Thailand, Memberikan Arti bagi Wisatawan Asing

Agung PraptapaOleh: Agung Praptapa*

Dalam suatu kunjungan ke beberapa universitas dan sekolah di Thailand, saya beserta rombongan dari Indonesia dikejutkan dengan tulisan besar di gerbang kampus suatu sekolah, yang bernama Saravitaya Public School, di kota Bangkok. Tertulis dengan huruf yang berukuran besar nama lembaga tempat saya bekerja di Indonesia. Nama sekolah itu sendiri tertulis dengan ukuran yang lebih kecil, sedangkan nama lembaga “tamu” justru ditulis lebih besar. Bukan tertulis di spanduk sebagai ucapan selamat datang seperti yang biasa digunakan di Indonesia, tetapi tercetak di papan besar di depan kampus, yang “seolah-olah” permanen. Sebagai tamu, kami merasa dihargai luar biasa.

Kami sengaja datang pagi-pagi sebelum kelas dimulai. Tujuan kami mengunjungi sekolah tersebut adalah untuk mengetahui proses belajar mengajar di suatu sekolah di Thailand, termasuk kebiasaan murid sebelum masuk kelas. Kebetulan saat itu ada semacam apel pagi atau semacam “upacara” bendera. Rombongan tamu dipersilakan berdiri di depan bersama para guru. Kami pikir para murid akan berbaris seperti lazimnya upacara di sekolah-sekolah di Indonesia, ternyata tidak. Mereka dengan tertib duduk bersila di lantai halaman sekolah.

Selanjutnya, upacara siap dimulai. Ada pembawa acara, dan petugas upacara seperti halnya di Indonesia. Hari itu acara dibawakan dalam bahasa Inggris. Saat saya tanyakan kepada guru apakah setiap upacara mereka menggunakan bahasa Inggris, mereka katakan tidak. Hari itu menggunakan bahasa Inggris karena ada tamu yang tidak berbahasa Thailand. Sekali lagi, kami merasa dihargai. “Sekalian melatih mereka berbaha Inggris,” kata guru yang mendampingi kami.

Upacara dimulai. Pembina upacara naik ke podium untuk menerima penghormatan. Kami pikir kepala sekolah yang akan bertindak sebagai pembina upacara, ternyata perkiraan kami salah. Murid pula yang menjadi pembina upacara. Dengan bahasa Inggris yang masih belum lancar, murid yang menjadi pembina upacara tersebut memberikan sambutannya. Saya tanyakan kepada guru yang mendampingi kami apakah memang begini cara mereka melakukan upacara, bukan kepala sekolah atau guru yang menjadi pembina upacara?

Ia katakan memang demikian. Nanti setelah upacara selesai, baru kepala sekolah atau guru diberi kesempatan untuk memberikan sambutan. “Tetapi, itu kalau memang ada yang harus disampaikan kepada murid-murid,” katanya. Kalau tidak ada hal penting yang harus disampaikan oleh guru atau kepala sekolah, maka cukup sambutan dari murid saja.

Hari itu saya mewakili rombongan diberi kesempatan memberikan sambutan. Saya memberikan sambutan dalam bahasa Inggris, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Thailand oleh salah seorang murid yang sangat bagus bahasa Inggrisnya. Setelah turun dari podium, saya tanyakan kepada guru pendamping, mengapa sambutan saya harus diterjemahkan dalam bahasa Thailand? Dikatakan bahwa kemampuan bahasa Inggris para murid tidak merata, sehingga mereka memilih ada penerjemah.

“Mereka kan ingin tahu negeri Anda, mereka sangat tertarik apabila mendapatkan penjelasan tentang negeri orang,” kata guru tersebut.

“Apakah banyak orang asing datang ke sini seperti kami ini?” tanya saya.

“Iya, sering. Sering sekali!” katanya.

Dalam hati saya berpikir, mungkin kunjungan ke sekolah seperti ini juga merupakan usaha untuk menarik wisatawan asing. Ternyata dugaan saya tidak salah.

Acara demi acara di sekolah tersebut kami lalui dengan menyenangkan, dengan guru pemandu yang sangat profesional. Kami diberi kesempatan untuk mengunjungi kelas dan melihat-lihat fasilitas. Para petugas, guru kelas, dan murid-murid tampaknya sudah tidak asing lagi dengan kunjungan semacam ini. Saat kami akan pulang, kami diminta mengisi buku tamu. Dari daftar tamu saya bisa lihat bahwa memang banyak kunjungan wisatawan asing ke sekolah ini. Dalam perjalanan pulang untuk menuju tujuan wisata lain saya diberitahu oleh local tour guide bahwa dalam kunjungan tadi kita memberi sumbangan.

“Kata halus dari membayar,” kata tour guide tersebut sembari tersenyum. “Sumbangan dari wisatawan asing merupakan salah satu pos penerimaan bagi sekolah tersebut,” tambahnya. Luar biasa! Sekolahan pun menempatkan sumbangan dari wisatawan sebagai salah satu sumber penerimaan!

Penghasilan utama Thailand memang berasal dari sektor pariwisata. Saya yakin orang Thailand tahu bahwa dari wisatawan asinglah mereka mendapatkan penghidupannya. Bisa dikatakan bahwa melayani wisatawan asing sebaik-baiknya sudah menjadi semacam way of life bagi orang Thailand. Saya jadi membayangkan seandainya orang Indonesia memiliki kesadaran yang tinggi untuk melayani sebaik-baiknya wisatawan asing, mungkin kita bisa lebih hebat dari Thailand. Kalau mereka bisa, mengapa kita tidak?[ap]

* Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni Universitas Diponegoro, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Saat ini sedang menikmati profesi barunya sebagai penulis manajemen populer. Hoby: travelling. Website: www.praptapa.com Email: praptapa@yahoo.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

4 Responses to “Thailand, Memberikan Arti bagi Wisatawan Asing”

  1. maria saumi Says:

    yup pak praptapa…sy juga pernah mengunjungi thailand…dan sebenernya memang yg ia punya adalah keramahan luarbiasa n servicenya bagus…jika saja Indonesia, selain dari keindahan alamnya juga dilengkapi service bagus…wah…Thailand kalh deh pak…(sy salut juga dg dukungan pemerintah sana thdp objek wisatanya)…

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Risfan Munir Says:

    Betul Pak, kalau mau membandingkan diri sebaiknya pariwisata kita melihat Thailand lah. Sangat comparable, malahan potensinya kaya kita mungkin. Dia gak punya minyak (?) hutan terbatas. Jadinya pariwisata dan kerajinan (creative industry istilah sekarang) jadi andalan.
    Sungguh aneh, di Bangkok sekalipun jarang orang bisa bhs English, terutama sopir taksi, pedagang….tapi kok ya bisa turis nya maju ya. Kalau saya kesana mengamati program OTOP (one tambon one produk) versi lokal dari OVOP (one village one product)…begitu juga produk kerajinannya (miniatur patung gajah, budha, dst) gitu-gitu saja (kata kita) tapi kok ya jaya..mungkin bangsa kita terbiasa “mengkritik” upaya teman dari pada mendukungnya agar lebih baik…

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. AGUNG PRAPTAPA » Blog Archive » Thailand, Memberikan Arti bagi Wisatawan Asing Says:

    [...] disini untuk membaca artikel saya “Thailand, Memberikan Arti bagi Wisatawan Asing” yang [...]

  4. online Says:

    Terima kasih atas informasi menarik

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox