Memilih Bodoh

sgOleh: Sulmin Gumiri*

“Orang yang tidak dapat mengubah susunan pikirannya sendiri tidak akan pernah dapat mengubah realitas, dan dengan demikian tidak akan pernah membuat kemajuan apa pun.
~ Anwar Sadat

Peradaban manusia senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Sejak zaman primitif hingga era modern saat ini jenis perubahan semakin bertambah banyak. Kalau di awal peradaban, perubahan kehidupan manusia hanya ditandai oleh ditemukannya peralatan berburu, memasak dan pakaian sederhana. Saat ini, perubahan terjadi di hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pola interaksi sosial, jenis pekerjaan, teknologi bertani, layanan kesehatan, berbagai moda transportasi, sampai kepada kemampuan berkomunikasi.

Dengan semakin tingginya mobilitas manusia dan semakin canggihnya teknologi informasi, perubahan juga berlangsung semakin cepat. Di era serba canggih saat ini, manusia memiliki kemampuan menduplikasi yang luar biasa karena hanya dalam hitungan detik kita sudah bisa mengetahui, mempelajari, dan kemudian meniru setiap kejadian dan perkembangan penting yang terjadi di berbagai belahan dunia lain. Dengan semakin beragam dan semakin cepatnya perubahan yang terjadi, maka manusia modern mau tidak mau harus berteman dengan perubahan itu sendiri. Menolak perubahan sama dengan mengingkari kehidupan. Atau dengan kata lain, hanya orang yang mau berubahlah yang akan bisa bertahan dan sukses di tengah turbulensi peradaban modern saat ini.

Untuk bisa mengikuti dan kemudian beradaptasi dengan setiap perubahan yang terjadi, satu-satunya strategi yang harus kita lakukan adalah dengan membuka diri terus-menerus untuk senantiasa belajar dan belajar. Luar biasanya pertambahan jenis dan peningkatan kecepatan perubahan yang terjadi, telah berdampak juga kepada pola pembelajaran. Sistem pendidikan formal konvensional yang terpusat kepada guru (Teacher Centered Learning) sudah tidak memadai lagi karena dalam sistem ini terjadi selisih waktu atau time lag yang jauh sekali antara sang guru dan para peserta didik. Ilmu pengetahuan yang didapat oleh guru bertahun-tahun atau puluhan tahun sebelumnya sudah tidak relevan lagi dengan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.

Di sekolah-sekolah formal, yang diperlukan saat ini adalah pola pengajaran yang berpusat kepada para peserta didik (Student Centered Learning) yang memungkinkan mereka untuk mengakses informasi sebanyak-banyaknya dan kemudian mengolah dan memanfaatkan informasi tersebut untuk menjawab setiap tantangan kehidupan yang ada saat ini. Dalam sistem ini guru hanya berperan sebagai fasilitator yang akan mengarahkan para anak didiknya bagaimana cara mengakses, memilah-milah, dan memanfaatkan informasi melimpah yang tersedia. Untuk bisa menjadi fasilitator yang baik tentu saja sang gurutermasuk yang sudah bergelar profesor sekalipunharus terus belajar dan meningkatkan ilmu pengetahuannya. Karena kalau tidak, suasana sebaliknya yang akan terjadi di mana ia sendiri yang akan diajar oleh anak didiknya.

Di Indonesia, perubahan sistem pendidikan dari Teacher Centered Learning ke Student Centered Learning tidak bisa dilakukan dalam waktu sekejap. Selain memerlukan tenaga pendidik dengan kompetensi tinggi, Student Centered Learning juga harus didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai. Dengan anggaran yang terbatas ditambah lagi dengan kondisi geografis negara kita yang terdiri dari ribuan pulau, pemerintah kita memerlukan waktu yang relatif lama untuk mereformasi sistem pendidikan menuju kepada kondisi ideal sesuai dengan tingkat perubahan dunia sekarang. Dengan kondisi penuh keterbatasan seperti ini kita hanya berharap mudah-mudahan sistem pendidikan kita tidak selalu ketinggalan dengan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terakhir yang semakin cepat berubah akhir-akhir ini.

Sebagian orang terlihat senantiasa haus untuk belajar karena mereka ingin dapat terus mengikuti, menyesuaikan diri, dan bahkan mengambil keuntungan dari perubahan kehidupan yang berlangsung sangat cepat saat ini. Bagi orang-orang yang “memilih bodoh” ini, belajar di sekolah formal saja sudah terasa tidak memadai lagi, karena ilmu pengetahuan terkini dan pengalaman yang berharga justru lebih banyak bisa didapatkan di luar sekolah-sekolah formal yaitu di sekolah kehidupan itu sendiri. Mereka ini, selain senantiasa mengambil pelajaran dari apa yang ia lihat, rasakan, dan alami dalam kehidupan sehari-hari, juga tidak segan-segan untuk “sekolah lagi” di lembaga-lembaga pendidikan nonformal yang jumlahnya semakin bertambah, bak jamur di musim hujan di banyak negara di dunia termasuk di Indonesia. Lembaga-lembaga nonformal ini menyediakan jasa bagi pemenuhan kebutuhan untuk terus belajar bagi para “life long learner” yang ingin terus exist dan berkembang di tengah derasnya perubahan kehidupan dengan kompetisi sukses yang juga semakin ketat saat ini.

Di era globalisasi ini, dunia terasa semakin kecil dan sekat-sekat antara negara pun semakin tidak berarti lagi. Pola interaksi manusia terjadi demikian bebas dan berlangsung sangat cepat tanpa terhalang oleh lokasi negara, sistem politik, corak budaya, dan paham agama. Karena itu, para pembelajar di sekolah kehidupan akan mengalami transformasi cakrawala pandang yang lebih terbuka dan memiliki wawasan yang lebih luas. Karena, apa yang mereka pelajari berasal dari peristiwa-peristiwa kehidupan yang terjadi di berbagai belahan negara di dunia.

Semakin banyak mereka belajar di sekolah kehidupan, akan semakin terbuka pula kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain di mana pun orang tersebut berada di muka bumi ini. Dari pola interaksi ini maka mereka dapat dikategorikan sebagai international citizen yang sangat memercayai, bahwa orang baik itu ada di mana-mana dan sebaliknya orang jahat pun bukan hanya ada di sekeliling kita saja. Pilihan sepenuhnya ada di tangan pribadi masing-masing, apakah kita ingin berteman dan belajar dari orang baik dan bijaksana, atau akan terpengaruh dan ikut arus mengikuti gaya hidup yang ditempuh oleh orang-orang di jalan yang salah.

Untuk bisa sukses dalam kehidupan di zaman globalisasi ini, maka kita harus memperluas jaringan interaksi kita dengan orang lain (networking). Berinteraksi dengan berbagai macam manusia dengan segala keunikannya bukanlah sesuatu yang mudah. Sebagai makhluk sosial, kita semua diikat oleh suatu hukum universal yang disebut prinsip-prinsip dasar kehidupan. Karena itu, kalau kita ingin sukses maka kita pun harus belajar memahami dan mengaplikasikan prinsip-prinsip dasar kehidupan dalam kehidupan kita sehari-hari

Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ditemukan fakta bahwa kemajuan mereka disebabkan karena mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan tersebut. Prinsip dasar atau nilai-nilai kehidupan universal ini terdiri dari: senantiasa menjunjung tinggi etika, menjaga kejujuran dan integritas, bertanggung jawab, hormat pada aturan dan hukum masyarakat, hormat pada hak orang/warga lain, cinta pada pekerjaan, berusaha keras untuk menabung dan investasi, mau bekerja keras dan memiliki disiplin tinggi dengan senantiasa tepat waktu.

Berita buruknya, nilai-nilai universal tersebut sudah semakin jarang diajarkan di sekolah-sekolah formal sekarang ini. Tetapi berita baiknya, prinsip dasar kehidupan universal di atas bisa kita dapatkan secara gratis jika kita mau belajar terus-menerus di sekolah kehidupan. Jadi, selamat kepada siapa saja yang dengan rela telah membodohkan diri untuk senantiasa menjadikan dirinya sebagai manusia pembelajar.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris, dan gelar Ph.D. dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening, dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Menguak Rahasia Alam untuk Menuai Kesuksesan

sgOleh: Sulmin Gumiri*

Manusia benar-benar merupakan makhluk istimewa yang sangat disayangi dan dimanjakan oleh Tuhan. Kepada setiap individu makhluk yang sering mendapat julukan sebagai khalifah di muka bumi ini, Sang Pencipta dan Penguasa Alam Semesta sepertinya memberikan otoritas penuh dan menyediakan begitu banyak cara dan peluang untuk menuju sukses. Prestasi cemerlang teman saya berikut ini merupakan bukti nyata, bahwa siapa pun berhak untuk sukses asal ia serius untuk menggapainya.

Mungkin sebagian dari kita tidak begitu familiar dengan makhluk merayap, licin berlendir, dan sangat menjijikkan yang biasa disebut “ulat grayak”. Ulat dengan nama ilmiah Spodoptera ini adalah salah satu jenis ulat ganas yang menjadi musuh para petani. Betapa tidak, hanya dalam hitungan beberapa hari, hama yang sangat mengerikan ini mampu memupus harapan para petani dengan menyerang ribuan hektar tanaman palawija dan sayuran yang siap panen. Beberapa daerah di Indonesia seperti Jawa Barat, Bangka Belitung, dan Nusa Tenggara Timur pernah mengalami kerugian yang luar biasa akibat serangan hama ganas ini.

Hebatnya, saat terjadi serangan sporadis ulat ini, para petani dan aparat pemerintah biasanya tidak berdaya. Karena, hama cerdik ini ternyata memiliki kemampuan menyerbu lahan petani secara bergerilya. Pada siang hari mereka biasanya menghilang dan sembunyi di balik tanah. Kemudian mereka baru mulai bergerak menyerbu tanaman pada malam hari hingga matahari pagi bersinar. Serangan hewan ini biasanya menyebabkan daun dan buah tanaman menjadi sobek dan tangkai buah menjadi terpotong-potong serta berlobang sehingga mengakibatkan kegagalan panen.

Ulat kecil yang sangat menjijikkan ini tidak saja mengancam kepentingan para petani. Pada tahun 2008 yang lalu, mereka bahkan pernah diberitakan melakukan penyerangan terhadap penduduk di salah satu komplek perumahan di Kota Bandung. Hewan ganas ini menyerbu rumah-rumah warga dan kemudian bergelantungan di langit-langit, merayap di dinding, bersembunyi dalam alat-alat elektronik, dan bahkan ada yang hinggap dan merayap di tubuh para penghuni rumah. Diberitakan pula bahwa hanya dalam hitungan tujuh hari, hewan ini berhasil memaksa seluruh warga meninggalkan rumah mereka dan mengungsi selama beberapa hari di tempat yang lebih aman, termasuk di hotel-hotel terdekat. Saking besarnya kerugian dan ancaman ulat grayak terhadap kepentingan manusia, rasanya tidak berlebihan jika sebagian orang menobatkan si ulat kecil menjijikkan ini sebagai salah satu musuh besar yang harus terus diwaspadai dan dibasmi.

Namun, jika kita tidak dalam kondisi panik, kita hanya perlu sedikit kebijakan berpikir untuk mengakui bahwa ternyata tidak selamanya ulat grayak merugikan manusia. Binatang merayap ini sebenarnya adalah bagian dari siklus hidup sejenis kupu-kupu kecil (imago). Pada musim yang dianggap cocok untuk perkembangannya dan tersedianya makanan yang melimpah, kupu-kupu kecil tersebut akan bertelur dalam jumlah yang sangat banyak untuk melipatgandakan keturunannya. Telur-telur tersebut kemudian menetas menjadi larva yang sering kita sebut ulat grayak. Proses berkembang ulat grayak untuk menjadi kupu-kupu kecil biasanya memerlukan waktu lima hingga tujuh hari.

Jadi, serangan ulat grayak sebenarnya adalah salah satu contoh betapa manusia harus terus-menerus belajar dan belajar untuk menguak rahasia alam ciptaan Tuhan. Jika kita mau belajar, bukan tidak mungkin hewan yang menjijikkan dan menakutkan ini justru bisa kita jadikan teman untuk mengantarkan kita kepada sebuah kesuksesan.

Salah seorang teman baik saya adalah orang yang berhasil menjadikan ulat grayak sebagai teman untuk menggapai sukses. Ketika sama-sama mengambil program doktor di Jepang beberapa tahun yang lalu, saya menyaksikan sendiri betapa luar biasanya teman ini. Selama tiga tahun mengambil program doktor, teman tersebut sudah mengunjungi hampir semua kota besar di Jepang dan setidaknya tiga negara lainnya di luar Jepang, demi mempresentasikan hasil penelitiannya tentang ulat grayak. Untuk ukuran perempuan, saya rasa ia termasuk dosen Indonesia yang berprestasi luar biasa di bidangnya.

Yang paling menarik, teman saya ini selalu terlihat sangat bersemangat setiap kali bercerita tentang ulat grayak. Pada salah satu kesempatan seminarsetelah menyadari sebagian peserta terlihat kurang antusias dan seperti jijik mendengar ulat grayak yang ia presentasikandengan berseloroh dia berkata, “Sekalipun teman-teman tidak suka dengan ulat menjijikkan ini, ia telah sangat berjasa dalam perjalanan karier dan keluarga saya. Tanpa ulat ini, saya tidak mungkin memboyong keluarga saya ke Jepang, menyekolahkan anak-anak saya di Negeri Sakura ini, dan bahkan bepergian ke mancanegara. Teman kecil saya inilah yang telah membelikan tiket pesawat dan membawa saya terbang keliling dunia.

Bagi sayayang juga menekuni penelitian tentang hewan kecil perairan dan bahkan tidak bisa dilihat sama sekali dengan mata telanjang yang disebut zooplanktonpernyataan teman tadi sangatlah benar adanya. Dengan keahlian unik yang ia miliki, ia telah menciptakan relung (niche) sehingga ia merupakan satu dari sangat sedikit orang yang bisa mengungkap rahasia alam di balik ulat grayak. Karena dahsyatnya ancaman ulat grayak terhadap ketahanan pangan dunia, keahliannya akhirnya sangatlah diperlukan. Sehingga, ia sering diundang untuk menyajikan hasil penelitiannya tentang strategi pemberantasan ulat grayak kepada komunitas peneliti pertanian internasional.

Baru-baru ini, saya makin terkaget-kaget saja dengan kesuksesan teman baik saya ini. Setelah tujuh tahun berpisah sejak menyelesaikan program doktor kami di Jepang, tanpa disangka-sangka kami bertemu lagi dalam forum pertemaun tahunan Pimpinan Fakultas Pertanian-Perguruan Tinggi Indonesia Bagian Barat di Banten. Ia rupanya diundang sebagai salah satu pembicara dalam forum ilmiah tahunan bergengsi tersebut. Saat itu, ia menceritakan bahwa semenjak pulang ke Tanah Air, ia terus mengajar dan meneliti. Ia juga diminta menjadi konsultan ahli Departemen Pertanian untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman di salah satu sentra produksi palawija di daerahnya. Teman ini juga memberi tahu saya bahwa dalam beberapa bulan ke depan ia akan dibiayai oleh Pemerintah Indonesia untuk melanjutkan dan memperdalam penelitiannya tentang ulat grayak dengan tinggal selama empat bulan di Hokkaido University.

Karena saya pernah juga menjadi peneliti tamu di salah satu universitas bergengsi di Eropa beberapa tahun yang lalu, saya bisa membayangkan bahwa kedatangannya sebagai peneliti tamu di Jepang kali ini pasti akan diikuti dengan lompatan karier dan reward finansial yang tidak sedikit. Dengan begitu banyaknya apresiasi dan penghargaan yang telah ia dapatkan, saya sangat yakin bahwa teman saya ini tidak pernah menyesal mempelajari ulat grayak. Makhluk yang bagi kebanyakan orang dikonotasikan sebagai musuh jelek dan menjijikkan sehingga harus dihindari dan dimusnahkan. Namun di mata teman saya ini, ulat grayak justru terlihat begitu cantik dan menyenangkan sehingga perlu terus dipelihara dan dipelajari karena bisa dijadikan teman untuk menggapai kesuksesan.

Kisah sukses teman saya di atas memberikan pelajaran kepada kita bahwa betapa begitu banyak jalan untuk mencapai sebuah kesuksesan. Sesuatu yang terlihat tidak berguna di mata sebagian orang, kadang kala justru sangat berharga dan bisa dijadikan kendaraan untuk menggapai keberhasilan bagi orang yang lainnya.

Ada berjuta-juta makhluk hidup dan benda mati di bumi ini yang bisa dipelajari. Dan, tidak terhitung banyaknya jenis barang dan jasa yang bisa kita jadikan usaha untuk membuat hidup kita lebih bermakna. Pepatah lama mengatakan “Ada banyak jalan menuju Roma”, begitulah kira-kira perumpamaan tentang begitu banyaknya cara untuk menggapai sebuah kesuksesan.

Jika tersedia begitu banyak peluang untuk sukses, lalu apa yang membedakan antara orang yang berhasil dan orang yang gagal? Dari kasus teman baik saya di atas, setidaknya saya menemukan empat ciri atau kebiasaan khas yang telah mengantarkan kesuksesan kariernya sebagai dosen dan peneliti di perguruan tinggi.

Ciri yang pertama, teman saya tersebut adalah tipe orang yang berani tampil beda. Sejak awal, ia tidak pernah risau apakah ilmu tentang prilaku ulat grayak yang ia tekuni akan disukai atau tidak oleh orang lain. Sepanjang ilmu tersebut bisa mendatangkan kebaikan bagi dirinya dan tidak merugikan orang lain, maka dengan senang hati dan bangga ia terus mengerjakan dan menekuni bidang keahlian tersebut. Melakukan apa yang orang lain tidak mau kerjakan merupakan salah satu strategi untuk mengurangi pesaing sehingga memberikan peluang lebih besar bagi dirinya untuk keluar sebagai pemenang.

Selain berani tampil beda, teman saya tersebut juga sangat cinta kepada bidang pekerjaannya. Kecintaan kepada profesi ini ia wujudkan dengan selalu belajar, meneliti, dan kemudian menyebarkan ilmu tentang ulat grayak yang dikuasainya kepada siapa pun yang membutuhkannya. Dengan selalu belajar, maka dari waktu ke waktu ia semakin menguasai seluk beluk prilaku ulat grayak. Sehingga, ia pun menjadi semakin ahli dan pintar dalam mengendalikan prilaku ganas dari hama yang sangat merugikan tersebut.

Karena semakin ahli dan pintar, ia juga menjadi semakin produktif dalam menghasilkan karya ilmiah dan melakukan pengabdian masyarakat yang berkaitan dengan penanggulangan hama ulat grayak baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Banyaknya publikasi ilmiah dan semakin tingginya apresiasi masyarakat terhadap keahliannya, kemudian berimplikasi kepada peningkatan karier dan reward finansial kepada teman saya tersebut.

Yang saya sangat kagumi dengan teman saya ini adalah prinsip hidupnya yang sangat menghargai proses. Ia tidak terlalu berharap kepada hal-hal yang bersifat instan atau berbau keberuntungan, apalagi menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Bayangkan saja, ia telah meneliti ulat grayak selama lebih dari tujuh tahun sejak ia menamatkan program sarjananya sampai ia kemudian menamatkan S-3 sehingga berkualifikasi doktor.

Setelah doktor pun ternyata ia masih melanjutkan pendalaman ilmunya dengan menjadi peneliti mandiri di universitasnya selama delapan tahun. Itu pun rupanya masih belum cukup, karena ternyata ia akan kembali bergabung lagi dengan mantan pembimbing doktornya untuk melakukan penelitian lanjutan di Jepang selama empat bulan tahun ini. Kalau kita hitung-hitung, teman saya ini termasuk orang yang tidak mengingkari hukum alam, bahwa dalam profesi dan bidang usaha apa pun diperlukan proses panjang untuk mencapai sebuah kesuksesan.

Andrias Harefa—seorang trainer pengembangan sumber daya manusia papan atas di Indonesiapernah menulis bahwa untuk menjadi trainer dan pembicara publik yang sukses juga diperlukan kurun waktu antara 10 sampai 15 tahun. Demikian pula di kalangan para pengusaha seperti Bob Sadino dan Ir Ciputra, diperlukan kurang lebih kurun waktu yang sama untuk benar-benar mencapai sukses di bisnis mereka.

Dan yang terakhir, teman saya ini adalah seorang yang memegang prinsip untuk selalu menggali lebih dalam. Ia adalah tipe pekerja keras yang selalu antusias dan ikhlas untuk mengerjakan sesuatu lebih banyak dari pada yang dikerjakan oleh orang lain. Di Indonesia dan apalagi di dunia, ia bukanlah orang pertama yang meneliti ulat grayak. Tetapi, karena ia konsisten dan melakukan penelitian lebih banyak dari yang lainnya, maka dialah yang akhirnya dikenal dunia sebagai pakar ulat grayak. Karena ia sudah melakukan yang terbaik, rupanya Yang Kuasa pun tidak keberatan untuk memberikan imbalan yang setimpal terhadap hasil kerja kerasnya. Apakah Anda termasuk orang seperti ini? Jika ya, saya ucapkan selamat atas kesuksesan yang sudah ada di pelupuk mata Anda![sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardeningdan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Momentum Sukses

sg1Oleh: Sulmin Gumiri*

Karena momentum mengandung dimensi massa dan kecepatan,

maka prestasi besar hanya akan bisa kita capai apabila kita bisa

mempertahankan kedua dimensi tersebut.”

~ Sulmin Gumiri

Kata momentum sering sekali kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ada dua pengertian momentum. Dalam bahasa umum momentum diartikan sebagai saat yang tepat (untuk melakukan sesuatu), sedangkan dalam Ilmu Fisika kata ini juga digunakan sebagai sebuah besaran yang merupakan hasil kali dari massa dan kecepatan gerakan sebuah benda. Dari kedua pengertian tersebut, momentum memiliki tiga dimensi yaitu waktu, bobot, dan kecepatan. Ketiga dimensi tersebut sangat lekat dengan rahasia kesuksesan seseorang.

Dalam menjalani kehidupan ini ada kalanya kita memiliki semangat yang luar biasa untuk melakukan suatu pekerjaan. Semangat ini biasanya timbul setelah kita termotivasi karena melihat prospek hasil dari pekerjaan yang ingin kita lakukan tersebut. Pemahaman kita tentang prospek yang menjanjikan itu biasanya kita dapatkan melalui proses perenungan sendiri atau juga dari hasil interaksi kita dengan orang lain. Saya sendiri pernah merasakan semangat yang luar biasa untuk segera memulai menulis setelah mengikuti Proaktif Training: Cara Mudah Menulis Buku Bestseller bulan Desember tahun 2008 yang lalu. Saking termotivasinya saya waktu itu, saya benar-benar tidak percaya ketika saya mampu menulis artikel sepanjang 50 halaman hanya dalam waktu tiga hari saja, sejak hari pertama pelatihan tersebut. Pencapaian luar biasa yang saya hasilkan waktu itu hanya dimungkinkan karena saya memiliki momentum.

Dari contoh kasus di atas, kita dapat menarik pelajaran bahwa pencapaian-pencapaian luar biasa dalam hidup ini hanya dapat kita raih kalau kita memiliki momentum. Sayangnya, momentum tersebut jarang datang sendiri kepada kita. Ia harus dicari atau diciptakan. Dan setelah kita mendapatkannya, yang tidak kalah pentingnya adalah tetap mempertahankan momentum tersebut untuk mencapai target yang telah kita tetapkan.

Bahan mentah pertama untuk menciptakan momentum adalah keinginan untuk selalu tumbuh dan berkembang. Keinginan untuk selalu berubah ke arah yang lebih baik ini akan menjadikan kita sebagai pribadi yang selalu haus untuk belajar. Dengan perasaan yang senantiasa haus belajar berarti kita telah menciptakan ladang yang subur di dalam diri kita sebagai tempat bertumbuhnya segala macam benih ide-ide kreatif yang ingin kita lakukan untuk memperbaiki kualitas diri kita. Dengan melimpahnya beraneka ragam benih ide kreatif tersebut maka yang kita perlukan berikutnya adalah ramuan kedua yang berupa faktor eksternal yang akan mentriger ide-ide tersebut supaya benar-benar tumbuh menjadi sebuah kenyataan.

Pergolakan pemikiran untuk segera mewujudkan ide kreatif menjadi tindakan nyata akan membawa kita kepada suatu petualangan untuk mencari sesuatu di luar sana, yang bisa memicu kita untuk segera mewujudkan keinginan kita tersebut. Dalam kondisi ini, pertanyaan yang selalu berkecamuk dalam pikiran kita adalah, “Bagaimana cara memulainya?” Pengalaman saya, ketika tiba pada kondisi ini, mulailah saya menjadi penguping pembicaraan orang lain dengan harapan, siapa tahu dari apa yang mereka bicarakan itu saya bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan di atas.

Atau, saya akan segera teringat kepada deretan buku-buku di lemari dan membolak-balik kalau-kalau ada tulisan yang membahas tentang apa yang saya pikirkan. Yang lain, saya segera menghidupkan komputer dan mencari informasi tentang jawaban pertanyaan tersebut di dunia maya melalui jaringan internet. Cara terakhir inilah yang menyebabkan saya mengetahui bahwa ada cara untuk bisa menjadi penulis, yaitu dengan mengikuti pelatihan menulis buku bestseller yang diselenggarakan oleh para penulis berpengalaman di negeri ini.

Setelah kita mendapatkan jawaban bagaimana cara memulainya, maka tindakan selanjutnya yang harus kita lakukan adalah “bersegera” untuk mewujudkannya. Anda bisa bayangkan, betapa besarnya energi yang akan tercipta dalam diri kita jika terjadi kombinasi antara keinginan yang sangat besar untuk mewujudkan ide kreatif yang akan meningkatkan kualitas diri, dengan tersedianya kesempatan untuk mewujudkannya. Karena kita sudah menemukan kondisi “inilah saat yang tepat untuk mengerjakannya”, artinya kita sudah menciptakan momentum.

Begitu mendapat momentum, saya yakin tidak ada satu hal atau satu orang pun yang bisa menghalangi kita untuk segera bertindak. Keyakinan diri bahwa “sekaranglah saatnya” akan membuat kita memiliki semangat yang membara, tidak ubahnya seperti murid-murid perguruan shaolin yang siap melakukan apa saja yang diajarkan gurunya demi tercapainya cita-cita untuk menjadi seorang kungfu master.

Meskipun momentum dapat diciptakan, sayangnya ia juga bisa menghilang dalam diri kita. Sebagian dari kita mungkin mengalami masa di mana kita sangat menggebu-nggebu pada saat awal melakukan suatu pekerjaan, tetapi kemudian menjadi loyo dan tidak bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan tuntas. Akhirnya, kita kecewa karena tidak mendapatkan hasilnya. Di dunia pendidikan, banyak mahasiswa yang mengalami persoalan kehilangan momentum ini. Saat lulus SMA mereka begitu bersemangat melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Tetapi, setelah kuliah dijalani beberapa tahun, tiba-tiba semangat mereka menjadi kendor dan akhirnya mereka memutuskan untuk tidak menyelesaikan kuliahnya.

Kalangan penulis pun tidak luput dari ancaman kehilangan momentum. Pada awalnya, mereka mungkin begitu termotivasi dan berkomitmen untuk menulis buku. Tetapi, seiring dengan makin bertambahnya naskah yang telah ditulis, ada-ada saja yang mengalihkan perhatian mereka sehingga mereka terjebak untuk menunda-nunda atau bahkan akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan penulisan naskah tersebut hingga selesai menjadi sebuah buku.

Jika momentum sangat penting untuk menghasilkan prestasi luar biasa, maka yang harus kita pelajari adalah keterampilan menciptakan momentum, dan kemudian mempertahankannya hingga menghasilkan sebuah prestasi besar yang kita cita-citakan. Untuk menciptakan momentum kita harus membuka diri selebar-lebarnya sebagai tempat berkembangnya benih-benih ide kreatif untuk mengembangkan kualitas diri kita. Setelah itu, cari orang lain atau mentor yang bisa membantu kita untuk segera memulai mewujudkan ide-ide besar tersebut. Begitu kita mulai bersemangat melakukaannya, maka yang harus kita lakukan selanjutnya adalah senantiasa menjaga momentum tersebut agar kita bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut sampai tuntas.

Karena momentum mengandung dimensi massa dan kecepatan, maka prestasi besar hanya akan bisa kita capai apabila kita bisa mempertahankan kedua dimensi tersebut. Kegagalan sering terjadi hanya karena kita kehilangan bobot motivasi atau karena adanya godaan yang membuat kita berhenti di tengah jalan. Karena itu, pertahankan momentum dengan selalu memotivasi diri dan menjaga konsistensi untuk terus maju menuju kepada penyelesaian dari apa yang sudah kita mulai. Motivasi bisa selalu diperbaharui dengan mendekatkan diri kepada sang mentor. Menjaga hubungan dengan mentor ini bisa kita lakukan baik dengan melakukan komunikasi langsung dengan mereka, atau melalui karya-karya mereka, baik melalui tulisan maupun lisan. Membiasakan diri untuk selalu membaca buku dan mendengar kaset motivasi merupakan cara tidak langsung kita untuk selalu menjaga hubungan dengan mentor.

Sama seperti motivasi, kecepatan juga bisa naik turun. Karena itu, untuk dapat mempertahankan momentum maka kita harus menghitung hasil kali dari keduanya. Pada saat kecepatan berkurang, pertahankan momentum dengan memperbesar motivasi. Sebaliknya, pada saat motivasi menurun kita harus terus berusaha untuk selalu bergerak maju. Yang tidak boleh sama sekali adalah berhenti total. Jika berhenti total berarti kecepatan kita bernilai nol, dan sebesar apa pun motivasi kita tetap saja momentum tidak akan bisa dipertahankan karena apa saja yang dikalikan dengan nol hasilnya tetap akan nol.

Ibarat mendorong truk, sekali kita berhenti, maka sangat berat untuk membuatnya berjalan kembali. Jadi untuk sukses, yang kita perlukan adalah stick always to your mentor and never give up. Teruslah bergerak maju dan selesaikan setiap pekerjaan yang telah kita mulai. Salam sukses![sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris, dan gelar Ph.D. dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening, dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 3.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Terjebak Kenikmatan

sgOleh: Sulmin Gumiri*

Jika kita biasa merenung, mungkin kita pernah merasakan betapa luar biasanya kehidupan yang telah dianugerahkan Sang Pencipta kepada kita. Saya yakin tidak ada orang yang tidak mengalami pasang surut dalam perjalanan hidupnya. Kita kadang sangat sedih dan putus asa ketika sedang dirundung masalah, tetapi banyak juga masa-masa bahagia dan menjadi kenangan indah tak terlupakan saat mengalami keberhasilan dalam hidup kita. Dalam beberapa kesempatan bertemu teman-teman lama, dengan bergurau saya sering mengungkapkan,Kadang saya ngeri kalau membayangkan kilas balik kehidupan ini. Saking ekstrimnya pasang surut kehidupan yang telah dilalui, dibayar berapa pun saya rasanya tidak sanggup untuk mengulang kembali perjalanan hidup saya.

Mungkin, kerasnya guncangan saat kita mengalami pasang surut kehidupan inilah yang menyebabkan kenapa orang-orang tua selalu mengingatkan anak-anak mereka yang baru menikah: “Semoga kalian senantiasa sabar dan selamat serta mendapatkan kebahagiaan dalam mengarungi bahtera kehidupan berumah tangga nantinya.” Nasihat tersebut mengandung makna bahwa–ibarat berlayaruntuk sampai kepada tujuan, kita tidak mungkin menghindari kerasnya hantaman badai atau justru berhenti dan terbuai ketika berada di puncak gelombang. Agar terus bergerak maju dan mencapai pelabuhan yang dituju kita perlu berpikir dan bekerja cerdas sambil senantiasa menjaga stamina. Percepat perjalanan saat laut tenang, dan jaga keseimbangan saat gelombang besar menerjang.

Ada dua kondisi ekstrim gelombang kehidupan yang memerlukan kewaspadaan dan kehatian-hatian yang luar biasa, agar kita tidak terlempar dari bahtera sehingga gagal menjalani kehidupan ini. Kondisi ekstrim yang pertama adalah ketika kita diempas oleh gelombang sehingga kita menjadi panik, ketakutan, dan kehilangan arah. Kondisi kedua adalah ketika terangkat ke puncak gelombang sehingga kita menjadi terbuai kesenangan dan melupakan tujuan yang ingin kita capai. Meskipun ngeri dan menakutkan, kita biasanya lebih siap dan terlatih untuk menghadapi kondisi yang pertama. Kita kadang-kadang lupa bahwa justru kondisi kedua yang terlihat nyaman dan menyenangkan inilah yang sering menggelincirkan dan menggagalkan kesuksesan yang sudah di pelupuk mata.

Pada saat mendapat suatu kenikmatan, sebagian orang kadang-kadang tidak bisa mengontrol diri dalam mengekspresikan rasa suka cita yang baru saja mereka dapatkan. Kita sering melihat bagaimana anak-anak sekolah yang baru dinyatakan lulus ujian mengekpresikan kegirangan mereka dengan menyerempet bahaya melakukan konvoi mengendarai sepeda motor tanpa helm di jalan raya. Rasa suka cita saat merayakan hari-hari besar agama dan tahun baru ada kalanya berakhir dengan duka cita mendalam, karena ada anggota keluarga yang meninggal diseret ombak ketika mandi beramai-ramai di pantai. Ada juga orang yang sedang berada di puncak karier, tiba-tiba harus kehilangan jabatannya serta akhirnya masuk penjara akibat terjebak kasus kriminal yang berawal dari cinta segi tiga.

Baru-baru ini kita dikagetkan dengan kematian mendadak Mbah Surip justru ketika beliau baru saja berada di puncak kariernya sebagai penyanyi. Dalam salah satu acara dialog di televisi, seorang pemerhati dunia musik Indonesia mengatakan, “Terlepas dari umur yang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta, dari segi manajemen Mbah Surip kelihatannya tidak siap dengan puncak ketenaran yang datang begitu tiba-tiba. Jadwal mentas dan berbagai undangan yang begitu padat, telah menyebabkan penyanyi berusia 60 tahun tersebut mengalami kelelahan yang luar biasa dan akhirnya berujung kepada kematian. Sebagai penyanyi tenar, beliau seharusnya didampingi oleh manejemen profesional.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan agar tidak tergelincir saat mendapat “ujian kenikmatan”? Orang-orang tua dan para guru agama kita mengajarkan bahwa hendaklah kita membiasakan diri untuk senantiasa bersyukur atas setiap kemajuan dan perbaikan kehidupan yang telah kita capai. Dengan bersyukur berarti kita selalu mengingat bahwa kenikmatan bukanlah semata-mata hasil dari perjuangan kita sendiri. Kenikmatan adalah anugerah dari Sang Pencipta yang kita dapatkan dengan bantuan orang lain.

Kepada Sang Pencipta kita mengakui bahwa kita adalah makhluk yang lemah tiada berdaya, dan kepada sesama manusia yang telah membantu kesuksesan kita hendaklah kita memberikan penghargaan terhadap keberadaan mereka. Merasa kecil di hadapan Sang Pencipta dan kesadaran untuk hidup bersama dengan orang lain ini akan menanamkan prinsif hidup bahwa kita bukanlah siapa-siapa dan “di atas langit ada langit”. Kita hanyalah satu dari sekian banyak manusia dengan segala keunikan dan bilah ukur kesuksesan masing-masing. Karena setiap orang adalah unik, maka yang kita perlukan adalah terus-menerus mengembangkan diri dan berjuang sekuat tenaga agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari hari ke hari, yang bilah ukurnya hanya kita sendiri yang tahu.

Dengan memegang prinsip untuk senantiasa menjadi lebih baik dari hari ke hari, kita sebaiknya memanfaatkan masa-masa menyenangkan dan penuh kenikmatan justru untuk berbenah diri dengan membuat target-target baru yang akan dicapai pada tahap kehidupan selanjutnya. Dengan selalu membuat target baru berarti kita telah menciptakan tantangan baru, dan dengan tantangan yang senantiasa diperbaharui inilah maka kita akan semakin terpacu untuk terus bekerja dan berkarya sepanjang hidup kita. Prinsip inilah yang membuat mengapa seolah-olah ada orang yang tiada henti-hentinya selalu mengalami keberuntungan dalam hidupnya. Bagi mereka, keberhasilan saat ini harus dimanfaatkan untuk menciptakan peluang-peluang baru untuk mencapai keberhasilan-keberhasilan berikutnya. Dalam agama diajarkan:Ketika kita telah selesai mengerjakan satu pekerjaan, maka bergegaslah mengerjakan pekerjaan yang lain.

Dengan target yang telah ditetapkan kembali, kita kemudian segera membangun komitmen untuk senantiasa belajar dan bekerja keras untuk mencapai target-target baru tersebut. Prinsip untuk selalu belajar dan bekerja keras akan mengantarkan kita kepada pribadi dinamis yang semakin bijaksana dalam memaknai kehidupan ini. Dengan kebijakan yang dimiliki, kita semakin menyadari bahwa untuk bisa terus bergerak maju kita tidak mungkin akan selalu dirundung kemalangan dan kesusahan saja. Atau juga, mustahil untuk selalu mendapatkan kebahagiaan saja. Kedua-duanya harus kita lalui karena masing-masing merupakan ujian yang akan mengantarkan kita kepada kesuksesan yang sesungguhnya. Hendaklah kita selalu sabar dan tidak kehilangan arah ketika mendapat kemalangan, dan sebaliknya kita harus selalu mengendalikan diri dan mempertajam lagi target-target yang ingin kita capai saat berada dalam kenyamanan.

Kemalangan dan keberuntungan dapat dibaratkan sebagai kondisi naik turunnya gelombang lautan yang harus kita layari. Kita akan bisa sampai ke tujuan hanya apabila kita terus bergerak maju sambil terus menjaga keseimbangan agar dapat melewati gelombang lautan tersebut apa pun kondisinya. Salam Andaluarbiasa![sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris, dan gelar Ph.D. dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening, dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Buku Saku

sg1Oleh: Sulmin Gumiri*

Dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey menjelaskan betapa pentingnya manajemen pribadi dalam menunjang kesuksesan seseorang. Menurut pakar pengembangan diri ini, salah satu hal mendasar dalam manajemen pribadi yang harus menjadi kebiasaan agar bisa sukses adalah dengan selalu mendahulukan pekerjaan berdasarkan skala prioritas. Bagi orang kebanyakan, pekerjaan yang penting dan urgen tentunya harus lebih didahulukan daripada pekerjaan yang penting tetapi tidak harus dilakukan sekarang. Tetapi bagi orang-orang yang proaktif, yang terjadi adalah kondisi sebaliknya. Mereka cenderung akan mendahulukan pekerjaan yang tidak urgen tetapi penting daripada selalu dikejar-kejar waktu dengan selalu fokus kepada pekerjaan urgen dan penting saja.

Masalahnya adalah kita tidak akan pernah bisa menentukan skala prioritas pekerjaan jika kita tidak memiliki daftar pekerjaan yang ingin kita lakukan. Dalam tulisan kali ini saya ingin membagikan pengalaman pribadi saya tentang betapa pentingnya sebuah buku saku dalam manajemen pribadi kehidupan kita sehari-hari.

Saat mengunjungi salah satu museum bersejarah di Jepang baru-baru ini, saya menyaksikan peninggalan salah seorang tokoh besar di negeri Sakura tersebut yang sudah meninggal beberapa puluh tahun yang lalu. Dari semua koleksi pribadi sang tokoh yang dipajang di kotak kaca, mulai dari publiaksi ilmiah, peralatan kantor, dan pakaian kerja, hingga berbagai medali penghargaan yang pernah ia dapatkan semasa hidupnya, saya sangat tertarik melihat tumpukan puluhan buku saku kecil yang juga dipajang di sana. Pada salah satu lembaran buku yang sengaja dibuka, terlihat tulisan tangan yang berisi agenda kerja harian sang pemilik buku.

Dengan memajang buku-buku saku sederhana tersebut, pengelola museum seolah-olah ingin menyampaikan pesan kepada pengunjung, bahwa sang tokoh adalah orang yang sangat disiplin mengelola dirinya dengan selalu membuat rencana kerja dan merekam apa saja yang ia lakukan setiap hari, sejak ia masih sangat muda hingga akhir hayatnya.

Seiring dengan perjalanan waktu sebagai pegawai negeri, akhir-akhir ini saya merasakan ada semacam peningkatan efisiensi dan efektivitas yang luar biasa dari kemampuan saya mengerjakan berbagai jenis dan volume pekerjaan, yang seolah-olah semakin bertambah dari hari ke hari. Saking padatnya agenda kerja yang harus dikerjakan setiap harinya, pernah salah seorang teman bergurau kepada saya, “Di saat para staf terlihat santai dan kadang berkeluh kesah tentang tidak adanya pekerjaan di kantor, Pak Sulmin justru selalu sibuk seolah-olah tidak pernah kehabisan pekerjaan. Memangnya yang dikerjakan Pak Sulmin apa saja, sih?”

Pertanyaan menggoda tersebut hanya saya jawab sekenanya, “Saya juga tidak tahu kenapa selalu saja ada yang harus saya kerjakan. Mungkin karena sebelum menjadi pegawai dulu saya memang seorang pencari kerja. Makanya, yang saya dapatkan setelah menjadi pegawai pun akhirnya juga cuma pekerjaan yang selalu datang tiada habis-habisnya.”

Saya sebenarnya ingin mengatakan kepada teman tersebut bahwa agar hidup kita senantiasa bersemangat dan antusias setiap hari maka kita harus memenuhi kapasitas kerja kita pada hari tersebut. Pemenuhan kapasitas kerja tersebut bisa dengan melakukan tugas-tugas rutin yang biasanya diberikan oleh atasan kita, atau secara proaktif membuat daftar kegiatan antisipasi sendiri sebelum disuruh sehingga kita tidak selalu tergantung kepada perintah atasan. Orang kebanyakan akan cenderung kepada pola yang pertama, sehingga mereka yang selalu pada posisi menunggu perintah atasan inilah yang sering mengeluh bahwa tidak ada pekerjaan di kantor. Alhasil, mereka banyak yang frustasi dan kehilangan gairah serta semangat dalam menjalani kehidupan. Mereka bahkan ada yang memilih ikut meliburkan diri begitu mengetahui bahwa pimpinan mereka tidak akan masuk kerja sehingga tidak ada yang akan memberikan pekerjaan kepada mereka hari itu.

Orang yang proaktif tidak akan pernah kehabisan pekerjaan. Mereka menyadari bahwa sebenarnya banyak sekali hal-hal yang bisa kita kerjakan tanpa menunggu perintah atau arahan dari orang lain. Bagi mereka, lebih baik menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan kesadaran dan keinginan sendiri daripada mengerjakannya karena disuruh. Dengan berprinsip seperti ini, mereka menjadi manusia-manusia yang bebas dan tidak pernah merasa dalam tekanan saat melakukan aktivitas-aktivitas pekerjaan mereka sehari-hari.

Sebuah buku saku akan sangat membantu kita untuk selalu menjaga antusiasme dan semangat kerja. Kita dapat memanfaatkan buku saku tersebut sebagai alat untuk merekam dan merencanakan apa saja yang ingin kita kerjakan setiap harinya. Cobalah untuk membuat kebiasaan baru dengan meluangkan waktu 5 sampai 10 menit sebelum tidur untuk memikirkan dan mencatat apa yang ingin kita lakukan esok hari. Besoknya, sebelum berangkat ke tempat kerja, buka kembali buku saku tersebut dan sempatkan sekitar 10 sampai 15 menit untuk kembali mengecek daftar pekerjaan yang telah kita buat malam harinya, dan bila perlu menambahkan daftar aktivitas lain yang baru kita ingat pagi itu.

Dari kedua kebiasaan ini, saya biasanya selalu mempunyai antara 5 sampai 10 daftar aktivitas yang akan dilakukan setiap harinya. Aktivitas-aktivitas tersebutlah yang selalu membuat saya selalu dalam kapasitas penuh untuk bekerja dan berproduksi dari hari ke hari.

Apa pun profesi kita, saya yakin bahwa kita akan selalu semangat dan terlihat bergairah setiap kali datang ke tempat kerja apabila memiliki daftar aktivitas harian yang telah kita buat dan prioritaskan sendiri sebelumnya. Semangat dan antusiasme ini disebabkan karena kita telah menciptakan tantangan yang berupa daftar aktivitas, dan berkomitmen untuk menyelesaikan setiap tantangan tersebut pada hari itu.

Dengan tantangan dan komitmen kepada diri sendiri ini maka kita akan terlatih untuk menghargai setiap prestasi yang berupa penyelesaian satu per satu daftar pekerjaan kita. Sebaliknya, kita akan merasa rugi dan bersalah jika kita tidak bisa menyelesaikan semua pekerjaan dan gagal memenuhi komitmen yang telah kita buat sendiri tersebut. Kondisi untuk memilih antara reward dan punishment inilah yang akan membuat kita selalu terpacu untuk secepatnya menyelesaikan setiap daftar pekerjaan yang telah kita buat.

Setiap kali kita menyelesaikan satu pekerjaan dan men-contreng-nya dari daftar yang ada dalam buku saku kita, di saat itulah kita akan merasa puas dan bangga kepada diri sendiri karena berhasil menyelesaikan satu tantangan pekerjaan. Semakin banyak pekerjaan yang kita bisa selesaikan, perasaan puas dan menghargai diri sendiri pun menjadi semakin besar. Sehingga tidak jarang, ketika kita menyelesaikan semuanya di akhir jam kerja, maka pasangan kita akan melihat kita ceria dan berseri-seri saat pulang ke rumah. Jadi, semakin sibuk kita maka semakin antusias dan bergairah pula kita menutup setiap hari yang kita lewati.

Pertanyaannya, buku saku seperti apa yang paling efektif untuk membuat komitmen harian untuk selalu menyibukkan diri dalam bekerja? Setiap awal tahun baru, saya cenderung selalu mengganti jenis buku agenda yang saya pakai, mulai dari yang sederhana, tipis, polos, dan murahan, sampai kepada yang edisi deluxe, sangat tebal, dan penuh informasi tambahan seperti peta kota dunia, daftar telepon penting, kata-kata mutiara, hingga list what to do dan kolom appointment. Dari semua koleksi itu, terakhir saya merasakan bahwa justru buku saku kecil dan sederhana adalah yang paling efektif. Bukan saja karena harganya murah, tetapi buku saku jenis ini lebih fleksibel, ringan dibawa ke mana-mana, dan tidak terkesan eksklusif sehingga tidak terlalu mencolok saat kita berada di tengah orang kebanyakan. Dan juga, buku saku itu tidak akan membuat kita minder saat berinteraksi dengan kalangan atas karena ia memang selalu tersembunyi di dalam saku kita.

Meskipun harganya cuma Rp 6.900, buku saku sederhana saya tahun ini benar-benar bisa menjadi alat untuk mengukur seberapa efektif saya bekerja setiap harinya. Jika lembaran buku saku saya terisi banyak daftar pekerjaan, saya akan merasa sangat bersemangat dan ingin cepat-cepat menuju ke tempat kerja, serta akan bekerja seperti kesetanan hari itu karena mengejar agar semua daftar pekerjaan yang telah saya buat bisa saya selesaikan sebelum berakhir jam kerja kantor. Jika saya berhasil menyelesaikan semua daftar saya, saya pun akan pulang ke rumah dengan ceria dan akan menutup hari itu dengan semangat baru untuk segera membuat daftar pekerjaan lagi sebelum berangkat kerja esok harinya.

Tetapi, jika buku saku saya kosong, sesampainya di tempat kerja saya kadang-kadang bingung dan tanpa terasa hanya menghabiskan hari itu dengan mengobrol yang tidak berguna atau surving di internet sampai mata saya terasa perih, tanpa jelas apa yang saya cari di dunia maya tersebut. Jika kondisi seperti ini yang terjadi, saat pulang ke rumah badan terasa lesu dan perasaan pun diliputi rasa bersalah dan rugi karena telah menghabiskan satu hari dengan sia-sia tanpa pencapaian sama sekali.

Karena itulah saya sangat menyayangi buku saku murahan saya. Buku senilai Rp 6.900 tersebut ternyata benar-benar bisa menjadi teman setia yang sangat powerfull dalam mengontrol efektivitas kehidupan saya sehari-hari.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Kita Hidup untuk Berkompetisi

sgOleh: Sulmin Gumiri*

Kalau kita perhatikan dengan cermat, tidak ada kehidupan di dunia ini yang bebas dari kompetisi. Ilmu pengetahuan modern telah mengajarkan kepada kita bahwa pada semua makhluk apakah tumbuhan, hewan, atau manusia berlaku hukum the survival of the fittest atau siapa yang kuat maka ialah yang akan bertahan. Hukum inilah yang menyebabkan kenapa tidak semua putik bunga akan menjadi buah, atau hanya sebagian saja di antara anak ayam yang baru menetas yang akan menjadi ayam dewasa. Sehebat apa pun ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai manusia, tetap saja ada kematian bayi dan selalu saja ada orang yang meninggal di usia muda.

Meskipun kompetisi berlaku untuk semua makhluk, ada yang unik dalam kehidupan manusia. Selain berkompetisi untuk mempertahankan kehidupan sebagaimana juga yang berlaku pada tumbuhan dan hewan, makhluk yang bernama manusia juga berkompetisi dalam memaknai arti kehidupan itu sendiri. Jika dalam berkompetisi untuk mempertahankan kehidupan kita harus mengalahkan orang lain, tidak demikian halnya dalam berkompetisi untuk memaknai kehidupan. Dalam kompetisi yang terakhir ini, pesaing kita bukan orang lain tetapi yang menjadi musuh kita justru adalah diri kita sendiri.

Di dalam setiap individu manusia selalu ada dua sisi yang berhadap-hadapan dan selalu ingin mengalahkan satu dengan yang lainnya. Kedua musuh bebuyutan tersebut adalah sikap mental positif dan sikap mental negatif. Pertikaian antara keduanya mirip dengan permusuhan antara bangsa Israel dan Palestina di Timur Tengah, kadang-kadang tenang dan damai tetapi ada kalanya meledak-ledak tidak terkendali. Pada saat hidup kita nyaman, kedua sikap mental tersebut sepertinya juga sepakat untuk melakukan gencatan senjata permusuhan mereka. Tetapi, begitu ada masalah dalam kehidupan kita, mereka juga segera bangkit dan bertempur habis-habisan untuk memenangkan pertarungan mempengaruhi jalan pikiran kita.

Tidak ada satu orang pun yang tidak memiliki masalah dalam hidupnya. Orang yang tidak berpunya dihadapkan kepada masalah bagaimana mencari makan dari hari ke hari, sedangkan orang kaya mungkin punya masalah bagaimana mengendalikan pola makan mereka agar terhindar dari berbagai penyakit modern seperti hipertensi, diabetes, dan serangan jantung. Murid-murid di sekolah dibuat tegang dan harus berjuang mati-matian agar bisa lulus dalam Ujian Akhir Nasional, tetapi para guru pun tidak kalah stresnya karena takut menerima sangsi jika terjadi penurunan hasil UAS di sekolahnya. Rakyat kecil dipusingkan oleh pemilu yang lalu karena mereka tidak bisa bekerja, tetapi para politisi pun banyak yang jadi lupa ingatan karena sudah banyak keluar biaya tetapi tetap saja tidak terpilih dalam pemilu tersebut.

Jadi, kita semua punya masalah, dan kita semua juga menghadapi pergolakan batin yang sangat hebat antara mengambil sikap mental positif atau sikap mental negatif setiap kali masalah tersebut datang kepada kita.

Persis sama dengan perseteruan permanen antara bangsa Palestina dan Israel, sikap mental positif dan sikap mental negatif juga tidak bisa saling meniadakan dan akan selalu ada dalam diri kita kapan pun dan di mana pun kita berada. Agar kita sukses dalam kehidupan ini, kita harus terus-menerus belajar bagaimana mengendalikan diri sehingga sikap mental positif tersebut selalu bisa meredam sikap mental negatif setiap kali kita dihadapkan kepada suatu persoalan kehidupan.

Karena masih dalam tahap belajar dan terus belajar, saya termasuk orang yang tidak selalu berhasil memenangkan sikap mental positif. Meskipun demikian tidak ada salahnya kalau saya berbagi kepada para pembaca tentang apa saja kiat-kiat yang berusaha saya lakukan agar bisa berpihak kepada sikap mental positif pada saat menghadapi suatu masalah.

Kiat yang pertama adalah menyadari sepenuhnya bahwa setiap masalah tersebut adalah real dan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Karena, kita semua tidak bisa lepas dari masalah dan tidak tahu kapan dan dalam bentuk apa masalah yang akan datang kepada kita, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan masalah tersebut. Ibarat orang yang akan disuntik, jika kita siap dan sadar bahwa kita memerlukan suntikan tersebut demi kesembuhan penyakit yang kita derita, maka rasa sakit tersebut tidaklah seberapa dibandingkan dengan manfaat kesembuhan yang akan kita dapatkan. Tetapi, bagi yang tidak siap dan berontak karena hanya membayangkan rasa sakitnya saja, mereka bisa pingsan bahkan “hanya” karena rasa dingin alkohol yang dioleskan dokter sebelum menyuntik mereka.

Masalah juga demikian. Ia memang tidak menyenangkan, tetapi sebenarnya mengandung hikmah yang luar biasa karena akan memberikan tambahan pengalaman untuk pengembangan diri kita. Kalau kita senantiasa siap untuk menghadapinya, maka ketidaknyamanan itu hanya akan bersifat sementara dan menjadi tidak seberapa dibandingkan dengan manfaat yang kita dapatkan dari adanya masalah tersebut.

Kiat yang kedua adalah membiasakan mengambil jeda pikiran pada saat menerima masalah. Setiap masalah akan terasa sangat berat apabila datangnya tiba-tiba dan tidak pernah kita predisksi sama sekali sebelumnya. Banyak sekali contoh masalah berat seperti ini, misalnya kematian mendadak orang yang kita cintai, kehilangan barang-barang kita yang sangat berharga, pemutusan hubungan kerja sepihak, penundaan penerbangan tiba-tiba dan termasuk pemadaman listrik mendadak saat kita mengejar deadline artikel untuk Andaluarbiasa.com ini. Jika kita langsung bereaksi terhadap semua kejadian tidak menyenangkan tersebut, maka yang cenderung akan memenangkan pertarungan adalah sikap mental negatif kita. Jika pikiran negatif yang menguasai kita, maka kita biasanya menjadi emosi dan jadilah kita menangis histeris, menyumpah-nyumpah dan menyalahkan orang lain, menyakiti diri sendiri dan bahkan ada yang sampai nekat ingin bunuh diri.

Jeda waktu yang kita perlukan lamanya sangat bervariasi. Untuk masalah-masalah kecil dan umum terjadi, kita hanya cukup berdiam sejenak dan menarik napas dalam-dalam sekadar menenangkan diri untuk menganalisis masalah tersebut secara arif dan bijaksana. Tetapi, untuk permasalahan besar dan sulit untuk dipecahkan, kita kadang-kadang perlu waktu berjam-jam, satu hari, atau bahkan berminggu-minggu untuk mencerna dan berpikir mencari solusi terbaik mengatasi masalah tersebut.

Jika kita terbiasa mengambil jeda, maka kita akan memiliki waktu yang cukup untuk mengatur urutan proses berpikir mulai dari mendudukkan masalah kepada persoalan yang sebenarnya, menentukan sikap sebagai reaksi yang wajar dari masalah tersebut dan kemudian mencari jalan dan mengambil solusi bermanfaat dari kejadian yang baru saja kita alami. Pada kondisi ini berarti kita telah memberikan keberpihakan kepada sikap mental positif kita untuk memenangkan pertarungan batin di dalam diri kita sendiri.

Memang tidak mudah untuk menerapkan kedua kiat di atas. Tetapiseperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnyakalau ingin sukses kita harus terus-menerus berlatih dan belajar agar semakin terbiasa memberikan keberpihakan kepada sikap mental positif untuk memenangkan pergulatan batin pada saat kita menghadapi setiap masalah. Jadi, mari kita sama-sama belajar mengelola dan mengendalikan kedua musuh bebuyutan yang selalu berkompetisi dalam diri kita sendiri; sikap mental positif dan sikap mental negatif. Wasalam.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

“CCTV” di Sekitar Kita

sg2Oleh: Sulmin Gumiri*

Untuk bisa sukses dalam kehidupan ini sebenarnya tidaklah terlalu susah. Kita cukup meniru saja kehidupan rekan-rekan kita yang berprofesi sebagai artis. Para artis adalah sekumpulan orang yang sangat pintar dalam memainkan setiap peran yang diminta oleh sutradara kepadanya. Mereka harus siap manakalah diminta untuk berperan sebagai pelajar, guru, dokter, pengusaha, politisi, dan berbagai tuntutan peran lainnya. Kadang-kadang mereka diminta berperan sebagai orang baik-baik, tetapi di lain waktu mereka juga harus siap jika diminta memainkan peran sebagai orang jahat, kejam, dan licik. Semakin banyak peran yang bisa ia mainkan, akan semakin sukses pula orang yang berprofesi sebagai artis tersebut.

Dalam kehidupan pun sebenarnya kita dituntut untuk memainkan segala macam peran. Adalanya kita dituntut untuk memainkan peran sebagai orang tua bagi anak-anak, pasangan bagi isteri atau suami, guru bagi anak didik, atasan bagi karyawan, atau sebagai warga dari komunitas masyarakat di sekitar tempat tinggal kita. Mungkin karena begitu miripnya kehidupan kita ini dengan dunia seni peran, maka benar juga apa yang dinyanyikan oleh Ahmad Albar di tahun 80-an yang mengatakan bahwa “dunia ini adalah panggung sandiwara”.

Agak berbeda dengan dunia seni peran yang biasa dimainkan oleh teman-teman kita para artis, orang luar biasa adalah orang yang “hanya” bisa memainkan satu sisi peran saja dalam kehidupan ini, yaitu peran sebagai orang baik. Masalahnya adalah, kalau hanya memainkan peran sebagai orang baik untuk sesaat dan di satu bidang kehidupan saja mungkin dengan mudah bisa kita lakukan. Tetapi, untuk selalu menjadi orang baik di segala aspek kehidupan kapan pun dan di mana pun, kita dituntut untuk selalu belajar dan mengendalikan diri setiap harinya. Pengendalian diri dapat kita lakukan dengan selalu memantau atau memonitor segala gerak-gerik dan tingkah laku kita ke mana pun kita pergi dan di mana pun kita berada.

Namun, tidaklah mudah untuk memantau atau memata-matai diri sendiri. Untuk melakukan penilaian apakah kita selalu berbuat baik setiap saat merupakan pekerjaan yang luar biasa beratnya, karena hal ini terkait dengan kejujuran kepada diri sendiri. Tidak jarang ketika kita berkomitmen untuk selalu jujur kepada diri sendiri, kita dihadapkan kepada permasalahan bagaimana memberlakukan dan mengukur takaran sangsi atau hukuman apabila kita melanggar komitmen tersebut. Kita bisa dengan mudah bisa menjatuhkan dan menentukan jenis sangsi terhadap kesalahan orang lain, tetapi kita juga memiliki pembelaan diri yang luar biasa manakala sangsi yang sama harus diterapkan pada diri sendiri.

Masalahnya adalah, seberat dan semahal apa pun kejujuran kepada diri sendiri tersebut, kita tetap harus terus berusaha untuk mencapainya. Karena jika kita tidak biasa jujur kepada diri sendiri maka kita pun akan dengan sangat mudah untuk tidak jujur kepada orang lain. Dan, penyakit ketidakjujuran kepada orang lain inilah yang sering menjadi batu sandungan kita dalam mencapai kesuksesan di kehidupan ini.

Sebenarnya, kita bisa memaksa diri untuk senantiasa jujur kepada diri sendiri. Pemaksaan ini bisa kita lakukan manakala kita menyadari bahwa selalu ada kamera CCTV di sekitar kita yang setiap saat memata-matai ke mana pun kita pergi dan di mana pun kita berada. Kamera CCTV yang selalu menyoroti semua aktivitas kehidupan kita tersebut bentuknya bermacam-macam mulai dari yang menggunakan teknologi konvensional sampai kepada yang paling canggih, dan mulai dari yang kasat mata sampai di alam maya. Orang-orang dekat di sekitar kita seperti anggota keluarga, teman, murid, dan tetangga adalah contoh-contoh kamera CCTV konvensional dan kasat mata, yang selalu merekam gerak-gerik kita dan siap setiap saat membongkar semua ketidak jujuran yang kita lakukan.

Dengan kemajuan teknologi saat ini, kita tidak saja selalu dipantau oleh orang-orang dekat kita tersebut, tetapi kita juga sudah semakin terekspos ke semua orang. Mungkin kita masih ingat kasus pembunuhan seorang artis di sebuah hotel atau peledakan bom Bali beberapa tahun yang lalu. Rekaman kamera CCTV di sekitar tempat kejadian menjadi alat bukti yang tidak terbantahkan untuk menjerat dan menangkap para pelaku untuk mempertanggung jawabkan perbuatan tidak baik mereka tersebut. Kita juga sering mendengar bahwa sudah tidak ada lagi tempat aman di dunia ini bagi para koruptor untuk melarikan diri menghindari jeratan hukum yang telah dilanggarnya, karena dengan kecanggihan teknologi semua orang bisa membuntutinya ke mana pun mereka pergi dan di mana pun mereka bersembunyi.

Saat ini, jika kita ragu dengan kredibilitas orang yang kita kenal, kita cukup browsing saja nama orang tersebut di internet. Melalui teknologi komunikasi ini, dengan mudah kita mengetahui apakah calon teman baru kita tersebut adalah orang baik-baik dan bisa menunjang kesuksesan kita, atau ia adalah orang jahat yang justru berpotensi membawa kita kepada kehancuran. Begitu juga sebaliknya, indentitas dan kepribadian kita akan dengan sangat mudah dilacak dan dipelajari orang memalui dunia maya tersebut. Apalagi melalui teknologi komunikasi terakhir Facebook, orang bahkan sengaja mengekspos dirinya ke semua orang termasuk untuk aktivitas-aktivitas pribadi seperti ketika ia baru bangun tidur, sedang mandi, sedang sarapan, mengantar anak, ngerumpi di café, atau bahkan ketika ia habis bertengkar dengan pasangannya sekalipun.

Jadi kalau ingin sukses, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mulai berkomitmen menjadi orang yang selalu berbuat baik dengan membangun kejujuran kepada diri sendiri. Hanya dengan jujur kepada diri sendiri yang akan membuat kita juga terbiasa untuk jujur kepada orang lain. Di zaman yang serba canggih saat ini, sekecil apa pun ketidak jujuran yang kita sembunyikan, cepat atau lambat pasti akan diketahui oleh orang-orang di sekitar kehidupan kita. Dan, sekali ketidakjujuran tersebut terbongkar, sangatlah sulit untuk mengembalikan kepercayaan mereka. Kalau orang sudah tidak percaya, lalu jalan menuju kesuksesan pun mulai terasa terjal. Karena itu ingatlah, selalu ada CCTV di sekitar kita.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Mari “Berbudi” kepada Tanah

sg1Oleh: Sulmin Gumiri*

Seiring dengan kemajuan peradaban manusia, ada dua kebutuhan yang sering kali sulit dan terkadang mahal untuk kita penuhi. Kebutuhan yang pertama adalah tidur, sedangkan yang kedua adalah berlibur. Kedua kebutuhan ini sangat penting karena sangat menunjang kemampuan berproduksi untuk mencapai kesuksesan di bidang apa pun profesi utama kita.

Ada perbedaan mendasar dari dua kebutuhan ini. Tidur adalah bentuk istirahat total kita terhadap segala aktivitas fisik, sedangkan berlibur adalah pengalihan aktivitas fisik dan pikiran kita dari sesuatu yang bersifat rutinitas kepada sesuatu yang baru dan menyenangkan. Jika tidur dapat kita lakukan dengan gratis, kapan saja dan di mana saja (lihat artikel saya terdahulu: Kerja Sambil Tidur, Meninggal Saat Membaca), maka lain halnya dengan berlibur karena itu harus dirancang, dipersiapkan dengan matang, dan kadang-kadang memerlukan biaya yang sangat mahal pula.

Di zaman yang serba modern ini, kualitas liburan yang kita dapatkan sangat menentukan kemampuan produksi yang akan bermuara kepada tingkat kesuksesan yang akan kita capai. Namun, liburan berkualitas kadang-kadang merupakan kebutuhan yang sangat mahal bagi sebagian kalangan. Dalam rangka memenuhi kebutuhan akan liburan, tidak jarang orang tua harus menabung dulu, mengumpulkan uang hanya untuk bisa membawa anak-anaknya mendatangi tempat-tempat rekreasi seperti Taman Mini Indonesia Indah atau Taman Impian Jaya Ancol. Bagi kalangan berada, mereka tidak segan-segan untuk mengeluarkan puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah hanya untuk memenuhi kebutuhan liburan mereka, dengan pergi melancong ke objek-objek wisata atau shopping di mal-mal terkenal di luar negeri.

Selain perlu biaya besar, ada juga orang yang sangat sulit untuk mendapatkan liburan. Ketika saya masih mahasiswa di Inggris lima belas tahun yang lalu, saya sangat kaget dan seolah-olah tidak mengerti ketika dalam suatu perjalanan, profesor pembimbing saya terlibat adu mulut yang sangat hebat dengan isterinya. Masalahnya “hanya karena sang isteri meminta suaminya untuk sedikit mengurangi kesibukannya, dan kemudian mengagendakan jadwal liburan mereka ke Bali pada liburan musim panas tahun berikutnya.

Saat berama-sama mengikuti Pak Wali Kota meninjau potensi danau-danau di daerah saya minggu lalu, salah seorang PNS Pemerintah Kota curhat kepada saya, bahwa ia sangat senang bisa ikut rombongan ke lapangan karena bisa sedikit berlibur dan keluar dari rutinitas pekerjaan di kantornya. Dengan agak emosional ia mengatakan bahwa selama sepuluh tahun terakhir ini ia merasa sangat dirugikan. Karena, ia tidak diizinkan pimpinannya mengambil jatah cuti tahunan PNS yang 12 hari itu akibat volume pekerjaannya yang semakin padat.

Salah satu solusi untuk mendapatkan liburan berkualitasyang murah meriah dan gampang didapatadalah dengan kembali kepada fitrah manusia itu sendiri. Dalam salah satu bukunya yang berjudul Ternyata Adam Dilahirkan, Agus Mustofa menjelaskan dengan sangat detil asal-usul kehidupan di bumi, baik ditinjau dari ajaran agama maupun dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir saat ini. Salah satu yang sangat menarik bagi saya adalah tesis beliau yang mengatakan semua kehidupan yang ada di muka bumi ini berasal dan tersusun dari bahan yang sama yang berasal dari sari pati tanah. Ibarat saudara kandung, manusia sebagai salah satu makhluk hidup di bumi akan merasa senang dan nyaman ketika ia berada dekat dengan para kerabatnya yang lain, yaitu berbagai jenis tanaman dan hewan yang semuanya juga terbuat dari bahan yang sama yaitu tanah.

Manusia sebagai salah satu species yang datang paling belakangan dari jutaan makhluk penghuni bumi telah mengalami perkembangan peradaban yang luar biasa. Terlepas dari kontroversi yang dikemukakan oleh Agus Mustofayang mengatakan bahwa Adam bukanlah manusia pertama yang menghuni planet bumiyang jelas bahwa peradaban manusia, sejak zaman sebelum dan sesudah Adam hingga zaman manusia modern saat ini, telah menyebabkan semakin banyak manusia yang semakin menjauh dari tanah sebagai asal muasal dan bahan baku dari bangunan kehidupan mereka.

Dengan kesibukan kita yang semakin padat dari hari ke hari, mungkin ada orang yang tidak pernah bersentuhan sama sekali secara fisik dengan tanah. Bagi kalangan berada di perkotaan, tidak jarang tanah dikonotasikan sebagai sesuatu yang kotor dan bisa mendatangkan berbagai jenis penyakit sehingga harus dihindari. Karena itulah sudah umum kalau kaki mereka senantiasa diberi alas sandal atau sepatu, baik ketika pergi ke kantor, selama bekerja, melakukan olah raga, berbelanja dan bahkan juga saat sedang beristirahat di rumah. Sehingga, tidak heran kalau kita melihat orang kota yang berkunjung ke desa terpencil, mereka seperti anak kecil yang baru belajar berjalan. Mereka jatuh bangun kehilangan keseimbangan manakala melewati pematang sawah atau terpeleset ke sana kemari ketika berjalan di tengah hutan, karena telapak kaki mereka yang tidak biasa bersentuhan dengan tanah.

Kembali kepada kesulitan untuk memenuhi kebutuhan akan liburan di atas, kita sebenarnya bisa mendapatkan liburan berkualitas dengan kembali menyatukan diri kita dengan bahan dasar pembentuk kehidupan yaitu tanah. Salah satu orang kaya dan sangat terhormat di planet bumi saat ini adalah Kaisar Akihito dari Jepang. Sang kaisar selalu melestarikan tradisi serta memiliki hobi yang sangat unik dan menarik, yaitu bercocok tanam padi. Sejak muda sampai menginjak usia 76 tahun saat ini, secara rutin beliau selalu turun ke sawah dengan kaki telanjang untuk menanam padi. Bahkan di usia senjanya, sang kaisar konon berhasil menemukan bibit padi unggul baru.

Terlalu naïf rasanya kalau kita menilai beliau menanam padi untuk mendapatkan hasilnya. Yang pasti adalah beliau merasa bahwa dengan menanam padi beliau telah berlibur dan menjauhkan diri sejenak dari kungkungan kehidupan mewah istana, dengan segala kekakuan protokoler yang merupakan rutinitas tugas-tugas kekaisarannya. Tetapi, yang mungkin juga kita tidak tahu adalah dengan membenamkan kaki beliau di lumpur sawah, beliau merasa nyaman dan tenteram karena bisa menyatukan diri kembali kepada bahan dasar pembentuk kehidupan yaitu tanah.

Pada saat masih menjabat Wakil Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Tun Razakyang saat ini sudah menjadi orang nomor satu di negeri jiran tersebutmencanangkan gerakan “Edible Garden” atau Taman Dapur. Gerakan nasional ini sebenarnya digalakkan dengan tujuan untuk mengantisipasi krisis keuangan global di mana Malaysia adalah salah satu negara yang cukup berat terkena dampaknya akibat jatuhnya harga karet dan kelapa sawit di pasar internasional. Melalui gerakan Taman Dapur, rakyat Malaysia diimbau untuk memanfaatkan lahan kosong di pekarangan rumah mereka untuk menanam sayur-sayuran agar bisa menghemat belanja keluarga.

Di luar dugaan, gerakan kembali bertani ini mendapat sambutan yang luar biasa. Sehingga, bukan saja ibu-ibu rumah tangga yang keranjingan bercocok tanam, tetapi bapak-bapak para pejabat negara, ilmuwan, dan para konglomerat pun jadi ikut-ikutan gemar mencangkul tanah di pekarangan mereka. Akhirnya, gerakan bercocok tanam yang awalnya ditujukan untuk menghemat keuangan keluarga, saat ini mulai dinikmati sebagai aktivitas liburan dan mulai diganti istilahnya dengan gerakan “Berbudi kepada Tanah”, yang mungkin maksudnya mari mendekatkan diri, menyatu kembali, dan membalas semua kebaikan tanah yang telah memberikan kehidupan kepada kita”.

Perubahan paradigma dengan kembali bersahabat dengan tanah sebagai asal-usul kehidupan juga telah dilakukan oleh Michelle Obama, isteri Presiden Amerika Serikat saat ini. Di minggu-minggu pertama ia mendiami Gedung Putih, sang Ibu Negara tanpa segan-segan berbaur dengan anak-anak sekolah di lingkungan tempat tinggalnya untuk mencangkul dan menanam sayuran di halaman belakang Gedung Putih. Tindakan spontan back to nature tersebut telah mengangkat citra keluarga Presiden Barrack Obama sebagai keluarga yang merakyat. Dan–di atas segalanya–telah mengubah paradigma bagi orang-orang mampu dan celebrity bahwa tidak ada salahnya kembali bersahabat dan bermain dengan bahan dasar penciptaan manusia yang selama ini dicitrakan kotor, jijik, dan kampungan, yaitu tanah.

Memang secara fitrah kita sebenarnya sangat dekat sehingga senang bersahabat dengan tanah. Lihatlah kehidupan di desa. Secara alamiah anak-anak sangat senang bermain dengan tanah. Tetapi di perkotaan, kesalahan persepsi para orang tualah yang menyebabkan anak-anak kita semakin tidak mengenal dan tidak tahu bagaimana mendapatkan liburan yang sangat menyenangkan dengan berbudi kepada tanah.

Seperti baru tersadar dengan keangkuhan kami selama ini, keluarga saya juga mulai menjadikan aktivitas berbudi kepada tanah sebagai alternatif liburan. Di tengah-tengah tuntutan karier sebagai pimpinan kantor, pendidik, dan peneliti, saya saat ini sedang keranjingan menebar budi dengan asyik bercocok tanam dan mengaduk-ngaduk lumpur kolam dengan berkebun di lahan sempit pekarangan rumah saya.

Semenjak menekuni hobi “aneh” ini, saya merasa bahwa semua tugas berat di kantor menjadi lebih ringan dan suasana hati pun makin tenteram karena merasa makin dekat dan mengagumi semua ciptaan-Nya melalui berbagai jenis tanaman dan hewan piaraan yang ada di kebun pekarangan keluarga saya. Istri saya yang dulunya sangat enggan bersentuhan dengan tanah, sekarang pun diam-diam mulai tertarik dan ikut-ikutan mencoba merasakan betapa asyiknya bercocok tanam dan bermain-main dengan tanah. Seolah-olah tanah telah menciptakan energi ekstra dalam kehidupan keluarga kami.

Anda ingin mencoba? Lets go green, begitu ajakan yang semakin gencar disuarakan oleh berbagai kalangan di berbagai belahan bumi saat ini.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardeningdan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Tanamlah Benih Setiap Hari

Sulmin GumiriOleh: Sulmin Gumiri*

Salah satu bidang pekerjaan yang sangat saya kagumi adalah bertani. Sampai saat ini, masih sering terbayang di ingatan saya bagaimana warga desa saya yang semuanya petani itu selalu terlihat senang dan bergembira dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka. Salah satu rahasia yang membuat para petani selalu optimis dalam menjalani kehidupan adalah karena mereka secara konsisten selalu menebar benih apa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Semakin banyak jumlah dan jenis benih yang mereka tanam, maka semakin tinggi juga harapan mereka untuk memanen hasilnya. Masa menunggu panen dari sejak pertama kali benih ditanam sangat bervariasi, mulai dari benih sayuran yang sudah dapat dipanen dalam hitungan minggu, benih padi dalam hitungan bulan, atau bahkan benih kopi dan cengkeh yang baru bisa dipanen hasilnya beberapa tahun kemudian. Bahkan, mereka pun tetap menanam benih meskipun mereka tahu bahwa hasilnya tidak akan sempat mereka nikmati, karena tanaman yang mereka tanam baru akan berbuah puluhan tahun kemudian. Salah satu benih yang buahnya menjadi warisan bagi anak cucu ini adalah pohon durian.

Bagi petani, menanam benih adalah simbol dari sebuah harapan. Kita hanya akan selalu optimis menatap kehidupan ini jika kita selalu memiliki harapan. Sebaliknya, orang yang sudah tidak mempunyai harapan akan merasa bahwa hidup ini terasa hampa sehingga beberapa di antara mereka ada yang kehilangan semangat untuk melanjutkannya. Makin seringnya kita mendengar ungkapan-ungkapan seperti post power syndrome, stres dan frustrasi merupakan indikasi bahwa di zaman modern ini banyak sekali orang yang seolah-olah sudah kehilangan harapan, karena mereka tidak rajin menanam benih seperti halnya yang dilakukan oleh para petani.

Bagi kita yang kebetulan tidak berprofesi sebagai petani, ada berbagai jenis benih yang bisa kita tanam untuk membuat hidup kita selalu memiliki harapan. Setiap pekerjaan yang kita lakukan sekarang—yang akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat di kemudian harisama dengan proses menanam benih. Hasil tersebut tidak selalu harus berupa uang atau materi, tetapi ia juga bisa berupa kebahagiaan, kepuasan, kesehatan, atau aktualisasi diri yang semuanya akan membuat hidup kita menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Tulisan ini terinspirasi ketika saya melihat seorang ibu pedagang sayur di sebuah gang sempit di sebelah hotel ketika saya berkunjung ke Kota Kupang belum lama ini. Pagi-pagi sekali ketika semua orang masih tertidur lelap, sang ibu sudah sibuk menggelar dagangannya. Jadi, di pagi buta itu ia sudah menanam benih, karena begitu dagangan digelar saat itulah harapan mulai digantungkan. Masa-masa menunggu pembeli pertama datang adalah saat yang paling ia tunggu-tunggu dengan antusiasme dan penuh keceriaan.

Begitu pembeli pertama datang, ia segera merapikan dagangannya dan bersiap-siap lagi untuk menyambut pembeli berikutnya. Begitulah seterusnya, sehingga tidak terasa si ibu sudah melewati satu hari dengan penuh pengharapan dan semangat untuk kemudian kemudian menutup hari tersebut dengan perasaan bahagia. Tidak masalah apakah dagangannya laris manis, hanya terjual sedikit atau tidak laku sama sekali, esok harinya sang ibu tetap menggelar dagangannya kembali. Dengan senantiasa menggelar dagangan, berarti ia telah rutin menanam benih. Sepertinya, sang ibu tahu betul bahwa setiap kali benih ditanam, saat itu pula harapan pun telah digantungkan kembali.

Di kalangan penulis, mengirimkan sebuah naskah tulisan ke website atau penerbit juga merupakan salah satu bentuk menanam benih. Mulai dari tahapan mencari ide, menyusun tulisan, dan mengirimkan naskah ke tim redaksi, semuanya merupakan suatu proses yang akhirnya akan berbuah penayangan tulisan tersebut di web atau diterbitkan dalam bentuk buku.

Bagi teman-teman yang tulisannya secara rutin muncul di situs AndaLuarBiasa.com ini, saya yakin masa-masa menunggu ditayangkannya artikel mereka merupakan suatu proses yang menghasilkan kepuasan tersendiri. Tidak penting apakah tulisan mereka dibaca orang atau tidak, begitu naskah sudah ditayangkan mereka pun segera akan mempersiapkan naskah berikutnya, dan kemudian mengirimkannya kembali ke tim redaksi. Dengan rutin mengirim naskah berarti para penulis pun telah rajin menanam benih.

Bagaimana dengan bidang profesi yang lain? Bagi para birokrat, mengajukan rencana kegiatan kepada pimpinan, atau usulan program tahunan kepada departemen, atau usulan kepada lembaga penanggung jawab perencanaan dan penganggaran, itu semua juga merupakan proses menanam benih. Bagi para ilmuwan atau peneliti, menyusun proposal untuk mendapatkan dana penelitian atau mengirim manuscript untuk diterbitkan di jurnal ilmiah, juga merupakan bentuk menanam benih. Semua aktivitas tersebut akan menimbulkan harapan dan berpeluang mendatangkan hasil.

Jadi, tidak peduli apa pun profesi kita, asalkan kita rajin menanam benih, maka kehidupan kita akan terasa penuh pengharapan. Pengharapan akan mendatangkan antusiasme dan keceriaan yang akhirnya akan berbuah kepada kesuksesan. Karena itu, penting sekali untuk selalu menyadari apa jenis dan bentuk benih dalam bidang pekerjaan kita. Begitu benih tersebut diketahui, simpan dan pelihara, serta tanamlah benih-benih tersebut kapan saja dan di mana saja. Sebuah kesuksesan selalu dimulai dari sebuah harapan, dan tidak ada harapan tanpa benih yang ditanam sebelumnya. Selamat menemukan benih-benih Anda dan selamat menjalani kehidupan yang senantiasa optimis dan penuh antusiasme.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardeningdan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Elegant Exit

Sulmin GumiriOleh: Sulmin Gumiri*

Terkait dengan hasil pemilu legislatif beberapa waktu yang lalu, mungkin masih lengket di ingatan kita betapa ramainya pemberitaan di televisi tentang terombang-ambingnya Partai Golkar dalam mencari mitra koalisi setelah ia secara sepihak memutuskan komunikasi politik dengan Partai Demokrat. Karena “perceraian” kedua parpol yang telah lama bersahabat tersebut tidak pernah diantisipasi sebelumnya oleh para politisi Partai Golkar, akibatnya terjadi kepanikan yang luar biasa di kalangan para politisi yang “haus kekuasaan” tersebut untuk secepatnya membangun koalisi dengan partai lain di luar Partai Demokrat.

Karena waktu yang semakin mepet dan partai-partai lain semuanya sudah merapat ke PDIPyang merupakan partai besar dan sekaligus musuh bebuyutan Partai Demokratmula-mula kedatangan Partai Golkar yang sudah dicampakkan Partai Demokrat tersebut, disambut dengan hangat oleh PDIP dan teman-teman koalisinya seperti Partai Hanura dan Partai Gerindra. Bergabungnya Partai Golkar dalam koalisi mereka diyakini akan merupakan tambahan amunisi yang luar biasa untuk mengalahkan Partai Demokrat di pemilihan presiden bulan Juli nanti. Namun, ketika topik pembicaraan koalisi mulai mengerucut ke isu calon presiden dan wakil presiden yang akan diajukan, PDIP dan kawan-kawannya terkesan menolak jika calon presiden koalisi mereka berasal dari Partai Golkar.

Akibatnya, Partai Golkar yang pernah sangat berkuasa di masa Orde Baru tersebut seperti terperangkap ke dalam lingkaran setan. Partai ini menghadapi ancaman perpecahan karena sebagian dari politisinya menghendaki agar mereka kembali menjalin hubungan dengan Partai Demokrat meskipun dengan risiko belum tentu mendapat kursi wakil presiden, tetapi sebagian lagi memilih tetap berada di kubu PDIP demi menjaga harga diri partai dengan risiko harus rela walaupun tidak kebagian kursi presiden.

Dua-duanya sulit dan apa pun yang dipilih tetap saja akan menjatuhkan pamor Partai Golkar karena mereka sudah terlanjur menetapkan harga mati untuk mengusung Jusuf Kalla sebagai calon presiden. Situasi semakin sulit, karena mereka tidak mungkin bisa mengajukan calon presiden sendiri tanpa berkoalisi dengan partai lain akibat dari jumlah perolehan suara mereka pada pemilu legislatif lalu yang tidak mencukupi.

Dalam salah satu acara dialog di telivisi, salah seorang pengamat politik mengatakan “yang diperlukan oleh Partai Golkar saat ini adalah mencari Elegant Exit agar bisa keluar dari situasi sulit tersebut tanpa harus kehilangan muka”. Dan, seperti yang kita semua telah ketahui, setelah bersusah payah, “Elegant Exit” itu akhirnya didapatkan juga oleh Partai Golkar dengan mengajak Partai Hanura untuk mau berkoalisi dan membujuk Wiranto agar bersedia menjadi calon wakil presiden.

Partai Golkar sebenarnya sangat tidak puas dan terlihat kurang happy dengan jalan keluar ini, karena Wiranto sebenarnya tidak lain adalah tokoh sempalan dari Partai Golkar itu sendiri. Tetapi paling tidak, Partai Golkar telah berhasil keluar dari situasi sulit yang membelitnya. Ia terhindar dari perpecahan internal partai, dan yang paling penting, Jusuf Kalla tetap bisa mempertahankan kedudukannya sebagai Ketua Umum Partai Golkar dan sekaligus terpilih sebagai calon presiden. Situasi sulit pun segera berakhir dan martabat Partai Golkar tetap terjaga, baik di mata partai lain maupun di mata seluruh rakyat Indonesia.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengulas peta perpolitikan di Indonesia saat ini. Saya lebih tertarik kepada istilah “Elegant Exit” yang digunakan oleh pakar politik di atas yang mungkin juga relevan dengan permasalahan kehidupan kita sehari-hari.

Dalam menjalani kehidupan ini, ada kalanya kita secara tiba-tiba dihadapkan kepada situasi yang sangat sulit sehingga kita dituntut untuk melakukan “Elegant Exit”. Suatu hari saya check out dari salah satu hotel berbintang di Jakarta dengan terburu-buru sekali karena ingin mengejar jadwal penerbangan pertama di bandara. Meskipun terburu-buru, saya masih menyempatkan sarapan pagi ala kadarnya di restoran hotel tersebut. Saat saya akan menyelesaikan sarapan saya, tiba-tiba saya berpapasan dengan seorang teman lama yang ternyata juga menginap di hotel tersebut. Kami pun saling bertegur sapa dan akhirnya berkembang menjadi pembicaraan hangat tentang isu-isu yang pernah kami bahas pada pertemuan terakhir kami sebelumnya.

Karena semakin asyik, teman itu pun menawarkan untuk mencari tempat duduk agar bisa mengobrol lebih enak. Saya mulai “terperangkap” dan dihadapkan kepada pilihan yang sulit: Apakah saya harus berterus terang bahwa saya buru-buru mau ke bandara dan menolak ajakannya dengan risiko dianggap tidak menghargai teman tersebut? Atau, saya ikuti saja ajakannya tetapi dengan risiko saya bisa terlambat sampai di bandara. Dalam situasi ini, saya memerlukan “Elegant Exit”.

Beberapa saat sebelum saya menulis artikel ini, saya baru saja ditelepon oleh seorang kolega saya. Ia bercerita tentang sebuah tugas yang baru saja diberikan oleh pimpinan universitas kepadanya. Karena sadar bahwa penugasan itu bisa menyeret dia untuk terperangkap dalam dunia perpolitikan kampusyang kadang-kadang tidak kalah kotornya dengan yang ditontonkan oleh partai-partai politik sungguhania merasa sangat terbebani dengan tugas itu. Ingin menolak takut dikira tidak loyal kepada pimpinan, tetapi kalau menerima, maka ia akan menjadi korban karena pekerjaannya sangat berisiko konflik dengan sesama rekan dan bahkan dengan pimpinan itu sendiri.

Karena takut mengambil keputusan yang salah, ia meminta waktu satu hari kepada pimpinan tersebut untuk berpikir dan baru kemudian memutuskan apakah ia akan menyanggupi atau menolak penugasan tersebut. Entah karena kebingungan bagaimana cara menyampaikannya, akhirnya ia menelepon saya untuk meminta saran bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan penolakan terhadap tugas tersebut, tanpa menyinggung perasaan atasan yang memerintahkannya. Dilihat dari permasalahan yang sedang ia hadapi, teman saya tersebut juga memerlukan “Elegant Exit”.

Pada kasus lain, ada kalanya seorang pimpinan kantor dihadapkan kepada sebuah dilema terkait dengan sebuah keputusan yang telah ia ambil. Sebagai atasan, ia ingin meningkatkan kinerja institusinya dengan menerapkan manajemen modern yang menerapkan prinsip reward dan punishment berdasarkan hasil penilaian objektif terhadap kinerja setiap staf yang berada di bawah tanggung jawabnya. Kepada yang berprestasi ia berikan penghargaan, sebaliknya kepada yang melanggar maka perlu untuk diberikan sangsi atau teguran.

Namun pada kenyataannya, tidak ada seorang pun pemimpin yang sempurna. Tidak jarang, seorang pimpinan mendapatkan informasi yang kurang akurat terhadap kinerja seorang staf sehingga reward dalam bentuk promosi jabatan yang ia berikan kepada seorang staf kadang-kadang akan ditentang dengan keras oleh staf yang lain. Atau sebaliknya, seorang staf yang mendapatkan punishment ada kalanya merasa keberatan dan tidak bisa menerima sangsi yang dijatuhkan pimpinan kepadanya.

Akibatnya, keputusan pimpinan akan digugat dan sang pemimpin tersebut mulai terperangkap kepada situasi yang sulit. Jika ia menolak keberatan mereka maka ia akan dicap sebagai pemimpin yang tidak bijaksana dan otoriter, tetapi jika ia menuruti dan kemudian mencabut keputusannya, maka risikonya adalah ia akan kehilangan kewibawaan dan kepemimpinannya tidak akan pernah berjalan dengan efektif lagi. Situasi ini juga menuntut sang pemimpin tersebut untuk menerapkan “Elegant Exit”.

Melakukan “Elegant Exit” sebenarnya mengandung dua dimensi. Dimensi yang pertama adalah berkaitan dengan keberanian untuk mengatakan “tidak” kepada segala sesuatu yang tidak sejalan dengan kepentingan kita. Dimensi yang kedua adalah bagaimana kita menyampaikan kata “tidak” tersebut kepada orang lain dengan bahasa dan sikap yang santun dan diplomatis sehingga orang tersebut tidak tersinggung dan juga tidak berprasangka kepada kita saat kita menyampaikan penolakan terhadapnya. Kepiawaian dalam menyampaikan kata “tidak” kepada orang lain inilah yang perlu kita pelajari dan kita latih terus-menerus agar kita tidak panik dan tidak kehilangan harga diri saat menghadapi berbagai situasi sulit dalam menjalani pergaulan hidup ini.

Ada beberapa kiat yang mungkin bisa membantu kita agar terbiasa menerapkan “Elegant Exit”. Yang pertama adalah kita harus berpusat kepada prinsip. Prinsip adalah suatu kebenaran yang dalam dan fundamental yang memiliki aplikasi universal. Prinsip berlaku pada individu, perkawinan, keluarga, dan segala jenis organisasi baik swasta maupun pemerintah. Dalam situasi sesulit apa pun, jika sesuatu itu adalah benar dan baik serta akan menunjang kesuksesan kita, maka sepahit apa pun risikonya kita harus berani mengatakan “tidak” kepada setiap tindakan atau orang yang akan menghalangi kita untuk mendapatkan kesuksesan tersebut.

Yang kedua adalah belajar untuk selalu menggunakan kata dan bahasa tubuh yang akan membuat lawan bicara kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita sedang menggiring dia untuk “setuju” dengan alasan penolakan kita. Masyarakat Inggris sangat dikenal dengan budaya menolak secara halus ini. Ungkapan-ungkapan mereka seperti, “Saya sebenarnya mau ikut, tetapi….”, atau “Saya sangat senang dengan kedatangan Anda, sayangnya….”, atau “Secara umum saya sangat sependapat dengan Anda, hanya saja....” adalah bentuk-bentuk penolakan halus sebagai pengganti kata “tidak” yang biasa mereka gunakan agar tidak menyinggung lawan bicaranya.

Agar kita benar-benar terlihat elegan saat menyampaikan penolakan tersebut, ada baiknya kita juga berlatih menggunakan gesture ala orang Prancis. Untuk meyakinkan lawan bicaranya, mereka selalu membelalakkan mata, mengerenyitkan dahi, dan membuka kedua tangan sambil mengangkat kedua bahunya untuk menunjukkan kepada lawan bicaranya bahwa sebenarnya ia juga tidak tega untuk menyampaikan kata “tidak” tersebut. Tetapi, bagaimanapun penolakan itu tetap harus dilakukannya karena ia sudah tidak punya pilihan lain lagi.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardeningdan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox