Memadukan Pembelajaran dan Entrepreneurship

Putu AdnyanaOleh: Putu Adnyana*

“Knowing is nothing. Applying what you know is every thing.”

~ Bruce Lee

Para pakar dan peneliti perilaku manusia menyatakan bahwa 77 persen dari apa yang kita pikirkan bersifat negatif, kontraproduktif, dan melawan diri kita. Akibatnya, banyak penyakit yang diderita oleh manusia berasal dari kondisi pikiran negatif sendiri.

Menjadi pribadi sukses merupakan dambaan setiap insan, meskipun tidak setiap orang mampu mewujudkannya. Salah satu perjuangan secara intelektual untuk meraihnya adalah dengan mengikuti seminar, membaca buku-buku dahsyat, mendengarkan kaset/CD, menonton DVD, hingga mencari mentor pribadi. Saat ini, tidak sedikit program seminar yang ditawarkan tentang bagaimana cara cepat meraih kesuksesan. Melalui topik-topik seperti pengembangan pribadi, tentang pengelolaan keuangan, sampai mengenai spiritualitas.

Juga ada seminar tentang rahasia agar tahan banting menghadapi segala macam krisis yang terjadi belakangan ini, sehingga kita mampu eksis menghadapi ancaman yang ada, bahkan cerdik menangkap peluang. Tema-tema tersebut sanggat menggugah karena berupaya menawarkan angin perubahan kualitas hidup yang lebih baik. Apalagi, para narasumbernya adalah tokoh yang karismatik dan pebisnis sukses di bidangnya.

Dilengkapi tayangan video, ilustrasi musik yang pas, membuat isi tema semakin menarik. Saking mantapnya, kita sampai dibuat begitu yakin bahwa setelah keluar dari ruangan seminar, apa yang menjadi obsesi kita selama ini—target penjualan yang sebelumnya terasa bagai bumi dan langit, misalnya—kini serasa semudah membalikkan telapak tangan kanan.

Namun apa kenyataannya? Harapan tadi hanyalah ilusi tanpa batas. Karena, jangankan untuk menerapkan segala petuah yang didapat dalam ruangan seminar, nyatanya daya ingat kita semakin menurun seiring berlalunya waktu. Dan lucunya, bila kita ditanya tentang isi seminar tersebut pada bulan berikutnya, sering kali kita berujar, “Apa ya…? Sudah lupa, tuh!”

Jujur, saya pun sering mengalami kondisi ini pada awalnya, termasuk rekan-rekan saya. Dan, saya yakin Anda pun pernah mengalaminya. Kalau begitu, di mana salahnya?

Ternyata, pesan yang disampaikan oleh para pembicara menghasilkan respon yang berbeda di objek audiensnya. Kebanyakan peserta semangat—karena topik yang dibawakan sebegitu menariknya, atau karena hanya bersimpati besar kepada pembicaranya—kita terhanyut oleh suasana. Bahkan, sekedar ikut-ikutan teman sehingga semangat dan keyakinan diri yang diterima akan semu sifatnya. Itulah sebabnya, tak ayal lagi, lambat laun semangat hasil seminar itu akan terkikis.

Seyogyanya ketertarikan dan manfaat akan hal tersebut dirasakan di dalam diri, dan dirasakan dengan hati, bukan hanya dalam logika sebagaimana kita rasakan selama ini. Kemampuan untuk mengintegrasikan apa yang kita pelajari ke dalam pikiran bawah sadar, tanpa menimbulkan konflik diri, itu sangatlah penting. Lebih efektif lagi bila ada komitmen diri untuk mengaplikasikan semua ilmu yang didapat.

Tidak salah untuk menjadi pribadi sukses. Motivator sukses Indonesia yang memperkenalkan istilah “pembelajar” Andrias Harefa, menawarkan konsep jiwa pembelajar kepada kita. Menurutnya, Manusia Pembelajar adalah setiap insan yang bersedia menerima tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting, di antaranya:

Pertama: Berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi dan bakat terbaiknya, dengan selalu berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistensial. Seperti: Siapakah aku ini? Dari mana aku datang? Ke mana aku akan pergi? Apa yang menjadi tanggung jawabku dalam hidup ini? Kepada siapa aku percaya?

Kedua: Berusaha sekuat tenaga mengaktualisasikan segenap potensinya itu, mengekspresikan, dan menyatakan diri sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan sesuatu yang bukan dirinya. Bahkan, orang super kaya dari India pun, Mr. Mukesh Ambani berpendapat, “Ketika kita dibiarkan melakukan apa yang kita inginkan, kita akan menemukan potensi sejati kita.”

Pada awal perjalanan untuk belajar berwiraswasta, saya melakoninya tanpa proses yang begitu rumit. Saya hanya menyambut ajakan lima orang rekan untuk membuka sebuah rumah makan dengan sistim patungan (joint). Karena belum punya pengalaman berwiraswasta sebelumnya, keputusan saya ambil tanpa banyak analisis. Syukurnya, bisnis tersebut bisa jalan dengan dengan lancar, bahkan semakin baik, walaupun akhirnya usaha itu menjadi milik kami berdua. Karena, partner kami yang lain memutuskan untuk berkonsentrasi kepada bisnis keluarga mereka.

Yang menarik untuk diceritakan di sini adalah bahwa jauh hari sebelumnya, pada suatu sore, saya sempat mengobrol dengan seorang karib tentang cara berbisnis. Dari sekian banyak isi pembicaraan kami, saya teringat teman saya berujar, “Kalau Kita buka bisnis nanti, maka usaha tersebut seharusnya yang idenya fresh dan tidak ada saingannya.”

“Benar, soalnya payah juga seperti yang kita lihat selama ini, setiap ada usaha baru yang sukses, pasti tak lama berselang akan muncul orang lain yang mengikuti usaha tersebut,” timpal saya tidak mau kalah.

Dua tahun kemudian, sebuah acara mempertemukan kami, dan ternyata kondisi teman saya tidak berubah, karena dia masih setia kepada paham lamanya. Sebaliknya, saya merasa bersyukur karena sudah take action duluan. Kami berbicara banyak tentang kondisi terakhir kami masing-masing. Merasa masih ada ganjalan di hati teman saya, melalui acara makan siang dia mengundang saya untuk melanjutkan obrolan kemarin.

Satu pertanyaan diajukan kepada saya, “Mengapa saya belum menemukan ide bisnis yang bagus dan orisinal?”

Akhirnya, saya menjawab, “Ya… teman, bagaimana mungkin kamu bisa menciptakan usaha yang tanpa saingan atau murni ide sendiri? Sementara, kamu sendiri belum pernah mengunjungi pulau lain, apalagi negara orang lain, terus ide dari mana?”

“Terus, bisnis apa yang bagus saat ini?” tanya teman saya lagi.

“Bisnis yang bagus adalah bisnis yang langsung dibuka dan dijalani,” tegas saya.

“Tapi, modal saya belum siap…” dia beralasan lagi.

Sesungguhnya, modal utama yang sangat diperlukan untuk memulai bisnis adalah semangat dan keberanian untuk mengambil risiko. Para mentor kami sering menyarankan agar kami menambah keberanian dalam mengambil keputusan dengan menggunakan otak kanan. Entrepreneur adalah seseorang yang menyukai perubahan, melakukan temuan-temuan yang membedakan dirinya dengan orang lain, menciptakan nilai tambah, memberi manfaat bagi dirinya dan orang lain. Semangat dan karya yang berkelanjutan, bukan ledakan sesaat.

Kita bisa memulai sebuah usaha yang membutuhkan modal kecil, hitung-hitung sambil belajar. Itu pun kalau ada modal. Kalau tidak, gunakan jurus guru saya, yaitu BODOL (Bisnis Optimis Duit Orang Lain ). Maksudnya, bisa meminjam uang/modal dari nenek, ipar, mertua, atau siapa saja.

Bila tidak memiliki ide bisnis yang akan dibuka, maka gunakan jurus berikutnya BOIOL (Bisnis Optimis Ide Orang Lain), selanjutnya ada jurus BOTOL (Bisnis Optimis Tenaga Orang Lain) kalau belum punya karyawan, BOKOL (Bisnis Optimis Kantor Orang Lain), dan seterusnya.

Untuk memperkecil risiko kegagalan, maka sebelum membuka usaha ada baiknya mempertimbangkan dua pertanyaan berikut:

1. Dengan cara apa atau bagaimana usaha tersebut nantinya mendapatkan uang?

2. Dengan cara bagaimana menggunakan uang yang telah diperoleh tersebut?

Permasalahan akan selalu ada, tidak hanya di awal usaha tetapi juga pada saat usaha sedang berjalan. Masalah bisa berupa persoalan manajemen usaha, manajemen keuangan, hingga pada permasalahan SDM, pengembangan usaha, dan lainnya. Diperlukan sebuah formula agar usaha tetap eksis dalam persaingan, kondisi dan waktu yang sulit, sehingga usaha nantinya bisa diwariskan ke anak cucu. Ini memang tidak gampang sehingga ada pemeo yang mengatakan, “generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, generasi ketiga menghancurkan.”

Permasalahan klasik yang menimpa perusahaan sukses dan berumur adalah munculnya sifat egoisme aristokrasi, merasa diri hebat tanpa tandingan, cepat berpuas diri, atau jenuh hingga merasa tidak perlu berinovasi lagi. Sementara, perubahan era memaksa kita untuk beradaptasi. Sebab kalau tidak, tak ayal lagi perusahaan akan berada dalam titik deklinasi dan pasti akan jatuh.

Dalam kondisi seperti ini dibutuhkan seseorang pemimpin yang berjiwa entrepreneur yang mampu membangun dan menyebarkan semangat kewirausahaan dalam budaya perusahaanya. Lihat saja perusahaan Stora (Swedia) yang berumur 700 tahun lebih, atau Sumitomo berumur 400 tahun. Saat ini, di Indonesia sederet nama seperti Astra, Kompas Gramedia, dan Konimex disebut-sebut mampu mengikuti sukses mereka.

Seseorang yang bersemangat entrepreneur sejati mampu mengilhami bawahan. Dia bagaikan sebuah besi sembrani, seklaigus mampu menyebarkan aura positif, sehingga di tangannyalah perusahaan terus berkembang. Jiwa seorang entrepreneur akan lebih mapan lagi bila dilandasi dengan semangat jiwa pembelajar.

Usai saya jelaskan panjang lebar seperti itu, teman saya manggut-manggut penuh semangat, seakan setuju dengan pemaparan saya. Pada pertengahan perjalanan kami menuju kota Denpasar, tanpa sengaja di sepanjang jalan by pass Kuta, saya melihat seorang teman saya lainnya duduk di depan sebuah ruko. Merasa sudah tiga tahun tidak pernah bertemu, tanpa pikir panjang saya putar haluan untuk menghapirinya. Ternyata, ruko tersebut adalah miliknya sendiri yang dibangun dua setengah tahun yang lalu.

Sayangnya, semenjak dibuka hingga saat ini, belum pernah ada usaha di tempat tersebut. Setelah saya tanya mengapa, dia katakan, “Ruko ini sebenarnya saya bikin sendiri untuk berwiraswasta. Namun, keinginan itu tak kunjung terwujud karena saya takut kalau usaha saya nanti gagal!” Ups, ini soal the power of take action rupanya.[pa]

* Putu Adnyana, MBA adalah Direktur Russian Centre, Trinita EDU (Education, Development and Foundation), Crab House, Segara Rest, Ipems, Adro Mart, dan Russian & Italian Interpreteur. Putu adalah penemu metode Inter-L, yaitu cara mudah belajar bahasa asing. Ia dapat dihubungi melalui telepon 0361-8479675, handphone 08123900976, atau melalui website-nya www.balirussiancentre.com atau atau email: adptad[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.2/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 2 votes)

Talenta Bukan Mantra

paOleh: Putu Adnyana*

“Rahasia kesuksessan dalam hidup seseorang adalah siap untuk meraih kesempatan,

pada saat kesempatan itu datang.”

~ Benjamin Disraeli

Kelahiran setiap manusia di muka bumi ini sebenarnya telah melalui sebuah perjuangan berat, yaitu untuk melawan pesaing yang terdiri atas 36.000 kromosom pada saat proses pembuahan. Itulah saat bertemunya sel jantan dan sel telur. Kromosom-kromosom tersebut berlomba menjadi pemenang, sehingga persaingan terjadi begitu sengitnya. Demikian banyaknya kromosom dan kodratnya hanya satu yang bisa hidup, yang kemudian menjadi calon janin, dan akhirnya lahir ke dunia ini menjadi bayi serta kelak menjadi dewasa, dan seterusnya.

Itulah proses kelahiran yang di alami oleh setiap insan di muka bumi ini, termasuk juga Anda. Semangat untuk survive sebenarnya bukan hal baru, tetapi telah berawal semenjak kita berada dalam kandungan. Yang terpenting dari proses tersebut, bahwa sebetulnya kita adalah seorang juara.

Sesungguhnya, kita adalah mahluk luar biasa, karena kita telah mampu mengalahkan pesaing kita yang jumlahnya 36.000 tersebut. Kita memiliki jiwa unggul, sehingga siapa pun orangnya yang hidup di muka dunia ini, dia berpotensi sukses. Apa pun pekerjaan yang dilakoni dan di mana pun kita berada, kita berpeluang menjadi orang hebat melalui keunggulan yang kita miliki.

Keunggulan tersebut bisa kita raih, salah satunya karena adanya sebuah talenta dalam diri. Sebelum kita berbicara lebih lanjut, apakah itu talenta? Talenta sesungguhnya berarti kemampuan khusus yang menonjol yang dimiliki oleh setiap individu. Talenta, yang juga bisa disebut bakat, itu bervariasi jenisnya. Misalnya, bakat menyanyi, melukis, berbicara di depan umum, kemampuan memengaruhi orang lain, bercerita, menulis, menari, dan sebagainya.

Salah satu jenis talenta yang kita bicarakan saat ini adalah bakat menguasai bahasa asing. Dalam pengamatan saya sejauh ini, banyak sekali orang yang memiliki bakat ini, tidak terkecuali di belahan dunia manapun dia berada, dan apa pun latar belakang pendidikan yang dimiliki.

Saya sendiri pernah punya seorang murid yang mampu menguasai bahasa Rusia dengan cepat. Padahal, bahasa ini tergolong sulit secara tata bahasa, ditambah lagi pengalaman pendidikan bersangkutan yang tidak memadai, karena ia hanya tamatan SMP dan tidak memahami dasar bahasa Inggris.

Sungguh luar biasa, ia mampu menguasai bahasa asing dalam lima bulan, serta mampu berkomunikasi dengan kualitas yang lumayan. Kalau kita bandingkan, banyak sekali orang yang sudah belajar bahasa Inggris selama belasan tahun di bangku sekolah. Namun, kenyataan akhirnya mereka tidak mampu berkomunikasi secara memuaskan.

Perbedaan kualitas pencapaian tadi, salah satunya dikarenakan oleh faktor bakat, di samping ketekunan dan keinginan yang kuat. Kalau misalnya, setiap orang pasti memiliki bakat, yang berpeluang mengantarkannya menjadi manusia unggul. Lantas, mengapa banyak orang tidak berhasil dalam hidupnya? Berada dalam garis kemiskinan? Bahkan, sampai harus mengemis di jalanan agar mampu menghidupi keluarga sendiri?

Di mana masalahnya? Ternyata, masalah yang mendasar adalah mereka tidak mampu menemukan bakat alami yang ada dalam diri mereka. Kenyataan ini terjadi karena beberapa sebab, yang pertama adalah karena kurangnya wawasan.

Untuk hidup menjadi lebih sukses dari sisi finansial, seseorang tidak harus bekerja di perusahaan besar, tidak juga harus menjadi seorang pengusaha, atau profesi apa saja yang diketahui di sekitarnya. Lihat saja, seorang David Beckham yang terkenal dan kaya dari menjadi seorang pemain sepak bola, Tiger Wood yang menjadi kaya hanya karena dia adalah seorang pemain golf. Di Indonesia, ada Tukul Arwana yang menjadi bintang iklan laris, hanya berawal dari seorang bintang komedi, dan semakin meroket semenjak membawakan acara talk show Empat Mata (sekarang Bukan Empat Mata).

Mereka hanyalah contoh kecil dari manusia-manusia sukses, yang berjalan berdasarkan bakat alami yang ada dalam diri mereka.

Awalnya, mungkin secara kebetulan mereka terinspirasi oleh profesi orang lain, ataupun sebuah pencarian yang panjang. Namun, setelah sadar akan kemampuan yang dipahaminya, mereka lalu berusaha mengeksplorasi lebih jauh, terus mengembangkannya, serta fokus terhadap apa yang dilakukan.

Benyamin Franklin pernah mengatakan,Menjadi bodoh tidak begitu memalukan apabila dibandingkan dengan tidak memiliki keinginan untuk belajar melakukan sesuatu dengan benar.Di sekitar kita, kegagalan seseorang menganalisis dan memaksimalkan potensi bakat, untuk kualitas hidup yang lebih baik, terjadi karena kurangnya informasi atau peluang-peluang yang bisa diciptakan melalui bakat tersebut.

Yang kedua adalah peranan orang tua. Ternyata, lingkungan keluarga memiliki peranan terhadap perkembangan anak dalam menapaki karier masa depanya. Banyak sekali terjadi, anak harus menjadi apa yang dimau orang tua. Dengan alasan bermacam-macam, orang tua menyarankan atau menentukan profesi apa yang mesti dilakoni di anak. Menjadi seorang guru karena dia adalah seorang perempuan. Sementara, anaknya yang laki-laki harus menjadi seorang polisi, karena seorang polisi adalah figur yang disegani di kampungnya. Ada yang menyarankan menjadi seorang karyawan bank supaya cepat kaya.

Dari cerita tersebut, sesungguhnya untuk mengantarkan kepada penemuan bakat itu dibutuhkan kearifan orang tua ataupun orang terdekat. Mereka harus mampu mengantarkan anak mengenali talentanya sendiri dan bersedia membantu mengarahkan dan megembangkannya, bukan malah memasungnya.

Yang ketiga adalah karena adanya kesempatan. Ini merupakan permasalahan klasik yang dialami sebagian orang di negeri ini. Kurangnya kesempatan bisa disebabkan oleh letak geografis yang tidak memungkinkan, kendala ekonomi keluarga, atau keterbatasan informasi. Contohnya, bagi mereka yang hidup di pedalaman seperti di Irian Jaya atau daerah pelosok lainnya, tentu kesempatannya tidak seluas mereka yang tinggal di kota besar seperti Jakarta. Walaupun, kendala-kendala tersebut hanyalah blocking mental yang justru menghambat kita untuk mencapai sukses.

Kembali ke hal utama, yang perlu kita lakukan adalah sedini mungkin mengenali talenta yang kita miliki. Talenta sesungguhnya terbentuk melalui sebuah proses. Dia bukanlah sesuatu yang langsung bisa dipakai setelah dikenali, karena talenta bukanlah mantra. Dia perlu dieksplorasi dan didikembangkan secara terus-menerus supaya kualitasnya lebih baik. Jadi, jangan pernah berbesar hati dan yakin akan sukses hanya karena Anda telah memahami bakat sendiri, terlebih bila Anda tidak pernah mengembangkannya.

Terlepas dari kenyataan bahwa setiap orang memiliki bakat. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki talenta bidang tertentu? Apakah dia berpeluang sukses di bidang yang akan dilakoninya?

Jawabannya, bisa ya. Anda tidak salah baca karena ternyata ada suatu kekuatan yang bisa menandingi talenta, yaitu the power of kepepet.

Saya memiliki seorang teman di Bali. Dulunya, dia seorang manajer sebuah perusahaan swasta begaji lumayan besar. Karena suatu hal, kantor tempat dia bekerja ditutup dan musibah yang tak diharapkan terjadi, alias dia kena PHK .Cerita belum berakhir karena tulang punggung keluarga ada pada dirinya. Menemukan pekerjaan baru bukan lagi hal yang bisa ditawar, mengingat kewajiban menghidupi keluarga untuk biaya sehari-hari, biaya sekolah, belum lagi kredit rumah, kredit elektronik, semuanya tetap jalan.

Hari dan bulan terus berlalu, sementara dana cadangan keluarga sudah minus. Sementara, teman saya inin belum juga menemukan pekerjaan pengganti. Bisa dibayangkan, bagaimana kondisi psikologisnya saat itu. Dia sudah berupaya menemukan pekerjaan baru, namun tak satu pun yang cocok. Alasannya, dia tidak punya pengalaman, tidak ada bakat, latar belakang pendidikan yang beda, tidak pede, pekerjaannya tidak level, dan masih banyak lagi alasan lain.

Tidak jauh dari tempat tinggalnya, kebetulan ada tempat kursus bahasa asing yang membutuhkan guru les. Awalnya, kesempatan itu tidak menarik baginya. Dia ragu karena merasa tidak memiliki talenta menjadi seorang guru, apalagi tanpa pengalaman mengajar sama sekali.

Ternyata, setelah dia sadar terhadap tuntutan finansial keluarga, ia memutuskan mengambil kesempatan itu. Pada hari pertama penampilannya terasa kaku, sedikit stres, ada rasa ketidakyakinan akan kemampuan sendiri, dan takut dikomplain. Tetapi, sekali lagi begitu teringat masalah di rumah, pikiran rasionalnya terkalahkan. Hari demi hari dilewatinya dengan syukur di hatinya dan dengan komitmen untuk belajar, mengeksplorasi diri secara kontinu, dan menjadi profesional di bidangnya.

Usahanya berbuah, banyak pujian dan ungkapan terima kasih yang didapat, sementara job lebih banyak datang termasuk jasa les privat. Akhirnya, berbekal sedikit pengetahuan ilmu bisnis di tempat bekerja yang dulu, membuat teman ini harus membuka usaha sendiri. Anda tahu, saat ini usahanya jauh lebih dari sekadar usaha rumah tangga.

“Hidup itu berdasakan pilihan, bukan berdasarkan kesempatan, begitu kata Rozieta Shaary. Sebaliknya, talenta yang dimilikikalau tidak bisa dikenali dan dikembangkan dengan baik—maka talenta yang ada itu tak lebih dari sebuah harta karun yang terpendam, mubazir, dan lapuk. Dia tidak bermanfaat karena dia bukanlah mantra yang bisa dipakai kapan saja dengan hanya menyebut bim salabim.

Sebuah kemampuan, walupun tidak diawali bakat dalam diri, namun Anda melakukan dengan sepenuh hati, bersedia untuk belajar dan mengenal lebih jauh dan kemudian mengembangkannya, maka tidak ayal lagi, Anda malah akan lebih berhasil.

Pelajaran tadi memberikan kesimpulan bahwa talenta tidak menjamin orang yang memilikinya untuk sukses. Sebaliknya, tanpa talenta pun orang bisa akan sukses, apabila yang bersangkutan besedia belajar secara sunguh-sungguh, dan terus mengembangkan kecakapannya tanpa dalih apa pun. Lebih-lebih kalau orang berada dalam kondisi kepepet. Tinggal sekarang bagaimana menciptakan kondisi kepepet pada diri Anda? Atau, bagaimana mengondiskan diri seakan-akan seperti kepepet?

Tidak ada jalan pintas untuk meraih sukses. Namun, ada jalan yang efektif dan efisien, yaitu melalui kerja cerdas, kerja keras, dan kerja sama. Kerja cerdas dilakukan dengan belajar dari pengalaman orang-orang sukses, kerja keras dengan mempraktikkannya secara konsisten, dan kerja sama dengan senantiasa saling mendukung untuk melakukan kerca cerdas dan kerja keras.[pa]

* Putu Adnyana, MBA adalah Direktur Russian Centre dan Trinita EDU (Education,Development and Foundation. Ia dapat dihubungi melalui websitenya www.balirussiancentre.com atau atau email: adptad[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Revolusi Metode Pembelajaran Bahasa Asing

Putu AdnyanaOleh: Putu Adnyana*

Belajar bahasa sebenarnya tidak sulit, tetapi juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Yang penting adalah kemauan, ketekunan, dan praktik. Pakar pembelajaran bahasa, Douglas Brown, berpendapat tentang lima prinsip dalam belajar bahasa. Salah satunya, agar pencapaiannya maksimal, misalnya belajar bahasa Rusia, semestinya dilakukan di Rusia juga (di tempat bahasa ibu). Umumnya, proses belajar seperti itu akan membuat kita lebih cepat menguasai bahasa asing tersebut. Karena, setiap hari kita bisa menerapkan secara langsung bahasanya, mulai dari tempat tidur sampai kembali ke tempat tidur.

Mengapa bisa cepat? Karena, dengan cara seperti itu, bahasa Rusia sudah tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Jika tidak demikian, kita harus menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan kita dengan menerapkannya di mana saja, di setiap saat. Misalnya, dengan terlibat membaca, mendengar, menulis, dan berbicara dalam bahasa Rusia. Yang terpenting, kita harus secara konsisten mengondisikan waktu untuk membaca artikel dalam bahasa Rusia setiap hari,
Membiasakan telinga kita mendengarkan bahasa Rusia, baik melalui kaset berupa lagu, berita, pidato, presentasi, atau kaset pelajaran bahasa.

Berusahalah juga untuk mencoba menulis untaian kata-kata, seperti menulis memo, surat pendek, rencana ke depan, paragraf/komentar tentang beberapa hal, apalagi yang berhubungan dengan kepentingan guiding. Jadi, kelilingi hidup kita dengan bahasa Rusia, tentunya dengan topik-topik yang kita senangi.

Selanjutnya, libatkan diri Anda dengan total commitment secara fisik, yaitu dengan mencoba mendengar, membaca, menulis, melatih pengucapan, terus-menerus dan berulang-ulang. Tiga tahapan dalam belajar bahasa harus dikuasai,yaitu pengenalan, pemahaman, dan pengembangan.

Berdasarkan pengalaman saya melewati proses pembelajaran dan penguasaan beberapa bahasa asing, akhirnya saya menemukan cara belajar yang lebih efektif, yang saya namai dengan metode Interlanguage. Pendekatan ini sangat efektif untuk mendapatkan banyak perbendaharaan kata. Pada saat awal dua minggu saya menggunakan metode ini, saya temukan sampai 500 kata, yang saya tahu artinya tanpa melihat di kamus. Wow, dahsyat, bukan?

Metoda Interlaguange ini sangat efektif untuk merangsang dan memaksimalkan fungsi kerja otak dan daya ingat kita, yang mana menurut Dr. Goulman, kita baru memanfaatkannya sekitar 5,75 persen saja dari keseluruhan kekuatan kerja otak kita.

Banyak orang bertanya kepada saya, “Pak Putu, kalau harus memilih, mana yang lebih didahulukan, kosa kata/vocabulary atau tata bahasa/grammar? Saya tegaskan, bahwa terlebih dahulu Anda harus menguasai perbendaharaan kata, baru kemudian tata bahasanya. Analoginya, mengetahui tata bahasa tetapi minim kosa kata, Anda tak lebihnya bagai orang yang bisa melihat tetapi lumpuh. Sebaliknya, mempunyai kosa kata yang bagus tetapi minim pengetahuan tata bahasa, tak lebihnya adalah Anda itu orang yang bisa berjalan ke mana-mana tetapi buta.

Belajar bahasa juga tak lebih sulit dari belajar naik sepeda motor atau menyetir mobil. Kita tidak bisa mahir hanya dengan membaca buku manualnya, tetapi harus mencoba menggunakannya. Sangat wajar kita melakukan kesalahan. Yang terpenting adalah kita mengetahui kesalahan dan melakukan perbaikan pada kesempatan berikutnya. Biasanya, kita memang tidak gampang melupakan kritik/ralat yang dilakukan oleh orang lain terhadap kesalahan yang kita perbuat.

Ada banyak cara belajar, jadi ciptakanlah strategi belajar yang sesuai dengan kepribadian dan gaya belajar Anda masing-masing. Misalnya, ada yang lebih mudah belajar dengan menggunakan cue card, yaitu kartu kecil yang bertuliskan kata-kata yang ingin kita kuasai, disertai dengan contoh kalimat yang bisa menggunakan kata-kata tersebut. Kartu ini bisa dibawa kapan saja, di mana saja, misalnya pada saat Anda menunggu tamu di lobi, sedang menunggu taksi, menunggu hidangan makan siang, dll. Kita bisa mencoba dengan mengambil karu ini dan membacanya, serta melakukan improvisasi dengan kata-kata baru dalam struktur kalimat yang sama.

Ada pula yang lebih mudah belajar dengan berkomunikasi secara lisan dengan orang lain atau native speaker. Dari komunikasi ini, mereka bertanya, mendengar, memperbaiki ucapan, dan meningkatkan kosa kata.

Gaya belajar juga terbentuk berdasarkan kebiasaan kita sehari-hari. Ada beberapa macam pendekatan gaya belajar, seperti auditory learners merupakan cara mudah belajar dengan medengarkan. Cara ini bisa ditunjang dengan banyak mendengarkan lagu-lagu favorit, berita, pidato, menyimak lebih banyak percakapan dalam bahasa asing. Dengan unkapan dan ucapan yang digunakan, perhatikan konteks ataupun situasi di mana kata-kata tersebut digunakan. Lalu, lakukan hal ini berulang-ulang, maka kita akan bertemu dengan ungkapan serupa, yang dapat kita latih secara berkala sehingga kita lebih mahir mengucapkan dan menggunakannya.

Tipe visual learners adalah apabila Anda termasuk orang yang lebih mudah belajar melalui input visual, seperti gambar dan tulisan. Banyak cara bisa diterapkan menurut gaya belajar ini, misalnya mambaca artikel-artikel yang menarik dalam bahasa Asing, atau membaca tulisan-tulisan yang dianggap penting di koran, internet, atau majalah. Bisa juga menulis contoh surat, proposal, dan brosur. Untuk memahaminya, kita bisa menceritakannya kembali dengan kata-kata yang kita susun sendiri, baik dalam bentuk tulisan ataupun ucapan. Bisa juga kita menggambarkannya dalam bentuk visual flow chart, table, atau bentuk visual lainnya.

Tipe kinesthetic learners merupakan cara belajar yang lebih cocok dengan menggunakan gerak, misalnya dengan menulis (menggerakkan tangan untuk menulis ), atau mencoba memahami sebuah kata/ungkapan dengan membayangkan gerakan, yang biasa diasosiasikan dengan arti kata-kata tersebut. Biasanya, cara belajar seperti ini memerlukan alat bantu, seperti komputer atau alat peraga lainnya.

Kita bisa mencoba satu per satu metode tadi. Kenyataannya, setiap orang bisa memiliki lebih dari satu gaya belajar. Jika kita sudah mengenalnya, tinggal menerapkan sesuai dengan gaya belajar tersebut agar hasilnya bisa lebih efektif.

Pakar Smart English mengatakan, roh dalam belajar bahasa asing intinya ada tiga, yaitu praktik, praktik, dan praktik. Pakar bahasa yang pernah menekuni studi bahasa Indonesia di Universitas Gadjah Mada ini juga menekankan, bahwa tidak penting kepada siapa Anda mempelajarinya, tetapi yang penting adalah apa yang Anda lakukan setelah mempelajarinya.

Pendapat bahwa knowledge is a power tidak seutuhnya benar karena dia hanyalah sebuah alat/tool. Yang lebih benar adalah, knowledge is a potential power. Karena, pengetahuan yang Anda miliki akan berdaya guna apabila Anda selalu menggunakannya atau mempraktikkannya di setiap kesempatan. Di sana Anda akan mengalami sebuah proses pembelajaran, pergerakan, dan kemajuan.

Dan, knowledge tadi akan memberikan hasil apabila Anda menggunakannya bukan pada tempat yang memerlukan. Tumbuh tanpa berbuah adalah dosa terbesar yang diperbuat oleh umat manusia, demikanlah petikan ayat dari sebuah Kitab Suci. Artinya, Tuhan telah memberikan kita potensi atau talenta. Tetapi, kita tidak akan pernah menyadarinya, tidak memanfaatkannya secara maksimal. Sebaliknya, kita malah menyia-nyiakan kemampuan dan kesempatan sebagai akibat dari kemalasan dan keragu-raguan kita. Selamat belajar untuk berbuah! Sukses untuk Anda![pa]

* Putu Adnyana, MBA adalah Direktur Russian Centre dan Trinita EDU (Education,Development and Foundation. Ia dapat dihubungi melalui websitenya www.balirussiancentre.com atau atau email: adptad[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (16 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

The Science of Getting Rich

paOleh: Putu Adnyana*

“Anda kaya, atau miskin tergantung pada bagaimana Anda melihat diri Anda sendiri.”
~ J. Donald Walters

Banyak sekali orang penasaran akan apa sebenarnya yang disebut dengan kaya. Ada yang menyatakan, pada saat saya mendapatkan gaji sebesar lima juta rupiah sebulan, maka saya akan menjadi bagian dari orang kaya. Sebagian mengatakan, biarpun saya hanya memiliki selembar uang seratus ribu rupiah di kantong, tetapi saya merasa diri saya adalah orang kaya. Untuk kalangan atas, kaya malah diidentikkan dengan jumlah depositonya yang mangkal di beberapa bank besar sehingga dikenal istilah kaya tujuh turunan. Semuanya tentu sah-sah saja.

Tetapi, menurut Mr. Rich Dad Robert Kiyosaki, definisi kaya adalah jumlah/lamanya waktu orang tersebut mampu bertahan pada saat dia berhenti bekerja. Maksudnya, yang bersangkutan tetap bisa menikmati kualitas hidup yang sama seperti waktu masih aktif bekerja.

Sebagian besar orang, pada saat dia berhenti bekerja, terpaksa harus merogoh tabungan, mulai berutang, atau menjual aset untuk mempertahankan kesinambungan hidupnya. Bahkan, yang lebih tragis lagi seperti yang dia alami oleh petinju Mike Tysonyang dulu dijuluki sebagai salah satu petinju super kayakini harus terjerat utang demi mempertahankan gaya hidupnya. Jadi, yang dimaksud kaya adalah mampu bertahan dengan kualitas hidup yang sama walaupun sudah berhenti bekerja. Misalnya, pada saat masih bekerja mengendarai mobil BMW, saat pensiun pun tetap mengendarai mobil BMW, bukan Kijang apalagi sepeda.

Masalah berikutnya, bagaimana cara untuk menjadi kaya? Bagaimanakah pola hidup yang benar untuk menjadi kaya? Apakah orang harus menjalani hidup dengan benar-benar mengencangkan ikat pinggang?

Kalaupun harus meniti karier, profesi apakah yang bisa menjadikan diri kita kaya?
Kalaupun harus berwiraswasta,
jenis usaha seperti apa yang pasti bisa membuat kaya? Dan sebagainya. Yang jelas, pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan dalam batin yang jamak dimiliki oleh setiap orang untuk mendapatkan hidup yang lebih baik.

Menurut Wallace D. Watlles dalam bukunya The Science of Getting Rich diungkapkan bahwa kaya adalah:

Bukan masalah irit atau kaya

Menjadi kaya adalah bukan masalah jenis usaha tertentu

Bukan masalah profesi tertentu.

Kebanyakan orang berpikir bahwa kekayaan yang bisa diraih dengan mesti melewati kondisi tertentu. Pemikiran semacam initanpa disadariakan menjadikan kreativitas kita terbelenggu oleh pemikiran atau kemungkinan lain, yang memungkinkan setiap individu untuk meraih kekayaan. Kenyataan ini di dukung oleh kitab The Secret, bahwa alam semesta ini menyediakan kesempatan, kemungkinan, dan sumber daya berkelimpahan yang bisa dieksplorasi seluas-luasnya. Tinggal sekarang bagaimana kita mampu menggunakan imajinasi, kreativitas, ataupun pengetahuan yang kita miliki untuk menggapai semua yang kita harapkan.

Hidup bersahaja memang membantu agar kita bisa menyisihkan uang, syukur untuk ditabung demi kepentingan kelak. Cuma, ada kenyataan lain dari perilaku seseorang, yang mana karena terlalu berambisi menghimpun kekayaan, sampai-sampai menyengsarakan kehidupan dan keluarganya, sehingga orang harus tampil sehemat mungkin. Bahkan, orang sampai membatasi kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

Tentunya, berkepribadian boros, berfoya-foya, lepas kontrol, atau cenderung menghambur-hamburkan uang juga bukan langkah yang bijaksana. Bisa dibayangkan, apa jadinya apabila uang digunakan tanpa tujuan yang jelas, apalagi kalau tidak mengarah kepada financial planning dan financial management yang benar.

Robert T. Kiyosaki pernah mengungkapkan, “Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan bahwa mencari kekayaan identik dengan uang. Karena, itu berarti orang tersebut tidak tahu makna kaya yang sebenarnya. Mereka bekerja samata-mata demi uang sehingga menjadi budak uang.”

Jadi, langkah yang bijaksana adalah bagaimana kita menjadikan uang sebagai salah satu sumber kekayaan, sebagai alat, sarana, dan umpan untuk mencapai kekayaan. Dalam pepatah China, uang diibaratakan seperti burung merpati. Apabila kita bisa memperlakukannya dengan baik, dia akan mengajak teman-teman lainnya ke sarang untuk tinggal bersama. Sebaliknya, apabila dia merasa tidak nyaman di rumah, maka dia akan mengajak teman-temannya untuk pergi menjauh. Sarang di sini diibaratkan tuan dari uang itu sendiri.

Banyak juga anggapan menyatakan bahwa kekayaan terwujud bagi mereka yang memiliki bisnis tertentu. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah bisnis super mega yang beromset miliaran atau triliunan. Memang kita akui, semakin besar risiko yang ditanggung, semakin besar juga peluang untuk mendapatkan hasil lebih banyak. Tetapi, hukum ini tidak seutuhnya benar karena banyak juga bisnis kecil yang awalnya merangkak, pelan tetapi pasti kemudian mendapatkan omset yang besar dan sukses.

Sebaliknya, saat sekarang ini semakin banyak saja deretan perusahaan yang berawal dengan modal besar, memiliki cashflow besar, namun nasibnya babak belur, hancur, dan akhirnya tutup. Jangankan membuat pemiliknya tambah kaya, malah bisa jadi pemiliknya mendekam di penjara.

Lantas, kalau Anda seperti orang lainnya berpikir, dengan membuka bank kita akan kaya, kenyataanya banyak pemilik bank yang tidak kaya. Malahan, bank akhirnya tutup, bahkan ada pemiliknya yang mendekam di penjara. Sejarah perbankan Indonesia mencatat kisah Bank Suma, Bank BDNI, Balido Group, dll. Ceritanya berlanjut hingga kejadian pascakrisis ekonomi 1998. Begitu banyak bank yang ditutup.

Kalau Anda berpikir bahwa dengan membuka supermarket Anda akan tambah kaya, kenyataanya ada juga pemilik supermarket yang terlilit hutang sampai-sampai tidak bisa bayar cicilan. Bagaimana dengan bisnis hotel? Kalau Anda mau, saya bisa carikan hotel-hotel yang sekarang lagi di jual oleh pemiliknya di Bali, Lombok, Jakarta, atau di Yogyakarta.

Sebaliknya, banyak juga usaha kecil, dimulai dari kecil, bahkan dari garasi rumah, namun hasilnya sangat memuaskan. Sebut saja Apple computer dan kisah Bill Gates dengan Microsoftnya. Atau Purdi Chandra dengan Primagama yang sekarang memiliki ratusan cabang di seluruh Indonesia, yang ternyata dimulai dengan dua murid dari anak tetangga, dan gratisan lagi.

Lalu, mengenai profesi tertentu yang menjadikan orang kaya. Anda mungkin melihat bahwa profesi seperti dokter, pengacara, notaris, CEO, atau profesi lainnya bisa menjadikan orang kaya. Kenyataannya, tidak semua dokter di Indonesia itu kaya. Juga tidak semua pengacara kaya, begitu juga tidak semua notaris kaya. Sebaliknya, banyak contoh yang mana profesi yang tidak dianggap sebelah mata pun, tetapi karena dilakoni dengan sepenuh hati dan pemikiran kreatif, ternyata justru mendatangkan rezeki lebih banyak dari yang dibayangkan kebanyakan orang.

Ada satu kisah kehidupan nyata yang inspiratif dari keluarga seorang satpam di Jakarta. Penghasilan per bulan satpam tersebut bisa dibilang tidak cukup untuk membiayai biaya kehidupan keluarganya yang tinggal di kota besar. Karena masalah tersebut, satpam ini mulai memikirkan usaha tambahan untuk meningkatkan penghasilan bulanan. Dengan modal nol rupiah, dia menjalani pekerjaan sebagai pemulung. Setelah memiliki banyak teman, kemudian dia tahu kepada siapa mesti menjual hasil pulungannya. Akhirnya, dia putuskan untuk mengordinir teman-temannya sesama pemulung, kemudian membeli barang hasil pulungan itu dan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi.

Setelah sekian lama pekerjaan ini dilakukan, akhirnya berbuah juga tanpa dia meninggalkan posisi sebagai satpam. Menjadi penadah barang bekas dia anggap sebagai profesi tambahan selains ebagai satpam. Dan sekarang, penghasilan si satpam ini rata-rata Rp 30 juta per bulan. Tentu, itu jauh lebih besar dari posisi satpam di sebuah hotel. Walaupun demikian, pada saat sang kepala sekolah dari anak si satpam ini menanyakan pekerjaan ayahnya, demi sebuah gengsi si anak lebih ini bangga menyatakan bahwa pekerjaan orang tuanya adalah satpam hotel.

Kalau saya lanjutkan petikan utuh dari sebuah bait dalam buku Wallace D. Wattles ini, akan tergambar demikian:

Menjadi kaya adalah

Bukan masalah irit atau kaya

Bukan masalah jenis usaha tertentu

Bukan masalah profesi tertentu

Bukan masalah keterlibatan anda pada bisnis tertentu

Tetapi pembelajaran untuk melakukan hal dengan cara tertentu.

Lebih lanjut, bahwa tehnik-tehnik penyelarasan dengan diri yang lebih dalam, yang pada gilirannya menciptakan saluran komunikasi antara diri seorang dan energi semesta. Kenyataannya, semesta adalah gudang kekayaan yang tidak pernah kering, dan bahwa ada lebih dari cukup kekayaan untuk membuat hidup setiap manusia berkelimpahan. Yang perlu kita lakukan untuk mendatangkan kekayaam itu adalah; memahami hukum tarik-menarik dengan menerapkan proses visualisasi agar kita bisamencetakpikiran kita kepada “Zat Dasar” yang tak berbentuk dan mewujudkan benda atau keadaan yang kita inginkan.

Joe Vitale dalam bukunya LOA atau Law of Attraction, menjabarkan lebih lanjut tentang peranan alam melalui salah satu kekuatan tarik-menarik dan seberapa ampuh peranan the power of visualization. Kenyataannya, banyak sekali orang yang menjalani kehidupan dengan santai, melakoni pekerjaan yang digelutinya, tetapi mendapatkan nimat hidup yang luar biasa karena rezekinya.
Yang berbeda
dari orang-orang seperti mereka itu adalah bahwa mereka melakukan sesuatu, baik itu pekerjaan, profesi, atau mengelola keuangannya dengan cara tertentu.

Mereka selalu berpikir positif, antusias, dan yang paling penting mereka tidak pernah kenal menyerah. Mereka memikirkan terobosan, cara berpikir alternatif, efisien, dan produktif sehingga melalui sebuah perenungan dan keyakinan akhirnya mampu melakukan idenya dengan cara yang berbeda.

Kita bisa sebut contoh misalnya usaha kaos oblongnya Pak Jogger yang punya strategi antimarketing; tidak boleh belanja lebih dari 12 biji. Jurus ini malah bikin konsumen tambah bernafsu untuk belanja. Makanya, untuk kalangan wisatawan domestic, semua orang pasti mengenalnya. Setiap orang yang berlibur ke Bali, apabila tanpa dilengkapi dengan kunjungan ke pabrik kata-kata Jogger, maka liburan serasa belum lengkap.

Pada awalnya, banyak juga meremehkan terobosan Tirto Utomo tahun 1974 yang menggagas air mineral dalam kemasan merek Aqua. Secara logika, bumi Indonesia yang berkelimpahan dengan air, mana mungkin masyarakatnya mau mengeluarkan uang hanya untuk sebotol air minum? Namun kenyataannya, sekarang Aqua merupakan nama generik untuk air minum dalam kemasan. Perjalanan Sosro Joyo, perintis minuman teh dalam botol, tahun 1974 juga tidak jauh berbeda. Mereka berdua adalah orang-orang yang memiliki pemikiran sebagai seorang entrepreneur sejati. Mereka menang dengan metode kreativitas, bukan dengan metode persaingan.

Dalam dunia kreatif, tidak pernah mengenal kata ketergesaan dan tidak pernah kekurangan yang namanya kesempatan. Tidak ada orang lain yang bisa mengalahkan Anda apabila itu menyangkut hal-hal yang ingin Anda lakukan. Ada cadangan kekayaan yang cukup untuk semua orang. Jika sebuah tempat telah diambil, tempat lain yang lebih baik akan terbuka untuk Anda. Bagaimana dengan Anda sendiri? Kaya adalah hak setiap orang, termasuk Anda. Sebab, kekayaan dan kemiskinan adalah keadaan pikiran.[pa]


* Putu Adnyana, MBA adalah Direktur Russian Centre
, Trinita EDU (Education, Development and Foundation), Crab House, Segara Rest, Ipems, Adro Mart, dan Russian & Italian Interpreteur. Putu adalah penemu metode Inter-L, yaitu cara mudah belajar bahasa asing. Ia dapat dihubungi melalui telepon 0361-8479675, handphone 08123900976, atau melalui website-nya www.balirussiancentre.com atau atau email: adptad[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.6/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox