Dasar Sebuah Hubungan: Cinta atau Kecocokan?
Editor | Kolom Tetap | March 23rd, 2009 | 2 Comments »
Oleh: Miranda Suryadjaja*
“Love is the chain of eternal mutual concession.”
Elizabeth adalah seorang klien jewelry saya. Kalimat di atas disampaikannya ketika saya menanyakan apa rahasia perkawinannya sehingga tetap segar dan mesra di usianya yang kelimabelas.
Mulanya, kami berbincang-bincang soal perhiasan. Saya kenal Elizabeth di pameran jewelry pertama yang saya adakan di kumpulan istri-istri ex-pat Amerika di Jakarta. Kesan saya ketika itu, dia orangnya tidak seramah dan sehangat orang Amerika Latin pada umumnya. Jewelry saya pun hanya ditoleh sekadarnya. Dia lebih senang menemani seorang temannya, sesama perempuan Amerika Latin yang luar biasa ramah dan sangat tinggi apresiasinya pada karya-karya saya.
Sehingga, saya sedikit kaget ketika menerima SMS darinya. Pesannya singkat, “Kapan Anda bisa ke rumah saya dengan membawa jewelry?” Dia akan mengundang beberapa teman untuk minum kopi sambil melihat barang dagangan saya.
Pertemuan berikutnya, saya datang ke rumahnya untuk menggelar house party. Ini istilah keren dari menggelar dagangan, dengan maksud menjual pada sekelompok orang, yang sengaja diundang oleh tuan rumah dan diharapkan akan berbelanja.
Ternyata, persiapannya luar biasa. Bukan sekadar minum-minum kopi lagi. Dia persiapkan berbagai penganan khas Colombia, dengan setting yang indah serta bercita rasa tinggi. Kami berkesempatan berbincang-bincang lebih banyak, dan sebenarnya dia orangnya hangat, cerdas (dia seorang ekonom), tegas, dan apa adanya. Ia berusia tigapuluh delapan tahun, dan sebelum ke Indonesia pernah meniti karier profesional yang cukup sukses.
Namun, dia datang ke Indonesia, sebagaimana peraturan yang berlaku, dalam jabatannya yang ikut suami. Dia tidak mempunyai izin kerja, sehingga jadilah dia IRT alias ibu rumah tangga. Jabatan ini dia nikmati benar. Karena, tidak banyak negara memberikan kesempatan seseorang untuk punya staf rumah tangga lengkap, pembantu, tukang kebun, satpam, supir, lagi pula biaya hidup relatif murah. Sehingga, banyak waktunya yang bisa dicurahkan pada anaknya, dan menikmati hobi-hobinya yang tidak sempat dilakukan kalau dia harus bekerja sambil mengurus rumah sendiri. Tidak ada kesan basa-basi dari keramahannya. Ini tipe orang yang kalau bilang ya, dia benar-benar maksudkan ya. Dan, dia tahu apa yang diinginkan dan mengapa.
Kurang lebih dua minggu lalu, setelah hampir setahun lebih tidak berjumpa, dia menelepon saya, dan mengatakan ingin bertemu untuk membicarakan pesanan barunya. Maka, bertemulah kami beberapa hari lalu.
Setelah kami selesai mendiskusikan pesanan khususnya, dia mengecek telepon genggamnya. Dan, ternyata ada missed call dari sang suami. Dia permisi pada saya untuk menelepon kembali suaminya. Dari percakapan sepihak terdengar suaranya begitu ramah, hangat, sambil sesekali tertawa kecil dan bercanda, layaknya orang sedang telepon dengan pacar semasa SMP. Beberapa kali dia mengatakan sorry bahwa dia tidak mendengar panggilan telepon. Gerak tubuh dan wajahnya hangat, melembut, nyata bahwa ekspresi dan kata-katanya tidak dibuat-buat.
Terasa air mata hangat mengambang di mata saya. Hati saya tersentuh akan kehangatan percakapannya, akan cinta yang terpancar dari mata dan raut wajahnya. Sangat jarang saya melihat percakapan mesra di antara suami-istri, apalagi yang telah lama menikah. Yang ada istri mengomeli suami, memakai nada tinggi dan ketus mengoreksi omongan dan pendapat suami, atau saling menyuruh tanpa pakai kata tolong dan terima kasih. Ataupun kalau ada kemesraan, jarang saya melihat yang sejujurnya. Kata panggilannya honey atau darling, tetapi nada bicaranya seperti sedang memerintah bawahan yang paling rendah dan bebal.
Saya sungguh terkesan dan terpesona. Begitu dia selesai bercakap-cakap, sungging senyum belum lagi pupus dari wajahnya, saya segera mengomentari. Saya sampaikan keharuan dan rasa kagum saya.
“Kamu tampak begitu hangat dan mesra saat bicara dengan suamimu. How do you do it?” tanya saya.
Elizabeth menjawab, “Saya sebenarnya bukan tipe orang yang hangat. Saya demikian hanya dengan suami dan anak saya saja. Kami berdua berasal dari keluarga broken home. Orang tua saya bukan tipe hangat, apalagi kami dari Bogota, yang merupakan dataran tinggi. Orang-orang di sana cenderung dingin, tidak ekspresif seperti orang-orang Amerika Latin dari dataran rendah. Menyadari latar belakang keluarga kami, dengan sadar kami berusaha mengingat dan menjaga hal itu setiap saat. Dimulai dari hal yang kecil-kecil sekali, hal sehari-hari yang sebenarnya tak perlu saya lakukan, namun saya lakukan karena hal itu menjaga kontak dan hubungan tak terputus antara kami termasuk hubungan dengan anak kami.”
“Kami berdua ilmuwan. Jadi, sebelum menikah kami mengadakan riset tentang perkawinan yang sukses. Nasihat yang paling penting dan berharga saya peroleh dari mertua saya: Love is the eternal chain of mutual concessions – Cinta adalah rantai berkesinambungani dari konsesi-konsesi timbal balik. Kami tanyakan orang-orang yang dekat dengan kami, yang perkawinannya kami anggap sukses. Ternyata mereka semua setuju, bahwa konsesi itu harus terus dilakukan,” lanjut Elizabeth.
“Tetapi, apakah tidak menimbulkan rasa terpaksa dan tertekan kalau harus selalu melakukan konsesi?” tanya saya.
“Sebuah perkawinan hanya akan bisa bertahan apabila ada seorang di antara keduanya yang tidak selfish,” jawab Elizabeth sembari tersenyum.
“Wah, gimana rasanya kalau harus hidup dengan orang yang jelas-jelas selfish,” tukas saya. “Kalau salah seorang harus mengalah terus, apa tidak jadi semacam pengorbanan, dan lama-lama yang mengalah terus jadi tertekan?!”
“Maka, di sinilah dibutuhkan ketulusan sehingga itu bukan dianggap sebagai suatu pengorbanan. Melainkan komitmen pada suatu tujuan bersama, yaitu perkawinan yang bahagia dan berlanjut. Dan, ketulusan itu bisa dirasakan. Dan, kalau kita ikhlas dan rela melakukan apa yang kita lakukan, pasangan kita, yang lebih selfish maksudnya pasti akan menyadari dan pelan-pelan akan menjadi less atau berkurang selfishnya, dan mutual respect for each other juga pelan-pelan akan muncul.”
“Kalau sudah ada mutual respect, maka tidak sulit untuk mempraktikkan mutual concession, yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan sebagai tanggung jawab bersama, atas keutuhan sebuah perkawinan yang sama-sama kita inginkan,” jelas Elizabeth.
Terus terang ini bukan sesuatu yang bisa saya iyakan atau tidakkan. Ini, bagi saya, masih merupakan teori yang saya pahami secara intelek, masuk akal, dan kayaknya doable.
Namun, hal ini membuat saya bertanya, apakah kecocokkan lebih penting daripada cinta dalam membangun dan membina sebuah relationship? Orang yang merasa cocok satu sama lain cenderung untuk lebih cincai–gampang, tidak terlalu perhitungan satu dengan yang lainnya, tidak terlalu banyak menuntut, dan dalam memberi juga tidak banyak syarat. Ada kenyamanan di balik tidak adanya ekspektasi yang berlebihan, sehingga kebersamaan bisa lebih dinikmati.
Sementara, yang katanya cinta tampaknya justru melibatkan lebih banyak tuntutan, atau pemberian yang berlebihan atas nama cinta. Padahal, sebenarnya yang diharapkan adalah agar ditimbalbaliki dari apa yang dilakukan, atau agar cintanya dibalas dengan setimpal karena merasa sudah berkorban banyak bagi pasangannya.
Akhirnya, yang sering terjadi adalah cerita-cerita ketimpangan cinta, pengharapan yang berlebihan, saling ketergantungan di mana yang satu obsesif memberi dan berharap, sementara yang satu obsesif mengontrol, menyalahkan, dan mengecilkan. Namun, masing-masing saling membutuhkan yang lainnya. Atau, tatkala cinta dan gairah pudar, dan memang faktor kecocokan tidak pernah diperhitungkan benar, yang tersisa hanyalah kehambaran, and wondering, apa yang terjadi, where did love go?
Rasanya, di umur-umur yang sekarang ini, kalau disuruh memilih, saya akan memilih membangun relationship atas dasar kecocokan daripada atas dasar cinta yang menggebu-gebu. Ketika ada kecocokan berdasarkan shared interests, hal-hal yang sama-sama kita sukai, ada mutual respect, ada kesetaraan, lebih mudah untuk give and take, dan melakukan mutual concession. Sebagaimana layaknya orang mengemudi mobil jarak jauh, yang lagi segar yang menyetir, yang lagi capai istirahat, lalu gantian. Saya telah mengalami, ternyata kenyamanan dalam kebersamaan bisa dengan mudah berubah menjadi rasa sayang yang dapat membuat saya bersedia memberi tanpa diminta dan tanpa harus ditimbalbaliki.
Sebetulnya, kalau mau cepat dapat mencintai seseorang dengan tanpa syarat, ada satu cara yang sangat ampuh. Duduk atau berdiri saling memandang mata dengan dalam dan khusuk. Kalau belum pernah saling memandang, pada awalnya mungkin terasa kurang nyaman, karena mata tidak bisa berdusta, apalagi kalau memang ada sesuatu yang tidak ingin dibagi. Namun, semakin lama Anda saling memandang, semakin luruh penilaian dan persepsi Anda terhadap sosok yang berada di hadapan Anda.
Dan, apabila itu sudah terlampaui, maka yang tampak hanyalah sepasang mata yang sarat kehidupan, yang mengandung sejuta cerita yang bisa Anda rasakan, dan ceritanya tidak beda dengan cerita Anda. Karena sebenarnya, Anda dan yang di depan Anda adalah satu, meski versi, bentuk, dan ekspresinya beda. Mata Anda bisa menceritakan apa yang tidak pernah bisa Anda tuturkan dengan kata-kata. Mata Anda bisa mendengar kepedihan, kepahitan, perasaan-perasaan tak bernama, namun teraba oleh hati, yang tak terelakkan akan membuat hati dan mata batin Anda terbuka.
Dari dalam hati Anda akan timbul cinta kasih yang dalam, yang tulus, dan suci tanpa syarat. Dari dalam hati Anda akan timbul keinginan yang dalam untuk memupus kesedihan di mata itu, kesedihan yang Anda kenal, karena Anda pun telah mengalaminya, apa pun bentuk dan rupanya. Ketika dua orang mempunyai pengalaman yang sama, serta keinginan untuk memberi yang setara, maka terjadilah suatu mutualisme.
Love is the eternal chain of mutual concessions…. Silakan mencoba![ms]
* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.
Oleh: Miranda Suryadjaja*
Oleh: Miranda Suryadjaja*
Oleh: Miranda Suryadjaja*
Oleh: Miranda Suryadjaja*
