Kasih Sayang

lkkOleh: Lina Kartasasmita*

Seorang teman mengirim SMS kepada saya isinya: Lin, tulis mengenai hari kasih sayang untuk Valentine Day nih. Buat saya menulis itu harus dari hati. Tapi, bukan tidak mungkin untuk menulis tentang kasih sayang. Apalagi begitu hari Kasih Sayang sibuk dirayakan juga oleh generasi muda di Indonesia, di Facebook sudah banyak yang mengirimkan bunga dan coklat virtual. Ya, sepertinya tidak ada salahnya juga saya ikutan memberi tambahan sebuah tulisan.

Ketika orang menyatakan kasih sayang itu dengan bunga dan coklat. Saya terkesan dengan dua kenyataan akan kasih sayang yang saya lihat bersama teman-teman. Hari Sabtu itu, sebagai ketua panitia reuni saya mengumpulkan beberapa teman untuk mengunjungi guru-guru kami yang tidak dapat lagi hadir di reuni. Pertama adalah Pak Jon yang sudah hampir sepuluh tahun mengalami kelumpuhan akibat stroke. Kedua adalah Ibu Tjoan yang dulu cantik tapi sudah menderita parkinson selama bertahun-tahun. Apa yang menarik dari kunjungan saya itu adalah kasih sayang.

Pertama kali saya dan teman-teman mengunjungi rumah Pak Jon yang berada di sebuah gang, kami sangat-sangat terharu melihat beliau terbaring di tempat tidur dan tidak lagi dapat berbicara. Beliau adalah guru di Sekolah Menengah Pertama kami, beliau mengajar PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Pak Jon, seorang yang gagah dan bersuara jernih itu, kini tak lagi dapat bercerita tentang toleransi umat beragama, tidak lagi bisa mengajarkan artinya kerukunan antarsuku bangsa.

Satu hal yang kami semua rasakan sesuatu yang luar biasa adalah penampilan Pak Jon. Walaupun terbaring di tempat tidur, beliau mengenakan pakaian yang bersih dan rapi. Kami mulai mengamati perilaku istrinya yang ternyata merawat dengan penuh kasih. Ketika sang istri mengelus wajah Pak Jon, tampaklah kasih yang luar biasa. Walaupun sang istri mengurus segalanya sendiri, luar biasa rumah mereka tampak sangat bersih. Senyum di wajah sang istri itu mengingatkan kami semua yang hadir saat itu, bahwa ada kasih luar biasa dari seorang istri.

Seorang teman berkomentar, ”Luar biasa, rumahnya bersih sekali dan Pak Jon dirawat dengan sangat baik. Banyak orang yang mengalami kelumpuhan, dan dirawat oleh perawat saja sering kali tempat tidurnya masih tercium bau tidak enak. Ini luar biasa! Kamar Pak Jon bersih sekali” Berarti sang istri telah merawatnya dengan sepenuh hati. Itu hanya bisa terjadi karena adanya kasih.

Perjalanan kami lanjutkan dengan mengunjungi guru kami yang cantik Ibu Tjoan. Beliau dulu adalah guru Sekolah Dasar kelas satu. Ibu Tjoan masih dapat bercanda dengan kami dan mengingat kami, tetapi penyakit parkinsonnya harus diatasi dengan obat terus-menerus. Suami Ibu Tjoan adalah seorang yang penuh kasih sayang, begitu setia menjaga sang istri dan merawatnya terus-menerus.

Kedua kunjungan kami hari itu membawa pesan yang sarat akan kasih sayang. Bahwa, kasih sayang itu tidak luntur karena waktu dan tidak aus karena penyakit. Ketika orang sibuk menyatakan kasih sayang di hari Kasih Sayang, ada banyak orang yang tidak menyatakan kasih dengan bunga dan coklat, tetapi memberikan pengabdian dengan merawat sang kekasih.

Karena itu ada tertulis: Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong … (I Kor 13:4)

Selamat hari Kasih Sayang semua. Nyatakanlah kasih bukan hanya dengan bunga dan coklat, tapi nyatakan kasih hari lepas hari tanpa jemu dengan memberikan diri kita sendiri. Semoga setiap hari kita sanggup merayakan kasih sayang kepada sesama kita.[lk]

* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Tulisan-tulisan Lina terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Saat ini Lina sedang menyelesaikan penyusunan buku motivasi-inspiratif perdananya. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Ibu Bukannya Orang Indonesia?

lkkOleh: Lina Kartasasmita*

“Good teachers are costly, but bad teachers cost more.”

~ Bob Talbert

Sepuluh tahun lalu, seminggu sekali saya pergi berbelanja ke pasar swalayan di dekat rumah. Suatu kali saya melihat seorang anak berusia kira-kira sebelas tahun. Anak itu tampak mempunyai karakter yang baik dan berpakaian rapi. Dia tersenyum dan menghampiri saya yang agak kerepotan membawa barang belanjaan saya.

“Bu, boleh saya bantu?” dengan tersenyum anak laki-laki itu menawarkan jasa kepada saya.

Saya bertanya, Siapa nama kamu?”

Sigap dia menjawab, Udin, Bu.

Sejak perkenalan saya dengan Udin, dia selalu ada untuk membantu saya membawa barang belanjaan saya. Walaupun hanya bertemu seminggu sekali, saya cukup sering berbicang dengan Udin. Saya suka bertanya uang yang dia terima dengan menawarkan jasa akan dibelikan apa dan bagaimana pelajaran di sekolah. Rasanya saya cukup mengenal anak itu.

Saat itu bulan Mei 1998, terjadi kerusuhan di mana-mana. Beberapa hari saya tidak berani keluar rumah karena begitu mencekamnya suasana seperti yang saya saksikan di sekitar saya. Saya melihat orang-orang menjarah dan membakar toko-toko. Selang dua minggu saya memberanikan diri mengunjungi pasar swalayan tempat biasa saya berbelanja. Pasar swalayan itu tidak terkena dampak kerusuhan sama sekali. Tetapi, suasana mencekam masih terasa di sekitar pasar tersebut.

Udin tersenyum gembira melihat kedatangan saya. Dia bertanya, “Apa kabar, Bu? Kok Ibu tidak berbelanja beberapa minggu ini?

Saya menjawab, Saya tidak berani keluar rumah karena kerusuhan di mana-mana. Kamu di mana?

Udin bersemangat menceritakan, Oh saya ikut menjarah Bu menjarah ruko-ruko di dekat rumah saya.

Hati saya terkejut, sepertinya lenyaplah kebaikan di wajah Udin yang saya kenal selama ini. Saya bertanya, Kamu tidak kasihan dengan mereka?

“Tidak, Bu. Ayah saya bilang, saya boleh menjarah orang-orang keturunan itu karena mereka kaya dan tidak apa-apa menjarah mereka” Udin bercerita sambil sibuk membantu membawakan belanjaan saya.

Setelah menaruh barang belanjaan saya saya mengajak Udin duduk sebentar dan berkata, Udin, kamu tahu tidak kalau saya juga orang keturunan?”

Udin tampak terkejut. Lalu dia memandangi wajah saya dengan pandangan mata tidak percaya, Ibu bukannya orang Indonesia?”

Ya, saya orang Indonesia. Tetapi saya ini orang-orang yang disebut orang keturunan juga.

Wajah Udin memerah. Dia memandangi lantai. Saya melanjutkan, Din, apa yang dikatakan ayah kamu bahwa kamu boleh menjarah itu adalah salah. Siapa pun yang memiliki harta itu mereka juga bekerja keras untuk mendapatkannya. Mereka mungkin mengumpulkan bertahun-tahun untuk memiliki apa yang mereka punya. Dan, mereka juga mempunyai anak-anak yang harus mereka sekolahkan. Kamu tidak akan pernah tahu sampai di mana perjuangan mereka untuk memiliki semua yang tampaknya nyaman di mata kamu.

Mereka mungkin bangun lebih pagi dari kamu, berhemat untuk membangun rumah yang nyaman, dan banyak lagi yang mereka perjuangkan dalam hidup mereka, sama seperti perjuangan kamu. Yang jelas mereka punya hak yang sama untuk hidup di negeri ini sama seperti kamu,lanjut saya.

Udin tampak gelisah mendengar perkataan saya. Lalu saya bilang, Ya sudah saya mau pulang ya.... Semoga kamu tahu apa yang baik dan benar yang kamu harus lakukan dalam hidup kamu.

Udin memandangi saya dan berkata, Saya tidak tahu Ibu orang keturunan. Muka Ibu sama sekali berbeda dengan mereka….

Saya menepuk bahu Udin dan berkata, Apa pun warna kulit saya, apa pun warna mata saya, yang penting adalah warna hati saya. Kebaikan kita yang diperthitungkan Tuhan.

Sejak itu saya tidak pernah bertemu Udin lagi.

Satu hal yang sering kita lupakan bahwa kadang sebagai orang tua kita tidak mengajarkan kebenaran kepada anak-anak kita sehingga mereka tersesat di jalan kehidupannya. Sekarang saat saya menulis artikel ini, si Udin pastilah sudah berusia sekitar 21 tahun. Saya tidak pernah bertemu Udin lagi memang. Namun saya hanya berharap percakapan kami yang hanya sesaat itu bisa mengubah pandangannya yang salah. Ya semoga saja….[lk]

* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Tulisan-tulisan Lina terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 5 votes)

Cintai Dirimu Sebelum Orang Lain Mencintaimu

lkkOleh: Lina Kartasasmita*

“Learning to love yourself is the greatest love of all.”

~ Michael Masser and Linda Creed

Masih ingat waktu kecil ada lagu… Bukan yang congkak, bukan yang sombong yang disayangi handai dan taulan…” Lagu di zaman Taman Kanak-kanak itu menjadi lagu yang mengajarkan kita bahwa kita tidak boleh sombong agar disayangi orang. Zaman sekarang istilah sombong sudah jarang didengar. Kita lebih sering mendengar “Wah, narsis tuh!” Tetapi, bagaimana ya walaupun tidak sombong kita juga tidak disayangi orang? Rasanya menarik juga membahas hal ini.

Waktu kecil, kalau ayah saya memuji saya, Wah anak saya ini rajin belajarnyasaya langsung mengatakan, Iya dong…” Tetapi, sering kali muncul tanggapan orang, Air laut tuh siapa yang garamin?!” (dibaca: “Ini anak menyombongkan diri sendiri) Dengan polos dan lugu saya menjawab sesuai dengan buku cerita yang banyak saya baca, Lumpang ajaib.” Kadang kala kita dihadapkan pada pilihan mengakui bahwa kita memang luar biasa, atau menghitung diri kita sebagai orang biasa-biasa saja. Bahkan, kita sering jadi rendah diri karena di lingkungan kita tidak lazim mengakui bahwa kita ini orang baik, orang yang berprestasi, dan orang yang berharga.

Dalam hidup banyak orang yang tidak pernah mencintai dirinya sendiri, tidak pernah melihat kelebihannya, dan yang ada selalu membanding-bandingkan dengan orang lain. Pepatah menyatakan “sehijau-hijaunya rumput sendiri masih lebih hijau rumput tetangga. Jadilah kita orang-orang yang bukan rendah hati tetapi mala rendah diri. Beda sekali rasanya kalau kita bisa melihat diri kita sebagai orang yang luar biasa, orang yang punya kemampuan, dan tidak perlu membandingkan hidup kita dengan orang lain.

Ada keiklasan bagi kita untuk menerima bilamana orang lain lebih berhasil dari kita. Ada kebahagiaan tersendiri bilamana kita mampu melakukan suatu pekerjaan bukan lagi berorientasi kepada hasil tetapi kepada proses yang telah kita lalui. Saya ingat sekali ketika saya pulang sekolah dan menangis karena saya tidak bisa membuat prakarya menjahit. Ayah saya mengatakan, “Sudah jangan menangis. Itu sudah bagus, sudah kelihatan seperti baju. Kalau teman kamu bisa membuatnya lebih bagus dari kamu, itu karena teman kamu lebih ahli dari kamu. Tetapi, kamu sudah belajar menjahit dan tahu cara menjahit. Itu sudah ilmu buat kamu walaupun kamu tidak mahir melakukannya. Usaha kamu yang lebih penting bukan hanya hasil.

Wah, itu penghiburan yang paling indah di telinga saya waktu itu. Saya jadi senang mengetahui bahwa prakarya saya itu adalah karya pertama saya. Saya bangga telah meluangkan waktu dan tenaga untuk belajar melakukannya dengan benar. Walaupun saya melihat adanya jahitan yang tidak lurus dan tidak sempurna. Hasilnya mungkin tidak sempurna, tetapi saya telah melalui setiap tahapan itu dengan segenap kemampuan saya, dan itu adalah suatu perjalanan sempurna. Saya tidak pernah lupa bahwa saya diberikan kelebihan oleh Tuhan dalam bidang lain yang mungkin teman-teman saya tidak mahir di bidang itu.

Belajar mencintai dan menerima diri sendiri apa adanya adalah suatu berkat, suatu pencerahan bagi hidup kita. Cintai diri kita sebelum orang lain mencintai kita, ketika kita mencintai diri kita dan menghargai diri kita, orang lain akan melihat nilai itu dalam diri kita. Dan, itulah saatnya kita menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa.[lk]

*Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Tulisan-tulisan Lina terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (13 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +7 (from 7 votes)

Sisi Positif dari Rasa Tersisih

lkk1Oleh: Lina Kartasasmita*

“If you judge people, you have no time to love them.”

~ Mother Teresa

Marshanda stres, beberapa waktu lalu berita itu muncul di mana-mana. Banyak komentar seputar artis cantik dan muda belia ini. Saya menyempatkan diri untuk melihat video Marshanda, bukan untuk mencari gosip, tetapi saya prihatin dengan Marshanda. Dalam video tersebut Marshanda menyebutkan dia mempunyai masalah dengan teman-temannya di sekolahnya. Tepatnya, seperti apa yang dialami Marshanda secara detail saya tidak tahu, tetapi saya pun memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan seperti yang dialami Marshanda. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat kita mencari teman kadang tidak selalu menjadi tempat yang menyenangkan.

Saya terlahir dari pasangan keturunan Tionghoa yang telah turun-menurun tinggal di Indonesia. Sejak lahir rambut saya berwarna merah kecoklatan dan bola mata saya berwarna coklat. Warna rambut dan mata saya menjadi tidak lazim bagi sebagian orang. Jelas saya sangat berbeda ketika berada di antara teman-teman. Di sekolah banyak sekali yang suka mengolok-olok saya. Mereka mengatakan, saya ini bukan orang Indonesia dan juga bukan orang Tionghoa. Mereka memberi saya julukan yang aneh-aneh. Sering kali saya merasa tersisih dan sendirian di antara teman-teman sebaya saya.

Perasaan itu membuat saya mencari dunia saya sendiri. Saya sering bercerita kepada ibu saya, sehingga beliau juga berupaya menghitamkan rambut saya dengan memberikan berbagai ramu-ramuan. Rambut saya memang mulai menghitam atau lebih tepatnya lebih hitam kecoklat-coklatan, tetapi jelas tidak lagi tampak merah kecoklatan. Namun, itu tidak mengubah julukan dari teman-teman saya.

Hingga kini, ibu saya masih menyimpan potongan rambut saya yang berwarna merah kecoklatan. Padahal, sekarang ini banyak sekali orang yang mewarnai rambutnya yang hitam menjadi merah kecoklatan. Kalau saja di era saya kecil warna merah kecoklatan itu menjadi tren, pasti saya menjadi anak yang paling popular dan bukan lagi menjadi korban olok-olokan.

Saya menjadi bosan dengan julukan-julukan aneh itu dan bosan memikirkan bagaimana penampilan saya seharusnya. Saya memilih dunia saya sendiri. Kalau mereka memang membedakan saya dan berpikir saya memang beda, saya harus jadi diri saya sendiri walaupun saya harus berjalan ke arah yang berbeda dari kebiasaan remaja pada umumnya.

Setiap hari sepulang sekolah saya lebih sering mengunci diri di kamar dan membaca. Dari era majalah Bobo dan Kuncung, hingga kisah Mahabarata sampai Siti Nurbaya, dari pengarang Marga T hingga Sydney Sheldon, dari komik sampai kitab filsafat. Semua jadi sahabat setia saya. Julukan yang diberikan oleh keluarga saya adalah “si kutu buku”. Saya tengelam dalam bacaan yang mengasyikan dan menimbulkan kecintaan saya kepada karya sastra. Saya memilih buku sebagai sahabat terbaik saya. Saya akan berburu buku-buku sebelum liburan tiba dan saya selalu berupaya mendapat nilai baik agar ayah saya membelikan buku-buku kesukaan saya. Hidup tanpa buku jauh lebih menderita bagi saya dibandingkan tanpa teman.

Ketika saya membuat kilas balik dari perjalanan hidup saya hingga kini, saya bersyukur karena saya dibedakan oleh teman-teman saya. Sehingga, saya tidak pernah punya teman bermain di luar rumah. Saya pun harus mengurung diri di kamar, membaca banyak buku, dan itu membuat saya menjadi kaya akan ilmu pengetahuan. Kalau tulisan ini kembali mendapat tempat di www.andaluarbiasa.com, berarti masa sulit saya ketika kecil telah dipakai Tuhan untuk mempersiapkan saya berkarya seperti sekarang.

Adakalanya ketika kesulitan itu datang dalam hidup kita, kita sulit melihat setitik cahaya terang atau sisi positif dari setiap peristiwa yang kita alami. Yang dibutuhkan hanyalah waktu untuk memahami dan melalui segala sesuatu dengan respon yang positif pula.

Di dalam masyarakat umum memang sulit untuk terus bisa menjadi positif. Karena, orang suka sekali memberi penilaian dan lebih mudah menilai yang negatif daripada menilai yang positif. Seperti pepatah mengatakan, semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak. Berapa sering juga kita menilai orang sehingga sulit bagi kita menerima orang itu apa adanya. Tetapi, yang lebih memprihatinkan adalah kita tidak mampu menerima diri kita sendiri dan tidak mampu mencintai diri kita apa adanya.

Marshanda stres, kita juga bisa stres. Kita bisa merasa tersisih di antara teman-teman kita, tetapi hidup ini pilihan. Jadi, pilihlah untuk selalu positif dalam hidup karena segala sesuatu ada hikmahnya.[lkk]

*Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Tulisan-tulisan Lina terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

UA:A [1.6.4_902]
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.8/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Menjadi Busur bagi Anak-anak Kita

lkkOleh: Lina Kartasasmita*

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri

Mereka dilahirkan melalui engkau tetapi bukan darimu

Meskipun mereka ada bersamamu tetapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tetapi bukan pikiranmu

Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tetapi bukan jiwa mereka

Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tetapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu

Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh

Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan

Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan penuh kekuatan

~ Khalil Gibran (dari “Cinta, Keindahan, Kesunyian”)

Setiap kali saya membaca karya besar Kahlil Gibran ini, saya selalu merasakan begitu dalam dan indah makna yang diungkapkannya. Karya ini mengajarkan banyak hal dalam hidup saya. Tulisan ini menjadi pedoman untuk saya menjadi ibu yang lebih baik bagi anak-anak saya. Pengalaman hidup selalu menjadi guru yang baik dan inspirasi dari tulisan karya Khalil Gibran menjadi suatu motivasi saya untuk tidak hanya terinspirasi tetapi juga menerapkan dalam hidup saya.

Ketika putri pertama saya lahir, saya mempunyai mimpi-mimpi untuk dia, mengharapkan dia menjadi seperti yang saya inginkan. Saya membisikkan dalam hati saya, “Nak, kamu harus menjadi seorang yang pandai dan kamu akan belajar ini dan itu.” Sampai suatu hari, saya membaca tulisan Khalil Gibran dan merenungkan dalam-dalam maknanya.

Suatu kesadaran muncul di hati saya. Sesungguhnya, bisikan dan harapan saya itu adalah mimpi dan harapan saya sebagai orang tua, dan itu bukan milik anak saya. Saya menilik kembali, banyak dari impian itu adalah keinginan atas diri saya sendiri yang tak mampu saya penuhi. Alangkah naifnya saya membebani seorang anak untuk menjadikan dirinya sebagaimana saya sendiri. Saya seolah mencuri hal yang paling berharga yang dimilikinya, yaitu mimpinya sendiri. Sejak saat itu, saya tidak lagi memberi mimpi saya untuk anak saya. Saya hanya menjadi pendorong dari mimpi-mimpi dan harapan anak saya.

Pelajaran ini bukan hanya berlaku untuk anak-anak saya tetapi juga berlaku untuk anak didik saya. Suatu pengalaman yang bisa saya bagikan adalah, suatu hari saya harus menghadapi seorang ibu yang marah kepada anaknya karena membolos. Saat seorang guru memberitahu ibu tersebut bahwa anaknya membolos beberapa hari, ibu tersebut marah besar, memaki, memukuli anaknya. Saya terpaksa melerai ibu tersebut dengan susah payah.

Saya hanya mampu berkata, ”Maaf Ibu, anak Ibu menjadi anak yang pemarah dan sulit ditegur karena Ibu memperlakukan dia seperti ini.

Ibu tersebut memandang saya dengan marah dan berkata,Ibu tidak tahu betapa sulit saya mengajar dia…!

Saya hanya bisa berkata,Mengajar atau menghajar, Bu?”

Betapa sulit bagi kita sebagai orang tua untuk mengendalikan kemarahan kita, kekecewaan kita, terhadap anak-anak kita. Berawal dari pengharapan kita sebagai orang tua yang selalu berpikir anak-anak kita harus mengikuti apa yang kita inginkan. Dan, bilamana hal itu tidak tercapai, amarahlah yang kita tumpahkan kepada mereka.

Kalau menilik apa yang tuliskan oleh Khalil Gibran, anakmu bukanlah milikmu, rasanya sebagai orang tua kita keliru menerapkan mimpi dan keinginan kita kepada anak-anak kita. Anak-anak kita memiliki impiannya sendiri, memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak kita miliki. Mengharapkan mereka untuk menjadi yang lebih baik dari kita adalah suatu tujuan yang luhur. Tetapi, sering kali kita lupa, anak-anak kita belajar dan mencontoh dari apa yang kita lakukan setiap hari.

Kalau kita selalu marah dan tidak dapat mengendalikan emosi, begitu pula anak-anak kita akan meniru dan menerima hal itu sebagai nilai yang wajar. Dan, seperti pepatah mengatakan “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Sesungguhnya, itu menggambarkan bagaimana kita sebagai orang tua yang telah banyak berperan dalam pembinaan sikap dan perbuatan anak-anak kita. Kita adalah guru pertama mereka. Tanpa kita sadari, kitalah yang menurunkan sikap-sikap itu kepada anak-anak kita.

Betapa miskinnya kita, kalau tidak mampu melihat kelebihan anak-anak kita dan menjadikan kita miskin akan pujian atas keberhasilan anak-anak kita. Betapa pedih hati anak-anak kita yang mimpinya terampas oleh keinginan orang tuanya. Kapan kita terakhir memuji mereka dan memberikan mereka semangat? Berapa kali kita menilai seorang anak hanya dari hasil akhir sebuah laporan nilai sekolah? Lupakah kita bahwa anak-anak kita mengalami kesulitan ketika mereka belajar? Proses anak-anak kita melawan kesenangan dirinya dan belajar adalah suatu proses pembentukan kepribadian. Tetapi hal ini menjadi luput dari pengamatan kita.

Bagi kita sebagai orang tua tidak ada kata berhenti belajar, di dunia ini tidak ada sekolah yang mengajarkan kita menjadi orang tua yang baik. Yang kita butuhkan adalah memahami arti kebutuhan dasar anak-anak kita. Mereka butuh dicintai, dihargai dan dilindungin. Setiap kemarahan kita, hendaklah kita jelaskan mengapa kita marah, mengapa kita kecewa sehingga kita tetap menjaga agar hati anak-anak kita tidak menjadi tawar dan kehilangan kasih.

Bisakah kita menjadi pemanah yang menarik busur dengan kegembiraan? Bisakah kita menjadi orang tua yang penuh kegembiraan membimbing anak-anak kita meraih mimpi dan harapannya? Kita bisa belajar dari Khalil Gibran.[lkk]

*Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Hasil karya tulisan terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.7/10 (15 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +9 (from 9 votes)

Pelajaran Berharga dari Seorang Ayah

lkk1Oleh: Lina Kartasasmita*

“In this life we cannot do great things. We can only do small things with great love.”
~ Mother Teresa

Tanggal 15 September 1995, ketika saya terkejut mendengar berita bahwa ayah saya meninggal dunia di Innsbruck, Austria. Itu adalah perjalanan terakhir ayah saya. Dia sebenarnya mempunyai banyak rencana untuk berpergian dengan saya. Saya bertanya kepada Tuhan,Kenapa Tuhan? Saya masih membutuhkan ayah saya, saya masih ingin mendengar ceritanya, dan saya masih membutuhkan cintakasihnya….

Saya berupaya memahami itu adalah kehendak Tuhan. Dan, saya berusaha menerima bahwa ada rencana Tuhan yang indah di balik kepahitan itu. Tetapi, hati saya terus menyangkal bahwa ayah saya sudah pergi. Ketika saya meratapi kepergian ayah saya, sebenarnya saya mendapatkan pelajaran yang bijak dari ayah saya.

Ketika orang-orang mendatangi rumah duka, saya mendengar orang-orang membicarakan ayah saya. Suatu cerita sederhana yang tidak akan saya lupakan. Saya melihat ada banyak kue di saat acara pemakaman. Padahal, saya tidak memesan kue-kue tersebut dan kala saya bertanya kepada sanak keluarga, tidak seorang pun mereka yang memesan kue-kue tadi. Saya berpikir ada kesalahan dan ingin mengembalikan kue-kue itu.

Namun, seorang wanita tua sederhana menghampiri saya. Dengan mata berkaca-kaca, dia berkata, “Itu kue-kue dari saya. Beberapa tahun lalu saya datang kepada Bapak untuk meminjam uang. Bapak memberikan uang dan dia berkata saya bisa mempergunakan uang itu untuk anak-anak saya. Dan, Bapak tidak pernah meminta kapan uang itu dikembalikan. Bapak bahkan tidak bertanya di mana saya tinggal dan bapak tidak kenal saya dengan baik. Dengan uang itu saya membuat kue dan berjualan kue, sampai saya bisa menyekolahkan anak-anak saya hingga sekarang. Saya mendengar Bapak meninggal dunia. Saya tidak pernah punya kesempatan mengucapkan terima kasih kepada Bapak. Saya hanya bisa membawakan kue-kue ini. Tolong diterima.

Saat itu, saya tidak sanggup berkata sepatah kata pun. Saya tidak mengenal dia dan tidak seorang pun dari keluarga saya mengenal dia. Ceritanya begitu menyentuh hati saya. Ayah saya telah melakukan kebaikan tanpa seorang pun tahu.

Terlintas dalam pikiran saya, nasihat sederhana dari ayah saya, “Saya ingin kamu memiliki segala sesuatu yang berharga di mana tidak seorang pun bisa mencurinya dari kamu. Saya ingin kamu menyimpan kenangan dalam pikiran kamu, dan saya mau kamu mengisi pikiran kamu dengan ilmu pengetahuan dan kebijakan. Hidup yang sederhana, tetapi kaya dalam pikiranmu. Buat hidupmu punya arti, temukan kecantikan di dalam dirimu, dan bersinarlah di antara orang-orang. Bilamana tidak satu pun yang dapat kamu berikan, berikan senyum, berikan semangat, dan kekuatan kamu.

Saya menyadari nasihat itu mempunyai arti yang dalam. Saya belajar bahwa tidak satu pun yang dapat saya bawa di hari pemakaman saya. Orang tidak akan menghitung berapa banyak uang yang saya miliki dan berapa banyak mobil yang saya punya, atau berapa banyak koleksi barang berharga saya. Orang hanya akan mengingat kebaikan yang pernah saya lakukan untuk mereka. Saya tidak perlu menjadi kaya untuk menolong orang. Saya bisa memberikan mereka kasih sayang, semangat, atau hanya sebuah senyuman. Itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi yang membutuhkan.

Ayah saya tidak lagi bersama saya, tetapi nasihat dan kebijakannya tetap tinggal dalam pikiran saya. Saya bisa mengerti Kebenaran nasihatnya dari setiap peristiwa sederhana dalam hidup ini.

Hidup ini singkat, apa yang bisa kita bawa dari dunia ini hanya kenangan dan apa yang bisa kita tinggalkan juga hanya KEBAIKAN bagi orang-orang di sekitar kita.[lkk]

* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 13 Maret 1966. Suka menulis sejak kecil dan mencintai dunia pendidikan. Hasil karya tulisan terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.7/10 (22 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +13 (from 15 votes)

Yang Tersirat dari Film King

lkkOleh: Lina Kartasasmita*

Saya teringat ketika belajar bahasa Indonesia, saya diminta membahas apa yang tersirat dan tersurat (tertulis) dari suatu karangan atau karya penulisan. Ternyata, pelajaran itu tertanan dalam-dalam di pikiran saya. Biasanya, kita hanya membaca yang tertulis tanpa memahami apa yang tersirat di dalam tulisan tersebut. Hal itu pula yang membuat kita salah arti atau bahkan tidak mampu menyerap pesan-pesan dari seorang pengarang.

Dua hari lalu saya mendapat kesempatan menonton film hasil karya anak bangsa sendiri, yaitu film King. Bagi yang telah menyaksikan film tersebut tentu telah mengetahui jalan ceritanya. Ketika saya menonton King, duduk disamping saya seorang ayah dan dua orang anak remajanya. Ketika film berlangsung, sang ayah sibuk menceritakan bagaimana jalan kisah filmnya. Ah… ingin saya marah rasanya karena komentarnya telah mengganggu konsentrasi saya. Tetapi, saya sadar saya tidak perlu berdebat dengan orang yang tidak saya kenal. Si ayah itu tidak mengetahui bahwa jalan cerita King sudah tentu dapat dimengerti oleh anak-anaknya. Tetapi, justru yang mungkin tidak dapat dipahami adalah pesan-pesan yang tersirat dari film tersebut.

King menceritakan perjuangan seorang anak bernama Guntur, yang hidup sangat sederhana hingga mampu meraih cita-citanya menjadi pemain bulu tangkis nasional. Dari cerita yang sederhana itu, saya mendapat banyak hal tersirat. Pertama dari hubungan antara Guntur dan ayahnya, seorang ayah yang sesungguhnya mencintai anaknya, dan berupaya semampunya memberikan yang terbaik. Tetapi, sang ayah tidak mampu mengungkapkan kasih sayangnya dalam bentuk kata-kata.

Ini banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari yang mana para ayah sulit mengungkapkan rasa kasihnya kepada anaknya. Akibatnya, banyak anak remaja yang tidak memahami apa yang telah diperjuangkan oleh ayahnya karena tidak adanya komunikasi yang terbuka. Saya temui kisah-kisah kekakuan hubungan antara ayah dan anak. Mungkin, itu karena citra yang telah tertanam yang mana seorang ayah tidak perlu mengungkapkan rasa sayang dengan kata-kata. Sesungguhnya, setiap anak mempunyai kebutuhan yang sama untuk mengetahui bahwa dia dicintai.

Dalam King, ungkapan yang mampu disampaikan oleh ayah Guntur adalah: “Menang atau kalah kau tetap anakku!” Ungkapan paling sederhana bahwa cinta kasih orang tua tidak ditentukan oleh kondisi anaknya atau diukur dengan prestasi. Sekilas itu hanya kalimat biasa saja, tetapi maknanya menjadi sangat dalam. Kalau saja maksudnya begitu, kita bisa mudah mengucapkan demikian, “Aku mengasihimu, Nak….

Tokoh kedua bernama Raden, seorang sahabat baik Guntur yang selalu rela berkorban untuk membantu sahabatnya keluar dari kesulitan-kesulitan. Raden adalah tokoh penting atas keberhasilan Guntur, di samping ayah dan teman-teman lainnya. Dalam hidup, kita sering kali luput menghitung orang-orang yang telah berjuang untuk membantu keberhasilan kita. Apakah itu orang tua kita, saudara, sahabat, atau sekadar orang-orang yang membantu pekerjaaan kecil kita sehari-hari. Selalu saja ada orang-orang yang bekerja di belakang layar yang membuat kita berhasil meraih apa yang kita inginkan.

Keberhasilan kita tidaklah dapat kita capai sendiri. Selalu ada orang-orang yang mendampingi atau menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita. Dalam King, Raden begitu tulus membantu sahabatnya. Dan, yang dia inginkan bukan hanya melihat Guntur sebagai pemain bulutangkis nasional, tetapi juga menaruh pengharapan lain supaya Guntur membawa nama Indonesia di kancah dunia. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita yang sering kali melihat hanya sebatas kulit luarnya saja. Di sini kita melihat sikap seorang anak yang bersahaja, yang tidak egois dengan kepentingan pribadinya, tetapi lebih kepada kepentingan bangsa dan negaranya.

Salut saya untuk Ari Sihasale yang mau memproduksi film seperti ini. Bangsa kita haus untuk mendapat pesan-pesan moral yang baik. Dan, biarlah apa yang tersirat juga dapat dicerna dengan mudah.[lkk]

* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 13 Maret 1966. Suka menulis sejak kecil dan mencintai dunia pendidikan. Hasil karya tulisan terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (13 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +12 (from 14 votes)

Pendidikan Anak: Lebih Cepat Lebih Baik?

lkk1Oleh: Lina Kartasasmita*

“Essentialists hope that when students leave school, they will possess not only basic skills

and an extensive body of knowledge, but also disciplined, practical minds,

capable of applying schoolhouse lessons in the real world.”

~ William C. Bagley

Motto “Lebih cepat lebih baik” terdengar di mana-mana beberapa waktu lalu karena adanya kampanye pemilihan presiden. Sebagai orang tua saya sempat tergelitik dengan motto ini. Beberapa tahun lalu, dan bahkan sampai sekarang ini, ada penawaran jalur pendidikan yang lebih singkat melalui program akselerasi atau program foundation dari college.

Sebagai orang tua dari dua orang anak saya sempat tergoda untuk memasukkan anak saya ke program sekolah akselerasi. Perhitungan bahwa anak-anak akan lebih cepat meraih gelarnya, menyelesaikan sekolah di usia muda, dan perhitungan biaya pendidikan yang dapat dihemat. Saya sempat membicarakan hal ini dengan keluarga dan berdiskusi dengan anak-anak saya. Sepertinya, lebih cepat lebih baik itu menjadi prioritas pertimbangan kami.

Perjalanan hidup ini memang aneh, campur tangan Tuhan tidak dapat dielakkan dalam kehidupan. Saat saya siap untuk memasukkan anak-anak ke program akselerasi, suami saya mendapat tugas ke luar negeri sehingga anak-anak harus mengikuti kepindahan tersebut. Sesampai di negara tujuan, saya tidak melihat adanya program akselerasi di negara tersebut. Tetapi, saya terus mencari tahu mengenai program lebih cepat lebih baik.

Dalam pencarian saya, saya bergabung dengan sekelompok ibu-ibu rumah tangga yang menyelenggarakan parenting class. Kegiatan itu merupakan kegiatan diskusi antar-orang tua mengenai apa yang kita bisa dilakukan sebagai orang tua dalam mempersiapkan anak-anak remaja menghadapi dunia yang lebih luas. Di suatu diskusi saya sempat melontarkan keinginan saya agar anak saya dapat mengambil program sekolah yang lebih cepat. Diskusi itu menjadi topik menarik dan saya mendapat masukan berharga dari teman-teman saya. Tidak diragukan bahwa sebagian besar anak yang pandai pasti mampu belajar lebih cepat dan menyelesaikan pendidikan akademiknya lebih cepat.

Di balik semua itu sebenarnya kita mendorong anak secepat mungkin mengambil tanggungjawab yang lebih besar dalam hidupnya. Secara akademik mereka mampu menjalaninya. Pertanyaan terbesarnya, bagaimana dengan perkembangan mental dan kepribadian anak tersebut? Yang harus kita persiapkan adalah seorang anak yang mampu mengambil “keputusan yang lebih benar dan lebih baik dalam kehidupannya”.

Hidup seorang anak itu tidak hanya harus mempergunakan ilmu pengetahuannya tetapi mereka dituntut mampu menggambil keputusan yang bijaksana dalam hidupnya. Oleh karena itu, parenting class membahas bagaimana mempersiapkan anak dalam pergaulan sehari-hari, menghadapi godaan seksual, mengatasi masalah-masalah emosional dan motivasi. Saya belajar banyak dari diskusi-diskusi dengan teman-teman saya dan saya juga melakukan riset mengenai perkembangan usia anak dengan rentang tanggung jawab yang mampu mereka hadapi. Akhirnya, saya memutuskan tidak memilih jalur “lebih cepat lebih baik” untuk anak saya.

Tiga tahun saya mengikuti kelas diskusi parenting tersebut, sampai akhirnya saya kembali ke Tanah Air. Tahun 2008 saya mendapat kesempatan menjadi dosen paruh waktu di sebuah institusi pendidikan. Saya harus menghadapi anak didik dengan usia muda tetapi mengambil program persiapan masuk universitas. Program ini seperti motto lebih cepat lebih baik, dan di sisi lain saya juga mengajar anak didik yang telah menyelesaikan pendidikan formalnya melalui jalur normal.

Kenyatannya saya mengalami banyak persoalan dengan anak-anak yang lebih muda karena mereka tidak siap untuk mengambil keputusan yang tepat dalam hidupnya. Saya menghadapi lebih banyak kendala dari program lebih cepat lebih baik, karena faktor kematangan pola berpikir anak-anak tersebut. Ternyata, banyak kebenaran terungkap dari hasil riset saya. Dalam mendidik anak faktor waktu sangat menentukan kedewasaaan anak. Pembentukan kepribadian anak tidak dapat dipercepat waktunya. Seorang anak membutuhkan waktu supaya mampu menyerap nilai-nilai moral dan kebenaran dalam hidup.

Sebagai orang tua kita sering terpedaya dengan tawaran-tawaran menarik dan memiliki nilai ekonomis. Kita jadi lupa bahwa nilai kehidupan itu bukan sesuatu yang instan untuk dicerna. Dibutuhkan waktu, pengalaman pribadi, dan pengembangan diri untuk mencapai suatu pemahaman yang benar.

Mendidik anak-anak kita bukan untuk menjadikan mereka lebih cepat lebih baik, tetapi mendidik mereka untuk mengambil “keputusan yang lebih benar dan lebih baik”.

Tugas kita sebagai orang tua membentuk anak-anak kita menjadi manusia yang seutuhnya, seimbang perkembangan kepribadian dan kepandaian akademisnya.[lkk]

* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 13 Maret 1966. Suka menulis sejak kecil dan mencintai dunia pendidikan. Hasil karya tulisan terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.8/10 (21 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +9 (from 9 votes)

Selagi Masih Ada Waktu

lkkOleh: Lina Kartasasmita K.*

Kematian Michael Jackson yang mendadak, mengejutkan dunia dan seolah-olah waktu terhenti sejenak. Berita seputar kenangan yang terus-menerus seolah ingin membangkitkan kembali kehidupan Michael di hati pengemarnya. Ungkapan kesedihan yang tak rela melepaskan kepergiannya seakan berkata Michael terlalu muda untuk meninggalkan dunia, Michael seharusnya masih mampu berkarya bagi dunia yang ditinggalkannya. Semua itu terhenti karena waktu.

Sering kali kita merasa terkejut atas peristiwa kehilangan mendadak, seperti tokoh setenar Michael Jackson. Beberapa tahun lalu dunia pun gempar ketika Lady Diana meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Berita itu menjadi buah bibir setiap orang. Sesungguhnya, siapa pun di antara kita akan pergi meninggalkan semua yang kita miliki. Waktu yang tidak kita ketahui itu akan datang. Dan, dalam hidup orang tidak menyadari betapa berharganya waktu.

Kadang kala kita membaca ungkapan, seandainya waktu dapat di putar kembali, seandainya masih ada waktu. Seandainya kita bijak memakai waktu kita….

Sedemikian banyak ungkapan yang bisa memberikan kita pelajaran kehidupan. Selagi masih ada waktu kita mempergunakan waktu itu dengan tidak bijaksana. Selagi kita terlena dengan kesenangan, kita lupa bahwa ada prioritas lain dalam hidupyang akan kita sesali di kemudian hari karena waktu yang terlewat. Perjalanan kita ditentukan dari waktu yang kita telah lewati. Ada orang yang berjuang keras di masa lalunya, mempergunakan waktunya dengan bijak, disiplin mempergunakan waktunya. Di sisi lain ada yang mempergunakan waktunya dengan tidak bijaksana, memanjakan dirinya, dan tidak disiplin. Kita sering lupa apa yang kita miliki hari ini adalah hasil investasi kita atas waktu yang lampau.

Selagi masih ada waktu, kita bisa memikirkan hidup kita “saat ini”. Bagi yang belum menyadari buah-buah kehidupan kita di tentukan akan apa yang kita hasilkan dari waktu yang kita lampaui. Ada baiknya kita mulai saat ini untuk mempergunakan waktu dengan bijak,selagi masih ada waktu”.

Selagi masih ada waktu, perbaiki hubungan kita dengan orang tua kita, perbaiki hubungan kita dengan anak-anak kita, perbaiki metode kerja kita, cara berpikir, dan cara kita memandang kehidupan ini. Selagi masih ada waktu itulah yang memberikan kita makna hidup dan arti hidup kita.

Waktu itu menjadi berharga bilamana kita bijak mempergunakannya. Tetapi, waktu juga menjadi musuh yang diam-diam meninggalkan kita ketika kita lengah. Banyak sekali aspek kehidupan yang tidak dapat kita lakukan secara instant. Kita butuh waktu panjang seperti menanamkan nilai-nilai kebenaran, mendidik anak, membangun karakter, dan memperbaiki hubungan. Semua itu membutuhkan waktu yang cukup panjang. Kadang kala kita melupakan hal itu karena kita berpikir, “Ah, masih ada waktu. Dan kita terlena, berleha-leha. Ketika sampai waktunya, kita baru menyadari seandainya kita bisa kembali ke waktu itu. Kini saat kita merenungkan sejenak apa arti waktu yang kita miliki sekarang ini, apa yang kita bisa ubah saat ini dan mengubah diri kita menjadi orang yang lebih menghargai waktu.

Selagi masih ada waktu mari kita hargai waktu ini…. Saat ini dan kita membangun kenangan yang tak terlupakan untuk orang-orang yang kita kasihi.[lkk]

* Lina Kartasasmita K., lahir di Jakarta 13 Maret 1966. Suka menulis sejak kecil dan mencintai dunia pendidikan. Hasil karya tulisan terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Email: Lkartasasmita@hotmail.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.1/10 (22 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 7 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox