Samurai Sejati 2: Fokus Menang ala Star Trek

rm1Oleh: Risfan Munir*

Salah satu tujuan berkarier adalah mencapai prestasi, kemenangan. Motivasi ini bisa digali dari spirit samurai yang terbukti mengantarkan Jepang menjadi pemimpin industri dunia. Bagi samurai sejati Musashi tujuan samurai ialah kemenangan. Ilmu pedang, tata cara, kuda-kuda, urutan, dan kesempurnaan jurus perlu dipelajari, tetapi bukan sebagai tujuan. Tujuan utama samurai ialah kemenangan. Prinsip ini ia tegaskan dalam Kitab Angin (satu Bab dari The Book of Five Rings) sekaligus untuk mengritik do-jo (perguruan) lain yang mengajarkan seni bela diri hanya sebagai kemahiran, ilmu, dan keindahan akrobatik, tanpa spirit dan keberanian untuk menang.

Dalam dunia kerja dan bisnis masa kini, perbedaan orientasi atau motivasi kerja seperti ini juga sering kita jumpai. Dua orang sama-sama dari bidang tertentu, yang satu berpikir dan bertindak untuk kemenangan. Sementara, yang satu lagi pikiran dan tindakannya berfokus pada ketaatan kepada pakem ilmu yang dipelajarinya. Tetapi, ada juga orang ketiga yang bekerja asal menjalankan tugas dan melakukan apa yang diperintahkan dari pagi hingga jam pulang. Di sini yang kita bahas tentunya yang pertama dan kedua saja, karena dua-duanya baik, tetapi orientasinya berbeda.

Fokus pada kemenangan mengarahkan yang bersangkutan menjadi proaktif, progresif, menerapkan ilmu, taktik, dan strategi secara kreatif sesuai situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan tujuan utama meraih kemenangan. Dia tak mudah kecewa kalau sikon yang ada di luar perkiraan, karena prinsipnya selalu “ready for the best, prepare for the worst” (siap menang, siap kalah).

Sementara, orang kedua yang orientasinya ialah kesempurnaan tata cara dan penerapan teori, ilmu, dan teknik secara “baik dan benar”, kelebihannya bisa lebih bagus dan sempurna. Namun kelemahannya, dia lebih sering kecewa atas situasi dan kondisi yang umumnya tidak seperti yang diharapkan atau diasumsikan. Akibatnya, dia lebih rentan untuk kecewa, bahkan frustrasi, lalu sinis kepada realitas yang terjadi.

Dari dua tipe fokus tersebut kita tahu mana orientasi berpikir dan kerja yang terbaik, yaitu untuk menang. Tetapi yang namaya bawaan psikologis, sering kali itu sifat bawaan yang sulit kita ganti. Sering kali kita tidak bisa memaksakan perubahan “bakat” diri. Meskipun kita harus dan sudah berupaya keras, suatu saat seseorang harus pula realistis menerima bakat “siapa” diri ini, tanpa kekecewaan. Dan, tetap optimis untuk menang.

Bagi penggemar Star Trek, baik serial TV maupun yang diputar di layar lebar, dilema di atas tergambar dengan perbandingan antara karakter kapten James Kirk yang sejak remaja selalu berorientasi pada kemenangan, jagoan. Oleh karena itu, dia juga sangat gemar menguasai berbagai kemahiran. Secara kontras dibandingkan dengan karakter perwira Spock, yang blasteran manusia dan Vulcan, yang sangat sempurna penguasaan ilmu, selalu logis sistematika berpikirnya. Tetapi, orientasi dan fokusnya untuk kesempurnaan dan ketaatan pada azas ilmu dan logika, bukan untuk kemenangan.

Dengan kerapihan dan patuh pada pakem itu membuat pikiran Spock sangat mudah dibaca oleh Kirk. Sehingga, dengan santai Kirk dapat mengalahkan simulasi tersulit yang dibuat Spock. Bahkan, fokus dan keasyikannya pada ilmu dan logika itu menyebabkan Spock tidak menyadari kehadiran musuh, yang sudah menghadang dan siap menghancurkan pesawat ruang angkasa USS Enterpise yang mereka kemudikan.

Jika memang kedua orientasi, “untuk menang vs. untuk kesempurnaan” tersebut sering kali merupakan karakter bawaan kita yang sulit diubah, maka dalam batas tertentu ya harus diterima. Sebagaimana diilustrasikan dalam Star Trek, dalam kerja tim kedua karakter itu bisa dipadukan menjadi kekuatan yang saling melengkapi dan tak terkalahkan. Yang pertama sebagai Kapten James Kirk yang selalu siap menghadapi situasi dan kondisi apa pun, secara proaktif, progresif berfokus pada kemenangan. Di dampingi oleh karakter Spock sebagai perwira utama yang sangat resourceful, kaya ilmu, logis, sebagai penasihatnya. Dwi tunggal yang tak terkalahkan.

Merasakan Kemenangan dalam Pikiran

Pelajaran kedua dari Star Trek dalam bermain pikiran untuk merasakan kemenangan. Dalam film ini penonton diajak untuk melakukan perjalanan melintas ruang-waktu berjarak 16 tahun cahaya. Ini adalah latihan menarik untuk memainkan pikiran kita sendiri melintas waktu terbang ke masa lalu dan kembali ke masa depan. Bahwa, kita ternyata mampu memainkan pikiran melintas ruang dan waktu, walau awalnya tak mudah.

Melihat dan merasakan ”sukses” di masa lalu untuk bekal menciptakan ”sukses” di masa depan itu penting. Tujuannya agar secara tak sadar (unconscious) pun kita terdorong menuju kepada sukses yang kita dambakan. Untuk merasakan ”sukses” ini saya mengajak pembaca untuk mempraktikkannya, bukan sekadar membaca uraian di bawah ini.

Silakan ambil posisi duduk yang tenang di tempat yang relatif tenang. Lalu, nyamankan diri, sambil menarik napas panjang perlahan tiga kali. Juga rasakan nimatnya ketenangan…. Sementara itu, mulailah mengingat kemenangan yang pernah Anda rasakan, entah baru-baru ini, entah waktu kuliah, atau waktu sekolah, entah bersama keluarga atau teman. Yah, mungkin Anda ingat beberapa peristiwa sukses itu, pilih satu saja. Sukses apakah itu? Ya, Anda ingat betul. Bagaimana perasaan waktu itu? Gambarkan dalam pikiran. Bagaimana suasana yang Anda rasakan, kebahagiaan, kemenangan. Siapakah orang-orang yang menyaksikannya? Yang Anda hormati, kasihi. Bagaimana ekspresi mereka memberi pujian dan pengakuan, ingatlah senyuman mereka. Mungkin ada yang bisa dikuantifikasi, Anda juara peringkat berapa, berapa skor Anda, berapa yang Anda raih. Rasakan yang Anda rasa sebagai kemenangan itu, bagaimana reaksi fisik Anda, di dada, di sekujur tubuh.

Rasakan, tetap pada perasaan itu beberapa lama. Kemudian perlahan kembali kepada kondisi sekarang lakukan hitungan mundur dari 10, 9, 8,…3, 2, 1. Kalau tadi Anda sambil tutup mata, perlahan bukalah mata Anda. Tarik napas panjang perlahan tiga kali. Kalau sekali melakukan proses tersebut masih tersendat, lakukan beberapa kali, pada beberapa kesempatan. Yang penting Anda betul-betul merasakan ”perasaan sukses” itu.

Setelah melakukan proses menggali sukses di masa lalu itu kita memperoleh ”perasaan sukses” yang pernah kita rasakan, kemudian Anda bisa menggunakannya untuk memvisualisasikan, menggambarkan bentuk sukses yang Anda dambakan di masa depan. Caranya hampir sama dengan pergi ke masa lalu di atas. Ambil posisi duduk tenang, bayangkan diri melintasi cakrawala, atau jalan panjang, atau melintasi antariksa bintang-bintang malam, menuju suatu tempat dan waktu di mana ”cita-cita” Anda tercapai.

Apa yang terlihat? Benda-benda yang Anda dambakan? Orang-orang yang Anda cintai menjadi yang Anda harapkan? Atau apa pun yang Anda dambakan, bisa hal besar, bisa hal kecil. Rasakan nikmatnya, reaksi tubuh Anda, berkembangnya rongga dada, dan anggota badan lainnya. Setelah tergambar situasi, warna-warna, angka-angka, terdengar bunyi-bunyi, percekapan atau musik yang ada, juga sensasi emosiyang Anda rasakan. Bartahanlah pada posisi itu beberapa saat sesuai yang Anda inginkan.

Kemudian perlahan kembali kepada kondisi sekarang lakukan hitungan mundur dari 10, 9, 8,…3, 2, 1. Lalu, tarik napas panjang perlahan tiga kali. Proses ini bisa dilakukan setiap saat, agar visi atau ”gambaran sukses” itu secara refleks, tanpa kita sadari (unconscious) hadir dan memandu kita menuju ke sana, memengaruhi tiap keputusan yang harus kita ambil.

Pesannya: Selalu berfokus kepada kemenangan, prestasi, lebih dari sekadar mengejar kesempurnaan yang kaku. Untuk itu kuasai semua ilmu dan keterampilan, tetapi jangan terjebak obsesi mengejar kesempurnaan. Tetaplah “ready for the best, prepare for the worst situation“.[rm]

* Risfan Munir adalah peminat spirit samurai untuk meningkatkan etos kerja. Ia bekerja sebagai seorang konsultan manajemen dan perencanaan. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini sudah menulis tiga buku berjudul Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Seri Manajemen: Skema Tindakan Peningkatan Pelayanan Publik, dan Aplikasi Pemberdayaan UMKM. Ia dapat dihubungi melalui blog http://ecoplano.blogspot.com dan pos-el: risfano[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Pengembangan Diri Ala Samurai Sejati

Risfan MunirOleh: Risfan Munir*

Kisah sukses ekonomi atau industrialisasi Jepang selalu dikaitkan dengan budaya bangsa itu, di mana spirit samurai menjadi salah satu kekuatannya. Oleh karena itu akan bermanfaat sekali untuk mempelajari spirit samurai itu. Dan, salah satu sumber maupun simbol etos samurai adalah Miyamoto Musashi. Dialah pendekar samurai tiada tara yang menulis buku The Book of Five Rings (Go Rin No Sho). Ini adalah hasil renungan atau kontemplasinya setelah menjadi samurai tak terkalahkan.

Musashi memberikan penjelasan singkat pemilihan judul itu: BUMI, simbol pandangan dasarnya tentang seni bela diri; AIR, terkait gayanya yang dilandasi sifat mengalir dan kejernihan; API, atau peperangan, dikaitkan dengan energi dan kemampuannya berubah; ANGIN, terkait pengamatan atau kritiknya atas atas macam-macam gaya dari perguruan lain; KEHAMPAAN, ini bagian yang sangat filosofis, bahwa ujung kesempurnaan adalah kehampaan jua.

Meski media buku ini adalah panduan teknik samurai, tetapi intinya adalah tentang “permainan pikiran” juga. Bagi Musashi, seni bela diri adalah sebuah pendekatan (psikologi) pada Jalan (disiplin, destiny) yang sesuai untuk dijadikan panduang pengembangan diri.

Ada beberapa prinsip yang menjadi benang merah kelima Bab, yaitu: (1) Pentingnya timing, yang mesti selalu diserasikan dengan ritme lawan dan situasinya. (2) Pentingnya pengetahuan yang menyeluruh atas diri sendiri dan lawan, mirip analisis SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, threats). (3) Pentingnya permainan “persepsi”, agar betul-betul bertindak berdasar fakta, bukan persepsi, dugaan, agar tak mudah diprovokasi, dan dikelabuhi. (4) Berikutnya, pentingnya mengendalikan “pikiran lawan”, dengan tipuan, pengecohan, gertak, provokasi, dan taktik lainnya. (5) Akhirnya ialah pentingnya praktik, praktik dan praktik, kalau mau mahir. Ukuran keberhasilan belajar bukan lulus ujian oleh guru, tetapi keberhasilan menaklukkan lawan.

Memahami ajaran Musashi tentu tidak untuk belajar samurai, karena kalau mau belajar seni bela diri apa pun ya lebih praktis ikut kursus. Sekali lagi, ini bertujuan untuk menggali spirit samurai yang katanya mampu memompakan etos maju bangsa Jepang.

Pada Kitab Bumi, Musashi menganalogikan belajar samurai seperti kerja tukang kayu yang harus menguasai aneka alat (gergaji, palu, penyerut, dst), menguasai banyak teknik (memotong, menyambung, meluruskan), serta memilih kayu yang tepat untuk pilar, palang, kusen, pintu, dst. Di samping mahir secara pribadi juga mahir memimpin pasukan dalam pertempuran. Ini juga seperti tukang kayu yang harus mampu memilih tukang, mengorganisir, dan disiplin mengikuti blue-print.

Pada Kitab Air dia meggarisbawahi pentingnya mengikuti watak air yang “jernih dan fleksibel.” Jernih menilai lawan, tak tertipu oleh persepsinya sendiri. Dan, fleksibel atau lentur. “Tanaman yang fleksibel hidup, tanaman kaku adalah tanaman mati.”

Kitab Api, membahas aspek taktik duel dan strategi pertempuran. Di antaranya ada dua strategi yang menarik bagi saya. Pertama, taktik meminjam tenaga lawan. Seorang samurai tua bisa menghadapi lawan yang muda, dengan taktik gerak tipuan untuk membuat lawan bertindak sia-sia, sibuk kelelahan. Kedua, strategi “menyeberang sungai”, saat kita menjalankan rencana, kadang tak terhindarkan harus menentang arus desar. Pada titik itu tak ada pilihan kecuali kerja keras mendayung untuk sampai ke seberang.

Kitab Angin, dalam kitab ini Musashi banyak membandingkan do-jo-nya (perguruan) dengan do-jo lain yang dia kritik sebagai mengembangkan seni akrobat, kembangan, daripada seni pedang sesungguhnya yang tujuannya semata mengalahkan lawan.

Musashi juga mengajarkan agar taktik dan serangan yang dilakukan “tidak terbaca”. Karena sering melakukan serangan “di luar pakem”, atau yang konvensional” tujuannya agar lawan tak bisa menebak, atau bisa diprovokasi. Contohnya, saat duel dengan musuh bebuyutannya Sasaki Kojiro, di perahu menuju pantai tempat duel, dia buat pedang kayu dari dayung cadangan. Datangnya pun terlambat , ini pantangan bagi disiplin samurai. Akibatnya Kojiro heran dan tersinggung emosional. Di situ dia terpecah pikirannya dan Musashi pegang kendali dan menang.

Kitab Kehampaan, ini bab paling tipis. Sesuai dengan judulnya, isinya sangat filosofis. Mengingatkan kita untuk melihat “fakta sesungguhnya”, atau hakikat. Karena kita umumnya terbiasa melihat “label” daripada “realita objektifnya”. Kalau disebut kata “laut”, seketika terbayang “luas dan biru.”

Dalam duel, dalam pengambilan keputusan, subjektivitas, persepsi dini, juga prejudice, stereotyping, bisa mengecoh diri sendiri. Apalagi kalau lawan tahu pikiran bias dan preferensi kita, mereka bisa sengaja mengecoh kita. Maka Musashi menyarankan “kosongkan pikiran”, hadapi lawan (realitas) apa adanya, bebaskan dari asumsi, praduga. Pahami realita apa adanya. Ini sulit, tetapi alangkah indahnya kalau kita bisa selalu berpikiran “jernih”, tak dikacaukan, dipusingkan dan dibikin rancu oleh persepsi dan preferensi, judgement tertentu, yang seringkali tanpa fakta objektif.

Apalagi di era informasi ini, tiap hari kita dicekoki oleh berita televisi, koran, gosip yang lebih banyak “opini”-nya daripada faktanya.”Bersihkan pikiran dari bias dan ego, bebaskan pandangan dari mode, tekanan teman, prakonsep, maka Anda akan melihat (fakta atau) kebenaran sejati.”

Ketajaman mengobservasi adalah salah satu rahasia kekuatan Musashi. Mengamati semua hal, tanpa terkecoh oleh pesona, godaan ataupun provokasi dari yang diamatinya. Kuncinya, dia katakan, adalah “persepsi”. Kita harus bisa malihat situasi apa adanya. Sering kali “hasrat” dan “ketakutan” kita yang mendominasi pikiran, sehingga kita tak bisa melihat sesuatu apa adanya.

Dari pesan sang Samurai saya berkaca, betapa seringnya saya membaca, mendengar, mengamati banyak hal dengan “frame” saya sendiri. Lalu dengan cepat prejudice, menghakimi. Akibatnya kita tidak banyak belajar dari orang lain. Dan, sering salah menilai maupun salah mengambil keputusan. Sebagai fasilitator, trainer, metode partisipatif juga menghendaki kita untuk tidak “datang membawa jawaban”, tetapi betul-betul terbuka terhadap aspirasi audiens. Para manajer masa kini juga diajar untuk lebih banyak mendengar sebelum bicara. Kata Covey,”first seek to understand, then to be understood.” Jernihkan persepsi, memahami dulu aspirasi audiens, baru minta dimengerti.[rm]

* Risfan Munir adalah peminat spirit samurai untuk meningkatkan etos kerja. Ia bekerja sebagai seorang konsultan manajemen dan perencanaan. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini sudah menulis tiga buku berjudul Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Seri Manajemen: Skema Tindakan Peningkatan Pelayanan Publik, dan Aplikasi Pemberdayaan UMKM. Ia dapat dihubungi melalui blog http://samuraisejati.blogspot.com dan pos-el: risfano[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox