Berani Berkata Tidak Demi Kebaikan Diri dan Lingkungan

lhOleh: Lianny Hendranata*

Banyak orang tidak berani bilang TIDAK pada apa yang dimintakan pada dirinya. Maka yang terjadi, dia selalu berkata: Ya, ok, atau baiklah, sebagai pengganti kata menyanggupi sesuatu yang diminta darinya. Sepintas hal ini tidak ada yang bermasalah dan terkesan bagus jika kita selalu bisa menolong orang lain. Tetapi, apa yang terjadi di balik kata: Ya, ok, atau baiklah?

Dengan tidak mempunyai keberanian menolak—dengan kata lain tidak berani mengatakan tidak mau, tidak sanggup, tidak bisa, dan sebagainya—kita bisa membuat susah diri dan lingkungan kita sendiri. Mengapa ini bisa terjadi?

Banyak orang yang selalu bisa bilang ya pada setiap orang yang meminta apa pun padanya. Baik jasanya, bendanya, bahkan ide-ide, dan sebagainya. Maka, orang ini menjadi popular dalam pergaulan dan menjadi sosok yang bisa diandalkan oleh semua orang. Tetapi, apakah benar demikian adanya?

Ternyata setelah menyurvei, banyak orang yang begitu popular dalam pergaulan dan terkesan selalu siap sedia untuk membantu orang lain. Dengan perkataan ya di setiap saat, justru sosok ini adalah orang yang tidak tahu menghargai dirinya dan lingkungannya. Bahkan, menyusahkan dirinya sendiri, juga lingkungannya. Mengapa bisa demikian?

Coba kita tinjau contoh-contoh di bawah ini. Sadar atau tidak, Anda dan saya sering melakukannya. Contoh dari situasi yang sebenarnya kita ingin atau mau sejujurnya menjawab tidak. Ketika teman atau kerabat menelepon dan mengajak kita pergi ke mal, padahal kita sedang asyik menikmati liburan di rumah dengan membaca buku dan sejujurnya kita malas untuk pergi. Pikiran otomatis yang tidak realistis—untuk menghindar dengan berkata TIDAK—muncul karena yang keluar dari pikiran kita adalah: jika saya bilang tidak mau, bisa melukai dia, juga bisa menjadi marah; saya tidak punya alasan yang tepat untuk menolaknya; saya tidak enak karena dia teman atau kerabat dekat, dan sebagainya. Akhirnya, kita terpaksa menjawab: ok, ya, baiklah! Tetapi, hati kita tidak rela untuk pergi. Nah, apakah ini baik untuk diri kita dan lingkungan?

Dalam kejadian ini, yang dirugikan hanya pihak kita karena pergi dengan terpaksa. Lalu, masih ada contoh lain sebagai berikut. Teman atau kerabat meminta kesediaan Anda untuk menjadi penerima tamu dalam pesta pernikahan anaknya. Padahal, pada hari dan tanggal tersebut, ada juga acara syukuran teman sekantor yang baru sembuh dari sakit. Pikiran otomatis mengatakan, jika saya bilang tidak bisa, nanti dikira saya tidak mau rukun dengan teman atau kerabat. Tetapi jika bilang ya atau baiklah, saya juga tidak enak hati dengan teman yang mengundang syukuran. Nah, akhirnya pada keduanya Anda bilang ya, “Baiklah, saya akan datang dan memenuhi permintaan kamu.”

Ternyata, yang terjadi pada hari tersebut jarak tempuh yang cukup dan lalu lintas yang macet, membuat Anda terlambat untuk menjadi penerima tamu. Itu karena Anda tidak bisa bilang tidak, saat tetap ditahan oleh teman yang kangen karena sakit yang lama dan dalam suasana bersyukur. Akhirnya, penerima tamu dalam pesta tidak ada atau kurang lengkap karena Anda datang sangat terlambat.

Nah dalam hal ini, selain menyusahkan diri sendiri yang tidak mampu bilang; tidak bisa, tidak mau, tidak sanggup, maka pihak yang Anda sanggupi dengan berkata; ya saya bisa, ya saya mau, juga menjadi susah karena acaranya berantakan dengan ketidakhadiran atau keterlambatan Anda di pestanya.

Terbelenggu
Jika kita merasa harus bisa bilang YA, sedangkan sebenarnya dalam diri kita mau bilang TIDAK, saat itulah penting bagi kita untuk sadar dengan pola pikiran yang selama ini terbentuk. Tentu tidak masalah kalau kita sesekali memanipulasi pikiran kita sendiri dengan berkata ya, saat sebenarnya kita ingin mengatakan tidak. Untuk seterusnya berdasarkan pola pikiran yang tidak realistis itu membuat kita terjebak dalam permainan pikiran kita sendiri. Akhirnya, kita membuat diri seperti selalu harus baik/ramah dan bersedia menolong, tetapi justru lebih menyusahkan diri sendiri. Hal itu jelas terlihat pada ilustrasi cerita di atas.

Dengan demikian, penting bagi kita untuk mulai belajar mengenali pola pikiran sendiri yang selalu merasa bersalah jika berkata TIDAK. Kita harus belajar atau bersedia memulai untuk menabrak pola pikiran yang selama ini terbentuk dengan mengantisipasi risiko dari menjawab tidak kita juga bisa membuat pertanyaan kritis terhadap diri sendiri: Jika kita berkata tidak, apakah efeknya untuk diri kita dan lingkungan lebih baik atau malah merusak?

Belajar dari pengalaman dengan selalu menjawab YA, apakah selama ini hasilnya selalu baik untuk diri maupun lingkungan? Buat juga pertanyaan kritis pada diri sendiri, bahwa selama ini dengan selalu menjawab ya, sebenarnya kita menyakiti diri sendiri dan hanya menyenangkan orang lain. Kita harus belajar memahami pikiran dan perasaan kita sendiri dan tahu bahwa kita mempunyai hak penuh untuk mengatakan TIDAK, tanpa ada keharusan menjawab alasannya. Tidak bisa dimungkiri kita terbelenggu dengan pola kebiasaan, pola yang berpikir untuk bisa menjadi orang ramah, orang baik, dengan selalu siap menjawab ya. Sebaliknya, merasa bersalah jika sampai berkata TIDAK terhadap orang lain yang datang pada kita.

Untuk menjaga relasi sosial tetap berjalan baik, kita bisa mengganti kata TIDAK dengan kata-kata yang dianggap lebih halus. Kita bisa mengganti kata tidak dengan berkata,”Bukan selera saya, terima kasih” atau Saya sudah ada janji lain”. Yang paling umum menggantikan kata tidak untuk menolak sesuatu yang kita tidak mau perbuat adalah dengan mengatakan, Saya sangat sibuk atau “Jadwal saya sudah sangat padat”. Kata-kata atau kalimat itu terasa lebih luwes.

Pelahan tapi pasti, kita harus belajar untuk berani berkata TIDAK terhadap sesuatu yang bisa membuat diri dan lingkungan menjadi bermasalah, karena kita melakukan sesuatu dengan terpaksa, dan hal ini sebenarnya sesuatu yang bisa kita tolak karena memang tidak mau melaksanakannya.[lh]

* Lianny Hendranata adalah penulis enam buku kesehatan, kolomnis harian Suara Pembaruan, majalah Wanita & Kesehatan, portal Okezone.com, dan majalah Indonesie yang terbit di Belanda. Selain itu, ia adalah seorang pembicara seminar, instruktur healing energy, trainer autohipnosis, konsultan kesehatan energi aura dan cakra, instruktur kesehatan dan kecantikan dengan metode Tai Chi, sekaligus Direktur Srikandi Internusa dan Inspiration Centre. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: ray_and_mel[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 3.8/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Jangan Sampai Terlambat dalam Singkatnya Hidup

lhOleh: Lianny Hendranata*

Malam terasa panjang bagi orang yang berjaga,

Jalan terasa jauh bagi orang yang lelah,

Waktu terasa semakin lama bagi orang yang sedang menanti. Itulah waktu.

Waktu adalah salah satu berkat dari Tuhan yang boleh kita nikmati dan kita pakai sebagaimana kita mau. Tetapi, waktu juga adalah sesuatu di mana kita harus bertanggung jawab terhadap penggunaannya. Suatu hal yang pasti adalah setiap orang mempunyai waktu yang sama, yaitu 24 jam dalam satu hari perjalanan hidupnya. Pertanyaan kita, berapa waktu yang kita siapkan untuk pasangan hidup kita?

Banyak dari kita mengejar kesuksesan karier, sampai kita lupa dengan orang-orang yg kita sayangi. Kadang kita tinggal mereka berhari-hari. Dan seandainya kita ada di rumah pun, sering kali mereka hanya kebagian pemandangan ‘kesibukan’ kita yang selalu menatap layar monitor.

Tak akan pernah terlalu awal untuk mengucapkan kata-kata yang baik bagi seseorang yang kita sayangi. Tak akan pernah terlalu awal untuk melakukan sesuatu yang membahagiakan bagi pasangan kita. Karena, Anda dan saya tidak akan pernah tahu seberapa cepat hal tersebut akan terlambat dikatakan dan terlambat untuk dilakukan! Maka, katakanlah hari ini, dan lakukanlah hari ini. Jangan tunda sampai besok karena mungkin besok sudah terlambat!

Cerita tentang Penyesalan

Seorang dokter berpangkat kolonel di suatu negara berprestasi sangat cemerlang. Dengan demikian, dia dipercaya oleh kalangan atas untuk merawat kesehatan diri mereka pada dokter yang sangat pandai tersebut. Setiap hari, hidupnya dipenuhi oleh jadwal tugas yang membuat orang lain berdecak kagum, karena tidak semua dokter mendapat kesempatan berprestasi seperti itu. Hari demi hari dilalui dengan prestasi yang menjulang. Semakin tinggi dan tak terbilang hadiah dan fasilitas hidup yang menggiurkan telah diterimanya.

Begitu penuh jadwal hidupnya untuk mengurus orang lain, pergi berhari-hari menemani jenderal ini dan itu, pergi berminggu-minggu untuk menemani presiden ke luar negeri, dan sebagainya. Untuk bertemu muka dengan istri dan anak-anaknya sungguh hal yang langka. Dan, keadaan ini terus berlanjut dari waktu ke waktu.

Sampai suatu hari sepulang dari luar negeri menemani dan merawat pejabat tinggi yang sedang sakit, setiba di depan rumahnya, sang dokter melihat tenda terpasang dan kerumunan para kerabat dan tetangganya. Dalam hati sang dokter bertanya: “Ada apa gerangan di rumahku?” Begitu keluar dari mobil, dia langsung bergegas masuk menguak kerumunan para tamu yang menyampaikan ucapan belasungkawa.

Setiba di ruang tamu rumahnya, sang istri tercinta telah terbujur kaku. Wanita yang menjadi belahan jiwanya, wanita yang selama ini ditinggalkannya bepergian demi menjalankan tugas-tugas merawat dan mempertahankan hidup orang lain. Tapi, satu-satunya wanita yang diinginkan dalam hidupnya saat itu terdiam kaku. Sang istri meninggal setelah menderita sakit parah yang cukup lama, dan dia tidak mampu merawatnya, apalagi memperpanjang masa hidupnya.

