Terjebak Kenikmatan
Editor | Kolom Tetap | August 11th, 2009
Oleh: Sulmin Gumiri*
Jika kita biasa merenung, mungkin kita pernah merasakan betapa luar biasanya kehidupan yang telah dianugerahkan Sang Pencipta kepada kita. Saya yakin tidak ada orang yang tidak mengalami pasang surut dalam perjalanan hidupnya. Kita kadang sangat sedih dan putus asa ketika sedang dirundung masalah, tetapi banyak juga masa-masa bahagia dan menjadi kenangan indah tak terlupakan saat mengalami keberhasilan dalam hidup kita. Dalam beberapa kesempatan bertemu teman-teman lama, dengan bergurau saya sering mengungkapkan, “Kadang saya ngeri kalau membayangkan kilas balik kehidupan ini. Saking ekstrimnya pasang surut kehidupan yang telah dilalui, dibayar berapa pun saya rasanya tidak sanggup untuk mengulang kembali perjalanan hidup saya.”
Mungkin, kerasnya guncangan saat kita mengalami pasang surut kehidupan inilah yang menyebabkan kenapa orang-orang tua selalu mengingatkan anak-anak mereka yang baru menikah: “Semoga kalian senantiasa sabar dan selamat serta mendapatkan kebahagiaan dalam mengarungi bahtera kehidupan berumah tangga nantinya.” Nasihat tersebut mengandung makna bahwa–ibarat berlayar—untuk sampai kepada tujuan, kita tidak mungkin menghindari kerasnya hantaman badai atau justru berhenti dan terbuai ketika berada di puncak gelombang. Agar terus bergerak maju dan mencapai pelabuhan yang dituju kita perlu berpikir dan bekerja cerdas sambil senantiasa menjaga stamina. Percepat perjalanan saat laut tenang, dan jaga keseimbangan saat gelombang besar menerjang.
Ada dua kondisi ekstrim gelombang kehidupan yang memerlukan kewaspadaan dan kehatian-hatian yang luar biasa, agar kita tidak terlempar dari bahtera sehingga gagal menjalani kehidupan ini. Kondisi ekstrim yang pertama adalah ketika kita diempas oleh gelombang sehingga kita menjadi panik, ketakutan, dan kehilangan arah. Kondisi kedua adalah ketika terangkat ke puncak gelombang sehingga kita menjadi terbuai kesenangan dan melupakan tujuan yang ingin kita capai. Meskipun ngeri dan menakutkan, kita biasanya lebih siap dan terlatih untuk menghadapi kondisi yang pertama. Kita kadang-kadang lupa bahwa justru kondisi kedua yang terlihat nyaman dan menyenangkan inilah yang sering menggelincirkan dan menggagalkan kesuksesan yang sudah di pelupuk mata.
Pada saat mendapat suatu kenikmatan, sebagian orang kadang-kadang tidak bisa mengontrol diri dalam mengekspresikan rasa suka cita yang baru saja mereka dapatkan. Kita sering melihat bagaimana anak-anak sekolah yang baru dinyatakan lulus ujian mengekpresikan kegirangan mereka dengan menyerempet bahaya melakukan konvoi mengendarai sepeda motor tanpa helm di jalan raya. Rasa suka cita saat merayakan hari-hari besar agama dan tahun baru ada kalanya berakhir dengan duka cita mendalam, karena ada anggota keluarga yang meninggal diseret ombak ketika mandi beramai-ramai di pantai. Ada juga orang yang sedang berada di puncak karier, tiba-tiba harus kehilangan jabatannya serta akhirnya masuk penjara akibat terjebak kasus kriminal yang berawal dari cinta segi tiga.
Baru-baru ini kita dikagetkan dengan kematian mendadak Mbah Surip justru ketika beliau baru saja berada di puncak kariernya sebagai penyanyi. Dalam salah satu acara dialog di televisi, seorang pemerhati dunia musik Indonesia mengatakan, “Terlepas dari umur yang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta, dari segi manajemen Mbah Surip kelihatannya tidak siap dengan puncak ketenaran yang datang begitu tiba-tiba. Jadwal mentas dan berbagai undangan yang begitu padat, telah menyebabkan penyanyi berusia 60 tahun tersebut mengalami kelelahan yang luar biasa dan akhirnya berujung kepada kematian. Sebagai penyanyi tenar, beliau seharusnya didampingi oleh manejemen profesional.”
Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan agar tidak tergelincir saat mendapat “ujian kenikmatan”? Orang-orang tua dan para guru agama kita mengajarkan bahwa hendaklah kita membiasakan diri untuk senantiasa bersyukur atas setiap kemajuan dan perbaikan kehidupan yang telah kita capai. Dengan bersyukur berarti kita selalu mengingat bahwa kenikmatan bukanlah semata-mata hasil dari perjuangan kita sendiri. Kenikmatan adalah anugerah dari Sang Pencipta yang kita dapatkan dengan bantuan orang lain.
Kepada Sang Pencipta kita mengakui bahwa kita adalah makhluk yang lemah tiada berdaya, dan kepada sesama manusia yang telah membantu kesuksesan kita hendaklah kita memberikan penghargaan terhadap keberadaan mereka. Merasa kecil di hadapan Sang Pencipta dan kesadaran untuk hidup bersama dengan orang lain ini akan menanamkan prinsif hidup bahwa kita bukanlah siapa-siapa dan “di atas langit ada langit”. Kita hanyalah satu dari sekian banyak manusia dengan segala keunikan dan bilah ukur kesuksesan masing-masing. Karena setiap orang adalah unik, maka yang kita perlukan adalah terus-menerus mengembangkan diri dan berjuang sekuat tenaga agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari hari ke hari, yang bilah ukurnya hanya kita sendiri yang tahu.
Dengan memegang prinsip untuk senantiasa menjadi lebih baik dari hari ke hari, kita sebaiknya memanfaatkan masa-masa menyenangkan dan penuh kenikmatan justru untuk berbenah diri dengan membuat target-target baru yang akan dicapai pada tahap kehidupan selanjutnya. Dengan selalu membuat target baru berarti kita telah menciptakan tantangan baru, dan dengan tantangan yang senantiasa diperbaharui inilah maka kita akan semakin terpacu untuk terus bekerja dan berkarya sepanjang hidup kita. Prinsip inilah yang membuat mengapa seolah-olah ada orang yang tiada henti-hentinya selalu mengalami keberuntungan dalam hidupnya. Bagi mereka, keberhasilan saat ini harus dimanfaatkan untuk menciptakan peluang-peluang baru untuk mencapai keberhasilan-keberhasilan berikutnya. Dalam agama diajarkan: “Ketika kita telah selesai mengerjakan satu pekerjaan, maka bergegaslah mengerjakan pekerjaan yang lain.”
Dengan target yang telah ditetapkan kembali, kita kemudian segera membangun komitmen untuk senantiasa belajar dan bekerja keras untuk mencapai target-target baru tersebut. Prinsip untuk selalu belajar dan bekerja keras akan mengantarkan kita kepada pribadi dinamis yang semakin bijaksana dalam memaknai kehidupan ini. Dengan kebijakan yang dimiliki, kita semakin menyadari bahwa untuk bisa terus bergerak maju kita tidak mungkin akan selalu dirundung kemalangan dan kesusahan saja. Atau juga, mustahil untuk selalu mendapatkan kebahagiaan saja. Kedua-duanya harus kita lalui karena masing-masing merupakan ujian yang akan mengantarkan kita kepada kesuksesan yang sesungguhnya. Hendaklah kita selalu sabar dan tidak kehilangan arah ketika mendapat kemalangan, dan sebaliknya kita harus selalu mengendalikan diri dan mempertajam lagi target-target yang ingin kita capai saat berada dalam kenyamanan.
Kemalangan dan keberuntungan dapat dibaratkan sebagai kondisi naik turunnya gelombang lautan yang harus kita layari. Kita akan bisa sampai ke tujuan hanya apabila kita terus bergerak maju sambil terus menjaga keseimbangan agar dapat melewati gelombang lautan tersebut apa pun kondisinya. Salam Andaluarbiasa![sg]
* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris, dan gelar Ph.D. dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening, dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.
August 11th, 2009 at 10:28 pm
Agar tidak terjebak, kita harus pandai-pandai bersyukur. Salam hangat Pak Sulmin. Tulisan Bapak membuat saya langsung introspeksi.