Memangnya Enak Jadi Anak Zaman Sekarang?
Editor | Kolom Lepas | April 13th, 2009 | No Comments »
Oleh: Petriza Giovanni*
“Besok kamu ada waktu enggak buat bikin tugas bareng?”
“Besok kan Jumat, aku ada les Inggris sepulang sekolah.”
“Lusa deh kalau gitu….”
“Kalau Sabtu, aku ada les piano ama biola.”
“Emmm… kalau Minggu? Masa ada les juga?”
“Ada. Les motivasi dari pagi sampai sore.”
“Hah???”
Sekilas percakapan di atas tampak agak dibuat-buat. Masa sih, hampir setiap hari ada les? Memang, begitulah kira-kira schedule-nya anak-anak Ibukota. Setiap hari, anak-anak yang tinggal di Ibukota tidak pernah lepas dari kegiatan les. Ada bermacam-macam jenis les yang mereka ikuti, mulai dari les pelajaran sekolah, les bahasa, les musik, les berenang, sampai les yang lagi ngetren saat ini, les mind mapping dan les motivasi.
Tidak hanya anak SMA yang memiliki banyak kegiatan les di luar sekolah. Anak SD pun sudah memiliki banyak kegiatan di luar sekolah. Bahkan, yang lebih mencengangkan lagi, anak TK pun sudah memiliki kegiatan les. Kasihan anak-anak sekarang. Mereka harus mengorbankan masa kecil, yang seharusnya indah dan penuh kenangan, kini bagai siksaan yang bisa saja menjadi trauma bagi kehidupan mereka di masa mendatang.
Apa sih sebabnya, sehingga mereka harus menanggung beban yang sedemikian berat setiap hari? Ada beberapa sebab yang cukup signifikan. Salah satunya adalah semakin beratnya pelajaran di sekolah. Tambah tahun, kurikulum di negara tercinta kita ini bukannya semakin membaik, malah semakin memburuk. Jika Anda perhatikan, setiap pergantian menteri di Departemen Pendidikan, maka kurikulum pun akan berganti. Yang bukan lagi menjadi rahasia adalah bahwa ini merupakan permainan politik dari Departemen Pendidikan. Betapa tidak, setiap pergantian kurikulum, maka akan ada pergantian buku cetak, yang berarti ada komisi dari percetakan.
Kalo kita perhatikan, saat ini, anak-anak SMP sudah mulai mempelajari bahan-bahan yang tadinya diperkenalkan di SMA. Entah apa alasan dari para penyusun kurikulum tersebut. Tetapi, yang pasti hal tersebut cukup memberatkan para anak didik zaman sekarang. Permasalahan muncul ketika nalar mereka belum sampai untuk “memamah” materi tersebut. Lalu, apa solusinya supaya mereka mengerti? Mau tidak mau, mereka harus mengorbankan waktu dengan mengikuti berbagai kegiatan les pelajaran.
Ada sebuah fenomena dalam lingkaran setan di sini. Beberapa guru yang tidak memahami tugasnya dengan baik, justru sengaja tidak lagi menerangkan dengan jelas materi yang diajarkan. Mereka sudah mengetahui bahwa sebagian besar anak didiknya sudah dengan jelas mengerti materi tersebut. Dengan sikap guru yang seperti itu, akibatnya para anak didik semakin tergantung pada guru les mereka.
Alasan yang lain, mengapa anak zaman sekarang bebannya semakin berat adalah karena orang tuanya yang tidak mau ketinggalan. Mungkin saja, anak-anak zaman sekarang sudah sangat letih sepulang dari sekolah. Mengingat lamanya waktu belajar di sekolah saat ini yang ternyata semakin panjang. Walaupun demikian, sebagian besar orang tua masih memaksa agar anak mereka mengikuti berbagai les tambahan. Sepertinya, ada yang kurang jika anak-anak mereka tidak mengikuti les, yang juga diikuti oleh anak Ibu A, atau anak Ibu B.
Motivasi yang seharusnya merupakan tugas orang tua, atau bisa didapatkan dari membaca buku inspirasional dari berbagai tokoh, pun bisa dijadikan kegiatan les yang cukup menjanjikan. Bukan berarti motivasi itu tidak penting. Di kota-kota besar, les motivasi menjadi berkembang karena para orang tua biasanya tidak mau kalah dari orang tua lain, yang anaknya mengikuti kegiatan les serupa. Alhasil, fenomena itu sangat gampang sekali memancing para orang tua untuk memasukkan anaknya ke suatu kegiatan tertentu.
Ada begitu banyak, sebenarnya, sebab ataupun alasan mengapa beban anak zaman sekarang semakin berat. Tetapi setidaknya, dua alasan di atas sudah cukup mewakili. Makanya, memangnya enak jadi anak zaman sekarang?[pg]
*Petriza Giovanni lahir di Palembang, 13 September 1982. Alumnus Jurusan Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, ini bekerja di bidang pendidikan dan juga pernah mengajar di salah satu primary school swasta di Jakarta. Petriza adalah alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Artikel Menarik” Batch XI. Ia sedang berusaha menghasilkan karya-karya yang berkualitas untuk menjadi inspirasi bagi sesama, dan bisa dihubungi melalui pos-el: p3za13[at]yahoo[dot]com.