Maka, tercenunglah sang dokter. Dia bertanya, “Ke mana saja aku ini? Kapan terakhir aku makan bersama dengan wanita kesayanganku? Kapan terakhir kali aku memeriksa kesehatannya? Kapan terakhir kali aku mengucapkan selamat berulang tahun untuknya? Oh, sudah lama, lama sekali…!”

“Sekarang aku ingin mengucapkannya, sekarang aku ingin makan bersamanya, sekarang aku ingin tidur bersamanya, tapi sudah terlambat! Tidak ada hari esok lagi untuk melakukannya,” keluh sesal sang dokter.

Seorang penulis tak dikenal telah menuliskan kata-kata yang menggugah perasaan:
Lebih baik kumiliki setangkai mawar mungil dari kebun seorang sahabat daripada memiliki bunga-bunga pilihan ketika hidupku di dunia harus berakhir.

Lebih baik mendengar kata-kata yang menyenangkan yang disampaikan dengan kebaikan kepadaku pada saat aku hidup daripada pujian saat jantungku berhenti berdetak dan hidupku berakhir.

Lebih baik kumiliki senyum penuh kasih dari sahabat-sahabat sejatiku daripada air mata di sekeliling peti jenazahku ketika pada dunia ini kuucapkan selamat tinggal.

Bawakan aku semua bungamu hari ini. Lebih baik kumiliki setangkai yang mekar saat ini daripada satu truk penuh ketika aku meninggal dan diletakkan di atas pusaraku.

Jangan sampai kita menyesal dalam hidup ini. Hidup terlalu singkat untuk dipakai “tidak peduli terhadap pasangan, anak dan keluarga” serta memendam “merasa kecewa dan marah”. Jadikan sentuhan, pelukan, dan kemesraan sebagai alat untuk membangun fondasi yang kuat dalam hal membina hubungan suami-istri. Sama seperti otot, kasih dapat menjadi kuat jika sering digunakan. Sebaliknya, kasih juga bisa mati jika tidak disertai perbuatan.

Mudah-mudah belum terlambat bagi saya dan pembaca untuk memulai mengatakan apa yang seharusnya dikatakan, apa yang seharusnya dilakukan untuk membahagiakan pasangan, anak dan keluarga.[ln]

* Lianny Hendranata adalah penulis enam buku kesehatan, kolomnis harian Suara Pembaruan, majalah Wanita & Kesehatan, portal Okezone.com, dan majalah Indonesie yang terbit di Belanda. Selain itu, ia adalah seorang pembicara seminar, instruktur healing energy, trainer autohipnosis, konsultan kesehatan energi aura dan cakra, instruktur kesehatan dan kecantikan dengan metode Tai Chi, sekaligus Direktur Srikandi Internusa dan Inspiration Centre. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: ray_and_mel[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Menyalahkan Orang, Hobi Kejiwaan yang Tak Diakui

lhOleh: Lianny Hendranata*

Banyak hobi yang bisa membuat bahagia dan bangga orang yang mengklaimnya. Seperti hobi membaca, olahraga, mendesain, masak, dan masih banyak lagi hobi yang panjang sekali ragamnya jika dituliskan di sini. Tetapi, dari sekian banyak hobi yang kita akui, ada hobi yang tidak pernah kita akui baik secara tertulis maupun lisan, yaitu hobi menyalahkan orang atau pihak lain. Ternyata, penganut hobi yang tidak diakui oleh diri si empunya hobi ini, banyak jumlahnya.

Coba kita lihat tayangan televisi atau koran, mulai dari menyalahkan orang lain yang buang sampah sembarangan dan menjadi penyebab banjir. Bahkan menyalahkan alam yang tidak becus mengatur iklim. Kita mengklaim diri sebagai yang selalu benar, yang salah sih orang atau pihak lain.

Suatu kesan di mana banyak orang terjebak kebiasaan yang akhirnya menjadi kesukaannya. Sebagai hobi tak terakui, bahwa dirinya selalu menyalahkan orang lain terutama untuk hal yang tidak mengenakkan yang terjadi pada dirinya. Mungkin sulit ditemui seseorang yang mau mengakui dan mengatakan hobi saya adalah “menyalahkan diri saya sendiri, jika didapat hal yang tidak enak atau tidak diharapkan terjadi pada saya!”

Salahkan vs. Syukuri

Daripada kita terjebak hobi “menyalahkan pihak/orang lain” mungkin kita bisa ambil jalan bijaksana berikut. Jika dalam perjalanan hidup kita berinteraksiketika kita menginjak kerikil tajam yang melukai diri kitadaripada kita menyalahkan kerikil tajam yang menyakiti kita, lebih bijaksana kalau kita berpikir, “Syukur kerikil ini terinjak sekarang sehingga kita bisa melangkah lebih hati-hati dalam meneruskan perjalanan relasi ini.”

Di bawah ini saya ajak pembacadengan seizin penulisnya yang tidak mau dituliskan namanya—untuk membaca kisah ilustrasi bagus tentang hobi tak diakui, yaitumenyalahkan orang lain. Suatu malam, seorang wanita sedang menunggu keberangkatannya di bandara dengan sisa beberapa jam sebelum jadwal keberangkatannya tiba. Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di salah satu toko di bandara itu, lalu menemukan tempat untuk menikmati kue dan membaca bukunya. Dalam keasyikannya, ia melihat seseorang di sebelahnya. Dengan begitu berani orang itu mengambil satu-dua kue yang berada di antara mereka berdua. Wanita itu berusaha mengabaikan agar tidak terjadi keributan.

Dia membaca, mengunyah kue, dan melihat jam. Sementara, “si pencuri” kue yang pemberani itu menghabiskan persediaan wanita tadi. Wanita itu semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Ia sempat berpikir, “Setiap aku mengambil satu kue, orang ini juga mengambil satu. Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya dalam hati: “Sekarang, apa yang akan dilakukan orang itu?”

Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, si orang itu mengambil kue terakhir dan membaginya menjadi dua. Orang tersebut menawarkan separuh miliknya sementara ia makan yang separuhnya lagi. Dan, dengan kasarnya wanita itu merebut kue tadi tanpa sedikit pun terbesit perasaan berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu kesal dalam situasi seperti itu.

Dia menarik napas lega saat penerbangannya diumumkan. Dia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Ia menolak menoleh pada si pencuri yang tak tahu terima kasih itu. Ketika sudah di dalam pesawat dan duduk di kursinya, ia berusaha mencari buku yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Di situ ada sekantong kue. Kok milikku ada di sini?” tanyanya dalam hati.

Jadi, kue tadi ternyata milik orang itu dan ia mencoba berbagi dengannya. Terlambat sudah baginya untuk meminta maaf. Sebegitu malunya wanita itu hingga ia tersandar di bangku pesawat sambil mengingat perilakunya yang buruk terhadap orang tadi.

Sesungguhnya, dialah yang kasar dan tidak tahu berterima kasih. Dialah sesungguhnya pencuri kue itu. Dalam hidup ini, kisah “si pencuri kue” seperti itu sering sekali terjadi. Kita sering berprasangka buruk dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri. Orang lainlah yang selalu salah, patut disingkirkan, tak tahu diri, berdosa, selalu bikin masalah, dan pantas diberi pelajaran. Padahal, kita sendiri yang mencuri kue tadi, kita sendiri yang tidak tahu berterima kasih. Kita sering memengaruhi, memberi komentar, mencemooh pendapat, memberi penilaian negatif, mencela gagasan orang lain, sementara sebetulnya kita tidak tahu betul duduk permasalahannya.

Alam memang memberikan kita akal budi untuk berpikir, tetapi bukan berarti setiap masalah harus diselesaikan dengan mengandalkan akal budi semata. Kita harus memahami apa yang ada di depan mata, menyadari situasi dan kondisi yang ada, yang sering kali sulit dapat
dimengerti melalui akal budi
. Setiap penyesalan tidak akan pernah terjadi di awal dan kita tidak akan pernah bisa memutarnya kembali seperti jam demi jam. Waktu sudah terbuang percuma dalam perjalanan hidup ini. Demikian juga ulah wanita dalam kisah di atas. Bagaimana dia bisa menemukan orang yang sudah dia salahkan, bagaimana bisa menyampaikan maafnya yang menuduh orang lain yang salah?

Begitu juga dengan iklim yang sangat ekstrem yang terjadi belakangan. Dan, ini terjadi merata di seluruh permukaan bumi. Daripada kita menyalahkan si A atau si X, lebih baik kita bersyukur bahwa alam sudah memberi kita peringatan sedini mungkin. Bahwa, kelakuan manusia terhadap alamnya sudah harus diperbaiki. Maka, pencegahan-pencegahan dan sosialisasi tentang bahaya yang bisa menyebabkan timbulnya bencana alam kehancuran dunia bisa dilaksanakan. Maka, suatu kebijaksaan untuk segera membenahi dan memberi perlakuan yang nyata; bahwa dunia seperti apa yang akan kita wariskan kepada generasi selanjutnya untuk mereka tempati?

Kita memang hanyalah manusia yang tidak sempurna. Pepatah mengatakantidak ada gading yang tidak retak. Tetapi, hobi tak terakui yang kita punyayaitu senang menyalahkan orang atau pihak lain yang tidak mau terjadi pada kitaadalah suatu hobi yang perlu terus kita awasi. Kita juga harus terus berlatih untuk mengikisnya agar jiwa kita tidak menjadi penganutnya yang setia.[ln]

* Lianny Hendranata adalah penulis enam buku kesehatan, kolomnis harian Suara Pembaruan, majalah Wanita & Kesehatan, portal Okezone.com, dan majalah Indonesie yang terbit di Belanda. Selain itu, ia adalah seorang pembicara seminar, instruktur healing energy, trainer autohipnosis, konsultan kesehatan energi aura dan cakra, instruktur kesehatan dan kecantikan dengan metode Tai Chi, sekaligus Direktur Srikandi Internusa dan Inspiration Centre. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: ray_and_mel[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Kepercayaan Fondasi Dasar Relasi Jiwa

Lianny HendranataOleh: Lianny Hendranata*

Indonesia banyak sekali mempunyai nasihat melalui pepatah-pepatah di antaranya, “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup tidak akan dipercaya. Makna yang terkandung di dalamnya, tentang seseorang yang tidak lulus dalam sebuah ujian kejujuran atau sejenisnya, maka seumur hidup dia kehilangan kepercayaan dari orang lain, walaupun sudah berusaha memperbaiki diri untuk bisa menjadi orang yang terpercaya.

Pepatah di atas ternyata terjadi juga dalam kepercayaan antarpasangan nikah, bagaimana cara awal kita mendapatkan pasangan kita, sampai mengikatnya menjadi suami istri, dan sepakat membangun bahtera rumah tangga, adalah merupakan fondasi awal kepercayaan jiwa kita, dalam relasi selanjutnya dalam kebersamaan.

Sebagai contoh kasus, seorang dokter spesialis kulit diprotes para pasiennya, karena istri beliau selalu ada dalam ruang periksa dan terkesan selalu mengawasi gerak-gerik sang suami, saat melayani para pasien perempuan yang datang ke klinik kecantikannya.

Kekakuan sikap sang dokter dan rasa risih dari para pasien yang terheran-heran dengan sikap sang istri tersebut, akhirnya disampaikan kepada pengelola klinik secara tertulis dan ditandatangani oleh banyak pasien yang setuju, memprotes keberadaan istri sang dokter yang tidak pada tempatnya saat sang suami menjalankan rutinitas pekerjaannya.

Setelah diselidiki kenapa sang istri dokter tersebut berbuat demikian, apakah tidak ada pekerjaan lain selain mengawasi sang suami bekerja, ternyata jawabannya ada pada sejarah pernikahan mereka. Sang istri tadinya juga pasien setia sang dokter, dan dengan intensitas kerutinan pertemuan mereka, pasien ini akhirnya jatuh cinta pada dokternya dan mulai menggoda. Singkat cerita akhirnya sang dokter menikahi pasien cantiknya dan didahului dengan mengurus perceraian dengan istrinya.

Cara mendapatkan suaminya pada waktu lalu, secara kejiwaan membuat sang istri terobsesi dengan keyakinannya, jika tidak diawasi maka sang suami akan bisa ‘diambil’ juga oleh pasien perempuan lain yang datang berobat, sama seperti yang dulu dilakukannya. Sikap tidak percaya, sikap tidak yakin sang suami akan setia padanyakarena sang istri tersebut pernah mengalami ketidaksetiaan sang suami pada istri terdahuluhal ini membelenggu perasaan dan pikiran istri baru sang dokter tersebut. Inilah yang menjadi racun dari relasi mereka. Membuat kehidupan menjadi ricuh dengan banyak protes dan prasangka.

Contoh di atas banyak ragamnya. Tetapi intinya adalah ‘batu pertama’ dalam membangun bangunan rumah tangga adalah kepercayaan. Dan, apa yang menjadi acuan waktu kita memulainya itu merupakan fondasi untuk kepercayaan selanjutnya.

Kasus lainnya, seperti yang dialami seorang perempuan, dia menikah dengan seorang laki-laki yang mempunyai sejarah banyak hubungan dengan perempuan lain di luar pernikahannya. Bahkan, dirinya pun merupakan salah seorang ‘kekasih gelap’ sebelum lelaki tersebut menceraikan istrinya dan dia resmi diperistri. Ketakutan sejarah merebut suami orang yang dia alami akan terulang. Akibatnya, sekarang perempuan tersebut terus-menerus menjadi ‘pengawas’ gerak-gerik sang suami. Siapa saja perempuan yang berelasi dekat dengan suaminya akan didamprat dan dicaci-maki sebagai perempuan ‘nakal’ yang akan mencuri suaminya,

Contoh-contoh kasus di atas banyak terjadi dalam masyarakat kita. Tanpa sadar kita memelihara perasaan khawatir dan kecemasan berlebih karena bercermin dari apa yang kita lakukan sendiri. Berbeda dengan pasangan suami istri yang memulai fondasi mereka dengan ‘bersih’ tanpa ada kerumitan, yaitu berupa adanya pihak yang ‘berdarah-darah’ yang mengawali bangunan rumah tangga mereka. Kepercayaan antarpasangan dlam rumah tangga seperti ini biasanya lebih kuat dan rasa percaya diri masing-masing pihak sangat besar. Mereka akan yakin pasangannya tidak mudah ‘dicuri’ oleh orang lain, berbeda keadaan dengan pasangan seperti contoh kasus di muka tulisan ini.

Kepercayaan adalah fondasi hubungan

Kita jujur saja bahwa suatu hubungan banyak ‘ups and down’-nya. Tentu kepercayaan, pengertiaan, perhatian merupakan onderdil yang penting dalam membangun suatu hubungan, terutama dalam ikatan suami istri.

Kita sebagai manusia mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan konfliknya sendiri. Tetapi hal ini tidaklah mudah jika terjadi dalam hubungan perasaan dengan pasangan sendiri. Emosi yang negatif seperti kejengkelan, kemarahan, kesedihan, dan lainnya menjadi halangan dalam berhubungan, baik berupa komunikasi atau hubungan intim.

Berbeda jika konflik terjadi pada orang di luar pasangan kita, misalnya dengan keluarga istri, keluarga suami, atau teman. Masalah efektif lebih mudah diselesaikan karena tidak banyak menyangkut hal yang baku, seperti pertemuan rutin di tempat tidur dan kegiatan lain selama bersama-sama, serta banyak waktu untuk menghindari orang yang tidak selaras (cocok perasaan) berhubungan dengan kita.

Konflik karena memanjakan ego

Kepasifan dalam berinteraksi dan konflik yang akhirnya terjadi bukan semata karena hambatan adanya emosi negatif yang diterangkan di muka. Tetapi bisa (lebih sering terjadi) karena pengalaman masa lalu, khususnya seperti contoh kasus-kasus di awal tulisan ini. Konflik jiwa karena trauma dengan kepercayaan terhadap pasangan. Pengalaman yang negatif bisa menyebabkan terjadi ketakutan dan rintangan dalam hubungan selanjutnya dengan pasangan. Hal ini diperburuk dengan sikap dari memenangkan ego diri sendiri. Sering kita jadi budak ego kita sendiri. Tidak ada yang lebih parah untuk mencelakai diri sendiri adalah ego yang kita manjakan.

Ego membuat kita memupuk sikap arogan. Banyak masalah sederhana tidak bisa diselesaikan hanya karena membela ego diri dan sikap arogan yang dipamerkan. Ego adalah pikiran yang tidak disadari yang mengendalikan hidup kita. Dan Ego itu tidak akan pernah mampu menyelesaikan masalah karena yang menjadi masalah justru ego-ego tersebut.

Ego mengendalikan hidup orang-orang yang berkutat mempertahankannya. Mereka menjadi bagian dalam drama pikiran mereka sendiri. Hal itulah yang menjadikan mereka takut dan marah. Di sanalah ego dibela habis. Pembelaan ego diri selalu berujung konflik baik pada diri sendiri, juga bagi orang yang terkena imbas dari kelakuan ego seseorang.

Orang yang sadar mau melepas ego akan mencari solusi penyelesaian konflik. Sedangkan orang yang membela dan memelihara egonya akan memamerkan kearoganan dirinya. Maka, jika kita bermasalah dengan orang yang berprinsip egonya harus tetap menang, sikap mundur teratur untuk memberinya kepuasan pemenuhan egonya adalah sikap yang bisa kita jalankan.

Pembelaan ego tidak akan membuat kita bahagia. Malah jika kita tetap membesarkan ego kita tanpa perduli dengan orang lain, bumerang ada pada diri kita sendiri. Kita menciptakan orang yang punya dendam pada kita. Dan, tentu hal ini sangat tidak diinginkan bagi orang yang sadar dengan pepetah: “Satu musuh sudah sangat berlebih untuk membuat hidupmu sengsara.

Kebahagiaan jiwa tidak didapat dari kepuasan dengan menjadi orang yang menang perkara. Kebahagiaan tidak didapat dengan jadi orang yang mampu merampas hak orang lain. Tetapi, kebahagiaan bisa kita rasakan jika kita berfokus pada bagaimana menciptakan keharmonisan jiwa yang bebas dari rasa bersalah, dan bebas dari rasa ketakutan akibat perbuatan-perbuatan kita, bebas dari rasa ingin memiliki kepunyaan orang lain, dan bebas dari rasa dijajah oleh ego orang lain.[lh]

* Lianny Hendranata adalah penulis enam buku kesehatan, kolomnis harian Suara Pembaruan, majalah Wanita & Kesehatan, portal Okezone.com, dan majalah Indonesie yang terbit di Belanda. Selain itu, ia adalah seorang pembicara seminar, instruktur healing energy, trainer autohipnosis, konsultan kesehatan energi aura dan cakra, instruktur kesehatan dan kecantikan dengan metode Tai Chi, sekaligus Direktur Srikandi Internusa dan Inspiration Centre. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: ray_and_mel[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Cemburu, Bumbu Cinta yang Membuat Kacau Hubungan

Lianny HendranataOleh: Lianny Hendranata*

Pada saat memasuki abad ke-21, para ilmuwan sepakat menyimpulkan penelitiannya, bahwa hubungan dua orang dalam mendifinisikan cinta adalah: Campuran dari ‘Psikologi, Biologi dan Kimia’. Seseorang yang sudah mengalaminya, bisa berpendapat bahwa: Perasaan cinta (rasa sayang terhadap seseorang) tidak mengenal bangsa, budaya, maupun usia, bahkan tidak mengenal situasi dan kondisi dari manusia mana pun di dunia ini. Di mana penghayatan hubungan itu terisi dengan kemauan, harapan, dan tuntutan, serta dibumbui oleh fantasi, imajinasi, dan visualisasi. Dan, yang paling membuat hubungan menjadi panas serta menimbulkan keretakan adalah bumbu cinta yang bernama cemburu!

Rasa cinta (sayang)—selain berisi harapan untuk selalu dekat dengan segala hal yang diinginkan—juga memiliki pemahaman bahwa, orang yang dicintai itu ‘milikku’. Dikarenakan pemahaman ini, menyebabkan seseorang mengalami apa yang dinamai ‘cinta egois’, cinta yang mengekang pasangannya dalam banyak bentuk. Ini terjadi karena rasa takut kehilangan orang yang dicintai.

Jika hubungan berdasarkan hal ketakutan, bisa dipastikan lambat atau cepat, pasangan menjadi menjauh dan berusaha ‘damai’ hanya untuk membuat ketenteraman. Tetapi sebaliknya, perasaan cinta malah menjadi mencair. Ibarat gunung es, jika terlalu dipegang dan dibakar cemburu, maka yang terjadi bukan lebih mencintai, tetapi cinta menjadi hilang. Karena, pasangan merasa tidak dihargai, lebih tepat tidak dipercayai. Padahal, seseorang akan lebih bereaksi positif jika dipercayai. Jangankan pasangan kita, anak-anak pun lebih respek jika diberi kepercayaan.

Seseorang yang terjebak dalam hal mencintai dengan perasaan takut kehilangan, biasanya banyak dibakar oleh api cemburu. Dan, dengan bercanda orang mengatakan, bahwa cemburu adalah bumbunya saling mencintai. Bahkan, banyak pendapat yang mengatakan bahwa ‘Cemburu ada, karena cinta yang dalam’ memang betul, perasaan cemburu adalah ekspresi adanya cinta, tetapi itu bukan cinta terhadap pasangan kita, tetapi lebih dimaksud cinta kepada diri kita sendiri, yaitu takut kehilangan orang yang dicintai.

Maka, banyak macam eksepresi cemburu yang dikeluarkan, contoh: tidak memercayai apa yang dilakukan pasangan di luar keterlibatan kita. Menjadikan kita paranoia dengan berpikir selalu negatif terhadap kelakuan pasangan kita. Rasa percaya diri meluntur, maka banyak ulah menjadi ‘show-of’ terlalu menonjolkan diri yang tidak pada tempatnya, dan membuat perbandingan dengan orang lain, seolah memperlihatkan bahwa kita paling pantas untuk dicintai.

Hubungan yang berdasarkan rasa miliki ini, selalu sadar atau tidak sadar ketakutan pasangannya hilang (direbut/beralih kepada orang lain). Ini semua membuat kualitas hidup menjadi negatif, pola pikir dan cara berinteraksi yang buruk, sampai timbul sikap memojokkan pasangan. Terkadang, begitu parah sikap curiga dari pasangan, mulai dari diam-diam mencuri periksa HP, sampai tagihan kartu kredit, menyuap sekretaris untuk mendapat jadwal kegiatan bisnis, serta bersedia mencuci (membersihkan) mobil sang suami/istri hanya karena ingin menemukan apa yang bisa jadi bukti kecurigaan. Maka, terjadilah permainan “Tom & Jerry” di antara pasangan.

Menjadi pasangan suami istri berdasarkan ketakutan ditinggalkan, takut pasangan beralih mencintai orang lain, membuat kita lelah dan depresi sendiri. Hal ini menjadikan situasi rumah tangga menjadi tidak enak, sebab ke mana saja pasangannya pergi selalu timbul rasa takut kehilangan dia. Sampai-sampai banyak istri di Indonesia, memegang uang/harta/aset suaminya 100 persen, dan keuangan suaminya dijatah seperti anaknya yang masih SD. Kalau minta uang lebih ditanya untuk apa dan mengapa?

Istri model begini berpikir, kalau suami tidak punya uang, maka tidak akan bisa berbuat apa-apa, (padahal ini pemikiran yang paling lugu dari seorang perempuan). Survei membuktkan, para suami yang diperlakukan demikian, di luar rumah menjadi buas, seolah secara psikologis dia mau memperlihatkan, “Saya ini laki-laki yang bisa berbuat apa saja!” Tetapi, di depan istrinya ia mengalah, karena ia tidak mau ribut, apalagi cerai (formalitas status dipertahankan).

Banyak sifat/karakter orang, banyak pasangan yang begitu menjadi istri atau suami, menjadi orang yang seolah menjadi pemilik dari diri pasangannya. Maka, rumah tangga yang dibangun berdasarkan sifat pasangan seperti ini menjadikan pasangannya bukan menghargai dan kasih sayang tumbuh semakin subur, tetapi jadi hanya sekedar takut saja di depannya, sementara di belakangnya seperti kuda lepas dari kandang. Maka, pikir baik-baik sebelum “kasih leher” untuk diikat dengan tali perkawinan.

Hidup berpasangan yang terikat pernikahan, sudah selayaknya didasari cinta. Cinta di sini merupakan kepercayaan dan kesetiaan, di mana hal ini tidak diminta, tetapi kesadaran individu lebih melestarikan adanya cinta jenis ini. Jadi, cinta di sini bukan berarti orang harus selalu turut kita. Tetapi, cinta dan rasa sayang yang dibangun dari sikap percaya dan menghargai masa lalu masing-masing pihak, akan terasa hangat dan abadi.

Egosentris kita banyak pegang peranan dalam hal hubungan. Jadi, pasangan dilihat sebagai hak milik. Dia harus memenuhi keinginan dan gambaran kita, berperilaku seperti kemauan kita dan kalau bisa cinta kita terus. Ini berarti hidup terus-menerus dari (dengan cara amat halus) agresi kehendak – sikap dan ego yang dibuat. Egoisme ini jadi memberi selalu jarak dan tanpa respek pada pasangan.

Untuk hidup dengan rasa memiliki pada umumnya terjadi efek tak dapat memberi napas (baca: ketenangan) kepada yang lain. Maka, menelurkan teror (perkosaan jiwa) menimbulkan rasa tidak ada kebebasan kepada yang lain, tetapi sekaligus mendapat perasaan keamanan supaya tidak di tinggalkan, walaupun terkadang hanya sebatas fantasi, atau kenyataan semu saja! Salam bahagia untuk semua pasangan di dunia ini.[lh]

* Lianny Hendranata adalah penulis enam buku kesehatan, kolomnis harian Suara Pembaruan, majalah Wanita & Kesehatan, portal Okezone.com, dan majalah Indonesie yang terbit di Belanda. Selain itu, ia adalah seorang pembicara seminar, instruktur healing energy, trainer autohipnosis, konsultan kesehatan energi aura dan cakra, instruktur kesehatan dan kecantikan dengan metode Tai Chi, sekaligus Direktur Srikandi Internusa dan Inspiration Centre. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: ray_and_mel[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.3/10 (9 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Sukses Sekaligus Tetap Menikmati Hidup

lhOleh: Lianny Hendranata*

Banyak orang kaya sampai harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat besar untuk mengganti organ-organ mereka yang sudah rusak. Sementara, Michael Jakson yang dikaruniai raut wajah yang ganteng dan sehat, khas orang kulit hitam Amerika, berusaha mengubah wajah dan kulitnya agar sesuai dengan kepuasan hatinya.

Kelahiran dan kematian merupakan titik pemisah yang membedakan satu masa kehidupan. Memang, sangat kontras keadaannya, di satu sisi banyak orang yang ingin hidup lebih lama, di sisi yang lain banyak pula orang yang ingin cepat mengakhiri hidupnya. Begitu juga banyak orang yang cepat-cepat meninggalkan masa mudanya dengan berpikir dirinya sudah tua, mereka terus mengejar obat-obat awet muda pada usianya yang belum tua.

Menyikapi hidup

Musa, penulis kitab Mazmur, hidup hingga 120 tahun. Ia melihat kematian sebagai hal yang tak terelakkan di dunia yang telah dikutuk karena dosa. Namun, ia tidak pesimis. Ia memohon supaya Allah mengajarinya menghitung hari demi hari supaya dapat beroleh “hati yang bijaksana”. Ia juga meminta supaya Allah menunjukkan kemuliaan-Nya kepada generasi yang akan datang (Mazmur 90:16). Begitulah cara Musa menghadapi realitas kematian, beberapa ribu tahun silam (Gloria.net/Dennis De Haan).

Seperti halnya judul artikel ini, bagaimana seseorang berusaha mencapai kesuksesan dalam hidup ini. Untuk hal tersebut sudah banyak dibuktikan dengan banyak data, yang memperlihatkan di dunia ini banyak orang yang mencapai sukses dalam banyak hal. Mulai dari Sukses sebagai pengumpul harta terbanyak, sukses sebagai penemu penelitian ilmiah, sukses berkuasa dalam jangka panjang, dan sebagainya.
Soal kesuksesan, Napoleon Hill menjabarkannya demikian:

  • Kesuksesan Anda sangat tergantung kepada banyaknya kemampuan Anda sendiri dalam memahami bidang pekerjaan secara spesifik.
  • Kesuksesan adalah orang yang mampu membuat keputusan tegas dan cepat setelah melihat semua fakta yang ada dengan teliti.
  • Kesuksesan bisa terjadi dalam hidup orang yang mempunyai sikap optimis, dan orang yang mempunyai intuisi tajam untuk mendapatkan peluang emas yang membawa kemujuran.

Meditasi untuk sehat, awet muda

Banyak orang yang sukses dalam berkarier, tetapi sedikit orang yang sukses mempertahankan dirinya terhadap penuaan, serta tetap hidup sehat menikmati kesuksesannya! Walaupun produsen kosmetik antipenuaan serta obat-obatan untuk tujuan yang sama sangat banyak macamnya, dan terjual dengan laris manis. Bahkan, para ilmuwan membuat terobosan baru, yaitu dengan mengubah gen pengendali penuaan, mereka yakin menjelang akhir abad ini mereka dapat memperpanjang batas rata-rata usia manusia hingga 100 tahun.

Ketika saya bertemu beberapa orang teman lama, mereka mengatakan—sebut saja namanya Rani—menjadi lebih muda dan memesona. Padahal, dulunya Rani adalah sosok yang menyedihkan, berwajah kusut, menderita sakit maag kronis, sering kena flu, dan sebagainya. Tentu saja Rani sangat senang mendapat pujian tersebut. Teman-temannya serta merta berebut minta diberitahu ke dokter kecantikan atau salon mana yang membuat Rani menjadi berubah sehat, cantik memesona.

Kala Rani membeberkan rahasia awet mudanya, ternyata semua teman yang mendengarnya menyatakan tidak percaya! Karena, Rani menerangkan bahwa ‘obat awet mudanya’, selain minum air putih yang cukup serta banyak mengonsumsi makanan seimbang, yang diperbanyak adalah menu buah dan sayurnya. Dan, yang terpenting adalah menambahkan dalam menu hidupnya dengan meditasi, yaitu menyehatkan dan menyeimbangkan pikiran. Menjauhkannya diri dari stres berkepanjangan yang menjadi faktor utama pencetus penuaan dini.

Ya, meditasi! Suatu keterampilan yang wajib dilatih dan dijadikan menu keseharian dalam menetralisir ketegangan hidup. Wadah-wadah meditasi saat ini berkembang dengan pesat di mana sarana, tempat, sasana, atau pedepokan untuk meditasi banyak dibentuk dan banyak orang merasakan hasilnya. Bahkan, artis dunia selevel Madona, setiap hari tidak pernah absen untuk melakukan Yoga sebagai salah satu bentuk meditasinya. Maka, hasilnya dunia melihat Madona menjadi sosok yang tetap cantik dan berstamina tinggi. Bukan saja Madona, tetapi banyak nama beken yang bermeditasi setiap hari untuk menjaga tubuh maupun pikirannya supaya tetap seimbang dan sehat serta membuatnya tampil memesona.

Seperti telah banyak diuraikan dalam artikel-artikel yang lain, bahwa seseorang dalam keadaan meditasi menjadi lebih sehat secara jiwa raga. Sebab, pada saat meditasi seluruh organ mengoptimalkan fungsinya. Berbeda jika seseorang dalam keadaan tegang (stres), maka organ menjadi lemah dan kanibal (memakan dirinya sendiri).

Seperti contoh seseorang yang dalam kondisi tegang (stres) karena banyak berpikir. Sehingga, asam lambungnya memproduksi secara berlebihan. Padahal, seseorang yang tegang tidak bisa makan dengan lahap dan nikmat. Maka, dalam kondisi perut kosong asam lambung mencerna dirinya sendiri. Dan, kita mengenalnya sebagai penderita sakit maag. Karena ada ketidakseimbangan kerja sama antarorgan yang sama-sama tegang. Tubuh pun akan menderita berbagai macam keluhan dan membuat kesehatan terganggu. Hal ini selengkapnya sudah dibahas dalam artikel “Maukah Sehat Dengan Gratis”.
Yang terpenting dalam hidup ini, orang bisa mencapai sukses dan tetap hidup untuk menikmatinya. Bukannya bisa mencapai sukses, tetapi kesuksesan materi membuat hidup tidak bahagia, dirundung banyak penyakit, dan kesepian di tengah keramaian. Hidup bukan untuk dipahami, tetapi untuk dinikmati dengan memaknai keberhargaannya. Salam.[lh]

Lianny Hendranata adalah penulis enam buku kesehatan, kolomnis harian Suara Pembaruan, majalah Wanita & Kesehatan, portal Okezone.com, dan majalah Indonesie yang terbit di Belanda. Selain itu, ia adalah seorang pembicara seminar, instruktur healing energy, trainer autohipnosis, konsultan kesehatan energi aura dan cakra, instruktur kesehatan dan kecantikan dengan metode Tai Chi, sekaligus Direktur Srikandi Internusa dan Inspiration Centre.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox