Panti Jompo dan Cinta yang Terlewatkan

snOleh: Sofa Nurdiyanti*

“Caramu dan cara mereka yang sayang kepadamu dalam menjalani hidup menentukan reputasimu; caramu dan cara mereka yang sayang kepadamu dalam menghadapi kematian mengungkapkan karaktermu.”

~ John William Russel III

Cinta merupakan salah satu topik yang tiada henti dikupas oleh manusia. Begitu banyak kisah mengenai cinta yang unik namun bersifat universal. Beragam wajah cinta yang menemani kehidupan manusia di bumi. Namun, terkadang ada cinta yang terlewatkan oleh kita semua. Cinta yang secara sengaja atau tidak mungkin kita lewatkan setelah kita mengenal cinta yang lain. Cinta itu adalah cinta kita kepada orang tua.

Sepintas, judul artikel di atas terlihat mirip dengan salah satu judul lagu milik salah satu band terkenal mengenai patah hati. Namun, di sini saya tidak hendak menulis kisah tentang patah hati. Judul tersebut ditulis berdasarkan pengalaman saya ketika mengerjakan salah satu tugas psikogerontologi di semester 6. Psikogerontologi merupakan mata kuliah pilihan yang mempelajari perkembangan lansia.

Salah satu tugas akhir dari matakuliah psikogerontologi adalah melakukan perbandingan perkembangan lansia yang tinggal di rumah dengan lansia yang tinggal di panti jompo. Kami diberi tugas mewawancarai empat lansia yang berbeda secara individu. Namun, kami boleh mewawancarai lansia yang sama asalkan membahas secara mandiri. Akhirnya, saya dan ketiga teman memutuskan bersama-sama pergi ke salah satu panti jompo di daerah Pakem, Yogyakarta. Setelah mengurus perizinan, akhirnya kami bisa melakukan observasi dan wawancara.

Sebelumnya, kami merasa canggung dan ragu ketika hendak melakukan wawancara. Namun, sambutan dari mbah-mbah yang tinggal di panti jompo sungguh luar biasa. Mereka menyambut kami dengan ramah ketika pertama kali bertemu. Rasa canggung dan malu yang sebelumnya ada seketika lenyap. Yang ada justru rasa nyaman dan senang karena kehadiran kami diterima dengan tulus. Mereka menganggap kami seperti cucu mereka sendiri.

Proses wawancara dan observasi pun berjalan dengan lancar. Dari hasil wawancara dengan para mbah mengenai kisah hidup mereka sampai akhirnya tinggal di panti jompo sungguh membuat saya terharu. Salah satu mbah yang saya wawancarai, sebut saja Mbah T. Mbah T, berada di panti jompo sejak dua tahun yang lalu. Kisah hidup beliau sungguh sangat mengharukan. Beliau dipenjara pada masa G30S/PKI karena difitnah oleh seorang polisi. Akibatnya, beliau dipenjara hampir 30 tahun. Setelah keluar dari penjara, beliau sempat bekerja di beberapa tempat. Namun, karena faktor usia yang sudah lanjut, maka beliau berhenti bekerja dan kembali ke tempat keponakannya (beliau tidak menikah akibat dipenjara). Namun, tidak lama berselang beliau dimasukkan ke panti jompo. Tampaknya, kehadiran beliau kurang diharapkan di rumah keponakannya.

Meski merasa kecewa terhadap sikap keluarganya, namun beliau tidak menaruh dendam terhadap keluarganya. Beliau tetap menerima dan mengikhlaskan semuanya. Beliau berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan di panti jompo. Banyaknya teman senasib yang tinggal di panti jompo membuat beliau tidak lagi merasa kesepian. Beliau masih mau bersosialisasi dengan lansia lainnya, pergi ke gereja, dan menjalani aktivitas yang ada di panti jompo.

Lansia lainnya sebut saja Mbah G, merupakan salah satu lansia yang bersemangat dalam menjalani kehidupannya di panti jompo. Meski sudah berumur 80 tahun, beliau masih mampu menjalani aktivitas sehari-hari tanpa bantuan orang lain. Bahkan, beliau menjadi salah satu wakil dari wisma tempat beliau tinggal. Beliau masih sanggup mengambilkan jatah makanan untuk lansia yang berada di wisma tempat beliau tinggal. Di panti jompo tersebut, masing-masing lansia berada dalam satu wisma tertentu. Sebuah wisma biasanya di isi oleh delapan sampai sepuluh orang. Ada lansia yang tinggal dengan gratis, ada pula lansia yang membayar biaya hidup di panti. Biasanya lansia yang membayar merupakan lansia yang berada di panti karena keinginan keluarganya.

Mbah G berada di panti karena terkena razia oleh polisi karena tersesat sewaktu hendak ke Jakarta. Beliau sebelumnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Setelah terkena stroke, beliau pulang ke Yogyakarta. Setelah sembuh, beliau berniat kembali ke Jakarta karena rindu dengan anak majikannya yang telah dianggap seperti anaknya sendiri. Ketika hendak ke Jakarta, beliau lupa sehingga terlantar di jalan selama beberapa hari. Kemudian beliau dibawa ke dinas sosial. Walaupun masih memiliki saudara di Yogyakarta, namun beliau lebih memilih tinggal di panti jompo. Hal ini disebabkan kehadiran beliau di rumah saudaranya kurang diharapkan. Di panti jompo, kehadirannya lebih bisa diterima. Beliau merasa nyaman dan kerasan, walaupun terkadang merasa rindu untuk berkumpul bersama dengan keluarganya.

Selain kedua cerita di atas, masih banyak lagi cerita yang menyedihkan tentang lansia di panti jompo. Yang menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa harus ada panti jompo di Indonesia? Bukankah kultur Indonesia sangat menghargai relasi kekeluargaan? Patriarki, bilateral, matrilineal, semuanya merupakan sistem kekeluargaan yang mengatur pola kekeluargaan di Indonesia. Meski berbeda, tapi semuanya menghargai kekerabatan. Adanya marga untuk beberapa suku juga merupakan salah satu tanda, kuatnya relasi kekeluargaan di Indonesia. Marga sebagai salah satu penanda adanya ikatan satu darah. Mereka yang mempunyai marga yang sama akan merasa senang ketika bertemu di lain tempat. Rasa persaudaraan yang kuat membuat mereka saling membantu jika ada kesulitan.

Entah karena ikatan kekeluargaan yang mulai luntur ataukah karena proses akulturasi budaya di Indonesia yang ikut mempengaruhi berkurangnya kasih sayang antara keluarga? Yang pasti panti jompo bukanlah tempat yang layak untuk setiap orang tua menghabiskan sisa hidupnya. Di manakah cinta? Adakah anak yang melewatkan cinta untuk orang tuanya?

Cinta ibu sepanjang masa, cinta anak sepanjang galah. Peribahasa ini dimengerti setiap orang. Apakah panti jompo merupakan salah satu bukti pembenaran bahasa tersebut? Selain peribahasa tersebut, banyak kita temui peribahasa lainnya mengenai begitu berharganya orang tua. Surga di bawah telapak kaki ibu. Durhakalah kita jika menyakiti hatinya. Apa yang mampu mengeraskan hati seorang anak hingga mampu mengusir pergi orang tuanya? Orang tua yang telah membesarkan kita dengan limpahan kasih sayang tanpa lelah.

Berdasarkan hasil wawancara yang saya peroleh, lansia yang tinggal di rumah lebih bahagia dibandingkan dengan lansia yang tinggal di panti jompo. Memang, ini bukanlah kesimpulan yang didapat melalui penelitian resmi. Namun, setidaknya inilah yang dapat saya laporkan dalam tugas akhir psikogerontologi.

Lansia yang tinggal di rumah lebih bahagia karena merasa masih dibutuhkan dan disayangi oleh anggota keluarganya. Masa pensiun mereka isi dengan melakukan kegiatan yang belum sempat mereka kerjakan sewaktu muda. Misalnya dengan berkebun, melakukan aktivitas sosial, berolahraga secara rutin, menjaga cucu, dsb. Semua kegiatan tersebut menjadikan mereka lebih bahagia. Mereka dapat memanfaatkan waktu secara optimal.

Hal ini dapat dielaskan dengan teori aktivitas yang dikemukakan oleh George Maddox (1964). The Activity Theory (Teori Aktivitas), menyatakan kebahagiaan dan kepuasan timbul dari adanya keterlibatan dan penyesuaian diri dalam menghadapi tantangan hidup. Semakin orang-orang dewasa lanjut (lansia) aktif dan terlibat, semakin kecil kemungkinan mereka menjadi renta dan semakin besar kemungkinan mereka merasa puas dengan kehidupannya. Teori aktivitas ini menyatakan bahwa individu-individu seharusnya melanjutkan peran-peran masa dewasa tengahnya di sepanjang masa akhir.

Setiap orang tentunya ingin hidup bersama dengan orang yang dikasihi hingga akhir hayatnya. Ini merupakan sebuah keinginan sederhana yang terkadang sulit direalisasikan. Apalagi bagi mereka yang kurang diterima oleh anggota keluarganya. Banyak alasan yang dikemukakan bagi mereka yang dengan sengaja menaruh orang tua di panti jompo. Entah karena merasa sibuk, tidak cukup waktu untuk mengurus orangtua, adanya ketidaksepahaman antara orang tua dan anak, ketidakcocokan antara menantu dengan mertua sehingga membuat sang menantu menolak kehadiran orang tua pasangannya dalam kehidupan rumah tangga, dll. Tentu saja alasan tersebut logis bagi mereka, tapi bagi saya alasan mereka tidak disertai dengan nurani.

Jika setiap orang mau menengok kembali ke belakang, saat di mana orangtua membesarkan mereka dengan limpahan kasih sayang. Apakah masih ada rasa tega untuk menitipkan orang tua dipanti jompo? Katakanlah orang tua mempunyai kesalahan, tidak membesarkan dan memberikan kasih sayang sesuai dengan harapan kita. Berkonflik dengan pasangan hidup kita, atau kita tidak mempunyai waktu cukup untuk merawat orang tua, apakah semua itu bisa dijadikan pembenaran atas tindakan menitipkan orang tua dipanti jompo?

Saya kira setiap orang tentunya pernah berbuat salah. Tapi tindakan menitipkan orang tua ke panti jompo atau menyerahkan perawatannya kepada orang lain bukanlah ide bagus. Seperti halnya semua orang berhak sukses, tentu semua orang juga berhak bahagia! Bahagia karena keberadaannya menjadi bagian dari sebuah keluarga yang saling menyayangi, bahagia karena bisa berkumpul dengan orang-orang yang dicintai dan bahagia karena mereka diberi kesempatan untuk menyanyangi keluarga yang dikasihinya. Seharusnya tidak ada beban dalam mencintai. Orang tua kita yang seharusnya melewatkan sisa hidupnya dengan bahagia, berkumpul bersama dengan orang-orang yang disayangi. Bukannya terasing di tempat lain, dan melewatkan cintanya yang seharusnya masih bisa kita terima.

Mungkin ada beberapa di antara kita yang berpikiran dengan memberikan materi cukup, maka kebutuhan akan kasih sayang bisa diganti. Ini sungguh merupakan dua hal yang berbeda. Materi memang penting, tapi tidak bisa mengganti kebutuhan akan kasih sayang. Ada cerita dari adik saya yang juga kebetulan kuliah di jurusan psikologi dan juga mengunjungi panti jompo. Ada seorang lansia yang merupakan ibu dari seorang bupati dari Jawa Tengah yang tinggal di panti jompo. Sebelumnya, ibu tersebut dibujuk akan di ajak jalan-jalan ke daerah Yogyakarta, tapi ternyata beliau dititipkan di panti jompo hingga sekarang. Setiap bulan hanya satu pegawai bupati itu yang menengok keadaannya. Bupati dan keluarganya tak pernah sekalipun mengunjunginya.

Sungguh ironis sekali. Ternyata pendidikan dan jabatan yang bagus tidak menjamin adanya perubahan cara pandang seseorang. Ia tetap saja menitipkan orang tuanya di panti jompo. Apa pun alasannya saya kira, itu merupakan hal yang sulit diterima oleh akal sehat. Tentu saja ia mempunyai materi yang cukup untuk merawat orang tuanya, lalu apa persoalan yang membelitnya hingga bertindak sedemikian rupa?

Saya pun teringat tentang sebuah keluarga di desa tempat saya tinggal. Ada sepasang lansia yang hidup rukun bersama dengan keluarganya. Meskipun mereka tidak mempunyai materi yang cukup, hidup dalam kesederhanaan yang bahkan bisa dikatakan kekurangan, namun mereka tidak pernah terlihat mengeluh. Mereka cukup senang dengan kehidupannya, apa pun yang mereka dapatkan di hari itu selalu disisihkan untuk membelikan jajanan bagi cucu mereka.

Walau sudah lanjut usia mereka masih sanggup bekerja, entah mencari kayu, bekerja di sawah, membuat tempe, dll. Fisik mereka masih bagus, tapi yang paling penting mereka bahagia karena bisa berkumpul dengan anak dan cucu mereka. Yah, walaupun terkadang ada konflik antara mereka dan anak tapi tak terbersit sekalipun niat untuk meninggalkan orang tua.

Seperti pepatah jawa,”Mikul dhuwur, mendhem jero” yang artinya kalau orang lain mempunyai kebaikan, kita banggakan atau dijunjung tinggi sebaliknya jika mempunyai keburukan kita tutupi keburukannya atau pendam sedalam mungkin. Begitu juga halnya sikap kita kepada orang tua, berbakti baik semasa hidup maupun ketika orang tua kita sudah meninggal. Mengangkat tinggi derajat orang tua semasa hidup dan ketika sudah meninggal pun harus tetap menghormatinya.

Saya tidak tahu mengenai persoalan yang dihadapi oleh mereka yang sudah berkeluarga. Namun, saya menjadi terpikirkan oleh satu hal. Ketika saya menikah nanti, pasangan saya harus bisa menerima saya dan keluarga saya seutuhnya. Saya tidak ingin meninggalkan ibu saya. Satu-satunya orang tua yang masih bersama saya. Saya hanya ingin berbakti kepada orang tua meskipun dengan hal yang sederhana, merawatnya, dan tidak ingin beliau merasakan kesendirian di akhir hidupnya karena masih ada keluarga yang menyayanginya. Boleh saja hidup kita kekurangan secara materi, namun jangan sampai kekurangan kasih sayang dalam hidup. Bagaimana dengan Anda? Hamasah!!![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Doa Minta Sakit Maag

snOleh: Sofa Nurdiyanti*

Suatu ketika saya pernah berdoa, doa yang saya kira tak akan diminta oleh orang lain. Saya dengan penuh kesadaran, berdoa kepada Allah agar diberi sakit maag hehehe…. Mungkin Anda akan menganggap saya bodoh, kurang bersyukur, atau bahkan gila karena berdoa diberi sakit. Tetapi, saya sungguh berdoa agar diberi sakit maag.

Cerita ini bermula ketika saya mengetahui banyak di antara teman-teman yang menderita sakit maag. Anak kuliahan tidak tahu kenapa sedikit banyak punya riwayat dengan sakit maag. Mungkin karena pola makan yang tidak teratur menyebabkan teman-teman saya memiliki sakit maag. Maklum saja, jauh dari rumah merupakan sebuah pengalaman baru di antara mayoritas teman-teman saya. Mengurus diri sendiri, mengerjakan tugas kuliah, mengikuti aktivitas di kampus, sehingga sering kali membuat saya dan teman-teman lupa waktu.

Cerita tentang mahasiswa yang semasa sekolah sehat dan ceria bisa jadi stres berat kalau tidak cepat-cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus. Kalau di rumah bisa makan tiga kali sehari, tidur siang, dan main bersama dengan teman-teman, rasanya hal itu seperti mimpi waktu kuliah. Euforia tentang dunia mahasiswa yang menjunjung kebebasan, idealis, dan mandiri bisa jadi hancur jika tak sanggup menyesuaikan ritme yang sungguh amat berbeda dengan masa sekolah.

Awal masa kuliah pun, menjadi sumber stres terbesar bagi saya saat itu. Menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sama sekali baru, belajar mengurus diri sendiri, dan dituntut untuk selalu up to date dengan informasi di kampus, sungguh sangat melelahkan bagi saya. Apalagi saya tidak pernah jauh dari rumah. Hidup berbalik 180 derajat, rasa cemas dan stres menjadi makanan sehari-hari. Bayangan saya akan dunia kampus yang menyenangkan seakan sirna. Semuanya di luar perkiraan saya.

Awal masa kuliah, saya belum bisa membagi waktu dengan baik. Makan sering kali terlupa begitu saja. Sering kali makan di sore hari sekaligus makan malam. Jadwal kuliah di semester pertama lebih banyak masuk pagi, sebelum jam 7 sudah harus di kampus. Sedangkan warung makanan rata-rata belum buka, jadi tidak sempat sarapan. Jeda kuliah sering kali malas turun dari lantai empat untuk mencari makan di luar kampus (saat itu belum dibangun kantin di dalam kampus karena ada perjanjian dengan masyarakat sekitar, masyarakatlah yang membuka kantin di luar kampus sebagai mata pencaharian mereka). Biasanya, saya akan membeli roti atau camilan di toko terdekat, bukan membeli makan di warung-warung yang pasti penuh pada jam makan siang. Jadilah saya hanya makan malam dengan menu penyetan karena pada malam hari jarang ada warung yang menjual sayur seperti waktu pagi.

Meski pola makan tidak teratur, alhamdulillah saya tidak pernah sakit maag. Hanya saja fisik saya menjadi lemah. Mudah lelah dan sakit-sakitan. Hal ini berpengaruh terhadap prestasi akademik di kampus. Saya merasa tidak bisa berprestasi seperti semasa sekolah di SMA. Ketika menyadari beberapa teman saya mempunyai sakit maag, terbersitlah rasa ingin tahu seperti apakah rasanya sakit maag. Kok saya belum pernah sakit maag, ya? Hehehe....

Mendengar cerita teman yang menderita sakit maag, sungguh membuat saya miris. Mereka bilang,Rasanya sakit banget kalau kambuh.” Mereka tidak bisa makan sembarangan. Harus makan nasi dulu, jangan sampai lupa sarapan dan kambuh. Ke mana-mana membawa obat pereda sakit maag. Kalau melihat hal itu, sungguh membuat saya merasa kasihan pada mereka. Sehingga, itu membuat saya berpikir, “Rasanya gimana, ya? Selain teman kuliah pun, ternyata ada lagi seorang teman yang juga terkena sakit maag. Jika melihatnya secara fisik, orang tidak akan mengira ia terkena maag. Dia berbadan tinggi besar dan relatif gemuk, tetapi tetap saja terkena sakit maag. Hal ini membuat saya semakin heran, kenapa mereka bisa terkena maag?

Mulai saat itu, antara sadar dan tidak, saya mempunyai satu keinginan, yakni ingin diberi sakit maag. Doa yang aneh ini pun mendapatkan jawaban dari Allah. Lebih baik dari yang saya minta dan membuat saya merefleksikan permintaan yang sungguh keterlaluan, yang baru saya sadari belakangan. Seperti salah satu bab favorit saya dari tetralogi Laskar Pelangi; “Tuhan tahu tetapi menunggu”. Diceritakan Ikal dan Arai mendapatkan balasan hukuman atas kejahilan mereka semasa kecil. Mereka mendapatkan balasan 16 tahun kemudian, yang sungguh membuat mereka menyadari kesalahannya. Seperti halnya saya, doa saya pun terjawab dengan cara yang sungguh tidak terduga.

Pada awalnya saya merasakan sakit perut selama sebulan, yang membuat saya berpikir, Jangan-jangan, dah kena maag, neh?” Respon saya yang pertama adalah senang karena akhirnya tahu rasanya sakit maag seperti apa, walaupun itu baru sebatas dugaan saja. Tetapi hal yang aneh terjadi, sakit yang saya rasakan hilang begitu saja. Membuat saya berpikir, masak maagnya sudah sembuh? Tetapi secara fisik, saya merasa cepat lelah dan lebih banyak berdiam diri karena kaki terasa sangat capek saat pergi dan pulang kuliah. Walaupun tiap hari sudah menempuh jarak yang lumayan jauh antara pondok pesantren dengan kampus, tetap saja saya merasa mudah lelah. Hal ini bukan karena saya manja atau tidak kuat berjalan jauh. Saya sudah terbiasa berjalan jauh sejak sekolah sehingga tak menjadi masalah yang berarti ketika harus berjalan pulang pergi setiap hari.

Selain jadwal kampus yang lumayan padat, saya juga menjadi santri di salah satu pondok pesantren bagi mahasiswa di dekat kampus. Walau capek, tetapi hal ini sudah menjadi niat saya dari awal. Saya ingin sekali mempunyai pengetahuan di bidang agama secara mendalam. Dengan begitu, jadwal kuliah dan pondok semakin membuat saya kelimpungan. Meski begitu, saya tetap merasa sanggup menjalani keduanya. Namun, satu yang tidak berubah, saya semakin sering lupa makan. Lebih banyak makan camilan sebagai pengganjal perut ketika lapar.

Sewaktu pergi berlibur ke rumah kakak di Tangerang, saya terkejut ketika salah seorang teman kakak saya bilang jika saya menderita penyakit tertentu. Penyakit yang semula saya duga hanya alergi berubah menjadi penyakit yang lumayan serius. Awalnya, saya berpikir mustahil menderita penyakit tersebut jika mengingat umur yang masih muda hehehe.... Sejak saat itu, saya harus lebih berhati-hati dalam menjaga pola makan saya. Mencoba menahan diri untuk tidak memakan makanan favorit dan belajar hidup sehat. Selama di rumah kakak, saya belajar menerapkan gaya hidup sehat dan berniat menjadi vegetarian secara bertahap mengingat pantangan makanan yang harus saya hindari.

Semangat di awal proses dan lesu di akhir, itulah yang terjadi pada saya. Sekembalinya dari Tangerang, godaan makanan favorit saya pun menghadang. Niat menjadi vegetarian terlupakan begitu saja. Akibatnya sudah bisa ditebak, saya menjadi cepat lelah dan penyakit lama kambuh lagi.

Jika mengingat semua yang saya alami sekarang, saya menyesal telah berdoa diberi sakit maag. Seharusnya, saya bersyukur dengan kesehatan yang diberikan oleh Allah pada saya, bukannya menantang Allah dan berdoa yang tidak-tidak. Mungkin saja di antara Anda ada yang punya pengalaman yang hampir sama dengan saya, walaupun dalam konteks yang berbeda. Sering kali kita kurang bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan. Dan, kita justru meminta sesuatu yang kita anggap benar karena sesuai dengan keinginan kita. Setelah kita diberi jawaban atas setiap doa yang kita minta, terkadang keraguan dan kekecewaan menjadi demo tak terbantahkan kepada Allah. Kenapa tidak sesuai dengan keinginan kita?

Banyak orang yang bilang, di setiap rencana Allah baik dan buruknya di mata kita tersimpan hikmah yang besar, jika kita bersabar. Karena, rencana Allah pasti baik bagi hambanya. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita walaupun terkadang kita meragukan-Nya. Mungkin, yang dapat membantu kita mengatasi segala keraguan yang ada adalah IMAN. Jika ada iman di hati, tak perlu ada keraguan yang patut kita sandarkan pada-Nya. Mulai saja dengan hal yang sederhana, senyum dan syukur atas semua nikmat-Nya. Dan, jangan sekali-kali menantang Allah dengan keinginan yang konyol seperti yang saya lakukan hehehe. HAMASAH!!![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.3/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Bintang Tak Pernah Pergi

sn1Oleh: Sofa Nurdiyanti*

“Seseorang yang merasa sendiri dan kesepian adalah saat di mana ia tidak membuka diri dan hatinya untuk menerima kasih sayang dari orang lain.”

Tulisan ini terinspirasi oleh beberapa ungkapan teman-teman saya yang mengaku sering merasa sendiri dan kesepian. Mereka sering mengeluh tidak mempunyai teman, merasa sendiri, dan tentu saja kesepian. Padahal, mereka mempunyai begitu banyak teman dan anehnya masih saja mengaku sendirian dan kesepian. Sebenarnya, apa yang membuat seseorang merasa sendiri dan kesepian?

Sendiri dan kesepian adalah dua kata yang pastinya ingin dihindari oleh setiap orang. Secara alamiah, manusia mempunyai kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain. Seperti teori hierarki kebutuhan yang diungkapkan oleh Maslow. Salah satu dari hierarki kebutuhan manusia adalah kebutuhan untuk mencintai. Manusia mempunyai kebutuhan untuk berafiliasi dengan orang lain. Hal ini menimbulkan adanya interaksi antara manusia yang satu dengan yang lain. Interaksi inilah yang menghadirkan rasa bahagia. Manusia merasa bahagia dan dihargai karena eksistensinya diakui oleh orang lain.

Mengingat jumlah penduduk bumi yang mencapai angka di atas enam miliar, secara logika menjadi mustahil jika ada orang yang mengaku sendiri dan kesepian. Begitu banyak teman yang dihadirkan oleh Allah untuk menemani kita semua. Anugerah kehidupan yang begitu besar tidak layak untuk kita sia-siakan. Jika kita ditakdirkan untuk hidup bersama dengan orang lain, usir saja keinginan untuk sendiri. Karena, sendiri hanya menghadirkan kesepian yang menghalangi kita untuk hidup bahagia.

Saya mencoba berpikir ulang mengenai sendiri dan kesepian, mencoba mengingat saat-saat saya merasa sendiri dan kesepian. Saya teringat, saya merasa sendiri dan kesepian saat saya tidak membuka hati untuk menerima hangatnya kasih sayang dari orang lain, termasuk teman-teman saya. Itulah saat saya ingin menyembunyikan diri dari orang lain. Tidak hanya secara fisik tapi juga hati. Intinya, tidak mau diganggu orang lain hehehe.

Keinginan untuk menyendiri ini tidak terkait dengan jenis kepribadian seseorang. Misalnya, orang yang introvert lebih senang menyendiri, namun bukan berarti orang yang ekstrovert tidak pernah menyendiri dan menghindari orang lain. Apa pun jenis kepribadian seseorang, tentunya pernah merasakan rasa sendiri dan kesepian.

Kita semua tentunya sudah paham bahwa manusia adalah makhluk sosial. Saling membutuhkan satu sama lain. Hal ini dikarenakan manusia diciptakan Allah dengan kemampuan yang berbeda dan saling melengkapi satu sama lain. Menjadi ganjil jika manusia merasa bahwa dirinya bisa hidup tanpa orang lain. Mustahil hal ini terjadi, bahkan oleh orang yang mempunyai bakat luar biasa sekalipun.

Pada awalnya pun saya senang menyendiri daripada berinteraksi dengan orang lain. Hal ini lebih disebabkan saya kurang pandai bergaul jika berada di antara teman-teman saya. Semasa sekolah pun, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku di perpustakaan sekolah. Saya lebih suka membaca daripada pergi ke kantin atau berkumpul bersama dengan teman. Namun, suatu ketika nasihat seorang teman menyadarkan saya. Teman-teman saya menganggap saya egois dan aneh, apalagi kalau bukan karena sikap saya yang suka menyendiri dan pendiam.

Saya pun mulai membuka pikiran untuk lebih terlibat dan berkomunikasi secara aktif dengan teman-teman saya. Aneh pada awalnya, saya merasa bukan menjadi diri saya sendiri. Tapi melihat berbagai usaha yang dilakukan oleh teman-teman sekolah yang begitu gigih agar saya tidak lagi menjadi anak pendiam akhirnya membuat hati saya luluh. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menjadi pribadi yang terbuka kepada orang lain.

Proses dari berdiam diri menjadi bicara pun merupakan peristiwa yang tak terlupakan bagi saya. Banyak kejadian unik yang saya alami yang jika dikenang akan membuat saya tertawa hehehe.... Saat berkumpul bersama dengan teman saya pun, kemudian menjadi saat yang membahagiakan dalam hidup saya. Saya tidak lagi berkutat pada dunia sendiri yang terbangun di antara kesendirian dan buku-buku. Sekarang, saya mempuyai pilihan yang lebih baik, yaitu menikmati dunia saya, yaitu antara membaca dan berteman dengan banyak orang.

Menurut Rogers, membuka hati pada orang lain merupakan bagian dari salah satu ciri kepribadian yang baik, yaitu terbuka pada pengalaman. Orang yang punya kualitas ini memiliki persepsi yang akurat tentang pengalamannya di dunia, termasuk perasaannya sendiri. Perasaan merupakan bagian terpenting dari keterbukaan karena menunjukkan penilaian organismik. Kalau Anda tidak terbuka terhadap perasaan sendiri, Anda pun tidak bisa terbuka terhadap perasaan diri sendiri (Boeree, 2006).

Terbuka terhadap perasaan sendiri akan membantu mengenali diri Anda sendiri. Kesadaran pribadi menjadi kunci penting untuk terbuka pada pengalaman. Pengalaman yang Anda terima dalam kehidupan sehari-hari sesungguhnya berguna bagi peningkatan kualitas kehidupan Anda. Mencerna dan memahami setiap peristiwa dengan baik sehingga Anda tidak perlu mengasingkan diri ketika menghadapi masalah dan merasa kesepian. Justru di saat punya masalah sebaiknya Anda berada di tengah teman-teman atau saudara-saudara Anda. Dukungan mereka akan membangkitkan kepercayaan diri Anda dalam menghadapi masalah.

Sejak kecil saya menyukai bintang. Jika sedih, saya melihat bintang… itu hal pertama yang selalu saya lakukan. Tetapi, semenjak saya mulai membuka diri dan hati pada orang lain, saya menjadi tahu akan satu hal. Bintang itu adalah teman-teman saya sendiri. Seperti bintang di langit, teman-teman saya memberikan warna yang berbeda dalam hidup. Bersama mereka, saya tak pernah merasa sendiri dan kesepian. Meski sekarang saya berada jauh dari teman-teman sekolah, saya tahu mereka tidak pernah meninggalkan saya. Mereka selalu ada untuk saya.

Berada di tempat yang baru tidak lagi menjadi hal yang menakutkan bagi saya. Saya bisa berkenalan dan mempunyai banyak teman baru. Ibarat bintang, teman tak akan pernah meninggalkan kita sendiri. Jika kita tidak melihat bintang, bukan berarti bintang menghilang. Ini hanya masalah waktu saja. Rotasi bumi membuat kita berada di belahan dunia yang lain, tapi kita masih bisa mendapat sinar matahari yang tak kalah ramahnya. Yang pasti, bintang tak pernah pergi. Bintang akan selalu ada untuk kita semua.

Jika Anda merasa sedih, jangan pernah menyendiri. Hal ini akan memperparah keadaan Anda. Seberat apa pun masalah yang Anda alami, bukalah hati Anda untuk menerima hangatnya kasih sayang dari orang lain. Buka hati dan rasakan kehadiran mereka dalam kehidupan Anda. Dengan begitu Anda tidak akan pernah merasa sendiri dan kesepian. Jangan jadi Mr. Lonely dan bilang I Have No Body, seperti yang dibilang Akon. Hidup Anda tidak separah itu. Anda berharga dan istimewa, dan punya banyak teman. Hargailah apa yang Anda miliki sekarang. Hamasah!!![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 2.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Bicara Itu Berlian

sn

Oleh: Sofa Nurdiyanti*

Selesaikan konflik yang ada dengan mulai bicara. Diam saat marah baik, tetapi diam setelahnya dan tak menyelesaikan masalah, justru semakin memperburuk keadaan.

Selama ini, orang tentu akrab pada peribahasa “Diam itu emas”. Tetapi menurut saya bicara itu berlian, terutama setelah Anda marah.

Diam akan jadi emas apabila pembicaraan yang kita lakukan tidak tepat, tidak diperlukan, dan bersifat bohong. Maka, diam adalah pilihan yang tepat. Namun, ada kalanya bicara merupakan langkah konkret yang harus kita lakukan. Istilah kerennya yang sering kita dengar adalah take action. Take action untuk mulai bergerak dan melakukan tindakan.

Bicara itu bukan hanya perlu, tetapi wajib apabila dilakukan di saat yang tepat. Apalagi saat kita berkonflik dan perlu menyelesaikan sebuah masalah, terlebih berhubungan dengan diri kita. Jika kita diam saja, masalah tidak akan selesai dengan sendirinya. Kita perlu mengungkapkan apa yang menjadi permasalahan kita dengan orang lain. Dengan begitu orang lain akan tahu dan tergerak juga untuk menyelesaikannya secara bersama dengan kita.

Ada sebuah pengalaman pribadi yang tidak mengenakkan saat seseorang mengambil sikap diam. Suatu saat saya sedang mengalami masalah dengan sahabat saya, tepatnya saya membuatnya marah. Namun, ia tak pernah mengatakan sesuatu, hanya diam. Dan, tentu saja ini tidak mengenakkan. Semuanya jadi serba salah. Saat saya mencoba bicara dan meminta maaf serta berusaha menyelesaikan masalah pun tak mendapatkan respon. Tabiatnya memang tidak banyak berubah. Jika kami berkonflik pun, dia akan cenderung diam dan membiarkan masalah kami berlarut-larut.

Bagi saya, menyelesaikan masalah merupakan hal yang penting. Jika tidak, saya tidak bisa berfokus pada yang lain. Namun, hal ini menjadi pelik jika kita berhadapan dengan seseorang yang merasa tidak mempunyai masalah, terlebih memilih diam. Jengkel sekali jika mengingat hal itu hehehe.... Tiap orang memang mempunyai cara tersendiri dalam bersikap. Dan, kita tidak bisa menggugat mereka jika kita tidak merasa nyaman. Kitalah yang harus belajar menyeimbangkan ritme dengan mereka, kalau tidak bisa rugi kita hehehe.

Ritme dalam arti cara lain untuk mengatasi masalah dari diri kita, jika kita tidak bisa mengharapkan perubahan sikap dari orang lain. Hal ini dilakukan sebagai salah satu bentuk penyesuaian perilaku dalam lingkungan yang berbeda dengan diri kita. Seseorang idealnya mempunyai ketahanan diri yang baik. Contohnya, seseorang mampu menyeimbangkan idealisme atau harapannya dengan kenyataan. Jika seseorang tidak mempunyai sikap mental yang bagus, maka ketika harapannya tak tercapai, ia akan jadi pribadi yang rapuh dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal inilah yang sering kali menyebabkan seseorang menjadi stres.

Entah kenapa beberapa orang yang saya kenal punya sikap yang sama, memilih diam dan menganggap tidak ada masalah. Bagi mereka, hal itu merupakan langkah yang tepat. Terlebih melihat saya yang mempunyai sikap yang perasa. Ada yang pernah bilang diam lebih baik daripada mereka menyakiti saya saat bicara. Tetapi, saya justru punya pendapat lain. Bagi saya diam adalah hukuman yang paling menyakitkan daripada ungkapan kasar secara verbal. Ini tidak berarti saya suka dimaki atau mendengar perkataan kasar, tidak sama sekali. Justru sebaliknya, saya suka orang yang berkata lembut, ramah, dan memotivasi orang lain. Namun, jika ada masalah, lebih baik dibicarakan daripada didiamkan.

Saya rasa, membicarakan masalah walaupun itu menyakitkan jauh lebih baik daripada diam. Diam tak kan menghasilkan apa pun. Kita tidak akan pernah bisa mengetahui kesalahan kita secara pasti dan belajar memperbaikinya. Mungkin saja pihak lain merasa ada sesuatu yang tidak beres dan semakin bingung jika kita mengambil sikap diam. Sebaliknya, jika orang lain berbicara tentang kesalahan saya, mungkin saya akan merasa tidak enak sesaat, malu sekaligus merasa bersalah. Tetapi setelahnya, saya akan lebih berhati-hati dan menjaga sikap. Karena, saya sudah diberitahu bahwa saya telah melakukan kesalahan.

Mungkin, ada orang yang berpendapat bahwa diam merupakan langkah yang tepat saat marah, saya pun setuju. Tetapi, diam setelah kemarahan mereda dan tidak menyelesaikan permasalahan kita, saya tidak setuju! Kenapa?

Ada banyak hal yang perlu kita pertimbangkan:

1. Diam tak mengubah keadaan. Saat kita memutuskan untuk diam, saat emosi sudah stabil, barangkali tidak berguna. Kenapa? Karena masalah tetap ada, tak beranjak pergi dari kita. Mungkin saja masalah kita tak kan pernah diketahui oleh pihak yang bersangkutan. Kita mungkin berpikir, diam lebih baik dan bersikap mengalah merupakan tindakan terpuji. Namun, hal ini hanya akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak, jika kita tak pandai-pandai menyalurkan kemarahan yang terpendam tadi.

2. Belajar dari kesalahan. Dengan memberitahu apa yang menjadi permasalahan kita, maka kedua belah pihak dapat belajar bersama. Hal ini meminimalisir kita untuk melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari. Dengan begitu, hubungan kedua belah pihak diharapkan dapat berjalan dengan harmonis. Hal ini berbeda jika kita mengambil sikap diam, mungkin saja pihak yang lain tidak menyadari kesalahannya. Dan, hubungan pun akan terasa hambar Karena salah satu pihak merasa dirugikan.

3. Win-win solution. Kedua belah pihak dapat kesepakatan yang saling menguntungkan bagi keduanya. Tentunya, masing-masing pihak harus berbesar hati untuk sedikit mengalah agar tercapai kesepakatan bagi kedua belah pihak. Kesepakatan ini tentunya lebih dihargai dan ditaati oleh kedua belah pihak. Membuat kesepakatan merupakan salah satu langkah konkret penyelesaian masalah.

Tiga hal di atas merupakan pemikiran mendasar bagi saya untuk memilih bicara daripada diam. Mungkin, Anda mempunyai pemikiran yang berbeda daripada saya, sah-sah saja hehehe.... Sekali lagi, setiap orang berhak berpendapat dan utarakanlah pendapat Anda kepada orang lain. Tidak ada yang salah selama kita berani mempertanggungjawabkannya.

Apalagi di zaman sekarang semua orang bebas berpendapat, selama tidak melanggar hak-hak orang lain. Kita juga tidak perlu takut akan kritik dari orang lain. Dan jika kita masih diam, menyimpan masalah sendiri, alangkah ruginya kita. Tak akan ada perbaikan berarti di kemudian hari. Setiap masalah merupakan tantangan dalam hidup seseorang. Kita akan belajar tentang satu hal (penyelesaian masalah) sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan kita.

Ada pula yang beranggapan, semestinya dengan bertambah umur kita harus menyadari kesalahan yang dibuat dan melakukan refleksi terhadapnya. Tetapi, saya rasa ini tidak bisa berlaku bagi semua orang. Dibutuhkan kepekaan dan kesadaran yang tinggi agar seseorang bisa menyadari kesalahannya. Dan, satu-satunya cara untuk menyikapi permasalahan dengan bijak adalah membicarakannya secara langsung dengan pihak yang bersangkutan. Dengan demikian akan diperoleh sudut pandang yang berbeda. Bisa jadi menurut orang lain hal itu bukan kesalahan karena ia belum mengetahui apa yang seharusnya dilakukan. Dan, ketika hal ini dibicarakan bersama, semuanya akan terasa jauh lebih mudah. Kesalahan maupun kesalahpahaman dapat dijernihkan kembali dengan bicara. Bicara itu berlian, setujukah Anda? Hamasah!!![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.4/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +7 (from 7 votes)

Mau Sukses Dapat Pekerjaan Ideal? Ini Panduannya!

sn

Oleh: Sofa Nurdiyanti*

Setiap orang tentunya ingin mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan harapan mereka. Tak jarang, hal ini menjadikan persaingan di dunia kerja semakin kompeititif. Setiap orang berusaha menjadi yang terbaik. Berbagai cara pun ditempuh guna mendapatkan pekerjaan. Bagi kalangan yang berada, kuliah di perguruan tinggi ternama, menjadi lulusan terbaik, punya segudang prestasi dengan harapan mudah mendapatkan pekerjaan. Mempunyai pekerjaan sebelum lulus kuliah tentunya menjadi harapan setiap mahasiswa.

Pertanyaannya, bagaimana dengan mahasiswa yang setelah wisuda belum mendapatkan pekerjaan? Persaingan menjadi semakin berat, mengingat fresh graduate belum mempunyai pengalaman terjun di dunia kerja. Terkecuali mahasiswa telah magang di perusahaan tertentu, yang tentunya mempermudah aplikasi ilmu mereka ke dalam dunia kerja.

Kurangnya pengalaman kerja sering kali membuat mahasiswa mengalami disorientasi akan masa depan mereka. Merasa gamang karena belum mendapatkan gambaran dunia kerja yang akan mereka jalani. Hal ini semakin mempersulit ruang gerak bagi mereka yang belum mempunyai rencana. Alhasil, para fresh graduate cenderung sembarangan dan kurang spesifik dalam melamar pekerjaan. Lamaran pun akhirnya tidak diterima karena tidak sesuai dengan syarat yang dibutuhkan. Sehingga, muncullah anggapan bahwa mendapatkan pekerjaan itu sulit.

Di buku ini, Awan Santosa menjabarkan rahasia dan tip-tip ampuh supaya lamaran kerja kita diterima. Apalagi sang penulis merupakan “orang dalam” (baca: HRD), yang jelas mempunyai pengalaman di bidangnya. Buku ini berisi 12 bab yang mengulas seputar dunia kerja, terutama cara melamar pekerjaan dan seleksi kerja.

Pada Bab 1, penulis memberikan pandangan yang bertolak belakang dengan opini masa sekarang, “Kalau masih bisa kerja, ngapain wirausaha?” Judul babnya cukup mengena dan membuat kita ingin tahu lebih lanjut mengenai argumen si penulis. Memang, saat ini banyak terdengar anjuran untuk berwirausaha daripada bekerja pada orang lain. Di sini pembaca akan diberikan analisis rasional mengenai pentingnya bekerja pada orang lain sebelum mendirikan wirausaha. Pengalaman kerja, relasi, dan modal akan membantu dalam berwirausaha.

Selain itu, diberikan pula kiat-kiat supaya kita mendapatkan tawaran kerja dengan cepat, yaitu dengan membuat daftar relasi. Sebuah hal yang mungkin belum kita sadari, betapa besarnya potensi dari sebuah relasi yang kita bangun selama ini. sekali lagi, relasi merupakan modal utama, sebagai rahasia dalam mendapatkan pekerjaan.

Setelah bekerja pun, bukan berarti usaha kita berhenti begitu saja. Kita perlu mencari pengalaman lain dengan pindah perusahaan. Pindah bekerja pun harus dilakukan dengan syarat, saat karier kita berada di puncak. Artinya, kita bisa meninggalkan jejak yang baik bagi perusahaan. Pindah kerja saat dipromosikan memang hal yang aneh bagi sebagian orang. Tetapi jika kita sudah punya mindset tentang tujuan akhir kita, maka hal itu tak menjadi masalah. Karena kita tahu, apa yang ingin dan akan kita raih selanjutnya melampui apa yang kita raih sekarang.

Kelebihan dari buku ini adalah pembaca diberi rahasia dan kunci sukses untuk mempersiapkan lamaran hingga proses seleksi yang terakhir. Semuanya diceritakan dengan bahasa yang sederhana dan jelas. Proses wawancara yang selama ini menjadi momok bagi pelamar kerja juga dikupas dengan tuntas. Sehingga, kita mempunyai gambaran lengkap mengenai proses seleksi kerja dan cara menyiasatinya.

Kelemahan dari buku ini menurut saya hampir tidak ada. Hanya saja, judul yang diberikan kurang sesuai dengan isi buku itu sendiri. Secara umum, buku ini tidak mewakili bagaimana cara mendapatkan karier idaman dalam sepekan. Dalam bab terakhir, memang berjudul, “Sepekan menuju karier idaman”. Namun, tetap saja tidak dijelaskan, langkah praktis yang harus dilakukan dalam sepekan. Selain itu, setiap bab terdapat beberapa subbab yang kurang tergarap dengan baik sehingga memunculkan kesan kurang tertata rapi dan terkesan terpisah dari bab utama.

Terlepas dari kelemahan yang ada, buku ini tetap layak dibaca semua orang. Terutama calon pekerja supaya tidak mengalami disorientasi dan beranggapan bahwa mencari pekerjaan itu sulit. Karena sesungguhnya, lapangan pekerjaan itu banyak dan tinggal kita sendiri, apakah mampu memenuhi kualifikasi kerja tersebut atau tidak. Baca dan praktikkan kiat-kiatnya supaya Anda mendapatkan karier idaman Anda. Good luck!![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

bk-awan

DATA BUKU

Judul : Mendapatkan Karir Idaman Dalam Sepekan

Oleh : Awan Santosa

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009

ISBN : 978-979-22-4640-7

Tebal : 144 + xxii halaman

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.2/10 (9 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 4 votes)

Menulislah dengan Sepenuh Jiwa

sn1Oleh: Sofa Nurdiyanti*

Ada banyak alasan mengapa seseorang bisa tersihir oleh sebuah kalimat dari buku, nasihat orang lain maupun dari pidato yang menggugah… Dan, satu-satunya alasan masuk akal yang dapat saya pikirkan saat ini adalah karena setiap kata mempunyai jiwa…

“Setiap kata mempunyai jiwa” merupakan sebuah kalimat yang saya baca dari sebuah buku tentang penulisan diksi dan gaya bahasa. “Layaknya manusia, setiap kata mempunyai jiwa.” Saya sempat termenung saat membaca kalimat ini. Saya merasa kalimat ini penuh inspirasi. Saya pun merasa mendapat jawaban yang tepat atas pertanyaan mengapa sampai ada begitu banyak orang tergugah dan berubah karena sebuah buku.

Susunan kata yang terangkai dalam sebuah kalimat—jika disusun dengan bahasa yang mudah dimengerti, diberi semangat, dan disuntikkan energi positif—saya rasa akan memiliki jiwa yang utuh, layaknya manusia. Itu bisa kita lihat contohnya dalam buku-buku fenomenal saat ini, seperti The Secret, La Tahzan, novel Ayat-ayat Cinta, dan buku-buku pengembangan diri lainnya yang menjadi bestseller.

Salah satu penulis yang saya sukai sedari saya kecil adalah Dale Carniege. Saya tidak pernah bosan membaca bukunya yang cukup tebal itu. Saya merasa bukan lagi membaca, tetapi seolah Dale Carniege sendiri yang menuturkan isi bukunya kepada saya. Gaya bahasa dan penuturannya yang khas membuat saya merasa mengenal dirinya dan mampu merasakan semangat yang ada pada setiap kalimatnya. Kata-katanya mempunyai jiwa yang mampu saya rasakan, walaupun hanya lewat tulisan sederhana. Saya merasa berdialog dengan Dale Carnegie sendiri.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang kiat menulis, bahwa rahasia penulis bestseller adalah tetap berlatih menulis setiap hari dan selalu meluangkan waktu khusus untuk menulis. Penulis yang sudah terkenal sekalipun melakukan hal tersebut. Mengapa? Apalagi jika bukan untuk melatih tulisan supaya semakin berbobot dan tetap eksis di dunia kepenulisan. Mereka menulis dan terus menulis, selama bertahun-tahun, tanpa mengenal rasa bosan. Aktivitas itulah yang kemudian mampu menghadirkan ”jiwa” pada setiap tulisan mereka. Tulisan mereka dinanti, diikuti, dan mampu mengubah hidup jutaan manusia.

Soal seruan menekuni aktivitas menulis ini, kadang memang sangat bertentangan dengan banyaknya alasan yang dikemukakan oleh orang yang enggan menulis. Segudang alasan itu dijadikan sebagai benteng yang kokoh untuk membuktikan betapa tidak mampunya seseorang itu dalam menulis. Ini membuat saya geli sendiri hehehe… Sesungguhnya, kita sudah belajar menulis selama bertahun-tahun. Bahkan, hampir sepertiga umur manusia rata-rata dilibatkan dalam kegiatan tulis-menulis. Sejak kecil dan masuk sekolah dasar, kita sudah belajar menulis dan membaca. Menulis dari hal yang sederhana “Ini Budi” sampai kemudian mulai merangkai cerita singkat tentang pengalaman berlibur di rumah nenek, dst.

Kita belajar menuliskan berbagai teori dan pelajaran yang diterima di sekolah. Kita juga belajar menulis dan merangkai jawaban untuk setiap ujian yang kita tempuh. Kita membaca, menulis, dan berpikir selama bertahun-tahun. Alhasil, kemampuan kita dalam menulis meningkat seiring dengan banyaknya kosa kata yang kita kenal serta ilmu yang kita miliki.

Sungguh itu semua merupakan pengalaman yang luar biasa. Kita terus menulis selama bertahun-tahun. Namun kemudian, mengapa kita menjadi antipati ketika diminta menulis? Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana kita bisa mengklaim diri sendiri tidak mampu menulis setelah bertahun-tahun “bersahabat erat” dengan aktivitas menulis?

Menurut saya, kita tidak perlu mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk belajar menulis. Karena, kita sudah belajar menulis selama bertahun-tahun. Saya tidak sedang membujuk Anda untuk tidak kursus menulis secara profesional karena saat ini memang banyak kita temukan berbagai program pelatihan menulis. Anda tentu boleh melakukannya, karena itu hak Anda. Namun, jika ada sarana belajar gratis, mengapa tidak Anda lakukan?

Tiket yang perlu Anda keluarkan hanya satu: Ketekunan berlatih dan terus berlatih menulis. Saya rasa, kursus menulis yang Anda ikuti saat ini pun akan menjadi tidak berarti jika Anda berhenti berlatih menulis.

Setiap orang bukan mustahil untuk membuat kalimat yang memiliki jiwa. Apa pun pesan yang ingin Anda sampaikan dalam bentuk kalimat, tuliskanlah segera. Jangan khawatir pesan itu terasa belum sempurna. Melatih diri sendiri dengan tekun, belajar, dan mendengarkan pandangan orang lain adalah sarana belajar untuk menyempurnakan kalimat-kalimat tersebut.

Setiap ide adalah harta tak ternilai bagi kita semua. Semua ide bisa menjadi brilian jika kita mampu menerjemahkan ide mentah tersebut dalam rangkaian kata yang jelas. Ide brilian pun tidak akan berguna jika menguap begitu saja alias tidak tersampaikan kepada orang lain.

Banyak sekali keajaiban yang akan muncul jika setiap orang mau menuliskan idenya. Ahli akuntan menulis tentang terobosan dalam bidang akuntansi; direktur menuliskan pengalamannya memimpin perusahaan selama beberapa dekade; petani menuliskan pengalaman bertaninya, psikolog berbagi penyelesaian masalah masyarakat; guru berbagi pengalaman mengajar yang efektif; bahkan mahasiswa indekos menuliskan segala pernak-pernik kehidupan anak kos. Semua ide yang dituliskan itu bisa punya pengaruh atau bahkan menjadi kajian baru di bidang masing-masing.

Tidak peduli kemampuan menulis Anda saat ini sampai di mana, pokoknya beranikan diri untuk segera menulis. Ciptakan jejak kehidupan Anda lewat karya tulis. Tidak peduli pokok pikiran Anda terkesan kacau dan belum tersusun dengan baik. Saya sarankan sekali lagi, segera menulis sekarang! Latihan secara intensif akan sangat membantu Anda dalam menuangkan gagasan. Karena, jiwa Anda akan masuk dalam setiap kata-kata yang Anda buat. Pembaca tidak akan pernah bosan pada setiap tulisan Anda. Mereka akan menunggu dan mampu menyelami pesan Anda dengan sangat baik.

Berikanlah jiwa Anda pada setiap kata yang hendak Anda tulis. Berikanlah segenap kemampuan Anda dalam setiap tulisan yang Anda buat. Berikan terbaik yang bisa Anda lakukan dalam tulisan atau pesan yang Anda sampaikan. Setiap kata memiliki jiwa, ingatlah hal itu. Tanamkan di benak Anda dengan kuat, bahwa pesan yang Anda buat akan dimengerti oleh pembaca. Pesan Anda memiliki jiwa, yang tentu saja akan terbaca oleh jiwa-jiwa yang lainnya.

Apa pun profesi Anda saat ini, menulislah! Karena, karya Anda mungkin saja akan membawa banyak perubahan berarti bagi kita semua. Seperti ungkapan salah satu penulis yang saya kagumi, Muhammad Fauzhil Adhim, “Sungguh sebuah buku dapat mengubah dunia.” Setiap orang mampu menulis. Latihlah kemampuan Anda dalam menulis sampai tulisan Anda mempunyai jiwa. Jiwa yang mampu terbaca oleh jiwa lainnya. Selamat melatih kemampuan Anda dalam menulis dan temukan keajaiban yang tercipta berkat tulisan Anda. Hamasah![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 5 votes)

Tak Sekadar Memaafkan

snOleh: Sofa Nurdiyanti*

Mungkin ada di antara kita yang mendengar, “Duh, sulitnya memaafkan orang lain….” Memaafkan orang lain memang penting, tetapi itu belum cukup. Mengapa begitu? Simak ulasan berikut ini.

Suatu ketika, tiba-tiba handphone saya bergetar. Ada pesan singkat yang masuk, tertera nama seorang teman SMA. Langsung saya baca sebuah pesan yang membuat saya berhenti sejenak dari kegiatan saya membaca buku terbaru milik kakak saya. Isi pesan tersebut sebagai berikut, “Mungkin di dunia ini enggak ada orang yang masuk neraka jika setelah seseorang melakukan kesalahan dia langsung minta maaf. Tetapi menurutku, kita berhak enggak memaafkan kesalahan seseorang karena mungkin kesalahan itu enggak termaafkan. Kamu setuju, enggak?”

Langsung saja saya balas dengan jawaban, “Enggak!”

Lalu, teman saya pun bertanya, “Kenapa? Kasih alasan, dong!”

Sejenak saya berpikir dan berusaha menuliskan jawaban yang pas untuk pertanyaannya. Lalu saya balas, “Karena aku bukan Allah yang tahu segalanya. Aku enggak boleh sombong dengan bilang kesalahannya enggak termaafkan, karena bisa jadi dia melakukan itu karena terpaksa. Enggak sadar sudah menyakiti orang lain. Kita bukan nabi yang bersifat maksum (bersih dari dosa). Tetapi, kita diberi akal oleh Allah buat berpikir dan bisa memaafkan orang lain. Bisa jadi suatu saat kita membuat kesalahan fatal di mata orang lain dan menyesal. Dan, satu-satunya cara mengurangi rasa bersalah adalah diberi maaf.”

Pesan itu pun saya kirim, lega rasanya setelah memikirkan jawaban untuk teman saya.

Sejenak saya berpikir, “Wuih… panjang juga ya, balesanku hehehe….” Saya baca lagi pesan itu, berulang kali sehingga memunculkan pertanyaan yang cukup menyentak dan menuntut kejujuran diri sendiri: “Apa benar aku sudah melakukan hal itu?”

Memberi nasihat pada seorang teman tentang memaafkan memanglah mudah. Tetapi, melakukan apa yang kita nasihatkan itulah bagian pentingnya. Sudah dilakukan belum? “Ayo jawab jujur!” suara hati saya ikut berdemo hehehe….

Saya pun melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Saya termasuk orang yang tidak suka berkonflik dengan orang lain. Saya berusaha menghindari konflik dengan menjaga sikap saya terhadap orang lain. Hal itu saya lakukan dengan berusaha mengalah pada orang lain. Marah atau dimarahi orang lain menurut saya bukanlah hal yang menyenangkan hehehe…. Walaupun begitu, tetap saja saya bersinggungan dengan konflik, baik dengan keluarga atau teman. Jelas saja, hidup di dunia ini memang tidak lepas dari masalah. Jika tidak diselesaikan dengan hati-hati bisa menimbulkan konflik dengan orang lain. Akibatnya, hubungan kita dengan mereka pun menjadi renggang, apalagi jika kata maaf sulit dikatakan.

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita tidak lepas dari masalah. Masalah-masalah yang tak terselesaikan tak jarang berujung pada konflik. Konflik yang ada jelas membuat kita tak nyaman dan mengganjal di hati. Sebenarnya, jalan penyelesaian konflik tersebut akan lebih mudah jika kita mau memaafkan orang lain. Tetapi, memaafkan orang lain pun tidak cukup. Paling penting yang harus kita lakukan terlebih dahulu adalah memaafkan diri sendiri.

Ya, memaafkan diri sendirilah yang harus kita lakukan. Sesungguhnya, akar permasalahan yang membelit diri kita adalah karena kita tidak mau mengakui kesalahan diri sendiri. Dengan memaafkan diri sendiri, kita akan mudah menerima kenyataan dan tidak terus-menerus menyesali keadaan yang ada. Menyesal memang perlu supaya kita sadar dan bisa mengoreksi kesalahan kita. Hanya saja, itu akan menjadi sia-sia jika penyesalan kita tak berkesudahan. Cukup sekali saja sebagai peringatan. Semakin kita menyesali keadaan yang ada, semakin bertambah berat pula masalah yang kita hadapi. Segera berbenah untuk mencari solusi atas permasalahan yang ada.

Jika sudah bisa memaafkan diri sendiri, langkah kedua yang perlu kita tempuh adalah memaafkan orang lain. Memaafkan orang lain mungkin sulit dilakukan. Perlu kebesaran hati dan kemauan yang kuat untuk melakukannya. Mungkin sulit pada awalnya, namun jika dibiasakan akan terasa mudah dan membuat hati menjadi lebih nyaman tentunya.

Saya sendiri pada awalnya juga sulit memaafkan orang lain. Jika marah pun saya diam dan menyimpan amarah tersebut dalam hati. Namun, dampaknya ternyata buruk bagi jiwa saya. Tindakan me-repress masalah yang tak terselesaikan itu ternyata tidak tepat. Ketika bermasalah dengan salah seorang saudara saya, amarah saya meledak dan menjadi konflik berkenpanjangan. Sungguh tidak mengenakkan dan membuat pikiran saya tidak fokus pada setiap apa yang saya kerjakan, termasuk kuliah.

Lalu, saya pun mencoba mempraktikkan nasihat seorang dosen yang menyarankan agar para mahasiswanya membiasakan diri “membersihkan sampah” yang ada dalam hati. Membersihkan sampah di sini artinya membuang emosi-emosi negatif dalam diri kita. Lalu, penuhilah diri kita ini dengan energi positif, sehingga kita akan jauh lebih nyaman dan bahagia. Misalnya, saat kita mendengarkan orang lain curhat dan kemudian kita berempati atas apa yang terjadi padanya. Hendaknya kita membuang perasaan-perasaan dan emosi negatif yang tadinya ada di hati kita. Karena dengan begitu, kita tidak akan terpengaruh oleh suasana hati yang tidak mengenakkan tersebut.

Aktivitas “membersihkan sampah” ini akan sangat membantu kita dalam menganalisis permasalahan yang ada. Kita dapat berpikir lebih jernih dan objektif. Dan pastinya, kita akan dapat mudah memaafkan orang lain.

Sejak mengenal nasihat dosen saya itu, saya berusaha menyelesaikan konflik dengan cara belajar memaafkan orang lain. Lama-kelamaan, saya pun menikmati aktivitas “membuang sampah” itu dengan memaafkan orang lain, dan kemudian membuat sebuah prinsip seperti yang saya tulis di awal artikel ini.

Jadi, jika suara hati saya berdemo dan menuntut jawaban, “Sudahkan aku memaafkan orang lain?” Saya dengan bangga menjawab, “Sudah dong hehehe….” Ya, walaupun terkadang hati masih bandel jika disuruh minta maaf dan memaafkan orang lain, tetapi saya berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan masalah dengan “membuang sampah”.

Saya kira, apabila ada orang yang berbuat salah dan meminta maaf kepada kita, maka sudah selayaknya diberi maaf. Karena, satu-satunya cara mengurangi rasa bersalah pada diri sendiri atau orang lain adalah dengan diberi maaf. Ketika kita menerima maaf dari orang lain, tentunya akan sangat membahagiakan kita. Hubungan kita dengan orang lain pun dapat djalin kembali. Dan, kita belajar satu hal, yaitu lebih berhati-hati dalam bersikap pada orang lain. Jangan sampai menimbulkan konflik baru. Karena, jika hal itu terjadi lagi dan kita tidak diberi maaf, tentu akan sangat menyusahkan kita, bukan?

Memaafkan orang lain adalah suatu bentuk kebaikan yang sudah selayaknya kita lakukan. Mari ber-fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) dalam meraih cinta Allah dan makhluknya. Jika kita sudah berusaha mencintai Allah dan makhluknya dengan langkah yang sederhana—memberi maaf—saya rasa kita pun pantas mendapat cinta Allah dan makhluknya. Ayo, siapa mau berlomba dalam kebaikan dengan memberi maaf? Andakah orangnya?[sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.1/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

Menulis Buku Bestseller? Anda Juga Bisa!

sofa-nurdiyanti-r

Oleh: Sofa Nurdiyanti*

Pernahkah terpikirkan oleh Anda untuk menulis sebuah buku bestseller? Saya rasa setiap orang yang berminat dan menekuni dunia penulisan buku tentulah menginginkan membuat sebuah buku yang bestseller!!! Tetapi, bagaimana caranya? Selama ini ada pandangan, buku bestseller seakan menjadi ‘hak milik’ penulis terkenal saja. Karena, para penulis terkenal tersebut sudah mempunyai ilmu yang mumpuni dalam meracik sebuah buku. Yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana dengan penulis pemula yang ingin menghasilkan karya perdana yang bestseller?

Buku Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller Edisi Revisi (Fivestar, 2008) yang ditulis oleh Edy Zaqeus benar-benar mengungkapkan cara membuat sebuah buku yang bestseller, secara gamblang dan mudah dicerna bagi siapa saja yang membacanya. Dengan membaca buku ini, Anda akan terstimulus untuk melahirkan sebuah buku masterpiece yang bestseller.

Buku yang berkaitan dengan menulis sudah banyak diterbitkan. Banyak sekali ragamnya, mulai dari cara menulis buku yang baik, mengarang yang mudah, menulis buku fiksi, menulis skenario, editing, menyusun paragraf yang baik, dan sebagainya. Namun, buku yang mengungkap cara menullis buku bestseller saya rasa, baru Edy Zaqeus yang menulisnya. Penulis delapan buku dan empat di antaranya bestseller ini dengan cerdas mengungkap dan merangkumnya dalam buku Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller ini (selanjutnya disingkat RCMBB).

Buku RCMBB Edisi Perdana (format pocket book) saja mampu menggerakkan hati banyak orang untuk membuat buku, dan terbukti buku mereka pun sebagian di antaranya menjadi bestseller. Beberapa testimoni yang terpilih sebagai pemenang dalam lomba memberikan testimoni atas buku RCMBB perdana memberikan bukti dari keampuhan buku ini. Dan ternyata, kebanyakan dari mereka ini adalah penulis yang lahir atau berhasil menerbitkan buku perdananya setelah membaca buku RCMBB edisi murah meriah tersebut.

Untuk edisi revisi kali ini, penulisnya menambahkan sebelas bab baru, di antaranya Bersiasat dengan Tema Bestseller; Menghindari Kelemahan Buku Kumpulan Tulisan; Melengkapi dan Merapikan Naskah; Bagaimana Mendapatkan Endorsement; Bagaimana Menembus Penerbit; Delapan Langkah Membuat Penerbitan Mandiri; Dari Fast Book Menjadi Masterpiece; Menjadi Penulis Buku Ber-Mindset Penjual; Strategi Promosi Buku Bestseller; Mem-branding Diri dengan Buku; dan Lima Kebiasaan Produktif Penulis Bestseller. Bab-bab terbaru ini semakin melengkapi edisi perdana dan tampaknya akan semakin memudahkan kita dalam mencerna maupun mewujudkan sebuah buku bestseller.

Memang, ada anggapan bahwa menulis sebuah buku saja sudah merupakan sebuah kesuksesan bagi seseorang. Jarang ada sebuah pemikiran bagaimana menjadikan sebuah karya tersebut bestseller dengan terencana. Setiap kesuksesan mempunyai kunci sukses, demikian juga dengan pembuatan buku bestseller. Kunci sukses membuat buku bestseller dapat dipelajari oleh setiap orang, karena tidak ada kesulitan dalam mengaplikasikan semua kiat yang sudah terangkum dalam RCMBB ini.

Edy Zaqeus menyatakan demikian, “Melahirkan buku tak ubahnya melahirkan seorang ‘anak’. Sukses kita diawali oleh keberhasilan kita dalam melahirkan anak tersebut. Selanjutnya, supaya masa depannya sukses, berikan dia makanan yang bergizi serta pakaian, perawatan, perhatian, pendidikan, dan lingkungan terbaik. Jadi, jangan sia-siakan dia. Jangan biarkan dia tumbuh liar dan tanpa masa depan yang pasti. Dengan melahirkan sebuah karya bestseller maka segala usaha yang telah dikeluarkan untuk membuat sebuah buku itu rasanya tidak akan terbuang percuma.

Membuat buku menjadi bestseller merupakan ide yang tampaknya jarang dipikirkan oleh sebagian penulis. Bestseller atau tidaknya sebuah buku biasanya diserahkan pada pasar yang menilai. Jika buku tersebut bagus, biasanya publiklah yang membaca, membeli, dan menentukan apakah buku tersebut menjadi buku bestseller atau tidak. Padahal, buku apa pun sebenarnya bisa dipersiapkan sebaik mungkin agar menjadi bestseller.

Itu sebabnya, kadang membuat buku menjadi bestseller seakan-akan jadi rahasia ‘mahal’ yang jarang diketahui oleh para penulis kebanyakan, bahkan yang terkenal sekalipun. Namun, dalam buku RCMBB ini Edy Zaqeus memberikan berbagai ide menarik atau pencerahan. Dan, mungkin ide-ide atau pencerahan itu tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Dari RCMBB ini kita akan diyakinkan bahwa bestseller-nya sebuah buku itu semata tidak tergantung pada pasar (pembaca), tetapi juga bisa kita ciptakan, rencanakan, dan rancang sedemikian rupa sepanjang proses penulisan buku kita.

Membaca buku RCMBB akan membuat kita merasa seperti dituntun oleh penulis secara langsung. Step by step pembuatan buku dijelaskan secara gamblang dengan penuturan yang mengalir dan tidak membosankan. Dalam RCMBB ini juga disertakan data-data penjualan buku bestseller lainnya, contohnya buku ESQ-nya Ary Ginanjar yang terjual lebih dari 455.000 eksemplar hingga tahun 2007 lalu. Sebuah angka yang fantastis, yang selain memberikan keuntungan finansial tentunya rasa bangga dan nilai aktualisasi diri yang pastinya terpenuhi. Dengan membaca berbagai kisah sukses penulis bestseller di bidang nonfiksi di sini, mungkin kita bisa mengetahui potensi sebuah buku bestseller. Dari kasus buku ESQ ini juga kita seperti disadarkan akan potensi atau kekuatan buku sebagai penopang kesuksesan kiprah seorang trainer atau public speaker.

RCMBB mengupas secara detail unsur-unsur yang diperlukan oleh seorang penulis supaya dapat melahirkan buku bestseller. Buku ini disusun berdasarkan pengalaman penulisnya sendiri dalam menerbitkan beberapa buku bestseller serta pengalaman para narasumber yang pernha diwawancarai. Bab-babnya pun disusun dalam rangkaian yang runut dan tidak meloncat-loncat idenya, antara satu pemikiran dengan yang lainnya. Memang, seperti dikatakan oleh penulisnya dalam Pendahuluan, buku ini memang lebih menonjolkan kiat-kiat praktis ketimbang uraian-uraian teoritis. Buku ini juga lebih ditujukan untuk memotivasi, menguatkan, dan menggerakkan agar setiap orang segera berani menulis buku.

Kelemahan buku ini menurut saya—kalau bisa dibilang sebagai kelemahan—terletak pada contoh-contoh pemaparan penjelasan setiap bab. Sebagai contoh, pada bab Menggali dengan Teknik Wawancara hanya dipaparkan sejumlah teknik wawancara yang menurut penulisnya bagus untuk digunakan. Namun, penulisnya tidak diberi contoh hasil dari teknik wawancaranya tersebut dalam bentuk lampiran atau kutipan wawancara dengan seorang narasumber. Padahal, salah satu basis penyusunan buku ini adalah wawancara dengan sekian banyak penulis sukses. Namun, karena dijelaskan di awal oleh penulisnya bahwa buku ini tidak bersifat teoritis dan lebih memotivasi sifatnya, kelemahan ini relatif masih dapat dimaklumi.

Bagi saya, akan lebih baik kalau buku ini memberikan penambahan contoh dan teori-teori penulisan pada bab-babnya sehingga pembaca bisa belajar lebih banyak mengenai teori menulis. Dengan demikian, kita bisa membuat gambaran secara utuh, baik dari segi kiat praktisnya maupun teorinya. Dengan begitu kita akan lebih lancar dalam membuat sebuah buku dan tidak kesulitan dalam mencari referensi teori menulis. Walau dugaan saya, posisi tidak memasukkan banyak teori itu mungkin sengaja diambil oleh penulis buku ini mengingat di pasaran telah beredar banyak buku yang mengupas berbagai teori dalam menulis, namun kurang dalam memberikan contoh-contoh praktis berbasis pengalaman.

Buat penulis ataupun pecinta buku yang mempunyai hobi membaca, buku ini sebaiknya kita baca. Kita akan semakin paham dan terdorong untuk meningkatkan kualitas buku kita, sekaligus memperbesar peluang menjadikannya bestseller. Sedangkan bagi para pecinta buku yang hobi membaca, mari kita bebaskan ide kita dengan mulai menulis dan tidak sekadar membaca buku saja. Karena, menurut Edy Zaqeus ternyata membuat buku bestseller itu tidaklah sulit. Yang jelas, setelah membaca buku ini, saya tersadar bahwa menulis buku bestseller dapat dilakukan oleh semua orang. Menulis buku bestseller? Rasanya Anda dan saya juga bisa![sn]

resep-cespleng-menulis-bukuDATA BUKU

Judul: Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller  Edisi Revisi

Penulis: Edy Zaqeus

Penerbit: Fivestar Publishing, 2008

Tebal: xxvi + 230 halaman

ISBN: 978-979-15887-1-3

Harga: Rp 50.000,00

Ctt: Pesan langsung dengan tandatangan dan ucapan khusus dari penulisnya hubungi 021-59400515/08159912074, atau pos-el: penerbitfivestar[at]gmail[dot]com atau edzaqeus[at]gmail[dot]com.

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.3/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 5 votes)

Menulis di Mata Orang yang Benci Menulis

Sofa NurdiyantiOleh: Sofa Nurdiyanti*

Pernah dengar, kalau ada orang yang mengaku benci menulis?

Pernah mengalami perasaan seperti itu?

Sebenarnya bagaimana sih kalau kita mengalami hal seperti itu?

Definisi benci bagi tiap orang tentu berbeda, bukan? Relatif!!! Ini adalah kata yang sering digunakan orang jika sudah bingung dan enggak menemukan persamaan ide terhadap sebuah konsep tertentu. Sekarang, saya enggak bakal mempersoalkan definisi benci yang mempunyai arti berbeda bagi setiap orang. Benci, menurut saya adalah tidak suka dan sangat ingin dihindari. Ini merupakan definisi yang lugas dan dimengerti oleh banyak orang, bukan?

Jika dikaitkan antara benci dengan menulis, maka dapat ditebak bahwa jawabannya adalah rasa tidak suka seseorang terhadap aktivitas menulis. Semua hal yang terkait dengan menulis tentunya akan membuat seseorang tersebut “tersiksa”, terutama ketika dia harus menuliskan sesuatu. Jangankan menulis sebuah artikel, menulis tentang apa yang dirasakannya dalam satu kurun waktu tertentu atau episodic memory, tentunya akan sangat membuatnya tertekan.

Ibarat sebuah rumah maka fondasi rumah tersebut adalah kemauan dan kecintaan yang besar terhadap dunia menulis. Sementara, tiangnya adalah kesungguhan untuk terus mau berusaha dan belajar menulis. Sedangkan atapnya adalah kreativitas yang tak terbatas, dengan pintu untuk selalu up to date terhadap ilmu pengetahuan, dan jendelanya adalah kelapangan hati untuk selalu menerima kritik dan saran dari orang lain. Bukan demi interdependensi, tetapi lebih kepada pembangunan gagasan dan konsep kita dalam menulis.

Jika untuk berada pada tahap fondasinya saja, yaitu kemauan dan kecintaan yang besar untuk menulis, tidak terbangun dengan baik, maka seseorang tidak akan mampu melangkah ke tahap berikutnya. Tahap di mana ia dapat mengembangkan ide-ide dan membangun komunikasi dengan orang lain lewat tulisannya. Ia akan terus terkungkung dalam ketidaksadaran yang ia ciptakan sendiri, bahwa menulis bukanlah hal yang menyenangkan baginya.

Jika terus dipelihara, perasaan tidak bisa inilah yang membahayakan. Akan tumbuh sebuah kesadaran yang muncul dari dalam diri kita sendiri, bahwa kita tidak bisa menulis. Hal ini terjadi karena otak terstimulasi untuk terus menyimpan informasi bahwa kita tidak bisa menulis. Memory inilah yang natinya akan membuat kita merasa benar-benar yakin bahwa kita tidak bisa menulis, sekaligus mematahkan seluruh potensi yang ada.

Nah, jadi penasaran, kan? Sebenarnya, apa sih yang membuat seseorang itu benci menulis? Alasan klasik seperti malas, cepat bosan jika idenya macet, enggak bisa nulis, ribet, adalah beberapa alasan yang dikemukakan oleh orang yang mengaku dirinya benci menulis.

Sedangkan beberapa masalah teknis dalam menulis seperti merangkai kata dalam kalimat, pemilihan tema, penyampaian gagasan dalam satu kalimatapalagi harus menyusun sebuah kalimat dalam sebuah paragraf yang harus mempunyai ikatan yang bernama koherensitentunya akan semakin menambah rasa malas dan benci yang menjadi-jadi.

Hal ini terjadi pada orang yang tidak mempunyai niat maupun minat terhadap hal-hal yang “berbau” kepenulisan. Maka, tidaklah mengherankan jika oleh sebagian besar orang, menulis merupakan sebuah rutinitas yang dihindari, diasingkan, dianggap ribet, dan dianggap harus punya kemampuan intelektual tertentu.

Tidak salah memang, tetapi benarkah demikian? Kaitan antara kebencian seseorang terhadap menulis tentunya berdasarkan hal-hal tertentu yang relatif bagi setiap orang. Ada yang benci menulis karena tidak suka dengan struktur bahasa yang harus dipelajari dan diterapkan dalam suatu tulisan. Terkadang, pemilihan sebuah tema dan kata dalam penyampaian suatu ide bisa menjebak si penulis ‘yang benci menulis’ tadi untuk menuliskan sebuah ide, tetapi mempunyai penafisiran yang berbeda ketika dibaca oleh orang lain. Hal ini bisa saja terjadi pada setiap orang. Karena, mungkin saja ia kurang bisa mengomunikasikan idenya secara jelas pada orang lain. Namun, bisa juga hal ini terjadi karena kurangnya latihan dalam menulis.

Seperti bidang yang lain, menulis tidak lagi hanya membutuhkan bakat tetapi juga latihan yang rutin. Perasaan tidak suka ini akan terus berkembang jika kita selalu negative thinking dan enggan untuk mulai belajar menyukainya. Seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang“ demikian pula dengan menulis. Kita perlu menumbuhkan rasa suka pada dunia tulis-menulis sehingga kita dapat melakukan segala sesuatunya dengan lebih mudah.

Perasaan positive thinking perlu dikembangkan karena hal ini akan mampu menumbuhkan semangat individu dalam menulis. Proses menumbuhkan perasaan suka dalam dunia menulis dapat dilakukan dengan membaca artikel atau cerita yang berhubungan dengan minat kita. Dengan membiasakan diri membaca, lambat laun kita akan mempunyai motivasi untuk menulis.

Ketidakmampuan seseorang dalam menulis biasanya bersumber dari perasaan tidak mampu yang dikembangkan oleh individu itu sendiri, jadi jangan heran jika potensi menulis yang bagus pada sesorang akan lenyap seiring dengan tumbuhnya perasaan benci pada kegiatan menulis.

Jika Anda masih punya rasa benci untuk menulis, maka hal yang harus Anda lakukan adalah membuang jauh-jauh perasaan itu, dan mulailah yakinkan diri kalau Anda bisa menulis. Teruslah yakinkan diri Anda mampu dan jangan berhenti mencoba. Jangan sekali-kali Anda benci menulis karena itu akan merugikan diri Anda sendiri. Karena, menulis merupakan salah bentuk komunikasi yang harus kita kuasai dengan baik selain komunikasi secara lisan. Selamat menulis dan ingat practice makes perfect![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di wadah jurnalistik Fakultas Psikologi, Sanata Dharma. Ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Menulis Itu Vitamin Buat Otak

Sofa NurdiyantiOleh: Sofa Nurdiyanti*

“Menulis itu vitamin buat otak? Enggak salah, nih?”

“Yap!!! Betul banget…!”

Menulis akan membantu kita me-refresh otak, seperti halnya tubuh yang membutuhkan vitamin agar dapat bekerja dengan optimal dan tidak mudah terkena penyakit. Bagaikan sebuah komponen, tubuh terdiri dari berbagai jaringan dan organ yang membutuhkan berbagai nutrisi, vitamin, dan zat-zat lain yang diperlukan tubuh supaya dapat berfungsi secara optimal. Begitu pun dengan otak, otak memerlukan beberapa aktivitas memory yang dapat menunjang kinerjanya agar dapat berfungsi dengan baik.

Tidak dapat dimungkiri, memory yang sudah kita simpan akan terpendam jauh di dasar ingatan. Dan, ketika tidak mempergunakannya dengan baik, bisa jadi informasi-informasi yang ada akan terlupakan. Padahal, informasi-informasi yang kita simpan itu menandakan bahwa informasi tersebut penting bagi kita, dan perlu proses me-refresh yang sesuai dengan kebutuhan otak tersebut.

Jika informasi itu tidak penting, informasi tersebut cenderung akan tereliminasi pada saat proses seleksi informasi akan disimpan. Bisa juga informasi penting sekalipun tidak akan tersimpan jika kita tidak melakukan proses retrieval atau pemanggilan kembali informasi yang tadinya berguna dan penting bagi kita.

Jika otak selalu dipergunakan untuk menulis, itu berarti kita melakukan aktivitas memory. Aktivitas memory ini meliputi tiga tahap: penyandian (encoding; pemasukan pesan ke dalam ingatan), penyimpanan (storage), dan pengambilan (retrieval; mengingat kembali apa yang sudah disimpan). Aktivitas menulis berkaitan erat dengan ketiga proses tadi. Menulis melibatkan proses penyandian, penyimpanan, dan mengingat kembali apa yang sudah kita simpan untuk dituangkan dalam sebuah artikel, cerita, novel, buku, dsb.

Mengapa perlu menyegarkan memory dengan menulis? Menulis adalah salah satu cara karena menulis—selain melibatkan proses memoryjuga melibatkan kita dalam aktivitas visual. Visual yang dimaksudkan di sini adalah dengan membaca dan meninjau kembali isi tulisan kita. Menurut saya, dengan melibatkan aktivitas secara visual, kita dapat lebih mudah mengingat sesuatu. Sebagai contoh, ketika kita mendengarkan dosen mengajar kemudian mencatatnya, kita akan lebih dapat mengingatnya daripada menyalin catatan orang lain.

Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Ketika kita menulis apa yang dijelaskan oleh dosen, kita akan melakukan proses penyandian dan melakukan proses seleksi terhadap informasi yang kita terima. Sehingga, kita akan lebih memahami catatan yang kita buat sendiri, karena kita yang menentukan kode-kode tertentu dan urutan materi yang ingin kita tulis.

Berbeda jika kita melakukan retrieval dengan cara menghafal informasi tertentu saja, tanpa berusaha mengombinasikannya dengan informasi lainnya. Metode hafalan akan lebih rentan mengalami kelupaan daripada menulis. Menghafal sama berarti kita hanya mengulang kembali informasi yang kita terima, tanpa melakukan suatu usaha yang dapat meningkatkan pemahaman kita.

Sementara, menulis merupakan buah dari mencerna kembali informasi yang telah kita terima dan menuliskannya sesuai dengan pemahaman kita. Hal ini berarti, kita melakukan sebuah usaha baru dan terlibat secara aktif dalam memilih informasi mana yang akan kita gunakan nantinya.

Seiring meningkatnya kuantitas kita dalam menulis, secara otomatis kita akan semakin sering menggunakan otak dalam proses berpikir. Hal ini tentu saja mempercepat proses pemanggilan kembali memory maupun proses penyeleksian memory, serta data-data yang diperlukan terkait dengan bahan yang akan kita tulis. Menulis tidak hanya berbentuk sebuah artikel, namun juga sebuah catatan tentang kejadian singkat yang telah dilalui dalam sebuah diary.

Berbagai hambatan yang sering kali muncul ketika kita menulis ialah proses pemanggilan kembali ingatan yang sudah tersimpan, dan memilih informasi mana yang akan kita pergunakan dalam menulis. Jika kita mau meninjau lebih lanjut, kita akan merasakan banyak manfaat dari proses menulis itu sendiri. Kita akan terlatih untuk dapat mengingat berbagai memory yang sudah kita simpan, karena memamng kita sering mempergunakannya.

Selain itu, kita dapat melakukan proses penyeleksian dan penyandian lebih lanjut atas informasi yang telah kita simpan. Seiring bertambahnya waktu, informasi yang kita simpan akan semakin kompleks dan membutuhkan proses penyimpanan baru, sehingga itu lebih memudahkan kita dalam mempergunakannya.

Secara sederhana, menulis akan semakin membantu kita dalam berinteraksi dengan berbagai jenis aktivitas memory, yang mana aktivitas tersebut akan semakin memudahkan dalam pemrosesan informasi. Aktivitas-aktivitas memory inilah yang nantinya akan membuat vitamin-vitamin alami yang diperlukan oleh tubuh kita, terutama bagi otak kita. Selamat memberi vitamin otak Anda dengan menulis![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa semester lima Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis wadah jurnalistik Fakultas Psikologi, Sanata Dharma. Ia juga tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox