Memadukan Pembelajaran dan Entrepreneurship
Editor | Kolom Lepas | May 12th, 2009 | 2 Comments »
Oleh: Putu Adnyana*
“Knowing is nothing. Applying what you know is every thing.”
~ Bruce Lee
Para pakar dan peneliti perilaku manusia menyatakan bahwa 77 persen dari apa yang kita pikirkan bersifat negatif, kontraproduktif, dan melawan diri kita. Akibatnya, banyak penyakit yang diderita oleh manusia berasal dari kondisi pikiran negatif sendiri.
Menjadi pribadi sukses merupakan dambaan setiap insan, meskipun tidak setiap orang mampu mewujudkannya. Salah satu perjuangan secara intelektual untuk meraihnya adalah dengan mengikuti seminar, membaca buku-buku dahsyat, mendengarkan kaset/CD, menonton DVD, hingga mencari mentor pribadi. Saat ini, tidak sedikit program seminar yang ditawarkan tentang bagaimana cara cepat meraih kesuksesan. Melalui topik-topik seperti pengembangan pribadi, tentang pengelolaan keuangan, sampai mengenai spiritualitas.
Juga ada seminar tentang rahasia agar tahan banting menghadapi segala macam krisis yang terjadi belakangan ini, sehingga kita mampu eksis menghadapi ancaman yang ada, bahkan cerdik menangkap peluang. Tema-tema tersebut sanggat menggugah karena berupaya menawarkan angin perubahan kualitas hidup yang lebih baik. Apalagi, para narasumbernya adalah tokoh yang karismatik dan pebisnis sukses di bidangnya.
Dilengkapi tayangan video, ilustrasi musik yang pas, membuat isi tema semakin menarik. Saking mantapnya, kita sampai dibuat begitu yakin bahwa setelah keluar dari ruangan seminar, apa yang menjadi obsesi kita selama ini—target penjualan yang sebelumnya terasa bagai bumi dan langit, misalnya—kini serasa semudah membalikkan telapak tangan kanan.
Namun apa kenyataannya? Harapan tadi hanyalah ilusi tanpa batas. Karena, jangankan untuk menerapkan segala petuah yang didapat dalam ruangan seminar, nyatanya daya ingat kita semakin menurun seiring berlalunya waktu. Dan lucunya, bila kita ditanya tentang isi seminar tersebut pada bulan berikutnya, sering kali kita berujar, “Apa ya…? Sudah lupa, tuh!”
Jujur, saya pun sering mengalami kondisi ini pada awalnya, termasuk rekan-rekan saya. Dan, saya yakin Anda pun pernah mengalaminya. Kalau begitu, di mana salahnya?
Ternyata, pesan yang disampaikan oleh para pembicara menghasilkan respon yang berbeda di objek audiensnya. Kebanyakan peserta semangat—karena topik yang dibawakan sebegitu menariknya, atau karena hanya bersimpati besar kepada pembicaranya—kita terhanyut oleh suasana. Bahkan, sekedar ikut-ikutan teman sehingga semangat dan keyakinan diri yang diterima akan semu sifatnya. Itulah sebabnya, tak ayal lagi, lambat laun semangat hasil seminar itu akan terkikis.
Seyogyanya ketertarikan dan manfaat akan hal tersebut dirasakan di dalam diri, dan dirasakan dengan hati, bukan hanya dalam logika sebagaimana kita rasakan selama ini. Kemampuan untuk mengintegrasikan apa yang kita pelajari ke dalam pikiran bawah sadar, tanpa menimbulkan konflik diri, itu sangatlah penting. Lebih efektif lagi bila ada komitmen diri untuk mengaplikasikan semua ilmu yang didapat.
Tidak salah untuk menjadi pribadi sukses. Motivator sukses Indonesia yang memperkenalkan istilah “pembelajar” Andrias Harefa, menawarkan konsep jiwa pembelajar kepada kita. Menurutnya, Manusia Pembelajar adalah setiap insan yang bersedia menerima tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting, di antaranya:
Pertama: Berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi dan bakat terbaiknya, dengan selalu berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistensial. Seperti: Siapakah aku ini? Dari mana aku datang? Ke mana aku akan pergi? Apa yang menjadi tanggung jawabku dalam hidup ini? Kepada siapa aku percaya?
Kedua: Berusaha sekuat tenaga mengaktualisasikan segenap potensinya itu, mengekspresikan, dan menyatakan diri sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan sesuatu yang bukan dirinya. Bahkan, orang super kaya dari India pun, Mr. Mukesh Ambani berpendapat, “Ketika kita dibiarkan melakukan apa yang kita inginkan, kita akan menemukan potensi sejati kita.”
Pada awal perjalanan untuk belajar berwiraswasta, saya melakoninya tanpa proses yang begitu rumit. Saya hanya menyambut ajakan lima orang rekan untuk membuka sebuah rumah makan dengan sistim patungan (joint). Karena belum punya pengalaman berwiraswasta sebelumnya, keputusan saya ambil tanpa banyak analisis. Syukurnya, bisnis tersebut bisa jalan dengan dengan lancar, bahkan semakin baik, walaupun akhirnya usaha itu menjadi milik kami berdua. Karena, partner kami yang lain memutuskan untuk berkonsentrasi kepada bisnis keluarga mereka.
Yang menarik untuk diceritakan di sini adalah bahwa jauh hari sebelumnya, pada suatu sore, saya sempat mengobrol dengan seorang karib tentang cara berbisnis. Dari sekian banyak isi pembicaraan kami, saya teringat teman saya berujar, “Kalau Kita buka bisnis nanti, maka usaha tersebut seharusnya yang idenya fresh dan tidak ada saingannya.”
“Benar, soalnya payah juga seperti yang kita lihat selama ini, setiap ada usaha baru yang sukses, pasti tak lama berselang akan muncul orang lain yang mengikuti usaha tersebut,” timpal saya tidak mau kalah.
Dua tahun kemudian, sebuah acara mempertemukan kami, dan ternyata kondisi teman saya tidak berubah, karena dia masih setia kepada paham lamanya. Sebaliknya, saya merasa bersyukur karena sudah take action duluan. Kami berbicara banyak tentang kondisi terakhir kami masing-masing. Merasa masih ada ganjalan di hati teman saya, melalui acara makan siang dia mengundang saya untuk melanjutkan obrolan kemarin.
Satu pertanyaan diajukan kepada saya, “Mengapa saya belum menemukan ide bisnis yang bagus dan orisinal?”
Akhirnya, saya menjawab, “Ya… teman, bagaimana mungkin kamu bisa menciptakan usaha yang tanpa saingan atau murni ide sendiri? Sementara, kamu sendiri belum pernah mengunjungi pulau lain, apalagi negara orang lain, terus ide dari mana?”
“Terus, bisnis apa yang bagus saat ini?” tanya teman saya lagi.
“Bisnis yang bagus adalah bisnis yang langsung dibuka dan dijalani,” tegas saya.
“Tapi, modal saya belum siap…” dia beralasan lagi.
Sesungguhnya, modal utama yang sangat diperlukan untuk memulai bisnis adalah semangat dan keberanian untuk mengambil risiko. Para mentor kami sering menyarankan agar kami menambah keberanian dalam mengambil keputusan dengan menggunakan otak kanan. Entrepreneur adalah seseorang yang menyukai perubahan, melakukan temuan-temuan yang membedakan dirinya dengan orang lain, menciptakan nilai tambah, memberi manfaat bagi dirinya dan orang lain. Semangat dan karya yang berkelanjutan, bukan ledakan sesaat.
Kita bisa memulai sebuah usaha yang membutuhkan modal kecil, hitung-hitung sambil belajar. Itu pun kalau ada modal. Kalau tidak, gunakan jurus guru saya, yaitu BODOL (Bisnis Optimis Duit Orang Lain ). Maksudnya, bisa meminjam uang/modal dari nenek, ipar, mertua, atau siapa saja.
Bila tidak memiliki ide bisnis yang akan dibuka, maka gunakan jurus berikutnya BOIOL (Bisnis Optimis Ide Orang Lain), selanjutnya ada jurus BOTOL (Bisnis Optimis Tenaga Orang Lain) kalau belum punya karyawan, BOKOL (Bisnis Optimis Kantor Orang Lain), dan seterusnya.
Untuk memperkecil risiko kegagalan, maka sebelum membuka usaha ada baiknya mempertimbangkan dua pertanyaan berikut:
1. Dengan cara apa atau bagaimana usaha tersebut nantinya mendapatkan uang?
2. Dengan cara bagaimana menggunakan uang yang telah diperoleh tersebut?
Permasalahan akan selalu ada, tidak hanya di awal usaha tetapi juga pada saat usaha sedang berjalan. Masalah bisa berupa persoalan manajemen usaha, manajemen keuangan, hingga pada permasalahan SDM, pengembangan usaha, dan lainnya. Diperlukan sebuah formula agar usaha tetap eksis dalam persaingan, kondisi dan waktu yang sulit, sehingga usaha nantinya bisa diwariskan ke anak cucu. Ini memang tidak gampang sehingga ada pemeo yang mengatakan, “generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, generasi ketiga menghancurkan.”
Permasalahan klasik yang menimpa perusahaan sukses dan berumur adalah munculnya sifat egoisme aristokrasi, merasa diri hebat tanpa tandingan, cepat berpuas diri, atau jenuh hingga merasa tidak perlu berinovasi lagi. Sementara, perubahan era memaksa kita untuk beradaptasi. Sebab kalau tidak, tak ayal lagi perusahaan akan berada dalam titik deklinasi dan pasti akan jatuh.
Dalam kondisi seperti ini dibutuhkan seseorang pemimpin yang berjiwa entrepreneur yang mampu membangun dan menyebarkan semangat kewirausahaan dalam budaya perusahaanya. Lihat saja perusahaan Stora (Swedia) yang berumur 700 tahun lebih, atau Sumitomo berumur 400 tahun. Saat ini, di Indonesia sederet nama seperti Astra, Kompas Gramedia, dan Konimex disebut-sebut mampu mengikuti sukses mereka.
Seseorang yang bersemangat entrepreneur sejati mampu mengilhami bawahan. Dia bagaikan sebuah besi sembrani, seklaigus mampu menyebarkan aura positif, sehingga di tangannyalah perusahaan terus berkembang. Jiwa seorang entrepreneur akan lebih mapan lagi bila dilandasi dengan semangat jiwa pembelajar.
Usai saya jelaskan panjang lebar seperti itu, teman saya manggut-manggut penuh semangat, seakan setuju dengan pemaparan saya. Pada pertengahan perjalanan kami menuju kota Denpasar, tanpa sengaja di sepanjang jalan by pass Kuta, saya melihat seorang teman saya lainnya duduk di depan sebuah ruko. Merasa sudah tiga tahun tidak pernah bertemu, tanpa pikir panjang saya putar haluan untuk menghapirinya. Ternyata, ruko tersebut adalah miliknya sendiri yang dibangun dua setengah tahun yang lalu.
Sayangnya, semenjak dibuka hingga saat ini, belum pernah ada usaha di tempat tersebut. Setelah saya tanya mengapa, dia katakan, “Ruko ini sebenarnya saya bikin sendiri untuk berwiraswasta. Namun, keinginan itu tak kunjung terwujud karena saya takut kalau usaha saya nanti gagal!” Ups, ini soal the power of take action rupanya.[pa]
* Putu Adnyana, MBA adalah Direktur Russian Centre, Trinita EDU (Education, Development and Foundation), Crab House, Segara Rest, Ipems, Adro Mart, dan Russian & Italian Interpreteur. Putu adalah penemu metode Inter-L, yaitu cara mudah belajar bahasa asing. Ia dapat dihubungi melalui telepon 0361-8479675, handphone 08123900976, atau melalui website-nya www.balirussiancentre.com atau atau email: adptad[at]yahoo[dot]com.
Oleh:
