Tiga Perusahaan Top Jepang

mspa1Oleh: Meta Sekar Puji Astuti*

Sebutlah tiga merek ternama Jepang ini, Toyota, Sony, dan Panasonic. Ketiga merek tersebut sangat mudah ditemukan dalam keseharian kita; di jalan, di rumah, atau di ranah publik. Toyota dengan Toyota Kijang pernah sangat fenomenal di dunia otomotif Indonesia, dan sekarang ini Toyota Avanza tercatat sebagai mobil paling laku di penjuru Indonesia. Sony dengan telepon genggam berkongsi dengan Errikson, TV plasmanya, kamera vide, dan Playstation andalannya. Serta jangan lupakan Panasonic yang dulu dengan merek lamanya National, memberikan kontribusi luar biasa dalam peralatan rumah tangga seperti setrika, rice cooker, dan lain-lainnya. Produk mereka telah membantu ibu-ibu rumah tangga di seluruh Indonesia dan dunia.

Namun, apakah kita mengenali orang-orang besar serta proses keberhasilan di balik sukses mereka yang dapat menginspirasi kita semua? Baik, saya ingin mencoba berbagi cerita mengenai tiga perusahaan ternama Jepang itu.

Kita mulai dari perusahaan Toyota. Perusahaan ini awal mulanya adalah perusahaan tekstil yang produk utamanya adalah tenun dan tekstil. Perusahaan yang awal mulanya bernama Toyoda ini didirikan oleh Sakichi Toyoda. Sakichi Toyoda selaku pendiri perusahaan memiliki cita-cita besar dan memiliki insting kuat untuk membuat mesin-mesin inovatif. Setelah kunjungannya ke Amerika tahun 1910, ia yakin bahwa mobil adalah benda moderen yang sangat berprospek di masa depan. Nah, salah satu cita-cita terbesarnya adalah membuat mobil dari pabriknya.

Sayangnya, sampai ia tutup usia, ia tidak sempat melihat mobil yang dihasilkan oleh perusahaan miliknya. Kiichiro Toyoda, anak laki-lakinya, adalah yang berhasil mewujudkan pesan ayahnya untuk memproduksi mobil dari perusahaannya. Usaha Kiichiro Toyoda yang tak kenal lelah inilah yang akhirnya membuat perusahaan itu banting setir dan berhasil memproduksi mobil. Usahanya juga tidaklah mudah. Bahkan, mobil pertamanya merupakan produk gagal dan tidak laku di pasaran Jepang. Keuletannya, termasuk mengirim teknisi terbaiknya ke luar negeri, serta memperkerjakan konsultan asing terbaik di perusahaannya, akhirnya membuahkan hasil.

Toyoda kemudian berubah menjadi Toyota, dengan pertimbangan supaya lebih mudah disebut serta pertimbangan nama yang memberikan keberuntungan. Ternyata memang berhasil dan memberi sumbangan luar biasa bagi industri otomotif dunia. Istilah kaizen (perbaikan terus menerus), jid?ka (Just in Time) dan kanban (papan penunjuk statistik) merupakan salah satu bukti inovasi sistem pabrikan ini, yang bahkan diadaptasi secara luas dalam industri manufaktur di seluruh dunia.

Prestasi perusahaan Toyota ini juga tidak main-main. Keberhasilan pabrik Toyota dalam merakit mobil secara masal menjadi salah satu acuan utama dari seluruh pabrik otomotif di seluruh dunia. Pada tahun-tahun terakhir ini, Toyota menjadi produsen mobil terbesar di dunia, termasuk terbesar juga di Indonesia.

Lexus, mobil mewah dengan bahan bakar yang irit, adalah contoh keberhasilan Toyota dalam mendobrak mitos mobil mewah yang selalu boros bahan bakar. Prius, salah satu mobil hybrid-nya merupakan rancangan inovatif untuk mobil ramah lingkungan yang menjadi favorit bintang film di Hollywood. Usaha Toyota menjadi perusahaan kelas atas dan juga dihargai di seluruh dunia merupakan perjalanan panjang dan bukti dari kegigihan para penerus sesepuh Toyoda.

Setelah Toyota, mari kita beranjak ke dunia peralatan elektronik. Sony pernah menggegerkan dunia dengan menciptakan walkman pada tahun 1979, dan kemudian menjadi trendsetter fenomenal pada tahun 1980-an. Ketika itu, walkman membuat gebrakan dengan peralatan audio (kaset) yang dapat dijinjing sehingga kita dapat mendengarkan musik di mana pun kita berada.

Perusahaan Sony didirikan oleh duo pionir Masaru Ibuka dan Akio Morita. Tetapi, publik lebih mengenal Akio Morita sebagai co-founder Sony dengan ide-ide briliannya, termasuk walkman-nya itu. Sementara Itu, Masaru Ibuka lebih banyak berperan di belakang layar perusahaan, selain memang karena latar belakangnya sebagai insinyur elektronik.

Akio Morita berlatar belakang keluarga kaya dari saudagar pemilik pabrik sake Jepang. Namun, daripada menjadi pewaris pabrik mirik ayahnya, ternyata ketertarikan pada “barang ajaib” alias peralatan elektronik dari peradaban baru lebih besar. Itulah yang mendorong dia membuka perusahaan elektronik kecil dengan atap bocor di Tokyo pada 7 Mei 1946. Perusahaan yang mulanya bernama Tokyo Telecommunication Engineering itu kemudian menjadi Sony Cooperation yang ternama itu. Salah satu produk andalan dari perusahaan ini adalah radio transistor yang mulanya merupakan hasil ciptaan Bell Labs, Amerika.

Toh, pada kenyataannya Sony berhasil mengembangkan temuan-temuan itu menjadi sesuatu yang lebih inovatif dan juga bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Selebihnya kita tahu, Sony telah merambah dunia hiburan dan telah menguasai industri hiburan Hollywood. Juga tak lupa, Sony BMG juga menguasai dunia rekaman di Indonesia selain produk Sony juga dikenal produk elektronik papan atas saat ini.

Perusahaan ketiga adalah Panasonic. Perusahaan ini memang tidak sefenomenal Sony misalnya. Bahkan, perusahaan yang didirikan oleh Matsushita ini sering disebut dengan kata plesetan Maneshita (artinya melakukan peniruan, khususnya produk Sony). Tetapi, kehebatan perusahaan ini ada pada prinsip kesederhanaan dan kerendahhatian yang mendasari pemikiran pendirinya, Konoshuke Matsushita.

Coba lihat salah satu filosofi perusahaannya, yaitu untuk memerangi kemiskinan dan memajukan kualitas masyarakat. Berbeda dengan latar belakang filosofi Sony yang elegan dan serta ingin mengembangkan mimpi-mimpi spektakulernya. Sebaliknya, Panasonic ini berdasarkan pada prinsip kesederhanaan dan kebersamaan. Salah satu tekat Matsushita adalah menjadikan alat elektronik dapat digunakan oleh siapa saja dengan standar kualitas yang baik dan harga terjangkau. Oleh sebab itu, produk-produk andalannya pun dimulai dengan benda-benda sederhana (dan masih menjadi kekuatan perusahaan ini), dimulai dari lampu sepeda yang ringan dan tahan lama, batu baterai, penanak nasi elektronik, setrika berkualitas baik dan terjangkau, dan lain-lainnya.

Matsushita dikenal sebagai bapak Manajemen dan Filosofi Jepang. Latar belakang keluarganya yang sederhana dan miskin membentuk pribadinya yang sederhana dan rendah hati. Meskipun ia merupakan salah satu pengusaha terkaya Jepang, namun dia selalu menggunakan pesawat komersial kelas ekonomi ke mana pun ia terbang.

Dari kisah tiga perusahaan ternama Jepang ini ada benang merah yang seakan-akan menyambungkan ketiga perusahaan tersebut: Meniru dan menyempurnakan yang sangat khas Jepang. Mobil boleh ditemukan oleh Daimler-Benz, Ford yang menemukan sistem perakitan modern, namun Toyota-lah yang menyempurnakan temuan dari bangsa Barat. Bahkan, ketiga sistem kanban, jid?ka, dan kaizenbukan yang merupakan ide original Toyota ternyata telah diaadaptasi dan disempurnakan setelah belajar dari konsultan mereka yaitu, Profesor Deming yang berasal dari Amerika.

Kedua, radio transistor diciptakan oleh bangsa Amerika (Bell Labs), namun Sony berhasil mengembangkan serta menciptakan inovasi-inovasi baru, yang bahkan menjadi fenomenal. Phillips salah satu perusahaan ternama Belandayang menjadi kiblat Panasonicjuga merupakan perusahaan elektronik ternama dan memulai bisnis peralatan elektronik untuk peralatan rumah tangga. Sama dengan kedua perusahaan di atas, Panasonicdengan usahanya yang keras dan sangat serius termasuk penelitiannya serta perhatiannya yang kuat bagi karyawannya—telah membuat perusahaan itu menjadi sukses dan sangat dihormati di dunia.

Ya, meniru dan menyempurnakan, yang berarti juga berani gagal. Sebuah kata kunci bagi aktivitas perekonomian Indonesia. Saya kira, bangsa kita akan mudah melakukan peniruan dan, maaf, juga pembajakan. Untuk menyempurnakan? Sepertinya kita masih perlu belajar dari Jepang. Negara yang tercatat dan menyatakan dirinya telah keluar dari krisis global pertama di Asia. Siapkah kita?[mspa]

* Meta Sekar Puji Astuti adalah penulis buku Apakah Mereka Mata-Mata? - Orang-Orang Jepang di Indonesia 1868-1942. Lulusan Sastra Jepang UGM dan menyelesaikan studi masternya di Ohio University, Amerika Serikat. Tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jepang, Universitas Hasanuddin. Ia pernah menjadi peneliti tamu di Keio University tahun 2008-2009 disponsori oleh The Japan Foundation. Saat ini tengah menempuh studi S-3 di Keio University, Tokyo, Jepang. Selain akademisi dan peneliti, ia juga seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak yang peduli dengan pendidikan bangsa untuk penyadaran identitas diri bangsa Indonesia.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.3/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox