Memperkaya Diri Lewat Kegagalan

rsOleh: Relon Star*

“Orang yang mencoba melakukan sesuatu namun gagal,

adalah jauh lebih baik daripada mereka yang tidak

mencoba apa pun, namun berhasil”

~ Lloyd Jones

Tidak ada seorangpun yang mau gagal. Bahkan tidak ada orang yang merancangkan kegagalan singgah di hidupnya. Namun terkadang kita perlu memiliki sedikit kisah tentang kegagalan hidup, supaya berkaca dari kegagalan dan mengambil langkah yang lebih cerdas untuk membenahi kehidupan kita.

Aku termasuk dalam deretan orang yang pernah gagal. Bahkan gagal dalam rentang waktu yang cukup lama yaitu selama tujuh tahun. Entah kenapa, orang sealim diriku (ehem!) bisa terlibat jauh dalam dunia narkotika dan obat-obatan terlarang. Padahal, menurut guruku di sekolah, aku ini termasuk anak yang cerdas loh! Bahkan suatu kali guru Bahasa Indonesia pernah berusaha menjebakku dalam sebuah ujian harian. Ia memberikan pertanyaan yang sangat sulit, supaya aku tidak bisa menjawabnya. Namun di luar dugaan, semua pertanyaan bisa kujawab. (Ini pengakuan beliau ketika aku menjumpainya untuk diwawancara seputar kisahku dulu semasa sekolah, demi keperluan penulisan buku perdanaku).

Menjadi orang gagal selama tujuh tahun, cukuplah membuatku jera. Ketika teman-temanku yang lain sudah menginjak bangku kuliah, aku masih bingung bin bengong jika ditanya soal masa depan. Tak seorang pun sependapat bahwa aku bisa memiliki masa depan gilang gemilang. Tetapi untunglah penulis skenario hidupku membuat kisah yang berbeda dalam hidupku. Karena setelah aku putar haluan—dari seorang mantan morfinis menjadi penulis—kini hidupku berbeda. Bahkan kegagalan tersebut kini menjadi harta karun yang berharga bagiku, karena melalui kisahku berjuang lepas dari jerat candu narkoba, kini aku dapat memperkaya iman orang lain yang merasa hidupnya hancur, tapi merasa punya teman: seorang mantan morfinis … yang kini sukses menjadi penulis.

Kalau Anda mau menambahkan diriku dalam daftar teman Anda, silahkan saja. Asalkan Anda terinspirasi dengan kisahku, dan mulai menciptakan kisah sukses Anda sendiri … yang pernah gagal tetapi bisa bangkit kembali.

Anda tidak dapat menghubungkan titik demi titik di dalam kehidupan ini dengan melihat ke depan. Anda hanya dapat melihat titik-titik tersebut terhubungkan ketika Anda melihat ke belakang. Anda mungkin tidak memahami kegagalan demi kegagalan saat ini, tetapi percayalah suatu saat nanti Anda akan sangat mengerti dan menghargai nilai dari kegagalan.

Ingatlah, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Dan, setiap kegagalan adalah batu loncatan penting untuk sebuah kesuksesan, semua bergantung pada bagaimana Anda melihatnya.

Kalau Anda menyebutkan satu nama dari seseorang yang sudah sukses sekarang, coba perhatikan dengan seksama bagaimana kehidupannya … tentu ia pernah mengalami kegagalan. Bahkan mungkin daftar kegagalannya lebih banyak dari yang kita ketahui, dan yang kita sendiri pernah alami.

Kalau kita mau jujur, kegagalan dapat memberikan sumbangsih yang besar bagi kita jika mau mengambil makna dari kegagalan tersebut, lalu mengambil langkah yang lebih cerdas untuk mencetak sukses di masa mendatang.

Berapa banyak orang di dunia ini yang pernah mengalami kegagalan, namun ketika ia bangkit dari keterpurukan, maka ada masa depan baru di hidupnya. Aku salah satunya. Kini aku menyikapi kegagalan dengan pandangan yang berbeda. Bahkan aku menyulap kegagalanku ini menjadi harta karun yang berharga, karena banyak orang yang terinspirasi begitu mendengar kisah hidupku. Tanpa adanya kisah masa gelapku, aku tidak dapat bercerita banyak tentang kisah suksesku kini, karena ceritanya diawali dari masa gagal selama tujuh tahun.[rs]

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (51 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +32 (from 32 votes)

Relon Star: Coba Dulu Baru Analisis Belakangan!

Relon Star

Relon Star

Salah satu masalah pelik yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah penyalahgunaan narkoba. Semakin hari semakin banyak korban berjatuhan karena narkoba. Ada korban yang terus terikat narkoba dan berujung pada kematian. Namun, ada korban atau pecandu yang bisa lepas dan kemudian melanjutkan kehidupannya. Bahkan, tak sedikit yang kemudian meraih prestasi dan menemukan ladang pengabdian yang membanggakan.

Relon Star adalah contoh mantan pecandu narkoba yang kini berubah menjadi ‘juru kampanye’ antinarkoba. Bukan hanya itu, dia juga cukup produktif menuliskan pengalamannya dalam artikel-artikel motivasional di sejumlah website, majalah gereja, bahkan setidaknya sudah tiga buku dia luncurkan terkait pengalamannya tersebut. Perempuan kelahiran Palu, 7 Oktober 1979 ini menorehkan karya berjudul Run or Die, Became Extraordinary, dan yang terbaru Aku Bebas dari Jerat Narkoba (Gramedia, 2010).

Di buku ketiganya ini Relon Star ingin berbagi semangat pada korban, keluarga, maupun lingkungan pengguna narkoba. Menurut dia, masih ada harapan untuk lepas dan meraih masa depan yang cerah. Masih banyak tempat untuk tumbuh, mengabdi kepada masyarakat, dan mendapatkan pemenuhan pencapaian pribadi. Berikut petikan wawancara Yanuar Prihastomo dari AndaLuarBiasa.com dengan Relon Star di Jakarta beberapa waktu lalu.

Bagaimana awal kenal dengan narkoba?

Jadi latar belakangnya sebenarnya sih karena saya waktu kelas 2 SMP. Papa kan beralih profesi yang dulunya dia kerja kantoran di AJB Bumi Putera. Terus beliau memutuskan jadi pendeta. Saya melihat sejak jadi pendeta itu banyak sistem yang berubah jadinya—khususnya buat saya pribadi yang waktu itu masih menginjak remaja jadi masih usia-usia peralihan—banyak dituntut. Enggak boleh ini, enggak boleh itu harus sopan ke jemaat terus kalau temenan itu harus selektif pergi dengan siapa, dan akhirnya saya merasa lama-lama seperti dikontrol. Waktu papa jadi pendeta, kami pindah rumah ke daerah Ciledug. Nah, pas saya ketemu teman-teman seperti itu ditawarin. “Relon mau cobain enggak, ganja?”

Yang paling sering dipakai apa?

Waktu awal-awal memang ganja. Cuma waktu ditawarkan putauw saya lebih menikmati putauw. Itu waktu SMP. Waktu SMA, mulai masuk lagi shabu-shabu kan ke Indonesia.

Ada pertimbangan ekonomi keluarga?

Enggak, sih Kalau dulu saya pakai putauw itu enggak pernah dapat dari orang tua. Dulu justru situasinya orang tua sangat sulit dalam segi keuangan karena mendadak mama juga sakit. Saya lebih banyak dapat dari teman-teman, kebetulan dapat teman-teman itu yang orang kaya. Jadi mereka yang beliin-lah karena komunitas seperti itu ya toleransinya sangat tinggi…

Bertemu komunitas penulis yang tepat

Bertemu komunitas penulis yang tepat

Bagaimana kejadian Anda jatuh di pesta narkoba?

Waktu itu memang sengaja pesta narkoba aja dan itu biasa dulu ya jadi kita larinya ke Sentul ada sekitar 7 mobillah berangkat ke sana. Di sana itu ada semua persediaan yang ada dari ganja, budha stick, putauw, inex, shabu-shabu, itu semuanya tersedia… Jadi pas pulang temen saya ngomong, ?Ini tolong dicek semua barang-barang, kita sudah masuk daerah Senayan Asia Afrika. Tolong di cek ada barang bukti enggak.? Pas lagi ngecek-ngecek gitu temen saya ketemu. ?Aduh ada ineks setengah nih siapa mau siapa mau?? Gitu. Teman-teman saya yang lain di belakang itu dah pada mabuk, udah tidurlah mereka udah enggak ini… Ya udah deh saya aja kayak maksain. Terus saya telan yang setengah itu. Tiba-tiba aja langsung pusing terus mata saya tiba-tiba mendelik itu prosesnya cepat banget. Sempat paranoid dulu ngomongnya ngaco gitu kan. Beberapa lama kemudian saya pingsan.

Lalu dibawa ke RS?

Teman-teman enggak berani bawa ke rumah sakit karena kalau ketahuan dari urine, pasti kan teman berpikir ya pasti kayaknya dah mau mati yang ketangkep mereka. Jadi, bahaya sekali kan. Mereka waktu itu benar-benar udah berpikir ini pasti mati.

Seperti apa kejadiaannya ?

Dalam keadaan pingsan kan teman-teman bopong saya ke rumah dan saya sadar, saya menyadari kalau saya sendirian. Padahal saya tadi kayaknya ramai-ramai hahahihi… Di mana ini teman-teman? Gitu kan… Kayak ada perasaan kosong banget. Di situ ada suara aja, suara hati gitu ambil buku. Saya ikuti aja gitu. Emang ini ya, cara Kristiani, supranatural memang. Ambil buku, saya juga enggak ngerti buku apa nih tengah malam. Pokoknya saya pingsan kurang lebih tiga jam. Jam 12-an saya pulang ke rumah dan sadar-sadar sudah jam tiga. Ambil buku, saya terus bacabuku rohani yang sudah dua tahun ada di meja tapi tidak pernah saya baca. Dulu, saya anti bangetkarena papa kan kayak gitu, saya anti banget sama kekristenan—sampai Alkitab saja tidak punya. Ya sudah ternyata buku rohani, dan saya baca buku itu. Di situ saya merasa kayak cocoklah. Jadi, kebutuhan saya terjawab di buku itu. Tentang kembali ke Tuhan lah, gitu.

Menjadi motivator dan pembicara dalam bidang pengembangan diri

Menjadi motivator dan pembicara dalam bidang pengembangan diri

Adakah beberapa ayat yang sampai sekarang masih diingat?

Ya, Yesaya 42 ayat 90 kalau enggak salah. Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau… Ketiga kakak saya itu baik-baik, saya sendiri yang kacau. Saya merasa diperlakukan beda. Nah, dari ayat itu saya kayaknya seperti semburan air gitu. Pasti Tuhan terima saya sudah keadaan berdosa kayak gini. Ya sudah saya dapat ayat itu, saya merasa (mendapat) suatu jawabanselama ini yang saya caridan saya sadar banget. Saya bisa bangun lagi, bisa apa ya kembali sadar setelah tiga jam koma. Itu, karena ada tangan yang tak terlihat itu… Invisible Hand itu.

Apakah Anda langsung berhenti pakai narkoba setelah kejadian itu?

Setelah itu, memang di situ titik saya berjuang. Cuma, saya tahu kalau saya berjuang sendiri enggak bisa. Jadi, besoknya saya cerita sama semua keluarga. Saya kumpulin semua keluarga, terus saya ceritakan gini lho sebenarnya perbuatan saya itu sudah sejauh ini. Di situ kaget semua kan, ?Kamu narkoba??

Setelah peristiwa itu, masih kesulitan lepas dari narkoba?

Itu perjuangannya yang sulit banget. Jadi beberapa kali saya mengalami sakauw di Malang. Apalagi dipicu dari cuacanya dingin kan, itu bikin tulang-tulang sampai menusuk gitu. Cuma saya bersyukurnya, saya bertemu lingkungan yang mendukung saya. Jadi, support system itu saya dapat banget di situ. Jadi, saat saya sakauw teman-teman itu gantian ajak ngobroldialihkan pikirannyagitu lho. Diajak ngobrol, ya dihibur pokoknya diceritain sesuatu. Puji Tuhan cukup berhasil cara mereka.

Setelah direhab di Malang?

Saya pilih ke Bandung karena saya masih takut ke Jakarta. Pokoknya saya sudah pikir selama saya belum kuat, nih… Jangan ke Jakarta dululah. Jangan tinggal di Jakarta.

Takut lingkungan atau takut aparat?

Lingkungan. Kalau aparat dulu kan belum terlalu segencar sekarang ya. Iya. Dulu itu saya masih bebas-bebas saja lingkungannya. Karena kalau saya sudah ngerasa sembilan bulan bebas nih. Enaklah lebih sehat, jadi enggak maulah balik lagi (kena narkoba-Red). Ke Bandung tinggal sama kakak, di sana saya kuliah ambil Teologi.

Terkait kemampuan menulis, terdorong karena minat baca?

Iya, sejak kuliah tepatnya. Banyak tugas-tugas yang mengharuskan saya baca. Dan saya pikir, saya dulu masih dangkal banget nih. Apa ya pengetahuan saya tentang agama kan? Jadi benar-benar haus banget. Semua buku saya lahap, gitu.

Menjadi penceramah dan motivator hingga ke pelosok daerah

Menjadi penceramah dan motivator hingga ke pelosok daerah

Bagaimana kok bisa tertarik menuliskan pengalaman hidup itu?

Pengalaman sebenarnya dari orang-orang. Jadi, saya cerita orang bilang, ?Kamu bagus itu.” Sampai akhirnya kan stasiun SCTV buat program “Solusi”. Pas tayang kata MC-nya bilang, “Ini yang ratingnya cukup ini karena narkoba kali ya?” Mungkin, karena waktu itu masih pas kesaksian saya tayang itu jaman-jamannya Roy Martin ketangkep. Saya pengen bagaimana pencegahan narkoba tapi yang meluas gitu supaya cerita saya bisa didengar banyak orang. Ditawari bisnis seseorang, saya tolak kan, terus orang ini nanya, So, what your vision? Pencegahan narkoba. Melalui apa?? Saya juga bingung sebenarnya. Spontan aja. Saya terinspirasi sama seorang wanita, saya lagi pegang buku dia. Jadi wanita itu namanya Mc Dellin Kawoco. Dia ini juga penginjil wanita. Dia menulis buku. Melalui buku. “Kamu bisa nulis enggak?” “Enggak, tapi saya mau coba.” Saya bilang gitu. “Ok. Kamu tulis empat bulan ya waktunya, jadi saya support kamu.? Kata-kata itu, saya support kamu, itu membuat saya seperti bensinlah, bahan bakar buat saya. Langsung, setelah itu pulang saya bikin sketsanya tadinya cuma tiga bab. Saya bikin siang malam, akhirnya satu bulanlah jadi kisah hidup itu. Satu bulan terus cari-cari penerbit, cari-cari endorsement, baru di bulan ke empat sudah jadilah. Cari penerbit ya kebetulan diterima.

Itu support-nya dalam hal apa?

Yang orang tadi itu? Dia namanya, Bapak Elianto Widjaya. Support-nya dia sebenarnya lebih ke memberi semangat. Motivator gitu. Jadi dia benar-benar kalau empat bulan, empat bulan jadi. Kalau tipe saya kan mengalir. Kebetulan kakaknya dia senang menulis. Jadi, dia yang membedah buku saya dari yang tiga bab, “Kayaknya ini kurang klimaks-klimaksnya kurang jadi…” Jadi lima bab. Kakaknya dia yang bikin buku ini, jadi lebih bab per babnya. Itu lebih tajamlah konfliknya, gitu.

Setelah terbit bukunya?

Setelah Run or Die publish saya rasanya kok enggak puas gitu. Saya pengen benar-benar menulis. Saya cari buku di Gramedia tentang resep menulis bestseller gitu-gitulah.

Berlibur bersama sang pendukung utama dan suami tercinta Teddy Kurniawan

Berlibur bersama sang pendukung utama dan suami tercinta Teddy Kurniawan

Dapat buku apa?

Saya cari-cari banyak pilihan di situ. Saya milihnya bukunya Mas Edy itu, Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller. Saya baca waktu itu lho kok ada workshop, workshop menulis ini Sekolah Penulis Pembelajar. Setelah saya ikut, wah pas banget ketemu komunitas yang sama-sama doyan menulis. Kebetulan Mas Edy langsung merespon, “Kamu mau enggak menulis di AndaLuarBiasa.com?” Saya mau banget, itu kan wadah saya untuk belajar diasah.

Yang ditulis artikel pengalaman atau ada tema-tema lain?

Saya tertarik pengembangan diri, tapi masih berkisar seorang yang kalau bicara narkoba itu berarti sudah kehilangan masa depan ya. Dari seorang yang bisa masa depan suram menjadi menulis. Itu, bagaimana ininya gitu apa aja langkahnya motivasi sih. Akhirnya—lama-lama tulisan pengembangan diri lebih banyak—saya tulis pengembangan diri AndaLuarBiasa.com.

Apa kontribusi ilmu theologi dalam tulisan Anda?

Ya ada pengajaran, jadi ya sangat ada kontribusi theologinya.

Apakah sempat terpikir, karena enggak punya bakat mungkin kurang maksimal di dunia tulis-menulis?

Enggak, sih. Saya tipe orang yang kalau sudah berkeinginan itu kuat ya. Masalah bagaimana hasilnya itu nanti aja, tapi kalau saya belum coba kayaknya belum mengambil kesimpulan saya tidak di situ. Coba dulu baru analisis belakangan… hahaha.

Kemampuan tulis-menulis meningkat?

Banyak berubahnya di sini, website Andaluarbiasa.com. Karena secara langsung dibantulah sama Mas Edy. Jadi, Mas Edy kan bilang, misalnya saya ingat waktu tulisan pertama saya itu judulnya itu masih kepanjangan. Itu dikritiklah dikasih masukan. Kemudian saya mulai melihat-lihat kebetulan saya punya favorit penulis itu, Ibu Eni Kusuma. Saya ketemu itu di website Pembelajar.com. Saya lihat dia orang luar biasalah. Ya, dari kalau lihat latar belakangnya pembantu, dan dia benar-benar buktikan kompetensinya. Saya ambil sampai beli buku itu, ketemunya di Bandung, di BSM lagi yang jauh banget, sampai saya pesan gitu suruh antar ke rumah saya.

Apa yang membuat Anda tertarik Eni Kusuma?

Mungkin awalnya ini ya, awalnya sih story-nya dia ya dari seorang pembantu, tinggal di Hongkong. Tapi dia benar-benar berjuang menunjukkan kompetensinya di bidang menulis. Awalnya itu… Cuma pas saya baca bukunya saya mengambil kesimpulan ini orang lumayan juga wawasannya, smart. Ya, untuk orang seperti dia gitu kan… Jadi banyak belajar dari mbak Eni juga sama satu lagi, Jenny S. Bev… Iya.

Selain tulis-menulis kegiatannya apa?

Pembicara. Tapi munculnya profesi baru ini dari buku. Jadi setelah buku itu terbit mulai banyak undangan gitu ya. Seputarnya sih seminar narkoba, terus seminar tentang remaja bagaimana memahami remaja, terus ya itu di Gereja bawain ceramah, anak muda di sekolah-sekolah talkshow tentang karakter juga… seputar itu. (sn)

Foto-foto: dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

10 Kebiasaan Buruk Pencipta Kegagalan

relon-star-rOleh: Relon Star*

Banyak orang memimpikan hidup sukses, tapi menyingkirkan hal-hal yang penting untuk meraih sukses. Sejak me-release buku perdana saya berjudul Run or Die, saya berkesempatan bertemu banyak orang. Ada yang ramah, namun ada juga yang tidak. Padahal, satu saja kesimpulan saya sejak banyak berkeliling, relasi itu penting! Bahkan, sangat penting.

Baru saja saya sms-an dengan seorang rekan, mengenai rencana promo buku saya di luar kota. Dia menjawab agak ketus, padahal kita tinggal menentukan tanggal, dan semuanya beres. Saya bingung juga, padahal saya merasa tidak ada yang perlu dimasalahkan karena dia hanya perantara, bukan decision maker. Sebab, sang decision maker sudah memberikan lampu hijau untuk melakukan kegiatan promo di kotanya. Saya menjawab enteng semua sms masuk darinya. Bahkan ketika saya tahu beliau sedang mengurusi sebuah acara penting, saya mengirim sms padanya, “Sukses yah acaranya!” Dan, Anda tahu? Sms saya bertepuk sebelah tangan… hahaha … never mind.

Tapi jujur saja, sejak saat itu merasa harus membuat boundary setting terhadap orang tersebut. Bahaya juga nih kalau sikapnya terhadap saya kurang mengesankan. Dan lagi, kalau mau melibatkan emosi hehehe… ”Dia kan tahu siapa gue!? Cieee… (yang ini jangan ditiru).

Hmmm… kejadian ini membuat saya untuk kesekian kalinya harus mengurut dada. Tidak banyak orang mengerti bahwa menjaga hubungan baik dengan orang lain sangat penting untuk mewujudkan sukses.

Saking penasarannya saya, saya hunting di internet, maka ketemulah saya dengan opini berikut yang digagas oleh Napoleon Hill dalam bukunya berjudul Think Grow Rich. Aha! Ternyata pendapat saya benar, kepribadian yang buruk termasuk dalam 10 daftar yang Hill berikan sebagai salah satu penyebab kegagalan—di antara 9 lainnya.

Di luar 31 “daftar dosa” yang digulirkan oleh Hill, secara umum ada 10 kebiasaan kurang baik yang muaranya menciptakan kegagalan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun sebagai networker. Berikut 10 kebiasaan itu, yang mudah-mudahan bisa menambah gereget Anda untuk merubah hidup:

1. Kurang jelas tujuan hidup

Jika tidak punya tujuan jelas, baik dalam bisnis network marketing maupun kehidupan sehari-hari, maka Anda akan gagal. Hill melaporkan, 98 dari 100 orang tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam hidup. Maka, janganlah menjadi salah satu dari 98 orang itu. Sisihkan sebagian waktu, lakukan dengan tenang mengkaji lagi tentang apa yang sungguh-­sungguh Anda ingin lakukan dalam hidup dan bisnis. Tuliskan tujuan dan aspirasi itu. Selanjutnya bacalah semua itu dengan keras setiap harinya untuk selalu mengingatkan Anda akan tujuan tersebut.

2. Kurangnya ambisi untuk mencapai hasil lebih

Jika Anda termasuk tipe orang yang acuh terhadap hidup, tidak ada keinginan untuk maju ke depan, tidak ada keinginan untuk bekerja keras, Anda tidak akan mencapai sukses dalam segala hal. Antara pasrah dengan pesimis memang beda tipis. Banyak orang yang sudah dirasuki rasa nrimo saja. Padahal, kalau kita punya ambisi mencapai lebih, maka banyak hal yang dapat diraih. Ambisi tidak selalu dapat diasumsikan negatif. Karena ambisi itu baik, yang tidak baik ialah menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisi. Itu saja!

3. Kurang disiplin

Kurangnya pengendalian dan disiplin dapat menghancurkan hidup. Jadi, kita harus mengendalikan diri terhadap segala sesuatu yang negatif. Ini tentu tidak mudah. Jika tidak mampu mengendalikan diri secara disiplin, Anda akan dihancurkan oleh diri sendiri.

4. Terlalu berhati-hati

Ini merupakan penyebab umum yang akan mengakibatkan kegagalan. Setiap orang menghadapi semacam ketakutan yang akan menghambat untuk mencapai sukses. Banyak dari kita yang menjalani hidup hanya menunggu kapan kesempatan baik datang. Ingatlah, bahwa kesempatan baik tidak akan pernah datang, kecuali jika Anda mau bertindak. Kunci dari suatu kesuksesan adalah berani mengambil tindakan. Jadi bertindaklah dalam kondisi apa pun yang sedang dialami saat ini. Jika berani mengambil tindakan, maka Anda akan dikejutkan oleh betapa keberanian itu bisa mengubah hidup dan bisnis Anda menjadi lebih baik.

5. Kurang Teguh

Banyak orang yang dengan mudah menyerah. Banyak dari kita yang memulai segala sesuatu dengan baik, tetapi begitu mudahnya menyerah pada saat menghadapi persoalan. Begitu banyak orang yang mudah menyerah ketika mereka mulai mengalami kegagalan pertama dalam bisnisnya. Anda harus belajar untuk terus bertahan dalam menghadapi segala kesulitan. Jika Anda teguh dalam menghadapi kesulitan, maka kegagalan tidak dapat menghentikan Anda.

6. Kepribadian yang buruk

Nah, ini yang saya maksud. Karena punya kepribadian buruk, banyak orang meng­hindar, maka tidak ada harapan bagi Anda untuk sukses. Ingat, sukses datang dari penerapan suatu kekuatan yang diperoleh dari kerjasama dan dukungan dari or­ang lain. Kepribadian buruk tidak dapat mengikat orang untuk bersatu. Itu cenderung meng­akibatkan perpecahan.

7. Menginginkan sesuatu hal yang tidak berguna

Banyak orang menginginkan kaya secara cepat. Tidak mau bekerja keras, dan hanya mengharapkan orang lain yang bekerja buat mereka. Hal ini akan menyebabkan kegagalan.

8. Kurang konsentrasi dalam berusaha

Jika Anda tipe orang yang mudah berpindah pekerjaan karena berpikir pekerjaan yang sedang Anda tekuni saat ini terlalu lambat berkembang, dan menghasilkan uang yang sedikit, hal itu akan menghambat Anda menjadi sukses. Jika tergesa-gesa ingin menjadi kaya, sesungguhnya Anda sedang dalam kesulitan. Setiap orang akan melihat Anda sebagai orang yang tidak fokus, tidak tahu apa yang Anda inginkan. Belajarlah untuk berkonsentrasi terhadap semua usaha dalam rangka mencapai satu tujuan yang jelas.

9. Kurangnya antusiasme

Mereka akan melihat Anda sebagai orang yang tidak mampu me­yakinkan, jika Anda sendiri tidak antusias terhadap apa yang Anda tawarkan. Jika tidak bersemangat terhadap apa yang Anda lakukan, bagaimana Anda bisa meyakinkan orang lain? Ingatlah, antusiasme dapat menulari atau memengaruhi orang lain di sekitar Anda untuk mengikuti apa yang Anda inginkan.

10. Egois

Jika Anda termasuk tipe orang yang mau menang sendiri (egois), tidak mau mendengarkan pendapat or­ang lain, punya sikap selalu merasa yang terbaik, maka orang-orang akan melihat Anda sebagai orang yang tidak bisa diajak bekerja sama. Mereka akan menghindar dari Anda. Sikap yang mau menang sendiri akan menggagalkan Anda untuk sukses, baik sebagai networker maupun kehidupan sehari-hari.

Anda sudah mengetahui bahwa ada 10 hal yang bisa menggagalkan Anda untuk mencapai sukses—tidak hanya dalam bisnis network marketing, tetapi juga dalam kehidupan Anda sehari-hari. Apabila mau bekerja untuk meng­hilangkan sikap yang buruk tersebut, Anda akan sukses mencapai harapan dan impian Anda.

Demikian 10 hal yang diungkapkan oleh Napoleon Hill. Saya hanya menggandeng 10 opini tersebut, lalu mengemasnya dalam bahasa saya. Saya pikir 10 hal tersebut sangatlah sederhana, bahkan saya yakin Anda sudah tahu. Tapi kenapa masih ada yang menyebalkan? Hehehe… Berarti antara tahu dan mewujudkan, memang terdapat jurang pemisah yang sangat dalam. Bagaimana dengan Anda?[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Satu Gigitan Demi Satu Gigitan

rsOleh: Relon Star*

“Sukses besar merupakan akumulasi dari sukses-sukses kecil yang telah Anda hasilkan.”

~ Relon Star

Dalam sebuah kegiatan promo buku yang saya lakukan, hasil penjualan menunjukkan angka 23 persen dari audience yang hadir. Sebenarnya, angka itu mengejutkan saya karena sesungguhnya saya berharap lebih besar dari yang angka tersebut. Tahu apa yang saya lakukan? Saya terduduk lesu di kamar, karena target penjualan yang saya tetapkan tidak tercapai.

Keesokan hari seorang rekan menanyakan hasil penjualan buku perdana saya. Saya pun menjawab dengan tidak bersemangat. Namun, respon teman saya sungguh di luar dugaan. Ia mengatakan demikian, “Re, visi boleh besar… tetapi kamu harus merayakan kemenangan kecilmu.”

Kalimat tersebut merupakan kalimat yang singkat, tapi mampu menjungkirbalikkan semua keraguan saya untuk melanjutkan profesi sebagai penulis. Sederhana memang, tapi inilah rahasia yang membuat saya dapat bertahan hingga kini, bahkan sampai bisa menelurkan buku kedua, ketiga, dan seterusnya.

Banyak orang yang secara global mempunyai sasaran pencapaian yang sangat besar. Itu tidak salah! Namun, mereka lupa bahwa sasaran besar merupakan akumulasi dari lompatan-lompatan kecil yang ia hasilkan. Tanpa adanya lompatan kecil, sasaran yang besar tidak mungkin tercapai.

Saya tidak dapat membayangkan apa yang terjadi dengan hidup saya, jika saya patah semangat dan berhenti menulis hanya karena pikiran yang sempit mengenai bagaimana mencetak keberhasilan. Betapa bodohnya saya karena kehilangan kesempatan tesebut. Padahal, sukses dapat diraih secara bertahap. Sukses besar merupakan akumulasi dari sukses-sukses kecil yang kita hasilkan. Bahkan buku perdana saya dapat dicetak ulang karena diawali dengan penjualan 23 persen tersebut.

Cobalah merenungkan jawaban dari pertanyaan berikut ini, “Bagaimana cara memakan seekor gajah dewasa?” Dapatkah Anda menemukan solusinya? Mungkin Anda langsung saja putus asa karena membayangkan seekor gajah dewasa yang besar dengan bobot lebih dari lima ton dengan daging yang keras dan tak sedap untuk disantap. Pikiran ini tentu langsung saja menghentikan usaha Anda untuk mencari solusi dari tantangan ini.

Mau tahu jawabannya? Sederhana, “Satu gigitan demi satu gigitan.” Ya, masalah yang besar dan kompleks dapat diselesaikan secara bertahap. Hal ini juga dapat melatih kita untuk berpikir strategis. Sebab, langkah pertama dari berpikir strategis adalah menjabarkan suatu persoalan menjadi bagian-bagian yang dapat dikelola, sehingga Anda bisa lebih fokus secara efektif.

Ternyata untuk suatu pencapaian yang besar dibutuhkan konsistensi. Jangan pernah terpengaruh pada jumlah kecil di depan, namun terus dapat menggulirkan bola-bola salju kesuksesan di masa mendatang. Anda boleh saja memiliki sasaran pencapaian yang besar, tetapi jangan lupa merayakan setiap kemenangan kecil yang Anda raih. Tentunya sambil terus berusaha untuk mendapatkan hasil yang lebih besar. Anda hanya perlu bertahan sedikit lagi, karena hasil yang besar sudah menanti Anda.

Bagaimana Anda melakukannya tidaklah sepenting “pokoknya Anda melakukannya”. Anda dapat menguraikan suatu persoalan menurut fungsinya. Itulah yang dilakukan Henry Ford ketika ia menciptakan lini perakitan, dan itulah sebabnya ia mengatakan, “Tidak ada yang terlalu sulit kalau Anda uraikan menjadi tugas-tugas kecil.”

Sama seperti masalah yang besar dan kompleks dapat diselesaikan secara bertahap, demikian pula sukses yang besar dapat diraih lewat kemenangan-kemenangan kecil yang sudah Anda hasilkan. Jika kita langsung melihat pada goal akhir, akan kelihatan sangat besar. Namun, jika Anda menguraikan sedikit demi sedikit … akan kelihatan kecil dan Anda merasa mudah meraihnya. Robert Schuller menegaskan, “Yard demi yard, kehidupan ini sulit; tetapi inci demi inci, kehidupan ini mudah.

Sekarang bukan saatnya bagi Anda untuk mundur. Tetapi Anda hanya perlu bertahan. Sukses besar merupakan akumulasi dari sukses-sukses kecil. Selesaikan satu gigitan demi satu gigitan, dan bersiaplah untuk hasil yang besar![rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Menguak Sukses Lewat Inventarisasi Keahlian

rs1Oleh: Relon Star*

“Jangan pusing dengan apa yang orang lain lakukan,

tetapi sibuklah dengan apa yang bisa Anda lakukan.…”

~ Relon Star

Saat ini saya sedang membimbing komunitas pelajar di SMA yang ada di dekat rumah. Mereka sedang menapaki kelas 3 SMA, dan mulai sibuk memikirkan kuliah. Beberapa dari mereka sudah menemukan bidang masing-masing, dan memilih jurusan kuliah sesuai dengan minat mereka. Sebagian lagi konsultasi pada saya apa yang harus mereka pilih. Salah seorang dari mereka di setiap kali pertemuan sangat mendominasi pembicaraan. Makanya, saya menyarankan untuk memilih jurusan komunikasi.

Tetapi, selalu ada orang yang seperti ini. Simak pernyataan yang diberikan oleh salah seorang pelajar ini: “Ci, saya iri pada temanku. Dia itu memiliki kelebihan di bisnis. Sejak SMA saja dia sudah mengerti tentang bagaimana berbisnis. Wah, pasti masa depannya cerah. Setiap kali saya ke rumah dia, pasti dia sudah berada di depan komputer untuk mengikuti perkembangan saham—bisnis yang juga digeluti oleh orang tuanya. Dia calon orang sukses.”

Kemudian saya bertanya, “Bagaimana dengan kamu? Apa yang kamu rencanakan dalam hidup kamu?”

Ah, saya enggak bisa apa-apa”, ujarnya.

Dan, Anda pasti bisa menebak apa yang saya katakan padanya. Tentunya, motivasi. Belakangan saya baru tahu bahwa dia berminat di perminyakan dan akan mengambil kuliah di ITB.

Fokus pada keahlian yang kita miliki akan memunculkan kekuatan yang bermuara pada kesuksesan. Ditambah lagi dengan kekonsistenan untuk terus melatih diri mengasah keahlian tersebut.

Saya menemukan keterampilan dalam menulis ketika berusia 28 tahun. Agak terlambat, memang. Idealnya, orang mulai menemukan keahliannya saat berusia dua puluhan.

Namun, daripada terus menyesali keterlambatan saya dalam menemukan keahlian menulis, saya memilih untuk fokus pada kekuatan saya ini. Minimal, sebulan dua kali Anda dapat menikmati tulisan saya di website Andaluarbiasa.com. Menulis di Andaluarbiasa.com juga merupakan salah satu usaha saya dalam mengasah keterampilan menulis.

Siapa pun yang bekerja di toko eceran tahu apa arti kata “inventarisasi barang”. Sebagai seorang karyawan, bila Anda melakukan inventarisasi itu berarti Anda mulai mendata produk-produk yang ada di atas rak. Anda menghitung satu persatu setiap barang sampai Anda memeroleh catatan yang akurat tentang apa yang Anda miliki dan apa yang Anda butuhkan. Kebanyakan toko melakukan inventarisasi sekali atau dua kali setahun. Beberapa toko melakukannya setiap bulan. Sebenarnya, Anda tidak dapat benar-benar menjalankan bisnis dengan baik tanpa mengetahui apa yang Anda miliki di daftar inventaris Anda.

“Hal-hal yang merupakan hobi di masa lampau, kalau dikembangkan secara profesional pun akan menghasilkan karya yang tidak tanggung-tanggung,” demikian diungkapkan Jennie S.Bev.

Seorang pemain tenis meja, jika ia ahli dalam melakukan backhand, sebaiknya ia terus menggunakan backhand tersebut untuk melumpuhkan lawannya. Ada lagi yang ahli melakukan forehand, kenapa harus memaksakan diri melakukan backhand jika dengan forehandnya saja lawan bisa mati kutu?

Sewaktu saya mulai mendaur ulang hidup saya di tahun 1999—setelah sembuh dari kecanduan narkoba—saya mulai menginventarisasi keterampilan saya untuk menata masa depan. Okelah, waktu saya sudah terbuang selama tujuh tahun karena terjerumus narkoba. Tapi, saat itu saya berusia sembilan belas tahun. Saya memilih melihat puluhan tahun yang masih bisa saya benahi, ketimbang tujuh tahun yang sudah porak-poranda. Tidak ada gunanya menyesali yang tujuh tahun, sedangkan puluhan tahun ke depan masih ada dalam genggaman saya.

Saya meyakini bahwa Tuhan memberikan setiap orang kemampuan yang berbeda. Daripada Anda terlihat lemah karena terus meratapi kekurangan Anda, lebih baik mulai fokus pada keahlian Anda. “Jangan pusing dengan apa yang orang lain lakukan, tapi sibuklah dengan apa yang bisa Anda lakukan.”

Masakan Anda kalah dengan mantan morfinis ini?[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Sedikit Ekstra Membuat Perbedaan Besar

rsOleh: Relon Star*

Siapakah yang terbayang dalam pikiran Anda ketika saya menyebutkan judul di atas? Apakah itu suami Anda, ayah, atau bos Anda? Adakah individu di sekitar Anda yang dapat mewakili orang yang melakukan sedikit ekstra, dan membuat perbedaan besar?

Seorang pengusaha di Amerika bernama Art Linkletter benar-benar merupakan ikon dalam sejarah Amerika. Di usianya yang lebih dari sembilan puluh tahun, ia masih tampak bersemangat. Ia berenang dua puluh enam putaran setiap hari, makan secukupnya, tidak merokok atau minum minuman beralkohol, dan menikmati hidup sebagaimana layaknya orang sukses. Ia pergi ke kantornya setiap hari pada pukul sepuluh pagi dan tinggal di sana hingga pukul tiga siang—menghubungi orang, mengelola, dan bekerja dengan berbagai perusahaan yang ia miliki di seluruh penjuru dunia. Saya percaya tidak ada istilah pensiun dalam kamus hidupnya Art.

Berikut adalah sedikit nasihatnya: “Kerjakan sedikit lebih banyak daripada yang Anda dibayar untuk itu, berikan sedikit lebih banyak daripada yang harus Anda berikan, berusahalah lebih keras daripada yang Anda inginkan, bidiklah sedikit lebih tinggi daripada yang Anda pikir mungkin, dan berikan banyak ucapan syukur kepada Tuhan untuk kesehatan, keluarga, dan sahabat.”

Kita semua pernah mendengar tentang “jalanilah mil ekstra”, tetapi orang agaknya telah kehilangan pandangan mengenai dampak yang memberi kekuatan dari tindakan memberi kepada orang lain. Padahal, memberi lebih banyak daripada yang harus Anda berikan selalu merupakan pendekatan yang menghasilkan persahabatan, membangun karier, mengokohkan keluarga sebagaimana yang psikolog katakan memberi energi kepada Anda secara fisiologis.

Ketika Art menjelaskan pada kita untuk berusaha lebih keras daripada yang kita inginkan, ia sedang menantang kita untuk menjadikan diri kita sebagai yang terbaik. Bidiklah sedikit lebih tinggi daripada yang Anda pikir mungkin. Ini adalah nasihat yang masuk akal. Lebih mudah untuk mencapai lebih banyak ketika seseorang yang Anda hormati memberikan dorongan kepada Anda, meyakinkan Anda, dan menyemangati Anda untuk naik ke tingkat prestasi yang lebih tinggi.

Seorang pengusaha ketika aku tanyakan mengenai arti extraordinary—menjawabnya melalui SMS Selamat Natal demikian: orang-orang extraordinary adalah sama dengan orang biasa—hanya dengan ekstra sedikit mau berusaha, ekstra sedikit mau susah, ekstra sedikit mau lelah, dan ekstra sedikit mau malu.

Gabungan dari ’extra’ sedikit mau berusaha, mau susah, mau lelah, dan mau malu itu dapat membawa seseorang menjadi extraordinary. Sebenarnya ini adalah tindakan yang sederhana, jika kita melangkah dan mau melakukan sedikit ’extra’ itu.

Kata luar biasa jika disederhanakan memiliki makna: lain dari yang biasanya. Maksudnya, kita melakukan hal yang berbeda dari orang kebanyakan, berpikir lain dari orang biasa, kita mengambil jalan yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Berarti ini suatu tindakan melawan arus. Dan, setiap kita pasti tahu melawan arus itu pasti sulit.

Jika Anda berada di sungai, dan berenang dengan arah yang berlawanan dengan arus air di sungai, Anda harus memiliki kekuatan yang ekstra agar dapat sampai pada tujuan. Tidak mudah berenang melawan arus karena dibutuhkan konsentrasi yang lebih, kekuatan yang lebih, dan keberanian yang lebih.

Sayangnya, lebih mudah berenang mengikuti arus ketimbang melawan arus.

Hal inilah yang menyebabkan banyak orang jadi berbalik arah lalu kembali berjalan mengikuti arus, karena medannya lebih sulit. Memang lebih mudah berjalan mengikuti arus. Tetapi, inilah yang membuat perbedaan besar dalam hidup manusia.

Seorang perenang, jika ia berlatih dengan berenang melawan arus, keterampilannya akan lebih meningkat. Karena di saat ia berlatih, muncul ombak, dan jika ia berhasil mengatasinya, maka ia memiliki skill yang muncul mendadak saat ia menghindari ombak dan terus melanjutkan perjalanannya. Tetapi, seorang perenang yang tidak mau mengambil risiko, ia hanya berlatih berenang mengikuti arus. Tidak ada penambahan skill, otot-ototnya tidak lebih kuat, dan keberaniannya diragukan. Jika keduanya berada dalam satu arena perlombaan berenang, Anda pasti bisa menebak siapa yang akan menjadi pemenangnya?

Keduanya bisa sama-sama tiba di tujuan. Tetapi dalam prosesnya inilah yang menelurkan hasil yang berbeda. Perenang yang melawan arus akan lebih terlatih karena ia terbiasa menerjang badai dan mengalahkan ombak, sehingga skill-nya bertambah.

Kalau yang satu skill-nya lebih banyak, sedangkan yang lainnya tidak mengalami penambahan skill. Yang satu lebih berani, yang lainnya takut menghadapi ombak.

Sekarang, Anda sudah tahu letak perbedaannya? Jika Anda sudah tahu perbedaannya, Anda pilih mana? Mengikuti arus atau melawan arus?

Kecenderungan manusia adalah bercermin pada orang-orang yang tidak mau berjalan lebih jauh. Mayoritas orang mengikuti orang-orang biasa yang membuahkan hasil yang biasa pula. Orang-orang yang extraordinary—yang mau melakukan sedikit lebih banyak—sangat jarang ditemukan. Pada umumnya orang-orang akan mengharapkan: Melakukan sesuatu yang sedikit dengan mengharapkan hasil yang banyak. Tetapi, seseorang yang extraordinary akan melakukan jauh lebih banyak dari orang pada umumnya.

Albert Einstein mengatakan, “Orang yang bodoh adalah orang yang terus menerus melakukan hal yang sama, tetapi mengharapkan hasil yang berbeda.” Sebaliknya, Anda harus melakukan sesuatu yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang berbeda pula.

Ketika Anda mengerjakan lebih banyak daripada yang dibayar untuk itu, saatnya akan tiba ketika Anda akan dibayar lebih banyak untuk apa yang Anda kerjakan.”

Hanya sedikit orang yang memilih melawan arus, karena dibutuhkan kekuatan dan keberanian ekstra. Berarti hanya sedikit orang yang memilih jadi luar biasa. Itu artinya, Anda masih memiliki banyak peluang karena masih banyak tempat untuk Anda menjadi luar biasa. Anda mau?[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Melakukan Hal yang Benar di Saat yang Tepat

rs

Oleh: Relon Star*

“Jangan menyesali masa lalu,

tetapi berjanjilah terhadap masa depan.”

~ Samuel Tirtamihardja

Banyak orang mengerjakan sesuatu menunggu waktu yang tepat. Tetapi, makin ditunggu waktunya, semakin jauh saat itu tiba. Apa yang salah dengan hal ini? Kalau kita ingin mencetak keberhasilan, kita harus melakukan sesuatu di saat yang tepat. Seorang petani jika mau bertani, ia harus melihat musimnya. Karena itu, kita harus cerdas menemukan saat yang tepat untuk melakukan apa yang kita rencanakan.

Thomas Huxley berkata, “Barangkali hasil yang paling berharga dari semua pendidikan adalah kemampuan untuk membuat diri Anda mengerjakan sesuatu yang harus Anda kerjakan bila Anda harus mengerjakannya, apakah Anda menyukainya atau tidak. Itu pelajaran pertama yang harus dipelajari.

Daripada harus tenggelam dalam penyesalan, lebih baik merencanakan segala sesuatu dengan lebih baik di masa mendatang. Sebab tenggelam dalam penyesalan merupakan pemborosan energi yang berat. Dan, penyesalan tersebut tidak akan bisa memberikan kontribusi terhadap masa depan.

Seorang psikiater tekenal asal New York mengatakan bahwa konsep yang ia temukan untuk membantu pengobatan pasiennya ialah dengan memberikan mereka kesempatan untuk berandai-andai. Banyak dari pasiennya menghabiskan kehidupan mereka di masa lampau. Mereka menyesal karena tidak melakukan hal yang tepat di masa lalu, sehingga waktu tersebut terbuang dengan percuma.

Penangkalnya sederhana, hanya dengan mengganti dua kata … “seandainya saja”, dengan kata “lain kali”. Lain kali saya akan siap melakukan…, lain kali saya akan lebih berani, lain kali saya akan lebih tanggap akan kesempatan, dan lain kali saya akan lebih serius. Lain kali.

Beberapa waktu lalu, saya menelepon seseorang dan berbincang-bincang mengenai banyak hal baru yang saya dapatkan—atas hasil pembelajaran saya. Saya berkata bahwa saya sedang mempersiapkan hidup saya di usia empat puluh tahun. Sekarang saya berusia tiga puluh tahun, masih ada waktu sepuluh tahun untuk merencanakan hidup saya sepuluh tahun yang akan datang. Kemudian, saya menanyakan pendapatnya. Apakah dia sudah benar-benar mempersiapkan hidupnya? Dia berkata, “Menyesal juga yah telah membuang-buang waktu. Tak terasa sekarang saya sudah berusia empat puluh tahun, dan rasanya masih jauh dari sebutan sukses.”

Jangan pernah menyesali masa lalu, tetapi berjanjilah terhadap masa depan Anda. Waktu berlalu sangat cepat. Dan, Anda harus mempersiapkan hidup Anda detik demi detik. Tidak hanya menunggu saat tutup tahun tiba agar kita serius memikirkan hidup kita. Tetapi sekaranglah saatnya!

Masa lalu memang tidak perlu mendikte masa depan. Tetapi, jika kita terus-terusan melewatkan waktu terbaik di masa lalu, kita perlu benar-benar serius memikirkan hal ini: Melakukan hal yang tepat di saat yang tepat.

Apakah tolok ukurnya bahwa kita sudah melakukan hal yang tepat di saat yang tepat? Dari hasil yang Anda dapatkan. Jika hidup Anda mulai mengalami pergeseran—ada lompatan yang lebih tinggi—berarti Anda telah melakukan hal yang benar di saat yang tepat.

Semakin tinggi lompatan dalam hidup Anda, maka Anda akan semakin bersemangat melakukan hal yang benar lainnya, di saat yang tepat. Namun, jika tidak ada lompatan… Anda tidak bergairah menjalani kehidupan. Membicarakannya saja tak mau, apalagi menjalaninya? Anda mau melakukan hal yang benar di saat yang tepat? Jangan menyesali masa lalu, tetapi berjanjilah terhadap masa depan![rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Kekuatan Berpikir Baik (1)

rsOleh: Relon Star*

“Pupuklah pemikiran-pemikiran besar, sebab Anda tidak akan

pernah lebih tinggi daripada pemikiran Anda.”

~ Benjamin Disraeli

Persamaan apakah yang dimiliki semua orang sukses? Jawabannya: Berpikir baik. Sebenarnya, ada resep sederhana yang mereka miliki: Jika mereka ingin mengubah hidup mereka, mereka harus mengubah cara berpikir mereka.

Saya memancing komentar orang-orang dalam status yang saya tulis di Facebook, dengan menuliskan statement dari Donald Trump, “Toh Anda harus berpikir. Jadi, mengapa tidak berpikir besar?” Saya ingin tahu, apa sih yang ada dalam benak orang-orang ketika membaca kalimat di atas?

Status di Facebook tersebut mengundang perhatian seorang pria—tampaknya dia masih muda—yang memberikan komentar, “Pinginnya sih berpikir besar, tetapi kenapa rasa pesimis yang selalu lebih kuat menguasai? Bagaimana jika pesimis itu datang, karena keadaannya memang sulit untuk berpikir besar?

Aha, ini dia! Saya tahu pasti ada saja orang di sekitar saya yang masih membutuhkan peta menuju berpikir besar. Karena itulah saya terinspirasi membuat tulisan ini.

John Maxwell berulang kali mengatakan dalam buku-bukunya, “Saya bisa mengendalikan pikiran saya. Perasaan saya datang dari pikiran saya. Saya bisa mengendalikan perasaan saya dengan mengendalikan pikiran saya.”

Saya senang sekali bermain-main dengan pikiran saya. Tetapi untungnya, tak satu pun yang saya pikirkan tentang harapan-harapan yang tak tercapai. Saya selalu memikirkan apa yang dapat saya lakukan kemudian, dan saya mencapainya. Sama sekali saya tidak membiarkan pikiran saya memikirkan tentang potensi untuk gagal. Dan, Anda tentu tahu hasilnya, bukan? Apa yang saya pikirkan, itu yang akan terjadi. “Jadi, pupuklah pemikiran-pemikiran besar, sebab Anda tidak akan pernah lebih tinggi daripada pemikiran Anda.”

Kalimat pesimis dari pemberi comment di Facebook saya segera mengundang reaksi saya untuk lekas memotivasinya. Saya katakan, “Sikap pesimis dilawan dengan sikap optimis.” Itu saja! Mudah, bukan? Kalau tubuh Anda sedang tidak fit, berarti Anda membutuhkan suplemen untuk mendongkrak daya tahan tubuh Anda. Kalau Anda lapar, Anda makan. Tubuh kita secara otomatis memerlukan reaksi berlawanan dari apa yang kita rasakan. Begitu pula dengan pikiran. Jika pikiran kita pesimis, segera lawanlah dengan sikap optimis. Sekali lagi, jangan terlalu banyak merenungkan kemungkinan untuk gagal, karena kegagalan—tanpa dipikirkan pun—mudah meraihnya. Pikirkan saja keberhasilan Anda. Pikirkan sasaran-sasaran yang ingin Anda capai, dan pikirkan seberapa besar peluang Anda untuk meraihnya.

Berubah dari berpikir negatif menjadi positif memang tidak mudah, terutama kalau Anda kesulitan beradaptasi dengan perubahan. Bagi banyak orang, ini adalah pergumulan seumur hidup. Namun, orang yang sukses selalu mempersilahkan berpikir baik bersarang di otaknya.

Kebanyakan orang dalam kebudayaan kita selalu mengandalkan sistim pendidikan mengarahkan mereka untuk berpikir. Sampai akhirnya setiap orang bergantung pada paradigma tersebut. Banyak individu percaya bahwa pendidikan formal adalah kunci untuk meningkatkan kehidupan dan mengubah masyarakat. Ini juga dikatakan oleh James Bryant Conant, professor kimia sekaligus mantan presiden Harvard University, “Pendidikan umum adalah instrumen yang efektif bagi perubahan sosial… pendidikan adalah suatu proses sosial, mungkin proses terpenting dalam menentukan masa depan negara kita; seharusnya pendidikan menguasai bagian yang lebih besar dari pendapatan nasional kita ketimbang yang sekarang ini.”

Banyak pendidik juga yang menekankan bahwa pendidikan formal mendorong kita untuk mengalami kemajuan dalam kehidupan. Semakin banyak pendidikan yang Anda dapatkan, semakin sukseslah hidup Anda. Tetapi, apakah Anda lupa dengan nama-nama seperti: Bill Gates, Thomas Edison, Steve Jobs? Mereka orang-orang yang putus sekolah, tetapi malah menjadi sangat sukses.

Saya juga punya cerita tentang hal ini. Saat ini saya bekerja sebagai redaksi sebuah majalah intern di gereja. Sebelum saya, redaksi majalah dipegang oleh seorang sarjana jurnalistik. Saat saya dipercayakan mengasuh majalah itu, saya pikirkan suatu inovasi yang dibutuhkan untuk content majalah. Singkatnya, saat ini saya sudah menampung banyak apresiasi dari orang-orang yang mengatakan isi majalah tersebut jauh lebih baik. Sssttt… ini rahasia, hanya Anda yang tahu, saya bukan sarjana lulusan jurnalistik.

Bagaimana dengan Anda? Mengapa tidak Anda rangkul saja cara berpikir baik?[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Saya Siap Menggantikan Michael Jackson!

rsOleh: Relon Star*

Kematian Michael Jackson, walaupun memunculkan banyak kontroversi, namun juga mengundang duka yang dalam bagi para penggemarnya. Betapa tidak, sang King of Pop ini meninggal dalam usia yang belum terlalu tua, dan meninggalkan sejumlah jadwal tour ke lima puluh negara—yang dapat memberikan kesempatan pada para penggemarnya untuk menjumpainya dengan karya musiknya.

Banyak orang berduka, tetapi saya tidak. Mengapa? Pendapat saya sederhana saja, kematian Michael Jackson akan memberikan kesempatan bagi “King of Pop yang baru untuk berkarya. Ini kesempatan bagi para pecinta musik untuk memunculkan karya musik mereka dan meneruskan perjuangan Michael Jackson.

Kalau seorang King of Pop sudah meninggal, tidak berarti dunia musik juga akan terkubur bersamanya. Justru lewat peristiwa inilah kesempatan yang baru akan terbuka bagi yang lainnya. Saya mengagumi karya musik yang dihasilkan oleh Michael Jackson. Saya mengagumi kekonsistenan dia dalam mencapai impiannya; menjadi superstar. Tetapi, jika dia harus mengakhiri perjalanan hidupnya, no body can deny it! Karena, jalan manusia ditentukan oleh Penciptanya. Yang bisa dilakukan adalah meneruskan perjuangan yang telah dilakukannya.

Saya sendiri seorang pecinta musik. Nada dan lagu menjadi akrab dalam hidup saya sejak saya kecil. Terlahir dari orang tua yang juga merupakan pecinta seni, saya hidup dibesarkan dalam dunia ini. Menyanyi merupakan hobi utama setelah menulis. Padatnya kegiatan saya didominasi oleh kegiatan nyanyi-menyanyi ini. Setelah sepuluh tahun malang melintang dalam dunia tarik suara, kini saya berkesempatan mengeluarkan album perdana, yang diproduksi oleh Maranatha record.

Menyanyi dan menulis merupakan satu rangkaian hobi saya yang saling bertalian, sama-sama dunia seni. Saya menyadari Tuhan memberi saya rangkaian saraf di otak kanan yang sangat kuat. Karena itulah saya menggeluti kedua bidang ini. Keduanya memerlukan keberanian untuk dapat menghasilkan suatu karya. Dan, untuk mewujudkannya, sayaharus bersedia menunggu proses yang amat panjang. Tetapi, penantian yang panjang tersebut akhirnya berlabuh jua. Satu buku berjudul Run or Die telah saya tuliskan, dan satu album perdana akan segera beredar sebelum akhir tahun 2009 ini.

Apa yang dimiliki Michael Jackson yang harus juga saya miliki? Keberanian, inovasi, optimisme, dan konsistensi. Saya berusaha untuk terus melibatkan keempat hal tersebut dalam hidup saya. Buktinya, saat ini saya sudah mulai latihan vokal setiap hari, minimal satu jam. Untunglah ayah saya mewarisi bakat seni dari kakek—Siddik Stiompul—pencipta lagu Butet. Jadi, saya tak perlu memanggil pelatih lain untuk melatih saya bernyanyi, cukup ayah saja.

Munculnya album perdana ini juga akibat keberanian dan semangat yang terlalu menggebu-gebu. Berawal dari perjumpaan dengan seorang rekan dalam sebuah talkshow di radio SSK. Teman saya itu bercerita bahwa dia sedang mempersiapkan album rekamannya. Saya secara spontan meluncurkan pertanyaan yang bertubi-tubi padanya seputar label yang bisa memproduksi album saya juga.

Ini mimpi saya sejak lama, saya ingin jadi penyanyi. Teman saya segera memberikan nomor yang bisa saya hubungi untuk berbicara lebih lanjut tentang keinginan saya ini. Finally, saya bertemu dengan owner perusahaan rekaman tersebut dan dia bersedia memproduksi album perdana saya. Yes! Satu langkah lagi yang membawa saya semakin dekat dengan impian. Saya bukan hanya orang yang senang bermimpi, tetapi bangun dan segera melupakan mimpinya. Tetapi saya lebih senang setelah bermimpi, lalu bangun dan mencapai impian saya tersebut.

Masanya Michael Jackson telah berakhir. Kini, kesempatan bagi penyanyi lainnya terbuka lebar. Siapa yang mau menggantikan? Saya siap menggantikan Michael Jackson! Resepnya kan cuma satu yang bisa saya dapat dari Michael Jackson: Berani menggapai impiannya.[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

No Action No Result!

rs1

Oleh: Relon Star*

“Words can inspire, thoughts can provoke,

but only ACTION truly brings you closer to your dream.”

~ Elianto Widjaja

Apakah yang membedakan the dreamer dan the achiever? Perbedaannya terletak pada action yang dilakukan. Kata-kata motivasi di atas—“Words can inspire, thoughts can provoke, but only ACTION trully brings you closer to your dream”—yang artinya: kata-kata dapat memberikan inspirasi, pemikiran dapat memprovokasi, tetapi hanya tindakan yang benar-benar akan membawa kita lebih dekat pada impian kita.

Saya membaca sebuah artikel di majalah, di mana penulis artikel tersebut menceritakan pengalamannya sewaktu mengikuti salah satu MLM (Multi Level Marketing). Waktu pertama kali ia memutuskan untuk join, ia sangat termotivasi. Ditambah lagi ia melihat anaknya menuliskan kalimat ini di buku kerjanya, “Daddy, go diamond, I love you.” Wah, tulisan tersebut sangat membuat ia termotivasi. Tetapi setelah berlangsung enam bulan, ia hampir tidak pernah lagi menyentuh bisnis tersebut. Bukan karena bisnisnya yang kurang baik. Kemudian ia mulai berpikir, “Kenapa ada yang berhasil—bahkan sangat berhasil—namun ada juga yang gagal?” Pertanyaan lain muncul, “Kenapa saya tidak berhasil?”

Setelah sekian lama ia kemudian menemukan jawabannya. Tentulah orang-orang yang berhasil di bisnis tersebut ialah orang-orang yang membuat daftar nama-nama orang yang akan dihubungi, kemudian benar-benar menghubungi mereka. Sementara, ia sendiri hampir tidak ada keberanian untuk mengangkat telepon, dan menghubungi orang-orang yang ada dalam daftar namanya. Dan tentunya Anda juga tahu hasilnya, bukan? No action, no result!

Seorang pelatih tim renang Rusia hampir putus asa dalam melatih tim renangnya agar bisa meningkatkan kecepatan. Karena semua atletnya merasa apa yang dilakukan mereka sudah maksimal, sehingga tidak merasa perlu untuk meningkatkan kecepatan dalam berenang. Sang pelatih terus berpikir, “Bagaimana caranya agar atlit binaannya ini bisa memiliki motivasi untuk meningkatkan prestasinya?”

Akhirnya, ia mendapatkan gagasan bagus. Aha… ia kemudian menyewa seekor buaya yang sudah dijinakkan, lalu mengadakan suatu latihan yang berbeda dari biasanya. Ia mengatakan kepada para atlet, “Sekarang kalian berenang, tingkatkan kecepatan! Karena saya akan melepaskan buaya ini di belakang kalian!” Semua atlet itu otomatis berenang dengan mengerahkan seluruh kekuatannya. Hasilnya? Dalam latihan itu, terpecahkanlah rekor nasional yang baru.

Action yang dilakukan para atlet dapat membangun motivasi, walaupun dalam hal ini motivasi mereka hanya menyelamatkan diri dari terkaman sang buaya. Sekarang penting mana, action atau motivasi? Tentunya keduanya penting. Dan, keduanya harus tetap bersarang di hidup kita. Tanpa motivasi, kita tidak akan terinspirasi untuk memulai sesuatu. Tetapi tanpa adanya action, kita tidak akan melihat hasil.

Kalau kita bepergian dengan pesawat terbang. Lalu, sebelum take off ada suara dari ruang cockpit berkata, “Saudara-saudara, di sini ada dua orang pilot untuk menerbangkan pesawat ini. Kita hanya memerlukan satu orang pilot saja. Mohon Anda yang memilihnya. Pilot pertama adalah orang yang memiliki motivasi sangat tinggi untuk menjadi penerbang. Motivasinya begitu tinggi, sampai ia sering diundang di mana-mana untuk berbicara tentang motivasinya menerbangkan pesawat. Ia begitu menggebu-gebu menjadi penerbang. Tetapi, hari ini adalah hari pertama ia menerbangkan pesawat. Selama ini ia hanya belajar melalui manual book.

Tetapi, ada pilot yang lainnya di sini, seorang yang sudah lima belas tahun menerbangkan pesawat. Ia sudah sering mendapatkan penghargaan dunia internasional. Ia juga merupakan ayah dari tiga orang putri, sangat santun, low profile, dan hidupnya bersahaja. Walaupun bercita-cita menjadi guru, tetapi karena kegemarannya ialah dalam dunia penerbangan, maka ia masuk dalam salah satu jajaran penerbang terbaik.

Kira-kira, Anda pilih yang mana? Kalau saya memilih pilot yang kedua. Apa alasannya? Karena pengalamannya—atau actionnya—sudah membuktikan ia tidak sekadar memiliki motivasi tinggi. Action-lah yang membuat mimpi Anda semakin dekat dalam genggaman Anda.

Mungkin sewaktu data-data tentang pribadi pilot pertama disebutkan, penumpang langsung segera turun dari pesawat. Tetapi, setiap orang tentu lebih memilih pilot yang kedua karena action yang ia lakukan membuat orang lebih percaya padanya. Bukan motivasi yang paling penting, tetapi action yang Anda lakukan. Karena hanya dengan bertindak, Anda dibawa lebih dekat dengan impian Anda. Selamat bertindak![rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox