Kerja Sambil Tidur, Meninggal Saat Membaca

Sulmin GumiriOleh: Sulmin Gumiri*

Di tengah kehidupan yang senantiasa berubah ini, sukses tidaknya seseorang sangat ditentukan oleh daya adaptasi orang tersebut terhadap setiap perubahan yang terjadi. Saya pernah bertemu dengan seorang kakek yang dengan bangga bercerita bahwa ia adalah contoh orang yang sukses karena mampu bertahan hingga tiga masa perubahan, mulai dari zaman orang menggunakan penerangan dari suluh dan damar, kemudian berubah menjadi lampu minyak tanah, dan sampai kepada penggunaan lampu listrik saat ini. Orang-orang tua kita mungkin menjadi saksi bagaimana dunia tulis-menulis yang juga terus berubah, mulai dari zaman ketika orang menggunakan batu kawi, kemudian menulis di buku, dan akhirnya menggunakan komputer seperti sekarang.

Kalau dulu jual beli dilakukan secara barter dengan menukarkan barang yang satu dengan barang jenis lainnya. Saat ini, kita sudah melakukan jual beli di dunia maya dengan hanya menukarkan nomor kode tertentu melalui kartu kredit yang kita miliki. Dulu, Kota Purwokerto dianggap lebih dekat dengan Jakarta dibandingkan Palangka Raya. Kenyataan sekarang justru menunjukkan kondisi sebaliknya, karena orang Palangka Raya justru bisa lebih cepat sampai di Jakarta dibandingkan dengan teman-teman kita yang tinggal di Purwokerto.

Sebagai individu, kita semua diberikan modal yang sama dalam menjalani kehidupan ini. Modal tersebut adalah waktu 24 jam yang dimiliki oleh masing-masing orang setiap harinya. Kesuksesan seseorang di zaman sekarang sangat terkait dengan kepiawaiannya dalam mengelola waktu yang hanya 24 jam tersebut untuk berproduksi sebanyak-banyaknya.

Masalahnya adalah kita tidak mungkin menggunakan seluruh waktu 24 jam tersebut untuk terus-menerus bekerja dan berproduksi. Ibarat mobil, kita tidak mungkin menjalankannya terus-menerus tanpa pernah berhenti dan mengganti oli mesinnya. Atau, ibarat tukang gergaji ia juga harus sekali-sekali istirahat dan mengasah gergajinya agar selalu efektif dalam memotong kayu. Untuk selalu berproduktivitas prima, kita pun perlu mengombinasikan antara waktu untuk beristirahat, belajar, dan bekerja. Orang yang sukses adalah mereka yang menerapkan kiat-kiat cerdas dalam meng-energize diri mereka, sehingga dapat selalu efektif dan efisien dalam bekerja, serta berproduksi setiap harinya.

Menurut ilmu kesehatan, diperlukan waktu tidur minimal 6 jam dalam sehari untuk menjaga vitalitas kita. Kebanyakan kita mengalokasikan waktu tidur tersebut di malam hari, yang biasanya dilakukan secara terus-menerus dalam rentang waktu tertentu. Misalnya, jika kita tidur jam 11 malam, maka sebaiknya kita bangun paling cepat jam 5 pagi. Atau, kalau kita kerja lembur dan baru sempat tidur jam 5 subuh, kita biasanya akan sulit sekali untuk bisa bangun jam 8 pagi, dan akhirnya malah terlambat untuk bisa masuk ke kantor esok harinya.

Sesibuk apa pun kita, kalau ingin tetap dalam kapasitas produksi prima, kita harus memenuhi kebutuhan tidur minimum sebanyak 6 jam tersebut. Yang membedakan manusia cerdas dan orang kebanyakan adalah pola tidur mereka. Kalau orang kebanyakan biasanya memenuhi kebutuhan tidur tersebut dalam satu rentang waktu dan di tempat tertentu. Manusia cerdas telah mengubah kebiasaan tidur mereka menjadi kapan saja dan di mana saja, yang penting total waktu tidurnya tetap 6 jam dalam sehari, asalkan tidak menganggu aktivitas produksi mereka. Waktu-waktu luang yang mereka manfaatkan untuk mengistirahatkan diri dengan tidur lelap sesaat tersebut, misalnya saat naik bus kota, di ruang tunggu bandara, ketika antri di dokter praktik, atau bahkan ketika tiba-tiba mereka merasa perlu tidur sejenak saat sedang mengetik di depan komputer.

Melakukan tidur kapan pun dan di mana pun seperti ini adalah kebiasaan yang sangat menonjol di kalangan para profesional Jepang. Kalau kita naik kereta api di negara matahari tersebut, hampir tidak pernah kita mendengar orang ngobrol, berbicara keras di telepon, atau mendengar dering HP. Semua orang akan berusaha untuk tidur, dan kalau pun ada yang tidak tidur, mereka akan sangat menjaga agar mereka tidak mengganggu orang lain yang sedang tertidur. Kalau di kampus, jangan heran kalau kita melihat seorang profesor sedang terkantuk-kantuk di depan komputernya, atau seorang mahasiswa yang tiba-tiba terkulai lemas di atas meja kerjanya. Mereka semua sedang tidur sejenak, dan kemudian akan segera kembali melanjutkan aktivitas mereka setelah terbangun.

Dengan pola tidur seperti ini, terlihat bahwa para pekerja di Jepang seolah-olah bekerja 24 jam dalam sehari. Sudah umum di universitas-universitas Jepang, para profesornya pulang dari kantor tengah malam. Atau, bagi yang terpisah dengan keluarganya, mereka bahkan baru pulang ke apartemennya jam 4 pagi, dan kembali lagi ke kampus 2 jam kemudian, hanya sekedar untuk ganti pakaian saja. Bagi kita yang tidak paham dengan perubahan budaya kerja mereka, kita akan beranggapan bahwa orang-orang Jepang tidak pernah tidur, dan mereka semua gila kerja. Yang benar adalah, bangsa Jepang adalah contoh sebuah negara yang telah mengalami transformasi budaya yang luar biasa, dari kebiasaan bekerja di siang hari dan tidur di malam hari, menjadi bangsa yang bekerja siang malam dan memanfaatkan waktu tidur hanya di sela-sela jam kerja mereka saja. Dengan kata lain, mereka adalah bangsa yang telah terbiasa melakukan kerja sambil tidur.

Selain perlu istirahat dengan tidur, di zaman yang terus berubah dengan sangat cepat ini, kita juga dituntut untuk selalu meningkatkan kapasitas diri pribadi. Pengetahuan yang kita dapat 10 tahun yang lalu sudah tidak cocok lagi dengan permasalahan yang kita hadapi saat ini. Dan, pengetahuan kita saat ini sudah pasti tidak akan memadai lagi untuk menjawab permasalahan di masa yang akan datang.

Ada yang mengatakan kehidupan ini ibarat kita mandi di sungai. Setiap kita menceburkan diri ke sungai, kita tidak akan pernah berendam di air yang sama. Begitu juga dengan kehidupan ini, masalah yang kita hadapi terus berubah, dan kita dituntut untuk mengimbangi perubahan tersebut dengan cara terus-menerus belajar dan belajar lagi.

Salah satu sumber belajar yang tiada habis-habisnya adalah buku. Dengan membiasakan diri untuk selalu membaca buku, berarti kita terus menerus menambah ilmu pengetahuan kita. Sama halnya dengan tidur. Untuk bisa sukses di zaman sekarang kita harus mengubah pola membaca buku kita. Orang kebanyakan biasanya jarang membaca buku. Atau, kalaupun suka mereka biasanya memerlukan waktu dan tempat khusus untuk bisa konsentrasi saat membaca. Ada yang hanya bisa konsentrasi membaca buku pada saat sepi di pagi hari, dan ada juga orang yang hanya bisa konsentrasi kalau ia membaca di ruang yang nyaman, seperti di perpustakaan atau di ruang baca pribadi di rumahnya.

Manusia cerdas akan mengubah kebiasaan mereka untuk bisa konsentrasi membaca buku di mana saja dan kapan saja. Untuk itu, buku harus selalu berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Dengan selalu berada di dekat buku, mereka bisa membaca setiap saat, baik selama di perjalanan, saat menunggu, ketika habis makan malam di rumah, atau saat-saat menjelang tidur. Perubahan pola membaca buku ini pertama kali terjadi di kalangan orang-orang barat. Lihatlah orang-orang bule yang kita temui di ruang tunggu bandara, hampir semua mereka mengisi waktu luang saat menunggu boarding dengan membaca. Mereka bisa konsentrasi membaca tanpa terganggu oleh hiruk pikuk suara obrolan calon penumpang lain, atau suara TV yang memang disediakan di bandara.

Bagi orang-orang barat, membaca adalah wajib hukumnya. Konon, saat menjelang ajalnya di usia 80 tahun pun mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill masih terus membaca buku, yang terbukti dari ditemukannya sebuah buku di bawah bantalnya, sesaat setelah ia meninggal. Atau, jangan-jangan saat sekarat, beliau tiba-tiba ingat bahwa beliau harus membaca buku dulu agar bisa meninggal dengan tenang.

Kita bisa menjadi manusia luar biasa apabila kita bisa mengombinasikan kedua perubahan di atas. Bagi Anda yang belum terbiasa, berlatihlah untuk bisa tidur lelap dengan cepat dalam waktu 5 sampai 10 menit di sela-sela waktu kerja Anda. Atau, konsentrasilah membaca buku barang 10 hingga 20 menit setiap hari, di mana pun Anda berada. Selanjutnya, kombinasikan kedua kebiasaan baik ini di waktu-waktu luang yang Anda miliki.

Kesempatan terbaik untuk berlatih mengombinasikan tidur dan membaca adalah pada saat kita di perjalanan, baik di dalam bus kota, di kereta api, ataupun selama dalam penerbangan. Saya yakin, Anda akan merasakan perubahan positif yang luar biasa jika Anda sudah berhasil menjadikan kedua kebiasaan ini sebagai pola hidup baru Anda.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardeningdan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Hukum Toleransi

sgOleh: Sulmin Gumiri*

Secara alamiah, ada satu ketentuan yang diajarkan oleh kehidupan kepada kita. Ketentuan tersebut bernama “Hukum Toleransi” yang mana kebutuhan semua makhluk hidup sudah ditentukan oleh Yang Kuasa dalam suatu rentang antara batas minimum dan maksimum. Tumbuhan tidak akan bisa hidup tanpa sinar matahari, tetapi ia pun akan layu dan mati jika kepanasan terus-menerus. Seekor harimau lapar akan mengerahkan segala kekuatannya untuk menaklukan seekor banteng, tetapi setelah kenyang ia pun akan merelakan saja sekawanan burung gagak yang datang tiba-tiba dan berebut makanan gratis sisa hasil kerja kerasnya. Begitu juga dengan manusia, selapar apa pun kita, tidak mungkin kita bisa menghabiskan semua macam masakan lezat yang ditawarkan oleh para pelayan restoran padang di depan mata kita.

Prinsip adanya faktor pembatas di atas berlaku untuk setiap pemenuhan kebutuhan dasar semua makhluk dalam upaya mempertahankan hidupnya. Namun demikian, berbeda dengan tumbuhan dan hewan, ternyata kebutuhan manusia tidak cukup hanya berupa kebutuhan primer untuk bertahan hidup, seperti kebutuhan akan air, udara, makanan, dan tempat tinggal. Karena manusia mengenal tingkat kemakmuran, maka kebutuhan kita pun menjadi begitu banyak mulai dari minyak rambut di atas kepala sampai kepada sepatu di ujung kaki, dan mulai dari sesederhana jarum untuk menjahit sampai kepada yang kompleks dan mahal seperti komputer, mobil, dan pesawat terbang.

Untuk mendapatkan semua kebutuhan sekunder itu, kita semua memerlukan uang. Dan, karena mengejar uang itulah maka kita kadang-kadang perlu memengaruhi orang lain untuk meraih kekuasaan, kerja keras mencari harta , dan berusaha memoles diri untuk mendapatkan popularitas. Apakah kebutuhan sekunder manusia akan kekuasaan, harta, dan popularitas ini juga diatur oleh hukum tolerasi? Uraian berikut mencoba mendiskusikannya.

Beberapa waktu yang lalu, saya tertarik dengan sebuah berita di koran lokal yang berjudul “Janji Tidak Akan Permalukan Najib”. Berita tersebut mengulas tentang kenegarawanan Abdullah Ahmad Badawi yang berjanji untuk tidak mempermalukan pemerintah kelak, yang rencananya akan ia serahkan kepada Wakil Perdana Menteri Najib Razak, setelah ia lengser dari jabatan Perdana Menteri Malaysia bulan Maret 2009.

Yang menggelitik saya adalah rencana sederhana sang Perdana Menteri pascaturun tahta nanti, yang mana beliau hanya ingin menjadi rakyat biasa dengan menghabiskan sisa usianya untuk bercocok tanam, memancing, dan menanam pohon. Keinginan tersebut sebenarnya bukanlah sesuatu yang luar biasa dan tidak ada istimewanya sama sekali. Namun, setelah dihubung-hubungkan dengan kejadian-kejadian serupa yang menimpa kalangan mantan penguasa, para miliarder, dan selebriti, akhirnya saya merenung. Jangan-jangan, hukum toleransi juga berlaku dalam setiap aspek kehidupan manusia.

Di deretan para mantan pejabat negara, bukan hanya Abdullah Ahmad Badawi saja yang akhirnya mengalami “antiklimaks” dengan berkeinginan menjalani kehidupan sebagai rakyat jelata, setelah sebelumnya menikmati masa-masa jayanya sebagai penguasa negara. Di dalam negeri, kita mungkin masih ingat dengan kebiasaan Pak Harto, yang setelah berkuasa sebagai presiden Republik Indonesia selama lebih dari 30 tahun, di saat-saat akhir masa jabatan beliau justru suka menyepi dengan menghabiskan hari libur di lahan pertanian Tapos.

Jimmy Carter, seorang mantan presiden Amerika Serikat di era 80-an yang sangat berkuasa dan terkenal di seantero dunia karena permusuhannya dengan Iran, kembali menjadi petani kacang setelah ia lengser dari jabatannya. Baru-baru ini, George Walker Bush yang sangat arogan karena berhasil mengekspansi Irak dan membunuh musuh bebuyutan ayahnya, Saddam Husein, juga langsung luruh hatinya. Dia menyingkir ke lahan pertanian keluarganya di Texas, sesaat setelah menyerahkan tampuk kekuasaannya sebagai presiden Amerika Serikat kepada Barack Obama.

Kalau para mantan pejabat negara cenderung ingin menyeimbangkan kekuasaan berlebihan yang pernah didapatnya dengan kembali hidup sebagai rakyat jelata, “antiklimaks” juga biasa terjadi di kalangan orang-orang kaya dan selebritis. Bill Gates, si pemilik Microsoft dan merupakan orang terkaya di dunia saat ini, telah menyumbangkan 70 persen kekayaannya kepada yayasan Bill & Melllinda Gates Foundation, yang ia dirikan bersama istrinya untuk membiayai pemeliharaan kesehatan dan menanggulangi kemiskinan di seluruh dunia. Seperti tidak mau kalah, Warren Buffet si raja properti yang merupakan orang terkaya kedua di dunia setelah Bill Gates, juga menyumbangkan 85 persen hartanya kepada yayasan yang sama.

Setelah puas menikmati kehidupan bebas sebagai artis Hollywood yang penuh glamour, sehingga menjadikannya tidak ingin menikah dan memiliki anak, akhirnya Angelina Jolie menyadari bahwa ia tetaplah seorang manusia biasa. Dan kemudian, ia memilih menjadi seorang ibu dengan mengadopsi sepasang anak miskin dari Kamboja dan Ethiopia.

Apa jadinya jika seseorang lupa diri dengan kekuasaan, harta, dan popularitas yang ia miliki? Rasanya, sudah tidak terhitung lagi “antiklimaks tragis” yang terjadi di seputar kehidupan kita. Di kalangan penguasa, kita pernah mendengar nasib mantan Presiden Ferdinand Marcos, sang diktator dari Filipina. Marcos bukan hanya diturunkan secara paksa dan diusir ke luar negeri oleh rakyatnya, tetapi setelah ia meninggal pun, mayatnya sangat sulit dibawa kembali ke negara yang pernah dipimpinnya.

Sang superstar dunia Michael Jackson tidak pernah membayangkan bahwa akibat popularitas yang dicapainya, akhirnya ia tercabut dari akar kehidupan ini. Karena ingin terus mempertahankan ketenarannnya, ia nekat mempermak wajahnya dengan operasi plastik untuk memperbaiki hidungnya yang kurang mancung. Celakanya, bukan wajah tampan yang ia dapat, tetapi malah wajahnya berubah menjadi bak monster hidup. Dengan wajah mengerikan yang tidak bisa dikembalikan ke bentuk semula tersebut, ia menjadi malu dan berusaha menghindari para penggemarnya. Karena perasaan malu ketemu orang itulah, konon ia akhirnya memilih menjalani kehidupan dengan mengurung diri terus-menerus di ruang persembunyiannya dengan bantuan tabung oksigen.

Siapa yang tidak ingin berkuasa, kaya raya, dan menjadi orang terkenal? Tetapi, setelah semua itu kita dapatkan, “pejabat yang sadar” sebenarnya rindu menjadi rakyat biasa; “miliarder yang sadar” ternyata perlu menyumbangkan sebagian hartanya; dan para “selebritis yang sadar” dengan rela akan meluruskan gaya hidupnya karena merasa tampilan wajahnya yang kian meredup akibat termakan usia.

Bagaimana dengan mereka yang tidak menyadari faktor pembatas alamiah tersebut? Jadilah mereka seperti Marcos, yang karena kehausannya akan kekuasaan, akhirnya setelah meninggal pun orang tidak bersimpati kepadanya. Atau seperti Michael Jackson, yang karena kehausannya akan ketenaran malah akhirnya terpaksa mengurung diri, hidup sendirian tanpa teman.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui email: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Lakukan Apa yang Orang Lain Tidak Mau Kerjakan

sg1Oleh: Sulmin Gumiri*

Ada satu lagi pelajaran menarik yang mungkin bisa kita petik dari kehidupan ini. Beberapa tahun yang lalu, saya menyaksikan sebuah wawancara televisi dengan seorang ilmuwan tersohor di Jepang. Berkat penelitian yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun, sang profesor berhasil mendapat penghargaan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan beberapa medali internasional lainnya, karena dianggap telah menyelamatkan jutaan jiwa manusia berkat kepakaran dan hasil penelitian di bidang ilmunya, serta dedikasinya yang luar biasa kepada kemanusiaan. Prestasi tersebut telah menyebabkan ia dikenal di seluruh dunia, sehingga banyak sekali ilmuan dari negara lain yang ingin bekerjasama serta mahasiswa yang mau belajar kepadanya. Sang profesor benar-benar menjadi salah seorang yang sangat dibanggakan oleh bangsa Jepang.

Ketika sang profesor ditanyai rahasia kesuksesannya menjadi ilmuwan besar yang disegani di seluruh dunia tersebut, terlihat sekali ia agak ragu-ragu untuk mengungkapkannya. Setelah didesak si reporter, akhirnya dengan lirih ia berkata: “Apa ya rahasianya…? Saya merasa tidak ada yang istimewa dengan pencapaian saya ini. Atau mungkin…. karena saya melakukan apa yang orang lain tidak mau mengerjakannya.

Karena tertarik dengan jawaban sederhana tersebut, reporter yang mewawancarainya kemudian meminta kepada sang profesor untuk menunjukkan apa sebenarnya yang ia maksudkan dengan “melakukan apa yang orang lain tidak suka tersebut”. Lalu, ditunjukanlah oleh sang ilmuwan bersahaja tersebut ratusan atau mungkin ribuan botol yang berjejer rapi di rak-rak yang menempel di dinding ruang kerjanya. Sekilas, jejeran rapi botol tersebut mirip etalase sebuah bar yang menjual berbagai jenis minuman mahal kemasan botol dari berbagai merek dan cita rasa. Tetapi, setelah diperhatikan lebih dekat, tampaklah bahwa isi dari botol-botol tersebut ternyata berbagai jenis dan ukuran cacing yang biasa menjadi parasit di dalam tubuh manusia.

Saking tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, sang reporter hanya bisa bergumam,Benarkah sebanyak ini jenis cacing yang bisa berkembang dalam tubuh manusia?” Melihat si reporter keheranan, dengan lirih sang profesor berkata, Inilah yang saya maksudkan. Apakah ada orang yang mau, selama berpuluh-puluh tahun tanpa kenal lelah mendatangi perkampungan kaum miskin di berbagai pelosok dunia, hanya untuk menunggu mereka buang hajat dan kemudian mengais-ngais cacing yang keluar bersama tinja mereka?”

Meskipun wawancara tersebut sudah beberapa tahun berlalu, tetapi ucapan sang profesor Jepang tersebut masih terngiang-ngiang dalam pikiran saya. Baru-baru ini, ketika menghadiri acara ulang tahun situs Pembelajar.com di Hotel Menara Peninsula-Jakarta, saya diperlihatkan oleh Edy Zaqeus buku karangan terbarunya berjudul Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!. Setelah bersusah payah mencarinya di toko buku karena benar-benar masih “hangat”, akhirnya saya berhasil juga mendapatkan buku tersebut di toko Gramedia, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Saking menariknya isi buku setebal dua ratusan halaman tersebut, saya hanya perlu waktu satu hari untuk melahap seluruh isinya. Di dalam buku tersebut, meskipun Bob Sadino tidak mengungkapkan secara persis seperti yang diucapkan oleh ilmuwan Jepang di atas, tetapi melihat perjalanan sukses dan pandangan hidup sang pengusaha nyentrik tersebut, tergambar dengan jelas sekali bahwa salah satu rahasia sukses Bob Sadino adalah karena ia berani melakukan apa yang orang lain tidak mau mengerjakannya.

Rasanya, tidak akan pernah kita temukan di dunia ini orang yang mengaku bosan dan jenuh dengan hidup yang serba berkecukupan. Tetapi, Bob Sadino memang beda, ia yang di masa mudanya sudah hidup bergelimang harta sehingga mampu berkelana di manca negara di tahun 60-an, tiba-tiba ia memutuskan untuk menjadi orang miskin dan kembali ke Jakarta. Ia pun memulai kehidupan baru sebagai sopir taksi, tetapi usahanya kandas karena mobilnya mengalami kecelakaan. Gagal berprofesi sebagai sopir taksi, ia akhirnya banting setir berjualan telur ayam dengan cara menjajakannya dari pintu ke pintu. Mana ada anak orang kaya yang mau melakukan hal tersebut? Jangankan mereka yang pernah lama tinggal di luar negeri seperti Bob Sadino, warga biasa atau orang yang tidak punya pekerjaan sekali pun pastilah berpikir dua kali untuk nekat menggedor-gedor rumah orang untuk menjajakan telur ayam. Tetapi, itulah mungkin rahasia yang mengantarkan Bob Sadino sampai akhirnya menjadi salah satu pengusaha tersuskses di Indonesia seperti sekarang ini.

Prinsip mau melakukan apa yang orang lain tidak mau mengerjakannya, sebenarnya sesuatu yang alami dalam kehidupan ini. Salah satu tempat favorit yang selalu saya kunjungi setiap kali saya mengunjungi sebuah kota adalah pasar tradisional. Di pasar tradisional mana pun, entah di dalam negeri seperti Pekan Sabtu di kampung saya, Pasar Kreneng di Bali, Pasar Turi di Surabaya, atau Pasar Benhill di Jakarta, dan bahkan di luar negeri seperti di Inggris, Jepang, Australia, dan Belgia suasana pasarnya hampir sama, selalu ramai pengunjung yang semuanya terlihat riang dan bahagia.

Kalau kita perhatikan agak teliti orang-orang yang berjualan di pasar tradisional, mereka juga sebenarnya menganut prinsip melakukan apa yang orang lain tidak mau mengerjakannya. Hanya saja dalam bahasa pasar diterjemahkan menjadi “tawarkanlah kepada pembeli apa yang tidak dijual oleh pedagang yang lain”.

Bagi Anda yang mungkin suka ke pasar tradisional seperti saya, pernahkah Anda memikirkan bahwa setiap kali kita ke pasar hampir tidak pernah kita berbelanja di satu tempat dan satu orang pedagang saja. Ketika menemani istri saya ke pasar sebelum menulis artikel ini, iseng-iseng saya menghitung ada berapa pedagang yang kami temui. Begitu masuk ke pasar, isteri saya langsung disapa oleh seorang pedagang ayam di pintu masuk pasar dan langsung membeli ayam dagangannya. Sambil menunggu sang pedagang memotong ayam yang kami beli, istri saya melihat ada pedagang telur di sebelah pedagang ayam itu. Lalu, ia pun bertransaksi dengan pedagang telur tersebut. Saat saya diminta mengantar potongan ayam dan telur yang telah dibelinya ke mobil, istri saya mengatakan ia akan ke pasar ikan.

Ketika saya kembali dan tidak menemukannya di pasar ikan, dari kejauhan saya melihat ia sudah berada di salah satu pojok pasar tempat para pedagang sayur. Di pasar sayur ini setidaknya ada lima pedagang berbeda yang bertransaksi dengannya, mulai dari penjual terong, penjual kentang, penjual cabe, penjual bawang, sampai kepada pedagang yang hanya menjual bumbu-bumbu segar saja seperti kunyit dan jahe. Melihat barang belanjaannya yang semakin berat, saya pun menawarkan untuk mengantar barang tersebut sekali lagi ke mobil. Karena, saya pikir ia sudah hampir selesai berbelanja, maka saya tidak kembali lagi menemuinya dan hanya menunggu saja sambil mengobrol dengan tukang parkir.

Ternyata saya keliru. Istri saya masih cukup lama belanja sehingga saya sempat agak tidak sabar menunggunya. Setelah masuk ke mobil, ia minta maaf karena katanya ia harus antri membeli kelapa. Tetapi dari barang bawaanya, saya juga melihat bukan hanya kelapa yang dia bawa, tetapi ada tempe, tauge, dan beberapa bungkusan plastik lain. Rupanya ia sempat mampir lagi membeli barang-barang kebutuhan tersebut di beberapa pedagang lainnya. Mungkin karena sudah menduga bahwa saya pasti tidak sabar menunggunya, ia sengaja membelikan kue kesukaan saya. Karena sudah “disogok” dengan makanan kesenangan saya sejak kecil tersebut, saya diam saja ketika ia meminta saya menunggu sedikit lebih lama lagi. Karena ternyata, ada pedagang lain yang akan mengantarkan beras langsung ke mobil kami. Saya hitung-hitung ada lebih dari sepuluh pedagang yang kami temui hari itu.

Dari peristiwa di pasar tradisional tersebut, kita bisa mengambil pelajaran bahwa ada ratusan atau mungkin ribuan pedagang yang mencoba mengais rezeki di pasar setiap hari. Mereka semua sukses dan mampu bertahan di situ selama bertahun-tahun, dan bahkan ada yang sudah beberapa generasi. Dengan menawarkan dagangan yang tidak dijual oleh orang lain, para pedagang tersebut akhirnya menemukan “niche” atau relung bidang usahanya masing-masing. Tidak ada persaingan, tidak ada kecurangan dan tidak ada permusuhan. Semuanya saling melengkapi, semua kebagian rezeki dan semua berbahagia. Suasana ramai dan penuh kebahagiaan itulah yang menyebabkan saya menjadikan pasar tradisional sebagai salah satu tempat favorit untuk belajar dan menghibur diri.

Kehidupan di pasar tradisional merupakan miniatur dari kehidupan di dunia ini. Kita semua pada dasarnya adalah pedagang. Bedanya adalah, sebagian dari kita menawarkan jasa dan sebagian lagi berjualan barang. Sang profesor Jepang adalah contoh orang yang berdagang jasa melalui ilmunya, sedangkan Bob Sadino mewakili mereka yang berjualan barang dengan usaha agrobisnisnya. Sebuah kantor adalah pasar, kota besar seperti Jakarta adalah juga sebuah pasar dan seluruh bumi ini juga merupakan pasar dalam skala global. Untuk sukses di pasar tersebut, kita harus kreatif mencari jenis dagangan apa yang belum ada di sana. Saya yakin apabila kita mau “melakukan apa yang orang lain tidak mau mengerjakannya”, insya Allah kita tidak akan pernah kehilangan harapan dalam mengarungi hidup ini.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui email: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.

UA:A [1.1.6_502]

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Dispersal: Strategi Sukses Semua Makhluk

sgOleh: Sulmin Gumiri*

Dalam mata kuliah Ekologi yang saya ajarkan kepada para mahasiswa pascasarjana, ada satu topik yang selalu hangat diperbincangkan mahasiswa setiap angkatan. Topik itu adalah tentang kebiasaan untuk melakukan dispersal pada sebagian individu organisme baik tumbuhan, hewan, dan juga pada manusia. Kata dispersal sebenarnya berasal dari istilah ekologi untuk menggambarkan penyebaran organisme dari tempat asalnya. Fenomena penyebaran berbagai jenis makhluk hidup ini bisa kita lihat, misalnya pada melentingnya sebuah biji tumbuhan pada saat kulit buah yang sudah masak tiba-tiba merekah, sehingga ia terlempar jauh dari pohon induknya.

Pada binatang misalnya, kita melihat bagaimana seekor rusa jantan muda tiba-tiba berjalan sendiri keluar dari lintasan perjalanan kelompoknya dan mencari arah baru pengembaraannya. Gejala dispersal pada manusia bisa kita lihat pula pada hijrahnya seseorang dari desa ke kota, atau dari satu kota ke kota yang lain, dan bahkan dari negara satu ke negara yang lain. Mengapa makhluk-makhluk itu melakukan dispersal? Jawabannya hanya satu, yaitu untuk mencari kehidupan yang lebih baik atau menemukan kesuksesan.

Dispersal dan sukses adalah proses alami yang diciptakan oleh Sang Pencipta bagi semua makhluknya. Dispersal sebenarnya sangat terkait dengan tantangan yang telah saya tulis di artikel saya sebelumnyan (baca: “Jangan Pernah Lari dari Tantangan!”). Untuk melakukan dispersal tidaklah mudah, karena makhluk yang melakukannya pasti akan menghadapi risiko. Sebuah biji yang melenting paling jauh dan terpisah dari tumpukan biji-biji lain sekitar pohon induknya, akan menghadapi risiko tersangkut di pohon, mendarat di pasir gersang sehingga mengering dan mati, atau juga mungkin akan ditemukan oleh hewan pemakan biji, sehingga ia gagal melanjutkan proses kehidupan untuk menjadi sebatang pohon baru.

Seekor rusa jantan yang keluar dari lintasan kelompoknya akan menempuh perjalanan panjang yang mirip judi. Ia bisa mati kehausan jika tidak menemukan sumber air di lintasan barunya, atau ia juga bisa diterkam predator, atau ditembak oleh pemburu yang menemukannya pada saat ia sendirian.

Sementara, orang yang melakukan hijrah dari satu tempat ke tempat yang lain bisa stres karena tidak punya teman, tidak paham bahasa orang di sekitarnya, atau mungkin terlunta-lunta akibat tidak berhasil menemukan pekerjaan di tempat barunya.

Meskipun penuh risiko dan bahkan bisa berujung kepada kematian, tetapi tetap saja ada individu makhluk hidup yang mencoba melakukan dispersal. Mereka yang nekat melakukan dispersal ini tentulah makhluk-makhluk luar biasa yang berani menghadapi tantangan, karena mereka sadar bahwa di balik tantangan dan risiko tentu ada imbalan kesuksesan yang sengaja disembunyikan oleh Sang Pencipta.

Bayangkan, jika biji yang melenting jauh tersebut jatuh di tanah yang subur dan tidak ditemukan oleh hewan pemakan biji-bijian. Ia akan sangat cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya, kemudian mulai membelah diri dan tumbuh subur menjadi pohon yang tinggi menjulang, tanpa harus berebut unsur hara atau sinar matahari dengan saudara-saudaranya yang memilih tumbuh berdesak-desakan di sekitar pohon induk mereka.

Setelah berpetualang tersesat ke sana kemari dengan melawan haus dan dahaga, sang rusa jantan “nyeleneh”, yang keluar dari kerumunannya dan mencari jalan sendiri, mungkin akhirnya akan bertemu dengan padang rumput yang luas menghampar di pinggiran sungai. Dengan sumber makanan yang melimpah ia akhirnya menjadi pejantan muda yang besar dan kuat sehingga menjadi raja di teritori baru yang dikuasainya, sesuatu yang tidak akan ia dapatkan seandainya ia terus bersama kelompoknya. Sebab, ia akan selalu dihardik dan dihajar oleh pejantan senior yang memimpin kelompok mereka karena persaingan makanan dan pasangan.

Setelah setengah putus asa karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaaan di Kota Jakarta yang katanya sekejam ibu tiri, seorang Andrie Wongso, sang petualang dari Malang yang tidak tamat Sekolah Dasar itu, akhirnya berhasil menjadi seorang aktor film laga di Hongkong karena usaha kerasnya sendiri. Berbekal success story yang dialaminya, sekarang Andrie benar-benar sukses menjadi motivator nomor satu di Indonesia. Ia mengajarkan kiat-kiat mencapai kesuksesan, tidak saja bagi orang kebanyakan, tetapi juga untuk orang-orang intelektual di perguruan tinggi.

Bagi kita manusia, strategi menggapai kesuksesan dengan melakukan dispersal ini telah dipraktikkan sejak dulu kala. Di luar negeri kita bisa melihat bagaimana para petualang Eropa dulu, yang berlomba-lomba bermigrasi ke Benua Amerika, dan akhirnya sukses membangun negara Amerika Serikat yang merupakan kekuatan ekonomi nomor satu dunia saat ini. Atau, lihat orang-orang Cina yang sejak dulumeskipun tidak bisa berbahasa Inggrismereka terus-menerus menyebar di hampir seluruh negara dan berhasil menguasai jaringan perdagangan dunia.

Di negeri sendiri, kita bisa belajar dari pemuda-pemuda Minang yang selalu gerah tinggal di desa mereka, dan akhirnya merantau sehingga, tidak saja para pedagang garmen dan restoran padang yang menyebar di mana-mana di seluruh pelosok Indonesia, tetapi juga para ilmuan tersohor dan tokoh politik nasional pun banyak yang berasal dari suku perantau ini.

Dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa, hampir tidak ada satu pun pulau di Indonesia ini yang tidak didiami oleh suku Jawa. Dan, mereka rata-rata menjadi contoh bagaimana membangun keberhasilan di tempat yang baru mereka tinggali.

Ada yang unik dari orang-orang luar biasa yang sukses karena melakukan dispersal. Ternyata, kesuksesan mereka bukan karena faktor tempat tujuan dan bukan pula karena faktor keberuntungan. Ada orang sukses karena ia pindah dari desa ke kota, tetapi ada juga orang yang justru sukses setelah putus asa mencari pekerjaan di kota dan akhirnya ikut transmigrasi di desa.

Banyak orang Jawa yang sukses setelah pindah ke Sumatera, tetapi tidak sedikit pula orang Sumatera yang justru sukses karena ia merantau ke Jawa. Apakah orang-orang yang sukses karena melakukan dispersal hanya didominasi oleh kalangan pria saja? Tidak juga. Ir. Ciputra adalah contoh pemuda Sulawesi yang berhasil membangun raksasa bisnisnya setelah menaklukkan kerasnya kehidupan Jakarta, tetapi Jenie S. Biev justru sukses menjadi penulis wanita Indonesia terkemuka setelah berhasil mengalahkan para pesaingnya di Amerika.

Lalu, apa sebenarnya rahasia kesuksesan yang dicapai oleh makhluk-makhluk luar biasa yang melakukan dispersal di atas? Yang pertama adalah tekad mereka yang memang benar-benar luar biasa. Hanya makhluk yang punya nyali besar yang berani menghadapi risiko dispersal. Selain memiliki nyali besar, mereka juga memiliki visi yang besar yaitu “sukses”. Karena, tujuan dispersal mereka hanya untuk sebuah kesuksesan, maka mereka biasanya menyusun strategi atau rencana untuk mencapai kesuksesan tersebut.

Agar bisa melenting jauh, sebuah biji yang akan melakukan dispersal biasanya kecil dan ringan serta membentuk dirinya seperti bersayap, agar bisa terbang jauh dan menentukan arah sendiri ketika ditiup angin. Rusa jantan muda yang akan melakukan dispersal biasanya sudah terlihat dari kebiasaannya yang agresif dan suka berlari-lari ketika berjalan bersama rombongan, sebagai persiapan agar dapat berlari kencang saat menghindari predator yang mungkin menyerangnya selama pengembaraan.

Orang yang akan berpindah ke tempat baru biasanya sudah menyiapkan bekal dengan meminta nasihat orang tua, melatih kesabaran, memperdalam keterampilan, menyiapkan dokumen, atau belajar bahasa agar cepat dapat beradaptasi, bergaul, dan berkompetesi di tempat baru yang akan ditujunya.

Orang-orang yang berpindah ke tempat baru biasanya sangat percaya bahwa jika tekad sudah dihujamkan dalam hati, dan dengan berbekal strategi yang sudah dipersiapkan sebelumnya, maka perwujudan visi besar untuk menggapai kesuksesan itu hanya tinggal menunggu waktu saja. Karena keyakinan yang sangat besar untuk meraih kesuksesan tersebut, mereka tidak segan-segan bekerja keras. Mereka percaya bahwa tidak ada cara instan untuk mencapai suatu kesuksesan. Sukses harus melalui sebuah proses dan karenanya memerlukan waktu lama untuk mencapainya.

Dan di atas segalanya, orang-orang sukses adalah mereka yang sadar bahwa sukses ternyata tidak identik dengan harta, popularitas, kedudukan, dan pangkat. Orang yang sukses adalah orang yang mengetahui tujuan hidupnya, bermanfaat bagi orang lain, dan terus bertumbuh untuk menuju potensi maksimum yang ada pada dirinya. O.A. Batista mengatakan, Anda telah mencapai puncak sukses segera setelah Anda tidak lagi tertarik kepada uang, pujian, dan publisitas.

Untuk melihat salah satu potret orang sukses, tidak ada salahnya kalau kita belajar dari Ir. Ciputra, sang raja bisnis properti Indonesia. Bos PT Pembangunan Jaya, Metropolitan Development, dan Ciputra Group yang bisnisnya menggurita di kota-kota besar Indonesia, dan bahkan di luar negeri, ini benar-benar mewakili orang sukses karena tradisi dispersal yang ada di keluarganya.

Pada masa kanak-kanak Pak Ci, panggilan akrabnya, ternyata cukup sengsara. Pria keturunan dengan nama cina Tjie Tjin Hoan ini lahir di Parigi, Sulawesi Selatan. Sejak usia 12 tahun, ia telah menjadi yatim karena ayahnya dituduh anti-Jepang, ditangkap, dan akhirnya meninggal dalam penjara. Sejak itu, ia harus membantu sang ibu dengan bangun pagi-pagi mengurus sapi piaraan, sebelum berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki sejauh 7 km. Mereka hidup dari penjualan kue ibunya. Setelah lulus SMA, berkat kerja keras sang ibu, ia kemudian berhasil masuk ke ITB dan memilih Jurusan Arsitektur.

Setelah Ciputra meraih gelar insinyur pada tahun 1960, ia kemudian pindah ke Jakarta. Di Ibu Kota inilah awal kesuksesan Ciputra. PT Pembangunan Jaya yang pada awal didirikannya pada tahun 80-an cuma dikelola oleh lima orang, dan berkantor di sebuah kamar kerja Pemda DKI Jakarta Raya, kini 20-an tahun kemudian telah menjadi perusahaan raksasa di bawah konsorsium Pembangunan Jaya Group, yang memiliki sedikitnya 20 anak perusahaan dengan 14.000 karyawan.

Namun, Ir. Ciputra, sang pendiri, belum merasa puas. Ia terus bekerja dan berkreativitas untuk mewujudkan mimpi besarnya. Pada suatu kesempatan beliau pernah berkata, “Kalau sudah merasa berhasil, biasanya kreativitas akan mandek.” Sadar akan makna hidup yang sesungguhnya, di usianya yang ke-75, ia malah berkiprah ke bidang pengabdian masyarakat dengan memilih bidang pendidikan. Lalu, didirikannyalah sekolah dan Universitas Ciputra. Bukan sekolah biasa, tetapi sekolah ini menitikberatkan pada enterpreneurship. Dengan sekolah kewirausahaan ini Pak Ci ingin menyiapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa pengusaha. Demikianlah, kesuksesan Pak Ci tidak didapatkannya di tanah kelahirannya di Sulawesi, tetapi justru di Kota Metropolitan Jakarta yang penuh dengan tantangan dan risiko.

Kepada kita yang mungkin mulai putus asa dengan permasalahan kehidupan yang tidak ada titik terang dan jalan keluarnya, mengapa kita tidak mencoba strategi dispersal? Yaitu dengan mencari peruntungan baru di tempat lain, seperti telah dicontohkan oleh Pak Ciputra?[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui email: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Jangan Pernah Lari dari Tantangan!

sgOleh: Sulmin Gumiri*

Perkenalan saya dengan Edy Zaqeus baru satu bulan. Meskipun perkenalan kami baru seumur jagung, yang dimulai pada saat saya kesasar ikut workshopCara Gampang Menulis Buku Bestseller di Jakarta, Desember 2008 lalu, saya merasa Mas Edy memang luar biasa. Betapa tidak, hanya melalui komunikasi beberapa kaliseputar naskah buku yang belum kelar-kelar juga saya tulistiba-tiba bak petir di siang bolong, dia menawarkan saya untuk menjadi salah satu kolomnis di situs www.andaluarbiasa.com ini.

Mulanya, saya sempat ragu untuk menyampaikan kesanggupan saya, mengingat saya belum pernah sekalipun menulis artikel. Tapi, setelah diprovokasi oleh e-mail Mas Edy yang mengatakan, “Ini sebuah tantangan,” saya pun akhirnya nekat menyanggupi, menjadi kolomnis di situsnya orang-orang luar biasa ini.

Ya, hidup ini memang penuh dengan tantangan. Tanpa tantangan, tak akan pernah ada kemajuan atau kesuksesan. Tantangan kehidupan bahkan sudah dimulai sejak pertama kali kita dilahirkan ke dunia ini. Begitu seorang bayi lahir, ia langsung menghadapi tantangan karena kehilangan sumber asupan makanan, akibat diputusnya tali pusar atau plasenta yang selama ini merupakan jalur satu-satunya untuk menyuplai kebutuhan makanannya yang berasal dari sang ibu. Akibat terputusnya saluran makanan otomatis itu, ia pun mulai merasakan lapar dan haus. SI bayi kemudian mulai menangis dan meronta.

Pada saat itulah, biasanya para suster mulai mengenalkan kepadanya sebuah tantangan, agar ia bisa memfungsikan mulutnya sebagai saluran penyuplai makanan baru yang ada pada dirinya. Karena benar-benar haus dan lapar, si bayi terpaksa membuka mulutnya ketika suster menempel-nempelkan puting dot plastik berisi susu ke bibirnya. Ia pun mulai terbiasa minum susu melalui dot. Setelah terbiasa minum susu melalui dot, si bayi ditantang lagi agar bisa mendapatkan ASI langsung dari ibunya.

Agar si anak mau membuka mulut dan bisa menyusu, sang ibu biasanya menjentik-njentikkan jari telunjuknya supaya si bayi mau membuka mulutnya, dan kemudian langsung menyusu kepada ibunya. Demikianlah, karena tantangan rasa haus dan lapar yang luar biasa, akhirnya si bayi pun mulai terbiasa dengan pola baru, yaitu mendapatkan kebutuhan hidupnya dengan menerima asupan makanan atau minuman melalui mulutnya.

Sekitar 15 tahun yang lalu, saya mengalami pembelajaran yang luar biasa. Di kantor, saya berteman dengan seorang tukang sapu yang usianya jauh lebih tua dari saya. Ia sudah bekeluarga dan sudah dikaruniai seorang putri. Karena tidak mampu menyewa rumah kos, mereka diberi izin untuk tinggal di rumah penjaga di belakang kantor. Saya suka bergaul dengannya karena ia termasuk orang yang ramah, rajin, kerja ikhlas, dan jujur.

Saya juga sangat kasihan kepadanya karena untuk menghidupi keluarganya, ternyata ia hanya dibayar oleh kantor saya sebesar Rp 25.000 saja setiap bulannya. Biasanya, untuk sekadar menambah penghasilannya, ia tidak segan-segan menawarkan diri kepada para karyawan kalau-kalau ada yang bisa dikerjakannya di luar jam kerja, entah di kantor atau di rumah karyawan tersebut. Sayangnya, meskipun ia sudah memelas ke sana kemari, hanya satu dua orang karyawan saja yang kadang-kadang peduli dan mau memanfaatkan tenaganya.

Suatu hari, ia mengeluhkan kepada saya tentang teguran keras pimpinan kantor yang mewajibkan dirinya untuk datang lebih pagi lagi dari biasanya, berada terus di kantor, dan baru boleh meninggalkan kantor setelah semua karyawan pulang. Kepada saya, ia menyatakan sangat keberatan dengan permintaan pimpinan tersebut. Karena, kalau hanya untuk pekerjaan menyapu dan menutup kantor, mengapa ia harus stand by di kantor dari jam 6.30 pagi sampai jam 2 siang? Seandainya saja ia bisa memanfaatkan sela waktu antara selesai menyapu dan menutup kantor, ia ingin sekali mencari penghasilan tambahan di luar untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Karena iba, saya pun mencoba memberikan solusi kepadanya. “Pak, karena saya juga pegawai kecil, saya tidak bisa membantu Bapak dari segi materi. Tetapi mulai besok, setelah membersihkan ruangan, Bapak boleh bekerja di luar mencari tambahan, asalkan Bapak bisa kembali berada di kantor sebelum jam 2 siang. Jika pimpinan menegur Bapak, biarlah saya yang menjelaskannya,” begitulah kira-kira tantangan saya kepadanya.

Akhirnya, melalui seorang kenalannya ia bisa mendapatkan pekerjaan sebagai kernet taksi kota yang beroperasi mulai jam 7 sampai jam 12 siang. Setelah beberapa waktu, pernah ia bercerita kepada saya, bahwa meskipun hanya menjadi pembantu sopir, ia bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan untuk menutupi kebutuhan bulanan keluarganya.

Karena kesibukan melanjutkan pendidikan ke luar negeri, saya benar-benar telah melupakan dan tidak tahu kelanjutan nasib teman saya tersebut. Suatu pagi, tidak lama setelah saya dan keluarga kembali ke Tanah Air, saya kaget sekali. Ketika itu saya ingin membayar makanan di sebuah warung sarapan pagi, yang selalu sesak oleh pengunjung di kota kami. Saat saya menyerahkan uang, pemilik warung mengatakan, “Maaf Pak, makan Bapak sudah dibayar oleh Pak Haji.

Saya bingung, Pak Haji siapa, ya? Apa benar ada orang yang mau-maunya membayar sarapan pagi saya dan keluarga? Kalau ya, mengapa beliau melakukan itu? Saya bingung dan sedikit malu. Lalu, si ibu pemilik warung menunjuk ke deretan belakang pengunjung dan mengatakan, Tuh, dia Pak Hajinya. Saya pun menoleh dan melihat pasangan keluarga yang suaminya melambaikan tangan ke arah saya.

“Apa kabar Pak Sulmin, lama sekali kita tidak bertemu….” Dengan ragu-ragu saya pun mendekat kepada Pak Haji dan Bu Haji di depan saya. Saya hampir tidak percaya, ketika saya tiba-tiba ingat bahwa Pak Haji di depan saya ini adalah teman lama saya, si tukang sapu yang pernah menyampaikan keluhan kesulitan hidup keluarganya, sekitar 10 tahun yang lalu.

Karena sama-sama terharu, kami pun saling berpelukan dan menanyakan keadaan keluarga masing-masing. Pak Haji teman saya itu pun kemudian mengundang saya dan keluarga untuk bertamu ke rumahnya, yang ternyata tidak terlalu jauh dari lokasi tempat tinggal kami saat ini. Singkat cerita, setelah kami bertandang ke rumahnya, dengan suka cita dia menyampaikan terima kasih kepada saya, yang menurutnya telah membantu perubahan kehidupan keluarganya sejak ia menjadi tukang sapu di kantor saya dulu.

Rupanya, setelah kepergian saya ke luar negeri, suatu hari pimpinan kantor saya marah besar kepadanya, karena dia selalu meninggalkan kantor saat jam kerja. Karena saya tidak ada, ia seperti kehilangan tempat curhat di kantor, dan akhirnya nekat minta berhenti. Ia kemudian pindah dan mencari kos murahan di daerah ke pinggiran kota. Selain tetap menjalani profesi sebagai kernet, ia juga berusaha bekerja serabutan, apa saja asal bisa untuk menghidupi anak dan isterinya.

Diam-diam, pemilik taksi kota yang juga pengusaha kayu tempat dia bekerja, merasa kasihan terhadap nasib teman saya tersebut. Pengusaha kayu itu kemudian menawari mereka untuk tinggal di bedengan pangkalan kayu miliknya. Untuk membantu penghasilan sang suami, pemilik pangkalan kayu juga memberikan sedikit modal kepada isteri teman saya tersebut, untuk berjualan makanan kecil sambil melayani para pembeli kayu.

Demikianlah, suami isteri tersebut bekerja siang dan malam membanting tulang untuk mempertahankan kehidupan keluarganya. Karena jujur dan mau kerja keras, kehidupan mereka perlahan-lahan mulai membaik. Pada saat pemilik pangkalan kayu memperluas usahanya, suami isteri tersebut dipercaya mengelola langsung salah satu pangkalan kayu milik majikannya. Lama kelamaan, mereka memiliki pangkalan kayu sendiri, hingga mampu membeli beberapa buah taksi kota.

Di perkumpulan pemilik taksi kota, teman lama say itu pun kemudian dipercaya menjadi ketua Organda. Dan, dengan mewakili Organda, ia kemudian masuk dalam jajaran pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Setelah umroh beberapa kali dan naik haji, ia kemudian diajak mengurus Partai Golkar di kota kami. Saat kami bertandang ke rumahnya, ia sedang mencalonkan diri untuk menjadi Ketua Partai Golkar di daerah kami.

Demikinalah, kehidupan seperti mengalir deras berpihak kepadanya. Saat ini, ia hampir mendapatkan semuanya, mulai harta, kedudukan, dan kemuliaan. Teman lama saya ini mengatakan, bahwa ia benar-benar tidak percaya terhadap perubahan kehidupan keluarganya. Dan untuk itu, ia hanya bisa mengucapkan kepada saya, “Terima kasih atas tantangan yang telah Bapak berikan.

Banyak sekali kisah kehidupan seperti yang dialami teman saya di atas, yang mencerminkan betapa pentingnya sebuah tantangan bagi kemajuan atau kesuksesan seseorang. Saat menulis artikel ini, saya baru saja menyaksikan acara inaugurasi pelantikan Barrack Obama sebagai Presiden ke-44 Amerika Serikat. Upacara pelantikan yang disaksikan langsung oleh sekitar 3 juta manusia di Washington DC, dan disiarkan secara live oleh televisi ke seluruh dunia itu, disebut-sebut sebagai pelantikan yang paling meriah dari semua presiden Amerika yang pernah ada.

Cerita kesuksesan Barrack Obama juga tidak terlepas dari kerasnya tantangan kehidupan yang dijalaninya. Sejak umur 2 tahun ia sudah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya akibat perceraian ibunya yang asli Amerika dan Bapaknya yang berasal dari Kenya. Sang ibu kemudian meninggalkannya bersama neneknya di Hawaii, karena kawin lagi dengan seorang pria Indonesia yang bernama Lolo Soetoro. Pada umur 6 tahun, barulah ia bisa berkumpul lagi bersama sang ibu dan tinggal bersama ayah tirinya di Jakarta.

Barrak Obama, yang lebih dikenal teman-temannya di Jakarta dengan nama Barry, harus berjuang keras untuk menyesuaikan diri dengan pola hidup masyarakat kebanyakan di Jakarta. Setelah ia berhasil menyesuaikan diri dengan gaya hidup orang Indonesia, demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik, ia pun kemudian dikirim kembali oleh ibunya ke Hawaii dan diasuh oleh neneknya di sana.

Di masa remajanya, ia sempat frustrasi dan mengonsumsi obat-obat terlarang akibat ketidakjelasan identitas diri. Dalam pergaulan sehari-hari, warga negara kulit hitam Amerika tidak mau menerima Obama sepenuhnya, karena ia kurang hitam untuk komunitas negro di sana. Sedangkan warga kulit putih juga menjaga jarak dengan dirinya, karena warna gelap kulitnya yang merupakan warisan dari ayahnya yang negro Afrika.

Berbagai tantangan kehidupan dan didikan keras ibu serta neneknya telah menjadikan Obama manusia tangguh. Sehingga akhirnya, ia berkibar di perpolitikan Amerika di usianya yang masih sangat muda. Puncaknya, di usianya yang baru menginjak 47 tahun, ia akhirnya berhasil mematahkan mitos bangsa Amerika, yaitu dengan menjadi presiden kulit hitam pertama di negara adidaya tersebut.

Ada beberapa pembelajaran yang bisa kita ambil dari contoh-contoh kisah di atas. Pertama, tantangan dalam kehidupan bentuknya bermacam-macam. Ada tantangan karena ketidakberdayaan, seperti bayi yang baru lahir di atas, tantangan kemiskinan seperti yang dialami oleh mantan teman kantor saya, atau juga tantangan prahara keluarga dan perbedaan warna kulit seperti yang terjadi pada Barrack Obama.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, setiap orang memiliki tantangan sendiri-sendiri seperti cacat fisik, tidak berpendidikan, tidak tinggal di kota besar, tidak bisa bahasa Inggris, tidak bisa berdagang, terlalu muda, terlalu tua, tidak bisa pidato, tidak bisa menulis, dan sebagainya. Hampir tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tidak memiliki tantangan.

Kedua, tantangan, kesulitan, atau kendala bukanlah sesuatu yang harus ditakuti dalam kehidupan. Justru dengan adanya tantangan maka kita semakin dekat kepada suatu kesuksesan. Di balik kulit durian yang berduri tajam terdapat daging buah yang enak dan lezat. Dan, di dalam kulit kerang yang keras dan kasar, terdapat mutiara yang indah berkilau. Layang-layang tidak akan pernah bisa terbang tinggi kalau tidak ada angin kencang yang menerjangnya.

Ketiga, akan selalu ada orang yang membantu kita dalam menghadapi setiap tantangan. Apakah ia suster atau ibu yang membimbing seorang bayi untuk mulai memfungsikan mulutnya, Pak Haji pemilik pangkalan kayu yang membimbing teman tukang sapu saya menjadi pengusaha sukses, atau sang ibu dan nenek yang berhasil menjadikan Obama sebagai pria yang tangguh, sehingga bisa menjadi presiden kulit hitam pertama Amerika.

Pokoknya, selalu ada jalan keluar dari setiap tantangan yang kita hadapi. Dalam agama Islam dikatakan: “Tuhan tidak akan pernah memberikan suatu ujian di luar batas kemampuan manusia untuk mengatasi ujian tersebut.

Karena kita semua tidak mungkin bisa lari dari tantangan, tinggal terserah kita bagaimana menyikapi setiap tantangan tersebut. Kita bisa memanfaatkan setiap tantangan untuk mengeluarkan potensi-potensi yang terpendam dalam diri kita, demi menggapai kesuksesan. Atau, kita justu membiarkan tantangan tersebut menjadi belenggu yang mematikan daya kreativitas dan daya cipta yang kita miliki.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik dan peneliti di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui email: sulmin[at]upr.ac.id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox