The Right Man in the Right Place?

rmhOleh: Radinal Mukhtar Harahap*

Alkisah, dua orang pemuda di salah satu sekolah favorit di Kota Medan menerima beasiswa dan diutus untuk menempuh pendidikan di salah satu universitas terkemuka di Kota Surabaya. Kedua pemuda tersebut menempuh pendidikan pada prodi yang sama dan semester yang sama.

Namun demikian, kecendrungan kedua pemuda itu berbeda. Pemuda pertama menyukai dunia kepenulisan, dan pemuda kedua menyukai dunia bisnis dan entrepreneur. Dan, keduanya berhasil di bidangnya masing-masing dengan prestasi yang luar biasa.

Setelah menyelesaikan pendidikan di universitas, mereka berdua pun pulang kembali ke sekolah yang telah memberikan beasiswa kepada mereka. Kedua pemuda tadi diprioritaskan untuk menjadi guru atau pengajar di sekolah mereka.

Beberapa bulan mengajar, kedua pemuda itu mendapatkan pengalaman yang berbeda. Pemuda pertama sangat bersemangat dalam menggeluti profesi barunya sebagai guru. Namun pemuda kedua terlihat lemas dan lesu dalam bekerja sebagai tenaga pengajar.

Setelah ditanya, apa penyebab perbedaan keadaan tersebut, pemuda pertama mengatakan bahwa dunia kepenulisan sangat cocok baginya karena ia bisa mentransformasikan ilmu kepenulisannya kepada murid-muridnya. Sedangkan pemuda kedua mengatakan bahwa anak-anak didiknya yang masih sangat remaja sekali sering takut diajak berbisnis ataupun menggeluti dunia entrepreneurship.

Membaca kisah dua pemuda penerima beasiswa itu, kita akan mendapatkan satu hal yang sangat berharga dalam menghadapi kehidupan. Bahwa, seseorang yang berpotensi selayaknya mendapatkan ‘tempat yang layak dan pantas’. Karena, tempat yang layak dan pantas sangat berpengaruh terhadap pengembangan potensi orang itu.

Pemuda pertama yang menyukai dunia kepenulisan, tentunya sangat cocok dengan lingkungan pembelajaran. Ia tentunya akan sangat bersemangat menyalurkan ilmu-ilmunya kepenulisannya kepada murid-muridnya. Namun berbeda dengan pemuda kedua yang lebih condong kepada dunia bisnis dan entrepreneurship. Walaupun ia berhasil dalam dunianya, ternyata ia ‘mengaku susah’ untuk menyebarkan virus-virus kesuksesannya. Ini diakibatkan banyaknya siswa yang ‘takut’ terjun ke dunia yang masih minim peminatnya itu. Tetapi, apakah faktor lingkungan merupakan satu-satunya penyebab sukses?

Tentu kita percaya bahwa faktor lingkungan bukanlah satu-satunya faktor penyebab sukses. Hal ini bergantung pada seberapa besar pengaruh seseorang tersebut terhadap lingkungannya. Secara singkat dapat kita pertanyakan, apakah seseorang itulah yang memengaruhi lingkungan, atau lingkungannya yang memengaruhi dirinya sendiri?

Untuk situasi pertama, yaitu mereka yang memengaruhi lingkungan, mungkin tidak menjadi masalah baginya untuk meraih kesuksesan. Karena, dialah yang memengaruhi lingkungan. Bila ia sukses, lingkungannyalah yang akan mendapatkan cipratan ‘kesuksesan’ tersebut.

Namun, yang menyusahkan adalah mereka yang sukses bila hanya bertempat tinggal di sekeliling orang yang sukses. Dan, bila ia tidak bertempat tinggal dilingkungan yang sukses, ia pun tidak akan mendapatkan kesuksesan. Lalu, apakah solusinya?

Setiap manusia adalah penentu bagi kesuksesannya sendiri. Betapapun besarnya motivasi, pantas layaknya sebuah lingkungan, efisien atau tidaknya fasilitas, diri sendirilah yang menjadi penentu kesuksesan. Setidaknya, itulah yang harus kita pahami bersama.

Adagium the right man in the right place selayaknya kita ganti dengan adagium i am the right man where ever and when ever. Sayalah orang yang tepat untuk setiap kondisi dan waktu, karena sayalah yang berpengaruh pada lingkungan, bukan lingkungan yang memengaruhi saya. Semoga![rmh]

* Radinal Mukhtar Harahap adalah alumnus PP Ar-Raudhatul Hasanah, Medan, Sumatera Utara. Kini menempuh pendidikan sambil “nyantri” di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sedang “jatuh cinta” dengan dunia kepenulisan dan motivasi. Ia dapat dihubungi di radinal88[at]gmail[dot]com atau 081331185527.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

One Response to “The Right Man in the Right Place?”

  1. Maula Says:

    Kesimpulan: Jangan larut dalam suasana, tapi ciptakan suasana. Hari ini Indonesia memang sangat membutuhkan nutrisi dan vitamin motivasi..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 5.0/5 (2 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +2 (from 2 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox