Untuk Apa Tidak Menabung?

Bartholomius PadatuOleh: Bartholomius Padatu*

Jenuh dengan kemiskinan dan konsep turunannya seperti; lemahnya daya beli, menyusutnya naluri kepemilikan, terjungkalnya martabat diri, termajinalkan dalam pergaulan sosial, sumber pertikaian keluarga, dll. Keadaan yang demikian tentulah, jika dinalar dengan akal sehat, merupakan keadaan yang tidak satu pun manusia rasional bersukarela bermukim di wilayah kemiskinan, apalagi menjadi “warga negaranya.” Namun faktanya, ada banyak orang yang berada pada wilayah tersebut dengan multi sebab kehadirannya.

Tulisan ini tidak berpretensi atau berkeinginan mendaftar keberadaan mereka lengkap dengan seperangkat alat analisis rigid guna memetakan faktor-faktor penyebab, terlebih memprediksi mutu masa depan mereka. Tulisan ini juga tidak bertukar-tanding dengan konseptor-konseptor lainnya yang telah menjagat-raya dengan formulasi idealis-pragmatis mereka mengenai cara jitu, kiat mujarab membongkar atau menghancurkan “Batu ginjal kemiskinan yang menyiksa”.

Jika nantinya tuturan ini pun jatuh pada wilayah yang mirip-mirip reformulasi resep cespleng, ya demikianlah adanya keberpihakan tulisan ini pada usaha-usaha getol untuk turut berkoor-ria (paduan suara) mempreskripsikan jalan tengah. Sedikit jalan baru membujuk secara halus melalui pertukaran gagasan-gagasan guna menjawab pertanyaan sakral “Bisakah orang pas-pasan” (jika tidak mau dikatakan miskin) mengepaskan kembali ukuran harapan ekonomi kehidupan mereka ke tingkat yang lebih berpengharapan, ketimbang sekadar puas dengan kata “cukup-cukupan”.

Kehadiran lembaga-lembaga keuangan, khususnya pemberlakuan mekanisme pertukaran uang, penanaman modal, atau investasi kaya model; depositolah, danareksalah, obligasi, dan macam-macam lainnya menjadi fenomena subur yang terus bertumbuh di tengah-tengah badai trust and distrust pernasabahan. Meskipun demikian, kehadiran lembaga-lembaga pengelola dana ketiga (penabung) tentunya dapat dipahami dari akar filosofis ontologis (nilai kehadiranya) hingga aksiologis (kemanfaatan). Rekapitalisasi dana minim, menjauhkan uang mereka dari tangan “keempat” (sebut saja pengutil), penjaga kebersahajaan hidup dengan mempertahankan gaya hidup sehat, paling tidak demikian beberapa rincian kemanfaatannya.

Kehendak menuliskan pemikiran ini menajam pada semangat yang berkobar-kobar sebagai pemantik penyalaan proteksi-prakondisi bagi banyak orang yang masih berputar-putar dengan ketidakbiasaan menyikapi atau menjinakkan “naluri boros mereka”, “belanja buruk”, “minus kesadaran dengan multi-disaster atau bencana”, bahkan “regenerasi ekonomi pewaris”. Sharing ide atau gagas emiksasi (memaknai) “untuk apa tidak menabung” diruncingkan untuk membangun ketangguhan finansial melalui tindakan sadar; mengamankan atau mengelola secara cerdas dan berdimensi protektif multi ancaman yang memaksa orang patuh pada logika “uang sebagai power.

Persoalannya, beberapa orang sangat serius dan kukuh memijakkan diri pada landasan logika cair bahwa “uang bukanlah segala-galanya”, sehingga membuka celah bagi koreksi pada argumentasi “uang adalah alat pertukaran lega dan powerful” di mana banyak hal akan dikaitkan dengan kemampuan pertukarannya. Dengan sendirinya pelemahan nilai atau bobot kebermaknaan uang menjadi melemah manakala ditarik dengan logika-logika lainnya yang tampaknya benar di permukaan, benar secara parsial, dan tidak mencukupi nilai keutuhan di mana uang sebagai alat mekanis dari sistem “survival life” (perjuangan melanggengkan kehidupan). Dalam hal ini orang lupa bahwa uang (ekonomi) tuntas mengukuhkan dirinya di panggung peradaban hidup manusia sebagai suprasistem dari subsistem lainnya seperti; politik, budaya, keamanan, relegi, dll.

Logika tandingan yang saya maksudkan adalah simplikasi (penyederhanaan) konsepsi-konsepsi definitif (bersipat definisi) mengenai arti limitasi esensi (batasan makna) miskin, kaya. Beragam olah batas makna kemiskinan memecundangi pribadi-pribadi tertentu menurunkan kewajiban mereka untuk hidup lebih dari kecukupan ke wilayah datar yang dimaksud hidup sederhana itu indah, sederhana itu tenang, sederhana itu keren. Seandainya yang ia maksudkan sederhana itu adalah tidak kekurangan, namun menurunkan level keberdayaan mereka dari tingkatan berkelebihan dan menahan diri pada level menengah (artinya berkelebihan namun tidak berkekurangan) tentulah saya sepaham dengan konsep kesederhanaan yang mereka maksudkan. Namun, jika mereka menggeser atau mendistorsi hidup sederhana padahal tidak berkelebihan ataupun berkecukupan tentulah pemahaman tersebut berubah menjadi “opium” pelemahan kesadaran realitas sesungguhnya bahwa kekurangan atau kemiskinan asimetris dengan nilai kesederhanaan yang sejatinya.

Logika turunan lainnya yang mengandum “opium” pelemahan realitas adalah cara berpikir “tentativitas kemiskinan” dalam periode waktu sehari. Maksudnya, beberapa orang menyukai dininabobokan oleh nalar filosofis bahwa kesusahan itu berumur satu hari, besok tidak terwariskan dengan kesusahan tersebut. Cara bernalar demikian sesungguhnya dapat dianalogikan seperti seorang yang menghindari cekikan hutang dengan meminum alkohol agar realitas di kepalanya bergeser kewilayah penyembunyian pikiran kecemasan seolah-olah dia telah pergi jauh dan hidup terlepas dari tangan-tangan peminjam yang mencekik dirinya. Tentu kita mengetahui ending analogi tersebut yaitu kembalinya “tangan-tangan pencekik utang” manakala pengaruh alkohol menguap dan kembali menyingkapkan “aura ketidakberdayaan”.

Realitas kemiskinan dengan aneka perwujudan sesungguhnya berada pada jalur prediktif, artinya dapat diramalkan daya permanennya (keabadiaannya). Kemampuan menalar keabadian kemiskinan tentunya harus ditopang dengan keberadaan pemahaman filosofis yang benar berkenaan bagaimana seharusnya menyikapi fenomena kemiskinan tersebut.

Mengubah cekikan kemiskinan tentunya dapat dimulai dengan melakukan pelurusan-pelurusan anutan-anutan prinsip yang telah dibekukan dalam ruang kesadaran. Pelurusan-pelurusan dimaksud adalah uji kepatutan anutan logika-logika yang men-drive konstruksi model kehidupan berdasarkan fondasi-fondasi filosofis. Logika-logika un-productive seperti “hidup sederhana namun sesungguhnnya berkekurangan” perlu mendapatkan pendudukan kembali makna sesungguhnya. Logika bahwa kesusahan hanya berdurasi periodik harian tentunya tidak dapat dipertahankan lagi selain segera diceraikan, dirontokkan, dan dilempar dari kamus hidup bermartabat, hidup kaya. Sejauh pribadi tertentu tidak membereskan cara berpikir tertib menyangkut cara menyikapi hal kemiskinan, kesederhanaan, ataupun kaya tentulah anomali-anomali (ketidakselarasan) menjadi fenomena keseharian yang menjungkirbalikan nalar sehat. Akibatnya jelas sebuah konstruksi kehidupan yang destruktif (mengarah pada kehancuran sistemik).

Usai membereskan beberapa anutan logika nalar yang asimetris tersebut di atas (tentunya masih banyak konsep-konsep lainnya) penting memasukkan konsep baru yakni “MENABUNG” sebagai kata kunci instrumen kontrol kehidupan yang dikehendaki, proteksi kondisi un-predictive sekaligus yang sanggup diramalkan. Mendapatkan tulisan resep menabung tentu bukan kabar yang menggembirakan atau formula mujarab temuan baru. Konsep ini sesungguhnya setua peradaban. Konsep menabung sesungguhnya telah mencuat ketika orang memahami konteks perebutan sumber daya alam. Keterbatasan sumber daya alam dan munculnya naluri liar atau serakah manusia ditambah dinamika turbulensi siklus alam yang disharmoni terhadap aktivitas penghidupan manusia memunculkan konsep “menabung dengan ragam sinonimnya” sebagai tindakan bijak, pilihan orang-orang yang berkemampuan mengelola energi hidup.

Menabung harusnya menjadi gaya hidup yang terus tumbuh secara linear dengan testimoni-testimoni khalayak yang memberikan pembenaran asumtif bahwa seabrek faedah dapat ditangguk dengan strategi menabung. Menabung dapat menjadi sarana aksentuasi simbolik kecerdasan atau kearifan hidup seseorang terkait apa yang mendatangi dirinya (uang) dan bagaimana berkreasi sekaligus berekreasi dengan kemampuan uang. Bagaimana mengutus uang untuk melakukan serentetan agenda kegiatan yang sifatnya penggandaan. Bahasa sederhananya lepas seribu datang sejuta”. Menabung dapat menjelma menjadi mesin pengaman perputaran kehidupan. Menabung dapat menjadi brand (merek) diri pribadi-pribadi yang sadar bencana, sadar ketidakpastian daya dukung lingkungan hidup. Menabung menjadi “penjara uang positif” dan membiarkan para pencuri frustrasi (tapi tidak berlaku bagi pencuri internal/pengelola saving).

Menabung membangun kesadaran kita bahwa pemborosan adalah proses pemendekan daya jangkau hidup. Nasihat bijak mengatakan “bila Anda menghabiskan semua yang Anda dapatkan, anda tidak akan pergi kemana-mana.” Daya ikat lingkungan, ruang pergerakan kebebasan menjadi pagar pembatas bagi mereka yang terus membuka kran pemborosan. Kebiasaan menabung menjadikan Anda dikenal sebagai pribadi berkejiwaan waras bencana.

Untuk apa tidak menabung? Menjadi sebuah pernyataan yang menekankan aspek pertanyaan dan menuntut kita merentang menjawab kebermanfaatannya. Untuk apa tidak menabung jika menabung dapat menjadikan kita pribadi yang bermartabat? Untuk apa tidak menabung jika menabung menjadi sarana eskalasi martabat? Benar kata penutur-penutur pendahulu yang menggaristebalkan pernyataan “HANYA ADA SEDIKIT KARAKTER DALAM KEMISKINAN”.

Besaran tabungan Anda dapat menjadi oksigen ruang icu kehidupan Anda. Tabungan Anda dapat menjadi kebun tamasya pikiran tenang manakala dunia ini mengalami kekacauan ekonomi. Kelolalah tabungan Anda bukan dengan mekanisme simpan tarik-simpan-tarik, namun sedapat-dapatnya dua kali simpan satu kali tarik’, lalu semakin menguat tiga kali simpan satu kali tarik’, dan seterusnya hingga Anda hanya menjadikan simpanan tersebut sebagai penyisihan dari situasi hidup cukup. Dan juga, Anda dapat menyisihkan kelebihannya tanpa harus berpikir menariknya kembalihingga suatu waktu ia menjadi harta karun bagi generasi selanjutnyabahkan menjadi media donasi-donasi isu-isu kemanusiaan.

Menabung dapat menjadi termometer pengukur dinamika kemajuan hidup Anda dan bukan sebaliknya kemunduran. Menabung dapat memberi Anda insentif sebuah cermin untuk mengenali seorang tua di kemudian hari dalam sebuah cermin dengan memegang sebuah pertanyaan,Bagaimana saya memperlakukan saya nantinya?”

Kemampuan Anda menata ritme tabungan menjadi sumber refleksi akan kemampuan Anda dalam menata logika atau akal budi. Mintalah nasihat hanya kepada orang yang cerdas dalam menabung, maka Anda akan dijangkitkan suatu sistem cara berpikir yang sistemik. Ia akan membawa Anda mengenali manfaat berdampak sistemik bagi kehidupan Anda di kemudian hari melalui keprigelan menabung.

Menabung pada tingkatan tertentu bukanlah aktivitas menyimpan kelebihan. Cara berpikir demikianlah yang mengempas banyak orang ke area ketidakmampuan menabung. Kelebihan bukanlah istilah atau semacam kunci untuk membuka rekening. Menakar belanja ke dalam kategori skala perioritas atau belanja baik atau buruk (menurut istilah Robert Kiyosaki) adalah mekanisme jitu untuk menemukan adanya satuan mata uang yang dapat disimpan. Menabung itu sendiri sesungguhnya harus menjadi salah satu mata anggaran belanja domestik. Menabung harus dipandang sebagai item strategis memberi makan keluarga di kemudian waktu. Berhati-hatilah dengan filosofi belanja banyak adalah keren. Pembelanja yang keren adalah orang yang mampu menakar kekuatan otot dompetnya dengan beban masa depan.

Jika ada peribahasa mengatakan “menabung pangkal kaya” saya ingin merekonstruksinya menjadi “menabung adalah keseluruhan kekayaan”. Jika ada tuturan yang mengabadikan pernyataan “ingatlah masa tuamu dengan menabung”, maka konstruksi saya adalah “pandanglah tabunganmu maka engkau akan melihat seorang nenek atau kakek sedang berbelanja dengan anggun”.

UNTUK APA TIDAK MENABUNG? Akhirnya, itu boleh menjadi pertanyaan abadi untuk dijawab oleh siapa pun, syukur-syukur menjadi sebuah buku di kemudian waktu.[bp]

* Bartholomius Padatu (disingkat BL Padatu) lahir samarinda 24 November 1974. Ia menikah dengan Selvy Handayani, S.E. dan dikaruniai seorang putri bernama Shekinah Jeshan Padatu. Padatu menamatkan studi S-1 di STT INTIM, Makassar 1993-1999, menikmati pembelajaran S-2 di Jurusan Administrasi Negara FISIPOL UGM Yogjakarta 2007-2009, dan studi S-3 sedang ditempuhnya pada 2009 di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif berkesenian teater, menulis naskah, dan mensutradarai pementasan-pementasan teater. Padatu senang bertemu dengan pribadi-pribadi pembelajar.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

One Response to “Untuk Apa Tidak Menabung?”

  1. Untuk Apa Tidak Menabung? « Peta perubahan Says:

    [...] Untuk Apa Tidak Menabung? Jump to Comments Untuk Apa Tidak Menabung? [...]

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox