Ranking atau Motivasi Belajar?

vtOleh: Vina Tan*

“Good parents give their children Roots and Wings.”

~ Jonas Salk

Pukul 07.30 pagi tanggal 12 Agustus 2009, saya sungguh tidak menduga akan menerima telepon dari seorang tetangga lama. Beberapa tahun yang lalu, dia tinggal hanya beberapa langkah dari rumah sehingga hampir setiap hari kami bertemu dan saling menyapa. Lebih dari lima tahun yang lalu yaitu sejak keluarga kami pindah beberapa blok dari sana, kami jadi jarang bertemu. Bisa dibayangkan, betapa gembiranya hati ini saat tahu bahwa seorang teman lama ingin menanyakan suatu hal.

Dengan ramah dan sopan, dia bertanya apakah saya sedang sibuk atau tidak. Jika tidak apakah mau meluangkan waktu untuk dia. Tentu saja saya tidak mau membuat dia kecewa. Buku Dictionary of Common Errors karangan NB Turton dan JB Heaton yang sedang dalam genggaman langsung saya kesampingkan karena ingin memberikan perhatian yang penuh dan fokus.

Teman saya, anggap saja namanya Ani, adalah seorang ibu dari dua anak. Yang besar, laki-laki, duduk di kelas satu SMP. Sedangkan yang kecil, perempuan, duduk di kelas lima SD. Ani selalu ingin agar anak-anaknya menjadi juara kelas. Namun, selama ini mereka selalu mendapatkan ranking dua saja dan hanya pernah sekali meraih ranking satu. Menurut Ani, masalahnya ada pada guru yang selalu bersikap subjektif terhadap anaknya. Karena putranya baru masuk SMP tahun ajaran baru ini, maka target yang hendak dicapai adalah mendapatkan ranking satu agar bisa mendapatkan rasa hormat dan perhatian dari guru-guru di sekolah. Selama ini, anaknya hanya spesialis ranking dua saja sehingga guru-guru kurang menghargai.

Ani:Saat Eric (putra saya: Vina) mulai duduk di kelas satu SMP, apakah pernah ikut les tambahan untuk pelajaran Matematika dan Fisika?”

Vina: “Bagi saya les pelajaran adalah pilihan terakhir kalau seorang anak benar-benar butuh bantuan dalam belajar. Yang selalu saya tanamkan kepada anak-anak adalah ‘kemampuan belajar sendiri’. Dan, ini adalah modal utama untuk mempelajari banyak hal dengan lebih cepat dan mudah tanpa harus selalu bergantung pada orang lain untuk mengajarkan. Di samping itu, tanpa guru les, mereka akan memiliki nilai tambah, misalnya, waktu luang dan waktu santai yang lebih banyak sehingga bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif, misalnya belajar musik, menggambar, les balet, dan sebagainya. Sesusah dan sebanyak apa pun bahan pelajaran, belajar haruslah tanpa paksaan dan dijalankan dengan disiplin. Menggali dan menanamkan motivasi belajar dalam diri anak adalah salah satu tugas terberat kita sebagai orang tua.”

Ani: “Tetapi Vina, kalau anak saya tidak ikut les tambahan sementara teman-temannya banyak yang ikut, tentu anak saya akan ketinggalan dan tidak bisa dapat ranking satu, dong? Di sekolah, anak-anak yang pintar juga banyak yang les.”

Vina: “Oke, sebenarnya apa sih tujuan belajar itu? Mendapatkan ranking atau terus menggali dan memuaskan rasa ingin tahu seorang anak? Apakah belajar itu sebuah proses jangka pendek atau proses yang berkesinambungan seumur hidup? Berikutnya, seandainya anak kamu mendapatkan ranking tiga, empat, lima, dan seterusnya, apa kalian akan siap mental untuk menghadapinya? Di samping itu, bagaimana sikap kamu jika seandainya pada suatu hari prestasi mereka di sekolah menurun atau tidak sebaik saat ini? Kamu siap?”

Hening di seberang sana. Ani terdiam dan mulai berpikir. Sepertinya, nuraninya mulai goyah.

Vina: “Ani, apakah ranking dua itu sebuah prestasi yang buruk? Dulu ketika Eric masih SD, dia tidak pernah masuk lima besar di kelas. Putri saya, Lisa sering membuat saya dipanggil wali kelas karena nilai ulangan hariannya banyak yang terbakar alias merah. Tetapi, di sinilah letak tantangannya. Saya selalu mencari akal dan menemukan cara untuk membuat mereka termotivasi agar mampu mencapai prestasi yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Hasilnya? Apa yang mereka capai sampai hari adalah melebihi harapan saya sebagai seorang ibu. Saya tidak suka yang muluk-muluk atau membebani anak dengan target yang tidak masuk akal. Mimpi boleh tinggi tetapi target tetap harus bertahap dan realistis. Mereka harus sadar bahwa belajar dan prestasi yang mereka capai adalah untuk mereka sendiri, bukan untuk menyenangkan atau membuat saya bangga. Berdasarkan pengalaman, seorang anak yang mampu belajar sendiri cenderung memiliki prestasi yang lebih baik di sekolah.”

Ani adalah seorang ibu yang cerdas dan cepat menangkap maksud dan penjelasan saya. Apalagi ketika saya berbicara mengenai fondasi yang harus dimiliki oleh seorang anak untuk menjadi seorang pembelajar sejati. Ani pun sadar bahwa seringkali kata-katanya hanya menjadi racun bagi anak-anaknya. Secara tidak langsung dia menuntut anaknya agar bisa selalu menjadi ranking satu di kelas. Tetapi kenyataannya, mereka hanya pernah satu kali saja mendapatkan ranking satu. Selebihnya selalu ranking dua sehingga Ani terlanjur mencap anak-anaknya sebagai ’spesialis’ ranking dua.

Akhirnya, Ani saya arahkan agar mau berpikir lebih jauh ke depan, bukan hanya untuk jangka pendek saja dan menjadi juara kelas bukanlah segala-galanya. Anak-anak harus dipuji atas prestasi yang telah dicapai selama ini karena ranking dua itu saja sebenarnya sudah termasuk luar biasa. Tidak semua anak mampu mencapainya. Berikan mereka dukungan yang positif dan tidak usah mengeluh jika tidak menjadi yang terbaik di kelas. Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah selalu bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Pembicaraan kami berlangsung selama hampir satu jam. Ani mengerti bahwa tidak mudah untuk merubah paradigma yang telah tertanam selama ini. Tetapi dia bertekad ingin menjadi ibu yang lebih positif bagi anak-anaknya agar kelak mereka mempunyai harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi. Artinya, prestasi yang dicapai anak-anaknya bukanlah demi kebanggaan dia sendiri tetapi demi masa depan anak-anak itu sendiri. Lebih penting membangun mental yang kuat dan gigih daripada hanya berfokus pada ranking satu saja.

Akhir kata, mana yang lebih penting: Mengejar ranking atau memupuk motivasi belajar? Seorang anak yang menjadi juara kelas tidak selalu berarti bahwa dia mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Bisa saja anak terpaksa belajar demi mendapatkan pengakuan dari orang tuanya. Sebaliknya, seorang anak yang memiliki motivasi belajar yang tinggi, kemungkinan besar memiliki prestasi belajar yang memuaskan atau sangat memuaskan, bertahan lama dan konsisten.[vt]

* Vina Tan lahir di Sibolga. Selain menjadi ibu rumah tangga, ia juga berprofesi sebagai konsultan dan pembicara. Vina dapat dihubungi melalui pos-el: vina.coach[at]yahoo[dot]com. Hasil karya tulisannya terdapat di http://www.sangkudaapi.wordpress.com dan http://www.sangkudaapi.blogspot.com

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 4 votes)

Sebelum Terlambat

vtOleh: Vina Tan*

“Kita hanya hidup sekali, tetapi sekali saja sudah cukup

jika kita menjalaninya dengan benar.”

~ Gary Ryan Blair

Pada tanggal 25 Juni yang lalu, dunia dikejutkan oleh kematian Michael Jackson yang begitu mendadak. Dua belas hari kemudian atau tepatnya tanggal 7 Juli 2009, berpuluh-puluh juta pasang mata ikut menyaksikan acara penghormatan terakhir untuk Michael Jackson yang digelar di Stadion Staples Center Los Angeles. Hati kita tersentuh saat lagu-lagu Michael dilantunkan oleh para penyanyi sekaliber Mariah Carey sampai Usher. Perasaan kita pun terenyuh ketika Queen Latifah, Brooke Shield, dan Pendeta Al Sharpton menyampaikan kata-kata perpisahan mereka untuk Michael. Namun demikian, yang paling menyayat hati adalah ketika Paris Jackson, putri mendiang Michael Jackson berbicara kepada dunia dari atas podium, “Saya hanya ingin bilang… Sejak saya lahir, Daddy telah menjadi ayah terbaik yang tidak pernah bisa kalian bayangkan. Dan, saya cuma mau bilang bahwa saya amat sangat mencintainya.”

Hebatnya lagi, acara peringatan Michael Jackson tersebut tidak cukup disiarkan hanya sekali. Sampai tanggal 11 Juli yang lalu, kita masih bisa menyaksikan siaran ulangan yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta terkenal di Indonesia. Dan, kata-kata Paris Jackson yang sudah saya dengar berkali-kali baik dari siaran langsung maupun dari internet, tetap saja mampu membuat saya terharu sampai menitikkan air mata saat tayangan ulang tersebut.

Akan tetapi, di balik semua itu, masih ada satu hal yang tetap mengganjal di hati. Pikiran saya kembali pada saat hampir dua puluh sembilan tahun yang lalu. Saat itu, kami semua dalam masa berkabung karena ayah baru saja meninggal secara mendadak. Ibu yang sangat sedih dan terpukul dengan kematian ayah memberikan nasihatnya yang sangat berharga, “Ketika seseorang sudah meninggal dunia, dia tidak akan pernah tahu lagi hal-hal baik atau pun kata-kata indah yang kita sampaikan untuknya. Jadi, saat seseorang masih hidup, perlakukanlah mereka dengan baik dan penuh kasih sayang. Sehingga, tidak akan ada penyesalan ketika mereka harus pergi meninggalkan dunia ini.”

Kata-kata ibu tersebut yang membuat saya terus melakukan self talk selama acara penghormatan untuk Michael berlangsung:

Apakah Michael pernah tahu kalau orang-orang akan sangat kehilangan dirinya ketika dia pergi untuk selamanya?

Kalau iya, mungkinkah dia akan kesepian menjelang akhir hidupnya?

Mengapa tidak ada seorang anggota keluarga atau sahabat yang berhasil membujuknya untuk menjauhi obat-obat narkotik penghilang rasa sakit yang telah dikonsumsinya selama bertahun-tahun?

Kalau Michael adalah seorang penghibur yang hebat dan jenius, mengapa tidak ada yang membuat acara persembahan untuk merayakan prestasinya di dunia musik saat sang ‘King of Pop’ tersebut masih hidup? Sehingga, Michael akan tahu betapa dunia begitu mencintainya dan menghargai musik serta lagunya?

Memang, sering kali kita baru tersadar ketika seseorang telah pergi dan tidak pernah akan kembali lagi. Kita akan terhenyak dan terus memikirkan hal-hal baik yang pernah dilakukan orang tersebut ketika masih hidup. Saya sendiri merasa sangat beruntung pernah memiliki seorang ibu yang bijaksana. Selama masih hidup, beliau telah mengajarkan banyak hal penting tentang kehidupan kepada kami, anak-anaknya. Sehingga, saya pun terinpirasi untuk dapat mengikuti jejak beliau menjadi ibu teladan bagi anak-anaknya ketika mereka dewasa kelak.

Hal terpenting yang harus diingat adalah bahwa kita hidup di dunia yang fana. Dengan kata lain, tidak ada yang abadi di dunia ini. Bisa jadi, hanya kenangan yang bisa kita bawa mati. Jadi, selagi kita masih hidup dan bernapas, berbuat baiklah terhadap orang-orang yang kita kasihi. Katakanlah kalau kita menghargai apa yang telah meraka lakukan untuk kita. Jangan pelit untuk memberikan pujian yang tulus dan lakukan hal-hal positif yang bisa membuat mereka merasa dirinya berarti. Sehingga, suatu saat ketika kita atau orang-orang yang kita kasihi pergi meninggalkan dunia ini, tidak akan ada lagi penyesalan yang tertinggal.[vt]

* Vina Tan lahir di Sibolga. Selain menjadi ibu rumah tangga, ia juga berprofesi sebagai konsultan dan pembicara. Vina dapat dihubungi di vina.coach[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Belajar dengan Mengajar

vtOleh: Vina Tan*

Ada peribahasa yang mengatakan, “Kita belajar dengan mengajar. Karena dengan belajar kita akan mengajar, dan dengan mengajar kita akan belajar.” Setujukah Anda dengan peribahasa ini? Kalau tidak, apa pendapat Anda? Menurut hemat saya, kata-kata indah nan penuh arti ini akan lebih mudah dipahami dan diresapi jika kita terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar tersebut.

Anak saya, Eric, yang saat ini duduk di kelas dua belas atau kelas tiga Sekolah Menengah Atas sangat suka mengajar. Menurut wali kelas, Eric sering minta izin untuk memakai ruangan kelas pada jam istirahat. Tujuannya adalah memberikan pelajaran tambahan Matematika, Fisika, dan Kimia untuk membantu teman-teman yang ingin meningkatkan nilai pelajaran-pelajaran tersebut. Minatnya yang besar untuk mengajar mulai terlihat sejak duduk di kelas tujuh. Dan, Eric memulai debut amatirnya menjadi guru dengan mengundang beberapa teman untuk belajar ke rumah.

Sejak itu, rumah saya pun ramai dikunjungi apalagi ketika musim ulangan atau ujian sekolah tiba. Sungguh menyenangkan! Keuntungan lain yang didapatkan adalah saya lebih mengenal teman-teman Eric yang sering datang ke rumah. Saya juga banyak mendapatkan informasi penting tentang perkembangan, tingkah laku, dan sikap mental remaja masa kini.

Suatu hari, terdorong oleh rasa penasaran, saya bertanya kepada Eric tentang waktu belajar untuk dirinya sendiri. Apakah kesibukanmu membantu teman-teman tidak akan membawa dampak buruk bagi nilai rapormu nanti?”

Jawaban Eric sungguh di luar dugaan saya, “Ma, saya harus belajar dulu, dong, sebelum mengajar teman-teman. Sebenarnya, secara tidak langsung sambil mengajar saya pun belajar lagi.”

Sungguh bijaksana! Dari mana Eric mendapatkan filosofi hidup ini serta mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari? Saya sangat bersyukur karena Tuhan yang baik hati telah memberikan karunia istimewa untuk Eric.

Sebagai orang tua, kita harus peka dengan bakat dan minat yang dimiliki anak kita. Sejak kecil Eric suka mengajak saya bermain sekolah-sekolahan. Eric yang menjadi guru dan saya sebagai muridnya. Eric juga minta dibelikan trombolin agar dapat meniru salah satu gaya gurunya ketika sedang mengajar di kelas. Seorang ibu pasti akan melakukan apa saja demi kebahagiaan anak-anaknya, bukan? Ketika Eric menanyakan soal-soal yang harus saya jawab sebagai murid, sekali-kali saya bersikap seolah-olah saya tidak mengerti dan menantangnya untuk menerangkan soal tersebut agar saya dapat mengerti.

Di samping itu, saya juga membimbing dan mengarahkannya agar tidak pelit ilmu. Karena, hanya dengan memberi kita akan menerima. Jika kita mau mengajarkan ilmu yang kita miliki kepada orang lain, maka pengetahuan kita pun akan terus bertambah. Hal penting lainnya yang ikut saya tanamkan adalah mengajarkan ‘cara belajar’ agar kelak anak-anak memiliki ‘kemampuan belajar sendiri’, sehingga tidak selalu harus tergantung orang lain.

Tidak disangka, cikal bakal yang tertanam sejak dini itu akhirnya berkembang dan terus terasah ketika Eric menjadi guru bagi teman-temannya. Semua ini dilakukan dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih.

Konsekuensinya, cukup banyak sikap mental positif  yang telah tertanam dalam diri Eric karena mempraktikkan filosofi ‘belajar dengan mengajar’ ini selama bertahun-tahun, misalnya:

  1. Mandiri dalam belajar.
  2. Semangat belajar yang tinggi.
  3. Rajin dan disiplin dalam belajar.
  4. Menjadi proaktif.
  5. Aktif bertanya kepada guru.
  6. Nilai-nilai pelajaran menjadi bagus dan stabil.
  7. Lebih mudah bergaul dan menyesuaikan diri dengan banyak orang.

Kini, tugas saya sebagai orang tua menjadi jauh lebih ringan. Tidak lama lagi, Eric akan kuliah di salah satu universitas negeri yang cukup terkenal di negeri ini. Saya pernah mengingatkan Eric bahwa menjadi sarjana adalah penting, tetapi bukan segala-galanya. Menguasai dan mempraktikkan ‘ilmu-ilmu tentang kehidupan’ adalah jauh lebih penting. Saya cukup bangga ketika melihat Eric tetap mau berbagi ilmu dengan beberapa temannya yang masih harus berjuang untuk ikut tes seleksi masuk universitas.

Satu hal penting yang ingin saya sampaikan di sini adalah apa yang kita tanamkan pada anak-anak sejak usian dini, akan kita petik bertahun-tahun kemudian. Dengan kata lain, kita menuai apa yang telah ditanam. Bertahun-tahun mengamati dan mengikuti perkembangan banyak anak dari kecil hingga remaja ikut memperkaya wawasan dan menambah bobot pengetahuan parenting yang saya miliki.

Saat ini, saya pun telah mengikuti jejak Eric dengan mengajarkan kembali pengetahuan dan pengalaman parenting yang saya miliki kepada banyak orang tua melalui seminar-seminar. Percayalah, belajar dengan mengajar adalah salah satu cara terbaik untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan matang. Jadi, jangan pernah berhenti belajar. Karena, dengan belajar kita akan mengajar, dan dengan mengajar kita akan belajar.[vt]

* Vina Tan lahir di Sibolga. Selain menjadi ibu rumah tangga, ia juga berprofesi sebagai konsultan dan pembicara. Vina dapat dihubungi di vina.coach[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.3/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Menyanyi dan Rasa Percaya Diri

vtOleh: Vina Tan*

Hidup akan terasa indah dan menyenangkan jika kita mengisinya dengan melakukan apa yang disukai dan dicintai. Dengan demikian, kita baru memiliki kesempatan untuk mengasah potensi diri.

Pada Selasa, 31 Maret yang lalu, seorang Editor Senior dari sebuah majalah grup Femina mengirimkan pesan pendek kepada saya. Dia ingin bertemu untuk wawancara tentang kegiatan ektrakurikuler yang saya tekuni, yaitu les vokal. Awalnya saya tidak percaya karena pada Desember yang lalu, saya baru saja menjadi narasumber untuk topik Rangkul Saja Remaja Anda. Apa waktunya tidak terlalu cepat jika saya kembali diwawancarai? Begitu saya berkata dalam hati.

Namun, karena saya suka bertemu dan berbagi cerita dengan orang lain, maka kesempatan ini tidak akan saya lewatkan begitu saja. Keesokan harinya, kami pun bertemu.

“Vina, ketika kita bertemu terakhir kali, Anda sempat menyinggung soal les vokal. Hari ini saya ingin tahu lebih banyak lagi. Pertanyaannya, apa yang membuat Anda tertarik untuk belajar vokal?”

“Belajar adalah berusaha memperoleh suatu ilmu pengetahuan atau keterampilan. Bisa dari pengalaman atau pengajaran. Saya sendiri ingin menambahkan, bahwa belajar juga diperlukan untuk mempertahankan dan meningkatkan pengetahuan atau keterampilan yang sudah kita miliki. Bagi sebagian orang yang kenal saya, mereka pasti heran kenapa saya masih mau belajar vokal dengan seorang guru. Saya lebih suka menyebutnya pelatih daripada guru. Karena, seorang pelatih bisa menjadi guru, konsultan, sekaligus mentor Anda.

Sejak kecil saya sudah memiliki bakat dalam beryanyi. Dan, saya sering menyanyi untuk acara sekolah saat di SD sampai SMA. Tidak setiap orang memiliki bakat menyanyi. Ketika masih di SMP, saya pernah meminta Ibu untuk mencarikan guru vokal agar ada tempat untuk berlatih. Namun, kami tidak pernah menemukannya. Kini, ketika kedua anak saya sudah beranjak dewasa dan cukup mandiri, saya memiliki banyak waktu luang untuk menggali potensi diri yang tidak sempat terasah selama ini. Saya bebas melakukan apa yang menjadi minat saya. Misalnya, membaca, menyanyi, dan menjadi pembicara. Itulah sebabnya, saya aktif di kegiatan Toastmasters untuk terus mengasah kemampuan berbicara di depan umum. Di samping itu, sekali seminggu, saya juga berlatih vokal.”

“Cukup menarik!”

“Hidup akan menjadi berarti jika Anda dapat melakukan hal-hal yang menjadi minat Anda. Untuk menyanyi dengan baik, kita harus mampu berolah vokal dengan benar. Di sini pelatih memegang peranan penting. Bakat serta kepekaan mereka sudah terasah untuk menilai kapan kita memiliki penempatan suara yang tepat dan kapan tidak. Mereka dibutuhkan dan tentu saja dibayar karena ketajaman telinganya.”

“Bagaimana Vina menemukan pelatih vokal tersebut?”

“Berkat suami saya! Dia tidak bisa menyanyi sehingga merasa kagum apabila ada orang yang dapat menyanyi dengan baik. Setiap kali, jika kami hadir di pesta perkawinan, saya selalu diminta untuk menyumbangkan lagu. Tentu saja saya tidak suka dan sering merasa kesal. Suami saya tidak habis pikir, kenapa ada orang yang memiliki bakat nyanyi seperti saya ini, tetapi tidak mau memperlihatkannya di depan umum.

Bulan Februari 2006, ketika salah seorang adik suami saya menikah, saya pun terpaksa menyanyi di resepsi pernikahannya untuk menyenangkan hati suami. Saat itu, saya menyanyikan dua buah lagu Mandarin. Ketika saya kembali ke tempat duduk, istri dari sepupu suami memberikan pujian. Katanya, jika saya menjadi penyanyi profesional, dia yang akan menjadi menejer saya. Suami pun merasa bangga. Sedangkan saya sendiri heran, kenapa melihat istrinya menyanyi menjadi berarti sekali bagi dia? Mungkin, dia merasa nikmat jika menjadi pusat perhatian.”

“Kemudian, ketika JTC, Jakarta Toastmasters Club, beracara pesiar ke Pulau Seribu tanggal 29 Juli 2007, saya berkesempatan menunjukkan kemampuan berkaraoke. Seorang teman sempat memuji dengan tulus. Katanya, saya menyanyi dengan hati. Tentu saja saya merasa sangat tersanjung. Namun di dalam hati, saya sadar bahwa kemampuan menyanyi saya tidaklah sebaik yang diperkirakan banyak orang.”

“Akhirnya, di bulan Agustus 2007, saya diundang adik saya untuk datang ke rumahnya. Ketika itu, ada misa 100 hari untuk memperingati kematian mertuanya. Di sana saya bertemu Ivan yang menyanyikan puji-pujian dengan baik dan merdu sekali. Di saat makan malam, saya pun mendekatinya seraya memuji kemampuannya. Kemudian saya bertanya, apakah dia belajar vokal? Dan, jawabannya adalah iya. Saya meminta alamat dan nomor telepon gurunya. Sesampai di rumah, saya pun menceritakannya kepada suami dan minta izin apakah boleh les vokal mulai Januari 2008. Suami saya adalah orang yang selalu mendukung saya untuk mengembangkan diri. Katanya, kenapa harus menunggu empat bulan lagi jika bisa memulainya saat ini juga?

“Begitu, ya.”

“Iya, sejak itu pula, saya mulai belajar vokal. Dan, selama delapan belas bulan saya tidak pernah absen kecuali benar-benar sakit. Saya selalu berusaha meraih setiap kesempatan yang datang pada saya. Kadang-kadang bukan hanya meraih, tetapi menciptakan kesempatan itu sendiri.”

“Apa hasil positif yang didapat selama belajar?”

“Menurut Walter Gagehot, kepuasan terbesar dalam hidup adalah melakukan apa yang menurut orang lain tidak dapat kita lakukan. Bagi saya, kepuasan terbesar dalam hidup adalah melakukan sesuatu yang orang lain tidak menduga kita dapat melakukannya.”

“Saya suka dengan kata-kata tersebut.”

“Pada hari Valentine 14 Februari 2009, saya ditunjuk menjadi Pembawa Acara untuk pelatihan kepemimpinan di Toastmasters. Di saat akan memulai acara, saya pun melantunkan beberapa kata dari lagu Valentine-nya Martina McBride. You’re all I need, my love, my Valentine. Setelah itu, saya pun menyapa hadirin, Hi teman-teman! Selamat merayakan Hari Valentine. Pasti tidak ada yang menduga kalau saya bisa membuat perbedaan kecil di hari yang spesial tersebut. Jika saya tidak mempunyai seorang pelatih vokal, saya yakin saya tidak akan berani memamerkan kemampuan menyanyi tersebut di hadapan seratus orang pada saat itu. Jadi, keuntungan yang utama adalah belajar vokal telah membuat saya menjadi lebih percaya diri lagi.

“Berikutnya, sebagai seorang pembicara dan konsultan, kadang-kadang saya harus berbicara selama berjam-jam. Jadi, suara adalah faktor penting. Untuk memelihara dan menjaga kualitas suara, kita harus tahu bagaimana cara bernapas yang benar dengan menggunakan diafragma. Cara kita bernapas benar-benar menentukan berapa banyak oksigen yang bisa dimasukkan ke dalam organ-organ tubuh kita. Semakin banyak oksigen yang masuk, semakin kita akan terlihat lebih awet muda dari usia yang sebenarnya. Jadi, menyanyi dan melakukan yoga sangat membantu untuk menjaga kualitas suara.”

“Masuk akal juga.”

“Saya sangat bangga memiliki pelatih vokal seperti Charles Nasution. Dia sangat menghormati, mengagumi, dan memuja gurunya, Ibu Chatharina W. Leimena. Ibu, demikian Charles biasa memanggilnya, adalah seorang guru vokal yang terkenal di negeri ini. Menurut Charles, dia sudah belajar dengan Ibu selama delapan belas tahun. Dan, sampai hari ini, setiap kali datang kepada Ibu, pasti ada hal baru yang dipelajari. Saya merasa beruntung berlatih vokal dengan seorang yang tidak pernah melupakan jasa-jasa gurunya. Saya dapat merasakan semangatnya yang tidak pernah luntur. Keinginan belajar yang tidak pernah lekang oleh waktu. Sebuah sikap yang patut diteladani.”

“Sekarang, keuntungan lain dari belajar vokal. Dengan bertambahnya pengetahuan, maka kemampuan untuk menilai penampilan seorang penyanyi menjadi lebih baik. Dan, menonton program pencari bakat seperti American Idol ikut mengasah pengetahuan yang dimiliki serta menambah wawasan.”

“Apakah Vina tidak memiliki tujuan khusus ketika memutuskan belajar vokal?”

“Maksudnya, menjadi seorang penyanyi profesional? Sama sekali tidak. Bagi saya, menyanyi sudah merupakan darah daging. Sejak kecil saya suka sekali menyanyi. Memang, ketika muda dulu, saya pernah bercita-cita untuk menjadi seorang penyanyi. Tetapi, sekarang keadaannya berbeda. Saya sangat bahagia dengan semua kegiatan saya sebagai seorang ibu rumah tangga, konsultan, dan pembicara. Menyanyi telah membuat hidup saya menjadi lebih berarti lagi.

“Saya selalu merasakan tantangan setiap kali melakukan vokalisasi. Hari demi hari, jarak nada yang saya capai semakin lebar. Tentu saja hal ini semakin dekat dengan nada maksimum dan minimum yang menjadi ‘range’ suar saya. Peningkatan ini terjadi sedikit demi sedikit. Hal ini membuat saya yakin bahwa saya bisa mencapai apa yang diinginkan asalkan mau melakukannya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Saat ini, saya telah menentukan target baru dalam hidup saya. Dua tahun dari sekarang, saya ingin bernyanyi di hadapan seribu orang.”

“Saya yakin itu akan menjadi kenyataan, Vina.”

“Terima kasih banyak! Saya setuju dengan nasihat dari pelatih saya, Michel Gagne bahwa kamu perlu membuat dirimu dikenal. Jika kita mengerjakan sesuatu yang menjadi minat kita, pasti akan dilakukan dengan penuh semangat. Sehingga, pasti akan mudah untuk menjadi pusat perhatian dan dikenal. Namun, dibalik semua itu, kita harus mempersiapkan diri dan tanpa henti terus meningkatkan kemampuan kita. Ungkapan Elmer Letterman, Keberuntungan akan tiba, jika kita siap di saat kesempatan datang’, sangat cocok dengan apa yang sedang saya lakukan saat ini.[vt]

* Vina Tan lahir di Sibolga. Selain menjadi ibu rumah tangga, ia juga berprofesi sebagai konsultan dan pembicara. Vina dapat dihubungi di vina.coach[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox