Dasar Sebuah Hubungan: Cinta atau Kecocokan?

Miranda SuryadjajaOleh: Miranda Suryadjaja*

Love is the chain of eternal mutual concession.”

Elizabeth adalah seorang klien jewelry saya. Kalimat di atas disampaikannya ketika saya menanyakan apa rahasia perkawinannya sehingga tetap segar dan mesra di usianya yang kelimabelas.

Mulanya, kami berbincang-bincang soal perhiasan. Saya kenal Elizabeth di pameran jewelry pertama yang saya adakan di kumpulan istri-istri ex-pat Amerika di Jakarta. Kesan saya ketika itu, dia orangnya tidak seramah dan sehangat orang Amerika Latin pada umumnya. Jewelry saya pun hanya ditoleh sekadarnya. Dia lebih senang menemani seorang temannya, sesama perempuan Amerika Latin yang luar biasa ramah dan sangat tinggi apresiasinya pada karya-karya saya.

Sehingga, saya sedikit kaget ketika menerima SMS darinya. Pesannya singkat, “Kapan Anda bisa ke rumah saya dengan membawa jewelry?” Dia akan mengundang beberapa teman untuk minum kopi sambil melihat barang dagangan saya.

Pertemuan berikutnya, saya datang ke rumahnya untuk menggelar house party. Ini istilah keren dari menggelar dagangan, dengan maksud menjual pada sekelompok orang, yang sengaja diundang oleh tuan rumah dan diharapkan akan berbelanja.

Ternyata, persiapannya luar biasa. Bukan sekadar minum-minum kopi lagi. Dia persiapkan berbagai penganan khas Colombia, dengan setting yang indah serta bercita rasa tinggi. Kami berkesempatan berbincang-bincang lebih banyak, dan sebenarnya dia orangnya hangat, cerdas (dia seorang ekonom), tegas, dan apa adanya. Ia berusia tigapuluh delapan tahun, dan sebelum ke Indonesia pernah meniti karier profesional yang cukup sukses.

Namun, dia datang ke Indonesia, sebagaimana peraturan yang berlaku, dalam jabatannya yang ikut suami. Dia tidak mempunyai izin kerja, sehingga jadilah dia IRT alias ibu rumah tangga. Jabatan ini dia nikmati benar. Karena, tidak banyak negara memberikan kesempatan seseorang untuk punya staf rumah tangga lengkap, pembantu, tukang kebun, satpam, supir, lagi pula biaya hidup relatif murah. Sehingga, banyak waktunya yang bisa dicurahkan pada anaknya, dan menikmati hobi-hobinya yang tidak sempat dilakukan kalau dia harus bekerja sambil mengurus rumah sendiri. Tidak ada kesan basa-basi dari keramahannya. Ini tipe orang yang kalau bilang ya, dia benar-benar maksudkan ya. Dan, dia tahu apa yang diinginkan dan mengapa.

Kurang lebih dua minggu lalu, setelah hampir setahun lebih tidak berjumpa, dia menelepon saya, dan mengatakan ingin bertemu untuk membicarakan pesanan barunya. Maka, bertemulah kami beberapa hari lalu.

Setelah kami selesai mendiskusikan pesanan khususnya, dia mengecek telepon genggamnya. Dan, ternyata ada missed call dari sang suami. Dia permisi pada saya untuk menelepon kembali suaminya. Dari percakapan sepihak terdengar suaranya begitu ramah, hangat, sambil sesekali tertawa kecil dan bercanda, layaknya orang sedang telepon dengan pacar semasa SMP. Beberapa kali dia mengatakan sorry bahwa dia tidak mendengar panggilan telepon. Gerak tubuh dan wajahnya hangat, melembut, nyata bahwa ekspresi dan kata-katanya tidak dibuat-buat.

Terasa air mata hangat mengambang di mata saya. Hati saya tersentuh akan kehangatan percakapannya, akan cinta yang terpancar dari mata dan raut wajahnya. Sangat jarang saya melihat percakapan mesra di antara suami-istri, apalagi yang telah lama menikah. Yang ada istri mengomeli suami, memakai nada tinggi dan ketus mengoreksi omongan dan pendapat suami, atau saling menyuruh tanpa pakai kata tolong dan terima kasih. Ataupun kalau ada kemesraan, jarang saya melihat yang sejujurnya. Kata panggilannya honey atau darling, tetapi nada bicaranya seperti sedang memerintah bawahan yang paling rendah dan bebal.

Saya sungguh terkesan dan terpesona. Begitu dia selesai bercakap-cakap, sungging senyum belum lagi pupus dari wajahnya, saya segera mengomentari. Saya sampaikan keharuan dan rasa kagum saya.

“Kamu tampak begitu hangat dan mesra saat bicara dengan suamimu. How do you do it?” tanya saya.

Elizabeth menjawab, “Saya sebenarnya bukan tipe orang yang hangat. Saya demikian hanya dengan suami dan anak saya saja. Kami berdua berasal dari keluarga broken home. Orang tua saya bukan tipe hangat, apalagi kami dari Bogota, yang merupakan dataran tinggi. Orang-orang di sana cenderung dingin, tidak ekspresif seperti orang-orang Amerika Latin dari dataran rendah. Menyadari latar belakang keluarga kami, dengan sadar kami berusaha mengingat dan menjaga hal itu setiap saat. Dimulai dari hal yang kecil-kecil sekali, hal sehari-hari yang sebenarnya tak perlu saya lakukan, namun saya lakukan karena hal itu menjaga kontak dan hubungan tak terputus antara kami termasuk hubungan dengan anak kami.

“Kami berdua ilmuwan. Jadi, sebelum menikah kami mengadakan riset tentang perkawinan yang sukses. Nasihat yang paling penting dan berharga saya peroleh dari mertua saya: Love is the eternal chain of mutual concessions – Cinta adalah rantai berkesinambungani dari konsesi-konsesi timbal balik. Kami tanyakan orang-orang yang dekat dengan kami, yang perkawinannya kami anggap sukses. Ternyata mereka semua setuju, bahwa konsesi itu harus terus dilakukan,” lanjut Elizabeth.

“Tetapi, apakah tidak menimbulkan rasa terpaksa dan tertekan kalau harus selalu melakukan konsesi?” tanya saya.

“Sebuah perkawinan hanya akan bisa bertahan apabila ada seorang di antara keduanya yang tidak selfish, jawab Elizabeth sembari tersenyum.

“Wah, gimana rasanya kalau harus hidup dengan orang yang jelas-jelas selfish,” tukas saya. “Kalau salah seorang harus mengalah terus, apa tidak jadi semacam pengorbanan, dan lama-lama yang mengalah terus jadi tertekan?!

“Maka, di sinilah dibutuhkan ketulusan sehingga itu bukan dianggap sebagai suatu pengorbanan. Melainkan komitmen pada suatu tujuan bersama, yaitu perkawinan yang bahagia dan berlanjut. Dan, ketulusan itu bisa dirasakan. Dan, kalau kita ikhlas dan rela melakukan apa yang kita lakukan, pasangan kita, yang lebih selfish maksudnya pasti akan menyadari dan pelan-pelan akan menjadi less atau berkurang selfishnya, dan mutual respect for each other juga pelan-pelan akan muncul.

Kalau sudah ada mutual respect, maka tidak sulit untuk mempraktikkan mutual concession, yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan sebagai tanggung jawab bersama, atas keutuhan sebuah perkawinan yang sama-sama kita inginkan,jelas Elizabeth.

Terus terang ini bukan sesuatu yang bisa saya iyakan atau tidakkan. Ini, bagi saya, masih merupakan teori yang saya pahami secara intelek, masuk akal, dan kayaknya doable.

Namun, hal ini membuat saya bertanya, apakah kecocokkan lebih penting daripada cinta dalam membangun dan membina sebuah relationship? Orang yang merasa cocok satu sama lain cenderung untuk lebih cincai–gampang, tidak terlalu perhitungan satu dengan yang lainnya, tidak terlalu banyak menuntut, dan dalam memberi juga tidak banyak syarat. Ada kenyamanan di balik tidak adanya ekspektasi yang berlebihan, sehingga kebersamaan bisa lebih dinikmati.

Sementara, yang katanya cinta tampaknya justru melibatkan lebih banyak tuntutan, atau pemberian yang berlebihan atas nama cinta. Padahal, sebenarnya yang diharapkan adalah agar ditimbalbaliki dari apa yang dilakukan, atau agar cintanya dibalas dengan setimpal karena merasa sudah berkorban banyak bagi pasangannya.

Akhirnya, yang sering terjadi adalah cerita-cerita ketimpangan cinta, pengharapan yang berlebihan, saling ketergantungan di mana yang satu obsesif memberi dan berharap, sementara yang satu obsesif mengontrol, menyalahkan, dan mengecilkan. Namun, masing-masing saling membutuhkan yang lainnya. Atau, tatkala cinta dan gairah pudar, dan memang faktor kecocokan tidak pernah diperhitungkan benar, yang tersisa hanyalah kehambaran, and wondering, apa yang terjadi, where did love go?

Rasanya, di umur-umur yang sekarang ini, kalau disuruh memilih, saya akan memilih membangun relationship atas dasar kecocokan daripada atas dasar cinta yang menggebu-gebu. Ketika ada kecocokan berdasarkan shared interests, hal-hal yang sama-sama kita sukai, ada mutual respect, ada kesetaraan, lebih mudah untuk give and take, dan melakukan mutual concession. Sebagaimana layaknya orang mengemudi mobil jarak jauh, yang lagi segar yang menyetir, yang lagi capai istirahat, lalu gantian. Saya telah mengalami, ternyata kenyamanan dalam kebersamaan bisa dengan mudah berubah menjadi rasa sayang yang dapat membuat saya bersedia memberi tanpa diminta dan tanpa harus ditimbalbaliki.

Sebetulnya, kalau mau cepat dapat mencintai seseorang dengan tanpa syarat, ada satu cara yang sangat ampuh. Duduk atau berdiri saling memandang mata dengan dalam dan khusuk. Kalau belum pernah saling memandang, pada awalnya mungkin terasa kurang nyaman, karena mata tidak bisa berdusta, apalagi kalau memang ada sesuatu yang tidak ingin dibagi. Namun, semakin lama Anda saling memandang, semakin luruh penilaian dan persepsi Anda terhadap sosok yang berada di hadapan Anda.

Dan, apabila itu sudah terlampaui, maka yang tampak hanyalah sepasang mata yang sarat kehidupan, yang mengandung sejuta cerita yang bisa Anda rasakan, dan ceritanya tidak beda dengan cerita Anda. Karena sebenarnya, Anda dan yang di depan Anda adalah satu, meski versi, bentuk, dan ekspresinya beda. Mata Anda bisa menceritakan apa yang tidak pernah bisa Anda tuturkan dengan kata-kata. Mata Anda bisa mendengar kepedihan, kepahitan, perasaan-perasaan tak bernama, namun teraba oleh hati, yang tak terelakkan akan membuat hati dan mata batin Anda terbuka.

Dari dalam hati Anda akan timbul cinta kasih yang dalam, yang tulus, dan suci tanpa syarat. Dari dalam hati Anda akan timbul keinginan yang dalam untuk memupus kesedihan di mata itu, kesedihan yang Anda kenal, karena Anda pun telah mengalaminya, apa pun bentuk dan rupanya. Ketika dua orang mempunyai pengalaman yang sama, serta keinginan untuk memberi yang setara, maka terjadilah suatu mutualisme.

Love is the eternal chain of mutual concessions…. Silakan mencoba![ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Puasa Verbal Negatif

ms1Oleh: Miranda Suryadjaja*

Akhir Januari, lalu saya berkesempatan untuk mendengarkan ceramah Tommy Siawira, seorang motivator ternama di negeri kita. Ada beberapa hal yang disampaikannya sangat memikat diri saya, tetapi secara khusus saya tergugah dan tertantang untuk melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, yaitu berpuasa dari: menyalahkan, mengeluh, membikin alasan, dan bergosip. Tommy mengatakan agar dilakukan selama 20 hari maka hidup kita akan sangat berubah.

Sekarang-sekarang ini, tidak terlalu banyak hal yang bisa mengusik ketenangan saya. Hal-hal yang dulu bisa bikin saya kecewa setengah mati dan bersedih berhari-hari, complain klien, dikritik atau disalahkan secara tidak fair (menurut saya), sekarang bisa saya lalui dengan lapang dada.

Namun suatu hari di awal Januari lalu, saya ditelepon oleh sepupu saya untuk memberitahukan jumlah sisa pembayaran yang masih tertunggak dalam proyek renovasi rumah saya. Ternyata, biaya proyek ini lebih dua kali lipat dari jumlah yang kami sepakati. Wah… saya sangat kesal dan kecewa, apalagi sedang tidak ada duit untuk hal tersebut sementara pekerjaan sudah rampung dan tidak ada yang bisa dibatalkan. Memang ini salahnya kalau terlalu menggampangkan urusan, kerja sama saudara, jumlah tidak terlalu besar, tidak ada hitam di atas putih.

Penyesalan di belakang tidak ada gunanya, tetapi tetap saja rasa kesal luar biasa tidak terhindarkan. Saya merasa terpojok, di fait accompli. Sepupu saya sih minta maaf tidak memberitahu terlebih dulu, alasannya dia juga sibuk dengan proyek-proyek lainnya. Saya mesti ngapain sekarang, karena tahu kalau saya menyalahkannya juga tidak ada gunanya, malah tambah bikin kesal diri dan bikin orang lain ikut tersiksa juga. Kalau dulu ya, saya akan omel-omeli dia, paling tidak supaya saya merasa telah bisa melampiaskan kekesalan saya pada seseorang, biar dia tahu rasa dan ikut merasakan penderitaan saya.

Tetapi sekarang saya tidak bisa lagi sekadar menyalahkan. Bagaimana kalau semua kejadian itu netral, dan saya tidak pernah tahu misteri di balik suatu kejadian, dan apa rencana Tuhan bagi saya lewat kejadian tersebut. Saya meyakini bahwa semua yang terjadi pada dan atas diri saya adalah rencana Tuhan karena Ia tahu apa yang perlu dikoreksi dalam diri kita agar saya bertumbuh. Dengan demikian, somehow yang terjadi ini pun bagian dari rencana Tuhan untuk saya karena ada pelajarannya buat saya.

Namun, tetap saja perasaan ‘nyesak’ berkecamuk dalam batin saya. Ego saya enggak terima, ngotot bahwa saya yang benar, sepupu saya yang salah. Ego selalu mau ada yang benar dan ada yang salah, karena dengan demikian dia exist. Jadi, ngotot bahwa ada yang harus disalahkan….. saya merasa sangat menderita ketika itu. Perang antara Ego dan Tuhan…. Aaaagh….. Mau dikemanakan perasaan merasa benar dan merasa harus menyalahkan, sesuatu atau seseorang deh… apa saya, apa sepupu, atau tukangnya, harga bahannya, pokoknya harus ada yang jadi kambing hitam. Sangat tidak nyaman…!

Batin saya paham bahwa tidak ada yang salah… semua innocent dan merupakan proses yang diberikan oleh Tuhan agar saya bertumbuh. Situasi, kejadian, manusia diorkestrasikan-Nya sedemikian rupa, sehingga timbul suatu reaksi dalam diri saya, yang tak lain merupakan indikasi bahwa ada suatu luka yang belum sembuh dalam batin saya. Entah sebuah persepsi atau keyakinan yang saya ciptakan ketika saya kecil, yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan tindakan saya dalam menghadapi suatu situasi. Rupanya, ada sebuah persepsi yang masih sangat kuat melekat, seperti tar yang lengket di sepatu, seperti super glue, susah untuk dilepaskan.

Akhirnya, saya melatih pernapasan sembari berdoa agar pikiran saya jernih kembali dan agar saya bisa melepaskan diri dari kemelekatan terhadap kebenaran yang telah saya anut selama ini; yang menyatakan bahwa jika ada sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan yang saya rencanakan dan kehendaki, ada sesuatu atau seseorang di luar sana yang salah. Dan, kalau ada yang salah berarti ada yang benar. Konsep ini susah benar untuk dilepaskan.

Dan, ketika saya urut-urutkan dan ikuti perasaan saya sampai ke sumbernya, kekesalan saya tidak saja berdasarkan pada keyakinan bahwa saya benar, melainkan karena kejadian ini menimbulkan rasa takut bahwa saya akan kehilangan uang yang tidak saya anggarkan sebelumnya. Berarti, milik saya akan berkurang dan ini akan berefek pada kelangsungan hidup saya. Ketakutan bahwa saya tidak bisa survive. Inilah sumber kekesalan saya yang ingin saya lemparkan pada orang lain. Apabila ketakutan ini tidak ada, saya tidak akan bereaksi sedemikian rupa.

Setelah jelas terlihat urut-urutan peristiwanya, kemarahan saya pudar dan pelan-pelan damai kembali menyelimuti hati saya. Sepupu saya juga saya lepaskan dari kait saya, dia sama sekali tidak bersalah, hanya melakukan perannya saja dalam drama kehidupan yang memang dibuat untuk saya. Bahwa dia juga punya pelajaran dari peristiwa tersebut adalah urusannya dengan Tuhan, saya tidak mau mencampurinya.

Memang pikiran kita itu pintar sekali mengarang cerita dan mengasosiasikan suatu peristiwa dengan peristiwa di waktu lampau, dan mengaduk-aduk perasaan pula kalau kita tidak jeli mencermati cerita pikiran kita.

Dan, melepaskan diri dari kecanduan menjadi yang ‘benar’ termasuk hal yang paling susah untuk dilakukan. Nah, ketika saya mendengar ceramah Tommy Siawira soal bagaimana kita bisa menjauhkan diri dari energi negatif dengan cara TIDAK melakukan empat hal di atas: menyalahkan, mengeluh, membuat alasan, serta menggosip, saya pikir ini kesempatan bagus untuk melatih kebiasaan yang sangat bagus.

Dalam kenyataannya, kalau kita secara sadar berkomitmen untuk melakukannya, kita akan menyadari di mana kebiasaan tersebut telah mendarah daging dalam diri kita. Setelah disadari barulah kebiasaan ini bisa dilepaskan. Selama ini saya menganggap diri saya orang yang sangat optimis dan positif. Tetapi, setelah mulai ‘puasa’ ternyata sering kali impuls itu muncul, keempat-empatnya. Apalagi ngegosip, di sini gosip saya definisikan sebagai mendiskusikan tentang pihak ketiga yang tidak ikut hadir, dan yang didiskusikan adalah hal yang tidak positif mengenai orang tersebut.

Wah, ini susah, karena manusia punya kecenderungan untuk berempati dan berpihak pada seseorang. Ternyata setelah saya cermati, kecenderungan itu muncul karena kita ingin bonding atau dekat dengan seseorang. Karenanya, kalau ada yang lagi gosip tentang seseorang, kita senang sekali bergabung dan menambahkan bumbu kita ke dalam tungku gosip, sehingga tambah besar api gosipnya. Sementara pihak ketiga tidak tahu bahwa dia sedang dibicarakan dan tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Apalagi kalau gosipnya sifatnya opinion forming, artinya menyebabkan orang lain jadi mempunyai opini tentang pihak ketiga berdasarkan informasi yang diberikan oleh seseorang, tanpa mengalaminya sendiri. Padahal, informasi itu belum tentu akurat, dan sering kali sifatnya sangat subjektif.

Tidak fair, kan? Bayangkan, orang yang tidak benar-benar kenal dengan kita atau tahu siapa kita tahu-tahu membuat kesimpulan atau penilaian tentang diri kita berdasarkan informasi orang lain, yang kadang juga tidak tahu siapa kita. Wah..wah…gawat…! Jarang kita sadar atau ingat betapa jahatnya gosip itu…

Setelah saya mulai bisa mengerem empat hal tersebut secara lisan, saya menyadari bahwa kadang empat hal tersebut masih melintas di pikiran saya meskipun tidak terucapkan. Wahai sahabat, pikiran tidak beda dengan ucapan, ada energinya, ada power-nya. Pikiran menghasilkan perasaan, dan perasaan menghasilkan tindakan… Jadi, belajarlah untuk mengontrol pikiran juga.

Apakah saya akan menjadi orang lebih baik dengan latihan ini? Anda mungkin tidak akan pernah tahu kalau Anda tidak kenal saya secara pribadi. Tetapi, saya merasa berkontribusi ke Alam dengan berkurangnya sampah negatif yang saya buang ke Alam. Saya bayangkan, kalau saja satu persen penduduk dunia mau melakukan hal itu, sekitar 60 juta orang, tingkat kejahatan akan turun drastis, pertengkaran rumah tangga berkurang, dan perang? Apalagi, kebanyakan perang terjadi karena ada yang merasa yakin bahwa pihaknya benar dan yang dijadikannya lawan adalah pihak yang salah. Bisa bayangkan dunia yang jauh lebih aman dan lebih damai dari dunia kita sekarang?[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Sumber Ketakutan

ms11Oleh: Miranda Suryadjaja*

When we say ‘I’, who or which I are we talking about?

When we say or think ‘I’, we separate.

Siapa kita, siapa Tuhan? Dua hal yang berbeda, atau menjadi satu? Sebuah paradoks, yang mana pemahaman mengenai hal ini akan memusnahkan penderitaan, atau lebih tepatnya konsep atau persepsi tentang apa penderitaan itu sebenarnya.

Dulu sebelum saya memahami konsep ini, saya selalu menganggap bahwa Tuhan adalah seorang berjenggot yang di duduk di atas singgasana di sebuah kerajaan di langit, yang punya kekuasaan luar biasa. Dan Yesus, Muhammad, Budha, Krishna, dan lain lain adalah manusia-manusia pilihan yang diberi power khusus serta ditugaskan untuk turun ke bumi demi menyelamatkan umat manusia. Dari apa? Sebenarnya, tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa ada suatu bahaya yang mengancam manusia, selain daripada dosamungkin, yang tak lain adalah kebodohan, kesalahan, atau kekhilafan manusia sendiri?

Saya telah membaca banyak buku suci dari banyak agama, namun mungkin karena tidak ada yang memberi jawaban yang memuaskan, saya tidak pernah memilih suatu agama. Dan, sekarang pun saya adalah Hindu KTP, karena saya berdarah Bali, tinggal di Bali, dan ketika sebagai mahasiswa saya mempelajari comparative religions (perbandingan agama-agama). Pada waktu itu, ajaran agama Hindu bagi saya terasa yang paling gamblang dan logis dalam menjelaskan keberadaan manusia, ada sebelum dan sesudah kehidupan. Dan mohon dicatat, pemahaman saya sebagai mahasiswa berusia 19 tahun masihlah sangat dangkal. Sehingga, ketika ditanya saya harus mencantumkan salah satu agama untuk KTP, saya pilihlah agama Hindu.

Pemikiran saya, meskipun belum memberikan jawaban yang terasa benar-benar pas, penjelasan agama Hindu tentang reinkarnasi paling masuk akal buat saya, pada saat itu. Kenyataannya, saya dilahirkan di keluarga yang menganut agama Konfusius, dengan seorang ayah yang mendeklarasikan dirinya sebagai seorang agnostik. Baru di sekolah menengah atas yang notabene sekolah Katolik saya secara formal ‘belajar’ tentang agama Katolik. Semasa di SMA saya berkenalan dengan orang-orang beragama Advent. Dan, meski tidak tertarik pada ajarannya, saya mencoba menjadi vegetarian total (vegan) selama hampir setahun.

Pada kurun waktu yang sama, saya diperkenalkan pada Transcendental Meditation oleh Ibu saya yang menganggap, atau mungkin berharap, latihan meditasi akan membuat saya lebih damai, atau lebih penurut. Sewaktu mahasiswa saya mempelajari berbagai jenis meditasi, ikut retreat agama Katolik, Kristen, Budha, dll. Saya kemudian menikah dengan seorang beragama Islam yang sangat taat, namun di saat yang sama seorang sekuler, sehingga tidak ada pemaksaan atas diri saya untuk masuk agama Islam. Tetapi, melalui dia saya mengenal karya-karya Jallaludin Rumi dan Ahmad Ghazali, para sufi Islam yang sangat saya kagumi, dan kebenaran-kebenaran yang mereka paparkan beresonansi kuat dengan batin dan hati saya.

Tatkala saya hamil anak pertama dan satu-satunya, kami berdua lagi gandrung membaca dan mendalami Bhagavad Gita serta karya-karya Rumi, yang sampai sekarang merupakan penyair mistik favorit saya. Sampai-sampai ketika anak itu lahir kami namai Govinda Rumi. Sekarang, kami tidak lagi bersama. Ayah anak saya menjadi penganut agama Budha yang sangat taat, sementara Govindasetelah belajar agama Hindu di sekolah hingga tamat SDmemutuskan agama Budha lebih cocok dengan hatinya, meskipun dia juga sangat sekuler dan terbuka terhadap semua ajaran agama.

Separation atau pemisahan yang bagaimana yang saya maksudkan? Serta apa yang perlu disembuhkan?

Manakala Anda membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain; tatkala Anda merasa yang terjadi di luar diri Anda tidak ada hubungannya atau urusannya dengan diri Anda; tatkala Anda menganggap orang lain melakukan sesuatu terhadap diri Anda (biasa yang diingat dan diperhatikan adalah hal-hal yang tidak menyenangkan bagi diri anda); tatkala Anda menyalahkan orang lain, situasi, kejadian, atas apa yang di mata anda terasa sebagai suatu penderitaan. Ini adalah beberapa contoh pemisahan yang saya maksudkan.

Pemisahan ini antara lain menyebabkan Anda merasa marah, sedih, kecewa, iri, dendam, merasa dunia tidak adil, merasa kecil, terisolasi, dan banyak lagi perasaan negatif lainnya.

Dulu, ketika saya mulai mendalami psikologi spiritual, saya paham bahwa siapa saya disebabkan oleh situasi dan kondisi, serta programming orang tua, lingkungan, sekolah, dan masyarakat. Sementara, ketika saya masih kecil, yang mana omongan dan pesan-pesan merekayang tidak lain merupakan program bawaan mereka dari orang tuanya pulamenjadi blueprint dari mindset dan cara saya bereaksi terhadap hidup. Ketika saya memahami mekanisme kebiasaan, pola pikir, serta akibatnya dalam hidup saya, saya sempat terpaku menyalahkan orang tua, menyalahkan diri sendiri, dan merasa bahwa saya tidak berdaya karena telah diprogram begitu.

Contoh lain yang lebih umum, misalnya orang beragama saling merasa bahwa agamanya lebih baik dari agama orang lain. Atau, Tuhannya hanya mengasihi mereka yang seiman dengannya. Atau, yang lebih ekstrem namun tidak jarang terjadi di negeri kita maupun negeri mana saja di dunia ini, melarang anak menikah dengan orang yang tidak seagama. Bahkan, saya tahu ada orang tua yang tidak mau bicara dengan anaknya, membuang, dan mengucilkan anak gara-gara anaknya menikah dengan orang yang beda agama.

Kita bisa berpolemik panjang tak berkesudahan soal pendapat mana yang benar. Bahkan, itu bisa mencetuskan perang dunia gara-gara masing-masing pihak merasa pendapatnya adalah benar secara absolut. Tetapi, hal itu hanya melelahkan dan menguras tenaga, tanpa ada manfaat yang berarti. Kecuali kalau Anda terlibat di suatu politik dan perolehan massa Anda tergantung dari sejauh mana Anda bisa memengaruhi mereka untuk melihat bahwa Anda benar semata.

My friends, bukan itu yang penting di sini. Yang penting, apa yang Anda rasakan dalam hati, batin, dan perasaan Anda. Tatkala Anda ngotot mempertahankan pendapat, dan merasa Anda tidak bisa lagi dekat dengan orang yang pikiran dan pendapatnya beda dengan Anda, perhatikan baik-baik apa yang terjadi di pikiran Anda, di badan Anda, serta perasaan Anda. Ada perasaan tidak enak, pikiran-pikiran negatif berkecamuk di pikiran Anda, menyalahkan, menganggap mereka lebih bodoh, keinginan untuk mempermalukan mereka karena pikiran mereka, serta mengungkit kembali masa lalu mereka yang menurut Anda salah.

Betapa banyaknya penderitaan yang tidak perlu. Dan, semua penderitaan ini timbul hanya bersumber pada satu hal: ketakutan. Ketakutan terhadap apa, Anda mungkin bertanya. Saya bukan penakut, hadapkan saya pada orang-orang garang, pada malam yang kelam, saya tidak takut, saya seorang pendekar, preman, jagoan, pemimpin.

Masalahnya, ketakutan itu sebenarnya banyak wujudnya. Kebanyakan orang yang marah sebenarnya takut kehilangan muka, takut merasa tidak dipandang, takut karena tidak didengar, yang notabene sama artinya merasa dianggap tidak penting atau tidak berarti di mata lawan bicaranya. Bisa juga orang marah karena takut dia kehilangan power-nya.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Forgiveness (2)

ms1Oleh: Miranda Suryadjaja*

Bagian kedua dari dua tulisan.

Adalah wajar mengalami emosi apa pun yang timbul sebagai reaksi atau reflex kita terhadap suatu situasi, sesuai dengan programming dan conditioning yang ada dalam diri kita. Itu adalah hasil dari persepsi kita terhadap kejadian yang punya dinamika, mirip dengan kejadian yang saya ceritakan sebelumnya.

Salahnya, kebanyakan orang tidak paham bahwa semua perasaan, pikiran, dan emosi itu hanyalah sekadar passing phenomena, seperti awan lewat, tidak mengakar, dan tidak berbentuk nyata. Jadi, tidak ada sesuatu yang solid yang dapat dipegang.

Namun, sering bertahun-tahun orang ngotot tidak mau melepaskan persepsinya terhadap suatu event. Malahan, persepsi yang dibentuk di masa balita misalnya, itu diaplikasikan pada berbagai situasi di masa dewasa, sehingga timbullah konflik. Secara rasio, dia bisa melihat sesuatu secara cerdas dan memakai akal sehat. Namun reaksi, motivasi, dan persepsinya memakai persepsi waktu dia umur empat tahun, misalnya.

Kemarin, saya bertemu dengan seorang teman lama. Kebetulan, saya lagi belajar untuk menjadi seorang agen asuransi dan minta kesediaan beberapa teman dekat saya untuk menjadi sparring partner, soal beli atau tidak bukan tujuan utamanya. Justru saya mau mendengar penolakan-penolakan dari orang-orang yang saya kenal baik, dan dengan demikian saya bisa mempersiapkan diri saya terlebih dahulu.

Nah, saya bawa senior saya untuk menemani dan membantu saya. Saya membuka percakapan dengan banyak bertanya hal-hal yang tidak berhubungan dengan asuransi. Kebetulan, saya punya banyak minat tentang apa saja. Termasuk apa yang dilakukan teman saya dalam bisnis perlengkapan agama, sehingga kami bisa berbincang dalam soal itu. Sementara, pendamping atau leader saya bercakap-cakap dengan istri teman saya. Setelah hampir satu jam, saya merasa sudah waktunya kembali ke tujuan berkunjung. Dan, dengan cekatan saya menyetir topik ke arah asuransi.

Teman saya ternyata cukup pengetahuan dan pemahamannya tentang hal ini. Segera saja dia meng-establish bahwa dia tidak perlu polis baru. Dalam percakapannya, dia lebih banyak mengingatkan saya bahwa tidak mudah masuk ke kancah industri asuransi zaman sekarang, serta hal-hal yang mungkin akan menyulitkan saya, atau memberatkan saya untuk melakukannya. Intinya, pesannya adalah, “Jangan di-seriusin-lah bisnis ini!”

Beberapa kali pendamping saya berusaha menyetir pembicaraan, yang ujung-ujungnya mengajak teman saya supaya melihat manfaat membeli polis lebih besar atau lebih banyak. Dan, salah satu kalimat yang tercetus dari mulutnya, lebih dari sekali, adalah, “Kalau sampai dipanggil Tuhan….Yang saya tangkap, ini adalah suatu kalimat yang umum dipakai di bisnis asuransi.

Rupanya, teman saya ini punya tombol alarm atas kalimat tersebut. Sehingga, terungkap bahwa dia sangat tidak suka kalimat tersebut diucapkan. Dan, dengan hormat teman saya itu meminta pendamping saya untuk meninggalkan ruangan. Alasannya, yang dia setujui untuk bertemu adalah saya, dan dia merasa tidak pernah mengundang pendamping saya itu.

Woaa….. Untuk beberapa detik terjadi kekakuan. Kalau dulu, mungkin saya merasa sangat bersalah telah membuat orang kecewa dan marah. Kali ini, saya bisa melihat apa adanya, dan dalam dinamika interaksi tiga orang pada saat itu, atau lima kalau juga menghitung istri dan anak teman saya (yang berada di luar lingkaran percakapan namun tak jauh duduknya). Masing-masing orang akan merasakan hal yang berbeda dalam dirinya.

Tentu, ada kata-kata maaf yang terucapkan, momen yang kikuk. Namun, pada dasarnya semua yang terjadi, baik kejadian bahwa teman saya marah, ataupun bahwa pernyataan tersebut tercetus, sifatnya netral. Teman lama saya ter-trigger tombol alarmnya. Pendamping sayakepada siapa kemarahan itu ditujukanmungkin merasa marah juga. Atau dia tidak marah, itu tergantung dari bagaimana dia mencermati situasi tersebut. Si istri dan anak, mungkin, dan ini hanya mungkin, merasa sungkan dan enggak enak. Atau, mungkin malah bangga dengan sang bapak atas keberaniannya berekspresi.

Sementara, saya bisa memilih untuk merasa enggak enak, bersalah karena sudah membawa leader saya tanpa izin, atau semata-mata menyadari ketidakjelasan dari tindakan saya. Atau, saya perlu meminta maaf pada teman lama saya atas kelancangan saya, karena menurut saya dia benar. Dia sudah welcome saya dengan tangan dan hati terbuka, tapi tidak demikian terhadap leader saya yang belum dia kenal, yang nyata-nyata bawa bendera asuransi. Atau, saya hanya melihat semuanya sebagai suatu rising phenomenon!

Yang timbul dari misteri kehidupan: Mengapa pada suatu saat yang matang atau tepat, suatu hal terjadi? Bukan sebelum atau sesudahnya? Dan, hal tersebut memberikan kesempatan pada setiap orang untuk melihat serta menyadari apa yang terjadi dalam dirinya sebagai hasil dari persepsinya. Hal itu juga memberi setiap orang yang terlibat pilihan akan apa yang dirasakan, diterima sebagai berkah pelajaran, dan kesempatan untuk membuka hati lebih besar, sehingga mampu merangkul yang terjadi dengan hati terbuka, serta mengambil tindakan sesuai dengan pilihannya.

Banyak orang mengatakan dirinya pemaaf, gampang memaafkan. Namun, apa yang sebenarnya dimaksud dengan memaafkan? Apakah dengan tetap menganggap bahwa yang salah itu di luar dirinya? Karena selama persepsinya masih: “Dia bersalah, tapi saya masih mau memaafkan,” atau “Saya sudah memaafkannya, tapi dia juga harus bisa memaafkan saya,” atau “Aku sudah berkali-kali memaafkanmu (biasanya ini soal selingkuh), tapi kali ini adalah terakhir kali aku memaafkanmu, lain kali tiada maaf bagimu.Lho. Maaf kok pakai syarat?

Berpulang pada ajaran Jeshua, permaafan hanya mengembalikan seseorang, suatu hal, situasi, keadaan, atau kondisi pada kondisi asalnya, yaitu suci, tak bersalah, tak ternoda, dan sempurna. Sebelum kita memberi arti, menafsirkan, atau menilai suatu kejadian, maka kejadian apa pun itu, termasuk pikiran kita, perasaan kita, semua sifatnya netral.

Dulu, ketika saya baru kenal dengan pemahaman ini, dan saya telah bisa menerima maupun memahami bahwa kejadian itu netral, saya masih harus bergulat untuk bisa menerima, bahwa pikiran dan perasaan saya itu netral juga. Jadi, pikiran negatif saya, rasa marah, rasa kecewa, perasaan benci, sedih, tidak berarti, tidak baik itu netral? Bagaimana mungkin? Susah pokoknya menerima itu, karena saya ngotot bahwa hal itu benar-benar datang dari saya. Dan, saya bersikukuh, bersikeras, bahwa kalau punya pikiran buruk, dengki, culas, perasaan marah, dan ingin menyakiti orang lain karena merasa tersakiti, pasti karena saya bukan orang yang baik dan suci. Sehingga, ujungnya saya merasa sebagai orang yang sangat buruk, yang tidak layak disayangi, disukai, dan dihormati.

Sampai suatu saat, saya paham bahwa pikiran, perasaan, dan emosi kita itu timbul dari suatu pembelajaran. Kalau kita bereaksi terhadap sesuatu, itu berarti apa yang kita rasakan sudah ada pendahulunya. Sebab, kalau kita tidak bereaksi, berarti kita tidak punya programming yang berhubungan dengan situasi seperti itu.

Contoh gampangnya, tatkala ada suatu kejadian atau situasi, coba tanya apa perasaan dan pendapat sepuluh orang di sekitar tentang kejadian tersebut. Anda akan mendapatkan reaksi yang berbeda-beda dari setiap orang.

Saya kenal baik dengan seseorang yang bereaksi sangat negatif apabila ada yang mengatakan: “Kamu gemuk ya sekarang!” Dia akan jadi kesal sekali dengan orang yang mengatakan hal tersebut, menuduhnya tidak tahu aturan dan sopan santun. Kemarahannya ditumpahkan pada orang yang mengatakannya, dan dia bisa uring-uringan untuk beberapa waktu lamanya. Padahal, kalau mau jujur pada diri sendiri, sebetulnya sudah ada bibit kemarahan atau kepedihan yang menghubungkan pernyataan yang tidak membuatnya nyaman itu dengan yang dianggap sebagai pencelaan, dengan persepsi atau keyakinan, bahwa kalau dicela berarti ada yang tidak baik atau kurang pada dirinya. Sehingga, dia tidak cukup baik untuk disayangi dan diinginkan oleh orang lain.

Pikiran-pikiran ini kemudian dianggap dan disamakan dengan emosi atau perasaan. Padahal, ini murni hasil pikiran dan ego manusia saja, yang bisa diciptakan kapan saja, tapi juga bisa dihilangkan atau diubah kapan saja, semata-mata hanya dengan kemauan kita, at will.

Kalau kita paham soal ini, maka jelas terlihat urusan maaf-memaafkan itu sebenarnya tidak perlu. Atau, bahkan bisa dianggap hanya sebagai formalitas, tradisi, khususnya di negara kita, yang setahun sekali melakukannya secara massal. Tapi, apakah jelas bagi para pelakunya, apa yang mereka mintakan maaf, atau apa yang mereka maafkan?

Dan, kalau kita sudah bisa untuk tidak menyalahkan apa-apa lagi di luar diri kita, menyadari bahwa tidak ada yang terjadi pada atau atas diri kita, melainkan untuk kita, wow…. Tidak ada lagi permusuhan, peperangan, baik di dalam maupun di luar diri kita. Dan, hidup bisa jadi ringan serta lepas dari beban mental maupun moril.

Bisakah ini terjadi? Mari kita lihat bagaimana hal ini bisa diciptakan. Mungkin, ada yang ingin tahu apakah dengan demikian semua kejadian bisa dianggap sah-sah dan benar saja? Saya akan bahas pada tulisan-tulisan berikutnya.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Forgiveness (1)

ms1Oleh: Miranda Suryadjaja*

Bagian pertama dari dua tulisan.

Beberapa hari menjelang akhir tahun lalu, saya mendapat telepon dari nomor yang tidak saya kenal, dengan sapaan pembukaan, “Apa kabar Bu, siapa ini hayo….? Orang yang sudah bikin susah Ibu dan menyakiti hati Ibu…” sambil nyerocos dengan ramah dan familiar.

Dalam hati saya berpikir, Siapa, ya? Siapa yang sudah bikin sakit hati saya sedemikian rupa, tapi saya enggak bisa ingat siapa? Mestinya, kalau sudah dikecewakan dan disakiti, pasti saya bisa menebak.

Namun saya juga senang, karena kalau enggak ingat berarti saya sudah tidak menyimpan dendam ke orang.

Akhirnya, si penelepon membuka siapa dirinya, seseorang yang pernah bekerja pada saya. Dia orang yang sangat dekat dengan saya, saya sayangi bagai anak sendiri. Namun, pada akhir masa kerjanya, ia berusaha menilep uang perusahaan yang menyebabkan dirinya—tidak ada pilihan lain selainberhenti bekerja, yang menurut pernyataannya terjadi delapan tahun yang lalu. Saya sendiri sudah tidak ingat kapan persisnya hal itu terjadi.

Selama beberapa menit kami bertukar kata. Sedikit kaku. Dari sisi saya, itu karena saya masih rada kaget dan tercengang saat mencermati apa yang saya rasakan dalam diri saya. Saya tanggapi seadanya permohonan maafnya dan keinginannya untuk bertemu saya. Saking tercengangnya, mungkin saya hanya bilang, Ya… Ya…!”

Setelah pembicaraan terakhir, barulah saya mencerna apa yang baru saja terjadi. Pertama, saya bersukacita karena di dalam diri saya tidak ada reaksi gejolak marah, kecewa, ataupun pengulangan memori tentang apa yang terjadi. Saya masih ingat samar-samar saja kejadiannya, secara garis besar, seperti suatu mimpi yang sudah lama sekali, dan lupa-lupa ingat kalau saya pernah mimpi. Oh mimpi saya yang itu, to…? Agak lucu juga.

Di sisi lain, saya merasa bahwa perasaan saya datar-datar saja. Tidak ada keinginan khusus untuk ketemu dan merangkai kembali tali silaturahmi yang putus. Ataupun, curious untuk tahu lebih lengkap tentang kejadian tersebut maupun yang terjadi dalam waktu delapan tahun terakhir. Sehingga, tatkala orang ini menyatakan sangat ingin bertemu saya, saya tidak terlalu berusaha untuk mencari waktu bertemu. Kebetulan saat itu masa liburan, di mana saya sendiri cukup sibuk dengan tamu-tamu luar kota lainnya, dan tidak mudah bertemu orang tanpa harus menyisihkan waktu secara khusus.

Pertanyaan yang terngiang-ngiang dalam benak saya adalah, “Apa yang perlu dimaafkan? Karena, sejatinya tidak ada yang perlu dimaafkan….” Di sini saya melihat hasil ajaran Jeshua (Yesus: red) pada saya.

FORGIVENESS, atau pemaafan, semata-mata berarti kembali pada asal yang suci, tidak ternoda, tidak bersalah, melihat segala sesuatunya sebagai hal yang netral. Sehingga, yang diluruskan adalah persepsi kita terhadap sesuatu. Kalau kita menganggap sesuatu sebagai suatu kesalahan, semata-mata persepsi kita yang menganggap hal itu salah. Namun, kejadian yang sesungguhnya, bahkan pelakunya pun hanyalah sekadar sebuah fenomena, sesuatu yang timbul dan kemudian hilang.

Ini yang dimaksud dengan semua kejadian adalah netral sifatnya. Persepsi kita yang menilai dan memberi arti dari suatu kejadian, suatu event, atau apa pun itu. Sehingga, pada waktu memaafkan, yang kita beri maaf adalah persepsi kita yang telah menilai bahwa kejadian tersebut salah, orangnya salah, yang menilai bahwa hal tersebut sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.

Padahal, bak langit biru, apa pun di dunia ini hanyalah awan lewat. Sekarang ada kemudian hilang, kadang cepat, kadang lambat. Suatu fenomena yang pada waktunya dia timbul, kemudian lenyap.
Atau bisa dianalogikan sebagai riak-riak gelombang. Gelombangnya sendiri tidak lepas dari laut di mana dia berada, namun dalam perwujudannya dia bisa berbeda bentuk, kecepatan, dan sifat dari asalnya. Pikiran, perasaan, dan perbuatan kita bisa dibandingkan dengan anak ombak, sementara roh kita yang kekal, yang tak berubah, adalah dasar lautan yang diam, tak terganggu, dan terefek (terpengaruh) oleh apa yang terjadi di permukaan.

Sehingga, ketika saya disodorkan permohonan maaf dari seseorangyang tampaknya telah merugikan, menyakiti, mengecewakan sayasaya tidak lagi memandangnya dari sudut bahwa dia telah berbuat sesuatu yang tidak mengenakkan terhadap saya. Saya juga kesulitan untuk memberi maaf, bahkan mengatakan kalau saya telah memaafkan orang tersebut. Karena sesungguhnya, tidak ada yang perlu dimaafkan di luar diri saya. Dan, kalaupun orang tersebut merasa bersalah, yang perlu dia maafkan adalah persepsi atau penilaian dia tentang persepsinya itu sendiri.

Untuk saya sendiri, cukup saya sadari bahwa semua kejadian sifatnya netral, dan yang terjadi dalam diri sayaemosi, perasaan, penilaian, pikiranbukan akibat atau hasil dari apa yang terjadi di luar diri saya. Tapi, itu semua hasil ciptaan saya sendiri, sejalan dengan pemahaman bahwa saya menciptakan pengalaman saya sendiri.

Setelah mencerna dan memproses apa yang terjadi—yang sempat menimbulkan rasa tercengang dan kaku karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana—saya sikapi dengan banyak bernapas lewat perut, seolah-olah sesuatu sedang mencair dan melembut dalam diri saya. Lalu, saya balas SMS mantan karyawan saya itu, dan pada intinya mengatakan bahwa dari saya sendiri tidak ada yang perlu dimaafkan. Dan, kalaupun ada yang mungkin membutuhkan maaf, itu adalah persepsi dia sendiri, terhadap apa yang telah terjadi; rasa bersalah, berdosa, ataupun anggapan tentang saya, bahwa mungkin saya marah, kecewa, dan lain sebagainya.

Dalam diri saya kemudian timbul rasa welas asih atau compassion terhadap seorang anak manusia. Apalah yang terjadi selama delapan tahun, mungkin dia banyak memikirkan kejadian itu, mungkin terus berasa bersalah, andandand…. Dan, timbul keinginan yang sesungguhnya untuk bertemu sekadar untuk menyembuhkan dan membantu dia melepaskan diri dari perasaan-perasaan negatif tersebut.[ms](Bersambung ke tulisan kedua)

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email:sayamiranda[at]gmail.com atau HP: 081389432.


VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Sang Inspirator: the Unsung Hero

ms

Oleh: Miranda Suryadjaja*

Akhirnya, jadi juga posting pertama saya. Wah… seneng, deh. Gara-gara terlecut membaca buku Anda Luar Biasa!!! karangan Eni Kusuma, yang saya temui secara kebetulan lewat majalah Intisari, hadiah keberhasilan saya meraih predikat berbakat di sebuah workshop public speaking. Terus menyebar ke mana-mana, ke website Pembelajar.com, ke blog-nya EZ (ezonwriting.wordpress.com). Jadi, enggak menunda-nunda lagi, langsung deh bikin blog.

Kemarin, saya berkesempatan menonton recital piano, di rumah kawan saya yang juga pianist penghibur di dekade 70 hingga 90-an.

Awalnya, tiga minggu yang lalu ‘kebetulan’ saya terpikir untuk ke toko makanan kesukaan saya. Waktu itu, saya rada bingung, kok saya ‘dibawa’ ke sini? Wong lagi enggak kepingin mencari apa-apa juga, meskipun akhirnya beli permen, supaya tokonya dapat rezeki dari saya. Sempat terpikir, apa ya yang menanti saya di sini?

Waktu akan meninggalkan tempat tersebut, ‘kebetulan’ saya ketemu teman lama. Saat terlihat, dia akan masuk ke mobilnya. Cepat-cepat saya sapa, eh… saya malah dia undang ke acara di rumahnya dua minggu ke depan. “Nonton recital piano, oleh seorang pianist terkenal dari New York,” katanya.

Akhirnya kemarin, sebagai klimaks dari serangkaian ‘kebetulan’ tersebut, saya tiba di rumah teman saya itu. rumahnya di tengah kota Denpasar, agak nyempil. Dan, rumahnya sendiri—yang juga rumah produksi barang-barang kerajinan—penuh oleh barang yang agak bersesakan. Macam pabrik home industry, sehingga saya sempat ragu, recital piano oleh pianist kelas dunia di rumah ini? Terpikir lagi, kok saya bisa diundang ya? Padahal, kami enggak dekat-dekat banget temenan-nya. Apakah yang akan “dihadiahkan” oleh Alam Semesta pada saya?

Dengan sedikit nyasar sana-sini di rumah yang tidak beraturan itu, akhirnya tampak sebuah grand piano berdiri gagah di tengah koleksi perabot yang sedikit tua dan amburadul. Di ruangan makan terbuka yang nyambung dengan pekarangan dan ruang tamu, di mana sang grand piano berada, telah nampak beberapa orang tamu duduk dan makan sesukanya. Sebuah koleksi manusia yang tampaknya tidak datang hanya dari satu grup. Tidak ada yang memperkenalkan pianisnya pada saya. Dan, karena tidak ada yang bergaya pianis, saya pun tidak bisa mengira-ngira siapa orangnya.

Perut saya sudah lapar. Sementara makanan yang disajikan tampaknya lezat, meski ditaruh apa adanya tanpa pretensi. Ada sayur asam, ayam goreng, tahu telur kecap, nasi, ditaruh di baskom dan panci besar-besar, bak persiapan makan massal di pabrik. Ternyata, makanannya sangat enak. Air liur saya mulai teraktifkan hanya karena membayangkannya kembali. Teman lama saya ini, adalah si Om yang memang pintar masak rupanya.

Setelah tiba waktunya, acara dimulai. Sang pianis, Henoch Kristianto, diajak berdiri dan diperkenalkan oleh si Om. Sekilas, asal-usulnya dituturkan pada kami. Si om bercerita, saat mereka bertemu pertama kali—di mana Henoch kecil saat itu belum lagi berkenalan dengan piano—Henoch meminta izin untuk menyentuh dan bermain pianonya si Om. Begitu mendengar ‘permainan’ Henoch—yang bagi orang lain terdengar dan terlihat akan membuat hancur piano—si Om malah tersihir di tempat. Katanya, dia langsung menyatakan pada ibu Henoch agar jangan menyuruh anak ini sekolah yang konvensional. Melainkan, Henoch harus fokus di sekolah piano, karena bakat semacam itu hanya ada satu dalam sedikitnya sepuluh juta anak.

Selanjutnya, Henoch diajarkan bermain piano dengan benar. Dan rupanya, penglihatan mapun feeling si Om tidak keliru. Henoch tumbuh dan menunjukkan bakat, minat, serta kemauannya yang luar biasa. Setelah lulus SMU, Henoch diminta mengadakan recital piano bagi sejumlah teman dan pemerhati. Tujuannya untuk mengumpulkan dana, yang mana akan dipakai untuk melanjutkan pembelajaran pianonya di Amerika. Dana yang terkumpul dua belas juta, cukup untuk biaya pergi ke Amerika dan belajar selama tiga bulan di sana. Hanya itulah yang dapat diupayakan saat itu, karena orangtua Henoch juga bukan keluarga berkecukupan.

Pesan si Om, “Hanya itulah yang bisa diusahakan. Selebihnya, terserah pada Henoch. Kalau mampu bertahan, ya terus tinggal di sana. Kalau tidak, ya balik.”

Ternyata, Henoch mampu bertahan dengan cara kerja apa saja untuk menyambung hidup dan sekolahnya. Dan kemudian, lahirlah seorang pianist berkaliber internasional dengan setumpuk prestasi yang patut kita banggakan.

Wahai pembaca, Anda mungkin terinspirasi mendengar cerita tentang bagaimana Henoch mencapai sukses. Henoch memang benar-benar dahsyat. Permainan pianonya sangat bersih. Dan, kadang jari-jari tangannya bagaikan terbang, tidak terlihat di mana mulai dan berhenti, yang satu dari yang lainnya.

Selagi saya asyik terbawa oleh alunan piano gubahan Schubert dan lainnya, tiba-tiba timbul pikiran, bahwa inilah jawaban dari seri ‘kebetulan’ yang membawa saya ke tempat ini: Seseorang yang telah menginspirasi orang lain yang sangat inspirasional ini adalah orang yang tidak kalah ‘luar biasanya’.

Kisah hidup Henoch menginspirasi orang banyak. Namun, tidak banyak orang akan mengingat bahwa si Om lah yang ‘menemukan’ Henoch dan membakar semangatnya hingga berkobar terus. Si Om lah yang telah melihat di luar jangkauan kasat mata, seorang anak yang bagi orang lain tampak akan menghancurkan piano si Om dengan hentakan keras jari-jarinya. Si Om telah melihat bahwa ada yang luar biasa pada anak ini.

Di balik seorang yang sukses, yang kisahnya menjadi sumber inspirasi bagi orang banyak, yang menimbulkan decak kagum, dan mampu memperbaharui tekad dan semangat orang lain, biasanya ada orang yang telah memicu orang-orang yang inspirational ini.

Di balik Henoch ada Om Willy Ham. Di balik Barack Obama ada nenek dan ibunya. Di balik kesuksesan Eni Kusuma ada seorang Jenny S. Bev. Orang-orang di belakang layar ini, ada yang terkenal, ada pula yang tidak pernah terdengar namanya. Namun, mereka mempunyai beberapa kesamaan sifat atau kemampuan, yang dalam aplikasinya mampu melahirkan orang-orang yang luar biasa.

Benang merah yang menghubungkan mereka adalah mereka sama-sama mendengar, melihat, dan percaya bahwa seseorang akan bisa merealisasikan potensi tertingginya. Di kala ada kecaman, cemohan, dan krisis kepercayaan dari orang-orang di sekitar mereka—yang sering merupakan orang yang punya hubungan darah dengannya—seorang prodigy bersandar pada inspiratornya.

By the way, kata inspire berasal dari kata in dan spire, yang artinya menghirup. Jadi, tidak salah kalau dikatakan bahwa seorang yang bisa menjadi inspirator bagi orang lain adalah napas yang membuat seseorang tetap bisa ‘menghidupi’ impiannya, dan akhirnya meraih sukses.

Kepuasan bagi pemberi inspirasi adalah keberhasilan protege (orang yang didukung/di-support/dilindungi), atau mentee (orang yang dimentorinya). Pada umumnya, mereka berjiwa besar, dan tahu tatkala tugasnya telah selesai, dan tidak menuntut penghargaan. Mereka mendapatkan kepuasaan yang luar biasa dari memberdayakan orang lain, dan umumnya mempunyai passion for the possible.

Sebetulnya, kita pun bisa memberi inspirasi pada orang lain. Kita tidak perlu punya penglihatan atau pendengaran khusus. Dan, yang kita beri inspirasi pun tidak perlu seorang prodigy atau seorang yang luar biasa. Begitu banyak orang—yang karena sesuatu dan lain hal—tidak pernah mendapat dukungan, kesempatan, dan penghargaan atas bakat dan potensinya. Karena, memang orang di sekitarnya tidak melihat, tidak mau, atau memang sudah merasa tidak punya harapan untuk menjadi lebih dari apa dan siapa mereka.

Saya membayangkan, kalau kita bisa mengundang banyak orang yang termarjinalisasi, atau siapa pun yang ingin dilihat bakat dan potensinya. Lalu, mereka dibantu dengan koneksi entah ke sebuah institusi pendidikan, perusahaan, atau pencari bakat lainnya, sehingga bakat mereka bisa disalurkan dengan optimal.

Untuk mampu memahami bakat orang, kita hanya perlu benar-benar mendengar dan melihat dengan hati. Apakah itu suatu bentuk konsultasi karier dan bakat, atau sekadar penyuluhan. Yang penting menurut saya adalah jangkauannya. Banyak orang yang tidak mempunyai akses maupun pemikiran untuk mencari buku atau informasi semata-mata karena mereka tidak terkondisikan untuk hal itu.

Menurut saya, banyak orang kita yang sangat pandai, cerdas, dan mempunyai banyak bakat alam. Mungkin, kita pernah dengan sengaja diperbodoh oleh rezim-rezim tertentu pada suatu waktu. Sehingga, secara umum bangsa kita masih tetap tampak bodoh sampai sekarang. Tetapi, bukankah dengan leveraging power (tenaga pengungkit) bakat bakat dan kemampuan tertidur ini bisa dibangkitkan oleh orang yang sudah ‘bangun’ dan berhati nurani? Apa tidak mungkin bangsa kita dibangunkan dalam jumlah yang lebih banyak dan lebih cepat? Sehingga, bangsa ini mampu memerangi korupsi, membangun kesadaran, membangkitkan kecintaan pada negara kita—yang sebenarnya sangat kaya ini—serta menimbulkan kebanggaan bernegara dan berbangsa seperti harapan pendiri-pendiri negara kita?

Saya tergugah oleh jeritan Eni pada akhir kata bukunya, di mana dia sedih menghadapi kenyataan bahwa kondisi negara Indonesia yang kita cintai ini masih jauh dari makmur. Benar, jumlah yang sudah bangun masih sangat kecil dibanding yang belum bangun.

Tapi, saya yakin dengan bersatu kita bisa membangunkan orang dari tidur panjangnya. Sebarkan informasi dan kemungkinan seluas-luasnya, lewat semua media cetak, radio, dan televisi. Atau, melalui workshop maupun klinik-klinik pembangkitan potensi yang terjangkau. Kita buat kanvas pengenalan bakat, maksudnya supaya orangnya sendiri tahu bakat dan kemampuannya apa, dan terus mengarahkan mereka ke tempat tempat yang tepat, yakni supaya mereka mampu dan berarti.

Yang sekarang dilakukan oleh Eni Kusuma, Edy Zaqeus, dan teman-teman lewat Pembelajar.com sudah sangat bagus. Namu, perlu lebih disosialisasikan lagi agar mudah dicari dan ditemukan. Saya belum lama menemukan Eni serta situs Pembelajar.com. Padahal, saya tidak gaptek dan sehari-hari banyak berkutat di sekitar komputer, soal pengembangan diri pula. Namun, saya tidak pernah mendengar dan mengetahui sebelumnya. Walhasil, saya menyimpulkan bahwa situs-situs maupun upaya berkemanusiaan semacam ini masih kurang promosi.

Bersama ini pula, saya ingin membuka diskusi masalah ini. Saya di Bali, kebanyakan Anda di Jawa, mari kita saling hubungkan titik-titik dari jaringan ini. Enggak apa-apa jadi unsung heroes. Siapa tahu kita bisa bantu negara ini jadi lebih makmur dengan lebih cepat?[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail.com atau HP: 081389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox