Menjadi Manusia Pemaksa
Editor | Kolom Tetap | March 23rd, 2009 | 9 Comments »
Oleh: Maria Saumi
Saya teringat kembali, beberapa tahun lalu ketika ada acara kumpul-kumpul bersama teman-temanuntuk saling bersilaturahim. Waktu itu, saya dan kedua teman saya, serius sekali dalam suatu diskusi. Kami memang terbiasa berdiskusi apa saja, dari sekadar pria, fashion, life-style yang lagi happening, pekerjaan, hingga ranah politik pun jadi sasaran diskusi kami.
Waktu itu sekitar tahun 2004, tahun diadakannya pemilu. Mungkin, setiap orang heboh dengan pesta demokrasi tahun itu. Banyak partai politik dan capres yang dijagokan untuk dipilih. Dari sekian banyak partai dan para capres, kebetulan saya menyukai dan memilih sosok tertentu sebagai capres jagoan saya. Lalu, saya ikut mengutarakan calon pilihan saya tersebut sebagai bahan diskusi dengan kedua teman saya tadi. Tetapi, apa yang terjadi?
Saya diserang habis-habisan, dicela-cela, dan dipertanyakan oleh kedua teman saya ini. Walaupun saya memberikan alasan-alasan kenapa saya menjatuhkan pilihan kepada si jagoan ini, mereka tetap tidak terima. Diskusi menjadi hangat, bahkan menggulir jadi panas karena saya melawan mereka berdua, yang kebetulan memilih dan menetapkan jagoan yang sama, tetapi beda dengan jagoan saya. Saya merasa sendirian dan merasa dipojokkan.
Betapa kami berdebat sengit waktu itu. Saya bersikukuh dalam mempertahankan pilihan saya. Selain menyerang, menjatuhkan, dan mencela-cela pilihan saya, tentu saja saya pun ikut mereka cela. Kami bertiga merasa benar dengan pilihan masing-masing. Saya seperti menghadapi musuh, begitu juga kedua teman saya dalam menghadapi saya. Realitasnya, kami ini berteman. Lagi pula, kami sebenarnya kan hanya berdiskusi, namun bergulir menjadi debat-kusir hahaha…. Kalau dipikir-pikir, sekarang saya suka tersenyum sendiri mengingat kejadian itu. Sebab, jagoan sayalah yang akhirnya terpilih!
Baru-baru ini, saya pun mengalami kejadian serupa itu. Suatu hari, saya dan kedua teman yang berbeda, sedang lunch di kantin. Kemudian, telepon genggam salah satu teman saya berbunyi, dan bunyi ringtone-nya sangat menarik perhatian bagi orang-orang yang mendengarnya. Entah itu orang-orang yang mendengarnya jadi tertarik, tersenyum merasa lucu, atau malah merasa terganggu. Kali ini, saya dan teman saya lainnya yang tidak setuju dengan bunyi handphone-nya, mengutarakan ketidaksetujuan atas bunyi “bantingan piring pecah-belah” tersebut.
Menurut saya dan teman saya yang pro saya, mungkin pada awal-awalnya bunyi tersebut sangat menggemaskan. Tetapi, setelah puluhan kali terdengar rasanya menjadi “memuakkan”. Alasan tersebut—dengan “berat hati”—akhirnya kami utarakan kepada si teman ini. Kami menyarankan supaya dia menggantinya dengan nada dering lainnya, yang menurut lebih familiar di “telinga” kami. Tetapi, ternyata teman saya ini memang menyukai dering tersebut. Dia pun bersikeras untuk tetap dengan pilihan ringtone bunyi piring pecah. “Apakah salah? Salahnya di mana?” kata teman saya, rada sewot hahaha…
Ini contoh cerita yang lain, yaitu antara saya dan kekasih saya. Mungkin karena saking sayangnya, kadang kala dan tanpa disadari, sepertinya kekasih saya ini sering membuat saya secara tidak sadar menjadi orang yang “pemaksa”. Walaupun, dalam hal ini saya tidak menyalahkan atau merasa dirugikan atas kondisi ini dalam hubungan kami berdua. Hampir setiap kali bepergian untuk refreshing atau wisata kuliner misalnya, sering kali saya seperti diharuskan untuk berpikir, “Mau ke mana dan makan apa?”
Pernah suatu kali, seperti biasa ritual pertanyaan pergi ke mana dan mau makan apa diutarakan. Saya menyebutkan suatu tempat dan makanan yang saya inginkan jadi sasaran tujuan. Ternyata, setelah sampai dan menikmati hidangan, kami berdua malah kehilangan selera makan. Promosi dari wisata kuliner ternyata belum tentu selalu benar bagi lidah kami berdua. Kekasih saya akhirnya menyalahkan saya dalam pemilihan kali itu. Saya merasa terpojok, dan merasa bukan salah saya tentunya. Mengapa pada awalnya dia menyetujui, namun akhirnya tidak setuju? Kenapa dia tidak sumbang idenya sejak awal?
Saya menyimpulkan masalah ini berdasarkan pola-pola kejadian yang sering kami alami berdua, dan atas pilihan-pilihan saya. Hingga kejadian suatu malam di sebuah mal, tempat favorit hang out kami yang terletak di daerah Jakarta Selatan. Saya mencoba mengambil pelajaran yang sudah-sudah. Singkat cerita, tadinya kami berdua tidak berniat membeli jam tangan. Dari awalnya cuma melihat-lihat, hingga akhirnya memutuskan membeli. Dalam hal ini, kami berdua kurang lebih sama borosnya hahaha…. Saya sudah menentukan pilihan saya. Jam bertali kulit putih dengan hiasan pinggir batu kristal berkilau indah, yang menyedot perhatian saya dibanding yang lainnya.
Sementara, kekasih saya masih berkutat dengan sebuah jam tangan untuk pria, new arrival. Bentuknya sporty, warna dominan hitam dengan aksen warna merah atau biru pada angka di body mesinnya. Aksen warna merah dan biru itu telah mengombang-ambingkan pilihannya.
“Mar, bagus yang mana?” tanyanya.
“Kalau menurutku yang merah. Kesan sporty-nya lebih kelihatan, kontras dengan warna dominan hitamnya,” jawab saya sambil berargumentasi. “Tapi itu sih, tergantung kamu, menurut kamu enaknya yang mana, di coba saja?” Saya balikkan lagi pertanyaan kepada dia.
Tak memakan waktu lama, lalu kekasih saya ini setuju dengan pilihan saya tersebut. Jam yang beraksen merah itu. Tentu saja saya belajar dari pengalaman sebelumnya, kan? Biasanya, saya sering memilihkan, dengan secara tidak sadar, terasa memaksakan kepada dia sesuatu yang menurut saya bagus buat dia. Saat itu, saya tidak memilihkan untuk dia sebagaimana biasanya. Tetapi, saya sekadar membantu dia menentukan pilihannya. Memperkuat atas pilihannya. Sederhana, bukan?
Kesimpulan saya, dari cerita-cerita yang saya alami sendiri itu, bahwa tanpa disadari kita, saya, dan mungkin juga Anda telah menjadi orang-orang pemaksa dalam kehidupan ini. Sering kali, secara tidak sadar kita memaksakan pilihan dan kemauan kita kepada orang lain. Akibat, tanpa sengaja membuat orang lain jadi menderita atau tersakiti perasaannya. Tersakiti perasaannya karena telah “berbeda” dari kita.
Mengapa kita menjadi orang pemaksa? Orang yang menganggap pilihan atau kemauan kita adalah benar dan orang lain salah? Malah sering kali—akibat pemaksaan itu—kita telah menyakiti perasaan orang lain. Orang lain tidak merasa dihargai atas pilihan-pilihannya. Kita sering menganggap pendapat kita yang lebih benar dari pendapat orang lain. Dan kadangkala, kita juga merasa menjadi “victim” atau “korban” dari sebuah peristiwa pemaksaan pilihan, kehendak, atau kemauan. Sedangkan pada saat yang lain, bisa jadi kita malah yang “menindas” orang lain sehingga orang lain menjadi korban dari sifat kita sebagai si pemaksa.
Malahan, kalau kita berbicara lebih serius lagi, secara hukum dan dalam kehidupan bernegara, sebenarnya perbedaan pendapat itu dijamin oleh UUD 1945 Pasal 28. Dan, sering kali kita juga diingatkan, bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Sangat manusiawi dan alami sifatnya. Tetapi, bukankah perbedaan-perbedaan itu malah semakin menyatukan kita semua sebagai manusia, bahwa Tuhan itu Mahakaya? Kaya akan banyaknya variasi penciptaan-Nya, yang berpengaruh juga ke hasil proses berpikir manusia? Sehingga, menghasilkan banyak “perbedaan” yang “dilahirkan” dari proses hasil berpikir setiap insan ciptaan-Nya itu? Sampai sejauh ini, sadarkah kita akan hal tersebut?[msa]
* Maria Saumi lahir di Jakarta, 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Ia adalah lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000. Maria adalah praktisi bidang investasi, dengan spesialisasi futures trading investment, dan saat ini bekerja di PT Sentratama Investor Berjangka, Sudirman, Jakarta. Ia juga alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari, 2009 dan dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at]yahoo[dot]com atau nomor telepon: 021-99111527.
Oleh: Maria Saumi*
