Menyeruput Kopi Dapat Uang Rp 1 Miliar

rdlOleh: Rina Dewi Lina*

Ada beberapa hal yang tidak bisa saya hindari sehingga saya harus sering pergi ke kafe. Pekerjaan saya yang membuat harus bertemu klien atau teman di kafe saat pulang dari kantor. Paling kesal kalau terburu-buru sehingga jalannya juga terburu-buru. Begitu sampai kafe, napas sudah ngos-ngosan, terasa haus jadinya. Begitu duduk langsung pelayannya menyodorkan menu. Karena haus, jadilah pesan air mineral dan kopi. Karena terasa lapar, akhirnya pesan makanan juga.

Setelah selesai, duh… nyesek benar lihat air mineral harganya di atas Rp 15.000, kopi yang harganya Rp 25.000, plus makanan yang saya pesan—walau enggak kenyang dan rasanya juga tidak terlalu enak—Rp 40.000. Ditotal plus PPN yang harus dibayar jadilah Rp 88.000. Wuih… hampir Rp 100.000! Ini harus disiasati sebab mampir di kafe untuk urusan bisnis. Tetapi, bagaimana caranya?

Indi, anak saya yang kecil sekarang ini kelas IX. Jatah uang tambahan malam minggunya hanya sebulan dua kali, itu pun hanya Rp 50.000. Sedangkan tempat dia bermain dengan temannya adalah di Citos (Cilandak Town Square). Yang membuat saya heran, dia masih bisa pergi nonton dan makan dengan uang sebesar itu.

Suatu hari, saya mengobrol dengan Indi. Sering Indi cerita ditraktir temannya sehingga dia bisa nonton bioskop sampai dua kali. Saya tanya, “Ke mana saja kalau pergi malam minggu? Kok uangnya bisa cukup? Kan enggak mungkin kalau ditraktir terus-terusan.”

Jawabannya bikin saya ketawa dan membuat saya sadar dan berpikir keras. Tetapi, ini dialog saya dengan Indi.

“De, kok bisa cukup uang yang dikasih Mama, kan kalau makan sama minum di Citos mahal?! (Indi makannya banyak, bisa nambah tiga kali karena dalam masa pertumbuhan)”

“Ya, Mama… uang yang dikasih Mama kan sedikit. Jadi Ade (nama panggilan akrab di rumah) kalau makan, ya di depan Citos…!”

Saya bingung, “Di depan Citos mana?”

“Di depannya… ke sebelah samping sedikit… di pinggir jalan.”

Hahaha…. Saya tertawa mendengarnya. Ternyata anak saya pandai mengatur uang sakunya. Jadi, kalau dia pergi makannya tidak di restoran tetapi “di luar restoran”. Lalu, kalau harus beli air mineral ya dia beli ke supermarket.

Tanpa sengaja ilmu itu saya dapatkan dari anak saya sendiri. Sekarang, kalau saya harus pergi bertemu klien atau teman di kafe, kalau lapar saya makan dulu untuk mengganjal perut dengan membeli makanan di supermarket atau tempat makan lainnya. Saya juga selalu membawa minum air putih di dalam tas. Kalau tidak terpaksa saya tidak pesan makanan dari kafe. Selain harganya mahal, rasanya pun kurang enak. Makanya, kalau ke kafe saya hanya pesan kopi atau minuman satu jenis saja. Lumayan, ternyata bisa menghemat Rp 50.000 setiap bertemu klien atau sedang melobi.

Nah, kalau seminggu saja saya bisa berhemat Rp 100.000, berarti sebulan bisa hemat Rp 400.000. Apabila setiap bulan saya investasikan di reksadana dengan hasil investasi 30 persen selama 10 tahun, dan 5 tahun kemudian hasil investasinya menjadi Rp 1,1 miliar. Wah, sekarang saja saya enggak punya uang sebanyak itu.

Ternyata, bila kita bisa berhemat tanpa menurunkan gaya hidup dan dapat menempatkan pada instrumen investasi yang tepat, secara tidak sengaja kita sudah merencakan kaya dimasa tua.[rdl]

* Rina Dewi Lina M.M., C.F.P., adalah seorang trainer, konsultan, dan perencana keuangan. Sarjana Fisip Universitas Jayabaya dan peraih gelar Magister Manajemen Marketing dari PPM Institute of Management, Jakarta ini juga menekuni profesi sebagai agen sebuah perusahaan asuransi. Rina tinggal di Tangerang dan dapat dihubungi melalui telepon: 021-93667942, 0812-909-1432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox