Tante Ann: Ibunda Barrack Obama
Editor | Kolom Lepas | February 15th, 2009
Oleh: Iftida Yasar*
Perempuan adalah makhluk yang sangat istimewa. Oleh Allah perempuan diberikan kemuliaan untuk menjaga amanah melahirkan generasi penerus. Tugasnya sebagai sosok yang sangat berperan dalam menentukan kualitas generasi penerus, baik secara fisik maupun pembentukan karakter, membuatnya harus dapat selalu menjaga citra diri dan memeliharanya.
Perempuan adalah tiang rumah tangga, pemersatu keluarga, cahaya keindahan dan kebenaran. Ia adalah pemimpin dalam rumahnya untuk anak-anaknya dalam menanamkan nilai-nilai baik kejujuran, keteguhan, kesetiaan, kelembutan, dan kasih sayang. Dengan kasih sayangnya ia menjaga rumah tangganya dari segala tantangan baik dari luar maupun dari dalam.
Tidak semua perempuan memahami dan mampu menerapkan tugas dan kodratnya. Banyak yang gamang dan larut dalam kungkungan masalah tanpa mampu bangkit serta melihat indahnya tantangan kehidupan. Perempuan sebagai makhluk yang mengemban tugas melahirkan generasi penerus harus sehat dan bahagia. Ia layaknya mampu mengetahui kodratnya sebagai pemersatu keluarga dan mampu menjaga rumah tangganya dari tantangan. Tantangan dari dalam berupa keteguhan untuk meyakini bahwa kodratnya adalah membentuk karakter anak-anaknya dengan menjadi panutan dan menjalankan nilai baik, seperti kejujuran, keteguhan, dan kasih sayang.
Perempuan sering digambarkan sebagai mahluk Tuhan yang halus, memesona, indah, lemah, perlu dijaga, dan dilindungi karena dibuat dari tulang rusuk laki-laki. Halus, sehingga jika perempuan berkata keras atau mempertahankan pendapatnya dengan gigih di muka umum, maka ia akan dicap sebagai perempauan keras atau kasar. Perempuan tidak usah neko-neko berdebat atau mempertahankan pendapatnya, tidak pantas, lebih baik diam saja, dan mengalah.
Perempuan yang memercayai hal ini seratus persen akan selalu merindukan sang pangeran yang akan selalu mencintai, melindungi, dan mendampinginya. Kebutuhannya akan berhenti di batas ini seperti “Dewi mencari cinta”. Tanpa cinta maka hidupnya tidak akan bahagia. Bisa jadi jika ia tidak bahagia, maka hidupnya akan murung, sedih dan lupa akan tugasnya mengantarkan anak-anaknya tumbuh kembang dan menjadi manusia yang kuat, bahagia, dan sukses.
Perempuan digambarkan memesona dan indah sehingga ia harus tampil prima, menjaga keindahan tubuhnya, berpakaian dan berdandan yang menarik untuk mempertahankan citra pesonanya. Jika perempuan terlihat lusuh, tidak berdandana, gembrot, maka ia dianggap bukan perempuan. Banyak kasus cacat bahkan kematian perempuan akibat operasi plastik, suntik, dan lain-lain tindakan karena keinginan perempuan untuk terlihat cantik dan langsing. Begitu sibuknya perempuan mempercantik dirinya sehingga mungkin lupa memikirkan tumbuh kembang anak-anaknya, yang lebih banyak bersama mbaknya (baca: pembantu/pengasuh) karena ibu mereka sibuk di salon.
Perempuan lemah, jadi ia jangan mengerjakan pekerjaan yang berat. Kasih saja yang ringan dan tidak memerlukan kemampuan yang tinggi. Karena lemah, perempuan jadi tidak mau menerima tantangan tugas yang beragam, tidak mau pulang telat, sering izin dengan berbagain alasan, mulai dari sakit perut karena menstruasi, anak sakit, pembantu tidak ada, dsb. Ada juga perempuan yang dengan atribut keperempuannya meminta jatah jabatan atau kedudukan karena, katanya, suatu pekerjaan tidak akan seronok dan hambar tanpa kehadiran perempuan. Dengan kenesnya perempuan jenis ini tidak malu menyodorkan dirinya untuk menjadi sesuatu tanpa menyadari dia tidak punya kompetensi, hanya karena ia ingin perempuan ada di situ.
Tetapi, di lain pihak perempuan juga menginginkan adanya kesamaan hak, menuntut gaji yang sama besar, fasilitas yang sama, jabatan yang sama dengan laki-laki, semuanya dengan cap emansipasi. Bahkan yang lebih ekstrim adalah tidak butuh laki-laki, lakukan semua sendiri, pekerjaan seberat apa pun tidak mau dibantu.
Kita yang sering menonton film barat dapat melihat dengan jelas bagaimana mandiri dan perkasanya perempuan seperti itu. Mereka tidak berdandan, berpenampilan gagah perkasa, bahkan menjadi orang tua tunggal “by choice” hanya untuk membuktikan bahwa mereka bisa hidup tanpa laki-laki.
Beda dengan kita di Indonesia, banyak perempuan terutama yang berada pada lapisan bawah, mereka harus bekerja keras menghidupi keluarganya. Lihat di Bali, bagaimana para perempuan menjadi kuli bangunan, mengangkat batu, dan bekerja keras di bawah teriknya matahari. Semua dilakukannya karena ia harus membantu mencari nafkah dengan alasan yang klasik, bahwa penghasilan suami tidak mencukupi untuk keluarga. Perempuan juga banyak yang berperan sebagai penghasil utama dan penopang kehidupan rumah tangganya.
Biasanya, pekerja perempuan lebih penurut, gampang diatur, fleksibel, dan mau mengerjakan pekerjaan apa saja tanpa hitung-hitungan. Hikmahnya, ia akan bekerja lebih keras dan sering menghadapi tantangan sehingga terasah kemampuannya, dan akhirnya dapat memiliki karier yang baik.
Pendapat di atas agak kontradiktif memang, yang mengatakan bahwa perempuan adalah makhluk lemah yang tidak bisa mengerjakan apa-apa, tetapi di lain pihak jika ia mau (by choice) atau karena terpaksa, maka perempuan bisa menjadi apa saja. Perempuan bisa jadi tukang becak, sopir taksi, tukang bangunan, supervisor, bahkan direktur utama di perusahaan besar. Semuanya dimulai dari bagaimana cara pandang kita memperlakukan diri sendiri.
Kenapa judul tulisan diatas adalah mengenai Tante Ann, Ibunda dari Maya Soetoro dan Barack Obama, presiden Amerika Serikat yang ke 44? Saya melihat Tante Ann adalah sosok ibu yang sangat istimewa, yang mampu mengantarkan anak-anaknya hidup dengan harga diri, mandiri, dan selalu berjuang untuk mencapai cita-citanya. Tante Ann adalah perempuan istimewa, bukan perempuan biasa. Sebagai perempuan kulit putih, ia berani memutuskan menikah dengan orang yang bukan kulit putih. Walaupun kedua perkawinannya kandas, tetapi ia tetap mengajarkan anak-anaknya agar menghargai bapaknya.
Dari biografi tentang Barrack Obama, banyak perjalanan yang dilakukannya untuk bertemu dengan keluarga ayahnya. Maya Soetoro juga kelihatannya tumbuh menjadi perempuan yang bahagia, mandiri, dan mempunyai kepedulian terhadap masyarakat. Walaupun sejak kecil ia ikut ibunya, tapi Maya tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga ayahnya.
Di sini terlihat jelas, bahwa tante Ann mampu memainkan peranan sebagai ibu yang mandiri, walaupun harus menghidupi anak-anaknya sendiri. Tante Ann tidak terpuruk dalam kesedihan menangisi kegagalan cintanya. Ia berkonsentrasi membesarkan anak-anaknya dan mewarisi nilai-nilai baik yang mampu mengawal kedua anaknya menjadi manusia yang berhasil.
Perjalanan panjang dan penuh dengan perjuangan untuk bertahan dan meraih sukses melekat erat pada diri Obama. Awal perjuangannya mencalonkan diri sebagai kandidat presiden Amerika Serikat dipandang sebelah mata oleh lawan politiknya. Bagaimana mungkin seorang keturunan Afrika dapat menjadi presiden di negara adidaya, yang notabene masih memandang orang kulit putih adalah lebih pantas untuk menjadi presiden mereka? Apalagi ia pernah tinggal di Indonesia dan diisukan pula beragama Islam. Walaupun Amerika ingin dipandang sebagai negara demokrasi, baik dalam bidang politik maupun agama, tetapi rasanya mempunyai seorang presiden yang beragama Islam bukan pilihan bagi mereka.
Berbagai isu dapat dilewati oleh Obama, bahkan secara telak ia dapat mengalahkan Hillary Clinton, lawan beratnya yang merupakan senator dari New York, dan pernah menjadi seorang first lady Amerika Serikat. Sampai detik terakhir kampanyenya Hillary tidak pernah menyangka ia harus menyerah dan kalah dari seorang Obama yang keturunan Afrika, disukan beragama Islam, dan juga mempunyai karier politik yang jauh lebih yunior dibandingkan dengan dirinya.
Hebatnya, setelah dinyatakan kalah Hillary—yang walaupun kecewa berat—lalu mendukung penuh pencalonan Obama sebagai wakil partai demokrat untuk maju sebagai kandidat persiden Amerika Serikat. Sungguh, Hillary juga bukan perempuan biasa. Ia termasuk perempuan istimewa yang meminta 18 juta pendukungnya memilih Obama menjadi persiden.
Tanpa bimbingan seorang ibu yang kuat, seorang Obama tak akan mampu terus maju menggapai impiannya menjadi persiden Amerika. Walau harus menghadapi kesulitan sebesar apa pun, ia punya mimpi yang tak kunjung padam, menjadi presiden Amerika. Tekad kuat Tante Ann adalah memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anaknya, dibarengi dengan pendidikan moral untuk selalu hormat pada orang lain, mempunyai kebanggaan terhadap kemampuan diri sendiri, dan berbuat baik kepada orang banyak. Pendidikan karakter yang baik ini diwarisi dan dijalankan oleh kedua anak tante Ann.
Michelle Obama, pendamping sang presiden, adalah juga perempuan cerdas yang istimewa. Ia mampu membawakan peranannya sebagai pendukung suaminya. Dalam berita Kompas 27 Agustus 2008 lalu, ia mengatakan di depan puluhan ribu pendukung Demokrat di Denver, Barack dan Michelle dibesarkan dengan nilai keluarga yang harus bekerja keras, memegang moto bahwa janjimu adalah utangmu, mengatakan apa yang harus dilakukan dan memperlakukan orang secara hormat walaupun saling tidak sependapat.
Mereka berdua membangun nilai-nilai tersebut dan mewariskannya pada generai muda. “Kami menginginkan anak-anak kami dan semua anak din egeri ini mengetahui bahwa batas tingginya cita-cita kita adalah mencapai mimpi dan kemauan untuk mewujudkannya,” demikian Michelle Obama. Begitu besar peran ibu dalam pembentukan pribadi Obama sehingga sang istri begitu mencintai dan menghormatinya.
Sebagai perempuan, Tante Ann adalah figur yang patut dijadikan panutan. Ia cantik bukan hanya fisiknya saja, tetapi juga hatinya. Ia percaya dengan apa yang dianggapnya baik dan menjalankan kehidupannya dengan mandiri. Tante Ann adalah tiang rumah tangga, pemersatu keluarga, cahaya keindahan dan kebenaran. Ia adalah pemimpin dalam rumah untuk anak-anaknya dalam menanamkan nilai-nilai baik kejujuran, keteguhan, kesetiaan, kelembutan, dan kasih sayang. Dengan kasih sayangnya ia menjaga dan membimbing anak-anaknya dari segala tantangan untuk meraih mimpi mereka.[iy]
* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Ia suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau email: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

Leave a Reply