Life is a Rollercoaster
Editor | Kolom Tetap | August 11th, 2009 | No Comments »
Oleh: Sribudi Astuti*
Lagu Life is a Rollercoaster milik penyanyi ganteng Ronan Keating mengalun dari Winamp. Alunan musiknya yang sedikit nge-beat yang sering kali saya putar setiap kali penat mendera sepulang kantor. Dan, sambil terbaring pun lagu itu cukup membawa angan saya menelusuri waktu yang saya lewati. Ada naik ada turun, ada suka ada bahagia. Saya bahagia menemukan kembali saudara saya. Tetapi, ada tangis tatkala mendapati kenyataan bahwa Ibunda tercinta yang sedang berjuang melawan penyakitnya.
Pikiran saya kemudian melayang ke sebuah taman wisata di kota Magelang. Di taman itu pertama kalinya saya melihat sebuah rollercoaster dan mencoba kendaraan yang bekerja karena gaya gravitasi itu, serta mempunyai track berupa bukit dan lembah berliku. Walau terhitung rollercoaster kecil, ternyata cukup untuk membuat tubuh saya gemetar. Adrenalin saya terpompa dan jantung berdegup kencang. Bahkan, di setiap belokan saya merasa hendak terlempar oleh gaya sentrifugal. Untung ada pengaman yang mampu mempertahankan tubuh saya agar tetap berada di tempatnya.
………………………..
Life is a rollercoaster,
just gotta ride it
……………………….
Saya tersenyum mendengar syair lagu di atas. Yah..., memang tak ada yang dapat kita lakukan ketika kita berada di atas rollercoaster. Bila tak ingin terlempar ke bawah, kita hanya bisa tetap duduk dan mengikuti track yang ada dengan segala kondisinya, yang mana ketika kita bergerak menanjak, kita dapat merasakan gerakan itu cukup menyenangkan. Tetapi, ketika kita bergerak menuju lembahnya, bisa jadi kita berteriak histeris, bahkan ada yang sampai bercucuran air matanya.
Memang, tepat rasanya kalau Ronan mengumpamakan hidup ini sebagai sebuah rollercoaster. Tuhan telah menggariskan sepasang rel tumpuan yang berupa naluri dan nurani yang mengiringi kita dalam melewati track/jalan—yang mau tidak mau harus kita lewati. Jalan yang kadang mendaki, kadang menurun, dan kadang berliku seperti tikungan kendaraan hiburan—yang dipatenkan oleh LaMarcus Adna Thompson itu. Tuhan juga menciptakan senyum, tawa, tangis, dan jeritan histeris untuk mengiringinya agar jalan yang kita lewati tersebut tidak sunyi. Senyum dan tawa akan mengiringi ketika kereta bergerak naik. Dan, jeritan serta tangis akan mengiringi ketika kita bergerak menurun dan melewati tikungan yang mungkin tak pernah kita duga sebelumnya.
Rollercoaster ada yang dibangun untuk anak-anak dengan kecepatan yang tidak begitu besar dan ada pula yang dibangun dengan desain yang cukup ekstrem untuk mereka yang bernyali besar. Demikian pula dalam perjalanan hidup kita, ketika masih kecil, track yang kita lewati tidak begitu sulit. Bahkan, terkesan cenderung menyenangkan karena ada orang tua dan orang-orang yang menyayangi kita, yang selalu siap sedia mengulurkan tangannya untuk memandu kita. Namun, seiring berjalannya waktu, kita juga harus mandiri, perlahan melepaskan uluran tangan tersebut, membuat “kerekan dan mesin penarik” yang akan membawa kita ke puncak dengan ketekunan, kesabaran, dan belajar tanpa henti serta mencoba memulai perjalanan seorang diri dengan segala dinamikanya.
Bila sudah demikian keberadaan kita, maka tugas kita selanjutnya adalah menjaga diri kita agar tetap berada dalam track yang benar, menjaga diri kita agar jangan terempas dengan memilih pijakan dan pegangan yang benar. Di sini yang kita butuhkan adalah keteguhan hati untuk tetap berpengangan pada kebenaran yang telah difirmankan oleh Tuhan, dan wajib kita jalankan dengan sebaik-baiknya agar selamat dunia akhirat.
Yeah…, hidup ini memang laksana sebuah rollercoaster dan mari jadikan sepasang relnya sebagai isyarat untuk tetap berada dalam jalan Tuhan agar selamat dunia akhirat. Dan, ketinggian maupun lembah yang kita lewati bisa menjadi cerita indah yang dapat kita tuturkan kepada penerus kita agar mereka lebih berani melewati track demi track dari rollercoaster kehidupan, yang boleh jadi lebih ekstrim dan menegangkan.[sba]
* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP: 085656450918.
Oleh: Sribudi Astuti*
Oleh: Sribudi Astuti*
Oleh: Sribudi Astuti*
Oleh: Sribudi Astuti*
Oleh: Sribudi Astuti*
Oleh: Sribudi Astuti*
