Tersesat ke Jalan yang Benar: Refleksi Perjalanan Sebuah Buku

Melly KiongOleh: Melly Kiong*

Masih hangat dalam ingatan saya, bagaimana seorang teman memberikan ide agar saya menuliskan pengalaman saya dalam bekerja sambil mendidik anak. Rasanya, apa pun yang dia katakan pada saat itu masih terbayang, bagaimana saya membelalakkan mata atas ide yang sedikit gila itu. Namun, sepanjang perjalanan pulang dari Sukabumi ke Jakarta, ternyata ide tersebut cukup mengiang-ngiang di telinga saya. Dan, ternyata semangat saya untuk berbagi pengalaman dengan wanita-wanita lain yang juga bekerja seperti saya memang besar.

Tanpa disadari, seakan semuanya bersambut, hadiah communicator dari suami saya ternyata sangat bermanfaat. Saya pakai setiap waktu tunggu saya untuk mencoba menuliskan poin-poin yang ingin saya tuliskan, baris demi baris, lembar demi lembar, akhirnya tertulis juga sampai puluhan halaman. Seakan tidak percaya, ketika saya mencoba menawarkan ide penulisan saya dalam sebuah buku, ternyata sangat antusias tanggapan orang-orang yang saya tawari, padahal semua itu masih dalam wacana.

Banyak yang tidak percaya dengan niat saya, karena ini benar-benar adalah dunia yang sangat jauh dari kebiasaan saya, itu adalah dunia menulis. Orang yang paling mencintai saya pun akhirnya ikut komentar, “Jangan bermimpilah, siapa sih lu? Kalaupun mau jadi penulis, mulailah dulu menulis di pojok-pojok koran kecil….

Ada lagi komentar, menulis buku sepertinya hanya meletakkan kartu nama, orang baru mau ambil. Jadi penulis tidak bisa kaya… Dan, masih banyak lagi komentar-komentar, yang oleh saya kemudian saya ramu menjadi tenaga dahsyat yang menghasilkan sebuah tekad, “Saya akan buktikan kalau saya tidak main-main!”

Ternyata, perjalan saya yang berliku perlahan mulai terbuka sudah. Banyak orang besar yang akhirnya dibukakan pintu hatinya untuk bergabung dalam gelombang pikiran saya, yaitu gelombang perubahan untuk anak bangsa. Bagaimana saya memulainya?

Saya punya dua teman kepala sekolah yang dengan ketulusan luar biasa akhirnya membukakan pintu jalan bagi perjuangan saya. Berkat pengalaman berbagi secara nyata, yaitu dengan program ngamen (diskusi dan seminar: red) di sekolah, akhirnya semakin memantapkan jalan saya, bahwa saya harus melanjutkan jalan yang sudah saya pilih dengan hati nurani.

Semua pihak tercengang melihat keberanian saya memutar haluan, dunia kepenulisan pun ikut terimbas karena ketersesatan saya. Namun, ada kebahagian lain yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata. Ternyata tulisan saya mengguncang dunia kepenulisan dengan lelucon, Wong seorang Melly Kiong yang tidak bisa menulis saja bisa jadi buku!? Kalau di dunia milis, saya selalu diketawai karena tulisan-tulisan saya yang tidak sesuai dengan tatanan EYD. Namun, saya hanya menghibur diri, “Memang saya harus berbagi kerjaan kok sama editor hahaha….

Dan, tanpa terasa dari proses ngamen sejauh ini, akhirnya saya merasa menemukan dunia yang selama ini belum pernah saya temukan. Saya merasa tersesat, tetapi saya berharap dan berdoa semoga saya tidak kembali ke dunia saya yang semula.

Hari ini saya mencoba mengungkapkan semua pengalaman saya, semoga apa yang saya lakukan, apa yang saya dapatkan bisa menjadi inspirasi bagi penulis-penulis lain di negeri ini. Dan, hanya satu kata kunci yang saya punya, menuliskan dengan jujur apa yang kita ketahui dan kita rasakan itu sangat baik untuk bisa di-share kepada orang lain.

Terima kasih banyak untuk orang-orang hebat yang telah dikirim Tuhan untuk memberikan support kepada saya, baik dengan maupun tanpa sengaja, serta teman-teman media yang telah berpartisipasi dalam pemberitaan yang tulus. Dan, terima kasih terutama untuk seluruh keluarga besar saya yang akhirnya harus bangga dengan perjuangan saya.

Akhir kata, saya ucapkan banyak terima kasih untuk Edy Zaqeus (editor buku saya) yang selalu dengan sabar memberikan masukan-masukan, bahkan telah menyebarkan kabar tersesatnya Melly Kiong di dunia kepenulisan. Salam Rumah Moral Peduli Anak Bangsa![mk]

* Melly Kiong adalah lahir tahun 1969 di Singkawang, Kalimantan Barat. Semula dia adalah tenaga pemasaran sebuah perusahaan kimia, yang menuliskan pengalamannya dalam mendidik anak sembari aktif sebagai wanita pekerja, dalam buku Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik? (Elex Media Komputindo, 2008). Kini, Melly aktif menjadi pembicara publik tentang parenting dan moralitas dalam sekolah dan rumah tangga. Untuk mendukung kiprahnya, Melly mendirikan sebuah lembaga bernama Rumah Moral. Melly dapat dihubungi melalui pos-el: melly_kiong[at]yahoo[dot]com, atau telepon 021-68016672.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Melly Kiong: Dengan Moral Kita Bisa Hidup Lebih Baik

melly-kiongOrang bijak mengatakan, pengalaman adalah guru yang terbaik. Tampaknya, itulah yang berhasil digambarkan dan ditularkan oleh Melly Kiong, penulis buku parenting berjudul Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik? (Elex Media Komputindo, 2008). Bukan psikolog, bukan sarjana pendidikan, bukan pula seorang trainer, namun itu tidak menghalangi Melly untuk berbagi pengalaman dalam memberikan pendidikan moral, budi pekerti, dan kedisiplinan kepada anak-anaknya.

Melalui buku yang sudah mengalami cetak ulang tadi, perempuan kelahiran Singkawang, 17 Juli 1969, yang bernama asli Kiong Mui Lie, itu membeberkan pengalamannya meresapkan kasih sayang sembari memupuk kedisiplinan anak sejak dini. Cara yang dia pakai pun terbilang sederhana, mudah, namun sangat kreatif. Semisal, Melly selalu menyelipkan catatan-catatan atau memo kecil di kotak pensil anak-anaknya, Julian Liem dan Matthew Liem. Isinya? Pujian, ungkapan kasih sayang, selain juga mengingatkan supaya si anak tidak lupa mengerjakan PR dan mengikuti pelajaran di kelas dengan saksama.

Tidak itu saja, melalui buku tersebut, Melly juga menegaskan bagaimana seorang ibu yang berkarier di kantor bisa menempatkan para pembantu atau pengasuh anak sebagai mitra strategis dalam mendidik anak. Jauh dari kebiasaan masyarakat kita umumnya, yang cenderung kurang memandang posisi mereka, istri Tatang Wijaya ini justru menegaskan supaya kita menjadikan para pembantu dan pengasuh anak itu sebagai “rekan kerja”.

Karena itu, “Mereka harus kita perlakukan dengan baik, kita bimbing, dan kita hargai martabatnya. Bila perlu diperlakukan seperti anggota keluarga sendiri. Perlakuan baik kita itu akan kembali kepada anak-anak yangkita percayakan kepada mereka selagi kita tidak di rumah,” ujar perempuan berputera dua yang sehari-hari menjadi tenaga marketing di sebuah perusahaan kimia itu.

Melly yang berdomisili di Jakarta Barat ini adalah tipe perempuan yang sanggup bekerja sekeras mungkin untuk menggapai cita-citanya. Ini dibuktikan dengan keberhasilannya menerbitkan buku parenting, walau ia sendiri mengaku bukan seorang penulis dan tidak bisa menulis. Perjalanan menerbitkan buku itu pun juga mengalami banyak batu sandungan, bahkan dari suaminya sendiri. Namun, segala hambatan itu tidak meredakan semangatnya, karena Melly bertekad membuktikan bahwa kemauan dan visinya sungguh berharga. Dan, Melly pun akhirnya berhasil membuktikannya.

Kepada Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com, Melly Kiong menuturkan visi dan misinya, pentingnya pendidikan moral diawali dari rumah, serta suka duka yang dialami ketika hendak menerbitkan buku pertamanya. Berikut adalah petikan wawancara yang berlangsung akhir 2008 lalu, saat Melly berkunjung ke Redaksi AndaLuarBiasa.com.

Bagaimana ceritanya sampai kepikiran bikin buku ini?

Awalnya, saya ini kan bekerja kantoran. Sementara bagi saya, keluarga saya itu harus saya utamakan. Makanya, setiap kali ketemu orang, saya pasti cerita tentang suami saya, anak saya.lalu, ada teman saya namanya Mario, dia sampai bilang begini, “Saya kalau lihat Bu Melly itu kayaknya kok enak banget. Kerja bagus, tapi anak kok juga lucu-lucu dan terdidik dengan baik. Kenapa Ibu tidak tulis buku aja?” Ah, gila lu, yang bener aja…. Akhirnya, ya benar juga. Kenapa enggak, ya?

Saat mulai menulis buku, suami tahu?

Suami saya tidak tahu pas saya mulai mengetik. Jadi saya dibelikan communicator, saya sambil nunggu orang, ngetik. Enggak bakalan bisa mengetik di rumah. Makanya, suamiku itu enggak tahu saya bikin buku hahaha… Ntar kalau dia sudah tidur, aku ketik-ketik di dalam, input ke dalam. Tahu-tahu, benar juga lho, jadi 49 halaman….

Lalu, bagaimana perjalanan naskah Anda?

Saya pas sharing di Radio Cosmo, saya jadi tahu Bu Clara (Clara Kriswanto, psikolog Jagadnita Consutling: red). Saya email, lama tidak ada respon. Sampai saya pikir, “Siapa, sih aku, enggak mungkin dikenal sama orang….” Saya pikir, enggak mungkinlah ke Gramedia, pupuslah harapan saya. Akhirnya, saya kenal Clara. Saya bilang, “Pokoknya (buku) ini bagus banget, deh! Saya yakin itu.” Saya punya kepedulian ini…ini… Dia kasih respon positif. Lalu, saya ketemu Mas Edy. Mas Edy minta …. (menyebut angka: red), kaget saya…. Semua orang marahin saya, lho! Sampai seorang teman bilang, “Gila, goblok kamu begini…begini….” Ya sudahlah. Saya enggak pernah sedih, karena saya punya niat.

Komentar suami Anda?

Nah, waktu saya tunjukkan draf MOU ke suami, dia bilang, “Pokoknya aku enggak mau ya, keluar duit!” Akhirnya, saya enggak ngomong ke dia. Dan, Mas Edy baik juga. “Ya, udah, Ibu bayar aku beberapa kali, deh….” Masih itu struknya saya simpan hahaha….

Sempat ada keraguan melangkah?

Yang aneh, saya sama sekali tidak ada keraguan. Karena, di mana pun saya cetak (buku), saya sudah punya market. Waktu saya berpikir seperti itu, 500 buku sudah ada di tangan saya. Pas suami saya bilang begitu tadi, saya takut. Tapi, saya sudah bayar dua kali, hampir yang ketiga. Saya hanya berharap, jangan sampai saya ada masalah gara-gara itu, kan? Lalu, entah pas Natal atau pas saya ulang tahun, saya bilang sama suami saya. “Boleh enggak aku minta sesuatu…?” Suamiku kaget, “Ada apa?” “Kita sudah sekian tahun menikah, aku enggak pernah minta apa-apa lho sama kamu. Aku minta maaf aja, aku sudah bayar Mas Edy itu dua kali. Karena aku dapat THR, aku lunasi itu.” Aduh, saat itu, suami saya diam saja, tidak mau ngomong sama saya. Saya bilang, “Selama ini aku tidak pernah ngeyel, tapi cuma kali ini doang. Ya, aku mohon maaf.” Saya ada rasa bersalah, tapi ada rasa plong setelah ngomong itu.

Proses selanjutnya?

Setelah itu, menunggu endorsement. Begitu saya dapat dari Kak Seto, wah… saya semangat sekali. Lalu, semua saya mintai. Akhirnya, saya jadi tambah semangat. Begitu mendapat banyak endorsement, suami pun mulai mencair. Dengan agak kesal, dia bilang, “Sini, satu kopi, aku mau kasih ke bosku.” Sorenya, dia sudah bawa tulisan ke saya, “Itu, istrinya bosku kasih satu (komentar).” Saya senang banget.

Setelah itu, naskah dimasukkan ke penerbit apa?

Waktu itu, Mas Edy rencana mau ke penerbit lain ya… Enggak ke Gramedia. Saya minta waktu satu minggu. Lalu, saya ketemu saudara, yang punya kenalan di Kompas, tapi bukan di Gramedia. Sabtu, saudara saya telepon, disambungkan dengan orang Kompas itu. Saya bilang, “Pokoknya saya punya buku sudah tidak perlu diedit lagi, karena sudah diedit. Dan, saya dalam waktu singkat sudah dipanggil untuk seminar.” Saya juga katakan, 500 buku pasti sudah terjual, dipesan. Dan, saya yakin banget karena saya orang marketing.

Selanjutnya?

Akhirnya, saya ditelepon orang Gramedia (maksudnya penerbit Elex Media dari Kompas-Gramedia Group; red). Mungkin sudah jalannya kali ya. Selasa kami ketemu Lia jam 9. Saya presentasi tentang apa saja yang akan saya lakukan. Hari itu juga, dia bilang naskah buku saya diterima. Padahal, dia sama sekali tidak membaca.

Pandangan penerbit atas gagasan-gagasan Anda?

Elex Media merasa, kehadiran saya memberikan nuansa yang agak beda. Sampai dia bilang, saya itu benar-benar marketing sekali!

Kapan suami semakin mendukung kiprah Anda?

Mulai kelihatan saat saya kasih informasi, bahwa buku saya sudah diterima di Elex Media. Dia kan pernah cerita, “Wong direkturku saja mau terbitin buku enggak jadi-jadi!” Makanya, begitu tahu buku saya diterima, itu ada suatu nilai kebanggaan buat dia. Waktu itu, buku belum terbit, Elex sudah mulai sounding, di sebuah radio di Surabaya. Anak buah suami saya, yang dengerin siaran itu, cerita, katanya ada sebuah buku yang akan beredar dan sedang ditunggu-tunggu, berjudul “Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik?” Akhirnya, suami yang waktu itu di Surabaya telepon saya, “Selamat, lho sudah diumumkan di radio.”

Begitu melihat buku secara fisik?

Tahulah, seorang laki-laki biasanya kan sulit mengatakan apa yang dirasakan sebenarnya. Tapi, saya bisa tahu betapa dia bangga sekali dengan saya. Setiap kali saya membawakan seminar, dia selalu SMS-in ke saya, “Sukses, ya!” Nah, itu suatu spirit ya dari suami saya. Saya bilang, keberhasilan saya dalam menyusun buku ini dan dalam mendidik anak, itu bukan keberhasilan saya sendiri. Sebab, suami sayalah yang menjadi juri dalam menetapkan pola mendidik anak. Kalau saya ada yang kurang, dia bilang, “Oke, menurut aku begini….” Jadi, bukan kehebatan saya. Di balik itu adalah kehebatan seorang suami.

Arti dukungan suami atas apa yang Anda lakukan saat ini, berbagi melalui seminar-seminar?

Sekarang, apa yang saya senang lakukan, dia ikut senang. Kalau suami secara direct mau share ke saya sih jarang ya. Tapi, kalau setiap kali ada pemberitaan di koran, dia pasti bilang, “Ini dikliping dong… dikliping….” Saya membaca itu, dia merasa bangga, ya. Dan, anak-anak saya juga merasa bangga.

Waktu Anda menjual langsung buku itu, kebanyakan pembelinya siapa?

Kalau untuk di pabrik, banyak sekali bapak-bapak yang beli. Saya sering banget ketemu, contohnya seorang satpam, saya tanya, “Pak, bagaimana keadaan Ibu? Kerja enggak?” Kita tahu dong, satpam penghasilannya berapa. “Aduh, Ibu ngurusin anak di rumah, deh!” Lalu saya bilang, “Pernahkah Bapak berpikir, kalau sesuatu terjadi pada Bapak, dengan seorang istri yang tidak siap, apa yang akan terjadi dengan rumah tangga? Anak harus makan, kan? Keluarga harus tetap berjalan, kan?” Itu yang akhirnya membuat mereka mengatakan, “Iya, ya Bu, kenapa saya tidak berpikir seperti itu?” Lalu, suami-suami yang tidak ingin istrinya bekerja itu menganggap kalau istrinya kerja tidak bisa mendidik anak. Saya jelaskan, saya melakukannya seperti di buku ini. Saya bukan teori, tapi menjalankan. Sampai akhirnya satpam pun beli buku saya.

Jago juga Anda “merayu” calon pembaca hahaha?

Satpamnya bilang, “Bu, saya tidak punya uang…?” “Oke, Bapak punya uang berapa?” Dia jawab, “Saya cuman punya dua puluh ribu…” “Oke, dua puluh ribu saja enggak apa-apa. Tapi ingat, Bapak harus lebih berpikir bagaimana membangun masa depan anak supaya lebih baik.” Sebab, kalau bicara masa depan, kita harus bicara bagaimana menciptakan anak-anak yang berkualitas. Saya banyak melihat, di kalangan “susah” pun mentalitas juang mereka sudah tidak ada.

Kalau pembeli buku dari relasi Anda?

Kalau relasi hampir semua membeli. Mau laki-laki mau perempuan, semua beli. Sampai orang yang tadinya belum berkeluarga pun, berkomentar, “Aduh, setelah saya baca buku Bu Melly saya langsung kepingin cepat-cepat nikah…!” Jadi, menurut saya buku saya ini soal mindset. Mau miskin dia perlu, mau kaya dia perlu.

Anda juga menindaklanjuti buku itu dengan seminar, kan?

Ya. Ketika saya datang memberikan seminar kepada orang-orang miskin, sangat hebat lho, Pak sambutannya. Tiga puluh orang yang hadir, sepuluh buku saya terjual di tempat orang-orang yang tidak mampu. Lalu, di daerah Curug (Tangerang) yang dihadiri hampir 200 orang, yang kebanyakan orangnya penganggur, saya bisa jual 24 buku. Kalau ketemu bos-bos, mereka langsung beli sepuluh buku untuk dibagi-bagikan ke orang lain.

Sebenarnya, apa sumber ketertarikan para pembeli langsung itu?

Satu, saya yakinkan orang bahwa buku saya beda dengan buku orang lain. Buku saya tidak menyampaikan bagaimananya secara teori, tapi secara fakta. Saya berharap, jangan sampai orang lain mengalami pengalaman yang pernah saya lewati. Dengan seorang Ibu yang tidak siap menjadi seorang single parent. Takut menjadi seorang ibu yang tidak siap secara mental. Tapi, ada juga lho yang ngomong, “Aduh, saya sih sudah siapkan duit segunung!” Tapi, yang namanya duit segunung kalau dipacul habis juga, kan? Jadi, menurut saya, mentality itu sangat penting.

Anda mendirikan Rumah Moral, apa visi dan misi lembaga itu?

Itu semacam gambaran atau iming-iming buat saya. Saya itu ingin membuat sesuatu, supaya anak-anak itu di sekolah pun juga diajari tentang moral. Karena, bagi saya moral itu penting banget. Saya mengajarkan sopan santun kepada anak-anak saya, misalnya melalui kaca pembesar. Itu sebenarnya tentang pesan moral, tentang tanggung jawab, tentang disiplin. Saya merasa, di rumahlah saya harus mulai untuk memberikan sebuah pesan moral itu. Jika memungkinkan nanti, saya akan membangun Rumah Moral itu sebagai suatu proyek percontohan. Sebab, dengan moral kita bisa hidup lebih baik.

Rumah Moral ini secara vironer sangat bagus. Kalau benar-benar dikembangkan, mungkin semangatnya bisa ditularkan ke banyak orang. Sebab, segala perbaikan kondisi bangsa kita bisa diawali dari rumah moral ini…?

Mulai, Pak. Ya, makanya sekarang kalau ke mana saja saya selalu membawa “Salam Peduli Anak Bangsa”. Setiap kali ada yang minta tanda tangan (di buku), saya selalu cantumkan; Selamat bergabung, salam peduli anak bangsa, yang dimulai dari rumah. Kenapa saya bilang, saya ingin jadi sebatang lilin? Saya bilang, ketika saya menjadi sebatang lilin dan saya punya api, ketika api saya menyalakan seribu lilin lainnya, toh saya enggak akan mati, kan? Itu arti yang ingin saya sampaikan kepada orang lain. Makanya, saya menghimbau semua orangtua, mulailah berperan dari rumah sendiri, masing-masing satu orang menyalakan satu lilin saja dari rumah, berarti ke depannya kita masih punya harapan untuk melihat terang, kan? Itu kira-kira misi saya.

melly-kiong-familyBisa lebih dijelaskan lagi misi Anda?

Saya punya misi yang luhur, semua orangtua itu bisa hadir dalam seminar saya dan saya masuk dari sekolah. Saya berpikir dari pengalaman sendiri, ketika mau tahu soal parenting saya harus keluar uang Rp 600 ribu. Berarti, cuma bagi orang tertentu saja yang bisa belajar, kan? Bagi orang yang tidak punya, kan dia tidak bisa belajar? Makanya, saya ngamen, saya ketuk sekolah-sekolah satu per satu. Saya juga bilang, kalau pembaca buku saya memandang buku itu baik, saya minta supaya mereka kasih pinjam ke sepuluh tetangga atau orang di sekitarnya. Itu misi saya.

Bagaimana testimoni pembaca buku Anda?

Setiap kali habis seminar, saya selalu minta feedback. Semua saya filing, termasuk semua SMS yang masuk. Termasuk Mbak Eny Kusuma (motivator, penulis buku Anda Luar Biasa!!!: red), yang menulis ke saya, “You’re my inspiration. Ini buku pegangan saya dalam mendidik anak saya.” Banyak sekali, saya kliping semua. Banyak juga testimoni yang mengharukan. Kalau saya talk show di radio, rata-rata penyiarnya yang menangis. Sampai penyiar radio Female itu, kan cowok itu, nangis juga dan bilang, “Bagaimana ya seandainya aku itu punya ibu seperti Ibu Melly….” Ada juga salah satu pembaca yang berkomentar, “Melly, kamu punya buku harusnya sudah masuk arround Indonesia dan pasti bisa diterima. Karena apa? Kita semua problemnya sama, termasuk yang di Malaysia, Hongkong, Singapura, Jepang. Asia semua… mereka semua kesulitan dalam mendidik anak, karena orangtua tidak ada waktu.”

Sejauh mana Anda akan melangkah dengan buku ini?

Saya tidak akan main-main dengan buku saya. Belum tentu lho buku motivator terkenal misalnya, bisa diterima seluruh lapisan masyarakat. Belum tentu buku, yang menurut kita begitu bagus, bisa diterima oleh seluruh masyarakat. Tapi, saya yakin sekali dengan buku saya. Sampai ada testimoni SMS, “Bu, buku itu bisa saya praktikkan 10 atau 15 tahun lagi pada saat saya sudah berkeluarga.” Bagi saya, menjual satu juta kopi itu bukan sesuatu yang mustahil.

Katanya sampai pernah ada yang menanyakan latar belakang pendidikan Anda?

Saya sih apa adanya. Ketika talk show ada yang tanya, “Ibu itu pendidikannya apa, sih?” “Mau tahu pendidikan saya, saya itu S-3!” “Woo… hebat amat, masih muda sudah S-3!” Dia enggak tahu, maksud saya S-3 itu SD, SMP, SMA hahaha…. Seorang psikolog pun bernah berkomentar, bahwa dia tidak menyangka saya sampai bisa berpikir seperti itu.

Anda juga ingin berbagi mengenai pengalaman menulis dan menerbitkan buku ini?

Yang saya ingin sampaikan, kalau suatu saat kita bisa membuat seminar, bahwa sebaiknya kita itu menulis sesuatu secara jujur, seperti yang ada dalam hati kita. Kalau kita yakin apa yang kita tuliskan berguna buat orang lain, kita enggak perlu khawatir.

Kabarnya Anda hendak mengusulkan buku ini supaya mendapat penghargaan MURI?

Iya, saya sedang bicara dengan Jaya Suprana. Ia menjelaskan ada beberapa kategori untuk buku. Saya bilang, “Menurut saya, buku saya adalah buku yang harus dibaca orangtua yang ingin menjadi orangtua.” (Pada Januari 2009, Musium Rekor Dunia Indonesia menganugerahi Melly Kiong penghargaan atas rekor: “Ibu Rumah Tangga Sektor Publik penulis buku Pedoman Parenting untuk para Ibu Rumah Tangga Sektor Publik”: red)[ez]

Foto-foto: dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.3/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 2 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox