The Power of Praise: Mengubah Dunia Lewat Pujian
Editor | Kolom Tetap | November 11th, 2009 | 2 Comments »
Oleh: Miranda Suryadjaja*
“Memberi pujian adalah jalan tercepat dan terpendek menuju hati seseorang.”
~ Miranda Suryadjaja
Seringkah Anda dipuji orang? Atau lebih penting lagi, seringkah Anda memuji orang lain? Memberi pujian adalah jalan tercepat dan terpendek menuju hati seseorang. Terlalu sedikit dan terlalu jarang pujian diberikan, namun semua orang mengharap dan mendambakannya. Bahkan, ada orang yang secara tidak sadar memfokuskan seluruh upaya dalam hidupnya untuk mendapatkan pujian.
Apakah pujian sebenarnya? Definisi pujian yang paling sederhana adalah menyatakan sesuatu yang positif tentang seseorang, dengan tulus dan sejujurnya. Pujian yang akan saya bahas berikut ini adalah pujian yang disampaikan langsung pada dan di depan orang yang bersangkutan, bukan pada orang ketiga maupun di belakangnya.
“Seseorang tumbuh menjadi lebih tinggi tatkala dipuji.”
Tidak ada contoh yang lebih nyata daripada apa yang saya saksikan di club Toastmasters, sebuah international public speaking club yang banyak cabangnya di kota-kota besar Indonesia dan dunia. Di sinilah saya pertama kalinya melihat skill memuji dipraktikkan secara langsung dan konsisten dengan hasil yang sangat konsisten pula.
Seperti kebanyakan anggota Toastmasters, saya menjadi anggota di club ini karena saya sangat tidak pede tatkala harus berbicara di depan umum. Kalau harus berbicara di depan orang banyak, sering kali saya sampai tidak bisa tidur malam sebelumnya karena gelisah dan khawatir.
Pertama kali saya harus berdiri dan berbicara di depan anggota club, saya sangat gugup. Jantung saya bertalu-talu tak berirama memukul dinding dada, rongga mulut kering kerontang, peluh dingin bercucuran, dan telapak tangan basah berkeringat. Mereka hening mendengarkan dan semua mata dan perhatian dicurahkan pada saya. Belum pernah seumur hidup saya mendapat perhatian begitu terfokus dan besar selama 6 menit. Saya begitu yakin bahwa pidato saya sangat jelek dan memalukan.
Namun, setelah selesai berbicara semua anggota bertepuk tangan riuh. Saya kaget, “Apa yang mereka tepuki?” Kemudian, MC dari meeting tersebut menyalami saya dan mengatakan hal-hal yang sekarang saya tidak ingat lagi. Namun intinya, dia memuji pidato saya serta hal-hal yang tidak pernah saya dengar sebelumnya tentang diri saya. Semua yang disampaikannya bernada positif.
Setelah si MC, majulah seorang evaluator yang mengevaluasi pidato saya. Dia memulai dengan memuji usaha saya sebagai pemula serta beberapa hal yang telah saya lakukan dengan baik. Misalnya, tidak membawa catatan, topik yang menarik, dan beberapa hal lain lagi yang sebelumnya tidak saya bayangkan akan mendapat pujian. Kemudian, ia juga memberi masukan tentang hal-hal yang dapat ditingkatkan untuk pidato berikutnya, tanpa menilai apa yang saya lakukan salah. Semua hal tadi dilakukannya dengan ramah dan suportif. Evaluasinya diakhiri dengan ucapan, “Saya tidak sabar menunggu pidatomu yang berikutnya.” Yang saya alami, kata kritik tidak pernah dipakai di lingkungan Toastmasters.
Di tengah kekagetan saya, muncul rasa aneh, bahagia, senang, dan surprised yang susah dipaparkan dengan kata-kata. Tetapi yang jelas confidence atau pede saya langsung melonjak tinggi saat itu juga. Saya merasa dihargai, berarti, dan punya harapan baru. Kalau sebelumnya saya tidak pernah menganggap bahwa saya punya kemampuan untuk jadi seorang pembicara, anggapan itu seketika sirna. Sebagai gantinya, saya merasa bahwa bukan tidak mungkin satu saat nanti saya bisa bicara sebaik para senior di club saya. Pulang dari club hati saya berbunga-bunga, penuh gairah, dan semangat untuk menyiapkan tugas atau pidato saya berikutnya. Padahal, di club ini tidak ada guru, tidak ada batas waktu tugas, dan tidak ada nilai lulus atau tidak untuk setiap proyek yang kita lakukan.
Sebagaimana saya alami, saya lihat secara langsung bagaimana member-member yang bergabung setelah saya juga mengalami hal yang sama. Semua mengalami transformasi yang mirip; menjadi lebih pede serta terus tumbuh kembang menjadi lebih baik dan makin baik lagi. Di sini saya melihat bahwa kekuatan dari pujian yang diberikan secara tulus dengan maksud untuk men-support dan memberdayakan masing-masing anggota ternyata sangat ampuh dan efeknya seketika.
Belum lama ini saya memberikan seminar Effective Communication pada staf Bappeda lokal. Di sini saya praktikkan dan ajarkan skill memuji pada murid-murid saya. Kebanyakan dari mereka tidak terbiasa, bahkan ada yang sama sekali belum pernah dipuji maupun memuji seumur hidupnya. Ketika saya berikan pujian pada yang tidak pernah menerima pujian, saya bisa melihat dan merasakan bagaimana hati mereka merekah bagai kuncup bunga terkena tetesan air hujan pertama setelah kemarau panjang, yang kemudian mengembang dan penuh rasa sukacita.
Sesuatu yang selama ini terperangkap dan terpendam, telah terbebaskan. Rasa malu, tidak percaya diri, perasaan rendah diri seketika sirna digantikan oleh rasa percaya diri, dan keyakinan akan nilai dirinya. Matanya berbinar-binar, berdirinya lebih tegak, dan seketika terasa lebih ‘hidup’. Seiring dengan perubahan ini, sikapnya melembut; sikap keras, terkucil, ataupun ketidakberdayaan dengan cepat pudar digantikan oleh kelembutan dan welas asih.
Sekali lagi, saya menjadi saksi dari kekuatan pujian. Dan, rasa bahagia ini menular jauh lebih cepat daripada virus terganas yang kita kenal. Sebagai pengamat atau pemberi pujian, saya pun merasakan suka cita mendalam.
Bangsa kita memakai alasan bahwa kebiasaan memuji tidak sesuai dengan budaya Timur. Dengan alasan itu orang menganggap tidak perlu memuji dan sewajarnya tidak usah berharap untuk dipuji. Tetapi meski datang dari kebudayaan yang tidak biasa memuji, saya jamin tidak ada orang yang tidak berbunga-bunga hatinya apabila dipuji dengan tulus. Kata kunci di sini adalah tulus. Setiap orang bisa merasakan apabila pujian yang disampaikan padanya tidak bermuara dari hati yang memberikannya.
Di kalangan perkotaan dan masyarakat yang berpendidikan mungkin pandangan ini telah mulai mengalami pergeseran, dipengaruhi budaya barat yang kita tangkap lewat berbagai media massa. Para psikolog telah mulai mengajarkan untuk memuji anak agar mencapai prestasi yang maksimal. Namun, bagaimana perlakuan kita terhadap kaum yang marginal? Kalangan ekonomi rendah, pembantu, sopir pesuruh kantor, orang-orang dari strata ekonomi dan sosial terendah? Sering kali kebiasaan (baru) memuji tidak pernah singgah pada mereka, padahal mungkin merekalah yang paling membutuhkannya dan akan berkesempatan berubah paling banyak dari pujian yang tulus dari atasannya.
Mereka biasa paling sering disalahkan, dilecehkan, dan dikritik habis-habisan. Kritikan hanya akan mengerdilkan seseorang dan mematikan inisiatifnya. Sebaliknya, pujian akan menumbuhkan seseorang menjadi lebih kuat, berdaya, dan percaya diri.
Pujian membuat orang menjadi lebih baik. Dan, kemampuan memuji adalah skill yang sangat berguna untuk dikuasai. Orang yang sering dipuji cepat atau lambat akan belajar untuk memuji orang lain juga. Kalau kita sering saling memuji, kita akan lebih bahagia. Dan, kalau kita menjadi orang yang lebih bahagia, kebahagiaan akan cepat menyebar seperti virus, dan akan menjadikan dunia tempat yang lebih bahagia untuk dihuni.
Sekedar masukan, dalam diri setiap orang selalu ada hal yang bagus. Malahan, kalau kita mau kita bisa melatih diri untuk selalu pertama-tama melihat hal-hal yang positif dan sudah baik dalam diri seseorang, seperti yang dilakukan seorang evaluator di club Toastmasters di atas. Pasti ada yang baik dan bagus, karena Tuhan hanya menciptakan mahluk yang sempurna di mata-Nya. Kalau kita masih belum bisa memuji atau mencari sesuatu yang positif dalam diri orang lain, mungkin kacamata batin kita yang kotor dan perlu dibersihkan. Jangan lupa bahwa kita bisa mengubah hidup seseorang dengan sangat cepat hanya dengan seuntai pujian yang tulus.
Yuk kita coba ramai-ramai bikin hati orang di sekitar kita happy. Ayo kita buktikan efek dari memberi pujian dengan tulus.[ms]
* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putra. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.
** Tulisan ini adalah bagian pertama dari seri tulisan The Power of Praise, The Power of Prayers and the Power of Faith (Kekuatan Pujian, Doa dan Keyakinan).

Oleh: Miranda Suryadjaja*
Oleh: Miranda Suryadjaja*
Oleh: Miranda Suryadjaja*
