Belajar Tanpa Sekolah

ytOleh: Yusuf Tantowi*

Bak tersambar petir, Pak Mahfud (40) teresentak dan kaget. Buku pelajaran  geografi yang dipegangnya, ia letakkan perlahan di atas meja. Ia tidak pernah menyangka, anaknya meminta permintaan ‘gila’ kepadanya. Permintaan itu seolah menusuk telinganya dari samping. M. Izza Ahsin Sidqi (15), putra sulungnya yang sedang duduk dibangku kelas 2 SMPN 1 Salatiga, minta berhenti sekolah.

Mendengar itu tentu saja Mahfud dan istrinya Siti Badriyatul Ahyani yang juga guru TK menjadi shock. Apa lagi kenekatan Izza diikuti oleh adeknya Atida Nuril Salma yang berusia 11 tahun. Untuk meyakinkan kedua orang tuanya agar diizinkan berhenti sekolah, Izza butuh waktu delapan bulan lamanya.

Kenekatan anak guru teladan di Kabupaten Salatiga itu tentu bukan tanpa alasan. Bagi Izza dan adiknya, sekolah sangat membosankan dan mengekang kebebasannya. “Saya minta keluar sekolah karena memang tidak menyukai sekolah,” akunya enteng ketika ditanya wartawan Jawa Pos di rumahnya. Ia mengaku sakit hati karena pikirannya terbelenggu dan tidak bisa berkembang seperti keinginannya untuk mengkepresikan pikiran saat berada di bangku sekolah.

Itulah yang menjadi alasannya memilih belajar secara autodidak. Ia optimis keputusannya itu bisa membuatnya belajar lebih efektif. “Saya tidak butuh ijazah karena saya bercita-cita menjadi penulis. Penulis kan tidak butuh ijazah karena yang dibutuhkan kemampuan,” katanya. Bila dilihat dari usianya yang relatif muda, alasannya itu sangat mengagetkan. Ia berani ‘menentang’ orang tuannya dan arus umum yang mengagungkan lembaga sekolah sebagai satu-satunya jalan meraih kesuksesan hidup.

Kukuhnya Izza mempertahankan argumentasi itu dibuktikannya dengan menulis dua buah buku Green Word, cerita pertualangan setebal 300 halaman. Lalu, yang terbaru Dunia Tanpa Sekolah yang telah laku terjual sebanyak 1.000 copy. Setelah itu, baru orang tuanya percaya ternyata pembelaan anaknya bukan sebatas retorika, tapi dilanjutkan dengan pembuktian.

Makna Belajar

Kenekatan Izza di atas bisa menjadi otokritik tajam bagi lembaga sekolah. ‘Kegilaan’ Izza ini jangan dianggap enteng oleh para pengelola sekolah. Jangan-jangan masih banyak lagi Izza-Izza lain yang sebenarnya diam-diam ‘memberontak’ dengan sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolah. Bisa jadi mereka belum muncul karena mareka masih mengumpulkan ‘modal’ keberanian untuk melawan sistem sekolah yang mereka anggap tidak nyaman bagi mereka.

Otokritik ini juga ditujukan kepada orang tua agar tidak menganggap lembaga sekolah sebagai satu-satunya tangga ajaib untuk menggapai kesuksesan. Mindset berpikir orang tua sudah saatnya diubah agar tidak ceroboh memvonis anaknya pemalas, nakal, dan bodoh. Mungkin dia malas karena merasa tidak nyaman belajar, diintimidasi oleh gurunya, atau dijahilin terus oleh temannya. Belakangan ini banyak kasus pelajar ‘meledak’ ke publik terkait kasus seperti ini.

Jangan sampai pengertian belajar yang dipahami orang tua, guru disekolah dipaksakan kepada anak didiknya tanpa koreksi. Keinginan orang tua agar anak-anaknya menjadi pribadi sukses memang sangat mulia. Namun, harus dipahami pembacaan dan pemaknaan generasi sekarang tentang sukses berbeda dengan generasi sebelumnya. Orang tua memang memiliki modal yang bernama pengalaman, tapi kesibukannya mencari nafkah dapat menyita pikirannya sehingga tidak fokus mencermati tumbuh kembang pemikiran anaknya.

Bagi saya, keputusan Izza dan adiknya merupakan keputusan berani dan nakal. Berani karena ia memiliki argumentasi kuat yang tidak mudah dipatahkan oleh orang tuanya sekalipun. Keberanian yang disertai tekat yang kuat berhasil dibuktikan dengan karya nyata. Nakal karena berani melawan arus umum–di mana semua orang mengagungkan dan mendewakan sekolah sebagai satu-satunya tangga mengapai kesuksesan. Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temukan orang sukses tidak melalui jalur pendidikan formal.

Keberanian Izza menginterpretasikan makna belajar berdasarkan hasil bacaan, nalar, dan pengalamannya sendiri patut diapresiasi. Keberaniannya itu telah mengusik pengertian belajar banyak orang, bahkan orang tua dan gurunyanya di sekolah. Belajar baginya bisa di mana saja, tidak mesti di sekolah. Ia ingin mengatakan, alam justru telah menyediakan bahan ajar yang berlimpah untuk didalami. “Belajar disekolah yang mengajarkan banyak mata pelajaran ibarat menimba air dari dalam sumur dengan susah payah, lalu mengguyurnya kembali ke tempat semula,” kata Izza berfalsafah.

Kenekatan Izza patut ‘disesali’ karena anak secerdas dia–di mana sejak SD selalu mendapat juara di kelas–nekat ‘memotong’ masa depannya. Bagi kita mungkin keputusan itu patut disesali, apa lagi Izza berhasil masuk di SMP 1 Salatiga yang notabene-nya salah satu sekolah favorit di daerahnya. Ia anak langka yang tetap kukuh dan berani menentukan takdirnya sendiri sebagai penulis. Apa lagi di tengah masyarakat bangsa yang memandang sebelah mata masa depan sebagai penulis.

Kecendrungan anak-anak sekarang lebih berani untuk mencoba. Suka mencari hal-hal baru. Dan, dengan caranya sendiri berupaya membuang segala macam kejenuhan dan kebosanan. Lalu, kebosanan belajar jangan hanya dimaknai dorongan yang datang dari dalam diri anak. Kebosanan juga berasal dari lingkungan sekitar yang bisa ‘membunuh’ semangat belajar anak. Di sinilah sekali lagi pentingnya orang tua atau guru mencitakan suasana belajar yang menyenangkan.

Umumnya ‘penyakit’ seorang anak sering kali benci pelajaran bukan benci belajar. Pelajaran adalah objek yang diajarkan, sedangkan belajar proses mendapatkan ilmu pengetahuan. Karena benci pelajaran, ia juga benci guru yang mengajar. Di sini letaknya, namun alangkah tidak tepat jika guru juga ikut-ikutan membenci anak didiknya tanpa terlebih dahulu mengetahui sebab kenapa si anak benci pelajaran. Mungkin saja ada sebab-sebab lain sehingga dia tidak konsentrasi menerima pelajaran.

Saya khawatir, rendahnya prestasi belajar siswa juga buah dari ‘sesat’-nya makna belajar yang kita pahami. Jangan-jangan gaya mengajar yang dipakai selama ini telah membunuh benih-benih kreatif siswa. Akibatnya, keberanian yang coba ditumbuhkan kepada siswa bukan keberanian positif, tapi keberanian destruktif. Buahnya yang muncul bukan kebanggaan tapi tawuran dan lain sebagainya.

Sekolah yang baik mau membebaskan anak bebas menjadi diri mereka sendiri. Karena, setiap anak sebenarnya memiliki sifat bawaan bijaksana dan realistis kata A.S Neill, pendiri dan kepala sekolah Summerhill School, Jerman dan Inggris. Pada sekolah ini, siswa dibebaskan untuk belajar atau tidak. Siswa juga dilibatkan mengikuti rapat dengan guru untuk menentukan aturan yang akan diberlakukan dalam sekolah. Ketika rapat, suara guru sama dengan suara siswa bahkan kepala sekolah. Meski menganut sistem bebas, sekolah justru berhasil menyemai anak didik yang berhasil dikemudian hari. Di sini nilai-nilai demokrasi sangat dijunjung tinggi.

