orang anak remajanya. Ketika film berlangsung, sang ayah sibuk menceritakan bagaimana jalan kisah filmnya. Ah… ingin saya marah rasanya karena komentarnya telah mengganggu konsentrasi saya. Tetapi, saya sadar saya tidak perlu berdebat dengan orang yang tidak saya kenal. Si ayah itu tidak mengetahui bahwa jalan cerita King sudah tentu dapat dimengerti oleh anak-anaknya. Tetapi, justru yang mungkin tidak dapat dipahami adalah pesan-pesan yang tersirat dari film tersebut.
King menceritakan perjuangan seorang anak bernama Guntur, yang hidup sangat sederhana hingga mampu meraih cita-citanya menjadi pemain bulu tangkis nasional. Dari cerita yang sederhana itu, saya mendapat banyak hal tersirat. Pertama dari hubungan antara Guntur dan ayahnya, seorang ayah yang sesungguhnya mencintai anaknya, dan berupaya semampunya memberikan yang terbaik. Tetapi, sang ayah tidak mampu mengungkapkan kasih sayangnya dalam bentuk kata-kata.
Ini banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari yang mana para ayah sulit mengungkapkan rasa kasihnya kepada anaknya. Akibatnya, banyak anak remaja yang tidak memahami apa yang telah diperjuangkan oleh ayahnya karena tidak adanya komunikasi yang terbuka. Saya temui kisah-kisah kekakuan hubungan antara ayah dan anak. Mungkin, itu karena citra yang telah tertanam yang mana seorang ayah tidak perlu mengungkapkan rasa sayang dengan kata-kata. Sesungguhnya, setiap anak mempunyai kebutuhan yang sama untuk mengetahui bahwa dia dicintai.
Dalam King, ungkapan yang mampu disampaikan oleh ayah Guntur adalah: “Menang atau kalah kau tetap anakku!” Ungkapan paling sederhana bahwa cinta kasih orang tua tidak ditentukan oleh kondisi anaknya atau diukur dengan prestasi. Sekilas itu hanya kalimat biasa saja, tetapi maknanya menjadi sangat dalam. Kalau saja maksudnya begitu, kita bisa mudah mengucapkan demikian, “Aku mengasihimu, Nak….”
Tokoh kedua bernama Raden, seorang sahabat baik Guntur yang selalu rela berkorban untuk membantu sahabatnya keluar dari kesulitan-kesulitan. Raden adalah tokoh penting atas keberhasilan Guntur, di samping ayah dan teman-teman lainnya. Dalam hidup, kita sering kali luput menghitung orang-orang yang telah berjuang untuk membantu keberhasilan kita. Apakah itu orang tua kita, saudara, sahabat, atau sekadar orang-orang yang membantu pekerjaaan kecil kita sehari-hari. Selalu saja ada orang-orang yang bekerja di belakang layar yang membuat kita berhasil meraih apa yang kita inginkan.
Keberhasilan kita tidaklah dapat kita capai sendiri. Selalu ada orang-orang yang mendampingi atau menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita. Dalam King, Raden begitu tulus membantu sahabatnya. Dan, yang dia inginkan bukan hanya melihat Guntur sebagai pemain bulutangkis nasional, tetapi juga menaruh pengharapan lain supaya Guntur membawa nama Indonesia di kancah dunia. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita yang sering kali melihat hanya sebatas kulit luarnya saja. Di sini kita melihat sikap seorang anak yang bersahaja, yang tidak egois dengan kepentingan pribadinya, tetapi lebih kepada kepentingan bangsa dan negaranya.
Salut saya untuk Ari Sihasale yang mau memproduksi film seperti ini. Bangsa kita haus untuk mendapat pesan-pesan moral yang baik. Dan, biarlah apa yang tersirat juga dapat dicerna dengan mudah.[lkk]
* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 13 Maret 1966. Suka menulis sejak kecil dan mencintai dunia pendidikan. Hasil karya tulisan terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.
August 5th, 2009 at 8:42 am
menurut saya tulisan ok tapi kalau bisa untuk lebih dirinci lagi agar pembaca benar-benar dapat lebih meresapi dan memahami apa yang mau disampaikan dari maksud tulisan tersebut.
August 5th, 2009 at 9:13 am
tulisan tulisan ibu bagus bagus, baru tahu dan thanks telah diberitahu
August 5th, 2009 at 10:36 am
Good summary of the movie. I have not seen the movie but with a simple summary, I can just visualize it. thanks.