Trust as The Key of Love
Editor | Kolom Lepas | October 13th, 2009
Oleh: Handini Audita*
Banyak pasangan yang sering marah karena terbakar api cemburu. Saat pasangannya berbicara dengan mantannya, atau apabila pasangannya berbicara dengan seorang wanita yang mengaguminya, mulailah api cemburu berkobar. Hal ini sering mengakibatkan pertengkaran pada pasangan-pasangan tersebut.
Saya pernah mengalami hal itu. Saya pikir hampir semua orang pernah mengalaminya. Namun, hanya sedikit yang mampu membuat hal ini tidak menjadi suatu masalah.
Suatu pengalaman berharga pernah saya alami....
Suatu hari saya dan pacar sibuk seharian menyelesaikan pekerjaan kami masing-masing. Walau begitu, kami tetap menyempatkan diri untuk bertemu sesaat saja. Ya, hitung-hitung melepas kangen lah.… Lalu, kami berbincang-bincang dan bercanda sesaat. Sampai akhirnya dia tertidur di sofa rumah saya. Mungkin karena dia terlalu lelah beraktivitas seharian. Tiba-tiba saya teringat keluhannya tentang handphone-nya yang sering error. Saya coba melihat apa yang terjadi dengan HP-nya. Alamak…! Ternyata inbox-nya berisi ribuan pesan yang belum terhapus. Begitu juga sent items-nya. Pantesan saja handphone-nya sering hang..! Dasar pria...! Pemalas...! Menghapus pesan gak penting saja susahnya minta ampun.
Akhirnya, saya membangunkan dia dan meminta izin untuk menghapus pesan-pesan tidak penting yang ada di handphone-nya itu. Dia memperbolehkan dan kembali tidur. Waktu menghapus pesan-pesan yang ada di inbox-nya itu, betapa terkejutnya saya….! Mantannya masih mengirimkan SMS ke pacar saya. Saya langsung terbakar api cemburu! Mulailah saya membaca pesan dalam inbox satu per satu.
Ada yang isinya… “Tlp gw..”
Ada juga yang… “Kapan ke Bandung?”
Ada juga yang isinya... “Gw kangen lo nyet…!”
Yang paling bikin emosi jiwa… “Tadi nelpon ya? Ada apa??”
Wah… langsung deh saya emosi! Marah.... Sebel.… Benci.... Mikirin yang nggak-nggak.. Pokoknya BeTe banget, deh..! Langsung saya bangunkan dia.
“Katanya kamu capek. Pulang saja sana! Tidur di rumah!” ucap saya dengan nada agak sedikit kasar.
Karena merasa ada yang aneh dengan sikap saya, pacar saya bertanya, “Kenapa, sih? Gak ada angin gak ada hujan, kok tiba-tiba langsung BeTe, gitu…?”
Dengan nada serius saya menjawab, “Kamu merasa ada salah enggak sama aku? Kamu ngerasa lagi bohongin aku enggak?”
“Enggak...!” jawabnya tegas.
“Bohong…! Kamu masih berhubungan kan sama mantan kamu? SMS di inbox kamu tuh dah ngejelasin semuanya tau..!” ucap saya marah.
Tanpa beban dia menjawab, “Lha... Aku sama dia tuh dah gak ada apa-apa.... Tapi, walau aku udah putus sama dia, bukan berarti kami harus musuhan, kan? Aku dan dia masih bisa berteman, kan? Emangnya anak SMA. Yang habis putus langsung musuhan? Kita sekarang dah dewasa say.... Don’t think too narrow lah…!”
Mulailah saya naik darah. Saya tanya satu-satu. Biar puas sama jawabannya. “Dia sering minta kamu nelpon dia, terus ngapain kamu ngeladenin? Waktu ke Bandung, kamu ketemuan kan sama dia? Ngapain juga kamu nelpon-nelpon dia?”
Satu per satu-pun dia jawab. “Ya, kalau dia minta aku nelpon dia, aku nanya dulu ada apa. Kalau penting banget baru aku telepon. Waktu ke Bandung aku enggak ketemu sama dia, kok. Aku ketemu sama teman-teman SMA-ku. Aku nelpon dia pas itu untuk nanyain dia lagi di mana. Soalnya, pas itu dia minta data foto yang ada di laptop-ku. Karena dia enggak punya laptop, ya aku kasih dalam bentuk CD. Begitulah....”
Karena sedang marah, apa pun yang dia katakan pasti akan selalu salah. Saya tidak percaya dengan semua yang dia katakan. Saya menjawab, “Kamu pembohong. Aku kecewa sama kamu!”
Merasa tak ada gunanya menjelaskan karena apa pun yang dia katakan tidak akan saya terima, maka pacar saya pun hanya bisa berkata, “Terserah kamu, deh. Aku capek. Aku pulang dulu.”
Setelah dia pulang, saya menceritakan masalah tersebut kepada salah satu teman saya. Teman saya ini dengan bijak berkata, “Yang penting tuh kamu PERCAYA dan YAKIN kalau hanya kamu yang ada di hatinya. Kalau kamu sekarang marah-marah kaya gini, kamu juga kan yang rugi. Rugi karena capek marah-marah.”
Marah saya berangsur mereda. Kata-kata teman saya itu membuat saya mulai berpikir jernih. Selama ini saya tidak pernah tahu apa yang dilakukan pasangan saya saat tidak bersama saya. Saya juga tidak tahu dengan siapa dia saat dia tidak bersama saya. Begitupun sebaliknya. Dia juga tidak tahu saya sedang apa, dengan siapa, saat kami tidak sedang bersama-sama. Namun, kami juga tidak akan bisa selalu bersama dalam arti kapan pun dan di mana pun. Lalu, apa yang terjadi jika saya tidak percaya padanya? Pasti hubungan ini tidak akan berjalan.
Jadi, yang terpenting dalam suatu hubungan adalah apa yang ada di dalam hati yang paling dalam. Tidak peduli dengan siapa dia berbicara atau pergi, yang harus kita yakini hanya satu: Percaya hanya ada saya di hatinya.
Mengagumi bukan berarti mencintai. Pasangan kita bisa saja dekat dengan selebritis ternama yang cantik dan tampak sempurna. Tapi, hati tidak bisa berbohong. Jika hanya ada saya di hatinya, maka selamanya akan hanya ada saya di hatinya.
Banyak pasangan mengakhiri hubungan percintaan mereka hanya karena cemburu. Hal ini tidak beralasan karena belum adanya bukti nyata dan jelas bahwa pasangannya bersalah. Banyak wanita menuduh pasangannya berselingkuh hanya karena emosi sesaat. Sebagai akibat dari cemburu itu adalah berakhirnya hubungan mereka. Setelah mereka mengakhiri hubungan, banyak yang menyesal. Ada sedikit yang mampu mempertahankan hubungannya, namun selalu diliputi dengan kecurigaan. Apakah kita bisa bahagia dan tenang bila selalu begitu? Jelas saja tidak. Oleh karena itu, jika sudah cinta, maka percayalah.
Kalau kita memercayai pasangan kita, hubungan percintaan menjadi terhindar dari pertengkaran yang tidak penting dan tidak beralasan. Komunikasi akan berjalan dengan lancar apabila kita menjalin hubungan yang harmonis dengan pasangan kita. TRUST IS THE KEY OF LOVE. Ya, saling percaya.[ha]
* Handini Audita, seorang mahasiswa semester V di Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada. Ia berprinsip untuk selalu do the best pada segala sesuatu yang dilakukannya. Percaya bahwa every problem has a miracle on it membuatnya memiliki hobby yang unik, yaitu mengamati dan kemudian mempelajari kejadian-kejadian unik yang terjadi di sekelilingnya. Pernah menulis novel dalam bahasa Inggris saat bersekolah di Elementary School di Australia, tetapi belum diterbitkan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: handini_audita90[at]yahoo[dot]co[dot]id.
October 13th, 2009 at 10:15 pm
duh….dokter cinta ni ye…… tulisan yang menarik. Aque tunggu tulian-tulisan berikutnya…..
October 14th, 2009 at 4:25 am
cihuuii mbak nya sudah di rating..
cieeee penulisss niyeee..
nice at all..
October 14th, 2009 at 7:13 am
iya sih.., klo ngga ada kepercayaan terhadap sesama pasti sulit untuk membina hubungan, dan jgn sesekali lgsg berfikir su’uzon kpd pasangannya dan dgn emosi tp harus kepala dingin..
teruskan karya-karyamu kawan..
October 14th, 2009 at 10:50 am
mbak dini … maze suka tulisan mbak ..
sukses selalu
maze - pwt
October 14th, 2009 at 12:54 pm
Nice article. Terus berkarya! Ditunggu tulisan-tulisan selanjutnya….
October 14th, 2009 at 1:32 pm
Way to go, Dini…!!!
Nyaris menyamai ’sang guru’……
October 14th, 2009 at 5:41 pm
dini……… percaya ga’… dengan bodohnya aku pernah menangis semalaman… (bukan lagu audi)…. gara2 mergokin dia add fb mantannya…. gila banget ga se?…. tapi itulah .. kalo hati udah tertutup rasa cemburu… sebaik apapun pasangan kita… kadang ga terlihat… yg muncul bahkan fakta2 yang semakin menyudutkan pasangan kita…..
bener banget kata2 kamu…. ” yang terpenting adalah kepercayaan… dan itulah yg sedang aku coba pelajari dan tanamkan dalam hubungan ku kali ini.. aku ga mau lagi bertindak bodoh dengan menyakiti diri sendiri kalo kenyataannya ga da apa2 dengan pasangan kita.,…. dan yakin bahwa hanya kita yg ada di hatinya…
…:)
October 15th, 2009 at 11:07 am
Aku suka tulisannya, terus berkarya ya Din. Aku tunggu tulisan” about love lainnya ..
Gbu ..
October 15th, 2009 at 8:29 pm
sebuah artikel yg bagus
yg bisa menjadikan kita bisa lebih berpikir k kedewasaan diri…belajar dari kesalahan dan menjadikan diri jadi lebih baik dan lebih dewasa itu sangat penting…memang rasa cemburu,egois sll berpihak sama kita manusia….rasa cemburu tak selamanya buruk,justru rasa cemburu itu baik,sesuatu yg bisa menjadikan kita saling bisa menyayangi lebih dari apa yg pernah kita rasakan
buat dini hidup itu indah tetapi keindahan tersebut takkan ada klo tidak di awali dg sebuah keterburukan,cobaan apapun yg kita terima sesungguhnya itu adalah awal dimana kita menuju sebuah keindahan dan kebahagiaan
October 16th, 2009 at 9:51 am
bagus bgd tulisannya..
hal-hal yang kadangtak terpikirkan bisa jadi karya yang bagus…
sukses yach…
ditunggu tulisan yang lainnya…
October 16th, 2009 at 12:27 pm
memang kepercayaan itu penting ,. TURST .
October 17th, 2009 at 8:28 am
tulisannya bagus sekali mbak dini….ditunggu tulisan2 yang mencerahkan berikutnya…