The Map of Success

rsOleh: Relon Star*

”Ada banyak orang sukses di dunia ini,

tetapi tak satupun mempunyai cerita yang sama”

~ Relon Star

Di sekeliling kita, pasti banyak orang sukses yang dijumpai. Namun, selalu saja ada cara yang berbeda yang mereka miliki dalam mencapai sukses. Memang, ada beberapa komponen yang memiliki benang merah dari semua yang mereka lakukan—seperti: disiplin, konsisten, tekun, fokus, berpikir besar—dan banyak komponen lainnya yang pasti dimiliki orang sukses. Tetapi, peta untuk menuju sukses, setiap orang memiliki caranya masing-masing.

Cara menggapai sukses tergantung dari pikiran kita. Tentunya Anda sudah sangat tahu akan hal ini. Tetapi sayangnya, masih banyak orang yang terjebak dengan ketakutan ketika membicarakan mimpi-mimpinya. Waktu saya ngobrol dengan orang-orang seperti itu, biasanya mereka sangat takut dikatakan sombong jika berbicara tentang lompatan-lompatan yang ingin dia lakukan semasa hidupnya. Kenapa? Ini membuktikan banyak orang yang takut kalau harapannya itu tidak tercapai, padahal ia sudah mengumumkan mimpinya kepada setiap orang. Maka dari itu, daripada banyak omong, mereka berpikir lebih baik tidak usah membicarakan tentang lompatan-lompatan yang ingin mereka lakukan semasa hidup. Akibatnya, karena takut membicarakannya, mereka lalu menguburkan dalam-dalam mimpi tersebut, dan memilih tidak menjadi apa-apa. Mungkin ini akan lebih aman, pikir mereka.

Ada kisah tentang dua orang tahanan yang berada dalam satu sel kecil tanpa lampu, kecuali cahaya yang masuk melalui jendela yang kecil, yang tingginya hampir satu meter dari atas tanah. Dua orang tahanan itu sering kali melihat ke arah jendela itu. Salah satu tahanan hanya melihat teralis—yang sudah pasti jelek, warna metalik yang mengingatkan mereka akan realitas. Dari waktu ke waktu tahanan itu menjadi putus asa, pahit, marah, dan tak berpengharapan.

Kontrasnya, tahanan yang lain melihat bintang-bintang di langit. Ia mengacuhkan pandangan di depan matanya, walaupun nyatanya ia sedang berada dalam teralis besi juga—sama seperti temannya. Lalu, pengharapan muncul dalam dirinya ketika dia mulai berpikir tentang kemungkinan untuk memulai kehidupan yang baru di dalam kebebasan.

Cerita ini sangat menarik perhatian saya. Ada dua orang yang sama dalam satu tempat, tetapi memiliki cara berpikir yang berbeda. Dari cara berpikir yang berbeda itu, tentu akan menelurkan hasil yang berbeda pula, bukan? Hal seperti ini banyak dijumpai dalam hidup sehari-hari. Ada orang yang berkata, ”Sukses itu harus dilalui lewat jalan berliku-liku,” namun ada juga yang berkata, ”Untuk sukses itu bisa kok lewat jalan lurus.”

Mereka melihat melalui jendela yang sama, tetapi yang satu melihat jeruji besi sedang yang lain melihat bintang. Dan, perbedaan cara berpikir inilah yang menentukan pencapaian ke depan dalam kehidupan seseorang. Jika seseorang hanya melihat pada jeruji besi, maka semakin rendah lompatan yang ia hasilkan. Namun, jika ia mampu bintang di balik jeruji besi yang menghalangi pandangannya, maka semakin tinggi juga lompatan sukses yang akan ia capai.

Dalam bukunya Pembangkit Semangat Hidup, Zig Ziglar menceritakan kisah Art Linkletter yang benar-benar merupakan ikon dalam sejarah Amerika. Usianya lebih dari sembilan puluh tahun dan masih bersemangat. Ia berenang 26 putaran setiap hari, makan secukupnya, tidak merokok atau minum minuman beralkohol, dan menikmati hidupnya. Ia memberi nasihat yang manis sekali, ”Kerjakan sedikit lebih banyak daripada yang Anda dibayar untuk itu, berikan sedikit lebih banyak daripada yang harus Anda berikan, berusahalah lebih keras daripada yang Anda inginkan, bidiklah sedikit lebih tinggi daripada yang Anda pikir mungkin, dan berikan banyak ucapan syukur kepada Tuhan untuk kesehatan, keluarga, dan sahabat.”

Kalau kita mengkaji ulang, komponen untuk sukses harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin sukses, karena lompatan yang lebih tinggi yang ingin dihasilkan. Bukan sebaliknya. Ketika orang menetapkan pencapaian yang lebih tinggi, maka ia harus memaksa diri berdisiplin. Bukannya setelah ia mencapai sukses, barulah ia bertekad untuk mendisiplin diri. Bukan demikian. Komponen untuk sukses harus lebih dahulu dilakukan, dan itulah yang membuat Anda bersemangat, karena Anda menginginkan lompatan yang lebih tinggi.

Cara orang mencapai sukses tidak selalu sama. Walaupun kita menjumpai begitu banyak orang dalam bidang yang berbeda, namun sama-sama sukses, tetapi waktu ditanya bagaimana mereka dapat mencapai sukses, tentunya mereka memiliki jawaban yang berbeda. Saya penah menemui seseorang yang memang sukses karena unsur keberuntungan. Tetapi, banyak yang lainnya karena menerapkan komponen dari kesuksesan.

Penting bagi kita untuk tetap menjaga pikiran kita agar selalu menyiapkan lompatan yang lebih tinggi lagi dalam mencapai sesuatu. Hidup akan terasa bergairah ketika Anda selalu memiliki cara baru atau ide baru untuk pencapaian Anda. Takut untuk bermimpi hanyalah menjadikan Anda melihat jeruji besi di balik indahnnya bintang di alam kebebasan.

Jeruji besi hanya akan mengingatkan Anda pada kegagalan Anda. Sedangkan melihat bintang, akan mendongkrak semangat Anda untuk melakukan lompatan yang lebih tinggi. Namun, tidak ada yang dapat membatasi Anda akan mimpi-mimpi Anda—selain diri Anda. Memang, akan jauh lebih mudah untuk melihat teralis besi daripada melihat bintang.[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Tekanan Pemicu Sukses

Relon StarOleh: Relon Star*

”Bayangkan jika Anda mengalami hal ini. Ada seorang yang menodongkan pistol ke arah Anda, dan memaksa Anda untuk mengambil sesuatu yang sangat berharga di atap rumah Anda. Anggaplah orang itu adalah seorang teroris. Dan, dia hanya memberi Anda waktu lima menit. Lima menit setelah itu Anda harus kembali dengan membawa barang berharga yang diminta oleh teroris tersebut. Apakah yang Anda lakukan? Itu pertanyaan pertama. Kedua, apakah Anda bisa melakukannya?” demikian sang Financial Revolutioner—Tung Desem Waringin—mengawali seminarnya.

Saya yakin, banyak di antara Anda memiliki jawaban yang sama dengan saya. Pasti BISA! Dalam keadaan tertekan, terkadang kreativitas seseorang bisa muncul ke permukaan. Anggaplah kisah yang diceritakan tadi bombastis atau terlalu mengada-ada. Tetapi, peristiwa serupa sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Sebut saja seorang wanita yang ditinggal suaminya pergi. Padahal, mereka memiliki dua orang anak. Wanita tersebut sudah lama sekali tidak bekerja. Karena, selama ini yang menopang biaya hidup sehari-hari ialah suaminya. Sekarang, mau tidak mau dia harus menghidupi kedua anaknya dan dirinya sendiri. Jika hanya tinggal di rumah seharian dan menunggu orang lain datang membawa makanan, mungkinkah anaknya dapat bertahan hidup?

Jika keadaannya demikian, apakah yang harus dilakukan? Pergi dari kursi malas, dan mulailah bekerja. Atau, menceritakan apa yang ia alami, kemudian teman yang mendengarnya mencoba mencarikan lowongan pekerjaan. Segala hal jadi lebih terbuka ketika kita melangkah.

Jika sang wanita single parent tersebut dapat menetapkan pencapaian yang baru, berarti kita semua juga bisa melakukannya. Hanya saja, wanita itu sudah memiliki suatu alasan yang menggerakkan dia untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Berarti, yang Anda butuhkan hanyalah sebuah alasan.

Bangunlah setiap pagi dengan membuat alasan mengapa hari ini harus menjadi hari yang luar biasa dengan melakukan hal-hal yang luar biasa. Saya ingin mengulang sekali lagi mengenai sukses yang disederhanakan, ”Menetapkan sesuatu, dan mencapainya!” Bangunlah pagi hari dengan menetapkan sesuatu, dan capailah!

Bagaimana jika Anda berhasil mencapainya? Ini pertanyaan yang berbeda. Tentu dengan jawaban yang berbeda pula. Tetapkanlah sesuatu yang lebih jauh lagi, yang belum terjangkau oleh tangan Anda, dan bersiaplah untuk mencapainya. Melangkahlah lebih jauh, sejauh mungkin dari yang Anda bisa lakukan.

Seorang perenang, jika tadinya hanya bisa berenang sejauh 5 km, dia harus menetapkan jarak yang lebih jauh lagi yaitu 10 km. Bagaimana jika yang 10 km tersebut telah tercapai? Berenanglah sejauh 15 km, 20 km, atau lebih jauh lagi. Artinya, melangkahlah sejauh yang bisa dilakukan.

Jangan melangkah mundur lagi, dengan memperkecil angka yang sudah berhasil Anda capai. Banyak orang melakukan hal ini. Ketika dia sudah berhasil melakukan sesuatu, dia mulai mengambil napas, pergi ke kursi malas, lalu pelahan-lahan tidur kembali. Merasa pencapaian awal sudah berhasil digenggam, dia tidak menetapkan standar yang baru lagi. Akibatnya, kata stagnasi sering kali menjadi akrab di telinga kita. ”Saya tidak tahu lagi harus melakukan apa? Saya merasa sudah tidak bisa melakukan apa-apa”, demikian kalimat yang sering dijumpai. Padahal, bukannya dia tidak bisa melakukan apa-apa, tetapi segera sesudah dia mencapai keberhasilan, dia tidak segera menetapkan standar baru.

Cerita lain sering ditemukan dalam profesi sebagai agen asuransi. Merasa bahwa bulan ini dia telah mencapai target, dia melemahkan kekuatan penjualannya karena merasa sudah berhasil. Padahal, itu baru 25 persen dari target yang ditetapkan selama setahun. Hitungannya, dia sudah mencapai 25 persen dari target dalam jangka waktu sebulan. Padahal, waktu yang diberikan setahun. Berarti masih ada 11 bulan untuk mencapai yang 75 persen. Dia mulai berkata, ”Untuk sementara waktu ini saya boleh berhenti. Atau, meminimalkan kekuatan saya karena ternyata sangat mudah untuk mencapai 25 persen dalam sebulan. Dalam jangka waktu empat bulan saja, saya sudah meraih target yang ditetapkan untuk setahun.

Mengerikan sekali jika ini terjadi. Musuh terbesar dalam diri kita adalah rasa puas. Hati-hati jika Anda mulai terkena penyakit ini. Ini penyakit menular dan berbahaya. Anda dapat menularkan rasa kepuasan kepada orang lain. Dan, orang lain mengikuti Anda. Dan berbahaya, karena jika tidak hati-hati, ini dapat merupakan langkah awal bagi kemunduran Anda.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda buru-buru menetapkan standar baru untuk suatu pencapaian, ataukah Anda sudah merasa cukup puas?[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Bagaimana Orang Hebat Memulai Sesuatu?

Relon StarOleh: Relon Star*

“Anda tidak perlu hebat untuk memulai sesuatu,
tetapi Anda perlu memulai sesuatu untuk menjadi hebat”

~ Relon Star

Entah kenapa, banyak sekali orang yang trauma dengan kegagalan sehingga saking tak mau mengakrabinya, mereka cenderung takut untuk memulai sesuatu. Iya apa iya? Kalau mau jujur, orang takut untuk mencoba karena takut gagal. “Daripada dipikir tidak sukses dalam tulis-menulis, sudahlah lebih baik aku tidak menulis,” begitu dalih yang sering dijumpai. Ini salah satu contoh saja.

Awalnya, saya termasuk dalam deretan orang yang takut gagal semacam itu. Tetapi, sejak membuat keputusan penting di tahun 2008—hidup saya berubah—sekarang malah ketagihan mencoba sesuatu yang baru. Dan, ini rasanya lebih nikmat ketimbang morfin. Mmhh… maklum saya mantan morfinis, jadi saya tahu perbedaannya.

Keputusan penting itu bermula pada September 2008. Tiba-tiba ada seorang pengusaha menelepon untuk mengajak saya berbisnis. Itu lho, jadi trainer dengan sertifikasi James Gwee, bermodalkan investasi Rp 25 juta. Tahu apa yang langsung terlintas dibenak saya? “Aduh, bagaimana kalau saya gagal?” Walaupun saya sudah diyakinkan oleh pengusaha itu, bahwa saya terpilih dari lima belas orang yang dianggapnya bisa menjalankan bisnis ini. Lebih manis lagi, pengusaha tersebut bersedia menginvestasikan uang sebesar Rp 25 juta, biaya training untuk saya. Manis sekali, bukan? Tetapi, tetap saja ’mentalitas orang gagal’ selalu mendapatkan tempat untuk bersarang di pikiran saya, sehingga membunuh keberanian untuk mencoba. Tetapi okelah, orang bijak selalu membutuhkan waktu untuk berpikir dulu, mempertimbangkannya matang-matang, baru kemudian memutuskan.

Dua minggu rasanya cukup untuk memikirkan tawaran menggiurkan ini. Singkat cerita, saya menolaknya. Lho, kok aneh? “Lalu, apa yang Anda ingin ceritakan di sini, Relon?” Anda pasti mulai menyalahkan keputusan saya. Tetapi, tunggu dulu! Jangan buru-buru menyimpulkan.

Saya menawarkan bentuk lain dari kerjasama. Visi hidup pun mulai saya bagikan pada pengusaha tersebut. Saya mantan pecandu narkoba—yang tidak bisa menutup mata, melihat rakyat Indonesia yang kaya akan potensi. Tetapi, perlahan-lahan menuju kehancuran karena tak bisa memerangi kekuatan benda haram NARKOBA.

Waktu ditanya, “Apa visi kamu ke depan?” saya menjawab spontan, “Mau tulis buku mengenai kisah hidup saya ini!”

Emang kamu bisa nulis?” tanyanya.

“Tidak! Tetapi saya mau coba.”

“Ok, kamu tulis buku, saya support kamu.” Ini percakapan singkat, namun sanggup membuat ledakan besar dalam hidup saya.

Mulailah saya menulis buku. Tahu hasilnya? Berkali-kali ditolak oleh penerbit ternama untuk segmen rohani. Tetapi, kali ini saya tidak membiarkan rasa takut gagal itu bersarang di pikiran saya. Sebaliknya, saya mengambil naskah buku dan menempel logo penerbit itu di cover naskah saya, lalu setiap hari membayangkan buku saya diterbitkan di toko-toko buku. Finally, langkah awal berhasil dilewati. Buku perdana saya telah diterbitkan pada bulan Juni 2008, dengan judul Run or Die (Metanoia, 2008).

Kegagalan hanyalah suatu proses. Proses yang menjadikan Anda siap menjadi orang sukses. Sukses sebelum gagal rasanya seperti kopi tanpa gula. Nikmat bagi orang yang berpenyakit khusus—seperti diabetes—tetapi tidak bagi orang sehat. Jarang sekali saya mendengar orang sukses yang sebelumnya tidak pernah menjumpai kegagalan. Kalaupun ada, mungkin hanya berapa persen. Itu hanyalah unsur KEBERUNTUNGAN.

Kalau Anda pernah gagal, Anda tidak sendirian karena banyak orang lain mengalaminya. Tetapi, kalau Anda gagal dan tidak berani mencoba lagi, Anda akan benar-benar sendirian. Karena, orang yang sekarang sudah sukses—pernah gagal—namun say good bye dengan kegagalan itu, karena ia berani mencoba.

Saya tidak akan pernah tahu akhir dari mimpi saya menulis buku kalau saya tidak berani mencoba. Kita tidak akan pernah tahu apakah usaha kita akan berhasil atau gagal, kalau tidak coba memulainya. Sekarang, saya jadi tahu ending dari perjalanan menegangkan menulis buku. Apalagi ditambah mendengar banyak orang yang terinspirasi dengan kisah saya itu … wow manis sekali!

Bagaimana dengan Anda? Maukah Anda coba untuk memulai sesuatu?[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Mantan Pecandu Narkoba Jadi Penulis dan Inspirator, Bisakah?

Relon StarOleh: Relon Star*

”Apakah kebahagiaan hidup yang sesungguhnya? Kebahagiaan hidup ialah ketika kita membahagiakan orang lain melalui hidup kita.”

~ Relon Star

Iseng-iseng saya membuka comment di Facebook, ternyata banyak pesan masuk dari pembaca www.andaluarbiasa.com. Menurut mereka, tulisan saya telah memberikan inspirasi bagi mereka. Tetapi, saya sedih membaca pesan tersebut. Lho, kok malah sedih? Karena begitu banyaknya orang yang lebih lurus hidupnya ketimbang saya, tetapi tidak mau meninggalkan message atau menginspirasi hidup orang lain. Terlalu banyak orang yang sibuk dengan dunianya, sehingga tak sempat membahagiakan orang lain dengan kisah hidup mereka.

Lebih lengkapnya, inilah kisah saya yang menyedihkan itu. Tahun 1999—tepatnya bulan Juni—saya baru menemukan kehidupan. Padahal, saya hidup sudah sejak 1979. Lalu, ke mana saja selama 20 tahun? Sejak saya SMP kelas 2, ada perubahan besar yang terjadi dalam keluarga. Sejak itu ayah saya menjadi tokoh religius Kristen—sebutannya pendeta. Sejak ayah jadi pendeta, tuntutan mengalir deras setiap hari. Sebagai seorang anak pendeta, saya dibatasi dengan aturan-aturan yang tidak siap diterima oleh seorang remaja. Misalnya, tidak boleh bergaul dengan teman-teman yang brutal, tidak boleh ke bioskop, tidak boleh mendengar lagu dunia—hanya boleh dengar lagu rohani atau lagu gereja. Lama-kelamaan tuntutan itu membuat saya stres, dan saya merasa kebebasan hidup saya terancam.

Narkoba segera menjadi pilihan saya saat itu. Teman-teman bilang itu enak, maka saya mencobanya. Buta terhadap akibatnya, saya menikmati benda terlarang itu. Lama-lama jadi ketagihan. Asyik juga bisa bebas masalah, yah walaupun hanya sesaat. Daripada setiap hari puas dengan omelan ayah di rumah, mendingan saya pesta narkoba dengan teman-teman. Selama tujuh tahun saya asyik dengan dunia baru—surga di dunia—yaitu narkoba.

Badan kurus kering, mata cekung ke dalam, tak satu pun orang akan percaya bahwa anak ini bisa punya masa depan cemerlang. Semua orang meramal saya ”anak tanpa masa depan.” Belum lagi badan kuning semua akibat tertular penyakit hepatitis dari teman, karena kegiatan pinjam meminjam insulin, solidaritas yang tak bertanggung jawab.

Orang memandang dengan pesimis akan hidup saya. Kalau tiga kakak saya dibanggakan karena hidupnya lurus, saya jadi bahan cemoohan orang, setiap hari. Guru saya bilang, Tidak ada hubungannya masa depan dengan pecandu narkoba. Relon pasti madesu, alias masa depan suram. Ups! Nyaris saja itu terjadi. Kalau tidak ada anugerah pada malam 3 Juni 1999, tulisan-tulisan saya tidak akan pernah muncul di www.andaluarbiasa.com.

Malam itu, sebenarnya sederhana saja yang terjadi. Saya dan teman-teman sedang berpesta narkoba di Sentul. Lima hari di Sentul, cukup membuat kami puas dan bahagia. Pulangnya saya memeriksa mobil, supaya jangan sampai ada barang bukti yang tertinggal di mobil. Ternyata, ada ecstasy setengah butir yang tertinggal. Saya menelannya tanpa ada perasaan apa pun mengenai ngerinya kematian. Setengah butir ecstasy itu membuat tubuh saya tak karuan. Mata mendelik-delik, lama-lama tinggal putihnya saja yang kelihatan. Sempat paranoid, mulut penuh busa, tinggal sedikit lagi menuju KEMATIAN!

Ternyata, antara hidup dan mati itu bedanya hanya sedikit! Makanya, kalau orang tak menghargai kehidupan, lebih baik….?!? Bukan saya yang menjawab, tetapi Anda lho!

Saya lanjutkan. Malam itu, saya mendapat perpanjangan waktu hidup di dunia. Intinya, peristiwa ini memang supranatural. Saya diberikan kemurahan oleh yang MAHAKUASA untuk melanjutkan kehidupan. Untuk apa? Untuk memperingatkan yang lainnya, sudah siapkah kita menghadap DIA?

Kisah ini telah menginspirasi banyak orang. Maka, muncullah keinginan menuangkannya dalam sebuah tulisan. Lebih lengkapnya Anda dapat membaca Run or Die (Metanoia, 2008). By the way, apa yang mau saya sampaikan? Kalau saya tidak nyaris mati saat itu, mungkin saya masih berkutat dengan hidup tanpa masa depan. Tetapi, karena sudah nyaris mati—malah seharusnya sudah mati—maka sekarang saya lebih menghargai KEHIDUPAN, dengan menginspirasi banyak orang. Caranya bisa lewat banyak hal, salah satunya melalui tulisan.

Peristiwa diluputkan dari kematian ini yang membuat saya tidak tahan kalau ada orang yang coba-coba pakai narkoba dan merusak hidup mereka. Maka dari itu, saya ikut berpartisipasi memerangi narkoba di muka bumi Indonesia ini. Karena ternyata, saya menemukan banyak sekali orang berpotensi yang gagal menemukan potensinya, lalu lari ke narkoba. Sayang sekali, bukan? Apalagi narkoba identik dengan anak muda. Bagaimana dengan nasib bangsa 10-20 tahun ke depan kalau narkoba lebih berhasil memasarkan kenikmatannya ketimbang kita-kita ini, yang hidupnya sudah sukses? Mau tidak mau, kalau kita ingin memberantas narkoba dari bumi Indonesia, Anda yang tidak terjamah oleh narkoba pun, mari melihat sekitar Anda, dan berikanlah kontribusi Anda pada mereka.

Maukah Anda bergabung bersama saya, menginspirasi orang lain melalui hidup Anda? Mulailah dari lingkaran terdekat Anda. Kalau Anda rela, jamah juga orang di lingkaran luar Anda. Salam inspirasi![rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.7/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

Spirit of Change

Relon StarOleh: Relon Star*

“Jika Anda punya mobil tua dan Anda mengecatnya kembali dengan warna baru,

maka sesungguhnya mobil itu bukanlah mobil neos,

sebab secara usia, mobil itu tetaplah mobil tua.”

~ Yosi Rorimpandei

Ada yang bilang, kalau kita tidak berubah, bisa mati. Karena, perubahan itu sendiri akan melindas kita, sehingga kita jadi tertinggal jauh di belakang. Tetapi, kalau terlalu sering berubah, bisa membuat orang tergoda untuk berkata, Dia harus belajar konsisten!” Lalu, mana yang benar?!

Belakangan, banyak orang berbicara tentang perubahan. Sewaktu Barack Obama mengumandangkan slogan, yang menariknya ke puncak tertinggi kepemimpinan di Amerika—Yes, we can change”—seketika itu juga orang-orang heboh membicarakan perubahan. Tetapi sayangnya, perubahan itu tidak hanya untuk dibicarakan. Perubahan tidak sekompak itu dengan hidup kita. Ia tak mau hanya dibicarakan, tetapi perlu ditindaki.

Orang yang tidak mau melakukan perubahan, jangan bermimpi mendapatkan hasil yang maksimal. Jangankan bicara soal sukses, berada di garis rata-rata saja sudah lumayan. Memang benar pendapat yang mengatakan bahwa kegagalan itu sukses yang tertunda. Bahkan, Edward Dowden menyatakan, Kadang-kadang suatu kegagalan yang mulia melayani dunia sama setianya seperti sukses yang terhormat.” Tetapi, jangan terlalu mengakrabi kegagalan, sehingga Anda sulit melakukan perubahan untuk mencapai sukses.

Saya menganalisis, ada empat hal yang dapat membawa kita ke dalam perubahan, yaitu:

1. Buatlah keputusan untuk berubah

Sebelum Anda melangkah lebih jauh kepada perubahan, putuskan terlebih dahulu untuk berubah. Perubahan bukanlah perubahan sampai terjadi perubahan,” sebuah slogan yang sering kali dikumandangkan. Nyatanya, perubahan itu sendiri perlu keputusan. Anda perlu memutuskan untuk berubah, dan Anda sendiri yang harus mengambil keputusan tersebut. Anda tidak harus bergantung pada orang lain untuk mewujudkan perubahan, tetapi Anda yang sangat bertanggung jawab mengambil keputusan untuk berubah. Karena sering kali, perubahan-perubahan kecil yang kita lakukan, bisa berdampak besar.

Biarkan saya memberi contoh. Kekurangan saya yang paling fatal adalah pelupa. Padahal, profesi saya sebagai penulis dan pembicara sangat membutuhkan daya ingat yang kuat untuk segala aktivitas saya. Lalu, apa yang saya lakukan? Apakah saya tinggal diam dan meratapi kekurangan saya itu? No, itu tidak membantu. Langkah pertama yang saya lakukan, saya putuskan untuk berubah. Menyadari bahwa saya ini pelupa, saya mulai putuskan untuk lebih kuat mengingat segala hal yang penting. Misalnya, dengan mencatat segala hal yang harus dilakukan hari ini.

Setelah beberapa kali melakukan, ada kalanya saya gagal. Tetapi, setelah mencoba beberapa kali, resep ini cukup manjur dalam membantu perubahan saya.

2. Buatlah perubahan yang ACHIEVABLE (dapat dicapai)

Jangan terlalu muluk-muluk dalam melakukan perubahan. Nanti Anda sendiri yang stres karena tidak dapat mencapainya. Sebagai contoh: kalau Anda ingin menurunkan berat badan Anda, tetapkan berapa kilogram yang sanggup Anda capai. Kalau Anda ingin menurunkan lima kilogram berat badan Anda, tetapkan dulu dua kilogram. Setelah berat badan Anda turun dua kilogram, lanjutkan pencapaian Anda sampai berhasil turun lima kilogram. Mudah, bukan?

Buatlah perubahan yang achievable. Saya lebih senang menggunakan bahasa Inggris, karena lebih mendekati arti yang sesungguhnya. Banyak orang mundur sebelum melakukan perubahan—dan akhirnya tidak berubah—karena mereka menetapkan target perubahan yang sulit dicapai. Jika Anda sendiri sulit mencapainya, siapa lagi yang dapat membantu Anda melakukan perubahan?

Masih ingat contoh kekurangan saya yang disebutkan di atas? Pelupa. Target saya, untuk hari ini saya mengingat, misalnya, lima hal yang harus saya lakukan—yang benar-benar penting. Saya kemudian mencapainya. Setelah saya mencapainya, saya tambahkan lagi berapa hal lainnya yang harus saya ingat. Itu salah satu usaha saya menuju pribadi yang sukses. Karena, perubahan kecil yang saya lakukan sekarang menentukan hasil saya beberapa tahun ke depan.

3. Berubah tanpa tapi

Banyak orang ingin berubah, tetapi dengan melakukan banyak persyaratan. Saya mau meningkatkan kinerja saya, asalkan bos menaikkan gaji saya. Walah! Perubahan yang seperti ini merepotkan. Merepotkan diri Anda maupun orang lain. Ada lagi yang beralasan, saya mau berubah asal suami saya mendukung perubahan saya.

Perubahan hanya bisa dilakukan tanpa ’tapi’. Berubahlah untuk diri Anda sendiri. Jika Anda melakukan perubahan, Anda sendiri yang akan menikmati hasilnya. Lakukan perubahan itu sekarang atau tidak sama sekali!!

4. Berikan REWARD untuk perubahan Anda

Jika Anda telah melakukan upaya perubahan—sekecil apa pun itu, berikan reward atau penghargaan untuk diri Anda sendiri. Ada seorang psikolog bercerita pada saya, ia mempunyai anak yang sangat malas. Nilai pelajarannya selalu jelek, beda sekali dengan kakaknya. Psikolog ini bingung apa yang harus ia lakukan, padahal ia seorang psikolog.

Lalu, ia mencoba konsultasi pada psikolog lainnya. Jawaban sederhana yang didapatnya, Berikan reward (penghargaan) untuk hal sekecil apa pun yang menunjukkan perubahannya. Puji dia atas usahanya.” Maka, mulailah ia menyemangati anaknya untuk meningkatkan nilai-nilai pelajarannya. Dari angka 2,8 berubah menjadi 3,2. Lalu, ia memuji usaha anaknya itu. Walaupun dalam hatinya dongkol karena nilainya masih tetap jelek. Setiap kali nilai anaknya meningkat, ia memberikan pujian. Dan, saat ini anaknya telah berhasil mencapai nilai cum laude di tempat kuliahnya.

Sedikit perubahan yang kita lakukan, tetapi jika dilakukan secara konsisten bisa menelurkan hasil yang besar di kemudian hari. Berikan penghargaan atas perubahan yang Anda lakukan sekarang, jangan kaget atas hasil besar yang Anda capai kemudian hari. Tunggu apa lagi? Mulailah lakukan perubahan![rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui email relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Kekuatan Mimpi

rsOleh: Relon Star*

”Orang-orang hanya diberi tahu apa yang tidak bisa mereka lakukan, bukan apa yang mampu mereka lakukan.”

~ Relon Star

Belakangan, karena saya banyak berkeliling untuk memenuhi undangan sebagai pembicara, saya melihat begitu banyak orang yang mati sebelum ajalnya. Betapa tidak, banyak di antara mereka yang punya banyak potensi, tetapi tidak berani mengelolanya. Mau tahu mengapa? Karena, orang kita iniIndonesia maksudnyajarang sekali memberikan apresiasi untuk suatu hal baik yang telah orang lain lakukan.

Saya sendiri suka geregetan kalau mendengar ada orang yang saya berikan kesempatan mencoba sesuatu, tetapi dia berkata, Aduh, saya tidak bisa. Saya bukan orang yang tepat untuk melakukannya. Coba yang lain saja, deh!” Sampai mulut saya berbusa-busa memberi dorongan bahwa mereka bisa, tetap saja budaya itu begitu nge-trend di sekeliling saya.

Beberapa tahun yang lalu, dijalankan sebuah eksperimen dengan memilih sekelompok mahasiswa di perguruan tinggi sebagai bahan uji coba. Para mahasiswa itu dihubungkan dengan mesin yang dapat mengatakan dengan persis kapan mereka tidur dan kapan mereka mulai bermimpi. Ketika mahasiswa itu mulai bermimpi, para dokter akan membangunkan mereka, kemudian mengizinkan mereka tidur kembali. Tiap kali mesin itu menunjukkan tanda-tanda mahasiswa tertidur dan mulai bermimpi, para dokter siap membangunkan mereka kembali.

Sesudah satu malam dengan perlakuan ini, beberapa mahasiswa menjadi gugup, resah, dan gelisah. Di malam kedua, banyak mahasiswa menjadi mudah marah dan jengkel, walaupun kenyataannya mereka tidur lumayan lama. Pada akhir dari tiga malam mendapatkan jumlah tidur yang sama—tetapi tanpa mimpi, para peneliti memutuskan untuk mengakhiri eksperimen karena sebagian mahasiswa mulai mengalami masalah psikologis.

Dua puluh empat jam kemudian sesudah menghentikan eksperimen, sebagian besar mahasiswa kembali normal. Dan, dalam satu minggu mereka semua telah kembali normal seratus persen. Apa artinya? Eksperimen tersebut membuktikan sesuatu secara pasti—bahwa ketika Anda tidur, Anda pasti bermimpi. Dan, tidur tanpa mimpi mengakibatkan masalah psikologis.

Antara tidur dan terjaga memiliki benang merah yang sangat kuat. Ketika Anda tidur, Anda perlu bermimpi. Namun, satu hal lagi yang tak kalah penting, ketika Anda terjaga Anda juga perlu bermimpi. Sebenarnya, satu-satunya cara Anda dapat mencegah mimpi Anda menjadi mimpi buruk adalah dengan terjaga serta pergi bekerja dan mewujudkannya menjadi kenyataan.

Eksperimen ini menguak adanya rahasia di balik mimpi. Manusia tanpa mimpi, ibarat motor tanpa roda. Mesinnya bagus—kuat dan tangguh. Tetapi tanpa roda, motor tak dapat difungsikan. Hanya sebuah bongkahan mesin yang tak jelas kegunaannya. Begitu pula dengan hidup kita. Tanpa mimpi, manusia hanyalah sebuah bongkahan tulang hidup yang tak bisa difungsikan. Dia tidak tahu arah tujuannya, karena tidak berani bermimpi.

Mimpi itu penting dimiliki. Masalahnya, banyak orang takut akan mimpi mereka sendiri. Mungkin karena masukan yang selama ini mereka terima selalu negatif. Orang-orang hanya diberi tahu apa yang tidak bisa mereka lakukan, bukan apa yang mampu mereka lakukan. Padahal survei membuktikan, manusia akan lebih termotivasi jika diberikan apresiasi daripada komentar negatif. Tanpa diberitahu pun, kita biasanya sudah tahu bahwa kita tidak dapat melakukan ini dan itu. Tetapi, berapa banyak yang tahu hal-hal yang sebenarnya mampu ia lakukan?

Waktu saya merencanakan untuk menulis buku, lebih banyak orang yang mengatakan bahwa saya tidak bisa, ketimbang orang yang mengatakan saya bisa. Mau tahu perbandingannya? Sepuluh banding satu orang. Wow! Jangan kaget. Keadaan demikian sudah sering saya temui. Support system demikian rendahnya di lingkungan di mana saya berada. Untungnya, masih ada satu orang yang mendukung. Dan, saya menyambut satu orang tersebut, maka lahirlah buku perdana saya—Run or Die.

Mimpi memiliki kekuatan yang sama pentingnya dengan action plan. Dasar yang menggerakkan Anda untuk melakukan sesuatu adalah mimpi. Jika Anda tidak punya mimpi, Anda tidak bisa bergerak. Karena Anda tidak tahu dari mana memulainya. Mulailah dari bermimpi. Sama seperti mahasiswa yang mengalami masalah psikologis ketika tidur tanpa mimpi, demikian kita punya masalah jika hidup tanpa mimpi. Sebelum Anda berbicara lebih jauh mengenai sukses, mari bicarakan dulu mimpi Anda. Karena kebanyakan orang sukses memulai dari mimpi.

Banyak pihak yang dapat menghalangi kita mencapai sukses. Tetapi, tak satu pun yang bisa menghalangi Anda dari bermimpi. Mimpi satu-satunya aktivitas yang tidak bisa dibatasi orang lain. Seliar apa pun mimpi Anda, tak ada yang bisa mencegahnya. Yang penting setelah Anda bangun, Anda berusaha mewujudkannya.

Mimpi adalah pintu pembuka bagi sukses Anda. Mimpi Anda sekarang, menentukan hidup Anda beberapa tahun ke depan. Dengan kata lain, jika sekarang Anda tidak bermimpi, beberapa tahun ke depan Anda tidak menjadi apa pun. Apa salahnya Anda mulai bermimpi sekarang?[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui email relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.2/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Jangan Berhenti di Tengah!

rsOleh: Relon Star*

Ada sebuah tempat pendakian di Gunung Swiss Alps yang memberikan pelayanan bagi para pengusaha, untuk mendorong para karyawan mereka bersama-sama mendaki lintasan menuju puncak pegunungan. Sasarannya adalah untuk membangun hubungan persahabatan dan mengajarkan teamwork. Perjalanan menuju puncak dapat ditempuh kira-kira delapan jam. Biasanya, sebelum mereka mulai mendaki, para pendaki berkumpul dulu di bawah untuk saling memberi semangat. Mereka terlihat sangat bersemangat karena tidak sabar menunggu segera mendaki lereng-lereng pegunungan, untuk mengambil foto bersama, dan merayakan kemenangan mereka.

Di pertengahan perjalanan menuju puncak pegunungan, ada sebuah restoran tua. Restoran ini sudah lama ada, tapi sangat menarik, sehingga para pendaki biasanya berhenti di sana. Para pendaki tersebut berhenti untuk minum kopi atau cokelat panas, dan makan siang. Dengan susah payah mereka akan melepaskan perlengkapan pendakian mereka, sambil beristirahat dan menikmati duduk dekat perapian dan minum kopi.
Saat seperti itu tentunya sangat mereka nantikan. Mereka juga bisa menikmati pemandangan indah dengan latar belakang pegunungan—sangat indah dan menyenangkan. Kelelahan mereka segera tergantikan.

Setelah makan dan kenyang, mereka harus melanjutkan perjalanan. Tapi anehnya, yang memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan jumlahnya kurang dari setengah. Beberapa orang memilih turun lagi. Bukan karena mereka tidak mampu, karena pendakian tersebut tidaklah terlalu sulit. Bukan pula karena arena pegunungan yang semakin curam tingginya, sehingga lebih sulit bagi mereka.

Keenganan melanjutkan perjalanan ke puncak pegunungan itu dikarenakan mereka merasa puas telah mencapai setengah dari perjalanan, dan terlanjur merasakan nikmatnya kopi panas di restoran tua tersebut. Mereka puas di tempat mereka berada. Mereka telah merasakan sedikit keberhasilan dan berpikir, ”Ini sudah cukup baik.”

Sering kali kita melakukan hal yang sama. Kita memiliki sasaran untuk suatu keberhasilan, namun ketika ada sedikit keberhasilan yang telah diraih, kita tidak melanjutkan perjalanan. Mulanya, Anda begitu bersemangat. Anda begitu berapi-api, maka dari itu Anda memulai perjalanan tersebut. Namun selang beberapa waktu, Anda menjadi malas dan puas diri.

Mungkin kita telah melihat adanya sedikit perkembangan dan kita puas. Kita nyaman di tempat di mana kita berada. Di tempat kita berada itu bukanlah tempat yang buruk, tapi ada sesuatu yang lebih baik lagi yang seharusnya dapat kita raih. Masalahnya, kita tidak sedang mengejar yang terbaik, hanya yang baik.

Ada seorang teman mengatakan, ”Re, saya telah berhasil dengan sasaran saya. Saya cukup berhasil.”

Saya katakan, ”Selamat untuk keberhasilan Anda. Tapi, Anda harus mengembangkan sayap Anda, dengan memperbesar sasaran Anda. Sebelum Anda menjadi puas, lalu tidak melakukan apa-apa lagi.”

Memang, itu suatu permulaan yang baik, dan dibutuhkan suatu usaha untuk bisa mencapai sasaran Anda sekarang. Tapi, jangan cepat merasa puas. Jangan puas dengan perkembangan, jangan puas dengan sedikit keberhasilan, Anda masih bisa mencapai yang lebih besar lagi.

Mungkin Anda telah memiliki sebuah bisnis dan Anda telah mengalami sedikit keberhasilan. Perusahaan yang Anda miliki mengalami perkembangan, di saat yang lainnya mengalami krisis. Anda mulai bangga akan hal itu. Lalu, sama seperti pendaki gunung yang setengah itu, Anda tidak melanjutkan perjalanan. Anda tidak memikirkan lagi cara-cara inovatif lainnya untuk bisnis Anda. Anda terlalu bergembira dengan hasil yang Anda capai.

Hati-hati dengan rasa puas diri, karena jika tidak, Anda akan terbuai, dan akhirnya pemain yang lainlah yang akan melambung melebihi Anda. Kejarlah yang terbaik yang Tuhan berikan pada Anda, bukan berhenti pada yang baik saja.

Raihlah yang terbaik. Setiap hal yang baik, pasti ada yang lebih baik lagi. Saya percaya, setiap Anda, siapa pun Anda, Anda masih belum berada di puncak pegunungan. Karena dunia ini memberikan banyak sekali kesempatan untuk hal-hal yang terbaik untuk dapat dicapai.

Jadi, jangan berhenti sebelum Anda sampai di puncak pegunungan. Kita akan bertemu di sana.[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui email relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox