WHO AM I
Editor | Kolom Lepas | November 18th, 2009
Oleh: Muhammad Nur*
Saya terinspirasi dari sebuah layar emas yang diperankan oleh Jacky Chan (salah satu aktor Hongkong yang terkenal) dalam filmnya yang berjudul WHO AM I. Saya mencoba mengawali tulisan saya ini dengan judul film tersebut. Sebuah pertanyaan yang mungkin tak asing lagi, dan juga menyangkut atau menjadi beban pikiran setiap orang yang ingin mengetahui eksistensinya.
Siapakah aku? Saya ingin mengingatkan Anda untuk melihat kembali diri kita masing-masing sebagai makhluk paripurna yang sengaja diciptakan oleh Tuhan sebagai khalifah dalam menjalankan titah-Nya di muka bumi. Dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya, manusia adalah yang paling sempurna. Kesempurnaan dilihat dari kelengkapan sisi-sisi manusia itu sendiri, yaitu adanya kebaikan dan keburukan.
Ada sisi yang kuat, ada pula sisi yang lemah. Manusia sebagai makhluk penuh potensi diri, harus selalu bertumbuh menuju aktualisasi dirinya. Manusia harus mengenali kedua sisi tersebut sebaik-baiknya. Sebab, mengenali diri sendiri adalah dasar dari tindakan-tindakan untuk meraih sebuah cita-cita yang besar.
Pernahkah Anda berpikir, bahwa tidak akan ada dua manusia yang sama persis si dunia ini? Saya yakin, Anda mungkin berpikir bagaimana dengan anak kembar. Coba perhatikan, ternyata anak kembar sekalipun sifat dan kesukaan mereka berbeda, walaupun wajah keduanya sangat mirip. Setiap orang memiliki keistimewaan dan bakat yang berbeda.
Mengenai cara menemukan bakat, saya sangat setuju dengan Rick Warren, penulis Purpose Driven Live, bahwa kita harus menanyakannya kepada Sang Pencipta. Ini sangat wajar karena sebagai Sang Pencipta, Dialah yang paling mengetahui dalam bidang apa kita harus berkarya di muka bumi ini.
Hal ini sama persis dengan seorang pencipta sebuah alat yang mengetahui secara persis bagaimana cara menggunakan atau mengoperasikan alat tersebut supaya kinerjanya maksimal. Untuk itu, kita harus tekun berdoa dan bertanya kepada Tuhan mengenai kehendak-Nya bagi hidup kita. Melalui ayat-ayat-Nya dalam Kitab Suci, merenungi segala ciptaan-Nya, dan selalu mengingat atau berzikir kepada-Nya, adalah beberapa usaha nyata agar kita tahu dan yakin terhadap bakat yang kita miliki.
Selain itu, ada sejumlah cara, metode, atau alat bantu yang bisa digunakan untuk menemukan talenta kita. Saudara-saudara yang berprofesi sebagai psikolog dapat membantu, meskipun tidak selalu akurat. Dr. John C. Maxwell pernah mengajarkan sebuah pendekatan untuk menemukan talenta seseoarang. Maxwell menyarankan agar kita mencari bidang pekerjaan yang membuat kita bergairah (passion) atau bidang keahlian kita yang paling menonjol (strength).
Coba kita perhatikan lingkungan sekitar kita. Ada orang yang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan (IQ) yang jenius, superior, rata-rata, dan di bawah rata-rata. Mungkin kita memiliki teman yang biasa-biasa saja, namun justru sukses berbisnis. Bahkan, mungkin ada teman kita yang pintar dan sukses dalam studinya, namun ia gagal dalam kehidupannya. Ia melamar pekerjaan ke sana kemari, namun tidak juga mendapatkannya.
Semua orang bisa sukses, bergantung pada caranya bersikap, berkepribadian, dan berusaha mengasah talentanya dalam menghadapi persaingan hidup yang semakin keras. Setiap manusia diberikan keunikan masing-masing. Keunikan inilah yang memberikan kelebihan kepada kita.
Popularitas tidaklah menunjukan seseorang itu lebih baik. Setiap orang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Jangan iri dan kecewa jika orang lain memiliki keunggulan dalam bidang tertentu, karena sesungguhnya kita juga memiliki keunggulan yang berbeda.
Para sahabat Rasulullah saw pun memiliki keunikan masing masing. Lihatlah Umar dan Abu Bakar. Keduanya tidak memiliki karakter yang sama meskipun sama-sama manusia unggulan setelah para nabi. Keduanya berbeda, tetapi dua-duanya unggul. Umar dikenal sebagai tokloh yang keras dan tegas, sedangkan Abu Bakar dikenal sebagai orang yang lembut dan penuh perasaan.
Bila dikenal karena suara merdu dan konsistennya, Salman Alfarisi masyhur dengan kemampuannya sebagai arsitek ulung, Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai pedagang yang sukses. Ali dikenal sebagai pintu ilmu, dan masih banyak contoh lainnya. Yang jelas kita bisa melihat bahwa mereka adalah orang-orang unggul dengan keunikannya masing-masing.
Kita pun sama, memiliki keunikan yang menjadikan kita sebagai manusia unggul. Tidak jarang seseorang menjadi rendah diri saat ia tahu dan melihat keunggulan orang lain. Padahal, sesungguhnya ia bukanlah orang yang tidak memiliki kelebihan, melainkan belum menggali potensi yang ada pada dirinya.
Kita semua memiliki keunikan. Oleh karena itu, menjadi besarlah dengan keunikan yang kita miliki. Ada pepatah mengatakan, “Bahwa orang berbeda itu bukan berti sukses, namun orang sukses itu sudah pasti berbeda.” Nah, kita terkadang selalu beranggapan bahwa perbedaan suku, budaya, agama, ras maupun jenis merupakan faktor-faktor yang mengakibatkan kita sulit berkembang dan maju. Ternyata, hal tersebut bukanlah faktor kegagalan yang kita alami melainkan pola pikir yang kian menyalahkan diri tatkala kita mengalami kegagalan.
Semoga kita dapat memacu potensi diri kita untuk hidup dalam lingkungan yang benar-benar hidup untuk maju.Amien.[mn]
* Muhammad Nur adalah Alumnus PP Ar-Raudhatul Hasanah Medan, Sumatera Utara. Kini dalam masa pengabdian di Ma’had sebagai guru Bahasa Inggris dan juga staf Pengasuhan Santri. Ia gemar dunia kepenulisan, diskusi, dan kegiatan ekstrakulikuler di ponpes. Saat ini ia sedang mendalami dunia kepenulisan dan motivasi. Ia dapat dihubungi melalui via pos-el: muhammad.nur609[at]yahoo[dot]co[dot]id, muhammad.nur1809[at]hotmail[dot]com atau 081396856500.
Leave a Reply