Menjalani Peran sebagai Ibu Rumah Tangga sebagai Pilihan Hidup

tnOleh: Tanenji

Seorang mahasiswi yang telah menyelesaikan studinya dan menikah, sempat curhat via fasilitas chatting di situs jejaring sosial facebook. Ia mengeluh karena capek-capek menjalani kuliah dan menyelesaikan S1-nya tetapi menjadi percuma dan sia-sia belaka. Karena ia hanya menjadi seorang ibu rumah tangga saja. Baginya seakan-akan ilmu dan pengetahuan yang telah susah payah diraihnya selama lebih kurang 4 tahun menjadi sia-sia. Perasaannya memuncak seolah-olah dunia seperti mau kiamat.

Banyak di antara kita dibesarkan dalam sebuah keluarga tradisional ala pedesaan di tengah pola kehidupan yang agraris. Hidup normal di antara keluarga inti yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dan anak-anak sebagai anggota keluarga. Seorang ayah bekerja dengan pergi ke kantor, sedangkan yang lainnya ke sawah, atau ke pasar, atau tempat lainnya dalam mencari nafkah. Sedangkan ibunya mengurusi rumah dan segala atributnya—mulai dari menyiapkan makanan, merapihkan rumah, membayar tagihan-tagihan, dan seabrek kegiatan domestik lainnya.

Tata keluarga yang demikian memungkinkan terjadinya bias gender karena menganggap bahwa yang berhak keluar rumah untuk sekadar mengaktualisasikan diri adalah pria. Sedangkan wanita dunianya adalah hanya sekitar dapur, sumur, dan maaf kasur.

Mind set yang demikian masih mendarah daging dalam sebagian pemikiran orang-orang yang hidup di alam modern ini. Walaupun jaman telah meng-global, tetapi ada saja yang mengkungkung diri dengan pemikiran tersebut.

Seiring dengan perkembangan kehidupan, tingkat melek huruf dan lama bersekolah penduduk berjenis kelamin perempuan semakin meningkat. Dunia kerja tidak lagi didominasi oleh pria. Bahkan dalam pekerjaan yang cenderung secara tradisional merupakan wilayah laki-laki telah terjamah oleh pelaku yang berjenis kelamin perempuan, seperti supir, dll.

Laki-Laki Penanggung Jawab Pencari Nafkah

Secara normal dan didukung oleh banyak doktrin keagamaan sebenarnya laki-laki-lah yang memiliki tanggung jawab dalam mencari nafkah untuk bekal melangsungkan kehidupan sebuah keluarga.

Untuk itu beberapa keluarga memprioritaskan anak laki-laki dalam mendapatkan kesempatan meraih pendidikan terbaik guna menyiapkan diri mereka menjadi calon kepala rumah tangga. Dari sinilah wacana pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) mendapatkan tempat dalam pembahasaannya.

Seandainya toh ada wanita yang bekerja maka bukan merupakan tanggung jawabnya dalam mencari nafkah. Tetapi hanya sebagai tambahan penghasilan bagi keluarganya karena didukung oleh pihak laki-laki atau sang suami. Walaupun tidak dipungkiri banyak yang penghasilannya lebih besar wanita dari pada laki-laki karena berbagai hal, seperti ruang lingkup pekerjaannya, latar belakang pendidikan dan pengalaman, dan banyak hal lainnya. Hal ini biasanya kalau tidak dikelola secara fair dalam hubungan antara suami isteri akan menjadi kerikil dalam hubungan harmonis antara mereka. Hal tersebut mengakibatkan banyak pasangan yang sebelumnya sama-sama bekerja akan memutuskan untuk salah satu saja yang bekerja. Dan hampir dipastikan yang terkalahkan adalah pihak si isteri. Hal ini bisa terjadi karena adanya kekhawatiran dominasi laki-laki menjadi runtuh. Penghormatan terhadap kepala rumah tangga terancam gara-gara wanita berpenghasilan mandiri.

Menjadi Wanita Pekerja

Wanita boleh bekerja menjalani aktifitas sehari-hari di luar rumah sesuai dengan perjanjian dengan sang suami. Pada dasarnya apabila suami tidak mengijinkan, beberapa doktrin keagamaan cenderung melarangnya apabila wanita tetap melakukannya ia dianggap tidak menghormati keputusan suaminya. Bila diijinkan ada baiknya wanita tetap pada koridor, bahwa pencari nafkah utama adalah pria, sedangkan ia hanya sebagai tambahan. Sehinggan sang suami tidak merasa direndahkan eksistensinya.

Konsekuensi dari seorang ibu bekerja adalah meninggalkan anak dalam waktu yang lumayan lama. Anak lalu diasuh oleh seorang baby sitter atau pembantu rumah tangga. Kalau seorang wanita menjadi guru masih lumayan, banyak waktu tersisa yang dapat dijalaninya dengan si buah hati. Bagaimana dengan para wanita pekerja kantoran yang berangkat pagi dan pulang ke rumah menjelang malam?

Pada dasarnya saya sepakat dengan wanita yang memilih untuk tetap bekerja di luar rumah setelah menikah. Bahkan saya cenderung mewajibkan para wanita itu dapat bekerja. Hal ini dikarenakan bila sang suami sudah tiada, maka ia akan mengandalkan siapa lagi dalam mendapatkan penghasilan yang memadai untuk melangsungkan kehidupannya? Tunjangan pensiun yang tidak seberapa itu? Belas kasih dari keluarga besar? Uluran tangan dari negara? Boro-boro, iya enggak?[]

Menjadi Ibu Rumah Tangga sebagai Pilihan Hidup

Life is all about choice. Hidup itu bicara tentang pilihan. Menjadi ibu rumah tangga bisa menjadi semacam pilihan tanpa paksaan bagi sebagian besar wanita dalam sebuah keluarga. Ia—sebagaimana digambarkan oleh sebuah iklan televisi—adalah ahli akuntansi terbaik dalam sebuah keluarga. Seorang ibu dapat menjadi guru les bagi anak-anaknya yang dapat mengalahkan guru formal yang sudah terkategori profesional sekalipun. Ia adalah koki terbaik yang pernah ada. Ia adalah house keeper andalan yang setia dengan pekerjaannya. Ia adalah ojek terbaik dalam antar jemput anak sekolah, hehe

Kehidupan yang rutin itu di mana saja dan kapan saja tetap mempunyai potensi yang dapat membuat kondisi seseorang mengalami kebosanan. Termasuk menjadi ibu rumah tangga, dimana kehidupannya yang dihadapi itu-itu saja sepanjang hidupnya. Apabila mau diuangkan (baca: dihargai secara professional) sebenarnya ibu rumah tangga adalah profesi tak ternilai penghargaannya. Agar tidak menjadi bosan/jenuh seorang ibu rumah tangga bisa mengaktualisasikan dirinya dalam banyak hal. Dunia arisan, dunia majelis taklim, dan dunia sosial lainnya sebenarnya memungkinkan kehidupan seorang ibu rumah tangga dapat lebih berwarna. Bahkan dapat melebihi warna pelangi terindah yang pernah ada dalam sejarah umat manusia. Untuk itu bersiap-siaplah ia keluar dari zona kenyamanan (comfort zone).

Banyak aktifitas yang dapat dijalani, baik profit maupun non-profit. Ia dapat menjadi penulis freelance. Ia juga dapat menjalani peran sebagai guru les bagi anak-anak tetangga kanan-kiri yang kurang mampu secara ekonomi secara gratis atau free of charge. Waktu luangnya bisa dimanfaatkan dengan mendesain buku-buku cerita. Ia juga bisa menuliskan pengalaman hidupnya sebagaimana pernah dikatakan oleh penulis novel laris JK Rowling. Tulislah apa yang Anda ketahui, ucapkan, lakukan, dan rasakan.

Lagian perasaan tersisih, perasaan melihat orang lain lebih bahagia dari dirinya adalah karena cuma saling memandang. Dalam istilah bahasa Jawa disebut sebagai sawang sinawang. Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga itu kampungan? Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga kurang berpengalaman? Siapa bilang menjadi wanita sebagai pekerja kantoran itu berarti hebat? Jaminan menjadi langsung kaya raya? Ya, coba kita wawancarai atau survei sebagian dari teman atau tetangga yang menjalani aktifitas seperti itu. Apakah ia dapat menjamin bahwa dirinya bahagia? Bukankah kebahagiaan itu bersifat abstrak? Bukankah kebahagiaan itu bicara soal hati? Soal bagaimana seni dalam memberikan sebagian dari yang kita miliki untuk orang lain? Karena bagaimana pun kebahagiaan itu ada dan tanpa syarat. Karena kebahagiaan itu pilihan. Termasuk menjalani peran menjadi ibu rumah tangga. Bukankah begitu kawan? Wallahu a’lam[tan]

*Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan beberapa perguruan tinggi swasta di Bogor, Depok, dan Jakarta-Timur, dapat dihubungi melaui email: tanenji@yahoo.com atau ponsel 0812 876 3133. Beberapa artikel lepasnya tentang secuil dinamika kehidupan dapat diakses di www.andaluarbiasa.com/tag/tanenji.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.8/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

Menebar Kebaikan dan Kebajikan

tnOleh: Tanenji*

Bayangkan, hari ini adalah hari kematian Anda. Hari di mana semua aktivitas fisik Anda berhenti total, karena secara klinis fungsi-fungsi anatomi tubuhseperti organ vital jantung berhenti berdetakdinyatakan berhenti atau tidak berfungsi lagi. Kira-kira siapa sajakah yang menangis ketika mendengar pengumuman bahwa Anda telah meninggal dunia? Kira-kira siapa sajakah yang sempat shock atau kaget dan seakan tak percaya bahwa Anda sudah berbeda alam dengannya? Kira-kira siapa sajakah yang akan memutuskan untuk takziyah sebagai penghormatan terakhir kepada Anda? Kira-kira kebaikan, kebajikan, dan pengabdian apa sajakah yang telah Anda semai kepada umat manusia dan kemanusiaan, kepada kerabat, kepada bangsa dan negara Indonesia, kepada agama yang dianut, yang dapat disebut sebagai pengalaman manis yang bisa mereka kenang?

Ya, setiap orang menginginkan saat di mana takdir yang memungkinkan nyawa harus berpisah dengan raga (baca: kematian) dalam kondisi khusnul khatimah, akhir yang baik, bukan su’ul khatimah, akhir yang buruk. Khusnul khatimah dalam akhlak dan hubungan sosial, ibadah, dan finansial. Persoalannya, seberapa pedulikah kita mempersiapkan kehadiran sang kematian?

Akhlak kita kepada lingkungan alam, apakah kita tidak membuat kerusakan di muka bumi ini? Sebagaimana digambarkan oleh ayat suci bahwa banyak kerusakan di muka bumi ini akibat ulah tangan-tangan manusia. Apakah kita termasuk bagian di dalamnya? Bila jawabannya adalah sepertinya tidak, apakah hal ini benar adanya? Bagaimana dengan konsumsi bahan bakar kendaran yang kita pakai, baik umum maupun pribadi yang sedikit banyak menyumbangkan efeknya melalui buangan emisi gasnya? Apakah kita juga peduli terhadap penghijauan di lingkungan sekitar tempat tinggal kita? Penghijauan yang walaupun dalam skala sekecil apa pun punya dampak yang positif terhadap sumbangan untuk menetralisir kondisi udara dan iklim?

Akhlak kepada lingkungan sosial, apakah kesalehan ritual dan spiritual kita berdampak kepada kesalehan sosial kita? Apakah seluruh moralitas ajaran agama yang kita anut, baik yang wajib maupun sunah mempunyai linearitas dalam aspek kemasyarakatan kita? Apakah kita hanya saleh secara artifisial? Kesalehan formalitas yang digambarkan hanya kepada simbol-simbol religiusitas belaka tanpa makna hakiki?

Akhlak kepada sang Khalik, apakah sudah dibenahi? Apakah ada peningkatan kualitas secara signifikan dari waktu ke waktu? Dalam hubungan kita dengan Allah, Tuhan semesta alam, apakah kita sudah menjalankan visi dan misi takwa dalam arti yang sebenarnya dan sesungguhnya, yakni dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya? Kapan kita terakhir berziarah kubur para kerabat? Kapan terakhir kita menyambung silaturahmi kepada ke dua orang tua? Kapan kita terakhir menyapa tetangga?

Dalam soal finansial, apakah hutang-hutang kita sudah terlunasi sehingga tidak membebani ahli waris? Apakah kita juga mempunyai tabungan yang dapat dijadikan harta warisan untuk para anggota keluarga yang ditinggalkan? Bahkan yang lebih penting lagi, apakah kita sudah mewariskan nilai-nilai moralitas ajaran agama kepada anak dan keturunan kita?

Ya, sebelum kematian menjemput kita, ada baiknya kita segera menebar kebaikan dan kebajikan di muka bumi ini. Menebar kebaikan dengan berawal pada diri sendiri, pada hal-hal yang terkecil, dan mulai saat sekarang juga, sebagaimana dikatakan oleh Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym. Sehingga kita akan tersenyum bila maut akan menjemput.[tan]

* Tanenji lahir dan dibesarkan di Brebes, Jawa-Tengah, pada 12 Juli 1972. Ia menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan kini menjadi dosen tetap pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah serta dosen tidak tetap pada tiga perguruan tinggi swasta di Jakarta-Timur, Depok, dan Bogor. Sewaktu kuliah, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi. Tanenji juga aktif menjadi peneliti dan trainer pada Center for Teaching and Learning Development (CTLD), sebuah lembaga semi otonom di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Ia mengaku terinspirasi pada Andrias Harefa, dan bercita-cita menjadi WTS (Writer, Trainer, and Speaker) yang sukses, andal, dan terkenal. Semboyannya,Tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang berani mencobanya’. Tanenji dapat dihubungi melalui e-mail: tanenji[at]yahoo[dot]com. yang mengkhususkan pada pengembangan pembelajaran baik pada sekolah dasar dan menengah, serta perguruan tinggi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Memaknai Hari Ulang Tahun

tanenjiOleh: Tanenji*

Mendengar kata acara ulang tahun, pasti pikiran akan mengaitkannya dengan pernak-pernik, seperti kue ulang tahun, balon, nyanyi-nyanyi, benda, dan aktivitas penunjang lainnya. Kata ulang tahun juga berarti jatah umur seseorang semakin menipis. Makanya, bertambah umur seseorang pada hakikatnya adalah berkurangnya umur itu sendiri.

Jikalau acara ulang tahun merupakan tonggak sejarah seseorang atau lembaga, mengapa tidak ada atau tidak dibuat momentum ulang jam, ulang hari, juga ulang bulan, ya? Takut dan khawatir membosankan barangkali. Ya, iyalah masa ulang jam, ulang hari, serta ulang bulan? Seperti kurang pekerjaan saja, barangkali itulah orang menanggapinya bila ada aktivitas seperti itu.

Seumur hidup, seingat saya ulang tahun saya yang ‘diperingati’ adalah ketika berumur 17 tahun. Hal ini karena pola kehidupan masa kecil terlewati di daerah pedesaan dengan gaya hidup agraris, yang lugu dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan di Kabupaten Brebes, Jawa-Tengah. Ketika itu, kebetulan ada acara kumpul-kumpul keluarga besar di rumah orang tua. Makanan dan minuman tersedia dalam jumlah melimpah ruah. Apalagi kebun buah nangka kepunyaan orang tua sedang panen raya. Jadilah ada sedikit ‘pesta’ makan malam dan ‘pesta nangka’ kala itu.

Yang saya undang hanyalah teman-teman SD. Mengapa? Masa SD adalah masa sekolah yang paling berkesan sepanjang hidup saya. Bisa jadi juga berkesan bagi mayoritas orang, karena sebagian golden age berada pada awal duduk di bangku SD. Di sinilah saya mempunyai teman sepermainan waktu kecil, yang merajut pengalaman manis lainnya, kelak di masa depan. Hal ini karena teman Madrasah Tsanawiyah (SMP-nya Depag) dan Madrasah Aliyah (SMA-nya Depag), terlalu jauh jaraknya. Karena, saya menempuhnya dengan merantau di kota lain, jauh dari rumah orang tua.

Sedangkan pada era menempuh studi perkuliahan dan awal kerja setelah lulus, paling banter perayaannya dilempari telur, terigu, dan shampo oleh sahabat-sahabat dekat. Itulah ucapan, kado, sekaligus party ulang tahun saya. Ini juga tidak kalah mengasyikkan dan membuat kenangan terindah pada fase usia remaja akhir, menjelang usia dewasa awal (meminjam istilah psikologi).

Setelah menikah dan mempunyai anak, saya tidak mempunyai tradisi merayakan ulang tahun bagi anak-anak saya. Tidak ada undangan ke teman-teman ke rumah, tidak ada tiup lilin, tidak ada kue ulang tahun, tidak ada nyanyi-nyanyi, dan lain-lain. Yang saya lakukan sekadar mengajak anak-anak makan ‘enak’ di luar rumah, katakanlah seperti di restoran cepat saji dengan mengundang satu-dua kerabat atau kawan dekat saya saja. Termasuk ulang tahun saya, istri, juga ulang tahun pernikahan. Tindakan ini merupakan wujud pengganti dari bentuk sikap care terhadap momentum penting dalam sejarah kehidupan yang dialami anggota inti keluarga saya.

Tindakan seperti ini bisa jadi agak aneh bila dibandingkan dengan gaya hidup sebagian besar penduduk di kompleks perumahan sederhana tempat tinggal saya di bilangan Parung, Kabupaten Bogor. Sempat juga keluarga saya menjadi bahan gunjingan para tetangga akibat menganut sikap yang satu ini. Akan tetapi, bila ada dan tersedia waktu serta dana yang mendukung, undangan ulang tahun untuk anak saya dari teman-temannya tetap direspon dengan baik, yaitu dengan menghadiri dan memberi kado hadiah ulang tahun bagi pihak pengundang.

Ya, kita tidak bisa hidup dari sekadar omongan atau komentar orang lain tentang kita. Kita juga harus mempunyai prinsip dalam menjalani kehidupan ini. Yang penting dan perlu ditekankan, bahwa prinsip hidup yang dipegang dan dijalani tidak merugikan pihak mana pun, baik fisik maupun psikis, berbentuk material maupun moral.

Saya sering mendengar ibu-ibu yang mengeluh gara-gara banyak sekali undangan ulang tahun untuk anaknya. Padahal, kondisi keuangan sudah memasuki tanggal tua. Ini jelas dapat merepotkan orang lain. Bila tidak datang, enggak enak. Datang juga harus membawa kado, itu memerlukan uang, dan dapat saja mengambil jatah lain yang lebih penting. Inilah alasan saya sesungguhnya mengapa tidak merayakan ulang tahun anak-anak. Maksud hati untuk kebaikan, tetapi tetap menyisakan ngedumelan dan rasa tidak enak di dalam hati pihak yang diundang.

Padahal jika memungkinkan, manajemen finansial seseorang yang terdesain dengan bagus dan terencana, hampir dapat dipastikan ada slot anggaran untuk biaya menyambung tali silaturahmi. Atau, slot anggaran tersebut bisa dengan nama lain, seperti anggaran tak terduga atau emergency. Katakanlah seperti kondangan, ulang tahun, bantuan orang sakit, iuran agustusan, dan lain-lain. Apalagi yang sifatnya sudah dapat dipastikan adanya, kegiatan rutin bulanan atau tahunan yang diadakan di lingkungan tempat tinggal kita.

Buku karya Safir Senduk, yang berjudul Siapa Bilang Menjadi Karyawan Tidak Bisa Kaya, saya reomendasikan untuk dibaca dan diimplementasikan dalam perencanaan finansial keluarga. Buku itu memberi contoh dan solusi tentang komposisi jumlah sumber penghasilan dan jumlah pengeluaran yang seimbang, sehingga kondisi finansial sehat sepanjang masa, didukung oleh tabungan dan produk investasi.

Tentang kado yang menghabiskan rupiah, ya tidak mesti yang mahal. Pada dasarnya, yang penting niatnya ikhlas tanpa pamrih, yakni bebas dari keinginan mendapatkan sanjungan dan pujian, misalnya. Termasuk aktivitas apa saja, bila dilakukan dengan ikhlas, dengan penuh cinta, maka akan jadi produk atau jasa yang enak dilihat dan dirasakan. Baik oleh diri sendiri maupun pihak lain. The power of ikhlas membuktikan bahwa kehidupan yang penuh dengan keikhlasan akan membuat seseorang dapat meraih kebahagiaan yang sejati –yang menggambarkan kondisi manusia seutuhnya.

Rencana Kehidupan

Ulang tahun hakikatnya adalah tanggal yang sama, yang datang menghampiri lagi pada satu momentum tertentu. Katakanlan tanggal lahir, tanggal pernikahan, tanggal berdiri suatu institusi, atau tempat kerja, dll. Memperingatinya bisa jadi merupakan kebaikan, karena saat tersebut bisa dijadikan sarana introspeksi diri ( Arab, muhasabah). Apa yang sudah diraih dan dicapai dalam kurun waktu tertentu? Sampai ke mana prestasi kita yang sudah teraih? Waktu yang telah diberikan Allah, Tuhan semesta alam, dipergunakan untuk apa saja? Kebaikankah atau kejahatankah? Berkualitaskah tindakan-tindakan kita? Dari sinilah kehidupan seseorang memerlukan perencanaan dalam menata, menatap, dan merenda hari esok demi meraih kesuksesan di masa depan.

Tahun 1996 saya mengikuti Achievment Motivation Training yang diselenggarakan oleh Kanwil Depnaker Propinsi DKI Jakarta. Dalam tarining tersebut, para peserta diminta membuat semacam peta impian atau dream mapping. Apa yang ingin diraih dan dicapai dalam hidup ini? Ketika sudah dibuat apa yang diinginkan, lalu diberi batasan waktu kapan hal itu bisa diraih. Apa kekuatan dan kelemahan yang ada untuk bisa mencapai tujuan. Bagaimana mengatasi dan mengantisipasi kelemahan tersebut. Dari sinilah kemudian terwujud rencana kegiatan tahunan, yang dibreak-down menjadi rencana bulanan, mingguan, dan harian.

Rencana harian dibuat rigid agar bisa dikerjakan dengan mudah dan bermutu. Jarang sekali orang yang tidak sibuk (baca: pengacara, pengangguran banyak acara) dapat merencanakan seluruh aktivitasnya. Kalau dibandingkan dengan orang yang sibuk, bila mempunyai dan ada rencana harian menjadi hal wajar karena mereka berpacu dengan waktu. Pekerjaan mesti diselesaikan atau target harus diraih. Bahkan, pada jabatan level tertentu, ada yang punya seorang sekretaris/ajudan yang siap menjadi pengingat/pemandu kegiatan yang harus dilakukan setiap jam/menit.

Bahkan, saya akan mengajak orang yang sibuk bila ada keperluan. Karena, biasanya orang yang sibuk dapat me-manage waktu dengan baik. Seorang pengangguran, saking banyaknya waktu yang tersedia, biasanya tidak punya rencana apa pun dalam menjalani hidup, dari hari ke hari. Waktu habis tanpa melakukan aktivitas apa pun yang berarti. Dari sinilah mengapa seseorang, apa pun profesinya, apa pun situasi dan kodisinya, memerlukan rencana kegiatan harian.

Dan, dream mapping memungkinkan saya untuk telah, sedang, dan akan meraih apa saja yang sekarang saya jalani, miliki, dan cita-citakan. Tubagus Wahyudi, pakar hipnosis dan public speaking, menyatakan bahwa semesta alam akan merespon apa saja yang kita ucapkan, lakukan, dan kita cita-citakan. Lebih-lebih bila semuanya dalam kondisi tertulis. So, apa saja keinginan kita, tulislah. Hal ini sesuai dan dapat dibenarkan oleh kata-kata orang tua bijak, bahwa kita tidak boleh ngomong sembarangan, takut ada malaikat lewat mengamini apa yang diucapkan. Untuk itulah, kita harus tetap lurus, baik dalam pikiran, ucapan, maupun perbuatan.

Hikmah Ultah Pembelajar.com

Beberapa waktu lalu, saya menghadiri gathering ulang tahun Pembelajar.com di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat. Mengapa saya diundang dan hadir? Karena bagaimanapun, saya adalah alumni worksop Menulis Buku Bestseller yang diselenggarakan oleh Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) Pembelajar.com, sekarang namanya Writers Schoolen.

Setelah mengikuti workshop, tulisan-tulisan saya berada dan tercecer di mana saja; lembaran kertas, buku, file di laptop, tanpa pernah diekspos di media cetak maupun elektronik. Saya seperti terantuk, namun kemudian bersemangat kembali ketika dalam gathering tersebut, saya diperkenalkan oleh Pak Hendri Bun dengan Eni Kusuma, yang semangatnya luar biasa itu.

Mantan TKW ini membagikan kisah bagaimana ia belajar menulis artikel di bawah selimut, karena majikannya melarang lampu dihidupkan pada malam hari ketika waktu istirahat tiba (sekitar pukul 23.00 waktu Hongkong). Eni menggunakan lampu senter supaya dapat menerangi kertas yang akan ditulisinya dengan deretan huruf demi huruf, representasi dari ide-ide yang telah berkecamuk dalam pikirannya sepanjang hari. Ia mengetik dan mem-posting tulisan-tulisannya melalui internet gartis di mal, museum, atau kantor pos di Hongkong, pada akhir pekan atau masa libur yang diberikan majikannya. Tulisan-tulisannya mengerucut, mencuat, dan menjelma menjadi sebuah buku berkategori bestseller dengan judul Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007).

Di forum gathering Pembelajar.com itu pula, saya berkenalan dengan salah seorang peserta. Ternyata ia adalah Sulmin Gumiri, seorang guru besar sebuah universitas negeri di Kalimantan, yang menyelesaikan studi S-2 di Inggris dan S-3 di Jepang. Ia luar biasa ramah dan low profile, di luar semangatnya yang membara terhadap dunia tulis-menulis. Kini, ia telah menjadi kolumnis tetap situs Andaluarbiasa.com.

Kemudian, awal Maret 2009 saya diberi tugas mengikuti acara Training of Trainer atau pendidikan dan pelatihan untuk calon pelatih diklat calon kepala sekolah dan calon pengawas, yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan Nasional RI, di Hotel Millennium, Jakarta Pusat. Kebijakan dan regulasi sekarang ini, semua hal di dalam dunia pendidikan formal di Indonesia akan tersertifikatkan, karena telah mempunyai aturan main standarnya.

Guru dan dosen telah terlebih dahulu mengikuti dan menjalani proses sertifikasi, seiring dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Termasuk jabatan kepala sekolah dan pengawas sekolah akan disertifikasi melalui pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah dan calon pengawas sekolah. Nah, saya dan ratusan peserta lainnya, selama lebih kurang sepuluh hari dididik dan dilatih untuk menjadi pengisi atau fasilitator pada acara pelatihan calon kepala sekolah dan calon pengawas sekolah tersebut, melalui rangkaian panjang kegiatan pascadiklat ini.

Pada hari Jumat pagi, 13 Maret 2009, ketika memasuki restoran hotel untuk acara breakfast, secara surprise saya bertemu lagi dengan Sulmin Gumiri. Rupanya, ia sedang mengikuti sebuah acara di hotel yang sama. Akhirnya, kami duduk bersama dan mengobrol secara serius, ngalor-ngidul. Kami serentak bersepakat mengatakan, bahwa dunia ini memang ternyata sempit. Saya yang tinggal di Bogor, bisa bertemu lagi dengan kenalan baru pada acara Pembelajar.com. Ia menimpali, bahwa dunia ini memang sempit, makanya jangan macam-macam. Bisa jadi, ia mengemukakannya dalam tanda kutip. Untungnya, kami sedang dalam acara yang baik, bagus, berkualitas, dan semoga tetap konsisten serta berkomitmen dengan integritas nilai dan moral, sehingga tidak terjerumus dengan hal-hal yang “macam-macam”.

Beliau bercerita bahwa bila merasa dunia ini sempit, mestinya seseorang akan berbuat baik kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Karena baginya, orang jahat dan orang baik ada di mana-mana, dapat melintasi suku, ras, kebangsaan, profesi, bahkan agama. Ia mempunyai teman semasa mengambil S-2 di Inggris yang berkebangsaan Israel. Mereka tidak bisa saling mengunjungi karena perbedaan politik masing-masing negara.

Apa pun yang terjadi dengan dunia perpolitikan negara, mereka tetap berkawan baik hingga sampai sekarang. Dan, tulisan ini tidak membahas pernak-pernik perpolitikan, apalagi yang bersentuhan dengan negara yang berada di kawasan Timur Tengah, yang berjulukan negeri zionis ini, yang sepanjang sejarahnya berkonflik ria dengan penduduk Palestina.

Yang jelas impact dari sebuah acara ulang tahun telah membuat saya menjadi bersemangat kembali untuk menulis dan menulis, sampai kapan pun. Menulis apa saja yang saya tahu, apa saja yang saya lakukan, dan apa saja yang saya alami, sebagaimana telah disarankan oleh J.K. Rowling, penulis serial buku bestseller Harry Potter, sebagaimana juga Ali bin Abi Thalib mengatakannya, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.

Bisa jadi, hal inilah yang menginspirasi Hernowo menulis buku Mengikat Makna, buku yang perlu dibaca bagi mereka yang berkeinginan menjadi penulis pemula, atau meningkatkan kapasitas kepenulisannya. Ya, menulisyang berarti juga mengarangyang oleh Andrias Harefa tujuannya dapat dikelompokkan dalam empat kategori. Pertama, tujuan yang bersifat nafkah-finansial (ekonomis). Kedua, tujuan yang bersifat pernyataan diri (psikologis). Ketiga, tujuan yang bersifat sosial-emosional (sosiologis). Keempat, tujuan yang bersifat moral-spiritual (teologis). Dan, saya akan segara mewujudkan dan memenuhi tujuan-tujuan menulis dan mengarang tersebut. Semoga.[tan]

* Tanenji lahir dan dibesarkan di Brebes, Jawa-Tengah, pada 12 Juli 1972. Ia menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan kini menjadi dosen tetap pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah serta dosen tidak tetap pada tiga perguruan tinggi swasta di Jakarta-Timur, Depok, dan Bogor. Sewaktu kuliah, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi. Tanenji juga aktif menjadi peneliti dan trainer pada Center for Teaching and Learning Development (CTLD), sebuah lembaga semi otonom di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Ia mengaku terinspirasi pada Andrias Harefa, dan bercita-cita menjadi WTS (Writer, Trainer, and Speaker) yang sukses, andal, dan terkenal. Semboyannya,Tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang berani mencobanya’. Tanenji dapat dihubungi melalui e-mail: tanenji[at]yahoo[dot]com. yang mengkhususkan pada pengembangan pembelajaran baik pada sekolah dasar dan menengah, serta perguruan tinggi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Small is Beautiful

tnOleh: Tanenji*

Salah satu metode dalam proses pembelajaran yang cukup dikenal adalah metode keteladanan. Metode berkenaan dengan penanaman nilai atau values. Mungkin masih segar dalam ingatan kolektif kita tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau P4 yang sudah almarhum bersama tumbangnya rezim Orde Baru. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan P4. Bahkan, ia merupakan pedoman berkehidupan, berbangsa, dan bernegara yang pas di republik multikultur semacam Indonesia. Yang sangat disayangkan adalah, karena dalam pengamalan dan implementasinya, P4 miskin keteladanan. Artinya, para penatar, para pejabat, hanya omong doang, Nato (no action talk only). Apa yang diomongkan kepada rakyat berbeda jauhnyaris berjarak antara langit dan bumi—dengan apa yang dilakukan.

Ketika guru menginginkan murid-muridnya rajin belajar, hobi membaca, maka sang guru tidak boleh juga mengabaikan hal-hal tersebut. Sebagai guru mestinya lebih rajin belajar, juga lebih rajin membaca. Ia akan menjadi orang pertama yang melaksanakan apa yang ia ajarkan. Murid mempunyai semacam idola yang tidak berada jauh dalam jangkauannya. Guru menjadi sumber inspirasi dan keteladanan bagi civitas academic-nya. Guru yang mempunyai kepribadian menarik.

Begitu pula orang tua. Ketika menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang santun, anak yang sopan, anak yang rajin beribadah, yang percaya kepada Tuhan, yang optimis menghadapi arus derasnya kehidupan, maka ia adalah orang pertama yang melaksanakan apa yang ia ingin kehendaki terjadi pada anak-anaknya.

Termasuk di dalamnya adalah dalam dunia persahabatan. Mengapa seseorang dapat menjadi dan memperoleh status sebagai sahabat karib, biasanya karena banyak kesamaan. Kalau toh tidak, biasanya juga karena mereka saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tetapi dalam perjalanannya sering kali terjadi clash. Masalah ini timbul karena seseorang menginginkan yang lainnya menjadi dan bersikap dengan apa yang dia bayangkan. Mestinya, ia akan melaksanakan apa sikap yang diinginkan orang lain bersikap.

Hal ini sesuai dan dapat dibenarkan dengan apa yang pernah dikatakan penulis mode dan gaya hidup, Samuel Mulia, bahwa banyak orang berambisi mengubah dunia, tetapi sedikit sekali orang berpikir megubah dirinya sendiri (Kompas, 02/11/08). Nah, kita sebagai guru, sebagai orang tua, sebagai sahabat, sebagai atasan, sebagai tetangga, sebagai anak, sebagai saudarakakak atau adikatau sebagai apa pun hendaknya mengubah diri sendiri dulu sebelum menginginkan perubahan yang terjadi pada pihak lain di luar kita.

Perubahan ini hendaknya juga berawal pada diri sendiri, pada hal-hal yang terkecil, dan mulai saat sekarang juga, sebagaimana dikatakan oleh Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym.

Mengapa harus mulai dari hal-hal yang kecil? Masih ingat pepatah yang berbunyi sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit? Pola menabung juga demikian adanya. Pola yang terjadi pada tumpukan sampah juga tidak kalah menariknya dengan gaya tabungan. Tidak ada tabungan dan tumpukan sampah yang terjadi langsung berjumlah banyak dengan sendirinya. Sampah pertama kali dibuang sembarangan oleh seseorang, lalu yang lainnya mengikuti, dan terus menerus terjadi.

Kaca yang berdebu sedikit, dan tidak pernah dibersihkan, lama-lama, semua permukaannya tertutup debu. Utang yang menumpuk pun demikian. Jarang sekali utang langsung berjumlah banyak, kecuali mungkin utang korporasi pada dunia perbankan, dan ini lain ceritanya. Utang individual rata-rata berjumlah kecil. Karena, mungkin bergaya hidup mewah plus dukungan gali lubang tutup lubang, maka yang akan terjadi adalah menumpuknya utang.

Demikain hebatnya hal-hal kecil, sebagaimana digambarkan inti atom dalam dunia fisika. Kita tidak boleh menyepelekan hal-hal yang kecil. Bahkan, peran apa pun dan sekecil apa pun yang kita lakukan di muka bumi ini tidak boleh disepelekan. Tukang sampah, tukang sayur, satpam, office boy, PRT, tukang ronda, pekerja konstruksi level bawah yang ada di lapangan, dan pekerjaan-pekerjaan sejenis lainnya, tidak boleh dilihat dengan sebelah mata.

Pekerjaan-pekerjaan itu sepenting bekerja sebagai anggota DPR, sehebat bahkan bisa dibandingkan dengan presiden direktur sebuah perusahaan. Dapat dibayangkan bila semua pekerja yang di atas mogok kerja semua. Mereka memboikot semuanya. Pastilah ritme kehidupan yang sudah tertib, aman, nyaman, dan berlangsung seperti tidak ada masalah menjadi kehidupan yang menyebalkan, timpang, kehidupan yang tidak lengkap.

Hal-hal yang kecil juga bisa menjadi sumber penghasilan untuk mengatasi pengangguran. Tubagus Wahyudi, pakar hipnotis dan public speaking terkenal, pernah mengemukakan bahwa salah satu hal untuk menguasai sensorik power adalah dengan tetap melakukan ketekunan. Ketekunan dalam bidang ilmu, hobi, penelitian, dll akan membuat dan mengantarkan seseorang menjadi pakar pada bidang tertentu tersebut. Bahkan, hobi yang terlihat sepele oleh orang lain, yang ditekuni dapat menjadi sumber penghasilan dan sandaran hidup.

So, small is beautiful. Dan, tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang berani mencobanya. Siapa mau?[tan]

* Tanenji lahir dan dibesarkan di Brebes, Jawa-Tengah, pada 12 Juli 1972. Ia menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan kini menjadi dosen tetap pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah serta dosen tidak tetap pada tiga perguruan tinggi swasta di Jakarta-Timur, Depok, dan Bogor. Sewaktu kuliah, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi. Tanenji juga aktif menjadi peneliti dan trainer pada Center for Teaching and Learning Development (CTLD), sebuah lembaga semi otonom di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang mengkhususkan pada pengembangan pembelajaran baik pada sekolah dasar dan menengah, serta perguruan tinggi. Ia mengaku terinspirasi pada Andrias Harefa, dan bercita-cita menjadi WTS (Writer, Trainer, and Speaker) yang sukses, andal, dan terkenal. Semboyannya,Tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang berani mencobanya’. Tanenji dapat dihubungi melalui e-mail: tanenji[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Psikologi Nyontek

tnOleh: Tanenji*

Ada sisi lain dalam dunia persekolahan di Indonesia, yakni dengan dikenalnya istilah nyontek (sontek, menyontek). Mungkin dan bisa jadi, istilah ini termasuk dalam kategori undercover. Nyontek sering kali dipahami dan merupakan sikap pecundang yang menginginkan hasil optimal tanpa harus bersusah payah. Biasanya, nyontek dilakukan oleh para siswa atau mahasiswa yang sedang mengerjakan soal ujian, dan yang bersangkutan tidak mempersiapkan penguasaan bahan/materi pelajaran yang memadai dengan berbagai alasan. Mereka menyontek pekerjaan temannya yang dianggap lebih pintar atau mengerjakan soal dengan jawaban yang dilihatnya dari catatan yang sudah dipersiapakan. Catatan ini bisa berupa apa saja, buku-buku, atau catatan kecil lainnya.

Anak sekolah/mahasiswa yang menyontek biasanya menempati posisi yang ‘aman’ dari pengawas ujian. Biasanya di barisan belakang, atau yang terhalang oleh pengawas. Makanya, ada juga istilah yang cukup beken ‘posisi menentukan prestasi’. Istilah ini jangan-jangan merupakan metafora yang diambil dari pola kekuasaan dan jabatan di negeri kita, yang mana posisi jabatan seseorang sangat berpengaruh dan menentukan terhadap kekayaan pejabat tertentu.

Tentang hal yang satu ini, pernah seseorang menanyakan kepada saya tentang alasan tidak membeli atau mempunyai mobil. Yang bersangkutan membandingkan beberapa tetangga dan koleganya yang sama-sama menjadi pegawai pemerintah yang sudah berganti-ganti mobil. Dengan bijak saya mengatakan bahwa sejarah kehidupan seseorang tidaklah sama. Bisa jadi mereka memang sudah mapan dan boleh disebut kaya sebelum menjadi pegawai pemerintah. Karena, secara wajar gaji yang dapat dibawa pulang seorang pegawai pemerintah tidaklah memungkinkan seseorang sampai kepada gaya hidup bermobil. Okelah dalam tulisan ini saya tidak akan fokus pada hal ini. Lagian, rezeki kan bukan hanya dari gaji semata? Tuhan Maha-Pemberi-Rezeki.

Penyebab Menyontek

Banyak hal yang menyebabkan seseorang menyontek. Ini di antaranya:

1. Ingin berhasil tanpa usaha yang melelahkan.

Seseorang harus memahami, bahkan harus hafal bahan-bahan pelajaran yang akan diujikan. Seorang pemalas biasanya ada saja alasan untuk tidak belajar atau membaca buku-buku yang dijadikan rujukan pembuatan soal ujian. Mestiya, berbekal kajian-kajian psikologi memungkinkan seseorang dapat memahami bahan ajar dengan mudah. Belajar yang menyenangkan mestinya juga memungkinkan siswa dapat belajar dengna enjoy juga semua informasi langsung melekat pada ingatannya (lihat bahasan tentang lupa dan ingatan).

2. Ingin membahagiakan pihak lain.

Katakanlah, siswa yang menginginkan pihak lain atau orang tuanya tersenyum bahagia melihat anaknya berprestasi dengan digambarkan pada perolehan angka-angka yang fantastis dalam nilai rapornya. Karena kurang persiapan, malas, atau alasan lainnya, ia memakai cara-cara yang bertentangan dengan mainstream yakni dengan menyontek. Ia tak memedulikan cara ini sesuai dengan norma-norma yang ada atau tidak ada. Baginya, yang terpenting adalah bisa menjawab soal-soal ujian dengan mudah karena melihat sontekan dan nilainya bagus. Titik. Padahal, kebahagian sejati para orang tua dapat dipastikan adalah perolehan nilai ujian anaknya tinggi, memuaskan, dan diraih dengan cara-cara elegan dan bermartabat.

3. Malu tidak disebut berprestasi.

Mengapa harus malu ketika tidak berprestasi? Jikalau memang belum bisa berprestasi sebaiknya mengakui saja kondisi ini. Tidak usah menggunakan segala cara yang tidak halalsampai-sampai harus menggunakan cara pecundang. Prestasi itu bukan sesuatu yang bisa didapat dalam sekejap melalui kata-kata magic bim sala bim, tetapi harus diperjuangkan melalui ketekunan. Tubagus Wahyudi, pakar hipnotis dan public speaking terkenal, pernah mengemukakan bahwa salah satu cara untuk menguasai sensorik power adalah dengan tetap melakukan ketekunan. Ketekunan dalam bidang ilmu, hobi, penelitian, dll akan membuat dan mengantarkan seseorang menjadi pakar pada bidang tertentu tersebut. Bahkan, hobi yang ditekuni dapat menjadi sumber penghasilan dan sandaran hidup.

Jadi, agar berprestasi ya janganlah menyontek. Tetapi, jalankanlah ketekunan dengan tetap membaca buku, baik sebelum maupun setelah bahan ajar itu dipresentasikan oleh guru atau dosen.

4. Bahan yang diujikan tidak menarik.

Mengapa tidak menarik? Kalau dibandingkan dengan pepatah tidak ada orang yang bodoh di dunia ini melainkan malas, maka sebenarnya tidak ada ujian yang tidak menarik. Yang ada adalah seseorang yang tidak bisa menyikapi sesuatu dengan pandangan yang berbeda dari biasanya.

5. Sistem pengawasan ujian yang longgar.

Pengawasan yang longgar dapat memunculkan ide bagi para pecundang untuk menyontek. Sedangkan pengawasan ujian yang ekstra ketat juga memungkinkan peserta menjadi lebih stres menghadapi soal-soal ujian.

Menyontek dan Kasus Ujian Nasioanl

Kalau diperhatikan sejak Ujian Nasional sebagai faktor penentu kelulusan seorang siswa dari sekolah yang ditetapkan oleh pemerintah, terjadi banyak kasus yang mana guru menjadi ‘tim sukses’. Mereka seabagai pengawas ujian, bukannya mengawasi jalannya ujian agar berjalan tertib dan aman, tetapi malahan memberikan jawaban kepada para peserta. Antarpengawas terjadi pemahaman TST (tahu sama tahu). Mengapa itu mereka lakukan? Banyak pihak beralasan; agar siswanya lulus ujian, karena kalau tidak dibantu akan banyak yang tidak lulus. Akibatnya, reputasi sekolahnya pun bisa hancur. Lebih-lebih sekolah swasta yang kualitasnya biasa saja (standar) yang mana mati hidupnya sangat bergantung pada penerimaan jumlah siswanya.

Dalam kasus ini sebenarnya seperti melihat lingkaran setan. Karena, banyak pihak menyatakan guru ditekan oleh kepala sekolah. Sedangkan kepala sekolah mengaku ditekan oleh ketua yayasan atau atasan langsungnya, seperti kepala dinas pendidikan atau kepala kantor cabang departemen yang ada di kabupaten yang menangani pendidikan. Dalam kasus ini, menyontek justru terjadi secara massif, dan bahkan ‘semi legal’, karena justru disponsori oleh para pengawas itu sendiri.

Ketika standar nilai yang ditetapkan pemerintah terlalu tinggi dijadikan sebagai alasan dan pembenaran memberikan sontekan—yang dalam pandangan saya standar tersebut masih terlalu rendah—maka mestinya standar itu ditetapkan lebih tinggi lagi. Katakanlah standar nilai dengan skala 0-10, maka yang lulus ujian adalah mereka yang mendapatkan nilai 75 persen atau 7,5. Seandainya mereka menganggap musthail, pertanyaan yang mestinya ditujukan pada pengelola sekolah adalah, “Selama ini mereka ngapain aja? Mengapa siswa belajar tiga tahun sampai tidak siap menghadapi soal ujian nasional? Yang salah siapa? Apa gurunya? Apa bahan ajarnya? Apa metodenya? Atau, sarananya?

Dan, janganlah menyalahkan siswa karena siswa datang ke sekolah adalah untuk belajar. Belajar yang menurut KKBI adalah proses perubahan tingkah laku, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Dan, janganlah pula menyalahkan soalnya yang terlalu tinggi. Dalam sebuah kesempatan pejabat Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional pernah menyakatan bahwa soal matematika SD kelas 6 di Indonesia adalah yang paling mudah se-ASEAN. Bagaimana jika dibandingkan dengan kawasan lain? Bagaimana bila dibandingkan seasia? Sedunia? Wajarlah demikian, sehingga sampai-sampai Human Development Index (HDI) Indonesia merupakan yang paling rendah. Bahkan, katanya berada pada titik nadir, yaitu lebih rendah daripada Vietnam, negara yang belum terlalu lama bangkit dari sisa-sisa reruntuhan perang bersenjata melawan hegemoni Amerika Serikat (AS).

Akibat Menyontek

Bagi yang menyontek ketahuan oleh pengawas dapat dipastikan bagaimana kisah selanjutnya. Bisa dikeluarkan dari ruang ujian dan menanggung malu, dan bahkan lebih fatal lagi adalah adalah didiskualifikasi dan dinyatakan tidak lulus ujian. Hal ini pernah terjadi pada siswa di sebuah SLTA favorit di Jakarta Timur. Ia adalah siswa yang pintar dan rajin. Ia dikeluarkan dari ruang ujian bahkan tidak diluluskan bukan karena ia menyontek. Tetapi, yang ia lakukan adalah memberi sontekan pada yang lainnya. Bahkan, mestinya guru sebagai pengawas yang memberikan sontekan pada siswanya mestinya jugadikeluarkan dari jabatan atau profesinya, karena ia kontraproduktif dengan usaha-usaha sebelumnya, yaitu menanamkan banyak nilai dan norma bahwa siswa harus memegang kejujuran sekalipun langit akan runtuh.

Akibat lebih jauh ketika seseorang sudah lulus dari lembaga pendidikan maka ia tidak bisa menghadapi persoalan kehidupannya. Mengapa banyak produk sekolah yang menganggur? Jangan-jangan, itu karena penamanan nilai di sekolah mengalami kegagalan.

Menyontek dan Kreativitas

Kalau Anda menginginkan keberhasilan, hal ini bisa dilakukan dengan cara menyontek secara all out. Apa saja dunia yang Anda geluti? Katakalah seorang petani, ia bisa melakukan hal yang sama dengan petani lainnya ketika hasil panennya meningkat. Seorang pemusik juga demikian adanya. Sering kali seseorang yang bergelut di bidang musik diklaim sebagai plagiat gara-gara nada ciptaannya mirip dengan karya pemusik lainnya, baik di dalam maupun luar negeri. Ada juga yang berkilah bahwa, “Ya, wajar saja wong nada itu cuma tujuh, dari do dampai si. Bagi seorang pengusaha juga bisa demikian. Bila ada bidang baru yang boleh dibilang sukses dan masih sepi pesaingnya, bisa disontek. Termasuk acara-acara televisi kita juga banyak yang menyontek acara serupa di belahan dunia lain.

Sedangkan bagi pelajar atau mahasiswa, menyonteklah secara kreatif. Artinya, jangan menyontek pada saat ujian berlangsung. Agar ujian dapat dijalankan dengan sukses, bacalah setiap bahan pelajaran atau buku yang dijadikan rujukan sebanyak tujuh kali. Karena, sebelum dibaca sebanyak tujuh kali, bahan rujukan masih berada di otak dan belum turun ke dada.

Hal ini sesuai dengan pepatah Arab yang menyatakan al ilmu fi al shudur la fi shutur, ilmu itu ada di dada bukan di lembar-lembar kertas. Artinya, mesti ada proses internalisasi dari apa-apa saja yang menjadi kajian seseorang agar tetap melekat pada ingatan berjangka lama (long term memory).

Andrias Harefa pernah menyatakan bahwa kunci seseorang agar kreatif adalah dengan 3 N: niteni, niroke, nambahi. Atau, dalam bahasa lain yakni mencirikan, menirukan, dan menambahkan. Banyak kasus belajar justru dipahami sebagai proses peniruan. Contoh, anak kecil belajar berjalan, belajar berbicara, atau belajar apa saja adalah menirukan gerakan orang dewasa di sekelilinginya, terutama orang tuanya.

Artinya, sebelum mempunyai ide, langkah pertama bisa menirukan apa saja yang ada di sekelilingi kita. Sebagaimana halnya belajar menjahit baju. Pola dasar baju di mana saja dan kapan saja kan sama? Ada lengan, ada kerah, ada kancing, ada saku. Selebihnya adalah penambahan-penambahan di sana-sini akibat yang ditimbulkan dari proses kreativitas.

Jadi, menyontek di ruang ujian adalah tindakan yang tidak bijak, konyol, sembrono, serta tidak menghargai karunia Allah. Tuhan adalah Sang Maha-Pemberi akal pikiran yang luar biasa kepada setiap manusia. Menyontek sebagai bahan permulaan kreativitas dimungkinkan, karena bagaimanapun tidak ada yang original di dunia ini. Yang terjadi adalah proses kreatif yang terus-menerus untuk menciptakan produk, baik barang atau jasa, maupun produk kreatif lainnya.[tan]

* Tanenji lahir dan dibesarkan di Brebes, Jawa-Tengah, pada 12 Juli 1972. Ia menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan kini menjadi dosen tetap pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah serta dosen tidak tetap pada tiga perguruan tinggi swasta di Jakarta-Timur, Depok, dan Bogor. Sewaktu kuliah, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi. Tanenji juga aktif menjadi peneliti dan trainer pada Center for Teaching and Learning Development (CTLD), sebuah lembaga semi otonom di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang mengkhususkan pada pengembangan pembelajaran baik pada sekolah dasar dan menengah, serta perguruan tinggi. Ia mengaku terinspirasi pada Andrias Harefa, dan bercita-cita menjadi WTS (Writer, Trainer, and Speaker) yang sukses, andal, dan terkenal. Semboyannya,Tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang berani mencobanya’. Tanenji dapat dihubungi melalui e-mail: tanenji[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.3/10 (46 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +23 (from 39 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox