The Power of Gaul
Editor | Kolom Tetap | June 16th, 2009
Oleh: Iftida Yasar*
Dulunya waktu masih muda, saya termasuk anak gaul. Saya hampir selalu ikut semua kegiatan. Mulai dari pramuka, tenis, bulutangkis, karate, voli, paduan suara, mengaji, dan main ke mana saja saya pasti ikut. Sebagai anak gaul tentu saja kegiatan saya tidak ada habisnya. Rasanya selalu kekurangan waktu untuk melakukan semua hal yang saya inginkan. Kayaknya dulu main lebih penting dari sekolah. Walaupun pada waktu itu prestasi sekolah saya yah, lumayan juga, enggak bego-bego amat. Karena banyak bergaul dan berteman dengan siapa saja, sangat mudah bagi saya untuk menemukan objek pembicaraan dengan siapa saja.
Memasuki dunia kerja, hobi gaul itu ternyata banyak sekali manfaatnya. Dunia ini memang sempit, di mana pun berada pasti kita akan bertemu dengan orang yang kita kenal. Atau, setelah kita mengobrol, ternyata sambung-menyambung ada hubungannnya dengan si anu teman kita, saudara kita, dan tetangga kita. Untungnya anak gaul itu—kalau track record-nya baik—maka banyak keuntungan yang didapat. Misalnya, ada suatu masalah kantor di mana saya harus menyelesaikannya dengan bertemu seseorang yang kelihatannya susah sekali (diajak kompromi). Tetapi, dengan berusaha mendekatinya, mengobrol dan mencoba menghubungkan dengan sesuatu yang membuatnya senang, maka persoalan menjadi lebih mudah.
Tadinya, saya tidak begitu menyadari kelebihan saya sebagai anak gaul. Tetapi, kalau diurut-urut, ada berbagai peristiwa atau masalah yang—tingkat kesulitannnya cukup tinggi—kemudian dapat diselesaikan dengan gaya santai saya. Ini merupakan akibat pengalaman bergaul dengan berbagai ragam karakter.
Saya pernah menjadi orang yang pekerjaannya, di antaranya, mengeluarkan orang jika terbukti dia bersalah. Pekerjaan yang sangat tidak menyenangkan, dibenci orang, bahkan bisa membahayakan keselamatan saya kalau saya tidak melakukannya dengan adil. Adil di sini dalam pengertian dapat menjembatani antara kepentingan perusahaan dengan kepentingan karyawan. Yang namanya diancam dan dibenci adalah bagian dari pekerjaan itu. Tetapi, dalam face to face pertemuan dengan karyawan yang mau dikeluarkan, saya selalu tenang dan tidak pernah takut. Perusahaan besar—berdasarkan pengalaman saya—sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan PHK. Jika karyawanya terbukti bersalah, maka masalah harus segera diselesaikan. Biasanya, semua akan berjalan dengan baik. Tinggal bagaimana cara kita supaya harus tegas sesuai peraturan, tetapi tetap manusiawi dalam menjelaskan dan menyelesaikannya.
Karena saya bekerja di divisi sumber daya manusia, kegemaran saya gaul juga menjadi modal utama untuk masuk ke semua lapisan di kantor. Biasanya, orang SDM itu enggak begitu disukai. Mereka dianggap polisi yang mengawasi pekerjaan karyawan. Apalagi bagian yang saya kerjakan ada urusan pecat memecatnya di sana. Dengan keluwesan saya—atau dengan kata lain cuek alias ndablek—saya aktif di klub karyawan. Saya ikut latihan silat di mana biasanya yang ikut latihan di sana adalah para jagoan atau informal leader-nya perusahaan. Bekal karate saya memudahkan saya mempelajari silat itu. Bahkan jika ada acara kantor, saya selalu diajak memamerkan keahlian mematahkan besi, es balok, dan botol minuman. Dengan latihan silat saya menjadi dekat dengan para informal leader itu dan tahu bagaimana cara pandang mereka terhadap perusahaan.
Jika perusahaan mengadakan pertandingan tahunan saya juga terlibat, mulai dari budgeting sampai pertandingannya saya ikuti. Selain mengincar hadiahnya—untuk ukuran bekas atlet saya selalu dapat at least juara 3 untuk pingpong, bulutangkis, dan tennis. Tetapi kalau voli, karena saya memilih tim yang kuat, biasanya pasti juara 1. Ajang pertandingan internal ini dapat juga mendekatkan saya dengan karyawan. Setidaknya, kebijakan perusahaan—melalui peraturan yang dikeluarkan dan diawasi oleh bagian SDM—menjadi lebih gampang diterima pada saat disosialisasikan dan dijalankan.
Hikmah lainnya yang sangat terasa adalah pada saat saya memutuskan untuk berusaha sendiri menjadi entreprenuer. Setidaknya, KKN-nya terjadi pada saat saya mau memperkenalkan perusahaan kepada para calon klien. Kalau kebetulan pejabatnya adalah teman maka mereka akan memberikan kesempatan atau memfasilitasi agar perusahaannya mau memberikan kami waktu memperkenalkan diri. Walaupun keputusan akhir biasanya diputuskan oleh tim dari perusahaan, tetapi buat saya, sebagai perusahaan baru yang dapat kesempatan presentasi memperkenalkan diri, kesempatan itu sangatlah berharga.
Seingat saya, klien baru kami dapatkan dengan cara “getok tular”. Artinya, dari teman ke teman atau dari klien yang sudah pernah menggunakan jasa kami. Kalaupun bukan dari networking atau teman, klien baru biasanya didapat dengan cara berkenalan di pesawat, seminar, atau dikenalkan oleh teman.
Sampai sekarang saya masih memelihara hubungan baik dengan teman saya di berbagai tingkat, mulai dari teman TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi dan teman kantor. Kami secara rutin masih saling bertemu. Walaupun kelihatannya hanya sekadar cerita-cerita yang lucu atau mengobrol ngalor ngidul, tetapi selalu saja ada hikmah di balik itu jika kita melakukannya dengan tulus dan tanpa pamrih. Teman yang setia dan hubungan tanpa pamrih adalah harta yang paling berharga dalam hidup ini. Beruntunglah jika kita masih memilikinya.[iy]
* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.
June 18th, 2009 at 2:10 pm
memang beruntung sekali kalo mempunyai banyak teman…(seandainya saya bisa selalu menerapkan hal itu)…artikelnya mengingatkan sy utk selalu “memelihara” teman2…walaupun dihimpit urusan2 kantor yg akhirnya juga “menghimpit” waktu saya selalu.
June 19th, 2009 at 8:36 am
mbak kalo gaul itu emang hobi, jadi kita selalu ada energi tambahan dan ga ada matinya
coba deh jangan mikirin cape ato malas, tapi mulai gaul dengan orang2 deket kita aja dulu dilingkungan kantor
August 6th, 2009 at 11:04 am
“Walaupun kelihatannya hanya sekadar cerita-cerita yang lucu atau mengobrol ngalor ngidul, tetapi selalu saja ada hikmah di balik itu jika kita melakukannya dengan tulus dan tanpa pamrih”
Hal diatas mengingatkan kelakuan anak pertama saya dulu.. Karena selalu diperhatikan dan selalu dilayani membuat ia menjadi cengeng , ingin menang sendiri dan tidak mau menerima hal hal yang baru.
tapi semua berubah drastis setelah ia diber kebebasan bergaul dengan teman teman. baik yang seumur ,lebih kecil ataupun yang lebih tua.Dengan pembauran itu dia megetahui langsung tentang batasan pergaulan dan bisa memberi dan menerima.