Tanamlah Benih Setiap Hari

Sulmin GumiriOleh: Sulmin Gumiri*

Salah satu bidang pekerjaan yang sangat saya kagumi adalah bertani. Sampai saat ini, masih sering terbayang di ingatan saya bagaimana warga desa saya yang semuanya petani itu selalu terlihat senang dan bergembira dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka. Salah satu rahasia yang membuat para petani selalu optimis dalam menjalani kehidupan adalah karena mereka secara konsisten selalu menebar benih apa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Semakin banyak jumlah dan jenis benih yang mereka tanam, maka semakin tinggi juga harapan mereka untuk memanen hasilnya. Masa menunggu panen dari sejak pertama kali benih ditanam sangat bervariasi, mulai dari benih sayuran yang sudah dapat dipanen dalam hitungan minggu, benih padi dalam hitungan bulan, atau bahkan benih kopi dan cengkeh yang baru bisa dipanen hasilnya beberapa tahun kemudian. Bahkan, mereka pun tetap menanam benih meskipun mereka tahu bahwa hasilnya tidak akan sempat mereka nikmati, karena tanaman yang mereka tanam baru akan berbuah puluhan tahun kemudian. Salah satu benih yang buahnya menjadi warisan bagi anak cucu ini adalah pohon durian.

Bagi petani, menanam benih adalah simbol dari sebuah harapan. Kita hanya akan selalu optimis menatap kehidupan ini jika kita selalu memiliki harapan. Sebaliknya, orang yang sudah tidak mempunyai harapan akan merasa bahwa hidup ini terasa hampa sehingga beberapa di antara mereka ada yang kehilangan semangat untuk melanjutkannya. Makin seringnya kita mendengar ungkapan-ungkapan seperti post power syndrome, stres dan frustrasi merupakan indikasi bahwa di zaman modern ini banyak sekali orang yang seolah-olah sudah kehilangan harapan, karena mereka tidak rajin menanam benih seperti halnya yang dilakukan oleh para petani.

Bagi kita yang kebetulan tidak berprofesi sebagai petani, ada berbagai jenis benih yang bisa kita tanam untuk membuat hidup kita selalu memiliki harapan. Setiap pekerjaan yang kita lakukan sekarang—yang akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat di kemudian harisama dengan proses menanam benih. Hasil tersebut tidak selalu harus berupa uang atau materi, tetapi ia juga bisa berupa kebahagiaan, kepuasan, kesehatan, atau aktualisasi diri yang semuanya akan membuat hidup kita menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Tulisan ini terinspirasi ketika saya melihat seorang ibu pedagang sayur di sebuah gang sempit di sebelah hotel ketika saya berkunjung ke Kota Kupang belum lama ini. Pagi-pagi sekali ketika semua orang masih tertidur lelap, sang ibu sudah sibuk menggelar dagangannya. Jadi, di pagi buta itu ia sudah menanam benih, karena begitu dagangan digelar saat itulah harapan mulai digantungkan. Masa-masa menunggu pembeli pertama datang adalah saat yang paling ia tunggu-tunggu dengan antusiasme dan penuh keceriaan.

Begitu pembeli pertama datang, ia segera merapikan dagangannya dan bersiap-siap lagi untuk menyambut pembeli berikutnya. Begitulah seterusnya, sehingga tidak terasa si ibu sudah melewati satu hari dengan penuh pengharapan dan semangat untuk kemudian kemudian menutup hari tersebut dengan perasaan bahagia. Tidak masalah apakah dagangannya laris manis, hanya terjual sedikit atau tidak laku sama sekali, esok harinya sang ibu tetap menggelar dagangannya kembali. Dengan senantiasa menggelar dagangan, berarti ia telah rutin menanam benih. Sepertinya, sang ibu tahu betul bahwa setiap kali benih ditanam, saat itu pula harapan pun telah digantungkan kembali.

Di kalangan penulis, mengirimkan sebuah naskah tulisan ke website atau penerbit juga merupakan salah satu bentuk menanam benih. Mulai dari tahapan mencari ide, menyusun tulisan, dan mengirimkan naskah ke tim redaksi, semuanya merupakan suatu proses yang akhirnya akan berbuah penayangan tulisan tersebut di web atau diterbitkan dalam bentuk buku.

Bagi teman-teman yang tulisannya secara rutin muncul di situs AndaLuarBiasa.com ini, saya yakin masa-masa menunggu ditayangkannya artikel mereka merupakan suatu proses yang menghasilkan kepuasan tersendiri. Tidak penting apakah tulisan mereka dibaca orang atau tidak, begitu naskah sudah ditayangkan mereka pun segera akan mempersiapkan naskah berikutnya, dan kemudian mengirimkannya kembali ke tim redaksi. Dengan rutin mengirim naskah berarti para penulis pun telah rajin menanam benih.

Bagaimana dengan bidang profesi yang lain? Bagi para birokrat, mengajukan rencana kegiatan kepada pimpinan, atau usulan program tahunan kepada departemen, atau usulan kepada lembaga penanggung jawab perencanaan dan penganggaran, itu semua juga merupakan proses menanam benih. Bagi para ilmuwan atau peneliti, menyusun proposal untuk mendapatkan dana penelitian atau mengirim manuscript untuk diterbitkan di jurnal ilmiah, juga merupakan bentuk menanam benih. Semua aktivitas tersebut akan menimbulkan harapan dan berpeluang mendatangkan hasil.

Jadi, tidak peduli apa pun profesi kita, asalkan kita rajin menanam benih, maka kehidupan kita akan terasa penuh pengharapan. Pengharapan akan mendatangkan antusiasme dan keceriaan yang akhirnya akan berbuah kepada kesuksesan. Karena itu, penting sekali untuk selalu menyadari apa jenis dan bentuk benih dalam bidang pekerjaan kita. Begitu benih tersebut diketahui, simpan dan pelihara, serta tanamlah benih-benih tersebut kapan saja dan di mana saja. Sebuah kesuksesan selalu dimulai dari sebuah harapan, dan tidak ada harapan tanpa benih yang ditanam sebelumnya. Selamat menemukan benih-benih Anda dan selamat menjalani kehidupan yang senantiasa optimis dan penuh antusiasme.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardeningdan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

2 Responses to “Tanamlah Benih Setiap Hari”

  1. maria saumi Says:

    setuju pak…benih kebaikan setiap hari…tabur..tabur..tabur…(mudah2an kita dikuatkan utk selalu begitu. Amiin).

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. markus marlon Says:

    Benar sekali. Pengalaman yg ditulis bpk sptyg sy alami. Harapan itulah yg amat penting dlm hidup ini. Terima kasih

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox