Typical Tetapi kan Real…
Editor | Kolom Tetap | June 16th, 2009
Oleh: Alexandra Dewi*
Dalam kehidupan, kita diajarkan untuk selalu mempunyai mimpi atau goals. Katanya, semakin tinggi cita-cita kita, semakin bagus karena kalau tidak punya cita-cita, kita tidak punya impian dan goals. Artinya, kita tidak punya tujuan hidup. Bahkan, sebaiknya cita-cita kita setinggi langit, karena kalau separuh saja dari cita-cita itu tercapai, itu menunjukkan bahwa kita sudah sukses. Kalau cita-cita hanya menjadi tukang cuci sepatu, bagaimana mungkin bisa menjadi direktur sebuah perusahaan, misalnya.
Namun, dalam menjalankan kehidupan—di mana faktor timing, faktor keselarasan rencana Tuhan dengan apa yang kita rencanakan misalnya belum sesuai—tidak jarang apa yang kita rencanakan dan kita impikan akhirnya tidak sama dengan hasil nyatanya. Akhirnya, banyak orang yang frustrasi, stres, atau bahkan dua-duanya.
Belum lama berselang anak saya yang bungsu baru saja wisuda dari Taman Kanak Kanak (TK). Dan, saya dengan senang hati menerima tawaran untuk menjadi pembicara tamu dalam acara wisuda tersebut. Walau hanya wisuda TK, bagi saya wisuda tetaplah wisuda. Saya coba susun suatu speech sederhana yang mudah-mudahan memberikan partisipasi. Syukur-syukur kalau ada efek positif bagi yang hadir di sana. Dorongan lain mengapa saya terima tawaran ini adalah untuk kenang-kenangan buat anak-anak saya ketika mereka dewasa nanti.
Anyway pada acara wisuda tersebut masing-masing anak ditanya apakah cita-cita mereka ketika dewasa nantinya. Alangkah menggemaskan, lucu, dan entertaining mendengar semua jawaban yang anak-anak umur 6 tahun itu berikan. Anak saya sendiri menjawab bahwa kalau nanti sudah dewasa ia ingin menjadi fire fighter (petugas pedaman kebakaran).
Kebetulan sekali! Speech saya hari itu tanpa saya kong kalikong dengan panitia , juga mengenai cita-cita masa kecil serta apa yang terjadi ketika kita sudah menjadi dewasa. Saya ceritakan bahwa ketika saya kanak kanak, saya banyak cita-cita. Kalau ditanya, “Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?” Jawaban saya beraneka ragam, mulai dari mau menjadi perawat atau pramugari. Alasannya ketika itu adalah karena saya suka dengan seragamnya.
Dan, saya juga pernah ingin jadi pengacara karena Mama saya pernah berkata, jika sedang berdebat dengan beliau, selalu saja saya ada sejuta alasan, dan tahu kata-kata apa yang harus saya lontarkan untuk balik menyerang. Layaknya seorang pengacara memang. Sampai akhirnya, saya ganti lagi cita-citanya, yaitu ingin menjadi penterjemah bahasa asing yang menguasai lima bahasa sekaligus.
Tetapi sekarang setelah saya dewasa, jadi perawat tidak pernah kecuali pakai seragam perawat ketika pesta Hallowen. Saya juga tidak pernah jadi pramugari. Suami saya bahkan berkomentar, dengan level kesabaran saya yang masih serba minim, saya tidak bakalan tahan satu bulan jadi pramugari. Bahkan, bisa-bisa saya menyuruh penumpang yang menuangkan teh kepada saya hahaha…. Dan, saya pun tidak pernah masuk sekolah hukum. Boro-boro jadi pengacara betulan, iya kali kalau pengacara yang artinya pengagguran banyak acara hahaha…. Dan, jangankan bisa lima bahasa asing, bisa dua bahasa saja ini sudah puji Tuhan.
Akhirnya, saya berpikir bahwa apa pun yang kita cita-citakan ketika kita masih anak-anak, dan apa jadinya kita sekarang tidak membuat kita frustrasi. Karena, kita bisa menerima kenyataan bahwa dalam perjalanan hidup, kesempatan apa yang ada di depan mata kita, yang REAL, itulah yang kita jalankan dulu. Walau saya juga tahu, ada orang-orang yang benar-benar mengerjakan cita-cita masa kecilnya. Tetapi, lebih banyak saya tahu yang sekolah guru malahan akhirnya jadi pedagang, atau yang arsitek tetapi malah punya sekolah musik. Wah, macam-macam deh.... Tidak semua yang direncanakan terjadi dan dalam hal ini saya pikir tidak ada buruknya sama sekali.
Boleh saja kita sekolah lulusan sastra, tetapi jika kesempatan yang terbuka di depan kita tidak ada sangkut pautnya dengan sasta dan bidang disekitarnya, toh itu REAL dan itu masih namanya kesempatan. Kalau kita terlalu kaku dengan cita-cita kita, dan tidak menghiraukan kesempatan yang datang di depan mata kita, alangkah sayangnya…. Bisa-bisa kesempatan itu hilang, cita-cita pun tidak dapat. Saya pikir, dalam hal ini lebih baik kita flexible.
Saya juga—kalau boleh pilih—ingin coba rasanya jadi Paris Hilton, seperti apa ya? Tetapi, kalau saya kekeuh cita-cita saya harus seperti Paris Hilton, elooooh orang tua saya saja tidak punya hotel, bagaimana mau jadi Paris Hilton, gitu lhoooo!
Mendingan saya melihat apa yang ada di depan mata saya saja, dan saya coba kerjakan kesempatan, baik kecil maupun besar. Dan dari situ, lihat ada jalan apa lagi yang Tuhan sediakan untuk saya. Lagipula saya pribadi berpendapat, kalau kita tidak bisa hargai rezeki kecil, bagaimana mau langsung dapat rezeki besar?
Balik ke acara wisuda anak saya. Saya sempat katakan dalam speech sederhana itu, setelah dewasa saya baru sadar bahwa kualitas hidup kita sebenarnya tidak seratus persen dibilang sukses atau tidak, semata dari label pekerjaan dan berapa digit angka penghasilan kita. Banyak orang sudah berkelimpahan tetapi masih saja tidak tahu bagaimana menggunakan anugerah itu untuk live well. Sebaliknya, ada juga yang sudah tidak punya uang namun masih saja foya-foya (pakai uang pinjaman) dan malas bekerja. Semua itu tergantung kepada diri kita sendiri, bukan soal apa label dan title kita. Tetapi, itu soal apakah kita bisa hidup bahagia, apa pun pekerjaan atau mata pencaharian kita.
Saya ingin anak-anak saya tahu bahwa punya uang dan punya ‘class’ bukan hal yang sama. Saya ingin mereka tahu mana benar mana salah, dan mudah-mudahan most of the time, mereka akan pilih mana yang benar walaupun tidak ada yang melihat kecuali Tuhan tentunya. Dan, saya juga ingin mereka tahu kadang being kind can be more important than being right.
Saya ingin anak perempuan saya mendefinisikan “sexy” sebagai: “Saya ingin bersama pria ini karena saya mau, bukan karena saya tidak ada pilihan atau jalan lain.” Saya ingin anak laki-laki saya kelak menjadi seorang pria dewasa yang berani mengambil risiko, bertanggung jawab, dan tahu bagaimana mencintai serta menghormati wanita. Karena, teman-teman wanita saya sering komplain bahwa zaman sekarang susah sekali cari pria yang “bener“, mudah-mudahan saat ini setidaknya saya sedang berusaha membesarkan anak laki-laki saya supaya menjadi salah satu pria yang “bener”, sehingga stok pria “bener“ di masa depan setidak-tidaknya akan bertambah satu.
Itu semua cita-cita, dan seperti semua cita-cita lainnya, tentu harus diperjuangakan. Namun, anak-anak saya jadi apa pun kelak, saya sebenarnya hanya ingin mereka REALLY…HAPPY. Itu saja. Suatu wishing yang very typical… typical tetapi real. Biar saja dibilang typical alias pasaran yang penting real dan enggak neko-neko, daripada heboh tetapi hanya ada di fantasi kita saja.[ad]
* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang keempat tentang fashion. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

June 19th, 2009 at 4:47 am
Cita2ku sd mau jadi pramugari, smp mau jadi pragawati, smu mau jadi perancang busana, kuliah mau jadi pengusaha. Ternyata ke4 cita2ku gak kesampaian, tapi aku punya kerjaan yang halal dan berkah. Gaji lebih besar dari gaji pramugari dan pragawati papan atas, mungkin ini anugrah dari tuhan. Insya Allah aku akan sekolah mode, siapa tau bisa jadi perancang busana atau buka butik. Atau juga kuliah lagi memperdalam ilmu bisnis, bekal buat jadi pengusaha. Namanya juga cita2 yang penting baik, tidak mengecewakan orang. Apalagi merugikan orang, cita2 yang baik2 aja deh.
June 22nd, 2009 at 12:03 pm
Waktu saya kecil, paling bingung jika ditanya “cita-citamu apa kalau sudah besar, Id?” duuuhh.. kalu saya jawab “gak tau” atau “gak ada” balik mereka yang bingung…., tetapi setelah besar dan dewasa baru lah saya sadar, bahwa betapa pentingnya menanamkan suatu cita-cita di masa kecil, hal itu akan mengajarkan anak untuk berusaha menjadi apa yg diinginkannya, artikelnya menarik sekali Mba Dewi, thank you