Yang Penting Menulis Dulu, Baru Berpikir!
Editor | Kolom Tetap | September 8th, 2009
Oleh: Miranda Suryadjaja*
Baru saja saya mendapat ‘teguran’ dari Edy Zaqeus, pengasuh AndaLuarBiasa.com gara-gara saya sudah dua edisi absen menulis. Bukannya saya tidak mau menulis, tetapi dalam hampir dua bulan terakhir ini saya begitu lelet untuk menulis. Rasa malu bercampur jengah berkecamuk dalam diri saya. Namun, hari demi hari lewat tanpa saya bisa menyelesaikan tulisan yang membuat diri saya merasa puas. Jangankan mulai menulis, ide yang layak tulis saja tidak kunjung datang.
Padahal, setiap hari saya menulis entah di jurnal, menulis sejumlah e-mail panjang, mengkomentari tulisan orang lain, membuat tulisan untuk event, pokoknya setiap hari saya pasti menulis dalam bentuk apa pun.
Tetapi, kalau sudah berpikir menulis yang jadi kewajiban, yang ada deadline, apalagi yang akan dibaca orang banyak, saya seolah-olah menjadi tumpul pul! Otak jadi kelu dan kayaknya tidak ada topik yang layak ditulis.
Padahal, saya tahu menulis itu sama sekali tidak susah buat saya. Asal dikasih pena dan kertas serta ‘dipaksa’ menulis, pasti ada yang keluar sebagai tulisan. Dan, saya bisa menulis satu-dua jam tanpa merasa bosan atau lelah sedikit pun.
Lalu, mengapa saya begitu takut menulis? Kata guru spiritual saya, sumbernya bagi saya hanya satu: FEAR. Dan, lebih spesifik lagi Fear of Success, ketakutan menjadi sukses.
Aneh, ya…. Tetapi, itulah kenyataannya. Dan, obatnya hanya satu… perangi ketakutan, tidak ada yang lain. Untuk hal yang satu ini, ternyata buat saya susah luar biasa. Seperti ada tabir ketakutan yang tidak bisa saya dobrak.
Beberapa minggu terakhir sebenarnya saya juga sudah mencoba untuk menulis, tetapi ada saja penghalangnya, tentunya dari diri saya sendiri. Segala cara telah saya lakukan untuk memancing keberanian menulis . Saya sempat berperang hebat bak Bharata Yuda dalam batin saya. Satu bagian diri saya ingin sekali segera melahirkan suatu karya tulis yang berbobot. Rasanya ada yang kurang dan salah bahwa saya tidak juga membuahkan suatu karya. Sementara, bagian diri saya yang lain tidak kunjung mau memulainya. Ada keengganan yang luar biasa. Sungguh frustrasi rasanya. Saya marah pada diri saya. Saya kecam diri saya.
Akhirnya, saya berdoa supaya diberi jalan, karena toh apa yang akan saya ekspresikan tidak lain adalah buah karya Tuhan juga, yang ingin Ia sampaikan pada umatnya lewat saya sebagai salah satu penyambung pikiran-Nya.
Dua hari lalu, di tengah kebuntuan dan kefrustrasian saya, tanpa tujuan saya mondar-mandir di dalam rumah sampai akhirnya masuk ke ruang setengah gudang, tempat penyimpanan barang-barang transitan, yang belum tega dibuang, tetapi belum tahu mau diapakan. Di sana saya ‘iseng-iseng’ bongkar-bongkar, tanpa tujuan mencari sesuatu pun, menikmati menemukan barang-barang yang saya sudah hampir lupa bahwa saya miliki.
Di tengah-tengah tumpukan barang lawas, saya temukan DVD Finding Forrester, yang dibintangi oleh Sean Connery dan Robert Brown. Saya jadi ingat lagi bahwa itu film bagus, tentang seorang remaja kulit hitam yang punya bakat menulis luar biasa yang hampir tenggelam dan terlewatkan karena warna kulit dan lingkungannya yang miskin dan kumuh. Secara tidak sengaja, dalam cerita itu tentunya, dia ditemukan atau bertemu dengan seorang penulis sepuh yang pernah menjadi sensasi dunia sastra Amerika, dan pernah memenangkan hadiah Pullitzer lewat buku pertamanya, namun kemudian menghilang bak ditelan badai dan tak pernah lagi terdengar kabar beritanya. Sang maestro kemudian menjadi mentor penulisan bagi si remaja.
Pertemuan keduanya bagaikan pertemuan bara dengan minyak tanah. Api yang terpendam dalam keduanya langsung berkobar; panas, dahsyat. Suatu pertemuan yang ternyata sangat menginspirasi dan mengubah keduanya yang masing-masing haus akan pemahaman dari seseorang yang mengerti dan bisa melihat kedalaman dan kemampuan yang tak tampak secara kasat mata. Keduanya saling membutuhkan dan pada akhir cerita mereka saling membebaskan yang lainnya lewat tulisan masing-masing.
Pendek kata, film ini sangat indah, dan wajib ditonton oleh semua orang yang cinta tulis-menulis. Dijamin akan menginspirasi orang untuk mulai menulis.
Dalam satu adegan, sang penulis tua duduk dan langsung mulai mengetik dengan cepat tanpa henti sampai selesai satu halaman penuh. Kemudian ia berkata:
“Pertama tulis draf dengan hati. Lalu, tulis ulang memakai pikiran. Kunci pertama dalam menulis adalah menulis, bukan berpikir.”
“Kadang irama ketikan datang dari halaman pertama ke halaman kedua. Waktu kau mulai merasakan kata-katamu, mulailah mengetiknya.”
Wow…. Pernyataan di atas sangat membekas dalam hati saya. Telah berminggu-minggu saya menunggu mukjizat yang akan membuat saya bisa menulis artikel untuk diterbitkan. Dengan was-was saya nantikan ide cemerlang yang bisa memuaskan ego saya. Tak henti-hentinya saya berusaha mencari jawaban bagaimana saya bisa memerangi kebuntuan. Ternyata tidak penting semua itu.
Yang penting menulis dulu, baru berpikir. Itu saja.[ms]
* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putra. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

September 8th, 2009 at 12:50 pm
dan menjadi mukjizat buat saya.. makasih Bu… saya juga agak mampet menulis akhir2 ini.
September 8th, 2009 at 1:13 pm
sangat inspiratif. Jadi langkah pertama dalam menulis adalah menulis ya? konsep menarik!
September 8th, 2009 at 1:46 pm
Saya malah yang lagi blajar ngeblog juga susah nulis. Kalau bikin konsep dulu diword malah nggak jadi-jadi, tapi begitu langsung di kotak entri baru malah bisa lancar dan cepet
makasih sharingnya
September 11th, 2009 at 8:30 am
Artikel yang bagus, Bu Miranda. Thanks!
September 13th, 2009 at 11:59 am
Terima kasih atas sharing MS. Sepakat dan Mengalami… betul MENULIS… jadi ingat pesan para guru tentang MENULIS. Salam Penulis. AF
September 13th, 2009 at 9:15 pm
Bu Miranda Trims tulisaannya cukup berkesan. Yang penting menulis dan menulis. Tak perlu berpikir tulisan itu akan baik atau buruk. Baru proses berikutnya editing.
Salam Dari Kota Apel Malang
October 26th, 2009 at 11:58 pm
Menulis memang gampang sich, tapi kalau tulisan itu dibaca oleh orang lain, mungkin ada sedikit keraguan apakah tulisan kita dapat diterima atau dikritisi..?
Jangan mikir itu dulu.
Jika menurut kita tulisan kita
mengandung informasi, referensi atau hanya sekedar narasi, walaupun alurnya harus loncat2…saya yakin pasti bagus..he..he..