Dua Sisi Kata

m sebastian wijayaOleh: M. Sebastian Wijaya*

Sebagai pembaca harian Kompas, suatu harian terbitan Ibu Kota, kolom yang hampir tidak pernah saya lewatkan ialah kolom Parodi yang ditulis oleh Samuel Mulia, seorang penulis mode dan gaya hidup. Kolom ini selalu disandingkan dengan rubrik Kilas Parodi dan muncul setiap hari Minggu. Sebelum saya bercerita lebih lanjut, ada baiknya kita melihat dulu definisi parodi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, parodi ialah; “Karya sastra atau seni yang dengan sengaja menirukan gaya, kata penulis, atau pencipta lain dengan maksud mencari efek kejenakaan atau cemooh”.

Seperti sudah bisa diterka dari definisinya, parodi, walaupun sering kali sifatnya ringan dan dibalut dalam kemasan humor, dimaksudkan untuk menyindir tetapi secara jenaka. Mengapa? Mungkin agar pembaca yang terkena sentilannya tidak memerah kupingnya. Bagi saya pribadi, tulisan-tulisan Samuel Mulia acap kali saya jadikan bahan refleksi, semacam cermin, atas perilaku saya sehari-hari.

Sebagai contohnya, di kolom Parodi Minggu 1 Maret 2009, judulnya “Sesuatu yang Indah”. Dan, judul Kilas Parodi-nya “Jiwa Baru, Mulut Baru”. Di sana intinya memberikan permenungan tentang kata-kata yang merontokkan dan kata-kata yang membangun. Saya tergelitik dengan artikel itu. Baik kita menyadarinya maupun tidak, baik kita jujur mengakui atau menyangkalnya, bukankah kita pun sering melakukan hal ini? Sering kata-kata kita, alih-alih membangun, menyemangati saja tidak. Bahkan, kadang-kadang cenderung merontokkan semangat lawan bicara kita.

Samuel Mulia menulis, dia marah ketika mendengar cerita temannya tentang dokter yang menangani seorang pasien, yang tak lain adalah teman dari temannya tadi, yang memilih kalimat yang tidak menyemangati. Perkataan yang tidak membangun itu dilontarkan ketika dokter tersebut memutuskan memangkas habis rambut si pasien, karena itu memang prosedur untuk masuk ke ruang steril. Kemudian, si teman melanjutkan ceritanya. Dokternya berkata, “Enggak papa-lah digundulin, toh nanti juga rontok dan gundul.”

Padahal, pada saat itu si pasien membutuhkan dukungan moril. Namun, dia malah mendapat kalimat yang semakin menekan mentalnya, justru pada saat kondisi fisik dan psikologisnya dalam keadaan rapuh. Setelah emosi Samuel Mulia berkurang, terlintas bahwa tadinya dia berpikir untuk mengusulkan supaya dokter-dokter juga perlu dididik dalam hal berbicara, diajarkan tata krama berkomunikasi, atau semacam mengikuti pelatihan public speaking.

Saya pernah mendengar cerita, ada seorang pasien yang berobat pada seorang dokter spesialis yang amat kondang karena kepiawaian ilmu kedokterannya. Dokter ini menjatuhkan vonis bahwa penyakit si pasien ini tidak akan tersembuhkan. Berpegang pada prinsip manusia wajib berusaha, si pasien yang konon seorang yang cukup berada, mengajukan satu pertanyaan atau pernyataan yang tersirat bahwa dia ingin mendapat second opinion dari dokter ahli di Jepang. Spontan si dokter menjawab bahwa percuma saja si pasien berobat ke mana pun karena dia tidak akan sembuh. “Namanya juga usaha,ujar si pasien yang akhirnya berangkat juga ke Jepang untuk berobat.

Peribahasa mengatakan, “Manusia berusaha, Tuhan menentukan”. Dalam hal ini mungkin bisa dipelesetkan menjadi “Dokter yang mendiagnosa penyakit, Tuhan yang menentukan usia manusia.” Singkat cerita, si pasien ini sembuh dari sakit yang dideritanya. Suatu hari sekembalinya ia ke Jakarta, ia mengetuk pintu kamar praktek dokter ahli yang pernah menanganinya. Apa yang ia lakukan? Apakah ia ingin melaporkan bahwa akhirnya ia bisa sembuh dan mengucapkan sepatah kata terima kasih? Tidak. Ia hanya ingin bertemu si dokter sejenak untuk melontarkan makian kepada dokter yang pernah dengan ketusnya memutlakkan, bahwa ia tidak akan sembuh walau ke mana pun ia berobat untuk mencari kesembuhan.

Dalam permenungan, saya teringat dengan salah satu materi pelatihan atau seminar yang pernah saya dapatkan, yang menjelaskan tentang sepuluh kebutuhan umum manusia, yaitu:

  1. Kebutuhan akan kasih sayang, yaitu suatu keinginan untuk dimiliki.
  2. Kebutuhan akan keunggulan, yaitu suatu keinginan untuk menang.
  3. Kebutuhan akan penghargaan, yaitu suatu keinginan untuk disanjung/dipuji.
  4. Kebutuhan akan keamanan, yaitu suatu keinginan untuk terlindungi.
  5. Kebutuhan akan ketamakan, yaitu suatu keinginan untuk mendapat lebih.
  6. Kebutuhan akan pengakuan, yaitu suatu keinginan untuk dihargai pribadinya.
  7. Kebutuhan akan kekuasaan, yaitu suatu keinginan untuk menjadi yang paling unggul.
  8. Kebutuhan akan kebebasan, yaitu suatu keinginan untuk memiliki ruang pribadi.
  9. Kebutuhan akan ego, yaitu suatu keinginan untuk merasa bangga diri.
  10. Kebutuhan akan kemerdekaan, yaitu suatu keinginan untuk mampu mengendalikan nasib diri sendiri.

Berangkat dari 10 kebutuhan umum manusia yang sudah saya sebutkan di atas, seyogyanya kita selalu mengeluarkan kata-kata yang membangun sekaligus membawa kesejukan. Ada baiknya kalau kita memandang sesuatu dari sudut yang positif dan membangun, serta dikomunikasikan secara positif juga. Walaupun, hal ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, kita toh tetap harus berjuang menjalankannya.

Apa yang bisa kita dapatkan dari permenungan di atas? Pertama, apa yang keluar dari mulut meluap dari hati. Kalau hati kita terpolusi, kata-kata yang keluar juga akan kotor adanya. Maka, rajin-rajinlah membersihkan dan menjaga hati kita, seperti ada sepotong lirik lagu, “Jagalah hati, jangan kau nodai.…” Kedua, apa yang kita tabur itu yang akan kita tuai. Contohnya sangat jelas dari cerita si dokter spesialis yang diceritakan di atas.[yan]

* M. Sebastian Wijaya adalah alumni Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Jurusan Akuntansi. Sekarang sebagai independent consultant di bidang finance, accounting, dan audit. Sebastian dapat dihubungi melalui pos-el: sebastianwijaya[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox