The Science of Getting Rich
Editor | Kolom Lepas | March 9th, 2009
Oleh: Putu Adnyana*
“Anda kaya, atau miskin tergantung pada bagaimana Anda melihat diri Anda sendiri.”
~ J. Donald Walters
Banyak sekali orang penasaran akan apa sebenarnya yang disebut dengan kaya. Ada yang menyatakan, pada saat saya mendapatkan gaji sebesar lima juta rupiah sebulan, maka saya akan menjadi bagian dari orang kaya. Sebagian mengatakan, biarpun saya hanya memiliki selembar uang seratus ribu rupiah di kantong, tetapi saya merasa diri saya adalah orang kaya. Untuk kalangan atas, kaya malah diidentikkan dengan jumlah depositonya yang mangkal di beberapa bank besar sehingga dikenal istilah kaya tujuh turunan. Semuanya tentu sah-sah saja.
Tetapi, menurut “Mr. Rich Dad” Robert Kiyosaki, definisi kaya adalah jumlah/lamanya waktu orang tersebut mampu bertahan pada saat dia berhenti bekerja. Maksudnya, yang bersangkutan tetap bisa menikmati kualitas hidup yang sama seperti waktu masih aktif bekerja.
Sebagian besar orang, pada saat dia berhenti bekerja, terpaksa harus merogoh tabungan, mulai berutang, atau menjual aset untuk mempertahankan kesinambungan hidupnya. Bahkan, yang lebih tragis lagi seperti yang dia alami oleh petinju Mike Tyson—yang dulu dijuluki sebagai salah satu petinju super kaya—kini harus terjerat utang demi mempertahankan gaya hidupnya. Jadi, yang dimaksud kaya adalah mampu bertahan dengan kualitas hidup yang sama walaupun sudah berhenti bekerja. Misalnya, pada saat masih bekerja mengendarai mobil BMW, saat pensiun pun tetap mengendarai mobil BMW, bukan Kijang apalagi sepeda.
Masalah berikutnya, bagaimana cara untuk menjadi kaya? Bagaimanakah pola hidup yang benar untuk menjadi kaya? Apakah orang harus menjalani hidup dengan benar-benar mengencangkan ikat pinggang?
Kalaupun harus meniti karier, profesi apakah yang bisa menjadikan diri kita kaya?
Kalaupun harus berwiraswasta, jenis usaha seperti apa yang pasti bisa membuat kaya? Dan sebagainya. Yang jelas, pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan dalam batin yang jamak dimiliki oleh setiap orang untuk mendapatkan hidup yang lebih baik.
Menurut Wallace D. Watlles dalam bukunya The Science of Getting Rich diungkapkan bahwa kaya adalah:
Bukan masalah irit atau kaya
Menjadi kaya adalah bukan masalah jenis usaha tertentu
Bukan masalah profesi tertentu.
Kebanyakan orang berpikir bahwa kekayaan yang bisa diraih dengan mesti melewati kondisi tertentu. Pemikiran semacam ini—tanpa disadari—akan menjadikan kreativitas kita terbelenggu oleh pemikiran atau kemungkinan lain, yang memungkinkan setiap individu untuk meraih kekayaan. Kenyataan ini di dukung oleh kitab The Secret, bahwa alam semesta ini menyediakan kesempatan, kemungkinan, dan sumber daya berkelimpahan yang bisa dieksplorasi seluas-luasnya. Tinggal sekarang bagaimana kita mampu menggunakan imajinasi, kreativitas, ataupun pengetahuan yang kita miliki untuk menggapai semua yang kita harapkan.
Hidup bersahaja memang membantu agar kita bisa menyisihkan uang, syukur untuk ditabung demi kepentingan kelak. Cuma, ada kenyataan lain dari perilaku seseorang, yang mana karena terlalu berambisi menghimpun kekayaan, sampai-sampai menyengsarakan kehidupan dan keluarganya, sehingga orang harus tampil sehemat mungkin. Bahkan, orang sampai membatasi kebutuhan sandang, pangan, dan papan.
Tentunya, berkepribadian boros, berfoya-foya, lepas kontrol, atau cenderung menghambur-hamburkan uang juga bukan langkah yang bijaksana. Bisa dibayangkan, apa jadinya apabila uang digunakan tanpa tujuan yang jelas, apalagi kalau tidak mengarah kepada financial planning dan financial management yang benar.
Robert T. Kiyosaki pernah mengungkapkan, “Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan bahwa mencari kekayaan identik dengan uang. Karena, itu berarti orang tersebut tidak tahu makna kaya yang sebenarnya. Mereka bekerja samata-mata demi uang sehingga menjadi budak uang.”
Jadi, langkah yang bijaksana adalah bagaimana kita menjadikan uang sebagai salah satu sumber kekayaan, sebagai alat, sarana, dan umpan untuk mencapai kekayaan. Dalam pepatah China, uang diibaratakan seperti burung merpati. Apabila kita bisa memperlakukannya dengan baik, dia akan mengajak teman-teman lainnya ke sarang untuk tinggal bersama. Sebaliknya, apabila dia merasa tidak nyaman di rumah, maka dia akan mengajak teman-temannya untuk pergi menjauh. Sarang di sini diibaratkan tuan dari uang itu sendiri.
Banyak juga anggapan menyatakan bahwa kekayaan terwujud bagi mereka yang memiliki bisnis tertentu. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah bisnis “super mega” yang beromset miliaran atau triliunan. Memang kita akui, semakin besar risiko yang ditanggung, semakin besar juga peluang untuk mendapatkan hasil lebih banyak. Tetapi, hukum ini tidak seutuhnya benar karena banyak juga bisnis kecil yang awalnya merangkak, pelan tetapi pasti kemudian mendapatkan omset yang besar dan sukses.
Sebaliknya, saat sekarang ini semakin banyak saja deretan perusahaan yang berawal dengan modal besar, memiliki cashflow besar, namun nasibnya babak belur, hancur, dan akhirnya tutup. Jangankan membuat pemiliknya tambah kaya, malah bisa jadi pemiliknya mendekam di penjara.
Lantas, kalau Anda seperti orang lainnya berpikir, dengan membuka bank kita akan kaya, kenyataanya banyak pemilik bank yang tidak kaya. Malahan, bank akhirnya tutup, bahkan ada pemiliknya yang mendekam di penjara. Sejarah perbankan Indonesia mencatat kisah Bank Suma, Bank BDNI, Balido Group, dll. Ceritanya berlanjut hingga kejadian pascakrisis ekonomi 1998. Begitu banyak bank yang ditutup.
Kalau Anda berpikir bahwa dengan membuka supermarket Anda akan tambah kaya, kenyataanya ada juga pemilik supermarket yang terlilit hutang sampai-sampai tidak bisa bayar cicilan. Bagaimana dengan bisnis hotel? Kalau Anda mau, saya bisa carikan hotel-hotel yang sekarang lagi di jual oleh pemiliknya di Bali, Lombok, Jakarta, atau di Yogyakarta.
Sebaliknya, banyak juga usaha kecil, dimulai dari kecil, bahkan dari garasi rumah, namun hasilnya sangat memuaskan. Sebut saja Apple computer dan kisah Bill Gates dengan Microsoftnya. Atau Purdi Chandra dengan Primagama yang sekarang memiliki ratusan cabang di seluruh Indonesia, yang ternyata dimulai dengan dua murid dari anak tetangga, dan gratisan lagi.
Lalu, mengenai profesi tertentu yang menjadikan orang kaya. Anda mungkin melihat bahwa profesi seperti dokter, pengacara, notaris, CEO, atau profesi lainnya bisa menjadikan orang kaya. Kenyataannya, tidak semua dokter di Indonesia itu kaya. Juga tidak semua pengacara kaya, begitu juga tidak semua notaris kaya. Sebaliknya, banyak contoh yang mana profesi yang tidak dianggap sebelah mata pun, tetapi karena dilakoni dengan sepenuh hati dan pemikiran kreatif, ternyata justru mendatangkan rezeki lebih banyak dari yang dibayangkan kebanyakan orang.
Ada satu kisah kehidupan nyata yang inspiratif dari keluarga seorang satpam di Jakarta. Penghasilan per bulan satpam tersebut bisa dibilang tidak cukup untuk membiayai biaya kehidupan keluarganya yang tinggal di kota besar. Karena masalah tersebut, satpam ini mulai memikirkan usaha tambahan untuk meningkatkan penghasilan bulanan. Dengan modal nol rupiah, dia menjalani pekerjaan sebagai pemulung. Setelah memiliki banyak teman, kemudian dia tahu kepada siapa mesti menjual hasil pulungannya. Akhirnya, dia putuskan untuk mengordinir teman-temannya sesama pemulung, kemudian membeli barang hasil pulungan itu dan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi.
Setelah sekian lama pekerjaan ini dilakukan, akhirnya berbuah juga tanpa dia meninggalkan posisi sebagai satpam. Menjadi penadah barang bekas dia anggap sebagai profesi tambahan selains ebagai satpam. Dan sekarang, penghasilan si satpam ini rata-rata Rp 30 juta per bulan. Tentu, itu jauh lebih besar dari posisi satpam di sebuah hotel. Walaupun demikian, pada saat sang kepala sekolah dari anak si satpam ini menanyakan pekerjaan ayahnya, demi sebuah gengsi si anak lebih ini bangga menyatakan bahwa pekerjaan orang tuanya adalah satpam hotel.
Kalau saya lanjutkan petikan utuh dari sebuah bait dalam buku Wallace D. Wattles ini, akan tergambar demikian:
Menjadi kaya adalah
Bukan masalah irit atau kaya
Bukan masalah jenis usaha tertentu
Bukan masalah profesi tertentu
Bukan masalah keterlibatan anda pada bisnis tertentu
Tetapi pembelajaran untuk melakukan hal dengan cara tertentu.
Lebih lanjut, bahwa tehnik-tehnik penyelarasan dengan diri yang lebih dalam, yang pada gilirannya menciptakan saluran komunikasi antara diri seorang dan energi semesta. Kenyataannya, semesta adalah gudang kekayaan yang tidak pernah kering, dan bahwa ada lebih dari cukup kekayaan untuk membuat hidup setiap manusia berkelimpahan. Yang perlu kita lakukan untuk mendatangkan kekayaam itu adalah; memahami hukum tarik-menarik dengan menerapkan proses visualisasi agar kita bisa “mencetak” pikiran kita kepada “Zat Dasar” yang tak berbentuk dan mewujudkan benda atau keadaan yang kita inginkan.
Joe Vitale dalam bukunya LOA atau Law of Attraction, menjabarkan lebih lanjut tentang peranan alam melalui salah satu kekuatan tarik-menarik dan seberapa ampuh peranan the power of visualization. Kenyataannya, banyak sekali orang yang menjalani kehidupan dengan santai, melakoni pekerjaan yang digelutinya, tetapi mendapatkan nimat hidup yang luar biasa karena rezekinya.
Yang berbeda dari orang-orang seperti mereka itu adalah bahwa mereka melakukan sesuatu, baik itu pekerjaan, profesi, atau mengelola keuangannya dengan cara tertentu.
Mereka selalu berpikir positif, antusias, dan yang paling penting mereka tidak pernah kenal menyerah. Mereka memikirkan terobosan, cara berpikir alternatif, efisien, dan produktif sehingga melalui sebuah perenungan dan keyakinan akhirnya mampu melakukan idenya dengan cara yang berbeda.
Kita bisa sebut contoh misalnya usaha kaos oblongnya Pak Jogger yang punya strategi antimarketing; tidak boleh belanja lebih dari 12 biji. Jurus ini malah bikin konsumen tambah bernafsu untuk belanja. Makanya, untuk kalangan wisatawan domestic, semua orang pasti mengenalnya. Setiap orang yang berlibur ke Bali, apabila tanpa dilengkapi dengan kunjungan ke pabrik kata-kata Jogger, maka liburan serasa belum lengkap.
Pada awalnya, banyak juga meremehkan terobosan Tirto Utomo tahun 1974 yang menggagas air mineral dalam kemasan merek Aqua. Secara logika, bumi Indonesia yang berkelimpahan dengan air, mana mungkin masyarakatnya mau mengeluarkan uang hanya untuk sebotol air minum? Namun kenyataannya, sekarang Aqua merupakan nama generik untuk air minum dalam kemasan. Perjalanan Sosro Joyo, perintis minuman teh dalam botol, tahun 1974 juga tidak jauh berbeda. Mereka berdua adalah orang-orang yang memiliki pemikiran sebagai seorang entrepreneur sejati. Mereka menang dengan metode kreativitas, bukan dengan metode persaingan.
Dalam dunia kreatif, tidak pernah mengenal kata ketergesaan dan tidak pernah kekurangan yang namanya kesempatan. Tidak ada orang lain yang bisa mengalahkan Anda apabila itu menyangkut hal-hal yang ingin Anda lakukan. Ada cadangan kekayaan yang cukup untuk semua orang. Jika sebuah tempat telah diambil, tempat lain yang lebih baik akan terbuka untuk Anda. Bagaimana dengan Anda sendiri? Kaya adalah hak setiap orang, termasuk Anda. Sebab, kekayaan dan kemiskinan adalah keadaan pikiran.[pa]
* Putu Adnyana, MBA adalah Direktur Russian Centre, Trinita EDU (Education, Development and Foundation), Crab House, Segara Rest, Ipems, Adro Mart, dan Russian & Italian Interpreteur. Putu adalah penemu metode Inter-L, yaitu cara mudah belajar bahasa asing. Ia dapat dihubungi melalui telepon 0361-8479675, handphone 08123900976, atau melalui website-nya www.balirussiancentre.com atau atau email: adptad[at]yahoo[dot]com.

March 10th, 2009 at 2:39 pm
Mas Putu Adnyana,
Selamat ya. Maju terus.
March 10th, 2009 at 11:27 pm
Wah, Mas Putu ‘kaya’ ide juga nih! Mengangkat tema yang semua orang suka! Become Rich!
March 11th, 2009 at 6:56 pm
Dear Pak Putu,
Wuahhh dah ‘menetas’ nih artikelnya, atau jangan-jangan banyak telor yg hampir menetas ? hehehe….. selamat ya pak, tulisannya bagus. Jadi penasaran, ini yg pinter muridnya atau gurunya sih ?
March 12th, 2009 at 3:20 pm
good work my friend…terus sukses..terus maju..terus memberikan “pencerahan” buat org sekeliling kita…tulis..tulis…tulis..