Memilih Bodoh
Editor | Kolom Tetap | October 6th, 2009 | 2 Comments »
Oleh: Sulmin Gumiri*
“Orang yang tidak dapat mengubah susunan pikirannya sendiri tidak akan pernah dapat mengubah realitas, dan dengan demikian tidak akan pernah membuat kemajuan apa pun.”
~ Anwar Sadat
Peradaban manusia senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Sejak zaman primitif hingga era modern saat ini jenis perubahan semakin bertambah banyak. Kalau di awal peradaban, perubahan kehidupan manusia hanya ditandai oleh ditemukannya peralatan berburu, memasak dan pakaian sederhana. Saat ini, perubahan terjadi di hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pola interaksi sosial, jenis pekerjaan, teknologi bertani, layanan kesehatan, berbagai moda transportasi, sampai kepada kemampuan berkomunikasi.
Dengan semakin tingginya mobilitas manusia dan semakin canggihnya teknologi informasi, perubahan juga berlangsung semakin cepat. Di era serba canggih saat ini, manusia memiliki kemampuan menduplikasi yang luar biasa karena hanya dalam hitungan detik kita sudah bisa mengetahui, mempelajari, dan kemudian meniru setiap kejadian dan perkembangan penting yang terjadi di berbagai belahan dunia lain. Dengan semakin beragam dan semakin cepatnya perubahan yang terjadi, maka manusia modern mau tidak mau harus berteman dengan perubahan itu sendiri. Menolak perubahan sama dengan mengingkari kehidupan. Atau dengan kata lain, hanya orang yang mau berubahlah yang akan bisa bertahan dan sukses di tengah turbulensi peradaban modern saat ini.
Untuk bisa mengikuti dan kemudian beradaptasi dengan setiap perubahan yang terjadi, satu-satunya strategi yang harus kita lakukan adalah dengan membuka diri terus-menerus untuk senantiasa belajar dan belajar. Luar biasanya pertambahan jenis dan peningkatan kecepatan perubahan yang terjadi, telah berdampak juga kepada pola pembelajaran. Sistem pendidikan formal konvensional yang terpusat kepada guru (Teacher Centered Learning) sudah tidak memadai lagi karena dalam sistem ini terjadi selisih waktu atau time lag yang jauh sekali antara sang guru dan para peserta didik. Ilmu pengetahuan yang didapat oleh guru bertahun-tahun atau puluhan tahun sebelumnya sudah tidak relevan lagi dengan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.
Di sekolah-sekolah formal, yang diperlukan saat ini adalah pola pengajaran yang berpusat kepada para peserta didik (Student Centered Learning) yang memungkinkan mereka untuk mengakses informasi sebanyak-banyaknya dan kemudian mengolah dan memanfaatkan informasi tersebut untuk menjawab setiap tantangan kehidupan yang ada saat ini. Dalam sistem ini guru hanya berperan sebagai fasilitator yang akan mengarahkan para anak didiknya bagaimana cara mengakses, memilah-milah, dan memanfaatkan informasi melimpah yang tersedia. Untuk bisa menjadi fasilitator yang baik tentu saja sang guru—termasuk yang sudah bergelar profesor sekalipun—harus terus belajar dan meningkatkan ilmu pengetahuannya. Karena kalau tidak, suasana sebaliknya yang akan terjadi di mana ia sendiri yang akan diajar oleh anak didiknya.
Di Indonesia, perubahan sistem pendidikan dari Teacher Centered Learning ke Student Centered Learning tidak bisa dilakukan dalam waktu sekejap. Selain memerlukan tenaga pendidik dengan kompetensi tinggi, Student Centered Learning juga harus didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai. Dengan anggaran yang terbatas ditambah lagi dengan kondisi geografis negara kita yang terdiri dari ribuan pulau, pemerintah kita memerlukan waktu yang relatif lama untuk mereformasi sistem pendidikan menuju kepada kondisi ideal sesuai dengan tingkat perubahan dunia sekarang. Dengan kondisi penuh keterbatasan seperti ini kita hanya berharap mudah-mudahan sistem pendidikan kita tidak selalu ketinggalan dengan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terakhir yang semakin cepat berubah akhir-akhir ini.
Sebagian orang terlihat senantiasa haus untuk belajar karena mereka ingin dapat terus mengikuti, menyesuaikan diri, dan bahkan mengambil keuntungan dari perubahan kehidupan yang berlangsung sangat cepat saat ini. Bagi orang-orang yang “memilih bodoh” ini, belajar di sekolah formal saja sudah terasa tidak memadai lagi, karena ilmu pengetahuan terkini dan pengalaman yang berharga justru lebih banyak bisa didapatkan di luar sekolah-sekolah formal yaitu di sekolah kehidupan itu sendiri. Mereka ini, selain senantiasa mengambil pelajaran dari apa yang ia lihat, rasakan, dan alami dalam kehidupan sehari-hari, juga tidak segan-segan untuk “sekolah lagi” di lembaga-lembaga pendidikan nonformal yang jumlahnya semakin bertambah, bak jamur di musim hujan di banyak negara di dunia termasuk di Indonesia. Lembaga-lembaga nonformal ini menyediakan jasa bagi pemenuhan kebutuhan untuk terus belajar bagi para “life long learner” yang ingin terus exist dan berkembang di tengah derasnya perubahan kehidupan dengan kompetisi sukses yang juga semakin ketat saat ini.
Di era globalisasi ini, dunia terasa semakin kecil dan sekat-sekat antara negara pun semakin tidak berarti lagi. Pola interaksi manusia terjadi demikian bebas dan berlangsung sangat cepat tanpa terhalang oleh lokasi negara, sistem politik, corak budaya, dan paham agama. Karena itu, para pembelajar di sekolah kehidupan akan mengalami transformasi cakrawala pandang yang lebih terbuka dan memiliki wawasan yang lebih luas. Karena, apa yang mereka pelajari berasal dari peristiwa-peristiwa kehidupan yang terjadi di berbagai belahan negara di dunia.
Semakin banyak mereka belajar di sekolah kehidupan, akan semakin terbuka pula kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain di mana pun orang tersebut berada di muka bumi ini. Dari pola interaksi ini maka mereka dapat dikategorikan sebagai international citizen yang sangat memercayai, bahwa orang baik itu ada di mana-mana dan sebaliknya orang jahat pun bukan hanya ada di sekeliling kita saja. Pilihan sepenuhnya ada di tangan pribadi masing-masing, apakah kita ingin berteman dan belajar dari orang baik dan bijaksana, atau akan terpengaruh dan ikut arus mengikuti gaya hidup yang ditempuh oleh orang-orang di jalan yang salah.
Untuk bisa sukses dalam kehidupan di zaman globalisasi ini, maka kita harus memperluas jaringan interaksi kita dengan orang lain (networking). Berinteraksi dengan berbagai macam manusia dengan segala keunikannya bukanlah sesuatu yang mudah. Sebagai makhluk sosial, kita semua diikat oleh suatu hukum universal yang disebut prinsip-prinsip dasar kehidupan. Karena itu, kalau kita ingin sukses maka kita pun harus belajar memahami dan mengaplikasikan prinsip-prinsip dasar kehidupan dalam kehidupan kita sehari-hari
Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ditemukan fakta bahwa kemajuan mereka disebabkan karena mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan tersebut. Prinsip dasar atau nilai-nilai kehidupan universal ini terdiri dari: senantiasa menjunjung tinggi etika, menjaga kejujuran dan integritas, bertanggung jawab, hormat pada aturan dan hukum masyarakat, hormat pada hak orang/warga lain, cinta pada pekerjaan, berusaha keras untuk menabung dan investasi, mau bekerja keras dan memiliki disiplin tinggi dengan senantiasa tepat waktu.
Berita buruknya, nilai-nilai universal tersebut sudah semakin jarang diajarkan di sekolah-sekolah formal sekarang ini. Tetapi berita baiknya, prinsip dasar kehidupan universal di atas bisa kita dapatkan secara gratis jika kita mau belajar terus-menerus di sekolah kehidupan. Jadi, selamat kepada siapa saja yang dengan rela telah membodohkan diri untuk senantiasa menjadikan dirinya sebagai manusia pembelajar.[sg]
* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris, dan gelar Ph.D. dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening, dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

Oleh: Sulmin Gumiri*
Oleh: Sulmin Gumiri*
Oleh: Sulmin Gumiri*
Oleh: Sulmin Gumiri*
Oleh: Sulmin Gumiri*
