The World is Innocent

Miranda SuryadjajaOleh: Miranda Suryadjaja*

The world is innocent, I don’t know what anything is or is for.
I don’t know what my brothers and sisters need
.”
~ Miranda Suryadjaja

The world is innocent. We never know what anything is, or is for.
It’s a mystery that is only known to God
”.
~ Jeshua ben Joseph

Tatkala kita membuka hati kita besar-besar, maka hati orang di hadapan kita akan terbuka pula.

Power dari sebuah ketulusan, kejujuran dan kesucian hati sangat dahsyat adanya.

Belum lama ini saya mengikuti sebuah training di mana salah satu latihannya adalah semua peserta saling bertatap mata selama kurang lebih satu menit. Tujuan dari latihan ini adalah untuk membuka mata hati kita, meniadakan penghakiman dan penilaian sepihak, serta belajar untuk melihat ke mata seseorang dan melihat kesucian jiwanya yang hakiki.

Dalam latihan ini awalnya beberapa orang tampak nyata tidak nyaman selama satu menit menatap dan ditatap orang yang belum atau tidak begitu dikenalnya. Mata belingsatan ke sana ke sini, dan maunya lari mencari objek pandang lain. Kebetulan latihan semacam ini bukan yang pertama kalinya saya lakukan, bahkan telah berulang kali dan dengan durasi yang yang jauh lebih panjang pula. Latihan ini salah satu latihan favorit saya. Karena, di sana saya belajar untuk melihat seseorang apa adanya, suci, dan tanpa dosa.

Setelah beberapa saat—tentunya tergantung apakah kita bersedia untuk melakukan latihan ini dengan sepenuh hati atau tidak—biasanya tidak bisa tidak, akan terjalin suatu komuni nonverbal. Andaikata pun salah satu di antara kedua orang ini berusaha untuk membentengi dirinya, serta menutup hatinya, selama dia masih bersedia untuk menatap dan ditatap oleh pasangannya, maka mau tidak mau hatinya akan terbuka dan tersentuh oleh pandangan pasangannya.

Ini merupakan suatu fenomena yang luar biasa ampuh untuk membuka hati seseorang, serta menembus benteng hati dan batin seseorang. Seperti saya katakan di atas, ini adalah salah satu latihan favorit saya karena melaluinya saya belajar membuka hati saya, mendengar, dan melihat hati orang yang sesungguhnya, yang mana hanya ada kesucian tanpa noda, tanpa dosa. Yang biasanya saya rasakan adalah kesedihan, kesakitan, atau penderitaan yang tak terungkapkan—entah karena tidak disadari, atau karena ketakutan akan tersakiti atau terhakimi oleh orang lain. Sehingga, jadilah perasaan itu suatu rahasia yang dipendam, bahkan dikubur dalam-dalam.

Dalam latihan tatap mata, ternyata rahasia-rahasia tersebut tidak bisa disembunyikan. Cerita jelasnya mungkin tidak terungkap, dan sebenarnya juga tidak perlu untuk diketahui. Tetapi, bahwa seseorang memendam perasaan yang mendalam akan terasakan oleh lawan pandang.

Dan, pada saat saya sudah bisa merasakan apa yang dirasakan dan ada dalam lawan pandang saya, tanpa dapat dibendung, akan timbul compassion–rasa welas asih dalam hati saya. Rasa sepenanggungan karena tema penderitaan yang dialami pasangan saya telah pernah saya rasakan dan alami, meskipun mungkin dalam bentuk dan versi yang berbeda.

Ternyata, tema penderitaan umat manusia tidak banyak variasinya, yaitu antara lain rasa ditinggalkan atau dicampakkan (abandonment), merasa ditolak (rejection), kecewa, merasa tidak bernilai atau tidak berarti (unworthiness). Rasa takut mengakibatkan timbulnya tema-tema penderitaan ini. Sedangkan rasa marah, timbul karena perasaan-perasaan tersebut di atas dialami dan tidak dapat dibagi dengan orang lain sehingga masalahnya tidak terpecahkan.

Sebagai manusia kita terprogram untuk menilai orang dari apa yang tampak di permukaan, dari pakaian, penampilan, wajah, ekspresi, dan hal-hal yang teraba oleh panca indera. Dan lebih jauh, penilaian kita terbentuk oleh nilai-nilai yang telah ditanamkan dan diprogramkan dalam diri kita oleh keluarga dan lingkungan kita masing-masing, sehingga sebenarnya sifatnya sangat subjektif.

Namun, ketika kita menatap mata orang di hadapan kita dalam-dalam, semua penilaian itu bagaikan gugur, luluh lantak, pelan-pelan musnah untuk sesaat. Pintu hati terbuka. Dan, kita merasakan bahwa yang ada di hadapan kita adalah sosok yang hakiki dan tak berdosa, sebagaimana Tuhan telah menciptakan kita, dan kita menjadi satu dengan semua yang ada. Perasaan ini sangat tangible atau terasa dan menyentuh lubuk hati yang paling dalam.

Ada beberapa pengalaman saya bertatapan mata dengan orang yang sama sekali tidak saya kenal, atau baru saya kenal sekadar namanya. Secara sadar saya memang membuka hati saya dan fokus untuk bisa dengan cepat mencampakkan tendensi saya untuk menilai lewat panca indera saya. Dan, saya melihat langsung ke matanya dengan tanpa prasangka, dengan innocent, serta dengan rasa ingin tahu siapa sebenarnya sosok di balik penampilan dan kepribadian tersebut.

Beberapa orang tersentuh sehingga mengeluarkan air mata, atau tubuhnya mulai terguncang karena luapan emosi yang tidak terungkapkan dengan kata-kata. Setelah latihan tersebut selesai, ada beberapa orang yang menghampiri saya dan mengatakan bahwa mereka merasakan keteduhan di mata saya. Ada satu komentar yang sampai sekarang begitu jelas terekam di pendengaran saya: “Mbak Miranda begitu baik, terima kasih Mbak.” Dan, dia memeluk saya sekali lagi dengan begitu erat. Padahal, saya belum pernah bercakap-cakap dengan dia sebelumnya.

Sebetulnya, tidak ada yang magic dan sesuatu yang luar biasa di sini. Ini adalah suatu fenomena yang umum. Saya hanya menatap dan memandangnya secara innocent, tanpa penilaian, tanpa penghakiman, tanpa menimbang benar-salah. Hanya dia apa adanya, sebagai mahluk Tuhan yang semua pada dasarnya; netral, suci, tak berdosa.

Jesus mengajarkan saya bahwa the world is innocent, semua sifatnya netral, tanpa dosa. Manusialah yang menghakimi, menilai apa-apa yang dialaminya sebagai suatu kebenaran atau kesalahan, kebaikan atau keburukan, yang sebenarnya sifatnya relatif, karena didasari oleh penilaian yang subjektif.

Tatkala kita bisa melihat dunia, kehidupan di sekeliling kita sebagai innocent, maka dengan sendirinya kecenderungan akan pembenaran pribadi akan terkikis. Kita bisa belajar untuk sedikit demi sedikit berhenti mempersalahkan orang lain atau suatu kondisi eksternal, sehingga lebih mudah untuk memaafkan segala sesuatu yang sebenurnya tidak perlu pemaafaan karena memang tidak ada yang salah.

Bayangkan, bagaimana jadinya dunia, kalau manusia tidak saling menyalahkan atau merasa dirinya yang benar, dan orang lain yang salah untuk apa pun yang terjadi di dunia ini? Tetapi, dengan sepenuhnya menyadari bahwa kita tidak pernah tahu apa makna suatu kejadian dan pengalaman pribadi, serta untuk apa hal itu terjadi. Jadi kita innocent, yang kita hadapi pun innocent. Dan sebenarnya, bila kita mau bertanya dan mendengar, “Apa yang perlu saya lakukan saat ini?” Jesus mengatakan, “Bila kita mau ke tempat yang tenang dan diam, dan bertanya pada hati kita, maka jawabannya akan secara instan diberikan, dan tidak ada sesuatu pun yang ditutupi dari kita.” Dan, kita bisa meneruskan hidup kita tanpa membuang energi berpolemik, baik dengan diri kita sendiri maupun dengan orang-orang di luar kita tentang apa yang benar, apa yang salah.

Apabila Anda sedang bertikai dengan seseorang, adu pendapat dan adu mulut, cara tercepat untuk menembus batasan ego dan kepribadian agar sampai pada akar persoalan adalah dengan cara adu pandang selama beberapa menit. Pandang orang di hadapan Anda dalam-dalam, maka Anda akan tahu apa yang sedang dialami dan dirasakan oleh orang tersebut—yang sering kali tidak ada hubungannya dengan kata-kata yang baru saja disampaikannya, sikap defensif (mempertahankan pendapat atau kebenarannya), atau kengototannya.

Beberapa hari yang lalu saya berada di tengah pertengkaran dua orang sahabat saya yang sangat saya kasihi. Kebetulan mereka adalah sebuah pasangan yang sudah cukup lama bersama. Sang suami menyalahkan si istri perihal sesuatu yang dilakukannya yang dianggapnya salah. Saya merasa seperti wasit pertandingan tennis meja yang melihat volley-volley dan smash yang saling dilancarkan oleh kedua pihak. Sementara, semakin si istri mempertahankan posisi dan pendapatnya, semakin marah sang suami dan semakin si istri merasa terserang, hingga ia menangis.

Setelah saya rasakan dan perhatikan bahasa tubuh dan energi keduanya, saya seperti mendapat bisikan bahwa yang sebenarnya terjadi adalah si suami merasa tidak dihargai pendapatnya mengenai masalah yang mereka hadapi. Dan, ia hanya butuh pengakuan dari si istri: “Pendapatmu ada benarnya.” Itu saja. Ia hanya ingin dilibatkan dan dihargai pendapatnya, tanpa harus si istri mengatakan saya salah, kamu benar. Karena, sangat mungkin terjadi bahwa dua-duanya benar, sementara sudut pandang dan kebiasaan masing-masing dalam meng-handle sebuah situasi bisa berbeda.

Latihan tatap mata mengingatkan kita bahwa pada dasarnya semua orang innocent, dan hanya melakukan yang terbaik yang dia tahu pada saat itu. Dengan demikian kita bebaskan orang dari cengkeraman penilaian dan penghakiman kita, yang subjektif dan belum tentu benar secara hakiki.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox