Home » Posts tagged 'Miranda Suryadjaja'

Tag Archives: Miranda Suryadjaja

The Power of Praise: Mengubah Dunia Lewat Pujian

msOleh: Miranda Suryadjaja*

Memberi pujian adalah jalan tercepat dan terpendek menuju hati seseorang.

~ Miranda Suryadjaja

Seringkah Anda dipuji orang? Atau lebih penting lagi, seringkah Anda memuji orang lain? Memberi pujian adalah jalan tercepat dan terpendek menuju hati seseorang. Terlalu sedikit dan terlalu jarang pujian diberikan, namun semua orang mengharap dan mendambakannya. Bahkan, ada orang yang secara tidak sadar memfokuskan seluruh upaya dalam hidupnya untuk mendapatkan pujian.

Apakah pujian sebenarnya? Definisi pujian yang paling sederhana adalah menyatakan sesuatu yang positif tentang seseorang, dengan tulus dan sejujurnya. Pujian yang akan saya bahas berikut ini adalah pujian yang disampaikan langsung pada dan di depan orang yang bersangkutan, bukan pada orang ketiga maupun di belakangnya.

Seseorang tumbuh menjadi lebih tinggi tatkala dipuji.

Tidak ada contoh yang lebih nyata daripada apa yang saya saksikan di club Toastmasters, sebuah international public speaking club yang banyak cabangnya di kota-kota besar Indonesia dan dunia. Di sinilah saya pertama kalinya melihat skill memuji dipraktikkan secara langsung dan konsisten dengan hasil yang sangat konsisten pula.

Seperti kebanyakan anggota Toastmasters, saya menjadi anggota di club ini karena saya sangat tidak pede tatkala harus berbicara di depan umum. Kalau harus berbicara di depan orang banyak, sering kali saya sampai tidak bisa tidur malam sebelumnya karena gelisah dan khawatir.

Pertama kali saya harus berdiri dan berbicara di depan anggota club, saya sangat gugup. Jantung saya bertalu-talu tak berirama memukul dinding dada, rongga mulut kering kerontang, peluh dingin bercucuran, dan telapak tangan basah berkeringat. Mereka hening mendengarkan dan semua mata dan perhatian dicurahkan pada saya. Belum pernah seumur hidup saya mendapat perhatian begitu terfokus dan besar selama 6 menit. Saya begitu yakin bahwa pidato saya sangat jelek dan memalukan.

Namun, setelah selesai berbicara semua anggota bertepuk tangan riuh. Saya kaget, “Apa yang mereka tepuki? Kemudian, MC dari meeting tersebut menyalami saya dan mengatakan hal-hal yang sekarang saya tidak ingat lagi. Namun intinya, dia memuji pidato saya serta hal-hal yang tidak pernah saya dengar sebelumnya tentang diri saya. Semua yang disampaikannya bernada positif.

Setelah si MC, majulah seorang evaluator yang mengevaluasi pidato saya. Dia memulai dengan memuji usaha saya sebagai pemula serta beberapa hal yang telah saya lakukan dengan baik. Misalnya, tidak membawa catatan, topik yang menarik, dan beberapa hal lain lagi yang sebelumnya tidak saya bayangkan akan mendapat pujian. Kemudian, ia juga memberi masukan tentang hal-hal yang dapat ditingkatkan untuk pidato berikutnya, tanpa menilai apa yang saya lakukan salah. Semua hal tadi dilakukannya dengan ramah dan suportif. Evaluasinya diakhiri dengan ucapan, “Saya tidak sabar menunggu pidatomu yang berikutnya.Yang saya alami, kata kritik tidak pernah dipakai di lingkungan Toastmasters.

Di tengah kekagetan saya, muncul rasa aneh, bahagia, senang, dan surprised yang susah dipaparkan dengan kata-kata. Tetapi yang jelas confidence atau pede saya langsung melonjak tinggi saat itu juga. Saya merasa dihargai, berarti, dan punya harapan baru. Kalau sebelumnya saya tidak pernah menganggap bahwa saya punya kemampuan untuk jadi seorang pembicara, anggapan itu seketika sirna. Sebagai gantinya, saya merasa bahwa bukan tidak mungkin satu saat nanti saya bisa bicara sebaik para senior di club saya. Pulang dari club hati saya berbunga-bunga, penuh gairah, dan semangat untuk menyiapkan tugas atau pidato saya berikutnya. Padahal, di club ini tidak ada guru, tidak ada batas waktu tugas, dan tidak ada nilai lulus atau tidak untuk setiap proyek yang kita lakukan.

Sebagaimana saya alami, saya lihat secara langsung bagaimana member-member yang bergabung setelah saya juga mengalami hal yang sama. Semua mengalami transformasi yang mirip; menjadi lebih pede serta terus tumbuh kembang menjadi lebih baik dan makin baik lagi. Di sini saya melihat bahwa kekuatan dari pujian yang diberikan secara tulus dengan maksud untuk men-support dan memberdayakan masing-masing anggota ternyata sangat ampuh dan efeknya seketika.

Belum lama ini saya memberikan seminar Effective Communication pada staf Bappeda lokal. Di sini saya praktikkan dan ajarkan skill memuji pada murid-murid saya. Kebanyakan dari mereka tidak terbiasa, bahkan ada yang sama sekali belum pernah dipuji maupun memuji seumur hidupnya. Ketika saya berikan pujian pada yang tidak pernah menerima pujian, saya bisa melihat dan merasakan bagaimana hati mereka merekah bagai kuncup bunga terkena tetesan air hujan pertama setelah kemarau panjang, yang kemudian mengembang dan penuh rasa sukacita.

Sesuatu yang selama ini terperangkap dan terpendam, telah terbebaskan. Rasa malu, tidak percaya diri, perasaan rendah diri seketika sirna digantikan oleh rasa percaya diri, dan keyakinan akan nilai dirinya. Matanya berbinar-binar, berdirinya lebih tegak, dan seketika terasa lebih ‘hidup’. Seiring dengan perubahan ini, sikapnya melembut; sikap keras, terkucil, ataupun ketidakberdayaan dengan cepat pudar digantikan oleh kelembutan dan welas asih.

Sekali lagi, saya menjadi saksi dari kekuatan pujian. Dan, rasa bahagia ini menular jauh lebih cepat daripada virus terganas yang kita kenal. Sebagai pengamat atau pemberi pujian, saya pun merasakan suka cita mendalam.

Bangsa kita memakai alasan bahwa kebiasaan memuji tidak sesuai dengan budaya Timur. Dengan alasan itu orang menganggap tidak perlu memuji dan sewajarnya tidak usah berharap untuk dipuji. Tetapi meski datang dari kebudayaan yang tidak biasa memuji, saya jamin tidak ada orang yang tidak berbunga-bunga hatinya apabila dipuji dengan tulus. Kata kunci di sini adalah tulus. Setiap orang bisa merasakan apabila pujian yang disampaikan padanya tidak bermuara dari hati yang memberikannya.

Di kalangan perkotaan dan masyarakat yang berpendidikan mungkin pandangan ini telah mulai mengalami pergeseran, dipengaruhi budaya barat yang kita tangkap lewat berbagai media massa. Para psikolog telah mulai mengajarkan untuk memuji anak agar mencapai prestasi yang maksimal. Namun, bagaimana perlakuan kita terhadap kaum yang marginal? Kalangan ekonomi rendah, pembantu, sopir pesuruh kantor, orang-orang dari strata ekonomi dan sosial terendah? Sering kali kebiasaan (baru) memuji tidak pernah singgah pada mereka, padahal mungkin merekalah yang paling membutuhkannya dan akan berkesempatan berubah paling banyak dari pujian yang tulus dari atasannya.

Mereka biasa paling sering disalahkan, dilecehkan, dan dikritik habis-habisan. Kritikan hanya akan mengerdilkan seseorang dan mematikan inisiatifnya. Sebaliknya, pujian akan menumbuhkan seseorang menjadi lebih kuat, berdaya, dan percaya diri.

Pujian membuat orang menjadi lebih baik. Dan, kemampuan memuji adalah skill yang sangat berguna untuk dikuasai. Orang yang sering dipuji cepat atau lambat akan belajar untuk memuji orang lain juga. Kalau kita sering saling memuji, kita akan lebih bahagia. Dan, kalau kita menjadi orang yang lebih bahagia, kebahagiaan akan cepat menyebar seperti virus, dan akan menjadikan dunia tempat yang lebih bahagia untuk dihuni.

Sekedar masukan, dalam diri setiap orang selalu ada hal yang bagus. Malahan, kalau kita mau kita bisa melatih diri untuk selalu pertama-tama melihat hal-hal yang positif dan sudah baik dalam diri seseorang, seperti yang dilakukan seorang evaluator di club Toastmasters di atas. Pasti ada yang baik dan bagus, karena Tuhan hanya menciptakan mahluk yang sempurna di mata-Nya. Kalau kita masih belum bisa memuji atau mencari sesuatu yang positif dalam diri orang lain, mungkin kacamata batin kita yang kotor dan perlu dibersihkan. Jangan lupa bahwa kita bisa mengubah hidup seseorang dengan sangat cepat hanya dengan seuntai pujian yang tulus.

Yuk kita coba ramai-ramai bikin hati orang di sekitar kita happy. Ayo kita buktikan efek dari memberi pujian dengan tulus.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putra. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

** Tulisan ini adalah bagian pertama dari seri tulisan The Power of Praise, The Power of Prayers and the Power of Faith (Kekuatan Pujian, Doa dan Keyakinan).

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Yang Penting Menulis Dulu, Baru Berpikir!

msOleh: Miranda Suryadjaja*

Baru saja saya mendapat ‘teguran’ dari Edy Zaqeus, pengasuh AndaLuarBiasa.com gara-gara saya sudah dua edisi absen menulis. Bukannya saya tidak mau menulis, tetapi dalam hampir dua bulan terakhir ini saya begitu lelet untuk menulis. Rasa malu bercampur jengah berkecamuk dalam diri saya. Namun, hari demi hari lewat tanpa saya bisa menyelesaikan tulisan yang membuat diri saya merasa puas. Jangankan mulai menulis, ide yang layak tulis saja tidak kunjung datang.

Padahal, setiap hari saya menulis entah di jurnal, menulis sejumlah e-mail panjang, mengkomentari tulisan orang lain, membuat tulisan untuk event, pokoknya setiap hari saya pasti menulis dalam bentuk apa pun.

Tetapi, kalau sudah berpikir menulis yang jadi kewajiban, yang ada deadline, apalagi yang akan dibaca orang banyak, saya seolah-olah menjadi tumpul pul! Otak jadi kelu dan kayaknya tidak ada topik yang layak ditulis.

Padahal, saya tahu menulis itu sama sekali tidak susah buat saya. Asal dikasih pena dan kertas serta ‘dipaksa’ menulis, pasti ada yang keluar sebagai tulisan. Dan, saya bisa menulis satu-dua jam tanpa merasa bosan atau lelah sedikit pun.

Lalu, mengapa saya begitu takut menulis? Kata guru spiritual saya, sumbernya bagi saya hanya satu: FEAR. Dan, lebih spesifik lagi Fear of Success, ketakutan menjadi sukses.

Aneh, ya…. Tetapi, itulah kenyataannya. Dan, obatnya hanya satu… perangi ketakutan, tidak ada yang lain. Untuk hal yang satu ini, ternyata buat saya susah luar biasa. Seperti ada tabir ketakutan yang tidak bisa saya dobrak.

Beberapa minggu terakhir sebenarnya saya juga sudah mencoba untuk menulis, tetapi ada saja penghalangnya, tentunya dari diri saya sendiri. Segala cara telah saya lakukan untuk memancing keberanian menulis . Saya sempat berperang hebat bak Bharata Yuda dalam batin saya. Satu bagian diri saya ingin sekali segera melahirkan suatu karya tulis yang berbobot. Rasanya ada yang kurang dan salah bahwa saya tidak juga membuahkan suatu karya. Sementara, bagian diri saya yang lain tidak kunjung mau memulainya. Ada keengganan yang luar biasa. Sungguh frustrasi rasanya. Saya marah pada diri saya. Saya kecam diri saya.

Akhirnya, saya berdoa supaya diberi jalan, karena toh apa yang akan saya ekspresikan tidak lain adalah buah karya Tuhan juga, yang ingin Ia sampaikan pada umatnya lewat saya sebagai salah satu penyambung pikiran-Nya.

Dua hari lalu, di tengah kebuntuan dan kefrustrasian saya, tanpa tujuan saya mondar-mandir di dalam rumah sampai akhirnya masuk ke ruang setengah gudang, tempat penyimpanan barang-barang transitan, yang belum tega dibuang, tetapi belum tahu mau diapakan. Di sana saya ‘iseng-iseng’ bongkar-bongkar, tanpa tujuan mencari sesuatu pun, menikmati menemukan barang-barang yang saya sudah hampir lupa bahwa saya miliki.

Di tengah-tengah tumpukan barang lawas, saya temukan DVD Finding Forrester, yang dibintangi oleh Sean Connery dan Robert Brown. Saya jadi ingat lagi bahwa itu film bagus, tentang seorang remaja kulit hitam yang punya bakat menulis luar biasa yang hampir tenggelam dan terlewatkan karena warna kulit dan lingkungannya yang miskin dan kumuh. Secara tidak sengaja, dalam cerita itu tentunya, dia ditemukan atau bertemu dengan seorang penulis sepuh yang pernah menjadi sensasi dunia sastra Amerika, dan pernah memenangkan hadiah Pullitzer lewat buku pertamanya, namun kemudian menghilang bak ditelan badai dan tak pernah lagi terdengar kabar beritanya. Sang maestro kemudian menjadi mentor penulisan bagi si remaja.

Pertemuan keduanya bagaikan pertemuan bara dengan minyak tanah. Api yang terpendam dalam keduanya langsung berkobar; panas, dahsyat. Suatu pertemuan yang ternyata sangat menginspirasi dan mengubah keduanya yang masing-masing haus akan pemahaman dari seseorang yang mengerti dan bisa melihat kedalaman dan kemampuan yang tak tampak secara kasat mata. Keduanya saling membutuhkan dan pada akhir cerita mereka saling membebaskan yang lainnya lewat tulisan masing-masing.

Pendek kata, film ini sangat indah, dan wajib ditonton oleh semua orang yang cinta tulis-menulis. Dijamin akan menginspirasi orang untuk mulai menulis.

Dalam satu adegan, sang penulis tua duduk dan langsung mulai mengetik dengan cepat tanpa henti sampai selesai satu halaman penuh. Kemudian ia berkata:

Pertama tulis draf dengan hati. Lalu, tulis ulang memakai pikiran. Kunci pertama dalam menulis adalah menulis, bukan berpikir.

Kadang irama ketikan datang dari halaman pertama ke halaman kedua. Waktu kau mulai merasakan kata-katamu, mulailah mengetiknya.

Wow…. Pernyataan di atas sangat membekas dalam hati saya. Telah berminggu-minggu saya menunggu mukjizat yang akan membuat saya bisa menulis artikel untuk diterbitkan. Dengan was-was saya nantikan ide cemerlang yang bisa memuaskan ego saya. Tak henti-hentinya saya berusaha mencari jawaban bagaimana saya bisa memerangi kebuntuan. Ternyata tidak penting semua itu.

Yang penting menulis dulu, baru berpikir. Itu saja.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putra. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Surat Cinta untuk Jeshua

msOleh: Miranda Suryadjaja*

Thank you, Jes….

Rasanya enggak mungkin aku mikir tentang diri-Mu tanpa merasa bersyukur atau mengucap syukur.

Aku cinta padamu, J….

Sesuai ajaran-Mu, aku merasa enggak benar kalau aku bilang aku cinta pada-Mu karena apa yang telah Kamu berikan untukku, atau karena semua yang Kamu lakukan bagiku, atau bahkan karena siapa Kamu sekalipun …. Kamu ajari aku bahwa aku sudah dicinta, penuh cinta, dan tercinta.

Sudah tiga tahun berlalu sejak kita ‘berkenalan’. Dan, lihatlah… bagaimana aku telah sangat berubah lewat perjalanan kita bersama…. Perjalanan tanpa akhir dengan tujuan yang enggak pernah berubah….

Kau ‘taklukin’ aku saat pertama kali kita ‘berkenalan’– ketika aku ‘mendengar-Mu’ untuk pertama kalinya. Sejak itu… aku enggak punya yang lain.

Aku ingat, waktu itu aku masih berupa si gadis kecil yang penuh ketakutan dan kecurigaan, yang merasa dirinya tidak berarti, yang menganggap dunia siap menerkamnya, menyakitinya… Menderita hidupnya….

Kamu telah mengirimi aku begitu banyak malaikat yang datang sebagai teman dan musuh yang mulia, mereka semua menjadi guruku sekarang….

Ada saat di mana aku menolak cara-Mu mentah-mentah, berdebat dengan-Mu, ngotot memaksakan mauku sendiri…. Kamu enggak pernah sekalipun menghalangi aku, mengejek, atau mengatakan aku enggak pakai otak, enggak pernah…. Alih-alih, Kamu diam-diam di salah satu sudut, dengan senyuman khas-Mu, sabar menunggu sampai aku sadar sendiri siapa diriku yang sesungguhnya.

Dan, ada saat di mana aku melakukan cara-cara Abba dan harus menanggung amarah dunia ini. Ketika aku tersisih, bingung dan tercampakkan, Kamu peluk aku erat, Kamu pinjamkan kekuatan-Mu sampai aku bisa berdiri kembali di atas kedua kakiku. Kamu selalu bisa mencari jalan untuk masuk kembali ke dalam diriku lewat celah-celah hatiku yang yang paling sempit sekalipun. Kamu dorong aku dengan lembut. Kamu bisikkan di telingaku: Pergilah ke sana, datanglah ke sini. Telepon orang itu. Ambil buku itu, baca halaman itu.

Atau, Kamu jatuhkan permata mutu manikam ke dalam benakku: Kau dicintai, pecinta, dan tercinta. Dengan dirimu sendiri kau tak bisa lakukan apa-apa. Tetapi Abba, lewat dirimu, bisa melakukan segalanya.

Lambat tetapi pasti, aku mulai lebih sering merasakan kehadiran-Mu dalam hidupku. Kamu selalu bersamaku, bahkan ketika aku sedang tidak bersama-Mu. Selalu siaga. Selalu siap.… Selalu mencari dan mencari lubang-lubang bukaan kecil itu. Menunggu aku menurunkan perisai hatiku, sehingga kau bisa menyelinap masuk, tanpa setahuku, ke sudut-sudut gelap pikiranku, mencurahkan sinar-Mu sehingga yang gelap menjadi terang kembali.

Dengan semakin terbukanya hatiku, semakin dalam juga cintaku pada-Mu.

Aku mulai melihat-Mu di setiap orang yang aku temui. Aku mulai merasa berani dan cukup berharga untuk mengundang-Mu masuk ke dalam hati dan benakku, untuk meminta-Mu menjadi diriku, sehingga aku juga bisa merasakan menjadi diri-Mu.

Kadang aku enggak tahu kapan Kamu berakhir dan aku dimulai. Tetapi satu hal yang aku tahu, aku jadi lebih kuat dan lebih jadi diriku yang sesungguhnya. Aku jadi lebih berani dan lebih pengasih. Aku mulai melihat yang Baik, yang Suci, dan yang Indah dalam diriku sendiri – sama seperti yang ada pada diri-Mu. Kamu menantang aku untuk berani masuk ke dalam kerajaan Abba, … aku lakukan itu… dan aku naik ke pangkuan-Nya, merangkak masuk ke sanubari-Nya, untuk serahkan hati dan jiwa ragaku pada-Nya. Dialah kekasihku.

Kamu ajari aku semua itu, Jes… Sering kali Kamu datang padaku ketika hari masih gelap, ketika subuh belum lagi menjelang. Kita bercengkerama, berdiskusi bernapas bersama-sama, kita rasakan dan saling sentuh jiwa kita. Kamu ingatkan aku bahwa aku mahluk tak berbatas, bahwa aku adalah jiwa yang murni, tak bisa dikotori, tak ternoda. Kau bilang bahwa Kau, aku, dan Abba adalah Satu adanya.

Kalau saja aku enggak mengalaminya sendiri, aku enggak bakal percaya bahwa hubungan Cinta di antara kita akan dan bisa terus tumbuh dan bersemi sepanjang waktu. Aku enggak mau kehilangan kamu, enggak untuk sedetik pun. Cinta kita begitu indah, begitu mulia, enggak bisa dilukiskan oleh oleh kata-kata.

Seiring dengan berjalannya waktu, aku belajar untuk mencintai diriku lebih dalam lagi, meskipun tetap belum sebesar cinta-Mu padaku.… Tetapi, aku terus belajar, apalagi aku punya Guru dan Contoh yang luar biasa…. Aku terus membuka diriku untuk mencintai.Bagaikan kuncup mawar yang merekah oleh sentuhan embun pertama di musim semi… kukecup, kurengkuh, kuteguk.

Engkau pernah mengatakan bahwa kerinduanku pada-Mu adalah kerinduan-Mu padaku, cintaku pada-Mu adalah cinta-Mu padaku. Betapa Kau mencintaiku, Jes…. Begitu setia, begitu ikhlas.… Kau curahkan cinta ke dalam hatiku tak henti-hentinya. Namun, hausku akan diri-Mu enggak kunjung habis, dan enggak bakalan habis…. Ajari aku, untuk bisa membuka diriku lebih dalam lagi, supaya Kau bisa masuk hingga nadirku.

Terima kasih, Jes.… Sekarang dan selamanya….

Enggak lagi aku kerdil oleh ketakutan.

Enggak lagi aku pakai perisaiku untuk menolak pandangan yang berbeda.

Enggak lagi aku bendung cucuran airmataku tatkala jiwaku ingin mebasuh bersih dirinya.

Enggak lagi aku melihat orang-orang asing dalam mata saudara-saudaraku.

Aku cinta pada-Mu, sayangku, aku kekasih-Mu.

……………………..

16 Juli 2009[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putra. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 3 votes)

Mencintai atau Mengasihi?

ms1Oleh: Miranda Suryadjaja*

Saya punya seorang teman jomblo. Orangnya menarik, supel, dan enak diajak bicara. Kita sebut saja namanya Ani. Dia merasa stok pria yang bisa diajak kencan sangat terbatas, atau boleh dikata tidak ada. Saya katakan padanya bahwa saya punya beberapa teman pria seumuran kami yang menarik untuk diajak berteman atau kencan.

Mau dikenalin enggak? tanya saya.

Mau, mau…, jawabnya.

Lalu, seorang teman lain menimpali, Kalau ternyata cocok kamu maunya gimana, apa cowok itu masih boleh berteman dengan cewek lain?

Ya enggak, harus stop dengan yang lainnya…,” kata Ani.

Lho, cinta kan tidak harus membatasi? kata saya. It is possible untuk mencintai tanpa harus memiliki. Mungkin saja para pria tersebut sudah beristri, tetapi masih membutuhkan teman mengobrol, teman jalan, dan teman main. Mungkin setelah lama menikah mereka menyadari ada sesuatu yang missing dari pasangannya, dan mencari yang hilang itu pada orang lain, tanpa harus berselingkuh dalam arti luas, tanpa harus menceraikan istrinya. Toh sebagai jomblo kita hidup berkecukupan dan lebih bahagia hidup tanpa harus mengurus suami atau pacar.

Wah, mana mungkin kita bisa mencintai seseorang tanpa ingin memilikinya? Kalau enggak ingin memiliki itu bukan mencintai, tetapi mengasihi namanya,” tukas Ani. Cinta tanpa syarat idealnya hanya mungkin dimiliki oleh seorang ibu untuk anak-anaknya.”

Buat saya mencintai dan mengasihi itu sama. Saya pernah mengalaminya, lanjut saya.

Sementara saya berpikir bagaimana cara menjelaskan apa yang saya maksud agar mudah dipahami, waktu kami untuk berdiskusi habis. Namun, percakapan kami terus mengiang-ngiang di benak saya, mencintai atau mengasihi; sama atau beda?

Saya pernah bercerita kepada seorang teman pria bahwa saya sekarang sudah mengerti apa artinya mencintai tanpa syarat, tanpa batas, tanpa hubungan itu harus jadi platonik. Dia paham apa yang saya maksud, tetapi dia minta saya coba menjelaskannya lebih jauh, supaya dia bisa menjelaskannya pada orang lain. Belum sempat saya jawab, sekarang topik ini muncul lagi, jadi saya akan berusaha untuk menjelaskannya.

Pemahaman ini lebih merupakan hasil dari suatu proses daripada merupakan sebuah kesadaran yang datang dengan tiba-tiba. Secara intelektual saya mengerti dan suka konsepnya, cinta itu memercayai segalanya, merangkul segalanya, mengikhlaskan segalanya, sehingga meng-transend segalanya. Kedengarannya indah, luar biasa.

Pengalamanlah yang akhirnya menghantarkan saya pada pemahaman sebenarnya dari konsep tersebut.

Saya tahu bahwa saya paham ketika saya tidak lagi merasakan penderitaan, kepedihan, ataupun ketakutan akan ‘kehilangan’, sementara perasaan cinta dan kasih mendalam terhadap orang yang berada di hadapan saya tidak berkurang satu iota (huruf, sedikit) pun.

Hingga pemahaman ini muncul, saya harus mengalami pengggodokan batin dan jiwa habis-habisan terlebih dahulu. Saat itu saya telah hampir setahun putus dari ex-partner saya. Sebelum break yang setahun itu kami sempat beberapa kali putus sambung. Dan, meskipun saya yang terakhir memutuskan, saya berkeyakinan bahwa suatu saat kami akan nyambung lagi karena saya tidak meragukan keutuhan tekad dan kesetiaan partner saya tersebut.

Saya putuskan hubungan tersebut karena pada dasarnyameskipun kami berdua tidak ingin berpisahada ketidakcocokan mendasar yang tidak bisa dijembatani saat itu. Saya merasa perlu waktu untuk memperjelas dan mempermudah hubungan kami. Semasa putus kami meneruskan pengembangan diri masing-masing, karena kebetulan kami berdua punya komitmen kuat untuk terus tumbuh dan berkembang, dan masih sering bertemu untuk berbincang dan berbagi.

Nah, setelah setahun, saya merasa mulai lebih dekat dan lebih memahaminya, serta siap untuk merajut kembali hubungan kami. Kami memang telah mendiskusikan kemungkinan itu, meskipun dia juga dengan jujur menyatakan bahwa dia merasakan ketertarikan pada seseorang yang baru hadir di kehidupannya. Saya merasa yakin bahwa saya punya pengaruh dan ikatan yang lebih kuat atas dirinya. Kami mempunyai kesamaan dalam banyak hal, sementara wanita baru ini seorang perempuan desa yang sangat sederhana, lugu, dan masih sangat muda. Partner saya adalah orang yang sangat serius untuk menjalin hubungan yang terakhir dalam hidupnya. Dan, dia adalah tipe yang tidak pernah perlu diragukan kesetiaannya.

Sementara itu, hubungan kami makin membaik, kami lebih mudah berkomunikasi dan lebih terbuka satu sama lain. Persahabatan yang sebelumnya bukan aspek utama dari hubungan kami kemudian menjadi semakin terpupuk. Tentunya hal ini tidak lepas dari usaha dan proses kami secara terpisah untuk lebih memahami diri lebih dalam dan belajar dari kehidupan maupun pengalaman.

Akhirnya, kami bertemu lagi untuk membicarakan kepastian apakah kami akan kembali melanjutkan hubungan kami atau tidak.

Ternyata… dia tidak memilih saya. Dan saya tahu, sekali dia memilih dan memutuskan dia tidak akan menoleh ke belakang lagi. Apa pun konsekuensi dari keputusannya akan dia jalani, sehingga saya pun tidak berusaha mengubah pikirannya. Saya merelakannya.

Tetapi, rupanya kerelaan saya hanya sebatas omongan, belum sampai kepada kesadaran yang terdalam. Di sinilah saya di-gojlog habis-habisan, mengalami penderitaan batin yang luar biasa, yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Hati sakit, ego terbanting habis, tak terkira air mata yang saya keluarkan. Rasanya ingin berargumentasi dengannya, membujuknya, bahkan memaksanya untuk melihat dan menimbang kembali apa yang kami miliki bersama, yang kayaknya tidak layak dibuang begitu saja.

Berhari-hari saya bergelimang dalam keterpurukan, ketidakrelaan, dan penderitaan yang luar biasa. Rasa kecewa, bingung, sedih, sakit, kehilangan harga diri, tercampakkan, ketidakberdayaan mengepung saya dari segala penjuru. Segala ilmu dan kemampuan yang saya miliki dan pelajari selama ini terasa majal, tidak mempan untuk mengatasi kepedihan yang begitu hebat.

Saya meminta-minta pada Guru saya untuk membantu mengakhiri penderitaan tersebut karena saya tahu beliau bisa. Namun ditolaknya. Dia katakan bahwa saya harus masuk ke dalam penderitaan ini sampai ke titik nadir, merasakan benar-benar semua perasaan yang muncul, supaya saya bisa keluar dari kubangan pesakitan.

Tentunya saya juga tidak berhentinya berdoa pada Tuhan, memanggil Jeshua berulang-ulang untuk memberi saya pencerahan. Saya sadar bahwa semua ini merupakan pembersihan dan penyucian dari cengkeraman ego, meskipun kesadaran tersebut tidak meringankan penderitaan saya. Saya hanya bisa berharap bahwa kegelapan ini segara berlalu.

Seminggu penuh saya hanya fokus merasakan perasaan, mengurung diri di rumah tanpa bisa melakukan hal lain. Akhirnya, suatu pagi kegelapan itu terkuak, secercah sinar menerangi jiwa saya. Plong sudah, penderitaan sirna, digantikan oleh kedamaian, rasa syukur, dan keikhlasan. Saya bisa tersenyum lagi.

Beberapa bulan kemudian ketika saya bertemu dengan seorang pria, berkenalan, dan rasa suka berubah menjadi rasa bersahabat menjadi rasa cinta, saya mengalami hal yang berbeda dari yang pernah saya alami sebelumnya. Pria ini mempunyai komitmen pada wanita lain di negaranya, namun ketika dia ada di depan saya dan saya di depan dia, perasaan cinta yang begitu besar kami rasakan. Perasaan cinta yang tidak terbebani, tidak berkaitan dengan masa lalu, tidak mengandai-andai ke luar dari apa yang ada di depan kami saat itu, namun fokus pada memberikan segalanya pada momen tersebut.

Yang terasa adalah suatu kebebasan merasakan, kebebasan memberi dan menerima, tanpa mengukur maupun mengurangi kapasitas mencintai yang ada pada diri kami masing-masing. Rasanya begitu penuh, kaya, tanpa ketakutan akan kehilangan. Kami memberi tanpa berharap, menerima tanpa berhutang. Tatkala dia tidak ada di depan saya tidak ada rasa kehilangan, cinta, rasa penuh, dan rasa ikhlas tidak berkurang. Tatkala kami berjumpa, kami berdua berada di dalam momen yang sama, bersama sepenuhnya. Tatkala kami berpisah tidak ada kebutuhan atas pengulangan ataupun keterikatan pada pengalaman. Rasa rindu datang dan pergi, diamati dan dinikmati bagaikan arakan awan putih yang lewat di langit yang biru.

Dari sana saya tahu bahwa saya sudah terlepas dari kebutuhan untuk memiliki orang yang saya cintai, dan bahwa mencintai adalah suatu pilihan, suatu keputusan. Saya bisa memilih dan memutuskan untuk mencintai secara sadar siapa pun yang ada di hadapan saya. Tuhan telah hadir.

Kalau saya tidak mencintai itu karena saya memilih untuk menilai orang tersebut berdasarkan nilai dan ukuran yang saya pilih dan tetapkan. Hal ini sudah saya praktikkan dengan orang lain, pria maupun wanita. Konteks hubungan menjadi tidak relevan lagi. Hubungan fisik pun tidak lagi menentukan. Karena, hubungan fisik tidak lain dari salah satu ekspresi cinta yang bisa menjadi pilihan, atau bukan pilihan, sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Sex, sentuhan, atau sekadar saling memandang lewat jendela hati memberikan kepuasan dan kenikmatan yang sama dalamnya.

Ah… nikmatnya mencintai yang memercayai, mengikhlaskan, merangkul, dan membebaskan…. Membebaskan dari penderitaan yang timbul dari ketakutan akan kehilangan dan kecurigaan, serta leluasa untuk memberi tanpa berharap dan menerima tanpa berutang…. Jadi, apa kita masih perlu memilah-milah siapa yang harus dicintai, siapa yang harus dikasihi?

Mungkin dunia belum siap untuk bercinta seperti ini, tetapi bukan berarti itu tidak mungkin dan tidak bisa…. Pilih cinta atau ketakutan? Kebutuhan untuk memiliki objek cinta kita tidak lain dari ketakutan akan kehilangan dan keyakinan bahwa cinta yang utuh adalah cinta yang tidak berbagi. Padahal, semakin kita membuka hati dan memilih untuk mencintai tanpa syarat, tanpa kualifikasi, maka akan semakin besar, kaya, dan utuh cinta yang dapat kita terima, rasakan, dan miliki.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putra. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Siapa Jesus?

msOleh: Miranda Suryadjaja*

Tuhan Jesus, Raja Diraja, itu adalah Jesus versi seorang teman saya yang Kristen. Ada pula yang menyebutnya Jesus Kristus. Hhmmmm… ini berbeda dari pengalaman saya tentang Jesus atau Jeshua. Mungkin anggapan umat Islam yang percaya bahwa Jesus adalah seorang Nabi adalah lebih dekat dengan anggapan Jeshua tentang dirinya. Jeshua ben Joseph yang saya kenal selalu menekankan bahwa Jesus tidak berbeda dengan kita, bahwa Jesus adalah saudara tua kita, dan apa yang Jesus lakukan kita pun bisa melakukannya, bahkan lebih sekalipun. Jesus tidak membutuhkan semua puja-puji dari umat manusia, maupun pengakuan bahwa Ia yang tertinggi.

Tuhan tidak sama dengan Jesus. Jesus menyebut Tuhan sebagai Bapa/Ibunya, sumber dari segala yang ada. Meskipun kita adalah satu dengantanpa pembatas dan tanpa pemisahTuhan tetap adalah Sang Pencipta dan kita, seluruh dan semua yang ada adalah yang diciptakan.

Yang membedakan kita dengan Jesus ialah bahwa sejak kecil Ia telah diajarkan oleh guru-guru-Nya, dan kedua orang tua-Nya, untuk mengenal dan melihat Tuhan pada semua yang ada. Ketika Ia berusia dua belas tahunan, hal favorit-Nya adalah duduk di pesisir pantai dan menatap alam semesta sembari bertanya, bagaimana semua ini ada? Lewat pertanyaan yang terus-menerus Dia ulang, Ia diyakinkan bahwa kita bukanlah pencipta, melainkan yang diciptakan. Kita tidak menciptakan anggota tubuh kita, kita tidak bisa menciptakan impuls yang menggerakkan tangan kita. Kita tidak bisa menciptakan pohon, langit, bintang, air dan sebagainya. Dan, siapa diri kita bukanlah badan kita, pikiran kita, perbuatan kita, identitas kita, melainkan sesuatu yang tidak pernah berubah, tidak dapat berubah dan tidak akan berubah, dan abadi selamanya.

Bahkan, kejadian penyaliban-Nya pun dijalani-Nya dengan penuh kesadaran untuk mengetes diri-Nya sendiri seberapa besar keyakinannya akan Tuhan, dan bahwa jasadnya tidak kekal, namun yang ada dalam diri-Nyalah yang kekal dan satu dengan Tuhan. Bukan untuk menyelamatkan dan menebus dosa-dosa manusia melainkan untuk mengingatkan diri-Nya dan mendemonstrasikan bahwa Tuhan itu ada dan siapa kita sebagaimana kita diciptakan oleh Tuhan kekal dan abadi adanya.

Penyelamatan atas umat manusia hanya dapat dilakukan oleh diri kita sendiri. Kedatangan Sang Juru Penyelamat yang kedua kalinya tak lain dan tak bukan ialah kesadaran dan pengakuan manusia sendiri tentang siapa dirinya yang sebenarnya, ciptaan Tuhan yang tidak terbatas, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, yang kekal dan abadi untuk selamanya.

Kesadaran dan pengakuan itu akan tuntas tatkala manusia telah bisa merangkul, mencintai, dan memaafkan dirinya sendiri dari semua penilaian (judgment) atas persepsi yang diciptakannya secara salah (perceptions made in error) dalam ketidaktahuannya (ignorance).

Jeshua juga mengingatkan dan mengimbau berulang kali agar umat manusia selalu mulai dengan pertama-tama mencari kerajaan Tuhan terlebih dahulu, dan dengan demikian semua akan diberikan padanya. Maksudnya adalah agar kita mengingat dan berserah diri pada Tuhan sebelum kita melakukan segalanya, bahkan sebelum kita menghirup napas maka semua akan baik dan benar adanya.

Banyak orang berdoa mengatakan hal yang sama, namun pada kenyataannya tetap ngotot memakai pikirannya sendiri. Saya pun terkadang, walau telah mengatakan Apa Kau ingin aku lakukan, Tuhan? terkadang tetap memaksakan kehendak saya, dan mau semua terjadi sesuai seperti yang saya inginkan dan bayangkan.

Sebenarnya, pada waktu kita memanjatkan doa itu, jawabannya begitu instan dan pasti, sebagaimana terdengar dalam batin dan hati kita. Masalahnya, kadang yang yang diinstruksikan Tuhan tidak sesuai dengan yang kita harapkan atau seperti yang kita bayangkan, sehingga kita berdebat dengan Tuhan, Tetapi Tuhan itu tidak masuk akal, dan saya tidak mau itu terjadi seperti itu. Kemudian kita berdoa lagi dan memohon jalan dari Tuhan. Dan hebatnya Tuhan, Ia tidak pernah berhenti memberi kita apa yang kita minta. Hanya saja dari 1.000 jawaban yang diberikan-Nya kita menunggu sampai ada yang pas dengan kemauan kita.

Atau, kita tidak percaya bahwa kita berhak mendengar langsung dari Tuhan, merasa tidak pantas menerima karunia-Nya karena kita mahluk yang penuh dosa dan tidak berarti di mata Tuhan. Sehingga, jadilah kita membuang waktu, berusaha dengan upaya kita sendiri yang terbatas, menemukan rintangan dan hambatan berkali-kali, dan membuat kesalahan yang percuma. Sementara, jalan Tuhan seperti kata Jeshua sangat simple dan mudah kalau kita ikuti seruan-Nya yang pertama kali.

Jawaban Tuhan memang sering kita anggap tidak masuk akal atau susah kalau kita gunakan logika kita berdasarkan apa yang kita tahu. Tetapi, kita tidak sadar bahwa pengetahuan, tingkat kesadaran, dan kemampuan kita memahami Tuhan teramat sangat terbatas. Sehingga, terlalu cepat kita menilai instruksi-Nya sebagai tidak mungkin, atau kita tidak mau melakukannya karena gengsi, karena takut pada apa kata orang, karena merasa tidak mampu. Padahal, tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, dan Tuhan tidak mengenal batasan waktu maupun ruang.

Karenanya sering kali kita mendengar atau bahkan menyaksikan dengan kepala sendiri kejadian-kejadian atau mukjizat yang dilakukan oleh para master, avatar, nabi dan orang-orang suci lainnya. Hal itu dapat terjadi karena ketika mereka berdoa dan memohon sesuatu mereka tidak pernah berpikir dua kali untuk melaksanakannya begitu jawaban Tuhan mereka terima. Hasilnya adalah pengurangan waktu yang luar biasa, dan seolah-olah tampak begitu effortless–tanpa usaha sama sekali.

Tuhan selalu mendengar kita. Pikiran kita, keinginan kita, impian kita sebelum kita untai menjadi doa pun sudah terdengar oleh Tuhan. Ada seorang wanita muda yang datang pada saya, karena berharap mungkin saya bisa membantu dia mewujudkan impiannya. Sudah sejak sepuluh tahun yang lalu dia punya dream yang sangat kuat untuk bisa pergi ke Spanyol, untuk bisa berbahasa Spanyol, dan hidup di sana. Dia mendatangi saya karena dia dengar saya bisa berbahasa Spanyol. Gadis ini tampaknya cukup supel, gampang bergaul, cerdas, dan mempunyai kemampuan komunikasi yang baik.

Apa saja yang telah pernah kamu lakukan demi menggapai dream kamu itu? Apakah kamu pernah mengikuti kursus bahasa Spanyol? tanya saya.

Dia mengatakan, Well, saya kan dari keluarga sederhana, sekolah cuma lulus SMA, dan saya merasa pasti akan susah untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Wah…wah…wah…, belum-belum sudah negative thinking. Lalu, dia lanjutkan ceritanya dan memberikan saya semua alasan kenapa sangat sulit mewujudkan impiannya tersebut. Padahal, saya lihat dan rasakan memang besar sekali keinginannya. Kalau begini harus cepat di-cut story dan pembenarannya.

Saya bilang, Do you really want your dream so badly?

Yes, jawabnya langsung dan pasti.

Apa yang kamu sedia berikan dan lakukan untuk mencapai dream kamu itu? tanya saya lagi.

Everything! katanya tegas.

OK, saya akan memberi kamu sebuah usul.

Saya beri dia usulyang menurut saya paling cepat dan efektifuntuk langkah pertama menuju pencapaian dream-nya. Yaitu bekerja sebagai housekeeper di tempat teman saya orang-orang expatriate berbahasa Spanyol di Jakarta. Saya paham image bekerja sebagai PRT tidak nyaman baginya. Sudah saya jelaskan mereka ini orang-orang yang saya kenal, dan orang bule biasanya memperlakukan stafnya dengan sangat manusiawi dan terhormat. Bahkan, sering kali lebih baik daripada orang kita memperlakukan pegawai kantornya. Namun, usulan saya itu ditolaknya.

Saya katakan padanya bahwa dengan mulai di sana dia akan banyak berkenalan dengan orang-orang berbahasa Spanyol. Dengan kepribadian dan pengetahuannya, saya yakin dia akan cepat mendapatkan kontak dan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan sepadan.

Namun intinya, seperti saya paparkan padanya, tidak ada yang kebetulan. Sebagaimana disampaikannya dia menemukan saya lewat serangkaian kejadian yang tampaknya tidak disengaja. Saya tanya padanya, sadarkah dia bahwa sebetulnya selama 10 tahun terakhir mungkin telah ratusankalau tidak ribuan kaliTuhan mengulurkan tangan padanya, namun selama ini ditolak terus dengan berbagai dalih ketidakcocokan. Dan sekarang, bukan kebetulan dia dipertemukan dengan saya oleh Tuhan, tetapi masih belum cocok juga usulan-Nya. Mungkin ia harus menunggu sepuluh tahun lagi sebelum dapat jawaban yang pas dengan logika dan kemauannya.

Contoh lagi Ibu saya. Beliau sangat religius, Katolik, dan sangat rajin berdoa. Katanya, dia dekat dengan Tuhan dan yakin doa-doanya pasti dikabulkan Tuhan. Usianya hampir 80 tahun, sakit-sakitan, dan sering dilanda rasa sakit pada bagian-bagian tubuhnya. Beliau bilang sudah pasrah dan siap dipanggil Tuhan, dan selalu berdoa supaya jangan hidup lama tetapi dengan menderita sakit. Cuma, katanya, dia kasihan pada suaminya, ayah saya, yang kalau ditinggal siapa yang urus dan jaga. Jadi, dia mau ayah saya pergi duluan.

Kalau saya jadi Tuhan, permohonan yang saya dengar kira-kira begini: Tuhan, panggil saya kembali ke pangkuan-Mu, saya sudah siap menghadap-Mu kapan saja. Tetapi, tolong jangan saya dipanggil sebelum suami saya berpulang karena nanti tidak ada yang mengurus dia seperti saya mengurus dan menjaganya. Oh ya, Tuhan, selama saya belum dipanggil, tolong hilangkan semua sakit saya, supaya saya tidak merasakan sakit kalau saya harus hidup lebih lama untuk mengurus suami saya. Nah, bingung enggak kalau ada mixed messages seperti itu? Tuhan akan bilang, Jadi maumu apa?

Kita manusia, memang kalau berdoa memohon pada Tuhan sering kali memakai syarat. Dan, dianggapnya Tuhan itu seperti manusia pula. Atau, favorit Ibu saya yang satu lagi: Tuhan beri anak saya kebahagiaan supaya saya bisa bahagia juga. Lho, kok kebahagiaan harus bersyarat? Saya tanya pada Ibu saya: Bagaimana wujud kebahagiaan yang Ibu maksud? Jawabnya: Ya, hidup harmonis, suami-istri tidak bertengkar. Jadi, kalau pas lagi bertengkar, apa kebahagiaan itu sirna? kejar saya. Ya, makanya Ibu tidak mau sering-sering lihat anak-anak. Ibu enggak mau lihat kalau mereka lagi bertengkar.

Aneh ya, rupanya Ibu saya sendiri pun tidak tahu apa wujud kebahagiaan baginya. Yang dimilikinya adalah suatu wujud ideal bagaimana seharusnya kebahagiaan itu menurut anggapan dan keyakinannya. Bukan kebahagiaan yang dirasakan di hati yang tidak ditentukan oleh suatu yang eksternal. Tidak heran kalau ibu saya jarang sekali merasa bahagia. Selalu menunggu, dan menunggu, dan menunggu….

Banyak orang berdoa sembari berjanji, Tuhan kalau saya diberi… saya akan…. Tuhan bukan manusia, yang biasa suka barter dan pakai pamrih. Apa pun yang diminta, Tuhan pasti memberi yang terbaik dan tertinggi bagi kebesaran dan keagungan roh/spirit manusia. Tanpa syarat, bukan kepicikan atau kekerdilan ego manusia yang penuh keterbatasan. Hanya saja persepsi kita dan persepsi Tuhan tentang apa yang terbaik bagi diri kita berbeda.

Andaikata kita belum mau menerima pemberian Tuhan pun, Ia tak akan henti-hentinya mencurahkan berkah dan kasih-Nya, seolah-olah mengatakan, Kau tidak mau yang itu? Ok, bagaimana dengan yang ini, kuturunkan frekuensinya supaya kau dapat menerimanya dalam ilusi keterbatasanmu? Oh, masih belum bisa menerima, Ok, aku turunkan lagi frekuensinya?

Akhirnya, yang kita peroleh… ya sesuai dengan seberapa kita mau menerima anugerah Tuhan, yang kita rasa pantas untuk kita. Setelah banyak waktu berlalu dengan susah payah, setelah kebentur dan blunder di sana sini. Jesus mengatakan bahwa beda Dia dengan kita adalah bahwa Dia selalu bermuara pada Tuhan, dan selalu memilih frekuensi yang setinggi-tingginya, yaitu frekuensi Tuhan, frekuensi Kasih Sayang. Dan, Ia tahu bahwa Ia dan Tuhan satu, karenanya Tuhan Mahatahu, bahkan sebelum kita ucapkan pun, sebelum kita pikirkan pun, Tuhan telah tahu apa yang kita butuhkan.

Sering saya mengalaminya, baru terpikir sesuatu, jawabannya telah datang. Dan, karena cepatnya, bahkan sebelum sempat saya selesaikan pikiran saya, saya tahu itu bukan datang hasil olah pikiran saya sendiri. Karena, kalau saya pikirkan jawabannya tidak akan begitu yang keluar. Sebagian orang akan bertanya, Bagaimana bisa tahu itu datang dari Tuhan? Saya dan Tuhan adalah Satu, berarti segala-galanya hanya ada Satu.

Yang datang pada saya semua datang dari Tuhan, dan karena saya tahu bahwa yang datang dari Tuhan selalu yang terbaik dan tertinggi untuk saya, maka apa pun yang terjadi dalam hidup saya selalu karena Tuhan menginginkan yang terbaik, terindah, dan tertinggi bagi saya. Apa pun wujud kasarnya, betapa tidak mengenakkannya pun tampaknya pengalaman tersebut bagi saya. Karena, kemampuan saya menilai, menganalisis, dan membuat kesimpulan sebagai manusia teramat sangat terbatas.

Intinya ajaran Jeshua hanya satu: I and my Father are One. Kalau kita benar-benar paham itu, kita tahu siapa sebenarnya kita: Perwujudan dari pikiran cinta kasih yang sempurna, tak berbatas, tak berubah selamanya.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putra. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: -1 (from 1 vote)

Kehilangan dan Kebaruan Diri

Miranda SuryadjajaOleh: Miranda Suryadjaja*

Mungkin saya salah satu dari sedikit orang yang di zaman begini masih belum pernah mem-back up data komputer utamanya. Alasannya: ‘Ntar aja’. Belasan kali telah saya dengar cerita dari teman-teman saya soal komputer mereka error, hingga data yang di komputer tidak bisa terselamatkan, serta betapa sedihnya mereka ketika hal itu terjadi. Bukannya saya tidak simpati, bukannya saya tidak peduli, tetapi kalau belum dialami sendiri memang belum tertohok. Sepertinya ada pikiran ‘It happens to other people, not to me’.

Kemarin dulu, mulanya iMac saya berbunyi kerisik-kerisik, saya mendengarnya, tetapi tidak menganggapnya serius. “Paling-paling komputernya capek, pikir saya. OK, dimatikan dulu, ntar baru dihidupkan lagi. Saya masih sempat membuat dokumen-dokumen baru, burn beberapa CD, menulis email, dll. Tetapi ibaratnya orang yang matinya gampang, hard disk komputer saya tidak lama sakitnya. Keesokan harinya dia sudah tidak booting lagi, hanya memberi tayangan tanda tanya. Ketika saya telepon toko langganan saya, mereka mengatakan nada-nadanya sudah tidak ada harapan lagi, dan agar saya segera melarikan iMac saya ke ruang gawat darurat mereka.

Saya masih juga berharap dengan komputer tercinta saya yang baru saja berulang tahun pertama beberapa minggu yang lalu. Setelah diperiksa beberapa saat, jawabannya ‘Repair Not Possible’, jadilah hard disk saya bangkai komputer sungguhan. Itu yang tampak kasat mata. Namun, benarkah itu terjadi semata-mata karena keteledoran saya? Karena tidak beli garansi tambahan, karena tidak cepat tanggap ketika bunyi kerisik pertama terdengar?

Dua hari sebelumnya terlintas di pikiran saya. Nyepi sebentar lagi tiba. Bagi umat Hindu, Nyepi adalah Tahun Baru, yang didahului dengan persiapan batin, emosi, mental, dan fisik. Kalau mau mengikuti dengan benar, saya akan melakukan puasa semuanya; puasa makan, puasa bekerja, puasa berjalan-jalan, serta puasa hiburan pancaindera. Saya memutuskan untuk bersih-bersih ruangan saya, membuang barang-barang yang sudah tidak dipakai lagi, ibaratnya membuang beban masa lalulah.

Nah, salah satu bagian dari program bersih-bersih ini adalah bersih-bersih komputer. Membuang data yang sudah tidak relevan lagi, mengosongkan hard disk sehingga ada tambahan memory. Pada hari kematian komputer saya, entah kenapa pagi-pagi benar saya sudah menjinjing Powerbook saya (laptop) ke ruang sebelah, lalu satu per satu saya delete isi komputer itu, karena kebetulan komputernya sudah mulai tua dan memory-nya pun kecil pula.

Foto-foto dan lagu-lagu, dokumen-dokumen lama yang tidak perlu saya bawa ke mana-mana saya hapus, dan juga pikiran saya kan sudah ada copy-nya semua di iMac saya yang jauh lebih besar memory-nya, kalau perlu masih ada back up. Saya asyik men-delete, dan akhirnya saya delete pula semua yang telah saya delete, tuntas habis permanen. Saya lihat komputer saya mendapatkan kembali memory kosong lebih dari empat puluh persen banyaknya.

Tatkala saya kembali ke tempat di mana iMac saya berada, saya dapatkan dia sudah tidak bereaksi lagi, sisanya sudah jadi sejarah, seperti yang telah saya ceritakan tadi di atas.

Kejadiannya berlalu begitu berurutan dan saling berkaitan untuk dapat dikatakan suatu kebetulan. Mulai dari niat saya untuk memulai lembaran baru dengan datangnya Tahun Baru Nyepi. Kemudian data saya terhapus begitu banyak dan begitu cepat sekaligus, dengan bantuan saya pula. Rasanya terlalu kompleks dan rumit perencanaannya untuk dapat saya rancang sendirian.

Jeshua mengatakan, Bagaimana kalau Bapamu tahu apa yang terbaik bagimu, dan semua yang terjadi padamu adalah upaya-Nya untuk membangkitkan kesadaranmu yang tertinggi?

Berpegang pada kalimat di atas, saya melihat hilangnya sebagian besar data saya sebagai sebuah rangkaian peristiwa yang sangat jelas saling berkaitan dan terencana dengan sempurna. Dimulai dengan niat saya untuk membuka lembaran baru yang masih kosong. Apa yang lebih simbolis daripada komputer yang kehilangan seluruh datanya, dan yang backup-nya pun saya hilangkan. Siapa yang memasukkan pikiran untuk membersihkan diri dan lingkungan untuk menyambut hari Nyepi yang suci? Siapa yang membuat saya tergerak untuk untuk menghapus data-data kadaluarsa dari laptop saya? Serta siapa yang menggerakkan otot-otot badan saya untuk melaksanakan pikiran saya? Seperti kita tahu, apa yang terlintas di pikiran kita belum tentu berujung pada suatu tindakan nyata. Bisa saya berpikir untuk melakukan sesuatu tetapi tidak melakukannya.

Sehingga, saat saya bersiap-siap menerima berita kematian komputer saya, tidak sedikit pun kesedihan yang terlintas dalam diri saya, karena saya melihatnya sebagai sebuah klimaks dari rentetan peristiwa yang begitu sempurna. Ada rencana yang lebih besar dan lebih indah untuk saya, mungkin data-data tersebut sudah tidak relevan lagi bagi hidup saya yang sekarang. Foto-fotonya memang, ada rasa sayang, tetapi karena saya percaya rencana Tuhan untuk saya selalu yang terbaik, maka kehilangan koleksi foto yang lumayan besar tidaklah terlalu saya sedihkan. Foto-foto dan lagu-lagu, yang merupakan bagian terbesar dari yang saya delete, adalah bagian dari suatu atau banyak kenangan. Tidaklah terlalu penting saya gelendoti image-nya, atau lagunya, kalaupun ingin saya simpan, yang penting kenangannya telah terukir di hati, perasaannya, pengalaman batin, dan hati, sehingga kehilangan wujud fisik kenangan tersebut tidak lagi menjadi penting.

Malah dalam hati saya jadi tertawa, Wow…. Begini wujudnya Tuhan menjawab doa saya, instan pula! Cuma saja perwujudannya tidak seperti yang saya bayangkan, atau yang bisa saya pikirkan. Saya terima kejadian ini dengan lapang dada, termasuk keluar uang extra untuk membeli hard disk baru dan tidak berkomputer untuk sementara waktu.

Computer crash sering kali membuat orang sangat frustrasi. Sekarang, saya bisa pahami berapa besar efeknya kalau punya data lengkap tentang hidup kita selama beberapa tahun, kemudian di-wipe out begitu saja. Seberapa besar keterikatan kita pada ‘milik’ kita, sedemikian pula tingkat penderitaan, kekecewaan, dan kemarahan kita akan ‘hilangnya’ barang tersebut.

Namun, apabila kita melakoninya dengan penuh takwa dan percaya, bahwa apa pun yang terjadi, pasti membawa berkah, dan diridai oleh Tuhan. Kalau sudah bersikap demikian, maka apa pun yang terjadi dalam hidup bagai riak gelombang. Ketika di permukaan, ombak ramai bergemuruh dan berkejaran satu dengan yang lain. Namun seketika ia naik, secepat itu pula ia pecah ketika menyentuh pesisir, meninggalkan buih-buih halus yang segera menguap dan lenyap. Pikiran, kejadian, dan perasaan sifatnya tidak permanen, seperti ombak yang datang dan pergi. Namun laut yang dalam tidak mengambil pusing apakah ada ombak di atasnya atau tidak. Ia tahu bahwa ombak akan selalu menjadi bagian dari dirinya, sejauh-jauhnya ombak berkelana tak pernah ia lepas dari laut yang dalam, dan laut tahu ombak-ombak tersebut tak pernah terancam oleh apa pun, karena semua satu.

Demikian juga hubungan kita dengan Tuhan, Sang Khalik, Sang Pencipta. Kita tidak pernah terlepas daripada-Nya, dan ia dengan sabar membiarkan kita dengan segala tingkah aneh kita, karena Ia tahu kita tidak pernah jauh dari-Nya, meskipun kita merasa telah pergi sejauh-jauhnya dari Dia.

Jeshua sering kali memakai perumpamaan laut dengan ombak, atau langit dengan awan untuk menggambarkan hubungan dan makna keterikatan dan kebersatuan kita dengan Tuhan. Sehingga, kalau banyak orang mengatakan tidak ada yang kebetulan, iya memang iya. Pikiran kita dan pikiran Tuhan saling bertautan, tidak mungkin dan tidak pernah terpisah satu dengan yang lainnya, meskipun ada yang mengajarkan kita untuk melihat Tuhan sebagai sosok yang duduk di singgasana di surga nan dan nun begitu jauhnya, sehingga kita tidak bisa bercakap-cakap langsung dengan-Nya. Inilah inti ajaran Jeshua yang paling sering dikumandangkan-Nya: Aku dan Bapa-Ku adalah Satu adanya–I and My Father are One.

Komputer saya kaput. Saya tinggal pilih, mau berlarut-larut berkabung atas kehilangan masa lalu saya yang telah saya kenal baik, atau bersuka cita karena yang baru dan belum dikenal akan segera datang. Hitung-hitung, dengan mengosongkan ‘space’ di komputer saya, saya beroleh kesempatan untuk mengisinya dengan sesuatu yang baru, yang mungkin jauh lebih relevan bagi kehidupan saya sekarang.

Dan, yang tersisa pun tampaknya sudah diperhitungkan-Nya baik-baik. Tulisan-tulisan saya yang semuanya saya buat di laptop masih ada. Nah, kenapa ada yang selamat, ada yang tidak? Apakah saya yang merencanakannya? Terlalu rumit rasanya untuk bisa saya sinkronisasikan sedemikian rupa sehingga semua kejadian-kejadian yang lepas-lepas dan tampaknya tidak saling berhubungan bisa menyatu dan bersambungan dengan pas, seperti keping-keping jigsaw puzzle.

Di saat yang sama, we create our own realitykita menciptakan realitas hidup kita sendiri. Maksud Jeshua di sini adalah: Semua kejadian netral sifatnya. Kitalah yang memberi arti, kesimpulan dan penilaian terhadap apa yang terjadi. Karena itu pula, setiap orang mempunyai reaksi, penafsiran, dan perasaan yang berbeda mengenai kejadian yang sama. Saya bisa bersedih dan menyesal berkepanjangan atas wafatnya hard disk saya, atau saya melihatnya sebagai suatu opportunity bagi sesuatu yang baru dan lebih bermanfaat untuk dapat diturunkan oleh Tuhan lewat diri saya, setelah saya mengosongkan diri.

Demikian seterusnya hal ini berlangsung dan berlanjut. Terserah bagaimana kita mau menyikapinya. Semua kejadian bisa kita beri makna semau kita. Nah, karena kita bisa mengartikannya semau kita, mengapa tidak dibikin yang positif saja? Dengan berpikir positif, tindakan kita akan positif dan hasilnya pun akan positif. Untuk apa memilih yang negatif kalau bisa memilih yang positif, apalagi kalau menjanjikan hasil yang positif pula? Computer crash bisa menghantar saya ke suasana Nyepi yang lebih khusuk, mengingatkan saya pada keterikatan dan ketergantungan saya pada Sang Pencipta, membuka diri saya agar lebih besar dan lebih kosong lagi, sehingga Tuhan pun lebih leluasa hidup dan beraksi lewat saya.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Coming Home to God

Miranda SuryadjajaOleh: Miranda Suryadjaja*

Dulu, saya berpikir bahwa Jesus adalah sesosok mahluk suci, yang bersemayam di bagian paling suci dari setiap gereja, seseorang untuk dipuja, seseorang yang bisa membantu kita, dan mengabulkan semua doa kita. Ia seseorang yang suci dan istimewa karena ia dilahirkan dari seorang wanita yang masih perawan. Ia seorang yang berperawakan agak ringkih, berjubah putih, yang pengasih, baik hati, lembut dan bisa menciptakan mujizat. Pendeknya, Ia seseorang yang istimewa, yang tinggal di kerajaan Tuhan, tetapi hidup jauh dari saya, dari umat manusia. Saya melihatnya sebagai seseorang milik dan merupakan bagian dari, yang menciptakan dan menemukan agama Kristen dan derivatifnya.

So, apa yang terjadi? Saya suka Jesus, dia tampaknya sangat baik, welas asih, dan lain-lain, tetapi agama yang diasosiasikan dengannya tidak menarik buat saya. Saya sekolah di SMA Katolik. Saya ingat ketika suatu saat saya berpikiran untuk menjadi seorang Katolik, karena dua sahabat saya punya aktivitas gereja bersama. Dan, karena saya bukan Katolik, saya merasa agak terasingkan karena tidak bisa mengikuti kegiatan mereka. Jadi, saya pikir kalau saya ikut menjadi Katolik, saya akan bisa bergabung dengan mereka.

Saya kemudian pergi ke suster kepala sekolah dan mengatakan bahwa saya ingin masuk agama Katolik. “Kenapa kamu ingin masuk agama Katolik? tanya beliau. Rupanya, alasan saya tidak dianggap cukup jelas, jadi saya disuruh pulang dan mengontemplasi alasan saya.

Itu saya lakukan dan memang jadi jelas bagi saya, bahwa keinginan saya semata-mata didasari kerinduan untuk diterima dan menjadi bagian dari suatu grup, bukan karena ketertarikan pada agamanya. Itulah yang pertama dan terakhir kalinya saya pernah berkeinginan untuk beragama Katolik atau Kristen.

Secara pribadi saya tidak pernah anti terhadap Jesus. Namun, dari ajarannya, saya punya masalah dengan konsep dosa, bahwa kita dilahirkan berdosa dan harus menghabiskan seluruh hidup kita untuk menebus dosa kita. Semakin dewasa saya, semakin konsep itu tidak masuk akal untuk saya. Mungkin tidak secara analitis, tetapi saya tidak bisa menerima bahwa orang terus berdoa dan berdoa memohon pengampunan dari dosa-dosanya. Dosa apa? Terhadap siapa? Apa yang telah kita lakukan? Saya tidak pernah merasa berdosa. Benar, mungkin saya telah banyak kali melakukan hal yang nakal, jelek, dan salah. Tetapi, dosa adalah hal yang berbeda. Apakah dosa itu? Kita telah diajarkan konsep yang sangat abstrak.

Saya mendengar orang berdoa di gereja, “Saya berdosa, saya sungguh berdosa, ampunilah saya Tuhan….Lalu, mereka terus mengulangi apa yang mereka anggap dosa.

Bagi saya, rasanya pernyataan tersebut sangat tidak memberdayakan. Akibatnya, saya tidak pernah merasa lebih dekat dengan gereja, dan memilih untuk berdoa dan bercakap-cakap langsung dengan Tuhan.

Sebaliknya, dengan Tuhan saya merasa saya bisa langsung berbicara dengan-Nya. Percakapan saya dengan Tuhan adalah doa-doa saya, dan saya selalu merasa Ia bisa mendengar saya dan menjawab doa-doa saya.

Saya bersyukur dengan didikan orang tua saya yang tidak mengharuskan saya untuk menganut suatu agama. Orang tua saya tidak pernah mengharuskan saya untuk mengikuti agama mereka, ataupun lebih menghargai suatu agama tertentu. Orang tua saya penganut agama konghucu ketika saya bertumbuh, tetapi bagi mereka lebih sebagai cara atau gaya hidup daripada agama, yang intinya menghargai dan memuja para leluhur.

Dalam perjalanan spiritual saya, saya telah menjelajah mencari kebenaran yang hakiki. Saya mendapatkan bahwa di setiap agama dan ajaran spritual ada kebenaran dasar yang beresonansi dengan kebenaran saya. Saya telah membaca buku-buku suci dari agama-agama besar, dan menemukan hal-hal yang baik dalam semuanya. Saya juga membaca banyak buku tentang ajaran Jesus yang diturunkan lewat medium, sebagai sananda dan sebagai Jesus sendiri. Topiknya beragam, ada yang khusus tentang kesehatan badan manusia, serta bagaimana cara memelihara dan membangun sel-sel baru dalam tubuh.

Bagi saya, Jesus tak beda dengan guru-guru dan master-master lainnya, yang semua mempunyai sesuatu yang berharga, sesuatu yang baru yang berguna bagi mahluk hidup.

So, when I hear about the guy who channels Jesus, I was more curious about meeting someone who claims to be a channel for Jesus than wanting to know what he has to say about Jesus.

Karenanya, tatkala saya mendengar tentang seseorang yang jadi medium untuk ajaran-ajaran Jesus berada di Bali, saya merasa lebih tertarik untuk melihat seseorang yang katanya menjadi medium bagi Jesus daripada mendengar apa yang Jesus ajarkan lewatnya.

Darshan (istilah Sansekerta bagi sebuah ceramah spiritual) itu mengubah hidup saya. Kesan saya yang pertama adalah bahwa ini beda dari grup-grup spiritual lain yang pernah saya kenal.

Saya tiba di ruang makan terbuka, di mana telah ada beberapa orang yang hadir dan lalu-lalang antara ruang makan dan dapur menyiapkan makan pagi mereka. Pakaian mereka sangat casual seadanya, beberapa wanita dan laki-laki memakai sarung pantai, beberapa pria tidak memakai baju atas, seolah-olah mereka sedang berlibur di pantai atau di samping kolam renang.

Saya tidak bisa menebak yang mana sang guru, sampai semua duduk di meja, dan seorang laki-laki botak mengambil tempat duduk terakhir di ujung meja. Matanya memancarkan kelembutan dan kebaikan, gerakannya pasti namun sangat luwes dan mengalir. Ia menunggu sampai semua orang menghentikan bicaranya, mengulurkan tangannya, dan kami semua saling berpegangan tangan dengan orang-orang di sebelah kami.

Kemudian, ia memimpin kami dalam doa, yang mana tidak seperti doa Kristen lain yang pernah saya dengar. Begini doa pertama yang saya dengar:

Ayah bunda Tuhan cahaya kemilau dari segala yang ada

Kemilau tak berbatas, sumber tak bernama, asal tak berasal dari segalanya

Engkau begitu dekat dengan kami sehingga kami tak bisa melihat-Mu

Engkau menyentuh kami begitu dalam sehingga kami tak mampu menyentuh-Mu

Engkau adalah napas dari napas kami, hidup dari kehidupan kami, gairah dari keinginan kami

Kerinduan untuk kembali pulang pada-Mu tak lain adalah kerinduan-Mu untuk mengembalikan kami pada-Mu

Bukalah hati kami pada dasar keyakinan yang paling dalam

Akan misteri tak terpahami dari kebesaran dan kesempurnaan-Mu

Bantulah kami untuk sampai di tempat di mana Engkau tak pernah terlupakan

Hanya di sanalah ada kedamaian, hanya di sana perjalanan ini berakhir, hanya di sana terpenuhi segala pencaharian

Bukan untuk melarikan diri dari hal-hal yang terikat ruang dan waktu

Melainkan transformasi dari semua itu dan keteringatan akan Engkau untuk selamanya

Terima kasih Tuhan, terima kasih Tuhan, terimakasih Tuhan

Amin.

Seiring dengan perjalanan waktu, saya mendapatkan bahwa setiap kali doanya berbeda; tidak ada text tetapi serangkaian kata khusuk dan bijak yang datang dari sumber kearifan yang begitu dalam. Saya tidak ingat seluruhya, apa yang disampaikan selanjutnya di darshan tersebut. Tetapi, saya ingat bahwa hal-hal yang saya dengar di sana sangat berbeda dari apa yang telah pernah saya dengar; caranya menuturkan, dan apa yang sebenarnya disampaikan.

Dan, yang paling saya ingat dengan sangat jelas adalah perasaan bahwa saya telah tiba di haribaan Tuhan, di Rumah Abbaku. Saya telah ditaklukkan, bukan oleh pembicaranya, ataupun suasananya, tetapi oleh kebenaran yang disampaikan. Doanya menyentuh saya di lubuk hati yang paling dalam, tidak ada pemisahan, tidak ada pembatas apa pun antara saya dan Tuhan, tidak ada permohonan pengampunan ataupun permohonan untuk hal-hal duniawi, hanya permintaan untuk membawa kita lebih dekat kepada Tuhan serta konfirmasi atas apa yang sudah ada. Kebenaran ini terasa sangat benar. Saya telah sampai dan pulang ke Rumah asal saya.

Saya tidak lagi melihat ke belakang. Sepertinya, seumur hidup saya telah mencari Tuhan, mencari pengalaman akan keberadaan Tuhan dalam hidup sehari-hari, di setiap saat, dan sekarang saya telah tiba di jarak yang terjauh dari perjalanan saya menjauhi Tuhan. Seperti karet gelang elastik, saya telah meregang sampai batas maksimum, dan sekarang hanya ada perjalanan tak berbatas, ke tujuan yang selamanya tak pernah berubah, kembali ke haribaan Tuhan.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

The World is Innocent

Miranda SuryadjajaOleh: Miranda Suryadjaja*

The world is innocent, I don’t know what anything is or is for.
I don’t know what my brothers and sisters need
.”
~ Miranda Suryadjaja

The world is innocent. We never know what anything is, or is for.
It’s a mystery that is only known to God
”.
~ Jeshua ben Joseph

Tatkala kita membuka hati kita besar-besar, maka hati orang di hadapan kita akan terbuka pula.

Power dari sebuah ketulusan, kejujuran dan kesucian hati sangat dahsyat adanya.

Belum lama ini saya mengikuti sebuah training di mana salah satu latihannya adalah semua peserta saling bertatap mata selama kurang lebih satu menit. Tujuan dari latihan ini adalah untuk membuka mata hati kita, meniadakan penghakiman dan penilaian sepihak, serta belajar untuk melihat ke mata seseorang dan melihat kesucian jiwanya yang hakiki.

Dalam latihan ini awalnya beberapa orang tampak nyata tidak nyaman selama satu menit menatap dan ditatap orang yang belum atau tidak begitu dikenalnya. Mata belingsatan ke sana ke sini, dan maunya lari mencari objek pandang lain. Kebetulan latihan semacam ini bukan yang pertama kalinya saya lakukan, bahkan telah berulang kali dan dengan durasi yang yang jauh lebih panjang pula. Latihan ini salah satu latihan favorit saya. Karena, di sana saya belajar untuk melihat seseorang apa adanya, suci, dan tanpa dosa.

Setelah beberapa saat—tentunya tergantung apakah kita bersedia untuk melakukan latihan ini dengan sepenuh hati atau tidak—biasanya tidak bisa tidak, akan terjalin suatu komuni nonverbal. Andaikata pun salah satu di antara kedua orang ini berusaha untuk membentengi dirinya, serta menutup hatinya, selama dia masih bersedia untuk menatap dan ditatap oleh pasangannya, maka mau tidak mau hatinya akan terbuka dan tersentuh oleh pandangan pasangannya.

Ini merupakan suatu fenomena yang luar biasa ampuh untuk membuka hati seseorang, serta menembus benteng hati dan batin seseorang. Seperti saya katakan di atas, ini adalah salah satu latihan favorit saya karena melaluinya saya belajar membuka hati saya, mendengar, dan melihat hati orang yang sesungguhnya, yang mana hanya ada kesucian tanpa noda, tanpa dosa. Yang biasanya saya rasakan adalah kesedihan, kesakitan, atau penderitaan yang tak terungkapkan—entah karena tidak disadari, atau karena ketakutan akan tersakiti atau terhakimi oleh orang lain. Sehingga, jadilah perasaan itu suatu rahasia yang dipendam, bahkan dikubur dalam-dalam.

Dalam latihan tatap mata, ternyata rahasia-rahasia tersebut tidak bisa disembunyikan. Cerita jelasnya mungkin tidak terungkap, dan sebenarnya juga tidak perlu untuk diketahui. Tetapi, bahwa seseorang memendam perasaan yang mendalam akan terasakan oleh lawan pandang.

Dan, pada saat saya sudah bisa merasakan apa yang dirasakan dan ada dalam lawan pandang saya, tanpa dapat dibendung, akan timbul compassion–rasa welas asih dalam hati saya. Rasa sepenanggungan karena tema penderitaan yang dialami pasangan saya telah pernah saya rasakan dan alami, meskipun mungkin dalam bentuk dan versi yang berbeda.

Ternyata, tema penderitaan umat manusia tidak banyak variasinya, yaitu antara lain rasa ditinggalkan atau dicampakkan (abandonment), merasa ditolak (rejection), kecewa, merasa tidak bernilai atau tidak berarti (unworthiness). Rasa takut mengakibatkan timbulnya tema-tema penderitaan ini. Sedangkan rasa marah, timbul karena perasaan-perasaan tersebut di atas dialami dan tidak dapat dibagi dengan orang lain sehingga masalahnya tidak terpecahkan.

Sebagai manusia kita terprogram untuk menilai orang dari apa yang tampak di permukaan, dari pakaian, penampilan, wajah, ekspresi, dan hal-hal yang teraba oleh panca indera. Dan lebih jauh, penilaian kita terbentuk oleh nilai-nilai yang telah ditanamkan dan diprogramkan dalam diri kita oleh keluarga dan lingkungan kita masing-masing, sehingga sebenarnya sifatnya sangat subjektif.

Namun, ketika kita menatap mata orang di hadapan kita dalam-dalam, semua penilaian itu bagaikan gugur, luluh lantak, pelan-pelan musnah untuk sesaat. Pintu hati terbuka. Dan, kita merasakan bahwa yang ada di hadapan kita adalah sosok yang hakiki dan tak berdosa, sebagaimana Tuhan telah menciptakan kita, dan kita menjadi satu dengan semua yang ada. Perasaan ini sangat tangible atau terasa dan menyentuh lubuk hati yang paling dalam.

Ada beberapa pengalaman saya bertatapan mata dengan orang yang sama sekali tidak saya kenal, atau baru saya kenal sekadar namanya. Secara sadar saya memang membuka hati saya dan fokus untuk bisa dengan cepat mencampakkan tendensi saya untuk menilai lewat panca indera saya. Dan, saya melihat langsung ke matanya dengan tanpa prasangka, dengan innocent, serta dengan rasa ingin tahu siapa sebenarnya sosok di balik penampilan dan kepribadian tersebut.

Beberapa orang tersentuh sehingga mengeluarkan air mata, atau tubuhnya mulai terguncang karena luapan emosi yang tidak terungkapkan dengan kata-kata. Setelah latihan tersebut selesai, ada beberapa orang yang menghampiri saya dan mengatakan bahwa mereka merasakan keteduhan di mata saya. Ada satu komentar yang sampai sekarang begitu jelas terekam di pendengaran saya: “Mbak Miranda begitu baik, terima kasih Mbak.” Dan, dia memeluk saya sekali lagi dengan begitu erat. Padahal, saya belum pernah bercakap-cakap dengan dia sebelumnya.

Sebetulnya, tidak ada yang magic dan sesuatu yang luar biasa di sini. Ini adalah suatu fenomena yang umum. Saya hanya menatap dan memandangnya secara innocent, tanpa penilaian, tanpa penghakiman, tanpa menimbang benar-salah. Hanya dia apa adanya, sebagai mahluk Tuhan yang semua pada dasarnya; netral, suci, tak berdosa.

Jesus mengajarkan saya bahwa the world is innocent, semua sifatnya netral, tanpa dosa. Manusialah yang menghakimi, menilai apa-apa yang dialaminya sebagai suatu kebenaran atau kesalahan, kebaikan atau keburukan, yang sebenarnya sifatnya relatif, karena didasari oleh penilaian yang subjektif.

Tatkala kita bisa melihat dunia, kehidupan di sekeliling kita sebagai innocent, maka dengan sendirinya kecenderungan akan pembenaran pribadi akan terkikis. Kita bisa belajar untuk sedikit demi sedikit berhenti mempersalahkan orang lain atau suatu kondisi eksternal, sehingga lebih mudah untuk memaafkan segala sesuatu yang sebenurnya tidak perlu pemaafaan karena memang tidak ada yang salah.

Bayangkan, bagaimana jadinya dunia, kalau manusia tidak saling menyalahkan atau merasa dirinya yang benar, dan orang lain yang salah untuk apa pun yang terjadi di dunia ini? Tetapi, dengan sepenuhnya menyadari bahwa kita tidak pernah tahu apa makna suatu kejadian dan pengalaman pribadi, serta untuk apa hal itu terjadi. Jadi kita innocent, yang kita hadapi pun innocent. Dan sebenarnya, bila kita mau bertanya dan mendengar, “Apa yang perlu saya lakukan saat ini?” Jesus mengatakan, “Bila kita mau ke tempat yang tenang dan diam, dan bertanya pada hati kita, maka jawabannya akan secara instan diberikan, dan tidak ada sesuatu pun yang ditutupi dari kita.” Dan, kita bisa meneruskan hidup kita tanpa membuang energi berpolemik, baik dengan diri kita sendiri maupun dengan orang-orang di luar kita tentang apa yang benar, apa yang salah.

Apabila Anda sedang bertikai dengan seseorang, adu pendapat dan adu mulut, cara tercepat untuk menembus batasan ego dan kepribadian agar sampai pada akar persoalan adalah dengan cara adu pandang selama beberapa menit. Pandang orang di hadapan Anda dalam-dalam, maka Anda akan tahu apa yang sedang dialami dan dirasakan oleh orang tersebut—yang sering kali tidak ada hubungannya dengan kata-kata yang baru saja disampaikannya, sikap defensif (mempertahankan pendapat atau kebenarannya), atau kengototannya.

Beberapa hari yang lalu saya berada di tengah pertengkaran dua orang sahabat saya yang sangat saya kasihi. Kebetulan mereka adalah sebuah pasangan yang sudah cukup lama bersama. Sang suami menyalahkan si istri perihal sesuatu yang dilakukannya yang dianggapnya salah. Saya merasa seperti wasit pertandingan tennis meja yang melihat volley-volley dan smash yang saling dilancarkan oleh kedua pihak. Sementara, semakin si istri mempertahankan posisi dan pendapatnya, semakin marah sang suami dan semakin si istri merasa terserang, hingga ia menangis.

Setelah saya rasakan dan perhatikan bahasa tubuh dan energi keduanya, saya seperti mendapat bisikan bahwa yang sebenarnya terjadi adalah si suami merasa tidak dihargai pendapatnya mengenai masalah yang mereka hadapi. Dan, ia hanya butuh pengakuan dari si istri: “Pendapatmu ada benarnya.” Itu saja. Ia hanya ingin dilibatkan dan dihargai pendapatnya, tanpa harus si istri mengatakan saya salah, kamu benar. Karena, sangat mungkin terjadi bahwa dua-duanya benar, sementara sudut pandang dan kebiasaan masing-masing dalam meng-handle sebuah situasi bisa berbeda.

Latihan tatap mata mengingatkan kita bahwa pada dasarnya semua orang innocent, dan hanya melakukan yang terbaik yang dia tahu pada saat itu. Dengan demikian kita bebaskan orang dari cengkeraman penilaian dan penghakiman kita, yang subjektif dan belum tentu benar secara hakiki.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Apakah Saya Ibu yang Baik bagi Anak Saya?

Miranda SuryadjajaOleh: Miranda Suryadjaja*

Selama bertahun-tahun saya sering menanyakan hal tersebut pada diri saya. Saya sering merasa bahwa ada saja yang kurang dalam peran saya sebagai seorang ibu.

“Aku selalu membanggakan Mama. Teman-temanku bilang aku bijaksana, dan aku selalu bilang karena aku belajar dari Mamaku bagaimana melihat suatu permasalahan dan cara mengatasinya.

Ketika anak saya menyatakan hal itu pada saya, hati saya begitu terenyuh dan tersentuh. Selama ini, saya selalu merasa tidak pede akan eksistensi saya sebagai seorang ibu. Saya sering merasa bersalah apabila saya melihat anak saya melakukan sesuatu tidak seperti yang saya harapkan. Saya ingin dia jadi anak yang hebat, sukses, dihormati serta menjadi dirinya yang terbaik.

Anak saya satu, laki-laki. Sekarang usianya delapan belas tahun, dan duduk di tingkat dua sebuah  universitas swasta di Jakarta. Kami tidak terlalu sering berkomunikasi satu sama lainnya. Kami masing-masing sibuk dan sepakat bahwa frekuensi komunikasi kami bukan indikasi dari besar-kecilnya cinta kami satu sama lain. Facebook dan chatting adalah salah satu media komunikasi kami, dan untuk sekarang, itu tampaknya sudah cukup untuk menjembatani jarak tempat tinggal kami yang cukup berjauhan.

Kira-kira tiga minggu yang lalu saya iseng-iseng membuka-buka file-file tulisan anak saya ketika dia masih remaja, dua belas sampai empat belas tahunan, di mana terkadang dia harus mengerjakan pekerjaan sekolah dan mengerjakannya di komputer saya. Sehingga, saya masih mempunyai copy-nya. Saya sangat menikmati tulisan-tulisan anak saya. Tulisannya segar, orisinal, dan sangat imajinatif.

Ketika terakhir bertemu dengannya, saya bilang, “Kamu ini sebetulnya bakat nulisnya hebat, meskipun kamu jarang menulis. Kalau kamu berniat berkecimpung di dunia media, kemampuan menulis konsep dengan baik akan sangat besar nilainya.

Rupanya komentar saya ditanggapinya dengan serius, karena beberapa hari kemudian saya menerima email darinya yang berisi sebuah link. Link ini tidak langsung saya buka. Tetapi, ketika saya membukanya, saya jadi terkesima. Ternyata, link itu ke sebuah blog karya anak saya, di mana dia menulis hampir setiap hari tentang kejadian human interest sehari-hari. Tulisannya sangat bagus, dalam, dan sarat refleksi pribadi. Langsung saya komentari dan saya puji dia.

Anak saya telah tumbuh menjadi suatu pribadi yang peduli, sensitif terhadap situasi dan kondisi sekitarnya, serta punya kedalaman batin yang mengagumkan untuk anak seusia dia. Entah mengapa secara tidak langsung hal ini merefleksikan peran saya sebagai ibu, dan membuat saya merasa bahwa saya tidak salah-salah amat dalam membesarkan anak saya. Hal-hal yang tidak dia sampaikan secara lisan pada saya, ternyata bisa diungkapkannya secara tulisan. Dan, hal ini membuat saya sadar bahwa dia telah menjadi seorang dewasa yang baik, dan saya tidak perlu perlu terlalu mengkhawatirkan dirinya.

Wah, saya bangga dan senang luar biasa.… Ternyata, dia mendengar kata saya, dan dia menemukan bahwa dia punya gairah menulis yang cukup besar. Dia jadi bisa mengekspresikan dirinya secara lebih lengkap di luar media fotografi yang selama ini menjadi sarana ekspresi diri pilihan dan andalannya.

Sirna sudah rasa tidak percaya diri sebagai seorang ibu yang selama ini tidak yakin telah menjadi ibu yang baik bagi anaknya. Sebagai single parent, saya tidak punya kesempatan untuk berbincang-bincang dengan ayah anak saya mengenai pendidikan dan perkembangan anak saya. Modal saya hanya rasa cinta yang besar dan harapan bahwa anak saya menjadi dirinya yang terbaik.

Dalam perjalanannya sering kali ukuran yang terbaik itu terkontaminasi oleh ide dan agenda pribadi saya tentang bagaimana seharusnya menjadi yang terbaik. Sehingga, tak jarang kami konflik dan saya merasa bersalah karena terlalu memaksakan kehendak saya.

Apa ukuran ibu yang baik? Sebenarnya susah untuk dikatakan. Saya datang dari keluarga yang disfungsional dan tidak memiliki kedekatan batin dengan orang tua dan saudara-saudara saya. Sehingga, boleh dikata saya tidak mempunyai panutan yang menginspirasi saya. Ketika anak saya masih kecil, kadang-kadang saya ringan tangan padanya, sesuatu yang selalu saya sesali belakangan. Karena, saya melakukan sesuatu yang sangat saya tidak suka ketika hal tersebut dilakukan terhadap diri saya.

Ini salah satu alasan, mengapa saya sering bertanya, “Apakah saya sudah menjadi ibu yang baik bagi anak saya, ataukah dosa-dosa saya pada anak saya membuat saya tidak akan pernah menyandang predikat seorang ibu yang baik bagi anaknya?

Seiring dengan semakin bertumbuhnya diri saya, saya semakin jarang dan akhirnya berhenti ringan tangan terhadap anak saya. Melalui pencaharian saya, akhirnya saya sadar sepenuhnya bahwa saya adalah produk peta emosi orang tua saya. Meskipun pada awalnya saya sempat benci dan menyalahkan orang tua saya, untuk kebiasaan yang seolah-olah tidak bisa saya kontrol itu, namun lambat laun dengan banyak latihan kesadaran, akhirnya saya memahami dan menerima dengan seluruh hati nurani saya bahwa orang tua saya telah melakukan yang terbaik yang mereka tahu. Dan, mereka pun adalah produk peta emosi orang tua mereka.

Dan akhirnya, saya juga jadi mengerti bahwa mereka pun melewati masa-masa yang membingungkan tentang bagaimana seharusnya menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya. Dan, saya yang telah mendapat kesempatan untuk bertumbuh dan mencari jati diri, mungkin jauh lebih banyak dari orang tua saya kini mempunyai pilihan untuk memutuskan mata rantai pola yang sudah terprogram dan mengakar selama beberapa generasi.

Jadi, kembali kepada pertanyaan apakah saya ibu yang baik? Ya, secara menyeluruh, dengan melihat apa yang dirasakan dan dialami oleh anak saya, saya lebih sering meniatkan dan melakukan hal-hal yang bermanfaat baginya. Kadang-kadang saya juga melakukan hal-hal yang mungkin kurang bermanfaat baginya, dan saya berupaya agar semakin lama semakin jarang saya melakukan yang kurang bermanfaat.

Saya terus berusaha memberikan kebebasan bagi anak saya untuk berkembang dan bertumbuh sesuai dengan pilihan hati dan panggilan jiwanya, serta mendukung aspirasi dan cita-citanya sesuai dengan bakat dan kemampuannya serta berusaha untuk tidak memaksakan kehendak dan ambisi pribadi saya. Kadang saya khilaf dan lupa pada tekad saya tadi. Dan, bila hal itu terjadi secepatnya saya meminta maaf padanya. Biasanya tidak pernah lama kami bertikai dan satu hal yang saya tahu pasti adalah bahwa saya cinta sekali pada anak saya. Dia mengatakan bahwa dia juga cinta dan sayang pada saya. Itu sudah cukup buat saya. Selebihnya saya serahkan pada Tuhan, orang tuanya yang sebenarnya.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Being Single, to Be or Not to Be?

Miranda SuryadjajaOleh: Miranda Suryadjaja*

Bulan lalu, lebih dari dua minggu saya menghabiskan waktu di Jakarta. Hari-hari saya di Jakarta dipenuhi oleh berbagai reuni, dengan teman-teman SD, SMP, dan SMA. Ada yang menarik dari pengamatan saya soal reuni ini. Teman-teman lama saya, ada yang sudah tak jumpa lebih dari 35 tahun, ada yang 28 tahun, dan semua yang rata-rata berusia 45 ke atas, telah menemukan jati dirinya yang baru.

Beragam-ragam pekerjaan, profesi, kepribadian, yang semua lebih penuh, mantap, kaya pengalaman menjadikan pribadi-pribadi ini bagai air nira yang telah melewati proses fermentasi berulang kali, lebih mantap rasanya, lebih penuh, lebih kaya. Senangnya, kami punya sejarah kebersamaan, sebagai murid-murid kecil, lugu, lucu, dan sekarang masih tetap bisa nyambung karena adanya shared experience itu, meski nuansanya sekarang jauh berbeda. Tragedi dan komedi telah dilewati sebagai bumbu kehidupan. Versi, substansi, serta level kesulitan boleh berbeda, namun sesungguhnya tidak dapat dinilai mana yang lebih hebat atau berat dari yang lain.

Saya mencermati bahwa mereka—khususnya yang telah pernah bercerai atau pernah sendirian dalam waktu yang cukup lamamempunyai suatu kedalaman atau depth yang lebih. Di mata mereka, saya bisa melihat bekas-bekas penderitaan dan kearifan yang dalam, yang seluruhnya tak lepas dari apa yang telah dialami dan lalui, seiring dengan perjalanan sang waktu.

Pada reuni terakhir, kebetulan saya sempat menghabiskan waktu berdua dengan salah satu teman SMA saya. Dulu kami satu gang, dan relatif telah lebih sering saya jumpai dibandingkan dengan yang lainnya. Teman saya ini jagonya plesetan, quickwitted, dan bawaannya becanda melulu. Kalau lagi berbanyak, ya jadilah bersahut-sahutan saling meledek, saling ngenyek, dan nge-kick. Giliran kami berdua saja, pembicaraan kadang jadi tersendat-sendat, karena kebetulan saya, yang hidup di daerah, enggak terbiasa dengan gaya-gaya plesetan orang Jakarta, yang begitu terlatih dan sigap.

Biasanya, meskipun beramai-ramai saya sering telat mikir, sampai kadang-kadang diomelin ramai-ramai karena sering kali harus minta diulang lagi omongannya, sebelum joke-nya saya tangkap. Ujung-ujungnya, saya enggak mau terlalu sering dikunjungi teman saya yang satu ini sewaktu dia berkunjung ke daerah saya, karena males ngomongnya. Dan, mungkin alasan yang lebih jujur juga karena enggak mau kelihatan terlalu ndusun.

Nah, kemarin saya bertemu lagi dengannya, and as luck had it, teman-teman yang lain detour-nya lama banget, sehingga jadilah saya berbincang-bincang dengannya seorang, ditemani putri semata wayangnya yang pas lagi sweet seventeen-an. Telah berlalu empat-lima tahun sejak saya terakhir jumpa dengannya. Di antaranya, beberapa kali sempat dia mengajak saya ketemuan kalau pas tugas kantor membawanya ke Bali.

Teman saya penampilannya sudah banyak berubah, tambah cantik, mukanya bersih dan jernih, tanpa kerutan, tampak jauh lebih muda dari usia sesungguhnya. Body-nya elok pula, langsing, dengan dada tinggi menonjol. Kalau dulu cenderung tomboy, sekarang dengan style rambut yang sangat feminine membuatnya jadi mirip Tamara Blezynski.

Teman saya ini terhitung sukses dalam kariernya. Di SMA, ia enggak terlalu menonjol, tetapi potensinya baru keluar setelah dia berhasil masuk salah satu perguruan tinggi negeri bergengsi, jurusan matematika pula. Orangnya penuh perhitungan. Lucu, sering kali kami tidak melihat bahwa sebenarnya dasar-dasar kepribadian ulet dan teliti sudah tampak di SMA. Hanya saja, sekarang dengan pemahaman yang lebih dalam tentang karakter, saya bisa melihat bahwa teman saya ini memang dari dulu sudah berbakat soal hitung-hitungan yang mendetail, termasuk penuh perhitungan soal kehidupan.

Sekitar lima tahun yang lalu, saya mendengar lewat seorang teman bahwa dia sudah berpisah dari suaminya. Saya agak kaget karena dia tidak pernah menceritakan apa pun soal perkawinannya. Di balik ceplas-ceplos plesetannya, memang yang satu ini orangnya agak tertutup, selalu menampilkan diri sebagai a strong/tough woman. Selalu terlihat ceria, penuh humor, tegar, meskipun hatinya sedang menangis. Di pertemuan berikutnya, saya tanyakan langsung padanya mengenai berita itu. Buat saya sendiri, kondisi cerai bukan lagi hal yang merupakan stigma ataupun sesuatu yang perlu ditutup-tutupi. Namun, sebagai teman saya merasa concern akan teman saya ini. Dan, rupanya biduk perkawinannya memang telah lama diterpa ombak.

Di pertemuan terakhir kami, ketika kami berbincang-bincang, dia tampak jauh lebih tenang dan rileks bicaranya. Dan, ternyata omongan kami nyambung. Saya merasakan sesuatu yang beda berada di hadapannya. Pembicaraan kami lancar, mengacu pada kehidupan dan keseharian kami sekarang ini. Dia telah resmi bercerai dan masih tetap sendiri. Hidupnya dicurahkan pada karier dan putrinya. Kariernya melesat hebat. Dia telah pindah perusahaan yang menjanjikan lebih banyak tantangan, dan gaji yang lebih besar tentunya. Kami berbagi pengalaman kenikmatan hidup sendiri, sebagai seorang single woman, single fighter.

Memang dalam umur-umur around forty, kalau bisa cari uang sendiri, hidup dengan life style pilihan yang kita suka, relative tidak kekurangan materi ataupun sahabat yang menyayangi. Maka, dihitung-hitung jauh lebih enak hidup single daripada punya pasangan. Bangun tidur sesukanya, hari libur berdaster dari pagi sampai malam, mau ngedugem sampai pagi tidak ada yang melarang, dan apa-apa tidak harus minta izin, persetujuan, atau pertimbangan orang lain. Dan enaknya lagi, enggak usah ngurusin makan, baju, mandi pasangan atau suami. Tidak perlu harus selalu jaga perasaan pasangan kita. Kami setuju, memang banyak enaknya hidup single. Kami sepandangan, bahwa kalau hidup sudah enak begini, kalau punya pasangan harus ada added value dari kehidupan yang sekarang.

Di tengah pembicaraan kami, dia menarik keluar dari tasnya sebuah buku berjudul Love, Freedom and Loneliness karangan OSHO, the Baghwan, yang terkenal seantero belahan bumi utara, sebagai pendobrak tradisi dan pemuja kebenaran lewat kebebasan dari pikiran, keyakinan, dan persepsi yang terprogram. Kami makin nyambung, saya enjoy benar dengan kata-kata yang nyerocos keluar dari mulutnya, soal keyakinan-keyakinan serta pemahaman-pemahaman barunya lewat membaca buku-buku sejenis, yang umumnya tentang personal development, growth, dan spiritualitas. Kami sepaham, bahwa banyak yang kita yakini sebagai suatu kebenaran sebenarnya datang dari programming kita, yang diajarkan dan diturunkan oleh society, agama, sekolah, orang tua, ataupun figur-figur otoritas yang kita jadikan panutan, padahal belum tentu benar bagi kita.

Teman saya seorang hajah. Benturan-benturan agama, keluarga maupun sosial tentunya tidak terhindari. Sehingga, sahabat saya yang satu ini memilih menjaga jarak, terutama dengan keluarganya sendiri. Seperti paham orang kita umumnya, budaya ‘apa kata orang’ telah sangat melekat, sehingga perasaan maupun kebahagiaan seorang individu sering kali bukan merupakan hal yang diperhitungkan sama sekali.

Dia bercerita, pernah sempat nge-date seorang cowok. Pada pertemuan kedua si cowok udah langsung bilang, “Kamu sebaiknya pakai jilbab, Dik. Kan enggak pantas seorang hajah pakai baju-baju yang enggak berlengan dan menampakkan leher?” Langsung saja teman saya menimpali, “Jilbab itu baju Arab, bukan baju muslim.

Pada kesempatan berikutnya, si cowok lagi-lagi mencoba jurus dakwahnya, sembari bertanya, “Udah salat belum?” Dijawab begini oleh teman saya, “Emangnya salat pake bilang-bilang? Emang kenapa? Itu urusan gue pribadi sama Tuhan, lagi.” Si cowok menjawab, “Ya, cuma nanya doang. Langsung ditimpali teman saya ini, “Mas, gini aja deh, ini adalah pertemuan kita terakhir.

Saya semakin kagum dengan teman ini, cantik, pintar, sukses, hajah, tidak penakut, dan bisa melihat mana kebenaran yang dihadiskan manusia, serta mana kebenaran yang memang benar-benar adalah benar. Dia tidak lagi terperangkap oleh yang tampak di permukaan saja. Dan, saya tahu imannya sangat kuat, kecintaannya pada Tuhan sangat besar, serta tidak perlu ditunjukan pada orang sebagai barang bukti.

Perempuan Indonesia masih banyak yang takut hidup sendirian, sebagai wanita lajang, janda, dan sebagai single mother pula. Biasanya, ketakutan yang nomor satu adalah kekawatiran akan apa kata orang, keluarga, teman, dll. Berapa tahun belakangan, makin hari makin banyak saya jumpai wanita-wanita newly single atau newly divorced. Tentunya, keputusan pisah/putus/cerai bukan dan tidak pernah merupakan sebuah keputusan yang mudah dibuat. Bukan merupakan pilihan pertama oleh siapa pun, lelaki maupun perempuan.

Sering kali masyarakat, dibantu program-program infotainment, dengan gampang menyalahkan salah satunya, berdasarkan kesimpulan dan nilai-nilainya sendiri. Tetapi, sesungguhnya kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara dua umat manusia, di belakang pintu kamarnya. Bukan tidak mungkin itu merupakan pilihan antara hidup dan mati, bukan dalam artian harfiah tentunya. Hidup atau mati yang saya maksudkan di sini adalah antara hidup yang mempunyai arti, dengan hidup yang telah kehilangan artinya karena apa yang kita inginkan, maukan, dan yakini tidak lagi penting atau dipentingkan oleh orang yang sangat dekat dengan kita. Sehingga, hanya jasad saja yang hidup, tapi soulnya mati karena tidak teraktualisasi, tidak bermakna.

Tentu ada hal-hal yang kurang nyaman untuk dilakoni sendirian, karenanya butuh penyesuaian persepsi. Tetapi, pesan saya pada teman-teman perempuan yang baru bercerai, atau masih lajang di usia empat puluhan ke atas: Janganlah takut pada kesendirian. Pada zaman seperti sekarang ini, hidup sebagai single woman di Indonesia sudah tergolong mudah dan cukup nyaman untuk dijalani. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan sesama perempuan single, pun negara kita tidak terlalu mendiskriminasikan perempuan. Sehingga, kesempatan perempuan untuk beroleh pekerjaan setara dengan pria.

Kita juga punya kementerian pemberdayaan wanita. Persepsi masyarakat, khususnya di kota-kota besar atau kosmopolitan, tidak lagi menabukan perceraian. Kosmopolitan di sini saya artikan sebagai suatu kota yang penduduknya majemuk, terdiri dari banyak suku dan bangsa. Cukup banyak kota di Indonesia yang memenuhi kriteria tersebut. Di kota kecil pun, kalau kita OK dengan kesendirian kita, lama-lama orang juga tidak akan memusingkannya lagi.

Jauh lebih baik hidup sendiri dan happy daripada memaksakan mempertahankan perkawinan yang telah hancur demi anak atau martabat. Anak-anak akan tumbuh lebih sehat batinnya kalau melihat kedua orang tuanya bahagia, meskipun hidup terpisah, daripada hidup seatap tetapi setiap hari bertengkar sengit, saling menyalahkan, terlebih-lebih kalau sampai melibatkan kekerasan. Anak-anak yang datang dari keluarga yang disfunctional biasanya menanggung beban trauma yang biasanya jauh lebih dalam hingga mereka dewasa, bahkan tua.

Dan suatu saat, tatkala kesempatan memilih tiba kembali, bukan milih caleg atau presiden, lho, lebih baik memilih dan memutuskan dengan hati dan bukan dengan pikiran. Karena, yang dengan pikiran biasanya hitung-hitungannya terlihat bagus di atas kertas, tetapi penuh dengan ekspektasi. Apabila ada yang tak terpenuhi, perasaan-perasaan tertekan mulai muncul, mungkin samar pada awalnya, selama yang diterima masih terasa memadai. Namun, ketika mulai muncul perasaan telah memberi lebih banyak daripada yang diberi, ini adalah awal dari keterpurukan suatu hubungan, di mana kalau perasaan ini diabaikan, bagai menyimpan bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak.

Tulisan saya ini bukanlah suatu anjuran untuk bercerai ataupun untuk menyatakan bahwa hidup sendiri lebih baik dari pada hidup berpasangan. Tidak, sama sekali bukan. Sebetulnya, perceraian tidak banyak bedanya dari putus pacaran, hanya saja dilegalisasi. Saya sendiri bercerai empat belas tahun yang lalu. Dan, sejak itu telah mempunyai periode berpasangan dan single yang masing-masing beberapa tahun lamanya. Dari tiap fase, baik ketika berpasangan maupun sedang sendiri, saya banyak belajar, termasuk belajar untuk menikmatinya. Saya percaya bahwa tidak pernah ada suatu kebetulan dan tidak ada yang salah. Selalu ada berkah dan berkat yang tersirat dalam setiap situasi, tinggal bagaimana kita cermat dan jeli melihat dan menangkapnya, sehingga pelajaran tersebut bisa berguna bagi proses kita selanjutnya.

Namun, dalam situasi di mana kita harus memilih, maka menurut saya pilihan untuk hidup sendiri setara derajatnya dengan pilihan untuk berpasangan, not one is less or more. Dan, status kita tak lebih dari bagian dari proses kehidupan yang ditandai dengan suatu awal dan suatu akhir, dan akan selalu berakhir, entah dengan perpisahan selagi hayat dikandung badan, atau lewat kematian. Jadi, seperti kata salah seorang guru saya, kalau kita sudah paham itu, sekarang tinggal nikmati sisa waktu kebersamaan kita saja, and treat each day you are together as your last.

Being single, to be or not to be? Life is a continuous process. Whatever it happens to be, we can choose to enjoy the process, or not.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)