Tong Setan dan Roda Gila
Editor | Kolom Lepas | July 5th, 2009
Oleh: X.L. Effendi Budi P.*
Menjelang liburan panjang kenaikan kelas anak saya, saya jadi teringat masa kecil saya. Liburan panjang adalah saat-saat yang paling ditunggu-tunggu oleh anak-anak di kota kecil kami. Sebab, biasanya kota kami akan dikunjungi rombongan pasar malam untuk menghibur masyarakat dengan aneka hiburannya, seperti; komedi putar, ombak banyu (seperti komedi putar, tetapi gerakannya berayun-ayun seperti gelombang air), guilotin, sulap, dan masih banyak lagi atraksi yang disuguhkan.
Saat itu ada atraksi yang baru pertama kali akan kami lihat, yaitu tong setan dan roda gila. Menyimak namanya, atraksi ini pasti sangat menyeramkan. Sebab, dari kabar yang kami dengar saat itu, atraksi ini bisa menimbulkan celaka bagi pemainnya.
Tong setan adalah sebuah atraksi di mana sepeda motor akan berjalan di dalam lingkaran tong raksasa yang terbuat dari kayu dengan diameter antara delapan sampai sepuluh meter. Penonton yang menyaksikan atraksi tersebut berada di bibir tong kayu bagian atas secara melingkar. Sedangkan roda gila adalah atraksi sepeda motor yang berjalan di dalam sebuah bola raksasa yang terbuat dari besi. Sedikit berbeda dari tong setan yang sepeda motornya berjalan di dalam tong secara melingkar horizontal, sepeda motor dalam roda gila bisa berjalan secara horizontal dan vertikal.
Waktu itu, saya duduk di kelas 4 SD. Saya sangat takjub dengan kedua atraksi tersebut. “Kok, bisa enggak jatuh, ya?” begitulah pertanyaan rata-rata teman bermain saya. Sebab, sepeda motor tersebut tidak berjalan di atas tanah datar melainkan di dalam tong yang posisinya berdiri. Dengan demikian sepeda motor itu melintas pada dinding tong. Demikian juga dengan atraksi roda gila, sepeda motor melaju di atas permukaan bola raksana bagian dalam. Sementara, penonton melihatnya dari sisi bagian luar bola. Jika orang awam yang melakukannya pastilah akan terjatuh.
Dari pertanyaan tersebut kami membuat eksperimen, yakni dengan mengambil kaleng cat bekas lalu kami masukkan kelereng ke dalam kaleng. Lalu, kami goyang-goyangkan kaleng itu agar kelereng dapat berjalan melingkar di dalamnya. Dan, eksperimen itu berhasil, sama seperti atraksi tong setan yang kami lihat di pasar malam. Dengan keberhasilan eksperimen tersebut, kami pun melakukan percobaan permainan roda gila. Kami ambil sebuah bola plastik—yang biasa kami pakai untuk bermain sepakbola—kemudian ke dalam bola itu kami masukkan kelereng (caranya dengan melubangi bola terlebih dahulu). Setelah persiapan selesai, kami memainkannya dengan mengguncang-guncangkan bolanya dengan arah horizontal lalu vertikal. Dan, eksperimen roda gila pun berhasil. Eksperimen tersebut akhirnya menjadi permainan baru di kalangan teman-teman sebaya saya.
Ketika saya duduk di kelas 6 SD, saya diwajibkan belajar naik sepeda angin oleh ayah saya. Saya sangat takut belajar naik sepeda. Sebab, ketika mereka belajar naik sepeda, hampir semua teman saya yang belajar naik sepeda selalu pamer bekas luka yang dideritanya. Dalam kisahnya mereka selalu punya pengalaman yang sangat tidak mengenakkan, seperti menabrak rombong bakso, menabrak tiang listrik, dan jatuh berkali-kali, yang semuanya meninggalkan luka pada bagian tubuh.
Kisah mereka membuat saya tidak punya keberanian belajar naik sepeda. Nyali saya kecil karena rasa takut yang berlebihan. Akibatnya, saya selalu mencari-cari alasan untuk tidak belajar naik sepeda. Akhirnya, ayah saya pun tahu atas alasan-alasan yang saya buat. Maka, saya dipaksa dan ditungguin ayah saya saat belajar bersepeda. Jatuh bangunlah saya, bahkan pernah masuk sungai. Setiap kali belajar, kata ‘gagal’ yang selalu ada di pikiran saya. Harap dimaklumi, ketika saya dulu belajar sepeda, saya harus memakai sepeda yang ukurannya jauh lebih besar dari tubuh saya. Zaman saya belum ada sepeda yang ukurannya cocok untuk anak kecil seperti saat ini. Jadi, ada faktor kesulitan tersendiri.
Sabtu malam, saat itu saya berpikir keras bagaimana agar saya segera bisa naik sepeda. Saya teringat dengan permainan tong setan dan roda gila. Apabila saya memperlambat putaran kelereng saya di dalam tong atau bola, yang terjadi kelerengnya jatuh. Kesimpulan teori saya saat itu; kecepatan akan membuat saya lebih mudah konsentrasi pada keseimbangan. “Inilah kunci supaya saya bisa naik sepeda,” pikir saya, yang akhirnya bisa membuat saya tidur lelap malam itu.
Keesokan harinya, tiba saat saya harus belajar lagi naik sepeda. Sebelum memulai saya berbicara kepada ayah, “Ayah, tolong nanti didorong dan dipegangin dulu sampai aku bilang lepas, ya…!” Ayah menuruti permintaan saya. Ketika didorong saya minta kecepatannya ditambah lagi. Lalu saya bilang “Lepas!” Dan luar biasa, saya bisa mengendalikan sepeda dengan cukup baik walaupun hanya beberapa meter, lalu jatuh lagi. Keberhasilan yang sedikit tersebut mampu membangkitkan gairah saya. Dan, saya yakin sejak hari itu saya pasti bisa naik sepeda. Akhirnya, keyakinan saya benar-benar terwujud.
Dalam hidup kita sehari-hari pun sepertinya demikianlah yang sesungguhnya terjadi. Sering kali kita takut akan bayangan diri kita sendiri untuk tetap setia pada tujuan yang kita impikan. Banyak pandangan dan pendapat, kadang membuat kita jadi bingung dan ragu untuk mengambil sikap, dan akhirnya kegagalanlah yang kita raih.
Paul Galvin adalah seorang pria berusia 33 tahun. Pada tahun 1928 ia kembali menghadapi kegagalan, padahal sebelumnya dia pernah dua kali gagal dalam bisnisnya. Teman-teman dan para pesaingnya pun menyarankan atau bahkan memaksa dia menutup usaha terakhirnya, bisnis aki. Semuanya berubah, ketika dengan dana sebesar 750 dollar AS yang berhasil dia kumpulkan, dia membeli kembali hak paten penemuan aki. Dengan modal itu dia membangun sebuah perusahaan baru yang pada akhirnya membuat dia berhasil. Ia sukses membangun produk yang sangat terkenal di dunia, yakni Motorola yang sekarang telah diteruskan oleh cucunya, Christopher Galvin.
Paul Galvin pernah memberi nasihat para karyawannya begini, “Jangan takut dengan kesalahan. Anda akan mengenal kegagalan. Namun, tetaplah meraihnya.” Kegagalan bukanlah kegagalan sejati sebelum kita menyerah. Jika usaha kita mulai menurun, percepat dan bangkitkan lagi upaya Anda.
Nasihat tersebut menurut saya ‘benar’! Saya akan jatuh dari sepeda saya apabila saya memperlambat kayuhannya hingga berhenti. Sepeda akan goyah sedemikian rupa sehingga saya terjatuh. Bagaimana kunci untuk menghindarinya? Percepat kayuhan! Cara yang sama ini berlaku untuk setiap usaha, karya, dan doa yang kita naikkan kepada-Nya.[ebp]
* XL. Effendi Budi P. adalah seorang public speaker dan penulis buku Branding You with Your Smile dan Rahasia Sukses Membangun dan Mengelola Bengkel/Toko Spare Parts Motor. Ia adalah pendiri GroEdu yang memberi layanan di bidang konsultansi bisnis dan pelatihan.
July 6th, 2009 at 10:33 am
Apa yang dialami pak Efendi pasti juga banyak dialami anak2 lainnya, cuma bedanya pak Efendi menyadari dan bisa mengambil hikmah dari setiap kejatuhan(kegagalan) dari belajar sepeda. Dalam kehidupan kita sering kali kata “kegagalan” menjadi momok yang menakutkan karena lingkungan kita yang tidak bersahabat apa bila kita melakukan kesalahan, yang pada akhirnya kita takut melakukan sesuatu yang berbeda untuk kita lakukan.Disekolahpun yang namanya kesalahan akan selalu mendapat hukuman dari guru2 kita, begitu juga dirumah dengan orang tua kita, lingkungan dengan teman dan tetangga kita, kalau kita melakukan satu kesalahan pastilah akan mendapat hukuman. Dalam kasus ini pak Efendi beruntung punya seorang ayah yang selalu mendukungnya bila melakukan kesalahan. Kesalahan (kegagalan) adalah salah satu jalan yang harus dilewati menuju kesuksesan. Tidak ada orang sukses itu tanpa pernah mengalami kegagalan, semakin sukses seseorang semakin banyak juga ia mengalami kegagalan.
July 6th, 2009 at 2:28 pm
Trims Pak atas tulisannya. Bagus buat referensi dan motivasi.
July 6th, 2009 at 6:42 pm
Nice Post !
U just have one LOYAL visitor
July 7th, 2009 at 3:15 pm
Sebuah ilustrasi yang menginspirasi dan memotivasi.
Saya sangat mengapresiasi. Saluuut …
July 7th, 2009 at 11:48 pm
Keberhasilan dalam skala kecil akan membangkitkan motivasi untuk meraih yang lebih besar. Melakukan analisa sebelum melangkah, akan membantu bahkan mempercepat tercapainya tujuan. Itulah kiranya sebagian pelajaran penting yang dapat ditarik dari tulisan Pak Effendi kali ini. Tulisan yang sederhana tetapi mengandung nilai yang tak kecil. Mendapatkan hikmah memang tidak harus menggali dari peristiwa-peristiwa besar. Salut untuk Pak Effendi, dan selamat atas keberhasilannya bisa menjadi pilot sepeda pancal, mudah-mudahan ketrampilannya masih terjaga walau sudah zamannya roda-empat ha ha ha