Tak Sekadar Memaafkan

snOleh: Sofa Nurdiyanti*

Mungkin ada di antara kita yang mendengar, “Duh, sulitnya memaafkan orang lain….” Memaafkan orang lain memang penting, tetapi itu belum cukup. Mengapa begitu? Simak ulasan berikut ini.

Suatu ketika, tiba-tiba handphone saya bergetar. Ada pesan singkat yang masuk, tertera nama seorang teman SMA. Langsung saya baca sebuah pesan yang membuat saya berhenti sejenak dari kegiatan saya membaca buku terbaru milik kakak saya. Isi pesan tersebut sebagai berikut, “Mungkin di dunia ini enggak ada orang yang masuk neraka jika setelah seseorang melakukan kesalahan dia langsung minta maaf. Tetapi menurutku, kita berhak enggak memaafkan kesalahan seseorang karena mungkin kesalahan itu enggak termaafkan. Kamu setuju, enggak?”

Langsung saja saya balas dengan jawaban, “Enggak!”

Lalu, teman saya pun bertanya, “Kenapa? Kasih alasan, dong!”

Sejenak saya berpikir dan berusaha menuliskan jawaban yang pas untuk pertanyaannya. Lalu saya balas, “Karena aku bukan Allah yang tahu segalanya. Aku enggak boleh sombong dengan bilang kesalahannya enggak termaafkan, karena bisa jadi dia melakukan itu karena terpaksa. Enggak sadar sudah menyakiti orang lain. Kita bukan nabi yang bersifat maksum (bersih dari dosa). Tetapi, kita diberi akal oleh Allah buat berpikir dan bisa memaafkan orang lain. Bisa jadi suatu saat kita membuat kesalahan fatal di mata orang lain dan menyesal. Dan, satu-satunya cara mengurangi rasa bersalah adalah diberi maaf.”

Pesan itu pun saya kirim, lega rasanya setelah memikirkan jawaban untuk teman saya.

Sejenak saya berpikir, “Wuih… panjang juga ya, balesanku hehehe….” Saya baca lagi pesan itu, berulang kali sehingga memunculkan pertanyaan yang cukup menyentak dan menuntut kejujuran diri sendiri: “Apa benar aku sudah melakukan hal itu?”

Memberi nasihat pada seorang teman tentang memaafkan memanglah mudah. Tetapi, melakukan apa yang kita nasihatkan itulah bagian pentingnya. Sudah dilakukan belum? “Ayo jawab jujur!” suara hati saya ikut berdemo hehehe….

Saya pun melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Saya termasuk orang yang tidak suka berkonflik dengan orang lain. Saya berusaha menghindari konflik dengan menjaga sikap saya terhadap orang lain. Hal itu saya lakukan dengan berusaha mengalah pada orang lain. Marah atau dimarahi orang lain menurut saya bukanlah hal yang menyenangkan hehehe…. Walaupun begitu, tetap saja saya bersinggungan dengan konflik, baik dengan keluarga atau teman. Jelas saja, hidup di dunia ini memang tidak lepas dari masalah. Jika tidak diselesaikan dengan hati-hati bisa menimbulkan konflik dengan orang lain. Akibatnya, hubungan kita dengan mereka pun menjadi renggang, apalagi jika kata maaf sulit dikatakan.

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita tidak lepas dari masalah. Masalah-masalah yang tak terselesaikan tak jarang berujung pada konflik. Konflik yang ada jelas membuat kita tak nyaman dan mengganjal di hati. Sebenarnya, jalan penyelesaian konflik tersebut akan lebih mudah jika kita mau memaafkan orang lain. Tetapi, memaafkan orang lain pun tidak cukup. Paling penting yang harus kita lakukan terlebih dahulu adalah memaafkan diri sendiri.

Ya, memaafkan diri sendirilah yang harus kita lakukan. Sesungguhnya, akar permasalahan yang membelit diri kita adalah karena kita tidak mau mengakui kesalahan diri sendiri. Dengan memaafkan diri sendiri, kita akan mudah menerima kenyataan dan tidak terus-menerus menyesali keadaan yang ada. Menyesal memang perlu supaya kita sadar dan bisa mengoreksi kesalahan kita. Hanya saja, itu akan menjadi sia-sia jika penyesalan kita tak berkesudahan. Cukup sekali saja sebagai peringatan. Semakin kita menyesali keadaan yang ada, semakin bertambah berat pula masalah yang kita hadapi. Segera berbenah untuk mencari solusi atas permasalahan yang ada.

Jika sudah bisa memaafkan diri sendiri, langkah kedua yang perlu kita tempuh adalah memaafkan orang lain. Memaafkan orang lain mungkin sulit dilakukan. Perlu kebesaran hati dan kemauan yang kuat untuk melakukannya. Mungkin sulit pada awalnya, namun jika dibiasakan akan terasa mudah dan membuat hati menjadi lebih nyaman tentunya.

Saya sendiri pada awalnya juga sulit memaafkan orang lain. Jika marah pun saya diam dan menyimpan amarah tersebut dalam hati. Namun, dampaknya ternyata buruk bagi jiwa saya. Tindakan me-repress masalah yang tak terselesaikan itu ternyata tidak tepat. Ketika bermasalah dengan salah seorang saudara saya, amarah saya meledak dan menjadi konflik berkenpanjangan. Sungguh tidak mengenakkan dan membuat pikiran saya tidak fokus pada setiap apa yang saya kerjakan, termasuk kuliah.

Lalu, saya pun mencoba mempraktikkan nasihat seorang dosen yang menyarankan agar para mahasiswanya membiasakan diri “membersihkan sampah” yang ada dalam hati. Membersihkan sampah di sini artinya membuang emosi-emosi negatif dalam diri kita. Lalu, penuhilah diri kita ini dengan energi positif, sehingga kita akan jauh lebih nyaman dan bahagia. Misalnya, saat kita mendengarkan orang lain curhat dan kemudian kita berempati atas apa yang terjadi padanya. Hendaknya kita membuang perasaan-perasaan dan emosi negatif yang tadinya ada di hati kita. Karena dengan begitu, kita tidak akan terpengaruh oleh suasana hati yang tidak mengenakkan tersebut.

Aktivitas “membersihkan sampah” ini akan sangat membantu kita dalam menganalisis permasalahan yang ada. Kita dapat berpikir lebih jernih dan objektif. Dan pastinya, kita akan dapat mudah memaafkan orang lain.

Sejak mengenal nasihat dosen saya itu, saya berusaha menyelesaikan konflik dengan cara belajar memaafkan orang lain. Lama-kelamaan, saya pun menikmati aktivitas “membuang sampah” itu dengan memaafkan orang lain, dan kemudian membuat sebuah prinsip seperti yang saya tulis di awal artikel ini.

Jadi, jika suara hati saya berdemo dan menuntut jawaban, “Sudahkan aku memaafkan orang lain?” Saya dengan bangga menjawab, “Sudah dong hehehe….” Ya, walaupun terkadang hati masih bandel jika disuruh minta maaf dan memaafkan orang lain, tetapi saya berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan masalah dengan “membuang sampah”.

Saya kira, apabila ada orang yang berbuat salah dan meminta maaf kepada kita, maka sudah selayaknya diberi maaf. Karena, satu-satunya cara mengurangi rasa bersalah pada diri sendiri atau orang lain adalah dengan diberi maaf. Ketika kita menerima maaf dari orang lain, tentunya akan sangat membahagiakan kita. Hubungan kita dengan orang lain pun dapat djalin kembali. Dan, kita belajar satu hal, yaitu lebih berhati-hati dalam bersikap pada orang lain. Jangan sampai menimbulkan konflik baru. Karena, jika hal itu terjadi lagi dan kita tidak diberi maaf, tentu akan sangat menyusahkan kita, bukan?

Memaafkan orang lain adalah suatu bentuk kebaikan yang sudah selayaknya kita lakukan. Mari ber-fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) dalam meraih cinta Allah dan makhluknya. Jika kita sudah berusaha mencintai Allah dan makhluknya dengan langkah yang sederhana—memberi maaf—saya rasa kita pun pantas mendapat cinta Allah dan makhluknya. Ayo, siapa mau berlomba dalam kebaikan dengan memberi maaf? Andakah orangnya?[sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

12 Responses to “Tak Sekadar Memaafkan”

  1. dariska Says:

    bgus bnget blogNy..Kpn ya blogQ bs pny pagerank 2….

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. Bagoes Says:

    artikelmu bagus. cara nulisnya psikologi banget.sesuai dengan bidang yg kamu geluti sekarang.

    if you consistent with writing, i’m sure you’ll become one of writer that is counted.

    mungkin perlu juga kamu buat artikel beserta link-linknya tentang bagaimana tips men-transfer buah pikiran menjadi suatu uraian yang runtut dan sesuai dengan apa yang dimaksud oleh penulis.bagaimana memunculkan imajinasi kata-kata sehingga dapat membuat tulisan atau paragraf2 yang kaya,dinamis, dan menarik.

    oke. tetep semangat ya!!!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. sUSILo Says:

    rada setuju tentang me-reppres…
    efeknya,ketika qt ada masalah dengan teman yg notabene “orang lain”,membuat kita gampang meledak kalo ada masalah dengan keluarga sendiri…
    soale aq dhewe yo ngono…
    heheehee…
    :D

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. afifah NR Says:

    lanjutkan ya…subhanallah,rasanya setiap manusia memang harus banyak instropeksi diri,baik dg yang d ucapkan,yang d lakukan bahkan yang hanya terbersit d hati.memang mudah sekedar mengucap kt maaf,tapi hati yang kadang masih sulit menerima.Siiip…

    Tep exis…

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. lia Says:

    jiah,,, nur,,, keren abiezz… sesuai realitas,,, gak cuma memberi teori tapi juga memberi contoh,,, aku suka bgt ma tulisan kamu,,, aku setuju engan mendengarkan curhat orang lain bisa membantu untuk memaafkan,,, karena itu akan membuka suatu sudut pandang baru buat kita yang seringkali kita lewatkan dan hasilnya kita bisa lebih positive thinking….mizz u…

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  6. mayang Says:

    Memaafkan adalah bagian dari kesabaran…yuk bersabar

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. dharma hutauruk Says:

    Kebetulan saya termasuk golongan pemaaf. Teman-teman yang mengenalku cenderung mempersalahkan aku karena dianggap lemah.
    Ayahku berpendirian tegas. Tawaran jabatan mentereng asal dia meninggalkan keyakinan politiknya “Marhaen” dia tolak di masa pra Orba. Artinya dari sudut keturunan mestinya saya keras juga.
    Akan tetapi menurut saya pekerjaan memaafkan terkadang menyakitkan karena kita merasa dilecehkan juga.
    Namun di sisi lain, kita terbebas dari amarah dan dendam, yang setiap kali bertemu dengan nya akan membakar hati.
    Jadi berbahagialah kalau bisa memaafkan

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  8. Sofa Nurdiyanti Says:

    @ Dariska : Kukuh, ne web kali,hehe.. blogku di wordpress, sama kayak kamu:p
    @ Bagoes : waduh mas, harus bongkar catatan psikologi kognitif dong,hehe.. Iya, Saran di tampung. Makasih ya dah dibaca
    @ Susilo : Iya, tapi setiap pelajaran akan ada hikmahnya. Sekarang dah nemu MPD yang pas belum? hehe.. makasih dah baca:p
    @ Afifah : Makasih mbak, hamasah:p
    @ Lia : makasih lia, aku juga belajar banyak dari kamu koq. Semangat!!!
    @ Mayang : makasih mbak dah dibaca:p
    @ Dharma H : Makasih dah baca. Salut buat mas yang dah termasuk golongan pemaaf. Menurut saya ga ada yang salah selama kita berani mempertanggungjawabkan keputusan kita kan? hehe…

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  9. din Says:

    asslamualaikum.. goods article… it made me remind me of my previous or maybe my current self.. hu3 what ever pon like u said we shoul always thingking positive.. even in worst condition and yakin that Allah had prepare the best for us His servent…
    my other opinion in this case…what i always practices is SMILE… in what ever condition even when u feel like to cry..
    its was a success for me.. :)

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  10. ida isandespha Says:

    Subhanallah….
    Saatnya buang sampah ne… keren banget de…! yang penting nur harus selslu bagi - bagi ilmu ke mbak ida…@_@

    Semoga jadi lebih terlatih untuk selalu memaafkan orang, mungkin tidak usah sampai orang itu meminta maaf… kita dah rajin buang sampah… ato kita buat software yang otomatis di hati kita untuk men delete semua hal2 yang kurang baik….

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  11. monchu faredy Says:

    hmmmm, menurut saia
    tulisan ini berwarna psikologi,
    hahahaha

    nah, mudah memaafkan itu bakat ato usaha????
    karena sejak kecil saia adalah pemarah yang mudah memafkan
    tp sekarang menurun menjadi cuek yang masi suka memafkan
    lalu, sampah seperti apa lg yg harus saia buang?????
    rep plis

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  12. Sofa Nurdiyanti Says:

    @ Din : Thanks A lot ya din..
    @ Mbak Ida : Lha kan tinggal instal ja mbak di hati,hehe…
    @ Mukhtar : Sampah malas mas, kalau yang ini saya juga masih berjuang,hehe.. Kita berjuang buat mindah tulisan kan? Hehe..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox