Anjing Menggonggong Tidak Menggigit

lc2Oleh: Lily Choo*

Di pagi hari 2010, saya berkesempatan menikmati makan pagi bersama teman di Hotel Renaissance Melaka. Kami melanjutkan bahasan semalam mengenai tidak amannya beberapa wilayah di Malaysia, dari perampokan, penjambretan, dan pencurian. Sebenarnya saya punya banyak cerita tentang betapa bahayanya jalanan di negara Jiran ini, namun tidak sepatah pun keluar dari mulut. Tidak berniat menambah seinci atau bahkan satu sentimeter kekuatiran teman saya ini dengan kisah nyata. Adanya wanita Indonesia yang mengantar ibunya berobat di Melaka terpaksa dirawat setelah jatuh terhempas di aspal karena ada yang menjambret tas tangannya dari atas motor. Beliau malah menghembuskan nafas lebih cepat daripada ibunya yang sakit.

Rupanya temanku sering membaca berita kriminal di Malaysia sehingga rasa kuatir dan cemas terpancar di wajahnya dan terdengar di setiap perkataan mereka. Banyak penjambret motor mengakibatkan yang korban jambret kehilangan uang dan nyawa. Tidak heranlah bila sang suami tetap tidak memperbolehkan kami berjalan kaki menikmati udara malam tahun baru di Melaka. Suami adalah kepala keluarga, maka dari itu kami tidak berbantahan lagi dengannya.

Pagi itu sang suami berkeinginan menyewa mobil van. Dengan alasan kami semua, yang berjumlah enam orang dewasa dan tiga kurcaci cilik tidak terpencar dalam dua mobil. Alasan kedua, tidak perlu parkir mobil. Memang agak ribet mencari parkir di kota Melaka bila sedang musim liburan. Ketiga, agar tidak salah jalan. Menurutnya badan saya boleh tinggal di Melaka namun pikiran saya tidak. Jadi, mana berani mengambil resiko tersesat di jalan bersama saya? Yang ada, seorang teman tersesat bersama saya di Kuala lumpur selama tiga jam ditambah dengan jalanan macet total disertai hujan lebat. Untung tangki bensin saya isi penuh. Keempat, yang terpenting alasannya adalah keamanan mobil mewahnya yang bernomer plat negeri Singapura. Duh Gusti… Memang barang mewah itu susah jaganya. Lebih susah dan ribet daripada jaga anak kecil.

“Daripada mobil kita yang kena baret dan rusak, lebih baik mobil sewa yang kena baret.

Kurang lebih begini motonya, yang tak berbeda dengan moto semalam ketika kami hendak jalan kaki keluar dari hotel.

“Daripada kita kena baret dan luka karena jalan kaki, lebih baik mobil yang kena baret dan rusak.

Memang teman yang satu ini amat sangat antik, selalu keluar dengan pernyataan antik. Saya dan sang istri tetap berkeberatan sewa mobil karena tidak masuk akal harga yang ditawarkan oleh penyewa mobil di Melaka. Namun sang suami tak kalah keberatannya bila kami berjalan-jalan dengan mobilnya. Mulailah beliau membahas bagaimana tidak amannya mobil-mobil Singapura di Negara jiran ini. Memang banyak kasus seperti ini di beberapa negara bagian di Malaysia dan tentunya tidak mengherankan bila hal ini juga banyak terjadi di Jakarta. Sebagai info, mereka ini adalah penduduk Jakarta. Jadi seharusnya tidak perlu heran bila kejahatan seperti ini bisa saja terjadi di mana-mana.

Sang istri yang tidak tahan lagi dengan segala cerita kejahatan berkata, “Makanya kita harus menarik semua yang baik dan positif ke dalam pikiran kita. Law of attraction ya. Betul gak Ly?”

Uhukkkk!!!!! Serasa tertumbuk perut saya dan asam lambung terdesak keluar. Senyum saya berkembang tak sempurna, alias nyengir kuda akibat penyakit gila saya kambuh. Saya geli sendiri. Secara pribadi saya setuju dan percaya akan law of attraction ini, namun tiba-tiba saya tersedak dan tergelak lagi. Ditambah melihat sang suami yang sudah ingin menjawab pernyataan istrinya.

“Saya setuju dengan law of attraction tapi saya mempunyai jawaban untuk hukum ini juga,” suara saya menahan jawaban dari sang suami.

Ada cerita di mana seekor anjing mengonggong sekeras dan segalak-galaknya ketika seorang lelaki mendekatinya. Reflek yang masih bagus membuat lelaki tersebut lari sekuat-kuatnya. Ia kuatir akan gonggongan anjing galak dan lebih kuatir lagi dengan gigitannya. Tak heran pula bila si anjing turut berlari sekencang-kencangnya mengejar sang lelaki. Yang empunya anjing kaget dan turut berlari sekuat dan sekencang si lelaki dan anjingnya.

“Jangan lari!” teriaknya kepada si lelaki dan anjing.

Si lelaki lari tambah kencang lagi sambil berteriak, “Kenapa tidakkkkkk……..?!”

Sang empunya anjing ngos-ngosan mengejar dan berteriak untuk terakhir kalinya, “Tidakkah kamu tahu ada pepatah yang mengatakan, anjing menggonggong itu tidak menggigit?”

Si lelaki berlari dan berlari. Si anjing mengejar dan mengejarnya.

“Saya tahu pepatah itu tapi apakah si anjing tahu akan pepatah itu?” kata lelaki itu sambil berlari dan berlari tak keruan.

Gubrakkkkkkkk! Kedua teman saya tersedak beneran dan tergelak bersamaan. Hahaha

Bolehlah kita berpikiran positif. Bolehlah kita berpikiran yang baik-baik. Bolehlah kita berpikiran yang indah-indah. Namun sekeliling kita tidak selamanya berlaku demikian. Sekeliling kita tetap saja berpikiran buruk, berpikiran negatif, berpikiran jorok, berpikiran porno. Lho… Lho… Lho… Makin ditarik makin banyak ya. Buktinya, banyak penjahat, pencopet dan penjambret di mana-mana. Buktinya, teman saya dihipnotis di shopping mall sehingga uang dan perhiasannya ludes. Buktinya, koran penuh akan berita kriminal, berita pembunuhan, berita korupsi hingga berita selingkuh, dari dalam dan luar negeri.

Bagaimana dunia ini mau tentram, damai, sejahtera, penuh sukacita bila masih banyak manusia yang belum bertobat, belum sadar, belum waras atau belum eling akan betapa negatifnya mereka? Bila yang bertobat masih juga dikelilingi oleh penjahat, penagih dadah, penagih sex, dan penagih uang. Bagaimana yang bertobat bisa bertahan dalam pertobatannya? Ayo dipikirkan...

Temanku selalu nyeletuk, Iman boleh kuat tapi imin tidak lho. Hihihi….. Iman itu ‘I’-nya satu, sedangkan imin itu ‘I’-nya ada dua. Bila satu dilawan dengan dua, sudah pasti tidak imbang.

Pernahkah terpikir untuk menyebarkan kepada yang negatif-negatif ini akan adanya law of attraction? Penyebaran dalam bentuk perkataan, perbuatan, dan tulisan. Hm… Seperti yang saya lakukan saat ini. Lebih baik memuji diri sendiri karena kebanyakan orang tidak suka memuji, apalagi buat diri saya. Terpikir mengajak banyak orang untuk memiliki otak yang waras, pikiran yang waras. Teringat ketika saya pelayanan berkunjung ke penjara, memang tidak mudah dikelilingi bahkan berbicara dengan mereka yang pernah berdiam di dunia hitam dan gelap. Paling tidak, kita terpikir untuk memulainya dari keluarga sendiri, mengajak keluarga tercinta selalu berpikiran positif setiap hari, setiap detik.

Mari kita berusaha bersama-sama di tahun 2010 ini, seperti cerita di atas baik lelaki maupun si anjing boleh sama-sama tahu akan pepatah yang ada dan sama-sama menyakini akan kebenaran law of attraction. Dengan harapan banyak dari antara mereka boleh jadi orang yang positif. Boleh memulainya dari berpikiran positif dan kemudian berlanjut ke tindakan positif. Tentulah dunia akan jauh lebih aman, damai dan sejahtera.[ly]

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: -1 (from 1 vote)

GBU

lc2Oleh: Lily Choo*

“Ly, lu jangan keseringan pakai kata GBU, dong!” tegur teman saya yang antik dan unik saat kami berada di rumah makan Hao Chek. “Masak lu aja yang GBU. Gua tiap hari juga GBU. Gua Butuh Uang!” rupanya, teman saya ini tahu sekali kebiasaan saya yang sering menggunakan kata ‘GBU’ dalam setiap SMS dan komen di Facebook.

Gubrakkkkk! Saya tertawa ngakak. Memang, teman yang satu ini paling kreatif sedunia. Bersama teman yang satu ini, kerutan dan garis-garis ketuaan di sekitar mulut dan mata saya tambah dalam. Tawa yang satu menuju tawa lainnya hanya butuh waktu paling lama 10 menit! Bayangkan, frekuensi ketawa bersamanya. Tukul saja kalah!

“Sebenarnya, gua kasihan banget ama lu juga. Kenapa sampai tiap hari, tiap saat lu beri tahu ke gua soal GBU? Memangnya bisnis lu seret?” tanyanya dengan lugu namun penuh makna. Entah dia bertanya beneran (ini jarang terjadi) atau ngeledek beneran, rasanya sudah tidak ada bedanya buat saya.

Selain saya tertawa akan singkatan dari GBU itu, dalam hati sebenarnya, sedalam-dalamnya, dan sesungguhnya, saya ini malu. Kenapa saya malas sekali menulis lengkap akan kalimat “God bless you” dan seenaknya membuat singkatannya menjadi GBU? Di mana rasa hormat dan takut akan Tuhan? Niat enggak sih untuk memberkati teman dengan kalimat ‘God bless you’? Entah sudah berapa ratus kali atau sudah ribuan kali saya gunakan kata ‘GBU’ ini. Entah sudah berapa banyak teman saya mengirimkan kata ‘GBU’ ini. Satu kata yang saya dapat setelah tertawa akan GBU tersebut, MALU!

Teringat cerita dari Kitab Perjanjian Lama, bagaimana suci dan kudusnya nama ALLAH. Untuk menyebut ALLAH pun, manusia tidak berani. Ada hukum tertulis “Janganlah menyebut Tuhan ALLAH-mu dengan sembarang”. Bila salah sebut, hukuman mati adalah sangsinya. Oleh sebab itu ditambahkanlah kata di depannya menjadi Tuhan ALLAH atau Gusti ALLAH. Dalam penulisan pun tidak boleh sembarangan, harus huruf besar semuanya. Gawatnya lagi adalah bila yang menyebut dan menulis nama ALLAH ini tidak suci dan kudus luar dalam, hukuman mati di tempat buat orang tersebut sudah pasti terjadi. Bayangkan hal ini, bulu kuduk saya pun berdiri.

Kenapa tidak terpikir pula bila manusia saja marah, menganggap saya tidak sopan, kurang ajar, dan belagu bila saya panggil namanya begitu saja? Terutama mereka yang memiliki gelar ‘DR’ atau ‘dr’, tidak terkira besar maupun kecil tetaplah harus dilafalkan dengan bunyi ‘doktor’ dan ‘dokter’ dulu sebelum menyebut namanya. Dan, bagaimana saya diajarkan sejak kecil lagi, bahwa kepada yang lebih tua, saya harus memanggil mereka dengan kata tambahan: bapak, ibu, tante, om, abang, kakak, dan bahkan kepada yang lebih muda saya juga mesti merendah dengan menyebutnya adik. Nah, bila kepada manusia saja saya tahu harus hormat dan respek, apalagi kepada Tuhan? Malah seenaknya saya singkat namanya dengan huruf ‘G’ saja. Sesak rasanya dada saya, terasa kurang ajarnya saya selama ini.

Mengapa pula saya sebagai manusia bermartabat dan beradab di abad ini, memakai nama ALLAH dengan sesukanya, seenaknya, kapan saja, dan di mana saja? Bahkan, termasuk pelecehan dengan kalimat ‘Oh My God’ atau ‘OMG’. Setiap kali saya terkejut (terutama berita yang menyedihkan dan mendukakan) saya mengeluarkan kata-kata ini. Contoh ketika kaki saya terinjak orang di bus, saya pun menjerit ‘Oh my God’. Hingga seorang teman dari Penang memberitahukan bila saya sering menyebut ‘Oh my God’ setiap kali saya terkejut. Tidak heranlah bila banyak kejadian ‘Oh my God’ akan muncul di hadapan saya. Terasa pedih di ulu hati, kata-katanya telak mengena buat saya.

Kerennya lagi, banyak sebutan baru termasuk salah satunya ciptaan teman saya hahaha…. Beginilah bila yang sesat menulis, sukanya melempar batu sembunyi tangan. Teman saya ini (bukan saya ya….) kesal membaca banyaknya singkatan seperti ‘GBU’ dan ‘JLU’. Akhirnya, dia balas dengan singkatan juga ‘PTL’. Yang terima balas tanya via SMS, “Apa itu ‘PTL’? Dengan tenang dia jawab balik, ‘Praise the Lord’. Hehehe…. Tidak terbayangkan bila dia membaca catatan saya ini. Moga-moga dia juga sudah bertobat bersama saya. Tidak semena-mena dan sesuka-suka menyingkat kata maupun kalimat, terutama yang menyangkut nama dan sebutan untuk Tuhan ALLAH, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Mestinya Tuhan ALLAH mengerti semua bahasa, bukan? Kalau begitu, boleh dong saya tulis ‘GBU’, ‘JLU’, dan ‘PTL’. Tuhan mengerti bahasa, berarti mengerti juga singkatan. Bahasa itu ya cuma bahasa, yang penting itu hati. Tuhan kan tahu hati dan pikiran kita? Hehehe…. Benar juga. Kok tiba-tiba ada suara mengatakan, “Ly, apa yang tersurat itu pasti keluar dari yang tersirat. Apa yang tersirat itu pasti akan keluar tersurat.” Jadi,no comment’ lagi. Tidak ada koma, hanya titik. Tidak ada tawar-menawar, hanya harga mati. Sama Tuhan kok tawar-menawar ya? Nanti berkat saya ditawar sama Tuhan, bagaimana?

Lagipula, bila saya hendak memberikan salam dan berkat dengan kalimat ‘God bless you’ itu kenapa mesti disingkat segala? Mengapa malas mengetiknya? Mengapa mesti berhemat kata? Toh sudah pada pakai BBM maupun YM, ya…? Kan tidak ada beda harganya untuk ketik ‘GBU’ atau ‘God bless you’? Sama-sama gratis, bo! Supaya singkat waktunya? Ya, bedanya sekian detik toh…. Kok perhitungan sih sama Tuhan dan teman? Niat sedikit dong kalau mau memberikan salam dan menyampaikan berkat ke teman-teman. Ayo, makin malulah saya ketika memikirkan hal ini kembali dan kembali. God bless you all.[lc]

* Lily Choo adalah seorang pebisnis perempuan berusia 37 tahun yang lebih sering beredar di antara Jakarta, Malaysia, dan Singapura. Ia berminat pada bidang leadership, anak-anak, wisata, menulis, dan kesehatan. Lily dikarunai dua anak perempuan yang cantik yang senantiasa menjadi inspirasi hidupnya. Lily mengaku sebagai perempuan biasa yang punya mimpi besar untuk menjalani hidup yang luar biasa serta menjadi inspirasi bagi semua perempuan di seluruh penjuru dunia. Lily dapat dihubungi melalui pos-el: lily.choo@gmail.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Kenaikan 10 Markah

lc2Oleh: Lily Choo*

Pulang sekolah, Abby si bungsu senang sekali melihat saya ada di rumah. Saya yang melihatnya turut tersenyum senang. Dengan senyum mengembang dia berkata, “Mummy, my Chinese’s mark increases 10 points!”

Wow!!! Orang tua mana tidak akan senang mendengar adanya kenaikan angka dalam studi anaknya? Apalagi Abby mempunyai trauma mendalam akan mata pelajaran bahasa mandarin, di mana guru TK-nya pernah menertawakan dia di depan kelas karena dia dianggap tidak becus bahasa mandarin. Sejak itu, kebenciannya akan bahasa ini menjadi-jadi. Melihat saja pun dia ogah sehingga ujian hafalannya selalu jeblok karena memang dia sungguh tidak mau belajar.

Segala macam cara dari halus, sedang, hingga keras, juga memberikan hadiah yang menarik sampai omelan pedas sudah saya jalankan. Sampai akhirnya saya pasrah total. Guru lesnya pun tak sanggup. Sekalipun dia sudah setuju untuk belajar, bila gurunya terlambat datang 15 menit dia, langsung keluar rumah untuk bermain. Gurunya tak diacuhkan lagi dan katanya, “We agreed the tuition start at 2.30pm, if he is late then it’s not my fault.”

Astaganaga, saya mau marah pun jadi senyum kecut karena benar juga apa kata Abby. Gurunya tidak tepat janji, bukan salah bila dia tinggalkan. Penjelasan saya bahwa bila guru sudah datang ke rumah, sekalipun dia tidak mau belajar, berarti kita tetap harus membayar sang guru. Sayang, kan? Dia pun manggut setuju. Sekali lagi, dia buat janji dan dia tunggu sang guru hingga 30 menit lewat, tetapi masih saja si guru tidak datang lagi. Larilah dia keluar bermain, dan ketika si guru tiba kemudian jawabannya, “I waited him for 30 minutes already.”

Gubrak deh!!!

Abby sendiri pasrah sudah akan pelajaran bahasa mandarin. Dan, usahanya yang terakhir adalah meminta saya menandatangani permohonan ke pemerintah Singapura untuk meloloskan dia dari mata pelajaran bahasa mandarin. Saya tanya dia, apakah sudah dipikirkan matang dan gurunya setuju? Dia manggut-manggut dan keluarkan formulirnya. Setelah mengisi, kakaknya Keely terkikik, “Mummy, how can she get the exemption? Daddy is a Chinese and you are also a Chinese!”

Mata Abby langsung membesar, “What?! Mummy, you are a Chinese?! Hahaha…!”

Keely kesenangan menjawab, “Yes. Mummy is an Indonesian Chinese.”

Punahlah harapannya untuk dikecualikan dari mata pelajaran bahasa mandarin karena dalam formulir memang dipertanyakan ras/bangsa dari orang tua murid. Sebenarnya, saya sudah tahu akan hal ini. Tetapi, saya memang sengaja membiarkan dia mencoba segala caranya. Dan, tugas saya hanyalah memantau, mengarahkan setiap keinginannya, serta melihat apa caranya itu betul atau tidak.

Bila hari itu saya melihat dia tersenyum memberitakan kenaikan markahnya, saya sangat senang sekali. Sambil memeluknya saya bertanya berapa angka yang dia dapat. Dia tersenyum manis, “Twenty three!”

GUBRAKKKKK!

Mau tidak mau saya tersenyum ‘habis’, alias senyum saya sudah lenyap tiada sisa lagi! Ibu mana yang tidak menghendaki anaknya sukses dalam pelajarannya? Mendengar angka 23, yang terasa adalah perasaan sedih mendalam, dan malu karena merasa gagal dalam mendidik anak.

Namun, saya tidak menyatakan kekecewaan kepadanya karena itu akan membuat semangatnya jatuh. Dengan alis mata naik tinggi saya bertanya, “Twenty three upon…..?”

Keely tertawa ngikik di belakang saya. Dengan mantap dia menjawab, “Upon ninety!”

Berkunang-kunanglah kepala saya. Terus-terang, yang saya rasakan adalah antara sedih, kesal, namun juga geli yang tak tertahankan. Dia mendapat angka 23 dari 90, itu seharusnya memalukan dan menyedihkan. Tetapi, dia nyatakan dengan kebanggaan dan kemantapan. Seharusnya, dia tidak berani menyatakan ke saya karena biasanya orang tua akan marah besar bila mendengar hasil ulangan anaknya yang gagal, jeblok, dan memalukan itu. Inilah akibatnya kalau saya sering mengajarkan mesti ‘positive thinking’, rupanya menjalar juga ke anak-anak.

“Mummy, it’s tough you know? I can increase 10 points is good already. Last time I got 13 only. I thought will be worse this time but it’s up 10 points!” suara Abby ringan dan ceria sekali.

“You must be happy with me.”

Pecahlah semua tawa saya yang tersimpan dari tadi. Akhirnya, kami rayakan kenaikan 10 poin itu dengan ICE MILO! Memang, setiap kenaikan perlu dirayakan tanpa keraguan sedikit pun.

Yayaya…. Itulah anak saya, Abby Choo. Selalu saja ada mengenainya. Cara pikir dan pandangannya berbeda dengan kebanyakan anak-anak. Kebanyakan anak-anak pasti akan ragu memberitahukan kepada orang tuanya akan kegagalan ujiannya, khawatir akan ditegur, dimarahi, atau malah dipukul. Bahkan, ada anak yang menyimpan hasil ujiannya yang jelek dan mengoyaknya, khawatir orang tua melihatnya. Namun, Abby tiada ragu sedikit pun memberitakannya kepada saya karena dia melihat kenaikan pelajarannya dari sudut positif. Bukan semata melihatnya dari angka 23 yang masih termasuk angka gagal.

Dalam hidup ini memang tidak mudah untuk senantiasa melihat kebaikan atau keberuntungan, terutama bila di sisi lainnya terdapat juga sisi keburukan dan ketidakberuntungan. Kebanyakan orang akan melihat dan meratapi sisi buruknya saja.

Bersama Abby, saya belajar untuk peka MELIHAT dan MEMILIH akan hal-hal kecil yang positif daripada hal-hal yang besar namun negatif. Menekankan yang positif daripada yang negatif. Melihat kepada kekuatan diri daripada kelemahan diri. Memperkuat kekuatan yang ada daripada meratapi kelemahan yang ada. Dan, senantiasa merayakan hari-hari gemilangnya sekalipun kenaikan yang diberitakan sangat kecil. Ini pun berlaku dalam setiap kehidupan kita. Bila kita fokus melihat, memperbaiki, dan memperkuat kekuatan kita daripada kelemahan kita, merayakan setiap keberhasilan kita tentu usaha menuju sukses lebih pasti dan cepat.

Sssst… saat ini dia berjanji untuk memperbaiki bahasa mandarinnya, karena dia tidak mau tertinggal kelas di Primary 6 tahun depan hanya karena satu mata pelajaran ini. Apalagi dia bercita-cita dapat masuk ke sekolah menengah tertentu yang membutuhkan skor rapor yang tinggi. Sayapun berbisik kepadanya, “just increase 1% a day, in 100 days u increase 100% already!” Mata dia membesar. Bingo! Saya berhasil ‘poke’ dia. Dia bergumam kalau setahun ada 365 hari berarti 1% sehari dalam setahun akan terjadi kenaikan 365%! Mata dan mulutnya membesar dan membulat. Ada kepastian dan keyakinan di sana. Tentu hari-hari mendatang dia akan memberitakan kenaikan 10%nya sesering mungkin, dengan demikian kita boleh rayakan lagi dengan ICE MILO DINOSAUR!!!![lc]

* Lily Choo adalah seorang pebisnis perempuan berusia 37 tahun yang lebih sering beredar di antara Jakarta, Malaysia, dan Singapura. Ia berminat pada bidang leadership, anak-anak, wisata, menulis, dan kesehatan. Lily dikarunai dua anak perempuan yang cantik yang senantiasa menjadi inspirasi hidupnya. Lily mengaku sebagai perempuan biasa yang punya mimpi besar untuk menjalani hidup yang luar biasa serta menjadi inspirasi bagi semua perempuan di seluruh penjuru dunia. Lily dapat dihubungi melalui pos-el: lily.choo@gmail.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Bergeming: Pelajaran dari Kisah Biskuit Lao Po Bing

lcOleh: Lily Choo*

Ada dua cerita legenda mengenai biskuit lao po bing bila Anda mau mencarinya di internet. Itu pun hanya ada satu website yang menceritakan asal-usulnya. Ayah saya punya versi lebih bagus dan artinya mendalam. Cerita ini diceritakan oleh ayah berulang kali sejak saya balita. Tak pernah bosan ayah menceritakannya. Dan anehnya, sebagai anak saya juga tak pernah bosan mendengarnya. Sekarang malah saya turunkan cerita ini ke anak-anak.

Dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri di desa kecil di negeri Tiongkok. Sang suami sangat mencintai istrinya, namun dia punya keinginan untuk mengikuti ujian kerajaan di kota. Apa daya dia tunda sekian lama keinginan tersebut karena tiada orang yang akan menjaga istrinya bila dia pergi. Tiap hari dialah yang memasak dan menyuapi istrinya, sedangkan sang istri kerjaannya adalah tidur sepanjang waktu. Hanya membuka mata dan mulutnya bila dia lapar.

Siang dan malam, sang suami memikirkan bagaimana caranya supaya dia boleh ke kota untuk ujian, sementara istrinya tetap tersedia makan minum di rumah. Perjalanan dari rumah ke kota memakan beberapa hari, jadi tak mungkin dia pergi bila makan istrinya tidak terjaga. Akhirnya, mimpi menjadi sarjana tersebut membuat sang suami berhasil menciptakan sebuah biskuit dengan bulat besar. Dan, dia perkirakan biskuit itu akan cukup dimakan oleh sang istri sampai dia kembali dari belajar nanti.

Mengingat tabiat sang istri yang malas, sang suami mengikat biskuit tersebut di leher istrinya. Sang suami pun berpesan bahwa dia hanya perlu memakan biskuit tersebut bila lapar. Sang suami juga berjanjii akan cepat kembali setelah selesai ujian nanti. Setelah itu, dengan tenang sang suami berangkat ke kota untuk mengikuti ujian kerajaan sambil berharap segera mendapat gelar sarjana supaya kelak hidupnya mapan.

Sang suami akhirnya berhasil lulus ujian dengan baik dan mendapat pekerjaan di kerajaan. Predikat sarjana akan memberinya kemewahan hidup nantinya. Maka, segeralah dia melakukan perjalanan kembali ke desa untuk menjemput istrinya. Sesampainya di rumah, sang suami mendapati istrinya telah meninggal. Kenapa? Bukankah ia sudah disediakan biskut yang besar sekali yang digantung dileher sang istri? Bahkan, sang istri tidak perlu bangun dari tempat tidurnya untuk mengambil makanan?

Biskut itu ternyata tidak habis dimakan. Ternyata lagi, biskuit itu hanya digigit sebanyak atau sejauh jarak antara mulut sang istri dengan biskut tersebut. Sisanya masih banyak dan tidak termakan sama sekali. Rupanya, untuk menaikkan biskuit tersebut ke jangkauan mulutnya pun sang istri tak mau, hingga ajal pun menjemput karena dia kelaparan.

Sang suami sedih bukan kepalang karena biskuit yang dibuatnya untuk sang istri tercinta sia-sia belaka. Bahkan, gelar sarjana dan kedudukannya di kerajaan tidak dapat dinikmati bersama sang istri yang dicintainya. Sejak saat itu, disebutlah biskuit tersebut dengan lao po bing. Biskuit istri yang sengaja dibuat karena sang suami sangat mencintai istrinya.

Pelajaran apa yang didapat dari cerita ini? Kemalasan? Dulu, saya pikir begitu. Namun, sekarang pemahaman saya berbeda karena zaman kini kita pada tahu bahwa malas itu haram hukumnya. Tak heranlah bila zaman ini tidak ada pemalas dimana-mana, malah orang pada sibuk semua! Ekonomi menanjak, sibuk. Ekonomi merosot, tambah sibuk lagi. Aneh, kan?

Nah, moral yang ingin saya bahas dari cerita ini adalah actionless (bergeming, keadaan tidak mau bergerak). Ini bukannya malas melainkan tindakan yang dipilih untuk tidak bergerak atau melangkah, secara sadar maupun tidak sadar. Secara sadar dikarenakan adanya risiko yang bakal ditempuh sehingga membuat kita memilih tidak melakukan apa-apa.

Dalam bisnis, bila kita terbentur masalah, kebanyakan tindakan yang dipilih adalah quit dan give up (berhenti melakukannya dan menyerah). Dalam berteman, bila terjadi perselisihan atau salah paham, berkatalah kita pada diri sendiri:Memangnya, siapa sih lu? Apa untungnya berteman dengan lu? Daripada stres punya teman seperti lu, mendingan tidak berteman lagi, dah!

Dalam pekerjaan dulu, daripada salah ketahuan dan dimarahin bos, lebih baik diam alias pura-pura tidak tahu. Dalam pernikahan, bila pertengkaran sudah terjadi, yang muncul di pikiran adalah,Kok bisa sih dulu gua memilih dia jadi suami? Daripada stres mendingan single, deh!

Nah, kalau secara tidak sadar, keputusan kita untuk tidak melakukan apa-apa itu diakibatkan oleh adanya kepercayaan yang sudah terbina sekian lama dalam benak kita. Bahwa, diri kita tidak mampu menghadapi susahnya kerja keras, kerasnya ejekan, pedihnya kesedihan, ketahuan bodoh, dan banyak hal lagi. Adanya peristiwa kegagalan dalam bisnis, berteman, pekerjaan, dan pernikahan membuat diri kita membangun “benteng” yang semakin kuat. Lebih baik tidak bergerak dan berada dalam zona aman daripada bergerak dan masuk dalam kandang singa.

Ketika membawa si sulung dan si bungsu saya ke Bandung beberapa tahun lalu, saya menawarkan kepada mereka dan seorang temannya untuk menaiki kuda. Serempak mereka berteriak kegirangan, “Mauuu…!” Berhentilah mobil kami di depan abang-abang yang menawarkan kuda-kuda mereka. Begitu turun mobil, si bungsu dan temannya dengan gerakan cepat melesat dari pintu, dan dalam hitungan detik sudah berada di atas kuda.

Kagetnya saya, si abang dan kuda langsung melesat lari tanpa sempat saya menawar atau bahkan mengikuti mereka pergi. Sepupu menepuki bahu saya. “Tenang, cuma lima ribu rupiah”. Duh, bukan soal Rp 5.000-nya… “Kalau anakku hilang dibawa lari, bagaimana? Sepupu saya menenangkan bahwa di Bandung tingkat kriminal masih rendah. Dan lagian, saya ini bukan jutawan jadi tidak ada yang berminat menculik anak saya hahaha….

Apa yang terjadi dengan si sulung? Dia terpaku tepat di sebelah saya berdiri, melihat saya dan menunjuk-nunjuk delman yang ada di seberang. Mengerti maksudnya, bahwa dia meminta naik delman, tidak mau naik kuda. Saya menggelengkan kepala, “Yang ditawarkan adalah naik kuda, bukan naik delman!” Air matanya mulai mengalir. Hati dan pikiran saya pun bulat-bulat menolak delman. Kenapa?

Si sulung memikirkan bahwa risiko naik kuda itu besar. Jatuh dari ketinggian. Kata jatuh saja sudah membuatnya gemetar, apalagi dia ini tipe pemikir. Alam bawah sadarnya lagi membuat dia makin tak bergerak. Kepercayaan bahwa jatuh itu akan mengakibatkan luka yang parah, sakit yang luarbiasa, dan bahkan goresan yang dalam. Beberapa peristiwa yang pernah dia alami, adiknya jatuh dari tangga, adik sepupunya jatuh dari tingkat empat, dan beberapa kali kesakitan yang dia alami sendiri ketika jatuh naik sepeda, roller-skate, dan bahkan karena melihat film.

Rupanya, tingkat kepercayaan dirinya tidak mampu menahan bayangan rasa sakit yang lebih besar daripada menerima kesempatan emas menaiki kuda. Akhirnya, dia pun memilih tidak menaikinya sekalipun saya sudah memberikan tawaran.Kesempatan itu datang seperti pintu terbuka sekian saat lalu menutup kembali.” Dia tetap bergeming, hanya air mata yang mengalir, dan tangan yang menunjuk-nunjuk ke delman.

Sekembalinya si bungsu, dia bercerita kepada kakaknya, betapa adventurous dan glorious-nya bisa naik kuda. Ah, si sulung menyesal. Saat ini, bila dia bertemu “kesempatan”, dia akan mengingat hal tersebut lalu bertanya, “Mum, when I can ride a horse?”

Saya pun tersenyum, “Be ready because the opportunity comes like the door. Opens….! Lalu, tangan saya membuka lebar, And close in any second Dan, tangan saya menutup dengan cepat.

Untuk menghindari actionless mode ini dan membuat saya dalam keadaan action mode, yang selalu saya lakukan adalah:

1. Menyadari bahwa bila melangkah tentunya selalu ada risiko yang menanti.

2. Menyadari bahwa actionless-pun memiliki risiko besar

3. Menanamkan kepercayaan bahwa kegagalan yang sama tidak akan terulang lagi asalkan saya belajar darinya dan tetap bergerak atau melangkah (ke arah yang berlainan tentunya). Jadi, bila kegagalan terjadi berarti itu adalah kegagalan baru.

4. Menanamkan kepercayaan bahwa di balik kesempatan selalu ada kegemilangan besar menanti. Kegemilangan dari bergerak atau melangkah adalah jauh lebih besar daripada kebodohan dan kegagalaan dari tidak melangkah sama sekali.

5. Tetap bergerak atau melangkah sekalipun hanya se-inci.

Seperti sang istri di atas, tindakan actionless-nya membuat sang suami menderita kehilangan istri dan dia kehilangan kesempatan besar menikmati hidup bahagia bersama suaminya. Bila Anda mendapatkan keadaan actionless hari ini, cepatlah pergi membeli biskuit lao po bing, makan biskuit tersebut sambil memikirkan ceritanya, dan mulai melangkahlah. Seperti Johny Walker yang mempunyai motto “Keep Walking”.[lc]

* Lily Choo adalah seorang pebisnis perempuan berusia 37 tahun yang lebih sering beredar di antara Jakarta, Malaysia, dan Singapura. Ia berminat pada bidang leadership, anak-anak, wisata, menulis, dan kesehatan. Lily dikarunai dua anak perempuan yang cantik yang senantiasa menjadi inspirasi hidupnya. Lily mengaku sebagai perempuan biasa yang punya mimpi besar untuk menjalani hidup yang luar biasa serta menjadi inspirasi bagi semua perempuan di seluruh penjuru dunia.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: -1 (from 3 votes)

Beban dalam Bayang-bayang Kesuksesan

lcOleh: Lily Choo*

Ada yang mengatakan, One half knowing what you want is knowing what you must give up before you get it. Apa artinya, sih? Seorang teman saya hingga sanggup mencari dan memaksa saya duduk, minta dijelaskan maksud quotation yang saya kirim kepadanya via SMS itu. Buat saya, kata-kata tersebut—dalam artinyahingga membuat air mata bisa menetes. Tahu betapa lemahnya saya dalam mendapatkan apa yang sangat-sangat saya mau. Saya tak mampu menggapainya atau menerimanya, karena saya tak mampu pula melepaskan apa yang ada di tangan saya saat ini. Ada kekhawatiran dan tak kuasa melepaskan apa yang sudah sekian lama dinikmati dan dihasilkan, hanya untuk mengejar mimpi yang indah di hadapan saya.

“Mau apalagi sih, lu?” tanya seorang teman ketika saya membagikan mimpi-mimpi saya. “Apa lagi yang kurang? Tidak pernah puas, ya? Lihat yang lu punya deh. Banyak lagi yang lebih sengsara daripada lu. Udah, jangan serakah lu!” Dan, banyak lagi kata yang dipertanyakan dan dilontarkan. Semuanya baik dan mengingatkan keadaan nyata saya saat ini. Luar biasanya, bukan oleh sanak saudara, teman-teman, tetapi oleh diri saya sendiri. Saya pun meragukannya di dalam hati dan pikiran.

Saya melihat dream board sendiri dan terlihat gambar-gambar berikut:

1. Petronas Twin Tower: Maksudnya saya ingin sekali berdiri dengan kukuh dan megah (alias mau jadi penulis terkenal), tidak mau jadi yang biasa-biasa saja. Hidup cuma sekali, jadi janganlah hidup biasa-biasa saja. Kalau mau dingin, ya dingin sekali. Kalau suka panas, ya panas sekali. Jangan suam-suam kuku atau que sera sera.

Sambil menatap dream board itu saya melihat diri sendiri: “Punya angan-angan kok muluk benar…! Sekarang saja waktu lu habis buat mencari sesuap nasi. Mau cari segenggam berlian? Kapan? Gimana? Apa enggak lebih baik memfokuskan waktu lu untuk menambah nasi lu dengan sayur dan lauk pauk? Tangan lu cuman ada dua. Waktu lu sehari hanya 24 jam. Tidur saja butuh 6-8 jam. Belum lagi lu suka chatting di komputer. Habis berapa jam itu? Bahasa lu enggak becus, ngawur, alirannya enggak jelas! Jarang nulis lagi! Enggak ada yang mau koreksi juga. Gimana bisa maju dan jadi penulis beneran, apalagi jadi terkenal? Terkenal ngawur juga ada!”

2. F1 Ferrari Team: Maksudnya saya punya team yang solid dan kompak dalam bisnis saya. Plus saya ini adalah Schumacher, driver yang dipanuti dan disayangi. Jadi leader dalam bisnis saya.

Untuk jadi leader seperti ini, “Saya mesti praktikkan apa yang dikhotbahkan atau bicarakan, dan khotbahkan atau bicarakan hanya apa yang dipraktikkan.” Banyak habits yang mesti dilepaskan. Saya sudah melepaskan kebiasaan “h“, tetapi masih memiliki kebiasaan lainnya a bits. Saya lepaskan kebiasaan berikutnya “a”, tetap saja saya masih punya bits. Lepaskan pula kebiasaan “b“, saya masih punya its. “ABCDEFB aduh cape deh eike…fuih gubrak!“. Ternyata banyak sekali kebiasaan jelek yang mesti dibuang.

3. Bikini: Mimpi saya adalah pakai bikini lalu mampu berjalan dengan pede-nya dari pantai di Kuta hingga pantai di Hawai. Ini dia yang menarik. Bukan hanya untuk laki-laki, tetapi juga kaum perempuan yang sudah punya anak. Namun buat saya, dan menariknya, dari sejak dilahirkan, balita, remaja, hingga umur 20-an saya ini masuk golongan “chubby” dengan bentuk yang tidak proporsional. Pear shape (bila beli jeans, pinggang boleh masuk tetapi pinggul tidak!) hingga punya kaki seperti pemain sepakbola (ini kata suami, makanya saya sepak dia sekali-sekali hahaha…).

Gawatnya, saya ini tergolong yang doyan banget makan pisang goreng, lumpia goreng, ayam goreng fried chicken, kerupuk udang, durian, semuanya yang goreng dan berminyak. Makanan sehat itu tidak enak ya. Plus, malas berolahraga!!! Padahal, olahraga juga hanya memakan waktu sepuluh persen dari hari yang saya punyai. Itu saja susah, ya?!

Oopss, ada lagi beberapa gambar di dream board saya, tetapi untuk mendapatkannya saya harus membuang beberapa muatan yang sudah saya miliki, yang buruk maupun yang sudah mapan. Untuk terkenal jadi penulis, saya harus meluangkan waktu untuk menulis setiap hari, sekalipun cuma sebait. Bila sudah duduk di depan komputer, malah yang dikerjakan yang lain duluan.

Untuk jadi leader yang dipanuti, terlebih dahulu saya harus meluangkan daya, waktu, pikiran, dan emosi dalam meraih kesuksesan sendiri, mempraktikkan apa yang disebut leadership skills, memperkaya pengetahuan, dan menstabilkan emosi. Banyakan, waktu habis untuk ikut training motivasi sana-sini plus baca buku saja. Praktiknya mana?

Untuk bisa pakai bikini hahaha…. Saya harus meluangkan waktu dan membiarkan keringat dikuras di gym. Makanan yang masuk ke dalam mulut harusnya yang bukan junk food, oily food, dan diganti dengan menggigit buah atau mengunyah segala macam sayuran. Sudah tahu mesti rajin pakai galvanic spa untuk menghilangakn selulit, tetapi masih saja pakai alasan tidak punya waktu dan malas.

Teringat si bungsu ketika berumur tiga tahun. Bila dia melihat mainan yang sangat menarik hatinya ada di hadapannya, dia tak akan ragu melepaskan mainan yang ada di tangannya, lalu lari hanya demi meraih yang sangat menarik di hatinya, yang ada di depannya. Bila dia tak mau melepaskan yang ada di tangannya saat itu, yang dilakukan adalah Mummy, please help me to get it. Saya bantu mengambilnya, sambil nyeletuk, So what now?”

Dia bengong tanda tak mengerti.

“Do you really want this?” tanya saya.

Matanya berbinar-binar dan dia manggut-manggut.

“Then, how do you want to play this if you are still holding the old ones?” tanya saya lagi.

Tak ada kata lainnya, hanya tangannya bekerja melepaskan semua yang ada ke lantai dan meraih apa yang dia mau dari tangan saya. Dan, saya pun belajar dari situ. Saya sudah membuang beberapa muatan (waktu makan dan tidur), sambil memandang gambar Petronas Twin Tower.[lc]

* Lily Choo adalah seorang pebisnis perempuan berusia 37 tahun yang lebih sering beredar di antara Jakarta, Malaysia, dan Singapura. Ia berminat pada bidang leadership, anak-anak, wisata, menulis, dan kesehatan. Lily dikarunai dua anak perempuan yang cantik yang senantiasa menjadi inspirasi hidupnya. Lily mengaku sebagai perempuan biasa yang punya mimpi besar untuk menjalani hidup yang luar biasa serta menjadi inspirasi bagi semua perempuan di seluruh penjuru dunia.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.3/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 5 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox