Orientasi Hidup, Luruskan!
Editor | Kolom Lepas | February 16th, 2010 | No Comments »
Oleh: Maria Saumi*
Kurang lebih sekitar enam bulan yang lalu, setelah sekian lama menderita sakit, ibunda tercinta saya dipanggil oleh Yang Mahakuasa. Tidak lama setelah itu, sekitar tiga bulan kemudian, ayahanda tercinta pun menyusul beliau dipanggil oleh-Nya. Kepergian kedua orang tua saya tersebut dapat dikatakan dalam rentang waktu yang hampir bersamaan. Jujur, kejadian besar itu memang telah membuat saya merasa putus asa dan sedih tiada terkira. Putusnya rasa pengharapan mengghinggapi diri saya.
Saya ternyata manusia biasa. Saya tentunya juga dapat berduka, sedih, dan juga putus asa. Kondisi tersebut membuat saya menjadi tidak dapat berpikir dan melakukan apa-apa yang berarti menurut saya. Otak dan pikiran saya terasa ”blank”. Saya tidak dapat memungkiri, kegamangan telah menghinggapi saya.
Efek dari respon saya terhadap kondisi atas peristiwa yang dialami salah satu di antaranya adalah saya tidak dapat menulis dalam beberapa waktu. Tulisan ini adalah tulisan pertama dari ”kembali”-nya saya. Tulisan yang hampir hanya berupa ungkapan hati dan pikiran saja. Saya mencoba untuk menggugah kembali kesadaran dalam diri saya bahwa saya sebelumnya pernah menulis. Menjadi penulis di website motivasi ini (Terkadang rasa malu menghinggapi saya. Kok bisa ya, penulis refleksi dan sedikit motivasi jadi down seperti saya begini?).
Bulan saat saya menulis tulisan ini adalah bulan Desember. Bulan kelahiran ibunda saya. Teringat kembali semua kenangan. Bilamana saya boleh mengulang suatu kejadian kenangan di masa kecil saya dengan orangtua saya. Terasa masih segar dalam ingatan saya. Saya masih balita waktu itu. Seperti biasanya seumuran balita, saya dipaksa tidur siang oleh ibunda saya.
”Tidur siang bagus untuk anak kecil,” kata ibunda saya waktu itu. ”Bisa jadi pinter, badannya enggak kurus gitu. Terus jadi pinter karena makannya banyak buat kekuatan otaknya,” lanjutnya.
Terasa cerewet di telinga saya waktu itu, tapi saat ini saya kangen akan kecerewetannya. Saya termasuk anak kecil yang susah makan. Saking sulitnya makan, saya pernah ”dicekoki” jamu-jamu nafsu makan kala itu. Sebagai anak kecil tentu saja saya lebih senang bermain daripada makan. Dengan demikian, ibunda saya mengimingi saya dengan segenggam permen, coklat, atau jajanan kecil seperti siomai, bubur, dan lainnya agar saya mau melahap makanan. Makanan-makanan seperti itulah yang akan diberikan apabila saya telah melaksanakan ”perintah-titahnya” untuk tidur siang.
Waktu itu sore hari. Reward saya sore itu adalah jajanan siomai. Walaupun sebagai anak kecil saya tergolong susah makan, tapi tidak dengan jajanan. Setelah mandi, wangi, rambut dikuncir kuda, dan berpakaian rapi, saya diajak ibunda berjalan-jalan sore di lingkungan sekitar rumah. Aktivitas itu membuat ibunda saya dapat asyik bertegur sapa, mengobrol ngalor-ngidul dengan ibu-ibu lainnya. Sedangkan saya dapat bermain berlarian dengan teman sebaya saya. Tibalah saatnya saya menikmati reward sore itu, sepiring siomai. Ada juga beberapa ibu lainnya yang juga memberikan jajanan siomai kepada anak-anaknya.
”Iiiiihhhh, enggak boleh begitu, enggak sopan ya!” nada suara ibu saya kala itu agak membentak saya ketika saya memperlihatkan piring yang ”tandas dan licin” kepadanya. Siomai sepiring telah habis. Tetapi, apa yang terjadi? Ternyata bentakan ibunda yang diikuti oleh jepitan jemarinya, yaitu jempol dan telunjuknya yang dijepitkan ke badan saya. Saya dicubit. Agak keras dan terasa sedikit sakit. Saya terperanjat dan kaget. Saya bukanlah anak kecil yang cengeng. Walaupun saya tidak menangis, tetapi saya merasa bersalah, juga bingung, keheranan.
Saya memang menghabiskan siomai sepiring penuh seperti titah ibunda saya. Tetapi, saya ”lebay” (berlebihan, bahasa gaul sekarang). Saya menambahinya dengan mempertemukan lidah saya dengan piring siomai tersebut demi memperlihatkan kepada ibunda bahwa saya adalah anaknya yang pintar yang telah menghabiskan makanannya….
Tujuan saya kala itu hanyalah ucapan yang saya kira akan keluar dari mulutnya, ”Anak Mama pintar, makanannya diabiskan.” Saya tidak menyangka aktivitas ”pamer” berakibat seperti itu. Sepertinya, ibunda saya kala itu malu dilihat oleh ibu-ibu lainnya, karena mungkin terkesan punya anak yang kampungan, tidak bisa mengajari anaknya sopan santun ketika makan hahaha…. Saya, kalau ingat kejadian itu, ingin tertawa rasanya. Antara saya dan ibunda ternyata terjadi missunderstanding (maaf ya Bunda).
Baru-baru ini peristiwa siomai itu seperti flash back di pikiran saya. Saya tersentak. Benar-benar tersentak. Ternyata selama ini saya terbiasa merasa selalu ingin menjadi anak yang baik, patuh, juga membanggakan bagi kedua orang tua saya. Dengan demikian, ketika keduanya telah meninggal dunia dan tidak lagi berada dekat dengan saya dalam arti harfiah, jujur saya kehilangan pedoman. Saya kehilangan pegangan. Saya mengandalkan kehadiran mereka dalam hidup saya. Terasa semua baik-baik saja apabila ada mereka. Saya juga merasa tidak ada lagi ”hal-hal” yang perlu dipertunjukkan atau diperlihatkan kepada mereka. Saya tidak dapat lagi membahagiakan dan membanggakan mereka. Dan, saya juga kehilangan tempat berkeluh kesah. ”Lalu, semua buat apa?” itu pikir saya yang naif.
Pikiran-pikiran itulah ternyata yang ”menghantui” saya beberapa bulan belakangan ini. Semua hal, selain kedua orang tua tercinta saya, bagi saya adalah tidak penting. Berbahaya sekali pikiran saya kala itu. Bayangkan, semua hal menjadi tidak penting di mata saya. Pasangan, kerjaan, teman-teman, bahkan uang pun menjadi tidak penting bagi saya dalam periode itu (sekarang sih penting lagi hehehe…).
Kesalahan saya adalah orientasi hidup saya yang telah terlalu terfokus kepada kedua orang tua. Prioritas utama saya adalah mereka, ketika mereka masih hidup. Menjadi kebanggan mereka adalah tujuan hidup saya. Jadi, ketika mereka sudah tidak ada secara fisik, saya pun ”terkapar” secara fisik, emosional, dan psikologis. Saya menjadi down. Tidak ada lagi tempat untuk ”berbangga”. Saya benar-benar mengandalkan kehadiran mereka dalam hidup saya.
Apa pun yang saya lakukan selama ini ternyata orientasinya adalah kedua orang tua saya. Saya merasa ini tidak sepenuhnya salah. Tetapi, ini tidak seratus persen benar. Karena, sebenarnya orientasi kita sebagai manusia adalah Tuhan, Allah SWT. Terbersit pula kutipan perkataan Mario Teguh: saya + TUHAN = cukup. Pernyataan itu benar-benar sangat ”menyengat” saya kali ini.
Hanya kepada Dia-lah orientasi kita fokuskan. Hanya kepada Dia pulalah hidup ini kita sandarkan. Hanya kepada Dia-lah kita bersandar untuk menyembah dan meminta pertolongan. ”Iyyakaana’ budu wa iyyaa kaa nasta’iin”. Bukankah tujuan Tuhan menciptakan kita manusia adalah tiada lain untuk beribadah kepada-Nya.[ms]
* Maria Saumi, lahir di Jakarta 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Lulusan dari Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia tahun 2000. Dia bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang investasi di daerah Sudirman, Jakarta, dengan spesialisasi futures trading investment. Maria dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at] yahoo[dot]com.
Oleh: Maria Saumi*
Oleh: Maria Saumi*
Oleh: Maria Saumi*
