Life is a Rollercoaster

sbaOleh: Sribudi Astuti*

Lagu Life is a Rollercoaster milik penyanyi ganteng Ronan Keating mengalun dari Winamp. Alunan musiknya yang sedikit nge-beat yang sering kali saya putar setiap kali penat mendera sepulang kantor. Dan, sambil terbaring pun lagu itu cukup membawa angan saya menelusuri waktu yang saya lewati. Ada naik ada turun, ada suka ada bahagia. Saya bahagia menemukan kembali saudara saya. Tetapi, ada tangis tatkala mendapati kenyataan bahwa Ibunda tercinta yang sedang berjuang melawan penyakitnya.

Pikiran saya kemudian melayang ke sebuah taman wisata di kota Magelang. Di taman itu pertama kalinya saya melihat sebuah rollercoaster dan mencoba kendaraan yang bekerja karena gaya gravitasi itu, serta mempunyai track berupa bukit dan lembah berliku. Walau terhitung rollercoaster kecil, ternyata cukup untuk membuat tubuh saya gemetar. Adrenalin saya terpompa dan jantung berdegup kencang. Bahkan, di setiap belokan saya merasa hendak terlempar oleh gaya sentrifugal. Untung ada pengaman yang mampu mempertahankan tubuh saya agar tetap berada di tempatnya.

………………………..

Life is a rollercoaster,

just gotta ride it

……………………….

Saya tersenyum mendengar syair lagu di atas. Yah..., memang tak ada yang dapat kita lakukan ketika kita berada di atas rollercoaster. Bila tak ingin terlempar ke bawah, kita hanya bisa tetap duduk dan mengikuti track yang ada dengan segala kondisinya, yang mana ketika kita bergerak menanjak, kita dapat merasakan gerakan itu cukup menyenangkan. Tetapi, ketika kita bergerak menuju lembahnya, bisa jadi kita berteriak histeris, bahkan ada yang sampai bercucuran air matanya.

Memang, tepat rasanya kalau Ronan mengumpamakan hidup ini sebagai sebuah rollercoaster. Tuhan telah menggariskan sepasang rel tumpuan yang berupa naluri dan nurani yang mengiringi kita dalam melewati track/jalanyang mau tidak mau harus kita lewati. Jalan yang kadang mendaki, kadang menurun, dan kadang berliku seperti tikungan kendaraan hiburanyang dipatenkan oleh LaMarcus Adna Thompson itu. Tuhan juga menciptakan senyum, tawa, tangis, dan jeritan histeris untuk mengiringinya agar jalan yang kita lewati tersebut tidak sunyi. Senyum dan tawa akan mengiringi ketika kereta bergerak naik. Dan, jeritan serta tangis akan mengiringi ketika kita bergerak menurun dan melewati tikungan yang mungkin tak pernah kita duga sebelumnya.

Rollercoaster ada yang dibangun untuk anak-anak dengan kecepatan yang tidak begitu besar dan ada pula yang dibangun dengan desain yang cukup ekstrem untuk mereka yang bernyali besar. Demikian pula dalam perjalanan hidup kita, ketika masih kecil, track yang kita lewati tidak begitu sulit. Bahkan, terkesan cenderung menyenangkan karena ada orang tua dan orang-orang yang menyayangi kita, yang selalu siap sedia mengulurkan tangannya untuk memandu kita. Namun, seiring berjalannya waktu, kita juga harus mandiri, perlahan melepaskan uluran tangan tersebut, membuat “kerekan dan mesin penarik” yang akan membawa kita ke puncak dengan ketekunan, kesabaran, dan belajar tanpa henti serta mencoba memulai perjalanan seorang diri dengan segala dinamikanya.

Bila sudah demikian keberadaan kita, maka tugas kita selanjutnya adalah menjaga diri kita agar tetap berada dalam track yang benar, menjaga diri kita agar jangan terempas dengan memilih pijakan dan pegangan yang benar. Di sini yang kita butuhkan adalah keteguhan hati untuk tetap berpengangan pada kebenaran yang telah difirmankan oleh Tuhan, dan wajib kita jalankan dengan sebaik-baiknya agar selamat dunia akhirat.

Yeah…, hidup ini memang laksana sebuah rollercoaster dan mari jadikan sepasang relnya sebagai isyarat untuk tetap berada dalam jalan Tuhan agar selamat dunia akhirat. Dan, ketinggian maupun lembah yang kita lewati bisa menjadi cerita indah yang dapat kita tuturkan kepada penerus kita agar mereka lebih berani melewati track demi track dari rollercoaster kehidupan, yang boleh jadi lebih ekstrim dan menegangkan.[sba]

* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP: 085656450918.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Tentang Kejujuran

sba1Oleh: Sribudi Astuti*

Awal Juli 2009 lalu merupakan perjalanan darat terpanjang saya selama berada di Sulawesi Selatan. Bila sebelumnya setiap kali harus melakukan perjalanan saya tinggal terima beres dan berangkat tanpa harus pusing dengan ongkos dan transportasinnya, kali ini saya mengurus mulai dari kendaraan yang akan saya tumpangi, memesan tiket bus, booking kamar hotel, hingga urusan-urusan lainnya.

Tujuan perjalanan saya adalah Tomoni, kota kecamatan 500 km arah timur laut dari kota Makassar. Sekilas tentang Tomoni, adalah sebuah kota kecil yang hampir seluruh penduduknya adalah transmigran dari Pulau Jawa dan Bali. Perjalanan dan kerja yang harus selesai dalam lima hari berjalan dengan lancar. Bahkan, boleh dibilang sangat lancar dan suasana hati serasa berada di kampung halaman. Mulai dari makanan, bahasa sehari-hari, hingga suasana kota membuat saya dan teman saya sangat betah.

Kehidupan di tengah-tengah transmigran yang sedari awal memang berniat merantau untuk kehidupan yang lebih baik di tempat yang barutanpa mengorbankan kejujuran dan sikap kerja kerasmerupakan pelajaran baru yang harus saya terima tanpa harus ada yang bertindak sebagai guru dan murid. Semua jelas terpampang di depan mata. Nuansa kerja keras tampak sekali di kota ini, yang terus bertumbuh untuk sejajar dengan kota lain seperti Makassar.

Satu pelajaran berharga yang menjadi kenangan terdalam saya atas Tomoni adalah ketika saya harus check out dari hotel dan membayar seluruh biaya kamar selama empat malam. Resepsionis hotelsetelah menerima seluruh pembayaran sayakemudian menanyakan pada saya, “Mbak, mau ditulis berapa biayanya di dalam nota hotel?”

Dengan nada bingung saya balik bertanya padanya, “Lho, memangnya kenapa Mbak? Ada yang harus saya bayar lagi?”

”Tidak Mbak. Sering kok ada pengunjung hotel yang minta jumlah uang yang ditertulis di nota lebih besar daripada yang ia bayarkan,”jelasnya dengan sedikit canggung.

Saya tersenyum dan dengan bercanda saya timpali kata-katanya, ”Memangnya Mbak mau saya suruh bohong?” Dan, wanita cantik itu hanya tersenyum. ”Sudahlah Mbak, tulis apa adanya saja.”

Saya jadi miris…. Rupanya budaya mark up menjangkau juga di kota kecil seperti Tomoni. Dan, bisa dipastikan mereka yang secara sadar maupun tidak mengajarkan budaya tersebut—dan budaya sejenis demi sedikit keuntungan rata-rata—adalah orang yang melek huruf, mengetahui peraturan, dan bekerja di sektor-sektor yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Ada sebersit perasaan malu dengan hal tersebut, terlebih setelah peristiwa di hotel itu terus berputar-putar di kepala saya. Ini adalah peristiwa aneh pertama yang menguji saya.

Ketika saya masih bekerja di kampus, setiap kali harus melakukan praktik atau mengunjungi lokasi penelitian, berapa uang yang saya keluarkan itulah yang saya laporkan untuk mendapatkan penggantian. Bahkan, saya sangat mengagumi seorang profesor dari Universitas Tsukuba yang kebetulan datang ke kampus. Sewaktu kami mengantar dia mengunjungi Borobudur, dia menolak tiket yang kami bayarkan untuknya. Dia berkata bahwa dirinya sudah dibekali uang yang cukup untuk segala keperluannya.

Saya hanya bisa berkutat dengan pikiran saya dan membanding-bandingkan kondisi nyata yang saya hadapi dengan kondisi ideal yang ditanamkan oleh guru-guru saya dan orang tua saya. Akhirnya, perjalanan pulang dari Tomoni ke Makassar dihiasi percakapan saya dengan teman saya tentang itung-itungan berapa harga yang kra-kira dapat kami peroleh seandainya kami melakukan manipulasi kuitansi. Dan, kami sampai pada angka Rp 400.000 dibagi kami berdua berarti Rp 200.000.

”Hah… harga sebuah kejujuran di negeri ini rendah banget, Rp 200.000?”

Dan, kami pun saling berpandangan dan tergelak bersama-sama sambil membayangkan betapa tololnya kami bila sampai melakukan hal itu.

Satu jam setelah saya meninggalkan Tomoni, tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Entah ini kebetulan atau buah kekuatan batin ayah dan anak. Hal yang diungkapkan oleh ayah saya adalah tentang kejujuran dan ketulusan orang-orang yang bersamanya membesarkan kelompok petani yang sedang dirintisnya. Kejujuran yang kecil telah mengikat hampir 90 orang untuk maju bersama, dan manfaatnya cukup banyak. Bahkan, keluarga kami cukup merasakannya. Dalam perkataannya di telepon, ada sedikit pesan moral dari Ayah bahwa kejujuran kecil, dibarengi dengan ketulusan kecil, itu menjadi tak terbilang harganya dan nikmat rasanya. Ah… seandainya saya melakukan kecurangan di nota hotel… betapa sakitnya saya ”ditampar” oleh kata-kata ayah saya.

Sahabat, sepertinya ini terdengar klise jika seseorang mengatakan tentang kejujuran di tengah persaingan di mana banyak orang melaukan segala cara untuk meraih yang diinginkan. Hem… kalau sudah begini kita bisa melakukan apa untuk menegakkan kejujuran?

Cukup bayangkan saja uang Rp 200.000, bahkan kurang, yang sanggup membeli kejujuran kita. Dengan begitu kecilnya harga sebuah kejujuran, apakah kita akan melepaskannya? Perlu disadari, tanpa harus mengorbankan kejujuran pun, kita sebagai manusia yang dibekali akal, pasti dapat memperoleh rezeki yang lebih baik. Akhirnya, kita cukup membentengi diri dan tak ada salahnya jika mencamkan pepatah yang mengatakan meski zaman dimakan usia. Jujur tetap jujur yang tak lapuk ditelan masa meski erosi moral mewabah di seluruh negeri.[sba]

* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP: 085656450918.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Eksplorasi Karakter Semar dan Harapan Pemimpin Baru Indonesia

sbaOleh: Sribudi Astuti*

Kegilaan saya pada tokoh Semar yang menurut saya lucu, unik, dan simbolisasi kesahajaan hidup sudah bukan menjadi rahasia bagi orang-orang di sekitar saya. Minggu ini seorang teman menyodorkan artikel mengenai eksplorasi karakter Semar dalam karya keramik F. Widayanto dan tulisan budayawan Sindhunata, yang dibacakan dalam pembukaan pameran keramik F. Widayanto baru-baru ini. Rupanya setiap ada Semar, dia selalu mengingat saya. Sebenarnya cukup terlambat jika membahas tokoh Semar jika dikaitkan dengan pameran F. Widayanto yang bertajuk “Semarak 30 Semar”. Akan tetapi, saya rasa tidak terlambat jika dikaitkan dengan Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009 yang baru saja usai.

Semar adalah tokoh pewayangan yang merupakan tokoh yang berjiwa pamomong (pengasuh), yakni mengasuh para kesatria dalam kisah Mahabarata dan Ramayana. Semar dengan jiwa pengasuh dimaknai sebagai melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap ke atas, maknanya; Dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang ke atas (Tuhan) yang Mahapengasih serta penyayang umat.

Semar dalam bahasa Jawa disebut Badranaya (mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia). Tradisi Jawa juga menyatakan bahwa Semar itu berasal dari samara, tidak nyata atau maya, bahkan tak jelas apakah Semar itu laki-laki atau perempuan. Tetapi, di dalam dirinya Semar merupakan sosok manusia dengan karakter yang mengejawantahkan rasa ingat (eling) dan waspada.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa tokoh Semar dalam kisah pewayangan di tanah Jawa merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap batinnya, dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya. Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe, sepi akan maksud, rajin dalam bekerja, dan memayu hayuning bawana (menjaga kedamaian dunia).

Terakhir, tampilan fisik tokoh Semar adalah giginya yang tunggal dan berhiaskan batu mulia, yang menyimbolkan bahwa setiap pitutur (perkataan) Semar adalah perkataan yang sangat bermakna, sarat dengan petuah-petuah bijak.

Lalu, apa kaitan Semar dengan pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2009 ini? Baiklah, sebelumnya kita simak cuplikan tembang sinom ramalan Serat Kalatidha karya Pujangga Ranggawarsita berikut ini:

Ratune ratu utama
Patihe patih linuwih
Pra nayaka tyas raharja
Panekare becik-becik
Paranedene tan dadi
Paliyasing Kala Bendu
Mandar mangkin andadra
Rubeda angrebedi
Beda-beda ardaning wong saknegara

(Artinya: Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan, oleh karena daya zaman Kala Bendu. Bahkan, kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi. Lain orang lain pikiran dan maksudnya).

Jika dikaitkan dengan situasi negara kita saat ini, sebenarnya pemimpinnya dan orang-orang yang ada di bawahnya adalah orang-orang pilihan dan terbaik di antara putra bangsa yang lainnya. Namun, karena masing-masng pribadi mempunyai pemikiran, orientasi yang berbeda, bahkan sering kali teracuni oleh orientasi pribadi yang cenderung serakah, maka tak jarang terjadi kekisruhan, korupsi yang sulit dibasmi, dan sebagainya.

Ramalan Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha memang telah tersurat, tetapi bukan berarti harapan kita atas negeri yang damai dan sentosa harus pupus, bukan? Pemerintah kita telah melaksanakan pemilihan umum baik legislatif maupun eksekutif dengan baik, sebuah gerbang harapan baru pun terbuka. Rakyat sudah berusaha memilih calon-calon pemimpin yang terbaik di negeri ini.

Rasanya karakter Semar, yang merupakan karakter tokoh yang cukup dikenal dalam budaya rakyat Indonesia mampu mewakili karakter pemimpin Indonesia yang seharusnya. Rakyat tentu berharap mempunyai pemimpin yang rendah hati, bersikap melayani masyarakat tanpa pamrih, mengayomi, dan dapat dijadikan teladan bagi rakyatnya.

Karakter samar dalam diri Semar juga dapat dijadikan petunjuk bagi pemimpin baru negeri ini, di mana dalam setiap karyanya tidak perlu digembar-gemborkan dalam berbagai kesempatan dan dipamerkan melalui pidato dan orasi-orasi yang cenderung mengobral janji semu. Tetapi, sebaiknya entah itu karya besar maupun karya kecil, yang penting bagi rakyat adalah bagaimana karya dari pemimpin negeri ini mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat. Dan, situasi tersebut mendorong hadirnya generasi-generasi baru yang berkualitas dan bermanfaat bagi umat manusia.

Terakhir, hal yang paling diharapkan rakyat atas pemimpinnya adalah adanya kesatuan kata, kesepahaman antara pemimpin tertinggi dan punggawa-punggawanya mempunyai satu kata sepakat dalam setiap peraturan yang dikeluarkan. Sikap integritas yang tinggi, satunya kata dengan perbuatan seperti layaknya pitutur Semar yang sangat bermanfaat, dan tak pernah menimbulkan keraguan bagi siapa pun yang mendengarnya. Selamat menyongsong masa depan Indonesia yang baru di bawah pemerintahan yang baru. Jayalah Indonesiaku.[sba]

* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP: 085656450918.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Hidup yang Menjulang Versi Koloni Rayap

sba1Oleh: Sribudi Astuti*

Sebuah lelucon bodoh yang tidak perlu ditanggapi, begitulah kira-kira saya menganggap candaan teman baru saya waktu dia mendeskripsikan tentang serangan rayap di plafon rumahnya hampir tiga tahun yang lalu. Pada waktu itu saya masih dengan segala kesombongan sebagai seseorang yang baru saja keluar dari dunia kampus. Dan kemudian, saya masuk ke lingkungan yang jauh, yang bagi sebagian orang masih dianggap kalah dengan lingkungan di mana saya berasal.

Jika mengingat kesombongan itu rasanya saya malu pada diri sendiri. Terlebih yang menjadi bahan candaan yang saya remehkan itu adalah sekelompok rayap, makhluk ciptaan Tuhan yang meskipun remeh mempunyai keunikan yang menakjubkan, dan akhirnya menjadi “guru” dalam perajalanan saya hingga saat ini.

Kala itu, saya menyangkal realita yang disampaikan teman saya. Mana mungkin rayap bisa menjangkau plafon? Sebuah kemustahilan menurut saya. Hal yang terpatri di kepala saya adalah bahwa rayap menggerogoti kayu mulai dari tempat yang paling dekat dengan tanah, kayu yang menempel tanah, atau kayu yang tumbang dan dibiarkan dalam waktu yang lama menyentuh tanah yang lembab.

Beberapa bulan kemudian, ketika saya mulai mengamati alur-alur aneh yang memenuhi dinding di sebuah rumah kosong, saya perhatikan dan saya korek-korek alur tersebut. Dan, ternyata alur-alur itu adalah alur-alur kecil yang dibuat koloni rayap untuk melindungi rayap dari panasnya udara alam Sulawesi, dan menjangkau tempat teduh nun jauh di atas plafon untuk menggerogoti kayu yang ada di situ.

Sampai di sini saya mulai mengamati perbedaan koloni rayap di sebagian Pulau Jawa yang tanahnya subur di mana rayap membentuk alur-alur atau lorong-lorong pelindung rayap dalam ukuran besar dan rapuh. Sementara, rayap yang ada di Sulawesi lorong-lorong yang dibuat itu adalah untuk menjangkau sumber makanan yang sangat kuat, padat, dan sulit untuk dihancurkan.

Proses belajar tentang rayap ternyata tak cukup sampai di sini. Sebuah realitas yang menakjubkan yang benar-benar menghancurkan kesombongan akan kepintaran saya yang belum seberapa terbentang di Taman Nasional Wasur, Merauke. Koloni rayap yang sepele membangun “istana” yang menjulang, kokoh, dan menakjubkan lengkap dengan lorong-lorong pelindung dari air hujan dan penghambat udara panas di tengah ganasnya alam Papua.

Saya benar-benar tersentak, menjelajahi tiga daerah waktu, membawa saya menjelajahi tiga pengetahuan yang ditampilkan oleh koloni rayap. Pengetahuan itu adalah tentang kehidupan yang terus menjulang karena tempaan kehidupan.

Wilayah Jawa, dengan segala kesuburan yang dimunculkan akibat letusan berberapa gunung berapi telah mengubah tanah menjadi tanah yang banyak memberikan kemudahan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan. Karena dimanjakan oleh alam, rayap yang ada di tempat tersebut tak pernah menjangkau tempat-tempat yang tinggi.

Lain halnya jika menelusuri kawasan Indonesia Tengah dan Timur, kerasnya alam membuat makhluk yang sepele berjuang untuk hidup dan melanjutkan kehidupan. Alam yang keras disiasati dengan membangun lorong-lorong yang menjadi “benteng” pertahanan hidup yang kokoh dan menakjubkan hanya dengan mengikatkan partikel-partikel tanah yang keras dan rumput kering.

Tuhan selalu menyiratkan kearifan dalam setiap ciptaannya, tak terkecuali lewat koloni-koloni rayap yang tersebar di wilayah yang karakteristiknya berbeda. Lewat koloni rayap dari tiga daerah waktu ini kita dapat belajar bahwa tempaan alam dan kehidupan bukan satu hal untuk dipersalahkan, tetapi menjadi satu hal yang memicu kelangsungan kehidupan agar terus menjulang dan menciptakan keajaiban-keajaiban yang pantas untuk dikagumi. Bukankah hidup seharusnya merupakan perjuangan dalam melakukan petualangan hidup, dan tumbuh menjulang dengan penuh kemuliaan yang akan menyuburkan jiwa?[sba]

* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP: 085656450918.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Berguru pada Serumpun Bambu

Sribudi AstutiOleh: Sribudi Astuti*

Ada kesyukuran tersendiri hidup di Indonesia dengan betang alam dan kekayaan flora dan fauna yang beragam. Kita benar-benar kaya, termasuk di dalamnya kearifan lokal beribu-ribu suku yang mendiami seantero negeri dari pantai hingga pegunungan. Kali ini saya ingin sedikit mengungkap sebuah kearifan dari sesuatu yang sangat dekat dengan masyarakat kita, yaitu serumpun bambu.

Bagi masyarakat yang hidup di tempat-tempat yang rawan longsor, utamanya di daerah dengan kelerengan yang bergelombang hingga curam, ada kebiasaan yang cukup unik. Ketika ancaman longsor menunjukkan tanda-tandanya, masyarakat akan memotong tanaman bambu legi (pring legi) kemudian ditancapkan di tebing sungai atau di muka tanggul yang mulai bergeser. Antar patok satu dengan patok lain yang ditancapkan kemudian disatukan dengan jalinan tali yang terbuat dari bambu apus untuk menahan tanah agar tidak terus terbawa garusan dan geseran.

Patok-patok bambu itu tetap berwarna hijau hingga berbulan-bulan sebelum dari buku-bukunya muncul tunas baru. Selama berbulan-bulan patok bambu itu bersemedi. Tetapi, di bagian bawah—di bagian buku-buku yang tertanam di tanah—akar-akar serabut tumbuh pesat dan menjalar ke mana-mana. Mereka memperkokoh posisinya di tebing sungai, membentuk jalinan yang saling merekatkan. Diam-diam patok bambu itu menyusun kekuatan di tempat tersembunyi terlebih dahulu, kemudian baru memunculkan tunas-tunas baru di bagian atas, dan memamerkan daunnya yang selalu hijau sepanjang tahun.

Sadar atau tidak, patok-patok itu telah mengajarkan pada kita untuk membangun fondasi hidup yang kuat terlebih dahulu, baru kita tumbuh sesuka hati kita, dan tanpa disuruh pun orang lain akan melihatnya, tak perlu menyombongkan diri.

Tak hanya patok yang menyebabkan bambu menyebar ke mana-mana, tetapi terkadang orang menanam bonggol yang ada tunasnya, dan karakteristik tunas bambu juga unik. Dia akan memperkuat akarnya terlebih dahulu, baru memunculkan tunasnya di atas permukaan tanah. Sebuah hasil kajian ilmiah menyebutkan bahwa tunas bambu ada yang dapat tumbuh 121 cm dalam sehari. Dan pada akhirnya, bambu dinobatkan sebagai tanaman yang yang mempunyai pertumbuhan tercepat di muka bumi. Wow… fantastis, bukan? Ini mengajarkan bahwa bila fondasi hidup yang kita bangun cukup kuat, kita dapat melesat secepat yang kita inginkan.

Terkadang saya kasihan kepada bambu. Ia cenderung tumbuh di tempat-tempat yang sulit seperti keluarga pomaceae lainnya; lereng gunung yang tandus dan tebing tebing sungai. Tetapi, untungnya bambu tidak punya mulut sehingga tak sedetik pun dia mengeluhkan ketidaklayakan tempat yang ditinggalinya. Bahkan, ketika si bambu harus tumbuh di lahan-lahan kritis—yang mana air saja sulit didapat—mereka tak pernah menangis.

Salah satu hal yang paling tragis yang pernah dialami bambu adalah di Yogyakarta ketika lereng Merapi luluh lantak oleh awan panas yang menyembur. Beberapa waktu kemudian, bambulah yang tumbuh pertama kali sehingga selalu kita jumpai di lereng merapi, dari sisi mana pun bambu selalu tampak. Dan, ini pula yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki, bambu yang tumbuh untuk pertama kalinya sebagai tumbuhan pioner setelah beberapa waktu sebelumnya bom atom meluluhlantakkan kedua tempat tersebut.

Sampai di sini bambu kembali mengajarkan kepada kita bahwa di mana pun kita berada, sesulit apa pun keadaan, tak ada kata menyerah untuk terus tumbuh, tak ada alasan untuk berlama-lama terpendam dalam keterbatasan. Karena bagaimanapun, pertumbuhan demi pertumbuhan harus diawali dari kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kondisi yang paling sulit sekalipun.

Setelah tanaman bambu tumbuh optimal, lengkap dengan ranting dan daun disekujur batangnya dan tinggi menjulang, apa yang kita lihat? Ya, daun bambu tumbuh lurus, tak ada satu pun daun bambu—yang sudah waktunya mekar kembali—menangkup seperti daun bambu muda. Dia tetap mekar lurur, sampai waktu gugur tiba dan tergantikan oleh daun-daun baru. Ya, di sini daun bambu menunjukkan kesetiaan kodratnya; tetap lurus dari awal hingga akhirnya, harus lepas dari batang tempat dia bertaut untuk mendapatkan asupan makanan dari akar.

Tahap akhir pertumbuhan pohon bambu tumbuh menjulang dengan kehijauan sepanjang tahun. Walau badai datang, angin kencang menerpa, bambu tetap bergeming dari tempatnya bertumpu. Walau ujungnya bergerak ke sana kemari mengikuti dorongan angin, ia senantiasa kembali ke posisi semula. Inilah simbol tuntutan hidup yang senantiasa harus fleksibel, lentur, dan mengikuti arus tanpa harus roboh tercabut dari fondasi yang menjadi pijakannya. Seperti kata Krishnamurti yang dituangkan dalam Bidadari Words-nya: Terus membangun fondasi akar agar kokoh, terus membangun ruas demi ruas yang ulet hingga menjulang sangat tinggi, mengikuti terpaan angin hingga tinggi tanpa melawan, namun tetap kembali ke tempat semula, kokoh, berprinsip, dan lembut.

Kemampuan bambu untuk tumbuh di tempat yang sulit menyebabkan bambu tersebar dalam area yang sangat luas dari kawasan yang terbentang di antara 50 derajad lintang utara dan 47 derajad lintang selatan. Penyebaran yang luas memungkinkan banyak sekali penggunaan bambu untuk tujuan yang berbeda; sumpit di kawasan Asia Timur seperti Jepang dan Korea, bahan anyaman untuk wadah, perangkap ikan, sampai alat musik dan obor penerangan. Ini mengajarkan kita bahwa di mana pun kita berada, di mana bumi dipijak, senantiasa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi lingkungan sekitar kita.

Begitu banyak intisari kehidupan yang dituturkan oleh bambu. Begitu banyak pula perlambang-perlambang yang dibuat orang dari berbagai negara untuk mengabadikan ajaran-ajaran Tuhan lewat buku terbesar di dunia yang berjudul ALAM ini. Di China, bambu menjadi simbol umur panjang, di India menjadi simbol persahabatan, di Vietnam bambu dijadikan simbol kerja keras, optimisme kesatuan, dan kemampuan adaptasi. Vietnam bahkan mengabadikan pelajaran berharga dari sebatang bambu ini dengan sebuah peribahasa ”Ketika bambu tua, maka tunas baru akan muncul”. Ini berarti bahwa bangsa Vietnam tak akan pernah binasa, ketika generasi tua mati, maka muncul generasi yang lebih muda untuk menggantikannya.

Keluhuran nilai yang ditampilkan oleh bambu ternyata tak hanya lewat pitutur-pitutur lirih yang hanya dapat dilihat dengan mata batin yang tajam, tetapi juga disertai semangat tinggi seperti ketika sang bambu dipergunakan untuk senjata dalam perjuangan beberapa bangsa di Asia Tenggara. Pitutur-pitutur lirih itu juga disertai alunan merdu dari kulintang, seruling bambu, dan angklung yang tercipta dari batang bambu yang berongga. Dan, ketika kegelapan menyergap, bambu juga menyediakan tempat untuk menumpukan pelita yang biasa disebut obor oleh penggunanya. Sehingga, tak ada lagi alasan untuk mengutuk kegelapan. Nyalakan obor bambu sebagai penerang dan terus pelajari ajaran Tuhan yang tersembunyi di ALAM ini.[sba]

* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP:085656450918.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Optimisme adalah Separuh Kesembuhan

Sribudi AstutiOleh: Sribudi Astuti*

Ketika membuat tulisan ini, saya baru saja membuka arsip yang ada di hard disk lama saya. Saya menemukan file dalam format notepad yang bersisi copy percakapan saya dengan seorang gadis lewat Yahoo Messenger beberapa tahun lalu. Gadis tersebut terpaut umur hampir enam tahun dengan saya dan baru setahun lulus SMU, putri seorang pengusaha, pandai memainkan alat musik, ceria, dan meskipun kami saling mengenal hanya lewat chatroom hubungan kami sangat dekat dari waktu ke waktu.

Satu hal yang tidak masuk logika saya tentang kehidupan gadis itu adalah pilihannya untuk tidak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja di sebuah perusahaan, dan tinggal jauh dari orang tuannya serta meninggalkan kemudahan yang diberikan orang tuanya.

….

Toeti_yk: “Gak pengen kuliah kamu, Dhek?”

Gadis_Manis: “Pengen sich, tetapi tak sanggup..”

Toeti_yk: “Apanya???”

Gadis_Manis: “Teteh… sebenarnya ada yang aku sembunyikan, aku menderita leukemia, aku berusaha hidup normal seperti kebanyakan orang dengan bekerja”

Toeti_yk: “Trus?”

Gadis_manis: “Kalau saja aku sehat aku akan kuliah dan memupuk bakat musikku, Teh…”

….

Seiring berjalannya waktu, dan semakin terkuak sisi kehidupan gadis tersebut, saya baru mengetahui bahwa kalau sekadar untuk mempunyai uang saku berlebih, gadis tersebut tak perlu bekerja keras dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Gaji yang dia dapatkan dari bekerja jauh lebih kecil, akan tetapi berulang kali gadis tersebut mengatakan, itulah cara dia supaya tidak dianggap orang sakit. Bagi dia, anggapan orang bahwa dirinya orang sakit yang harus ditolong justru menjadi bumerang yang menggerogoti semangatnya untuk sembuh.

Menjalani kehidupan layaknya orang normal dengan segala suka dan dukanya, tanpa pandangan hasihan akan dirinya, yang bahkan umurnya pun sudah diramalkan tak akan panjang oleh dokter, ternyata justru membawa keajaiban demi keajaiban pada diri gadis tersebut. Gadis itu masih tetap bertahan melewati waktu yang diperkirakan dokter. Ia masih tetap bekerja meskipun beberapa hari dalam sebulan harus bersembunyi dari teman-temannya karena kondisi tubuhnya tidak stabil.

Kedua keajaiban itu ternyata semakin memupuk keyakinannya bahwa dirinya mampu melewati masa-masa sulit. Emosi yang tetap terjaga tanpa ternoda rasa kasihan dari orang lain dan sikap memelas untuk mendapatkan sikap orang lain menjadi bagian terpenting jalannya menuju kesembuhan. Optimisme yang selalu dijaga dan diimbangi kepasrahannya kepada Tuhan membuatnya bersedia menjalani kemoterapi hingga beberapa bulan berikutnya. Hingga suatu ketika, gadis tersebut mengirimkan pesan singkatnya di Yahoo Messenger untuk berpamitan karena akan melanjutkan pendidikannya di Australia.

Sampai hari ini, gadis tersebut masih tetap sehat, ceria, menekuni apa yang menjadi minatnya, dan tetap memainkan musik yang menjadi hobinya. Sebentuk kekaguman pada gadis tersebut terpatri dalam hati dan ingatan saya, benar-benar keajaiban Tuhan yang ditunjukkan pada saya lewat gadis tersebut.

Kita sering kali mendapati orang, yang begitu mendapat vonis penyakit dari dokter, kemudian menjelma menjadi manusia yang cengeng, manja, dan rapuh. Ketakutan oleh bayang-bayang kematian dan membiarkan ketakutan tersebut menggerogoti semangat dan keyakinan, hingga tak sejalan dengan orang-orang sehat yang memedulikannya dan mengusahakan kesembuhannya.

Hanya orang-orang yang mempunyai optimisme yang mampu mengangkat dirinya menuju sesuatu yang hebat. Begitulah kira-kira ungkapan yang pas untuk menggambarkan kebangkitan orang-orang yang ketika didera penyakit yang mematikan, tetapi tidak lantas menjadi manusia yang rapuh.

Banyak ahli kesehatan mendapati bahwa pasien-pasien dengan sikap mental optimis mempunyai peluang lebih besar dan waktu yang diperlukan untuk menjalani perawatan lebih singkat. Sikap mental yang meyakini bahwa segala sesuatu di dunia ini serba mungkin selama dibarengi dengan keyakinan dan upaya kearah tujuan tersebut merupakan separuh dari pengobatan yang seharusnya dijalani.

Gadis yang saya ceritakan di muka rasanya cukup untuk dijadikan sebagai cerminan. Cara berpikir bahwa dirinya mampu hidup normal, telah membuat dirinya hidup dalam kehidupan normal seperti yang ia bayangkan. Meskipun, ada penggalan kehidupannya yang pernah diwarnai oleh hadirnya penyakit yang masih dianggap menakutkan dan sulit disembuhkan.

Rasanya tak ada alasan untuk menyerah pada rasa sakit, yang memang diciptakan Tuhan sebagai penebus dosa bagi yang mengalaminya. Sikap optimis dibarengi usaha untuk sembuh menjadikan penebus dosa itu benar adanya dan semoga semakin mendekatkan seseorang pada penciptanya.[sb]

* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP:085656450918.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.8/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Orang Bermental Pemenanglah yang Bisa

sribudi astutiOleh: Sribudi Astuti*

Saya tersenyum melihat setumpuk kartu joker (remi) yang tanpa sengaja saya temukan di dalam travel bag, lengkap dengan bungkusnya, amplop coklat bekas bungkus gaji saya, ketika saya masih bekerja di almamater saya. Kartu joker itu menyimpan banyak kenangan. Pertama, permainan kartu di sebuah penginapan di kawasan Tawangmang, Karanganyar, Jawa Tengah, saat membawa mahasiswa yang sedang mengikuti praktikum. Malam hari, ketika dingin mulai menyelinap, kartu itu yang membawa kehangatan tersendiri. Tak ada sekat antara dosen, mahasiswa, dan juga co-ass. Dosen yang paling disegani pun menjadi lawan main cangkulan (pemain yang kartunya paling cepat habis dialah yang menang) yang paling menyenangkan. Walau sering harus mengocok kartu, dan pipi penuh dengan bedak putih yang dioleskan oleh teman-teman yang kartunya telah habis dimainkan, tak sedikit pun ada perasaan kecewa, apalagi marah.

Kenangan demi kenangan itu mengalir begitu saja, seiring ke mana pun saya membawa kartu itu. Liburan akhir tahun di Kaliurang, sampai praktikum terakhir saya di Boyolali, semua terasa baru kemarin terjadi.

Saya memang bukan penjudi. Permainan kartu itu semata-mata hanya untuk mengisi waktu kosong. Bila saya sedang sendiri, saya hanya akan menyusun kartu-kartu itu menjadi satu bentuk bangunan yang ada dalam imajinasi saya. Tetapi, itu terjadi lebih dari dua tahun yang lalu, saat saya tidak menyangka kalau kartu itu tanpa sengaja terbawa sampai tanah rantau ini. Ini sungguh sebuah kebetulan.

Ketika masih di Yogyakarta, saya tak sekalipun berani menyentuh kartu, apalagi memainkan kartu di hadapan Ayah saya. Operasi kamar juga sering dilakukan oleh Ayah atau Ibu, saya pikir, satu-satunya tempat aman untuk menyimpan kartu itu hanyalah travel bag yang ada di atas lemari pakaian, benda yang selalu luput dari operasi kamar.

Berbicara tentang permainan kartu, saya teringat syair lagu milik ABBA;

The Winner Take It All

…………………………..

I’ve played all my cards
And that’s what you’ve done too
Nothing more to say
No more ace to play

The winner takes it all
The loser standing small
Beside the victory
That’s her destiny

……………………

Ketika saya bermain kartu bersama teman-teman saya, saya memainkan kartu yang saya punya, kalau bisa semua kartu saya mainkan dan saya akan menjadi pemenang. Teman-teman juga akan melakukan hal yang sama. Mereka tak akan pernah rela bila harus mendapat giliran mengocok kartu, apalagi mencapat colekan di pipi, menjadi bahan tertawaan sebelum tidur, lucu juga menyedihkan.

Seperti itulah kehidupan, manusia ibarat pemain kartu. Mereka yang bermental pemenang dan mempunyai strategi untuk menanglah yang nantinya akan memenangkan permainan kehidupan. Setumpuk kartu di tengah arena kehidupan adalah kesempatan-kesempatan yang dapat menghampiri siapa saja. Tinggal kita berpikir, bagaimana kesempatan itu dapat berguna bagi kehidupan kita?

Kehidupan adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi. Tuhan telah menggariskan dan mengaruniai kita kekuatan fisik, pikiran, serta kesempatan. Kita tak akan mampu merayu Tuhan untuk memberikan apa yang kita inginkan, tetapi kita harus mengusahakan itu semua dengan kekuatan pikiran dan fisik kita, serta menjadikan kesempatan sebagai gerbang menuju apa yang kita inginkan.

Sekali terjun ke arena permainan, kita harus menyelesaikannya sampai tuntas; sampai tak ada lagi kata untuk diucapkan; dan sampai seluruh kartu kehidupan telah dimainkan; dan sampai waktu yang disediakan Tuhan untuk kita berada dibumi ini habis. Ingat, waktu yang tersedia berbatas. Jadi, ubah mental kita menjadi pemenang, karena hanya orang yang bermental pemenanglah yang bisa.[sba]

* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP:081342259894/085656450918.

UA:A [1.1.6_502]
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Jangan Mencela Sebelum Mencoba

sbdOleh: Sribudi Astuti*

Apakah arti profesi bagi Anda? Apakah Anda berada di posisi yang rendah, menganggap itu tidak berguna, merupakan profesi yang hina, dan tidak bergengsi? Atau justru sebaliknya, Anda berada di posisi yang tinggi dan Anda pantas berbangga diri dengan semua itu, dan profesi yang ada di bawah Anda adalah profesi yang tidak ada artinya?

Ada sebuah pepatah Amerika mengatakan, “Jangan pernah mencela seseorang sebelum kau berjalan sejauh 1 mil dengan sepatu mereka” mengandung makna yang dalam dan berkaitan dengan alenia divatas. Dalam hal ini, saya tidak akan menyamaratakan semua profesi. Karena saya tahu, masing-masing profesi mempunyai peran sendiri dalam kehidupan ini. Entah besar, entah kecil, orang yang menekuni sebuah profesi apa pun itu tetap mempunyai kontribusi dalam kehidupan ini, mulai dari tukang cuci, tukang sampah, pemulung, terlebih lagi direktur atau presiden.

Agak janggal dan mengganjal perasaan, ketika suatu pagi saya menjumpai seorang pengusaha sedang memarahi petugas cleaning service di kantornya dengan mengatakan, “Apa kerjamu, jam segini semua ruangan belum beres!” Padahal, sedari pagi petugas tersebut telah datang, membereskan semuanya yang ada. Memang apes sedang hinggap pada diri petugas tersebut. Untuk sebuah urusan mendadak, sang pengusaha datang lebih awal dari biasanya, dan ia menjumpai petugas cleaning service belum menyelesaikan pekerjaannya.

Jika dinalar dengan pikiran sehat dan tanpa embel-embel emosi, sebenarnya hal tersebut wajar. Sang pengusaha datang lebih pagi dari biasanya, tentu saja akan menjumpai pemandangan yang berbeda dari kebiasaannya, yang mana petugas cleaning service belum menyelesaikan pekerjaannya. Justru, yang tidak wajar adalah sang pengusaha sendiri. Ia tidak memandang situasi, tapi langsung marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya, hanya karena apa yang ia lihat tidak sesuai dengan keinginannya, dan didorong oleh emosi serta anggapan, bahwa dirinya adalah orang yang bisa memerintah apa saja, termasuk mengatakan apa saja pada orang yang dianggap lebih rendah.

Berdasarkan ilustrasi di atas, mari kita coba pikirkan, bagaimana bila situasi kita balik? Kita mencoba berada ada posisi orang lain yang sering termarjinalkan, hanya karena profesi mereka tidak tergolong dalam profesi-profesi elit menurut pandangan banyak orang. Kita kenakan sepatu seperti yang dikiaskan dalam pepatah Amerika pada bagian awal artikel ini. Kita kenakan atribut-atribut yang sering disandang oleh orang tersebut, baik berupa fisik maupun julukan-julukan yang bernada meremehkan dan merendahkan. Kemudian perhatikan, sejauh mana kita menjalani posisi orang lain itu, dan ukurlah sendiri sampai di mana batas kesanggupan yang kita miliki.

Belakangan ini saya baru saja mencoba berada di posisi seorang sahabat saya yang sering menemani saya ngobrol di kala senggang, atau di kala saya sedang merindukan keluarga saya di Yogyakarta. Sahabat saya itu menjalani profesi, yang bagi sebagian orang anggap remeh, ya remeh sekali. Karena, hampir semua orang yang pernah saya lihat berhubungan dengan orang tadi menggunakan nada yang, menurut saya, kasar. Dialah si pengangkut sampah, sekaligus menyapu, dan sesekali merapikan pagar tanaman.

Pada suatu sore, saya sengaja berjalan mendekatinya, ketika ia tengah memangkas tanaman pagar agar nampak rapi. Sekilas dalam pandangan mata saya, pekerjaan memotong dan merapikan tanaman adalah pekerjaan yang sangat mudah. Sekadar membuka dan menutup gunting, lalu diarahkan pada pucuk-pucuk tanaman yang tidak beraturan. Akhirnya, tanaman terpotong dan tampak rapi. Saya sangat, saya berminat mencobanya. Saya merayu dan mencoba memangkas tanaman. Tetapi, tahukah Anda ternyata itu sangat sulit. Setidaknya saya tidak mampu melakukannya dengan rapi, dengan depat, dan ternyata kuncinya adalah pada entakan dan arah guntingan. Ini yang tidak saya kuasai.

Sebuah pelajaran berharga waktu itu saya peroleh. Ternyata, untuk sebuah pekerjaan sepele yang selama ini saya anggap mudah dan enteng, hanya karena sedikit kesombongan saya yang menganggap diri saya lebih berpendidikan, ternyata tidak dapat saya lakukan dengan baik. Ilmu yang saya peroleh dari pendidikan yang saya jalani, dan penguasaan saya untuk bidang tertentu yang saya tekuni, ternyata tidak berlaku untuk pekerjaan memotong dan merapikan tanaman di taman.

Tuhan Mahaadil, menciptakan manusia yang beraneka ragam dengan kepintaran dan keahlian masing-masing, untuk berkontribusi sewajarnya bagi kehidupan ini. Kita tidak perlu mencela. Apabila di benak muncul hasrat mencela, berarti secara tidak langsung kita mencela Tuhan kita. Berhubung Tuhan menciptakan manusia untuk berkontribusi sewajarnya dalam berbagai sendi kehidupan, berarti kita juga harus bertindak sewajarnya, mengapresiasi apa pun profesi orang secara positif.

Tanamkan dalam diri, bahwa jangan pernah mencela apa yang telah digariskan Tuhan, yang berupa profesi orang sebelum mencobanya. Karena, belum tentu kita mampu menjalani di luar profesi yang kita jalani sekarang.[sba]

* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP:081342259894/085656450918.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Butir Jagung pun Mengajarkan Tentang Hidup

sbd1Oleh: Sribudi Astuti*

Kantor tempat saya bekerja saat ini mempunyai lahan yang cukup luas untuk membudidayakan berbagai jenis tanaman. Dari lahan yang ada, pegawai lapangan menyebut lahan basah untuk lahan yang mendapat pengairan sepanjang tahun, dan lahan kering untuk lahan yang tidak mendapatkan pengairan teknis. Lahan basah ditanami padi sepanjang tahun, dan lahan kering ditanami tanaman jagung sepanjang tahun.

Suatu hari, di tengah musim penghujan dan bertepatan dengan awal musim tanam jagung, seorang petugas lapangan datang kepada saya. Ia menunjukkan beberapa butir jagung yang ia tanam beberapa hari sebelumnya, yang mulai membusuk dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjadi tanaman baru.

“Ai…. Sia-sia saja bungkuk seharian, jagungnya banyak yang ndak tumbuh,” begitu keluhnya pada saya kala itu. Petugas lapangan lain yang kebetulan berada tak jauh dari kami berdua juga turut urun bicara, “Jelas saja, lha wong banyak hujan, tanahnya tergenang, bagaimana jagungnya mau tumbuh, busuk iya!”

Saya sebenarnya kasihan dengan petugas lapangan itu. Jelas saya tidak bisa berbuat banyak untuk menumbuhkan jagung-jagung itu.

“Ya sudah... siapkan saja benih baru, nanti disulam. Jangan lupa, buat alur biar airnya tidak menggenang di lahan.” Akhirnya, hanya itu yang keluar dari mulut saya.

Secara mendasar, memang jagung sulit tumbuh dengan baik di musim penghujan. Karena, kebutuhan manusia yang tak bisa terhentilah yang mengharuskan jagung ada dan tersedia sepanjang tahun. Tentu manusia harus berpikir untuk mengatasinya.

Air memang perlu, untuk segala kehidupan di bumi ini, tak terkecuali untuk jagung-jagung itu. Tetapi tahukah, bahwa jagung-jagung itu sama sekali tidak mau tumbuh ketika tempat dia diletakkan tergenang air? Ada apa gerangan?

Jagung juga makluk seperti kita. Meski tak dapat bicara, meski tak dapat merasa, tapi ia juga dikodratkan Tuhan untuk tumbuh dengan tantangan-tantangan agar ia menjadi kokoh dan berguna. Tantangan paling sesuai untuk butir jagung adalah keterbatasan air. Dengan air yang terbatas, jagung akan menumbuhhkan akar-akarnya untuk mencari air jauh kedalam tanah. Ini alamiah. Perimbangan pertumbuhan akarnya itu kemudian memunculkan daunnya, memanfaatkan hasil-hasil kerja keras akar yang menembus tanah. Itu untuk menghadirkan pemandangan hijau di atas tanah. Kemudian, ketika pertumbuhannya maksimal, ia akan menghadirkan bunga dan disusul buah. Itu terjadi untuk melengkapi kodratnya sebagai makhluk Tuhan, untuk berbuah dan berkembang biak, serta menggenapi tugasnya menghadirkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan di bumi.

Kita juga bisa seperti jagung-jagung itu. Ketika hidup kita berlimpah, terkadang kita lupa untuk tumbuh. Atau, kita malah malas bertumbuh dan akhirnya kehilangan makna hidup. Saat kita ditempa keterbatasan-keterbatasan kecil, tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah misalnya. Padahal, kita ingin sekali melanjutkan sekolah seperti teman-teman yang lain. Kita juga ingin mendapatkan pekerjaan serta mempunyai kehidupan yang lebih baik di masa depan. Tentu, kita akan berusaha keras bagaimana mendapatkan biaya sekolah. Bekerja paruh waktu untuk sekolah, menjadi pengajar di bimbingan les pada malam hari, dan sebagainya.

Dari tantangan terberat untuk tetap bisa melanjutkan sekolah itu, secara langsung akan berdampak pada keberlangsungan pendidikan kita. Inilah pertumbuhan pertama akibat dari sebuah tantangan. Pertumbuhan pertama ini di kemudian hari akan berdampak pada pertumbuhan berikutnya, yang pastinya lebih baik: pekerjaan yang layak, penghidupan yang mapan serta serangkaian dampak lainnya yang dapat kita arahkan sesuai keinginan kita.

Analogi kehidupan yang pantas kita renungkan bukan? Alam selalu mengajarkan kita untuk lebih arif memandang hidup ini, demikian pula dengan butir-butir jagung itu. [sba]

* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP:081342259894/085656450918.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Kontemplasi Resolusi dan Aksi

sbdOleh: Sribudi Astuti*

Kontemplasi, resolusi, dan aksi, tiga istilah yang akrab di telinga, terlebih menjelang akhir tahun dan di awal tahun berikutnya. Banyak orang memproklamasikan dirinya akan berkontemplasi, melakukan resolusi, dan berbuat yang lebih baik untuk masa berikutnya. Lalu, apakah kontemplasi adalah sebagai perwujudan dari menyesalkan hari kemarin, dan resolusi dilakukan karena mencemaskan hari esok…? Ups… tunggu dulu!!

Kontemplasi (contemplation) lebih merupakan perenungan tentang kebaikan, keberhasilan, kegagalan, bahkan kesalahan yang pernah kita lakukan, seberapa besar keberhasilan, seberapa besar kesalahan, dan seberapa parah kegagalan. Dari situ akan terlihat potret seperti apa diri kita beberapa waktu ke belakang.

Orang tentu tidak bisa berhenti sampai pada tahap kontemplasi semata. Apabila seseorang hanya berhenti pada tahap ini—yang mempunyai keberhasilan dan kebaikan lebih banyak dibanding kegagalan dan kesalahannya—akan menjadi orang yang terlalu berpuas diri. Sedangkan bagi mereka yang justru sebaliknya, tentu pikirannya hanya akan dijejali dengan penyesalan, penyesalan, dan penyesalan.

Inilah pentingnya resolusi. Sebuah ketetapan hati untuk pemecahan masalah, ketetapan hati untuk menjadikan kegagalan sebagai pengalaman berharga, pemicu meraih keberhasilan di kemudian hari, dan menjadi dasar untuk bertindak/beraksi. Akhirnya, aksi yang dilakukan adalah yang terbaik dari sekian alternative tindakan yang ada, dan memungkinkan kita memastikan bahwa kita bukanlah man who suffer from a lack of resolution (orang yang menderita karena tidak tegas).

Wadhuh… mengapa saya menjadi orang yang berteori, ya? Sebenarnya, uraian di atas baru muncul di kepala saya beberapa saat lalu. Waktu saya membuka email hari ini, saya dapati pesan Edy Zaqeus yang mengarahkan saya mengunjungi situs AndaLuarBiasa. Saat layar perlahan muncul, yang menarik di mata saya adalah poster Motivasi Dunia.

“Anda tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan rasa takut
atau apa yang mungkin terjadi di masa depan.
Kita tidak akan bangkit dengan cara itu.”

~ Michelle Obama

Ungkapan yang tepat di saat yang tepat. Kita tidak bisa mengambil keputusan penting untuk hidup kita sendiri karena alasan rasa takut. Kita juga tidak bisa mengambil keputusan yang kurang tepat karena kecemasan berlebihan terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan kita hadapi di masa mendatang. Karena sesungguhnya, kecemasan yang berlebihan terhadap apa yang akan terjadi esok adalah rekayasa pikiran, yang cenderung berorientasi negatif, dan perlahan akan menggerogoti semangat kita untuk melakukan yang terbaik. Dan akhirnya, bukan kebangkitan yang kita peroleh, tetapi justru keterpurukan.

Kembali ke kata kontemplasi, resolusi, dan aksi, serta ungkapan bijak Michelle Obama, sedikit banyak terjadi dalam diri saya sebulan belakangan ini. Sebenarnya, semenjak pertengahan 2008, saya sudah merasakan ada perubahan dalam diri saya. Saya mulai jarang menulis, menghabiskan waktu hanya untuk berjalan-jalan, dan sesuatu yang tidak berguna. Saya mengambil keputusan bodoh yang sempat membuat jiwa saya labil. Dan, mau tidak mau saya menerima akibatnya.

Tak satu pun tulisan bermutu saya hasilkan. Prestasi kerja saya di kantor kurang begitu memuaskan. Dan, sebuah teguran keras dari seorang sahabat, yang secara tiba-tiba datang, “Woy… mengapa kau jadi mundur? Mengapa kau kembali masuk ke area abu-abu? Mana ketegasanmu? Butakah dikau? Dasar manusia ndak jelas!” Dasar manusia ndak jelas, kalimat yang kasar, pedas di telinga, tetapi membuat saya bangun dari tidur panjang saya. Dan, saya menyadari bahwa I did fruitless things and wasted my time.

Berbekal kesadaran bahwa lebih banyak hal sia-sia yang saya lakuan dan waktu yang terbuang percuma, akhirnya dua minggu menjelang tutup tahun saya putuskan untuk berpuasa hingga hari terakhir. Bukan untuk tujuan ibadah semata, juga bukan untuk sebuah ritual tertentu, tetapi lebih untuk memaksa diri saya agar kembali ke kebiasaan awal saya yang baik. Saya, mau tak mau, harus bangun pagi untuk makan sahur. Siang, di kala lapar dan emosi saya memuncak, saya akan teringat bahwa saya sedang berpuasa, dan saya mestinya menjadi lebih sabar.

Dan, dengan puasa pula saya sepanjang waktu mengingat perjuangan ayah dan ibu saya yang harus membesarkan anak-anaknya. Bekerja tanpa kenal waktu, hidup prihatin hanya demi saya dan saudara-saudara saya. Hal penting yang saya lupakan… ya… perjuangan ayah ibu. Puncak dari kontemplasi saya adalah “kembali” ke ayah, ibu, dan disertai sikap berserah diri pada Tuhan tentunya.

Ketika tahun berganti dan kontemplasi menurut saya telah mencapai puncaknya, ternyata saya belum bisa melakukan resolusi secara serta merta. Saya masih harus menemukan jalan terbaik, hingga suatu saat, tiba-tiba di kepala saya muncul ide untuk menggoreskan kuas. Maka, pergilah saya membeli cat acrylic, kanvas, dan kuas. Hemm… hasil coretan saya tidak jelek-jelek amat, saya rasa. Dan dalam dua hari, saya menghasilkan tujuh gambar, yang kemudian saya share di blog maupun facebook, memenuhi tantangan teman-teman supaya berani menampilkannya kepada publik.

Coretan saya mendapat tanggapan yang beragam dari orang-orang yang mengenal saya. Ternyata saya bisa, saya sanggup, dan saya mampu berkarya. Sebuah resolusi pun akhirnya diambil: saya harus menulis, bekerja dengan penuh semangat, seperti ketika saya menggambar. Dan, e-mail dari Edy adalah yang menjadi cambuk saya untuk berkarya saat ini, hingga saya berani memastikan bahwa saya tidak merisaukan kesalahan saya di masa lalu. Dan, saya tidak takut tentang apa yang akan terjadi esok, karena esok bukan untuk disesalkan, tetapi esok akan dipenuhi dengan peluang dan kejadian-kejadian menakjubkan.

Kesadaran yang diperoleh ketika berkontemplasi, resolusi yang diambil, serta aksi yang dilakukan untuk memperbaiki hidup, tentu saja berbeda antara satu orang dengan lainnya. Karena, masing-masing orang mempunyai latar belakang yang berbeda, kondisi lingkungan yang berbeda, dan cara pandang terhadap kehidupan yang berbeda pula.

Semua berpulang kepada visi masing-masing orang. Cara berkontemplasi, berresolusi, dan beraksi orang yang menginginkan kemapanan finansal dan orang yang menjadi pengusaha hebat, tentu berbeda dengan cara yang ditempuh orang yang menginginkan untuk menikmati hidup dengan kebersahajaan.

Kontemplasi, resolusi, dan aksi juga tak semata-mata berlaku untuk individu. Sebuah organisasi, institusi, yang di dalamnya berisi sekumpulan individu, juga senantiasa berkontemplasi, berresolusi, dan beraksi untuk mencapai tujuannya. Bagi orang kantoran seperti saya, tentu akrab dengan istilah evaluasi akhir tahun, penyusunan rencana kegiatan tahunan di awal tahun, visi institusi, dan misi institusi.

Evaluasi akhir tahun merupakan cara sebuah organisasi untuk berkontemplasi, mendokumentasikan keberhasilan yang diperoleh, dan mendata kegagalan yang dialami dan penyebabnya. Sedangkan penyusunan rencana tahunan merupakan aksi yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan, sementara resolusi yang diambil tercermin dari misi organisasi/institusi tersebut.

Mengingat sebuah organisasi atau institusi terdiri dari individu-individu dengan beragam orientasi dan cara berpikir, tidak jarang sebuah institusi mengalami kemandegan ketika berkontemplasi dan merumuskan aksi yang akan dilakukan kemudian. Individu-individu dalam organisasi maupun institusi seringkali terjebak dalam debat kusir yang tak berkesudahan. Biasanya, penyebab terhambatnya penyusunan rencana kerja itu adalah individu-individu yang mempunyai pola pikir negatif dan terlalu pesimis terhadap keberhasilan yang mungkin diraih.

Orang-orang dengan pola pikir seperti ini cenderung bersikap kritis dan mengemukakan argumen-argumennya yang sering kali tak lebih dari khayalan-khayalan tak berdasar. Dan biasanya, pikiran mereka akan mudah memengaruhi jalan pikiran orang lain. Jika kondisi sudah seperti itu, cara terbaiknya adalah mengarahkan kembali fokus pemikiran oran

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox