Menjadi Manusia Pemaksa

Maria SaumiOleh: Maria Saumi

Saya teringat kembali, beberapa tahun lalu ketika ada acara kumpul-kumpul bersama teman-temanuntuk saling bersilaturahim. Waktu itu, saya dan kedua teman saya, serius sekali dalam suatu diskusi. Kami memang terbiasa berdiskusi apa saja, dari sekadar pria, fashion, life-style yang lagi happening, pekerjaan, hingga ranah politik pun jadi sasaran diskusi kami.

Waktu itu sekitar tahun 2004, tahun diadakannya pemilu. Mungkin, setiap orang heboh dengan pesta demokrasi tahun itu. Banyak partai politik dan capres yang dijagokan untuk dipilih. Dari sekian banyak partai dan para capres, kebetulan saya menyukai dan memilih sosok tertentu sebagai capres jagoan saya. Lalu, saya ikut mengutarakan calon pilihan saya tersebut sebagai bahan diskusi dengan kedua teman saya tadi. Tetapi, apa yang terjadi?

Saya diserang habis-habisan, dicela-cela, dan dipertanyakan oleh kedua teman saya ini. Walaupun saya memberikan alasan-alasan kenapa saya menjatuhkan pilihan kepada si jagoan ini, mereka tetap tidak terima. Diskusi menjadi hangat, bahkan menggulir jadi panas karena saya melawan mereka berdua, yang kebetulan memilih dan menetapkan jagoan yang sama, tetapi beda dengan jagoan saya. Saya merasa sendirian dan merasa dipojokkan.

Betapa kami berdebat sengit waktu itu. Saya bersikukuh dalam mempertahankan pilihan saya. Selain menyerang, menjatuhkan, dan mencela-cela pilihan saya, tentu saja saya pun ikut mereka cela. Kami bertiga merasa benar dengan pilihan masing-masing. Saya seperti menghadapi musuh, begitu juga kedua teman saya dalam menghadapi saya. Realitasnya, kami ini berteman. Lagi pula, kami sebenarnya kan hanya berdiskusi, namun bergulir menjadi debat-kusir hahaha. Kalau dipikir-pikir, sekarang saya suka tersenyum sendiri mengingat kejadian itu. Sebab, jagoan sayalah yang akhirnya terpilih!

Baru-baru ini, saya pun mengalami kejadian serupa itu. Suatu hari, saya dan kedua teman yang berbeda, sedang lunch di kantin. Kemudian, telepon genggam salah satu teman saya berbunyi, dan bunyi ringtone-nya sangat menarik perhatian bagi orang-orang yang mendengarnya. Entah itu orang-orang yang mendengarnya jadi tertarik, tersenyum merasa lucu, atau malah merasa terganggu. Kali ini, saya dan teman saya lainnya yang tidak setuju dengan bunyi handphone-nya, mengutarakan ketidaksetujuan atas bunyi “bantingan piring pecah-belah” tersebut.

Menurut saya dan teman saya yang pro saya, mungkin pada awal-awalnya bunyi tersebut sangat menggemaskan. Tetapi, setelah puluhan kali terdengar rasanya menjadi “memuakkan”. Alasan tersebutdengan “berat hati”—akhirnya kami utarakan kepada si teman ini. Kami menyarankan supaya dia menggantinya dengan nada dering lainnya, yang menurut lebih familiar di “telinga” kami. Tetapi, ternyata teman saya ini memang menyukai dering tersebut. Dia pun bersikeras untuk tetap dengan pilihan ringtone bunyi piring pecah. Apakah salah? Salahnya di mana?” kata teman saya, rada sewot hahaha…

Ini contoh cerita yang lain, yaitu antara saya dan kekasih saya. Mungkin karena saking sayangnya, kadang kala dan tanpa disadari, sepertinya kekasih saya ini sering membuat saya secara tidak sadar menjadi orang yang “pemaksa”. Walaupun, dalam hal ini saya tidak menyalahkan atau merasa dirugikan atas kondisi ini dalam hubungan kami berdua. Hampir setiap kali bepergian untuk refreshing atau wisata kuliner misalnya, sering kali saya seperti diharuskan untuk berpikir, “Mau ke mana dan makan apa?”

Pernah suatu kali, seperti biasa ritual pertanyaan pergi ke mana dan mau makan apa diutarakan. Saya menyebutkan suatu tempat dan makanan yang saya inginkan jadi sasaran tujuan. Ternyata, setelah sampai dan menikmati hidangan, kami berdua malah kehilangan selera makan. Promosi dari wisata kuliner ternyata belum tentu selalu benar bagi lidah kami berdua. Kekasih saya akhirnya menyalahkan saya dalam pemilihan kali itu. Saya merasa terpojok, dan merasa bukan salah saya tentunya. Mengapa pada awalnya dia menyetujui, namun akhirnya tidak setuju? Kenapa dia tidak sumbang idenya sejak awal?

Saya menyimpulkan masalah ini berdasarkan pola-pola kejadian yang sering kami alami berdua, dan atas pilihan-pilihan saya. Hingga kejadian suatu malam di sebuah mal, tempat favorit hang out kami yang terletak di daerah Jakarta Selatan. Saya mencoba mengambil pelajaran yang sudah-sudah. Singkat cerita, tadinya kami berdua tidak berniat membeli jam tangan. Dari awalnya cuma melihat-lihat, hingga akhirnya memutuskan membeli. Dalam hal ini, kami berdua kurang lebih sama borosnya hahaha. Saya sudah menentukan pilihan saya. Jam bertali kulit putih dengan hiasan pinggir batu kristal berkilau indah, yang menyedot perhatian saya dibanding yang lainnya.

Sementara, kekasih saya masih berkutat dengan sebuah jam tangan untuk pria, new arrival. Bentuknya sporty, warna dominan hitam dengan aksen warna merah atau biru pada angka di body mesinnya. Aksen warna merah dan biru itu telah mengombang-ambingkan pilihannya.

“Mar, bagus yang mana?” tanyanya.

“Kalau menurutku yang merah. Kesan sporty-nya lebih kelihatan, kontras dengan warna dominan hitamnya,” jawab saya sambil berargumentasi. Tapi itu sih, tergantung kamu, menurut kamu enaknya yang mana, di coba saja?” Saya balikkan lagi pertanyaan kepada dia.

Tak memakan waktu lama, lalu kekasih saya ini setuju dengan pilihan saya tersebut. Jam yang beraksen merah itu. Tentu saja saya belajar dari pengalaman sebelumnya, kan? Biasanya, saya sering memilihkan, dengan secara tidak sadar, terasa memaksakan kepada dia sesuatu yang menurut saya bagus buat dia. Saat itu, saya tidak memilihkan untuk dia sebagaimana biasanya. Tetapi, saya sekadar membantu dia menentukan pilihannya. Memperkuat atas pilihannya. Sederhana, bukan?

Kesimpulan saya, dari cerita-cerita yang saya alami sendiri itu, bahwa tanpa disadari kita, saya, dan mungkin juga Anda telah menjadi orang-orang pemaksa dalam kehidupan ini. Sering kali, secara tidak sadar kita memaksakan pilihan dan kemauan kita kepada orang lain. Akibat, tanpa sengaja membuat orang lain jadi menderita atau tersakiti perasaannya. Tersakiti perasaannya karena telah “berbeda” dari kita.

Mengapa kita menjadi orang pemaksa? Orang yang menganggap pilihan atau kemauan kita adalah benar dan orang lain salah? Malah sering kaliakibat pemaksaan itukita telah menyakiti perasaan orang lain. Orang lain tidak merasa dihargai atas pilihan-pilihannya. Kita sering menganggap pendapat kita yang lebih benar dari pendapat orang lain. Dan kadangkala, kita juga merasa menjadi “victim” atau “korban” dari sebuah peristiwa pemaksaan pilihan, kehendak, atau kemauan. Sedangkan pada saat yang lain, bisa jadi kita malah yang “menindas” orang lain sehingga orang lain menjadi korban dari sifat kita sebagai si pemaksa.

Malahan, kalau kita berbicara lebih serius lagi, secara hukum dan dalam kehidupan bernegara, sebenarnya perbedaan pendapat itu dijamin oleh UUD 1945 Pasal 28. Dan, sering kali kita juga diingatkan, bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Sangat manusiawi dan alami sifatnya. Tetapi, bukankah perbedaan-perbedaan itu malah semakin menyatukan kita semua sebagai manusia, bahwa Tuhan itu Mahakaya? Kaya akan banyaknya variasi penciptaan-Nya, yang berpengaruh juga ke hasil proses berpikir manusia? Sehingga, menghasilkan banyak “perbedaan” yang “dilahirkan” dari proses hasil berpikir setiap insan ciptaan-Nya itu? Sampai sejauh ini, sadarkah kita akan hal tersebut?[msa]

* Maria Saumi lahir di Jakarta, 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Ia adalah lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000. Maria adalah praktisi bidang investasi, dengan spesialisasi futures trading investment, dan saat ini bekerja di PT Sentratama Investor Berjangka, Sudirman, Jakarta. Ia juga alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari, 2009 dan dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at]yahoo[dot]com atau nomor telepon: 021-99111527.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Antara Saya, New Kids On The Block, dan Bob Sadino

maria saumiOleh: Maria Saumi*

Saya tentunya tidak akan pernah mengetahui rasa dari sebuah jeruk, apabila saya sendiri belum pernah mencicipinya. Rasa buah jeruk ada yang manis, asam, pahit, atau kombinasi dari unsur-unsur rasa tersebut. Begitu pula seperti yang saya alami sendiri, andai saja saya boleh menganalogikan antara buah jeruk dengan dunia kepenulisan.

Dalam bidang kepenulisan atau tulis-menulis, tentu saja saya adalah new comer, pendatang baru. Seperti nama sebuah grup musik, New Kids On The Block. Bedanya adalah, grup musik ini pada tahun 80—90-an langsung tenar, sangat digemari dan disukai, bahkan digila-gilai oleh remaja pada waktu itu. Kasetnya terjual hingga jutaan kopi hingga seantero dunia sejak awal-awal permunculannya (waktu itu CD atau MP3 belum ada). Sedangkan saya, tentu saja belum atau jauh dari itu. Beda nasib hahaha.Tapi, mudah-mudahan saya sedang menuju ke arah sana. Amin.

Disebut pendatang baru, karena tulisan-tulisan sayabaik dalam kuantitas dan kualitasmasih sangat jauh dibandingkan senior-senior saya di bidang kepenulisan. Sebut saja misalnya Edy Zaqeus, Andrias Harefa, Her Suharyanto, dan lain sebagainya. Semuanya pakar-pakar best-seller dalam bidangnya. Saya benar-benar harus “menguras” dalam-dalam ilmu mereka di bidang ini, begitu tekad saya dalam hati. Coba, siapa yang tidak ingin seperti mereka?

Sebenarnya, saya adalah penulis “lama”. Sudah lama menulis, walaupun dalam sebatas buku harian saya sendiri. Satu-satunya tulisan saya yang dilempar ke publik (sebelum di website ini) hanyalah tulisan skripsi saya untuk meraih gelar sarjana strata satu. Itu juga hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja, kalangan akademik. Kalau dipikir sekarang, saya beruntung pernah membuat skripsi. Artinya, setidaknya saya pernah menulis sesuatu yang mempunyai topik, ada pembahasan, ada kesimpulan, dan ada pengakuan kelolosan dari tulisan saya tersebut. Gelar sarjana yang sudah saya raih adalah buktinya. Setidaknya, hal ini cukup membesarkan hati saya.

Saya juga mengumpamakan, terjunnya saya ke bidang tulis-menulis ini seperti seorang anak kecil, yang dengan susah payah mencoba menegakkan tubuhnya di atas kaki kecilnya, dan dengan perasaan takut terjatuh. Tetapi, dia terus mencoba dan mencoba, sampai akhirnya mulai bisa berjalan, walaupun hanya satu-dua langkah kecil saja. “Perjalanan menempuh 1.000 Li, awalnya dilakukan dengan satu langkah kaki saja,begitu kata-kata bijak dari negeri China.

Pelatihan kepenulisan yang saya ikuti secara tidak sengajadan saya memang tidak memiliki tujuan tertentu pada awalnya—ternyata begitu membekas dalam benak saya. Bahkan, boleh dikata saya mengikutinya, maaf, sekadar iseng belaka untuk mengisi waktu senggang pada saat itu. Tambahlah ilmu baru, pikir saya waktu itu. Jujur, saya malah merasakan “tergagap-gagap” dengan para peserta lainnya waktu pelatihan itu. Saya merasakan sedikit kepanikan karena saya lihat semua peserta setidaknya memiliki tujuan khusus untuk pelatihan tersebut. Entah itu utusan dari kantor mereka, entah itu untuk mengembangkan lagi kemampuan tulis-menulis yang sudah dirambahi sebelumnya, dan bahkan ada yang pernah menerbitkan tulisannya sendiri.

Wah, sangat kontradiktif dengan situasi saya. Akibatnya, saya pun merasa menjadi “peserta yang aneh”, walaupun mungkin saya terlihat biasa seperti peserta lainnya. Saya panik karena tidak memiliki tujuan. Tetapi akhirnya, perlahan-lahan saya mencoba mengikuti anjuran para mentor pelatihan tersebut, yaitu tulis, tulis, dan tulis. Apa pun tulisannya! Ternyata, berawal dari ikut pelatihan tersebut, pelan-pelan saya menyukai dunia yang satu ini.

Baru-baru ini, saya baca buku karya Edy Zaqeus berjudul Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!. Di dalam buku itu saya dapatkan gaya berpikir yangnyelenehdari si pengusaha terkenal itu. Salah satunya adalah pernyataan Bob bahwa ia berbisnis tanpa tujuan, rencana, bahkan harapan. Bob sendiri juga mengamini, bahwa tidak ada satu buku atau teori pun, tidak juga ilmu manajemen, yang mau membenarkan kata-katanya itu.

Kontroversi itu memancing perdebatan antara Bob Sadino ini dengan seorang perempuan pengusaha muda yang sukses, Naomi Susan. Pikiran Bob Sadino, yang akrab dipanggil Om Bob ini dikuliti dan dibantah habis-habisan oleh Naomi Susan. Om Bob diibaratkan seperti naik taksi dan mana mungkin tidak punya rencana atau tujuan mau ke mana, karena kalau begitu bisa dipastikan ia akan berputar-putar saja.

Tetapi ternyata, Om Bob berkilah bahwa memang benar ia naik taksi dan tidak memiliki rencana, tidak memiliki tujuan, tetapi itu karenakan ia tidak sendirian di dalam taksi tersebut. Ada anak buahnya yang duduk disampingnya, yang bertugas memikirkan ke mana arah dan tujuannya. Saat membaca bagian itu, saya tersenyum karena dalih yang diutarakannya itu. “Nyeleneh yang cerdas!” itu menurut saya.

Lalu, kaitannya di mana? Bob Sadino terkenal sebagai pengusaha sukses dan sangat terkenal. Pikiran-pikiran enterpreunership-nya sangat kuat dan kokoh sehingga ia memiliki Kemchicks Group, punya rumah besar di kawasan elit, dan punya dua mobil Jaguar yang nongkrong di garasi rumahnya. Semua itu, pada awalnya dimulai dengan hanya menjual telur ayam dari pintu ke pintu. Bayangkan, mulainya dari pintu ke pintu!!! Dan, saat itu ia benar-benar hanya melakukan jualan telur itu. Om Bob hanya melangkah dengan step-step kecil saja. Ia mengakui, pada saat itu memang tidak memiliki tujuan memiliki usaha besar yang akan bisa bertahan hingga 40 tahun seperti sekarang ini.

Tentu saja bila dibandingkan Om Bob, saya tidak ada apa-apanya. Lagi pula, Om Bob juga tidak mengenal saya dalam realitasnya. Hubungan saya dengan Om Bob adalah, dan lagi-lagi, saya menganggap ada pemikiran Om Bob yang menurut saya pribadi, saya juga mengalaminya. Ternyata, di antara “jurang pemisah” yang sangat teramat dalam antara Om Bob dengan saya itu, ada juga sedikit persamaannya, walaupun cuma setitik. Yaitu, saya tidak “merasa” memiliki tujuan pada awal-awal langkah saya. Berangkat dari hal ini, saya pun mulai membentuk suatu kekaguman kepadanya. Nge-fans, istilah entengnya.

Saya juga mencoba ikut dalam perumpamaan taksi tersebut. Saya mungkin memang naik taksi, dengan supir taksi, kemudian entah bagaimana saya menemukan sesuatu yang “menarik” bagi saya. Saya merasa, saya ditarik oleh “Alam Semesta”, atau apa pun itu istilahnya, untuk menuju ke ARAH itu, ke arah di mana saya merasa tertarik karenanya. Jadi, secara tidak sadar, saya “diarahkan”. Perasaan saya seperti itu. Jujur saja, mungkin saya kurang “canggih” dalam mendeskripsikan hal ini kepada Anda. Tapi, kira-kira ya begitulah adanya.

Teringat waktu pertama kali bekerja. Setelah lulus kuliah, saya langsung melamar kerja. Kemudian, saya diterima di dunia kerja yang bidangnya sangat jauh dari disiplin ilmu yang saya punya. Entah kenapa, sampai saat ini saya tetap bergelut di bidang pekerjaan saya sekarang ini, yaitu futures trading investment. Pada awalnya, bahkan mungkin hingga sekarang, banyak pula yang under estimate tentang bisnis ini. Baik dari segi perusahaan, bisnisnya itu sendiri, sampai pada kondisi kesejahteraan pelaku-pelaku di bisnis tersebut. Kadang, hal-hal “miring” seperti itu juga sempat membuat saya ragukan pada awalnya. Tetapi seingat saya, memang saya tidak menetapkan tujuan untuk bekerja di bidang ini. Waktu terus bergulir dan bergulir, hingga akhirnya mendudukkan saya pada ini, saat ini.

Tetapi ternyata, baru-baru ini saya tersadar, saya pernah ingat semasa saya di SMA, mungkin seperti flashback di film-film. Saya pernah membaca koran yang memuat berita tentang seorang wanita yang berprofesi sebagai broker saham. Wanita itu diceritakan berhasil menjadi sukses dan kaya. Wah, hebat sekali, canggih sekali,” pikir saya waktu itu. Di mana dia sekolahnya, ya?” tanya saya dalam hati, polos. Dan memang, hanya sampai taraf itulah saya berpikir dan berimajinasi tentang dia, dalam wawasan seorang anak SMA.

Dan memang jujur saja, bagi saya sukses dan kaya adalah hal yang sangat menarik. Tentu, ini juga menarik bagi Anda, bukan? Saya tidak mengagungkan uang, tetapi saya pun sangat setuju dengan ungkapan Robert T. Kyosaki, bahwa menyenangi uang bukanlah sesuatu hal yang jahat. Menurut saya, ungkapan tersebut sangat jujur, apa adanya, manusiawi. Sedikit banyak ungkapan Kiyosaki itu pulalah yang membuat saya mencintai bukunya, sejak pandangan pertama. Bagi saya pribadi, judul-judul bukunya juga pada dasarnya sangat eye-catching, jujur, dan menarik.

Kesimpulan saya, memang kita kadang tidak memiliki tujuan pada awal-awal kita melangkah. Tetapi, mungkin langkah-langkah tersebut menjadikan kita merasakannya seperti “disetir”, atau secara tidak sadar kita “diarahkan” oleh mimpi-mimpi kita. Lalu entah bagaimana prosesnya, mimpi-mimpi kita itu akhirnya secara perlahan-lahan menjelma menjadi kenyataan. Inikah yang menyebabkan asal usul dari pemeo kebanyakan orang, yaitu “mimpi yang menjadi kenyataan”?[msa]

* Maria Saumi lahir di Jakarta, 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Ia adalah lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000. Maria adalah praktisi bidang investasi, dengan spesialisasi futures trading investment, dan saat ini bekerja di PT Sentratama Investor Berjangka, Sudirman, Jakarta. Ia juga alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari, 2009 dan dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at]yahoo[dot]com atau nomor telepon: 021-99111527 dan handphone: 087885299563.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Antara Excuse dan Berpikir Besar

msaOleh: Maria Saumi*

Sebagai seorang marketing manager yang dibantu asisten penjualan, salah satu tugas saya adalah memberikan motivasi. Motivasi saya berikan kepada setiap account executive yang berada dalam tim saya. Bagi saya, tugas memberikan motivasi itu sangatlah berat. Tugas tersebut “memaksa” saya untuk terlihat selalu “stabil” dan “tegar”. Padahal, realitasnya saya pun mengalami up and down. Apalagi saya adalah seorang wanita.

Maksudnya? Setiap wanita, tiap-tiap bulannya secara kodrati pasti mengalami kondisi yang tidak stabil selama beberapa waktu lamanya. Periode datang bulan adalah salah satu contohnya. Sang pemicu unstable condition adalah siklus hormonal dalam tubuh wanita. Maaf, ini bukan sebagai bahan pemakluman wanita terhadap pria. Dan, hal tersebut juga bukan ditujukan untuk melemahkan atau merendahkan posisi wanita di mata pria.

Tetapi, dalam “kaca mata marketing” saya, sesungguhnya kondisi tersebut malah merupakan suatu peluang (opportunity) bagi pria. Mengapa? Karena, dari kondisi inilah pria menjadi makhluk yang bermanfaat bagi pasangannya. Begitu, kan? Yaitu dengan mencurahkan kasih dan sayang kepada sang wanita, makhluk pasangan pria, yang sedang dirundung resah dan gelisah akibat hormon alamiahnya. Sayangnya, sedikit sekali pria yang mampu melihat ini sebagai suatu peluang.

Intinya, kadang kala saya mengalami kesulitan dalam memotivasi orang lain. Bagaimana dapat memotivasi orang lain, sedangkan saya sendiri kadang-kadang juga mengalami lack of motivation? Singkatnya, tidak bergairah!!!

Balik lagi ke motivasi sebelumnya. Bahan dasar motivasi dapat saya berikan berdasarkan pengalaman pribadi, pengalaman teman-teman seprofesi atau di luar profesi, talkshow TV, dari radio, dan lain sebagainya. Bila berdasarkan cerita atau pengalaman orang-orang di luar diri saya, memang saya terkesan. Tetapi, cerita seperti itu kurang menyentuh hati saya secara “dalam”. Namun, apabila cerita atau pengalaman itu berasal dari orang terdekat, teman, atau setidaknya dari orang yang betul-betul kita kenal, lain lagi efeknya.

Sering kali, bila diceritakan pengalaman orang yang “di luar” lingkaran sendiri, kita akan memberikan excuse kepada diri kita sendiri. Seperti ini contohnya, “Ah, pantas saja dia berhasil… Koneksi keluarganya kan kuat!?” Atau, bisa pula seperti ini: “Ah, kejadian itu jauhlah, enggak mungkin menimpa diri kita atau kelompok kita!” Dan, masih ada seribu alasan lainnya.

Ini satu cerita tentang teman saya. Barangkali karena saking terkesannya, cerita ini sering saya dengungkan kepada tim saya untuk memotivasi mereka. Teman saya ini, seorang wanita juga, sebut saja namanya Alexandra (maaf, kalau Mawar atau Melati, biasanya itu nama korban perkosaan, kan?). Dia bekerja di perusahaan yang, walaupun agak berbeda, tetapi bidangnya hampir serupa dengan perusahaan tempat saya bekerja, yaitu di bidang marketing dan bertugas menjaring nasabah.

Ceritanya, waktu itu adalah tahun-tahun pertama saya bekerja. Setelah lulus kuliah, melamar kerja, saya menjadi new comer di dunia kerja. Tidak kurang dari dua tahun, saya bertemu Alexandra. Dia sudah berpenampilan jauh lebih cantik, selain memang pada dasarnya dia sudah cantik. Dia juga sudah berpenampilan bak esmud alias eksekutif muda. Singkatnya, tampilan orang-orang sukses—sepengetahuan saya—ya seperti itu. Memiliki uang banyak, tampilan luar atau pakaiannya dilengkapi dengan high fashion style, sudah mempunyai sopir pribadi yang menemani ke mana pun dia pergi, dan dengan sedan versi terbaru dari merek terkenal tentunya.

Pertemuan kami waktu itu, ternyata menyisakan “hati yang sesak” buat saya. Saya tidak mengerti, bagaimana dalam kurun waktu kurang dua tahun saja, Alexandra sudah sangat “SUKSES” sekali…. Setidaknya, itu sukses di mata saya (yang dalam kasus ini salah satu parameter suksesnya adalah materi). Alexandra punya banyak nasabah yang investasi atau depositnya sampai bermiliar-miliar. Ingat, bukan sekadar deposito/tabungannya, tetapi deposit investasinya, lho! Sebab, ini hal yang berbeda sekali bagi kami yang bergerak di dunia investasi.

Saya tidak mau kalah! Pikiran saya bertarung dengan hati nurani saya sendiri dan terus bertanya-tanya, “Ada apa, Maria?” Lalu, saya redam kecamuk di hati, tentu saja dengan excuse saya, kan? Mulailah saya membuat alasan-alasan, dan kemudian saya tanamkan kuat sekali di dalam pikiran dan hati saya. Alexandra sukses, tentu saja karena dia wanita, cantik, agak ramah alias “rajin menjamah”. Dengan keji saya “memfitnahnya” seperti itu. Walaupun, tentu itu hanya dalam hati saya saja. Lalu, dia juga dari keluarga lumayan berada, berpendidikan tinggi pula. Dan, tentu saja koneksi dari keluarganya sudah lumayan dan sangat membantu dia untuk meraih kesuksesannya. “Dia tidak bekerja cukup keras!” itulah dugaan saya, waktu itu. Itulah excuses saya. Dan, itu benar-benar “melegakan” pikiran dan hati saya….

Ternyata, kami kemudian berkesempatan bertemu kembali. Walaupun sama-sama bekerja di daerah Sudirman, Jakarta, kami belum tentu setengah tahun sekali bertemu. Pertemuan berikutnya itulah yang menampar diri saya ini, hingga saya “terjerembab”, jatuh ke dasar bumi yang paling dalam. Kesuksesan Alexandra, yang akhirnya saya ketahui dari pembicaraan saat itu, ternyata berawal mula dari referensi sebuah yellow page. Buku berhalaman kuning itulah tempat dia menemukan investor besarnya yang pertama. Investor itulah yang menanamkan modal dalam jumlah yang cukup besar di perusahaan tempat teman saya ini bekerja. Tambahan lagi, si investor itu juga mereferensikan koleganya untuk bergabung di investasi yang ditawarkan oleh teman saya ini.

Ceritanya, suatu hari tanpa sengaja dia melakukan marketing call kepada calon nasabah. Datanya ya dari buku berhalaman kuning tersebut. Dan, binggo!!! “Dewi fortuna” pun menyukai usaha kerasnya (walau sebelum-sebelumnya sudah pasti dia juga bekerja keras, no pain no gain). Mendengar cerita itu, perlahan-lahan salah satu excuse yang saya tanam dalam diri saya, gugur! Alasan yang saya buat sebelumnya, dia pastilah sukses karena koneksitas keluarganya yang cukup berada. Penyesalan pun diam-diam merayapi pikiran dan hati saya, waktu itu.

Dari bahan pembicaraan dengan Alexandra hari itu, saya semakin terenyuh dan “terpesona” oleh prinsipnya. Mata hati saya terbuka. Hati nurani saya pun ikut berbicara. Saya juga dapat melihat bahwa kepedulian Alexandra terhadap ibunya, membuat Tuhan pun membuka Mata-Nya, dan mengulurkan rezeki kepada teman saya ini. Dia bercerita, bahwa ibunya setiap dua minggu sekali harus cuci darah pada organ ginjalnya. Biaya yang dia keluarkan untuk ‘kepedulian’ sebagai wujud tanda baktinya itu sekitar belasan hingga puluhan juta rupiah per bulannya. Itu terjadi sekitar tahun 2000-2002, yang waktu itu gaji saya saja tidak lebih dari satu juta rupiah per bulannya. Saya membayangkan, betapa besarnya….

Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa Alexandra pasti berpikir besar sehingga kontribusinya juga besar terhadap orang-orang di sekelilingnya. Memang, tentu saja Tuhan tidak “tidur”. Tuhan pun Mahamelihat, mana yang harus “cepat diberi” dan mana yang cukup “diberi secara perlahan”, sambil menilai daya, upaya, serta tingkat kebersyukuran dalam diri tiap-tiap hamba-Nya. Perlahan-lahan, saya mulai paham dan mengerti. Semakin bersyukur kepada-NYA. Semakin ditambahkan oleh-NYA. Amin.[msa]

* Maria Saumi lahir di Jakarta pada 27 agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Ia adalah lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000. Maria bekerja di PT Sentratama Investor Berjangka, Jakarta, sebagai praktisi di bidang investasi dengan spesialisasi futures trading investment. Ia dapat dihubungi melalui email: mariasaumi[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.7/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox