Kerja Sambil Tidur, Meninggal Saat Membaca
Editor | Kolom Tetap | April 20th, 2009 | 4 Comments »
Oleh: Sulmin Gumiri*
Di tengah kehidupan yang senantiasa berubah ini, sukses tidaknya seseorang sangat ditentukan oleh daya adaptasi orang tersebut terhadap setiap perubahan yang terjadi. Saya pernah bertemu dengan seorang kakek yang dengan bangga bercerita bahwa ia adalah contoh orang yang sukses karena mampu bertahan hingga tiga masa perubahan, mulai dari zaman orang menggunakan penerangan dari suluh dan damar, kemudian berubah menjadi lampu minyak tanah, dan sampai kepada penggunaan lampu listrik saat ini. Orang-orang tua kita mungkin menjadi saksi bagaimana dunia tulis-menulis yang juga terus berubah, mulai dari zaman ketika orang menggunakan batu kawi, kemudian menulis di buku, dan akhirnya menggunakan komputer seperti sekarang.
Kalau dulu jual beli dilakukan secara barter dengan menukarkan barang yang satu dengan barang jenis lainnya. Saat ini, kita sudah melakukan jual beli di dunia maya dengan hanya menukarkan nomor kode tertentu melalui kartu kredit yang kita miliki. Dulu, Kota Purwokerto dianggap lebih dekat dengan Jakarta dibandingkan Palangka Raya. Kenyataan sekarang justru menunjukkan kondisi sebaliknya, karena orang Palangka Raya justru bisa lebih cepat sampai di Jakarta dibandingkan dengan teman-teman kita yang tinggal di Purwokerto.
Sebagai individu, kita semua diberikan modal yang sama dalam menjalani kehidupan ini. Modal tersebut adalah waktu 24 jam yang dimiliki oleh masing-masing orang setiap harinya. Kesuksesan seseorang di zaman sekarang sangat terkait dengan kepiawaiannya dalam mengelola waktu yang hanya 24 jam tersebut untuk berproduksi sebanyak-banyaknya.
Masalahnya adalah kita tidak mungkin menggunakan seluruh waktu 24 jam tersebut untuk terus-menerus bekerja dan berproduksi. Ibarat mobil, kita tidak mungkin menjalankannya terus-menerus tanpa pernah berhenti dan mengganti oli mesinnya. Atau, ibarat tukang gergaji ia juga harus sekali-sekali istirahat dan mengasah gergajinya agar selalu efektif dalam memotong kayu. Untuk selalu berproduktivitas prima, kita pun perlu mengombinasikan antara waktu untuk beristirahat, belajar, dan bekerja. Orang yang sukses adalah mereka yang menerapkan kiat-kiat cerdas dalam meng-energize diri mereka, sehingga dapat selalu efektif dan efisien dalam bekerja, serta berproduksi setiap harinya.
Menurut ilmu kesehatan, diperlukan waktu tidur minimal 6 jam dalam sehari untuk menjaga vitalitas kita. Kebanyakan kita mengalokasikan waktu tidur tersebut di malam hari, yang biasanya dilakukan secara terus-menerus dalam rentang waktu tertentu. Misalnya, jika kita tidur jam 11 malam, maka sebaiknya kita bangun paling cepat jam 5 pagi. Atau, kalau kita kerja lembur dan baru sempat tidur jam 5 subuh, kita biasanya akan sulit sekali untuk bisa bangun jam 8 pagi, dan akhirnya malah terlambat untuk bisa masuk ke kantor esok harinya.
Sesibuk apa pun kita, kalau ingin tetap dalam kapasitas produksi prima, kita harus memenuhi kebutuhan tidur minimum sebanyak 6 jam tersebut. Yang membedakan manusia cerdas dan orang kebanyakan adalah pola tidur mereka. Kalau orang kebanyakan biasanya memenuhi kebutuhan tidur tersebut dalam satu rentang waktu dan di tempat tertentu. Manusia cerdas telah mengubah kebiasaan tidur mereka menjadi kapan saja dan di mana saja, yang penting total waktu tidurnya tetap 6 jam dalam sehari, asalkan tidak menganggu aktivitas produksi mereka. Waktu-waktu luang yang mereka manfaatkan untuk mengistirahatkan diri dengan tidur lelap sesaat tersebut, misalnya saat naik bus kota, di ruang tunggu bandara, ketika antri di dokter praktik, atau bahkan ketika tiba-tiba mereka merasa perlu tidur sejenak saat sedang mengetik di depan komputer.
Melakukan tidur kapan pun dan di mana pun seperti ini adalah kebiasaan yang sangat menonjol di kalangan para profesional Jepang. Kalau kita naik kereta api di negara matahari tersebut, hampir tidak pernah kita mendengar orang ngobrol, berbicara keras di telepon, atau mendengar dering HP. Semua orang akan berusaha untuk tidur, dan kalau pun ada yang tidak tidur, mereka akan sangat menjaga agar mereka tidak mengganggu orang lain yang sedang tertidur. Kalau di kampus, jangan heran kalau kita melihat seorang profesor sedang terkantuk-kantuk di depan komputernya, atau seorang mahasiswa yang tiba-tiba terkulai lemas di atas meja kerjanya. Mereka semua sedang tidur sejenak, dan kemudian akan segera kembali melanjutkan aktivitas mereka setelah terbangun.
Dengan pola tidur seperti ini, terlihat bahwa para pekerja di Jepang seolah-olah bekerja 24 jam dalam sehari. Sudah umum di universitas-universitas Jepang, para profesornya pulang dari kantor tengah malam. Atau, bagi yang terpisah dengan keluarganya, mereka bahkan baru pulang ke apartemennya jam 4 pagi, dan kembali lagi ke kampus 2 jam kemudian, hanya sekedar untuk ganti pakaian saja. Bagi kita yang tidak paham dengan perubahan budaya kerja mereka, kita akan beranggapan bahwa orang-orang Jepang tidak pernah tidur, dan mereka semua gila kerja. Yang benar adalah, bangsa Jepang adalah contoh sebuah negara yang telah mengalami transformasi budaya yang luar biasa, dari kebiasaan bekerja di siang hari dan tidur di malam hari, menjadi bangsa yang bekerja siang malam dan memanfaatkan waktu tidur hanya di sela-sela jam kerja mereka saja. Dengan kata lain, mereka adalah bangsa yang telah terbiasa melakukan kerja sambil tidur.
Selain perlu istirahat dengan tidur, di zaman yang terus berubah dengan sangat cepat ini, kita juga dituntut untuk selalu meningkatkan kapasitas diri pribadi. Pengetahuan yang kita dapat 10 tahun yang lalu sudah tidak cocok lagi dengan permasalahan yang kita hadapi saat ini. Dan, pengetahuan kita saat ini sudah pasti tidak akan memadai lagi untuk menjawab permasalahan di masa yang akan datang.
Ada yang mengatakan kehidupan ini ibarat kita mandi di sungai. Setiap kita menceburkan diri ke sungai, kita tidak akan pernah berendam di air yang sama. Begitu juga dengan kehidupan ini, masalah yang kita hadapi terus berubah, dan kita dituntut untuk mengimbangi perubahan tersebut dengan cara terus-menerus belajar dan belajar lagi.
Salah satu sumber belajar yang tiada habis-habisnya adalah buku. Dengan membiasakan diri untuk selalu membaca buku, berarti kita terus menerus menambah ilmu pengetahuan kita. Sama halnya dengan tidur. Untuk bisa sukses di zaman sekarang kita harus mengubah pola membaca buku kita. Orang kebanyakan biasanya jarang membaca buku. Atau, kalaupun suka mereka biasanya memerlukan waktu dan tempat khusus untuk bisa konsentrasi saat membaca. Ada yang hanya bisa konsentrasi membaca buku pada saat sepi di pagi hari, dan ada juga orang yang hanya bisa konsentrasi kalau ia membaca di ruang yang nyaman, seperti di perpustakaan atau di ruang baca pribadi di rumahnya.
Manusia cerdas akan mengubah kebiasaan mereka untuk bisa konsentrasi membaca buku di mana saja dan kapan saja. Untuk itu, buku harus selalu berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Dengan selalu berada di dekat buku, mereka bisa membaca setiap saat, baik selama di perjalanan, saat menunggu, ketika habis makan malam di rumah, atau saat-saat menjelang tidur. Perubahan pola membaca buku ini pertama kali terjadi di kalangan orang-orang barat. Lihatlah orang-orang bule yang kita temui di ruang tunggu bandara, hampir semua mereka mengisi waktu luang saat menunggu boarding dengan membaca. Mereka bisa konsentrasi membaca tanpa terganggu oleh hiruk pikuk suara obrolan calon penumpang lain, atau suara TV yang memang disediakan di bandara.
Bagi orang-orang barat, membaca adalah wajib hukumnya. Konon, saat menjelang ajalnya di usia 80 tahun pun mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill masih terus membaca buku, yang terbukti dari ditemukannya sebuah buku di bawah bantalnya, sesaat setelah ia meninggal. Atau, jangan-jangan saat sekarat, beliau tiba-tiba ingat bahwa beliau harus membaca buku dulu agar bisa meninggal dengan tenang.
Kita bisa menjadi manusia luar biasa apabila kita bisa mengombinasikan kedua perubahan di atas. Bagi Anda yang belum terbiasa, berlatihlah untuk bisa tidur lelap dengan cepat dalam waktu 5 sampai 10 menit di sela-sela waktu kerja Anda. Atau, konsentrasilah membaca buku barang 10 hingga 20 menit setiap hari, di mana pun Anda berada. Selanjutnya, kombinasikan kedua kebiasaan baik ini di waktu-waktu luang yang Anda miliki.
Kesempatan terbaik untuk berlatih mengombinasikan tidur dan membaca adalah pada saat kita di perjalanan, baik di dalam bus kota, di kereta api, ataupun selama dalam penerbangan. Saya yakin, Anda akan merasakan perubahan positif yang luar biasa jika Anda sudah berhasil menjadikan kedua kebiasaan ini sebagai pola hidup baru Anda.[sg]
* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardeningdan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.
Oleh: Sulmin Gumiri*
Oleh: Sulmin Gumiri*
Oleh: Sulmin Gumiri*
Oleh: Sulmin Gumiri*
