Tradisi Optimis dari Keluarga

ytOleh: Yusuf Tantowi*

“Tuhan…anugrahkan petunjuk-Mu kepada kami. Bukakan pintu rezeki yang halal bagi kami seperti orang-orang yang telah engkau bukakan jalan agar kami lebih dekat dengan-Mu.

Sadar atau tidak, lingkungan keluarga berperan besar menjadikan seseorang menjadi pribadi pemberani. Yang saya maksud pemberani, pribadi yang tidak takut menantang risiko. Mampu berpikir dan bertindak cepat dalam melakukan sesuatu. Seseorang yang lahir dari keluarga biasa-biasa akan menjadi pribadi-pribadi biasa.

Pendapat ini saya simpulkan berdasarkan pengalaman dalam keluarga saya. Saya merasa, hingga usia sekarang belum pernah sekalipun membuat keputusan besar dan berisiko dalam hidup saya. Hidup saya terasa datar dan biasa-biasa saja. Dalam keluarga saya juga begitu. Komunikasi antaranggota keluarga relatif jarang. Bila ada ide untuk melakukan sesuatu, saya selalu mendapat respon pesimis dari keluarga.

Kondisi berbeda justru dialami oleh teman saya. Teman saya itu tinggal di sebuah desa yang cukup kering dan terpencil di Lombok Timur. Namun, ada tradisi positif yang berkembang di desa tersebut. Para orang tua melimpahkan tanggung jawab penuh kepada anak-anaknya untuk mengatur diri mereka. Orang membebaskan anak-anaknya untuk melakukan apa saja asalkan itu baik. Termasuk pengelolaan harta benda, sawah, dan pendidikan anak-anaknya.

Dengan pola didikan tersebut, anak tertua bertanggung jawab secara moral untuk mendorong adik-adiknya untuk hidup mandiri. Maka, jangan heran di kampung tersebut anak muda selalu berperan penting dalam mengambil keputusan–keputusan menyangkut desa. Perbedaan pendapat antarwarga pun sering kali diselesaikan melalui dialog oleh anak-anak muda. Bila masalahnya tidak selesai di dalam kampung, biasa akan dibahas di luar kampung.

Maka, dibanding dengan saya, teman itu lebih berani dan bertindak cepat. Sekilas memang ia terlihat bertindak tanpa perhitungan. Namun rupanya, ia pandai berkelit bila terbentur dengan kesulitan. Buah dari tindakannya itu, kini usahanya berjalan dengan baik dan telah memiliki aset yang cukup besar. Walau di awal usahanya, ia berangkat dengan modal pinjaman sana-sini beserta kemampuan dalam meyakinkan orang lain.

Berbeda dengan saya, saya terlalu banyak pertimbangan untuk berbuat. Padahal, ide saya sering kali muncul bernas dan brilian. Tapi, karena tidak terlatih menantang risiko, akhirnya keragu-raguan itu selalu menjadi pemenang dalam kepala saya. Lalu, ide itu lenyap dalam kepala saya. Jadi, jangan heran, sampai usia sekarang saya tidak memiliki aset yang cukup selain pemberian orang tua. Itu artinya ‘masa depan’ saya masih bergantung pada orang lain, bukan buah dari kreativitas saya sendiri.

Sekarang saya jadi iri dan malu pada diri sendiri. Teman saya yang penampilannya biasa-biasa saja, bahkan tidak pandai bicara, ternyata lebih maju dari saya. Dia sudah bisa membiayai sekolah adik-adiknya. Dia mampu membeli sepeda motor baru. Aset usahanya juga terus berkembang. Sedangkan saya, beberapa kali diundang menjadi pembicara justru masih terseok-seok dengan motor tua pemberian orang tua. Jangankan punya aset, membeli kaset saja tidak mampu.[yt]

*Yusuf Tantowi tinggal dan bekerja di lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Mataram. Sejak menjadi mahasiswa ia sudah aktif menulis di media massa lokal sekaligus aktif menjadi pembicara dalam berbagai pelatihan menulis di Mataram. Yusuf sering bekerjasama dengan LSM di Jakarta untuk membuat program pemberdayaan dan riset di daerah. Ia dapat dihubungi melalui Hp: 08175732513, pos-el: ucup_ntb[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox