Hadiah Sandal untuk Raja

rmhOleh: Radinal Mukhtar Harahap*

Dengan menggunakan email, salah seorang teman saya menceritakan sebuah kisah menarik tentang asal muasal sandal pada zaman dahulu kala. Saya tidak tahu apakah cerita ini benar-benar nyata atau hanya dongeng belaka. Namun lebih dari itu, kiranya kita dapat memetik hikmah dalam cerita tersebut yang akan saya tuliskan kembali dalam artikel ini.

Dikisahkan bahwa pada suatu zaman, hiduplah seorang raja. Ia tidak begitu kejam, namun tidak pula begitu baik. Sifat baik dan buruknya itu diibaratkan dengan dua neraca timbangan. Jika salah satu neraca naik, maka neraca yang lainnya akan turun. Jika raja sedang ‘dihinggapi’ sifat baik maka makmurlah rakyatnya. Namun sebaliknya, jika sifat jahatnya yang ‘datang’, maka tidak ada yang mampu menentang atau melawannya.

Pada suatu hari, sepulang dari berkeliling wilayah kekuasaannya, sang raja kembali ke istananya dengan wajah yang tidak begitu menggembirakan. Dari raut wajahnya tergambarkan bahwa ada satu masalah yang sedang mengganjal perasaan raja. Perdana menteri yang selalu mendampingi raja kemanapun ia berjalan paham benar dengan situasi tersebut. Namun, ia tidak mengetahui permasalahan yang ada.

“Apakah yang membuat wajah Raja muram?” tanya perdana menteri dengan takzim.

“Sebenarnya aku belum tahu pasti wahai perdana menteri. Namun, perasaan bersalahku pada rakyat semakin menjadi-jadi. Yaitu ketika kita pergi berkeliling wilayah kerajaan beberapa hari yang lalu! Tanah begitu tandus. Rakyat-rakyatku banyak yang mempunyai sapi dan kerbau. Mereka harus mencari rumput ke wilayah seberang untuk memenuhi kebutuhan ternaknya!” ujar raja bijak. Ada sifat baik di sana.

“Namun di samping itu, sebenarnya aku murka melihat tandusnya tanah di wilayah kerajaan kita. Sehingga, ketika aku harus turun dari kudaku, aku harus menginjak tanah yang tandus dan kering. Banyak batu di sana. Apakah kau punya cara untuk mengatasi ini wahai perdana menteri?” Raja tiba-tiba bertanya.

Perdana menteri yang tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu gelagapan. Ia diam sejenak dan akhirnya bertutur, “Wahai raja! Tidaklah layak bagi saya untuk menasihati raja. Saya akan mengikuti titah yang akan raja perintahkan.” Kata-kata itulah yang akhirnya keluar dari mulut sang perdana menteri.

“Baiklah! Suruhlah pengawal istana untuk mengambil sapi-sapi dan kerbau-kerbau seluruh masyarakat. Saya rasa, sapi dan kerbau tersebut tidak akan hidup lama lagi di daerah tandus seperti ini. Ambillah sapi dan kerbau tersebut. Lalu, ambil kulitnya dan lapisi semua permukaan wilayah kerajaan ini dengan kulit sapi dan kerbau tersebut. Ini perlu agar kita tidak lagi merasakan rasa sakit ketika berjalan. Saya beri waktu tiga hari!” perintah sang raja.

“Tapi raja….

Raja pergi ke peraduannya tanpa menghiraukan perkataan perdana menteri.

*****

Berita mengenai pengambilan paksa sapi dan kerbau yang akan dilakukan kerajaan membuat suasana masyarakat heboh. Mereka tahu ini adalah perintah raja dan tidak mungkin melawannya. Sebagian masyarakat telah berpasrah diri. Namun tidak dengan Zaki, seorang pemuda yang hanya memiliki dua ekor sapi. Ia tampak tenang. Bahkan, ketika ia mendengar bahwa raja ingin mengambil semua sapi milik rakyat, ia dengan santai menyembelih satu sapinya dan mengundang beberapa tetangganya untuk makan bersama di rumahnya.

Tetangganya pun berdatangan. Setelah duduk, mereka disuguhi daging sapi yang telah dipanggang. Mereka gembira. Namun saat itu saja. Setelah melahap daging tersebut, ingatan akan sapi mereka yang akan diambil kembali datang dan wajah mereka kembali murung. Dan, pada saat itulah Zaki berdiri dan memberi beberapa patah kata.

“Saya menginkan seorang teman untuk menemani saya menghadap raja. Kita akan terbebas dari perintah raja tersebut. Yakinlah!” ujar Zaki percaya.

Suasana heboh sejenak. Tidak ada yang yakin perintah tersebut akan dibatalkan. Selama ini, jika raja mempunyai hajat dan keinginan, tidak akan ada yang mampu melawan bahkan membatalkannya. Walaupun hajat dan keinginan tersebut sangat bertentangan dengan hajat dan kepentingan rakyat banyak. Akhirnya, tidak ada yang bersedia menemani Zaki ke kerajaan. Zaki pun memutuskan untuk berangkat sendiri.

*****

Suasana di kerajaan hening. Ada tiga orang di sana yaitu raja, perdana menteri, dan Zaki.

“Maaf, Raja. Saya mendengar bahwa Raja memerintahkan untuk mengambil seluruh sapi dan kerbau milik rakyat. Apakah yang menjadi alasan Raja memerintahkan hal itu?” Zaki bertanya dengan berani.

“Kamu tidak menginginkannya?” raja bertanya tanpa menjawab pertanyaan Zaki.

“Saya bukan melawan wahai Raja. Kedatangan saya kesini hanya ingin memberi hadiah kepada Raja. Namun demikian, hadiah ini saya harapkan bisa membatalkan perintah Raja tentang sapi dan kerbau tersebut. Masyarakat masih membutuhkan sapi dan kerbau.” Zaki berhenti sejenak, “Namun, jika permasalahannya hanyalah tanah tandus yang menyakiti kulit kaki Raja ketika berjalan di wilayah kerajaan ini, sudilah kiranya Raja memakai hadiah saya ini!” ucap Zaki seraya memberikan sebuah sendal dari kulit sapi yang ia sembelih beberapa hari yang lalu.

Sontak, wajah raja berubah. Dari murka menjadi kagum. Zaki pun diberi hadiah atas hadiahnya tersebut. Itulah yang konon menjadi awal dari sebuah sandal.

*****

Membaca kisah tersebut, saya teringat dengan tulisan yang terukir di atas batu nisan Westminster Abbey, salah seorang arsitek kerajaan Inggris yang sangat terkenal di zamannya. Di atas makam tersebut tertulis beberapa patah kata sebagai berikut.

“Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia agar menjadi lebih baik. Lalu, seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tiada pernah menjadi lebih baik.

Maka, cita-cita itu pun agak kupersempit. Lalu, kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku sendiri. Namun tampaknya hasrat itu tiada membawa hasil.

Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, lalu kuputuskan untuk hanya mengubah keluargaku sendiri. Yakni orang-orang yang paling dekat denganku. Namun celakanya, mereka pun ternyata tidak mau berubah!

Dan hari ini sementara aku berbaring untuk menanti datangnya ajalku. Tiba-tiba saja kusadari, seandainya saja dulu aku berpikir bahwa yang pertama-tama kuubah adalah diriku sendiri. Dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku akan bisa mengubah keluargaku terlebih dahulu. Lalu, berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku akan mampu memperbaiki negeriku. Kemudian, siapa tahu dengan begitu aku bahkan bisa mengubah potret dunia ini!”

Ya. Mendapatkan sebuah kenyamanan untuk bersama tidaklah mesti mengubah seluruh tatanan dunia. Mendapatkan jalan yang mulus tidaklah mesti dengan mengorbankan sapi dan kerbau untuk melapisi tanah yang tandus dan terjal. Yang dibutuhkan hanyalah sandal yang melapisi kaki, dan itu adalah pandangan kita terhadap kehidupan.

Kita tidak perlu bercita-cita untuk mengubah dunia untuk mendapatkan sebuah kenyamanan hidup. Yang kita perlukan hanyalah memandang kehidupan dengan pandangan yang positif sehingga kenyamanan itu datang dengan sendirinya. Kesimpulannya, kenyamanan, kesuksesan, kebahagiaan, semuanya itu ada di dalam diri kita sendiri. Bukan di tangan orang lain, apalagi di tangan dunia. Memperbaiki diri sendiri untuk memperbaiki dunia, itulah kata kuncinya. Semoga![rmh]

* Radinal Mukhtar Harahap adalah alumnus PP. Ar-Raudhatul Hasanah Medan. Kini dipercaya sebagai ketua Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSS MoRA). Dapat dihubungi di email: radinal88[at]gmail[dot]com atau di nomor telepon: 081331185527.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.7/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Jangan Remehkan Potensi Anda!

rmhOleh: Radinal Mukhtar Harahap*

Kapal besar itu berlayar kencang menentang ombak. Seluruh awak bekerja keras untuk menjaga keseimbangan kapal. Begitu pula dengan kapten kapal. Walaupun terlihat santai, otaknya tetap berjalan untuk berpikir. Hingga akhirnya, terjangan ombak pun menyurut dan kapal dapat berlayar dengan tenang.

“Kapten, di salah satu badan kapal ada sekumpulan rayap!” ujar salah seorang awak kapal.

“Apakah mereka banyak?” tanya kapten.

“Tidak kapten. Hanya satu atau dua rayap saja!”

“Ah.. tidak apa-apa!” jawab kapten acuh.

Kapal pun kembali berlayar. Hari demi hari berganti. Hingga suatu hari, salah satu awak kapal melaporkan bahwa salah satu badan kapal mengalami kebocoran. Kayu yang menjadi badan kapal tersebut dimakan oleh rayap. Dan yang lebih parahnya, rayap yang awal mulanya hanya dua, kini telah menjadi banyak. Bahkan, di setiap sudut kapal rayap tersebut ada.

Kapten kapal kebingungan. Namun apa boleh buat. Kebocoran yang ada di mana-mana tak lagi dapat diperbaiki. Dan, kapal besar itu akhirnya tenggelam hanya karena sebuah rayap kecil yang terus berkembang biak.

****

Sungguh, Tubuh manusia adalah sebuah maha karya yang sangat luar biasa. Manusia memiliki jantung yang mampu berdetak 100 ribu kali sehari secara otomatis dan mampu memompa 1.500 galon darah setiap harinya. Manusia juga memiliki pembuluh darah yang apabila diurutkan dari ujung awal hingga ujung akhir, panjangnya akan cukup untuk mengelilingi bumi pada garis ekuator sebanyak dua kali. Begitu pula dengan mata yang mampu mendeteksi lebih dari 10 juta warna yang berbeda secara instan. Otot yang jika dioptimalkan untuk bekerja sama, akan memiliki kekuatan yang setara dengan 25 ton. Sungguh luar biasa.

Belum lagi jika kita membahas tentang otak yang mampu membentuk koneksi belajar hingga kecepatan 3 miliar koneksi per detiknya. Ini menunjukkan bahwa dalam satu detik, otak mampu membuat koneksi lebih banyak dibanding dengan koneksi yang dibuat oleh pengguna internet di seluruh dunia dalam tiga hari. Sekali lagi, sungguh sangat luar biasa.

Namun, tanpa kita sadari, kita sering meremehkan potensi besar yang berada dalam diri kita tersebut. Kita lebih sering mengandalkan kalkulator, walaupun untuk hitungan yang sangat sederhana sekalipun, untuk menghitung padahal kita mempunyai otak yang lebih brilian dari pada kalkulator itu sendiri. Kita juga sering meremehkan keberhasilan-keberhasilan kecil yang kita raih. Padahal, sebagaimana kisah di atas tadi, dari hal-hal kecil sering muncul sesuatu yang besar, yang tidak kita pikirkan sebelumnya.

Apa yang dialami oleh Joe Sandy, The Master, mungkin dapat menjadi contoh. Siapa yang menyangka bahwa keberhasilan mengisi TTS, sesuatu yang sering kita lakukan untuk mengisi waktu-waktu kosong, telah menjadikannya sebagai The Master perdana dalam acara tersebut? Siapa pula yang menyangka bahwa ia yang dahulunya adalah seorang sales, pekerjaan yang bagi sebagian orang adalah pekerjaan yang tidak bergengsi, telah mendidiknya untuk lancar berkomunikasi, sehingga jika dibandingkan dengan para peserta The Master lainnya, komunikasi yang disampaikan Joe adalah yang terbaik akibat teraturnya kata-kata (Majalah Motivasi Luar Biasa, No. 10, Hal 32-34).

****

Jika potensi yang ada dalam diri manusia dikelompokkan, setidaknya kita mendapatkan bahwa manusia tersebut mempunyai empat:

1. Potensi yang berada dalam tubuh (Physical Quotient), yaitu potensi-potensi ataupun kecerdasan-kecerdasan yang terdapat dalam tubuh kita masing-masing.

2. Potensi yang berada dalam perasaan (Emotional Quotient) yaitu potensi-potensi yang berada dalam pengelolaan perasaan atau emosi.

3. Potensi yang berada dalam otak (Intellectual Quotient), yaitu potensi-potensi yang menjamin kemampuan seseorang untuk melakukan tugas tertentu dengan hasil yang baik.

4. Potensi yang berada dalam keyakinan (Spiritual Quotient), yaitu potensi-potensi yang menjadikan seseorang mampu memilih antara yang benar dan yang salah.

Nah, tugas utama kita bukanlah memilih salah satu potensi tersebut dan mengabaikan potensi lainnya. Tugas yang paling utama adalah mengoptimalkan segala potensi tersebut untuk menjadi manusia-manusia yang luar biasa, yang mampu melihat peluang di segala hal. Bukan manusia yang selalu mengeluh karena tidak adanya peluang.

Memang, untuk mencapai manusia yang mampu mengoptimalkan potensi-potensi tersebut bukanlah hal yang mudah. Butuh latihan dan juga kerja keras yang tidak sebentar. Namun percayalah, tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau terus berproses. Berproses untuk terus berkembang.

Akhir kata, jangan pernah meremehkan potensi yang ada dalam diri Anda walaupun terlihat kecil. Sebagaimana rayap, dari potensi-potensi kecil tersebut akan mampu menenggelamkan kapal dunia. Potensi-potensi tersebut, jika terus diasah, akan menjadi kekuatan yang besar. Yang bukan saja akan bermanfaat bagi diri kita sendiri, namun akan sangat bermanfaat bagi orang-orang yang di sekitar kita. Semoga![rmh]

* Radinal Mukhtar Harahap adalah alumnus PP. Ar-Raudhatul Hasanah Medan. Kini dipercaya sebagai ketua Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSS MoRA). Dapat dihubungi di pos-el: radinal88[at]gmail[dot]com atau di nomor telepon: 081331185527.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.6/10 (9 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

The Right Man in the Right Place?

rmhOleh: Radinal Mukhtar Harahap*

Alkisah, dua orang pemuda di salah satu sekolah favorit di Kota Medan menerima beasiswa dan diutus untuk menempuh pendidikan di salah satu universitas terkemuka di Kota Surabaya. Kedua pemuda tersebut menempuh pendidikan pada prodi yang sama dan semester yang sama.

Namun demikian, kecendrungan kedua pemuda itu berbeda. Pemuda pertama menyukai dunia kepenulisan, dan pemuda kedua menyukai dunia bisnis dan entrepreneur. Dan, keduanya berhasil di bidangnya masing-masing dengan prestasi yang luar biasa.

Setelah menyelesaikan pendidikan di universitas, mereka berdua pun pulang kembali ke sekolah yang telah memberikan beasiswa kepada mereka. Kedua pemuda tadi diprioritaskan untuk menjadi guru atau pengajar di sekolah mereka.

Beberapa bulan mengajar, kedua pemuda itu mendapatkan pengalaman yang berbeda. Pemuda pertama sangat bersemangat dalam menggeluti profesi barunya sebagai guru. Namun pemuda kedua terlihat lemas dan lesu dalam bekerja sebagai tenaga pengajar.

Setelah ditanya, apa penyebab perbedaan keadaan tersebut, pemuda pertama mengatakan bahwa dunia kepenulisan sangat cocok baginya karena ia bisa mentransformasikan ilmu kepenulisannya kepada murid-muridnya. Sedangkan pemuda kedua mengatakan bahwa anak-anak didiknya yang masih sangat remaja sekali sering takut diajak berbisnis ataupun menggeluti dunia entrepreneurship.

Membaca kisah dua pemuda penerima beasiswa itu, kita akan mendapatkan satu hal yang sangat berharga dalam menghadapi kehidupan. Bahwa, seseorang yang berpotensi selayaknya mendapatkan ‘tempat yang layak dan pantas’. Karena, tempat yang layak dan pantas sangat berpengaruh terhadap pengembangan potensi orang itu.

Pemuda pertama yang menyukai dunia kepenulisan, tentunya sangat cocok dengan lingkungan pembelajaran. Ia tentunya akan sangat bersemangat menyalurkan ilmu-ilmunya kepenulisannya kepada murid-muridnya. Namun berbeda dengan pemuda kedua yang lebih condong kepada dunia bisnis dan entrepreneurship. Walaupun ia berhasil dalam dunianya, ternyata ia ‘mengaku susah’ untuk menyebarkan virus-virus kesuksesannya. Ini diakibatkan banyaknya siswa yang ‘takut’ terjun ke dunia yang masih minim peminatnya itu. Tetapi, apakah faktor lingkungan merupakan satu-satunya penyebab sukses?

Tentu kita percaya bahwa faktor lingkungan bukanlah satu-satunya faktor penyebab sukses. Hal ini bergantung pada seberapa besar pengaruh seseorang tersebut terhadap lingkungannya. Secara singkat dapat kita pertanyakan, apakah seseorang itulah yang memengaruhi lingkungan, atau lingkungannya yang memengaruhi dirinya sendiri?

Untuk situasi pertama, yaitu mereka yang memengaruhi lingkungan, mungkin tidak menjadi masalah baginya untuk meraih kesuksesan. Karena, dialah yang memengaruhi lingkungan. Bila ia sukses, lingkungannyalah yang akan mendapatkan cipratan ‘kesuksesan’ tersebut.

Namun, yang menyusahkan adalah mereka yang sukses bila hanya bertempat tinggal di sekeliling orang yang sukses. Dan, bila ia tidak bertempat tinggal dilingkungan yang sukses, ia pun tidak akan mendapatkan kesuksesan. Lalu, apakah solusinya?

Setiap manusia adalah penentu bagi kesuksesannya sendiri. Betapapun besarnya motivasi, pantas layaknya sebuah lingkungan, efisien atau tidaknya fasilitas, diri sendirilah yang menjadi penentu kesuksesan. Setidaknya, itulah yang harus kita pahami bersama.

Adagium the right man in the right place selayaknya kita ganti dengan adagium i am the right man where ever and when ever. Sayalah orang yang tepat untuk setiap kondisi dan waktu, karena sayalah yang berpengaruh pada lingkungan, bukan lingkungan yang memengaruhi saya. Semoga![rmh]

* Radinal Mukhtar Harahap adalah alumnus PP Ar-Raudhatul Hasanah, Medan, Sumatera Utara. Kini menempuh pendidikan sambil “nyantri” di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sedang “jatuh cinta” dengan dunia kepenulisan dan motivasi. Ia dapat dihubungi di radinal88[at]gmail[dot]com atau 081331185527.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Siapa yang Menggali, Dialah yang Masuk ke Dalam

rmhOleh: Radinal Mukhtar Harahap*

Ketika berbincang-bincang dengan teman-teman yang tergabung dalam Community of Santri Scholar of Ministry of Religious Affairs (CSS MoRA), yaitu para alumnus pondok pesantren yang mendapatkan beasiswa dari Departemen Agama Republik Indonesia, saya mendapatkan banyak cerita mengenai ‘rahasia’ sukses mereka untuk mendapatkan beasiswa.

Ada seorang teman yang mengatakan bahwa ia sebenarnya tidak menyangka akan lulus dalam tes yang dilakukan serempak di Indonesia. Ia sama sekali tidak belajar, bahkan ia baru mengetahui pelajaran yang akan diujikan tepat saat ujian dilakukan. Namun, setelah saya tanyakan lebih lanjut, rupanya selama di pondok, teman ini sangat sering membantu teman-temannya dalam memahami pelajaran pondok yang mayoritas berbahasa Arab dan asing. Pelajaran-pelajaran yang ia ajarkan kepada teman-temannya sangat membantunya dalam menjawab soal-soal ujian.

Ada juga yang menceritakan bahwa ia sebenarnya ingin kuliah di Mesir. Karena, menurut cerita ustaz-ustaznya di pondok, kuliah di Mesir itu gratis. Banyak beasiswa diberikan kepada mahasiswa di Mesir. Namun, orang tuanya tidak mengizinkannya pergi jauh. Ia patuh dan minta didoakan ketika akan mencoba program santri berprestasi dari Departemen Agama. Alhamdulillah, teman ini akhirnya diterima.

Ada juga teman yang menceritakan bahwa sebenarnya ia tidak tahu-menahu soal penerimaan beasiswa ini. Ia hanya menjalankan perintah ustaznya saja ketika menyarankan untuk mengikuti ujian tersebut. Sang ustaz menyemangatinya dan semangat tersebut sangat teringat di hatinya. Dengan semangat itulah, ia akhirnya diterima dalam program ini.

***

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, kita tentunya sering menemukan keberuntungan-keberuntungan yang jarang diduga. Ketika berjalan kita bertemu dengan seseorang yang sangat baik hati dan mau menumpangkan kendaraannya serta mengantarkan kita sampai ke rumah. Di tengah kesulitan keuangan, tiba-tiba ada tetangga yang tasyakkuran membagi-bagikan uang bagi yang membutuhkan dan kita termasuk di dalamnya.

Dan, tak jarang pula kita mendapatkan kesulitan dan musibah yang tak diharapkan sama sekali. Di tengah jalan, ketika sedang terburu-buru pergi ke kantor karena rapat, tiba-tiba kendaraan rusak dan harus masuk bengkel. Ketika akan masuk ujian, tiba-tiba buku yang menjadi referensi utama dari bahan yang akan ujian hilang pada malam harinya.

Lantas, kita akan bertanya bahkan mengeluh dalam hati ketika kesulitan dan musibah itu datang secara tiba-tiba. Namun, kita jarang menyadari ketika tiba-tiba kita mendapatkan sebuah kemudahan ataupun kenikmatan.

Pertanyaannya kemudian, sadarkah kita bahwa semua itu pada intinya adalah akibat dari perbuatan kita? Kemudahan saat ini adalah akibat kerja keras di waktu dulu. Dan, kesulitan saat ini adalah buah dari perlakuan salah kita di masa lampau.

Coba kita lihat cerita-cerita dari para penerima beasiswa dalam CSS MoRA sebagaimana telah saya ceritakan di atas. Semua mendapatkan beasiswa akibat ‘kebaikan’ yang telah mereka lakukan. Ada yang karena kebaikannya membantu teman-temannya dalam memahami pelajaran. Ada juga karena kepatuhannya pada orang tuanya. Tak tertinggal pula kepatuhan kepada para guru. Kebaikan mereka dibalas setimpal dengan sebuah beasiswa.

Siapa yang menggali, dialah yang masuk ke dalamnya, begitulah pepatah mengatakan. Istilah Arabnya mengatakan man hafaro hufratan, waqo’a fiha. Dalam ilmu perkembangan sumber daya manusia dikenal istilah tebar benih. Setiap yang ditebar, itu yang akan digapai.

Sekarang, kembali kepada kita semua, apakah yang telah kita lakukan sekarang? Kebaikankah? Bila itu kebaikan, tunggulah balasannya. Bila itu keburukan? Walaupun tidak diketahui saat ini, tunggulah, balasan itu pasti akan datang.

Sebagai penutup, ada baiknya saya menceritakan sebuah kisah yang terdapat dalam buku Kubik Leadership karangan Jamil Azzaini, Farid Poniman, dan Indrawan Nugroho. Dikisahkan bahwa suatu hari, seorang bocah miskin bernama Howard Kelly sedang berjualan dari rumah ke rumah demi membiayai sekolahnya. Ia merasa lapar dan haus, tetapi ia hanya memiliki sedikit uang. Ia memutuskan untuk meminta makanan dari rumah terdekat. Tetapi, ketika seorang gadis muda muncul membukakan pintu, ia kehilangan keberaniannya dan akhirnya hanya meninta segelas air putih untuk menjadi penawar dahaganya.

Namun, ternyata gadis muda tersebut sadar bahwa anak itu lapar. Karena itulah, dibawakannya segelas besar susu. Bocah itu meminumnya lalu berkata, “Berapakah saya harus membayarnya?”

Gadis muda itu menjawab, “Kamu tidak berhutang apa pun karena ibuku mengajarkan untuk tidak menerima bayaran apa pun dari perbuatan baik yang kami lakukan.

Setelah kejadian itu beberapa tahun kemudian, gadis muda itu sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. Namun, ia menderita penyakit parah yang para dokter pun bingung untuk menanganinya. Diputuskanlah bahwa wanita tersebut harus dipindahkan ke kota besar untuk mendapatkan pertolongan dari seorang spesialis. Dalam hati wanita tersebut khawatir kalau-kalau ia tidak mampu membayar biaya pengobatan yang ia jalani.

Ketika semua proses pengobatannya selesai, hatinya semakin khawatir. Tak lama lagi dia harus membayar seluruh biaya rumah sakit. Di tengah kebingungannya, petugas administrasi datang dan menyerahkan tagihan pembayaran kepadanya. Dengan rasa takut dan khawatir, wanita itu membaca slip tagihan dari rumah sakit. Wajahnya terkejut, pada slip tagihan tersebut tertera tulisan, “LUNAS DENGAN SEGELAS SUSU, tertanda Dr. Howard Kelly.[rmh]

* Radinal Mukhtar Harahap Alumnus PP. Ar-Raudhatul Hasanah Medan Sumatera Utara. Kini menempuh pendidikan sambil “nyantri” di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sedang “jatuh cinta” dengan dunia kepenulisan dan motivasi. Dapat dihubungi di radinal88@gmail.com atau 081331185527.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.6/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Tiga Cerita Beasiswa

rmhOleh: Radinal Mukhtar Harahap*

Terhitung hingga hari ini, ada tiga cerita mengenai beasiswa yang disampaikan seorang teman maupun yang saya terlibat sendiri. Cerita pertama berasal dari seorang anak yang asal Medan dan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di UGM, Yogyakarta, tepatnya pada Fakultas Hukum. Beasiswa yang diterimanya adalah beasiswa penuh, meliputi biaya perkuliahan, buku-buku perkuliahan, maupun biaya kehidupan selama menempuh perkuliahan.

Jika saya yang menerima beasiswa tersebut, saya akan bersorak gembira. Saya akan mengundang seluruh teman dan para tetangga untuk tasyakkuran atas rezeki yang diberikan. Bayangkan saja, sekolah gratis ditambah uang saku untuk keperluan sehari-hari. Namun, tidak dengan anak tersebut. Ia menolak melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum UGM dengan suatu alasan mendasar, yaitu fakultas yang tidak sesuai dengan cita-citanya.

Semenjak kecil, anak tersebut telah bercita-cita menjadi seorang dokter. Orang tuanya pun telah menyetujuinya. Tidak heran ketika sang anak menyatakan penolakannya terhadap beasiswa tersebut, sang ayah maupun ibu menyetujuinya. Bahkan, kedua orang tua anak tersebut langsung memasang kuda-kuda untuk meluluskan anaknya ke Fakultas Kedokteran di Universitas Sumatera Utara (USU).

Terkadang, persiapan yang matang tidak selalu menghasilkan prestasi yang diharapkan. Anak yang diharapkan dapat lulus di fakultas kedokteran gagal. Walhasil, ia sekarang menempuh pendidikan di Fakultas Ushuluddin IAIN Sumatera Utara .

Cerita yang kedua juga mengenai anak yang memperoleh beasiswa. Bedanya, anak pada cerita ini menerima beasiswa tersebut dengan tiga pilihan jurusan. Jurusan teknik mesin, teknik penerbangan, dan teknik material. Ketika bingung memilih jurusan ia meminta saran kepada teman-temannya maupun kakak kelasnya.

Sungguh sayang, terkadang seseorang itu lebih memilih sesuatu dengan pertimbangan gengsi daripada murni dari hati nurani dan keinginan. Sang anak memilih teknik mesin karena teman-teman terdekatnya memilih jurusan tersebut, padahal ia lebih condong kepada teknik penerbangan. Akhirnya, ketika menjalani pendidikan ia “tersiksa” dengan penolakan batinnya sendiri.

Sementara, cerita ketiga berasal dari dua orang penerima beasiswa yang berasal dari sekolah yang sama dan kelas yang sama pula. Ketika di sekolah, kedua penerima beasiswa tersebut juga sama-sama bergelut di bidang kepenulisan majalah dinding sekolah.

Ketika berada di kampus, saat menghabiskan hari-hari beasiswa, anak yang pertama menjalankan aktivitas akademik apa adanya. Kehidupannya hanya sebatas kampus, perpustakaan, kantin, dan kamar kos. Ia tidak mengembangkan kemampuannya di bidang penulisan sebagaimana dahulu ketika di sekolah. Akhirnya, ia lulus dengan predikat sarjana.

Berbeda dengan temannya. Selain aktif di perkuliahan, ia juga mengembangkan kemampuannya di bidang kepenulisan. Ia menulis di majalah kampus, media massa lokal maupun nasional, hingga media-media elektronik. Ia lulus dengan sebuah predikat sarjana plus penulis.

***

Cara pandang merupakan hal yang penting dalam kehidupan. Seorang anak dengan “rela” menolak beasiswa untuk kuliah di UGM hanya karena memandang cita-cita sebagai sebuah impian yang tidak dapat diganggu gugat. Seorang anak akhirnya tersiksa mengikuti perkuliahan hanya karena memandang persahabatan dan saran-saran dari teman merupakan pandangan yang cocok terhadap dirinya. Begitu juga dengan dua orang anak yang masing-masing lulus dengan keadaan yang berbeda karena perbedaan cara pandang.

Dalam bukunya Setengah Isi Setengah Kosong, Parlindungan Marpaung membagi cara pandang menjadi dua bagian. Yang pertama, mereka yang optimis dengan memandang bahwa sebuah gelas masih berisi setengah. Sedangkan mereka yang pesimis, cara pandang kedua, mereka beranggapan bahwa gelas sudah kosong setengahnya.

Walaupun pada hakikatnya sama-sama menjelaskan tentang suatu hal, ternyata cara pandang sangat berpengaruh terhadap hasil kinerja seseorang. Seorang penulis misalnya, yang berpandangan positif dan optimis akan mengatakan, bahwa ia telah berhasil menemukan satu bentuk tulisan yang ditolak ketika tulisannya ditolak oleh redaksi majalah atau media massa. Namun, bagi seorang penulis yang berpandangan negatif sekaligus pesimis, dia akan mengatakan bahwa dirinya telah gagal dalam dunia kepenulisan.

Cara pandang jugalah yang akan membedakan seorang karyawan ketika mengerjakan sesuatu. Dengan sisa lima menit, seorang karyawan yang optimis akan mengerjakan pekerjaan dengan perkataan, masih ada lima menit, kerjakan sebisanya dan akan disambung besok. Namun, mereka yang berpikir pesimis akan meninggalkan pekerjaan tersebut seraya berkata, besok saja sekalian. Walhasil, besok kerjaannya bertumpuk dan harus lembur menyelesaikan semua itu.

Demikianlah pengaruh cara pandang atau paradigma. Seorang yang berpandangan positif dan optimis akan menuai hasil yang positif lagi berhasil. Demikian juga sebaliknya, mereka yang berpandanga negatif serta pesimis akan menjalani hari-harinya dengan kesusahan dan kesulitan.

Andrie Wongso pernah bertutur, “Jika engkau keras terhadap kehidupanmu (optimis) dunia akan lunak terhadap dirimu. Jika engkau lunak terhadap kehidupanmu (pesimis) dunia akan keras terhadapmu”. Mari berpandangan positif dan optimis.[rmh]

* Radinal Mukhtar Harahap adalah alumnus PP Ar-Raudhatul Hasanah, Medan, Sumatera Utara. Kini menempuh pendidikan sambil “nyantri” di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sedang “jatuh cinta” dengan dunia kepenulisan dan motivasi. Ia dapat dihubungi di radinal88[at]gmail[dot]com atau 081331185527.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.6/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox