Tiga Cerita Beasiswa
Editor | Kolom Lepas | May 25th, 2009
Oleh: Radinal Mukhtar Harahap*
Terhitung hingga hari ini, ada tiga cerita mengenai beasiswa yang disampaikan seorang teman maupun yang saya terlibat sendiri. Cerita pertama berasal dari seorang anak yang asal Medan dan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di UGM, Yogyakarta, tepatnya pada Fakultas Hukum. Beasiswa yang diterimanya adalah beasiswa penuh, meliputi biaya perkuliahan, buku-buku perkuliahan, maupun biaya kehidupan selama menempuh perkuliahan.
Jika saya yang menerima beasiswa tersebut, saya akan bersorak gembira. Saya akan mengundang seluruh teman dan para tetangga untuk tasyakkuran atas rezeki yang diberikan. Bayangkan saja, sekolah gratis ditambah uang saku untuk keperluan sehari-hari. Namun, tidak dengan anak tersebut. Ia menolak melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum UGM dengan suatu alasan mendasar, yaitu fakultas yang tidak sesuai dengan cita-citanya.
Semenjak kecil, anak tersebut telah bercita-cita menjadi seorang dokter. Orang tuanya pun telah menyetujuinya. Tidak heran ketika sang anak menyatakan penolakannya terhadap beasiswa tersebut, sang ayah maupun ibu menyetujuinya. Bahkan, kedua orang tua anak tersebut langsung memasang kuda-kuda untuk meluluskan anaknya ke Fakultas Kedokteran di Universitas Sumatera Utara (USU).
Terkadang, persiapan yang matang tidak selalu menghasilkan prestasi yang diharapkan. Anak yang diharapkan dapat lulus di fakultas kedokteran gagal. Walhasil, ia sekarang menempuh pendidikan di Fakultas Ushuluddin IAIN Sumatera Utara .
Cerita yang kedua juga mengenai anak yang memperoleh beasiswa. Bedanya, anak pada cerita ini menerima beasiswa tersebut dengan tiga pilihan jurusan. Jurusan teknik mesin, teknik penerbangan, dan teknik material. Ketika bingung memilih jurusan ia meminta saran kepada teman-temannya maupun kakak kelasnya.
Sungguh sayang, terkadang seseorang itu lebih memilih sesuatu dengan pertimbangan gengsi daripada murni dari hati nurani dan keinginan. Sang anak memilih teknik mesin karena teman-teman terdekatnya memilih jurusan tersebut, padahal ia lebih condong kepada teknik penerbangan. Akhirnya, ketika menjalani pendidikan ia “tersiksa” dengan penolakan batinnya sendiri.
Sementara, cerita ketiga berasal dari dua orang penerima beasiswa yang berasal dari sekolah yang sama dan kelas yang sama pula. Ketika di sekolah, kedua penerima beasiswa tersebut juga sama-sama bergelut di bidang kepenulisan majalah dinding sekolah.
Ketika berada di kampus, saat menghabiskan hari-hari beasiswa, anak yang pertama menjalankan aktivitas akademik apa adanya. Kehidupannya hanya sebatas kampus, perpustakaan, kantin, dan kamar kos. Ia tidak mengembangkan kemampuannya di bidang penulisan sebagaimana dahulu ketika di sekolah. Akhirnya, ia lulus dengan predikat sarjana.
Berbeda dengan temannya. Selain aktif di perkuliahan, ia juga mengembangkan kemampuannya di bidang kepenulisan. Ia menulis di majalah kampus, media massa lokal maupun nasional, hingga media-media elektronik. Ia lulus dengan sebuah predikat sarjana plus penulis.
***
Cara pandang merupakan hal yang penting dalam kehidupan. Seorang anak dengan “rela” menolak beasiswa untuk kuliah di UGM hanya karena memandang cita-cita sebagai sebuah impian yang tidak dapat diganggu gugat. Seorang anak akhirnya tersiksa mengikuti perkuliahan hanya karena memandang persahabatan dan saran-saran dari teman merupakan pandangan yang cocok terhadap dirinya. Begitu juga dengan dua orang anak yang masing-masing lulus dengan keadaan yang berbeda karena perbedaan cara pandang.
Dalam bukunya Setengah Isi Setengah Kosong, Parlindungan Marpaung membagi cara pandang menjadi dua bagian. Yang pertama, mereka yang optimis dengan memandang bahwa sebuah gelas masih berisi setengah. Sedangkan mereka yang pesimis, cara pandang kedua, mereka beranggapan bahwa gelas sudah kosong setengahnya.
Walaupun pada hakikatnya sama-sama menjelaskan tentang suatu hal, ternyata cara pandang sangat berpengaruh terhadap hasil kinerja seseorang. Seorang penulis misalnya, yang berpandangan positif dan optimis akan mengatakan, bahwa ia telah berhasil menemukan satu bentuk tulisan yang ditolak ketika tulisannya ditolak oleh redaksi majalah atau media massa. Namun, bagi seorang penulis yang berpandangan negatif sekaligus pesimis, dia akan mengatakan bahwa dirinya telah gagal dalam dunia kepenulisan.
Cara pandang jugalah yang akan membedakan seorang karyawan ketika mengerjakan sesuatu. Dengan sisa lima menit, seorang karyawan yang optimis akan mengerjakan pekerjaan dengan perkataan, masih ada lima menit, kerjakan sebisanya dan akan disambung besok. Namun, mereka yang berpikir pesimis akan meninggalkan pekerjaan tersebut seraya berkata, besok saja sekalian. Walhasil, besok kerjaannya bertumpuk dan harus lembur menyelesaikan semua itu.
Demikianlah pengaruh cara pandang atau paradigma. Seorang yang berpandangan positif dan optimis akan menuai hasil yang positif lagi berhasil. Demikian juga sebaliknya, mereka yang berpandanga negatif serta pesimis akan menjalani hari-harinya dengan kesusahan dan kesulitan.
Andrie Wongso pernah bertutur, “Jika engkau keras terhadap kehidupanmu (optimis) dunia akan lunak terhadap dirimu. Jika engkau lunak terhadap kehidupanmu (pesimis) dunia akan keras terhadapmu”. Mari berpandangan positif dan optimis.[rmh]
* Radinal Mukhtar Harahap adalah alumnus PP Ar-Raudhatul Hasanah, Medan, Sumatera Utara. Kini menempuh pendidikan sambil “nyantri” di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sedang “jatuh cinta” dengan dunia kepenulisan dan motivasi. Ia dapat dihubungi di radinal88[at]gmail[dot]com atau 081331185527.

Leave a Reply