Tekanan Pemicu Sukses
Editor | Kolom Tetap | May 18th, 2009
Oleh: Relon Star*
”Bayangkan jika Anda mengalami hal ini. Ada seorang yang menodongkan pistol ke arah Anda, dan memaksa Anda untuk mengambil sesuatu yang sangat berharga di atap rumah Anda. Anggaplah orang itu adalah seorang teroris. Dan, dia hanya memberi Anda waktu lima menit. Lima menit setelah itu Anda harus kembali dengan membawa barang berharga yang diminta oleh teroris tersebut. Apakah yang Anda lakukan? Itu pertanyaan pertama. Kedua, apakah Anda bisa melakukannya?” demikian sang Financial Revolutioner—Tung Desem Waringin—mengawali seminarnya.
Saya yakin, banyak di antara Anda memiliki jawaban yang sama dengan saya. Pasti BISA! Dalam keadaan tertekan, terkadang kreativitas seseorang bisa muncul ke permukaan. Anggaplah kisah yang diceritakan tadi bombastis atau terlalu mengada-ada. Tetapi, peristiwa serupa sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Sebut saja seorang wanita yang ditinggal suaminya pergi. Padahal, mereka memiliki dua orang anak. Wanita tersebut sudah lama sekali tidak bekerja. Karena, selama ini yang menopang biaya hidup sehari-hari ialah suaminya. Sekarang, mau tidak mau dia harus menghidupi kedua anaknya dan dirinya sendiri. Jika hanya tinggal di rumah seharian dan menunggu orang lain datang membawa makanan, mungkinkah anaknya dapat bertahan hidup?
Jika keadaannya demikian, apakah yang harus dilakukan? Pergi dari kursi malas, dan mulailah bekerja. Atau, menceritakan apa yang ia alami, kemudian teman yang mendengarnya mencoba mencarikan lowongan pekerjaan. Segala hal jadi lebih terbuka ketika kita melangkah.
Jika sang wanita single parent tersebut dapat menetapkan pencapaian yang baru, berarti kita semua juga bisa melakukannya. Hanya saja, wanita itu sudah memiliki suatu alasan yang menggerakkan dia untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Berarti, yang Anda butuhkan hanyalah sebuah alasan.
Bangunlah setiap pagi dengan membuat alasan mengapa hari ini harus menjadi hari yang luar biasa dengan melakukan hal-hal yang luar biasa. Saya ingin mengulang sekali lagi mengenai sukses yang disederhanakan, ”Menetapkan sesuatu, dan mencapainya!” Bangunlah pagi hari dengan menetapkan sesuatu, dan capailah!
Bagaimana jika Anda berhasil mencapainya? Ini pertanyaan yang berbeda. Tentu dengan jawaban yang berbeda pula. Tetapkanlah sesuatu yang lebih jauh lagi, yang belum terjangkau oleh tangan Anda, dan bersiaplah untuk mencapainya. Melangkahlah lebih jauh, sejauh mungkin dari yang Anda bisa lakukan.
Seorang perenang, jika tadinya hanya bisa berenang sejauh 5 km, dia harus menetapkan jarak yang lebih jauh lagi yaitu 10 km. Bagaimana jika yang 10 km tersebut telah tercapai? Berenanglah sejauh 15 km, 20 km, atau lebih jauh lagi. Artinya, melangkahlah sejauh yang bisa dilakukan.
Jangan melangkah mundur lagi, dengan memperkecil angka yang sudah berhasil Anda capai. Banyak orang melakukan hal ini. Ketika dia sudah berhasil melakukan sesuatu, dia mulai mengambil napas, pergi ke kursi malas, lalu pelahan-lahan tidur kembali. Merasa pencapaian awal sudah berhasil digenggam, dia tidak menetapkan standar yang baru lagi. Akibatnya, kata stagnasi sering kali menjadi akrab di telinga kita. ”Saya tidak tahu lagi harus melakukan apa? Saya merasa sudah tidak bisa melakukan apa-apa”, demikian kalimat yang sering dijumpai. Padahal, bukannya dia tidak bisa melakukan apa-apa, tetapi segera sesudah dia mencapai keberhasilan, dia tidak segera menetapkan standar baru.
Cerita lain sering ditemukan dalam profesi sebagai agen asuransi. Merasa bahwa bulan ini dia telah mencapai target, dia melemahkan kekuatan penjualannya karena merasa sudah berhasil. Padahal, itu baru 25 persen dari target yang ditetapkan selama setahun. Hitungannya, dia sudah mencapai 25 persen dari target dalam jangka waktu sebulan. Padahal, waktu yang diberikan setahun. Berarti masih ada 11 bulan untuk mencapai yang 75 persen. Dia mulai berkata, ”Untuk sementara waktu ini saya boleh berhenti. Atau, meminimalkan kekuatan saya karena ternyata sangat mudah untuk mencapai 25 persen dalam sebulan. Dalam jangka waktu empat bulan saja, saya sudah meraih target yang ditetapkan untuk setahun.”
Mengerikan sekali jika ini terjadi. Musuh terbesar dalam diri kita adalah rasa puas. Hati-hati jika Anda mulai terkena penyakit ini. Ini penyakit menular dan berbahaya. Anda dapat menularkan rasa kepuasan kepada orang lain. Dan, orang lain mengikuti Anda. Dan berbahaya, karena jika tidak hati-hati, ini dapat merupakan langkah awal bagi kemunduran Anda.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda buru-buru menetapkan standar baru untuk suatu pencapaian, ataukah Anda sudah merasa cukup puas?[rs]
* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

May 24th, 2009 at 9:05 am
Bener mbak, rasanya memang aneh bila kita sudah cukup berpuas diri dengan apa yang kita raih sekarang. padahal setiap agama kita mengajarkan untuk terus menggapai cita-cita sampai setinggi langit dan jangan pernah menyerah dan putus asa.
sukses