Dalam buku Summerhill School, Pendidikan Alternatif yang Membebaskan, A.S Neill menegaskan, tugas anak adalah melakoni hidup dengan kehidupannya sendiri bukan kehidupan orang tuanya. Bukan pula kehidupan yang sesuai dengan tujuan ahli pendidikan yang merasa paling tahu apa yang terbaik bagi anak. Semua campur tangan orang dewasa ini hanya akan menghasilkan generasi robot. Jadi, belajar bisa di mana saja, asalkan kita masih bisa bernapas. Maka, sudah saatnya  kita membaca ulang makna belajar dan makna sekolah yang selama ini kita pahami. Benarkah demikian, bagaimana pendapat Anda?[yt]

* Yusuf Tantowi, tinggal dan bekerja di NGO yang bergerak dalam bidang kajian dan advokasi isu-isu kemanusiaan di NTB. Sejak menjadi mahasiswa ia sudah aktif menulis di media massa lokal dan sering diminta memfasilitasi berbagai pelatihan menulis untuk mahasiswa. Bekerjasama dengan LSM di Jakarta dalam program-program pemberdayaan dan riset di daerah. Ia dapat dihubungi melalui Hp: 08175732513, pos-el: ucup_ntb[at]yahoo[dot]co[id].

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.7/10 (18 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +7 (from 7 votes)

Tradisi Optimis dari Keluarga

ytOleh: Yusuf Tantowi*

“Tuhan…anugrahkan petunjuk-Mu kepada kami. Bukakan pintu rezeki yang halal bagi kami seperti orang-orang yang telah engkau bukakan jalan agar kami lebih dekat dengan-Mu.

Sadar atau tidak, lingkungan keluarga berperan besar menjadikan seseorang menjadi pribadi pemberani. Yang saya maksud pemberani, pribadi yang tidak takut menantang risiko. Mampu berpikir dan bertindak cepat dalam melakukan sesuatu. Seseorang yang lahir dari keluarga biasa-biasa akan menjadi pribadi-pribadi biasa.

Pendapat ini saya simpulkan berdasarkan pengalaman dalam keluarga saya. Saya merasa, hingga usia sekarang belum pernah sekalipun membuat keputusan besar dan berisiko dalam hidup saya. Hidup saya terasa datar dan biasa-biasa saja. Dalam keluarga saya juga begitu. Komunikasi antaranggota keluarga relatif jarang. Bila ada ide untuk melakukan sesuatu, saya selalu mendapat respon pesimis dari keluarga.

Kondisi berbeda justru dialami oleh teman saya. Teman saya itu tinggal di sebuah desa yang cukup kering dan terpencil di Lombok Timur. Namun, ada tradisi positif yang berkembang di desa tersebut. Para orang tua melimpahkan tanggung jawab penuh kepada anak-anaknya untuk mengatur diri mereka. Orang membebaskan anak-anaknya untuk melakukan apa saja asalkan itu baik. Termasuk pengelolaan harta benda, sawah, dan pendidikan anak-anaknya.

Dengan pola didikan tersebut, anak tertua bertanggung jawab secara moral untuk mendorong adik-adiknya untuk hidup mandiri. Maka, jangan heran di kampung tersebut anak muda selalu berperan penting dalam mengambil keputusan–keputusan menyangkut desa. Perbedaan pendapat antarwarga pun sering kali diselesaikan melalui dialog oleh anak-anak muda. Bila masalahnya tidak selesai di dalam kampung, biasa akan dibahas di luar kampung.

Maka, dibanding dengan saya, teman itu lebih berani dan bertindak cepat. Sekilas memang ia terlihat bertindak tanpa perhitungan. Namun rupanya, ia pandai berkelit bila terbentur dengan kesulitan. Buah dari tindakannya itu, kini usahanya berjalan dengan baik dan telah memiliki aset yang cukup besar. Walau di awal usahanya, ia berangkat dengan modal pinjaman sana-sini beserta kemampuan dalam meyakinkan orang lain.

Berbeda dengan saya, saya terlalu banyak pertimbangan untuk berbuat. Padahal, ide saya sering kali muncul bernas dan brilian. Tapi, karena tidak terlatih menantang risiko, akhirnya keragu-raguan itu selalu menjadi pemenang dalam kepala saya. Lalu, ide itu lenyap dalam kepala saya. Jadi, jangan heran, sampai usia sekarang saya tidak memiliki aset yang cukup selain pemberian orang tua. Itu artinya ‘masa depan’ saya masih bergantung pada orang lain, bukan buah dari kreativitas saya sendiri.

Sekarang saya jadi iri dan malu pada diri sendiri. Teman saya yang penampilannya biasa-biasa saja, bahkan tidak pandai bicara, ternyata lebih maju dari saya. Dia sudah bisa membiayai sekolah adik-adiknya. Dia mampu membeli sepeda motor baru. Aset usahanya juga terus berkembang. Sedangkan saya, beberapa kali diundang menjadi pembicara justru masih terseok-seok dengan motor tua pemberian orang tua. Jangankan punya aset, membeli kaset saja tidak mampu.[yt]

*Yusuf Tantowi tinggal dan bekerja di lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Mataram. Sejak menjadi mahasiswa ia sudah aktif menulis di media massa lokal sekaligus aktif menjadi pembicara dalam berbagai pelatihan menulis di Mataram. Yusuf sering bekerjasama dengan LSM di Jakarta untuk membuat program pemberdayaan dan riset di daerah. Ia dapat dihubungi melalui Hp: 08175732513, pos-el: ucup_ntb[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Uang Kaget dari Tuhan

yt1Oleh: Yusuf Tantowi*

Uang kaget itu menyadarkan saya bahwa rumus sukses

adalah perpaduan kerja keras dan doa.

~ Yusuf Tantowi

Suatu malam saya benar-benar kehabisan uang. Di dalam dompet uang yang tersisa hanya Rp 2 ribu. Itu pun sisa membeli nasi bungkus malam sebelumnya. Dengan uang segitu, apa yang bisa dibeli di kota kecil saya ini? Uang sejumlah itu hanya bisa buat beli kerupuk yang tidak bisa mengenyangkan. Maka, saya harus puasa dari pagi sampai sore.

Anda mungkin pernah merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki uang. Pikiran tidak tenang, optimisme tiba-tiba hilang. Kepercayaan diri juga tiba-tiba lenyap entah ke mana. Pokoknya, pikiran tidak menentu, seolah dunia ini sudah kehabisan harapan. Begitulah perasaan saya saat itu. Uang telah menjerat saya. Saya yang dianugrahi akal oleh Tuhan dihegemoni oleh benda yang bernama uang.

Bulan itu bukan tidak ada rencana rencana pemasukan. Seorang teman di Jakarta bahkan sudah berjanji akan segera mengirim honor menulis saya bila pekerjaan sudah selesai.

Kini, pekerjaan itu sudah lama saya selesaikan. Teman itu bahkan memuji hasil kerja saya yang dianggap cukup baik dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Katanya, tulisan saya lebih lengkap dan sistematis. Tetapi sayang, ketika saya sangat membutuhkan uang untuk makan, ternyata honor saya belum dikirim-kirim juga.

Jujur saja, sebenarnya sudah tiga malam saya berturut-turut datang ke ATM untuk mengecek. Tetapi, hasilnya masih sama. Nihil. Saldo tabungan saya tidak berubah. Saya juga sengaja datang malam hari, saya berpikir teman itu pasti akan mentransfernya siangnya. Tidak mungkin malam hari karena bank pasti tutup.

Terdesak oleh kebutuhan, malam keempat saya datang lagi ke ATM yang berada di gedung rektorat Universitas Mataram itu. Seperti biasa saya antri beberapa menit karena sebelum saya datang sudah ada beberapa orang yang antri. Beberapa saat menunggu saya pun akhirnya masuk ATM. Di belakang saya sudah berdiri beberapa orang yang menunggu giliran.

Ketika mendapat giliran, saya langsung mendorong pintu ATM yang terbuat dari kaca itu. Di dalam saya langsung memsukkan kartu ATM saya. Menekan nomor pin lalu melihat saldo tabungan. Sayang, saldo di rekening saya tidak bertambah, masih tercantum angka Rp 7.500. Itu artinya belum ada transfer sama sekali. Dua detik kemudian kartu ATM saya tarik keluar. Bersamaan dengan itu pandangan saya tiba-tiba tertuju pada sebuah kertas berwarna merah yang berada di bawah mesin ATM. Letaknya hanya beberapa sentimeter dari ujung sandal yang saya pakai. Lama saya perhatikan ternyata itu uang kertas Rp 10 ribuan.

Saat itu, pikiran saya terpecah menjadi dua, antara keinginan mengambil atau membiarkan. Kalau saya ambil sudah tentu uang itu bukan hak saya. Ada perasaan malu juga dilihat oleh orang dibelakang saya. Tetapi kalau tidak saya ambil, saya makan apa malam ini? Secara bersamaan saya juga masih percaya dengan anggapan–bila mengambil sesuatu yang bukan hak kita, maka Tuhan akan mengambil milik kita dengan cara yang tidak disangka-sangka. Itulah yang saya takutkan. Pengalaman seperti itu beberapa kali saya alami.

Pikiran itu kemudian bernegosiasi di benak saya. Tetapi, tuntutan perut akhirnya mengalahkan keragu-raguan saya. Sebagai gantinya, saya berjanji dalam hati kalau saya dapat uang, uang itu akan saya ganti dengan menyumbangkannya kepada anak yatim atau kepada masjid dua kali lipat dari jumlah uang tersebut. Selain itu saya juga akan menyumbangkannya atas nama pemilik uang tersebut, bukan untuk pribadi saya. Mencari pemiliknya tentu sangat susah. Saya pun mantap mengambilnya.

Selang beberapa hari setelah kejadian itu saya kemudian mendapatkan uang. Lumayan sebagai modal bertahan hidup untuk beberapa hari. Uniknya begitu saya dapat uang, ibu saya tiba-tiba menelepon dari kampung. Ia menanyakan keadaan saya. Di akhir pembicaraan kami ia tidak lupa berpesan bila ada uang lebih jangan lupa memberikan sebagiannya kepada anak yatim. Saya pun jadi teringat akan janji saya. Wow, Tuhan rupanya datang menagih janji saya. Maka, tanpa berpikir panjang saya pun memenuhi janji saya dengan memberikan uang dua kali lipat kepada seorang anak yatim yang kebetulan tetangga saya di kampung.

Pengalaman itu membuat saya semakin yakin betapa Tuhan sangat dekat dengan kita. Ia tidak pernah tidur untuk mendegar dan menunggu usaha kita. Ia bahkan lebih dekat dari urat nadi kita. Tuhan memang sangat pemurah. Memberikan rezeki kepada umatnya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Ia bahkan tidak pernah membeda-bedakan umatnya, baik yang beriman atau tidak.

Meski demikian, Tuhan akan senang membagaikan rezekinya kepada umatnya yang suka bekerja keras. Bukan kepada umatnya yang hanya pandai berdoa tetapi malas bekerja. ‘Uang kaget’ itu menyadarkan saya bahwa rumus sukses adalah perpaduan kerja keras dan doa. Tanpa perpaduan kedua, mustahil kesuksesan dapat kita raih.

Pelajaran lain, bila kita mendapatkan uang lebih, ada baiknya disumbangkan kepada orang yang tidak mampu. Manfaatnya bukan saja dapat dirasakan oleh orang lain tetapi tetapi bisa membawa investasi kebaikan untuk kita di masa depan. Bila tidak, Tuhan bisa mengambilkan melalui jalan yang tidak kita sangka-sangka. Apakah itu melalui penyakit, musibah, penipuan atau prahara rumah tangga. Itulah pelajaran berharga yang saya dapatkan malam itu.[yt]

* Yusuf Tantowi tinggal dan bekerja di lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Mataram. Sejak menjadi mahasiswa ia sudah aktif menulis di media massa lokal sekaligus aktif menjadi pembicara dalam berbagai pelatihan menulis di Mataram. Yusuf sering bekerjasama dengan LSM di Jakarta untuk membuat program pemberdayaan dan riset di daerah. Ia dapat dihubungi melalui Hp: 08175732513, pos-el: hapyending_ntb[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.9/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Membunuh Masa Depan

ytOleh: Yusuf Tantowi*

Suatu malam saya di-SMS oleh seorang teman. Ia minta ditemani menginap di sebuah hotel di Mataram, NTB. Setelah salat isya saya pun bergegas menemuinya dengan diantar oleh seorang teman. Begitu sampai di hotel, kami bertiga langsung menuju ruang makan.

Usai makan malam, kami mengobrol berbagai hal. Setelah cukup, saya pun mengantar teman yang mengantar tersebut sampai gerbang masuk hotel untuk pulang. “Tumben saya masuk hotel,” katanya spontan. Saya tersenyum mendengar celetukannya. Sebuah ungkapan yang jujur dan polos. “Nanti kapan-kapan saya ajak ente nginep di hotel, ya?” ucap saya kepadanya di halaman lobi hotel.

Di kamar, sambil nonton TV, kami kembali mengobrol ngalor-ngidul. Obrolan tambah seru dengan datangnya seorang teman yang asyik diajak ngobrol berbagai hal, dari masalah perempuan proyek, sampai politik. Pembicaraan kami nyambung terus bak lintasan kereta api.

Tepat tengah malam, disalah satu TV swasta muncul film action Barat yang seru. Sayang saya tidak sempat melihat judulnya, karena katika kami menemukan chenel-nya, filmnya sudah mulai. Bintang utamanya bernama Frank Castle dan tokoh antagonisnya Quentin yang diperankan oleh John Travolta.

Frank adalah seorang anggota FBI. Ketika ia bersama istri, anak, dan ayahnya sedang mengikuti pesta pantai, anak buah Quentin datang menyerbu dan menembak siapa saja yang bereda di tempat itu dengan senjata otomatis. Semua pengunjung di tempat itu tewas. Saat suasana sedang kacau balau, istri dan anaknya berhasil melarikan diri dengan mobil.

Sayang, aksi itu diketahui oleh anak buah Quentin, yang kemudian mengejarnya. Di sebuah dermaga anak dan istri Frank ditabrak hingga tewas. Ayahnya pun mengalami nasib yang sama. Ia mati tertembak di lokasi pesta. Frank sendiri sebenarnya juga berhasil ditangkap dan ditembak di pantai. Namun, nyawanya berhasil diselamatkan oleh seorang lelaki kekar yang sedang mencari ikan di pantai. Setelah sembuh, ia pun menyiapkan diri untuk membalas dendam kepada Quentin dan anak buah.

Bila dalam film-filmnya John Travolta sering bertindak sebagai jagoan, di film ini ia bermain sebagai makelar senjata dan heroin. Uang hasil penjualannya kemudian dicuci untuk menjalankan bisnis yang lain. Maka, untuk mengamankan bisnisnya, Travolta memiliki banyak pengawal yang berbadan kekar dan siap menjalankan semua perintahnya. Ia juga punya istri cantik yang sangat disayangi.

Ketika melaksanakan aksi balas dendamnya, Frank tinggal di sebuah rumah tua yang didiami oleh seorang pria gendut dan kurus. Seorang lagi gadis cantik, tinggi, dan seksi. Awalnya, Frank dianggap pria aneh karena sikapnya tertutup dan pelit bicara. Belakangan, dari berita TV mereka mengetahui, bahwa pria yang tinggal di sebelah mereka itu bukan pria sembarangan.

Lazimnya film Barat, kalau ada hero pasti ada gadis cantik yang suka padanya. Gadis itu bernama Jeane. Berbagai trik dipergunakan Jeane untuk menarik perhatian Frank agar suka kepadanya, tetapi Frank tak ubahnya batu karang yang tidak goyah sedikit pun oleh rayuan ‘ombak’ dari Jeane. Ia memang sudah kehilangan harapan dan optimisme. Tidak ada lagi senyum di bibirnya. Kematian ayah, istri, dan anaknya baginya bukan musibah tetapi kejahatan yang harus dibalas dengan setimpal.

“Aku ikut prihatin dengan musibah yang menimpa keluargamu. Tetapi, berusahalah untuk menatap fajar baru. Aku bisa membantumu melupakan masa lalu itu. Jika terus dipikirkan, masa lalu bisa membunuhmu,” kata Jeane kepada Frank.

Lalu dijawab oleh Frank sambil berlalu, “Masa lalu tidak bisa membunuhku.

Nalar saya tersentak mendengar kata-kata Jeane itu. Ia seolah menonjok ulu hati saya. Ia menyadarkan saya supaya tidak larut dan terjebak dengan masa lalu.

Ketika film itu saya tonton, saya memang baru saja putus hubungan dengan seorang perempuan yang sangat saya cintai. Di mata saya ia seorang perempuan yang sangat baik, perhatian, dan mudah senyum. Kami berpacaran cukup lama, sekitar lima tahun lebih. Tiba-tiba pada bulan Agustus 2008, ia memutuskan hubungan secara sepihak dan tanpa penjelasan. Meski begitu saya telah berusaha mengorek penjelasan darinya dan keluarganya, tetapi semuanya bungkam. Belakangan saya mendapat informasi, ia kawin dengan pria yang masih ada hubungan keluarga dengannya.

Lima tahun membangun hubungan bukan waktu sebentar. Hubungan itu telah menyisakan banyak memori dan kenangan yang tidak mudah dihapus dari ingatan. Sosok perempuan itu terus hadir dalam benak saya. Ia seolah menyapa dalam kesendirian saya. Akibatnya, saya kehilangan hasrat untuk mengenal perempuan lain. Pada hal saya sadar, jalan telah tertutup. Cintanya tidak mungkin saya raih kembali karena ia telah menjadi milik orang lain. Saat itulah saya merasa benar-benar kalah dalam hidup.

Tetapi menonton film ini, saya seolah didesak untuk bercermin. Bercermin untuk tidak tenggelam dengan pengalaman pahit itu. Film itu seolah menarik saya untuk bangkit merajut cinta dan mimpi saya kembali. Saya tidak boleh larut dengan perasaan negatif. Mengingat masalah itu terus-menerus bisa membunuh masa depan saya. Saya tidak mau kehilangan optimisme menatap hari esok.

Sejak itu saya sadar, ternyata pengalaman masa lalu yang pahit bisa membunuh masa depan kita bila hal itu terus menerus kita ratetapi, kita sesalkan. Rasa kecewa dan frustrasi bukan menuntun kita menemukan jalan keluar, sebaliknya semakin menjerumuskan kita pada kondisi mental yang tidak stabil. Bila sudah demikian, maka daya tahan tubuh kita tidak bisa bekerja maksimal.

Contoh kecil, dua minggu yang lalu tetangga kampung saya mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kamar tidur. Penyebabnya, konon karena ditinggal terus oleh istri pulang ke rumah orang tuanya.

Setelah menonton film itu pandangan saya menjadi terbuka. Bahwa, pikiran dan perasaan kita sendiri bisa menjadi pembunuh dalam selimut. Apalagi bila di otak kita terus berkembang benih-benih pesimisme. Ia bahkan bisa menjadi racun yang dapat pembunuh optimisme. Padahal, optimisme adalah modal meraih masa depan yang lebih baik. Anggap saja masa lalu ibarat sepenggal kisah yang ikut memberi warna dalam hidup kita.

Saya bersyukur film itu telah membantu saya untuk segera mengevaluasi diri agar tidak larut dalam kesedihan. Berusaha keluar dari labirin kekecewaan dan kesedihan.

Berlarut-larut dengan kesedihan bisa membunuh masa depan kita secara perlahan-lahan. Maka, ada baiknya kita segera berdamai dengan masa lalu yang tidak baik. Ini bisa menjadi terapi penyembuhan. Memang tidak mudah, trauma dan ketakutan itu tidak mudah dihilangkan. Namun, di sinilah seninya hidup; bagaiamana kita mampu bernegosiasi dengan masalah, bernegosiasi dengan pengalaman buruk, untuk bangkit meraih masa depan gemilang. Masa lalu dapat membunuh masa depan bila hari ini kita tidak mampu menata pikiran dengan baik guna menyambut perubahan dan tantagan hidup yang lebih besar.

Lalu, haruskah kita mengubur masa lalu yang tidak menyenangkan itu? Atau, menjadikan masa lalu itu sebagai ‘kado istimewa” sebagaimana sering dibagi-bagikan oleh para penulis dan motivator andal dalam berbagai tulisan dan seminar? Menceritakan pengalaman dan kesedihan Anda merupakan salah satu cara keluar dari bayang-bayang masa depan yang suram. Sekali lagi, masa lalu bisa membunuh bila tidak dikelola dengan baik. Maka, waspadalah![yt]

* Yusuf Tantowi tinggal dan bekerja di lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Mataram. Sejak menjadi mahasiswa ia aktif menulis di media massa lokal dan menjadi pembicara di berbagai pelatihan menulis di Mataram. Sering bekerjasama dengan LSM di Jakarta untuk membuat program pemberdayaan dan riset di daerah. Yusuf dapat dihubungi melalui Hp: 08175732513 dan pos-el: hapyending_ntb[at]yahoo[dot.co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox