Warisan Budaya Bangsa Memanggil Kita semua
Editor | Kolom Lepas | January 12th, 2010
Oleh: Meta Sekar Puji Astuti*
Pertama kali mengunjungi pulau Ternate, pulau indah di provinsi Maluku Utara yang sarat nuansa sejarah khususnya sejarah kolonial Indonesia, saya diperkenalkan dengan kata kastela. Saya mencoba mengingat di mana saya pernah mendengar kata ini, ya? Sebagai catatan, dalam bahasa serapan Ternate, kata ini berarti castle atau kastila alias benteng atau istana dalam bahasa Indonesia. Sebagai pengajar bahasa Jepang, tentu saja wajib bagi saya untuk mengenal kosa kata bahasa Jepang. Setelah agak lama berpikir, muncullah kosa kata ini dalam ingatan saya. Istilah ini ada dalam perbendaharaan bahasa Jepang yang tentu saja termuat dalam kamus bahasa Jepang.
Dalam bahasa Jepang kata kastela (yang diucapkan kastera di lidah orang Jepang) dikenal sebagai nama sponge cake atau kue bolu berwarna kuning, dengan tekstur dan cita rasa sangat lembut. Kata ini serapan dalam bahasa Portugis, berasal dari kata paõ decasthela (roti dari kerajaan). Kuliner dan istilah ini mulai dikenal di Jepang sekitar abad ke-16 ketika pedagang Portugis mengunjungi Jepang.
Awalnya, saya anggap sebuah kebetulan belaka. Sampai akhirnya, untuk memenuhi perasaan penasaran, saya coba melakukan semacam observasi kecil-kecilan. Ada enggak ya kaitan kastela Jepang dengan kastela versi Indonesia ini?
Di Ternate ternyata terdapat banyak sekali kastela, baik kecil maupun besar yang tersebar di seluruh pelosok pulau kecil ini. Dinamakan kastela karena Ternate yang dikenal akan cengkehnya ini pernah dijajah Portugis yang ingin memonopoli perdagangan cengkeh di wilayah ini. Bangsa Portugislah yang pertama kali membangun benteng ini. Akibatnya, kata kastela menjadi kata serapan di Ternate hingga saat ini. Bangunan kesultanan Ternate sekarang ini juga bekas salah satu lokasi benteng Portugis pertama kali. Karena kerusuhan, para tentara Portugis yang tinggal di benteng itu diusir oleh kesultanan Ternate. Maka, diubahlah fungsi benteng itu menjadi bangunan tempat tinggal sultan Ternate, hingga kini.
Meskipun Portugis hanya sempat menjajah wilayah ini dalam jangka waktu pendek, namun beberapa bangunan, kata serapan, maupun pengaruh kuliner masih dipergunakan hingga saat ini. Ada meriam, peniti, kamar, bola, (hari) Minggu, adalah beberapa kata yang merupakan serapan dari bahasa Portugis.
Sementara di Jepang, bangsa Portugis pernah singgah di negara kepulauan tersebut. Salah satu maksud kedatangan bangsa Portugis adalah untuk memperluas ajaran Kristen, sekaligus melakukan ekspansi perdagangannya ke wilayah ini. Franciscus Xaverius datang ke Jepang bermaksud mengajarkan ajaran Kristen. Sayangnya, misi ini gagal dan orang-orang Portugis dibantai karena ketakutan bangsa Jepang akan ajaran-ajaran baru dari dunia Barat. Anehnya, meskipun bangsa Portugis di kemudian hari dicap sebagai musuh dan bangsa bar-bar bagi masyrakat, beberapa budaya dan tradisinya kelak diadaptasi oleh bangsa Jepang.
Dalam kuliner Jepang dikenal nama tempura dan pan dari kata paõ (roti) dalam bahasa Portugis. Ternyata kuliner yang satu ini juga diperkenalkan oleh bangsa Portugis kepada bangsa Jepang. Demikian pula cake castela yang di kemudian hari begitu digemari oleh bangsa Jepang yang merupakan warisan kuliner Portugis.
“It’s a small World, after all” adalah syair lagu di Disneyland. Jepang dan Ternate, terhubung benang merah dengan kata kastela!
Saya menjadi setuju dengan sejarawan yang mengatakan, meskipun Portugis hanya melakukan penjajahan secara singkat, namun penyebaran budayanya cukup melekat. Contohnya di Jepang dan di Ternate itu. Bahkan di Indonesia, banyak sekali bahasa yang merupakan serapan dari bahasa Portugis yang masih dipergunakan sampai saat ini. Meriam misalnya, yang cukup unik sejarahnya. Orang Portugis—ketika selesai menembakkan meriamnya—selalu melakukan doa Rosario dan menyebutkan kata Maryam. Orang lokal Ternate, mengira Maryam adalah sebutan untuk meriam itu. Sementara, kata Minggu adalah sebutan “Hari untuk Dominggo” atau hari beribadah si Dominggo. Hasilnya, Minggu untuk pengganti Ahad dari bahasa Arab.
Meski budaya dan sejarah Ternate sangat menarik, sangat disayangkan publikasi mengenai sejarah Ternate dan Maluku Utara masih terbatas. Ada beberapa ilmuwan yang telah menuliskan sejarah ini. Antara lain Des Alwi, juga almarhumah Irza Anyta Djafaar, dan beberapa lainnya. Namun harus diakui sejujurnya, masyarakat Indonesia kurang mengenalnya secara luas. Padahal, ketertarikan bangsa Barat akan rempah-rempahlah yang mendorong “nafsu” kolonialisme dari konsep Gospel, Glory, and Gold di masa lalu, sebenarnya bermula dari titik Ternate dan kepulauan Maluku yang begitu kaya akan rempah-rempah.
Ah, saya jadi ingin bercerita tentang kastela atau benteng di Ternate. Di Ternate tersebar beberapa benteng baik peninggalan Portugis maupun Belanda. Bahkan, benteng Oranje adalah benteng pertama Belanda di Indonesia. Memasuki benteng-benteng di Ternate bagaikan memasuki mesin waktu dan mengingatkan kejayaan Ternate akan rempah-rempahnya. Beberapa ilmuwan dan sejarawan percaya Columbus sebenarnya mencari kepulauan Maluku untuk mencari emas hitam, dan bukan secara sengaja mencari benua Amerika. Sebuah insiden tanpa sengaja yang membuat Colombus salah arah hingga dirinya masuk ke wilayah Amerika Serikat masa sekarang. Konon, menurut para sejarawan yang mendukung teori ini, bangsa asli Amerika disebut Indian. Istilah yang sangat mirip dengan kata Indies, bukan?
Bisa dibayangkan jika Ternate berhasil ditemukan oleh bangsa Spanyol pada masa itu. Sekadar berkhayal, jika sang Columbus sampai tujuan sesuai arah, mungkin Hollywood aka nada di pulau Jawa, dan New York barangkali ada di kepulauan Maluku! Mungkin bahasa nasional kita menjadi bahasa Inggris. Ah, ini kan hanya sebuah imanjinasi belaka…. Jangan hiraukan fantasi saya, ya hehehe…
Beberapa benteng di Ternate masih tampak terpelihara meskipun sebagian besar tampak tersia-siakan. Benteng Oranje, meski tampak utuh, benteng tertua yang dibangun oleh VOC ini menyedihkan kondisinya. Sangat disayangkan karena sepatutnya benteng ini dijaga. Sebab, pemandangannya kurang sedap dari sisi estetika sehingga terkesan amburadul. Benteng ini masih dihuni oleh warga biasa. Kebiasaan penduduk yang kurang menjaga lingkungan menyeret mereka untuk juga kurang menjaga keindahan dan kebersihan. Sekadar ingin berbagi suasana, gantungan baju dan pakaian merupakan pemandangan umum di benteng ini. Sampah juga tersebar di mana-mana serta suasananya kurang teratur. Tidak ada kesadaran untuk menjaga bangunan tua.
Bentuk fisik benteng ini juga sudah berubah. Tembok mulai uzur dimakan usia hanya diplester dengan semen seadanya, tanpa perencanaan detail dari ahli konservasi bangunan. Lonceng di atas pintu gerbangnya telah diangkat dan dipindahkan ke tempat lain, ke sebuah gereja di wilayah Ternate. Sangat disayangkan. Bentuknya aslinya yang unik dan mirip benteng-benteng di wilayah Amerika Selatan—yang mengingatkan kita film-film koboi—sayangnya sudah tidak bisa kita nikmati saat ini. Pun, siapa bisa memastikan properti di dalamnya aman dari gangguan tangan? Kesadaran kita sebagai bangsa belum terlalu tinggi untuk menjaga dan merawat warisan budaya semacam itu. Malaysia yang berhasil “mengutak-atik” dan mengklaim perbendaharaan warisan budaya kita adalah salah satu cermin, betapa ringkihnya sistem pertahanan kita akan pelestarian budaya dan warisan cagar budaya.
Selain di Ternate dan Buton, sebenarnya di wilayah Timur Indonesia banyak sekali bangunan masuk kriteria pusaka bendawi (tangible heritage) yang menarik. Misalnya di Banda, wilayah Maluku, Makassar dengan Fort Rotterdam-nya, dan benteng di Bau-Bau, Buton. Benteng di Buton ini merupakan benteng yang unik karena dibangun dengan karang atol. Lebih menariknya lagi karena didirikan oleh inisiatif anak bangsa, bukan dari bangsa asing seperti benteng-benteng lainnya. Sebuah catatan kecil, bentuk dan lokasi benteng Wolio di Buton ini mengingatkan saya akan bentuk dan material yang sama dengan benteng Shurijo di Naha, Okinawa, Jepang.
Sayangnya, sekali lagi seribu sayang. Kenyataan membuktikan kurang adanya keseriusan baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat setempat. Dari sekian benteng yang pernah saya kunjungi, satu benteng yang cukup terawat dan memang telah diubah fungsi menjadi museum sepenuhnya adalah benteng Vrederburg, kebanggaan kota Yogyakarta. Perawatan benteng ini dilakukan secara cukup serius, meski ada beberapa catatan untuk manajemen benteng ini. Informasi yang tanggung dan kurang dilakukan secara teliti dan detail adalah salah satunya.
Bicara mengenai pelestarian warisan budaya—khususnya peninggalan bendawi (tangible heritage)—saya ingin sekadar berbagi pengalaman. Saya cukup beruntung dapat mengunjungi sebuah tempat yang dinamakan dengan Dejima di wilayah kota Nagasaki. Kota Nagasaki umumnya dikenal sebagai kota yang dibom atom oleh Amerika Serikat. Ternyata Nagasaki tidak hanya menyimpan cerita tentang bom atom.
Dejima adalah sebuah wilayah bagian dari pulau hasil reklamasi. Karena orang asing tidak diperkenankan masuk secara bebas, maka pembangunan Dejima ini adalah solusinya untuk mengonsentrasikan orang asing di sini. Pada tahun 1634 pulau ini dibentuk untuk memberikan tempat bagi orang asing, awalnya bagi bangsa Portugis untuk melakukan aktivitasnya. Setelah bangsa Portugis diusir oleh Jepang wilayah Jepang kemudian digunakan sebagai kantor perwakilan dan pusat administrasi VOC, Belanda. Satu-satunya bangsa Eropa yang diperbolehkan melakukan perdagangan langsung di Jepang pada masa itu.
Dejima yang dikenal dengan nama Oranda Shokan (kantor administrasi belanda) ini yang habis dilalap api karena perang di zaman Meiji. Bangunan ini dibangun dan direkontruksi kembali oleh pemerintah Jepang sejak tahun 2000 dan dibuka untuk umum sejak tahun 2006. Saat ini, Dejima dapat dinikmati oleh publik berdiri dan dirancang secara detail dan diupayakan persis seperti aslinya. Upaya ini dilakukan dengan sangat serius sehingga kita seakan memasuki wilayah di mana seorang kapitan, pimpinan perwakilan kantor VOC di Jepang, memimpin perdagangan Belanda ke seluruh penjuru dunia. Namun, perdagangan utama Belanda yang utama adalah jalur perdagangan segitiga antara Jepang, Hindia Belanda yang dikuasai VOC alias kompeni, serta negara induknya, Belanda.
Yang membuat saya begitu terkesan dan menyenangi kunjungan ke Dejima ini adalah penyajian informasi serta pengaturan benda-benda dan pendirian bangunan dalam museum ini sangat detail, penuh perhitungan, dan sangat rinci. Sejarah yang tampak kuno dan jadul, menjadi sesuatu yang menyenangkan dan juga dilengkapi perlengkapan teknologi tinggi. Entah kapan Indonesia akan memiliki museum semacam ini, ya?
Tapi keterkejutan saya bukan karena gedung atau dioramanya yang detail. Pertama kali melangkahkan kaki di Dejima, tiba-tiba saya merasa begitu familiar. Gedung-gedung yang berdiri di sana membuat saya serasa saya kenal dengan baik. Masuk ke dalam museum lebih dalam, ternyata menjadi sangat jelas. Ternyata ada kaitan antara arsitektur di Dejima dengan bangunan kolonial di Indonesia. Perancangnya dari Belanda dan warnanya pun memiliki kesamaan. Ah, pantas saja.
Namun, tidak hanya sebatas kesamaan warna dan bentuk gedung. Gudang-gudang yang dulu juga pernah ada di Dejima diisi dengan gula yang dibuat di, sekali lagi, Hindia Belanda. Selain gula juga tak lupa rempah-rempah, termasuk pala, cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang berasal dari kepulauan Maluku (Jepang dan Ternate memang terhubung sejak zaman dulu). Jepang juga mengenal beberapa flora dan fauna asli Indonesia berkat perdagangan segitiga ini. Baiklah, kekayaan kita memang diperas untuk kepentingan para penjajah. Namun, bagaimana dengan orang-orang Indonesianya?
Aha, akhirnya saya temukan bangsa Indonesia di dalam museum ini. Pertama mereka berperan sebagai koki dan pelayan, yang jelas berperan di urusan dapur. Daging ham yang diawetkan dengan cengkeh adalah bukti urusan dapur dan perut bisa membawa situasi ke penjajahan. Tapi para pelayan dari Indonesia ini tampak jelas membawakan minuman anggur dan juga melayani urusan dapur. Hanya pelayan? Ya, hanya pelayan.
Untuk urusan museum memang kita perlu belajar dari rancang bangun dan juga penyajian informasi dari Dejima. Kita perlu belajar dari perencanaannya dan juga keseriusan menggarapnya. Di sisi yang lain, kita perlu bertekad dalam benak dan sanubari kita. Bayangkan seandainya sejarah di masa depan nanti akan mencatat kejayaan dan kebesaran nama bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar dan beradab. Bukan sekedar negara jajahan dan bangsa kuli. Tentu saja kita akan bangga! Ah, semoga ini tidak hanya menjadi sebuah imajinasi belaka.
Diperlukan upaya khusus untuk meningkatkan kesadaran kita, bangsa Indonesia, supaya mau menjaga dan melestarikan peninggalan budaya kita. Tentu saja, di seluruh wilayah Indonesia. Usaha dan strategi yang tepat adalah upaya penting. Ingat, masyarakat kita memiliki keragaman budaya yang luar biasa kayanya. Sekaligus kita harus sadari bahwa masyarakat kita masih lemah dalam memahami pentingnya kesadaran untuk menjaga jejak sejarah maupun peningalan pusaka, baik yang berwujud (tangible) maupun tak berwujud (intangible). Bukan sekadar retorika atau seminar di sana-sini. Namun, sebuah kegiatan yang tepat sasaran dan aplikatif harus dilakukan. Selain itu, perlu juga ada inisiatif penuh dari masyarakat setempat. Dan yang terpenting semua itu dilakukan dengan sepenuh hati, serta nothing to lose.[mspa]
* Meta Sekar Puji Astuti adalah penulis buku Apakah Mereka Mata-Mata? - Orang-Orang Jepang di Indonesia 1868-1942. Lulusan Sastra Jepang UGM dan menyelesaikan studi masternya di Ohio University, Amerika Serikat. Tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jepang, Universitas Hasanuddin. Ia pernah menjadi peneliti tamu di Keio University tahun 2008-2009 disponsori oleh The Japan Foundation. Saat ini tengah menempuh studi S-3 di Keio University, Tokyo, Jepang. Selain akademisi dan peneliti, ia juga seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak yang peduli dengan pendidikan bangsa untuk penyadaran identitas diri bangsa Indonesia. Meta dapat dihubungi melalui pos-el: meta_mks[at]yahoo[dot]com.

June 22nd, 2010 at 11:18 am
trims tulisan yg mencerahkan. saya baru pulang dari maluku utara, dan sangat setuju dg tulisan anda.