Belajar Tanpa Sekolah
Editor | Kolom Lepas | December 9th, 2009 | 7 Comments »
Oleh: Yusuf Tantowi*
Bak tersambar petir, Pak Mahfud (40) teresentak dan kaget. Buku pelajaran geografi yang dipegangnya, ia letakkan perlahan di atas meja. Ia tidak pernah menyangka, anaknya meminta permintaan ‘gila’ kepadanya. Permintaan itu seolah menusuk telinganya dari samping. M. Izza Ahsin Sidqi (15), putra sulungnya yang sedang duduk dibangku kelas 2 SMPN 1 Salatiga, minta berhenti sekolah.
Mendengar itu tentu saja Mahfud dan istrinya Siti Badriyatul Ahyani yang juga guru TK menjadi shock. Apa lagi kenekatan Izza diikuti oleh adeknya Atida Nuril Salma yang berusia 11 tahun. Untuk meyakinkan kedua orang tuanya agar diizinkan berhenti sekolah, Izza butuh waktu delapan bulan lamanya.
Kenekatan anak guru teladan di Kabupaten Salatiga itu tentu bukan tanpa alasan. Bagi Izza dan adiknya, sekolah sangat membosankan dan mengekang kebebasannya. “Saya minta keluar sekolah karena memang tidak menyukai sekolah,” akunya enteng ketika ditanya wartawan Jawa Pos di rumahnya. Ia mengaku sakit hati karena pikirannya terbelenggu dan tidak bisa berkembang seperti keinginannya untuk mengkepresikan pikiran saat berada di bangku sekolah.
Itulah yang menjadi alasannya memilih belajar secara autodidak. Ia optimis keputusannya itu bisa membuatnya belajar lebih efektif. “Saya tidak butuh ijazah karena saya bercita-cita menjadi penulis. Penulis kan tidak butuh ijazah karena yang dibutuhkan kemampuan,” katanya. Bila dilihat dari usianya yang relatif muda, alasannya itu sangat mengagetkan. Ia berani ‘menentang’ orang tuannya dan arus umum yang mengagungkan lembaga sekolah sebagai satu-satunya jalan meraih kesuksesan hidup.
Kukuhnya Izza mempertahankan argumentasi itu dibuktikannya dengan menulis dua buah buku Green Word, cerita pertualangan setebal 300 halaman. Lalu, yang terbaru Dunia Tanpa Sekolah yang telah laku terjual sebanyak 1.000 copy. Setelah itu, baru orang tuanya percaya ternyata pembelaan anaknya bukan sebatas retorika, tapi dilanjutkan dengan pembuktian.
Makna Belajar
Kenekatan Izza di atas bisa menjadi otokritik tajam bagi lembaga sekolah. ‘Kegilaan’ Izza ini jangan dianggap enteng oleh para pengelola sekolah. Jangan-jangan masih banyak lagi Izza-Izza lain yang sebenarnya diam-diam ‘memberontak’ dengan sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolah. Bisa jadi mereka belum muncul karena mareka masih mengumpulkan ‘modal’ keberanian untuk melawan sistem sekolah yang mereka anggap tidak nyaman bagi mereka.
Otokritik ini juga ditujukan kepada orang tua agar tidak menganggap lembaga sekolah sebagai satu-satunya tangga ajaib untuk menggapai kesuksesan. Mindset berpikir orang tua sudah saatnya diubah agar tidak ceroboh memvonis anaknya pemalas, nakal, dan bodoh. Mungkin dia malas karena merasa tidak nyaman belajar, diintimidasi oleh gurunya, atau dijahilin terus oleh temannya. Belakangan ini banyak kasus pelajar ‘meledak’ ke publik terkait kasus seperti ini.
Jangan sampai pengertian belajar yang dipahami orang tua, guru disekolah dipaksakan kepada anak didiknya tanpa koreksi. Keinginan orang tua agar anak-anaknya menjadi pribadi sukses memang sangat mulia. Namun, harus dipahami pembacaan dan pemaknaan generasi sekarang tentang sukses berbeda dengan generasi sebelumnya. Orang tua memang memiliki modal yang bernama pengalaman, tapi kesibukannya mencari nafkah dapat menyita pikirannya sehingga tidak fokus mencermati tumbuh kembang pemikiran anaknya.
Bagi saya, keputusan Izza dan adiknya merupakan keputusan berani dan nakal. Berani karena ia memiliki argumentasi kuat yang tidak mudah dipatahkan oleh orang tuanya sekalipun. Keberanian yang disertai tekat yang kuat berhasil dibuktikan dengan karya nyata. Nakal karena berani melawan arus umum–di mana semua orang mengagungkan dan mendewakan sekolah sebagai satu-satunya tangga mengapai kesuksesan. Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temukan orang sukses tidak melalui jalur pendidikan formal.
Keberanian Izza menginterpretasikan makna belajar berdasarkan hasil bacaan, nalar, dan pengalamannya sendiri patut diapresiasi. Keberaniannya itu telah mengusik pengertian belajar banyak orang, bahkan orang tua dan gurunyanya di sekolah. Belajar baginya bisa di mana saja, tidak mesti di sekolah. Ia ingin mengatakan, alam justru telah menyediakan bahan ajar yang berlimpah untuk didalami. “Belajar disekolah yang mengajarkan banyak mata pelajaran ibarat menimba air dari dalam sumur dengan susah payah, lalu mengguyurnya kembali ke tempat semula,” kata Izza berfalsafah.
Kenekatan Izza patut ‘disesali’ karena anak secerdas dia–di mana sejak SD selalu mendapat juara di kelas–nekat ‘memotong’ masa depannya. Bagi kita mungkin keputusan itu patut disesali, apa lagi Izza berhasil masuk di SMP 1 Salatiga yang notabene-nya salah satu sekolah favorit di daerahnya. Ia anak langka yang tetap kukuh dan berani menentukan takdirnya sendiri sebagai penulis. Apa lagi di tengah masyarakat bangsa yang memandang sebelah mata masa depan sebagai penulis.
Kecendrungan anak-anak sekarang lebih berani untuk mencoba. Suka mencari hal-hal baru. Dan, dengan caranya sendiri berupaya membuang segala macam kejenuhan dan kebosanan. Lalu, kebosanan belajar jangan hanya dimaknai dorongan yang datang dari dalam diri anak. Kebosanan juga berasal dari lingkungan sekitar yang bisa ‘membunuh’ semangat belajar anak. Di sinilah sekali lagi pentingnya orang tua atau guru mencitakan suasana belajar yang menyenangkan.
Umumnya ‘penyakit’ seorang anak sering kali benci pelajaran bukan benci belajar. Pelajaran adalah objek yang diajarkan, sedangkan belajar proses mendapatkan ilmu pengetahuan. Karena benci pelajaran, ia juga benci guru yang mengajar. Di sini letaknya, namun alangkah tidak tepat jika guru juga ikut-ikutan membenci anak didiknya tanpa terlebih dahulu mengetahui sebab kenapa si anak benci pelajaran. Mungkin saja ada sebab-sebab lain sehingga dia tidak konsentrasi menerima pelajaran.
Saya khawatir, rendahnya prestasi belajar siswa juga buah dari ‘sesat’-nya makna belajar yang kita pahami. Jangan-jangan gaya mengajar yang dipakai selama ini telah membunuh benih-benih kreatif siswa. Akibatnya, keberanian yang coba ditumbuhkan kepada siswa bukan keberanian positif, tapi keberanian destruktif. Buahnya yang muncul bukan kebanggaan tapi tawuran dan lain sebagainya.
Sekolah yang baik mau membebaskan anak bebas menjadi diri mereka sendiri. Karena, setiap anak sebenarnya memiliki sifat bawaan bijaksana dan realistis kata A.S Neill, pendiri dan kepala sekolah Summerhill School, Jerman dan Inggris. Pada sekolah ini, siswa dibebaskan untuk belajar atau tidak. Siswa juga dilibatkan mengikuti rapat dengan guru untuk menentukan aturan yang akan diberlakukan dalam sekolah. Ketika rapat, suara guru sama dengan suara siswa bahkan kepala sekolah. Meski menganut sistem bebas, sekolah justru berhasil menyemai anak didik yang berhasil dikemudian hari. Di sini nilai-nilai demokrasi sangat dijunjung tinggi.
Dalam buku Summerhill School, Pendidikan Alternatif yang Membebaskan, A.S Neill menegaskan, tugas anak adalah melakoni hidup dengan kehidupannya sendiri bukan kehidupan orang tuanya. Bukan pula kehidupan yang sesuai dengan tujuan ahli pendidikan yang merasa paling tahu apa yang terbaik bagi anak. Semua campur tangan orang dewasa ini hanya akan menghasilkan generasi robot. Jadi, belajar bisa di mana saja, asalkan kita masih bisa bernapas. Maka, sudah saatnya kita membaca ulang makna belajar dan makna sekolah yang selama ini kita pahami. Benarkah demikian, bagaimana pendapat Anda?[yt]
* Yusuf Tantowi, tinggal dan bekerja di NGO yang bergerak dalam bidang kajian dan advokasi isu-isu kemanusiaan di NTB. Sejak menjadi mahasiswa ia sudah aktif menulis di media massa lokal dan sering diminta memfasilitasi berbagai pelatihan menulis untuk mahasiswa. Bekerjasama dengan LSM di Jakarta dalam program-program pemberdayaan dan riset di daerah. Ia dapat dihubungi melalui Hp: 08175732513, pos-el: ucup_ntb[at]yahoo[dot]co[id].

Oleh: Yusuf Tantowi*
Oleh: Yusuf Tantowi*