Tradisi Optimis dari Keluarga
Editor | Kolom Lepas | October 13th, 2009
Oleh: Yusuf Tantowi*
“Tuhan…anugrahkan petunjuk-Mu kepada kami. Bukakan pintu rezeki yang halal bagi kami seperti orang-orang yang telah engkau bukakan jalan agar kami lebih dekat dengan-Mu.”
Sadar atau tidak, lingkungan keluarga berperan besar menjadikan seseorang menjadi pribadi pemberani. Yang saya maksud pemberani, pribadi yang tidak takut menantang risiko. Mampu berpikir dan bertindak cepat dalam melakukan sesuatu. Seseorang yang lahir dari keluarga biasa-biasa akan menjadi pribadi-pribadi biasa.
Pendapat ini saya simpulkan berdasarkan pengalaman dalam keluarga saya. Saya merasa, hingga usia sekarang belum pernah sekalipun membuat keputusan besar dan berisiko dalam hidup saya. Hidup saya terasa datar dan biasa-biasa saja. Dalam keluarga saya juga begitu. Komunikasi antaranggota keluarga relatif jarang. Bila ada ide untuk melakukan sesuatu, saya selalu mendapat respon pesimis dari keluarga.
Kondisi berbeda justru dialami oleh teman saya. Teman saya itu tinggal di sebuah desa yang cukup kering dan terpencil di Lombok Timur. Namun, ada tradisi positif yang berkembang di desa tersebut. Para orang tua melimpahkan tanggung jawab penuh kepada anak-anaknya untuk mengatur diri mereka. Orang membebaskan anak-anaknya untuk melakukan apa saja asalkan itu baik. Termasuk pengelolaan harta benda, sawah, dan pendidikan anak-anaknya.
Dengan pola didikan tersebut, anak tertua bertanggung jawab secara moral untuk mendorong adik-adiknya untuk hidup mandiri. Maka, jangan heran di kampung tersebut anak muda selalu berperan penting dalam mengambil keputusan–keputusan menyangkut desa. Perbedaan pendapat antarwarga pun sering kali diselesaikan melalui dialog oleh anak-anak muda. Bila masalahnya tidak selesai di dalam kampung, biasa akan dibahas di luar kampung.
Maka, dibanding dengan saya, teman itu lebih berani dan bertindak cepat. Sekilas memang ia terlihat bertindak tanpa perhitungan. Namun rupanya, ia pandai berkelit bila terbentur dengan kesulitan. Buah dari tindakannya itu, kini usahanya berjalan dengan baik dan telah memiliki aset yang cukup besar. Walau di awal usahanya, ia berangkat dengan modal pinjaman sana-sini beserta kemampuan dalam meyakinkan orang lain.
Berbeda dengan saya, saya terlalu banyak pertimbangan untuk berbuat. Padahal, ide saya sering kali muncul bernas dan brilian. Tapi, karena tidak terlatih menantang risiko, akhirnya keragu-raguan itu selalu menjadi pemenang dalam kepala saya. Lalu, ide itu lenyap dalam kepala saya. Jadi, jangan heran, sampai usia sekarang saya tidak memiliki aset yang cukup selain pemberian orang tua. Itu artinya ‘masa depan’ saya masih bergantung pada orang lain, bukan buah dari kreativitas saya sendiri.
Sekarang saya jadi iri dan malu pada diri sendiri. Teman saya yang penampilannya biasa-biasa saja, bahkan tidak pandai bicara, ternyata lebih maju dari saya. Dia sudah bisa membiayai sekolah adik-adiknya. Dia mampu membeli sepeda motor baru. Aset usahanya juga terus berkembang. Sedangkan saya, beberapa kali diundang menjadi pembicara justru masih terseok-seok dengan motor tua pemberian orang tua. Jangankan punya aset, membeli kaset saja tidak mampu.[yt]
*Yusuf Tantowi tinggal dan bekerja di lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Mataram. Sejak menjadi mahasiswa ia sudah aktif menulis di media massa lokal sekaligus aktif menjadi pembicara dalam berbagai pelatihan menulis di Mataram. Yusuf sering bekerjasama dengan LSM di Jakarta untuk membuat program pemberdayaan dan riset di daerah. Ia dapat dihubungi melalui Hp: 08175732513, pos-el: ucup_ntb[at]yahoo[dot]co[dot]id.

Leave a Reply