Tak Perlu Menyesal

sfOleh : Sawiji Farelhana*

Seandainya manusia ingat pada saat perjanjian pertama dengan Rabb-Nya semasa empat bulan janin ada di perut ibu, mungkin tak ada manusia menyesal dilahirkan sebagai laki-laki ataupun perempuan. Semuanya sadar akan hakikat masing-masing sehingga tak ada yang berminat untuk berubah kelamin.

Namun kenyataannya, manusia memang makhluk yang senang berlaku dholim, karena sebagaimana kita lihat semakin banyak laki-laki yang menyerupai perempuan (dan mereka bangga, karena masyarakat semakin bisa menerima) maupun perempuan yang menyerupai laki-laki. Banyak yang menyesal terlahir sebagai perempuan, karena dalam pikirannya lebih enak menjadi laki-laki. Tak perlu repot dengan tetek-bengek aturan pakaian, sibuk berbagi energi dengan urusan domestik maupun publik, dan lain-lain. Itu mungkin yang terlintas dalam benak sebagian perempuan.

Padahal, seandainya kematangan berpikir kaum perempuan dibarengi pemahaman yang integral tentang takdir, maka akan kita dapati bergesernya rasa penyesalan menjadi keridaan yang sepenuh ikhlas. Bahkan ada syukur karena memahami bahwa dari telapak kaki seorang ibutentu seorang perempuanakan terjelma surga bagi anak-anaknya. Pun tiga derajat hak pengabdian anak dimilikinya dibandingkan hak bapak atas anak. Dalam hal ini tak pernah bisa laki-laki melampaui perempuan.

Namun, dalam berbagai kasus kita melihat bahwa masih banyak perempuan yang menyesal terlahir sebagai kaum hawa. Setidaknya, kalaupun mereka akhirnya pasrah, itu lebih karena tak ada choice lain. Bahkan, kita yakin seandainya, maaf, ada bursa pergantian kelamin, pasti banyak perempuan berebut mendapatkan kesempatan itu. Mengapa demikian?

Bukan rahasia lagi, kesulitan hidup banyak mendera perempuan-perempuan kita. Keterbatasan ilmu dan minimnya keterampilan hidup menjadikan mereka semakin dependent terhadap laki-laki. Hal ini membuka peluang yang luas bagi terjadinya pen-dholim-an perempuan oleh kaum laki-laki. Ironisnya, tidak sebatas pertentangan gender antara laki-laki dan perempuan semata yang menjadikan perempuan semakin terpuruk pada subordinat tatanan masyarakat kita.

Sistem ikut andil dalam masalah ini. Sistem pendidikan menjadikan perempuan tak mampu semakin terpinggirkan. Orang tua cenderung berpikir pragmatis, Toh cuma perempuan ini, paling-paling juga hanya akan jadi istri yang ngurus dapur, sumur, dan kasur! Biarlah kalau harus bersekolah tinggi, anak yang laki-laki saja.

Sistem masyarakat menjadikan perempuan sekadar pelengkap. Tak jarang ungkapan sinis masyarakat terucap jika kaum perempuan berbuat lalai: Dasar perempuan tidak benar!” Tetapi, seakan menjadi hal yang wajar jika laki-laki berbuat salah. Juga dalam permasalahan pendidikan anak, jika ada anak yang berhasil pendidikannya, para suami akan berlomba menyatakan: ini anakku!” Tetapi jika ada masalah, masyarakat akan menimpakan pertanggungjawabannya pada peran istri atau ibu.

Sistem ekonomi menjadikan perempuan tak memiliki daya tawar yang memadai. Maka jangan heran, meski kepiluan tak terperi menyaksikan penderitaan TKW-TKW kita, baik yang terusir atau yang tidak dari tanah rantau, tetaplah mereka menjadi orang-orang yang tak bisa memilih. Meski semua mengakui, tak sedikit devisa mereka sumbangkan bagi negeri ini.

Sistem politik pun demikian. Perempuan hanya dijadikan komoditas politik yang habis manis sepah dibuang. Kuota 30 persen keterwakilan perempuan di legislatif dinilai banyak kalangan masih bersifat basa-basi. Tetapi sejujurnya, bukanlah jaminan bahwa jika perempuan menduduki jabatan publik maka kepentingan perempuan bisa diperjuangkan secara optimal.

Kita lihat, meski banyak pemimpin perempuan yang sudah duduk di posisi-posisi strategisbahkan presiden sekalipunmemperjuangkan nasib perempuan tetaplah agenda yang harus ikut aturan voting. Hitung punya hitung, akhirnya masalah kaum ibu ini selalu menjadi bahasan yang belum mendesak.

Namun, meski begitu mengenaskan fenomena umum masyarakat perempuan yang ada di hadapan kita, perempuan seyogyanya tak perlu menyesali takdirnya. Karena, dengan keikhlasan dalam menerima ketetapan-Nya merupakan solusi jitu untuk bisa bersyukur. Lihat, bukankah berjubel masyarakat di dunia semua terlahir dari rahim perempuan? Jadi, wajar jika tangan perempuan sebenarnya adalah penentu corak kepribadian masyarakat dunia. Di balik segala kedigdayaan atau kejumawaan sosok siapa pun, pasti ada perempuan di belakangnya. Dalam peran positif maupun negatifnya. Kewibawaan seorang suami, terjaga oleh istri, tersungkurnya seorang suami, karena seorang istri. Generasi yang cemerlang karena peran ibu, generasi yang tercampak juga karena ibu.

Maka, berbanggalah sebagai seorang perempuan, sebagai anak, istri, ibu, nenek, tante, atau predikat kefeminiman yang lain. Karena perempuan adalah anugerah, maka kemudian kita bisa berkontribusi positif bagi terwujudnya peradaban dunia.

Perempuan, dia perkasa. Sebagaimana seorang perempuan yang mengalami kontraksi beruntun pada perut belasan jam–dan tentu ini sangat sakityang diakhiri dengan anugerah luar biasa, meluncurnya seorang manusia kecil dengan tangisnya yang melengking, mampu memaknainya sebagai puncak kenikmatan sebagai perempuan. Mereka bangga dan bahagia. Dan, Demi Allahkecuali mereka punya rahim dan infrastruktur yang menopangnyaini tak akan dirasakan oleh laki-laki. Begitu? Wallahu a’lam bish showwab.[sf]

* Sawiji Farelhana adalah alumnus FMIPA Matematika, ITS, Surabaya. Ia tinggal di Puri Cipageran Indah I Blok H3 No. 15, Cimahi. Farel sudah menikah dan dikaruniai empat putra-putri.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Memorabilia

Sawiji FarelhanaOleh: Sawiji Farelhana*

Ketika kita sadari bahwa masa adalah kehidupan kita, maka masa sekarang adalah rentetan panjang dari waktu-waktu yang lalu, yang berarti umur kita pun sudah banyak berlalu. Banyak yang bilang, seperti tak terasa. Tetapi, ada juga yang bilang waktu merambat laksana siput berjalan. Begitulah, apa pun pandangan orang yang jelas waktu telah kita lalui–siapa pun kita, berapa pun usia kita—dan mengantarkan kita pada kehidupan sekarang.

Sementara itu, tentu banyak kenangan yang terekam dalam pusat penghimpun ingatan (hypothalamus) di dalam otak kita. Namun, sering ingatan kita tentang sesuatu pada masa tertentu tak sekonkret sejarah aslinya. Nah, di sinilah peran memorabilia dibutuhkan.

Memorabilia adalah serangkaian isyarat waktu yang disampaikan oleh suatu benda kepada seseorang. Benda ini memiliki ikatan emosional yang erat dengan individu yang bersangkutan. Dengan benda tersebut, seseorang akan bisa dibawa pada masa lampau melalui kenangannya, baik yang manis maupun yang pahit.

Wujud memorabilia tak terbatas pada benda-benda tertentu, karena benda yang mungkin penting bagi kita, belum tentu penting pula bagi orang lain. Namun, secara umum memorabilia bisa dijabarkan menjadi dua, yaitu simbol dan narasi. Memorabilia yang berbentuk simbol semisal sapu tangan, cincin, baju, dan lain-lain. Sedangkan yang berbentuk narasi semisal diari, album foto, buku raport, dan lain-lain.

Mungkin ada sebagian orang yang tak begitu peduli pada memorabilia. Mereka menganggap orang-orang yang rajin mengoleksi benda-benda memorabilia adalah orang-orang yang cengeng, sentimental, hidup di masa lalu, dan lain-lain. Namun, kebanyakan menganggap ini penting, berangkat dari pemahaman bahwa manusia tak bisa lepas dari kesejarahan dirinya. Menurut Ernest Cassirer seorang profesor filsafat dari Hamburg, simbol-simbol begitu penting dalam kehidupan manusia, sehingga tak heran jika simbol bisa jadi refleksi pikiran dan perasaan manusia serta visualisasi pengalaman internal.

Dalam perjalanan hidup seorang manusia, menoleh ke belakang tetap diperlukan, namun bukan berarti kita terbelenggu oleh hal-hal di masa lampau. Memorabilia bisa kita manfaatkan untuk hal-hal yang positif, menjadi salah satu sarana untuk mengoptimalkan kapasitas kemanusiaan kita, untuk lebih lebih kontributif dalam hidup.

Sebagai alat evaluasi

Mempelajari masa lalu itu penting. Keberadaan memorabilia sangat membantu seseorang untuk mengonkretkan ingatannya terhadap peristiwa yang sudah terjadi. Dari apa yang diingat, kita akan bisa introspeksi diri bahwa keberadaan kita hari ini tak lepas dari apa yang telah kita lalui. Dengan bantuan memorabilia, semisal foto keluarga, foto perkawinan, dan lain-lain, rekaman peristiwa akan lebih nyata, dan ini akan membantu kita untuk menyadari bahwa apa yang terjadi saat ini bukanlah hal yang tiba-tiba. Ada proses yang menyertai kita.

Hal ini akan menjadikan kita lebih arif memandang permasalahan. Dan yang lebih utama, kita jadi lebih menghargai makna usia kita. Kita akan sadar bahwa masa sekarang ini adalah masa lalu kita kelak. Ada upaya dalam diri kita untuk menjadikan masa sekarang sebagai sejarah yang lebih baik bagi masa yang akan datang.

Mempererat hubungan (glueing)

Dalam sebuah peristiwa, bisa dipastikan melibatkan banyak pihak. Misal, pengalaman sebuah keluarga. Masa kecil anak-anak, tahap-tahap kemandirian sebuah keluarga baru dan lain-lain. Dalam perkembangan anak-anak, kita saksikan betapa rukunnya mereka dalam kebersamaan masa kecilnya. Nah, ketika terjadi permasalahan, benda-benda memorabilia yang bisa mengingatkan mereka pada masa itu bisa menyadarkan mereka untuk mampu menyelesaikan permasalahan itu dengan cara yang lebih bijak.

Hal yang sama bisa menimpa pasangan suami istri, dalam usia perkawinan muda atau pun tua. Perselisihan yang berlarut bisa menjadi ancaman terjadinya perpecahan. Maka, seyogyanya tiap-tiap pasangan memiliki benda memorabiliasendiri maupun bersamauntuk kemudian bisa mengenang saat-saat indah perjalanan pernikahan itu. Hal ini merupakan alternatif untuk merekatkan kembali hubungan yang mungkin sedang renggang.

Ada pasangan yang sengaja menyimpan dua buah piring plastik mereka. Piring yang sudah kusam, namun rapi terpajang di bufet cantik di dapur. Sebagai benda kenangan untuk mengingatkan kebersamaan mereka di kala susah, katanya.

Siapa pun, yang namanya pasang surut perjalanan dalam berkeluarga pasti pernah dirasakan. Mengenang kepahitan yang dilalui bersama, sama pentingnya dengan mengingat keindahan yang pernah dinikmatinya. Semuanya memberikan kontribusi bagi kebersamaan hidup hingga saat ini.

Motivator

Ada kalanya manusia dihinggapi kejenuhan. Mungkin juga keputusasaan. Hal yang sangat berbahaya apabila tak menemukan motivasi untuk bangkit kembali. Benda-benda memorabilia bisa menjadi salah satu alternafif. Dengan mengenang tahap-tahap kehidupannya seseorang jadi tersadarkan bahwa hal seberat apa pun di masa lampau ternyata bisa dilalui hingga mampu mengantarkannya pada masa sekarang. Maka, optimisme bisa dibangun dengan berpedoman bahwa hari ini pun pasti akan berlalu. Pengalaman membuktikan, tidaklah manusia diuji melampaui batas kemampuannya.

Pada dasarnya manusia senang mengingat hal-hal yang menyenangkan. Namun, bukan berarti hal yang menyakitkan tak berarti sama sekali untuk dikenang. Kenangan manis maupun pahit bisa sama-sama mengisi hari-hari kita untuk kita ambil pelajarannya. Memorabilia memang perlu, tentu bukan untuk kita hidup dalam masa lalu, melainkan untuk cermin di masa datang. Begitu bukan?[sf]

* Sawiji Farelhana adalah alumnus FMIPA Matematika, ITS, Surabaya. Ia tinggal di Puri Cipageran Indah I Blok H3 No. 15, Cimahi. Farel sudah menikah dan dikaruniai empat putra-putri. Tulisan ini terilhami oleh sebuah rubrik di majalah Ayah Bunda yang sudah berpuluh tahun yang lalu, tentang Memorabilia.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox