Home » Posts tagged 'Sri Julianti'

Tag Archives: Sri Julianti

The Secret of 5 Elements

sj1Oleh: Sri Julianti*

Sinar matahari, udara, air, dan olahraga adalah sumber kehidupan dan kesehatan. Makanan harus menjadi obatmu dan obatmu adalah makananmu - Hippocrates

Saya mengenal Pak Aley kira-kira 1 tahun yang lalu, ketika dia mempersiapkan buku ini. Kami sempat berbincang-bincang, karena ada salah seorang teman saya yang sakit kanker paru-paru. Pak Aley juga sempat mendiagnosa saya, dan syukurlah hasilnya lumayan sehat.

The Secret of 5 Elements ini menjelaskan secara rinci, cara menjadi sehat dan bahagia, dengan salamnya yang khas Salam Sehat Bahagia. Yang menarik dari buku ini, cara menjadi sehat dan bahagia tidak perlu macam-macam yang mahal dan susah, dan dapat dilakukan dengan mudah dengan mengombinasikan makanan sehat, energi sehat (udara, air, sinar matahari), pola hidup sehat (tidur, olah raga jalan kaki, pijat refleksi, lagu-lagu, doa, meditasi, pekerjaan, emosi dll.). Penyakit sebaiknya dicegah, tapi kalau sudah terjadi, ya harus diobati. Buku ini kaya akan pengalaman beliau dalam menjalani gaya hidup sehat, maupun teman-teman yang sudah mendapatkan manfaat hidup sehat bahagia dengan mengikuti pola makan dan hidup yang disarankan beliau. Juga pengetahuan beliau yang mendasari 5 elemen sehat ini, mulai dari negara China, Jepang, India, dll. Betul-betul menunjukkan studi dan pengalaman yang mendalam dari penulisnya.

Dengan latar belakang pendidikan Pak Aley yang sarjana elektro ITB, tentunya beliau ingin menunjukkan fakta-fakta dan pengukuran kepada unsur-unsur yang penting , ada indeks Sehat, Manfaat, Segar, dll. Tetapi sebagai orang awam, Anda jangan memaksa diri untuk mengerti detail angka-angka tersebut, karena Anda akan bingung. Meskipun buat orang yang biasa dengan angka, hal ini akan mempermudah mereka untuk mengerti perbandingan satu makanan dengan lainnya. Juga sedikit terasa ada pengulangan pada bab-bab terakhir, akibat pembahasan dari sudut pandang yang berbeda. Tetapi hal ini tidaklah mengurangi makna dari keseluruhan bahasan.

Buku ini sangat berbeda dengan buku-buku tentang sehat pada umumnya, karena buku ini memuat lengkap, bukan hanya makanan sehat saja, atau meditasi saja, tetapi secara keseluruhan dari the secret of 5 elements. Bahasanya juga sederhana dan mengalir, sehingga mudah dibaca dan dimengerti oleh orang awam.

Secara keseluruhan buku ini sangat bermanfaat untuk dibaca dan mudah dilakukan. Buku ini terbit pada saat yang tepat, dimana biaya kesehatan amat mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat kecil. Orang kurang menyadari bahwa sehat itu hanya perlu perjuangan dengan kemauan memanfaatkan energi, makanan, dan pola hidup sehat. Buku ini betul-betul memenuhi harapan orang yang ingin sehat dengan cara yang murah dan praktis.

Anda mau hidup sehat bahagia? Baca dan ikuti metode di buku ini… dan dapatkan juga bonusnya yang Rp. 450,000 lho.[sj]

* Sri Julianti adalah konsultan packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui julipackaging[at]yahoo[dot]com atau ke websitenya: srijulianti.com.


imagesINFO BUKU:

Judul Buku: The Secret of 5 Elements

Penulis: Aleysius H. Gondosari

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: Pertama, 2010

ISBN : 978-979-22-5389-4

Tebal Buku: xxiv + 334 halaman

Ukuran : 13.5 x 20 cm

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 1.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 2 votes)

Consumer Safety

sj1Oleh: Sri Julianti*

Beberapa waktu yang lalu, saya membuka website Food Review, dan mencoba menjawab pertanyaan di website tersebut. Pertanyaannya adalah, “Kasus keracunan makanan disebabkan oleh?” Jawaban yang tersedia adalah makanan olahan, makanan restoran, makanan catering, dan makanan kaki lima. Saya langsung memilih makanan catering. Dan begitu saya kirimkan ternyata keracunan makanan catering memberikan angka sekitar 42%, peringkat utama dari keracunan makanan. Peringkat berikutnya adalah makanan kaki lima, sedangkan makanan restoran, dan olahan menduduki peringkat terakhir serta dalam presentase yang hampir sama. Data ini dapat diartikan bermacam-macam tergantung dari sudut mana kita meninjaunya. Saya tidak akan membahas data ini lebih lanjut, tetapi bahsan saya akan fokus kepada consumer safety.

Masih ingat peristiwa susu yang mengandung melamin di China? Korban dan keluarganya tentunya sangat sedih dan berapa pun uang pengganti dan pengobatan yang diberikan oleh produsen susu, tidak akan dapat menggantikan masa depan anak dan keluarganya. Di sisi lain kerugian yang dialami oleh pabrik susu adalah pejabat tinggi di pabrik susu tersebut yang dihukum mati atau seumur hidup oleh pemerintah China dan ribuan buruh yang kehilangan pekerjaan karena pabrik tersebut tidak boleh beroperasi lagi. Sudah tak terhitung lagi kerugian material dan dampak psikologis dari kejadian ini. Belum lagi dampak ini juga merambah ke negara lainnya.

Produk kosmetik, mainan anak-anak juga pernah berkali-kali dilarang beredar oleh pemerintah karena kandungan logam berat, mainan anak-anak maupun produk lainnya. Teman kuliah saya menggunakan pearl cream, semacam foundation dan akhirnya seluruh wajahnya jadi “rusak” akibat logam berat. Akhirnya dia harus dirawat seorang dokter kulit untuk memulihkan kulit wajahnya dengan biaya yang tidak sedikit.

Banyak contoh lain, produk baby walker yang tidak stabil dan dapat menyebabkan anak mudah terguling bila menggunakan baby walker tersebut. Jaket anak-anak lengkap dengan topinya yang di lengkapi tali, menyebabkan anak mudah terjerat lehernya.

Ketika anak saya masih sekolah di Taman Kanak-kanak, salah seorang temannya meninggal dunia karena terjerat alat fitnes di kamar pamannya. Beritanya sangat mengejutkan dan orang tuanya sangat shock, demikian juga kami yang mengenalnya.

Pernah mendengar atau membaca anak-anak yang tercekik kantong plastik? Kantong plastik yang jatuh di wajah dan mulut anak ketika anak rebahan akan mencekik mereka, dan menyebabkan mereka tidak dapat bernapas. Kejadian ini banyak terjadi di negara lain yang pada umumnya anak-anak tidak didampingi penjaga (baby sister atau anggota keluarga yang lainnya) seperti di Indonesia. Alat magnet dapat menyebabkan anak sakit parah bila tertelan, bahkan sampai meninggal dunia.

Rumah Anda dan peralatannya juga dapat menyebabkan bahaya kepada anggota keluarga. Seperti, kabel listrik, stop kontak, pisau dll. harus di tempatkan pada tempat yang seharusnya. Baik produsen maupun konsumen dilindungi hak-hak dan kewajibannya oleh undang-undang. Pihak produsen harus bertanggung jawab terhadap keamanan produk yang dibuatnya selama konsumen mengikuti cara pakai yang disarankan. Konsumen akan terlindungi bila dia menggunakan produk tersebut sesuai dengan cara yang di sarankan produsen. Kita sebagai orang tua juga harus bertanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri dan anggota keluarga.

Standar keamanan adalah standar yang di desain untuk menjamin keamanan produk, aktivitas, jasa atau proses dll. Secara undang-undang, baik konsumen maupun produsen mempunyai hak dan kewajibannya masing-masing, dan jika kewajiban ini di langgar tentunya akan ada sanksinya. Di Indonesia, undang-undang ini pun ada dan di lapangan di kontrol oleh departemen terkait (Misal, BPOM dan DepKes) dan Yayasan Lembaga Konsumen yang berada di pihak konsumen. Di negara maju, masyarakatnya amat kritis, sehingga mereka tidak akan segan-segan mengkomplain dan mengajukan produsen ke pengadilan bila produknya tidak aman. Tetapi sebaliknya, ada juga konsumen yang “nakal” dengan tujuan “tertentu” untuk mengkomplain produsen atas hal-hal yang tidak realistik.

Di negara kita pun tidak kurang maraknya berita di koran tentang keracunan makanan yang menyebabkan jatuhnya korban bahkan sampai meninggal, meskipun fokusnya masih pada produk makanan. Kalau ada akibat pasti ada penyebabnya.

Apa saja sih penyebab bahaya? Penyebab bahaya ini dapat di golongkan dalam empat hal:

  • Bahaya keracunan
  • Bahaya microbiologi
  • Bahaya fisik
  • Bahaya merusak lingkungan

Contohnya, sesorang makan bakmi goreng, apa saja kemungkinan bahaya yang dapat saja terjadi? Keracunan (bakminya kadaluwarsa, saosnya dari bahan yang non food grade), microbiologi (tempat penggorengan, bahan tidak higienis, dan tempat menyajikan), fisik (ada campuran paper klip, staples, dan pecahan piring), bahaya merusak lingkungan (bila bakmi tersebut dibungkus oleh packaging yang tidak ramah lingkungan)

Contoh pada bahan kemasan seperti pewarna, tinta, cara penggunaan, dan proses daur ulang bila packaging-nya sudah tidak digunakan.

Misalnya kemasan kaleng untuk makanan dan minuman dari kaleng, apa saja bahaya yang mungkin terjadi? Bahaya keracunan, jika bahan pelapis pada kaleng rusak dan bahan kaleng bereaksi dengan produknya. Bahaya microbiologi, bila proses selama pengemasan tidak sempurna atau formulasi produk tidak cukup menahan tumbuhnya microbiologi. Bahaya fisik, jika kaleng tersebut ada bagian yang tajam, terutama pada bagian pembukanya atau pada bagian sambungan kaleng. Bila ada bagian yang tajam, tangan konsumen atau petugas toko atau restoran dapat terluka. Bahaya merusak lingkungan, tidak terjadi karena semua bahan kemasan kaleng dapat didaur ulang

Untuk produk farmasi, digunakan child resistance proof cap (tutup yang tidak dapat dibuka oleh anak-anak), hal ini dimaksudkan untuk keamanan anak-anak.

Barang-barang seperti sendok kecil, jepit rambut, penghapus pensil, magnet, kancing dll. yang kecil sekali ukurannya, akan membahayakan bila tertelan anak-anak. Produk dari bahan plastik seperti styrofoam yang sering digunakan untuk wadah makanan, sebaiknya tidak digunakan pada makanan panas, karena terjadi migrasi dari residu stiren yang membahayakan kesehatan. Kantong kresek berwarna hitam, yang dibuat plastik daur ulang dan tidak jelas sumber dan higienisnya, dianjurkan tidak digunakan untuk makanan.

Melalui media, baik koran maupun elektronik, BPOM maupun instansi terkait sudah cukup aktif mengeluarkan himbauan agar masyarakat maupun produsen lebih berhati-hati dalam memilih kemasan makanan. Hal ini harus diperluas untuk menjangkau lapisan masyarakat kelas menengah kebawah, seperti penjual makanan kaki lima agar mereka pun dapat memproduksi makanan yang aman bagi anak-anak kita.

Bila Anda sebagai pedagang atau produsen UKM, mungkin Anda berpikir, “Wah… Buat apa ya repot-repot memikirkan yang sulit ini, toh produk yang kami buat selama ini tidak pernah ada kejadian seperti contoh di atas?” Bila Anda produsen, Anda punya tanggungjawab moral untuk keamanan konsumen Anda, dan berguna untuk menjamin kelangsungan bisnis Anda.

Tanda-tanda bahaya lengkap dengan tulisan awas bahaya, barang beracun, hindari dari jangkauan anak-anak pada umumnya sudah dikomunikasikan oleh produsen pada kemasannya. Bila konsumen teliti, mestinya peringkatan ini langsung dimengerti oleh konsumen. Tanda peringatan ini pada umumnya digunakan pada bahan kimia, insektisida, pestisida, pembasmi nyamuk, bahan mudah terbakar, dan mudah meledak. Untuk bahan makanan, minuman, dan kosmetik tentunya tidak dengan cara yang langsung seperti itu, tetapi disampaikan pada cara pakai atau peringatan lainnya.

Misalnya, jangan menggunakannya, bila kaleng rusak atau bila merasa kulit Anda panas setelah menggunakan produk ini, hentikan pemakaian. Sebagai konsumen Anda bertanggungjawab juga terhadap keamanan diri sendiri dan orang sekitar Anda.

Bila Anda sebagai konsumen, Anda harus membaca, mengerti isi produk, dan peringatan yang dicetak di kemasannya. Bila toh masih terjadi sesuatu, segera hubungi alamat, nomor telpon, atau nomor hotline yang tertera pada kemasannya, kemudian sampaikan keluhan Anda. Produsen akan segera memberikan respon. Tetapi mungkin saja karena birokrasi internal atau tidak kompetennya bagian hotline service, sehingga responnya dirasa lambat.

Beberapa undang-undang penting yang mengatur hak-hak dan kewajiban produsen dan konsumen adalah sebagai berikut.

  • UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen
  • UU No. 23/1992 tentang Kesehatan
  • UU No. 2/1981 tentang Metrologi Legal
  • UU No. 18/2002 tentang Sisnas dan Iptek

Khusus untuk Industri Makanan, undang-undang yang penting selain diatas adalah

  • UU No. 7/1996 tentang Pangan
  • PP No. 69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan
  • PP No. 102/2000 tentang Standardisasi Nasional.

Kita bertanggung jawab untuk menjaga keamanan diri kita sendiri dan orang di sekitar kita.[sj]

*Sri Julianti adalah praktisi packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui e-mail : julipackaging@yahoo.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Saya Sudah Siap Mati

sj11Oleh: Sri Julianti*

Kami mengenal Lius dan keluarganya kira-kira 18 tahun yang lalu. Lius didiagnosis menderita kanker paru-paru sejak setahun yang lalu setelah menderita batuk selama dua bulan. Saat kami berkunjung pertama kali setelah diberitahu istrinya tentang penyakitnya, Lius bilang, “Mana mungkin aku percaya aku kena kanker? Lha wong aku ini sehat-sehat saja. Bahkan, dua bulan sebelumnya dokter bilang cuman bronchitis, kok sekarang tiba-tiba jadi kanker?

”Sudah tanya second opinion?” tanya saya.

”Ya, saya rencana ke dokter lain. Mungkin diagnosisnya yang salah timpal Lius.

Lius sangat tegar menghadapi penyakitnya. Dia mencari semua informasi di internet tentang bagaimana mengatasi penyakitnya maupun hidup dengan penyakit kankernya. Mulai dengan jus sayuran organik setiap pagi hari, makan beras merah, tidak makan daging, olahraga teratur, tidak boleh stres, dll.

Suatu hari saya dan suami menerima kabar gembira dari Lius. “Kata dokter lain paru-paruku basah. Dokter memberikan obat-obat bronchitis, kata Lius.

Saya dan suami ikut gembira. Tetapi, saya mengingatkan suami saya, “Papaku dulu awalnya juga dapat keterangan begitu, tetapi akhirnya kanker juga!

Betul juga, selang beberapa minggu kemudian, kondisi Lius drop dan dia harus kembali ke dokter pertamanya. Akhirnya, dia menyerah untuk menjalani chemotherapy. Banyak teman dan sanak keluarganya yang bersimpati kepadanya dengan memberikan bantuan obat, pinjaman mobil, juga bantuan moril.  Tetapi di lain pihak ada juga yang mencari peluang. Banyak juga yang menawarkan pengobatan alternatif seperti TCM (Traditional Chinese Medicine) yang harganya selangit maupun food supplement.

Lha, sebetulnya aku sih lebih pasrah kepada obat dokter dan pola makan. Tetapi, orang-orang ini lho menawarkan obat yang selangit harganya dengan janji yang selangit pula. Kalau mereka jamin aku sembuh, aku sih pasti pakai. Tapi kalau tidak ada jaminan sembuh, buat apa? Mereka ini membuatku jadi bingung dan frustrasi. Aku ini kan sakit, kok mereka juga mencari peluang dari orang yang sudah menderita…?begitulah luapan perasaan Lius.

Itulah dunia….

Tidak hanya mencari informasi, Lius juga mengunjungi sesama penderita kanker dan berbicara dengan mereka. Ada yang berobat ke luar negeri dengan biaya yang tidak sedikityang tidak mungkin dilakukan Lius karena kondisi ekonominya. Awalnya Lius masih bisa menyetir mengantar anak dan istrinya ke mana-mana. Tetapi, pelan dan pasti dia mulai kehilangan tenaga dan menyerahkan kendali keluarga kepada istri dan anaknya.

Setiap menjalani chemoteraphy kondisinya pasti drop untuk beberapa hari. Dan pada saat mulai membaik, dia harus menjalani chemoteraphy lagi. Susahnya lagi, tidak ada hal yang pasti sampai kapan dia harus menjalani chemoteraphy ini. Setelah kira-kira 12 kali chemoteraphy, dia bertanya lagi ke dokter yang merawatnya. “Berapa kali lagi saya harus menjalani chemoteraphy ini, Dok?”

Dokternya menjawab, “Wah tidak tahu pasti Tergantung penyakitnya, bisa saja sampai puluhan kali lagi.

Saat itu juga Lius memutuskan berhenti menjalani chemoteraphy dan hanya minum obat batuk penahan sakit bila perlu dan food supplement. Lha, bagaimana toh, kalau aku di-chemoteraphy terus dan enggak tahu kapan selesainya , buat apa? Sudahlah sekarang aku pasrah, aku minum obat saja dan mengatur pola makanku. Aku ini tidak apa-apa mati…. Tetapi untuk menuju ke sana itu lho Aku juga kepikiran mereka ini lho….” kata Lius sedih sembari merujuk pada keluarganya.

Pernyataan “aku siap mati tetapi menuju ke sana itu lho seperti ini sering saya dengar dari para penderita kanker yang saya kunjungi.

Pagi hari ketika saya baru tiba di kantor kira-kira jam 08.30, ada SMS dari suami saya yang mem-forward SMS anaknya Lius yang memberitahukan ayahnya sudah meninggal jam 07.00 pagi. Saya langsung berdoa di dalam hati untuk arwah Lius dan juga keluarga yang ditinggalkan. Malam harinya kami berkunjung ke rumah duka yang ramai dikunjungi teman-teman dan sanak famili almarhum.

Maria istri almarhum kelihatan lebih tabah. Dia cerita, sebetulnya malam hari jam 20.00-an rekam jantungnya sudah datar. Lalu, dokter menyuntikkan obat dan rekam jantungnya positif lagi. “Dan, tadi pagi rekam jantungnya datar lagi. Akhirnya, dia berangkat dengan tenang kisah Maria. Lius sudah pergi dan meninggalkan kami teman-temannya maupun keluarganya pada usia 62 tahun dengan meninggalkan istri dan dua orang putri yang menjelang dewasa.

Pada hari ketiga jenasah almarhum diberangkatkan ke tempat kremasi. Pemberangkatan dimulai dengan doa dan dihadiri oleh teman-teman dan kerabatnya. Mobil jenasah sudah siap sejak pagi hari, dan seorang Romo sudah siap di sebelah peti jenasah untuk memimpin doa. Setelah doa selesai, anaknya yang sulung memegang foto almarhum dan siap mengantar jenazah ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir. Selamat jalan Lius Anda telah menyelesaikan ziarah di dunia ini dengan sempurna. Saatnya Anda berkumpul kembali bersama Bapa.[sj]

* Sri Julianti adalah praktisi packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: julipackaging[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 3.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Packnomics

sri-julianti-rOleh: Sri Julianti*

Apa itu Packnomics? Packnomics adalah packaging/kemasan yang tidak hanya  ekonomis tetapi juga berdampak postif terhadap lingkungan. Istilah ini dipakai oleh Kevin Howard dalam seminarnya tentang sustainable packaging. Sering kali begitu mendengar istilah ekonomis, orang selalu mengaitkannya dengan barang murah dengan kualitas seadanya. Hal ini tidak 100 persen betul meskipun pemikiran orang pada umumnya seperti itu.

Packnomics adalah desain yang ekonomis, desain kemasan yang tidak berlebihan (Less Packaging), tetapi tetap melaksanakan fungsinya serta menghasilkan keuntungan dari penggunaan bahan, penggunaan ruangan/space, sarana gudang, transportasi, dan akhirnya meningkatkan keuntungan perusahaan secara total. Dan yang terpenting, dampak terhadap lingkungan juga akan lebih baik dibandingkan dengan overpack.

Memang, beberapa waktu yang lalu orang selalu merasa: Big is better, give more impression to the consumer.Produsen berlomba-lomba membuat kemasan yang besar atau kelihatan besar meskipun isinya sama atau bahkan lebih kecil. Kebetulan sekali di Indonesia belum ada peraturan yang mengikat berapa banyak free space yang diperbolehkan pada suatu kemasan. Misalnya, kemasan 100 gram seharusnya cukup menggunakan karton 150 x 230 x 30 milimeter. Produsen bisa saja membuat karton yang lebih besar dari ukuran tersebut. Memang ukuran kemasan yang besar kadang-kadang diperlukan untuk menunjang efisiensi mesin pengepak, tetapi perlu dipertimbangkan juga dengan teliti sebelum melakasanakannya.

Beberapa produsen, marketers, maupun packaging designer masih berkutat pada mind-set lama ini. Tetapi perlu saya ingatkan, saat ini konsumen lebih pandai dan kritis. Pada umumnya konsumen juga membaca declared nett dari produk tersebut sehingga konsumen tidak begitu mudah “tertipu” untuk membeli produk yang kemasannya (kelihatan) besar.

Untuk produsen skala besar, yang mempunyai team yang cukup lengkap, tentunya sudah mulai semakin cermat dan teliti dalam menentukan ukuran kemasan. Dan, memang ada pakem-pakem tertentu yang tidak mungkin dilanggar. Tetapi, mind-set membuat kemasan jauh lebih besar dari seharusnya masih disukai oleh sebagian besar produsen dan marketers.

Bila Anda pernah membeli suatu produk, coba perhatikan ukuran kemasan dan berapa berat bersih produk yang dikemas. Apa pun produk yang Anda beli, perhatikan kemasannya. Baik produk tradisional dengan kemasan modern seperti dodol, martabak, tahu goreng, dll, maupun produk makanan modern seperti susu dan cereal. Juga perhatikan produk kosmetik pada umumnya. Tampaklah kemasan produk yang Anda beli itu lebih besar dari yang seharusnya. Padahal dari sisi biaya, pasti dong kemasan yang ukurannya besar memerlukan biaya lebih besar juga dibandingkan produk dengan ukuran kemasan yang ”pas”.

Karena kompetisi di pasar dan biaya kemasan yang semakin tinggi sekarang ini, para produsen juga sudah mulai melirik konsep Packnomics & Small is beautiful. Less packaging, more value and support the enviroment better”. Packaging yang ekonomis, kecil itu indah, yang tidak berlebih namun memberikan nilai tambah, serta memberikan dampak yang lebih baik terhadap lingkungan.

Memang tidak mudah meyakinkan bagian pemasaran yang sering kali tidak yakin dengan kemasan yang kelihatan lebih kecil dari produk para pesaing. Apakah produk dengan kemasan lebih kecil akan kalah bersaing dengan produk pesaingnya? Tantangan ini harus dijawab oleh ahli packaging dan packaging designer-nya. Mereka harus membuat packaging-nya sedemikian rupa sehingga tidak ada dampak negatif terhadap penjualan produk tersebut.

Mungkin marketing akan bertanya, ”Lho, kalau lebih kecil ukurannya, kan kalah dengan produk pesaing?” Atau, pihak lain juga bertanya, Walah, kalau cuman mengecilkan ukuran 3 mm saja tidak ada gunanya. Hanya merepotkan bagian pengepakan!” Jangan khawatir, semua ini dapat Anda buktikan dengan data. Coba saja tunjukkan kemasan baru (ukuran dan grafisnya) kepada teman sekantor Anda, apakah mereka akan melihat ukuran yang berbeda? Pada umumnya mereka akan melihat grafis yang berbeda tanpa menyadari ukurannya memang berbeda. Memang Anda tidak dapat mengurangi ukuran kemasan secara drastis tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya terhadap konsumen.

Kalau Anda sendiri tidak yakin juga, apakah pengurangan ukuran karton yang cuman 2-3 mm tadi dampaknya besar, Anda dapat menghitungnya. Mulai saja dari ukuran kardus luar (corrugated outer), kemudian berapa kardus per pallet, berapa space yang dapat dihemat, dan berapa kardus per truk atau container. Anda akan surprise begitu menghitung semua faktor ini.

Suatu hari saya membeli produk farmasi  berupa gel yang dikemas dalam tube dan karton. Wah, kartonnya dibuat sedemikian rupa agar tampak proporsional dan cantik sehingga melupakan kaidah Packnomincs.

Ukuran karton yang dipasarkan misalkan P x L x T, sedangkan seharusnya cukup P x  0.7L x T. Coba berapa yang seharusnya bisa dihemat dari sisi kartonnya sendiri? Logikanya sederhana saja, bila karton yang dibutuhkan menjadi lebih kecil, berarti biaya kemasan akan lebih murah. Tetapi, ini saja tidak cukup untuk meyakinkan bagian pemasaran untuk menghemat biaya. Karena, bagian pemasaran tidak memerlukan hal ini sebab toh penjualan mereka baik, target penjualan selalu tercapai, dan keuntungan cukup tinggi. Bila Anda tidak berhasil meyakinkan para marketers Anda karena ukurannya terlalu kecil, jangan berkecil hati. Anda dapat melakukannya secara bertahap.

Hal-hal positif lainnya dari pengurangan ukuran karton itu harus dipaparkan secara rinci dengan perhitungan secara ekonomis. Jika produk farmasi gel itu penjualannya katakan saja 10 juta per tahun, maka perhitungannya sebagai berikut:

Dari sisi ekonomis: Ukuran kotak yang lebih kecil, menyebabkan ukuran kardus luar (corrugated outer) menjadi berkurang à biaya kemasan akan berkurang. Ukuran kardus luar lebih kecil, maka untuk setiap pallet akan menampung lebih banyak produk. Akibatnya, setiap truk dapat menampung lebih banyak produk yang berarti mengurangi biaya tranpsortasi. Itu juga berarti mengurangi emisi karbon karena bahan bakar yang digunakan untuk mengangkut barang yang sama menjadi lebih sedikit. Gudang Anda akan lebih efisien karena dapat menampung lebih banyak produk.

Dari sisi dampak terhadap lingkungan: Berapa ton karton yang dapat dihemat? Berapa pohon yang tidak jadi ditebang untuk keperluan karton tersebut? Tahukah Anda bahwa untuk menghasilkan 900 kilogram kertas diperlukan kira-kira 24 pohon dengan diameter yang cukup besar. Berapa bahan bakar yang dapat dihemat untuk transportasi, ini berarti juga mengurangi emisi CO2.

Begitu ukuran kemasan dioptimalkan, semua keuntungan di atas akan dinikmati seperti bola salju yang berguling, semakin lama semakin besar keuntungan yang diperoleh. Bila dihitung secara rinci, hampir pasti Anda akan dapat meyakinkan bagian pemasaran untuk mengurangi ukuran karton tersebut. Bila anda berhasil dengan satu produk, maka akan dengan mudah untuk meyakinkan marketers untuk produk lainnya.

Itu hanya salah satu contoh dari karton produk farmasi dan hanya sebagian lebar karton yang dikurangi. Kalau kita tinjau dari semua sisi; panjang dan tinggi karton, ada kemungkinan juga masih dapat dioptimalkan. Belum lagi bila kita meninjau semua produk yang menggunakan kemasan karton dari kategori lain, seperti dodol, cereal, susu, teh, produk rumah tangga, kosmetik dll, tentunya akan banyak hal positif yang dapat dilakukan. Apalagi bila ditambahkan jenis kemasan lainnya, rasanya akan banyak sekali hal positif dan bermanfaat, baik untuk bisnis Anda, meningkatkan margin/keuntungan, plus membantu bumi tercinta ini.

Memang tidak semua kemasan di pasar overpack. Tetapi, ada banyak produk yang kemasannya dapat ditinjau ulang sesuai dengan konsep Packnomics tadi. Dengan memerhatikan banyaknya keuntungan yang didapat melalui konsep Packnomics tadi, mestinya bukan hal yang susah dan tak ada alasan bagi produsen untuk tidak melaksanakannya.

Saya menghimbau teman-teman, para marketers, ahli kemasan, desainer kemasan, produsen, dan pembuat mesin pengepak untuk saling bekerja sama agar produk yang dijual menggunakan kemasan dengan konsep Packnomics. Anda akan menikmati keuntungan, konsumen akan untung, demikian juga bumi tercinta ini. Mari kita giatkan Packnomics ini di lingkungan kerja kita, apakah kita seorang penjual kue tradisional, makanan modern, maupun produsen lainnya. Selamat berkarya.[sj]

* Sri Julianti adalah ahli packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Ia dapat dihubungi melalui e-mail: julipackaging@yahoo.com atau di website-nya: www.srijualianti.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 2.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Kami Masih Berjuang, Mama…

sj1Oleh: Sri Julianti*

“The best and most beautiful things in the world cannot be seen,

nor touched … but are felt in the heart.”

~ Hellen Keller

“Ayo, anak-anak… sudah mandi semua? Ini sudah jam 4 sore, siapa yang belum mandi?” demikian teriakan Mama Ani, mama kami setiap sore. Setiap jam 4 sore, dengan disiplin Mama meminta keenam anaknya sudah rapi. Bila anak-anaknya belum mandi pada jam itu, hukuman sudah menanti.

Pada jam 18.00, semua anggota keluarga sudah siap dengan makan malam. Dan, tepat pada jam 19.00, kami anak-anak sudah boleh bebas. Jam 20.00 semua berkumpul mendengarkan dongeng yang selalu diceritakan oleh Papa kami. Dongengan ini sampai sekarang masih melekat di kepala kami masing-masing. Jam 21.00 kami semua sudah di kamar tidur, jam 6.00 pagi kami semua bangun untuk ke sekolah, dan pulang sekolah kami tidur siang sampai jam 15.00. Demikianlah ritme kehidupan kami dahulu.

Mama sangat disiplin terhadap semua anaknya karena dia mau anak-anaknya menjadi orang besar”. Tidak seperti dirinya yang cuma seorang ibu rumah tangga yang dibesarkan di desa. Masa kecil Mama memang penuh perjuangan karena orang tuanya kurang mampu. Sejak berumur 6 tahun Mama kecil sudah bekerja serabutan membantu orang tuanya. Mama kecil bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada satu keluarga yang cukup mampu, sebut saja keluarga Pak Harta. Mama kecil sering dihukum dengan dijewer telinganya, dipukul bagian lengan atau bokong-nya oleh Bu Harta karena sering pulang terlambat bila diminta belanja ke pasar. Memang, banyak hal menarik perhatian di amata Mama kecil apabila pergi ke pasar.

Saat Mama kecil harus masuk sekolah, bibinya sudah menyiapkan segala keperluannya, tetapi sayang ibunya yang berpikiran “kolot” tidak menginzinkan Mama kecil pergi ke sekolah. Mama kecil tidak berdaya, tapi dia berjanji suatu saat anaknya harus bersekolah setinggi mungkin, dan itulah obsesi hidupnya.

Di waktu senggangnya, Mama belajar membaca dan menulis sehigga nantinya Mama menjadi guru bagi anak-anaknya yang masih kecil. Saya masih ingat bagaimana Mama menuntun saya untuk belajar menulis halus, padahal Mama sendiri tidak pernah bersekolah.

Mundur selangkah, ketika Mama berumur 17 tahun, orang tua menjodohkan Mama dengan pemuda sekampungnya. Jadilah Mama Ani istri Papa Sugi dan masuk dalam keluarga besar Papa. Mama tidak punya pilihan. Mama hanya tahu ada seorang pemuda yang tekun belajar dan baik yang akan menjadi suaminya. Mama Ani berpikir, dengan menikah hidupnya akan lebih nyaman. Tetapi ternyata, penderitaan lain sudah menanti yaitu mulai dari tidak adanya kecocokan dengan anggota keluarga besar suami sampai menjadi penyumbang tenaga dalam keluarga besar; urusan mencuci, memasak, membersihkan rumah, dll. Mama juga selalu mendapatkan tekanan dan sindiran dari mertua maupun anggota keluarga besar lainnya karena tak kunjung hamil.

Lebih aneh lagi, dalam keluarga besar Papa Sugi, Papa tidak boleh menunjukkan kasih sayang kepada Mama. Pernah Mama bercerita, suatu malam Papa pulang dari bekerja dan dia mengeluarkan bungkusan dari kantong celananya. Ternyata, itu adalah sebuah pisang goreng yang ingin diberikan kepada Mama tanpa boleh diketahui saudara yang lain. Mama sangat bangga ketika menceritakan hal itu kepada anak-anaknya, betapa cintanya Papa kepada Mama.

Untunglah pada tahun ke lima perkawinan Mama hamil dan kemudian melahirkan anak pertama perempuan, diikuti oleh kelahiran putra-putri lainnya sampai tujuh orang. Sejak itu, rezeki Mama dan Papa berlimpah. Kami anak-anak didididik dengan disiplin dan belajar dengan tekun. Kami diajari cara berwiraswasta dengan menjual barang-barang toko ke sekolah atau memelihara dan mengolah kebun buah. Kami juga memelihara binatang piaraan seperti ayam, bebek, dll. Saya sendiri mendapat tugas memelihara bebek. Itu berarti, semua keputusan memasak telur atau memotong bebeknya untuk lauk tergantung kepada saya. Sementara kakak saya ada yang memelihara burung dara, ayam, menanam pohon srikaya, pohon jambu, pohon bunga gading, dll. Kami kenang masa kecil tersebut begitu menyenangkannya meskipun kelaurga kami tidak kaya.

Sampai suatu saat, sebuah berita buruk menerpa, Papa Sugi didiagnosis menderita kanker paru-paru dan diperkirakan umurnya tinggal tiga bulan. Sejak itu, kehidupan rumah tangga kami berubah total. Kakak perempuan saya yang baru berumur 19 tahun harus mengelola toko dibantu oleh kakak kedua (laki-laki pertama) yang harus meninggalkan bangku SMA-nya. Kakak kedua kami memang sering mengunjungi Papa ke Malang untuk belajar mengelola toko. Tapi, tidak mungkin semua ilmu diserap dalam tiga bulan.

Akhirnya setelah berjuang keras melawan penyakit kanker selama tiga bulan dua minggu, Papa benar-benar meninggalkan kami semua pada pukul 00.30 dini hari. Usia Papa waktu itu 45 tahun dan Mama sendiri masih berusia 42 tahun. Mama kemudian harus mengambil alih kendali rumah tangga dengan enam anak yang usianya antara 12-19 tahun.

Prahara mulai berdatangan. Perlahan-lahan toko kami mulai merugi. Dari toko yang penuh barang lama-lama menjadi toko yang kosong. Karyawan yang semula tujuh orang plus pembantu rumah tangga tiga orang, akhirnya semuanya di-PHK karena kami tidak punya uang untuk membayar mereka. Setiap hari kami punya tugas masing-masing untuk urusan rumah tangga. Dan, bila menjaga toko serta agar kami tidak mengantuk, maka tugas kami adalah membersihkan lemari-lemari toko yang sudah kosong.

Mama amat susah saat itu karena tak ada harta berarti yang ditinggalkan Papa Sugi. Suatu hari, Mama mengajak saya pergi ke Surabaya saat saya liburan sekolah. Saya yang masih kecil tidak tahu apa tujuan Mama dan hanya mengekor saja. Ternyata, Mama pergi mengunjungi pemasok satu per satu, bicara dengan pemilik toko maupun istrinya. Salah satu kata-kata mama yang masih ingat, “Tolong ya, anak saya dikasih kesempatan berdagang. Memang kami tidak punya modal dan anak saya masih belajar. Tapi saya bisa jamin mereka anak-anak yang baik. Mereka bukan peminum atau penjudi. Kalau dulu Papanya diberi kesempatan, tolong anaknya juga diberi kesempatan. Saya yang menjamin, modal yang dipinjamkan akan dikembalikan. Kalian semua kenal keluarga kami, kan?” Dari road show itu, satu per satu pemasok mulai mengirimkan barangnya dan kami boleh berutang untuk barang-barang itu seperti pada saat Papa masih hidup.

Perjuangan Mama belum habis. Pada saat anak-anaknya menginjak dewasa dan Mama mulai melepas kendali toko, ternyata kami dililit utang sementara sertifikat rumah sudah digadaikan oleh kakak kami kepada salah seorang pemasok barang. Sekali lagi, Mama mengunjungi orang ini bersama saya. Mama bertanya, “Kok bisa ya, anak saya memberikan surat rumah yang kami tinggali kepada Anda?”

Orang itu agak segan ke Mama dan beralasan, ”Dia bilang, itu hanya saya simpan kok. Karena anakmu utang cukup besar. Saya tidak akan mengambil alih rumah Encik….

Syukurlah kalau begitu. Apakah boleh saya membawa surat perjanjian utang itu agar saya jelas dengan segala persoalannya?” tanya Mama.

Boleh” jawab si pemasok.

Setelah surat perjanjian utang itu diberikan, ternyata itu adalah surat penyerahan absolut dari rumah yang kami tinggali. Lagi, seperti sebuah palu godam menerjang batin Mama. Tetapi Mama tetap tidak mau anak-anaknya menderita. Sekali lagi, Mama berunding dengan semua anaknya. Dan akhirnya, salah satu dari kami meminjam emas kepada salah seorang famili untuk menebus surat rumah tersebut. Akhirnya, kami berhasil lepas dari jerat masalah gadai rumah tersebut.

Tahun berlalu, akhirnya semua yang Mama tanam mulai berbunga dan panen sudah di depan mata. Semua anaknya satu per satu lulus dari universitas, kemudian bekerja, mandiri, punya mobil dan rumah. Itulah saatnya Mama menikmati masa tuanya sambil bercocok tanam, memasak, dan sangat mudah bergaul dengan tetangga barunya.

Sayang, masa-masa tuai ini hanya Mama nikmati sebentar saja karena deraan penyakit. Awalnya, Mama yang setiap hari memindahkan tanaman ke tempat yang cocok, pelahan digantikan tukang taman, dan akhirnya dia hanya bisa melihat tanaman yang dia ingin pindahkan. Itu karena kesehatannya mulai menurun saat dia terserang stroke dan osteoporosis secara bersamaan. Stroke-nya tidak berat, tetapi osteoporosisnya yang menyebabkan patah tulang pungung, sehingga saat perawatan Mama harus terus berbaring karena akan merasakan sakit bila bergerak.

Mama tidak berdaya lagi, semangat hidupnya menurun drastis. Keadaan inilah yang akhirnya membuat Mama putus asa. Sampai suatu ketika, Mama berkata, “Daripada Mama seperti ini, lebih baik Mama mati….” Kami selalu berdoa untuk yang terbaik buat Mama. Tetapi, Tuhan akhirnya memanggil Mama setelah menanggung penderitaan selama dua tahun. Kami merelakan Mama pergi untuk yang terbaik. Selamat jalan Mama…. Kami masih terus berjuang di dunia ini.[sj]

* Sri Julianti adalah praktisi packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: julipackaging[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Segera Laksanakan dan Nikmati Benefit GCG

sj1Oleh: Sri Julianti*

“There is nothing permanent except change.”

~ Heraclitus

Ketika saya disodori buku ini untuk mengulasnya, saya amat tertarik, terutama karena GCG ini banyak didengung-dengungkan, dan tempat saya bekerja juga sudah melaksanakanya cukup lama. Meskipun begitu, saya masih juga mendengar nada-nada sinis dalam pelaksanaan GCG. Yang membuat saya tertarik sekali dalam membaca buku ini, saya menjadi lebih tahu tentang cara para pemimpin perusahaan dalam meletakkan fondasi sebelum GCG di laksanakan. Saya juga jadi lebih tahu tentang undang-undang yang berkaitan dengan GCG, cara implementasi, dan cara monitoringnya. Juga soal bagaimana para direktur—yang sering disebut “the untouchable”—terikat dengan aturan dalam board manual.

Buku ini menjelaskan secara detail apa itu GCG, strategi tata pelaksanna GCG terutama smart strategy for 360 degree CGC, dan road map-nya ala Wilson dan Fajri (W-F GCG strategi road map), problem apa yang dihadapi, komunikasi, implementasi, dan monitoring dari GCG. Di dalam buku ini juga dijelaskan tahapan praimplementasi apa saja yang harus disiapkan.

Komitmen dari semua top management, segenap tingkatan, serta jenjang organisasi merupakan prasyarat utama dan pertama yang harus dipenuhi dalam praimplemtasi GCG. Juga tak kalah pentingnya soft structure dan infrastructure. Sedangkan pada tahapan implementasi diperlukan assesemnt, baik self assesment maupun menggunakan independent body dan monitoringnya.

Buku ini sangat cocok sekali untuk para pimpinan perusahaan dalam meletakkan dasar-dasar GCG, baik itu BUMN, bank, maupun perusahaan lainnya. Juga diingatkan berkali-kali oleh penulis agar GCG jangan hanya menjadi lip service saja, melainkan harus menjadi way of life dari setiap orang dalam jajaran organisasi.

Buku ini terbit pada saat yang tepat, di mana bangsa Indonesia tengah dilanda berbagai kasus korupsi di segala tingkatan, baik perusahaan swasta, BUMN, maupun perusahaan perorangan. Apalagi dengan mencuatnya kasus Bank Century dan investasi bodong lainnya. Buku ini membantu para pemimpin perusahaan untuk meletakkan kembali dasar-dasar GCG demi kepentingan karyawan, perusahaan, dan akhirnya menunjang kepentingan ekonomi nasional.

Dari awal membaca buku ini, bahasan setiap teori sangat mendetail dan jelas, lengkap dengan contoh-contoh maupun perundang-undangan yang mendukungnya. Contoh-contoh yang diambil terutama dari perusahaan BUMN dan bank. Buku ini sangat mudah dibaca oleh para profesional dan pemimpin perusahaan.

Ketika membaca buku ini saya mendapatkan nilai tambah dengan melengkapi pengetahuan saya dalam bidang finance, legal, dan terutama yang berkaitan dengan bank dan BUMN. Inilah kelebihan Wilson dan Fajri dibandingkan penulis buku sejenis lainnya. Dengan pengalaman beliau berdua sebagai konsultan, buku ini memberi pesan, bahwa dengan komitmen dan perencanaan yang matang, GCG sangat gampang dijalankan dan perusahaan akan menikmati business growth yang lebih baik.

Wilson dan Fajri juga mengingatkan kita untuk tidak mempunyai mind set yang menganggap GCG hanya lip service atau cuman menambah panjang prosedur dan SOP perusahaan, alias sia-sia saja. Karena itu, pemimpin perusahaan harus menjadi contoh dalam melaksanakna GCG, dan semua orang dalam jenjang organisasi dapat merasakan keuntungan dari pelaksanaan GCG.

Hadirnya buku ini, diharapkan oleh penulis, akan semakin meyakinan kita bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk melaksanaan GCG selama pemimpin dan seluruh jajaaran organisasi berkomitmen. Tetapi sayang, buku ini kurang memberikan contoh mendasar pada code of conduct, misalnya dalam peraturan memberi dan menerima hadiah. Bila seorang karyawan bertanya, ”Pak, Bu, bolehkah saya menerima hadiah Lebaran berupa sebuah sarung?” Pertanyaan-pertanyaan yang praktis dan menggelitik ini tidak dibahas di buku ini. Jadi, buku ini tidak begitu mudah dimengerti oleh awam dan para pelajar. Juga sangat disayangkan, pekerjaan editor kurang teliti dalam spelling, meskipun secara keseluruhan tidak mengurangi makna dari bahasan.

Dengan pelaksaanan GCG, tidaklah mustahil suatu saat ekonomi Indonesia dapat menyaingi negara tetangga kita, bahkan juga India dan China. Bagaimana dengan perusahaan Anda? Sudahkah perusahaan Anda melaksanakan GCG? Segera laksanakan GCG dan nikmati benefit-nya.[sj]

* Sri Julianti adalah konsultan packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: ulipackaging[at]yahoo[dot]com.

DATA BUKU

Judul buku: Smart Strategy for 360 Degree GCG

Penulis: Wilson Arafat dan Mohamad Fajri M.P.

Penerbit: Skyrocketing Publisher, Jakarta, 2009

ISBN : 978-979-18098-1-8

Tebal : xi + 263 hal

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Only the Right People Can Ride on the Bus

sjOleh: Sri Julianti*

Kata-kata di atas sering didengungkan di manajemen meeting untuk mengomunikasikan terjadinya restrukturisasi di perusahaan. Meskipun semua orang tahu hal ini bakal terjadi, suka atau tidak suka. Inilah realitas dan dampak dari kemajuan teknologi dan arus globalisasi. Seperti yang dikatakan oleh Heraclitus, seorang pakar perubahan, “There is nothing permanent except change.Demikian juga restrukturisasi dalam suatu perusahaan. Tanpa adanya restrukturisasi, perusahaan tidak akan survive.

Coba kita tinjau kembali sekitar medio tahun 80-an. Bila mau kirim surat, ada sektretaris yang membuat draf, kita cek, dan sekretaris itu lagi yang mengetiknya, baru surat dikirimkan via pos dan akan sampai di tempat tujuan 2-3 hari. Sekarang, pekerjaan ini dilakukan dengan e-mail dan setiap orang secara individu harus mengerjakan segera. Bahkan, orang lain mengharapkan respon kita secara instan, detik itu juga.

Seperti dikatakan oleh Thomas Friedman dalam bukunya The World is Flat, efisiensi kerja sekarang sudah naik puluhan kali lipat dibandingkan tahun 80-an. Orang dapat saling berkomunikasi dalam 24 jam. Dan, yang lebih runyam lagi, banyak perusahaan memberikan fasilitas BlackBerry agar manajer yang bersangkutan dapat di hubungi setiap saat tanpa ada kecuali. Ditambah lagi dengan arus globalisasi, perbedaan waktu antarnegara sudah bukan halangan. Video atau teleconference dapat dimulai kapan saja.

Banyak teman mengeluh tentang beban pekerjaan yang semakin banyak, kompleksitas yang semakin tinggi, dan tanggung jawab yang semakin besar. Tetapi, pertanyaannya adalahHow far can you go? It’s our choice!” Memang mudah dikatakan, tapi tidak mudah dilaksanakan, seperti teman saya ini.

“Bu, ada waktu...? Mau ketemu, mau curhat sih sambil tukar pikiran, bisa?” demikian seorang teman menelepon saya. Selanjutnya dapat ditebak apa yang di bicarakan. Pada umumnya mulai dari kegelisahan akan masa depan, jenjang karier yang tidak jelas, pekerjaan yang makin lama makin bertumpuk, sampai pada akhirnya kegelisahan akan kehilangan pekerjaan, dan mulai merencanakan meninggalkan pekerjaan yang ada.

Memang setiap perusahaan harus selalu bekerja lebih efektif setiap saat. Apalagi dengan adanya krisis finansial secara global, banyak perusahaan yang menggunakan kesempatan ini untuk merampingkan organisasi yang sudah “gemuk”. Tidak peduli apakah memang betul-betul kena dampak krisis atau hanya ingin merampingkan organisasi yang gemuk. Yang jelas krisis ini dengungnya menggema di mana-mana. Mulai dari pengeluaran dikurangi, investasi ditunda, jabatan dirangkap, atau jabatan diturunkan, tunjangan diturunkan, pokoknya pengeluaran harus ditekan sedemikian rupa, termasuk indirect cost.

Sudah bukan rahasia lagi, begitu reorganisasi mulai tampak, kegelisahan pun merebak di seantero perusahaan. Bahkan hampir pasti ada 1 x farewell e-mail dalam dua minggu. Kegelisahan ini menyebabkan orang tidak berpikir secara positif.

Banyak desas-desus, si A pergi dan mendapatkan dua kali remuneration package di perusahaan lain, atau si B pergi dan mulai usaha sendiri. Pokoknya kegelisahan ini merambah di segala lini, mulai yang paling bawah sampai para senior.

Seorang teman bertanya, “Bu, apakah saya sebaiknya cari kerjaan lagi mulai sekarang, ya?”

Lho, problemmu apa?” tanya saya.

Tidak ada masalah…,” jawab teman saya sambil senyum-senyum.

Lha, semua orang pada keluar, apakah saya bisa tinggal?

Saya katakan padanya, “Setiap orang punya tujuan dan pilihan masing-masing. Yang keluar maupun yang masih tinggal tidak ada yang salah. Kalau kamu mau ikutan keluar, pertimbangkan masak-masak, dan putuskan pilihanmu. Jangan ikut-ikutan yang lainnya. Dalam setiap perubahan, ada orang yang diuntungkan ada pula yang dirugikan. Think postive, stay positive, the choice is yours. Lagi pula, yang penting kamu harus juga bertanya kepada diri sendiri, sre you riding on the right bus? Kalau jawabannya sudah jelas, mau tetap tinggal atau pergi dari perusahaan, itu adalah sebuah pilihan.

Kami akhiri diskusi empat mata ini, dan mata teman kami berbinar dengan pandangan yang lain. Entah apa yang ada di benaknya.[sj]

* Sri Julianti adalah konsultan packaging yang sudah malang-melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui website: www.srijulianti.com atau pos-el: julipackaging[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Bagaimana Awam Pun Bisa Jadi Ahli Ekonomi?

sjOleh: Sri Julianti*

Apakah Anda pernah bertanya-tanya mengapa kesenjangan antara negara kaya dan negera miskin begitu lebar? Atau, mengapa harga kopi di kafe sangat mahal? Mengapa Anda tidak mungkin mendapat mobil bekas yang benar-benar bagus?

Sebagai Detektif Ekonomi, Tim Harford si penulis buku ini menyelidiki mengapa semua hal itu terjadi dan siapa yang diuntungkan dalam setiap kasus. Orang ekonomi dapat memberi tahu pembaca siapa mendapatkan apa, bagaimana, dan mengapa. Penulis buku ini berharap, setelah membaca buku ini, pembaca akan mampu melihat hal yang sama seperti seorang ekonom.

Buku ini terdiri dari 10 bab dan masing-masing bab menceritakan kasus yang berbeda. Tetapi, kesemua bab masih saling berhubungan sesuai dengan ilmu ekonomi yang mendasarinya. Inilah keunggulan penulisnya dalam menceritakan kasus-kasus dan menghubungkan setiap kasus dengan dasar teori dan dasar teori yang sama digunakan juga pada kasus lainnya.

Misalnya tentang kasus kopi di kafe yang harganya bervariasi, lokasi yang menguasai kelangkaan, dan petani kopi yang tak kunjung makmur. Rasa kopi dan topping yang berbeda menyebabkan perbedaan harga yang mencolok untuk pembeli yang tidak peduli soal harga. Dan, masih banyak contoh lainnya.

Penulis menyinggung soal dampak perdagangan bebas pada lingkungan, apa yang membuat Kamerun dan negara miskin lainnya tetap miskin, juga bagaimana bangsa China mengalami bencana kelaparan di zaman Mao, serta bagaimana Deng mereformasi pertaniaan dan perdaganan di China hanya dalam 5 tahun. Alhasil, China yang awalnya lebih miskin dari Kamerun, kemudian berubah menjadi negara yang makmur. Semua kasus ini dibahas dengan bahasa yang enak, lancar, dan menyenangkan.

Penulis pun berkali-kali menekankan “dunia kejujuran”. Dalam setiap kasus, di mana ada dunia kejujuran, di situ selalu diikuti dengan keberhasilan. Termasuk yang terjadi di China. Tanpa dunia kejujuran (korupsi, penguasa membohongi rakyat dan penyumbang dana, tidak peduli tentang rakyatnya) yang terjadi hanyalah bencana. Dan, itu yang terjadi di Kamerun, China, maupun negara miskin lainnya.

Sesuai dengan judulnya “Siapa yang Menjadi Kaya Berkat Kopi Anda?”, bab pertama buku ini membahas tuntas tentang kopi dan cara bisnis yang menguntungkan. Dengan contoh-contoh yang jelas dan lugas, penulis menceritakan tentang faktor kelangkaan dan bagaimana kedai tersebut menentukan harga kopinya. Kasus kopi ini dibandingkan dengan sewa pertanian dan bank. Dikatakan oleh penulis, bahwa perusahaan dengan persaingan yang ketat akan memperoleh laba lebih sedikit daripada sebuah perusahaan yang bersaing dengan lawan yang tidak kompeten.

Juga di ceritakan tentang perusahaan yang untungnya tinggi bukan pertanda bahwa konsumen diperas habis-habisan. Tidak ada orang yang merampok atau dirampok. Diceritakan juga mengenai minyak bumi dan trade union di kalangan pekerja pabrik, identik dengan asosiasi profesi di kalangan profesional seperti dokter, pengacara, dll. Tujuan trade union maupun asosiasi sama juga adalah mencegah para pekerja (para profesional) saling bersaing untuk mendapatkan pekerjaan, sehingga menurunkan tingkat upah dan kesejahteraan.

Pada bab lain penulis menceritakan Starbuck Cafe yang menjual macam-macam kopi dengan harga yang sangat berbeda, dan hanya dengan topping atau rasa yang sedikit berbeda. Dengan demikian, Starbuck dapat memanfaatkan pelanggan yang tidak begitu peduli soal harga. ”Starbuck tidak mempunyai cara yang sempurna untuk mengidentifikasi pelanggan-pelanggan yang royal. Maka, cuma berharap ada pelangan yang bersedia gantung diri dengan menyediakan tali-tali tambang mewah yang boleh mereka pilih.”

Dalam membahas soal lingkungan, penulis dengan berani menyinggung pecinta lingkungan yang tidak mampu menguraikan dampak sebuah keputusan sehari-hari terhadap lingkungan. Mana yang lebih buruk, popok bayi sekali pakai (yang membuat tempat penimbunan sampah penuh) atau popok bayi yang dapat dicuci (dengan proses pencucian menggunakan listrik dan melepaskan deterjen yang juga bahan pencemar)? Sulit menentukan pilihan yang tepat.

Hal asuransi kesehatan pun dibahas dalam buku ini. Asuransi kesehatan penting dan produk berharga, karena penyakit sangat tidak dapat di ramalkan dan kadang-kadang menghabiskan biaya. Perusahaan asuransi kesehatan menghadapi sebuah situasi yang mendasar: Tidak tahu berapa besar biaya yang harus disediakan untuk membayar klaim setiap pelanggan. Dan, andai mereka tidak dapat menghitung dengan ketepatan lebih tinggi daripada yang dilakukan nasabah, mereka akan gulung tikar akibat klain-klaim yang diajukan. Sebuah polis asuransi bergantung pada saling ketidaktahuan. Jika kita dapat meramalkan masa depan, asuransi menjadi tidak bermakna. Karena itu, setiap kemajuan dalam ilmu kedokteran mendorong mundur batas-batas ketidaktahuan, entah bagi perusahaan asuransi, pihak yang diasuransikan atau keduanya, akan melemahkan dasar-dasar bisnis asuransi.

Buku ini termasuk buku yang amat sangat lengkap baik dari sisi teori maupun kasus yang dibahas. Bahasanya enak dan lancar disertai pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik sehingga pembaca tidak dapat melepasakan bab-bab selanjutnya. Buku ini sangat unggul dalam pembahasan kasus yang di ceritakan dengan bahasa yang sederhana. Semua teori dan referensi pakar ekonom dikaitkan dalam setiap bahasan sehingga memudahkan pembaca untuk mengerti tentang kasus tersebut.

Secara keseluruhan buku ini sangat bagus untuk dibaca, baik oleh orang awam, ibu rumah tangga, ekonom, maupun pemimpin perusahaan supaya mereka dapat mengerti dan memahami praktek ekonomi sehari-hari, dari mulai kopi, supermarket, sampai globalisasi. Buku ini juga membuka wawasan pembaca tentang lingkungan, pembatasan perdagangan, dll. Tujuan penulis agar pembaca dapat melihat hal yang sama seperti ekonom setelah membaca buku ini, agaknya tercapai, bila pembaca betul-betul mengerti tentang bahasan kasusnya.

Penulis juga menunjukkan dengan jelas mengapa teori yang satu berhasil untuk kasus tertentu, sedangkan teori lainnya tidak. Pembaca akan merasakan sangat tertarik membaca bab per bab dan kasus per kasus, dan tanpa terasa sudah menyelesaikan seluruh babnya. Saya juga kagum kepada alih bahasa yang telah menggunakan bahasa terjemahan yang enak dibaca dan mencoba mengungkapkan maksud penulis dengan bahasa Indonesia yang dimengerti oleh pembaca.[sj]

* Sri Julianti adalah konsultan packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el : julipackaging[at]yahoo[dot]com.
bk-det-ekoDATA BUKU

Judul Buku: Detektif Ekonomi

Penulis: Tim Harford

Alih Bahasa: Alex Tri Kantjono Widodo

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978-979-22-4784-8

Tebal : xi + 398 hal

Ukuran : 13.5 x 20 cm

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.2/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Superleadership: Menjadi Pemimpinnya Para Pemimpin

sjOleh: Sri Julianti*

Bagaimana seni memimpin pemimpin? Dan, bagaimana karakteristik seorang pemimpin yang baik? Bagiamana cara memahami dan memimpin perubahan?

Itulah sebagian hal-hal yang akan dibahas dalam buku Super Leadership karya A.B. Susanto ini. Penulis mengibaratkan Superleader seperti dirigen (conductor) yang memimpin orchestra, ia harus memastikan bahwa nada dan suara yang dimainkan meyatu dengan harmonis untuk menghasilkan musik dan nada yang indah.

Dari judulnya sudah jelas buku ini membahas tentang cara menjadi seorang pemimpin yang super, dan membuat orang lain menjadi pemimpin. Buku ini dibagi dalam 5 Bab, di mana bab I, II, dan III merupakan paparan teoritis dengan sedikit contoh kasus mulai halaman 34 dan selanjutnya. Sedangkan Bab IV, merupakan kasus bagaimana seorang superleader dapat memahami dan memimpin perubahan. Bab V, memahami dan mengelola perubahan yang harus di milki oleh seorang superleader.

Seorang superleader yang dimaksud dalam buku ini adalah orang yang memimpin pemimpin lain di bawahnya. Contohnya, President RI, gubernur, direktur utama suatu holding company, atau pemimpin di bidang science (penelittian HIV Aids) dan pemimpin bidang spiritual.

Superleader harus mampu membuat pencapaian yang besar karena superleader mempunyai superfollower. Superleader juga mendelegasi, memotivasi, mendidik, mudah diakses, pandai memilih dan membesarkan bibit unggul, mengubah my problem à out problem à your problem, pandai membawa diri.

Pendekatan yang diterapkan Superleader seperti Appreaciative Inquiry (AI), yaitu pendekatan dalam pengembangan organisasi yang menawarkan proses secara positif dalam mengeksplorasi secara kolektif, berimajinasi, kolaboratif merancang, dan bersama-sama berkomitmen melangkah ke masa depan. Ide dasarnya adalah memperkuat hal-hal yang menjadi kelebihan organisasi. Ini akan memberikan harapan, cara berpikir positif, dan bukan mengorek yang pedih dan menyakitkan. Sebetulnya, secara singkat A.B. Susanto mau mengatakan think positively.

Diagnosis masalah ada empat fase: discovery, dream, design, dan destiny yang dibahas secara rinci dalam buku ini. Superleader tidak harus menjadi superstar. Di sini A.B. Susanto menekan bahwa superleader tidak harus memberikan keterangan langsung tentang isu-isu penting, kecuali memang tidak ada wakil perusahaan atau dikhawatirkan media mendapatkan informasi yang salah.

Menurut The Jakarta Consulting Group (JCG) ada 9 peran superleader sebagai kapten, dokter, eksekutor, ahli strategi, pelatih/coach, pembimbing (councellor), groupdynamizer (menjamin dinamika kelompok untuk membangkitkan energi dan antusiasme serta membangun kepercayaan), change agent, entrepreneur, dan corporate steward (memerhatikan dan memenuhi kepentingan para pemangku, orgnisasi, dan menyeimbangkan tujuan jangka panjang dan keuntungan jangka pendek).

Seorang superleader tidak cukup hanya mempunyai IQ tinggi saja, dia juga harus mempunyai EQ (Emotional Quotient/kecerdasan emosional). EQ yang dimaksudkan antara lain; self disclosure (memahami cara mengungkapkan sudut pandang postif dan memberi pencerahan), insight (kemampuan mengenal pola emosi dan reaksi), personal responsibility (selalu memenuhi janjinya), exchange agent (mendorong pertukaran positif dalam ide, perasaan, dan informasi), dst.

Seorang superleader, juga harus komunikatif, dapat mendengarkan secara aktif, dan seorang king maker (seorang superleder harus tahu talenta pengikutnya untuk dikembangkan, apresiatif, pandai menggunakana the law of leverage, mampu mengatasi masalah, tegas tapi tidak kasar, memiliki semangat entrepreneurship, mampu mengelola sumber daya, mampu melakukan aksi spiral, memimpin dalam situasi krisis, juga mampu melakukan eksekusi.

Superleader harus diimbangi dengan superfollower. Bila tidak, seroang superleader cenderung menjulang tinggi dan tidak berpijak ke tanah, sehingga bisa menjadi megalomania (menganggap dirinya besar, melebihi yang sebenarnya), otoriter, narsistis (senang di puja dan memuja dirinya), dan raja hutan (tidak dapat mentolerir ada orang kuat).

Pemimpin adalah role model (contoh), pengajar dan coach yang sangat berpengaruh pada pembentukan budaya organisasi. Pendiri dan pemimpin mengetahui bahwa perilaku mereka memiliki nilai untuk mengkomunikasikan asumsi dan nilai kepada anggota organisasi. Ini dapat terlihat pada kehidupan dan ritual organisasi: siklus rutinitas, prosedur, laporan, bentuk, dan tugas yang berulang-ulang setiap hari, minggu, bulan dan tahun.

Superleader sebagai pemimpin perubahan, harus memahami perubahan, mampu mengelola perubahan mengimplementasikan perubahan. Perubahan dengan langkah-langkah yang inovatif yang dilakukan untuk menciptakan nilai-nilai tambah dalam organisasi dalam memenangi kompetisi.

Mengelola perubahan harus dengan langkah-langkah perbaikan bertahap (incremental step) dan dilakukan evaluasi terhadap setiap milestone. The JCG Mastery of change model menyebutkan di perlukannya spirit perubahan, alasan yang mendasari perubahan, dan bagaimana mengelola perubahan (the spirit of change, the real reason of change, the how of change).

Seorang superleader harus juga memikirkan dimensi implementasinya untuk konsepnya. Ada beberapa alasan mengapa banyak pemimpin organisasi mengalami kesulitan dalam menangani budaya organisasi: tekan untuk mencapai tujuan finansial jangka pendek, meningkatnya kompleksitas organisasi, keinginan dan kebutuhan untuk mengelola krisis yang selalu berulang, dan kurangnya pemahaman mengenai kepemimpinan dalam organisasi.

Agar pemimipin mampu mengembangkan budaya organisasi secara efektif, pemimpin harus mempunyai kualitas dan keyakinan terhadap apa yang dikerjakan. Pemimpin juga perlu fokus untuk menghilangkan rasa takut, menciptakan sebuah payung keyakinan, serta menerjemahkan keyakinan ke dalam prinsip-prinsip perilaku etis (ethcial cide of conduct).

Buku ini diawali dengan teori manajemen yang langsung menggebrak dengan istilah-istilah manajemen yang bagus dan padat. A.B. Susanto ingin mengingatkan pembaca bahwa ada risiko kegagalan besar bila teori-teori manajemen yang bagus dan produk import itu langsung diterapkan di perusahaan Indonesia. Keseluruhan teori pemimpin ini bisa disimpulkan seperti wisdom dari pendiri Taman Siswa: ”Ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karso,d an tut wuri handayani”.

Tidak perlu kasar, tetapi tegas, memerhatikan karyawan, menganggap pemimpin di bawahnya sebagai teman dan mitra, dan seterusnya. Tetapi sayang sekali, di awal buku ini A.B. Susanto kurang melengkapi dengan contoh dan hal-hal praktis yang ringan sehingga teori manajemennya tidak mudah dimengerti oleh pembaca. Tetapi, hal ini ”mencair” pada halaman selanjutnya. Contoh kasus semakin lancar dan terasa geregetnya pada Bab IV.

Yang menarik, buku ini sangat kaya akan teori manjemen, khususnya teori tentang superleader. Hal ini menunjukkan pengalaman A.B. Susanto sebagai ahli manajemen. Buku ini mengutip banyak referensi dari buku lainnya dengan harapan pembaca mengetahui teori-teori dari para pakar lainnya.

Tetapi, hal ini justru agak membingungkan pembaca karena banyaknya bahasan yang hampir sama. Buku ini akan lebih menarik jika pembagian bab maupun subbab lebih sistematik dan masing-masing pembagian dalam bab tersebut jelas kaitannya satu dengan lainnya. Dan, akan lebih memudahkan pembaca bila semua kualitas, karakteristik, mindset, dll yang harus di miliki oleh seorang superleader sudah dibahas di awal buku ini sehingga tidak terjadi tumpang tindih pada bab selanjutnya.

Secara keseluruhan buku ini sudah mencakup teori kepemimpian secara lengkap dan dapat membuka wawasan manajemen semua orang yang tertarik di bidang ini. Perusahaan atau organisasi yang merencanakan lembaganya lebih maju dan effektif dalam kinerjanya dan merencanakan perubahan, juga bisa memanfaatkan buku ini. Pembahasan buku ini memang cenderung diperuntukkan bagi pembaca atau perusahaan yang kemungkinan berminat untuk memakai jasa para konsultan atau The JCG supaya memperolah pendampingan yang baik.[sj]

* Sri Julianti adalah praktisi packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: julipackaging[at]yahoo[dot]com.

bk-absusantoDATA BUKU

Judul Buku: SUPER LEADERSHIP – Leading Others to Lead

Oleh: DR. A. B. Susanto

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009

ISBN : 978-979-22-4791-6

Tebal : xi + 194 hal

Ukuran : 13.5 x 20 cm

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.7/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Antara Bom, Kasih, dan Tugas Kita Bersama

sjOleh: Sri Julianti*

“Jika kita tidak punya kedamaian, itu karena kita telah lupa

bahwa sesungguhnya kita semua saling memiliki.”

~ Bunda Teresa

Kali ini giliran Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, dan kali ke dua untuk JW Marriot mengalami ledakan bom setelah hampir 5 tahun kita semua hidup dalam suasana tenang dan kondusif. Pagi itu ketika saya baru tiba di kantordan baru mulai rapat dengan tim sayatiba-tiba suami saya telepon dan mengabarkan tentang peledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta. Saya dan tim saya cukup shock meskipun kami tinggal jauh dari Jakarta. Tetapi, kami sering dinas ke Jakarta dan menginap di hotel tersebut. Demi mendengar berita tersebut, ada banyak hal berkecamuk di pikiran kami masing-masing.

Siapa yang tega melakukan hal itu dan mengapa? Apa tujuan dan pesan apa yang ingin disampaikan oleh pelakunya? Kesenjangan, ketimpangan, atau keterpurukan apakah yang menyebabkan hal ini terjadi? Arogansi apa yang sudah kita semua lakukan sampai menyebabkan mereka membalas dengan melakuan hal itu? Rasa kepahitan apa yang mereka derita sehingga tega mengorbankan kehidupan banyak orang, termasuk kehidupannya sendiri? Adakah jurang perbedaan yang besar, baik ideologi, sandang, dan papan? Adakah kemiskinan harta dan cinta kasih? Apa paradigma yang ada pada pelaku?

Dari sisi korban pengeboman maupun sanak keluarga korban, tentunya ada rasa sedih, marah, dendam, khawatir, kecewa, dan perasaan lainnya. Kenapa kok kami yang tidak mengerti apa-apa menjadi korban? Bagaimana kehidupan kami selanjutnya? Bagaimana trauma ini dapat dihilangkan?

Masih segar di ingatan kita semua tentang Bom Bali I dan Bom Bali II, yang mana sampai sekarang para korban dan keluarganya masih berjuang melawan trauma-trauma psikologis, berjuang menata kehidupan secara total, dan belum dapat kembali seperti semula.

Bumi tercinta ini cuma ada SATU, dan semua kehidupan manusia tergantung pada bumi yang satu ini. Kita semua saling tergantung dan saling memiliki satu sama lain. Ini yang tidak boleh di lupakan seperti, kata Bunda Teresa. Dengan segala perbedaan yang ada pada setiap penghuni bumi, diperlukan suatu sikap toleransi yang memadai agar bumi menjadi tempat yang layak dan enak untuk ditinggali bersama-sama.

Hendaknya segala perbedaan yang ada itu dibuat saling mengisi dan menguatkan, bukannya saling dipertentangkan dan saling menghancurkan. Perang bukan alat untuk menyelesaikan masalah. Hellen Keller berkata, ”Hasil tertinggi dari pendidikan adalah sikap toleransi.” Untuk menghasilkan manusia yang bersikap toleran terhadap perbedaan, diperlukan pendidikan yang terpadu dan berkesinambungan. Sedangkan kesenjangan dan ketimpangan dalam cinta kasih, pendidikan, harta, serta buntunya saluran komunikasi dan sikap arogansi hanya akan melahirkan generasi yang ekstrim.

Dalam suatu keluarga kecil saja selalu ada perbedaan, namun setiap anggota keluarga harus menghargai dan bersikap toleran terhadap perbedaan tersebut. Saya sejak kecil misalnya, suka makanan manis sedang kakak saya suka yang asin. Saya suka membaca, dia suka jalan. Kami cuma punya satu sepeda ontel, yang kemudian ganti satu sepeda motor untuk dipakai berdua. Jadi, kami berdua sejak kecil sudah belajar bersikap toleran dan tidak menang sendiri. Nah, dari keluarga kecil yang mengajarkan sikap toleransi sejak kanak-kanak itulah kemudian tumbuh manusia yang bersikap toleran.

Kita perlu ketahui bahwa dalam hidup ini selalu ada siang ada malam, ada susah ada senang. Demikian juga dalam kehidupan manusia selalu ada kekuatan positif dan negatif yang tarik-menarik. Ada kekuatan akan kasih, damai, bahagia, sejahtera, sehat, dan semuanya yang baik yang akhirnya membuat iri kekuatan negatif yang ingin menghancurkan, membinasakan, dan melenyapkan segala hal yang baik dari kehidupan manusia. Teror bom yang terjadi di atas telah memberi rasa khawatir, takut, kecewa, dendam, rasa pahit, putus asa, dan masih banyak hal negatif lainnya.

Kita semua baik, secara individu, komunitas, maupun pemerintah, mempunyai tugas untuk MEMENANGKAN peperangan ini dengan peran kita masing-masing di dunia. Mendidik anak-anak dan anggota keluarga dengan sikap toleran, hidup berbagi dengan yang lain, membantu yang lemah dan miskin, mensyukuri kehidupan kita, serta banyak hal lainnya yang dapat kita perjuangkan dan lakukan agar kita SEMUA bisa hidup damai dengan penuh kasih. Kita harus mencegah terjadinya ke senjangan, ketimpangan, keterpurukan sosial, ekonomi, pendidikan, sandang, papan, pangan, dan kemudahan komunikasi.

Albert Einstein berkata, ”Hanya ada dua hal yang tak terbatas: Alam semesta dan kebodohan manusia. Dan, saya tidak tahu pasti tentang alam semesta.” Selamat berjuang dalam Kasih.[sj]

* Sri Julianti, berkerja di perusahaan multi nasional, dapat di kontak melalui pos-el: juli.packaging[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)