Warisan Budaya Bangsa Memanggil Kita semua

Meta Sekar Puji Astuti AndaLuarBiasa.comOleh: Meta Sekar Puji Astuti*

Pertama kali mengunjungi pulau Ternate, pulau indah di provinsi Maluku Utara yang sarat nuansa sejarah khususnya sejarah kolonial Indonesia, saya diperkenalkan dengan kata kastela. Saya mencoba mengingat di mana saya pernah mendengar kata ini, ya? Sebagai catatan, dalam bahasa serapan Ternate, kata ini berarti castle atau kastila alias benteng atau istana dalam bahasa Indonesia. Sebagai pengajar bahasa Jepang, tentu saja wajib bagi saya untuk mengenal kosa kata bahasa Jepang. Setelah agak lama berpikir, muncullah kosa kata ini dalam ingatan saya. Istilah ini ada dalam perbendaharaan bahasa Jepang yang tentu saja termuat dalam kamus bahasa Jepang.

Dalam bahasa Jepang kata kastela (yang diucapkan kastera di lidah orang Jepang) dikenal sebagai nama sponge cake atau kue bolu berwarna kuning, dengan tekstur dan cita rasa sangat lembut. Kata ini serapan dalam bahasa Portugis, berasal dari kata paõ decasthela (roti dari kerajaan). Kuliner dan istilah ini mulai dikenal di Jepang sekitar abad ke-16 ketika pedagang Portugis mengunjungi Jepang.

Awalnya, saya anggap sebuah kebetulan belaka. Sampai akhirnya, untuk memenuhi perasaan penasaran, saya coba melakukan semacam observasi kecil-kecilan. Ada enggak ya kaitan kastela Jepang dengan kastela versi Indonesia ini?

Di Ternate ternyata terdapat banyak sekali kastela, baik kecil maupun besar yang tersebar di seluruh pelosok pulau kecil ini. Dinamakan kastela karena Ternate yang dikenal akan cengkehnya ini pernah dijajah Portugis yang ingin memonopoli perdagangan cengkeh di wilayah ini. Bangsa Portugislah yang pertama kali membangun benteng ini. Akibatnya, kata kastela menjadi kata serapan di Ternate hingga saat ini. Bangunan kesultanan Ternate sekarang ini juga bekas salah satu lokasi benteng Portugis pertama kali. Karena kerusuhan, para tentara Portugis yang tinggal di benteng itu diusir oleh kesultanan Ternate. Maka, diubahlah fungsi benteng itu menjadi bangunan tempat tinggal sultan Ternate, hingga kini.

Meskipun Portugis hanya sempat menjajah wilayah ini dalam jangka waktu pendek, namun beberapa bangunan, kata serapan, maupun pengaruh kuliner masih dipergunakan hingga saat ini. Ada meriam, peniti, kamar, bola, (hari) Minggu, adalah beberapa kata yang merupakan serapan dari bahasa Portugis.

Sementara di Jepang, bangsa Portugis pernah singgah di negara kepulauan tersebut. Salah satu maksud kedatangan bangsa Portugis adalah untuk memperluas ajaran Kristen, sekaligus melakukan ekspansi perdagangannya ke wilayah ini. Franciscus Xaverius datang ke Jepang bermaksud mengajarkan ajaran Kristen. Sayangnya, misi ini gagal dan orang-orang Portugis dibantai karena ketakutan bangsa Jepang akan ajaran-ajaran baru dari dunia Barat. Anehnya, meskipun bangsa Portugis di kemudian hari dicap sebagai musuh dan bangsa bar-bar bagi masyrakat, beberapa budaya dan tradisinya kelak diadaptasi oleh bangsa Jepang.

Dalam kuliner Jepang dikenal nama tempura dan pan dari kata paõ (roti) dalam bahasa Portugis. Ternyata kuliner yang satu ini juga diperkenalkan oleh bangsa Portugis kepada bangsa Jepang. Demikian pula cake castela yang di kemudian hari begitu digemari oleh bangsa Jepang yang merupakan warisan kuliner Portugis.

It’s a small World, after all” adalah syair lagu di Disneyland. Jepang dan Ternate, terhubung benang merah dengan kata kastela!

Saya menjadi setuju dengan sejarawan yang mengatakan, meskipun Portugis hanya melakukan penjajahan secara singkat, namun penyebaran budayanya cukup melekat. Contohnya di Jepang dan di Ternate itu. Bahkan di Indonesia, banyak sekali bahasa yang merupakan serapan dari bahasa Portugis yang masih dipergunakan sampai saat ini. Meriam misalnya, yang cukup unik sejarahnya. Orang Portugisketika selesai menembakkan meriamnyaselalu melakukan doa Rosario dan menyebutkan kata Maryam. Orang lokal Ternate, mengira Maryam adalah sebutan untuk meriam itu. Sementara, kata Minggu adalah sebutan “Hari untuk Dominggo” atau hari beribadah si Dominggo. Hasilnya, Minggu untuk pengganti Ahad dari bahasa Arab.

Meski budaya dan sejarah Ternate sangat menarik, sangat disayangkan publikasi mengenai sejarah Ternate dan Maluku Utara masih terbatas. Ada beberapa ilmuwan yang telah menuliskan sejarah ini. Antara lain Des Alwi, juga almarhumah Irza Anyta Djafaar, dan beberapa lainnya. Namun harus diakui sejujurnya, masyarakat Indonesia kurang mengenalnya secara luas. Padahal, ketertarikan bangsa Barat akan rempah-rempahlah yang mendorong “nafsu” kolonialisme dari konsep Gospel, Glory, and Gold di masa lalu, sebenarnya bermula dari titik Ternate dan kepulauan Maluku yang begitu kaya akan rempah-rempah.

Ah, saya jadi ingin bercerita tentang kastela atau benteng di Ternate. Di Ternate tersebar beberapa benteng baik peninggalan Portugis maupun Belanda. Bahkan, benteng Oranje adalah benteng pertama Belanda di Indonesia. Memasuki benteng-benteng di Ternate bagaikan memasuki mesin waktu dan mengingatkan kejayaan Ternate akan rempah-rempahnya. Beberapa ilmuwan dan sejarawan percaya Columbus sebenarnya mencari kepulauan Maluku untuk mencari emas hitam, dan bukan secara sengaja mencari benua Amerika. Sebuah insiden tanpa sengaja yang membuat Colombus salah arah hingga dirinya masuk ke wilayah Amerika Serikat masa sekarang. Konon, menurut para sejarawan yang mendukung teori ini, bangsa asli Amerika disebut Indian. Istilah yang sangat mirip dengan kata Indies, bukan?

Bisa dibayangkan jika Ternate berhasil ditemukan oleh bangsa Spanyol pada masa itu. Sekadar berkhayal, jika sang Columbus sampai tujuan sesuai arah, mungkin Hollywood aka nada di pulau Jawa, dan New York barangkali ada di kepulauan Maluku! Mungkin bahasa nasional kita menjadi bahasa Inggris. Ah, ini kan hanya sebuah imanjinasi belaka…. Jangan hiraukan fantasi saya, ya hehehe…

Beberapa benteng di Ternate masih tampak terpelihara meskipun sebagian besar tampak tersia-siakan. Benteng Oranje, meski tampak utuh, benteng tertua yang dibangun oleh VOC ini menyedihkan kondisinya. Sangat disayangkan karena sepatutnya benteng ini dijaga. Sebab, pemandangannya kurang sedap dari sisi estetika sehingga terkesan amburadul. Benteng ini masih dihuni oleh warga biasa. Kebiasaan penduduk yang kurang menjaga lingkungan menyeret mereka untuk juga kurang menjaga keindahan dan kebersihan. Sekadar ingin berbagi suasana, gantungan baju dan pakaian merupakan pemandangan umum di benteng ini. Sampah juga tersebar di mana-mana serta suasananya kurang teratur. Tidak ada kesadaran untuk menjaga bangunan tua.

Bentuk fisik benteng ini juga sudah berubah. Tembok mulai uzur dimakan usia hanya diplester dengan semen seadanya, tanpa perencanaan detail dari ahli konservasi bangunan. Lonceng di atas pintu gerbangnya telah diangkat dan dipindahkan ke tempat lain, ke sebuah gereja di wilayah Ternate. Sangat disayangkan. Bentuknya aslinya yang unik dan mirip benteng-benteng di wilayah Amerika Selatanyang mengingatkan kita film-film koboi—sayangnya sudah tidak bisa kita nikmati saat ini. Pun, siapa bisa memastikan properti di dalamnya aman dari gangguan tangan? Kesadaran kita sebagai bangsa belum terlalu tinggi untuk menjaga dan merawat warisan budaya semacam itu. Malaysia yang berhasil “mengutak-atik” dan mengklaim perbendaharaan warisan budaya kita adalah salah satu cermin, betapa ringkihnya sistem pertahanan kita akan pelestarian budaya dan warisan cagar budaya.

Selain di Ternate dan Buton, sebenarnya di wilayah Timur Indonesia banyak sekali bangunan masuk kriteria pusaka bendawi (tangible heritage) yang menarik. Misalnya di Banda, wilayah Maluku, Makassar dengan Fort Rotterdam-nya, dan benteng di Bau-Bau, Buton. Benteng di Buton ini merupakan benteng yang unik karena dibangun dengan karang atol. Lebih menariknya lagi karena didirikan oleh inisiatif anak bangsa, bukan dari bangsa asing seperti benteng-benteng lainnya. Sebuah catatan kecil, bentuk dan lokasi benteng Wolio di Buton ini mengingatkan saya akan bentuk dan material yang sama dengan benteng Shurijo di Naha, Okinawa, Jepang.

Sayangnya, sekali lagi seribu sayang. Kenyataan membuktikan kurang adanya keseriusan baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat setempat. Dari sekian benteng yang pernah saya kunjungi, satu benteng yang cukup terawat dan memang telah diubah fungsi menjadi museum sepenuhnya adalah benteng Vrederburg, kebanggaan kota Yogyakarta. Perawatan benteng ini dilakukan secara cukup serius, meski ada beberapa catatan untuk manajemen benteng ini. Informasi yang tanggung dan kurang dilakukan secara teliti dan detail adalah salah satunya.

Bicara mengenai pelestarian warisan budayakhususnya peninggalan bendawi (tangible heritage)saya ingin sekadar berbagi pengalaman. Saya cukup beruntung dapat mengunjungi sebuah tempat yang dinamakan dengan Dejima di wilayah kota Nagasaki. Kota Nagasaki umumnya dikenal sebagai kota yang dibom atom oleh Amerika Serikat. Ternyata Nagasaki tidak hanya menyimpan cerita tentang bom atom.

Dejima adalah sebuah wilayah bagian dari pulau hasil reklamasi. Karena orang asing tidak diperkenankan masuk secara bebas, maka pembangunan Dejima ini adalah solusinya untuk mengonsentrasikan orang asing di sini. Pada tahun 1634 pulau ini dibentuk untuk memberikan tempat bagi orang asing, awalnya bagi bangsa Portugis untuk melakukan aktivitasnya. Setelah bangsa Portugis diusir oleh Jepang wilayah Jepang kemudian digunakan sebagai kantor perwakilan dan pusat administrasi VOC, Belanda. Satu-satunya bangsa Eropa yang diperbolehkan melakukan perdagangan langsung di Jepang pada masa itu.

Dejima yang dikenal dengan nama Oranda Shokan (kantor administrasi belanda) ini yang habis dilalap api karena perang di zaman Meiji. Bangunan ini dibangun dan direkontruksi kembali oleh pemerintah Jepang sejak tahun 2000 dan dibuka untuk umum sejak tahun 2006. Saat ini, Dejima dapat dinikmati oleh publik berdiri dan dirancang secara detail dan diupayakan persis seperti aslinya. Upaya ini dilakukan dengan sangat serius sehingga kita seakan memasuki wilayah di mana seorang kapitan, pimpinan perwakilan kantor VOC di Jepang, memimpin perdagangan Belanda ke seluruh penjuru dunia. Namun, perdagangan utama Belanda yang utama adalah jalur perdagangan segitiga antara Jepang, Hindia Belanda yang dikuasai VOC alias kompeni, serta negara induknya, Belanda.

Yang membuat saya begitu terkesan dan menyenangi kunjungan ke Dejima ini adalah penyajian informasi serta pengaturan benda-benda dan pendirian bangunan dalam museum ini sangat detail, penuh perhitungan, dan sangat rinci. Sejarah yang tampak kuno dan jadul, menjadi sesuatu yang menyenangkan dan juga dilengkapi perlengkapan teknologi tinggi. Entah kapan Indonesia akan memiliki museum semacam ini, ya?

Tapi keterkejutan saya bukan karena gedung atau dioramanya yang detail. Pertama kali melangkahkan kaki di Dejima, tiba-tiba saya merasa begitu familiar. Gedung-gedung yang berdiri di sana membuat saya serasa saya kenal dengan baik. Masuk ke dalam museum lebih dalam, ternyata menjadi sangat jelas. Ternyata ada kaitan antara arsitektur di Dejima dengan bangunan kolonial di Indonesia. Perancangnya dari Belanda dan warnanya pun memiliki kesamaan. Ah, pantas saja.

Namun, tidak hanya sebatas kesamaan warna dan bentuk gedung. Gudang-gudang yang dulu juga pernah ada di Dejima diisi dengan gula yang dibuat di, sekali lagi, Hindia Belanda. Selain gula juga tak lupa rempah-rempah, termasuk pala, cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang berasal dari kepulauan Maluku (Jepang dan Ternate memang terhubung sejak zaman dulu). Jepang juga mengenal beberapa flora dan fauna asli Indonesia berkat perdagangan segitiga ini. Baiklah, kekayaan kita memang diperas untuk kepentingan para penjajah. Namun, bagaimana dengan orang-orang Indonesianya?

Aha, akhirnya saya temukan bangsa Indonesia di dalam museum ini. Pertama mereka berperan sebagai koki dan pelayan, yang jelas berperan di urusan dapur. Daging ham yang diawetkan dengan cengkeh adalah bukti urusan dapur dan perut bisa membawa situasi ke penjajahan. Tapi para pelayan dari Indonesia ini tampak jelas membawakan minuman anggur dan juga melayani urusan dapur. Hanya pelayan? Ya, hanya pelayan.

Untuk urusan museum memang kita perlu belajar dari rancang bangun dan juga penyajian informasi dari Dejima. Kita perlu belajar dari perencanaannya dan juga keseriusan menggarapnya. Di sisi yang lain, kita perlu bertekad dalam benak dan sanubari kita. Bayangkan seandainya sejarah di masa depan nanti akan mencatat kejayaan dan kebesaran nama bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar dan beradab. Bukan sekedar negara jajahan dan bangsa kuli. Tentu saja kita akan bangga! Ah, semoga ini tidak hanya menjadi sebuah imajinasi belaka.

Diperlukan upaya khusus untuk meningkatkan kesadaran kita, bangsa Indonesia, supaya mau menjaga dan melestarikan peninggalan budaya kita. Tentu saja, di seluruh wilayah Indonesia. Usaha dan strategi yang tepat adalah upaya penting. Ingat, masyarakat kita memiliki keragaman budaya yang luar biasa kayanya. Sekaligus kita harus sadari bahwa masyarakat kita masih lemah dalam memahami pentingnya kesadaran untuk menjaga jejak sejarah maupun peningalan pusaka, baik yang berwujud (tangible) maupun tak berwujud (intangible). Bukan sekadar retorika atau seminar di sana-sini. Namun, sebuah kegiatan yang tepat sasaran dan aplikatif harus dilakukan. Selain itu, perlu juga ada inisiatif penuh dari masyarakat setempat. Dan yang terpenting semua itu dilakukan dengan sepenuh hati, serta nothing to lose.[mspa]

* Meta Sekar Puji Astuti adalah penulis buku Apakah Mereka Mata-Mata? – Orang-Orang Jepang di Indonesia 1868-1942. Lulusan Sastra Jepang UGM dan menyelesaikan studi masternya di Ohio University, Amerika Serikat. Tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jepang, Universitas Hasanuddin. Ia pernah menjadi peneliti tamu di Keio University tahun 2008-2009 disponsori oleh The Japan Foundation. Saat ini tengah menempuh studi S-3 di Keio University, Tokyo, Jepang. Selain akademisi dan peneliti, ia juga seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak yang peduli dengan pendidikan bangsa untuk penyadaran identitas diri bangsa Indonesia. Meta dapat dihubungi melalui pos-el: meta_mks[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.5/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Fukuzawa Yukichi Bapak Inovasi Jepang

mspaOleh: Meta Sekar Puji Astuti*

Saat melakukan penelitian untuk penulisan skripsi S1, saya pertama kali mengenal tokoh kunci modernisasi Jepang, Fukuzawa Yukichi. Pendapatnya saya jadikan kutipan dalam tulisan saya. Kemudian belakangan ini, setelah waktu berlalu 12 tahun, ketika melakukan observasi untuk mencari jawaban atas keberhasilan bangsa Jepang dalam melakukan reformasi pendidikannya, kembali saya menjumpai tokoh yang satu ini. Ya, Fukuzawa Yukichi.

Entah, nasib apa yang mempertemukan dan kemudian “berjodoh” dengan sang tokoh Jepang yang fotonya tertampang di uang kertas 10.000 yen, uang kertas dengan nominal tertinggi di Jepang. Sampai akhirnya saya dipertemukan kembali oleh nasib untuk diterima menjadi peneliti dan terakhir menjadi mahasiswa di Keio University, universitas yang didirikan oleh Fukuzawa. Beberapa sumber menyebutkan bahwa universitas ini merupakan salah satu universitas swasta yang prestisius di Jepang.“Kun Faya Kun”, apa yang dikehendaki Tuhan memang harus terjadi. Sama seperti sebuah judul layar lebar Indonesia itu. Apa pun hasilnya, kata Pak Yohannes Surya, itulah hasil Mestakung alias Semesta Mendukung.

Mengenali pemikiran-pemikiran Fukuzawa memang betul-betul dahsyat. Serasa menembus batas ruang dan waktu. Pemihakannya pada orang-orang lemah (wanita dan orang-orang kecil), serta yang lebih penting lagi adalah semangatnya untuk mendidik bangsanya berdasar kemerdekaan (dalam cara berpikir), luar biasa! Kesadarannya untuk membentuk bangsa Jepang menjadi masyarakat yang maju membuatnya begitu bersemangat untuk menggali ilmu dari Barat.

“Dikatakan bahwa surga (Tuhan) tidak menciptakan manusia di atas atau di bawah sesama manusia. Adanya perbedaan antara yang bijaksana dan yang bodoh, antara yang kaya dan yang miskin datangnya dari masalah pendidikan”

Kutipan di atas adalah salah satu contoh kutipan yang paling popular dari pemikiran yang diambil dari bukunya Gakumon no Susume (Anjuran untuk Pembelajaran), kumpulan essai yang ditulis antara tahun 1872-1876.

Masyarakat Jepang selama berabad-abad memiliki pikiran tradisional dan kuno serta mengadaptasi pemikiran filosofi China yang diadaptasi sejak sekitar abad ke-6. Nara ibu kota Jepang di masa itu, dirancang dengan model dan filosofi China. Agama Buddha dan nilai-nilai kehidupan didominasi dengan teguh oleh pemikiran-pemikiran China.

Sebelum dilakukan modernisasi dan industrialisasi di masa Meiji (pra-tahun 1868), Jepang adalah negara yang miskin sumber daya alamnya dan masih terbelakang dibandingkan dengan negara Barat. Tidak banyak negara Eropa yang tertarik untuk menjadikannya negara kolonial mereka.

Konflik dan skandal berkepanjangan pernah terjadi di Jepang. Peperangan perebutan wilayah menjadi pemandangan umum dan terjadi perpecahan di mana-mana. Selama berabad-abad lamanya negara ini terisolasi sehingga informasi mengenai teknologi maju tersumbat. Oleh bangsa Jepang, bangsa Barat dianggap bangsa “bar-bar” karena dianggap tidak beradab.

Namun, memasuki zaman baru, pada saat restorasi Meiji, Jepang secara mencengangkan mengubah paradigma dan pandangannya terhadap ajaran Barat. Dalam waktu yang sangat cepat masyarakatnya kemudian berlomba-lomba dan memacu dirinya untuk menyamai kemajuan Barat. Meski informasi tentang dunia Barat sangat terbatas, hanya dari sumber-sumber negara Belanda atau rangaku (ilmu Belanda), namun berbagai keputusan dan kebijakan pemerintah dibuat sedemikian rupa untuk mengejar ketertinggalan ini. Berbagai misi resmi dikirim ke seluruh dunia, khususnya Eropa dan Amerika untuk belajar berbagai kemajuan yang telah dilakukan oleh bangsa-bangsa itu.

Fukuzawa Yukichi (1835-1901) percaya bahwa perubahan paradigma pikiran baru adalah kata kunci untuk berubah dan mengubah suatu bangsa. Untuk menjadi bangsa maju, besar, dan lebih modern harus berani membuka wawasan berpikir, dan juga siap menerima ide-ide baru. Itulah yang terjadi dalam bahasa Jepang. Pikiran-pikiran untuk mengubah peradaban Jepang yang lebih maju tertuang dalam karya Fukuzawa yang berjudul Bunmeiryoku no Gairyaku (Sebuah Teori Peradaban) yang diciptakannya tahun 1875. Karya fenomenal di samping Gakumon no Susume (Anjuran untuk Pembelajaran) yang merupakan kumpulan esai dari pemikiran-pemikirannya.

Prinsipnya, Fukuzawa secara simultan mengenalkan bangsa Jepang bahwa pemikiran Barat yang dahulunya dianggap budaya yang tak beradab bagi masyarakat Jepang. Ia juga mampu meyakinkan bahwa ilmu dari Barat penting untuk dipelajari dan tidak perlu ditakuti. Sebagian masyarakat Jepang takut mempelajari ilmu ini dikarenakan sejarah dalam negeri Jepang yang paranoid dengan orang Eropa. Pada saat ia mengembangkan dan menyosialisasikan ilmu ini, jiwanya dalam bahaya karena ancaman-ancaman kelompok Samurai yang menentang ajaran ini. Bahkan, seorang koleganya kehilangan nyawa. Ia teguh dengan pendiriannya untuk terus mengajar meski di tengah desingan peluru sekalipun.

Tapi, ia juga tidak mengajarkan untuk ditiru secara membabi buta. Ilmu Barat hanyalah sebuah model yang patut dicontoh oleh bangsa Jepang yang masih memegang erat tradisi kuno pada masa itu.

Buku-buku Fukuzawa ini secara kuantitas memang banyak dan menjadi best seller di Jepang pada masa itu. Namun, yang lebih hebatnya lagi adalah bahasa yang dipakai adalah bahasa sederhana dan bukannya bahasa ilmiah atau tingkat tinggi. Tujuannya adalah agar ajaran atau pemikirannya dapat dicerna oleh masyarakat di tingkat mana pun juga. Menurut kabar, sebelum ia menerbitkan karya-karyanya, tulisannya ia berikan kepada pembantu atau asisten di rumahnya. Apabila para pembantunya sudah memahami apa yang ia sampaikan, maka karya tulisnya itu akan ia terbitkan. Fukuzawa sangat yakin dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh berbagai golongan memudahkan ide-idenya dipahami oleh siapa pun juga. Salah satunya adalahSeiyou Jiji (Situasi Barat), salah satu karya tulis awal untuk memahami kondisi dan situasi Barat. Tulisan ini dilengkapi dengan ilustrasi sederhana sebuah ilmu yang belum banyak dikenal oleh kebanyakan masyarakat Jepang pada masa itu.

Fukuzawa juga banyak berkarya dengan menulis buku-buku dan artikel untuk para cendikiawan. Kebanyakan tulisan ini dipublikasi oleh universitas atau surat kabar. Salah satu tulisannya yang klasik dan terkenal adalah Jiji-Shimpo (Surat Kabar Perjalanan Masa) yang diterbitkannnya pada tahun 1882. Ini merupakan surat kabar partikelir pertama di Jepang. Semenjak itu, Fukuzawa menulis berbagai artikel dan satir mengenai isu-isu terhangat di masanya, termasuk politik, hubungan internasional, ekonomi, dan masalah-masalah keuangan, kebijakan pendidikan, hak-hak perempuan, dan nilai-nilai moral.

Tema besar dari ide-ide atau pemikirannya adalah independence atau kemerdekaan. Ia sadar betul bahwa jiwa yang merdeka dan bangsa yang merdeka adalah fondasi yang sesungguhnya dari peradaban modern di Barat. Untuk mencapai kemerdekaan diri ini, Fukuzawa lebih memilih menganjurkan pemikiran Barat, pembelajaran yang lebih praktis dan ilmiah, dibandingkan dengan nilai-nilai tradisional China yang tertanam dalam masyarakat Jepang di masa itu. Prinsipnya adalah semakin terdidik masyarakat, maka kemerdekaan nasional dapat dicapai masyarakat yang beradab dan memiliki nilai sikap yang adiluhung.

Tidak hanya kemerdekaan bangsa. Kemerdekaan diri dan keluarga juga dasar dari kemerdekaan secara utuh. Hal ini menunjukkan Fukuzawa yang memiliki empat anak laki-laki dan lima anak perempuan ini juga sangat peduli dengan kebahagiaan dan keutuhan satu keluarga. Coba, kita simak pemikirannya akan arti kemerdekaan:

“Kemerdekaan diri akan menghasilkan kemerdekaan (dalam suatu) rumah tangga. Rumah tangga menghasilkan kemerdekaan negara. Kemerdekaan diri akan menghasilkan kemerdekaan dunia.”

(Pidato yang disampaikan di pesta perpisahan di Nakatsu)

Lahir dari keturunan Samurai tingkat rendah di kota Nakatsu (sekarang provinsi Oita). Fukuzawa dianggap salah satu pahlawan dan Bapak Reformasi Modern Jepang. Karena dialah yang dianggap sebagai peletak dasar “fondasi dan tiang” modernisasi Jepang. Dialah yang dengan semangat luar biasa melakukan pencerahan, khususnya membantu masyarakat Jepang “mencerna” dan memanfaatkan ilmu Barat sebagai dasar fondasi dari modernisasi Jepang. Minatnya kuat untuk mempelajari dunia Barat mendorongnya untuk belajar bahasa Inggris. Fukuzawalah penulis pertama kamus bahasa Inggris-Jepang.

Fukuzawa menerbitkan banyak sekali selebaran dan buku pelajaran yang digunakan untuk sekolah-sekolah yang bermunculan di era itu. Buku-buku semacam ini juga disambut sebagai buku “gaya baru” bagi kalangan pembaca Jepang. Daya tarik dari tulisan-tulisan ini, selain model dan gaya baru dalam dunia penulisan di Jepang, juga karena merupakan revolusi dalam sebuah kesederhanaan.

Kemampuan akademisnya yang luar biasa membuatnya mampu mempelajari berbagai ilmu dari berbagai bidang. Tidak sekadar menerjemahkan dan ahli dalam bahasa. Ketertarikannya pada bidang ilmu eksakta mengantarkannya untuk mempelajari bidang ilmu lainnya termasuk ilmu kedokteran dan juga ilmu di bidang-bidang teknik.

Di Jepang foto wajah Fukuzawa Yukichi terpampang di uang bernilai tertinggi, 10.000 yen sejak tahun 1993. Meski pada tahun 2004 uang kertas ini telah berubah gambar di sebaliknya, tapi foto tokoh ini tetap terpampang. Dalam fotonya, Fukuzawa Yukichi menggunakan baju tradisional Jepang dan bukan mengenakan pakaian Barat. Padahal, ia penganjur ajaran Barat di negeri ini. Hal ini menunjukkan meski pemikirannya sangat moderen, namun di lain sisi ia sangat tradisional dan juga menjaga serta menghormati tradisi bangsanya.

Di Amerika Serikat ketokohan Fukuzawa sering dibandingkan dengan Benjamin Franklin. Menariknya, foto Franklin juga terpampang di atas uang kertas 100 dolar, uang nilai tertinggi di Amerika Serikat. Bahkan, nilai kedua uang ini juga hampir sama apabila di-convert ke dalam masing-masing mata uang tersebut. Kedu tokoh ini dianggap memiliki banyak kesamaan antara lain ide-ide dan kebijaksanaannya di luar institusi pemerintahan, selain memang minat dan keahlian mereka di berbagai bidang yang sangat luas.

Nama Fukuzawa Yukichi mungkin asing di telinga kita, bangsa Indonesia (atau pun bangsa-bangsa lainnya). Padahal, tokoh ini termasuk pahlawan pembaharu Jepang yang dihormati dan terkenal. Tokoh ini selain dikenal sebagai tokoh Jepang dalam memahami dunia Barat, dia dikenal sebagai pendidik sekaligus penulis buku yang sangat produktif di zamannya, pada awal abad ke-19. Beberapa alumninya dikenal sebagai perdana menteri, menteri, dan tokoh politik. Fakultas Kedokterannya memiliki rumah sakit yang juga salah satu rumah sakit terbaik di Jepang. Karya-karyanya, khususnya Gakumon no Susume dan autobiografinya telah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Arifin Bey telah menerjemahkan Gakumon ni Susume dalam buku yang berjudul Antara Feodalisme dan Modernisasi.

Hal yang menarik dan sangat inspiratif adalah Fukuzawa bergerak secara independen, dalam artian ia bukan tokoh politik. Ia merasa terlalu banyak manipulasi di dunia politik sehingga ia sama sekali tidak tertarik untuk terlibat di dalamnya. Meskipun ia bukan tokoh dalam pemerintahan dan berulang kali ditawari menjadi pejabat di pemerintahan, namun buah pemikirannya banyak dipakai dalam kebijakan pemerintahan. Ia melakukan gerakan yang murni dari kepeduliannya akan kemajuan bangsa Jepang yang menurutnya hanya dapat diperoleh dari masyarakat yang memiliki ilmu yang tinggi serta perilaku yang baik.

Coba saja bandingkan perilaku elit Indonesia saat ini yang begitu “serakah” dengan posisi elit politik dibandingkan dengan kepedulian pendidikan bangsa sendiri. Tidak ada salahnya tokoh-tokoh yang mengaku “tokoh reformis” mencoba belajar dari karya dan gerakan Fukuzawa yang inspiratif dari negara sakura ini.

Satu harapan saya, semoga “jodoh” saya dengan Fukuzawa ini mampu memberikan kontribusi dalam pembangunan dan pendidikan bangsa Indonesia. Klise? Saya kira begitu. Ya, boleh dong berharap dan berdoa.[mspa]

* Meta Sekar Puji Astuti adalah penulis buku Apakah Mereka Mata-Mata? – Orang-Orang Jepang di Indonesia 1868-1942. Lulusan Sastra Jepang UGM dan menyelesaikan studi masternya di Ohio University, Amerika Serikat. Tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jepang, Universitas Hasanuddin. Ia pernah menjadi peneliti tamu di Keio University tahun 2008-2009 disponsori oleh The Japan Foundation. Saat ini tengah menempuh studi S-3 di Keio University, Tokyo, Jepang. Selain akademisi dan peneliti, ia juga seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak yang peduli dengan pendidikan bangsa untuk penyadaran identitas diri bangsa Indonesia. Meta dapat dihubungi melalui pos-el: meta_mks[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.1/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Becak dan Tempe: Sebuah Ajakan Menyejarahkan Pusaka Wong Cilik Kita

mspaOleh: Meta Astuti*

Janganlah bangsa Indonesia menjadi bangsa tempe, kata Bung Karno dalam pidatonya berkali-kali. Seandainya Bung Karno masih hidup sekarang ini, mungkin beliau akan berubah pikiran dengan ucapannya. Tempe yang dulunya dikenal sebagai makanan ndeso, murah dan identik dengan wong cilik, di zaman modern ini telah berubah bentuk dan bertransformasi menjadi bahan makanan yang dihormati serta bergengsi (di dunia). Masih belum percaya?

Meski di Indonesia di sebagian tempat tempe masih dikenal sebagai makanan orang kecil, kenyataannya mulai banyak diketahui sebagai makanan bergizi tinggi dan baik untuk kesehatan. Banyak penelitian mengenai tempe yang dipublikasikan secara ilmiah. Tempe mengandung isoflavon dan kandungan gizi kacang kedelai baik untuk tubuh, kesehatan, pencernaan, dan juga dianjurkan sebagai asupan pengganti protein yang sehat.

Salah satu cerita menarik adalah tentang tentara asing (Belanda) yang ditahan di suatu pulau di Papua pada masa PD II. Suatu saat terjadi wabah diare di dalam tahanan tersebut. Para penderita diare itu kemudian diberi makanan lokal yang dimakan orang-orang setempat. Ternyata makanan itu berhasil menyembuhkan para penderita diare itu, dan kelak makanan itu dikenal dengan nama tempe.

Kabarnya, para ilmuwan di Monash University Australia telah meneliti tempe yang merupakan fermentasi dari kapang Rhizopus ini untuk dikembangkan sebagai suplemen makanan yang baik bagi kesehatan dan tubuh, khususnya bagi kaum perempuan. Tempe yang mengandung isoflavon sangat baik bagi perempuan menjelang menopause.

Akhir-akhir ini, kita sedang dalam keadaan sensitif dalam urusan pembajakan hak cipta. Banyak literatur menyebutkan tempe adalah produk asli bangsa Indonesia. Tapi, bangsa kita kadang ceroboh dalam merawat pusaka kuliner. Jangan-jangan negara tetangga kita di kemudian hari mengklaim tempe adalah milik mereka.

Di Singapura, satu warung sate yang terkenal adalah sate “number one” yang dikenal sebagai sate Fatman. Sate ini menjadi andalan salah satu pusat jajanan di Singapura, dan diakui bahwa hidangan sate di Singapura dikenalkan oleh Fatman yang datang dari Indonesia. Saat ini, sate menjadi salah satu makanan favorit di Singapura. Baik sate yang ber-genre China maupun Melayu. Rendang juga dikenal baik oleh penduduk Singapura.

Jadi, sudah saatnya Indonesia menghargai makanan yang merakyat ini. Menginventarisasi, mendokumentasi, serta menyosialisasikannya. Saat ini, konon Jepang telah mengklaim proses pembuatan tempe. Sementara, banyak juga penduduk Jawa tinggal atau menetap di Malaysia. Jangan sampai nanti Malaysia mengklaim tempe sebagai salah satu budaya kulinernya. Bukannya curiga, tapi bangsa kita betul-betul kurang memerhatikan makanan sederhana tapi dahsyat ini.

Apakah betul kita berniat melakukan pendataan dan pelestarian tempe? Pertanyaan selanjutnya adalah, dari titik mana kita akan mulai? Baik, bagaimana kita memulai dengan sejarahnya? Bukan karena saya banyak berkutat di bidang ini, tapi jujur saja seberapa jauh pengetahuan kita tentang sejarah tempe? Kita mungkin terbiasa memakannya, tapi mengetahui sejarahnya? Saya kira masih minim. Banyak sekali publikasi ilmiah mengenai tempe dari sisi “makanan” dan “sumber gizi”. Namun, ahli sejarah tempe Indonesia dari Indonesia siapa? Tampaknya, seperti slogan iklan masuk angin yang dipopulerkan almarhum Basuki, “Wes-ewes-ewes bablas angine.

Apakah tempe asli makanan Indonesia? Bagaimana peran tempe bagi masyarakat kita? Dua pertanyaan dasar untuk mengobservasi studi “pertempean” kita. Sudah saatnya kita berinisiatif mendokumentasikan sejarah dan tradisi tempe, demi anak cucu kita di masa mendatang.

Di Amerika, ada buku klasik tentang tempe berjudul The Book of Tempeh yang ditulis oleh duo ahli gizi William Shurtleff dan Akiko Aoyagi. Di Eropa, ada Pak Jonathan di London yang dengan senang hati membagikan resep dan ilmunya tentang tempe. Di Indonesia, sebenarnya juga banyak ilmuwan ahli tempe dan salah satunya adalah Profesor Tri Susanto dari Universitas Brawijaya, Malang. Ada juga ahli gizi maupun ahli kesehatan dari ilmu kedokteran. Namun, kita masih perlu putra-putra bangsa yang dengan serius menggarap studi tempe dari sisi ilmu sosialnya untuk melengkapi keseriusan pihak asing maupun ahli gizi yang banyak berurusan dengan pertempean.

Hal ini perlu dilakukan, sekali lagi, untuk urusan pelestarian dan penyadaran masyarakat untuk mengapresiasi tempe, makanan unik yang asli milik bangsa kita. Tempe telah dimakan oleh berjuta-juta masyarakat Indonesia. Makanan ini telah menjadi bagian akrab hampir seluruh ibu rumah tangga. Secara ekonomis industri tempe telah menjadi industri yang kuat di Indonesia. Dari penyediaan kedelai sampai industri pembuatan tempe dan distribusinya. Mungkinkah suatu saat kita perlu membuat gerakan cinta tempe selain gerakan gemar membaca?

Tidak ada salahnya kita mengintip sejarah tempe. Masih belum ada referensi yang utuh mengenai sejarah tempe. Namun, ada yang pernah memperkirakan tempe telah berada di bumi Nusantara semenjak berabad-abad lalu. Kata tempe juga telah tercatat dalam serat Centhini, salah satu babad sejarah yang penting dalam sastra Jawa Kuno yang diterbitkan pada abad ke-16. Bahkan, salah satu yang tertulis di serat ini adalah resep untuk mengolah resep ini dengan nama resep sayur podomoro. Sebuah resep klasik untuk etnis Jawa dengan bahan tempe yang dikandung di dalamnya.

Konon dari sebuah informasi yang perlu digali lebih dalam lagi, tempe telah dimakan selama ribuan tahun di tanah Jawa. Kabarnya juga, terjadinya tempe melalui proses ketidaksengajaan. Suatu saat, terdapat kacang kedelai yang disimpan dan secara tidak sengaja masuk jamur ke dalam kacang kedelai itu. Kedelai tampak busuk, tapi setelah dimakan ternyata rasanya menjadi lebih enak. Dan, kemudian hari makanan itu dikenal dengan nama tempe.

Sekali lagi, informasi ini masih merupakan informasi spekulatif. Masih banyak energi yang diperlukan untuk membuktikan teori ini. Bagaimanapun fakta dan bukti yang muncul sampai saat ini, para ahli masih percaya bahwa tempe adalah makanan asli bangsa Indonesia (Jawa), yang kemungkinan besar diperkenalkan dari tradisi China yang telah mengenal sistem fermentasi kedelai dari zaman dulu. Sebagai jajahan Belanda, makanan ini di kemudian hari diperkenalkan ke Eropa dan meluas ke seluruh dunia.

Dari tempe, saya ingin mencoba mengajak pembaca untuk bicara mengenai becak. Saya ingin memberi kuis sederhana untuk Anda semua. Apa kesamaan becak dan tempe? Kalau perbedaan tentu saja kita tahu bahwa yang satu kendaraan umum dan yang satu adalah makanan. Tapi, satu benang merah yang dapat kita tarik bersama adalah keduanya adalah lambang “wong cilik” dalam masyarakat Indonesia.

Hampir semua orang kenal becak karena tersebar di penjuru Indonesia. Orang yang tidak memiliki keahlian kerja, tidak memiliki pendidikan, seringnya akan lari menjadi tukang becak. Jadi? Ya, becak hampir mirip dengan tempe, yaitu menjadi lambang kehidupan orang miskin dan tidak mampu. Sedemikian burukkah becak?

Sebaiknya, bangsa Indonesia mengakui, ketika berada di daerah perkotaan di Indonesia, becak beserta tukang becaknya adalah suatu komunitas yang memudahkan kehidupan kita semua. Bayangkan Anda hidup di Tokyo, sebuah kota metropolitan itu. Sistem transportasi di Tokyo memang luar biasa dan sangat sistematis. Jika Anda bukan termasuk golongan orang kaya yang biasanya naik taksi setiap hari, atau memiliki mobil kendaraan pribadi, sudah dapat dipastikan Anda harus jalan kaki dari jarak stasiun kereta api ke rumah kediaman Anda. Kadang, jaraknya juga tidak pendek. Ketika saya sedang tinggal di negara yang cukup maju, becak adalah satu benda yang sangat saya rindukan. Becak adalah transportasi murah, sederhana, dan mudah (meski kadang proses tawar menawarnya tidak mudah).

Nah, sama dengan tempe, meski becak adalah barang yang sangat umum dalam masyarakat kita, belum ada dokumentasi dan studi yang layak untuk apresiasi kita terhadap benda yang satu ini. Saya masih menawarkan studi yang sama, studi tentang sejarah becak. Kapan becak ditemukan dan dari mana asal-usulnya. Telah diklaim secara luas bahwa becak dalam bahasa Indonesia kemungkinan besar dari bahasa Hokkien, be chia yang berarti kereta kuda. Dalam bahasa Jepang basha, tampaknya mirip, yang jelas tulisannya sama. Dalam bahasa Inggris, becak dikenal dengan nama rickshaw.

Dan, dari berbagai sumber diketahui bahwa becak ditemukan di Jepang dengan nama aslinya, jinrikisha (kendaraan yang ditarik dari tenaga manusia). Coba bandingkan dengan nama rickshaw yang mirip itu. Meski jelas bahwa becak ini merupakan kendaraan temuan di Jepang, namun masih terdapat kontroversi dari beberapa sumber. Prototype becak ada di sebuah lukisan di Perancis pada abad ke-17. Rickshaw atau jinrikisha muncul di Jepang pada tahun 1868 awal tahun Meiji.

Setelah mencoba berselancar di dunia maya dan bertemu di Wikipedia, disebutkan bahwa sumber-sumber dari Amerika menyebutkan, warga tukang besi Amerika, Albert Tolman menciptakan rickshaw pada tahun 1848 di Worcester, Massachusetts, untuk seorang misionari yang pergi ke Jepang. Sumber lain menyebutkan, Jonathan Scobie seorang misionari Amerika yang mengangkut istrinya yang sakit di jalanan Yokohama. Tapi, sumber lain mengatakan Izumi Yosuke pengusaha restoran di Tokyo pada tahun 1869. Tapi yang jelas, pemerintah Jepang memberikan lisensi tiga orang Jepang; Izumi Yosuke, Suzuki Tokujiro, dan Takayama Kosuke untuk pembuatan rickshaw di Tokyo.

Sejak tahun 1872, ada 40.000 jinrikisha beroperasi di Tokyo. Semenjak itu, rickshaw menjadi alat transportasi umum yang merakyat. Apalagi tenaga manusia lebih murah dibandingkan dengan biaya pemeliharaan kuda. Saat ini, jinrikisha masih banyak ditemukan di tempat-tempat pariwisata. Becaknya bersih dan ditarik oleh pemuda atau pemudi yang juga wangi dan bergaya masa kini. Dan tentu saja, harga sekali naik becak Jepang seharga 3.000 yen atau setara dengan Rp 300.000. Bandingkan saja harga naik becak di Indonesia.

Becak versi Jepang ini berbeda bentuk dengan becak roda tiga yang ada di Indonesia. Becak versi ini awalnya adalah beroda dua dan ditarik oleh tenaga manusia dari arah depan. Beda dengan becak yang ada di Indonesia saat ini, rata-rata beroda tiga (kecuali bentor atau becak motor yang terdapat di beberapa kota di Indonesia), meski bentuk berbeda-beda di setiap kota dan daerah. Becak-becak di Makassar, biasanya berbentuk lebih sederhana dan ringan sehingga memungkinkan pengendaranya bergerak dengan gesit.

Bandingkan dengan becak di Yogyakarta yang memang tampak lebih nyaman dibandingkan dengan becak di daerah Makassar. Becak Yogyakarta berbentuk lebih besar, penumpang lebih terlindungi dari panas, dan dengan suspensi yang lebih nyaman. Karakteristik tukang becaknya juga berbeda-beda. Ternyata, kita punya varian becak yang berbeda-beda, bukan? Saya membayangkan ada buku yang membahas lengkap tentang sejarah dan serba-serbi becak di Indonesia. Inginnya, itu ditulis dan dikaryakan oleh putra bangsa kita sendiri.

Ada beberapa teori dengan sumber berbeda menyebutkan sejarah becak di Indonesia. Francis Warren, seorang sejarawan ahli Singapura menulis dalam bukunya berjudul Jakarta pada Saat Ini dari Singapura pada tahun 1914, itu menurut salah satu catatan arsip di Singapura. Namun, sumber lain mengatakan hal yang berbeda. Menurut Yoshifumi Azuma, sumber lain mengatakan becak diperkenalkan dari Hong Kong atau Singapura. Tapi, koran berbahasa Jepang Jawa Shimbun terbitan 20 Januari 1943 menyebutkan, becak diperkenalkan dari Makassar ke Batavia pada akhir tahun 1930-an. Nah, lho..!?

Catatan seorang jurnalis Jepang—yang menulis perjalanannya ke berbagai daerah di Indonesia termasuk Makassarberjudul berjudul Pen to Kamera terbitan 1937-an menyebutkan, becak ditemukan orang Jepang yang tinggal di Makassar. Orang Jepang ini adalah salah seorang pemilik toko Jepang bernama Seiko-san. Pada saat itu, becak sering disebut sebagai tega roda (tiga roda). Pasaran sepeda sedang jenuh saat itu. Tumpukan sepeda yang tidak terjual membuat pemilik salah satu toko Jepang itu memutar otaknya. Akhirnya, dibuatlah roda tiga itu untuk mengurangi stok sepeda.

Kebenaran catatan ini masih perlu diteliti lebih lanjut. Dari sebuah dokumen inventarisasi mantan anggota toko Jepang menyebutkan, bahwa toko-toko Jepang di Makassar didominasi oleh toko sepeda. Jadi, kemungkinan becak merupakan inovasi orang di Makassar, belum tentu salah. Lagi pula, melihat bentuk fisik becak di Makassar yang lebih menyerupai dua buah sepeda yang digabung menjadi satu. Tapi, sejarah becak masih menyimpankan misteri bagi kita semua.

Profesor Yoshifumi Azuma peneliti perubahan sosial dari Jepang, yang menulis buku berjudul Abang Beca: Sekejam-kejamnya Ibu Tiri Masih Lebih Kejam Ibu Kota, juga cenderung percaya bahwa becak berasal dari Makassar. Masih diperlukan penmbuktian dan penelitian lebih lanjut.

Sekali lagi, saya ingin kita menelusuri jejak sejarah becak. Jangan bosan dengan kata kunci becak ini, ya? Selain masih kontroversial juga masih belum ada dokumentasi yang jelas tentang barang wong cilik ini. Seandainya becak berperan bagi pembagian kursi di DPR mungkin sejarahnya akan jauh lebih diperhatikan oleh para petinggi kita. Buktinya, sebagian becak dibuang di Teluk Jakarta, yang menunjukkan petinggi Indonesia kesal dengan barang yang satu ini. Sejarah orang biasa memang masih belum diperhatikan.

Tempe dan becak adalah dua benda milik (kemungkinan besar asli) bangsa Indonesia. Sayangnya, suka atau tidak suka, penulisan sejarah menurut ahli sejarah masih cenderung menuliskan sejarah politik, sejarah negara, dan mungkin bisa dikatakan sejarah yang berpihak ke penguasa. Tempe dan becak memang bukan hanya milik penguasa dan petinggi bangsa, meski bukan tidak mungkin mereka pun pernah menikmatinya. Tempe dan becak adalah milik kita bersama, bangsa Indonesia.

Sudah saatnya, kita sebagai bangsa Indonesia turut saling bahu-membahu mengapresiasi tempe dan becak dalam kehidupan kita. Banyak cara untuk mengapresiasinya. Salah satu caranya adalah dengan turut serta mendokumentasikan dan melacak sejarahnya. Dan, terakhir yang juga terpenting adalah bangga memilikinya dan memberdayakannya. Saya ingin mengutip slogan iklan sebuah provider ponsel nasional, “Mau?”[mspa]

* Meta Sekar Puji Astuti adalah penulis buku Apakah Mereka Mata-Mata? - Orang-Orang Jepang di Indonesia 1868-1942. Lulusan Sastra Jepang UGM dan menyelesaikan studi masternya di Ohio University, Amerika Serikat. Tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jepang, Universitas Hasanuddin. Ia pernah menjadi peneliti tamu di Keio University tahun 2008-2009 disponsori oleh The Japan Foundation. Saat ini tengah menempuh studi S-3 di Keio University, Tokyo, Jepang. Selain akademisi dan peneliti, ia juga seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak yang peduli dengan pendidikan bangsa untuk penyadaran identitas diri bangsa Indonesia. Meta dapat dihubungi melalui pos-el: meta_mks[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.8/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 4 votes)

Tiga Perusahaan Top Jepang

mspa1Oleh: Meta Sekar Puji Astuti*

Sebutlah tiga merek ternama Jepang ini, Toyota, Sony, dan Panasonic. Ketiga merek tersebut sangat mudah ditemukan dalam keseharian kita; di jalan, di rumah, atau di ranah publik. Toyota dengan Toyota Kijang pernah sangat fenomenal di dunia otomotif Indonesia, dan sekarang ini Toyota Avanza tercatat sebagai mobil paling laku di penjuru Indonesia. Sony dengan telepon genggam berkongsi dengan Errikson, TV plasmanya, kamera vide, dan Playstation andalannya. Serta jangan lupakan Panasonic yang dulu dengan merek lamanya National, memberikan kontribusi luar biasa dalam peralatan rumah tangga seperti setrika, rice cooker, dan lain-lainnya. Produk mereka telah membantu ibu-ibu rumah tangga di seluruh Indonesia dan dunia.

Namun, apakah kita mengenali orang-orang besar serta proses keberhasilan di balik sukses mereka yang dapat menginspirasi kita semua? Baik, saya ingin mencoba berbagi cerita mengenai tiga perusahaan ternama Jepang itu.

Kita mulai dari perusahaan Toyota. Perusahaan ini awal mulanya adalah perusahaan tekstil yang produk utamanya adalah tenun dan tekstil. Perusahaan yang awal mulanya bernama Toyoda ini didirikan oleh Sakichi Toyoda. Sakichi Toyoda selaku pendiri perusahaan memiliki cita-cita besar dan memiliki insting kuat untuk membuat mesin-mesin inovatif. Setelah kunjungannya ke Amerika tahun 1910, ia yakin bahwa mobil adalah benda moderen yang sangat berprospek di masa depan. Nah, salah satu cita-cita terbesarnya adalah membuat mobil dari pabriknya.

Sayangnya, sampai ia tutup usia, ia tidak sempat melihat mobil yang dihasilkan oleh perusahaan miliknya. Kiichiro Toyoda, anak laki-lakinya, adalah yang berhasil mewujudkan pesan ayahnya untuk memproduksi mobil dari perusahaannya. Usaha Kiichiro Toyoda yang tak kenal lelah inilah yang akhirnya membuat perusahaan itu banting setir dan berhasil memproduksi mobil. Usahanya juga tidaklah mudah. Bahkan, mobil pertamanya merupakan produk gagal dan tidak laku di pasaran Jepang. Keuletannya, termasuk mengirim teknisi terbaiknya ke luar negeri, serta memperkerjakan konsultan asing terbaik di perusahaannya, akhirnya membuahkan hasil.

Toyoda kemudian berubah menjadi Toyota, dengan pertimbangan supaya lebih mudah disebut serta pertimbangan nama yang memberikan keberuntungan. Ternyata memang berhasil dan memberi sumbangan luar biasa bagi industri otomotif dunia. Istilah kaizen (perbaikan terus menerus), jid?ka (Just in Time) dan kanban (papan penunjuk statistik) merupakan salah satu bukti inovasi sistem pabrikan ini, yang bahkan diadaptasi secara luas dalam industri manufaktur di seluruh dunia.

Prestasi perusahaan Toyota ini juga tidak main-main. Keberhasilan pabrik Toyota dalam merakit mobil secara masal menjadi salah satu acuan utama dari seluruh pabrik otomotif di seluruh dunia. Pada tahun-tahun terakhir ini, Toyota menjadi produsen mobil terbesar di dunia, termasuk terbesar juga di Indonesia.

Lexus, mobil mewah dengan bahan bakar yang irit, adalah contoh keberhasilan Toyota dalam mendobrak mitos mobil mewah yang selalu boros bahan bakar. Prius, salah satu mobil hybrid-nya merupakan rancangan inovatif untuk mobil ramah lingkungan yang menjadi favorit bintang film di Hollywood. Usaha Toyota menjadi perusahaan kelas atas dan juga dihargai di seluruh dunia merupakan perjalanan panjang dan bukti dari kegigihan para penerus sesepuh Toyoda.

Setelah Toyota, mari kita beranjak ke dunia peralatan elektronik. Sony pernah menggegerkan dunia dengan menciptakan walkman pada tahun 1979, dan kemudian menjadi trendsetter fenomenal pada tahun 1980-an. Ketika itu, walkman membuat gebrakan dengan peralatan audio (kaset) yang dapat dijinjing sehingga kita dapat mendengarkan musik di mana pun kita berada.

Perusahaan Sony didirikan oleh duo pionir Masaru Ibuka dan Akio Morita. Tetapi, publik lebih mengenal Akio Morita sebagai co-founder Sony dengan ide-ide briliannya, termasuk walkman-nya itu. Sementara Itu, Masaru Ibuka lebih banyak berperan di belakang layar perusahaan, selain memang karena latar belakangnya sebagai insinyur elektronik.

Akio Morita berlatar belakang keluarga kaya dari saudagar pemilik pabrik sake Jepang. Namun, daripada menjadi pewaris pabrik mirik ayahnya, ternyata ketertarikan pada “barang ajaib” alias peralatan elektronik dari peradaban baru lebih besar. Itulah yang mendorong dia membuka perusahaan elektronik kecil dengan atap bocor di Tokyo pada 7 Mei 1946. Perusahaan yang mulanya bernama Tokyo Telecommunication Engineering itu kemudian menjadi Sony Cooperation yang ternama itu. Salah satu produk andalan dari perusahaan ini adalah radio transistor yang mulanya merupakan hasil ciptaan Bell Labs, Amerika.

Toh, pada kenyataannya Sony berhasil mengembangkan temuan-temuan itu menjadi sesuatu yang lebih inovatif dan juga bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Selebihnya kita tahu, Sony telah merambah dunia hiburan dan telah menguasai industri hiburan Hollywood. Juga tak lupa, Sony BMG juga menguasai dunia rekaman di Indonesia selain produk Sony juga dikenal produk elektronik papan atas saat ini.

Perusahaan ketiga adalah Panasonic. Perusahaan ini memang tidak sefenomenal Sony misalnya. Bahkan, perusahaan yang didirikan oleh Matsushita ini sering disebut dengan kata plesetan Maneshita (artinya melakukan peniruan, khususnya produk Sony). Tetapi, kehebatan perusahaan ini ada pada prinsip kesederhanaan dan kerendahhatian yang mendasari pemikiran pendirinya, Konoshuke Matsushita.

Coba lihat salah satu filosofi perusahaannya, yaitu untuk memerangi kemiskinan dan memajukan kualitas masyarakat. Berbeda dengan latar belakang filosofi Sony yang elegan dan serta ingin mengembangkan mimpi-mimpi spektakulernya. Sebaliknya, Panasonic ini berdasarkan pada prinsip kesederhanaan dan kebersamaan. Salah satu tekat Matsushita adalah menjadikan alat elektronik dapat digunakan oleh siapa saja dengan standar kualitas yang baik dan harga terjangkau. Oleh sebab itu, produk-produk andalannya pun dimulai dengan benda-benda sederhana (dan masih menjadi kekuatan perusahaan ini), dimulai dari lampu sepeda yang ringan dan tahan lama, batu baterai, penanak nasi elektronik, setrika berkualitas baik dan terjangkau, dan lain-lainnya.

Matsushita dikenal sebagai bapak Manajemen dan Filosofi Jepang. Latar belakang keluarganya yang sederhana dan miskin membentuk pribadinya yang sederhana dan rendah hati. Meskipun ia merupakan salah satu pengusaha terkaya Jepang, namun dia selalu menggunakan pesawat komersial kelas ekonomi ke mana pun ia terbang.

Dari kisah tiga perusahaan ternama Jepang ini ada benang merah yang seakan-akan menyambungkan ketiga perusahaan tersebut: Meniru dan menyempurnakan yang sangat khas Jepang. Mobil boleh ditemukan oleh Daimler-Benz, Ford yang menemukan sistem perakitan modern, namun Toyota-lah yang menyempurnakan temuan dari bangsa Barat. Bahkan, ketiga sistem kanban, jid?ka, dan kaizenbukan yang merupakan ide original Toyota ternyata telah diaadaptasi dan disempurnakan setelah belajar dari konsultan mereka yaitu, Profesor Deming yang berasal dari Amerika.

Kedua, radio transistor diciptakan oleh bangsa Amerika (Bell Labs), namun Sony berhasil mengembangkan serta menciptakan inovasi-inovasi baru, yang bahkan menjadi fenomenal. Phillips salah satu perusahaan ternama Belandayang menjadi kiblat Panasonicjuga merupakan perusahaan elektronik ternama dan memulai bisnis peralatan elektronik untuk peralatan rumah tangga. Sama dengan kedua perusahaan di atas, Panasonicdengan usahanya yang keras dan sangat serius termasuk penelitiannya serta perhatiannya yang kuat bagi karyawannya—telah membuat perusahaan itu menjadi sukses dan sangat dihormati di dunia.

Ya, meniru dan menyempurnakan, yang berarti juga berani gagal. Sebuah kata kunci bagi aktivitas perekonomian Indonesia. Saya kira, bangsa kita akan mudah melakukan peniruan dan, maaf, juga pembajakan. Untuk menyempurnakan? Sepertinya kita masih perlu belajar dari Jepang. Negara yang tercatat dan menyatakan dirinya telah keluar dari krisis global pertama di Asia. Siapkah kita?[mspa]

* Meta Sekar Puji Astuti adalah penulis buku Apakah Mereka Mata-Mata? - Orang-Orang Jepang di Indonesia 1868-1942. Lulusan Sastra Jepang UGM dan menyelesaikan studi masternya di Ohio University, Amerika Serikat. Tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jepang, Universitas Hasanuddin. Ia pernah menjadi peneliti tamu di Keio University tahun 2008-2009 disponsori oleh The Japan Foundation. Saat ini tengah menempuh studi S-3 di Keio University, Tokyo, Jepang. Selain akademisi dan peneliti, ia juga seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak yang peduli dengan pendidikan bangsa untuk penyadaran identitas diri bangsa Indonesia.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.8/10 (11 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +7 (from 7 votes)

Manohara, Karayuki-san, Jugun-Ianfu, dan Ibu Prita

mspaOleh: Meta Sekar Puji Astuti*

Ternyata, kisah Manohara bukannya kisah zaman moderen saja. Kisah yang menimpa model cantik Manohara, gadis blasteran Bugis Perancis ini, juga pernah dimuat dalam kitab Jataka dan Avadana. Itu adalah kitab yang berisikan kisah, legenda, serta dongeng-dongeng yang masih dipercayai oleh penganut agama Buddha. Kisah Manohara di zaman dulu, yang merupakan kisah kepedihan seorang istri cantik dari dunia manusia burung, bahkan juga dipahat di relief candi Borobudur (Kompas, 3 Juni 2009).

Manohara moderen tersiksa oleh suaminya, sementara Manohara kuno tersiksa karena keluarga suaminya. Manohara kuno terselamatkan dan bahagia karena ketulusan cinta suaminya, sementara Manohara moderen bisa kembali tersenyum karena ketulusan cinta ibundanya.

Tetapi, yang mengejutkan adalah persamaan kisah ketika seorang perempuan diberikan kepada pihak ketiga karena iming-iming harta dan kemewahan. Secara tidak sengaja ada perbedaan dan persamaan di dalam kedua kisah tersebut. Namun, keduanya sama-sama menyimpan kepedihan yang mendalam.

Sudah sejak dahulu perempuan harus berkorban demi materi dan kehormatan. Ternyata, itu bukan suatu kisah yang baru. Agama Islam, selalu menyerukan untuk selalu mengutamakan kaum perempuan. Ketika Nabi Muhammad ditanya siapakah yang harus dihormati dalam hidup kita, beliau menjawab, “Ibu” sampai tiga kali, sesudah itu barulah, ”Bapak”. Posisi ibu memang luar biasa. Surga ada di telapak kaki ibu, memang layak kita percayai.

Kisah karayuki-san berbeda lagi. Nama karayuki-san mulai dipakai sejak tahun 1970-an ketika para novelis-novelis Jepang menulis kisah “kelam” dalam sejarah Jepang maupun sejarah hubungan Jepang dan Asia Tenggara. Karayuki adalah gabungan kata, yaitu kara (merupakan huruf kanji) yang berarti China dan yuki adalah huruf kanji untuk pergi atau tujuan. Semisal Anda pernah singgah di Jepang kemudian mendengar atau melihat di stasiun, “Ini adalah kereta Shibuya-yuki” artinya kereta itu adalah kereta tujuan Shibuya. San dipakai untuk panggilan penghormat atau bentuk sopan bagi yang disebut.

Sejarah karayuki-san bermula dari sejak zaman dibukanya Jepang dari isolasi negaranya, yaitu tahun 1868 ketika zaman Meiji (tahta kekaisaran Meiji) dimulai. Profesi karayuki-san adalah penjaja diri atau pekerja seksual komersial (PSK). Profesi ini terpaksa ditempuh karena alasan kemiskinan. Situasi ekonomi Jepang memang dalam keadaan yang tidak baik pada masa-masa awal zaman moderen. Kemiskinan dan pengangguran di mana-mana. Tidak banyak orang bisa melakukan pekerjaan.

Beberapa daerah tidak bisa menghasilkan beras dan tidak ada pilihan lain kecuali pergi dari wilayah miskin itu. Pada masa itu, karena tidak memiliki keahlian khusus serta tidak tahu pekerjaan apa yang akan dilakukan, laki-laki memilih untuk tinggal di dalam negeri. Sementara, perempuan-perempuan muda merantau, baik yang dijual oleh pihak ketiga, maupun secara suka rela menjajakan dirinya ke luar negeri untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Perempuan-perempuan ini kebanyakan dijual oleh keluarganya sendiri kepada mucikari yang telah berkeliaran mencari wanita muda. Daerah-daerah asal para karayuki-san ini adalah kepulauan Kyushu, seperti daerah Shimabara dan Amakusa. Mereka harus pergi dengan kapal yang relatif berukuran kecil, pengap, dan sangat berisiko untuk perjalanan yang jauh, apa lagi luar negeri. Mereka ditumpangkan pada kapal-kapal yang biasanya memuat batu bara. Bisnis utama antara Jepang dan Singapura pada masa itu.

Banyak di antara mereka yang meninggal karena sanitasi yang kurang bagus termasuk kepengapan kapal, tidak tahan dengan perjalanan yang melelahkan itu, atau meninggal karena penyakit-penyakit lainnya seperti malaria. Namun, para perempuan yang berhasil mencapai negara tujuannya, terutama Singapura, banyak yang kemudian sukses. Dalam artian, banyak mendapatkan uang dan dikirim ke kampung halamannya untuk membantu keluarganya.

Kesuksesan para karayuki-san ini bahkan diwujudkan dalam pendirian sebuah kuil tempat bersembahyang di kota Shimabara. Kuil ini masih berdiri sampai sekarang dan dianggap sebagai lokasi yang bersejarah oleh pemerintah setempat. Di pagar-pagar batu di kuil tersebut dituliskan berapa sumbangan yang diberikan oleh karayuki-san, nama, dan juga daerah di mana mereka tinggal. Kebanyakan yang tertulis dari daerah Asia Tenggara, seperti Malaysia, Indonesia, dan lain-lainnya. Namun, juga tertulis kota-kota lain di Asia Selatan seperti Kalkuta, India, atau China. Nama-nama kota semacam Batavia, Surabaya, dan tempat lainnya di Indonesia terlihat jelas. Namun, prinsipnya, karayuki-san ini tersebar ke seluruh penjuru dunia, bukan hanya di daerah Hindia Belanda atau Asia Tenggara saja.

Kisah pilu karayuki-san di Hindia Belanda terhenti pada tahun 1910-an. Waktu itu, Eropa mulai memberlakukan UU Anti-Traficking dan Belanda adalah negara pertama yang mengaplikasiannya, termasuk di negara jajahannya Hindia Belanda. Namun, negara-negara lain masih mengakui keberadaan karayuki-san. Sementara, kebanyakan karayuki-san di Hindia Belanda mulai berkemas-kemas untuk pulang. Namun, tidak sedikit pula yang kemudian berlindung dengan profesi-profesi “atas nama” dan terus menjalankan profesinya, atau meninggalkan profesinya namun terus menetap secara permanen di kota-kota di pulau Jawa.

Tidak sedikit pula tertulis kisah-kisah bahwa pada saat tentara Jepang mendarat di Jawa, mereka bertemu dengan nenek-nenek yang berpakaian seperti orang setempat, namun bercakap bahasa Jepang secara fasih. Mereka sangat bersahabat dengan para tentara tersebut. Namun, identitas mereka tidak jelas. Besar kemungkinan mereka adalah karayuki-san yang tidak pulang.

Sekali lagi, kisah-kisah karayuki-san juga menunjukkan kisah pengorbanan para perempuan demi kehidupan yang lebih baik. Demi materi dan kehormatan, mereka melakukan apa saja, termasuk menjual diri yang berisiko terhadap jiwanya sendiri.

Beda lagi dengan kisah jugun ianfu. Jugun ianfu yang dalam bahasa Inggrisnya banyak ditulis sebagai comfort women, yaitu para wanita yang dipekerjakan oleh tentara Jepang, secara paksa, untuk melayani tentara Jepang dalam menjalani tugasnya. Kebetulan penulis pernah berinteraksi langsung dengan Mardiyem, mantan jugun ianfu yang bersedia bersaksi kepada publik.

Kisahnya sangat memilukan. Ketika usianya masih sangat muda, menurut penuturan pribadinya, dia dibujuk, diculik, dan akhirnya dipaksa menjadi jugun ianfu. Dia ditempatkan satu penempatan tentara Jepang di Kalimantan. Pada awalnya, dia berpikir akan dipekerjakan sebagai penari atau penyanyi oleh pihak Jepang. Ternyata, dia terjebak dan dibawa ke camp pertahanan Jepang untuk dipaksa melayani kebutuhan seksual tentara-tentara Jepang. Kehormatannya telah hilang diambil oleh para tentara itu.

Pernah Mardiyem mengalami pendarahan hebat karena perlakuan tidak manusiawi tentara-tentara Jepang itu. Dalam sehari pernah dia melayani 10 orang tentara dalam selnya yang tidak terlalu luas. Dia selalu dijanjikan akan mendapatkan pendapatannya dari pelayanannya selama itu. Dia mendapatkan kupon setiap kali selesai memberikan pelayanannya.

Akibat kesadisan perlakukan tentara Jepang itu, rahim Mardiyem rusak. Mata dan mukanya cacat karena dipukul dengan senjata saat menolak melayani. Kisah pilu ini berakhir ketika tentara Jepang harus menyerah kepada Amerika dan meninggalkan daerah peperangan.

Mardiyem cukup beruntung karena dapat selamat dan kemudian memiliki seorang suami yang menerima dengan tulus keadaannya. Namun, tidak demikian dengan masyarakat setempatyang sempat mencemoohnya karena dia dianggap sebagai pelacur. Ketika berusaha membuka usaha katering, ia selalu gagal karena pandangan miring para tetangga dan masyarakat setempat yang buta dengan informasi akan sejarah masa lalu.

Sekali lagi, kisah Mardiyem menyimpan kepedihan dan pengorbanan seorang perempuan yang terjadi di masa perang. Kisah hidup dan penderitaannya harus terjadi karena adanya sifat manusia yang sombong dan haus kekuasaan. Sekali lagi, haus kekuasaan dan materi selalu mengorbankan hak dan martabat seorang perempuan.

Kisah Prita belakangan ini juga tidak kalah mengenaskan. Seorang ibu muda yang memperjuangkan hak-haknya harus mendekam dalam penjara karena kekuasaan dan uang. Ceritanya sangat sederhana. Dia hanya melakukan komplain terhadap rumah sakit Omni Internasional terhadap diagnosis penyakitnya dengan e-mail. Dia merasa diagnosis dan juga pelayanan yang kurang menyenangkan. Perusahaan yang memberikan pelayanan jasa memang selalu berisiko. Kalau tidak tepat, maka pelayanannya menjadi kurang baik.

Entah sejauh apa tulisannya, namun pihak rumah sakit merasa sangat tersinggung. Tetapi rupanya, mereka bertindak terlalu jauh atau kurang peka dengan akibatnya. Bukannya dicoba diselesaikan dengan cara yang sederhana dan kekeluargaan. Namun, pihak rumah sakit sebagai pihak yang memiliki kekuasaan dan materi malah menjebloskan Prita ke dalam penjara, dengan perangkat undang-undang yang oleh para ahli dianggap kurang layak.

Prita adalah seorang perempuan yang memiliki anak-anak masih kecil. Namun, dia harus dicabut haknya untuk bertemu dengan anak-anaknya. Kita tidak tahu persis di mana kesalahannya. Ironis, ketika beberapa ulama menyerukan seruan larangan penyalahgunaan Facebook, namun ternyata internet disalahgunakan oleh penguasa untuk mencabut hak seorang perempuan sekaligus ibu.

Kisah-kisah ala Manohara, karayuki-san, jugun-ianfu, dan Prita dapat dijadikan hikmah bagi kita semua. Bahwa, perempuan sering dijadikan korban oleh kesewenang-wenangan kekuasaan dan keserakahan akan materi. Hal-hak perempuan kadang kurang dilindungi oleh banyak pihak apalagi dari ancaman keserakahan akan materi dan kekuasaan.

Agama Islam adalah agama yang menghargai hak-hak kaum wanita dan anak-anak. Semestinya, sudah jelas karena satu surat khusus yang menjelaskan dan menuliskan tentang hak dan kewajiban kaum hawa, yaitu surat An-Nisa (perempuan) yang menandakan agama ini peduli dengan perempuan. Perempuan adalah kaum lemah yang sering menjadi korban. Perempuan juga kebanyakan sering menjadi korban pelecehan. Beribu-ribu kisah-kisah pilu yang telah terjadi di dalam sejarah, bisakah kita belajar untuk masa depan dari sejarah ini? Mampukah kita sebagai perempuan melindungi jiwa dan raga kita? Mampukan lelaki menjadi pelindung kita? Mungkin sudah saatnya kita untuk merenung.[mspa]

* Meta Sekar Puji Astuti adalah penulis buku Apakah Mereka Mata-Mata? - Orang-Orang Jepang di Indonesia 1868-1942. Lulusan Sastra Jepang UGM dan menyelesaikan studi masternya di Ohio University, Amerika Serikat. Tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jepang, Universitas Hasanuddin. Ia pernah menjadi peneliti tamu di Keio University tahun 2008-2009 disponsori oleh The Japan Foundation. Saat ini tengah menempuh studi S-3 di Keio University, Tokyo, Jepang. Selain akademisi dan peneliti, ia juga seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak yang peduli dengan pendidikan bangsa untuk penyadaran identitas diri bangsa Indonesia.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Budaya Kelola Sampah Jepang vs. Indonesia

mspa1Oleh: Meta Sekar Puji Astuti*

Ketika sedang belajar di Amerika, saya pernah mengambil sebuah mata kuliah filosofi (salah satu alasannya karena dosennya ganteng). Satu kali saya memandangi dosen lulusan Harvard itu dengan penuh kekaguman saat ia memberikan kata pengantar kuliahnya. “Untuk memahami sejarah peradaban dan masyarakat India, salah satu teknik pentingyang mungkin masih kontroversial di antara peneliti khususnya dalam ilmu arkeologiadalah meneliti peradaban manusia dengan observasi (fosil) sampah rumah tangga,” kata dia. Apa yang dia makan, peralatan apa yang digunakan, dapat membantu kita dalam memahami jenis dan gaya hidup masyarakat pada zaman itu. Dengan kata lain, melalui pengamatan isi sampah, kita bisa menganalisis peradaban dan sejarah masyarakat,” tambahnya lagi.

Ah, dosen yang ganteng dan pintar ini berhasil memberikan inspirasi dan ide yang keren. Betul. Ilmu pengamatan sampah, dapat membantu kita menganalisis dan mengenali sejarah, sosial, dan kondisi masyarakat! Saya yakin, bukan hanya untuk bidang ilmu arkeologi saja, tetapi juga di abad moderen. Mari kita coba mulai untuk “menerawang” masyarakat Indonesia melalui sampah. Pasti Anda semua sudah mendapatkan gambarannya, kan?

Tanpa argumen panjang, pengelolaan sampah di Indonesia secara umum sangat semrawut. Apakah mungkin itu cermin situasi kondisi masyarakat dan kehidupan bangsa Indonesia? Meskipun tidak semuanya amburadul, tergantung daerah dan kesadaran warganya, toh Kementerian Lingkungan Hidup masih dipusingkan dengan kesadaran pembuangan sampah masyarakat kita. Tetapi bagaimanapun juga, baik jalan, sungai, dan laut di Indonesia bagai “tong sampah raksasa”. Buktinya, seorang teman saya yang bekerja di PLN pernah bercerita, sampah-sampah di Jakarta sering membuat mesin-mesin turbin PLTA rusak, khususnya sampah plastik yang tumpah ruah di laut. Bahkan konon kabarnya, ada sebuah kisah horor mesin turbin listrik di daerah Jakarta Utara pernah macet karena terhambat oleh mayat yang “dibuang” sembarangan. Hiii…luar biasa.

Anggota DPR atau pun lembaga pemerintahan lainnya memang cukup rajin mengunjungi kota-kota besar di negara-negara maju untuk studi banding. Namun rupanya, ilmu yang diperoleh tidak cukup mempan dibagikan kepada masyarakat di tingkat akar rumput supaya mereka menjadi lebih sadar lingkungan. Sebenarnya, apa sih yang menghambat kesadaran masyarakat kita? Negara kita juga tidak terbelakang sekali, tetapi kalau masalah mental dan moral kok belum juga maju, ya? Apa pemikiran masyarakat kita telah terpolusi oleh “sampah-sampah” mental sehingga sampah fisik juga memenuhi ruang publik kita?

Kita seharusnya sudah sangat malu! Apalagi kalau dibandingkan dengan cara pengelolaan sampah negara-negara tetangga kita semacam Singapura, Malaysia, atau Thailand. Memang betul negara kita memiliki jauh lebih banyak tempat wisata yang sangat indah pemandangannya, selain juga masyarakatnya yang (konon) terkenal ramah. Namun, jangan bicara fasilitas dan juga kemauan masyarakat kita dalam mengolah sampah di sekeliling mereka.

Tidak usah jauh-jauh. Kita mulai saja dari negara jiran kita, Malaysia. Jika pernah mengunjungi Kuala Lumpur, pasti kita terkesan dengan pedagang kaki lima yang sangat bersih dan tertib dalam mengelola sampahnya. Tidak terkesan jorok namun serba rapi. Coba kita bandingkan dengan di Makassar. Kota Makassar dulu pernah dikenal sebagai kota dengan pedagang kaki lima terpanjang di seluruh dunia, sepanjang Pantai Losari. Sayangnya, sampah dan kesemerawutan juga berjalan seiring. Tidak bisa menutup mata, sampah dan kecoak pun bertebaran di pagi dan siang hari mengganggu pemandangan.

Akhirnya, diambillah solusi. Pantai direklamasi. Lokasi penjualandengan alasan demi ketertiban dan juga kesehatan lingkungandipindahkan di lokasi yang kurang strategis. Padahal, pernah dilakukan protes dari pedagang setempat dan juga demo-demo yang menghabiskan energi maupun tenaga. Apa hasilnya sekarang? Pedagang makanan dipindahkan di tempat yang tersembunyi sehingga kurang didatangi konsumen. Makassar kehilangan kekhasannya dengan julukan kota kaki lima terpanjang di seluruh dunia. Sekali lagi, tak kurang-kurangnya aparat pemerintahan Makassar pergi ke Malaysia untuk melakukan studi banding. Tetapi, keunikan kota Makassar yang dulu pernah ada, hilang ditiup angin lalu.

Saya ingin berbagi cerita sedikit tentang pengelolaan sampah di Jepang. Di Jepang, tingkat pengelolaan sampah termasuk cukup maju di dunia. Sampah di Jepang dipilah sesuai dengan jenisnya dan dikelola dengan baik. Sampah botol kaca, botol plastik, kertas, dan sampah rumah tangga dibeda-bedakan. Sebagian didaur ulang. Kecanggihan teknologi Jepang telah memungkinkan negara ini membuat baju dan kain dari serat plastik yang berasal dari pet bottle atau botol plastik minuman ringan.

Sementara, sebagian besar sampah organikkhususnya yang datang dari hotel-hotel maupun di departemen storedijadikan kompos atau pupuk organik. Bus kota yang dioperasikan oleh kota metropolitan Tokyo (Toei Bus) telah berani mengklaim merupakan bus kota ramah lingkungan. Misalnya, bahan-bahan yang digunakan untuk tempat duduknya merupakan produk daur ulang. Pada saat berhenti di lampu merah, sopirnya pun tidak segan-segan mematikan mesinnya dengan alasan untuk menghemat bahan bakar dan juga mengurangi polusi. Hebat, bukan?

Secara ekonomi, bangsa dan masyarakat Jepang termasuk bangsa yang maju. Ekonomi negara itu secara hitungan statistik nomor dua setelah Amerika Serikat. Secara umum kota-kota di Jepang, baik besar maupun kecil, terjaga kebersihannya, rapi, sistematik, dan teratur. Menurut saya, meski negara ini secara ekonomis telah berhasil, namun salah satu kunci penting dari kebersihan dan kerapian publik di kota-kota di negara itu adalah karena kesadaran masyarakatnya. Mereka sadar, bahwa kebersihan kota adalah tanggung jawab individu, bersama-sama, alias komunitas.

Ketika tong sampah dan tempat sampah umum dikurangi dengan alasan untuk mengurangi bahaya kemungkinan teroris memasukkan bomnya, masyarakat Jepang pun tak segan-segan memasukkan sampahnya di tas. Baru kemudian dibuang di tong sampah yang dapat ditemukannya. Bahkan, tak jarang setelah sampai di rumah baru dibuang. Tetapi, ada anggapan yang salah juga kalau di seluruh Jepang merupakan kota yang bebas sampah 100 persen. Sampah dan tukang sampah juga masih ada di Jepang. Hanya saja, tanggung jawab masyarakat dan individu lebih mementingkan peran penting dalam komunitasnya sehingga ruang publik sangat rapi dan enak dipandang mata.

Di Tokyo, selain dilakukan pemilahan sampah, daur ulang, juga terdapat jadwal pembuangannya. Misalnya, Senin untuk sampah yang dapat dibakar atau sampah rumah tangga (moeru gomi), Selasa untuk benda-benda plastik, Rabu untuk botol kaca, dan seterusnya.

Kebiasaan orang Indonesia yang tidak sistematik dalam tata cara pembuangan sampah—seperti saya misalnya yang tengah studi di Jepang—kadang membuat urusan tersebut menjadi ribet. Tetapi, saya punya satu taktik membuang sampah (kalau tidak mengikuti jadwal), yaitu dengan membuang sampah di toko-toko kombini (convinience store) terdekat. Toko-toko semacam ini bagaikan warung serba ada di Indonesia, yang buka selama 24 jam dan menyediakan servis segala rupa, mulai dari pembayaran tagihan, pengiriman barang, pembayaran tiket segala rupa, sampai dengan ATM (di Jepang tidak semua ATM 24 jam). Bangsa Jepang moderen menuntut kehidupan serba praktis. Demikian pula servis sampahnya, 24 jam.

Meski praktis untuk hal-hal tertentu, tata cara pembuangan sampah di Jepang ternyata menjadi sangat tidak praktis untuk pembuangan benda-benda tertentu. Ketika orang hendak pindah rumah dan perlu membuang benda-benda besar semacam furniture, ternyata kita perlu mengontak perusahaan sampah untuk mengambil benda-benda besar, atau kalau tidak kita bisa kena denda. Membuang sepeda yang tidak pada tempat semestinya, kita bisa ditelepon polisi.

Susahnya di negara maju, orang miskin yang perlu diberi bantuan sedikit jumlahnya. Beda di Indonesia, mungkin masih banyak kita temui saudara yang miskis di antara kerabat atau tetangga di lingkungan kita. Benda-benda bekas layak pakai masih bisa diberikan kepada orang yang berhak mendapatkannya. Nah, kali ini kita mungkin sedikit bisa lega tinggal di Indonesia. Karena sebenarnya barang-barang yang tidak kita perlukan bisa kita ulurkan bagi orang-orang yang membutuhkan tanpa kesulitan seperti di Jepang.

Pernah dalam sebuah mata kuliah saya membahas soal persampahan masyarakat Jepang dan Indonesia. Setelah melakukan observasi pembuangan sampah di jalanan, pasar, dan tempat umum, akhirnya saya menarik sebuah kesimpulan menarik: Pertama, masyarakat seperti di Kota Makassar dan Indonesia pada umumnya sangat bergantung pada petugas kebersihan. Kedua, masyarakat Jepang bertanggung jawab sepenuhnya atas sampah dan kebersihan di ruang publiknya. Ketiga, masyarakat Indonesia seharusnya bisa lebih menghargai kerja keras para petugas kebersihan dan mau memberikan penghargaan yang lebih tinggi, dan jangan sampai malah merendahkan pekerjaan mereka. Jadi, sampah mungkin boleh bau atau busuk. Tetapi, pikiran kita harus terbuka dan mudah menerima ide-ide baru. Sampah boleh busuk dan boleh bau, tetapi sampah bisa menjadi sangat bermanfaat.[mspa]

* Meta Sekar Puji Astuti adalah penulis buku Apakah Mereka Mata-Mata? - Orang-Orang Jepang di Indonesia 1868-1942. Lulusan Sastra Jepang UGM dan menyelesaikan studi masternya di Ohio University, Amerika Serikat. Tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jepang, Universitas Hasanuddin. Ia pernah menjadi peneliti tamu di Keio University tahun 2008-2009 disponsori oleh The Japan Foundation. Saat ini tengah menempuh studi S-3 di Keio University, Tokyo, Jepang. Selain akademisi dan peneliti, ia juga seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak yang peduli dengan pendidikan bangsa untuk penyadaran identitas diri bangsa Indonesia.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.6/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

Sejarah, Nasionalisme, dan Harga Diri Bangsa

mspaOleh: Meta Sekar Puji Astuti*

Seorang kakek berkebangsaan asing dengan status ahli bahasa ditempatkan menjadi ahli pengajar bahasa asing di satu universitas negeri di sebuah kota besar di Indonesia. Sang kakek ini telah lama berprofesi sebagai pengajar bahasa untuk orang asing dan pernah ditempatkan di beberapa kota penjuru dunia, baik negara maju maupun negara berkembang. Pada saat dia bertugas di wilayah Indonesia Timur, ternyata dia masih menghadapi kendala budaya Indonesia yang dianggapnya kurang baik. “Universitas negeri sebesar ini masih mengandalkan budaya tidak tepat waktu,” begitu salah satu keluh kesahnya.

Suatu ketika, dia akan mengajar di sebuah kelas, namun si penjaga ruangan datang terlambat. Dia marah besar. Suatu hari, dia mendobrak pintu hingga rusak. Hari lain, karena mungkin demikian emosinya, dia melabrak pembawa kunci itu dan entah disengaja atau tidak, air liurnya mengenai muka sang staf dan penjaga. Peristiwa itu berhasil diredakan karena sang kakek dipaksa meminta maaf kepada yang bersangkutan. Bagaimana kesan Anda terhadap peristiwa ini?

Mari kita uji nasionalisme Anda. Siapa yang harus dibela, sang tamu dari negeri seberang yang telah sepuh atau sang pembawa kunci, seorang penduduk lokal dengan status sosial (yang dianggap) rendah?

Ketika mendengar peristiwa itu, salah satu staf pengajar yang terhitung masih muda tersulut emosinya dan merasa terpanggil untuk mewujudkan rasa nasionalismenya. Apalagi hal itu menimpa kaum kecil yang kemungkinan (sangat besar) tidak mampu menyuarakan kata hatinya. Dengan penuh usaha dan upaya, akhirnya ia berhasil melaporkan peristiwa itu kepada lembaga pengirim sang kakek. Lembaga ini juga menyatakan keterkejutannya karena tidak pernah ada pembicaraan dan pelaporan secara resmi. Bahkan, mereka menganggap masalah itu cukup serius karena berkaitan dengan hubungan baik kedua bangsa.

Peristiwa itu selesai karena dianggap sudah ada upaya damai, meski nyatanya diselesaikan dengan setengah dipaksakan. Jadi, tidak pernah ada pelaporan tentang peristiwa tersebut, kecuali sang dosen muda yang berupaya keras menginformasikannya kepada pihak-pihak tertentu agar dapat memberikan pelajaran pada sang kakek, yang dianggapnya tidak sopan dan juga menjatuhkan harga diri seseorang.

Usut punya usut, mengapa pihak universitasdalam hal ini juga di tingkat jurusan dan fakultastidak mau melakukan pelaporan secara resmi? Pertama, selain telah dianggap ada upaya damai, kedua karena ada kecenderungan ingin menyelesaikan masalah ini tanpa ada keributan. Juga ada kekhawatiran apabila nanti lembaga donor tersebut tidak bersedia mengirimkan tenaga ahlinya.

Dalam sebuah pertemuan resmi antara pihak universitas dan lembaga pengirim tenaga ahli tersebut, yang mempertemukan pihak universitas—yang meliputi pimpinan, pengajar, serta korbanterdapat pernyataan-pernyataan yang menarik. Pimpinan yang pada awalnya sempat protes melunak. Dia mengatakan sebaiknya peristiwa itu dianggap selesai karena semuanya sudah berjalan dengan damai. Pihak korban pun menyatakan sudah menerima peristiwa itu dan tidak akan menuntut segala sesuatu apa pun karena sudah terjadi proses perdamaian.

Sang dosen muda merasakan adanya skenario dalam pertemuan itu, seperti sebuah drama sinetron di televisi Indonesia. Tidak menarik dan mudah ditebak akhirnya. Bahkan, segala sesuatu bisa diada-adakan.

“Kakek sang tenaga ahli merasa stres karena seseorang di dalam lingkungan kita telah melaporkan peristiwa ini sehingga suasana menjadi kacau,” begitu komentar sang pimpinan. Anda tahu maksudnya, kan? Bukankah kaum kecil seharusnya dibela? Bukankah “harga diri” bangsa dan negara sebaiknya ditonjolkan? Tetapi malah sebaliknya. Intinya, kekacauan (pasca-peristiwa ini) adalah gara-gara “pelaporan” oleh seseorang yang mencoba menjaga harga diri dan berupaya menjaga rasa nasionalismenya.

Setelah mengalami proses agak lama, tenaga ahli tersebut ditarik dengan alasan kesehatannya yang tidak memungkinkan. Sebuah akhir yang menarik dan tidak pernah diduga karena keadilan akhirnya dapat diwujudkan.

Kisah ini berdasarkan kejadian nyata. Sang dosen muda itu adalah saya. Dan, sampai detik ini saya juga tidak pernah habis pikir bahwa pengajaran sejarah secara resmi di negeri ini didominasi oleh pelajaran yang menonjolkan nasionalisme dan rasa persatuan-kesatuan di atas segala golongan. Namun nyatanya apa…?

Pengajaran sejarah (resmi) Indonesia memang sering kali tidak ditangkap makna dan esensinya. Implementasi pelajaran moral di dalamnya dengan realitas yang ada selama ini masih jauh jaraknya, seperti bumi dan langit.

Memang sangat memilukan ternyata Indonesiayang secara fisik telah terlepas dari penjajahan sejak 64 tahun yang lalu, ternyata masih belum terlepas dari penjajahan, khususnya dalam bentuk moral. Sebagian (besar) bangsa Indonesia masih belum terlepas dari penjajahan yang tidak terlihat. Penjajahan yang wujudnya penjajahan cara berpikir yang cenderung tidak merdeka, tidak terbuka, serta cenderung negatif dan pasif.

Bangsa Indonesia memang belajar sejarah dari SD sampai dengan perguruan tinggi. Masa penjajahan pemerintahan militer Jepang tahun 1942-1945 pun banyak diangkat sebagai topik penting dalam buku dan mata pelajaran resmi Indonesia. Salah satu alasan penting adalah untuk meningkatkan nasionalisme bangsa Indonesia.

Sejarah Indonesia mengalami masa kelam di masa penjajahan itu. Memang betul, sejarah di masa itu kelam, tetapi jangan sampai mengelamkan dan mengeruhkan hati nurani kita. Mengapa demikian? Karena setelah diteliti secara ilmiah, ternyata hubungan sejarah Indonesia-Jepang tidak sebatas masa penjajahan.

Pernahkah Anda mendengar kedatangan orang-orang Jepang sebelum masa perang? Mereka melakukan perdagangan dengan masyarakat lokal dengan damai? Pernahkah Anda dengar beberapa orang samurai datang pada saat Portugis masih menguasai rempah-rempah di kepulauan Maluku? Pernahkah Anda mendengar para pekerja tak layak bangsa Jepang, termasuk mucikari, pencopet, dan juga PSK merupakan pembuka hubungan Indonesia-Jepang di awal abad XIX?

Dengan kata lain, sejarah Indonesia telah berlangsung selama berabad-abad dan masa perang hanya terjadi selama tiga tahun. Rangkaian kisah “biasa-biasa” ini merupakan kisah manusiawi yang kadang dramatis, namun jarang diekspos oleh pengajaran sejarah resmi Indonesia. Ingat sejarah menunjukkan, bangsa dan negara Jepang pernah miskin secara ekonomi. Selain secara fakta Jepang tidak memiliki sumber-sumber alam sehingga memerlukan dan melakukan ekspansi di wilayah lain.

Jepang menjadi salah satu negara maju dan canggih sampai saat ini juga melalui proses yang panjang dan luar biasa. Namun, jarang orang memikirkan bagaimana sejarah awal mulanya. Perlu dicatat, bangsa dan masyarakat Jepang juga manusia biasa. Namun, pernahkah kita sebagai bangsa Indonesia melepaskan bayangan mereka dari para anggota militer yang memperlakukan romusa, pekerja rodi, dan jugun ianfu secara keji?

Memang betul sejarah romusa, pekerja rodi, atau jugun iafun terjadi di bumi Nusantara. Kekejaman itu memang merupakan bagian dari sejarah bangsa kita. Namun, layakkah kita sebagai bangsa Indonesia yang seharusnya bermatabat “hanya” selalu mengingat kekejaman-kekejaman peperangan belaka? Yang membuat mereka unik dan lebih hebat dari bangsa Indonesia adalah cara dan upayanya untuk menjadi bangsa yang majusampai saat ini.

Tetapi prinsipnya, kita sama-sama manusia biasa di dunia ini. Saya kira pikiran kita perlu dibuka untuk menerima paradigma baru bahwa manusia Jepang adalah manusia biasa, tak lepas dari kelebihan dan kekurangannya. Pernah mengalami masa sulit, miskin, juga mengalami penderitaan selama perang berlangsung. Perlu dicatat, sebagian masyarakat Jepang juga menderita, bukan hanya bangsa korban jajahan saja lho yang menderita.

Apakah sudah saatnya kita menggunggat pengajaran sejarah resmi Indonesia yang tidak mengajarkan kita untuk berpikir kritis dan berpikir lebih komprehensif? Ya, mungkin ide ini masih memerlukan waktu yang lama untuk diwujudkan. Lebih baik bagi kita adalah menyeimbangkan jalan pikiran kita dahulu antara pikiran negatif dan positif. Menyeimbangkan hati nurani, memori, serta fakta sejarah kita saat ini yang dipenuhi kisah-kisah “kekejaman” dan penuh dendam.

Sadarkah kita bahwa selama ini kita masih dibutakan dan masih didikte oleh sejarah-sejarah resmi pemerintah yang kurang memerhatikan peran orang-orang biasa? Coba lihat makalah Profesor Aiko Kurasawa. Sejarah kita juga masih lebih memerhatikan sejarah para elit daripada sejarah masyarakat biasa, itu bila menggunakan istilah Profesor Bambang Purwanto.

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-64, kita perlu melakukan evaluasi penting. Apakah pikiran kita sudah dan bebas dan merdeka sepenuhnya? Ataukah kita masih terjajah oleh jalan pikiran dan juga hati nurani kita yang kelam? Untuk belajar dari itu semua, kita memerlukan pembelajaran dari sejarah. Tentu saja bukan sejarah yang standar yang ada selama ini. Sejarah yang sexy dan juga mencerahkan pembelajaran bagi umat manusia. Akhir kata, mari kita bertanya pada diri sendiri, siapkah kita menciptakan sejarah baru bangsa Indonesia untuk membangun paradigma berpikir yang baru, yang lebih mencerahkan dan mencerdaskan?[mspa]

* Meta Sekar Puji Astuti adalah penulis buku Apakah Mereka Mata-Mata? - Orang-Orang Jepang di Indonesia 1868-1942. Lulusan Sastra Jepang UGM dan menyelesaikan studi masternya di Ohio University, Amerika Serikat. Tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jepang, Universitas Hasanuddin. Ia pernah menjadi peneliti tamu di Keio University tahun 2008-2009 disponsori oleh The Japan Foundation. Saat ini tengah menempuh studi S-3 di Keio University, Tokyo, Jepang. Selain akademisi dan peneliti, ia juga seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak yang peduli dengan pendidikan bangsa untuk penyadaran identitas diri bangsa Indonesia.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.9/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 7 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox