Kisah Jugun Ianfu dan Mantan Pejuang

sy1Oleh: Sayuri Yosiana*

Wanita tua itu menatap kosong bendera di seberang kantor walikota di seberang jalan. Di dekat alun-alun, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Pelahan dia duduk di bangku kecil di bawah pohon beringin tua yang masih tampak gagah. Dibukanya bekal makanan dan minuman yang tadi dibawanya selepas berkunjung dari rumah saudara sepupunya, yang kini tinggal menumpang di rumah anak tunggalnya yang sudah menikah. Setiap sebulan sekali wanita tua itu menyempatkan diri berkunjung ke tempat kenalannya. Dia tak punya keluarga sendiri karena tak pernah menikah.

Sebuah mobil sedan keluar dari gerbang gedung kantor pamong praja itu. Lalu, melintas di hadapannya, seraya meninggalkan debu yang langsung menerpa paru-paru setengah tuanya. Dia menutup mulutnya seraya terbatuk. Udara Agustus baginya selalu gersang. Diambilnya minuman botolan, dan direguknya air penyejuk jiwanya yang telah renta.

Perlahan dia kembali menatapi bendera yang berkibar makin megah. Tertiup angin Agustus yang semarak dengan aura kemerdekaan. Hatinya seakan kembali meleleh pedih oleh kisah masa silam. Kisah yang merupakan bagian dari sejarah kelam dirinya, yang juga menjadi bagian kelam sejarah bangsanya.

Bagero! Cepat sini! Kamu!Kamu...! Kamu!” Barisan gadis gadis belia tertunduk di hadapan pasukan seragam tentara Nippon. Saudara tua yang mengaku hendak melindungi Tanah Airnya dari tentara sekutu. Saat itu, di masa tentara Dai Nippon sudah menginjakkan sepatunya yang dibuka lebar-lebar pintunya oleh para petinggi negeri. Dengan perhitungan yang tak mampu mampir ke otak kecilnya waktu itu.

Dan kini, mereka gadis-gadis itu dipaksa membayar semua harga perlindungan yang telah diberikan para Dai Nippon. Harga yang pantas, menurut mereka. Hal yang luput dari dari perlindungan negeri yang masih terengah-engah menggapai kemerdekaannyanya itu.

Heh, kamu Maryati san, heh? Sini kamu, cantik ya. Mau melayaniku lebih dulu, hah? Hayo, jawab maryati san! Tulikah? Hahaha... wakarimashita!

Dirasakannya lengannya ditarik. Dengan segala kepedihan dilupakannya rasa terhina yang berdesir di seluruh pori-pori tubuhnya yang belia. Kehormatan yang harus dibayar karena tak mampu membela bangsanya seperti para pemuda di garis depan sana.

Duh, Gusti Allah, mengapa aku tak kau ciptakan sebagai lelaki? Inikah harga yang harus kubayar untuk negeriku?”

Nenek tua sejenak memejamkan matanya. Air matanya mulai menggenang. Perlahan batinnya mengucap kata syukur, bahwa dirinya masih diberi kehidupan. Meski di sebelah hatinya, sempat meragu, benarkah hidup hingga kini jauh lebih baik dibanding mati saja waktu itu?

Seorang pengemis tua pelahan menghampirinya. Duduk di sampingnya. Dikiranya sang nenek mungkin sama nasib dengan dirinya. Hanya seorang pengemis di kota yang lengang ini. Menatap wajah sendu di sampingnya, sang pengemis tiba-tiba merogoh kantungnya. Diulurkannya selembar uang ribuan lusuh. Diselipkannya di genggaman sang nenek tua yang telah membuatnya iba. Sang nenek menggeleng, namun si pengemis yang juga sudah uzur itu bersikeras menolak kembali uang yang diberikan si nenek.

Lalu, sambil menatap ke arah seberang gedung pamong praja, di mana Sang Saka Merah Putih tengah melambai-lambai pada kedua insan renta itu, si pengemis berkata pelahan seakan pada dirinya sendiri. “Nek, bendera itu mungkin tak kan berkibar semegah itu andai tak ada orang-orang seperti kita di masa lalu.”

Sang nenek tak memahami ucapannaya. Sang pengemis menoleh, “Nenek juga pernah di garis depan? PMI misalnya?” tanyanya pelan.

Sang nenek terkesima, tiba-tiba teringat lagi pengalaman buruknya yang tadi sempat dikenangnya sebentar. Perlahan wajahnya memerah, dengan bergetar mulutnya mengeluarkan desisan sedih.

Si pengemis kaget, digenggamnya tangan si nenek tua. “Maafkan Nek, saya memang suka bernostalgia bila bertemu orang-orang yang kiranya sebaya dengan saya. Teman-teman saya yang berjuang di masa lalu juga banyak yang nasibmya seperti kita. Menjadi pengemis,” ujarnya sedih.

Sang nenek menganggukkan kepala, diusapnya sudut matanya. Tak ingin dia berbagi kisah dengan orang yang baru dikenalnya. Apalagi dengan mantan pejuang yang nasibnya juga nelangsa. Si pengemis akhirnya mohon diri.

Dengan pandangan lesu si nenek yang dulunya bernama Maryati itu terus menatap langkah renta si kakek tua, mantan pejuang yang mulai berjalan menjauhinya. Hatinya semakin meleleh, ternyata dia tidak sendiri.

Duh Gusti Allah, limpahilah negeri ini dengan rahmat-Mu. Agar anak cucu kami tak akan pernah merasakan apa yang kami rasakan di masa lalu….” Sebuah doa kecil, lirih terucap dari sudut hatinya yang renta, “Biarkan Sang Saka itu tetap berkibar, meski kami sudah tak ada lagi di dunia. Amin.

Sang nenek mulai membereskan sisa bekalnya. Dia bangkit dari bangku kecilnya dan mulai berjalan menyusuri jalan berdebu ke arah selatan. Ia menuju ke sebuah panti jompo yang didirikan berkat bantuan pemerintah Jepang untuk para mantan Jugun Ianfusebagai pengakuan rasa bersalah atas kelakuan para pajuritnya di masa lalu.

Dan, salah satu penghuninya adalah dirinya sendiri. Sang Melati Pertiwi yang telah menggoreskan sejarahnya sendiri lewat perjalanan bangsanya, di masa lalu.[sy]

* Sayuri Yosiana lahir di Jakarta, senang membaca dan menulis. Pernah mengikuti kuliah jurnalisme di Institut Ilmu Sosial dan Politik. Menyukai sejarah dan kesehatan holistik. Aktivitas sehari-hari adalah mengelola sebuah situs kesehatan holistik Kabarsehat.com dan membantu mempromosikan Sekolah Online Visikata.com. Nama penanya adalah DaraJingga. Karya-karya Sayuri Yosiana dapat dilihat melalui blog pribadi Kuberpuisi.wordpress.com dan Penakubicara.wordpress.com. Yossi demikian nama panggilan dari Sayuri Yosiana dapat dikontak melalui pos-el: darajingga28[at]gmail[dot]com.

Catatan: Didedikasikan untuk para Jugun Infu, di mana pun mereka berada, dan para pejuang yang tak dikenal dalam sejarah. Selamat merayakan hari kemerdekaan duhai Bumi Pertiwi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.8/10 (24 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +12 (from 12 votes)

Dunia Sinema Anak yang Ramah

syOleh: Sayuri Yosiana*

Saya kagum dengan pasangan suami istri Nia Zulkarnaen dan Arie Sihasale, karena dedikasi mereka yang konsisten pada film anak-anak yang mendidik. Setelah Denias yang sangat mengeksplorasi keindahan alam Papua dan kebiasaan adat masyarakat setempat itu, kini pasangan Nia dan Ale sudah mempersembahkan lagi film anak-anak berjudul King yang di dedikasikan bagi dunia perbulutangkisan Indonesia.

Film King memang diambil dari kisah hidup pahlawan bulutangkis era 70-80-an bernama Liem Swie King, yang seangkatan dengan maestro bulutangkis Indonesia lainnya, Rudi Hartono yang fenomenal itu karena juara All England delapan kali. Lalu, mengapa King dan bukan Rudi yang di filmkan kisah hidupnya? Dalam suatu talkshow di sebuah televisi swasta, Nia mengatakan bahwa karena Liem Swie King terkenal dengan King Smash-nya yang melegenda itu.

King Smash adalah julukan publik. Awalnya dari para kuli tinta yang terkagum-kagum dengan gaya smash seorang King yang, sampai saat ini, menurut kabar yang pernah saya baca belum ada yang benar-benar bisa menyamainya. Jadi, yang tetap terkenang ya hanya King Smash. Bukan Rudy Smash atau Taufik Smash.

Namun, di sini saya tak bermaksud bercerita tentang film King. Anda bisa melihatnya sendiri di bioskop karena sudah beredar. Saya hanya ingin menyampaikan ketertarikan saya pada idealisme pasangan Nia dan Ale tentang film anak-anak yang mendidik, membumi, dan tetap asyik ditonton oleh orang dewasa sekalipun.

Saya kadang kecewa melihat film atau sinetron anak-anak dan remaja di televisi yang rata-rata isi ceritanya kurang mendidik. Bahkan, ada yang bernuansa klenik. Penyakit orang Indonesia adalah suka latah hehehe…. Termasuk di dunia hiburan sekalipun. Lihat saja acara-acara televisi kita. Hampir semua tayangannya hasil produk luar yang didaur ulang. Terkesan miskin ide. Cuma bisa megekor acara-acara yang sudah ada sebelumnya.

Yang lebih parah tentunya acara-acara yang segmennya remaja. Nah, yang satu ini tak ada lagi yang namanya visi, misi, dan edukasi. Yang penting rating, pemain-pemainnya lagi digandrungi, dan lewat SMS sinetronya pun bisa menang, lho... asyik, kan?

Dalam suatu acara bincang-bincang tentang film anak dan remaja di sebuah radio swasta, hal ini pernah dibahas. Siaran tersebut menarik karena langsung mendatangkan produser, sutradara, penulis skenario film dan sinetron anak serta remaja. Plus dialog interaktif antara pendengar dengan para narasumbernya. Dan, lewat acara itu saya baru tahu bahwa jalan cerita, penunjukkan para pemeran, sampai penulisan skenario pun kadang harus tunduk pada produser.

Seorang sutradara muda yang rajin membuat sinetron anak dan remaja berkata bahwa sebagai sutradara kadang dirinya merasa hanya sebagai orang suruhan. Dia tidak bisa membuat keputusan apa dan siapa yang terbaik untuk sinetron garapannya tersebut, termasuk film. Dan, tidak hanya itu saja menurutnya. Sebagai sutradara pencari bakat kadang penunjukan pemeran sebuah sinetron atau film pun tak bisa lepas dari titip-menitip.

Dalam hal ini ternyata orang tua para calon bintanglah yang banyak ikut berperan. Banyak orang tua yang ingin anaknya jadi bintang. Tidak bisa lewat cara fair, ya ditempuhlah cara pintas. Menurut sang sutradara, dengan modal sendiri para orangtua yang keuangannya mumpuni bahkan sudah mewanti-wanti agar nanti anaknyalah yang jadi pemeran utama. Tak peduli baru sampai mana kualitas aktingnya. Begitu berkuasanya para orang tua yang ingin anaknya jadi bintang, mereka tak segan-segan all out demi kemajuan putra-putrinya di dunia hiburan. Termasuk salah satunya, ya itu tadi, ikut memproduksi sendiri sinetron yang akan dibintangi anaknya, dengan syarat anaknya yang jadi pemeran utama.

Jadi, untuk menyalahkan kru film ataupun bintang-bintang muda itu juga tak fair kalau melihat bagaimana peran orang tuanya sendiri yang mungkin lebih ambisius daripada anak-anaknya. Tentu saja tak semua orang tua bersikap seperti ini.

Tak heran bila keadaanya seperti ini, maka yang dihasilkannya juga rata-rata asal jadi. Cerita hanya seputar kisah cinta, putus cinta, anak durhaka, melawan orang tua, geng-gengan, rebutan cowok atau cewek, dll, yang sebenarnya sudah membosankan penontonnya (atau terpaksa karena tak ada pilihan tema cerita?).

Maka, bersyukurlah kita masih mempunyai orang-orang seperti pasangan Nia dan Ale, Mira Lesmana, dan beberapa kru film yang tetap berdedikasi membuat film anak dengan segala keindahannya namun tetap mendidik, membumi, dan tak mengada-ngada.

Saya sendiri belum bisa melupakan film Petualangan Sherina yang menjadi ikon film anak beberapa tahun lalu. Sayangnya, film Joshua dan beberapa film anak lainnya yang menyusul kemudian, tak begitu kedengaran gaungnya (lagi-lagi sekadar latah tanpa memikirkan visi dan misinya). Lagi pula, mungkin di otak penonton pada waktu itu belum bisa melupakan kisah Petualangan Sherina dengan sahabat nakalnya, yang dalam ceritanya sempat memberi pengetahuan tentang benda-benda antariksa bagi anak-anak seusianya.

Tak heran bila kemudian banyak anak yang memilih pergi ke Lembang untuk melihat benda-benda angkasa lewat teropong Bosscha. Padahal, menurut petugasnya sebelum film Petualangan Sherina tersebut beredar, hanya sedikit anak sekolah yang mengunjunginya. Lewat film Petualangan Sherina itulah anak-anak mendadak punya ketertarikan lebih pada dunia astronomi dengan cara yang sederhana.

Sama halnya dengan film Laskar Pelangi dan Denias yang juga mendatangkan inspirasi bagi penontonya. Film ini mengajarkan kepada kita akan pentingnya arti pendidikan, khususnya bagi anak-anak di daerah yang sering luput dari perhatian pemerintah. Kedua film tersebut memberi gambaran tentang dunia pendidikan kita yang masih bak menara gading bagi sebagian masyarakat. Masih ada diskriminasi.

Di Kick Andy pernah ada seorang pemuda yang sampai berkirim surat pada si empunya acara dan menyatakan bahwa film Laskar Pelangimelalui salah seorang tokohnya bernama Lintangtelah mampu menggerakkan hatinya untuk berhenti bernarkoba-ria dan memilih hidup baik-baik serta kembali ke kampus. Si pemuda merasa malu sekaligus terharu melihat perjuangan seorang Lintang, yang terpaksa harus berhenti sekolah karena ayahnya meninggal. Padahal, Lintang paling cerdas di sekolah dan menjadi bintang di daerahnya dalam suatu acara cerdas cermat. Ironis.

Saya berharap, film-film seperti inilah yang seharusnya diperbanyak. Mendidik sekaligus humanis. Lebih bagus lagi kalau seperti Denias yang juga mengangkat budaya masyarakat setempat plus mengeksplorasi keindahan alamnya.

Semoga film King yang baru beredar bisa kembali menjadi ikon film anak yang berkualitas, menginspirasi banyak orang, dan penuh dengan nilai pendidikan. Tanpa harus kaku tetapi tetap bernilai seni tinggi. Begitu juga dengan dunia sinetron Indonesia dan acara televisi lainnya. Bravo dunia sinema Indonesia![sy]

* Sayuri Yosiana lahir di Jakarta, senang membaca dan menulis. Pernah mengikuti kuliah jurnalisme di Institut Ilmu Sosial dan Politik. Menyukai sejarah dan kesehatan holistik. Aktivitas sehari-hari adalah mengelola sebuah situs kesehatan holistik Kabarsehat.com dan membantu mempromosikan Sekolah Online Visikata.com. Nama penanya adalah DaraJingga. Karya-karya Sayuri Yosiana dapat dilihat melalui blog pribadi Kuberpuisi.wordpress.com dan Penakubicara.wordpress.com. Yossi demikian nama panggilan dari Sayuri Yosiana dapat dikontak melalui pos-el: darajingga28[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Indahnya Lagu sang Superstar: One Day in Your Life

syOleh: Sayuri Yosiana*

Entah mengapa tadi pagi hati saya serasa melankolis saat mendengar lagunya Michael Jackson yang baru saja meninggal itu. Saya tak begitu mengenal sosoknya atau mengikuti berita-beritanya. Tetapi, lewat sebuah lagu yang beberapa hari ini selalu diputar berulang-ulang di televisi, saya jadi merasa ikut-ikutan kehilangan dirinya. Teringat kakak-kakak saya dulu, suka sekali mendengar lagu-lagu penyanyi yang mendapat panggilan Jacko ini. Hanya saja, mungkin dulu saya tak begitu memerhatikannya.

Tetapi, salah satu lagunya telah membuat saya jatuh cinta beberapa hari ini. Ya, itu tadi One Day in Your Life. Judulnya pun indah. Makna syairnya juga indah. Ternyata, sebuah lagu bisa menghasilkan daya khayal yang sepertinya mewakili keinginan terpendam kita. Inilah hebatnya suatu karya seni yang bisa diterima tidak hanya oleh telinga, tetapi juga oleh hati kita.

Karya seni memerlukan hati sebagai sensoriknya. Memerlukan sense yang kuat, hingga bukan sekadar keindahan yang terlahir, tetapi juga bisa mewakili perasaan orang yang menikmatinya, mampu merasakan apa yang ingin disampaikan oleh sang seniman. Apalagi kalau mampu juga membuat orang yang mengaku tak punya cita rasa seni pun tetap bisa merasakan hal itu. Merasakan aura keindahannya, meski bukan pelakunya langsung, namun sekadar penikmatnya saja.

Syair dalam lagu ibarat puisi yang bernyanyi dengan indahnya. Seperti halnya seni sastra, seni memiliki kecenderungan tema atau mungkin alirannya sendiri. Seperti pop, rock, dangdut, klasik, tradisional, religius, dll. Kalau dalam sastra mungkin ada istilah sastra klasik dan sastra modern. Yang jelas, antara seni musik dan seni tulis-menulis (sastra) bisa membawa penikmatnya ke dalam dunia ciptaannya sendiri. Dunia khayal yang terwakili oleh seni pilihannya.

Ya, seperti lagu sang superstar tadi, One Day in Your Life. Sangat puitis
dan iramanya pun merasuk kalbu. Baru mendengar beberapa kali saja lewat televisi, sudah langsung membuat saya jatuh cinta. Apalagi kalau sudah lama mendengarnya, sudah pasti akan menjadi salah satu lagu terfavorit di antara lagu favorit yang saya miliki.

Lewat tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan duka cita bagi salah satu seniman dunia yang telah lama berkiprah di jagad raya seni musik. Lagu-lagunya mungkin telah mengubah banyak pikiran dan perasaan orang, dari setiap tema lagu yang dinyanyikannya. Saya tak ingin membedah lagunya satu per satu karena memang tak mengenal begitu banyak. Hanya beberapa saja yang masih sering di putar di radio dan televisi, seperti judul yang satu ini.

Begitu mendengarnya lagi pagi ini, entah mengapa tiba-tiba saja saya merasa amat sedih, mengingat sang penyanyi baru saja tiada. Sayang kehidupannya agaknya kurang happy. Namun, itu toh tak mengurangi dedikasinya pada dunia musik yang telah membesarkannya. Saya menaruh rasa hormat untuk hal ini. Dedikasi pada bidang yang telah menjadi pilihannya. Jalan hidupnya. Dan, mati pun saat tengah mempersiapkan konser terakhirnya. Ah, manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan.

Yang jelas, bagaimanapun juga, sebuah karya yang indah takkan dilupakan penikmatnya. Baik yang baru mendengarnya maupun yang mungkin sudah lama mengoleksi lagu-lagunya lewat DVD atau kaset. Simak penggalan syair lagu ini:

one day in your life

youll remember a place

someone’s touching your face

your comeback and you’ll look around you….

Betapa indahnya…. Serasa duduk di tepi pantai atau danau sunyi di senja yang dingin dan berkabut. Lalu, memainkan harmonika mungil saya dan menyanyikan lagu itu dengan penuh keindahan rasa hingga meresap ke dalam kalbu. Hati pun tersentuh oleh nada-nada tenang meski dinyanyikan dengan suara sedikit melengking. Entah kapan lagu semacam itu dibuat. Pasti saat ini lagu-lagu sang superstar akan kembali diburu orang, baik yang segenerasi dengan sang penyanyinya, maupun yang baru mengenalnya.

Lagu-lagu Michael Jackson dikenal tak hanya bicara cinta asmara, tetapi juga bicara tentang ketidakadilan dunia, persatuan, dan kemanusiaan. Tak heran lagunya tetap dikenang oleh penggemarnya hingga saat ini. Seperti salah satunya yang saya tidak tahu judulnya, tetapi menceritakan tentang perlindungan terhadap anak-anak sedunia. Meskipun, sang penyanyinya sendiri justru pernah di tuduh melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak. Memang ironis. Meskipun benar-tidaknya isu itu takkan memengaruhi fans fanatiknya untuk tetap mencintainya.

Ya, itulah hubungan unik yang telah tercipta antara sang idola dengan penggemarnya. Hubungan tanpa pretensi apa-apa kecuali sekadar menghargai karya-karyanya yang membawa inspirasi bagi dunia.

Lagu lagu yang melegenda melambangkan betapa sebuah karya seni bisa amat merasuki kehidupan orang banyak. Dan, saat sang penyanyi itu pergi, fans-nya maupun yang baru saja mendadak ngefans, tiba-tiba saja seperti dilanda kedukaan berjamaah. Kedukaan yang disertai perasaan yang begitu dekat dengan sangi artis. Lihatlah, ada yang pingsan di halaman rumah sang legenda. Lalu, ada yang tersedu-sedu sampai harus ditenangkan banyak orang.

Semua merasa begitu dekat dengan sang penyanyi. Begitu pula dengan saya. Mungkin bukan pada sosoknya, tetapi pada dedikasinya lewat sebuah lagu yang secara kebetulan telah membuat saya jatuh cinta ini. Totalitasnya dalam berkarya seni di bidang musik telah membawanya menjadi sang legenda yang akan dikenang dunia. Seperti tokoh-tokoh legenda lainnya yang lewat karyanya telah banyak menginspirasi banyak orang, membahagiakan banyak orang, dan menyatukan dunia lewat bidangnya masing-masing.

one day in your life

when you find that you’re always longing

for the love we used to share

just call my name

and 1′ll be there

Selamat jalan sang penyanyi legenda Semoga lagu indahmu ini akan menjadi penghubung antara dirimu dengan diri saya dalam dunia yang kini berbeda. Jadi motivator saya agar tak lelah dalam berkarya. Lewat lagu indahmu ini, saya ingin mengenalmu lebih jauh. Bagaimana bisa terlahir seorang Jacko yang begitu memengaruhi banyak orang.

Lewat lagu indahmu ini, saya ingin belajar mengenal syair-syair puitismu. Lewat lagu indahmu ini, saya ingin belajar bagaimana seni yang menginspirasi itu. Bukan memuja, hanya terinspirasi keindahan seninya. Keindahan kosakatanya, keindahan sense of art-nya. Dan, tentunya sisi humanisnya. Siapa pun yang menciptakan lagu-lagumu, yang jelas saya hanya tahu dirimu yang menyanyikannya. One day in your life, ya… Suatu hari dalam hidup saya, akhirnya saya menulis sesuatu tentangmu, sang superstar dunia.

Ah, Jacko. Saya pun ingin seperti dirimu. Tak perlu harus melegenda, tetapi cukup bisa memberi makna bagi kehidupan banyak orang. Terlebih pada diri saya sendiri. Saya didedikasikan tulisan ini buat para legenda seni dunia.[sy]

* Sayuri Yosiana lahir di Jakarta dan akrab dipanggil Yossi. Ia senang membaca dan menulis, serta punya nama pena Dara Jingga. Aktivitas sehari-harinya mengelola sebuah situs kesehatan holistik Kabarsehat.com dan membantu mempromosikan Sekolah Online Visikata.com. Ia pernah mengikuti kuliah jurnalisme di Institut Ilmu Sosial dan Politik, Jakarta, dan menyukai bidang sejarah serta topik kesehatan holistik. Karya-karyanya dapat dilihat di blog pribadinya Kuberpuisi.wordpress.com dan Penakubicara.wordpress.com. Yossi dapat dikontak melalui pos-el: darajingga28[at]gmail[dot]com dan telepon 0817828630.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.1/10 (9 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 5 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox