Masa Depan Anak dalam ‘Mindset’ Orang Tua

sup-3

Oleh : Supandi, s.pd. Mm

“Sikap hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh prinsip hidup yang dianutnya”

Masih melekat di dalam pikiran saya sebuah keyakinan yang begitu hebat yang pernah dilontarkan oleh ibu saya empat puluhan tahun yang lalu. Sebuah keyakinan yang mengobarkan energi positif terhadap diri beliau yang kemudian saya rekam dalam pikiran bawah sadar saya sebagai salah satu warisan yang sangat berharga, sekaligus sebagai ilmu dari sekolah kehidupan.

Salah satu nasihat yang mengandung makna dan keyakinan yang sangat dalam yang pernah beliau sampaikan kepada kami kurang lebihnya berbunyi demikian, “Pokoke kowe kabeh kudu pada sekolah. Senajan wong tuamu wong sing ora duwe, tapi Gusti Allah sugih. Aku yakin kowe kabeh bisa sekolah. Aku ora kepengin anak-anakku ngemben pada sengsara uripe”. Yang artinya, pokoknya kamu semua harus tetap sekolah. Walaupun orang tuamu orang yang tidak punya, tetapi Allah SWT Maha Kaya sehingga saya yakin kalian semua bisa sekolah. Saya tidak ingin anak-anakku hidup sengsara.

Tentunya bentuk keyakinan di atas beliau lontarkan tidak didorong oleh sekadar komitmen tanpa dasar. Ada semacam emosi positif yang membakar tekad di dalam dirinya. Tekad yang terhimpun di dalam pikiran super (super mind) melalui sebuah proses perpaduan antara beberapa unsur kepentingan; seperti rasa kasih sayang kepada anak, rasa ingin membahagiakan anak, dan keinginan agar anak-anaknya hidup sukses. Unsur-unsur kepentingan tersebut kemudian bereaksi dengan nilai-nilai spiritual sehingga tersimpul dalam sebuah keyakinan.

Keyakinan merupakan keadaan pikiran yang bisa dirangsang atau diciptakan oleh perintah peneguhan secara terus menerus sampai meresap ke dalam pikiran bawah sadar. Keyakinan adalah sebuah keadaan pikiran yang bisa dikembangkan sesuai dengan kemauan kita, melalui cara pengulangan perintah kepada pikiran bawah sadar dengan segenap perasaan emosi positif, sehingga pikiran bawah sadar akan menerimanya, dan digunakan sebagai landasan tindakan untuk menjadikannya sebuah kenyataan (Wuryanano: 2004).

Keyakinan akan memberikan kehidupan, kekuatan, dan tindakan kepada impuls pemikiran kita. Keyakinan akan memberikan kekuatan untuk mengubah getaran pemikiran biasa, dari pikiran manusia yang serba terbatas menjadi suatu padanan spiritual yang bersifat tanpa batas.

Pemikiran spiritual tanpa batas muncul ketika terjadi dominasi suara Tuhan yang melekat di hati seseorang. Adapun suara Tuhan dihasilkan dari hasil meditasi melalui pengamalan-pengamalan yang berkaitan dengan proses pendekatan diri kepadaNya. Proses yang mengarah kepada upaya pendekatan diri kepada Tuhan itulah yang akan membentuk keyakinan seseorang. Pada gilirannya keyakinan tersebut akan berjalan sinergis dengan prinsip hidup.

Contoh yang saya ilustrasikan tentang keyakinan dan prinsip hidup ibu saya di atas merupakan salah satu dari sekian banyak prinsip hidup dan keyakinan yang dimiliki oleh orang-orang pada umumnya, termasuk mungkin diri Anda.

Ada satu sisi yang sangat penting Anda sikapi dalam memegang teguh prinsip hidup Anda yaitu visi hidup yang didasarkan atas prinsip-prinsip kebenaran. Dengan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) yang Anda miliki, Anda harus bisa menentukan prinsip hidup yang sesuai dengan fitrah manusia; yaitu fitrah kebenaran, fitrah yang didukung penuh oleh ridlo Tuhan yang bisa membawa diri dan keluarga menuju ke arah kebahagiaan hakiki, serta memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Prinsip hidup semacam ini harus menjadi pijakan dasar untuk menentukan kebijakan dalam menentukan sikap hidup.

Prinsip hidup yang bersumber dari sesuatu yang tidak fitrah umumnya akan berakhir dengan kegagalan—baik kegagalan lahiriah maupun kegagalan batiniah. Dunia telah membuktikan bahwa prinsip hidup yang bertentangan dengan suara hati, terbukti hanya mengakibatkan kesengsaraan atau bahkan kehancuran. Terlebih di jaman modern sekarang ini. The power of visi hidup, prinsip hidup, dan sikap hidup yang didasarkan pada nilai spiritual harus benar-benar dipegang teguh demi untuk mencapai tujuan hidup jangka panjang.

Mengarahkan masa depan anak merupakan salah satu bentuk pencapaian tujuan jangka panjang. Bagaimana bentuk masa depan anak di masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh visi, prinsip, dan sikap hidup orang tuanya. Orang tua harus jeli dalam menyeting masa depan anak. Hindari cara-cara yang dewasa ini sering menjangkiti kehidupan manusia-manusia modern yaitu adanya kecenderungan manusia tertarik kepada hal-hal yang serba instan. Ingin memeroleh kekayaan dengan cepat, ingin meraih popularitas dengan cepat, meraih kekuasaan dengan mudah dan cepat, dan lain sebagainya.

Apabila konsep ini diperkenalkan dan dipertontonkan kepada anak dalam usahanya meraih masa depan, maka akan berakibat pada pembentukan pribadi yang rapuh. Mereka akan hidup tanpa digerakkan oleh visi hidup yang agung yang berorientasi pada nilai-nilai spiritual bagi kehidupan yang jauh ke depan. Mereka bagaikan akan mengarungi lautan luas tetapi tidak mengenal ke mana seharusnya perahu diarahkan. Mereka nantinya tidak memiliki daya atau powerless dalam bekerja dan tidak memiliki semangat juang yang tinggi dalam berusaha.

Fenomena di atas tentu pada saatnya nanti akan menjadi sebuah realita yang tidak kita harapkan. Semua orang tua sudah barang tentu mendambakan anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang tangguh, sholeh/sholehah, memiliki prinsip-prinsip kebenaran yang kokoh, serta sukses dunia akhirat. Jalan menuju masa depan atau cita-cita anak terbuka lebar. Walaupun kerapkali terhalang oleh tembok yang begitu kuat, namun dengan keyakinan dan langkah pasti tembok-tembok tersebut akan bisa kita lewati.[sup]

* Supandi, S.Pd. MM di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.3/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +8 (from 8 votes)

Membangun Kepribadian Melalui “Internal Shift Control”

supOleh: Supandi, S.Pd, MM*

Barangsiapa bersyukur kepadaKu maka akan Aku tambah nikmatnya,

dan barangsiapa ingkar maka sesungguhnya adzabku sangat pedih.”

(QS. Ibrahim : 7 )

Kompetisi dalam meraih sebuah cita-cita sering kali diwarnai dengan adanya persaingan yang sungguh ketat. Hal ini terjadi hampir di semua moment penting. Seorang siswa lulusan SMA pada tahun pelajaran 2008/2009 yang hendak mengambil jurusan kedokteran UGM, dia harus bersaing dengan sekitar 120 siswa. Karena, dari hampir 12.000 pendaftar hanya tersedia kursi sebanyak 100 kursi. Pada awalnya, oleh sebagian masyarakat profesi guru dianggap sebagai sebuah pekerjaan yang kurang menjanjikan. Namun, dewasa ini profesi guru menjadi sebuah ajang kompetisi yang cukup ketat..

Hampir semua orang mengakui dahsyatnya sebuah upaya spiritual dalam rangka mewujudkan cita-citanya. Sebuah energi tanpa batas mereka hadirkan ke dalam relung hati seseorang. Energi tanpa batas mereka hadirkan melalui rangkaian doa dan usaha maksimal dengan keyakinan penuh.

Banyak orang dan barangkali termasuk diri Anda sudah bisa merasakan jawaban dari Tuhan atas upaya dan doa yang telah mereka lakukan. Jawaban dari Tuhan yang dimaksud adalah terkabulnya cita-cita yang didambakannya.

Ada dua keuntungan yang bisa diambil dari serangkaian upaya spiritual pascadikabulkannya doa. Pertama, perasaan puji syukur kepada Tuhan atas anugerah yang telah Dia berikan yang tentunya sangat berharga bagi kehidupan jangka panjang. Kedua, semakin menebalnya keyakinan akan keberadaan Tuhan dengan sifat-sifat-Nya. Dua di antara 99 sifat Tuhan YME (Asmaul Khusna) adalah Ar-rahman dan Ar-rahim (Mahapengasih dan Mahapenyayang).

Efek dari terkabulnya suatu doa sangat mungkin akan berimbas pada semakin tebalnya keimanan seseorang. Tak dapat dimungkiri bahwa tidak ada kekuatan hakiki yang bisa manusia dapatkan kecuali yang datangnya dari Tuhan. Kalaupun ada, itu hanya bersiafat semu. Sehingga, ketika Anda berhasil menggabungkan antara usaha dengan doa secara integrated maka perpaduan antara kedua unsur tersebut akan membentuk sebuah kekuatan super mind. Dengan super mind (pikiran super) manusia bisa melakukan apapun sesuai dengan positive thinking (pikiran positif), seperti keinginan kita, meraih cita-cita kita, menjadi lebih baik dan lebih bahagia (Wuryanano: 2006).

Yang menjadi bahan renungan selanjutnya adalah, “Sudahkah kita menyadari bahwa kondisi nyaman berupa nikmatnya iman akan senantiasa berjalan mulus bahkan meningkat?” Sudah bisakah kita mempertahankan kedekatan dengan Tuhan sebagaimana yang sudah kita bangun selama ini? Realitas yang kita jumpai dalam kehidupan ini tidaklah demikian adanya. Stabilitas keimanan seseorang sering kali digoncang oleh berbagai cobaan, ujian atau iming-iming.

Banyak orang gagal mempertahankan stabilitas keimanan pascatercapaianya keinginan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Satu di antara faktor yang paling popular dan sering menghiasi media massa adalah korupsi. Tentunya Anda dan saya tidak menginginkan hal ini terjadi pada diri ini. Jalinan cinta kasih dengan Sang Khalik jangan sampai pudar diterpa oleh embusan negative thinking (pikiran negative). Bukankah kita tidak mau dijauhi oleh Tuhan? Ingat syair lagu Tuhan milik Bimbo “Aku jauh Engkau jauh, aku dekat Engaku dekat. Hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa berpadu”.

Secara implisit, Erbe Sentanu dalam bukunya Quantum Ikhlas mengingatkan kepada kita akan adanya pergeseran posisi pandang di dalam diri seseorang (internal shift) terkait dengan kondisi keimanan seseorang. Kondisi keimanan seseorang ataupun siapa pun orangnya dalam perjalanannya akan mengalami pergeseran. Dalam bahasa yang lebih ekstrim dapat dikatakan bahwa kondisi keimanan seseorang akan mengalami pasang surut bak air laut.

Sebagai orang bijak tentunya Anda minimal akan mempertahankan posisi seperti pada saat Anda berdoa untuk memohon agar cita-citanya tercapai. Bahkan, lebih beruntung lagi jika internal shif Anda meningkat. Jika hal ini terjadi berarti Anda telah berhasil membangun sebuah kepribadian yang baik. Kepribadian yang baik diawali dari prinsip yang kuat. Anda pun akan menjadi manusia yang kuat. Amin ya Rabbal’alamiin.[sup]

* Supandi lahir di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.1/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Ibuku Luar Biasa

supOleh: Supandi*

Ketika saya membaca buku-buku tentang ESQ, NLP, Berpikir besar, kekuatan God Spot, optimisme, keyakinan, dan sejenisnya, muncul pengakuan dalam diri saya tentang sesuatu yang telah dilakukan oleh ibu saya. Kalau dalam metode pengajaran dapat saya katakan seperti praktik pemberlakuan metode induksi oleh guru di kelas. Sebuah rentetan perjuangan panjang dari seorang perempuan single parent yang harus membesarkan lima anaknya hingga dewasa. Setelah sekian tahun merenungi apa yang telah beliau lakukan baru saat ini saya bisa menyimpulkan teori-teori tentang berpikir besar dan kekuatan tanpa batas berupa God Spot (suara Tuhan) yang didengungkan oleh para pakar memang benar adanya. Dan, ibu saya telah membuktikannya.

Back to record. Masa kecil adalah masa indah yang senantiasa terkenang sepanjang masa. Masa bermain dan masa tanpa beban. Bermain layang-layang adalah salah satu jenis hiburan yang cukup menyenangkan bagi anak. Bermain layang-layang di pinggir sungai merupakan kebiasaan saya di waktu kecil. Di tanggul berumput itu saya bisa menerbangkan layang-layang dengan mudah karena penuh dengan embusan angin.

Perasaan riang lebih mendominasi hati saya saat itu. Di ujung tanggul adalah jalan raya yang merupakan jalan utama Cilacap–Yogya/Semarang. Di bawah panas matahari yang sangat menyengat berjalan seorang wanita setengah baya menggendong dagangannya berupa berbagai jenis pakaian mutu rendah. Beliau bermaksud hendak menjajakan dagangannya ke desa-desa sekitar.

Perasaan riang yang tadinya mendominasi hati saya berbalik seratus delapan puluh derajat. Seketika perasaan itu berubah menjadi perasaan haru, tidak tega, dan berontak terhadap pemandangan yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Dengan sedikit tercengang saya perhatikan dia ternyata benar-benar ibu saya. Berjalan di bawah terik mentari dengan menggendong dagangannya.

Saya panggil beliau sekuat tenaga tetapi jerak terlalu jauh dan embusan angin lebih kuat dibanding suara saya. Akhirnya dengan ketidakberdayaan yang ada, saya biarkan beliau melakukan jihad demi sebuah kesinambungan hidup.

Sebuah pesan moral yang syarat dengan nilai spiritual quotion, thinking big, maupun keyakinan yang begitu kuat saya tangkap dari sepenggal kalimat yang beliau lontarkan dari mulut seorang ibu yang notabene tidak lulus Sekolah Dasar, namun ternyata beliau yakin benar tentang kekuatan-kekuatan tanpa batas yang saat ini banyak dilontarkan oleh para pakar SQ, thinking big, NLP, dan sejenisnya. Kalimat yang dia lontarkan keluar saat saya menyampaikan unek-unek atau isi hati saya tentang ketidaktegaan saya melihat pemandangan sebagaimana yang saya sampaikan di atas.

Bu, saya mulai besok tidak sekolah saja, ya?! Saya tidak rela dan tidak tega kalau Ibu harus berjalan kepanasan demi mencari nafkah untuk keluarga,” demikian komplain yang saya sampaikan kepada beliau.

Bagaimanakah sepenggal kalimat yang beliau katakan kepada saya? Bunyinya demikian, “Pokoke kowe kabeh kudu pada sekolah terus. Gusti Allah kuwe Maha Sugih. Aku yakin bisa. Aku ora kepengin uripmu ngemben pada sengsara.” Pokoknya kamu semua harus sekolah dan terus sekolah. Tuhan itu Mahakaya. Kalian pasti bisa sekolah. Saya tidak ingin hidupmu sengsara kelak.

Allahu Akbar, thinking big (berpikir besar) yang beliau yakini kebenarannya saat ini benar-benar menjadi kenyataan. Beliau telah membuktikan akan dahsyatnya sebuah keyakinan. Dengan keperkasaan dan kemuliaan beliau sebagai seorang single parent kami bisa merasakannya sekarang yaitu hidup relatif layak.

Allahu Akbar, saya pun bisa mengatakan bahwa saat ini beliau benar-benar menjadi manusia yang sangat mulia karena saat saya tulis artikel ini beliau tengah dinanti dan akan diambut kehadirannya oleh ribuan malaikat di tanah suci Mekah sebagai tamu Allah SWT. Allahu Akbar.

Mohon maaf kepada Anda yang kebetulan membaca tulisan saya ini. Semoga Tuhan memaafkan saya manakala apresiasi saya kepada ibu saya ini dihinggapi salah satu penyakit hati yaitu riya. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kita. Amin.[sup]

* Supandi lahir di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.3/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 6 votes)

Mengapa Orang yang Berilmu Rendah Hati?

supOleh: Supandi*

Rendah hati merupakan sikap yang memandang diri dan orang lain masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Ketika melihat dirinya, maka dia akan merasa bahwa dirinya masih perlu belajar dan belajar. Mereka berkeyakinan bahwa semakin banyak belajar maka disana sini segera ditemukan berbagai kekurangan yang ada dalam dirinya.

Dengan demikian, mereka tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa mereka tidak perlu banyak belajar. Plato, seorang filsuf berkebangsaan Yunani mengatakan bahwa “Kebohongan yang paling buruk adalah membohongi diri sendiri bahwa dirinya tidak perlu belajar.” Pernyataan Plato mengindikasikan adanya begitu luasnya ilmu pengetahuan yang ditebarkan oleh Tuhan ke dunia. Dari sekian banyak ilmu yang telah diturunkan oleh Tuhan baru sebagian kecil saja yang berhasil dikuasai oleh manusia. Manusia harus senantiasa mencari dan terus mencari walupun tidak mungkin semua ilmu dari Tuhan bisa dikuasai oleh manusia. Sudah ada semacam “porsi” tertentu.

Dengan adanya porsi tersebut maka fenomena yang ada dapat kita jumpai seseorang yang unggul di bidang tertentu, tetapi dia lemah di bidang lain. Seorang guru memiliki keunggulan dalam hal didaktik metodik, mahir dalam hal membimbing siswa untuk belajar, tetapi dia kurang di bidang perbengkelan. Seorang entrepreanur mahir dalam bisnis, tetapi dia tidak begitu menguasai bidang kinestetik. Orang tidak mungkin mampu menguasai ke delapan kecerdasan sekaligus, yakni kecerdasan linguistik, kecerdasan matematika, kecerdasan visual/spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan intuisi. Seseorang bisa saja memiliki lebih dari satu kecerdasan tetapi tidak sampai menjangkau ke semua kecerdasan.

Hal inilah yang sering membedakan antara orang yang banyak ilmu dengan orang yang ilmunya pas-pasan. Kesadaran yang demikian yang sering kali mendorong orang yang berilmu untuk bersikap rendah hati. Dalam Bahasa Inggris, rendah hati sama dengan low profile. Sedangkan dalam agama Islam, rendah hati dikenal dengan istilah tawadu’.

Thomas Alfa Eddison mensinyalir adanya tiga kelompok manusia berkaitan dengan keilmuan seseorang. Di antara ketiga kelompok itu adalah: Kelompok orang yang tidak mau berpikir (sebanyak 85 persen), kelompok orang yang merasa bahwa dirinya telah berpikir (sebanyak 10 persen), dan kelompok orang yang mau berpikir (sebanyak 5 persen).

Anda barangkali sudah bisa menduga, termasuk ke dalam kelompok yang mana ketika Anda menjumpai ada orang yang “berjalan dengan kesombongan? Iya, saya pun sependapat dengan Anda bahwa orang yang sombong sangat mungkin didominasi oleh mereka yang termasuk dalam kategori kelompok orang yang 10 persen, yaitu yang merasa bahwa dirinya sudah belajar, sudah merasa tahu segalanya, orang lain tidak tahu apa-apa, pikirnya.

Hal ini berbeda dengan orang yang berilmu (ilmuwan). Ketika memandang orang lain, maka dengan ilmu yang dia miliki, dia berkeyakinan bahwa orang lain pada hakikatnya memiliki kelebihan, kecerdasan tertentu, maupun potensi diri yang luar biasa. Orang yang berilmu juga memiliki keyakinan bahwa manusia adalah human relation, sehingga menyadari benar bahwa dia tidak bisa hidup sendiri. Dia menyadari betul bahwa pada hakikatnya dalam mendapatkan kesuksesannya dia membutuhkan kehadiran orang lain. Bahkan, tidak hanya ketika hidup saja, tetapi juga ketika mati diapun membutuhkan orang lain untuk mengurus jasadnya. Orang yang berilmu juga tahu bahwa untuk menjadi orang yang baik maka hidupnya harus bermanfaat bagi orang lain. Dari pemahaman yang demikian, saya percaya bahwa Anda akan dapat menemukan banyaknya orang berilmu yang memiliki sikap rendah hati.

Rendah hati tidak akan menurunkan prestise seseorang, tidak akan menurunkan wibawa maupun harga diri seseorang. Saya sangat terkesan dengan salah seorang pejabat di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional Jawa Tengah di Semarang. Dia adalah Kepala LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu pendidikan) Jawa Tengah, Makhali M.M.. Kesan itu saya tangkap saat pembukaan dan penutupan ToT (Training of Trainer) Guru Pemandu MGMP.

Pada acara sambutan peserta ToT, sebagaimana adat orang Timur, maka salah seorang rekan dari peserta ToT akan menyampaikan sambutannya, sebagaimana biasa terlebih dahulu memberikan penghormatan kepada Kepala LPMP. Pada saat memberikan penghormatan itu dengan menganggukkan kepala, apa yang dia lakukan? Ternyata anggukan kepala dari rekan saya tersebut sudah didahului oleh Kepala LPMP dengan mendahului berdiri dan mendahului menganggukkan kepala sembari mempersilakan dia menuju podium. Tak ada sedikit pun tersirat rasa tinggi hati. Tetapi, sebaliknya penuh dengan sikap rendah hati. Terpancar dari aura wajahnya seakan menyiratkan bahwa hanya Tuhan yang berhak untuk sombong. Manusia hanya sosok mahluk yang tingkat kemuliannya masih berupa teka-teki. Di samping itu sikap ngewongke orang lain juga terlihat sangat jelas.

Akhirnya, Anda dipersilahkan untuk komplain atas tulisan ini. Karena, memang tulisan ini tidak memiliki akuntabilitas keilmuan yang tinggi. Tulisan ini hanya merupakan apresiasi saja terhadap sebuah sikap rendah hati dari seorang ilmuan. Ada satu aspek yang tidak disinggung dalam argumentasi ini yaitu aspek “watak bawaan” sehingga minim dengan kebenaran. Fenomena yang terjadi dalam kehidupan ini, tentunya ada saja orang yang berilmu tetapi tinggi hati, ada juga orang biasa tetapi memiliki sikap rendah hati. Demikian pula ada orang yang berilmu tapi rendah hati, ada pula orang biasa yang tinggi hati.[sup]

* Supandi lahir di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 6 votes)

Buktikan Profesionalitas Guru Melalui Menulis

supOleh: Supandi*

“Apa pun yang ingin Anda lakukan, mulailah.

Keberanian memulai sesuatu

memiliki kekuatan yang luar biasa untuk melakukan sesuatu.”

~ Goethe

Pada dasarnya guru adalah penulis sejati. Kesimpulan ini saya ambil dari beberapa event/kegiatan guru, baik yang bersifat resmi maupun yang hanya berupa obrolan santai di sela-sela tugas harian. Guru adalah seorang penulis yang memiliki banyak inspirasi. Pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh guru lebih bersifat ilmiah sehingga tulisan-tulisannya menarik untuk ditangkap dan dicerna.

Saya menganggap kesimpulan ini tidak berlebihan karena secara proporsional apa yang disampaikan guru lebih ke arah ilmiah. Sebagai seorang profesioanal apa yang disampaikan guru, terutama di hadapan para siswa, adalah memiliki akuntabilitas keilmuan yang tinggi.

Di luar kelas ternyata guru juga merupakan sosok penulis andal. Ide-ide yang dilontarkan begitu berisi dan penuh makna, enak untuk dicermati dan diresapi. Terus terang bukan karena saya seorang guru sehingga mengagung-agungkan rekan-rekan guru. Saya begitu terkesan ketika guru tampil sebagai pembina upacara maupun pada acara-acara tertentu seperti rapat, diskusi, workshop, seminar, dll. Materi yang mereka sampaikan hampir semua bermutu dan mengandung unsur keilmuan yang cukup dalam.

Tidak hanya itu, guru ternyata juga kritis dalam menganalisis peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat, mulai dari isu pemilu legislatif, pilpres, pilkada, kurikulum, birokrasi pendidikan, sertifikasi guru, anggaran pendidikan, ujian nasional, minat belajar anak. Bahkan sampai ke hal-hal yang berada di luar bidangnya, seperti merek mobil, harga mobil bekas, spare part mobil, peternakan, pertanian, dan teknologi informasi. Tidak sedikit masukan yang saya dapatkan dari hasil analisis , komentar, maupun pengalaman mereka.

Penulis yang Menulis

To be a writer who writes (menjadi penulis yang mau menulis). Bisa dibayangkan seandainya ilmu dan pengalaman para guru dituangkan ke dalam beberapa lembar kertas, maka bisa dipastikan bahwa ini akan memberikan kontribusi yang sangat bermanfaat bagi orang lain. Karena melalui tulisan maka penyebaran pesan akan semakin luas dibanding apabila hanya dilafalkan saja. Dari sini peran guru menjadi meluas, tidak sekadar menjadi guru di depan murid-muridnya. Melalui hasil karya tulisannya peran guru akan semakin meluas, yaitu menjadi guru bagi semua (the teacher for all). Sekali menulis, akan bermunculan murid-murid baru di luar kelas, dan akan ada sejumlah orang yang bisa memperoleh transformasi ilmu melalui tulisan yang ditulis oleh guru.

Lasa Hs, seorang sarjana alumnus Fakultas Sastra UGM dan alumnus Pascasarjana di bidang manajemen perpustakaan di perguruan tinggi yang sama, mengatakan bahwa pada dasarnya menulis adalah suatu kegiatan yang memiliki kesamaan dengan ngomong. Keduanya sama-sama menyampaikan ide dan gagasan.

Demikian pula dari hasil konsultasi saya dengan beberapa penulis, seperti Ade Maman Suherman (seorang penulis dan dosen FH Unsoed), dan Eni Kusuma (seorang mantan TKW yang sekarang menjadi penulis buku bestseller), ternyata mereka memiliki pendapat yang sama dengan Lasa Hs. Mereka memberi masukan kepada saya, “Pokoknya tulis saja apa yang ada di kepala Anda sebagaimana Anda berbicara.” Langkah berikutnya cetaklah hasil tulisan tersebut, baca dan perbaiki manakala masih ada rangkaian kalimat yang kurang bagus.

Konsep menulis yang dilontarkan oleh para penulis bestseller sebagaimana yang saya sebutkan di atas terkesan sangat sederhana. “Pokoknya tulis saja apa yang ada di kepala Anda”, demikian pesan yang bisa saya rekam di kepala saya. Konsep inilah yang selalu menggoda saya untuk terus menulis.

Dua Telinga versus Satu Mulut

“Dua telinga versus satu mulut” mengandung makna bahwa dalam melakukan komunikasi dengan orang lain sebaiknya frekuensi mendengarkan lebih banyak dibanding frekuensi berbicara. Fenomena di masyarakat yang terjadi; biasanya orang cenderung lebih suka bercerita daripada mendengar. Kita sering menjumpai sekelompok ibu yang sedang saling curhat. Mereka saling berebut menceritakan apa yang ada di dalam pikirannya. Masing-masing dari ibu-ibu itu bernafsu sekali untuk bisa menceritakan pengalamannya. Sementara, ibu-ibu yang lain juga demikian sehingga yang terjadi adalah saling berebut cerita.

Berkaitan dengan kegiatan menulis sebaiknya kita menyadari sebuah filosofi tentang “dua telinga satu mulut”. Filosofi ini mengandung makna yang sangat dalam bahwa kita sebaiknya lebih banyak mendengarkan argumen orang ketimbang berbicara, karena jumlah telinga kita lebih banyak daripada mulut. Dengan lebih banyak mendengarkan maka kita lebih banyak mendapat keuntungan yaitu berupa ilmu, wawasan, maupun pengalaman.

Kegiatan mendengar bisa dilakukan tidak hanya dari ucapan seseorang. Kegiatan mendengar juga bisa dilakukan dengan cara mendengar dari buku. Tentu saja yang dimaksud adalah membaca, baik itu membaca buku, referensi, majalah, koran, artikel, ataupun sumber yang lain.

Mengapa harus sering mendengar dan membaca? Tentu saja karena melalui kedua kegiatan tersebut maka di otak kita akan terekam lebih banyak ilmu, wawasan, ide, maupun gagasan. Semakin banyak rekaman di otak maka akan lebih siap tempurlah kita karena persediaan amunisi untuk menulis menjadi lengkap.

Untuk mem-back up karya saya dalam menulis buku, saya selalu melakukan konsultasi dengan para penulis bestseller di negeri ini sebagai upaya memperoleh lebih banyak amunisi. “Untuk menjadi orang sukses maka Anda harus bergaul dengan orang sukses, untuk menjadi orang biasa maka sering-sering bergaul dengan orang-orang yang biasa-biasa saja. Demikian pula untuk menjadi orang yang gagal maka bergaulah dengan orang-orang yang gagal, yang hidupnya semaunya sendiri,demikian pesan yang disampaikan Dr Agung Praptapa kepada kami di sela-sela kegiatan perkuliahan di program pascasarjana MM Unsoed.

Apa yang Sebaiknya Ditulis oleh Guru?

Sesuai dengan profesinya sebagai orang yang bertugas mencerdaskan anak-anak bangsa, karya tulisan guru sebaiknya lebih menitiberatkan kepada upaya peningkatan hasil belajar siswa ataupun yang berkaitan dengan upaya peningkatan profesionalisme guru. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa seorang guru juga bisa menulis karya-karya hasil gagasannya di luar bentuk-bentuk tulisan seperti yang disebutkan di atas. Tidak salah kalau guru ikut memberi warna di toko buku melalui hasil karyanya berupa buku baik fiksi maupun nonfiksi.

Pada prinsipnya, untuk meningkatkan profesionalitas guru, ada dua tuntutan kegiatan guru yang hendaknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Dua kegiatan tersebut adalah melaksanakan tugas profesi dan mengembangkan mutu profesi. Melaksanakan tugas profesi meliputi mengajar, membimbing siswa, menjadi wali kelas, dll. Sedangkan yang berkaitan dengan upaya mengembangkan profesi dapat dilakukan melalui menulis diktat, menyajikan artikel ilmiah popular, menyajikan makalah seminar, menyusun buku/modul, membuat karya seni, menyusun tinjauan/gagasan, dan menyusun laporan penelitian. Demikian pula tidak menutup kemungkinan, guru juga bisa menjadi penulis terkenal dengan menulis buku, baik buku fiksi maupun nonfiksi.

Gagal dan Sukses Bisa Jadi Milik Semua Orang

Hambatan dan tantangan adalah sahabat orang sukses. Demikian pula kegagalan. Orang sukses justru sering gagal. Tingkat kegagalan kita memasukkan bola ke gawang lawan lebih sedikit dibandingkan dengan David Beckham. Jadi, David Beckam lebih banyak gagalnya dari pada kita. Mengapa? Karena kita tidak pernah bermain sepak bola, dan kalaupun bermain sepak bola termasuk orang yang tidak diperhitungkan. Sedangkan David Beckham bermain sepak bola hampir setiap hari sehingga dia mencoba memasukkan bola ke gawang lawan hampir setiap hari pula. Tentu saja banyak yang gagal, tetapi kalau dihitung yang berhasil? Tentu banyak pula yang berhasil. Di sinilah kita harus memandang hambatan, tantangan, dan kegagalan dari kacamata yang berbeda. Kegagalan bukan untuk ditangisi tetapi untuk diperbaiki.

Dari filosofi di atas kiranya bisa dijadikan motivasi untuk terus melangkah. Melangkah untuk mulai dan terus menulis walaupun terkadang bertemu dengan kegagalan. Gagal dan sukses adalah milik semua orang. Demikian pula malas dan kreatif juga milik semua orang. Guru profesional bisa juga menjadi penulis yang profesional apabila kita mampu melewati kegagalan dan kemalasan.[sup]

* Supandi lahir di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 4 votes)

Hidup Nyaman di Luar Zona Nyaman

sup1Oleh: Supandi*

“Pak, Anda termasuk guru senior di sekolah kita. Kata Bapak Kepala Sekolah, Anda akan diusulkan untuk mewakili sekolah kita mengikuti lomba guru teladan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional tingkat Kabupaten,” kata Pak X kepada Pak Y.

“Ah, yang lain saja. Saya tidak pantas menjadi guru teladan. Menjadi guru teladan itu sangat berat, harus memiliki kelebihan dari yang lain. Lagipula, sekarang saya lagi banyak kerjaan di rumah,” kata Pak Y.

“Kalau Anda tidak bersedia, lalu siapa yang pantas untuk maju, menurut Anda?” tanya Pak X.

“Kalau menurut saya kita tidak usah ikut-ikutan lomba. Sekolah kita sekolah di desa. Begitu pula guru-guru di sini, menurut saya tidak ada yang mampu. Di kabupaten akan ketemu sama guru-guru dari kota yang lebih pintar, lebih berpengalaman dari kita. Pokoknya kalau mau percaya sama omongan saya, kita tidak usah macam-macam. Percuma, tidak mungkin menang,“ kata Pak Y.

Sikap yang ditunjukkan oleh Pak Y dalam dialog di atas hanya merupakan salah satu contoh saja dari sekian banyak sikap yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Sikap menolak terhadap kepercayaan yang diberikan oleh atasan dan rekan-rekan guru seperti itu merupakan tindakan yang sangat popular. Sikap yang membuat dirinya merdeka, aman, dan terbebas dari beban.

Hal yang demikian merupakan kecenderungan sikap yang bisa dimaklumi. Mengingat, pada kenyataannya dalam hidup ini orang memang cenderung mencari yang aman-aman saja, yang biasa-biasa saja. Meminjam istilah Bobbi DePorter dan Mike Hernacki dalam bukunya Quantum Learning, bahwa apa yang dilakukan Pak Y merupakan kondisi di mana dia terperangkap dalam sebuah “Zona Nyaman”.

Orang yang merasa enjoy berada di dalam zona nyaman biasanya cenderung mengingkari change (perubahan). Sebagai imbas dari keadaan nyaman—sebagaimana yang dimaksud dalam uraian di atas—maka seseorang akan terperangkap ke dalam sebuah kehidupan yang statis. Mereka belum menyadari bahwa secara kodrati “hidup” itu sendiri adalah perubahan. Sehingga, bagaimanapun juga manusia hidup harus melakukan perubahan, minimal mengikuti perkembangan zaman. Mengapa demikian? Karena, apabila seseorang tidak melakukan perubahan, dikhawatirkan mereka akan tertindas oleh perubahan zaman yang bergerak lebih cepat.

Pertumbuhan manusia secara kontinum dapat dibagi menjadi dua arah, yaitu tumbuh menjadi tua saja, atau tumbuh menjadi dewasa. Orang yang hidupnya senantiasa enjoy berada di zona nyaman sangat dimungkinkan akan tumbuh menjadi tua saja, yang minim dengan prestasi dan minim ilmu. Sebaliknya, seseorang yang sarat dengan perubahan maka akan tumbuh menjadi dewasa, sarat dengan ilmu, dan rendah hati (seperti ilmu padi). Bahkan, disinyalir orang yang sarat dengan ilmu, ketika menginjak masa tua, orang tersebut tidak akan mengalami pikun.

Satu hal yang penting untuk disikapi secara bijak adalah bahwa semua manusia memiliki potensi diri, memiliki bakat, dan juga punya minat. Tumbuh tidaknya potensi diri tergantung pada seberapa besar kepercayaan seseorang dalam memunculkan potensi dirinya tersebut. Dengan demikian manakala seseorang sudah berhasil melakukan hal tersebut, maka akan muncul dalam dirinya sebuah kesadaran (awareness) bahwa sesungguhnya hidup pascaperubahan ternyata lebih nyaman.

Seorang siswa yang jarang belajar akan merasa nyaman (dalam ketertinggalan). Toh, dia bisa menyontek, atau kerja sama dengan temannya, dan bisa naik kelas. Akan tetapi, kenyamanan yang sesungguhnya akan dapat dirasakan olehnya apabila dia mampu membuktikan bahwa dirinya hebat melalui sebuah rutinitas giat belajar. Seorang guru akan merasa nyaman ketika dia melaksanakan tugasnya secara monoton sebatas masuk kelas dan mentrasfer ilmu. Akan lebih nyaman ketika dia mampu melakukan berbagai inovasi pembelajaran yang lebih profesional. Seorang penjual bakso akan merasakan hidup lebih nyaman ketika dia berhasil membuka agennya di berbagai tempat dengan menu dan label yang sama. Seorang pejabat akan merasakan hidup lebih nyaman ketika dia mampu keluar dari sistem yang tidak baik.

Demikian pula orang sukses akan merasa lebih nyaman apabila dia mampu mewariskan kesuksesannya kepada anak keturunannya dan kepada orang lain. Yang demikian ini adalah merupakan keunggulan dari orang sukses yakni apabila mampu mewariskan kesuksesannya kepada anak cucunya dan kepada orang lain. Sedangkan keunggulan orang miskin adalah tidak ingin mempertahankan kemiskinannya, apalagi mewariskannya kepada anak cucu.[sup]

* Supandi lahir di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Yang Sukses yang Terkucilkan

supOleh: Supandi*

Kehidupan manusia dikelilingi oleh dinamika kehidupan yang beraneka ragam bentuknya. Hidup manusia senantiasa diselimuti oleh bermacam-macam pengaruh, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Pengaruh positif berkaitan erat dengan apa yang disebut dengan “petunjuk”. Sedangkan pengaruh negatif berhubungan erat dengan “godaan. Kedua jenis pengaruh ini tidak hanya menghinggapi satu atau dua orang tetapi ke semua orang.

Dalam sebuah hadis Nabi dikatakan bahwa kemiskinan itu dekat dengan kekufuran. Bunyi hadis tersebut tampaknya logis, yaitu tatkala hidup seseorang berada dalam level miskin atau serba kekurangan, maka ketahanan jiwanya akan rapuh dalam menghadapi cobaan hidup. Di sini dibutuhkan sebuah prinsip yang kuat dengan menggigitkan gigi-gigi gerahamnya pada norma-norma agama. Dengan demikian, prinsip tersebut akan mampu menangkis segala bentuk godaan.

Tentunya tidak sedikit juga manusia yang tetap tegar dan mampu berpegang pada prisip kebenaran. Mereka tidak rapuh walau diterjang badai. Mereka tidak gentar menghadapi cobaan hidup walaupun mereka dalam kondisi serba kekurangan. Mereka tetap menghiasi dunia dengan cahaya dzikir kepada Sang Pencipta. Mereka senantiasa meramaikan dunia dengan amalan-amalan ibadahnya kepada Sang Khalik. Bagi mereka kemiskinan hanya merupakan bagian dari liku kehidupan. Kemiskinan akan berubah menjadi kaya ketika hati manusia tidak mempermasalahkannya. Kemiskinan bisa berubah menjadi kesuksesan hidup. Semua ini tergantung kepada kemauan dan kemampuan manusia dalam mengubahnya.

Amalan agama sering dijadikan tumpuan oleh kebanyakan orang untuk mencapai kesuksesan hidupnya. Amalan agama sering mereka gunakan sebagai andalan untuk mendapatkan tujuan hidup sukses. Mereka percaya bahwa kekuatan dari Tuhan adalah segala-galanya. Konsep sukses yang demikian yang akan mengantarkan hidup mereka bahagia.

Konsep sukses bahagia yang datang atas rida dari Tuhannya juga yang akan membimbing mereka menjadi orang yang idealis, memiliki prinsip hidup, dan rendah hati (tawadu’). Tidak heran apabila kita sering menjumpai orang-orang sukses tetapi mereka tetap menunjukkan sikap-sikap ramah, familiar, rendah hati, bijaksana, dermawan, dan menyejukkan hati.

Tipe orang sukses sebagaimana yang disebutkan di atas mencerminkan bahwa apa yang telah diraihnya serta luasnya wawasan ilmu yang mereka miliki merupakan pemberian dari Tuhan. Benar, mereka adalah orang-orang yang berilmu. Semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang maka akan semakin jauh mereka dari kesombongan. Orang yang sombong adalah orang yang sedikit ilmu.

Perjalanan hidup orang yang sukses tidak akan lepas dari berbagai cobaan dan godaan. Suatu saat Tuhan akan menguji kesuksesannya dengan godaan. Apabila mereka kuat mengatasi godaan-godaan yang dihadapinya maka mereka akan menjadi manusia yang sukses mulia. Tetapi sebaliknya, apabila mereka rapuh pertahanan keimanannya maka konsekuensinya mereka akan menjadi orang sukses yang hina.

Orang yang sukses mulia akan semakin langgeng karena keberadaannya lebih banyak memberi manfaat bagi orang lain dan keluarganya. Kesuksesannya akan mudah dinikmati dan dilanjutkan oleh anak cucunya. Hal ini disinyalir oleh sabda Nabi yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang lebih bermanfaat bagi orang lain, sejelek-jelek manusia adalah yang keberadaannya didunia seperti tidak ada. (HR. Bukhori)

Manifestasi dari orang-orang yang sukses mulia adalah adanya support dan doa dari banyak orang agar mereka senantiasa eksis. Orang yang sukses mulia memperoleh apa yang diinginkannya tanpa merugikan pihak lain. Orang yang sukses mulia mencari apa yang diinginkannya melalui koridor agama yang tepat. Sebagai imbasnya mereka akan merasakan hidup nyaman, makan enak, dan tidur nyenyak, lantaran segala yang telah didapatkannya mendapat rekomendasi dari Tuhan. Manakala apa yang telah didapatkannya tadi yang berupa harta, rezeki, atau ilmu dinikmati oleh anak istri maka akan mengandung berkah dari Tuhan. Dan darah yang mengalir di dalam tubuh anak dan isterinya adalah darah yang penuh berkah. Hal ini sekaligus juga merupakan cerminan perjuangan dan bentuk kasih sayang yang sempurna kepada keluarga.

Di sisi lain, tidak bisa disangkal, betapa berat pilihan yang dihadapi oleh seseorang tatkala dia dihadapkan pada sebuah iming-iming yang begitu menggiurkan. Bisa dibayangkan betapa bergolaknya hati seseorang ketika idealisme yang dimiliki selama ini dirayu oleh gemerlapnya uang. Sulit dibayangkan seandainya saya dan Anda dihadapkan pada sebuah kesempatan yang begitu terbuka untuk mendapatkan tamsil (tambahan penghasilan) dengan cara mudah tetapi tidak halal.

Antara keinginan untuk memanfaatkan situasi dengan bisikan kesucian hati akan bertempur dengan sengit. Apabila bisikan setan yang menang maka yang terjadi mereka akan tergelincir ke dalam jurang kenistaan. Makna hidup yang sesungguhnya akan sirna. Mereka akan jauh dari cahaya kehidupan yang dirahmati oleh Tuhan. Mereka akan terperangkap ke dalam keadaan yang sangat mengerikan.

Berkaitan dengan kondisi yang seperti tersebut di atas, Nabi Muhammad Saw telah memperingatkan kepada kita sebagai bentuk kecintaannya kepada kita, melalui sabdanya: “Ada dua dosa yang Allah Saw tidak akan menangguhkan azabnya di dunia, yaitu durhaka kepada kedua orang tua dan berbuat dzolim kepada sesama. (HR. Bukhori – Muslim)

Apabila kita cermati hadis di atas maka ada satu sisi yang begitu mengerikan yang perlu kita hindari, yaitu bahwa apabila seseorang melakukan dua hal sebagaimana yang disebutkan di atas, maka azab Allah akan dibayarkan tunai di dunia. Mengambil sesuatu yang bukan haknya adalah merupakan bentuk kezaliman terhadap sesama. Sebagai konsukuensinya maka azab dari Allah segera ditimpakan kepadanya atau keluarganya. Musibah akan segera datang silih berganti, baik yang menimpa dirinya maupun anggota keluarganya.

Untuk mengantisipasi hal itu dibutuhkan sebuah ketahanan iman yang kokoh, sebuah kecerdasan spiritual yang sempurna, dan sebuah kesadaran jiwa yang luar biasa. Dukungan moral dari keluarga sangat diperlukan untuk memperkokoh benteng keimanan. Peran istri sangat besar dalam mengarahkan suami dalam menentukan pilihan. Istri yang baik akan cenderung mengarahkan suami ke hal-hal yang baik. Istri yang baik akan berperan penting dalam penegakan keluarga dan bahkan kondisi negara yang baik. Almar’atu ‘imadul bilad, idza sholuhat sholatul bilad (Wanita adalah pilar negara, apabila wanitanya baik maka baiklah negara, apabila wanitanya jelek maka akan jelek pula suatu negara).

Kondisi di lapangan memang tidak sesederhana teori saja. Siapa pun akan merasa berat ketika harus berhadapan dengan situasi yang penuh dengan pilihan. Terlebih jika kebobrokan itu sudah berada dalam sebuah sistem. Seandainya tidak ikut ambil bagian dalam memanfaatkan kesempatan yang ada maka akan dikucilkan. Sebaliknya bila turut serta dalam lingkaran setan maka hukuman dari Allah segera menimpanya langsung di dunia.

Langkah terbaik yang perlu diambil ketika seseorang berada dalam lingkaran setan adalah menanamkan sebuah prinsip yang kuat pada dirinya. Sebuah prinsip yang bijaksana dalam menentukan pilihan, lebih baik dikucilkan oleh manusia daripada dikucilkan oleh Tuhan. Orang baik akan dikucilkan oleh sistem yang jelek. Orang jelek akan dikucilkan oleh sistem yang baik. Itulah dinamika kehidupan. Sebagai manusia yang penting adalah bagaimana berbuat baik kepada sesama manusia dan kepada Tuhannya.[sup]

* Supandi lahir di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Ternyata untuk Meraih Cita-cita Itu Ada Jalurnya

SupandiOleh: Supandi*

Tulisan ini terilhami dari seorang keponakan laki-laki saya yang kesehariannya menurut saya tergolong anak yang macho dan sedikit urakan. Namun, penilaian ini ternyata kurang toleran. Mengapa? Sebab, ketika suatu hari secara tidak sengaja saya menanyakan apa kriteria wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak, ternyata dia menjawab, “Sosok wanita yang seperti ibu.”

Saya sempat sedikit heran atas jawaban dia. Tidak menduga bahwa jawabannya demikian. Temperamen yang dia miliki ternyata hanya kulitnya saja. Sosok pribadi yang sedikit urakan dan maunya menang sendiri ternyata semu belaka. Ini kontradiktif dengan kelembutan hatinya. Demikian juga kontradiktif dengan sikapnya yang penuh taat, berbakti, dan melindungi ibunya.

Deskripsi di atas, bila saya hubungkan dengan apa yang dialaminya sekarang, ternyata terdapat sebuah hubungan sebab akibat. Secara singkat dapat saya informasikan bahwa sekarang ini keponakan saya baru saja diterima bekerja di KPPU, Jakarta. Tentu tidak segampang membalikkan telapak tangan untuk bisa bekerja di sana mengingat persaingan yang begitu ketat. Ada satu pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari apa yang telah dilakukan ibunya. Sebuah rentetan aktivitas spiritual yang telah dilakukan sang ibu secara intens siang dan malam.

Apabila moment ini dicermati maka bisa dikatakan bahwa dalam menuju ke arah cita-citanya itu sebenarnya dia telah melalui dua jalur sekaligus dalam mencapai keberhasilannya, yaitu jalur rida orang tua dan jalur rida Allah Swt. Kedua jalur ini merupakan satu garis vertikal di mana manakala orang tua rida maka Allah Swt akan merekomendasi. Rida orang tua pada akhirnya akan berujung pada rida Allah Swt. Rida orang tua akan menghadirkan sebuah kekuatan dan kualitas doa. Kekuatan dari Allah Swt inilah yang disebut dengan God Spot. Disadari atau tidak bahwa sebenarnya kedua jalur inilah yang telah mengantarkan dia meraih keberhasilannya di samping kemampuan yang dia miliki tentunya. Tidak ada kekuatan hakiki lain yang bisa menandingi kedua kekuatan di atas.

Bagaimana Menghadirkan God Spot?

Untuk menghadirkan God Spot pada diri seseorang dibutuhkan lelaku yang intensif. Hal ini dilakukan dengan usaha penghambaan penuh kepada Allah Swt dan perilaku karimah kepada kedua orang tua. Penjabaran dari kalimat di atas tentu tidak sesederhana seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Kebanyakan orang berperilaku apa adanya. Kebanyakan orang hanya mengandalkan usaha dan kemampuan yang tampak-tampak saja. Padahal, Allah Swt telah memberi kekuatan luar biasa kepada setiap orang, termasuk bagaimana menghadirkan God Spot dalam dirinya. Dan, semua itu bisa diraih salah satunya melalui lelaku yang intensif.

Allah Swt sangat menyayangi hambanya. Oleh karenanya, siapa pun yang membutuhkan pertolongan-Nya pasti akan dikabulkan, demikian janji Allah Swt. Untuk inilah dibutuhkan kecerdasan emosi yang mengarah kepada kecerdasan spiritual dengan melakukan berbagai usaha pendekatan diri kepada Allah Swt.

Rida Allah Swt adalah Jalur Tertinggi

Sebenarnya, semua doa manusia hanya Allah yang akan mengabulkannya. Karena, Dialah satu-satunya top decision maker. Namun demikian, tanpa jalur yang tepat maka jauh dari kemungkinan doa manusia bisa terkabul. Di sinilah pentingnya manusia memerhatikan hierarki jalur dalam memohon rida-Nya, baik untuk kepentingan jangka pendek maupun jangka panjang.

Agar bisa sampai ke top decision maker terlebih dulu kita harus melalui jalur-jalur di bawahnya. Seorang anak harus senantiasa berbakti dan berakhlak baik kepada kedua orang tuanya. Bersikap yang baik sedemikian hingga mereka senang. Berbicaralah yang hati-hati, jangan sampai sedikit pun menyinggung perasaan mereka. Bersikaplah yang terpuji sehingga mereka merasakan senang seperti pada saat mereka mendengar tangisan pertama kita pada waktu kita dilahirkannya dulu.

Perbaiki Nasib dengan Memperbaiki Menu

Tidak ada satu pun orang tua yang tidak menghendaki anak-anaknya berhasil. Tidak pandang bulu apakah anaknya baik maupun memiliki karakter jelek, tetap saja didoakan oleh orang tua agar kelak menjadi anak yang berhasil, tercapai cita-citanya. Namun, bagaimana dengan doa orang tua yang tidak kunjung terkabul dalam mendoakan anak-anaknya? Untuk menjawab pertanyaan ini alangkah baiknya kita menengok ke belakang. Yang perlu diingat adalah bahwa orang tua hanyalah manusia yang dalam konteks ini kapasitasnya hanya sebagai wasilah saja. Keputusan akhir tetap saja berada di tangan Allah Swt.

Dalam konteks yang demikian sebagai anak perlu bersikap bijak dengan melakukan perenungan dan kesadaran jiwa. Yang perlu disadari adalah seberapa besar kabegjan yang dimiliki oleh anak. Apabila kabegjan yang dimiliki oleh seorang anak besar maka dengan mudah Allah akan mengabulkan doa mereka. Tetapi sebaliknya, manakala kondisi anak kurang bersih maka kondisi seperti ini akan menghalangi terkabulnya doa. Antara kedua faktor tersebut harus berjalan secara sinergis.

Kita sering menjumpai fenomena yang terjadi dalam sebuah keluarga atau barangkali juga dialami di keluarga Anda di mana antara anak satu dengan yang lainnya memiliki tingkat kabegjan yang berbeda. Ada yang mudah didoakan oleh orang tua tetapi ada juga yang sulit. Ada yang mapan tetapi ada juga yang masih bernasib kurang mujur. Kelapa satu truk biasanya ada satu atau beberapa yang busuk, demikian apabila diibaratkan. Agar hal semacam ini tidak terjadi pada keluarga maka dibutuhkan suatu kesadaran dan usaha yang serius dalam hal mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Anak yang belum memperoleh rida dari Allah Swt seyogyanya segera membekali diri dengan berbagai ikhtiar. Begitu juga harus senantiasa memperbaiki akhlak yang sekiranya tidak berkenan bagi orang tua, sesama, dan Tuhan Yang Maha-Berkehendak. Langkah ini dilakukan agar dia memiliki tingkat kabegjan yang tinggi. Caranya yaitu dengan memperbaiki menu ritual kita kepada Allah Swt.[sup]

* Supandi lahir di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Ia tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.2/10 (20 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +9 (from 11 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox