Tak Perlu Menyesal
Editor | Kolom Lepas | July 5th, 2009 | No Comments »
Oleh : Sawiji Farelhana*
Seandainya manusia ingat pada saat perjanjian pertama dengan Rabb-Nya semasa empat bulan janin ada di perut ibu, mungkin tak ada manusia menyesal dilahirkan sebagai laki-laki ataupun perempuan. Semuanya sadar akan hakikat masing-masing sehingga tak ada yang berminat untuk berubah kelamin.
Namun kenyataannya, manusia memang makhluk yang senang berlaku dholim, karena sebagaimana kita lihat semakin banyak laki-laki yang menyerupai perempuan (dan mereka bangga, karena masyarakat semakin bisa menerima) maupun perempuan yang menyerupai laki-laki. Banyak yang menyesal terlahir sebagai perempuan, karena dalam pikirannya lebih enak menjadi laki-laki. Tak perlu repot dengan tetek-bengek aturan pakaian, sibuk berbagi energi dengan urusan domestik maupun publik, dan lain-lain. Itu mungkin yang terlintas dalam benak sebagian perempuan.
Padahal, seandainya kematangan berpikir kaum perempuan dibarengi pemahaman yang integral tentang takdir, maka akan kita dapati bergesernya rasa penyesalan menjadi keridaan yang sepenuh ikhlas. Bahkan ada syukur karena memahami bahwa dari telapak kaki seorang ibu—tentu seorang perempuan—akan terjelma surga bagi anak-anaknya. Pun tiga derajat hak pengabdian anak dimilikinya dibandingkan hak bapak atas anak. Dalam hal ini tak pernah bisa laki-laki melampaui perempuan.
Namun, dalam berbagai kasus kita melihat bahwa masih banyak perempuan yang menyesal terlahir sebagai kaum hawa. Setidaknya, kalaupun mereka akhirnya pasrah, itu lebih karena tak ada choice lain. Bahkan, kita yakin seandainya, maaf, ada bursa pergantian kelamin, pasti banyak perempuan berebut mendapatkan kesempatan itu. Mengapa demikian?
Bukan rahasia lagi, kesulitan hidup banyak mendera perempuan-perempuan kita. Keterbatasan ilmu dan minimnya keterampilan hidup menjadikan mereka semakin dependent terhadap laki-laki. Hal ini membuka peluang yang luas bagi terjadinya pen-dholim-an perempuan oleh kaum laki-laki. Ironisnya, tidak sebatas pertentangan gender antara laki-laki dan perempuan semata yang menjadikan perempuan semakin terpuruk pada subordinat tatanan masyarakat kita.
Sistem ikut andil dalam masalah ini. Sistem pendidikan menjadikan perempuan tak mampu semakin terpinggirkan. Orang tua cenderung berpikir pragmatis, “Toh cuma perempuan ini, paling-paling juga hanya akan jadi istri yang ngurus dapur, sumur, dan kasur! Biarlah kalau harus bersekolah tinggi, anak yang laki-laki saja.”
Sistem masyarakat menjadikan perempuan sekadar pelengkap. Tak jarang ungkapan sinis masyarakat terucap jika kaum perempuan berbuat lalai: “Dasar perempuan tidak benar!” Tetapi, seakan menjadi hal yang wajar jika laki-laki berbuat salah. Juga dalam permasalahan pendidikan anak, jika ada anak yang berhasil pendidikannya, para suami akan berlomba menyatakan: “ini anakku!” Tetapi jika ada masalah, masyarakat akan menimpakan pertanggungjawabannya pada peran istri atau ibu.
Sistem ekonomi menjadikan perempuan tak memiliki daya tawar yang memadai. Maka jangan heran, meski kepiluan tak terperi menyaksikan penderitaan TKW-TKW kita, baik yang terusir atau yang tidak dari tanah rantau, tetaplah mereka menjadi orang-orang yang tak bisa memilih. Meski semua mengakui, tak sedikit devisa mereka sumbangkan bagi negeri ini.
Sistem politik pun demikian. Perempuan hanya dijadikan komoditas politik yang habis manis sepah dibuang. Kuota 30 persen keterwakilan perempuan di legislatif dinilai banyak kalangan masih bersifat basa-basi. Tetapi sejujurnya, bukanlah jaminan bahwa jika perempuan menduduki jabatan publik maka kepentingan perempuan bisa diperjuangkan secara optimal.
Kita lihat, meski banyak pemimpin perempuan yang sudah duduk di posisi-posisi strategis—bahkan presiden sekalipun—memperjuangkan nasib perempuan tetaplah agenda yang harus ikut aturan voting. Hitung punya hitung, akhirnya masalah kaum ibu ini selalu menjadi bahasan yang belum mendesak.
Namun, meski begitu mengenaskan fenomena umum masyarakat perempuan yang ada di hadapan kita, perempuan seyogyanya tak perlu menyesali takdirnya. Karena, dengan keikhlasan dalam menerima ketetapan-Nya merupakan solusi jitu untuk bisa bersyukur. Lihat, bukankah berjubel masyarakat di dunia semua terlahir dari rahim perempuan? Jadi, wajar jika tangan perempuan sebenarnya adalah penentu corak kepribadian masyarakat dunia. Di balik segala kedigdayaan atau kejumawaan sosok siapa pun, pasti ada perempuan di belakangnya. Dalam peran positif maupun negatifnya. Kewibawaan seorang suami, terjaga oleh istri, tersungkurnya seorang suami, karena seorang istri. Generasi yang cemerlang karena peran ibu, generasi yang tercampak juga karena ibu.
Maka, berbanggalah sebagai seorang perempuan, sebagai anak, istri, ibu, nenek, tante, atau predikat kefeminiman yang lain. Karena perempuan adalah anugerah, maka kemudian kita bisa berkontribusi positif bagi terwujudnya peradaban dunia.
Perempuan, dia perkasa. Sebagaimana seorang perempuan yang mengalami kontraksi beruntun pada perut belasan jam–dan tentu ini sangat sakit—yang diakhiri dengan anugerah luar biasa, meluncurnya seorang manusia kecil dengan tangisnya yang melengking, mampu memaknainya sebagai puncak kenikmatan sebagai perempuan. Mereka bangga dan bahagia. Dan, Demi Allah—kecuali mereka punya rahim dan infrastruktur yang menopangnya—ini tak akan dirasakan oleh laki-laki. Begitu? Wallahu a’lam bish showwab.[sf]
* Sawiji Farelhana adalah alumnus FMIPA Matematika, ITS, Surabaya. Ia tinggal di Puri Cipageran Indah I Blok H3 No. 15, Cimahi. Farel sudah menikah dan dikaruniai empat putra-putri.
Oleh: Sawiji Farelhana