Orientasi Hidup, Luruskan!

maria-saumi-rOleh: Maria Saumi*

Kurang lebih sekitar enam bulan yang lalu, setelah sekian lama menderita sakit, ibunda tercinta saya dipanggil oleh Yang Mahakuasa. Tidak lama setelah itu, sekitar tiga bulan kemudian, ayahanda tercinta pun menyusul beliau dipanggil oleh-Nya. Kepergian kedua orang tua saya tersebut dapat dikatakan dalam rentang waktu yang hampir bersamaan. Jujur, kejadian besar itu memang telah membuat saya merasa putus asa dan sedih tiada terkira. Putusnya rasa pengharapan mengghinggapi diri saya.

Saya ternyata manusia biasa. Saya tentunya juga dapat berduka, sedih, dan juga putus asa. Kondisi tersebut membuat saya menjadi tidak dapat berpikir dan melakukan apa-apa yang berarti menurut saya. Otak dan pikiran saya terasa ”blank”. Saya tidak dapat memungkiri, kegamangan telah menghinggapi saya.

Efek dari respon saya terhadap kondisi atas peristiwa yang dialami salah satu di antaranya adalah saya tidak dapat menulis dalam beberapa waktu. Tulisan ini adalah tulisan pertama dari ”kembali”-nya saya. Tulisan yang hampir hanya berupa ungkapan hati dan pikiran saja. Saya mencoba untuk menggugah kembali kesadaran dalam diri saya bahwa saya sebelumnya pernah menulis. Menjadi penulis di website motivasi ini (Terkadang rasa malu menghinggapi saya. Kok bisa ya, penulis refleksi dan sedikit motivasi jadi down seperti saya begini?).

Bulan saat saya menulis tulisan ini adalah bulan Desember. Bulan kelahiran ibunda saya. Teringat kembali semua kenangan. Bilamana saya boleh mengulang suatu kejadian kenangan di masa kecil saya dengan orangtua saya. Terasa masih segar dalam ingatan saya. Saya masih balita waktu itu. Seperti biasanya seumuran balita, saya dipaksa tidur siang oleh ibunda saya.

”Tidur siang bagus untuk anak kecil,” kata ibunda saya waktu itu. ”Bisa jadi pinter, badannya enggak kurus gitu. Terus jadi pinter karena makannya banyak buat kekuatan otaknya,” lanjutnya.

Terasa cerewet di telinga saya waktu itu, tapi saat ini saya kangen akan kecerewetannya. Saya termasuk anak kecil yang susah makan. Saking sulitnya makan, saya pernah ”dicekoki” jamu-jamu nafsu makan kala itu. Sebagai anak kecil tentu saja saya lebih senang bermain daripada makan. Dengan demikian, ibunda saya mengimingi saya dengan segenggam permen, coklat, atau jajanan kecil seperti siomai, bubur, dan lainnya agar saya mau melahap makanan. Makanan-makanan seperti itulah yang akan diberikan apabila saya telah melaksanakan ”perintah-titahnya” untuk tidur siang.

Waktu itu sore hari. Reward saya sore itu adalah jajanan siomai. Walaupun sebagai anak kecil saya tergolong susah makan, tapi tidak dengan jajanan. Setelah mandi, wangi, rambut dikuncir kuda, dan berpakaian rapi, saya diajak ibunda berjalan-jalan sore di lingkungan sekitar rumah. Aktivitas itu membuat ibunda saya dapat asyik bertegur sapa, mengobrol ngalor-ngidul dengan ibu-ibu lainnya. Sedangkan saya dapat bermain berlarian dengan teman sebaya saya. Tibalah saatnya saya menikmati reward sore itu, sepiring siomai. Ada juga beberapa ibu lainnya yang juga memberikan jajanan siomai kepada anak-anaknya.

”Iiiiihhhh, enggak boleh begitu, enggak sopan ya!” nada suara ibu saya kala itu agak membentak saya ketika saya memperlihatkan piring yang ”tandas dan licin” kepadanya. Siomai sepiring telah habis. Tetapi, apa yang terjadi? Ternyata bentakan ibunda yang diikuti oleh jepitan jemarinya, yaitu jempol dan telunjuknya yang dijepitkan ke badan saya. Saya dicubit. Agak keras dan terasa sedikit sakit. Saya terperanjat dan kaget. Saya bukanlah anak kecil yang cengeng. Walaupun saya tidak menangis, tetapi saya merasa bersalah, juga bingung, keheranan.

Saya memang menghabiskan siomai sepiring penuh seperti titah ibunda saya. Tetapi, saya ”lebay” (berlebihan, bahasa gaul sekarang). Saya menambahinya dengan mempertemukan lidah saya dengan piring siomai tersebut demi memperlihatkan kepada ibunda bahwa saya adalah anaknya yang pintar yang telah menghabiskan makanannya….

Tujuan saya kala itu hanyalah ucapan yang saya kira akan keluar dari mulutnya, ”Anak Mama pintar, makanannya diabiskan.” Saya tidak menyangka aktivitas ”pamer” berakibat seperti itu. Sepertinya, ibunda saya kala itu malu dilihat oleh ibu-ibu lainnya, karena mungkin terkesan punya anak yang kampungan, tidak bisa mengajari anaknya sopan santun ketika makan hahaha…. Saya, kalau ingat kejadian itu, ingin tertawa rasanya. Antara saya dan ibunda ternyata terjadi missunderstanding (maaf ya Bunda).

Baru-baru ini peristiwa siomai itu seperti flash back di pikiran saya. Saya tersentak. Benar-benar tersentak. Ternyata selama ini saya terbiasa merasa selalu ingin menjadi anak yang baik, patuh, juga membanggakan bagi kedua orang tua saya. Dengan demikian, ketika keduanya telah meninggal dunia dan tidak lagi berada dekat dengan saya dalam arti harfiah, jujur saya kehilangan pedoman. Saya kehilangan pegangan. Saya mengandalkan kehadiran mereka dalam hidup saya. Terasa semua baik-baik saja apabila ada mereka. Saya juga merasa tidak ada lagi ”hal-hal” yang perlu dipertunjukkan atau diperlihatkan kepada mereka. Saya tidak dapat lagi membahagiakan dan membanggakan mereka. Dan, saya juga kehilangan tempat berkeluh kesah. ”Lalu, semua buat apa?” itu pikir saya yang naif.

Pikiran-pikiran itulah ternyata yang ”menghantui” saya beberapa bulan belakangan ini. Semua hal, selain kedua orang tua tercinta saya, bagi saya adalah tidak penting. Berbahaya sekali pikiran saya kala itu. Bayangkan, semua hal menjadi tidak penting di mata saya. Pasangan, kerjaan, teman-teman, bahkan uang pun menjadi tidak penting bagi saya dalam periode itu (sekarang sih penting lagi hehehe…).

Kesalahan saya adalah orientasi hidup saya yang telah terlalu terfokus kepada kedua orang tua. Prioritas utama saya adalah mereka, ketika mereka masih hidup. Menjadi kebanggan mereka adalah tujuan hidup saya. Jadi, ketika mereka sudah tidak ada secara fisik, saya pun ”terkapar” secara fisik, emosional, dan psikologis. Saya menjadi down. Tidak ada lagi tempat untuk ”berbangga”. Saya benar-benar mengandalkan kehadiran mereka dalam hidup saya.

Apa pun yang saya lakukan selama ini ternyata orientasinya adalah kedua orang tua saya. Saya merasa ini tidak sepenuhnya salah. Tetapi, ini tidak seratus persen benar. Karena, sebenarnya orientasi kita sebagai manusia adalah Tuhan, Allah SWT. Terbersit pula kutipan perkataan Mario Teguh: saya + TUHAN = cukup. Pernyataan itu benar-benar sangat ”menyengat” saya kali ini.

Hanya kepada Dia-lah orientasi kita fokuskan. Hanya kepada Dia pulalah hidup ini kita sandarkan. Hanya kepada Dia-lah kita bersandar untuk menyembah dan meminta pertolongan. ”Iyyakaana’ budu wa iyyaa kaa nasta’iin”. Bukankah tujuan Tuhan menciptakan kita manusia adalah tiada lain untuk beribadah kepada-Nya.[ms]

* Maria Saumi, lahir di Jakarta 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Lulusan dari Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia tahun 2000. Dia bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang investasi di daerah Sudirman, Jakarta, dengan spesialisasi futures trading investment. Maria dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at] yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Amanat Posisi

maria-saumi-rOleh: Maria Saumi*

Ketika dunia sedang dilanda krisis finansial, saya malah diperlihatkan pada hal-hal yang selayaknya patut dipikirkan. Suatu kali ketika—seperti biasanya—saya mengunjungi salah satu nasabah. Dia adalah owner dari suatu perusahaan afiliasi yang bergerak di bidang supply atau pengadaan barang-barang elektronik. Merek dagangnya sangat terkenal di dunia. Kita pun sering melihat iklan merek dagang tersebut wara-wiri di layar TV ataupun menjadi sponsor dalam penyelenggaraan pertandingan olah raga, bola dunia contohnya. Boleh dibilang bisnisnya mencakup lokal dan internasional. Dia memang salah satu nasabah ”kakap” saya.

Biasanya saya selalu menjumpai dengan mata kepala sendiri misalnya, ataupun membaca, melihat hal-hal di mana seorang petinggi suatu perusahaan berprilaku sewenang-wenang terhadap bawahan atau pegawainya. Tetapi, tidak dengan nasabah yang saya kenal ini. Dia pernah bercerita bahwa koleganya banyak yang merumahkan pegawainya sebagai imbas krisis global ini.

Ketika saya pertanyakan ada atau tidak pegawai yang di-PHK di pabriknya, dengan santai dia menjawab, ”Enggaklah, kalau kondisi kita masih oke, kasihan mereka jangan ditakut-takuti hal seperti itu, nanti malah mereka enggak tenang dan nyaman kerjanya. Kalau mereka nyaman dan tenang bekerja, produktivitas mereka akan jadi bagus. Lagia pula, saya sih target tahun ini mencoba untuk break even point (balik modal) saja. Tidak melulu mengejar untunglah. Ada waktunyalah….”

”Wah, sangat bijaksana sekali…,” pikir saya.

Dia berprinsip, selain tujuan utama memang keuntungan, memiliki pegawai yang loyal dan produktif itu juga merupakan aset yang menguntungkan. Beruntung sekali saya memiliki nasabah seperti itu. Saya jadi bisa belajar dari pola pikirnya. Itu ilmu yang tentunya akan saya terapkan bila, siapa tahu di kemudian hari saya akan menjadi seorang owner dari suatu perusahaan hahaha….

Tetapi, nasabah saya itu hanyalah segelintir owner atau petinggi perusahaan yang karakter pribadinya kuat, baik, dan bijaksana. Masih banyak lagi tentunya yang juga kebalikan dari itu. Hanya mengejar untung banyak, mengurangi ukuran/timbangan kepada konsumen, berkompetisi dengan kompetitornya secara tidak sehat, menjatuhkan nama baik perusahaan lain, pribadi yang gila hormat, tidak memerhatikan kesejahteraan pegawai, dan lain sebagainya.

Bila dikategorikan, perusahaan nasabah saya ini tergolong cukup terkenal dan besar. Bagaimana dengan pemilik usaha dan pekerja pada level-level yang dibawahnya dari itu?

Suatu kali saya membaca artikel yang termuat di blog Kompasiana, 9 juni 2009. Di dalam artikel itu diceritakan bahwa suatu hari seorang ayah dan seorang anak lelakinya berniat membeli kue lopis. Penjual kue lopis berjualan di pinggir jalan itu boleh dibilang adalah pemilik usaha level bawah. Ceritanya, saat membeli kue ternyata si penjual tidak memiliki uang kembalian. Dengan terpaksa si bapak calon pembeli itu berjalan sejauh kira-kira 200-300 meter untuk menukarkan uang recehan yang lebih kecil agar dapat membeli dan membawa pulang kue lopis untuk dinikmati keluarganya, terutama anak lelakinya.

Ketika balik lagi ke tempat pedagang kue lopis tersebut, si penjual ternyata telah menjual kue lopisnya kepada pembeli lainnya, yang kebetulan membeli ketika si bapak itu menukarkan uang recehan. Si penjual mungkin takut rugi dengan menunggu si bapak dan anaknya itu sehingga dengan tanpa rasa bersalah dia menjual kepada pembeli lain. Akhirnya, bapak dan anak itu pulang dengan kecewa.

Contoh lainnya adalah cerita dari teman kantor saya yang mencoba membuka usaha kecil-kecilan, yaitu bisnis ayam goreng. Entah bagaimana cerita sebenarnya, katanya dia merasa ditipu dan dirugikan oleh salah satu pekerja kepercayaannya. Katanya, si pekerja ini membawa sendiri ayam gorengnya untuk dijual ke konsumen, sementera dia berpura-pura menyatakan ayam goreng majikannya tidak begitu laku. Jadi, si pekerja itu menumpang fasilitas majikannya untuk menjual barang dagangannya sendiri. Akhirnya, usaha teman saya itu tutup.

Yang lain adalah pengalaman saya sendiri. Suatu ketika saya dan teman kantor iseng berbelanja pakaian di sebuah pertokoan/plaza di Jakarta Pusat. Pertokoan itu dulunya memang megah tetapi sekarang kalah oleh munculnya mal-mal dan plaza-plaza baru yang menjamur di sekitarnya (saya tidak mau menyebut nama, takut bakal bermasalah seperti kasus si Prita hehehe…).

Pada pandangan pertama saya jatuh hati pada sebuah baju berwarna biru, berbahan ringan, dan sejuk. Baju berbahan transparan di daerah lengan itu cocok untuk semi pesta, dengan lengan ukuran panjang tiga perempat untuk model tangannya, serta bermanik-manik pula. Style-nya cocok dengan selera dan kebutuhan saya, dan tambahan lagi ada potongan 20 persen untuk setiap pembeliannya.

Saya menanyakan pendapat teman saya dan dia juga mengakui pilihan saya itu bagus. Tetapi, seperti biasanya saya melewatkannya dahulu, putar-putar, sambil melihat-lihat yang lainnya. ”Siapa tahu ada yang modelnya lebih bagus,” pikir saya. Akhirnya, saya balik lagi ke counter tersebut dan menanyakan baju yang saya pegang tadi kepada pelayan yang berjaga.

Ada dua pelayan wanita di sana, salah satunya yang melihat betapa saya tertarik sekali dengan baju gaya semi formal tadi. Dia lalu menaruh baju itu di tempat yang berbeda, bukan di tempat yang ada discount-nya. ”Ini discount 20 persen kan, Mbak?” tanya saya mencoba mengonfirmasi.

”Oh, yang ini enggak didiskon, Bu,” jawab pelayan itu.

Lho, kok bisa…? Ini tadi kan tempatnya di sini?!” saya menegaskan.

”Oh, enggak Bu, ini tempatnya di sini…” jawab si pelayan. Sementara pelayan yang satunya berdiam saja.

Saya berlalu dari tempat itu dan tidak jadi bertransaksi. Bagaimana mungkin seorang pelayan mencoba mengelabui saya? Sudah sangat jelas sekali pakaian yang hendak saya beli itu berasal dari barisan gantungan baju berlabel diskon 20 persen. Saya menduga kuat kedua pelayan itu berniat curang terhadap saya karena sebelumnya mungkin mendengar percakapan tentang ketertarikan saya. Jadi, hampir dipastikan ketika saya balik lagi dia lalu mempermainkan saya.

Teman saya saja hampir agak sewot dengan perilaku mereka. Apalagi ketika kami mencoba berjalan lagi ke dekat counter-nya untuk mengetes. Dan, benar saja… ternyata—dan ini yang membuat saya jengkel sekali—baju itu ternyata dibalikkan lagi ke tempat semula yang bertanda diskon 20 persen. Saya berlalu dari tempat itu dengan perasaan jengkel yang sebenar-benarnya. Kalau boleh dikatakan sebenarnya bukan saya sendiri yang dipermainkan.

Andaikan saja pemilik toko atau bosnya saat itu ada di tempat, mungkin mereka bisa kecewa melihat perilaku curang pelayan-pelayan yang mereka gaji itu. Memang, kenyataannya sering kali konsumen atau pelangganlah yang dirugikan.

Dari berbagai peristiwa tersebut saya seperti mendapatkan suatu perbandingan dalam sejumlah kejadian. Kemudian saya mencoba merangkainya. Bagaimana menjadi orang yang baik dalam posisi apa pun? Tidak memandang rendah atau tingginya posisi, baik itu sebagai pemilik usaha, petinggi perusahaan, dan pegawai atau karyawan perusahaan?

Posisi apa pun adalah suatu amanat yang diemban untuk melakukan usaha/kerja dengan kemampuan terbaik yang kita punya. Perlu tercipta suatu hubungan atau relasi yang sinergis antara pemilik usaha beserta jajaran pekerjanya. Apabila kesemuanya itu bersinergi dan saling melengkapi, bersimbiosis mutualisme, maka hubungan kerja akan berjalan baik dan menyenangkan semua pihak. Bukankah semuanya bertujuan dan bermuara kepada kepuasan konsumen atau pelanggan?[msa].

* Maria Saumi, lahir di Jakarta 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Lulusan dari Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia tahun 2000. Dia bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang investasi di daerah Sudirman, Jakarta, dengan spesialisasi futures trading investment. Maria dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at] yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Di Balik Kesedihan Ada Kebahagiaan

msaOleh: Maria Saumi*

“Bu Maria, ini ada orang datang katanya berniat mau berinvestasi, saya persilahkan ke ruangan Ibu, ya?” pertanyaan si resepsionis, di suatu pagi. Tentu saja hal tersebut tidak saya sia-siakan. Dengan sigap saya mempersilakan calon klien itu dengan senang hati. Dia mengaku bernama Boya asal Sumatera Selatan. Dia berbisnis komputer dan laptop yang diimport dari Malaysia. Perawakannya agak gendut, berkulit coklat gelap, dan mengenakan cincin-cincin batu besar berkilauan yang menonjol di jemari kiri dan kanannya. Sangat eye-catching memang, mengesankan orang kaya dan berduit banyak sehingga tampaknya peluang deal berinvestasi cukup besar.

Ternyata, awal mula yang membuat hati saya berbunga-bunga itu berakhir dengan penyesalan. Saya tertipu! Don’t judge the book by its cover itu ada benarnya. Bisa saja orang yang menampakkan dirinya baik, belum tentu selaras dengan niat di hatinya. Atau, bisa saja orang yang penampakannya keras atau kasar, tetapi kadang kala orang itu sebenarnya baik. Begitu pula dengan si Boya ini. Penampilan yang perlente dan kelihatan berpendidikan, tetapi ternyata berhati tidak baik. Menipu orang lain adalah tujuannya. Bayangkan saja, orang yang semula berniat berinvestasi ratusan juta tersebut ternyata dengan mudahnya mengelabui saya dan anak buah saya. Sekarang saya baru ingat, sebenarnya saya juga agak merasakan keraguan di dalam hati saya, pada mulanya.

Pada Rabu naas itu ketika dia berkunjung ke kantor, dia mengatakan tidak membawa mobil. Mobilnya sedang di bengkel karena hari Sabtu acara weekend dan dia mengalami tabrakan di daerah puncak. Dia menceritakan dengan mimik kesungguhan yang luar biasa. Saya, kalau ingat kejadian itu, jadi berpikir kenapa si Boya ini tidak jadi artis saja, ya? Aktingnya bagus sekali. Saya saja yang suka paranoia dengan orang baru bisa terkecoh oleh aktingnya. Biasanya, saya tidak terlalu mudah “larut” akan situasi dan kondisi dengan orang baru. Tetapi, orang ini sungguh berbakat.

Singkat kata, supervisor saya diminta menemani si Boya ini menuju rumah bosnya di daerah Pejaten, yang notabene katanya adalah omnya sendiri. Dia meminta supervisor saya untuk membawa laptop yang dapat memperlihatkan suatu grafik pergerakan harga indeks saham regional Asia secara real time. Akhirnya, berangkatlah mereka, si Boya, supervisor saya, dan supir kantor. Ketika di jalan ternyata dia membelokkan arah tujuan. Dia meminta untuk mampir terlebih dahulu ke suatu pusat perbelanjaan di Jalan Thamrin untuk mengambil data yang akan di-input di laptop. Ternyata, itu adalah sandiwara, hanya sebagai alasan untuk melarikan diri dengan laptop tersebut. Dan, laptop itu adalah laptop yang saya pinjamkan kepada supervisor saya. Nasib… oh… nasib!

Saya pun marah. Marah besar kala itu kepada supervisor saya. Saya mengumpat dan keluar sumpah-serapah kepada si Boya durjana itu. Saya juga marah kepada diri saya sendiri. Marah dan menyesali betapa bodohnya saya. Selain itu, saya juga merasa apakah saya telah berbuat tidak baik sehingga saya dinilai patut oleh Tuhan mendapatkan hal seperti ini? Saya bertanya pada diri sendiri, ”Apa aku pernah mengambil hak orang lain sehingga Tuhan membalas dengan kejadian seperti ini?” Bahkan, saya pun marah kepada pernyataan; selalulah berpikir positif, saat itu hehehe…. Intinya, saya marah dan kesal sejadi-jadinya. Sepertinya, dengan banyaknya persoalan yang mengimpit saya kala itu, saya menjadi punya alasan untuk “memuncakkannya” kepada si Boya ini.

Bayangkan saja hal itu terjadi di tengah pergelutan pencarian nasabah yang relatif sulit saat krisis global sekarang ini. Belum lagi persoalan dengan target penjualan tim saya yang relatif menurun dibandingkan masa-masa sebelumnya. Jadi, saya expecting too much terhadap calon nasabah tersebut. Belum lagi harga sebuah laptop baru yang tentu saja harus saya beli sebagai pengganti laptop saya yang hilang itu. Ditambah pengeluaran saya dalam bulan itu karena urusan keluarga di rumah sangatlah banyak. Saya menjadi kesal dan jengkel. Penipuan itu benar-benar “menguras” emosi saya.

Akhirnya, walau memakan waktu satu dua hari, amarah saya pun mereda. Saya mencoba introspeksi dan mengevaluasi diri. Mengapa saya sungguh egois sekali dan hanya memikirkan kepemilikan saya saja yang nilainya juga tidak seberapa? Saya juga sadar seandainya saja si Boya melakukan kejahatan terhadap anak buah saya dan supir kantor. Atau, bahkan dia dan komplotannya melarikan mobil dinas kantor yang ikut serta dalam proses peristiwa tersebut. Berarti hilangnya sebuah mini laptop jadi tidak seberapa. Kata orang Jawa, masih untung! Tetapi, memang benar pepatah itu menjadikan saya tidak melankolis menangisi kepiluan, kesialan, serta merasa terinjak-injak harga diri karena merasa dibodohi oleh penipuan tersebut.

Hahaha… saya tertawa lagi kala ingat peristiwa itu. Betapa marah saya memang tidak berguna. Tetapi begitulah saya, sangat responsif dan ekspresif dalam pengertian yang negatif. Hal itu pula yang menjadi kemungkinan munculnya kerutan-kerutan di wajah saya. Mukanya sinis, kata kekasih saya hahaha…. Masak, sih?

“Bu Maria, ini ada player yang mungkin Ibu bisa bantu untuk handle?” pinta anak buah saya suatu hari. Saya lalu memutar nomor telepon investor tersebut dan menjelaskan panjang lebar tentang product knowledge, benefit investasi, dan teknis transaksi. “Ok, kalau begitu saya minta nomor rekening perusahaan Anda dan akan transfer dananya Rp 200 juta, ya?” Dan, binggo…! Ini adalah kali pertama saya menutup penjualan hanya via telepon. Maklum, biasanya dan umumnya menggaet nasabah di bisnis yang saya jalankan itu membutuhkan waktu relatif lama. Bahkan, ada salah satu nasabah saya yang follow up-nya saja memakan waktu hingga setahun dia baru mau ikut bekerjasama. Nilai penjualannya bahkan Rp 50 juta saja. Artinya, apakah saya terlalu sabar atau terlalu bodoh, ya sehingga memakan waktu selama itu hehehe…. Atau, setidaknya minimal dua atau tiga kali appointment terlebih dahulu baru ikut bekerjasama dalam bisnis. Jadi, peristiwa deal via telepon itu menurut saya adalah prestasi tersendiri.

Tetapi, saya “menarik diri’ untuk tidak terlalu antusias atas pernyataan calon nasabah tadi. Ada sedikit trauma muncul ketika suatu hal menjadi too easy too get. Saya lebih suka istilah no pain no gain. Terdengar lebih realistis bagi saya walaupun saya sering kali juga berkhayal mendapatkan “durian runtuh” hahaha…. Sekali lagi, ini tidak konsisten ya antara “ruang berpikir dan ruang khayal” dalam diri saya.

“Pak, maaf sebelumnya, secara regulasi, Bapak tidak diperbolehkan mentransfer dana investasinya dulu sebelum menandatangani kontrak penanaman investasinya. Jadi tidak bisa hanya via telepon. Saya harus bertemu muka dahulu dengan Bapak. Sekiranya Bapak ada waktu, kapan saya bisa bertemu?”

Akhirnya, saya bertemu dengannya. Karena dia adalah player (nasabah yang telah mengetahui seluk beluk investasi ini) maka tanpa berbelit-belit dia menginvestasikan dananya sebesar Rp 200 juta. Lumayan dan saya tentu bersyukur sekali karena ini menutupi seluruh target penjualan saya bulan itu.

Apabila saya boleh membandingkan, membuat analisis, serta berkesimpulan atas kedua peristiwa di atas, maka ada beberapa hal yang setidaknya harus saya pelajari sebagai berikut:

  1. Mainkan instink, dengarkan hati nurani terdalam, dengarkan hati kita yang “telanjang”, tanpa pretensi apa pun. Dalam kejadian yang saya alami, hati saya tertutupi oleh berlebihannya rasa antusiasme atas masuknya seorang nasabah yang mengimin-imingi berinvestasi dalam jumlah yang lumayan besar. Saya terlalu “berbunga-bunga” sehingga sisi kewaspadaan pudar tertutup oleh hal tersebut. Akibatnya, niat buruk seseorang terhadap saya menjadi tidak “terbaca”.
  2. Jangan marah. Orang bijak berkata,Kemarahan adalah pemusnahan hati si Arif. Orang yang tidak dapat menguasai marahnya tak akan dapat menguasai pikirannya.Imam Ali berkata, “Orang yang tak menahan diri dari marah, mempercepat kematiannya.” Didukung pula oleh para pakar kesehatan yang menyatakan bahwa marah dapat menimbulkan kematian mendadak apabila mencapai tingkat tertentu (waduh seram sekali, kan?).
  3. Introspeksi diri; jangan mencari-cari kesalahan orang lain, bercermin kepada diri sendiri dahulu. Apalagi memarahi anak buah. Jelas sekali terlihat bahwa ada andil kesalahan saya dalam peristiwa kehilangan laptop itu. Saya tidak waspada sebagai seorang atasan dalam urusan pendelegasian pekerjaan.
  4. Jangan trauma terhadap kejadian masa lalu. Mungkin tidaklah sama antara kejadian di masa lalu dan masa mendatang. Jadi, jangan disamaratakan.
  5. Harus optimis jangan pesimis. Itu sudah pasti. Buktinya tidak memakan waktu lama dari kejadian pertama yang mengenaskan, itu toh sudah “dibalas” dengan kejadian kedua yang membahagiakan. Kesedihan dan kebahagiaan di dunia datang silih berganti. Tergantung kita dalam menyikapinya.

Begitulah, hingga akhirnya saya sadar dan berbaikan kembali dengan anak buah saya tersebut. Ketika suatu hari kami mengenangnya kembali, kami semua tertawa. Dan, pernah beberapa minggu setelah peristiwa naas tersebut, saya membuka situs Kompas.com. Tidak sengaja saya membaca bagian kriminalnya dan dituliskan di sana bahwa pihak kepolisian menangkap komplotan penipuan laptop yang modus operandinya berpura-pura mengajak kerja sama bisnis. Lucunya, saya berharap itu adalah si Boya dan kawan-kawannya. Jujur, saya benar-benar berharap begitu. Jengkel dan kesalnya hati ini belum pudar rupanya hehehe….

Tetapi memang, ketika saya sudah dapat menertawakan suatu peristiwa sedih, naas, atau ketidakberuntungan pada masa lampau, biasanya itu berarti saya sudah oke dan siap untuk menghadapi peristiwa-peristiwa baik atau buruk yang akan terjadi dan saya jalani di masa mendatang. Mudah-mudahan. Ayo semua tetap semangat![msa]

* Maria Saumi lahir di Jakarta pada 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Ia adalah lulusan Jurusan Biologi, Fakultas matematika dan Ilmu pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000. maria bekerja di salah satu perusahaan swasta di daerah Sudirman, Jakarta. Sebagai praktisi di bidang investasi dengan spesialisasi futures trading investment. Ia dapat dihubungi melalui pos-mail: mariasaumi[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 3.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Malas Ah Jadi Orang Susah!

msa1Oleh: Maria Saumi*

Saya tertarik sekali dengan suatu acara di TV yang menayangkan adanya jalinan kerjasama antara pengusaha pemula dengan suatu bank tertentu. Kebanyakan pengusaha pemula tersebut mengisahkan cerita awal mula usahanya dari nol hingga kini telah besar dan bisa dikatakan cukup sukses. Sehingga, kisah suksesnya patut diangkat buat para pemirsa.

Di antara para pengusaha pemula itu ada yang menarik perhatian saya. Dia sekarang ini sukses sebagai pengusaha di bidang kuliner. Malahan, usaha tersebut sudah di-franchise-kan. Total outlet-nya sekarang sekitar 13 buah. Untuk membuka satu outlet saja dibutuhkan dana sekitar Rp 450 juta. Sebuah kemajuan yang cukup fantastis. Dikatakan demikian karena ternyata diketahui bahwa usahanya dimulai dari usaha jajanan kaki lima.

Dia mengisahkan awal mula usahanya dengan berjualan gorengan pinggir jalan di suatu kampus. Lantas berkembang menjual kuliner ayam bakar. Sebelumnya, dia juga bercerita pernah menjadi office boy di suatu perusasahaan. Tetapi itu dulu, sekarang dia telah menjadi seorang pengusaha pemula yang sukses. Hingga dia pun dengan senang hati berbagi kiat-kiat suksesnya.

Pengusaha itu menerapkan tiga hal sederhana yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan pelanggan, yaitu:

  1. Menjaga mutu.
  2. Memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan pelanggan.
  3. Tetap menjaga hubungan dengan pelanggan.

Prinsip sederhana tetapi penting dalam kehidupan berusaha. Motivasi yang dia terapkan di dalam hidupnya adalah prinsip kemalasan atau malas. Lho, kok? Dia mengatakan dia malas kalau jualan hanya kaki lima saja. Lalu, dengan ”kemalasan”-nya atas kondisi tersebut dia mulai membuka satu outlet. Kemudian, ”kemalasan” itu datang lagi dan diresponnya dengan membuka tiga outlet. Lalu, ”kemalasan” lainnya datang lagi hingga lagi-lagi direspon dengan membuka hingga lebih dari sepuluh outlet.

Menurut saya dia harus bersyukur. Dengan ”kemalasannya” itu sekarang usahanya—walaupun masih tetap di ranah kuliner—tetapi telah berekspansi ke berbagai jenis makanan. Awalnya dari ayam bakar lalu berkembang ke bakso, dan yang terkini adalah pecel lele.

Sungguh, saya melihat ”kemalasan” versi si pengusaha pemula ini telah memaksanya untuk selalu berpikir what next. Dia tidak pernah mengizinkan dirinya berada di level stagnan dan merasa puas. Itu terlihat dari keberanian dia mengubah bisnis dari berjualan gorengan yang sifatnya camilan hingga menjadi ayam bakar yang sifatnya lebih ngenyangin. Lalu, dia berpikir lagi untuk ekspansi ke varian makanan lainya, dari semula berjualan ayam bakar ke bakso dan kemudian menjual pecel lele. Ini menunjukkan bahwa dia tidak takut akan hal baru karena selalu mau lebih maju dan maju lagi.

Dia tetap berusaha meraih yang terbaik bagi dirinya dan atas semua kemampuan yang dimilikinya. Dia selalu memburu prestasi dan melakukan inovasi baru untuk memuaskan ”kehidupan usahanya”. Dia juga berprinsip ATM, bukan Anjungan Tunai Mandiri, tetapi Amati, Tiru, dan Modifikasi.

Dengan akal, pikiran, dan kemampuan keras dia selalu berupaya menjadi pribadi yang selalu belajar, belajar, dan terus belajar. Dia selalu membiarkan dirinya belajar akan hal-hal baru. Dia telah belajar mengamati usaha apa yang cocok, diminati, dan sesuai dengan kapabilitasnya. Ditambah lagi karena istrinya juga suka memasak, sehingga dia memilih usaha di bidang kuliner. Belajar dan terus belajar hingga mencapai ”bentuk terbaik” sebagai hasil dari upaya kerasnya.

Lalu, pengusaha tersebut pun melakukan proses meniru. Suatu proses yang terbilang mudah karena sebagai peniru pastilah dia bukan yang pertama. Jadi, ada suatu contoh sebelumnya dari seorang inventor sehingga dia langsung dapat menerapkannya. Tetapi, dia berhasil menjadi peniru yang baik, yang tidak gagal, dan akhirnya lulus menjadi si peniru yang sukses. Hal yang juga membutuhkan usaha ekstra keras adalah proses modifikasi. Proses tersebut membutuhkan suatu langkah inovasi dan kreativitas tinggi sehingga mencapai ”hasil akhir” terbaik.

Terakhir adalah cara dia memberikan sedikit wejangan kepada orang-orang yang mau memulai merintis usaha. Dia mengatakan bahwa dalam berusaha janganlah kita takut gagal, jangan menginginkan cepat balik modal, dan sebaiknya terus berkreasi hingga mempunyai ciri khas produk atau usaha yang diingat oleh pelanggan. Dia juga memaparkan pentingnya melakukan modifikasi jenis makanan yang disuguhkan ke pelanggan sehingga bisa memiliki bentuk dan citarasa yang berbeda dengan para kompetitor.

Tidak lupa dia juga mengajarkan kepada para SDM di setiap outlet-nya supaya selalu bersikap ramah. Para pelayannyadengan senyum tulus mereka—selalu menyuguhkan kalimat monggo silahkan kepada para tamu yang mampir. Ada juga penciptaan kalimat-kalimat parodi kreatif di dinding seperti: “Makanan dan minuman yang telah ditelan tidak dapat ditukar atau dikembalikan”.

Sungguh suatu hal yang membuka pikiran kita. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain yang mungkin dapat menggugah kita akan suatu hal baru. Belajar tentang keberanian akan suatu pembaharuan menuju kebaikan dan kemajuan. Kita dapat belajar di setiap waktu dan kondisi kehidupan.

Ada perbedaan respon orang-orang terhadap kondisi susah” yang mereka alami. Ada yang merasa nyaman-nyaman saja dengan kondisi tersebut karena merasa itu sudah nasib atau takdir. Lalu, kehidupan menjadi datar” saja bagi mereka. Tidak tahu manakah yang nasib dan takdir serta mana yang aslinya adalah kemalasan. Tidak ada ”pergolakan” yang menggairahkan kehidupannya.

Saya jadi ingat kutipan ucapan Andrie Wongso, sang Motivator No 1 itu, “Jika kita lunak terhadap diri kita, maka kehidupan akan keras kepada kita. Dan jika kita keras terhadap diri kita, maka kehidupan akan lunak kepada kita.

Ada juga yang merasa malas dan muak” dengan kondisi hidup susah tetapi tanpa upaya” dan kemudian menjadi frustrasi. Bahkan, orang-orang itu bisa saja ”terpeleset” sehingga melakukan hal yang tidak baik.

Yang terakhir adalah orang-orang yang ”malas dan muak” dengan kondisi yang dihadapinya karena tentu saja menganggap susah” itu tidak nyaman. Lalu, mereka mengubah ketidaknyamanan tersebut menjadi suatu kenyamanan dalam segala hal, bukan hanya skala materi saja. Kita bertanya kepada diri sendiri, termasuk yang manakah kita? Malas ah jadi orang susah! [msa].

* Maria Saumi, lahir di Jakarta 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia Tahun 2000. Dia bekerja di salah satu perusahaan investasi di Sudirman, Jakarta, spesialisasi di bidang futures trading investment. Maria dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at] yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Sabar… Pasti Ada Hikmah di Balik Setiap Peristiwa!

msa1Oleh: Maria Saumi*

Amerika Serikat mencatat sebuah krisis finansial terburuk. Bank-bank investasi besar bertumbangan. Indeks saham terpuruk hingga ke level terendahnya. Krisis finansial akibat subprime mortgage yang melanda negara itu ternyata turut berimbas ke negara-negara lainnya. Terkena domino effect. Lintas benua. Tidak terkecuali, negara kita Indonesia.

Akibat krisis tersebut, salah satunya menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran di seluruh dunia. Banyak tenaga kerja dirumahkan tanpa pandang bulu, dari level pekerja bawah hingga pekerja tingkat CEO. Jangankan para pekerja level rendah dan menengah atas. Bahkan dalam kondisi tersebut, kebangkrutan pun menghantui dan menimpa para owner dan stakeholder. Mau bagaimana lagi?

PHK atau pemutusan hubungan kerja,kejadian itu ternyata juga menimpa adik ipar saya beberapa bulan lalu. Dia bekerja sebagai manajer pemasaran di suatu perusahaan multinasional yang bergerak dibidang alat pendingin. Kurang lebih tujuh tahun lamanya dia telah bekerja di perusahaan tersebut. Dia mendapatkan pula semua hal yang menurut standar tergolong lumayan. Gaji yang didapat layak untuk hidup di Jakarta, fasilitas mobil, asuransi kesehatan keluarga, berkesempatan untuk bepergian hingga ke luar negeri—walaupun dalam rangka urusan bisnis, bukan liburan.

Dia bercerita, target penjualan di Indonesia terbilang cukup bagus, tidak buruk. Tetapi karena omset di negara lainnya khususnya China merosot tajam, maka secara total omset dunia ikut terimbas, sehingga dikategorikan anjlok, turun tajam. Perusahaan tempat dia bekerja hampir merumahkan seluruh karyawannya. Bagi saya perusahaan tempat dia bekerja masih tergolong pengertian. Masih memberikan sejumlah pesangon kepada para pekerja yang dirumahkan. Dan, dia mau tidak mau, suka tidak suka terkena dampak global tersebut. “Hmm, tetapi masih lumayanlah ada pesangon, agak bisa survive untuk sementara waktu,” pikir saya.

Saya melihat dia telah menghidupi keluarganya dengan cukup memadai. Mendengar kabar nyata yang tidak menggembirakan tersebut cukup membuat keluarga besar saya terhenyak. Termasuk saya. Saya cemas memikirkan dua orang keponakan saya yang masih kecil-kecil itu. Bayangkan saja beberapa minggu setelah kelahiran anaknya yang kedua, dia di-PHK dengan sejumlah uang pesangon, yang jumlahnya sekitar seratus jutaan. Jumlah yang mungkin relatif lumayan. Tetapi, tentu saja kalau tidak diatur dengan baik, akan habis dalam kisaran satu, dua, atau hingga tiga tahun untuk memepertahankan keberlangsungan hidup keluarganya.

Uang sebesar itu dia investasikan dan upayakan di dalam bisnis konveksi kecil-kecilan. Sebagian untuk membayar cicilan kartu kredit dan rumah. Sebagian buat berjaga-jaga untuk beberapa bulan ke depan. Dia tetap terus melakukan usaha dengan melamar kerja dan tetap mencari informasi melalui networking dan sahabatnya. Dia tetap mencari peluang agar dapat terus produktif dan mempertahankan perannya sebagai kepala keluarga.

Usaha dan doanya membuahkan hasil dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Kurang dari tiga bulan, dia sudah mendapatkan pekerjaan barunya di perusahaan lokal. Walaupun perusahaan lokal, gaji dan fasilitas yang didapatnya tidak berbeda jauh dengan sebelumnya. Mendengar kabar ini, saya lalu bersyukur dan menjadi tenang. Alhamdulillah.

Secara personal, kalau saya diperbolehkan menilai adik ipar ini, dia adalah sosok yang lurus. Tidak “neko-neko”. Saya bisa ambil satu contoh, dia tidak pernah me-reimburse ke perusahaannya tiket tol dan bensin mobilnya yang dipakai secara tidak sengaja pada hari libur (padahal bisa saja, karena posisinya). Bahkan, sisa uang saku untuknya dari dinas atau urusan bisnis ke luar negeri pun dikembalikan ke perusahaannya. Bagi saya ini sungguh luar biasa. Saya pun belum tentu dapat melakukannya, walaupun dalam perusahaan saya bekerja memang tidak memungkinkan hal tersebut.

Sebagai sulung dia bertanggung jawab penuh atas ibu bapak dan adik-adiknya di rumah. Terlebih lagi tehadap istri dan anak-anaknya. Pribadinya yang jujur dan menjalankan ibadah dengan baik memandu dirinya menerima keputusan PHK itu dengan sabar, hati yang tabah, dan tetap terus berusaha (Mudah-mudahan pribadi tersebut terus dijaga Tuhan YME untuk stabil seperti itu. Amin).

Hikmah dari kejadian tersebut menyadarkan saya bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu. Tuhan selalu memberikan kita cobaan. Dapat kelihatan oleh kita sebagai sesuatu yang baik atau buruk. Tuhan menyuruh kita untuk bersabar atas segala sesuatu. Tetap optimis dalam setiap kondisi kehidupan. Selalu yakin bahwa Tuhan selalu sayang sama kita, makhluk-Nya. Bila kita terus berdoa dan berupaya, Tuhan akan selalu mendengarkan doa kita. Seperti firman-Nya: “Aku selalu berdasarkan atas prasangka hamba-Ku.”

Tuhan Maha tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Dalam kejadian adik ipar saya itu, Tuhan telah berkehendak. Tuhan telah “memaksanya” dan “memberkatinya” memasuki dunia kewirausahaan tanpa bersusah payah mengumpulkan modal usaha terlebih dahulu. Umumnya,orang-orang bertahun-tahun dan sedikit-sedikit mengumpulkan uang sebagai modal usaha. Dia dengan mudahnya seperti mendapat uang kaget yang menjelma dalam bentuk uang pesangon.

Tidak hanya itu, Tuhan juga memberi “modal” akan hikmah dari suatu kejadian. Kejadian atau cobaan tersebut yang direspon dengan sabar, tidak berkeluh kesah, dan frustrasi. Hikmah terdalam yang tentunya akan diperoleh seorang manusia apabila hamba-Nya itu bersabar, berusaha, dan berdoa kepada-Nya.

Jadi, saya berharap dan berkeyakinan, mudah-mudahan kita selalu menjadi makhluk yang tidak lupa bersyukur. Bersyukur dan yakin bahwa kita selalu akan dipelihara dan diperhatikan oleh Sang Khaliq. Sang Pencipta kita, seluruh alam raya dan isinya. Sudah sepatutnya kita sadar serta merendahkan diri kepada-Nya. Amin.[msa]

* Maria Saumi lahir di Jakarta, 27 Agustus 1976 dengan nama lengkap Mariatun Meima Saumi. Lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000 ini bekerja sebagai praktisi di bidang investasi, spesialisasi future trading investment di sebuah perusahaan investasi berjangka di kawasan Sudirman, Jakarta. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi [at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Dari Shopaholic menjadi Writerholic (II)

Maria SaumiOleh: Maria Saumi*

Dimuatnya artikel pertama saya di website AndaLuarBiasa.com ini menyebabkan terlahirnya kembali artikel kedua, ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya, dan seterusnya. Pemuatan hasil karya tulis saya tersebut menggerakkan saya untuk tulis, tulis, dan tulis lagi. Saya menulis hal apa pun yang tiba-tiba saja terbersit di pikiran saya. Apa pun kondisinya, di mana pun, dan kapan pun sehingga dalam satu bulan, tak terasa empat artikel saya telah dimuat di dua website motivasi yang berbeda.

Suatu prestasi bagi diri saya, kalau saja saya boleh berbangga. Terlebih saya adalah orang yang tidak pernah menulis, buta sama sekali dalam hal tulis-menulis sebelumnya. Pelatihan menulis dan bantuan para mentor/guru sedikit banyak telah membantu saya hingga seperti saat ini. Keranjingan menulis.

Mungkin dengan alasan keaktifan dan semangat saya yang berapi-api tersebut, menyebabkan saya akhirnya dipercaya mengisi Kolom Tetap di website AndaLuarBiasa.com, yang pengelolanya sekaligus adalah mentor/guru saya. Mungkin, ditambah lagi dengan background saya yang unik, yang sebelumnya hanyalah si pembelanja. Sekarang, si pembelanja ini diberi kesempatan untuk bertransformasi menjadi si penulis. Prestasi yang mungkin bagi sebagian orang biasa saja, tetapi tidak bagi saya. Ini benar-benar prestasi yang membuat saya bangga. Perasaan saya pribadi seperti “menemukan dan ditemukan”.

Ketika pertama kali saya ditawari menjadi kolomnis, perasaan saya campur aduk. Antara senang, bangga, takut tidak bisa berkomitmen, takut nanti harus menulispadahal sedang mengalami kebuntuan ide—alias “mati gaya” istilah anak muda saat ini. Tetapi, teman-teman dan kerabat menguatkan dan mendukung saya. Hingga saya “telanlah” ketakutan-ketakutan saya itu, suatu perasaan takut yang saya ciptakan sendiri.

Seperti yang telah saya singgung di atas, inspirasi bisa datang kapan saja, di mana saja, dan berbentuk apa saja. Memasuki dunia tulis-menulis ini, kadang kala memang membuat saya merasa “gila”. Seperti pagi tadi contohnya. Inspirasi itu datang ketika saya sedang di kamar mandi, membasuh diri, sedang membasuh muka dengan sabun. Bayangkan saja repotnya. Ketika selesai, tentunya saya bergegas pergi ke kamar, menangkap ide tersebut ke dalam buku catatan kecil saya, mencegahnya supaya tidak hilang hingga menguap ke udara—sia-sia.

Kemarin lalu, inspirasi datang tiba-tiba ketika sedang berada di taksi. Sore lalu, inspirasi datang ketika sedang makan di suatu tempat. Pernah juga ketika sedang menonton suatu acara di televisi. Aktivitas berbelanja juga pernah menjadi inspirasi tulisan saya. Sedang curhat-curhatan dengan sahabat di Facebook juga pernah. Bahkan, ketika berdiskusi dengan teman-teman dan para guru saya di kolom diskusi, dan masih banyak lagi.

Ada beberapa hal yang menurut saya jadi lucu. Terus-terang saya menulis dengan tujuan membagi apa yang saya rasa, saya lihat, dan pengalaman saya akan pemaknaan terhadap sesuatu di suatu waktu. Hingga pada suatu hari, saya merasa lucu akan respon teman-teman kepada saya, terutama setelah beberapa artikel saya dimuat di website AndaLuarBiasa.com ini.

Ada yang sedang curhat lalu tersadar. “Mar, obrolan kita di chat ini jangan lu bikin artikel, ya!?” Bahkan, ada teman lainnya yang “narsis” malah ingin diceritakan keeksisannya (perilaku berbuat baik dalam suatu waktu) sebagai teman saya di dalam suatu artikel. “Masukin gua dalam atikel lu dong, Mar!” Setengah bercanda dan setengah serius sepertinya hahaha…. Saya tersenyum geli, ada-ada saja. Tentu saja saya tidak dapat menulis “pesanan” tersebut. Lagipula, saya bukan koki.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa dalam menulis saya ingin lepas. Lepas tanpa keterikatan beban maksudnya. Saya tidak dibebani oleh harapan bahwa tulisan saya harus sangat bagus, sangat menyentuh, sangat diterima, dan disukai oleh semua kalangan. Karena, saya tentulah tidak sempurna. Kesempurnaan hanya milik-NYA, saya paham sekali akan hal itu. Saya hanya mencoba berbagi semuanya, yang saya lihat, saya rasa dan saya jalani. Saya hanya berharap bahwa dengan menuangkannya ke dalam suatu tulisan, maka akan ada makna dan hikmah yang dapat diambil dan dipelajari oleh pembaca. Tidak terkecuali saya, si penulis.[msa]

* Maria Saumi lahir di Jakarta, 27 Agustus 1976 dengan nama lengkap Mariatun Meima Saumi. Lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000 ini bekerja sebagai praktisi di bidang investasi, spesialisasi future trading investment di sebuah perusahaan investasi berjangka di kawasan Sudirman, Jakarta. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi [at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Dari Shopaholic menjadi Writerholic (I)

msaOleh: Maria Saumi*

Zaman sekarang, fashion digandrungi tidak saja oleh kaum wanita saja, kaum pria pun tidak mau kalah. Tetapi, bisa dibilang kaum hawa “memonopolinya”. Kaum wanita tersebut, tidak terkecuali saya. Shopping atau berbelanja adalah suatu aktivitas kesukaan saya.

Apabila yang dikatakan “bermerek” itu adalah Prada, Burberry, Hermes, Versace, Manolo Blahnik, nama-nama merek yang sangat ternama baik mutu dan brand-nya, seperti tertera dalam banyak majalah dan film, tentu saja saya tidak punya (belum? Hehehe). Kemampuan daya beli saya baru pada beberapa level jauh di bawah itu. Mungkin, kalau boleh disebutkan seperti merek Guess, Esprit, Nike, Adidas, Mango, dan sebagainya. Itu adalah nama-nama merek original yang “ramah” bagi kantong saya untuk menjangkaunya.

Dalam hal kisaran level harga, tentulah saya bukan si shopaholic di dalam karya Isla Fisher dalam film Confession of a Shopaholic itu. Saya tentu sangat jauh beberapa level di bawahnya, dalam kisaran skala belanjanya. Mungkin, hanya tingkat antusiasme saya yang menyamainya

Harga asli merek sangat ternama yang saya sebutkan tadi, di pasaran ada pada kisaran puluhan juta, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Selebritas Hollywood sudah pasti tergolong sebagai buyers-nya. Saya pernah punya pengalaman lucu sewaktu window shopping di suatu mal megah di Jakarta Selatan. Saya melihat harga sebuah tas ternyata hingga Rp 25 juta-an. Waktu itu, saya salah lihat. Awalnya saya mengira harganya sepersepuluhnya. Wah, saya langsung sadar diri dan menggeser diri saya jauh-jauh darinya. Tentu saja saya tidak mampu dan juga tidak mau membelinya bila harganya di area itu. Hahaha.

Untuk merek ternama tersebut, saya hanya mampu beli di tingkat “kw-kw-nya hehehe. Kw-kw adalah istilah yang dipakai pedagang untuk barang nonorisinalnya. Itu pun juga sudah relatif agak sedikit mahal bagi saya. Mau bagaimana lagi? Sebenarnya, dalam hal ini saya pun tidak memiliki pengetahuan merek lokal yang mempunyai model sebagus buatan luar tersebut. (Saya tahu, dalam hal ini ada pelanggaran hak merek di sini, hehehe). Memang, biarpun tingkatan kw-kw, tetapi model dan kualitasnya bisa dibilang bagus. Jadi, saya pun tergiur membeli dan memilikinya. Dan sepengetahuan saya, setidaknya perempuan-perempuan di sekeliling saya juga melakukan hal yang sama. Jadinya, saya tidak ambil pusing. Yang terpenting bagi wanita, juga bagi saya adalah berbelanja, titik. Begitulah barangkali memang kondisinya si Pembelanja.

Biasanya barang-barang bermerek nonorisinal kualitas kw-kw tersebut diimpor dari negara Korea, Cina, ataupun Taiwan. Barang-barang tiruan tersebut sudah terkenal, beredar dengan bebasnya khususnya di daerah Mangga Dua dan beberapa trade center lainnya. Walaupun barang tiruan, harga jual barangnya berada dalam kisaran ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Mereka sebut dengan kw-1-nya. Harga tersebut relatif menguras kantong juga. Yang saya mau katakan di sini adalah kenyataan bahwa biarpun merek tiruan, ternyata juga banyak sekali peminatnya. Lihat saja sekeliling Anda. Saya, ternyata tidak sendirian.

Seiring dengan peningkatan penghasilan yang didapat, ternyata diiringi juga oleh tingkat konsumerisme dalam diri saya. Tidak hanya barang-barang konsumtif yang telah saya sebutkan di atas. Kadang kala barang-barang “printilan” (aksesories tambahan; jepitan, karet pengikat rambut, stocking, dan lain sebagainya) khas perempuan, saya juga latah ikut membelinya. Tahu-tahu, setelah tiba di rumah, baru menyadari mengapa membelinya.

Ketika saya ungkapkan ini, walaupun tidak semuanya, tetapi saya dapat melihat para pembaca khususnya wanita, mengangguk-anggukan kepalanya. Tanda setuju dan dipahami. Kadang kala, saya tidak merasa cukup apabila sudah memiliki sepatu berwarna merah yang baru saya beli, lalu tidak mengikutsertakan tas yang berwarna senada. Setidaknya, tas yang mempunyai semburat warna yang serasi, bagi saya. Begitupula dengan padu-padan lainnya.

Saya mempunyai beberapa sahabat dan teman wanita yang juga melakukan hal yang tidak jauh berbeda. Berbelanja menjadi salah satu upaya refreshing diri. Dengan demikian, saya merasa biasa saja. Tidak merasa aneh. Komunitas saya tidak menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang perlu “dipikirkan”. Taken for granted saja. Lagi pula, saya belum memiliki tanggungan biaya yang cukup berarti. Jadi, saya santai saja.

Tetapi, lama-kelamaan hal tersebut menjadi bola salju yang menggelinding, kian lama kian membesar. Karena, memiliki barang-barang konsumtif ini, kita memang akan masuk dalam pusaran “semakin banyak membeli, semakin kita merasa tidak memiliki”. Itu memang “kalimat” yang saya temukan sendiri dalam perenungan saya baru-baru ini.

Selalu ada rasa haus dan lapar yang tak akan dapat terpenuhi. Kadang kala ketika berangkat kerja kantor, saya malah dihinggapi kebingungan karena merasa tidak punya baju. Malahan, sering juga baju yang sudah terbeli hanya terpakai satu-dua kali dari saat pembeliannya. Kebanyakan tergantung tak berdaya di lemari. Menurut saya, kadang shopping membuat para wanita jadi “gila”. Tetapi sebaliknya, mereka juga akan jadi “gila” bila tidak melakukan aktivitas shopping tersebut. Benar-benar lucu dan membingungkan, bukan? Tidak percaya? Sekali lagi coba tanyakan dan perhatikan saja para kaum hawa di sekitar Anda.

Saya juga berdalih ketika ibu saya menegur dengan habit saya ini dengan berkata: “Ah, nanti kan kalau ada saudara-saudara berkunjung ke rumah, kita bisa memberikan kepada mereka?” Barang-barang yang tentunya sudah tidak saya minati lagi. Lagi pula, saya tahu dengan persis, waktu ibu saya muda dulu, melakukan hal yang tidak berbeda dengan saya hehehe. Begitulah, saya dulu (sekarang agak mereda skalanya) konsumtif membabi buta. Tetapi saat ini, sepertinya saya sudah “tergiring” untuk mengalokasikan budget untuk habit baru saya, yaitu membeli buku.

Buku menjadi suatu distraction bagi saya, dari kebiasaan beli tas baju-sepatu dan sebagainya. Benda yang tentunya tidak hanya akan memperkaya wawasan saya, tetapi juga akan melincahkan pola berpikir saya. Buku juga berguna dalam dunia hobi saya yang baru, yaitu tulis-menulis.

Bukan berarti saya baru menemukan keasikan baru dari buku. Tetapi, lebih tepatnya mungkin menemukan buku kembali. Saya kenal buku, pastinya sudah lama, waktu masa pendidikan. Saya tentulah harus mengakrabinya. Suatu keharusan. Analisis saya adalah: Mungkin, sekali lagi mungkin, karena memasuki dunia kerja sudah dibebaskan—oleh guru atau dosen, dari keharusan membaca buku ini dan buku itu. Jadi, seakan-akan kita bebas mau membeli buku atau tidak. Kita mau membacanya atau tidak. Serasa dibebaskan dari keinginan dan keharusan berdekatan dengan buku atau tidak. Atau, mungkin juga karena banyak hal yang menyita fokus saya selama ini. Seperti disibukkan oleh pekerjaan, keluarga, pasangan, dan lain sebagainya sehingga buku ditinggalkan.

Sedari kecil, sebenarnya hobby saya adalah membaca. Saya juga ingat waktu kecil, daripada membeli hal-hal lain, biasanya saya malah menggunakan uang saku saya untuk membeli buku-buku pelajaran, buku cerita, majalah pengetahuan, dan buku-buku lainnya. Tetapi, entah mengapa semakin ke arah sini, saya seakan terlupa dengan hal itu. Saya juga tidak tahu mengapa kok saya bisa melupakan buku.

Dan, memang bukan hal yang mengada-ada, kadang saya membeli buku beberapa tahun lalu, tetapi hingga sekarang masih belum juga khatam dibaca. Parahnya lagi, masih ada yang terbungkus rapi. Artinya, halaman pertamanya pun saya belum pernah melihat dan menyentuhnya.

Saya mencoba lagi menganalisis, sewaktu beli buku masih dengan susah payah, kita malahan langsung tidak sabar membacanya. Dibandingkan dengan masa-masa sekarang, yang mungkin beli buku bukan dengan susah payah lagi, malah cenderung menyepelekan. Tunggu ada waktu luang dan kondisi yang memungkinkan, baru membaca. Malahan biarpun ada kadangkala lupa, atau justru mengerjakan hal lainnya.

Tetapi, semua itu ternyata telah lalu (saya berharap begitu hehehe…). Saat ini, saya menemukan dan menggeluti lagi buku sebagai suatu bahan bacaan. Hal tersebut, sedikit-sedikit menggeser dan menurunkan keinginan berbelanja saya. Buku dan menulis sangat berkaitan erat, lengket! Hingga rasanya tak ingin dipisahkan dan dilupakan seperti beberapa waktu lalu. Saya pun merasa dunia buku saya yang hilang telah saya temukan kembali, seiring dengan saya temukannya dunia baru saya, tulis-menulis.

Keduanya memilin, menyatu erat, dan saling bekerja secara sinergis untuk keberadaan saya yang sekarang, yaitu sebagai seorang penulis. Walaupun jujur saja, saya belum merasa percaya diri mengatakan—bahkan kepada diri saya sendiribahwa sekarang saya sudah bertransformasi dari si pembelanja menjadi si penulis. Perlu waktu untuk itu pastinya. Mohon didukung dan didoakan.[msa]

* Maria Saumi lahir di Jakarta, 27 Agustus 1976 dengan nama lengkap Mariatun Meima Saumi. Lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000 ini bekerja sebagai praktisi di bidang investasi, spesialisasi future trading investment di sebuah perusahaan investasi berjangka di kawasan Sudirman, Jakarta. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi [at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Blackberry, Oh Blackberry

Maria SaumiOleh: Maria Saumi*

“Maria, handphone kamu yang ada fasilitas suara pengajiannya dan ada TV-nya, buat Bapak saja, ya?” pinta ayah saya suatu hari, beberapa bulan yang lalu. Alasan itulah yang menjadi krusial sebagai alasan pertama saya, hingga akhirnya saya memutuskan “melepas” handphone lama saya dan membeli yang baru, Blackberry. Gadget yang sedang in, menarik, dan digandrungi oleh orang-orang saat ini.

Boleh dibilang, Blackberry tidak saja digandrungi oleh orang biasa, bahkan juga orang sekelas Barrack Obama, presiden Amerika Serikat. Faktanya, dia memang menggandrungi Blackberry—gadget, yang terintegrasi dengan fasilitas Facebook di dalamnya, yang telah berhasil membantu program kampanyenya kala itu. Dia pun muncul sebagai pemenang. Walau agak sedikit enggan pada mulanya, tetapi akhirnya dia terpaksa harus rela dipisahkan dari gadget-nya itu. Dengan alasan adanya aturan protokoler negara. Begitulah pesona si Blackberry ini, yang ternyata digandrungi siapa saja, di mana saja. Pesona yang dimilikinya, memukau luar biasa.

Pengelolaan data dan internet adalah kesatuan fitur yang amat menentukan gadget apa pun untuk bisa sukses di pasar, saat ini. Konsumen, sebagai pengguna, memakainya sebagai media komunikasi tanpa hambatan. Di mana pun dapat terkoneksi. Fitur internet yang susah bekerja sama dengan kepentingan pengiriman data akan sia-sia saja. Maka tak heran, Blackberry, ketika muncul beberapa tahun silam sebagai gadget untuk push e-mail yang paling praktis, langsung saja merebut hati kalangan profesional yang aktivitasnya akan tersendat jika, contoh saja, akses emailnya sering bermasalah. Reseach In Motion (RIM), produsennya, kini menawarkan seri terbaru Blackberry Bold 9000, yang tentunya lebih sempurna dari versi sebelumnya. Versi terbaru tersebut sangat memikat perhatian. Saya pun membelinya.

Fitur-fitur yang tersedia, menambah dan melengkapi fitur-fitur yang sudah ada. Menjadi fitur-fitur terkini bagi penggunanya. Fitur-fitur yang dulunya hanya dapat dioperasikan hanya melalui sebuah komputer atau laptop kini dengan mudahnya disediakan, dalam suatu “gadget” yang praktis. Tinggal klik, klik, dan klik, memencet tombol-tombol dengan menggunakan track ball sebagai panduan mencari. Seperti e-mail, browsing, dan web-chat misalnya. Gabungan antara teknologi, hiburan, dan kepraktisan fungsional telah menjadi satu paket di dalamnya—Blackberry.

Di dalam Blackberry versi terbaru itu, terdapat fitur Blackberry Message dan Yahoo Messenger sebagai suatu standar. Adanya fitur-fitur ini pula yang menjadi alasan kedua saya untuk bergabung menjadi pengguna Blackberry, mengikuti clients saya. Fitur-fitur ini telah memudahkan dan bahkan mengefektifkan, serta mengefisienkan saya dalam berkomunikasi dengan mereka. Dari segi waktu, tenaga, dan biaya tentunya. (Sesama pengguna Blackberry, pengiriman pesan otomatis jadi bisa gratis, di luar biaya paket bulanannya). Sekali lagi, hanya tinggal klik, klik, dan klik. Sudah tercipta komunikasi dua arah karenanya. Soal kepentingan-kepentingan para client, sebagai alasan fungsional makin mendorong saya membeli gadget ini.

Fenomena Facebook memperkuat alasan ketiga saya untuk membeli gadget ini. Kegandrungan yang awal mulanya tanpa sengaja, karena didorong oleh sahabat saya. “Iih, enggak asyik lu Mar, hare gene enggak punya account Facebook?” Begitulah ceritanya mengapa saya jadi keranjingan Facebook. “Hehehe… kalau sudah keranjingan fesbuk, mending lu lengkapin dengan Blackberry dong, klop deh,” rayuan teman lainnya, membuat saya terpancing hingga menjadi “gila” akibatnya.

Kegilaan saya menjadi-jadi pada waktu pertama-tama punya gadget tersebut. Akibatnya, tangan saya jadi gatal untuk terus “utak-utik” alat komunikasi saya yang teranyar ini. Hingga 24 jam terus on-line. Tetapi, ada manfaat dengan mempunyai Blackberry. Pelan-pelan ke-gaptek-an saya, satu-satu pun berkurang karenanya hehehe….

Ihh, blackberry itu kan bisa bikin kita jadi ‘autis’, bisa keasyikan sendiri, suka jadi enggak fokus, enggak tahu waktu jadinya!” kata seorang remaja, usia pelajar SMA atau kuliahan, ketika sedang makan di salah satu foodcourt, bersama dua orang teman lainnya. Kebetulan saya duduk tidak jauh dari mereka. Saat itu, saya mencuri dengar… “Sekarang, si Airin ketika sedang makan dikantin, suka main-mainin hape-nya di meja makan, agak pamer kesannya gitu, loh!” tambah temannya lagi.

“Oh, lu enggak tahu, dia pakai Blackberry terbaru sekarang. Lu lihat saja di fesbuk, keliatan kan dia online terus jadinya.” Obrolan ringan anak SMA atau kuliahan itu tentang perilaku salah seorang teman kelasnya. “Fenomena apakah ini? Pamer dan iri hatikah?” tanya saya dalam hati, sambil terus mencuri dengar tentunya hahaha… walaupun saya tahu ini kurang sopan hukumnya.

Menurut anggapan segolongan orang, harga Blackberry versi lama ataupun terbaru tersebut relatif murah. Sementara, masih pada kebanyakan orang umumnya menganggap relatif masih mahal, dan karenanya akan muncul gengsi ketika memilikinya. Balik lagi sebenarnya nilai mahal dan murah tentu saja sangat relatif, tergantung kemampuan dan kebutuhan orangnya. Ada yang mampu tetapi tidak butuh, dan ada yang mampu sekaligus butuh. Tetapi, ada pula yang butuh tetapi tidak mampu. Tidak terelakkan, ya begitu kan keadaannya? Mungkin ada juga ya, yang tidak butuh, tetapi mau?

Golongan yang butuh tetapi belum mampu, biasanya “mengakali” membeli dengan cara menunggu hingga beberapa periode waktu lewat. Hingga secara hukum dagang otomotis akan menjadi turun harganya, terlebih bila ada pesaing baru atau versi terbaru lagi yang muncul. Atau, dengan mencoba mencari second hand-nya, yang biasanya kalau masih anyar tentunya masih agak jarang didapat. Lalu, secara perlahan-lahan tren pun beralih, bukan lagi Blackberry yang menjadi primadona, tetapi mungkin merek lain, nanti mungkin saja Strawberry atau Blueberry, misalnya hehehe….

Tindakan seperti itu masih disetujui oleh pikiran saya. Yang saya tidak habis pikir adalah mengapa—dalam kasus obrolan di foodcourt tersebut—“ada memiliki” dan “tidak memiliki” si Blackberry ini menjadi seperti suatu momok yang efeknya kadang memprihatinkan. Sungguh, memprihatinkan bagi saya kala itu. Saya melihat, mendengar, dan mengamat-amati terus obrolan mereka dari meja makan yang bersebelahan. Dalam hati saya agak “setengah” menyesal berada di sana. Saya telah “mencuri” dengar.

Saya katakan begitu karena pertamanya memang tidak sengaja. Tetapi, selanjutnya saya memang sengaja mendengarkan obrolan mereka sambil makan. Lalu akibatnya, saya seperti “diseret” untuk ikut berpikir tentang masalah mereka, walaupun tidak ada juga yang “meminta” saya untuk melakukan hal tersebut. Jangan-jangan, saya pun sudah berlebihan dalam merespon obrolan para remaja itu hehehe….

Ternyata, bagi yang memiliki gadget ini, mungkin tanpa sengaja atau disengaja—karena memang fitur-fitur di dalamnya sungguh menggemaskan—menjadi asyik sendiri. Tidak peduli dengan sekitarnya. Saya juga merasakan hal yang sama pada awalnya. Sehingga, hal tersebut membuat “si yang tidak memiliki” menjadi gundah gulana, merasa diabaikan ketika dia sedang berinteraksi (melakukan komunikasi langsung berhadapan dengan si pengguna).

Apakah seharusnya si pengguna harus melepaskan keterkaitannya dengan Blackberry, ketika berhadapan dengan si bukan pengguna Blackberry? Padahal, mungkin ia sedang mengirim pesan, berita, ataupun e-mail penting ke client-nya? Ke keluarganya? Ke gurunya mungkin? Atau, mungkin nanti ada “etika khusus” memakai gadget ini di depan orang lain, atau bahkan di muka umum? Hahaha… opini saya sudah terlalu berlebihan, sepertinya.

Apakah di sini yang salah dan yang membuat tidak nyaman adalah respon kita terhadap efek pengaruh negatif Blackberry-nya, Si bendanya? Ataukah respon orang lain, si bukan pengguna, terhadap subjek alias si pengguna benda ini, beserta tingkah lakunya ketika berada di muka umum?

Blackberry sendiri sebagai benda, pastinya sangat bermanfaat positif. Kita sebagai subjeklah yang mengontrol penggunaan si Blackberry sebagai benda (objek). Efek negatif yang dikatakan ada dan menempel, mungkin karena efek samping dari si penggunanya, yang mungkin direspon secara berlebihan oleh si pengguna (tidak peduli dengan sekelilingnya, terus asyik dengan gadget-nya), dan si bukan pengguna (karena iri dan ketidakmampuan diri untuk membeli?).

Yang jelas, dan yang salah, tentu saja bukanlah si Blackberry-nya, kan? Blackberry hanyalah produk, hasil dari teknologi terkini yang mutakhir. Dengan fungsinya sebagai “hamba” yang melayani si tuan, manusia, akan kebutuhan koneksi-komunikasi.

Tetapi, saya langsung tersadar saat itu. Jangan-jangan obrolan yang menggiring mereka hingga ke obrolan gosip temannya itu dikarenakan gadget Blackberry, gadget yang terletak di atas meja makan saya ini, keberadaannya yang disarungi oleh bahan bersilikon berwarna kuning terang. Persis tergeletak, tepat “ditonton” oleh penglihatan mereka. Mungkin gadget saya inilah yang “memicu” obrolan mereka. Para remaja perempuan itu, yang bersebelahan duduknya dengan saya, dengan topik “diskusi hangat” kala itu, tentang temannya. Perasaan setengah menyesal dan bersalah menghampiri saya. Saya mencoba “menggiringnya” untuk tidak menjadi berlebihan tentunya.

Jadi, seandainya nanti saya menggunakan Blackberry saya di depan umum, dan perilaku saya terlihat dengan sengaja atau tanpa sengaja menimbulkan ketidaknyamanan dalam perasaan Anda, baik si pengguna dan bukan pengguna, tolong saya dimaafkan. Ini juga sebagai alasan terakhir saya hingga membuat tulisan seperti ini, tentang gadget ini. Blackberry, oh Blackberry.[msa]

* Maria Saumi, S.Si., lahir di Jakarta 27 Agustus 1976. Nama Asli Mariatun Meima Saumi. Lulusan Jurusan Biologi,Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam,Universitas Indonesia,tahun 2000. Maria bekerja sebagai praktisi di bidang investasi, spesialisasi Future Trading Investment di PT.Sentratama Investor Berjangka, Sudirman Jakarta. Ia dapat dihubungi melalui: mariasaumi[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Strangers Helping Strangers

Maria SaumiOleh: Maria Saumi*

Genggaman tangan kami terlepas. Saya terbawa arus massa yang besar. Saya mencoba untuk menepi, menguatkan diri dari desakan orang-orang di sekitar saya, dan terus perlahan-lahan mencoba berjalan. Berjalan, berdesak-desakan menuju ke arah pintu keluar. Sendiri, terpisah dari kekasih saya, juga teman-teman yang ikut dalam liburan bersama kami. Ratusan orang berjejalan, setelah menikmati acara pesta kembang api berkerumun di Twin Tower, Kuala Lumpur, Malaysia malam itu. Malam pergantian tahun, new year eve 2008 ke tahun 2009. Setelah acara usai, semua orang menuju pintu keluar. Padahal sebelumnya, baru dalam hitungan menit, situasi kami amatlah berbeda.

Beberapa menit sebelumnya, kami sangat bahagia menikmati berhamburannya kembang api ke udara dengan berbagai macam bentuk dan warna, sambil membuat harapan-harapan baru, menyongsong tahun yang juga baru. Hamburan pesta kembang api yang menjadi acara puncak sekaligus penutup di setiap acara pesta malam tahun baru. Hingga selesailah sudah acara itu.

“Di mana kekasih saya, saat saya terombang-ambing oleh desakan orang-orang di sekitar saya?” tanya saya dalam hati. Orang-orang di kanan-kiri, depan-belakang saya terasa dempet, menempel lengket hingga ke kulit saya, terasa sangat panas dan gerah—karena saking dekatnya jarak saya dan mereka. Situasi yang tidak terkendalikan ini sedikit memicu aksi keributan anak-anak muda (ABG), walaupun akhirnya tidak terjadi kejadian yang terlalu mengkhawatirkan.

Ternyata usut punya usut, setelah bertemu di arah menuju pintu keluar, kekasih saya memberikan penjelasan mengapa ia melepaskan genggaman tangan saya ketika berada di kerumunan massa tadi. Dia memang dihadapkan oleh dua pilihan. Dilema antara terus menggenggam tangan saya, atau membantu seorang ibu dan anak kecilnya. Memang, tadi persis di depan kami, ada seorang ibu, dengan anaknya yang baru berusia mungkin batita, berada dalam stroller-nya, terseok-seok, berjuang dengan impitan kerumunan massa yang menyeruak menuju arah keluar dari arena pertunjukkan pesta kembang api di lapangan Menara Kembar malam itu.

Kekasih saya terpaksa mengambil pilihan dengan menolong ibu dan anaknya yang masih kecil itu ketimbang diri saya. Kok? Alasannya, karena menurut pertimbangannya, saat itu kondisi saya dianggapnya lebih “berdaya” dibandingkan dengan ibu dan anak itu. Lagipula, saya masih kuat dan masih bisa berjalan mengikuti beberapa teman saya yang berada beberapa meter di depan saya. Walaupun memang agak sedikit terhalangi oleh orang-orang asing di depan, belakang, kanan, dan kiri saya.

Pilihannya tersebut membuat kami bertengkar, saat itu, dan saya jadi senewen karenanya. Pikir saya dalam hati, “Kenapa sih ibu itu pakai bawa anak kecilnya segala malam-malam?” Anggota keluarga lainnya ke mana, suaminya di mana? Terus, kenapa dari sekian banyak lelaki yang ada di sana, kok cuma kekasih saya yang beri perhatian lebih kepada si ibu itu dan anak batita-nya itu? Saya tahu dan menyadari, di level berpikir ini, saya telah mengedepankan kecemburuan dan keegoisan saya pribadi di atas yang lainnya. Memang kadang-kadang, sejujurnya itulah diri saya.

Saya mungkin tergolong pribadi yang lebih mengutamakan memberikan kebaikan atau kebajikan untuk golongan terdekat saya dahulu. Setelah itu, baru saya mencoba lingkaran di luar diri saya. Pribadi saya memang biasa saja, umum, ordinary people. Perbedaan pandangan ini mungkin yang memicu pertengkaran kami saat itu, yang menurut saya seharusnya sayalah yang lebih didahulukan, karena kondisi juga bisa membuat saya tertimpa kejadian yang tidak diinginkan saat itu. Realitasnya, saya juga terdesak dan hampir kehabisan napas, karena kerumunan orang. Tapi sekali lagi, itu adalah pilihannya. Saya terpaksa menghormatinya, walaupun bertengkar adalah sebagai suatu konsekuensi bagi kami berdua.

Kekasih saya berargumen, apa salahnya membantu orang lain yang tidak kita kenal sama sekali? Apalagi bersifat darurat. Lagipula, dia berpikir jika, jika tidak ada aksi pertolongan, maka akan dapat menelan korban jiwa. Sebenarnya, memang tidak ada yang salah atas tindakannya itu. Yang salah memang respon saya yang berlebihan terhadap tindakannya itu. Walaupun kondisi perasaan saya dongkol, toh dalam hati saya yang paling dalam, saya membenarkan tindakan kekasih saya pada malam itu.

Pikiran saya seperti disentakkan kembali ketika zaman kuliah dahulu. Pulang pergi naik bus umum. Pada suatu hari, ada suatu kejadian “aneh” ketika saya berada dalam bus umum menuju kampus saya di Depok. Entah mengapa saya yang duduk bersebrangan dengan seorang bapak. Tanpa setahu saya, ongkos bus saya ternyata telah dibayari oleh bapak itu. Sehingga siang itu, saya tidak perlu lagi membayar ongkos bus tersebut. Perasaan saya pada saat itu, jujur saja antara senang karena telah dibayari, juga takut dan bertanya-tanya karena kebaikan orang asing, orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Takut bila ternyata kebaikannya itu cuma menutupi niat jahatnya saja (saya memang agak paranoid tentang ini).

Kondisi itu tidak bisa saya tolak, toh ongkos bus telah dibayar olehnya. Tentu saja ucapan terimakasih dan senyum malu-malu dan takut saya berikan kepada bapak yang baik hati itu. Mungkin, tampang saya sangat memelas saat itu, atau memang terlihat banyak pikiran, atau si bapak itu memang ingin melakukan perbuatan baik saja hari itu, tanpa maksud dan tujuan apa pun. Sampai sekarang, peristiwa itu tetap jadi misteri bagi saya.

Memberi dan menerima

Profesor Sonja Lyubomirsky dari Universitas California melakukan riset hubungan antara kebaikan yang dilakukan dengan kebahagiaan seseorang (Reader’s Digest edisi Maret 2009). Dalam penelitiannya itu, seluruh participant melakukan kebaikan apa saja selama lebih dari 10 minggu. Bahkan, kebaikan dalam skala kecil pun, misalnya membantu membukakan pintu bagi orang yang tidak kita kenal sama sekali. Riset ini menunjukkan bahwa kebaikan ternyata juga dapat menimbulkan kebahagiaan.

Hasil penelitian juga menunjukkan, bahwa tidak ada bedanya kebahagiaan yang didapat jika Anda membantu kesulitan baik itu orang asing ataupun orang yang kita cintai dan sayangi. Yang berbeda hanya dari efek/dampaknya. Perbuatan kebaikan kecil kepada orang yang tidak kita kenal membantu terciptanyanya perasaan seperti menjadi “seseorang yang baik”. Tetapi, bila hal itu dilakukan kepada orang yang kita kenal, efek atau hasilnya mereka sungguh-sungguh sangat berterimakasih kepada kita, dan menganggap kita sebagai orang yang benar-benar “teman”. Sehingga, terciptalah hubungan yang lebih baik dari sebelumnya.

Sementara, Profesor Stephen Post, penulis buku Why Good Things Happen to Good People? telah mempelajari dan membuktikan bahwa melakukan kebaikan adalah bagus buat kesehatan. “Ada korelasi yang kuat antara berbuat baik, kebahagiaan, dan kesehatan seseorang. Kebaikan (kindness) dapat membantu mengatur emosi yang berdampak positif bagi kesehatan seseorang.

Mundur ke tahun 1968, peneliti Bibb Latane dan John Darley menemukan fenomena yang dikenal dengan by stander effect: Fenomena di mana ketika seseorang memerlukan pertolongan di tempat umum, di mana banyak orang berada di sana, malah mendapatkan intensitas pertolongan yang lebih sedikit. Karena, kewajiban menolong terhadap seseorang telah terwakili oleh orang lainnya. Jadi, saling mengandalkan orang lain untuk membantu melakukan pertolongan. Di komunitas kota besar, malah perasaan tidak aman timbul ketika berinteraksi dengan orang asing/orang yang tidak kita kenal.

Jujur, saya ikut dalam golongan ini. Saya masih harus belajar dari orang-orang terdekat saya, untuk hal seperti ini. Tindakan yang dilakukan kekasih saya waktu itu termasuk dalam klasifikasi strangers helping stranger dengan tanpa ekspektasi atau tujuan personal apa pun. Kebaikan adalah masalah pilihan, perilaku berbuat baik yang kita lakukan yang dapat membawa perubahan–walaupun kecil, dalam hidup seseorang.

Saat menulis ini, sebenarnya saya pun sedang menunggu kantung-kantung darah dari Palang Merah Indonesia. Kantung-kantung “pemberi kehidupan” yang dapat membawa perubahan level Hemoglobin (butir-butir darah merah) di dalam tubuh Ibu saya, untuk keperluan kesehatannya. Di sini, saya juga sedang menunggu hasil dari proses kebaikan orang lain. Orang yang tidak kenal dengan Ibu saya, dan juga sebaliknya. Jadi, stranger helping stranger, mestinya sesuatu yang lumrah dan wajar dilakukan oleh kita semua, yaitu saya dan Anda. Lalu, tunggu apa lagi?[msa]

* Maria Saumi lahir di Jakarta, 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Ia adalah lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000. Maria adalah praktisi bidang investasi, dengan spesialisasi futures trading investment, dan saat ini bekerja di PT Sentratama Investor Berjangka, Sudirman, Jakarta. Ia juga alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari, 2009 dan dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at]yahoo[dot]com atau nomor telepon: 021-99111527.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Mencintai dan Dicintai

msaOleh: Maria Saumi*

Acara Just Alvin setiap Kamis malam yang ditayangkan di Metro TV tempo hari mengundang seorang bintang tamu, yaitu Gugun Gondrong. Selebritis ini diberitakan sakit tetapi sekarang telah pulang berobat dari Singapura. Gugun sakit kanker otak yang menyebabkan kelumpuhan saraf motoriknya. Walaupun dinyatakan belum sembuh 100, tetapi dia telah mulai mengalami pemulihan yang dianggap cukup berarti. Kemajuan tersebut diungkapkan oleh fisioterapis dan ahli akupuntur yang menanganinya, yang juga diundang dalam acara itu. Hal tersebut menjadi sesuatu hal yang membahagiakan, dirasakan juga oleh orang-orang di sekelilingnya—yang mencintainya. Tentunya.

Saat acara, Gugun ditemani sang istri. Acara itu juga mendatangkan sejumlah sahabat, yaitu Rico Ceper, Vina Panduwinata, serta penyanyi favorit Gugun lainnya, Tito Sumarsono. Para sahabatnya ini hampir tak kuasa menahan air matanya melihat kondisi Gugun sekarang. Sangat jauh bila dibandingkan saat Gugun masih sehat. Campuran rasa antara prihatin dan bahagia atas kemajuan kondisi fisik dan psikologis Gugun dibanding sebelumnya. Dia sudah dapat mengenali lagi teman dan sahabatnya itu. Bahkan, dia juga dapat mengikuti alunan nada dari lagu-lagu favorit yang ditayangkan dengan sengaja agar Gugun ikut bernyanyi, walau dengan terpatah-patah.

Kesan dan motivasi dari para sahabat diberikan kepada Gugun. Diceritakan bahwa Gugun dahulunya adalah orang yang sangat aktif, suka menolong, disiplin, rajin menggalang dana untuk acara-acara amal oleh artis, dan sebagainya. Mereka juga bilang bahwa kesembuhan Gugun sekarang ini, mungkin juga tidak lepas dari doa teman-teman yang ikhlas untuk kesembuhannya. Seperti ikhlasnya Gugun pada sewaktu membantu teman-teman, saat dia masih sehat dulu.

Di acara itu, Gugun Gondrong (Sys NS yang memberi nama Gondrong), walaupun sudah berangsur baik, tetapi tetap kelihatan masih pucat. Ketika sehat dulu, wajah Gugun selalu memancarkan kecerahan dan keceriaan. Dalam tayangan ini, wajahnya jadi kurang ekspresif, walaupun genangan air mata terlihat sedikit mengambang di kedua ujung matanya. Sorot kamera dengan jelas memperlihatkan hal itu. Dia juga masih belum bisa menggerakkan tubuh secara aktif, dan masih memerlukan bantuan seseorang.

Di sini saya melihat peranan istrinya sangat menonjol dalam memberikan semangat dan motivasi dalam hidupnya sekarang ini. Dengan kasih sayang dan cinta, istrinya mulai mengambil peranan aktif lebih besar. Bahkan, dalam kehidupan private mereka sebagai suami-istri. Sebagaimana anjuran dari dokternya di Singapura, mereka disarankan supaya tetap melakukan terapi seks, sebuah terapi yang dapat menstimulir syaraf-syaraf tubuhnya dari kelumpuhan. Sehingga, terapi itu dapat mempercepat proses penyembuhan, dan kabar menggembirakan, istrinya pun hamil.

Terapi anjuran dokter itu pula yang menarik minat orang lain sehingga bergosip dengan nyinyirnya. Gosip yang muncul bahwa istrinya, Anna Marisa, tidak mungkin dapat hamil mengingat kondisi suaminya yang lumpuh tak berdaya. Menurut saya, itu gosip yang kejam. Begitulah konsekuensi hidup sebagai public figure. Selalu jadi sasaran gosip. Beruntung saya “cuma penulis”, bukan selebritis hehehe.

Ada pula berita yang menyatakan bahwa sebenarnya sakitnya Gugun karena ulah orang yang jahat kepadanya. Kabarnya, Gugun disantet seseorang. Beritanya menyatakan, ada orang yang tidak terima akan perlakuan Gugun terhadapnya dulu. Sehingga, timbul sakit hati dan dendam kepada si selebritis ini. Walaupun begitu, kabar tersebut dibantah oleh pihak keluarga dan kerabat Gugun.

Sebenarnya, kita yang bukan sebagai public figure pun dapat kapan saja digosipkanGosip itu pun bisa dalam bermacam skala, mulai dari gosip ringan hingga kejam. Bagaimanapun baiknya kita dan seberapa keras pun kita telah mencoba berbuat baik dan menjadi orang yang baik. Tetap saja, kita tidak akan pernah dapat membuat semua orang senang. Pasti ada saja orang yang tidak senang dengan kita. Kita tidak dapat disukai oleh semua orang. Kita pun tidak dapat memaksakan agar orang lain menyukai kita. Kalau kita merasa “lurus”—ya terus saja. Lanjutkan!

Memang, kadang kala kita tidak merasa telah menyakiti orang lain dengan tingkah laku, perkataan, dan perbuatan kita. Dan, hal seharusnya kita lebih peka sehingga akan ada rasa kehati-hatian. Itulah hal yang paling penting dan harus kita sadari secara penuh. Konsekuensi dari menjadi suatu bagian komunitas manusia.

Kembali ke Just Alvin, pada episode itu, entah mengapa saya melihat ekspresi dari si selebritis yang menggugah hati saya. Walaupun realitasnya saya tidak mengenal dan tidak mengidolakannya, tetapi tak terasa air mata saya pun ikut menetes. Air mata sebagai luapan akan perasaan di hati. Saya ternyata manusia yang luluh juga, berempati mungkin. Ternyata, saya tidak sendirian dalam hal ini. Keesokan hari pergi ke kantor, dalam suatu obrolan, salah seorang teman saya mengalami hal yang sama, ikut meneteskan air mata ketika menonton acara tersebut. Ternyata, episode malam itu cukup menyentuh para pemirsa.

Episode Gugun Gondrong itu sarat dengan nuansa cinta. Cinta dan juga kasih. Saya terpesona akan betapa hebatnya perasaan cinta. Ternyata, cinta itu memang bersifat universal. Tanpa terkecuali, semua orang bisa “tergerak dan tersentuh” oleh cinta. Cinta bisa mendatangi siapa saja, bagaimanapun bentuknya. Cinta dalam bentuk pasif dan aktifnya itu sendiri, dicintai dan mencintai.

Jadi, seseorang akan dicintai karena perasaan mencintai orang lain. Dalam proses melakukan percintaan itu, yaitu mencintai, hingga akhirnya akan berbuah, yaitu dicintai. Mencintai yang besar dan penuh, yang menggulirkan suatu buah kemanisan, dan sebagai balasannya juga dicintai oleh orang lain secara penuh dan besar.

Saya mungkin bukan pecinta ulung, dalam arti kata paham akan arti dari mencintai dan dicintai. Saya hanya mencoba mengekspreskan suatu hal, cinta itu saja. Mengekspresikan apa yang saya lihat, saya jalani, dan apa yang saya rasakan. Tentulah dalam wawasan dan definisi saya sendiri.

Orang bilang bahwa cinta adalah anugrah dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Perasaan cinta yang akan melahirkan rasa syukur akan suatu nikmat. Melahirkan empati. Sebegitu hebatnya cobaan Tuhan terhadap hambanya. Mungkinkah ini juga bentuk Cinta dari Tuhan? Tetapi, itu dikemas dalam paket yang bernama cobaan?

Sebegitu kuasanya Dia sehingga kita harus rela dan ikhlas menerima dan menjalani skenario cobaan dari Yang Maha Berkehendak ini. Bagi Dia, semudah seperti membalikkan telapak tangan. Skenario, yang bagi ciptaannya itu kadang kala diartikan sebagai skenario baik dan buruk, padahal kita pasti mengakui bahwa skenario-Nya adalah yang terbaik buat kita. Karena, Dia adalah Sang Mahasutradara yang sesungguhnya.

Hari ini, sepertinya Tuhan telah menggugah dan melembutkan hati saya. Saat ini, dengan bersikukuh dan khidmat saya mendoakan kesembuhan untuk semua orang, yang sedang terbaring sakit, kepada satu-satunya, Sang Mahapenyembuh. Amin.[msa]

* Maria Saumi lahir di Jakarta, 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Ia adalah lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000. Maria adalah praktisi bidang investasi, dengan spesialisasi futures trading investment, dan saat ini bekerja di PT Sentratama Investor Berjangka, Sudirman, Jakarta. Ia juga alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari, 2009 dan dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at]yahoo[dot]com atau nomor telepon: 021-99111527.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox