Risfan Munir: Kita Harus Kembangkan Mindset Appreciative!

Risfan Munir

Risfan Munir

Sadar atau tidak, setiap hari kita disuguhi bahkan terpenjara oleh berbagai macam informasi dan pemberitaan yang sifatnya negatif. Karena begitu dominannya model pemberitaan dan arus informasi sejenis itu, mau tak mau persepsi dan pemikiran kita terpengaruh pula sehingga menjadi ikut negatif. Akibatnya, bisa saja kita terbawa kepada pilihan-pilihan sikap dan perilaku negatif pula. Padahal, perspektif negatif sangat sulit diandalkan untuk menyelesaikan masalah dengan baik karena memang sifatnya yang selalu “mengkritisi” atau bahkan menyabotase optimisme.

Risfan Munir adalah seorang trainer, fasilitator, dan motivator yang mengajukan gagasan tentang pentingnya pengembangan karakter dan mindset yang lebih fokus pada kemajuan dan perbaikan dengan rasa syukur, pikiran jernih, apresiasi atau penghargaan, serta optimisme. Sebab, menurut Munir, untuk menghadapi deraan pengaruh negatif dari berbagai penjuru di atas, yang harus dibangkitkan saat ini adalah rasa optimisme di segala bidang.

“Seni mengapresiasi keberhasilan, walau itu kecil, akan lebih efektif untuk mendorong perbaikan di semua bidang, daripada kritik misalnya. Karena, kebanyakan orang kalau dikritik akan mencari kambing hitam dan mereka kian apatis,” ujar Risfan Munir memberikan contoh penyikapan berdampak positif dan solutif.

Risfan Munir sehari-hari adalah seorang konsultan di bidang perencanaan, manajemen, dan pengembangan kapasitas organisasi swasta, LSM, dan pemerintah baik di pusat maupun daerah mulai dari Sabang hingga Merauke. Pria kelahiran Malang Jawa Timur tahun 1955 ini menamatkan studi Strata Satu dan Strata Dua di Institut Teknologi Bandung (ITB), dan sempat belajar Real Estate Finance pada University of Texas at Arlington, USA. Risfan Munir juga aktif sebagai di bidang pengembangan kewirausahaan, dinamika klaster ekonomi lokal, peningkatan kinerja manajemen usaha maupun pelayanan publik.

Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com ini sudah menghasilkan beberapa buku, yaitu Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Skema Tindakan Peningkatan Pelayanan Publik, Good Practices dalam Pengembangan UMKM, Good Practices dalam Peningkatan dan Pelayanan Kesehatan, dan yang terbaru berjudul Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati (GPU, 2009). Buku yang digali berdasarkan kombinasi nilai-nilai ala bushido samurai dengan pendekatan Neuro Linguistic Program (NLP) tersebut cukup menarik untuk didiskusikan. Berikut petikan perbincangan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Risfan Munir pada Januari 2010 lalu:

Apa isi buku Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati ini?

Ya, buku saya ini mengenai bagaimana mencapai kemenangan, dalam karier, pekerjaan, ataupun dalam kehidupan sehari-hari.

Ini buku motivasi atau buku how to?

Boleh dibilang keduanya. Motivasi, karena bicara mencapai “kemenangan” kan berarti memotivasi diri untuk selalu menuju kepada cita-cita dan tujuan dengan selalu bersemangat. Juga tentang how to. Karena, dalam tiap bab atau jurus, saya selalu memaksudkannya supaya dapat diterapkan secara langsung. Ada jurus atau langkah pada tiap akhir bab yang saya beri istilah katana atau pedang.

Risfan Munir bersama kolega

Risfan Munir bersama kolega

Bagaimana sampai Anda begitu menggemari filosofi para samurai dan membuatnya menjadi buku panduan dan motivasi?

Memang sejak masa sekolah saya suka baca kisah tentang ksatria seperti Nogososro Sabuk Inten. Juga kisah bersambung samurai Musashi. Umumnya bacaan ini mengisahkan kepahlawanan dan keteguhan dalam meraih cita-cita, atau membela apa yang diyakini. Belakangan, saya membaca lebih jauh tentang kisah samurai termasuk The Book of Five Rings yang ditulis sendiri oleh pendekar samurai Musashi. Di situ saya baca bagaimana “permainan persepsi” begitu banyak diungkapkan sebagai kunci kemenangan. Saya pikir ini sesuai dengan perkataan pakar marketing Al Ries, “We are not in the battle of product, but perception.” Kita semua sekarang merasakannya, betapa perang persepsi yang disampaikan lewat media, baik dalam pemasaran, iklan, atau debat politik telah “memusingkan” kita semua.

Menurut Anda, apa istimewanya filosofi para samurai tersebut?

Yang saya jadikan acuan adalah kisah dua tokoh. Pertama, Musashi yang dijuluki sebagai the Lone Samurai, yang merupakan pendekar yang secara mandiri unggul. Dalam buku yang ditulisnya sendiri, The Book of Five Rings, dia menegaskan pentingnya “bermain persepsi” untuk mencapai kemenangan. Ini yang menurut saya sesuai dengan situasi masa kini di mana “permainan persepsi”, terutama via media massa, telah memengaruhi pikiran kita, fokus kita dalam mencapai tujuan, dan semangat atau optimisme kita. Karena itu, saya ingin berbagi dalam “bermain persepsi” ini melalui jurus-jurus menang itu. Tokoh samurai kedua yang saya jadikan acuan ialah Hideyoshi Toyotomi. Dia tokoh nyata dalam sejarah bangsa Jepang yang kepemimpinannya telah berhasil mempersatukan Jepang setelah masa perang antarklan lebih dari seabad. Hideyoshi disebut sebagai “Samurai Tanpa Pedang”. Mengapa? Karena dia tidak mengandalkan kekerasan dalam kariernya, melainkan persuasi dan sifat kepemimpinannya. Karena itu, jurus-jurus persuasi yang dia contohkan saya pikir layak diangkat dalam situasi bangsa kita yang cenderung suka bertikai saat ini.

Berbagi pengalaman menulis buku

Berbagi pengalaman menulis buku

Balik lagi ke proposisi Al Ries, semua ini soal permainan persepsi. Apakah ini terkait dengan bidang NLP yang Anda tekuni?

Betul. NLP (Neuro Linguistic Programming: red) dalam hal ini saya gunakan sebagai alat bantu untuk lebih mudah menanamkan apa yang dipelajari pembaca ke dalam “pikiran bawah sadar.” Perubahan sikap dan perilaku akan lebih cepat dan efektif kalau apa yang kita pelajari masuk ke “pikiran bawah sadar” sehingga menjadi refleks spontan saat dibutuhkan.

Bagaimana ceritanya sampai filosofi samurai bisa dikait-kaitkan dengan NLP? Yang satu tradisional dan berusia ratusan tahun, satunya lagi ilmu yang baru saja dikembangkan?

Di situlah menariknya. Sebetulnya tidak terlalu aneh ya karena keduanya, baik pendekatan tradisional maupun yang masa kini, kan menyangkut aspek psikologi. Kalau soal nilai-nilai kesatria, sportivitas, itu kan universal, tak mengenal waktu. Tapi menyangkut pendekatan, metode, kan mestinya kalau ada metode lebih baru juga bisa dimanfaatkan. Sekali lagi ini menyangkut aspek psikologisnya ya. Kan saya tidak bicara tentang ilmu fisik bermain pedangnya. Poin yang paling menonjol yang ditunjukkan oleh Musashi adalah “kejernihan pikiran” atau persepsinya dalam menanggapi segala sesuatu.

Soal kejernihan pikiran ini, kalau dari kacamata NLP apakah juga penting untuk pengembangan diri seseorang?

Tentu. Karena, NLP secara praktis adalah teknik memainkan pikiran. Bagaimana agar kita bisa menguasai dan mendaya gunakan pikran kita sendiri? Baik “pikiran sadar” maupun “pikiran bawah sadar”. Betapa sering kita seperti berpikir. Padahal, sesungguhnya kita hanya bereaksi atas bujukan atau provokasi pihak lain terhadap kita. Contohnya, tiap pagi kita memulai hari dengan perasaan segar karena baru bangun dari istirahat. Namun, kita awali kegiatan dengan baca koran, melihat televisi yang menampilkan berita tidak menyenangkan. Maka, suasana pikiran kita berubah seketika. Kita jadi murung, kurang optimis, atau ikut-ikutan bicara, diskusi, seolah kita ahli politik, ahli hukum. Seperti berpikir, padahal hanya bereaksi saja atas berita. Padahal semua yang kita tonton itu belum tentu berpengaruh.

Risfan sebagai trainer, fasilitator, dan motivator di lapangan

Risfan sebagai trainer, fasilitator, dan motivator di lapangan

NLP penting untuk membedah sistem berpikir seseorang, apakah mengarah ke efektivitas atau inefektivitas. Betul begitu?

Betul. NLP sebagai teknik psikologi praktis dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas berpikir. Ini supaya seseorang bisa menjadi “tuan bagi pikirannya sendiri”. NLP berguna untuk menata pikiran dan motivasi diri agar efektif. NLP juga penting untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik individu maupun audiens. Bagusnya, selain mengungkap aspek verbal, NLP juga mempelajari perasaan dan tingkah laku yang “tak disadari” seseorang. Misalnya, untuk memvisualisasi visi atau sasaran yang ingin dicapai seseorang. Dengan metode NLP, kita tidak cukup hanya membayangkan rupa mobil dan jumlah uang yang ingin kita raih. Tetapi, kita juga harus tahu “bagaimana perasaan waktu itu, apa warna-warna yang muncul, bagaimana wajah orang yang kita cintai saat memberi selamat”. Ini penting agar pikiran bawah sadar kita juga merasakan “sukses” yang kita idamkan itu. Mengapa? Ini supaya setiap saat—tanpa kita sadari—gambaran tersebut akan senantiasa mengingatkan dan “memandu” kita menuju sasaran.

Menggabungkan perspektif NLP dengan filosofi samurai jelas bukan perkara mudah. Anda menemui kendala dalam penulisan buku ini?

Ada seninya dalam hal ini. Yaitu, bagaimana menangkap pesan atau pengalaman psikologis samurai. Terutama Musashi yang menulis sendiri pengalaman psikologis dan pemikirannya dalam bukunya. Kemudian, saya coba mengaitkannya dengan beberapa jurus atau program NLP yang biasa saya gunakan sebagai praktisi. “Berpikir tanpa persepsi” atau “Jadilah lawanmu”, memahami pikiran lawan bicara misalnya. Ini pesan Musashi. Ini justru akan lebih efektif dan mudah kalau menggunakan jurus NLP, seperti yang saya tulis dalam buku ini.

Menurut Anda, siapa saja yang paling membutuhkan buku ini sekarang dan mengapa demikian?

Buku ini bisa bermanfaat bagi siapa pun. Baik wirausahawan, eksekutif, karyawan, mahasiswa, pelajar, maupun orang tua. Tiap orang bisa membaca dan menerapkan jurus-jurus atau metode yang disarankan dalam buku ini sesuai kebutuhannya. Membacanya pun tidak harus urut dari awal sampai akhir. Karena, pada intinya buku ini didasarkan pada asumsi bahwa setiap orang, apa pun perannya di keluarga dan masyarakat, dia punya cita-cita dan keinginan tetapi juga punya “hambatan internal” dalam dirinya. Apa saja? Takut, ragu, malu, merasa tak pantas, dan seterusnya. Juga ada “hambatan lingkungan” seperti tekanan atasan, orang tua, dan olok-olok teman. Jurus-jurus dalam buku ini dimaksudkan untuk menepis hambatan internal, menembus hambatan lingkungan, bahkan mendapatkan dukungan dari teman atau orang yang kita anggap lawan.

mengembangkan gagasan mindset appreciative

mengembangkan gagasan mindset appreciative

Baik, apa yang Anda dapat dari menulis buku ini?

Banyak nilai yang saya peroleh dari menulis buku ini. Pertama, perjuangan menulis hingga diterbitkannya buku ini oleh Gramedia merupakan bukti “kemenangan” atas diri sendiri, tentunya dengan menggunakan jurus-jurus yang saya sarankan dalam buku ini. Kedua, proses menulis di tengah kesibukan kerja rutin sungguh merupakan perjuangan tersendiri. Penerapan jurus dalam berkomunikasi menghasilkan dukungan dari teman, terutama dari Proaktif Writer Schoolen (lembaga pelatihan menulis untuk profesional: red), dan sesama Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com. Ini sungguh merupakan nilai tinggi yang tak saya duga sebelumnya. Ketiga, undangan untuk berbicara, untuk men-training-kan jurus-jurus dalam buku ini di perusahaan swasta, kelompok swadaya masyarakat, dan komunitas sosial. Ini merupakan kebahagiaan yang juga tak saya duga sebelumnya. Keempat, datangnya syukur saat orang menyampaikan bahwa jurus tertentu telah membantu dia untuk mengatasi persoalan yang dia hadapi, membantu gugus kerjanya menyusun resolusi tahun baru, atau membantu kelompok UKM yang dia bina, dan lain sebagainya.

Apa profesi Anda dan sebenarnya apa yang sehari-hari Anda lakukan?

Profesi saya sehari-hari adalah konsultan perencanaan kota atau daerah, manajemen pelayanan publik dan pengembangan ekonomi atau kelompok UMKM setempat. Dalam hal ini saya sering berkunjung ke berbagai daerah di Tanah Air dan melakukan perbandingan dengan yang terjadi di beberapa negara. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa “seni mengapresiasi” keberhasilan, walau itu kecil, akan lebih efektif untuk mendorong perbaikan di semua bidang, daripada kritik misalnya. Karena, kebanyakan orang kalau dikritik akan mencari kambing hitam dan mereka kian apatis. Saat ini, masyarakat kita perlu dibangkitkan optimismenya sehingga persepsi apresiatiflah yang sebaiknya kita sebarkan.

Kalau untuk profesi tersebut, hal teknis apa yang biasa Anda lakukan?

Pada saat ini, sebagai konsultan perencanaan ataupun menajemen, kita tidak bisa bekerja di belakang meja. Kita harus bertindak sebagai fasilitator, moderator, dan mau tak mau jadi motivator juga dalam memfasilitasi stakeholders. Mereka adalah pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat. Kita memfasilitasi dalam merumuskan masalah dan secara partisipatif merumuskan solusi, menyusun rencana, baik rencana pembangunan, peningkatan pelayanan publik serta pemberdayaan kelompok UMKM.

Persoalan-persoalan paling krusial seperti apa yang Anda temui di kota-kota atau daerah yang Anda tangani?

Masalah paling krusial saat ini terutama karena terjadinya perubahan yang cepat, akibat pertumbuhan penduduk perkotaan yang tinggi, namun tidak diimbangi kesempatan kerja. Akibatnya adalah besarnya angka kemiskinan perkotaan dan masalah sosial ikutannya. Sementara, pemerintah daerah masih “kaget” dengan otonimi daerah. Kebanyakan sumber dayanya terbatas sehingga banyak yang kebingungan akan melakukan apa. Akhirnya, yang dibuat malah yang bukan kebutuhan warganya. Sementara itu, mengingat potensi sumber daya yang dimiliki masyarakat dan swasta, mestinya mereka diajak berpartisipasi dalam pembangunan kota atau daerah. Tetapi karena sikap mental atau persepsi yang masih belum bisa berubah, potensi tersebut tak bisa dilibatkan kontribusinya secara optimal. Masalah lain terkait sikap psikologis yang cenderung tidak positif.

Bersama para Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com

Bersama para Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com

Apa yang kira-kira bisa disinergikan antara permasalahan-permasalahn tersebut dengan “ilmu tambahan” yang Anda tulis dalam buku samurai ini?

Yang pokok ya itu tadi, ada jurus-jurus yang menyarankan kita untuk menginventarisir “keberhasilan”. Walau masih kecil, sedikit, daripada berfokus pada identifikasi atau menggali “persoalan”. Persepsi atau cara pandang inilah yang banyak saya ambil dari buku yang saya tulis ini. Ini pula yang saya terapkan dalam memfasilitasi stakeholders pemerintah daerah ataupun klaster UMKM di daerah.

Apa mereka tahu prinsip-prinsip tersebut diambil dari filosofi samurai dan NLP?

Kepada audiens atau konsumen akhir tidak saya sampaikan. Karena, bagi mereka yang penting masalah mereka terpecahkan, rencana tersusun. Tapi kepada para jaringan fasilitator, baik dari perguruan tingi, LSM atau individual, metode termasuk jurus-jurus dalam buku ini saya sampaikan. Dan, para fasilitator itulah pembaca dan pengguna buku ini. Namun, banyak juga audiens yang akhirnya tertarik membaca buku ini karena sudah merasakan manfaatnya. Kepada mereka saya jelaskan nilai hiburan dan manfaat praktis buku ini.

Ada pengalaman menarik pascapenerbitan buku Anda ini?

Ya, undangan untuk men-training-kan buku ini. Padahal, tadinya saya pikir hanya hanya untuk dibaca. Pengalaman menarik yang masih datang hingga hari ini ialah apresiasi pembaca via Facebook, email, dan SMS. Ini di luar dugaan saya. Saya pikir setelah menulis, buku terbit, ya selesai. Tadinya saya ragu apakah saya bisa dan berani menulis di luar bidang profesional konsultan. Ternyata, dengan sambutan dari kalangan akademisi pula, membuat penulisan bidang baru ini menjadi “bagian dari diri saya” juga. Apalagi setelah banyak kenalan “minta advice” untuk masalah-masalah motivasi, komunikasi, dan psikologi praktis lainnya. “Bagaimana pendapat Samurai Sejati?” tanya mereka misalnya. Pertanyaan seperti main-main tapi jadi pengalaman menarik pula…

Apa rencana Anda ke depan terkait dengan profesi maupun dunia kepenulisan yang sudah Anda masuki?

Ke depan yang saya pikir adalah bagaimana terus mendorong meningkatkan kualitas manajemen pelayanan publik, good governance, pemberdayaan klaster UMKM, dengan menanamkan persepsi yang lebih “appreciative”, menghargai apa yang sudah dicapai walau masih kecil. Untuk penulisan buku, target saya ialah menulis buku tentang Manajemen Apresiatif  untuk menyebarkan “virus” apresiasi dan mempertajam kemampuan “bersyukur”. Harapan saya, buku ini akan meraih predikat bestseller. Sebuah buku yang punya pengaruh besar dalam meningkatkan nilai kemenangan dan kesejahteraan pembaca serta lingkungannya.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi Risfan Munir

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: -1 (from 3 votes)

Samurai Sejati 10: Persepsi Konflik Bank Century

rmOleh: Risfan Munir*

Bagaimanakah Anda melihat masalah Bank Century yang menjadi topik berita beberapa minggu ini? Sebagai persoalan politik, persoalan hukum perbankan, persoalan tata negara, persoalan pidana korupsi? Dalam kebijakannya apakah betul secara ekonomi masalah Bank Century itu berdampak “sistemik” atau tidak? Dari adegan yang disiarkan media, kepada siapa Anda bersimpati, sebal, bingung?

Sikap kita dalam hal ini sangat dipengaruhi oleh persepsi, baik persepsi kita sendiri maupun sudut pandang dari jurnalis yang meliputnya. Jika persepsi kita dari awal sudah mengarah ke masalah keberpihakan politik, maka informasi yang kita tangkap, logika, argumentasi yang kita susun mengarah ke aspek politik (dukung pihak A atau B). Lain lagi kalau kita melihatnya dari perspektif teknis perbankan dan aturan perbankan yang ada.

Samurai legendaris Musashi berkali-kali menunjukkan pentingnya ‘menata persepsi’ sebelum dan selama bertarung. Sering dia mengosongkan persepsi (anggapan, dugaan, sudut pandang) agar tidak terkecoh oleh penampilan lawan, tapi sebaliknya ‘tampil aneh’ untuk membingungkan, atau mengacaukan persepsi, musuh bebuyutan yang sudah pernah mengenal dirinya.

Edward de Bono (2009) mengutip hasil riset yang dilakukan Prof. David Perkins of Harvard University yang menunjukkan bahwa “90 persen kesalahan dalam berpikir adalah kesalahan persepsi” (Edward de Bono, 2009). Kebanyakan orang mengartikan berpikir sebagai penggunaan logika, menyusun argumen. Mereka menyusun rangkaian sebab-akibat dari persoalan untuk memecahkannya dengan memperbaiki penyebabnya. Umumnya orang lupa soal beda persepsi dibalik logika tersebut. Padahal, kesimpulan yang diambil seseorang sudah diarahkan oleh persepsinya.

Betapa sering orang, atau kita, salah mendefinisikan persoalan. Anak yang kalau belajar selalu mengeluh pusing dianggap kurang cerdas, padahal mungkin dia butuh kacamata minus. Orang lain yang tidak mau makan makanan yang kita hidangkan kita anggap sombong, padahal ternyata dia pantang makanan pedas.

Mengapa dua orang atau lebih, dengan ilmu yang sama bisa berdebat seru? Ini sering terjadi karena perbedaan persepsi, beda sudut pandang. Contoh sederhananya soal kemacetan lalu lintas, yang satu menganggap itu persoalan jumlah/panjang jalan yang tak bisa mengimbangi pertumbuhan jumlah kendaraan; yang lain menganggap pertumbuhan jumlah kendaraanlah yang jadi sebab sehingga perlu dikendalikan. Perbedaan sudut pandang yang paling umum adalah pandangan tentang gelas “1/2 isi atau 1/2 kosong.” Pandangan optimis melihat sebagai 1/2 isi, sementara yang pesimis melihatnya kebalikannya.

Hal penting yang layak diperhatikan, bahwa logika sulit mengubah emosi dan sudut pandang orang, namun mengubah persepsi bisa mengubah emosi. Mereka yang dari awal berpihak kepada Pansus DPR, atau sebaliknya berpihak kepada Pemerintah sulit diyakinkan dengan logika, argumen yang berbeda dengan anggapan awalnya itu. Kita dapat menyaksikan dari media betapa emosionalnya masing-masing pihak, dan saling menyatakan logika dan argumen yang diyakininya.

Masalahnya ialah bagaimana caranya mengubah persepsi kita atau orang lain itu? Dalam hal ini ada dua aspek yang disarankan (De Bono, 2009): pertama dari sisi perilaku, kedua  menggunakan teknik tertentu.

Memainkan perilaku

Pertama, kreatif terhadap apa pun, tidak hanya berpikir untuk pemecahan masalah. Kita berpikir, mengamati, mencoba memahami  sesuatu sebaiknya bukan cuma untuk “memecahkan persoalan”, tetapi juga untuk belajar, memperkaya ide untuk mengembangkan visi, tujuan dan rencana pengembangan yang lebih luas. Misalnya, lingkungan tempat tinggal kita kena banjir. Kalau kita hanya berpikir tentang mengatasi persoalan, maka jawabannya pada soal banjir setempat. Padahal kalau kita melihatnya lebih luas, jawabannya bisa mencari rumah alternative, ide-ide mencari uang untuk pindah, karena banjir di situ ternyata akan permanen.

Kita mengamati sesuatu, mencoba memahami, misalnya Kasus Bank Century di atas, bukan untuk jadi hakim atau kurban konflik yang membuat stress, tetapi juga untuk “melatih sikap dan kemampuan berpikir” menanggapi polemik dalam era tsunami informasi sekarang ini.

Untuk itu kita diharapkan punya sikap yang tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan, apalagi menghakimi. Kosongkan dulu persepsi, pesan Musashi. Carilah penjelasan, informasi lebih banyak, yang mewakili beberapa sudut pandang. Mencoba memikirkan apa isu atau tujuan utamanya, dan apa saja faktor pendukung dan penyebabnya.

Di samping itu coba lihat pilihan-pilihan sebab, pilihan-pilihan penjelasan, dan pilihan-pilihan kesimpulan dan tindakan yang mungkin bisa diambil untuk menguatkan pemahaman, atau memecahkan persoalan, atau untuk pengenbangan (diri, organisasi, perusahaan) lebih lanjut.

Selanjutnya pikirkan pula konsekuensi-konsekuensi logis dari setiap kesimpulan yang kita ambil, tindakan-tindakan yang yang akan kita buat. Dan, coba kembangkan beberapa skenario pemikiran atas beberapa kesimpulan dan alternatif tindakan, dengan mengandaikan beberapa kemungkinan perubahan situasi lingkungan.

Menggunakan Teknik Ubah Persepsi

Pendekatan kedua dalam “memainkan persepsi” ialah dengan menerapkan teknik pengubah persepsi. Ada beberapa teknik yang bisa dicoba diterapkan dalam hal ini.

Teknik berpikir pertama ialah pahami atau gunakan cara berpikir orang lain, atau tiap pihak yang ada (berkonflik). Dalam buku saya Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati (Gramedia, 2009), teknik ini disebut “jadilah lawanmu”. Kalau kita akan memengaruhi persepsi lawan bicara atau audiens, cobalah fahami lebih dulu: dari sudut mana mereka memandang. Itu bisa dipengaruhi oleh tujuan, motif, yang latar belakang juga budaya mereka yang kondisi ekonomi, pendidikan, etnis, daerah dst.

Teknik pengubah persepsi kedua ialah dengan pengungkapan aspek positif, aspek negatif dan sisi menarik (PNM) dari tiap informasi, ide atau tantangan.

Jika sekelompok orang diminta menyampaikan pendapatnya, maka ada masing-masing kecenderungan mereka melihatnya dari satu sisi  saja. Bisa positif, bisa negatif. Namun kalau diminta menyatakan sisi positif, lalu sisi negatif, maka mau tak mau kita atau audiens memikirkan kedua sisi. Lalu memikirkan sisi ketiganya, yaitu sisi menarik, atau manfaat. Sehingga, kita atau audiens akan memikirkan aspek yang lebih pribadi “apa manfaat bagiku”.

Dengan memahami hal tersebut, selanjutnya dapat dicari titik temu, misalnya persamaan persepsi menyangkut “tujuan bersama”, kepedulian pada “isu yang sama”, yang dapat diangkat sebagai tema kerja sama. Bagaimanakah pendekatan, metode, cara atau pilihan bahasa yang sesuai dengan latar budaya mereka.

Permainan role-play, yaitu memerankan diri sebagai pihak-pihak yang berkonflik akan banyak membantu dalam hal ini. Misalnya sengketa dalam pembangunan lingkungan kota, ada peran warga setempat, peran pengembang (developer), peran pemerintah daerah, dan lainnya. Memerankannya secara bergantian membuat kita atau audiens merasakan bagaimana dan apa motif masing-masing pihak. Sehingga, diperoleh pemahaman atau strategi yang lebih efektif untuk mencapai kesepakatan.

Dengan demikian, jika kita dihadapkan pada persoalan atau membanjirnya informasi misalnya Kasus Bank Century, sebaiknya kita amati dulu, mencoba memahami, mencoba berbagai sudut pandang, posisi para pihak, dan tidak terlalu cepat berpihak atau jadi hakim apalagi jadi kurban konflik yang membuat stress. Justru sesungguhnya kita bisa memanfaatkannya untuk “melatih sikap dan kemampuan berpikir” menanggapi polemik dalam era tsunami informasi sekarang ini.[rm]

* Risfan Munir, penulis buku ”Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati” (Gramedia, November 2009) dan kolumnis tetap pada AndaLuarBiasa.com, Samuraisejati.blogspot.com dan penulis lepas Pembelajar.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Samurai Sejati 9: Jangan Bangunkan Satpam!

rm1Oleh: Risfan Munir*

Tugas satpam ialah menjaga dan memberi rasa aman pada penghuni area yang dijaganya. Dia akan menahan atau mengusir pengganggu kenyamanan penghuni.

Ternyata di otak kita ada yang berfungsi “menjaga kenyamanan” diri kita, yaitu yang disebut amygdala. Sebagaimana satpam, tugasnya menangkal dan melumpuhkan ide, informasi yang potensial “mengancam kenyamanan” diri kita. Saat tiba-tiba kita dikejutkan oleh benda jatuh, ada kendaraan mau menabrak kita, atau ancaman lainnya, amygdala “memerintahkan” pikiran dan tubuh kita untuk bereaksi sangat cepat dan mengenyampingkan hal-hal lain, sebagai refleks mempertahankan diri. Cara kerjanya adalah “reaksi cepat”. Ini bagus tentu, tapi kelemahannya sering emosional, kurang berpikir panjang. Kelemahan ini yang sering merepotkan kita.

Rupanya amygdala ini juga “menjaga” diri kita dari ide “perubahan ” yang akan kita lakukan, yang potensial mengganggu zona kenyamanan (comfort zone) kita. Mengapa upaya peningkatan kualitas atau pengembangan diri seperti niat berolah raga, menurunkan berat badan, meskipun pikiran rasional kita menyatakan itu sangat penting, tetapi nyatanya kita sulit melakukannya. Itu antara lain karena amygdala menolak, karena dia spontan ingin “menyelamatkan” kita agar tetap  dalam kenyamanan.

Ide perubahan seperti mengurangi berat badan dengan olah raga dan diet. Ide berhenti merokok. Ide menulis artikel, apalagi menulis buku, semuanya mengganggu “kenyamanan” diri kita. Biasa pagi baca koran sambil minum kopi kok harus olah raga. Biasa makan jerongan yang lezat, kok harus diet. Biasa menikmati sedapnya menghisap rokok, kok harus distop. Biasa santai kok harus mengerahkan pikiran untuk menulis. Maka, amygdala bagaikan satpam, bereaksi cepat mempertahan diri kita agar tidak usah melaksanakannya, agar nyaman dan tenteram.

Oleh karena itu, jika rasio kita mengendaki kita berubah, atau melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi diri dan tujuan kita, maka lakukanlah itu “tanpa membangunkan amygdala“. Caranya ialah bergerak tanpa menimbulkan “suara, kegaduhan”, berjingkat, menyelinap bagaikan ninja, agar si satpam tak terbangun.

Lakukanlah perubahan mulai dengan langkah-langkah kecil sederhana, sehingga “radar amygdala” tidak mendeteksinya, sehingga tak ada penolakan. Inilah prinsip dari “kaizen” alias continuous process improvement, yaitu proses perbaikan berkelanjutan.

Saya sendiri sudah merasakan manfaatnya. Di rumah saya punya persoalan dengan tumpukan dokumen dan buku ada di mana-mana, di ruang kerja, di garasi, dan di gudang. Tumpukan kertas yang menurut saya “nanti ada manfaatnya.” Saking berantakannya sehingga untuk menyortir dan merapikannya, bayangan saya perlu waktu dan kerja ekstra. Jadi kalau diingatkan istri, saya selalu mengatakan,”Nanti kalau libur panjang.” Tapi bisa ditebak, kalau libur panjang, Lebaran dan Tahun Baru, pasti untuk santai atau bepergian. Jadilah tumpukan kertas itu makin menggunung.

Saya berpikirnya nanti saja sekalian kerja bakti besar-besaran. Dan, masalahnya ternyata bukan kerja fisiknya saja. Masalah membuang barang milik adalah masalah psikologis, “Sayang dibuang, siapa tahu proyek berikutnya perlu, atau ada kenangannya.” Sehingga, penolakan batin ini juga faktor besar. Walau tumpukan barang membuat rumah seperti gudang, dan omelan terus datang.

Akhirnya, saya pilih menerapkan prinsip “kaizen” ini. Pelan-pelan tumpukan demi tumpukan saya tangani. Walau kadang cuma “tega” membuang satu dua paper tak apa, kalau teganya memang baru segitu. Saya jaga agar tidak seperti “kerja bakti”, tapi kegiatan rutin seperti merapikan meja sebelum dan setelah bekerja. Ternyata, ini berjalan tanpa perlawanan berarti dari “satpam amygdala.” Setelah beberapa waktu, mulai tampak rak dan lemari jadi longgar. Ruang kerja jadi longgar, garasi dan gudang kelihatan dindingnya.

Bidang penerapan yang lain ialah olah raga. Bagi yang tidak hobi, anjuran pikiran untuk berolah raga itu selalu ada alasannya. Alasan paling klasik ialah tidak ada waktu. Apalagi bagi yang tinggal di wilayah Bodetabek, yang berangkat sebelum jam 6.00 pagi dan sampai di rumah paling cepat jam 18.00 malam. Tapi ternyata masih sempat nonton TV. Saran untuk gerak badan (tak usah disebut olah raga kalau ‘mengerikan’) di depan TV, mulai dari stretching, jalan di tempat, lari di tempat beberapa menit sambil tetap menikmati acara TV ternyata luamayan juga. Tanpa sadar sudah gerak badan 15 menit. Kalau ini bisa dikerjakan sungguh berbeda dibanding dengan beralasan tak oleh raga selama seminggu, sebulan, setahun sebelumnya. Seorang senior saya di kantor yang usianya di atas 60 tahun tapi masih menunjukkan kebugaran. Sungguh mengagumkan. Ketika ditanya apa olah raganya, ternyata jawabannya “lari-lari kecil di dalam rumah, atau di kamar hotel kalau sedang travelling.”

Saya sekarang sedang menerapkannya dalam meningkatkan volume minum air putih. Sekali lagi saya kapok gagah-gagahan, sehingga saya minum sedikit demi sedikit, tapi botol air mineral selalu ada di samping. Tanpa sadar 3-4 botol terminum juga tiap hari. Sekali lagi kuncinya adalah kaizen, perlahan agar “satpam amygdala” tidak sampai bangun, sehingga menciptakan alasan untuk menunda.

Kesimpulannya, “think big, start small, act now.” Biasanya kita gagah-gagahan pasang target besar, tapi selalu ada alasan, “Tunggu kalau ada waktu, ada uang, kalau yang lain juga siap.” Nyatanya, comfort zone kita juga terlalu nyaman untuk ditinggalkan.

“Change or die!” kata orang. Iyalah, tapi mulai pelan-pelan, jangan sampai satpam amygdala di otak kita bereaksi. Kata ludruk Suroboyoan,ojo nggugah asu turu,” jangan bangunkan anjing tidur. Kalau amygdala kita sadar, ada saja argumen yang dibisikkan ke pikiran untuk tetap nyaman, tunggu waktulah, uanglah, temanlah, nanti saja sekalian. Act now! Selamat mencoba.[rm]

* Risfan Munir adalah penulis buku Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati (Gramedia Pustaka Utama, 2009) dan Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif (LGSP-USAID, 2004, 2008). Kolumnis tetap pada www.AndaLuarBiasa.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati

samuraiJudul: Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati

Oleh: Risfan Munir

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009

ISBN: 978-979-22-5123-4

Tebal: xx + 210

Pujian untuk Buku Ini

“Buku ini memberikan banyak sisi dan interpretasi dari budaya kerja keras untuk menempa orang yang terbaik pula. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.”

~ Ahmad Fuadi

Penulis novel bestseller “Negeri 5 Menara”

Direktur Komunikasi The Nature Conservacy

Spirit Samurai sudah lama dipercaya sebagai salah satu faktor yang membentuk karakter bangsa Jepang yang menjadikannya bangsa unggul, sehingga mampu bangkit dari kehancuran akibat Perang Dunia Kedua dan menjadi negara industri yang sangat berpengaruh di dunia.

Jalan ksatria samurai selain menonjolkan keberanian, kehormatan, kesetiaan, juga mengandung unsur-unsur pengabdian, pelayanan, dan kepercayaan. Jalan ini merupakan jalan hidup yang penuh disiplin, penuh paradoks antara ketaatan pada aturan dan spontanitas.

Dengan mengangkat Miyamoto Musashi (1584-1645) dan Toyotomi Hideyoshi (1536-1598) sebagai model kesempurnaan samurai, buku ini mengajarkan banyak kebijaksanaan dari dua tokoh ini untuk menghadapi realitas hidup sehari-hari.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 6 votes)

Samurai Sejati 8: Surrogate

rmOleh: Risfan Munir*

Surrogate” adalah judul film terbaru Bruce Willis. Film ini mengajak kita untuk berpetualang melihat dua dunia. Di mana manusia sudah begitu tidak percaya diri untuk tampil sebagai manusia biasa, sehingga mereka beli surrogate alias “robot pengganti.” Dengan banyaknya robot pengganti yang postur tubuhnya betul-betul mirip pemiliknya itu, maka yang tampil ke masyarakat dan berinteraksi adalah robot-robot itu. Sementara, “diri aslinya” terbaring pada dipan atau kursi pengendali di rumah masing-masing.

Setelah terlarut mengikuti alur film itu, dalam batas tertentu kok saya mengaitkannya dengan masyarakat kita yang perilaku keseharian di masyarakatnya juga mirip metafora masyarakat Surrogate tersebut. Kita semua tanpa sadar menjadi mirip robot-robot yang ‘lebih indah dari aslinya’ itu. Masyarakat di perkotaan kita banyak yang bersikap dan berdandan artifisial dengan senyum dan kata-kata yang distandarisasi oleh buku etiket, berpakaian menurut standar pabrik yang mendiktekan model. Mimik wajah, pakaian, dan tindakan yang kita lihat sudah semakin artifisial dan nyaris mengikuti standar gaya dan merek yang didiktekan melalui iklan tiap saat. Kehidupan menjadi arena dan panggung sandiwara saja. Sementara, masing-masing individu aslinya yang orisinal, manusiasi, tersembunyi di dalam kamar-kamar dalam rumah-rumah yang jarang dibuka. Mereka jarang bisa ditemui karena lebih memilih menyembunyikan diri.

Dalam hal ini mungkin berlaku pesan pujangga Ronggowarsito “seuntung-untungnya orang yang lupa, masih lebih beruntung orang yang waras.” Dapat ditebak di film Surrogate yang waras adalah lakonnya Greer (Bruce Willis) si agen FBI dan pencipta robot-robot itu. Mereka berdualah yang hidup di “dunia sejati”, yang melihat “dunia robot” sebagai panggung sandiwara atau olok-olok saja, yang cerita dan perannya bisa dirubah-rubah tiap saat.

Sementara itu, di masyarakat juga telah timbul kelompok pemberontak yang dipimpin oleh seorang “Nabi” kharismatis yang muak dengan “kehidupan surrogate” yang serba palsu yang dikendalikan oleh konglomerat produsen robot/surrogate itu. Kelompok ini melakukan demo dan rekrutmen pada event-event dan tempat-tempat tertentu yang strategis untuk berencana melakukan makar, sabotase, dan lainnya. Kisah menjadi sedikit rumit setelah Sang Nabi ternyata begitu kuat, menguasai teknologi perusak surrogate, dan punya sumber dana yang mantap pula.

Sebagai seorang detektif situasi Greer sesungguhnya dilematis. Di satu sisi dia menggunakan robot/surrogate sebagai perangkat, tetapi dia juga ingin kehidupan asli bersama istrinya (yang lebih suka tampil sebagai robot). Sementara itu, tugasnya adalah mengawasi Sang Nabi, pemberontak yang anti konglomerat pencipta robot-robot itu. Sehingga, hati kecilnya sebetulnya setuju dengan misi kelompok nabi pemberontak itu.

Begitulah kisahnya yang kian rumit setelah Greer tahu bahwa ternyata Sang Nabi itu sesungguhnya juga sebuah robot yang merupakan wajah lain atau surrogate dari Sang Konglomerat sendiri. Jadi rupanya, tokoh pemberontak itu sesungguhnya adalah Sang Konglomerat sendiri. Inilah puncak sandiwaranya.

Selanjutnya mungkin kita akan menghubung-hubungkannya dengan realitas di masyarakat kita. Jangan-jangan yang selama ini kita anggap musuh penguasa dan masyarakat, ternyata adalah ….. Tetapi, pesan yang dapat diambil pelajaran ialah “jangan terlalu cepat menilai dari apa yang tampak diluar,” karena di balik itu realitanya bisa kebalikannya.

Sekali lagi, sang Samurai Sejati Musashi mengingatkan pentingnya membebaskan pikiran dari cengkeraman berbagai bingkai (frame atau reframe) yang dibuat oleh para pengiklan, juru kampanye di berbagai media, ataupun yang lewat obrolan tetangga. Sebagaimana pesan TVRI tempo dulu, “teliti sebelum membeli.” Uji setiap iklan, kampanye, opini dari siapa pun yang berpotensi memengaruhi keputusan kita, dengan fakta yang ada, konfrontasikan dengan opini yang berlawanan, bertanyalah pada hati kecil sendiri, Apakah yang ditawarkan itu memang kebutuhan riil kita?”[rm]

* Risfan Munir adalah pemulis buku “Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati”. Ia dapat dihubungi melalui blog http://samuraisejati.blogspot.com dan pos-el: risfano[at]gmail[dot]com

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Samurai Sejati 7: Koalisi dan Kompetisi

rmOleh: Risfan Munir*

“Seribu kawan masih kurang, tetapi satu lawan sudah terlalu banyak.”

~ Pepatah Lama

Di negara kita tampaknya kita akan selalu menghadapi situasi kompetisi dan koalisi secara periodik. Setiap menjelang pemilihan umum untuk legislatif atau eksekutif selalu ditandai dengan persaingan, kompetisi antarpartai dan kontestan. Proses persaingan antarpihak selama kampanye bisa sangat tajam. Namun, setelah hasil pemilu diumumkan, serta merta terjadi lobi-lobi antarpartai untuk berkoalisi.

Kompetisi antartim sepakbola favorit saja bisa menegangkan, melibatkan konflik atau amukan. Begitu pula kompetisi antarpartai, antarcalon kepala daerah atau negara. Kalau untuk dukungan kepada hal-hal yang sebetulnya hubungannya dengan kepentingan pendukung masih abstrak sudah melibatkan emosi massa begitu besar, ketegangan yang tinggi. Apalagi kalau menyangkut hal yang secara langsung menentukan ‘nasib’ yang bersangkutan, seperti di antara calon, di antara pemain olah raga, di antara yang ikut tender proyek konstruksi atau pengadaan barang/jasa, di antara calon karyawan yang melamar, di antara pedagang yang berebut lokasi berjualan, di antara para calon menantu, calon pacar, dan lain sebagainya.

Kompetisi atau persaingan begitu menegangkan, karena tak jarang diikuti intimidasi, saling menjatuhkan, menjelekkan, membongkar rahasia, memfitnah, bahkan konon bisa melibatkan santet-menyantet juga, akibatnya banyak orang yang trauma dan menghindari risiko berkompetisi. Kalau penghindaran kompetisi ini terjadi berulang kali, tentu akan membuat yang bersangkutan kehilangan peluang untuk maju, karena di bidang apa pun persaingan tidak bisa dihindari. Sedang persaingan berebut benda kecil di rumah saja antarsaudara tak jarang bisa berkelahi.

Kompetisi sebagaimana juga keperluan untuk berkoalisi tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini terjadi karena dalam berbagai hal tiap indvidu atau pihak bisa punya tujuan dan kepentingan yang sama, sedangkan yang diperebutkan sering adalah sesuatu yang terbatas. Misalnya, tender untuk memperebutkan proyek yang sama, persaingan merebut pelanggan, persaingan berebut pemilih atau pendukung. Dalam kasus lain persaingan juga terjadi walau tujuan yang dituju dan diperebutkan sebetulnya bukan barang atau kesempatan yang terbatas, yang langka, misalnya ‘pintu surga’ yang sebetulnya seluruh umat manusia bisa masuk bersamaan, namun dalam kasus ini yang terjadi adalah persaingan antar ajaran untuk dapat klaim “yang paling benar.” Sesuatu kelangkaan yang dipersepsikan.

Karena kompetisi maupun kolaborasi tak bisa dihindari maka ada baiknya kita menyiapkan diri dengan kesadaran bahwa situasi itu pasti akan kita hadapi, baik dalam keseharian, di tempat kerja, ataupun di masyarakat terkait politik dan sebagainya. Kesadaran bahwa akhir dari kompetisi tidak hanya soal menang-kalah (win-lose) seperti main badminton, tetapi bisa menang-menang (win-win). Apalagi lawan tidak selamanya adalah lawan, dalam hal lain dia bisa jadi teman, dan di luar itu semua ada permainan “koalisi dan kompetisi” (koopetisi/coopetition) yang layak dicoba.

Persoalannya kemudian adalah bagaimana menyikapi, atau bagaimana bermain dalam permainan “koalisi dan kompetisi” itu agar kemenangan dapat dicapai? Bukan hanya agar tidak trauma terhadap persaingan, bahkan juga ikut asyik menganalisis dan melaksanakan taktik dan strategi untuk menang. Brandenburger & Nalebuff mengembangkan teori permainan (game theory) yang bisa dijadikan alat bantu dalam memahami hal ini.

Teori Bermain Koopetisi

Brandenburger & Nalebuff dalam bukunya Co-opetition berbicara mengenai peran pengalaman dalam teori permainan. Dia menjelaskan mengenai elemen-elemennya, yaitu: (1) Pemain, (2) Nilai Tambah, (3) Aturan, (4) Persepsi (Taktik), dan (5) Batas Area Bermain.

Pertama, Pemain terdiri dari KITA atau organisasi kita, Pesaing (yang setara atau lebih kuat dari kita) dan Komplementor (yang setara atau lebih lemah dari kita).

Kedua, Nilai Tambah, merupakan ukuran nilai keberadaan pemain bagi pemain lainnya. Besar nilai yang didapat dibanding nilai sumber daya (uang, sumber daya lain) yang dipertaruhkan. Ini bisa terjadi monopoli ataupun persaingan yang setara.

Ketiga, Aturan, ialah aturan yang dibuat oleh kesepakatan antarpemain dan pengatur (pemerintah, KPU, dst).

Keempat, Persepsi (Taktik), yaitu persepsi masing-masing pemain atas persaingan tersebut, tiap pemain bisa punya persepsi yang berbeda atas tujuan dan definisi menang/kalah.

Kelima, Batas Area Permainan, bisa batas riil, bisa abstrak tentang apa yang dipersaingkan.

Selanjutnya mengenai strategi koopetisi, mereka menjelaskan bahwa menyangkut isu-isu utama persoalan koopetisi akan menyangkut aspek-aspek: (a) Struktur Antarpelaku, (b) Interaksi dan Kalkulasi, (c ) Bagaimana Mengubah Permainan.

Struktur Antarpelaku, menggambarkan permainan dengan diagram yang menempatkan KITA (individu, perusahaan, organisasi) di tengah, sesuai garis horizontal ada Pesaing (competitor) di kanan, dan Komplementor di samping kiri. Baik KITA, Pesaing, ataupun Komplementor sebetulnya bersaing merebut “pelanggan atau tujuan” yang sama, juga “pemasok, sumber daya” yang bisa sama juga. Itulah struktur permainannya.

Sementara Interaksi dan Kalkulasi menguraikan tentang gambaran simetri atau besar/kecilnya kekuatan pengaruh dari tiap kontestan atau pemain (KITA, Pesaing, Komplementor), maupun perimbangan kekuatan dengan Pemasok dan Pelanggan.

Struktur Antarpelaku yang disebut jugaJaring Nilai” di atas, dengan demikian menggambarkan dinamika interaksi antar pemain. Dan, interaksi para memain dengan Pemasok dan dengan Pelanggan. Pemain yang kuat punya penguasaan atas Pemasok dan citra dimata Pelanggan yang kuat. Kekuatan itu membuatnya punya posisi tawar yang kuat pula terhadap para pemain lainnya.

Berikutnya adalah aspek Taktik Mengubah Permainan. Taktik ini bisa dilakukan dengan mengubah elemen-elemen permainan di atas, yaitu: mengubah (jumlah) pemain, mengubah elemen nilai tambah, mengubah aturan, mengubah persepsi, dan mengubah batasan area persaingan.

Untuk memudahkan pemahaman bisa digunakan contoh koopetisi dalam pemilihan eksekutif. Katakanlah yang jadi KITA adalah Partai D, dari hasil pemilihan legislatif sudah diperoleh hasil besar kecilnya kekuatan antar partai berdasarkan perolehan suara. Maka dalam pemilihan eksekutif partai D mengubah elemen jumlah pemain dengan membuat koalisi dengan partai-partai lebih kecil (komplementor) yang sepakat, taktik ini juga dilakukan oleh kontestan lainnya, yaitu Partai B, dan Partai G yang menggalang koalisi dengan para komplementornya.

Sedangkan taktik mengubah elemen Nilai Tambah, dilakukan dengan melakukan taktik peniruan (imitasi). Tak ada rahasia yang bertahan lama, tema, strategi, program satu kontestan segera ditiru oleh kontestan lainnya. Contoh ini ialah ketika satu kontestan menonjolkan ciri keagamaan, maka masing-masing kontestan menjadikan simbol-simbol keagamaan sebagai atribut kampanyenya, sehingga nilai tambah faktor religi ini menjadi kurang berarti. Juga saat ada kontestan yang melontarkan isu paradigma ekonomi “neoliberal vs. ekonomi kerakyatan”, isu ini direspons oleh para kontestan yang menjelaskan rekam jejaknya sebagai tokoh-tokoh yang pro-ekonomi rakyat.

Taktik mengubah pada elemen Aturan, tampak dilakukan oleh kontestan-kontestan yang berkepentingan dengan memberi tekanan kepada KPU dengan mengubah syarat surat panggilan berdasar daftar pemilih tetap (DPT) yang berujung dengan berlakunya kartu tanda penduduk (KTP) bagi pemilih. Juga soal kelebihan jumlah suara dalam perhitungan kursi legislatif.

Sementara, taktik mengubah Persepsi untuk bisa memengaruhi persepsi, dengan menyembunyikan informasi atau menyebar informasi tentang “kartu” atau besarnya kekuatan masing-masing. Ada partai/kontestan yang menonjolkan hasil ‘perhitungan cepat’ (quick count) ada pula yang sengaja membuat perkiraan tandingan. Tujuannya tentu untuk menggertak pesaing, dan memengaruhi persepsinya soal kekuatan sendiri dan kekuatan lawan. Ini akan besar pengaruhnya untuk berkoalisi ataupun menekan lawan.

Terakhir, taktik mengubah luas/sempitnya Batasan (Area) Bermain. Pengertian area bermain ini bisa wilayah geografis, wilayah pengaruh konseptual, psikologis, ataupun batasan waktu. Dalam proses pemilihan umum yang lalu ada proses pemilihan legislatif, pemilihan presiden, dan pascapemilihan presiden. Permainan persaingan lebar terjadi saat pemilihan partai untuk kursi legislatif. Setelah itu selesai, dalam pemilihan presiden dan wakilnya, petanya berubah karena sudah ada koalisi di samping kompetisi antarkandidat. Permainan selesai di situ, dan saat akan menyusun formasi kabinet dari presiden terpilih, tampaknya terjadi lagi proses ko-opetisi. Partai dan kandidat yang tadinya bersaing ternyata juga saling melobi untuk membentuk koalisi kabinet, yang bisa jadi beda petanya dengan koalisi yang terjadi saat kampanye dulu.

Proses ko-opetisi akan berlangsung terus dalam segala bidang kehidupan. Sehingga, berlaku ungkapan “tak ada musuh (atau teman) yang abadi”, begitu pula idiom “if you can’t beat them, joint them” (kalau tak sanggup kita melawan, jadikan dia teman). Jangan lupa bahwa tujuannya adalah memenangkan tujuan kita, bukan soal menang/kalah dalam pertarungannya, “to win the war, not just the battle.”

Penerapan strategi ko-opetisi tidka hanya berlaku dalam dunia politik, tetapi juga berlaku dalam persaingan bisnis, antartim dan individu di kantor, bahkan kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh persaingan antar grosir/pengecer misalnya antara Carrefour dengan Giant, Hypermart dan lainnya, persaingan antarpusat perbelanjaan, persaingan antarbank sekelas, persaingan antaroperator telepon selular, dan persaingan antarkonsultan.

Di samping bersaing merebut pelanggan atau klien, mereka juga duduk bersama sebagai anggota asosiasi usaha mereka. Dengan asosiasi itulah mereka berusaha mengubah elemen-elemen: jumlah pemain (dengan membuat persyaratan agar jumlah tak bertambah); nilai tambah (dengan membuat kategori); aturan (dengan membuat kriteria, prosedur); persepsi (pendefinisian produk/layanan); batasan area bermain (batasan wilayah, bidang yang dilayani, waktu).

Dalam kisah samurai tercatat Toyotomi Hideyoshi sebagai tokoh besar samurai yang berhasil menyatukan Jepang yang terpecah-belah akibat perang antar klan lebih dari satu abad. Sebagai panglima Hideyoshi selalu mendahulukan membangun jaringan “koalisi” dan menggalang sekutu. Kalau toh harus konfrontasi, dia memilih jalan “tanpa pedang” misalnya dengan logistic blockade benteng lawan, daripada pertumpahan darah. Tak jarang dalam pertempuran dia juga menggertak dengan menunjukkan umbul-umbul simbol sekutunya yang banyak untuk menjatuhkan mental lawan, sehingga mereka menyerah tanpa harus terjadi pertumpahan darah. Untuk itu dia mendapat julukan “swordless samurai” atau samurai tanpa pedang.

Shoto:

1. Kompetisi atau persaingan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam politik, bisnis maupun kehidupan, karena itu lebih dihadapi secara apa adanya.

2. Kabar baiknya, kompetisi bukanlah soal kalah vs. menang saja, ada ko-opetisi (collaboration – competition) atau koalisi-kolaborasi sebagai suatu permainan menuju kemenangan visi, misi, bukan hanya persaingan dalam arti sempit. “To win the war, not just the battle”.

3. Dalam koopetisi terdapat elemen-elemen: (1) pemain, (2) nilai tambah, (3) aturan, (4) persepsi (taktik) dan (5) batas area bermain – yang perlu selalu dipertimbangkan dalam menyusun strategi untuk menang.

4. Konstelasi atau perimbangan kekuatan antar-Pemain (Kita, Komplementor dan Pesaing) diukur dengan kekuatan masing-masing untuk mendapatkan dukungan Pemasok yang loyal dan andal; disamping respons pelanggan/klien masing-masing.

5. Untuk memenangkan permainan (koopetisi) strategi/taktik yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah elemen-elemen pada poin tiga di atas. Dengan demikian koopetisi memberi perspektif luas dalam meraih kemenangan. Tidak hanya berkompetisi, tetapi juga berkoalisi. Tidak hanya adu kuat, tetapi juga kelihaian taktik mengubah elemen strategi: jumlah pemain, nilai tambah, aturan bermain, persepsi kawan maupun lawan, pemasok maupun pelanggan, atau mengubah area bisnis dan pergaulan sehingga persaingan adu otot tidak relevan lagi.[rm]

* Risfan Munir adalah peminat spirit samurai untuk meningkatkan etos kerja. Ia bekerja sebagai konsultan manajemen dan perencanaan. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini sudah menulis tiga buku berjudul Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Seri Manajemen: Skema Tindakan Peningkatan Pelayanan Publik, dan Aplikasi Pemberdayaan UMKM. Ia dapat dihubungi melalui blog http://samuraisejati.blogspot.com dan pos-el: risfano[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Samurai Sejati 6: Meminjam Akal Teroris

rm1Oleh: Risfan Munir*

Lagi-lagi aparat keamanan kecolongan dan bom meletus di dua hotel mewah yang pengamanannya super ketat, Ritz Carlton dan JW Marriott pada 17 Juli 2009 yang lalu. Modus operandinya menggunakan perangkat non-konvensional, yaitu komponen elektronik TV dan lemari es yang ada di kamar hotel tersebut. Pelakunya juga menyamar sebagai tukang bunga yang rutin datang sehingga pantas saja tak terdeteksi petugas.

Apa yang sesungguhnya terjadi sehingga aparat atau pasukan yang dilengkapi dengan peralatan super canggih sering tak mampu mencegah serangan yang non-konvensional? Salah satu hal yang bisa dipahami ialah faktor “ketidak-terdugaan” yang dilancarkan oleh teroris atau pelaku teknik gerilya umumnya.

Ini mengingatkan saya akan pesan samurai sejati Musashi, yang selalu menekankan “ketidak-terdugaan”. Musashi sering tidak membuka serangan dengan kuda-kuda, bahkan kadang hanya bersenjata batang “kayu bakar” yang dipungut di tempat pertarungan, sehingga lawannya bingung, menunggu (kuda-kuda, pedang). Di saat musuh bingung itulah serangan mematikan dilancarkan.

Kejadian “kecolongan” dari teroris atau gerilyawan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi pada skala dunia juga seperti dulu di Vietnam, Afganistan, Somalia, dst. Mengapa “kecolongan” ini sampai terjadi pada pasukan yang terlatih baik? Salah satu jawabannya, pasukan modern dengan peralatan canggihnya terlalu berpikir konvensional dan terlalu mengandalkan (rely on) peralatan teknologinya.

Dalam knowledge management suatu knowledge (pengetahuan) dan skill (keterampilan) harus bisa menyatu (internalized) pada manusianya sebagai perilaku, kebiasaan, atau refleks. Sebetulnya, teknologi canggih bisa membantu banyak untuk operasi pasukan. Namun penyakitnya, kalau sudah menggunakan teknologi canggih, manusia manjadi nyaman, terlalu mengandalkannya, sehingga kemampuan individualnya menjadi tidak dipakai secara maksimal.

Kecenderungan tersebut tentu tidak terjadi dalam bidang pertahanan saja, tetapi juga pada kegiatan manusia lainnya. Misalnya, banyak nelayan yang tergantung pada perahu motor sehingga generasi berikutnya tak bisa memanfaatkan angin dengan manuver layar. Akibatnya, pada saat bahan bakar mahal dan langka, para nelayan sekarang tak bisa melaut. Padahal, kalau bisa memadukan layar dan mesin, mereka akan bisa menghemat bahan bakar minyak pada saat angin bagus.

Mungkin ada yang nonton film Black Hawk Down, batapa para prajurit marinir itu saat lepas dari perlengkapan tempur dan senjatanya tak merasa dirinya sebagai prajurit yang harus tetap waspada, malah bergaya turis. Kelengahan terjadi sehingga pada saat itulah dia ditangkap dan diseret lawan. Naluri dia sudah bukan naluri prajurit, tetapi operator peralatan tempur.

Kita umumnya sudah sulit berhitung tanpa kalkulator. Saat kita tergantung pada kalkulator, bukan cuma keterampilan berhitung yang hilang, tetapi naluri analisis kuantitatifnya juga melemah. Seperti halnya dokter yang mengandalkan alat USG untuk mendeteksi, nalurinya dalam mengantisipasi kejadian bisa ikut hilang.

Sewaktu kuliah dulu cucian saya serahkan ke tukang binatu (laundry) dekat kampus. Yang menarik, si tukang binatu yang tua itu tak pernah mencatat. Paling hanya mengonfirmasi, “Lima potong ya, Den; satu celana, dua kaos, dua baju.” Awalnya saya khawatir dengan risiko hilang karena tak tercatat, tetapi waktu mengambil tiga hari kemudian ternyata menakjubkan, Pak Tua itu hafal. Padahal, ada ratusan pakaian ditumpuk rapi di seluruh dinding, dia hafal punya siapa, berapa potong, dan apa saja. Kemampuan memori Pak Tua itu terasah terus sehingga dia bisa selalu mencatat dalam pikirannya dengan akurat. Tetapi, kemampuan individual ini—pada banyak orang—hilang karena ketergantungan pada catatan atau komputer.

Ungkapan “use it or loose it” berlaku di sini. Pergunakan atau kamu akan kehilangan. Ini berlaku untuk otot maupun akal kita. Kalau tangan tak pernah dipakai mengangkat beban, kalau kaki tak pernah digunakan untuk jalan jauh atau lari, lambat laun kemampuannya pun menurun. Begitu pula akal, kalau memori tak pernah dilatih, akan menurun pula daya ingat kita. Kalau ketajaman pikiran dalam matematika, aritmatika, menyusun strategi atau taktik, memecahkan masalah, mengembangkan visi tak dilatih secara teratur, maka daya pikir kita akan menurun atau malah merosot.

Pada saat ini, banyak ahli yang menyarankan agar kita menggunakan otak kiri dan kanan secara berimbang. Otak Kiri bekerja menggunakan rasio, logika, sistematis seperti matematika dan bahasa yang baku. Sedang Otak Kanan untuk fungsi yang menyangkut kreativitas, mencerna simbol, warna, dan rasa. Selama ini, pendidikan mengunggulkan penggunaan Otak Kiri secara dominan sehingga yang mendominasi adalah logika, pola pikir yang sistematis, terstruktur, dan sistematis. Padahal, kenyataan di masyarakat akhirnya menunjukkan bahwa mereka yang mampu menghimbau, mempersuasi, memasarkan, menarik perhatian, termasuk memimpin, dan mengubungkan berbagai aspek secara kreatif (Otak Kanan) justru menjadi orang-orang yang berhasil dalam pengertian lebih luas.

Sementara, mereka yang mengandalkan logika konsisten, matematis, terstruktur sistematis (Otak Kiri) kebanyakan “terjebak” pola pikirannya sendiri, dan akhirnya mereka hanya sukses kalau masuk sistem yang sudah teratur seperti perusahaan besar, swasta, ataupun BUMN, sebagai profesional atau manajer bidang tertentu saja. Padahal, pada masa sekarang ini perusahaan besar atau instansi pemerintah pun sewaktu-waktu bisa dilikuidasi alias dibubarkan karena perubahan kebutuhan dan keterbatasan anggaran.

Shoto (pedang pendek sebagai ringkasan):

Kembali kepada pesan Musashi, dan meminjam akal si teroris: Janganlah tergantung pada teknologi semata, tetapi kembangkan kemampuan sebagai manusia seutuhnya. Kedua, pakai pola pikir non-konvensional (Otak Kiri) dan konvensional (Otak Kanan) secara berganti-ganti dalam kegiatan apa pun agar “ketajaman logika maupun daya kreatif” kita terasah terus.

Beberapa kegiatan rutin harian yang dapat membantu meningkatkan dan memelihara kemampuan knowledge dan skill kita agar kian tajam dan kreatif, antara lain:

- Untuk melatih otot dan kemampuan fisik, daya tahan, saran klasik yang memang harus dilakukan ialah olah raga dengan teratur. Di samping itu, sewaktu bekerja usahakan sesering mungkin melakukan stretching; kalau banyak menggunakan komputer alihkan pandangan sesekali ke objek yang jauh;

- Daya ingat bisa dilatih antara lain dengan mengingat hal-hal yang menurut kita penting selama dua hari yang lalu, setiap malam menjelang tidur, baik itu menyangkut nama-nama, angka, kegiatan, dan lainnya;

- Daya kreatif bisa dilatih setiap jeda waktu dengan menggambar, menulis karangan, atau membuat coretan diagram mind-mapping untuk mengeluarkan dan memetakan ide-ide;

- Daya pikir rasional, sistematis bisa dilatih dengan melakukan analisis pemecahan masalah dan pengambilan keputusan (problem solving, decision making), sederhananya: (i) Pilih satu topik persoalan yang sedang mengganggu pikiran, tulis di atas kertas; (ii) Identifikasi sebab-sebabnya dengan menuliskan di bawah topik, tarik garis yang menghubungkan topik dan setiap sebab; (iii) Untuk setiap sebab identifikasi akar sebabnya, lalu hubungkan setiap akar-sebab dengan sebab di atasnya, sehigga akhirnya tergambar pohon masalah. Untuk mencari solusinya, buatlah diagram yang identik dengan pohon masalah itu, tetapi ubah isinya: Semua akar-sebab ganti dengan ‘tindakan’ dengan mengubah kata misalnya ‘kurang disiplin’ menjadi tindakan ‘melatih disiplin’ dan seterusnya hingga ‘topik persoalan’ diganti dengan ‘kondisi yang diinginkan’ (misalnya persoalan ‘Kemerosotan Prestasi’ diganti dengan ‘Masuk 5 Besar’). Maka, akan tergambar diagram pohon solusi lengkap dengan tindakan-tindakan yang harus diambil. Selanjutnya adalah menentukan prioritas tindakan berdasarkan tingkat pengaruh atas solusi besar dan sumber daya yang tersedia.

Semua latihan di atas, seperti halnya latihan yang dilakukan para samurai, sebaiknya diawali dengan proses “relaksasi”, antara lain dengan duduk tenang, menarik napas panjang tiga kali. Sambil berhitung mundur dari sepuluh hingga nol, lupakan/ikhlaskan sementara semua beban pikiran. Setelah itu lakukan salah satu latihan di atas.

Daftar latihan itu tentunya bisa dikembangkan sendiri pembaca pilihan dan caranya. Namun intinya, dengan melakukan latihan berbagai kemampuan dasar manusia secara rutin, diharapkan kemampuan tersebut akan berkembang terus dan terpelihara, sehingga kita selalu siap menghadapi tantangan yang tak terduga sekalipun.[rm]

* Risfan Munir adalah peminat spirit samurai untuk meningkatkan etos kerja. Ia bekerja sebagai seorang konsultan manajemen dan perencanaan. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini sudah menulis tiga buku berjudul Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Seri Manajemen: Skema Tindakan Peningkatan Pelayanan Publik, dan Aplikasi Pemberdayaan UMKM. Ia dapat dihubungi melalui blog http://ecoplano.blogspot.com dan pos-el: risfano[at]gmail[dot]com.


VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Samurai Sejati 5: Memenangkan Persepsi

rmOleh: Risfan Munir*

Ketajaman mengobservasi adalah salah satu rahasia kekuatan Musashi. Mengamati semua hal, tanpa terkecoh oleh pesona, godaan, ataupun provokasi dari yang diamatinya. Kuncinya, dia katakan, adalah “persepsi”. Kita harus bisa malihat situasi apa adanya. Sering kali “hasrat” dan “ketakutan” kita yang berlebihan mendominasi pikiran sehingga kita tak bisa melihat sesuatu apa adanya.

Pada masa kini kita tiap hari dibanjiri informasi, apakah itu berbentuk pengetahuan, nasihat, berita, opini, iklan, pesan kampanye, gosip, dan lainnya. Semuanya memengaruhi pikiran, cara pandang, dan persepsi kita atas banyak hal, termasuk penilaian baik dan buruk. Itu semua membisikkan pesan lewat pikiran sadar dan bawah sadar saat kita harus mengambil keputusan. Baik itu keputusan dalam berbelanja, memilih teman, memilih tempat tinggal, pemilihan umum legislatif maupun pemilihan kepala daerah, dan kepala negara.

Belum lama berselang di tengah kampanye pemilihan presiden, tiba-tiba kita dikenalkan kata ”neoliberal” versus ekonomi kerakyatan. Seketika cara pandang masyarakat terpengaruh, kriteria aliran ekonomi menjadi pertimbangan. Walaupun akhirnya masyarakat sadar bahwa di antara pasangan calon bedanya kok tidak jauh.

Begitulah media mem-frame (membingkai) persepsi kita.

Framing persepsi atau cara pandang ini telah menjadi ”pertempuran” tersendiri. Seperti kata ahli pemasaran Al-Ries, “We are not in the battle of product, but perception”, kita tidak dalam perang produk, tetapi perang persepsi. Cara pandang kita yang tadinya polos, melihat sesuatu apa adanya, menjadi berubah sesuai keinginan pihak yang mem-frame kita. Contohnya, kalau kita berwisata dan kebetulan melihat batu-batu, pepohonan, serta sekumpulan rumah tua. Pemandangan itu secara fisik tidak menarik. Namun, setelah pemandu wisata mengatakan bahwa itu rumah keluarga pahlawan Anu, bahwa batu-batu yang berserakan itu tempat dia belajar, dan parit itu tempat dia mandi. Maka, seketika berubahlah cara pandang kita atas rumah, bebatuan, dan parit tersebut.

Kita memakai baju, sepatu, dan tas yang kita punyai sekarang rasanya oke-oke saja, kondisinya masih baik. Tetapi, cara pandang atas pakaian yang oke-oke saja itu bisa berubah setelah kita melihat model atau pujaan kita memamerkan pola terbaru yang jauh berbeda. Kalau kita sensitif dan terpengaruh, seketika bisa merasa mengenakan pakaian kuno, tidak trendy. Kalau kita lebih terpengaruh lagi akan merasa malu memakainya lagi, dan kita merasa harus membeli mode baru itu. Belakangan kita tahu bahwa para peragawan/wati itu pandai mengombinasikan koleksi pakaian baru dan lama, sehingga dia tak ikut jadi korban peragaannya. Mirip dengan bintang iklan sabun, jamu, dan produk lainnya yang belum tentu mengonsumsinya.

Bangsa kita penduduknya terbesar nomor empat di dunia dan dikenal sebagai pembelanja. Ekonomi kita tumbuh karena konsumsi bukan produksi, karena pendapatan yang diandalkan ialah menjual hasil minyak bumi, tambang, kehutanan, dan kiriman tenaga kerja ke luar negeri (TKI). Berabad kita telah di-frame bahwa yang baik adalah yang datang dari negara lain, khususnya Barat. Cara dan menu makanan pun mengikuti cara maupun menu mereka.

Pada era global sekarang, framing itu dilanjutkan oleh berbagai produsen barang, merek yang mendikte selera, pilihan, bahkan penilaian baik dan buruk. Akibatnya, konsumen kita biasa membeli produk bukan berdasarkan estetika dan kualitas barang lagi, tetapi berdasarkan merek.

Akhirnya, kian sulitlah bagi produsen dalam negeri untuk bangkit. Kalau toh bisa, hanya sebagai ”pekerja” dari merek terkenal dengan upah relatif kecil.

Berbeda dengan bangsa samurai (Jepang), yang melihat kemakmuran Barat justru sebagai peluang. Mereka belanja produk luar dengan selektif, promosi dan kebanggaan akan produk bangsanya sendiri tinggi. Di Jepanglah pertama kali berbagai restoran cepat saji Barat seperti KFC dan McD yang memasukkan nasi dalam menunya. Bahkan, justru orang Barat yang balik belajar cara makan mi (ramen), nasi, sushi, dan sashimi dengan sumpit.

Tentunya framing ini bukan oleh media saja dan tidak menyangkut soal belanja semata. Obrolan dengan teman, di sekitar rumah, di kantor juga bisa mem-frame cara persepsi kita atas diri kita sendiri, orang-orang, atasan, suasana lingkungan, yang memengaruhi penilaian baik/buruk, termasuk semangat kerja.

Pertanyaannya, bagaimana cara mengendalikan pembingkaian persepsi ini? Jawabannya, antara lain dua cara berikut ini. Pertama ialah agar kita tidak jadi korban dan agar kita bisa tetap berpikir ”jernih”. Biasakan menghadapi situasi dan persoalan secara objektif, rasional, sesuai dengan pikiran kita. Kalau menyangkut belanja, tanyakan pada diri sendiri kebutuhan riil kita, bukan godaan keinginan sesaat. Apa kelebihan produk bermerek ini dengan produk lokal, atau antar produk dari merek berbada? Bahannya lebih aman? Lebih tahan lama? Bisa untuk berbagai fungsi? Harganya lebih murah? Dan seterusnya. Usahakan berpikir generik, fungsional. Lupakan ”rayuan” gombal seperti bisa menarik lawan jenis, bisa membuat rumah yang bahagia, dll. Ingatkan diri sendiri bahwa tas adalah tas, baju adalah baju yang terbuat dari bahan dasarnya, bukan arti ”khayalan” yang diciptakan pengiklan.

Kedua, kalau framing terlanjur masuk bawah sadar, menjadi fanatisme atas merek tertentu misalnya, cara membongkarnya perlu melalui bawah sadar. Framing seperti kacamata, kalau pakai kacamata hijau maka semua tampak ”hijau atau tidak hijau”. Maka, caranya ialah ganti dengan kacamata lain, misalnya kacamata merah, maka semua menjadi tampak ”merah atau tidak merah”. Kiatnya janganlah melawan sesuatu dengan ”anti”-nya, karena itu artinya kita masih terjebak frame mereka.

Lebih baik berbicara tentang kriteria lain. Kalau kita di-frame doktrin ”kurus itu baik”, yang perlu kita tanamkan dalam benak sebagai lawannya bukan ”gemuk itu baik”, tetapi lawan dengan pernyataan ”sehat itu indah” (tak ada hubungannya dengan kurus versus gemuk). Citra produk impor itu ”modern”, lawan dengan pencitraan produk bangsa sendiri itu alami, mulia karena mengurangi pengguran. Jadi, ”modern” tak dilawan dengan ”tradisional” (karena kita juga suka modern), tetapi lawan dengan dimensi peduli lingkungan dan peduli sosial. Lama-lama akan tertanam persepsi baru bahwa penggunaan produk impor yang berlebihan berarti egois atau asosial. Menggunakan produk bangsa sendiri mulia, tanpa kehilangan citra modern karena modelnya bisa dibuat modern.

Shoto (pedang pendek atau ringkasan):

Kejernihan persepsi, objektivitas pikiran adalah penting, agar seseorang bisa ”bebas memilih” secara rasional, independen, tidak di-frame atau dibingkai oleh maksud orang lain. Tidak terus menerus menari dalam irama orang lain.”

Di era informasi ini, setiap hari kita dibanjiri informasi yang mem-“bingkai” cara berpikir kita, sistem nilai kita. Kita harus bisa menetralisasinya supaya pikiran kita tetap bisa jernih, dan mampu mengambil keputusan secara rasional serta fungsional.

Netralisasi framing dengan reframing yaitu mengganti ”kacamata” yang terlanjur terbentuk, terprogram, dengan ”kacamata” baru milik kita sendiri. Kiatnya; jangan melawan dengan antinya. Contoh: langsing itu baik versus gemuk itu indah, tetapi dengan sehat itu cantik.[rm]

* Risfan Munir adalah peminat spirit samurai untuk meningkatkan etos kerja. Ia bekerja sebagai seorang konsultan manajemen dan perencanaan. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini sudah menulis tiga buku berjudul Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Seri Manajemen: Skema Tindakan Peningkatan Pelayanan Publik, dan Aplikasi Pemberdayaan UMKM. Ia dapat dihubungi melalui blog http://ecoplano.blogspot.com dan pos-el: risfano[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Samurai Sejati 4: Mata Elang dan Mata Cacing

rm1Oleh: Risfan Munir*


“Dalam Jalan Pertempuran, konfrontasi antarpribadi dan konfrontasi yang melibatkan sepuluh ribu orang melawan sepuluh ribu orang lainnya adalah sama. Saat memperluas atau mempersempit pikiran, kamu harus memerhatikan hal ini dan mengamatinya dengan baik. Melihat hal besar adalah perkara mudah dan melihat hal kecil adalah perkara sulit, karena sekelompok besar orang sulit berubah dengan cepat, sedangkan satu orang hanya memiliki satu pikiran sehingga mudah berubah. Oleh karena itu, lebih sulit untuk memahami hal kecil.”

~ Musashi, The Book of Five Rings, h.42

Menurut Musashi, baik duel, pertempuran kecil, pertempuran besar, strateginya sama, hanya skalanya yang berbeda. Saat memimpin pasukan besar persoalannya hanyalah bagaimana membaginya dalam kelompok kecil dan memberi peran masing-masing dalam menyerang, lalu menyatukannya di saat yang tepat untuk mengepung lawan dari berbagai penjuru. “Membagi dan menyatukan” kepada satu tujuan.

Prinsip berpikir scaling yang “membagi dan menyatukan” ini diterapkan juga oleh Musashi dalam metode pengajaran samurainya. Musashi sering mengasosiasikan membangun keunggulan seni pedang dan membangun keunggulan tempur dengan kerja tukang (kayu) membangun rumah. Setelah blue-print sebagai sasaran dibuat, pekerjaan dibagi dalam unit-unit kecil. Tiap unit punya tugas yang jelas. Itulah yang dia maksud bahwa strategi duel, pertempuran kecil, atau pertempuran besar sesunguhnya sama. Bedanya hanya soal skala, mempertimbangkan span of control, mendelegasikan detailnya ke tiap ketua kelompok.

Bisakah Anda makan sepeda? Mana mungkin kita makan besi sebesar itu! Tetapi, itu akan mungkin kalau sepeda itu digerinda menjadi serbuk besi, dan tiap hari kita makan sedikit demi sedikit, dicampur makanan sehari-hari. Begitu pula pekerjaan besar, misalnya menulis buku. Jangankan menulis, untuk membaca saja, kalau melihat buku yang tebalnya 300 halaman lebih sebagian besar orang ngeri. Tetapi, menjadi ringan kalau langsung dimulai dari satu kalimat, alinea, halaman, sub-bab, bab, dan seterusnya. Kata pepatah, perjalanan seribu kilometer dimulai dari ayunan langkah pertama.

Ada kalanya, yang kita hadapi bukanlah pekerjaan (yang kita anggap) besar, tetapi “persoalan”-nya yang besar, kekalutan yang kompleks. Ini menyebabkan kita “lumpuh”, bingung, stres, ngeri, tak tahu harus berbuat apa. Mungkin, itu disebabkan kekhawatiran akan masa depan yang menghantui. Atau, karena penyesalan akan masa lalu yang mengejar kita. Untuk mengatasi ini cobalah untuk membatasi pikiran pada ”hidup hari ini saja”. Kemarin sudah lalu, besok belum tentu, jadi pikirkan saja hari ini. Setidaknya hari ini kita masih oke-oke saja.

Teknik berpikir untuk menerobos kekalutan di atas sebetulnya identik dengan teknik chunk-down dan chunk-up dalam NLP (Neuro Linguistic Program). Persoalan besar kalau dilihat dari ketinggian ”mata elang” (bird eye view), menjadi tampak kecil. Sebaliknya, masalah kecil kalau dilihat dari ”mata cacing” (warm eye view) menjadi kompleks.

Pikiran kita kalut, kadang karena kekuatiran yang berlebihan. Ini karena masalah tertentu (spesifik) kita generalisir secara berlebihan. Gagal sekali, kita generalisir menjadi kesimpulan “tidak bakat, sudah nasib”. Minum es sekali lalu pilek, kita anggap diri kita alergi. Suami atau anak pulang kemalaman sekali, kita sebut “sering atau selalu” telat pulang. Kadang kekuatiran membuat kita mencari-cari alasan yang menguatkan, sehingga gagal sekali, kita generalisasikan sebagai tak ada harapan. Padahal dalam pelajaran salesperson misalnya, kalau orang membeli kemungkinannya hanya 1:20, artinya datangilah 20 orang supaya dapat satu pembeli. Oleh karena itu, perlakukan persoalan yang spesifik itu sebagai hal spesifik, mungkin memang cuma terjadi sekali-sekali saja. Yang penting atasi, kalau itu kesalahan beri peringatan agar tidak terulang, atau mungkin karena ada alasan tertentu orang terpaksa melakukan kesalahan, terlambat, dst. Coba untuk dipahami.

Menangani persoalan secara detail mutlak diperlukan, tetapi memikirkan persoalan-persoalan detail, kecil, bisa membuat kita senewen, akhirnya justru kehilangan pokoknya. Seperti auditor yang terlampau risau dengan hilangnya karcis parkir, akhirnya justru tertipu oleh proyek rugi tetapi dokumennya lengkap. Untuk itu diperlukan latihan untuk menerapkan sudut pandang burung elang yang melihat persoalan dari ketinggian dan jarak jauh, sehingga tidak harus melibatkan emosi. Sebaliknya untuk siap menanganinya, diperlukan cara pandang yang memcah persoalan menjadi potongan kecil, detail, agar bisa ditangani satu demi satu, sedikit demi sedikit. Untuk kemudian dilihat lagi secara keseluruhan agar tidak berantakan. Proses berpikir ini bisa dilatih dengan memainkan penggunaan “mata elang” yang melihat persoalan secara global dari ketinggian dan “mata cacing” yang melihat pekerjaan secara detail, dan menggunakannya secara berganti-ganti.

Shoto:

Untuk menangani pekerjaan besar, pecah menjadi bagian-bagian, unit-unit lebih kecil, lalu kerjakan satu demi satu, dari waktu ke waktu. Kalau dalam tim, latih diri untuk membagi tugas, mendelegasikannya.

Sementara itu, untuk memecahkan persoalan, mainkan pikiran dengan melihatnya dengan ”mata elang” dari ketinggian dan jarak jauh, lalu turun ke bawah dan menggunakan ”mata cacing” untuk melihat detailnya. Selanjutnya perlahan balik lagi ke atas menggunakan ”mata elang” lagi, dan perlahan turun lagi dan menggunakan ”mata cacing”. Lakukan berulang kali, rasakan dampaknya.[rm]

* Risfan Munir adalah peminat spirit samurai untuk meningkatkan etos kerja. Ia bekerja sebagai seorang konsultan manajemen dan perencanaan. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini sudah menulis tiga buku berjudul Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Seri Manajemen: Skema Tindakan Peningkatan Pelayanan Publik, dan Aplikasi Pemberdayaan UMKM. Ia dapat dihubungi melalui blog http://ecoplano.blogspot.com dan pos-el: risfano[at]gmail[dot]com.

Catatan: Shoto adalah pedang pendek sebagai pasangan pedang panjang (daito) yang biasa dipakai para samurai. Di sini dimaksudkan sebagai Ringkasan.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Samurai Sejati 3: Jadilah Lawanmu!

rmOleh: Risfan Munir*

Menjadi lawanmu, berarti berpikir seolah tubuhmu menjadi tubuh lawan. Kalau kamu amati, orang cenderung berpikir bahwa seseorang yang melakukan perampokan dan berhasil menyembunyikan diri atau menghilang sebagai lawan yang kuat. Padahal ia sebenarnya berpikir bahwa seluruh dunia memusuhinya dan tak ada jalan untuk melarikan diri,” demikian kata Musashi (The Book of Five Rings). “Karena itu, milikilah keyakinan teguh bahwa kau akan mengalahkannya,” lanjutnya.

Pesan yang jelas, baik dalam menghadapi lawan maupun menghadapi audiens yang perlu “dikalahkan” perhatiannya. Dalam kehidupan sehari-hari ataupun di tempat kerja kita selalu punya “lawan”, setidaknya lawan bicara. Atau, siapa pun yang kalau menghadapinya sering hati kita menjadi berdebar-debar. Mereka bisa atasan kita, klien kita, atau lainnya.

Walaupun hampir setiap hari bertemu, kalau harus menghadap bos, atasan, selalu saja ada kekhawatiran di pikiran kita. Apalagi sebagai “pelayan” tiap saat harus menghadapi klien, pelanggan yang beragam karakter dan penampilannya. Atau, sebagai fasilitator atau trainer, sering kali kita harus berhadapan dengan audiens yang status, kedudukan, dan pendidikan formalnya di atas kita.

Solusinya, gunakan kiat berpikir samurai ala Musashi di atas. “Jadilah lawanmu” dan milikilah keyakinan teguh bahwa Anda akan mengalahkannya. “Menjadi lawanmu” bisa diartikan sebagai menempatkan diri pada posisi atasan, klien, konsumen, atau audiens yang kita layani.

Sering kita berasumsi bahwa atasan, manajer, direktur, atau pemimpin kita adalah orang yang serba tahu, kuat, stabil jiwanya, berani, dan mumpuni. Pendidikan dan frame masyarakat mengajarkan demikian, bahwa yang namanya pimpinan itu harus selalu yang gagah berani, serba tahu, dan serba pandai. Memang kalau ingin jadi pemimpin kita diajari untuk harus memiliki sifat-sifat itu, harus bersikap seperti itu. Tetapi sebagai orang yang harus menghadapi mereka, kita sebaiknya tidak terlalu percaya pada asumsi tersebut. Kenyataannya, pemimpin juga manusia. Seperti kita yang juga pemimpin di lingkungan sendiri, di keluarga sendiri, yang juga punya kekhawatiran dan tidak serba bisa. Atasan dan pemimpin kita juga begitu.

Oleh karena itu, untuk menghadapi orang yang kita anggap lebih tinggi atau hebat dari kita itu, cobalah terapkan kiat Musashi dengan membayangkan diri kita di posisi dia. Apa yang dikhawatirkan, yang terasa sebagai kelemahan? Apakah itu penjualan yang merosot sejak krisis yang lalu? Apakah jumlah pesaing yang kian banyak dan lebih agresif? Kalau kebetulan kita sebagai fasilitator atau instruktur, cobalah tempatkan diri pada posisi peserta lokakarya yang senior, pejabat tinggi, atau bergelar profesor doktor itu. Kenapa kok sampai bersusah payah ikut lokakarya yang kita fasilitasi?

Tentu ada kebutuhan: Apakah itu kebutuhan untuk menambah keterampilan praktis? Apakah untuk memenuhi persyaratan penjenjangan tertentu? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini—selain secara psikologis membantu—juga memberi petunjuk pada diri kita tentang kebutuhan mereka sehingga itu memudahkan kita dalam memilih bahan presentasi dan pendekatan yang sebaiknya kita terapkan untuk mereka.

Kalau toh masih ada rasa grogi atau khawatir juga, terimalah itu sebagai sesuatu yang wajar. Tandanya kita sedang menuju ke pengalaman baru, ruang baru, melampaui “area of comformity” (area kenyamanan), atau cungkup yang selama ini menjebak diri kita seperti “katak dalam tempurung.” Keberanian kita untuk keluar dari tempurung itu adalah syarat dasar untuk merah kemajuan.

Kalau kebetulan Anda seorang perantau, ingatlah bahwa semasa di desa atau kota kelahiran dulu banyak sanak saudara dan lingkungan yang Anda kenal. Saat itu, mungkin Anda membayangkan kota besar dengan penuh harapan sekaligus kekhawatiran. Tetapi, setelah kekhawatiran itu Anda dobrak, maka keadaannya kok tidak sengeri yang kita duga dulu. Lingkungan kota bisa Anda tundukkan juga. Begitu pula lingkungan baru atau orang yang akan Anda hadapi sekarang, optimislah bahwa setelah besok event itu Anda lalui, maka kekhawatiran itu menjadi kenangan.

Kembali pada kasus keharusan menghadapi atasan, audiens, atau klien. Percayalah bahwa mereka itu membutuhkan kita karena keahlian, kemampuan, atau profesionalisme kita. Jadi, bersikap profesional saja supaya mereka yakin terhadap diri kita. Contoh mudahnya adalah pelatih tenis. Umumnya mereka adalah pemuda biasa yang bekerja di klub, sedang yang dilatih adalah para manajer menengah ke atas. Dia tidak canggung karena yakin meskipun orang-orang itu tinggi jabatan dan pendidikannya, nyatanya butuh petunjuknya dalam bermain tenis.

Setelah tahap mengtasi kekhawatiran itu kita terobos, langkah berikutnya adalah menyampaikan saran profesional kita. Misalkan “lawan” yang kita hadapi ialah atasan kita. Bagaimanapun juga mereka ini juga pihak yang terkena frame “atasan harus hebat, gagah perkasa”, dan memang harus bersikap jaga image begitu supaya personil yang dipimpinnya percaya pada dia dan keunggulan organisasi. Oleh karena itu, kalau menyampaikan saran jangan sampai “melukai” kegagahannya itu.

Saran umum yang biasa diterapkan antara lain memberi saran dengan teknik bertanya: “What if…?” Bagaimana kalau…? (Bagaimana kalau jumlah perjalanan yang kita kurangi, Pak? Bagaimana kalau kita ganti vendor saja, Bu? Apakah tidak sebaiknya…? dst). Dengan cara seperti itu berarti kita sudah menyampaikan saran profesional kita, jasa kita, tanpa “melukai” kegagahannya. Pada saatnya dia tahu juga kalau telah dibantu, bahkan “didikte” oleh kita, bawahannya. Tetapi, dia merasa nyaman, tanpa kehilangan muka di hadapan banyak staf lain. Lain kali jasa kita akan dipakai lagi.

Pada situasi lain, kiat “Jadilah lawanmu” atau memahami lawan ini juga bisa diartikan sebagai “memahami lawan bicara.” Betapa sering kita amati atau alami bagaimana komunikasi tidak berjalan, karena kedua pihak tidak pernah berusaha menempatkan diri pada sisi lawan bicaranya. Tak ada empathy. Masing-masing ingin berlomba menyatakan pendapat dan unek-uneknya, tanpa upaya mendengar.

Ini fenomena umum di masyarakat, di sekitar kita, dan di antara kita sendiri. Maraknya acara debat yang ditayangkan di TV, termasuk debat calon pemimpin menjelang Pemilu, membuat orang semakin yakin bahwa menjedi “tukang debat” adalah kunci sukses. Untuk memenangkan “lawan bicara” harus pandai berdebat dengan mereka. Kenyataannya untuk mengalahkan hati klien, atasan, atau audience, yang diperlukan adalah persuasi.

Dan kata ahlinya, kunci persuasi bukanlah banyak bicara, tetapi “banyak mendengar”. Jadilah lawan Anda, berjalanlah dengan sepatunya, kenalilah kebutuhannya. Lalu, sodorkan jasa atau saran profesional Anda dengan kalimat tanya: Bagaimana kalau…?” [rm]

* Risfan Munir adalah peminat spirit samurai untuk meningkatkan etos kerja. Ia bekerja sebagai seorang konsultan manajemen dan perencanaan. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini sudah menulis tiga buku berjudul Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Seri Manajemen: Skema Tindakan Peningkatan Pelayanan Publik, dan Aplikasi Pemberdayaan UMKM. Ia dapat dihubungi melalui blog http://ecoplano.blogspot.com dan pos-el: risfano[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox