Hadiah Sandal untuk Raja
Editor | Kolom Lepas | December 9th, 2009 | 1 Comment »
Oleh: Radinal Mukhtar Harahap*
Dengan menggunakan email, salah seorang teman saya menceritakan sebuah kisah menarik tentang asal muasal sandal pada zaman dahulu kala. Saya tidak tahu apakah cerita ini benar-benar nyata atau hanya dongeng belaka. Namun lebih dari itu, kiranya kita dapat memetik hikmah dalam cerita tersebut yang akan saya tuliskan kembali dalam artikel ini.
Dikisahkan bahwa pada suatu zaman, hiduplah seorang raja. Ia tidak begitu kejam, namun tidak pula begitu baik. Sifat baik dan buruknya itu diibaratkan dengan dua neraca timbangan. Jika salah satu neraca naik, maka neraca yang lainnya akan turun. Jika raja sedang ‘dihinggapi’ sifat baik maka makmurlah rakyatnya. Namun sebaliknya, jika sifat jahatnya yang ‘datang’, maka tidak ada yang mampu menentang atau melawannya.
Pada suatu hari, sepulang dari berkeliling wilayah kekuasaannya, sang raja kembali ke istananya dengan wajah yang tidak begitu menggembirakan. Dari raut wajahnya tergambarkan bahwa ada satu masalah yang sedang mengganjal perasaan raja. Perdana menteri yang selalu mendampingi raja kemanapun ia berjalan paham benar dengan situasi tersebut. Namun, ia tidak mengetahui permasalahan yang ada.
“Apakah yang membuat wajah Raja muram?” tanya perdana menteri dengan takzim.
“Sebenarnya aku belum tahu pasti wahai perdana menteri. Namun, perasaan bersalahku pada rakyat semakin menjadi-jadi. Yaitu ketika kita pergi berkeliling wilayah kerajaan beberapa hari yang lalu! Tanah begitu tandus. Rakyat-rakyatku banyak yang mempunyai sapi dan kerbau. Mereka harus mencari rumput ke wilayah seberang untuk memenuhi kebutuhan ternaknya!” ujar raja bijak. Ada sifat baik di sana.
“Namun di samping itu, sebenarnya aku murka melihat tandusnya tanah di wilayah kerajaan kita. Sehingga, ketika aku harus turun dari kudaku, aku harus menginjak tanah yang tandus dan kering. Banyak batu di sana. Apakah kau punya cara untuk mengatasi ini wahai perdana menteri?” Raja tiba-tiba bertanya.
Perdana menteri yang tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu gelagapan. Ia diam sejenak dan akhirnya bertutur, “Wahai raja! Tidaklah layak bagi saya untuk menasihati raja. Saya akan mengikuti titah yang akan raja perintahkan.” Kata-kata itulah yang akhirnya keluar dari mulut sang perdana menteri.
“Baiklah! Suruhlah pengawal istana untuk mengambil sapi-sapi dan kerbau-kerbau seluruh masyarakat. Saya rasa, sapi dan kerbau tersebut tidak akan hidup lama lagi di daerah tandus seperti ini. Ambillah sapi dan kerbau tersebut. Lalu, ambil kulitnya dan lapisi semua permukaan wilayah kerajaan ini dengan kulit sapi dan kerbau tersebut. Ini perlu agar kita tidak lagi merasakan rasa sakit ketika berjalan. Saya beri waktu tiga hari!” perintah sang raja.
“Tapi raja….”
Raja pergi ke peraduannya tanpa menghiraukan perkataan perdana menteri.
*****
Berita mengenai pengambilan paksa sapi dan kerbau yang akan dilakukan kerajaan membuat suasana masyarakat heboh. Mereka tahu ini adalah perintah raja dan tidak mungkin melawannya. Sebagian masyarakat telah berpasrah diri. Namun tidak dengan Zaki, seorang pemuda yang hanya memiliki dua ekor sapi. Ia tampak tenang. Bahkan, ketika ia mendengar bahwa raja ingin mengambil semua sapi milik rakyat, ia dengan santai menyembelih satu sapinya dan mengundang beberapa tetangganya untuk makan bersama di rumahnya.
Tetangganya pun berdatangan. Setelah duduk, mereka disuguhi daging sapi yang telah dipanggang. Mereka gembira. Namun saat itu saja. Setelah melahap daging tersebut, ingatan akan sapi mereka yang akan diambil kembali datang dan wajah mereka kembali murung. Dan, pada saat itulah Zaki berdiri dan memberi beberapa patah kata.
“Saya menginkan seorang teman untuk menemani saya menghadap raja. Kita akan terbebas dari perintah raja tersebut. Yakinlah!” ujar Zaki percaya.
Suasana heboh sejenak. Tidak ada yang yakin perintah tersebut akan dibatalkan. Selama ini, jika raja mempunyai hajat dan keinginan, tidak akan ada yang mampu melawan bahkan membatalkannya. Walaupun hajat dan keinginan tersebut sangat bertentangan dengan hajat dan kepentingan rakyat banyak. Akhirnya, tidak ada yang bersedia menemani Zaki ke kerajaan. Zaki pun memutuskan untuk berangkat sendiri.
*****
Suasana di kerajaan hening. Ada tiga orang di sana yaitu raja, perdana menteri, dan Zaki.
“Maaf, Raja. Saya mendengar bahwa Raja memerintahkan untuk mengambil seluruh sapi dan kerbau milik rakyat. Apakah yang menjadi alasan Raja memerintahkan hal itu?” Zaki bertanya dengan berani.
“Kamu tidak menginginkannya?” raja bertanya tanpa menjawab pertanyaan Zaki.
“Saya bukan melawan wahai Raja. Kedatangan saya kesini hanya ingin memberi hadiah kepada Raja. Namun demikian, hadiah ini saya harapkan bisa membatalkan perintah Raja tentang sapi dan kerbau tersebut. Masyarakat masih membutuhkan sapi dan kerbau.” Zaki berhenti sejenak, “Namun, jika permasalahannya hanyalah tanah tandus yang menyakiti kulit kaki Raja ketika berjalan di wilayah kerajaan ini, sudilah kiranya Raja memakai hadiah saya ini!” ucap Zaki seraya memberikan sebuah sendal dari kulit sapi yang ia sembelih beberapa hari yang lalu.
Sontak, wajah raja berubah. Dari murka menjadi kagum. Zaki pun diberi hadiah atas hadiahnya tersebut. Itulah yang konon menjadi awal dari sebuah sandal.
*****
Membaca kisah tersebut, saya teringat dengan tulisan yang terukir di atas batu nisan Westminster Abbey, salah seorang arsitek kerajaan Inggris yang sangat terkenal di zamannya. Di atas makam tersebut tertulis beberapa patah kata sebagai berikut.
“Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia agar menjadi lebih baik. Lalu, seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tiada pernah menjadi lebih baik.
Maka, cita-cita itu pun agak kupersempit. Lalu, kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku sendiri. Namun tampaknya hasrat itu tiada membawa hasil.
Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, lalu kuputuskan untuk hanya mengubah keluargaku sendiri. Yakni orang-orang yang paling dekat denganku. Namun celakanya, mereka pun ternyata tidak mau berubah!
Dan hari ini sementara aku berbaring untuk menanti datangnya ajalku. Tiba-tiba saja kusadari, seandainya saja dulu aku berpikir bahwa yang pertama-tama kuubah adalah diriku sendiri. Dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku akan bisa mengubah keluargaku terlebih dahulu. Lalu, berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku akan mampu memperbaiki negeriku. Kemudian, siapa tahu dengan begitu aku bahkan bisa mengubah potret dunia ini!”
Ya. Mendapatkan sebuah kenyamanan untuk bersama tidaklah mesti mengubah seluruh tatanan dunia. Mendapatkan jalan yang mulus tidaklah mesti dengan mengorbankan sapi dan kerbau untuk melapisi tanah yang tandus dan terjal. Yang dibutuhkan hanyalah sandal yang melapisi kaki, dan itu adalah pandangan kita terhadap kehidupan.
Kita tidak perlu bercita-cita untuk mengubah dunia untuk mendapatkan sebuah kenyamanan hidup. Yang kita perlukan hanyalah memandang kehidupan dengan pandangan yang positif sehingga kenyamanan itu datang dengan sendirinya. Kesimpulannya, kenyamanan, kesuksesan, kebahagiaan, semuanya itu ada di dalam diri kita sendiri. Bukan di tangan orang lain, apalagi di tangan dunia. Memperbaiki diri sendiri untuk memperbaiki dunia, itulah kata kuncinya. Semoga![rmh]
* Radinal Mukhtar Harahap adalah alumnus PP. Ar-Raudhatul Hasanah Medan. Kini dipercaya sebagai ketua Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSS MoRA). Dapat dihubungi di email: radinal88[at]gmail[dot]com atau di nomor telepon: 081331185527.

Oleh: Radinal Mukhtar Harahap*
Oleh: Radinal Mukhtar Harahap*
Oleh: Radinal Mukhtar Harahap*
